Cari Artikel di Blog Ini:

Kamis, 10 Maret 2016

Tips Menulis Fiksi

1. IDE:
Segalanya dimulai dari ide. Ide tak harus diperoleh dari tempat yang megah; tak selalu harus dengan latar belakang yang heboh.  Tentu saja selalu menarik untuk membuat cerita dengan latar belakang sejarah atau politik atau peristiwa nyata seperti kisah kolonialisme Belanda, pendudukan Jepang, peristiwa 30 September atau kehidupan di masa Demokrasi Terpimpin Bung Karno. Jika Anda memilih sebuah cerita dengan latar belakang sejarah dan politik nyata, maka konsekuensi logisnya: anda akan membutuhkan riset yang panjang, besar, serius, dan mendalam.
Ide bisa saja diperoleh dari tempat yang 'sederhana', dari rumah Anda sendiri; dari keluarga; dari sekolah, kampus atau dari jalan-jalan yang Anda lalui setiap hari.

Contoh:
Setiap pagi, jika Anda berjalan-jalan di sekeliling kompleks rumah Anda, bayangkanlah, seperti apakah rumah A yang kebunnya berantakan dengan keluarga beranak 5? Mungkin berisik dan penuh mainan. Bagaimanakah hubungan suami-isteri itu? Harmonis? Bertengkar terus? Bagaimanakah keluarga besar mereka? Tipe keluarga yang ikut campur? Keluarga relijius?
Atau rumah B, suami-isteri musisi tanpa anak. Seperti apakah rumahnya?
Mengobservasi lingkungan rumah mereka tak berarti kita akan menulis tentang mereka, tetapi untuk belajar bagaimana memperhatikan gerak-gerik manusia yang wajar dan realistik.

Note: Catatlah berbagai ide itu. Satu cerita bisa saja terdiri dari beberapa ide yang diramu dalam satu cerita.

2. TEMA

Tema sebetulnya hanya membantu supaya Anda fokus.
Misalnya, Anda ingin membuat sebuah kisah cinta dengan latar belakang perang kemerdekaan 1945. Tema utama adalah kisah cinta pasangan tersebut; sedangkan perang kemerdekaan Indonesia melawan  Belanda adalah latar belakang.
Tantangan utama membuat tema yang berbeda dengan latar belakang adalah: janganlah latar belakang itu menjadi tempelan belaka. Kisah perang Indonesia melawan Belanda harus berhasil masuk dan diramu dengan persoalan cinta antar pasangan tersebut.
    
3. PLOT:

Sejak awal seorang penulis sudah harus menyiapkan kerangka plot. Yang paling umum adalah plot 3 babak yang dikenal dalam novel dan film konvensional.

Babak 1: perkenalan karakter dan problem
Babak 2: Puncak problem/klimaks
Babak 3: Penyelesaian

Tetapi tentu saja setiap karya yang bagus tak harus selalu mengikuti konsep 3 babak ini.
Novel-novel Virgina Woolf dan James Joyce sama sekali tidak mengikuti konsep ini. Dari pemikiran tokohnya, bisa saja meloncat pada realita keseharian lantas meloncat lagi ke pemikiran tokohnya.

Plot yang sudah harus Anda siapkan untuk sebuah cerita pendek ataupun novel kita-kira seperti sinopsis untuk diri Anda:

Babak 1:  Protagonis, Anda seorang lelaki yang jatuh cinta pada seorang perempuan dengan latar belakang perang kemerdekaan 1945.

Babak 2: Suasana memanas, baik di kawasan konflik, maupun antar kedua keluarga protagonis. Terjadi pergulatan psikologi keluarga dan pasangan yang jatuh cinta.

Babak 3: Akhir cerita. Indonesia merdeka. Apakah pasangan ini tetap bertahan atau berpisah?

Plot di dalam novel The Great Gatsby (Scott F.Fitzgerald) memang sebuah kisah cinta yang tak sampai dan berakhir dengan tragedi. Tetapi mengapa novel itu disebut sebuat masterpiece klasik atau The Great American Novel? Karena Fitzgerald berhasil memasukkan latar belakang sosial politik Amerika saat itu dan meramukannya ke dalam tokoh-tokoh utama dengan baik. Nick Carraway adalah perwakilan  dari kelas menengah atas berpendidikan tinggi dari Yale University yang menjadi narator dan saksi dari bagaimana tingkah laku kelas atas New York dengan kelas bawah. Bagaimana seseorang yang misterius seperti Jay Gatsby dengan latar belakang tak jelas yang begitu kaya raya dan mencintai Daisy Buchanan, isteri Tom Buchanan tanpa henti.


4.  KARAKTER:

Saat membentuk karakter/tokoh, Anda harus membuat tokoh itu sesuai fitrahnya dalam cerita.
Jika Anda menulis tentang seorang anak guru yang lahir di sebuah desa di Jawa Tengah, maka bahasa, tingkah laku, dan bahasa tubuh yang dideskripsikan harus sesuai dengan yang sudah Anda rentangkan sejak awal. Tentu saja, jika tokoh ini kemudian mendapat pendidikan, memberontak dengan keterbatasan yang dimilikinya, maka Anda bisa membuat perkembangan kepribadian sang tokoh: dari seorang anak guru di desa yang berbahasa sederhana, kemudian karena pendidikan dan karena kegemarannya membaca maka dia mulai berbicara dan berlaku yang memperlihatkan jangkauan yang lebih luas.

Artinya: jika Anda membuat seorang tokoh yang tidak berpendidikan tetapi dalam kalimatnya dia berpuisi atau berbahasa sastra, maka itu artinya Anda mengkhianati cerita Anda sendiri. Seperti yang dikatakan Hemingway, Anda membangun sebuah 'fake case histories'.

Note: Membangun tokoh/karakter adalah bagian yang paling sulit sekaligus paling menggairahkan dan menyenangkan. Kita menciptakan sebuah karakter, artinya kita juga sekaligus membangun 'sejarah tokoh tersebut'.

5.    AKHIR CERITA:

Ini adalah hal pelik. Pembaca Indonesia umumnya menyukai akhir yang bahagia. Mereka sering marah dan kecewa jika sebuah cerpen atau novel diakhiri dengan kematian, perpisahan atau kekalahan. Namun, anda harus jujur pada diri sendiri apakah cerita ini layak untuk diakhiri dengan kebahagiaan atau dengan kepedihan. Jangan memaksa diri.

Kalaupun sejak awal Anda sudah merencanakan mengakhiri dengan sebuah kesedihan, Anda tak bisa mendadak saja membuat akhir yang sedih itu tanpa logika. Anda harus menyelipkan tanda-tanda itu di babak 1 dan 2, tanpa menghilangkan daya kejut.

Disarikan dari writing clinic bersama Leila S.Chudori.
Sumber: Femina


Arda Dinata:

PNS, Peneliti, Penulis Lepas, Pemateri, Motivator Penulisan Artikel Kesehatan dan Pendiri Majelis Inspirasi Alquran dan Realitas Alam [MIQRA Indonesia].

www.ArdaDinata.com
ARDA DINATA
@ardadinata

C00447A8B dan 51D2B002

Wikipedia

Hasil penelusuran