Kamis, 10 Maret 2016

Untuk Apa Kita Berlatih “Free Writing”?

Untuk Apa Kita Berlatih "Free Writing"?
oleh: Hernowo
Pak Hernowo, saya kesulitan untuk memulai menulis.

Pak Hernowo, begitu saya sudah memulai menulis dan lancar hingga mendapatkan tulisan sebanyak kira-kira satu halaman lebih, eh tiba-tiba saya kehabisan kata-kata. Macet. Saya tidak tahu lagi mau menulis apa. Bagaimana mengatasi hal ini?
Pak Hernowo, saya merasa sudah memiliki ide dan di kepala saya rasa-rasanya sudah ada bahan yang tersedia untuk saya tuliskan. Tetapi, begitu saya membuka laptop, saya tidak dapat menulis apa pun. Saya kebingungan mau menuliskan apa.

Pak Hernowo, bagaimana saya dapat memiliki keterampilan dalam merangkai kalimat?

Pak Hernowo, bagaimana caranya agar saya mudah mengalirkan kata-kata serta rangkaian kata dan kalimat saya kemudian enak dibaca?

Pak Hernowo, kata bapak menulis itu terkait dengan pikiran. Bagaimana agar pikiran saya "berisi" dan mudah saya ungkapkan (tuliskan)?

Pak Hernowo, apa yang perlu saya lakukan agar saya tidak tertekan dalam mengerjakan tugas menulis? Bagaimana membuat diri saya nyaman dan senang serta bergairah menulis?

Dahulu, sebelum mengenal free writing—lebih tepatnya sebelum saya mempraktikkan free writing secara maraton—berbagai pertanyaan tersebut saya jawab dengan berteori ke sana-kemari. 

Saat ini, saya akan menjawabnya dengan menunjukkan praktik free writing. Tepatnya, praktik menulis bebas selama sepuluh menit setiap hari. 

Hanya dengan menjalankan praktik menulis bebaslah berbagai persoalan menulis ada kemungkinan dapat disingkirkan. Memang, cara mengatasinya tidak segera dan instan. Perlu waktu dan proses. 

Hanya, saya ingin menjamin bahwa praktik free writing dapat membantu diri kita dalam mengatasi masalah atau hambatan menulis.

Sekali lagi, praktik free writing ini hanya memerlukan waktu sepuluh menit setiap hari. Inti free writing hanyalah "membuang" pikiran tanpa memedulikan hasil yang ditulis. Yang dipentingkan adalah proses menulisnya. 

Tepatnya, merasakan proses dan mengalami apa saja yang muncul ketika kita berpraktik free writing. 

Nah, agar praktik free writing itu efektif, sebaiknya si pelaku free writing—setelah selesai berpraktik—merekam apa yang dialami dan dirasakan dalam bentuk tertulis.

Apabila saya diminta untuk menyampaikan apa saja kira-kira manfaat free writing—tentunya setelah seseorang mempraktikkannya—saya pun akan menunjukkan, setidaknya, ada tiga manfaat. 

Manfaat pertama, free writing akan membantu seorang penulis atau calon penulis untuk meningkatkan keterampilan "membuka pikiran". 

Tak banyak penulis atau calon penulis yang menyadari soal ini. Menulis, ternyata, tak hanya berhubungan dengan tata bahasa dan berbagai teori atau peraturan menulis. 

Menulis berhubungan dengan kesiapan pikiran untuk dibuka. Hanya dengan mengetikkan (memencet papan ketik berisi) huruf-huruf ke layar laptop atau gawai selama sepuluh menit, ternyata pergerakan tangan kita itu dapat membantu diri kita untuk membuka pikiran—walaupun yang kita ketikkan merupakan kata-kata yang tanpa makna!

Manfaat kedua, free writing akan membantu penulis atau calon penulis untuk dengan mudah dan enak "mengalirkan pikiran". 

Setelah pikiran dibiasakan dibuka, tentu saja pikiran tidak dapat mengalir sendiri. Pikiran harus dibuatkan jalan (sekaligus didorong) untuk mengalir keluar lewat "saluran" dan "kendaraan" bernama kata-kata. 

Yang dimaksud "saluran" tentu saja adalah tangan kita. Nah, agar kata-kata dapat mendesak pikiran untuk mengalir, kita perlu memiliki beragam dan banyak sekali kata-kata. Dan untuk memiliki kekayaan kata, kita harus membaca. Oleh karena itu, saya kemudian menggabungkan free writing dengan "mengikat makna". 

Penggabungan praktik (free writing dan mengikat makna) ini akan membuat seorang penulis atau calon penulis dapat meningkatkan keterampilan "mengalirkan pikiran".

Manfaat ketiga, free writing juga akan membantu seorang penulis dan calon penulis dalam meningkatkan keterampilan-dasar penting dalam menulis yang disebut sebagai keterampilan "merangkai pikiran". 

Setelah pikiran membuka dan siap mengalir, tentu saja agar yang dibuka dan yang dialirkan itu kemudian enak dan indah dibaca, maka rangkaian pikiran—yang diwakili oleh susunan kata dan kalimat—tersebut perlu disampaikan secara tertata, bening, dan indah. 

Free writing yang dibiasakan berkali-kali akan membuat keterampilan "merangkai pikiran" tersebut meningkat pesat.

Semoga bermanfaat.[]
_____________
*  Hernowo - pelatih senior di lembaga pelatihan InterMedia

Tak ada penulis yang tidak mengenal Hernowo, penulis dan editor handal Indonesia. Lewat bukunya yang sangat terkenal, "Mengikat Makna" lulusan Teknik Industri ITB, CEO dari Mizan Learning Center ini telah mengompori dan menginspirasi ribuan penulis. Prestasinya mencengangkan. Hanya dalam kurun waktu empat tahun mampu melahirkan 24 buku. Padahal beliau memulainya di usia 44 tahun.



PELUANG BISNIS TERBARU DI ERA NETIZEN
Arda Dinata:

PNS, Peneliti, Penulis Lepas, Pemateri, Motivator Penulisan Artikel Kesehatan dan Pendiri Majelis Inspirasi Alquran dan Realitas Alam [MIQRA Indonesia].

www.ArdaDinata.com
www.AzariaStore.com
ARDA DINATA
@ardadinata

C00447A8B dan 51D2B002