Cari Artikel di Blog Ini:

Jumat, 30 Oktober 2015

Telaga Kesejukan Keluarga

KESEJUKAN keluarga melahirkan ketenangan. Ibarat sebuah telaga yang menawarkan rasa nyaman. Dalam realitasnya, telaga itu semacam danau kecil di mana cuma ada riak-riak saja. Permukaannya bening membuat sinar matahari bahkan dapat mencapai dasarnya. Ia bagaikan cermin yang membuat langit dan keadaan sekitarnya dapat berkaca. 

Simbolisasi telaga sungguh melegakan pikiran. Siapa pun Anda ketika dirasuki rasa lelah, telaga menjanjikan tempat istirahat. Ketika rasa haus didera terik matahari, telaga adalah ‘peri’ pemberi kesejukan air dan semilir angin. Jika Anda merasa hampa, telaga pun dapat dijadikan cermin tempat ditemukannya kembali keindahan makna hidup. Ia adalah inspirasi yang akan merangsang munculnya ingatan-ingatan indah di masa lalu. 

Menurut Miranda Risang Ayu, dalam Permata Rumah Kita (2002), personifikasi telaga dapat bermacam-macam. Bisa orangtua, pasangan hidup, atau sahabat. Sebagian dari mereka adalah tamsil yang nyata tentang telaga. Namun, sebagian yang lain dari mereka juga adalah orang-orang yang menuntut agar telaga terpersonifikasikan senyata-nyatanya.

Lalu, bagaimana agar kehidupan keluarga kita dapat menghadirkan kesejukan layaknya sebuah telaga? Jawabnya, seluruh anggota keluarga baik suami, istri dan anak-anak harus jadi telaga. Dalam hal ini, Miranda mengingatkan kalau ketelagaan manusia tentu tidak ada di balik bajunya. Ketelagaan seorang manusia ada di balik hatinya. Dan, betapa kecilnya telaga itu. Ia dapat saja kering ketika kemarau panjang datang.
Memang, romantisme kehidupan keluarga bisa saja diterjang badai ketidakcocokan. Namun, bukan lantas kita menghalalkan untuk tidak berusaha merangkai kembali keharmonisan yang hilang. Di sini, kuncinya ada pada kesadaran hati akan tali kasih yang pernah dijanjikan bersama pada awal pernikahan. Kita harus berusaha sekuat tenaga belajar melihat sisi positif dari pasangan kita. Jadilah keluarga pembelajar.      
Menjadi keluarga pembelajar ini merupakan langkah tepat untuk menghidupkan dan menumbuhkan rasa cinta kasih dalam keluarga. Sebab, meminjam bahasa Dwi Budiyanto (2007), ia adalah telaga yang mampu menumbuhkan benih potensi kekasih kita. Ia akan mengalir melalui parit-parit kesempatan yang diberikan kepadanya. Suami harus mampu menyingkirkan sampah-sampah yang akan menggenangi parit, sehingga menyumbat laju air telaga.
Bagi suami, makna yang terkandung dari ungkapan itu ialah usaha memberi kesempatan kepada istri untuk mengaktualisasikan diri. Yakni jalan agar tidak ada yang tertekan dan merasa dikekang dalam keluarga. Atmosfir inilah yang coba selalu dibangun dalam mengkokohkan ikatan keharmonisan cinta dalam keluarga. Dalam hal pendidikan, anak-anak dipacu untuk selalu cinta ilmu, begitu pun istri tidak ketinggalan untuk menambah keilmuanya.
Singkatnya, membangun telaga kesejukan keluarga tidak lain adalah mempertahankan ikatan keluarga yang telah terbentuk dan tidak boleh diceraikan. Bila serat-serat perkawinan itu diceraikan, maka telaga kesejukan keluarga akan terusik. Dan ini alamat akan terjadinya riak-riak yang tidak diinginkan.
Untuk menggapai kesejukan keluarga, maka paling tidak ada dua komitmen perilaku yang patut dilakukan. Pertama, tiap anggota keluarga harus mengutamakan perilaku apa yang baik untuk semua, di atas apa yang baik untuk sendiri. Misalnya dalam mengambil keputusan mesti memikirkan kepentingan semua anggota keluarga.
Kedua, mengutamakan belajar dari keluarga, di atas mengajarkan kepada keluarga. Sebagai orangtua, buang jauh-jauh anggapan bahwa kitalah yang paling benar. Sebab, anggota keluarga ialah sumber pembelajaran terbaik. Seperti diakui Steven W Vannoy dalam ucapannya, ”Hidupku, seperti kebayakan yang lain, telah diubah oleh anugerah berharga yang ditawarkan anak-anak setiap hari, andai saja kita mau melihat, mendengarkan, dan belajar dari pelajaran yang mereka berikan: Anak-anak itu mencintai, menyukai, berbagi, berteriak, bermain, menangis, dan hidup. Mengapa kita orang dewasa tidak bisa begitu lepas, nyaman, sederhana, dan jujur?”

Bagaimana menurut Anda?

(Arda Dinata, motivator di Majelis Inspirasi Alquran dan Realitas Alam/MIQRA Indonesia).*** 


Arda Dinata:

PNS, Peneliti, Penulis Lepas, Pemateri, Motivator Penulisan Artikel Kesehatan dan Pendiri Majelis Inspirasi Alquran dan Realitas Alam [MIQRA Indonesia].

www.ArdaDinata.com
ARDA DINATA
@ardadinata

C00447A8B dan 51D2B002