Cari Artikel di Blog Ini:

Sabtu, 22 Oktober 2016

Social Construction Adat Manyonggod Pada Etnik Pesisir Tapanuli Tengah




*Adat Moyonggod*
Manyonggod adalah adat syukuran bagi ibu hamil yang telah memasuki usia kehamilan 7 (tujuh) bulan di Etnik Pesisir Kabupaten Tapanuli Tengah Provinsi Sumatera Utara. Istilah lain adat Manyonggod ini ialah upah-upah makanan kepada ibu hamil dan suaminya oleh sanak famili dari pihak suami dan istri.

Tradisi Manyonggod ini mengharuskan sanak famili yang hadir membawa aneka makanan untuk disuapkan kepada ibu hamil dan suaminya agar bayi dalam kandungannya sehat dan selamat sampai waktunya melahirkan. Keberadaan dari adat Manyonggod ini bertujuan agar ibu hamil tidak kapihunan (tidak ada halangan) ketika proses melahirkan.

Untuk itu, sebelum acara upah-upah menyuapi makanan kepada ibu hamil dan suaminya, maka terlebih dahulu dilakukan mengaji dan berdoa secara agama Islam.

Adapun tata cara adat ini, dimulai dengan pasangan suami istri yang hamil itu berdandan seperti umumnya ketika acara akad pernikahan lengkap dengan pakaian adat yang dikenakannya.

Kiriman makanan dari sanak famili di simpan di depan tempat duduk pasangan suami istri yang hamil tersebut. Di susun rapi sesuai dengan jumlah makanan yang ada agar memudahkan dalam menngupah-upah makanan yang diinginkan oleh ibu hamil tersebut.

Sebelum acara upah-upah dan berdoa tersebut dimulai, para sanak famili undangan dipersilahkan untuk menyantap makanan secara prasmanan yang telah disediakan oleh tuah rumah. Baru selanjutnya, mereka duduk pada tempat yang telah disediakan.

Selain makanan yang didapat dari kiriman sanak famili, juga terdapat makanan yang telah dipersiapkan oleh tuan rumah sebagai prasyarat adat dan makanan ini harus ada dalam acara upah-upah tersebut, yaitu kue lapek, ketupat pulut, ayam bakak, dan nasi tumpeng dengan telur rebus di atasnya.

Selain itu, termasuk sarana yang wajib ada ialah sekampi sirih. Sedangkan untuk isi sekampi sirih bakatuk itu berupa: beras kunyit, lilin, imbalo, kemiri, benang 2 warna, jarum dan sirih secukupnya dengan pinang yang di kanyam, pinang hijau, dan pinang berkulit.

Acara adat ini sebenarnya adalah khusus acara ibu-ibu. Untuk itu yang memimpin doa adalah ustadzah. Setelah didoakan, lalu dilakukan proses adat upah-upah oleh keluarga dari pihak istri mulai dari kedua orangtuanya dan sampai saudara dekatnya, kemudian disusul dari keluarga pihak suami.

Pada saat upah-upah itu, tiap-tiap orang yang mengupah-upah medoakan untuk kesehatan calon bayi dan ibunya, serta agar lancar hingga melahirkan nantinya. Sisi lainnya, adalah memberi kekuatan moril pada pasangan suami istri yang hamil tersebut agar tenang dan selalu menjaga kehamilannya agar sehat serta proses melahirkannya dapat berjalan dengan lancar.

Akhirnya, setiap saudara yang hadir itu memberi ucapan selamat atas kehamilan bayi yang dikandungnya dan mendoakan pada kedua pasangan satu persatu secara bergantian. Selanjutnya, mereka langsung pulang dengan membawa bungkusan kue yang berasal dari kue-kue yang mereka bawa tadi secara merata diatur oleh tuan rumah.

Makna Kesehatan Adat Manyonggod

Ada afirmasi-afirmasi yang dapat disinkronisasikan oleh tenaga kesehatan dengan program Kesehatan Ibu dan Anak (KIA) pada acara adat yang dilakukan masyarakat di Etnik Pesisir Tapanuli Tengah, diantaranya adat Manyonggod.

Pada adat Manyonggod, afirmasi adat dapat dilakukan kepada masyarakat Etnik Pesisir Tapanuli Tengah terkait dengan usaha menjaga dan melindungi ibu hamil hingga melahirkan lewat memaknai aneka makanan yang disajikan dan dihadirkan oleh keluarga besarnya.

Intervensi adat Manyonggod ini sebenarnya merupakan rangkaian kelanjutan dari intervensi pada adat pengobatan tradisional bagi ibu hamil. Artinya, bagaimana keluarga mampu memperhatikan dan menjaga kondisi kesehatan ibu hamil itu dapat terpantau dengan baik sampai saatnya melahirkan.

Inilah adat syukuran bagi ibu hamil yang telah memasuki usia kehamilan 7 bulan. Tradisi upah-upah makanan kepada ibu hamil dan suaminya oleh sanak famili adalah bentuk afirmasi kepada ibu hamil dan pasangannya untuk optimis menghadapi kelahiran anaknya. Hal ini dibuktikan dengan datangnya sanak famili dari kedua belah pihak, baik pihak keluarga istri maupun suaminya.

Itulah sebuah bentuk dukungan moril kepada ibu hamil dan suaminya agar merasa tenang dalam menghadapi masa-masa menunggu kelahiran anak. Pada saat inilah, ditekankan pada ibu hamil agar rutin memeriksakan kehamilannya, sehingga dapat terpantau kondisi akhir dari kesehatan kandungan dan calon bayinya. Apalagi, sebelum acara upah-upah menyuapi makanan kepada ibu hamil dan suaminya itu, terlebih dahulu dilakukan mengaji dan berdoa agar ibu dan calon bayinya sehat dan selamat ketika melahirkan.***

Bagi pembaca yang ingin berbagi inspirasi dan motivasi dengan Penulis dapat berinteraksi di:

| Twitter: @ardadinata



Arda Dinata:

PNS, Peneliti, Penulis Lepas, Pemateri, Motivator Penulisan Artikel Kesehatan dan Pendiri Majelis Inspirasi Alquran dan Realitas Alam [MIQRA Indonesia].

www.ArdaDinata.com
ARDA DINATA
@ardadinata

C00447A8B dan 51D2B002