Cari Artikel di Blog Ini:

Jumat, 30 Januari 2015

Menjadi Orang Bahagia

Menjadi Orang Bahagia:
5 Langkah Membangkitkan Perilaku Bahagia Hidup Anda

"Kenyamanan jasad adalah dengan sedikit makan; kenyamanan jiwa adalah dengan sedikit dosa; kenyamanan hati adalah dengan sedikit keinginan; dan kenyamanan lisan adalah dengan sedikit berbicara." (Tsabit Qurrah)

Keberadaan taman merupakan simbol dari sebuah rumah yang terpelihara atau tidak. Sebab, kalau kita terbiasa merawat taman, niscaya merawat rumah bukan pekerjaan yang sulit. Sehingga, perilaku merawat taman memang harus dilakukan secara telaten dan terus menerus. Pasalnya, di taman itu ada sejumlah jenis tanaman. Dan kita tahu tanaman adalah salah satu makhluk hidup ciptaan-Nya. Seperti layaknya makhluk hidup umumnya, tanaman itu pun lahir, tumbuh, dan terus berubah bentuknya.

Semua itu mengandung arti bahwa dengan merawat taman, berarti kita sejatinya tengah mengungkapkan rasa syukur atas nikmat mempunyai rumah. Apalagi jika taman-taman itu terpelihara dengan baik. Ia akan memancarkan kebeningan berupa kesejukan bagi setiap orang yang memandangnya, membuat nyaman dan tenang bagi mereka yang berada di lingkungan taman tersebut.


DAFTAR ISI



PRAKATA

DAFTAR ISI



Langkah Pertama:

NIAT BAIK, JANGAN DITUNDA

Niat Baik Untuk  Berkeluarga --

Niat Baik Untuk Bersedekah --

Niat Baik Untuk Berhaji –

Niat Baik Untuk Mempunyai Anak --

Niat Baik Untuk Menyelesaikan Studi --



Langkah Kedua:

JANGAN REMEHKAN HAL-HAL KECIL

Bagaimana Awal Kehidupan Manusia Dimulai? --

Bagaimana Sebuah Kesuksesan Besar Terbentuk? --

Bagaimana Amalan Kecil Memiliki Penghargaan Tinggi? --

Bagaimana Unsur Paling Kecil Terbentuk? --

Bagaimana Dosa Kecil Bisa Menjerumuskan? --

Bagaimana Makhluk Kecil Begitu Menggemparkan? --

Bagaimana Sebuah Perubahan Dimulai Dari Hal-hal Kecil? –



Langkah Ketiga:

MEMULAI DARI DIRI SENDIRI

Memulai Dalam Hal Keteladanan --

Memulai Dalam Hal Keilmuan --

Memulai Dalam Hal Dakwah --

Memulai Dalam Hal Ekonomi --

Memulai Dalam Hal Menjaga Lingkungan Hidup --


Langkah Keempat:

BERPIKIR DAN BERPERILAKU DEWASA


Dewasa Dalam Menyikapi Pluralitas --


Dewasa Dalam Mengambil Keputusan --

Dewasa Dalam Menyikapi Kekalahan --

Dewasa Dalam Kepribadian --

Dewasa Dalam Menyikapi Kondisi Umat –



Langkah Kelima:

BAHAGIA MENJADI ORANG BIASA

Biasa Ala Orang Yang Berilmu --

Biasa Ala Orang Yang Berharta --

Biasa Ala Orang Yang Diamanahi Jabatan --

Biasa Ala Orang Yang Bergelar --

Biasa Ala Orang Yang Diberi Kelebihan Fisik --



TENTANG PENULIS


Begitu pun dengan manusia. Ia ibarat sebuah rumah. Dan sebagai taman-tamannya adalah perilaku kesehariannya yang merupakan cerminan dari kondisi hatinya. Dr. Ahmad Faried menggambarkan hubungan hati dengan organ-organ tubuh lainnya, laksana raja yang bertahta di atas singgasana yang dikelilingi para punggawanya. Seluruh anggota punggawa bergerak atas perintahnya. Dengan kata lain, bahwa hati itu adalah sebagai reaktor pengendali atau remote control sekaligus pemegang komando terdepan (utama). Makanya, semua anggota tubuh berada di bawah komando dan dominasinya. Di hati inilah anggota badan lainnya mengambil keteladannya, yakni berupa inspirasi dalam ketaatan atau penyimpangan.

Jadi, betapa indahnya bila kecerdasan inspirasi hati kita tetap terjaga. Yaitu suatu suasana kehidupan manusia yang selalu diselimuti kebeningan hati, sehingga ia akan selalu mengkonsulkan segala aktivitas hidupnya dengan indera perasa (kebenaran) dan suara hati nuraninya. Sebab, adakah yang lebih jujur dari hati nurani, ketika ia menyadarkan kita tanpa butiran kata-kata. Adakah yang lebih tajam dari mata hati, saat ia menghentak kita dari beragam kesalahan dan alpa. Singkatnya, sesungguhnya kondisi yang paling indah dari sebuah putaran kehidupan ini, tidak lain adalah di mana ketika kita mampu secara jujur dan tulus mendengar suara hati (keimanan).

Atas dasar pola pikir itulah, buku Seri Kecerdasan Inspirasi ini hadir untuk Anda. Bila Anda telah membaca buku Trilogi Kecerdasan Inspirasi yang saya tulis sebelumnya. Yakni, "Menjadi Pribadi Solutif: 6 Langkah Membangkitkan Pola Pikir Sukses & Solutif Hidup Anda"; dan "Menjemput Nikmat Kehidupan: 5 Langkah Membangkitkan Nikmat & Keindahan Hidup Anda". Tentu, buku ketiga ini akan menjadi pelengkap inspirasi dan motivasi tentang Kecerdasan Inspirasi Hati ini. Buku ketiga dari Trilogi Kecerdasan Inspirasi ini, saya beri judul: "Menjadi Orang Bahagia: 5 Langkah Membangkitkan Perilaku Bahagia Hidup Anda." Mengapa?

Alasannya, karena dapat dipastikan setiap kita mengharapkan kebahagiaan dalam hidupnya. Sehingga pantas bila Syaikh Syarbashi pernah berkata, "Semua manusia yang hidup di dunia ini berlomba-lomba mencari kebahagiaan dan ingin bisa meraihnya walaupun dengan harga yang tinggi."

Kebahagiaan itu, ternyata di mata orang-orang bodoh dan pendusta adalah dianggap sebagai lafaz yang tidak berhakikat dan merupakan khayalan fatamorgana yang tiada nyata. Sungguh ini adalah sesuatu yang kontradiksi dengan kenyataan bahwa Allah SWT telah menciptakan segala sesuatu di dunia ini penuh dengan kebaikan, kenikmatan dan keberkahan. Lebih-lebih Allah telah menurunkan Al-Quran sebagai petunjuk hidup manusia agar titak susah (baca: QS. Thaha: 2).

Kenyataan berpikir model itulah, sesungguhnya awal penyebab terjadinya kegagalan menggapai kebahagiaan hidup. Untuk itu, sangat tepat bila setiap kita melakukan kontemplasi terhadap sikap hidup yang telah kita lakukan selama ini. Sebab, tanpa melakukan "penilaian" terhadap sikap hidup dirinya sendiri, maka jangan harap "kemulusan" kebahagiaan itu menghampiri kita.

Terkait dengan itu, seorang dokter Muslim, Tsabit Qurrah, memberikan perhatian melalui fatwa dan tipsnya yang dapat mengantarkan seseorang kepada kebahagiaan. Beliau mengatakan, "Kenyamanan jasad adalah dengan sedikit makan; kenyamanan jiwa adalah dengan sedikit dosa; kenyamanan hati adalah dengan sedikit keinginan; dan kenyamanan lisan adalah dengan sedikit berbicara."

Secara demikian, yang membuat seseorang dapat menapaki jalan kebahagiaan itu, kuncinya ada dalam perilaku dan sikap hidupnya sendiri. Yakni berupa bagaimana keyakinan kita memperlakukan jasad, jiwa, hati, dan lisannya itu secara benar. Dan di sini, kata kuncinya ada pada sikap "sedikit" terhadap makan, dosa, keinginan, dan berbicara.

Pertama, kebahagiaan jasad dengan sedikit makan. Jasad ini seperti sebuah mesin dan bahan bakarnya adalah makanan. Artinya, kita hendaknya mempergunakan bahan bakar itu secara wajar, sebab jika berlebihan ia bisa lebih berbahaya daripada api. Begitu juga dengan jasad, bila tidak dikekang dari keinginan nafsunya, ia akan berbahaya bagi orang lain dan menghilangkan citra kemunisaannya. Hebatnya lagi, ia bisa lebih buas dari binatang yang cenderung membuat keonaran dan kerusakan.

Kedua, kebahagiaan jiwa dengan sedikit dosa. Hal ini dapat dipahami, sebab jiwa itu cenderung memerintahkan untuk berbuat jelek (ammarah bissu), maka jika ia terbebas dari ikatannya, ia akan lari bergabung dengan setan. Dan konsekuensinya, ia akan berkolusi, korupsi, menipu, dan berbuat sewenang-wenang yang melapaui batas. Oleh karena itu, musuh paling berat manusia adalah hawa nafsunya sendiri. Bagi siapa yang menturutkan hawa nafsunya, ia akan celaka. Al-Busyiri berkata dalam sebuah syairnya, "Jiwa itu bagaikan anak kecil. Jika kamu memanjakannya, hingga tumbuh dewasa pun ia akan tetap menyusu kepada ibunya. Akan tetapi, jika kamu menyapihnya maka ia akan berhenti menyusu." Jadi, jauhilah hawa nafsu, dan berhati-hatilah untuk tidak memperturutkannya.

Ketiga, kebahagiaan hati dengan sedikit keinginan. Langkahnya yaitu dengan meminimalkan rasa duka, rasa takut, dan rasa resah. Hal ini didasari karena di dalam hati yang resah sesungguhnya akan terbuka pintu-pintu kelemahan dan ketidak menentuan. Dan kondisi seperti ini membuat hati dihadapkan pada dua pilihan pintu masuk, yaitu: pintu keresahan atau pintu keberkahan. Walau demikian, hanya dengan modal insting yang kuat dan berani ia akan mampu mempertahankan yang terbaik. Islam sendiri, dalam hal ini telah mengajarkan pada pemeluknya bagaimana cara memilih kebahagiaan dan ketenangan hati itu, seperti disebutkan dalam QS. Ar-Ra'd: 28, Orang-orang yang beriman dan hati mereka merasa tentram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tentram.

Keempat, kebahagiaan lisan dengan sedikit berbicara. Alasanya, semakin sering seseorang berbicara (yang tidak berguna), semakin besar peluangnya orang tersebut akan tergelincir. Lisan yang terbiasa mengucapkan perkataan-perkataan yang tidak pantas akan membahayakan orang lain. Dalam hal ini, Ibn Abbas pernah berkata, "Ucapkanlah perkataan yang baik-baik, niscaya kamu akan beruntung. Jagalah perkataan-perkataan yang kotor, niscaya kamu akan selamat. Jika tidak, niscaya kamu akan menyesal kemudian."

Buku Menjadi Orang Bahagia yang sedang Anda baca ini, berisi inspirasi dan motivasi tentang bagaimana caranya membangkitkan perilaku bahagia dalam hidup Anda. Secara garis besar, buku ini berisi lima langkah membangkitkan perilaku bahagia hidup Anda. Langkah pertama mengungkapkan perihal niat baik jangan ditunda. Di dalamnya dibahas menyangkut niat baik untuk berkeluarga, bersedekah, berhaji, mempunyai anak, dan menyelesaikan studi.

Langkah kedua buku ini bercerita tentang masalah sikap jangan meremehkan hal-hal kecil. Dalam bagian ini dicontohkan tentang bagaimana awal kehidupan manusia dimulai, sebuah kesuksesan besar terbentuk, amalan kecil memiliki penghargaan tinggi, unsur paling kecil terbentuk, dosa kecil bisa menjerumuskan, makhluk kecil begitu menggemparkan, dan sebuah perubahan dimulai dari hal-hal kecil?

Langkah ketiga berisi ajaran tentang memulai dari diri sendiri. Di dalamnya dibahas tentang bagaimana memulai dalam hal keteladanan, keilmuan, dakwah, ekonomi, dan menjaga lingkungan hidup.

Langkah keempat membahas tentang bagaimana berpikir dan berperilaku dewasa. Yakni dewasa dalam menyikapi pluralitas, mengambil keputusan, menyikapi kekalahan, kepribadian, dan menyikapi kondisi umat.

Langkah kelima yang merupakan bagian akhir buku ini berisi tentang bagaimana bahagia menjadi orang biasa. Di bagian ini diuraikan seputar bagaimana menjadi bahagia ala orang yang berilmu, orang yang berharta, orang yang diamanahi jabatan, orang yang bergelar, dan orang yang diberi kelebihan fisik.

Jadi, buku ini diperuntukkan bagi siapa pun yang ingin membangkitkan perilaku bahagia dalam hidup kesehariannya. Dan jangan lewatkan isi buku ini, karena terus terang saja ketika tiap kali membaca ulang buku trilogi ini, hati saya termotivasi untuk selalu bergairah menikmati dan menjalankan kehidupan ini. Untuk itu, mudah-mudahan secercah dari keindahan taman-taman kecerdasan hati itu dapat pembaca peroleh melalui buku ini. Dan saya berdoa semoga para pembaca dapat meraih inspirasi, dibukakan hati dan pikirannya serta mampu merealisasikan nilai-nilai kecerdasan hati dalam usahanya mencapai kebahagiaan yang dicita-citakannya. Amin.

Akhirnya, pastikan dalam menghadapi kehidupan ini, tubuh kita terjaga dari makanan yang berlebih-lebihan, jiwa terhindar dari perbuatan dosa, hati terjaga dari keinginan yang tidak terkendali, dan lisan terjaga dari perkataan yang kotor. Bila hal ini telah dilakukan, maka sesungguhnya kita telah menapaki dan menempuh jalan yang lurus lagi menjadi orang-orang yang berbahagia.***

Anda ingin memiliki Ebook "MENJADI ORANG BAHAGIA: 5 Langkah Membangkitkan Perilaku Bahagia Hidup Anda", Anda silahkan kirim Rp. 25 Ribu saja ke Bank BNI Cabang Banjar No. Rekening: 0118657077 atas nama Arda Dinata, lalu sms ke no. 081320476048.



Arda Dinata:

PNS, Peneliti, Penulis Lepas, Pemateri, Motivator Penulisan Artikel Kesehatan dan Pendiri Majelis Inspirasi Alquran dan Realitas Alam [MIQRA Indonesia].

www.ArdaDinata.com
ARDA DINATA
@ardadinata

C00447A8B dan 51D2B002

Wikipedia

Hasil penelusuran