Kamis, 20 Agustus 2015

Memahami Aritmetika Pernikahan dengan Akal (1)

Nikah berarti perjanjian antara laki-laki dan perempuan untuk bersuami istri (dengan resmi). Kegiatan nikah ini, orang mengenalnya dengan pernikahan/perkawinan. Lebih jauh dari itu, pernikahan merupakan ikatan ilahiyah. Sebuah ikatan yang mampu menyatakan dua insan dalam kecintaan, kebahagiaan, dan kasih sayang.

A. Pernikahan dan Ketentraman

Pernikahan itu sendiri akan memberikan ketentraman. Allah SWT berfiman, yang artinya: “Di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tentram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir.” (QS. Ar Ruum: 21).
Fasilitas ketentraman itu, akan Allah berikan terhadap setiap manusia yang telah melakukan pernikahan sesuai dengan ketentuan-Nya. Oleh karena itu, keadaan ini harus selalu dijaga dan dipelihara. Mengapa harus dijaga dan dipelihara?
Alasan yang mendasarinya tidak lain adalah karena orang yang telah menikah tidak semuanya (segera) mendapatkan fasilitas tersebut, disebabkan mereka tidak mampu memaksimalkan potensi akal-pikiran dalam membangun tatanan keluarganya. Kadangkala sebuah pernikahan bukannya menjadi tentram, melainkan yang terjadi berupa hubungan suami-istri hanya sekedar rutinitas. Tidak lagi mampu menambah makna hidup, justru sebaliknya terasa hambar dan hampa. Hal ini biasanya merupakan masa-masa kritis yang kemungkinan besar terjadi pada tiga tahun pertama sebuah pernikahan, bila dibandingkan dengan tahun-tahun setelahnya.
Kondisi seperti itu, jelas-jelas dilakukan oleh mereka yang tidak memahami adanya aritmetika pernikahan. Menurut Dra. Psi. Erry Soekresno –psikolog yang senang humor ini--, menyebutkan bahwa tugas utama yang penting dilakukan pada tiga tahun pertama pernikahan itu adalah mencapai titik KITA (WE point). Tentu setelah suami-istri itu sama-sama saling menyesuaikan diri (baca: belajar bernegoisasi).
Dalam istilah lain, WE point ini merupakan aritmetika pernikahan. Yakni satu tambah satu hasilnya bukanlah dua tapi tiga, yaitu saya, kamu, dan KITA. Untuk mencapai derajat itu, jelas perlu waktu dan usaha. Di sinilah, aktivitas akal memiliki peranan yang menentukan. (Bersambung besok).

B.Peran Wanita




PELUANG BISNIS TERBARU DI ERA NETIZEN
Arda Dinata:

PNS, Peneliti, Penulis Lepas, Pemateri, Motivator Penulisan Artikel Kesehatan dan Pendiri Majelis Inspirasi Alquran dan Realitas Alam [MIQRA Indonesia].

www.ArdaDinata.com
www.AzariaStore.com
ARDA DINATA
@ardadinata

C00447A8B dan 51D2B002

ARSIP ARTIKEL