Minggu, 23 Oktober 2016

Pengendalian Avian Influenza Menggunakan Prinsip Ecohealth

TUTORIAL KESEHATAN LINGKUNGAN

 "PENGENDALIAN AVIAN INFLUENZA MENGGUNAKAN PRINSIP ECOHEALTH "


Oleh:
Arda Dinata (NIM. 16/403188/PKU/16006)
Fitriani Ayu Wulandari (NIM. 16/403240/PKU/16058)
Nurfitria Hariyani (NIM. 16/403322/PKU/16140)
Yaniar Nurhadini (NIM. 16/403386/PKU/16204)


Tutor : Winni R.E.Tumangor, M.PH

PROGRAM PASCASARJANA ILMU KESEHATAN MASYARAKAT 
 FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS GADJAH MADA 
 YOGYAKARTA
2016


 1.    Pendahuluan
Semakin meningkatnya jumlah penduduk di Indonesia, semakin meningkat pula kebutuhan akan pangan seperti daging, susu, telur untuk memenuhi kebutuhan protein manusia yang nantinya akan berdampak pada kesehatan manusia (institute of Medicine 2003). Kebutuhan akan protein itu dapat diperoleh melalui protein hewani. Tingginya konsumsi protein hewani menyebabkan meningkatnya jumlah hewan yang ada di Indonesia, hal inipun menyebabkan permasalahan kesehatan yang disebabkan oleh hewan (zoonosis). Zoonosis merupakan penyakit yang dapat ditularkan melalui hewan ke manusia atau dari manusia ke hewan. Data terdahulu menunjukkan 60% penyakit ditularkan melalui hewan (Budiaharta et al. 2015).
Avian influenza (AI) atau flu burung merupakan salah satu penyakit menular stategis di Indonesia. Flu burung atau yang sering dikenal dengan H5N1 merupakan suatu penyakit yang disebabkan oleh virus yang menginfeksi burung (unggas). Penyakit ini dapat menular dengan cepat pada hewan ternak terutama unggas dengan angka kesakitan atau kematian mencapai 90-100% (Akoso 2006). Indonesia pertama kali melaporkan kasus Avian influenza pada tahun 1997 dengan 18 kasus terinfeksi dan 6 orang meninggal. Tahun 2006 WHO melaporkan case fatality rate (CFR) avian influenza 59,4% dengan 256 kasus dan 152 di berbagai negara termasuk Indonesia. Penelitian yang dilakukan oleh (Sedyaningsing et al. 2006) menyebutkan kasus AI yang terindentifkasi pada juli 2005 hingga oktober 2006 adalah 25 kasus dengan CFR 76,4% di 33 provinsi Indonesia dan 81% kasus dilaporkan karena kontak langsung dan tidak langsung dengan hewan sakit dan mati.
Virus flu burung selain menyebabkan kematian pada manusia, dapat juga menyebabkan kematian pada unggas yang terinfeksi virus H5N1. Hal ini menyebabkan perekonomian industri ternak mengalami kerugian yang cukup besar. Review data yang dilakukan oleh (Basuno 2008) menyebutkan kerugian jangka pendek karena flu burung mencapai Rp. 14-48 trilliun pada tahun 2006. Dampak lain akibat wabah avian influenza  berdampak pada peternakan rakyat. Menurut Kajian Pustlitbang Sosek bekerjasama dengan Ditjen Peternakan dan FAO pada tahun 2004 menyebutkan bahwa usaha ayam petelur merupakan usaha peternakan rakyat yang paling berpengaruh terhadap wabah flu burung (Basuno 2008).
Pencegahan dan pengendalian wabah flu burung dapat dilakukan dengan pendekatan ecohealth. Pendekatan ecohealth dilakukan dengan cara mengkaji perubahan lingkungan biologi, fisik, sosial, dan ekonomi yang dihubungkan dengan dampak kesehatan masyarakat. Ecohealth merupakan suatu pendekatan sistematis untuk pencegahan, diagnostik, dan prognostik aspek managemen ekosistem dan untuk memahami hubungan kesehatan ekosistem dengan manusia (Aguirre & Gómez 2009). Ecohealth juga merupakan suatu pendekatan multidisiplin yang menyatukan berbagai disiplin ilmu atau profesi seperti dokter, dokter hewan, ahli konservasi, ekologi, ekonomi, sosial, dan lainnya dalam mempelajari perubahan ekosistem yang berdampak terhadap kesehatan (Lebel 2003).
Berdasarkan uraian diatas maka tujuan dari penulisan paper ini adalah bagaimana melakukan kontrol terhadap penularan avian influenza  dengan menggunakan 6 prinsip ecohealth.

2.    Pengendalian Avian Influenza  Menggunakan 6 Prinsip Ecohealth
Ecohealth IDRC program leader 2016 memperkenalkan 6 prinsip ecohealth yaitu (Unahalekhaka et al. 2013):

a.    Sistem Berfikir
Sistem berfikir atau suatu pemikiran sistematik dalam melakukan pencegahan yang dikaitkan dengan pengontrolan avian influenza ini menggunakan pola hubungan antara ekosistem dengan sosioekonomi. Sistem berfikir ini berfokus pada hubungan sebab akibat yang menunjukkan bahwa memeriksa keterkaitan dan interaksi antar unsur yang membentuk sistem merupakan suatu cara berfikir sistematik (Unahalekhaka et al. 2013).
Dalam pengontrol penyakit avian influenza dengan menggunakan sistem berfikir menunjukkan bahwa sebelum melakukan pengontrolan terhadap penyakit, harus terlebih dahulu diketahui penyebab dan akibat dari avian influenza sehingga sistem pengontrolan dapat dilaksanakan berdasarkan pendekatan sistem sosioekonomi dan ekosistem. Penelitian yang dilakukan oleh (Yupiana et al. 2010) menunjukkan faktor resiko terjadinya penyakit flu burung adalah karena kepadatan unggas, kurangnya penerapan sanitasi dan APD ketika kontak dengan unggas, sehingga dalam penangangan unggas (kontak langsung) perlu kesadaran diri berbagai pihak dalam hygiene sanitasi dan penggunaan APD.
Pengontrolan kasus flu burung dalam segi sosioekonomi dapat dilakukan dengan pemberian vaksinasi pada unggas dan sanitasi lingkungan sekitar unggas. Namun jika dilihat di Indonesia usaha unggas umumnya merupakan usaha kecil yang memiliki keterbatasan modal, lahan, managemen, dan lingkungan sekitar pemeliharaan unggas. Modal yang terbatas menyebabkan tidak adanya dana yang dianggarkan untuk vaksinasi unggas sehingga resiko kematian unggas akan jauh lebih meningkat (Ilham 2013). Sehingga penanganan masalah sosioekonomi dapat dilakukan dengan peningkatan dukungan sosial ekonomi dari pemerintah daerah, penyuluhan dari tenaga kesehatan mengenai sanitasi dan penggunaan APD yang didukung dan diikuti oleh daerah-daerah terkait.
Pada saat ini, dunia dihadapkan pada perubahan iklim yang cukup ekstrim, perubahan ekosistem (iklim) akan berdampak pada perubahan suhu, kelembaban yang pada akhirnya akan memicu perubahan biologi agen patologi seperti virus. Keadaan yang lembab akan menyebabkan virus H5N1 lebih bertahan lama. Keadaan lembab juga menyebabkan kondisi unggas semakin menurun, sehingga virus H5N1 akan dengan mudah terjangkit pada unggas dan menyebabkan munculnya wabah flu burung. Sehingga dalam pengendalian flu burung dapat dilakukan dengan menjaga kebersihan ekosistem atau keadaan lingkungan pemeliharaan unggas, kondisi lingkungan terlindungi dengan membersihkan lingkungan setiap hari, menghindari lokasi pemeliharaan dari kelembaban, dan pemberian vaksin (Bahri & Syafriati 2011; Food and Agrucultural Organization (FAO) 2005).

b.   Penelitian Lintas Disiplin
Pengontrolan kasus Avian influenza dapat dilakukan dengan melakukan pendekatan lintas disiplin yaitu dengan menyatukan metode, teori dan konsep dari beberapa disiplin ilmu menggunakan perspektif non akdaemis. Pendekatan ini juga memerlukan komunikasi lintas disiplin antara dokter, masyarakat, peneliti, dan pengambil keputusan (Unahalekhaka et al. 2013).
Prinsip ini menjelaskan bahwa penelitian dari lintas disiplin melakukan penelitian tentang penyakit flu burung. Kerjasama tidak hanya dilakukan sebatas melakukan penelitian bersama, melainkan mendiskusikan situasi secara keseluruhan untuk diselidiki, melakukan pertukaran-pertukaran ide sehingga terbentuk tindakan-tindakan yang diaplikasikan dalam penelitian. Selain itu, kerjasama dilakukan juga dalam menghadapi permasalahan-permasalah terkait penelitian, dan pengaplikasian hasil penelitian di masyarakat (Unahalekhaka et al. 2013).
Untuk melakukan pengontrolan penanganan penyakit flu burung, Pemerintah telah membentuk Komite Nasional Pengendalian Flu Burung (Avian influenza) dan kesiapsiagaan menghadapi Pandemi Influenza yang ditetapkan melalui Peraturan Presiden RI No. 7 Tahun 2006 (Hassan et al. 2009).

c.    Partisipasi
Prinsip partisipasi merupakan inovasi, kerjasama dan kolaborasi dari berbagai pihak dalam suatu komunitas, ilmuwan, dan para penentu kebijakan dalam mengontrol suatu penyakit (Budiaharta et al. 2015). Prinsip partisipasi ini adalah melibatkan berbagai peran baik masyarakat, pemerintah, atau peneliti dalam mengembangkan solusi kesehatan dalam tindakan yang diperlukan untuk mengatasi suatu penyakit (Grace et al. 2012).
Pengontrolan terhadap penyakit flu burung dapat dilakukan dengan membuat suatu kebijakan yang dilakukan oleh penentu kebijakan untuk mengontrol perdagangan ilegal unggas dan burung liar, karena perdagangan ilegal ini dapat berdampak pada penyebaran globab virus H5N1. Dalam melakukan pengendalian perdagangan ilegal yang akan berdampak pada kesehatan global jangka panjang maka pemerintah sebaiknya melakukan kerjasama dan kolaborasi dengan berbagai pihak untuk menetapkan kebijakan tersebut. Regulasi lain yang dapat dilakukan untuk program pengontrolan adalah dengan melakukan standar operasional di peternakan unggas, pertanian, dan pemasaran serta melakukan regulasi dipasar hewan (Maffi & Mitchell 2015).
Partisipasi masyarakat terutama peternak hewan yang dapat dilakukan dengan partisipasi masyarakat dalam mengendalikan penularan dengan melakukan hygiene sanitasi baik ketika kontak dengan unggas ataupun memasak hewan ternak, selain itu partisipasi masyarakat dapat dilakukan dengan cara memberi vaksinasi terhadap hewan peliharaan terutama pada industri ternak dengan didukung oleh pemerintah dalam membuat peraturan tentang vaksinasi hewan. Partisipasi masyarakat juga dapat dilakukan dengan cara pelaporan kepada pemimpin daerah/puskesmas ketika ada binatang ternak yang mati mendadak. Masyarakat lain yang dapat berpartisipasi adalah dokter hewan dengan melakukan pemeriksaan berkala, penyuluhan mengenai flu Burung. Peran peneliti juga diharapkan dapat melakukan tindakan pengontrolan penyakit flu burung dengan melakukan kajian-kajian terhadap penyakit tersebut sehingga didapatkan hasil penelitian yang dapat mencegah penyakit flu burung.
Peran pemerintah dalam pengendalian flu burung dapat dilakukan dengan membuat regulasi, seperti regulasi pengendalian penyakit avian influenza pada unggas diatur melalui Keputusan Direktur Jenderal Peternakan No: 45/Kpts/PD.610/F/06.06 tentang Prosedur Operasional Standar Pengendalian Penyakit Avian influenza  di Indonesia. Sedangkan pada kesehatan manusia penyakit Avian Influenza dinyatakan sebagai Kejadian Luar Biasa (KLB) diatur dalam Keputusan Menteri Kesehatan RI No. 1372/Menkes/Per/IX/2005 tentang Penetapan Kondisi Kejadian Luar Biasa Penyakit Flu Burung (Avian influenza) (Hassan et al. 2009).  

d.   Gender Dan Kesetaraan Sosial
Prinsip ini menganalisis perbedaan peran laki-laki dan perempuan dalam pengontrolan penyakit, perbedaan usia, kelompok sosial, etnis, ekonomi, dan pendidikan dalam melakukan kontrol terhadap suatu penyakit. Perbedaan dalam prinsip ini tercermin dalam hubungan mereka dengan ekosistem, paparan mereka terhadap resiko kesehatan yang berbeda, status dan kesejahteraan (Budiaharta et al. 2015).
Penelitian yang dilakukan oleh (Ningtyas 2014) tentang pengaruh pendidikan terhadap penyakit flu burung menunjukkan bahwa ada pengaruh tingkat pendidikan kesehatan terhadap kesiagaan penyakit flu burung, sehingga dengan pengetahuan yang tinggi dapat dilakukan pengontrolan terhadap avian influenza. Pemberian pendidikan dapat dilakukan dengan cara memberikan penyuluhan atau tambahan pengetahuan terkait dengan faktor resiko dan cara pencegahan penyakit flu burung, karena pengetahuan yang baik akan mengurangi resiko terjadinya wabah flu burung. Hal ini sesuai dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh (Cahyaningsih & Duana 2013) menunjukkan bahwa tingkat pengetahuan yang baik berhubungan terhadap respons pencegahan penyakit flu burung.
Kontrol flu burung ini dapat dilakukan dengan menggunakan pendekatan status sosial, usia, dan jenis kelamin. Penelitian yang dilakukan oleh (Giuseppe et al. 2008) menunjukkan bahwa seseorang yang memiliki kelas ekonomi yang lebih tinggi memungkinkan untuk mengidentifikasi cara penularan dan indentifikasi keadaan binatang dan lebih mampu untuk memberi vaksin terhadap hewan ternak. Hasil lain menunjukkan bahwa usia yang lebih tua lebih memiliki informasi mengenai cara penularan dan pencegahan terhadap penyakit flu burung. Hasil penelitian yang dilakukan oleh (Bagnol 2009) mengenai jenis kelamin menunjukkan bahwa laki-laki dan perempuan memiliki peran yang sama dalam pengendalian penyakit flu burung sehingga pencegahan yang dapat dilakukan adalah menambah pengetahuan baik laki-laki maupun perempuan tentang flu burung, melakukan kontak yang aman jika berdekatan dengan hewan ternak. Hal ini tidak hanya berlaku untuk gender tetapi juga untuk status sosial dan usia.

e.    Berkelanjutan
Prinsip ini menunjukkan kontrol terhadap suatu penyakit dengan melakukan integrasi yang berkelanjutan antara ekologi dan sosial untuk mendukung bidang ecohealth (Budiaharta et al. 2015).
Adapun strategi nasional dalam upaya pegendalian penyakit flu burung yang berkelanjutan, telah ditetapkan kebijakan dan strategi sebagai berikut: (1) Pengendalian pada hewan; (2) Penatalaksanaan kasus pada manusia; (3) Perlindungan kelompok risiko tinggi, (4) Surveilans epidemiologi pada hewan dan manusia; (5)  Restrukturisasi sistem industri perunggasan; (6) Komunikasi, informasi dan edukasi cara pencegahan dan pengendalian flu burung; (7) Penguatan dukungan peraturan dan peningkatan kapasitas di pusat dan daerah; (8) Penelitian kaji tindak; (9) Monitoring dan evaluasi (Hassan et al. 2009).

f.     Berorientasi Pada Tindakan
Prinsip ini didasarkan pada suatu hasil dari penelitian berupa pengetahuan yang digunakan untuk meningkatkan kesehatan dan kesejahteraan untuk menyelesaikan suatu masalah kesehatan (Unahalekhaka et al. 2013; Budiaharta et al. 2015). Salah satu contoh penelitian yang menghasilkan suatu pengetahuan untuk mengetahui faktor resiko dan epidemiologi dari avian influenza  sehingga dapat digunakan sebagai kontrol dan pencegahan penyebaran wabah flu burung.
Penelitian yang dilakukan oleh (Li et al. 2014; Yupiana et al. 2010) mengenai faktor resiko dan epidemiologi avian influenza menunjukkan bahwa faktor resiko yang paling berpengaruh terhadap kejadian avian adalah karena kepadatan unggas dan kurangnya penerapan sanitasi pada lingkungan pemeliharaan unggas, sehingga dengan penelitian ini dapat dilakukan pencegahan dengan melakukan penerapan sanitasi di  lingkungan pemeliharaan unggas dan menghindari unggas berada dalam satu tempat yang padat. Sedangkan hasil penelitian mengenai epidemiologi avain influenza menunjukkan bahwa kasus avian influenza paling banyak terjadi pada petugas hewan atau yang paling sering terpapar oleh ternak sehingga kontrol dapat dilakukan dengan menggunakan APD ketika kontak dengan hewan.

3.    Kesimpulan
Avian influenza merupakan penyakit yang disebabkan oleh hewan dan dapat menular dari hewan ke manusia atau sebaliknya. Penyakit ini merupakan suatu penyakit yang dapat menimbulkan permasalahan kesehatan sehingga perlu dilakukan pengendalian atau kontrol terhadap penyakit ini. Pengendalian avian influenza dapat dilakukan dengan menggunakan 6 prinsip ecohealth yaitu dengan menggunakan sistem berfikir, lintas disiplin ilmu, partisipasi dari berbagai pihak, gender dan kesetaraan sosial, keberlanjutan, dan berorientasi pada tindakan.

Daftar Pustaka
  • Aguirre,  a a & Gómez,  a, 2009. Essential veterinary education in conservation medicine and ecosystem health: a global perspective. Revue scientifique et technique (International Office of Epizootics), 28(2), pp.597–603.
  • Akoso, B., 2006. Waspada Flu Burung, YOGYAKARTA: Kanisius.
  • Bagnol, B., 2009. Gender issues in small-scale family poultry production : experiences with Newcastle Disease and Highly Pathogenic Avian In fl uenza control. World's Poultry Science Journal, 65(June), pp.231–240.
  • Bahri, S. & Syafriati, T., 2011. Mewaspadai Munculnya Beberapa Penyakit Hewan Menular Strategis di Indonesia Terkait dengan Pemanasan Global dan Perubahan Iklim. Wartazoa, 21(1), pp.25–39.
  • Basuno, E., 2008. Review dampak wabah dan kebijakan pengendalian Avian Influenza di Indonesia. Jurnal Analisis Kebijakan Pertanian, 6(4), pp.314–334.
  • Budiaharta, S. et al., 2015. Kolaborasi Multi-Sektoral Riset & Surveilans. Naskah Akademik.
  • Cahyaningsih, N. & Duana, M., 2013. Tingkat Pengetahuan Dan Upaya Pencegahan Penularan Flu Burung Pada Peternak Unggas Di Desa Babahan, Penebel, Tabanan 2013. The New Zealand nursing journal. Kai tiaki, 72(2), pp.6–8.
  • Food and Agrucultural Organization (FAO), 2005. Pencegahan dan Pengendalian Flu Burung ( Avian Influenza ) pada Peternakan Unggas Skala Kecil Buku Petunjuk bagi Paramedik Veteriner. , pp.1–41.
  • Giuseppe, G. et al., 2008. A survey of knowledge, attitudes and practices towards avian influenza in an adult population of Italy. BMC Infectious Diseasess diseases, 8, p.36. Available at: http://apps.webofknowledge.com/full_record.do?product=UA&search_mode=GeneralSearch&qid=2&SID=S1yLHl4KUgVJT9Bh7CZ&page=10&doc=456.
  • Grace, D. et al., 2012. The multiple burdens of zoonotic disease and an ecohealth approach to their assessment. Tropical Animal Health and Production, 44(SUPPL.1), pp.67–73.
  • Hassan, M.Z. et al., 2009. General Guidelines for AI Management KOMNAS (Ch 1-5)_sm.pdf. , pp.1–2.
  • Ilham, N., 2013. Penyebaran Flu Burung pada Ternak Itik dan Perkiraan Dampak Sosial Ekonomi: Belajar dari Kasus Ayam. Wartazoa, 23(2), pp.84–93.
  • Institute of Medicine, 2003. The Future of Public's Health in 21st Century, USA: Academies Press.
  • Lebel, J., 2003. In Focus: Health: An Ecosystem Approach. , 15(10), pp.771–772.
  • Li, Q. et al., 2014. Epidemiology of Human Infections with Avian Influenza A(H7N9) Virus in China.
  • Maffi, L. & Mitchell, B., 2015. Avian Influenza and the Environment : An Ecohealth Perspective. Environment, pp.1–41.
  • Ningtyas, A., 2014. Pengaruh Pendidikan Kesehatan tentang Penyakit Flu Burung Terhadap Tingkat Kesiapsiagaan Masyarakat di Desa Gondangmanis Kecamatan Karangpandan Kabupaten Karanganyar.
  • Sedyaningsing, E. et al., 2006. Karakteristik Epidemiologi Kasus-Kasus Flu Burung di Indonesia juli 2005-Oktober 2006.
  • Unahalekhaka, A. et al., 2013. Ecohealth Manual L. Robert & C. Jainonthee, eds., Thailand: Chiang Mai University.
  • Yupiana, Y. et al., 2010. Risk factors of poultry outbreaks and human cases of H5N1 avian influenza virus infection in West Java Province, Indonesia. International Journal of Infectious Diseases, 14(9), pp.e800–e805. Available at: http://dx.doi.org/10.1016/j.ijid.2010.03.014.



PELUANG BISNIS TERBARU DI ERA NETIZEN
Arda Dinata:

PNS, Peneliti, Penulis Lepas, Pemateri, Motivator Penulisan Artikel Kesehatan dan Pendiri Majelis Inspirasi Alquran dan Realitas Alam [MIQRA Indonesia].

www.ArdaDinata.com
www.AzariaStore.com
ARDA DINATA
@ardadinata

C00447A8B dan 51D2B002