Cari Artikel di Blog Ini:

Jumat, 09 Oktober 2015

Diare, Lalat dan Pengelolaan Sampah

PULUHAN warga Desa Purbahayu, Kec. Pangandaran, Kab. Ciamis terkena wabah diare. Akibat serangan diare massal ini, tiga warga tewas. Sampai sejauh ini, penyebab diare masih belum diketahui. Namun, ada informasi bahwa penduduk yag terserang diare kebetulan rumahnya dekat dengan lokasi Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Sampah Purbahayu. (Kabar Priangan, 03/12/11).

Mencermati kasus diare tersebut, penulis teringat ketika berdiskusi dengan mahasiswa Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Unsil Tasikmalaya beberapa tahun lalu, yang pada waktu itu para mahasiswa sedang praktek lapangan di TPA Purbahayu untuk melakukan pengukuran kepadatan lalat di sekitar TPA tersebut. Dengan model TPA sampah yang terbuka (open dumping) seperti TPA Purbahayu, penulis sepintas sudah memperkirakaan keberadaan lalat di daerah tersebut tidak dapat terelakan lagi kehadirannya.

Akhirnya, benar saja berdasarkan hasil pengukuran yang dilakukan para mahasiswa menggunakan alat fly grill pada beberapa titik di sekitar TPA Purbahayu, ternyata hasilnya padat/tinggi antara 6-20 ekor dan bahkan ada yang lebih dari 21 ekor (pada sekali) pada setiap lokasi atau blok grill yang diukur.

Berdasarkan data tersebut, hal ini berarti populasi lalat di daerah TPA Purbahayu adalah padat/ tinggi sehingga perlu pengamanan terhadap tempat-tempat berkembangbiaknya lalat (seperti tumpukan sampah, kotoran hewan, dan lainnya), dan jika memungkinkan direncanakan juga upaya pengendaliannya. Pada waktu itu, penulis mengungkapkan kalau kondisi ini tidak segera ditangani dan di daerah tersebut terjadi diare, maka dampaknya akan terjadi penyebaran wabah diare lebih cepat melalui lalat ke penduduk sekitar TPA. Lebih-lebih bila kondisi sanitasi dan perilaku hidup bersih & sehat (PHBS) masyarakatnya juga masih kurang baik. Makanya, begitu, saya membaca berita di Kabar Priangan (3/12/11), pikiran saya langsung teringat masa itu. Mudah-mudahan, penyebab wabah diare di Purbahayu tersebut bukan karena masalah TPA sampah. Untuk itu, kita tunggu saja apa hasil pemeriksaan tim kesehatan? Namun begitu, sebetulnya antara wabah diare, lalat dan pengelolaan sampah ini memiliki keterkaitan yang patut kita waspadai.

Lalat dan pengelolaan sampah

Tak bisa dipungkiri, lalat ternyata merupakan vektor yang banyak merugikan manusia. Lalat ini mempunyai peranan dalam mempengaruhi kesehatan manusia. Menurut Riana (1992), keberadaan lalat dapat menyebarkan mikroorganisme seperti bakteri, virus, protozoa, telur dan cyste cacing pada manusia, sehingga dapat menimbulkan infeksi penyakit seperti kolera, disentri, tifus, kecacingan, dan penyakit lain yang penyebarannya dapat diakibatkan oleh lalat.

Saat ini, diperkirakan tidak kurang telah ditemukan sekira 60.000 sampai 100.000 spesies lalat. Namun, dari jumlah tersebut ada beberapa spesies lalat yang mempengaruhi kesehatan manusia, di antaranya adalah lalat rumah (Musca domestica). Selain lalat rumah, ada lalat hijau (Lucilia sp.) yang juga dapat menularkan penyakit. 

Melihat dari tidak kecilnya bahaya yang ditimbulkan oleh lalat, maka upaya pengendalian populasi kepadatan lalat di suatu daerah menjadi urgen untuk segera dilakukan langkah-langkah nyata dalam pengendaliannya. Tindakan pengendalian lalat dapat dilakukan, baik dengan cara fisik maupun kimiawi, misalnya dengan menggunakan insektisida.

Dalam catatan Direktorat Jenderal Pemberantasan Penyakit Menular dan Pengawasan Lingkungan Pemukiman/PPM dan PLP (1992), disebutkan bahwa sering kali upaya pengendalian lalat cenderung hanya untuk membunuh lalat saja, yang dalam waktu relatif singkat populasi lalat tersebut akan menurun. Akan tetapi, lalat-lalat yang masih tertinggal dan hidup, apabila menemukan tempat-tempat untuk berkembang biak, suatu saat akan mampu membentuk populasi baru sehingga upaya pengendalian akan sia-sia. Jadi, upaya pengendalian lalat seharusnya tidak hanya ditujukan pada populasi lalat yang dekat dengan manusia saja, tetapi juga harus pada sumber-sumber tempat berkembang biaknya lalat.

Langkah tersebut, tentu patut diperhitungkan dalam usaha pengendalian kepadatan lalat. Apalagi, mengingat kehidupan lalat itu (dalam berkembang biak) sangat tergantung pada kondisi lingkungan. Menurut entomolog, Soemarto, tempat yang paling disenangi oleh lalat untuk berkembang biak adalah tempat basah, benda-benda organik, tinja, sampah basah, kotoran binatang, dan tumbuh-tumbuhan busuk.

Pembubuhan kapur tohor

Berdasarkan parameter yang dikeluarkan Ditjen PPM dan PLP Depkes RI, tentang petunjuk pemberantasan lalat, apabila kepadatan lalat lebih dari 21 ekor, lokasi tersebut merupakan kategori populasi padat dan perlu upaya pengendalian dan perlu diadakan penanganan terhadap tempat-tempat yang menjadi sarang berkembang biaknya lalat.

Terkait dengan upaya pengendalian untuk menekan timbulnya populasi lalat yang tinggi, salah satu cara yang bisa kita lakukan yaitu dengan membubuhkan kapur tahor [Ca(OH)2] ke bagian atas tempat yang dijadikan lahan berkembang biaknya lalat, misalnya TPS yang menggunung di beberapa sudut Kota Bandung. Keefektifan dari penggunaan kapur tohor ini untuk menekan kepadatan populasi lalat yang hinggap di suatu tempat ini cukup singnifikan dan dapat dibuktikan di lapangan.

Apalagi, kita tahu keberadaan kapur tahor ini bersifat higroskopis, yaitu mempunyai kemampuan untuk menyerap air sehingga mengurangi kelembaban sampah. Selain itu, kapur tahor juga dapat menghilangkan dan menyerap bau, serta membunuh kuman. Terkait dengan masalah sampah, menurut Riana (1996), kapur tohor ini dapat menyusutkan sampah organik sampai 54,06 persen dari 1.540 gram sampah dengan 7,5 gram kapur tohor.

Sebagai contoh, pada tahun 2005 ketika penulis membimbing penelitian Rini Ariani, mahasiswa Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Siliwangi (Unsil) Tasikmalaya, di TPA Purbahayu Kec. Pangandaran, Kab. Ciamis, dengan mengambil sampel sampah organik. Satu sampel tanpa pembubuhan kapur tohor dan satu sampel lagi dengan dibubuhi kapur tohor dengan dosis 15 gr/0,07 meter persegi sampah organik, kemudian di atasnya dipasang alat perangkap lalat (flay trap) pada tumpukan tiap-tiap sampel tersebut.

Hasil eksperimen awal, ternyata setelah disimpan selama empat jam, pada sampel sampah yang tidak dibubuhkan kapur tohor didapat jumlah lalat rumah dan hijau yang hinggap hingga terperangkap pada flay trap adalah sebanyak 88 ekor. Sedangkan pada sampel sampah organik yang dibubuhi kapur tohor didapat jumlah lalat rumah dan lalat hijau yang hinggap hingga terperangkap pada flay trap yaitu sebanyak 24 ekor. Dari praeksperimen ini menunjukkan bahwa ada perbedaan pada sampah yang dibubuhi kapur tohor itu.

Dari sini, penelitian dilanjutkan dengan mengambil berbagai dosis kapur tohor per 0,07 m2 sampah yang akan diteliti, yaitu: sebanyak 10 gr; 15 gr; 20 gr; dan 25 gr, serta sampel sampah yang tidak dibubuhkan kapur tohor. Hasil yang didapat ternyata, rata-rata lalat yang hinggap pada sampah organik tanpa pembubuhan kapur tohor adalah 51 ekor. Sedangkan rata-rata jumlah lalat yang hinggap pada sampah organik dengan pembubuhan berbagai dosis kapur tohor, yaitu dosis 10 gr didapat sebanyak 22 ekor lalat; dosis 15 gr didapat 8 ekor lalat; dosis 20 gr didapat 4 ekor lalat; dan dosis 25 gr didapat 1 ekor lalat.

Jadi, secara jelas ada perbedaan jumlah lalat yang hinggap pada sampah yang menggunakan pembubuhan kapur tohor dengan sampah organik yang tidak menggunakan kapur tohor. Dalam hal ini, patut diingat bahwa suatu program pengelolaan sampah belum bisa dikatakan berhasil keseluruhannya dengan baik, tanpa menyelesaikan hingga tahap disposalnya (pembungan akhir) dengan baik. 

ARDA DINATA adalah pemerhati masalah lingkungan dan pendiri Majelis Inspirasi Alquran & Realitas Alam/ MIQRA Indonesia, http://www.miqraindonesia.com.


Arda Dinata:

PNS, Peneliti, Penulis Lepas, Pemateri, Motivator Penulisan Artikel Kesehatan dan Pendiri Majelis Inspirasi Alquran dan Realitas Alam [MIQRA Indonesia].

www.ArdaDinata.com
ARDA DINATA
@ardadinata

C00447A8B dan 51D2B002