Cari Artikel di Blog Ini:

Senin, 21 September 2015

Menghadapi Api Kesulitan Perkawinan


API itu sifatnya panas. Keberadaannya bisa memberi cahaya dan juga kalau tidak hati-hati, justru bisa membahayakan dan membakar benda-benda di sekitarnya. Sedangkan kesulitan sendiri diartikan sebagai sesuatu tantangan yang bikin sulit dalam kehidupan seseorang. Jadi, dampak keberadaan api kesulitan itu sebenarnya tergantung bagaimana Anda menyikapinya. Kalau Anda berfikir positif, maka adanya kesulitan itu akan mendewasakan pribadi Anda.
Dalam hal ini, Andrias Harefa mengatakan, “Jika kesulitan dan tantangan hidup diibaratkan api, maka kayu atau emaskah aku? Jika aku kayu, habislah terbakar oleh api, menjadi orang yang meratapi nasib, pesimis, dan suka menggerutu. Jika aku emas, makin murnilah aku dibakar api kesulitan, menjadi orang yang kuat, optimis, dan mudah bersyukur. Dan karena aku tidak bisa memilih kesulitan yang akan datang menimpaku, maka aku harus memutuskan apakah aku ingin menjadi kayu atau emas bila kesulitan datang mendera?”
Pada konteks perkawinan, saya kira tidak jauh berbeda, api kesulitan itu akan datang menghampiri tiap pasangan perkawinan. Yang membedakan adalah sikap kita dalam mengambil keputusan terhadap kesulitan itu. Dalam bahasa lain, bila datang api kesulitan dalam perkawinan, lantas Anda mau berperan sebagai apa, kayu atau emas?
Kalau Anda berperan sebagai kayu, maka masalah dan kesulitan yang mendera dalam perkawinan itu, tentu akan dihadapinya dengan sikap terus meratapi kesulitan, berjiwa pesimis, dan menggerutu, kenapa kesulitan itu datang. Akhirnya masalah tersebut tidak terselesaikan, dan benar-benar jadi masalah.
Sebaliknya, ketika Anda memposisikan diri sebagai emas. Justru, keberadaan kesulitan tersebut akan memurnikan status perkawinan Anda. Yakni perkawinannya menjadi semakin kuat, optimis, dan mudah bersyukur. Perkawinan kuat, karena adanya masalah telah membuat suami-istri menjadi semakin lebih dewasa dan kokoh. Optimis memandang masalah, berarti menyakini kalau kesulitan itu sejatinya diapit oleh dua kemudahan, sehingga Anda tidak perlu berputus asa menghadapinya. Lalu, bersyukurlah dalam perkawinan. Sebab, datangnya kesulitan itu membuat Anda terus berpikir dan menjadi lebih dewasa dalam bersikap.
Untuk itu, agar Anda dapat menghadapi datangnya api kesulitan perkawinan dengan baik, sehingga tidak berujung menjadi badai ketidakharmonisan dalam rumah tangga, maka paling tidak ada enam langkah yang harus diperankan dalam perilaku keseharian perkawinan Anda.

1. Berdoalah untuk kebaikan pasangan Anda. Sebab, doa itu adalah senjata yang dapat menjadi penghalau datangnya kesulitan dalam hidup keluarga Anda.
2. Bersikap baik pada pasangan Anda. Sikap baik akan berbuah kebaikan. Kesulitan itu, sejatinya akibat perilaku kita sendiri. Untuk itu, jangan salahkan orang lain. Bila kesulitan perkawinan itu datang, maka bersikap dan berbuat baiklah pada pasangan Anda. 
3. Kendalikan emosi Anda. Adanya masalah dan kesulitan dalam perkawinan itu adalah sesuatu yang wajar. Untuk itu, jangan perburuk masalah tersebut dengan sikap emosional Anda yang tidak terkendali.
4. Lakukan introspeksi. Mengaca diri itu baik dan perlu. Introspeksi adalah sesuatu yang patut kita lakukan setiap saat. Lebih-lebih, bila Anda mendapatkan masalah dalam perkawinan. Dari perilaku introspeksi inilah akan lahir solusi dari masalah yang Anda hadapi.
5. Evaluasilah pernikahan Anda. Evaluasi adalah sikap untuk melihat kelebihan dan kekurangan, sehingga kita bisa mengambil keputusan bagaimana bertindak selanjutnya. Untuk itu, lakukanlah evaluasi pernikahan Anda secara periodik. Lebih-lebih, pada saat ada masalah dalam perkawinan Anda.
6. Terbuka atas nasehat dari pasangan Anda. Suami/istri adalah orang yang paling dekat. Dialah orang yang lebih tahu dari kelebihan dan kekurangan Anda. Jadi, bila ada kesulitan atau masalah dalam perkawinan, cobalah untuk didiskusikan dan bersikap terbuka atas nasehat dari pasangan Anda. Sebab, dia adalah orang yang menyayangi Anda.

Akhirnya, semoga langkah-langkah tersebut dapat dilakukan dengan benar sehingga kita dapat mengarungi perkawinan ini dengan rasa rela. Dengan rasa rela itulah, diharapkan sikap kita dalam mementaskan hidup ini diberi kesempatan untuk menjadi yang lebih baik. Imam Syafi’i pernah mengatakan, “Biarkan hari-hari bertingkah semaunya. Buatlah diri ini rela ketika ketentuan-Nya bicara. Dan jangan gelisah dengan kisah malam. Tidak ada kisah dunia ini yang abadi.“ (Arda Dinata, pengasuh Majelis Inspirasi Alquran dan Realitas Alam/MIQRA Indonesia).***


Arda Dinata:

PNS, Peneliti, Penulis Lepas, Pemateri, Motivator Penulisan Artikel Kesehatan dan Pendiri Majelis Inspirasi Alquran dan Realitas Alam [MIQRA Indonesia].

www.ArdaDinata.com
ARDA DINATA
@ardadinata

C00447A8B dan 51D2B002