Cari Artikel di Blog Ini:

Kamis, 19 November 2015

Nyanyian Diam Dalam Dekapan Rembulan

PAGI ceria dan suntuk itu hanya masalah suasana hati dan pikiran kita. Dua mata uang itu akan menyelimuti kehidupan setiap manusia. Walaupun kadar dan takarannya tentu berbeda-beda yang terjadi pada setiap orang. Kondisi seperti itu, harusnya menjadi pedoman wajib bagi siapapun ketika mencoba memaknai kondisi yang terjadi pada temen, sahabat, pacar, pasangan hidup, orang tua, dan anak-anak sekalipun.

Cerianya aku, orang sekeliling penuh tanda tanya? Begitu pun diamnya aku memberi tanda tanya pula pada orang-orang sekitarku. Sungguh sebuah dilema yang kadangkala membuat binggung pikiran dan sikap yang harus diperlihatkan saya kepada orang yang ada diekelilingku. Lebih-lebih pada mereka yang selalu kepo, ingin tahu yang macam-macam urusan dan kondisi orang lain.

Sejatinya, kepedulian dan perhatian pada orang lain itu perlu dan diajarkan agama. Namun, bukan berarti kepedulian dan perhatian tentang keingin tahuan itu harus dengan sindiran dan joki-joki yang membuat lawan bicara kita justru menjadi anti pati.

Untuk itu, bangunlah kepedulian kita itu dengan memperhatikan situasi dan kondisi lawan bicara kita. Berempatilah lewat introspeksi diri agar hubungan tetap ada dalam koridor mawas diri. Berempatilah seperti rembulan. Begitu meneduhkan dan memberi pencahayaan dalam gelapnya malam.

Bersama rembulan malam, saya terus berusaha menyalakan kebaikan. Kemesraan rembulan iramanya terus dinyanyikan sang kunang-kunang kebenaran. Indah menawan memberi penawaran keindahan pada gelapnya malam. Tanpa banyak bicara, ia membagikan kemesraan dan kedamaian pada seisi alam. Saya begitu memuji rembulan yang ikhlas menyebarkan sejuta rasa penuh kedamaian pada seisi alam, termasuk manusia dan binatang melata.

Begitu indah nyanyian rembulan bersama malam yang penuh pelajaran. Malam diam bersama rembulan, nyanyian dan tarian keberkahannya nyata dirasakan. Saya berharap sikap diam ini bisa dimakani secara benar. Orang diam bisa jadi karena banyak yang dipikirkan, banyak kerjaan yang mesti diselesaikan, ada rasa yang pengen disemai dalam hatinya, ada sejuta hal lainnya yang tidak bisa diungkapkan lewat bahasa dan perilaku nyata.

Nyanyian diam dalam dekapan rembulan adalah satu sesi drama yang bisa jadi sedang dimainkan seseorang. Jadi, mari sikapi diam seseorang itu sebagai bongkahan emas yang bisa kita tambang untuk memotivasi dan introspeksi yang mendewasakan diri.

Bagaimana menurut Anda?***

Pnd, 19 November 2015

Arda Dinata
Www.ArdaDinata.com


Arda Dinata:

PNS, Peneliti, Penulis Lepas, Pemateri, Motivator Penulisan Artikel Kesehatan dan Pendiri Majelis Inspirasi Alquran dan Realitas Alam [MIQRA Indonesia].

www.ArdaDinata.com
ARDA DINATA
@ardadinata

C00447A8B dan 51D2B002

Wikipedia

Hasil penelusuran

ARSIP ARTIKEL