Cari Artikel di Blog Ini:

Senin, 27 Juli 2015

Menuju Perilaku Lebih Baik dan Bermakna

"Manusia hidup harus bermakna. Makna hidup itu bila bermanfaat buat sebanyak-banyaknya orang. Wujud kebermanfaatan itu terwujud dalam perilaku yang baik dalam hidup keseharian." ~Arda Dinata~

http://www.ardadinata.com/2015/07/menuju-perilaku-lebih-baik-dan-bermakna.html
Menuju Perilaku Lebih Baik dan Bermakna
Manusia patut berbahagia bila dirinya bermanfaat bagi sebanyak-banyaknya orang. Kebermanfaatan itu di buktikan dalam perilaku keseharian.

Manusia itu makhluk multi dimensional. Artinya, keberadaannya, didukung dengan empat perlengkapan dimensi. Yaitu dimensi fisik (badan), psikis (jiwa), sosial (lingkungan, masyarakat), dan spiritual (hubungan dengan pencipta).

Itulah, yang menjadi alasan dan dasar kenapa kita dinamakan manusia yang berkualitas. Dalam hal ini, berkualitas itu berarti sebagai manusia yang bermutu (siap pakai), kritis, kreatif, konstruktif (membangun), dan bertanggungjawab secara universal.

Pada tataran ini, Emile Durkheim menyatakan, ada tiga esensi yang menyusun perilaku lebih baik dan bermakna. Tepatnya, keadaan tersebut dikatakan sebagai manusia bermoral. Artinya, attidue-nya dilandasi oleh tiga unsur esensi (konsisten, disiplin, dan otonomi).

Konsisten terhadap apa yang telah digariskan dan disepakati umum (moralitas). Disiplin terhadap aturan-aturan yang baku maupun sebaliknya. Sedangkan terkait otonomi ini, hendaknya ditujukan pada diri sendiri, juga orang lain. Yang terakhir ini, kadang-kadang kita suka memilah-milah antara keduanya.

Untuk itu, langkah awal, tentunya kita berusaha untuk tidak bersikap konservatif, yang bisa menyumbat terbentuknya manusia berkualitas. Konservatif disini, menyangkut sikap hendak mempertahankan keadaan, kebiasaan, dan tradisi lama. Yang secara logika dan managemen modern dapat menghambat langkah pengembangan kualitas manusia itu sendiri.

Kondisi saat ini, bangsa Indonesia sangat membutuhkan sumber daya manusia (SDM) berkualitas, sebagai peng-cut dan pelopor pengendali krisis yang terjadi. Setidaknya, ada tiga alasan yang mendasari bangsa ini perlu mencetak dan memunculkan SDM berkualitas.

Pertama, bahwa sumber daya alam (SDA) tidak dapat diperbaharui dimasa yang akan datang akan semakin sulit didapat. Hal ini, menyebabkan manusia mengalami dilematik persaingan untuk menguasai SDA sebesar-besarnya.

Kedua, perkembangan dan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi; ledakan informasi dan komunikasi. Dewasa ini, keberadaannya harus diimbangi dengan insan-insan berkualitas, manusia yang mampu menjawab tantangan jaman dan bersikap optimis. Bukannya, manusia yang berserah diri tanpa berusaha.

Ketiga, kita harus yakin bahwa manusia itu berperan sebagai subyek kehidupan dan menjadi sumber dari segala sumber daya duniawi.

Akhirnya, dengan berpijak pada keyakinan tersebut, maka manusia yang ada saat ini, tidak lain adalah manusia yang mampu bergerak mempresentasikan dunia yang lebih baik berdasarkan standart ke-manusia-an.***

http://www.ardadinata.com


Arda Dinata
www.ArdaDinata.com

Pendiri Majelis Inspirasi Alquran dan Realitas Alam (MIQRA) Indonesia, www.MiqraIndonesia.com.


Arda Dinata:

PNS, Peneliti, Penulis Lepas, Pemateri, Motivator Penulisan Artikel Kesehatan dan Pendiri Majelis Inspirasi Alquran dan Realitas Alam [MIQRA Indonesia].

www.ArdaDinata.com
ARDA DINATA
@ardadinata

C00447A8B dan 51D2B002

Wikipedia

Hasil penelusuran

ARSIP ARTIKEL