Cari Artikel di Blog Ini:

Jumat, 18 September 2015

Referensi Menggapai Perkawinan Berkah



BERKAH itu berkat dan nikmat yang harus kita raih. Begitupun dalam membina ikatan perkawinan, tiap pasangan suami istri harus membangun perkawinan berkah agar berujung kebahagiaan yang hakiki. Perkawinan berkah berarti perkawinan yang hari-harinya penuh kebaikan. Berkat berarti karunia Tuhan yang mendatangkan kebaikan pada kehidupan manusia. Berkat inilah yang mengantarkan kehidupan perkawinan pada keberuntungan dan kebahagiaan.

Agar kita lulus meraih perkawinan yang berkah, maka tiap pasangan suami istri harus berperilaku tulus dalam memainkan peran perkawinannya. Bentuk dari perilaku tulus agar lulus dalam setiap ujian perkawinan itu, tidak lain adalah wujud dari berani mengambil risiko dalam perkawinan. Termasuk di dalamnya berani keluar dari zona nyaman dan berani berkorban keluar dari zona aman. Selanjutnya, ia juga berani bersikap tepat pada saat yang tepat, karena inilah sebaik-baik amal yang harus terus dilatih.

Referensi perkawinan

Keberkahan itu, tentu tidak datang dengan sendirinya. Ia perlu dibangun dan diraih dengan kerja keras dan kerja cerdas. Di sini, agar keberkahan perkawinan dapat diraih pasangan suami istri, maka hemat penulis paling tidak ada dua belas referensi perkawinan yang harus menjadi pedoman dan arahan dalam mengarungi bahtera kehidupan perkawinan.

1. Alquran. Inilah referensi pertama yang harus dipedomani tiap pasangan suami istri. Dr. ‘Aidh bin ‘Abdullah Al-Qarni mengungkapkan Alquran adalah suatu kitab yang ayat-ayatnya disusun rapi serta dijelaskan secara terperinci lagi mengandung berkah bagi yang membaca, merenungkan, menjadikan obat penawar, berhakim padanya, dan mengamalkannya. Alquran juga mengandung petunjuk, rahmat, pelajaran, cahaya, bimbingan, jalan yang lurus, dan nasihat.

2. Hadits. Inilah referensi sebagai penguat dalam membangun kehidupan perkawinan. Sebab, isi hadits ini merupakan riwayat atau cerita yang bertalian dengan sabda dan perbuatan Nabi Muhammad saw. Dalam hal ini, banyak hadits yang berisi seputar perkawinan dan keluarga yang patut kita pedomani.

3. Pengalaman yang membuktikan. Keberadaan pengalaman ini menjadi bukti kehidupan dari seseorang. Jadi, pengalaman perkawinan dari seseorang, tentu dapat menjadi referensi yang harus diambil hikmahnya dalam membangun kehidupan perkawinan yang berkah.

4. Nasihat yang menyehatkan. Keberadaan nasihat itu, mungkin akan terasa sakit pada awalnya, namun akan menjadi nikmat menyehatkan diakhirnya. Sehingga adanya nasihat positif tentang perkawinan ini, tentu akan menjadi referensi yang mengkokohkan ikatan pernikahan terhadap pasangan suami istri yang baru menikah maupun mereka yang telah lama menikah.

5. Kematian yang mengingatkan. Kematian itu harus jadi referensi yang mengingatkan pasangan suami istri bahwa hidup di dunia ini hanya sementara. Untuk itu, perkawinan ini harus diisi dengan sesuatu yang menjadi bekal bagi kehidupan selanjutnya. Inilah referensi kematian yang telah menyadarkan kita terhadap perlunya membangun pernikahan yang berkah.

6. Perjalanan yang menggairahkan. Referensi inilah yang membuat kehidupan pernikahan tidak menoton. Tapi, justru sebaliknya perjalanan itu membuat kehidupan perkawinan menjadi bergairah, harmonis, dan menuju kehidupan yang lebih baik. Bukankah dengan perjalanan, pasangan suami istri dapat menjaring aneka hikmah dari apa yang dilihat dan dirasakan?

7. Kegagalan yang menyadarkan. Perkawinan itu berputar di antara kebaikan dan keburukan. Tepatnya, dalam perkawinan itu adakalanya meraih kesuksesan dan bisa juga menemui kegagalan. Di sini, untuk mencapai pernikahan yang berkah, maka jadikan kegagalan dalam kehidupan perkawinan itu sebagai referensi yang dapat menyadarkan pasangan suami istri.

8. Kritikan yang mendewasakan. Kritikan itu sejatinya adalah kejujuran dari penilaian seseorang. Untuk itu, jadikanlah tiap kritikan dari pasangan suami istri itu menjadi sesuatu hal yang dapat mendewasakan ikatan pernikahan.

9. Keterpurukan yang membangkitkan. Jadikalah, setiap keterpurukan sekecil apapun dalam kehidupan pernikahan itu sebagai referensi yang dapat membangkitkan ikatan perkawinan yang kokoh.

10. Kesalahan yang membangun kebesaran jiwa. Dalam mengisi kehidupan pernikahan, kadangkala muncul kesalahan yang tidak kita inginkan. Untuk itu, bangunlah kesadaran terhadap kesalahan dari pasangan suami istri itu sebagai referensi yang membangun kebesaran jiwa dalam pernikahan.

11. Kekalahan sebagai cermin untuk terus belajar dan bersabar. Inilah referensi lainnya yang perlu diciptakan dan terus dipelihara pasangan suami istri dalam menggapai pernikahan yang berkah.

12. Kemenangan untuk memperbanyak istighfar agar orentasi pernikahan tidak kesasar. Referensi terakhir ini mengajarkan agar pasangan suami istri tidak mabuk kepayang atas kemenangan yang telah didapat. Namun, adanya kemenangan itu harus menjadi motivasi agar suami istri lebih fokus dalam meraih perkawinan berkah yang sejati. (Arda Dinata, pengasuh Majelis Inspirasi Alquran dan Realitas Alam/MIQRA Indonesia).***


Arda Dinata:

PNS, Peneliti, Penulis Lepas, Pemateri, Motivator Penulisan Artikel Kesehatan dan Pendiri Majelis Inspirasi Alquran dan Realitas Alam [MIQRA Indonesia].

www.ArdaDinata.com
ARDA DINATA
@ardadinata

C00447A8B dan 51D2B002

Wikipedia

Hasil penelusuran