Rabu, 18 Februari 2015

3 Strategi Sukses Menulis

"Menulis itu membuat kita belajar terus. Membaca terus. Menulis terus. Menulis membuat keberadaan ilmu kita terasa kurang terus. Menulislah untuk memberdayakan diri." ~Arda Dinata~

Ketika kita membaca buku, kadangkala hati ini dibuat kagum dengan isi bacaan yang dibaca. Betapa hebatnya orang yang menulis. Itulah pikiran saya saat membaca buku yang berkualitas.

Memang betul derjat orang menulis itu lebih tinggi dari amalan membaca. Hebatnya lagi, bila isi bacaan tersebut diamalkan oleh yang membacanya maka pahalanya akan mengalir terus sampai pada yang membuat tulisan tersebut. Sungguh mulia bukan?

Membaca itu langkah  awal kita belajar menulis. Semakin banyak bacaan yang kita pahami, maka menulis menjadi sesuatu yang tidak sulit dilakukan. Sebab, sejatinya menulis itu adalah menuangkan, mencurahkan, dan menuliskan kembali apa-apa yang sudah menjadi pengalaman kita. Pengalaman yang di dapat dari membaca buku, mengamati kehidupan, dan pengembangan pikiran kita yang terus berkembang.

3 Strategi Sukses

Banyak cara untuk mencapai tujuan. Pun dengan sukses menulis, ternyata banyak caya yang bisa dilakukan. Kali ini, kita bisa belajar dari Hernowo, yang telah sukses menulis beberapa buku.
Paling tidak ada tiga langkah yang bisa kita tiru dari kesuksesan Hernowo dalam dunia tulis menulis.

1. "Meniru".

Menurut Hernowo "meniru" diibaratkan sebagai langkah wajar yang dapat dijalani oleh seorang penulis pemula. Untuk dapat berbicara, kita harus meniru orangtua kita ketika mereka bicara. Begitu juga dengan menulis.

"Kadang meniru seseorang yang sudah piawai menulis dianggap sebagai plagiat. Itu betul apabila proses meniru itu lantas kita tunjukkan kepada publik. Yang saya maksud meniru di sini tentu bukan untuk keperluan publikasi. Kita meniru menulis dalam konteks belajar menulis." Ungkap Hernowo.

Menurut pengakuan Hernowo, pada awal-awal menulis dia meniru Cak Nun -sapaan akrab Emha Ainun Nadjib; Kang Jalal -sapaan akrab Jalaluddin Rahmat; dan Ustad Quraish Shihab.

Hernowo mempunyai keyakinan bahwa dengan meniru, kita tetap dapat mengembangkan gaya tulis khas kita. Artinya, karakter kita tidak mungkin habis digilas oleh proses peniruan kita.

Model yang kita tiru dalam hal menulis malah akan membantu kita mencuatkan karakter tulisan kita.

2. Menggunakan konsep "pembebasan diri" pada saat awal menulis.

"Saya membebaskan diri dari aturan apa pun, termasuk aturan kebahasaan. Pada saat awal menulis, saya memposisikan diri sedang mencari dan mengumpulkan bahan yang ingin saya tulis. Jadi, agar bahan-bahan yang tersimpan di dalam diri saya itu dapat mengalir dengan lancar, maka saya harus membebaskan diri dari kerangkeng apa pun." Papar Hernowo panjang lebar.

3. Menyusun dan mengonstruksi proses pemahaman.

Menurut pengakuan Hernowo, dirinya hingga saat ini lewat menulislah (mengikat hal-hal yang bermakna), seseorang dabat dibantu untuk "menguasai" suatu masalah.

Dalam hal ini, ingatlah apa yang pernah dikatakan Sayyidina Ali bin Abi Thalib r.a., "Ikatlah ilmu dengan menuliskannya."

Bagaimana menurut Anda?

Salam sukses-berkah selalu. Aamiin..

~Arda Dinata,
Pengusaha inspirasi di MIQRA Indonesia.



PELUANG BISNIS TERBARU DI ERA NETIZEN
Arda Dinata:

PNS, Peneliti, Penulis Lepas, Pemateri, Motivator Penulisan Artikel Kesehatan dan Pendiri Majelis Inspirasi Alquran dan Realitas Alam [MIQRA Indonesia].

www.ArdaDinata.com
www.AzariaStore.com
ARDA DINATA
@ardadinata

C00447A8B dan 51D2B002

ARSIP ARTIKEL