Cari Artikel di Blog Ini:

Minggu, 26 April 2015

Perjalanan Itu Berselimut Duka

Perjalanan Itu Berselimut Duka 
Oleh: Arda Dinata[0]


[0] Arda Dinata, Peneliti Kesehatan di Loka Litbang P2B2 Ciamis, Balitbangkes Kemenkes R.I.
 
Bada sholat subuh.....saya bergegas menuju jalan raya menunggu bus jurusan Pangandaran - Bandung. Alhamdulillah bus yang datang adalah bus patas AC, berarti di dalam bus nanti tidak ada orang yang merokok. Sehingga saya bisa istirahat di bus karena rasa kantuk ini pun sebenarnya masih menyerang mata ini.
Baru sekitar 3 km bus melaju, ternyata ada penumpang naik di daerah Kalipucang. Bus pun melanjutkan perjalanannya. Dan perjalanan ketika baru saja melaju sekitar 5 menit, eh... rombongan penumpang yang baru naik tersebut ada yang muntah.
“Au....ok...ok.....!”
Suara itu beberapa kali terdengar seisi ruangan bus Pangandran – Bandung. Para penumpang pun terlihat sedikit merasa terganggu dengan suara menahan rasa mual itu.
Dia terlihat masuk angin dan kedinginan. Akhirnya, saya kasih obat herbal masuk angin untuk mengurangi rasa mual dan agar badanya menjadi hangat.
“Makasih .....” dia mengucapkan kepadaku.
* *
Teleponku berdering, begitu kuangkat di seberang sana terdengar suara tangis mengabarkan adanya berita duka.
Inalillahi wainailillahi rojiun.... Ema[1].... Ema.... telah ngantunkeun....yah...! Hiks...., hiks...,” suara istriku bergetar di ujung telepon sana.
Mataku memerah menahan rasa tangis dan berkaca-kaca. Pikiranku jadi melayang-layang. Tidak fokus dan tidak nyaman untuk istirahat di perjalanan. Saya pun kontak saudara-saudara di Indramayu memberi kabar duka atas meninggalnya ibu mertua saya.
Bersamaan dengan itu, saya pun mohon doa pada temen-temen kantor dengan menuliskan di WhatsApp (WA) Group Loka Litbang Pangandaran. Sejurus kemudian, komentar ungkapan bela sungkawa pun terus bermunculan di group tersebut. Intinya isi ungkapan itu mendoakan dan memberi dukungan kesabaran untuk keluarga yang ditinggalkan.
* *
Hari ini, sesuai rencana seharusnya aku setelah sampai di Bandung, perjalananku diteruskan ke Kota Medan menggunakan pesawat udara dari Bandara Husein Sastranegara Bandung menuju Bandara Kualanamu Medan. Itulah sketsa perjalanan berselimut duka yang telah mendera diriku!
Namun, rencana tinggallah rencana kalau Tuhan belum mengijinkan. Dengan adanya kejadiaan berita duka itu, akhirnya membuat saya membatalkan penerbangan menuju Kota Medan hari ini. Saya menghubungi agen tiket yang telah saya pesen untuk mengganti penerbangan esok harinya.
Pihak agen tiket pesawat tersebut memberi kabar bahwa jadwal penerbangan saya bisa dipindahkan dengan konsekuensi ada penambahan biaya sebesar Rp. 200.000,-. Mendengar penjelasan itu, saya pun menyanggupinya.


[1] Ema adalah sebutan atau panggilan untuk seorang Ibu dalam bahasa Sunda.


Arda Dinata:

PNS, Peneliti, Penulis Lepas, Pemateri, Motivator Penulisan Artikel Kesehatan dan Pendiri Majelis Inspirasi Alquran dan Realitas Alam [MIQRA Indonesia].

www.ArdaDinata.com
ARDA DINATA
@ardadinata

C00447A8B dan 51D2B002

Wikipedia

Hasil penelusuran