Kamis, 10 November 2016

Hal-Hal Yang Menarik dari Kongres Nasional IAKMI di Makasar


Tugas Kongres Nasional
Ikatan Alumni Kesehatan Masyarakat Indonesia (IAKMI)

Nama           : Arda Dinata 
Peminatan   : Kesehatan Lingkungan 
NIM            : 16/403188/PKU/16006


Hal-Hal Yang Menarik Dari Kongres Nasional IAKMI di Makasar: 

IDENTIFIKASI

MEMPELAJARI


MENAFSIRKAN

RESPON
Situasi Kesehatan Masyarakat


IPM Peringkat ke 108 dari 187 negara
1. Pendidikan
2. Kesehatan
3. Pendapatan
1.    Pembangunan pendidikan harus sesuai amanat UU No. 20 tahun 2003, yaitu menciptakan manusia yang beriman dan bertakwa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, bertanggungjawab.
2.    Pembangunan kesehatan harus sesuai UU no 36 tahun 2009, yaitu meningkatkan kesadaran, kemauan, dan kemampuan hidup sehat.
3.    Pembangunan ekonomi haruslah mampu meningkaatkan pendapatan dan pemerataan pendapatan masyarakat.
 
Pembangunan Kesehatan
Tujuan Pembangunan Kesehatan

Tujuan Pembangunan Kesehatan:
è Meningkatkan kesadaran, kemauan, dan kemampuan hidup sehat bagi setiap orang agar terwujud derajat kesehatan masyarakat yang setinggi-tingginya, sebagai investasi bagi pembangunan sumber daya manusia yang produktif secara sosial dan ekonomi. (Pasal 2 UU 36/2009).
è Untuk mewujudkan derajat kesehatan yang setinggi-tingginya bagi masyarakat, diselenggarakan upaya kesehatan yang terpadu dan menyeluruh dalam bentuk upaya kesehatan perseorangan dan upaya kesehatan masyarakat. (Pasal 46 UU 36/2009).
è Upaya kesehatan diselenggarakan dalam bentuk kegiatan dengan pendekatan: Promotif, Preventif, kuratif, dan rehabilitatif yang dilaksanakan secara terpadu, menyeluruh, dan berkesinambungan.

Program Indonesia Sehat
1.    Paradigma sehat
2.    Penguatan pelayanan kesehatan
3.    Jaminan Kesehatan Nasional (JKN)

1.    Program dari paradigma sehat meliputi:
-       Pengarusutamaan kesehatan dalam pembangunan
-       Promotif dan preventif sebagai pilar utama upaya kesehatan
-       Pemberdayaan masyarakat
-       Indikatornya: kota sehat dan kecamatan sehat.
2.    Program penguatan pelayanan kesehatan meliputi:
-       Peningkatan akses pelayanan kesehatan
-       Peningkatan mutu pelayanan kesehatan
-       Regionalisasi rujukan pelayanan kesehatan
-       Intervensi berbasis risiko kesehatan (health risk)
-       Penerapan pendekatan Continuum of care
-       Indikatornya: Jumlah kecamatan yang memiliki minimal 1 puskesmas yang terakreditasi dan jumlah kab/kota yang memiliki minimal 1 RSUD yang terakreditasi.
3.    Program JKN meliputi:
-       Benefit
-       Sistem pembiayaan dengan asuransi dan azas gotong royong
-       Kendali mutu dan kendali biaya
-       Sasaran: PBI dan Non PBI
-       Indikatornya: Total Coverage

Status Gizi Masyarakat

-       Proporsi penduduk yang tinggal di perkotaan cenderung bertambah
-       Proporsi terbesar penduduk Indonesia masih terpusat di Pulau Jawa

1.    Indonesia termasuk di dalam 17 negara, di antara 117 negara, yang mempunyai ketiga masalah Stunting, Wasting, dan Overweight pada balita.
2.    Indonesia termasuk di dalam 47 negara dari 122 negara yang mempunyai masalah Stunting pada balita dan anemia pada wanita usia subur (WUS).
3.    Posisi Indonesia: cakupan untuk 3 intervensi (IMD, ASI Ekslusif, TTD untuk ibu hamil) dari 5 intervensi, rendah.
4.    Status gizi masyarakat meliputi: Balita Kurus, Balita Stunting, Balita Kurang Gizi, dan Pria Umur > 18 tahun Gemuk.

Penyakit DBD
Pola Tahunan Penyakit DBD

è Meningkatnya kasus DBD pada bulan Januari – Februari berkaitan dengan banyaknya genangan air pada musim penghujan yang merupakan tempat perindukan nyamuk
è Situasi DBD 6 Tahun Terakhir:
-       Jumlah penderita: 65.725 (2011), 90.245 (2012), 112.511 (2013), 100.347 (2014), 125.571 (2015), dan 3.298 (sampai Februari 2016).
-       Jumlah kematian: 597 (2011), 816 (2012), 871 (2013), 907 (2014), 1.221 (2015), dan 50 (sampai Februari 2016).
-       Incidence Rate: 27,67 (2011), 37,11 (2012), 45,85 (2013), 39,83 (2014), 49,11 (2015), dan 1,52 (sampai Februari 2016).
-       Case Fatality Rate: 0,91 (2011), 0,90 (2012), 0,77 (2013), 0,90 (2014), 0,97 (2015), dan 1,5 (sampai Februari 2016).
-       Jumlah kab/kota terjangkit: 374 (2011), 415 (2012), 412 (2013), 431 (2014), 433 (2015), dan 129 (sampai Februari 2016).

Pola Penyakit dan Perilaku Manusia
Penyakit Menular (PM) dan Penyakit Tidak Menular (PTM)
è Terjadi perubahan pola penyakit terkait dengan perilaku manusia, yaitu pada tahun 1990 penyebab terbesar kesakitan dan kematian adalah akibat penyakit menular (Infeksi Saluran Pernafasan Atas, Tuberkulosisi, dan Diare). Sedangkan pada tahun 2010 penyebab terbesar kesakitan dan kematian adalah akibat penyakit tidak menular (tekanan darah tinggi, stroke, jantung, kanker, dan kencing manis).
è Transisi beban penyakit, meliputi: (1) Kematian akibat penyakit tidak menular semakin meningkat. (2) Tren ini kemungkinan akan berlanjut seiring dengan perubahan perilaku hidup (pola makan dengan gizi tidak seimbang, kurang aktivitas fisik, merokok, dll).
è Penyebab utama dari beban penyakit, pada tahun 1990 (penyakit menular: 56%, penyakit tidak menular: 37%, dan cedera: 7%); 2000 (penyakit menular: 43%, penyakit tidak menular: 49%, dan cedera: 8%); 2010 (penyakit menular: 33%, penyakit tidak menular: 58%, dan cedera: 9%); 2015 (penyakit menular: 30%, penyakit tidak menular: 57%, dan cedera: 13%). (Sumber: Double Burden of Diseases & WHO NCD Country Profiles; 2014).
è Pola PTM berdasarkan status sosial ekonomi, yaitu: (1) Penyakit tidak menular terjadi pada semua golongan, baik kaya dan miskin. (2) PTM pada penduduk miskin kecenderungan yang lebih tinggi pada penduduk miskin. (3) Penanggulangan PTM berarti membantu menjaga produktifitas penduduk miskin, yaitu dengan cara pengurangan kemiskinan.

Beban Penyakit
Beban Penyakit Katastropik

è Sebanyak Rp. 16,9 Triliun atau 29,67% Beban Jaminan Kesehatan Kesehatan terserap untuk membiayai penyakit Katastropik, yang terdiri dari: Penyakit Jantung (13%); Gagal Ginjal Kronik (7%); Kanker (2%); Stroke (2%); Thalasemia (1%); Haemofilia (0,2%); dan Leukemia (0,3%).
è Pendapatan iuran dan beban kesehatan segmen peserta Bukan Penerima Upah (PBPU) dan Non PBPU, yaitu: (1) Pendapatan iuaran Rp. 54,02 Triliun (PBPU sebesar 5,918 T/11% dan Non PBPU: 48,103 T/89%). (2) Peserta 156,79 Juta jiwa  (PBPU sebesar 14,96/10% dan Non PBPU: 141,83/90%). (3) Beban Jaminan Kesehatan Rp. 57,08 Triliun (PBPU sebesar 16,678 T/29% dan Non PBPU: 40,405 T/71%).

Demografi
Transisi Demografi

è Struktur penduduk semakin menua
è Semakin tua usia, prevalensi PTM semakin tinggi. Sehingga ke depan, jika tidak ada upaya pencegahan yang optimal, jumlah kasus PTM akan meningkat.
è Stroke dan hipertesnsi juga sudah mulai menyerang penduduk usia muda.

Tenaga Kesehatan Masyarakat
Peran Tenaga Kesehatan Masyarakat
·      Pengertian Tenaga Kesmas
·      Peran Tenaga Kesmas
è Tenaga Kesehatan Masyarakat ialah: Epidemiologi kesehatan, tenaga promosi kesehatan dan ilmu perilaku, pembimbingan kesehatan kerja, tenaga administrasi dan kebijakan kesehatan, tenaga biostatistik dan kependudukan, serta tenaga kesehatan reproduksi dan keluarga. (Pasal 11 huruf f UU 36 Tahun 2014 tentang Tenaga Kesehatan).
è Peran tenaga kesehatan masyarakat, secara umum kewajiban tenaga kesehatan ialah: (1) Memberikan pelayanan kesehatan sesuai dengan Standar Profesi, Standar Pelayanan Profesi, Standar Prosedur Operasional, dan etika profesi serta kebutuhan kesehatan penerima pelayanan kesehatan. (2) Memperoleh persetujuan dari penerima pelayanan kesehatan atau keluarganya atas tindakan yang akan diberikan. (3) Menjaga kerahasiaan kesehatan penerima pelayanan kesehatan. (4) Membuat dan menyimpan catatan dan/atau dokumen tentang pemeriksaan, asuhan, dan tindakan yang dilakukan. (5) Merujuk penerima pelayanan kesehatan ke tenaga kesehatan lain yang mempunyai kompentensi dan kewenangan yang sesuai.
è Peran tenaga kesehatan masyarakat, diantaranya: (1) Media Massa (Mempublikasikan informasi yang mendukung pembangunan kesehatan secara terus menerus); (2) Lembaga Sosial Kemasyarakatan (Advokasi untuk penyempurnaan inisiasi, kajian strategis dan pelaporan situasi dan pelaksanaan di lapangan/ masyarakat, pemberdayaan masyarakat); (3) Dunia Usaha (Pengembangan produk dan program yang mendukung: berbagai informasi, distribusi sumber daya, penerapan CSR sesuai dasar hukum); (4) Parlemen (Menjalankan fungsi legislatif); (5) Badan- Badan PBB (Memperluas dan mengembangkan kegiatan serta fasilitas pemerintah untuk keberhasilan program); (6) Pemerintah Pusat dan Daerah (Inisator, Fasilitator, dan Motivator); (7) Organisasi Profesi dan Akademisi (Think Tank); (8) Mitra Pembangunan (Memperkuat Inisiasi, Kolaborasi, dan Monitoring serta Evaluasi).
è Peran tenaga kesehatan masyarakat dalam GERMAS, yaitu: (1) Mempraktekkan pola hidup sehat sehari-hari (Individu, keluarga dan masyarakat). (2) Menggerakan institusi dan organisasi masing-masing (Akademisi, Dunia Usaha, dan Organisasi Masyarakat). (3) Menyediakan: kurikulum pendidikan, fasilitas olahraga, sayur dan buah, fasilitas kesehatan, transportasi, kawasan tanpa rokok, taman untuk beraktivitas, iklan layanan masyarakat, car free day, dsb. (Pemerintah Pusat dan Daerah).





PELUANG BISNIS TERBARU DI ERA NETIZEN
Arda Dinata:

PNS, Peneliti, Penulis Lepas, Pemateri, Motivator Penulisan Artikel Kesehatan dan Pendiri Majelis Inspirasi Alquran dan Realitas Alam [MIQRA Indonesia].

www.ArdaDinata.com
www.AzariaStore.com
ARDA DINATA
@ardadinata

C00447A8B dan 51D2B002

ARSIP ARTIKEL