Cari Artikel di Blog Ini:

Senin, 17 Agustus 2015

Virus N’Ach Mencerahkan Kehidupan Keluarga (2)

Ajaran Islam mewajibkan orangtua untuk mendidik anaknya. Jika tidak, menurut Prof. Dr. Baihaqi Ak –Guru Besar Ilmu Pendidikan Islam IAIN SGD Bandung--, bukan hanya terhukum berdosa dengan ancaman siksa di akhirat, melainkan juga terancam dengan tidak mendapatkan hak moril dan materil dari anaknya.
Betapa rugi dan sengsaranya perjalanan hidup, jika hal itu nyata-nyata menimpa kita. Naudzubillah. Sehingga gambaran ini, haruslah benar-benar menyadarkan siapa pun akan pentingnya sebuah pendidikan terhadap anak-anak. Dan yang jelas unsur kegigihan kita dalam memberdayakan anak supaya terdidik akhlaknya merupakan pilar-pilar pembangun dari tegaknya tatanan sebuah keluarga sakinah.

B.Langkah Pendidikan

Persiapan merupakan sesuatu yang dipersiapkan dari awal, setelahnya kita menentukan sesuatu keinginan. Demikian pula halnya dengan keinginan untuk menularkan dan membangun virus (potensi) N’Ach kepada sang anak, maka kita terlebih dahulu memerlukan persiapan pendidikan yang Islami ke arah itu.
Hasil dari pendidikan ini akan mencapai hasil yang baik, menurut Baihaqi, adalah jika orangtua itu memenuhi syarat-syarat, seperti bertakwa kepada Allah, ikhlas dan berakhlak mulia.
Adapun langkah-langkah pendidikan Islami yang mesti ditempuh untuk memaksimalkan tujuan tersebut, maka mereka harus dipersiapkan sejak memilih calon istri/suami, waktu akad nikah, waktu suami-istri “bergaul”, waktu istri mengandung/ hamil, waktu sesudah melahirkan anak.
Dalam waktu melakukan pemilihan jodoh, Nabi Muhammad Saw., menganjurkan agar kita memilih calon istri/suami yang beragama dan berakhlak mulia. Hal ini dimaksudkan agar setelah mendirikan rumah tangga, maka mereka dapat membina dan membangun kehidupan rumah tangga serta mendidik anak-anaknya menuju kondisi yang beragama dan berakhlak mulia.
Langkah pendidikan selanjutnya adalah ketika melangsungkan akad nikah. Yakni sebelum proses ijab dan qabul, kedua pengantin ini diingatkan pada akidah Islam (baca: dengan pengucapan kembali kalimah Syahadat). Disambung kemudian dengan khutbah nikah serta mengucapkan ijab qabul.
Proses pendidikan lainnya, ialah melakukan doa pada waktu suami-istri akan “bergaul”. Dan kalau kita cermati, isi doa tersebut mengandung maksud bukan hanya sekedar permohonan, tetapi di dalamnya mengandung makna yang membuat jiwa menjadi tenang dan yang lebih penting lagi adalah berupa harapan anak yang mungkin terlahir dari hasil “bergaul” ini jauh dari gangguan setan.
Adapun pendidikan pada waktu mengandung (hamil) dilakukan (terutama) oleh ibunya dengan berusaha meningkatkan ibadah dan kasih sayang antara suami-istri. Hal ini didasarkan bahwa bayi dalam kandungan itu sangat responsif/peka terhadap rangsangan dari luar (baca: berupa kebahagiaan, kesediahan, ketenangan jiwa, dll.). Selanjutnya, setelah anak itu lahir, maka lakukan dengan dibacakan/didengarkan lafaz azan dan iqomah. Lalu penyembelihan hewan aqiqah dan memberikannya nama yang baik. Pendidikan selanjutnya adalah berupa pemberian (didikan) keteladanan dari kedua orangtuanya dalam segala aspek kehidupan hingga anak menjadi dewasa dan mandiri.
Akhirnya, dengan mengaplikasikan langkah-langkah tersebut, insya Allah akan menghasilkan keluarga yang dapat melejitkan muncul dan menyebarnya virus N’Ach dan hati nurani yang baik dalam kehidupan keluarga. Dan ujung-ujungnya keluarga tersebut akan tercerahkan kehidupannya baik di dunia maupun di akherat nanti. Wallahu’alam.*** [Arda Dinata]. 


Arda Dinata:

PNS, Peneliti, Penulis Lepas, Pemateri, Motivator Penulisan Artikel Kesehatan dan Pendiri Majelis Inspirasi Alquran dan Realitas Alam [MIQRA Indonesia].

www.ArdaDinata.com
ARDA DINATA
@ardadinata

C00447A8B dan 51D2B002

Wikipedia

Hasil penelusuran

ARSIP ARTIKEL