Kamis, 12 Januari 2017

Pendekatan Integrated Behavioural Model Dalam Pengendalian DBD

Pendekatan Integrated Behavioural Model Dalam Pengendalian DBD
Oleh Arda Dinata


Dengue merupakan penyakit yang muncul kembali secara global. Dengue merupakan penyakit yang disebarkan lewat vektor di daerah tropis dan sub-tropis di dunia. Menurut Yacoub S, et al (2014), dengue ini adalah penyakit infeksi yang disebabkan virus, keberadaanya  paling penting dalam mempengaruhi manusia, dan hal ini menjadi tantangan terbesar bagi pelayanan kesehatan masyarakat di seluruh dunia. Infeksi virus dengue ini disebabkan oleh salah satu dari empat serotipe virus dengue (DENV 1 sampai 4) yang ditularkan oleh nyamuk Aedes.
Dalam catatan Mayer SV, et al (2017), menyebutkan bahwa keberadaan virus dengue, zika dan chikungunya itu bermasalah terutama dikarenakan virus ini menyebabkan dampak negatif pada kesehatan masyarakat dan kerusakan ekonomi di seluruh dunia. Lebih jauh, disebutkan keberadaan Arthropod borne viruses (Arbovirus) itu merupakan ancaman besar bagi kesehatan manusia dan hewan di seluruh dunia. Arbovirus ini dapat menyebabkan berbagai presentasi klinis mulai dari gejala yang ringan sampai mengancam kehidupan manusia.
Dalam hal ini, ada faktor pendorong munculnya arbovirus, seperti aspek antropogenik berupa pertumbuhan manusia yang tak terkendali (bertambahnya jumlah penduduk), ekspansi ekonomi dan globalisasi. Juga aspek-aspek penting lainnya dari virus dan vektor itu dalam terjadinya epidemi arbovirus. Mayoritas virus memiliki potensi penting terjadinya epidemi zoonosis, yang berasal dalam host hewan dan didorong oleh faktor pendukung berupa perubahan perilaku ekologi dan sosial, yang kemungkinan akan mempengaruhi populasi manusia.
Menurut Mayer SV, et al (2017), pemahaman potensi penyebaran penyakit menular ini sangat penting dalam pencegahan dan pengendalian wabah skala besar dan penggunaan sumber daya secara efektif untuk memeranginya. Mengetahui sumber dan model transmisi terhadap manusia memungkinkan untuk memprediksi munculnya penyakit zonosis ini (DBD) dan langkah-langkah global dalam pelaksanaan untuk menghilangkan risikonya. Dalam artikel ini, Penulis menguraikan analisis teori Integrated Behavioural Model (IBM) dalam pengendalian vektor DBD.
Teori IBM
Integrated Behavioural Model (IBM) merupakan teori perilaku yang merupakan pengembangan dari dua teori sebelumnya, yaitu theory reason action (TRA) dan theory planned behaviour (TPB). IBM ini menekankan bahwa penentu paling penting dari perubahan perilaku seseorang adalah behavioral intention (niatan berperilaku). Tanpa adanya motivasi, seseorang tidak mungkin untuk melaksanakan perilaku yang direkomendasikan.
Terdapat empat komponen yang mempengaruhi perilaku seseorang secara langsung, dan keberadaan point 1-3 sangat penting dalam menentukan apakah niat berperilaku (behavioral intention) menyebabkan perilaku seseorang itu dapat terimplementasi (behavioral performance). Pertama, jika seseorang memiliki niat berperilaku yang kuat, dia membutuhkan pengetahuan dan keterampilan untuk melaksanakan perilaku itu. Kedua, seharusnya tidak ada atau sedikit kendala lingkungan yang membuat implementasi perilaku sangat sulit atau tidak mungkin itu dilakukan. Ketiga, perilaku harus dibuat menonjol, terlihat dan mudah dikenal atau disadari. Keempat, pengalaman mengimplementasikan perilaku bisa menjadikannya sebuah kebiasaan, sehingga niat menjadi kurang penting dalam menentukan kinerja perilaku individu.
Berdasarkan model perilaku terintegrasi tersebut, niat berperilaku ditentukan oleh tiga faktor, yaitu: (1) Sikap (Attitude). Diartikan sebagai keseluruhan favorableness (kesukaan) atau unfavorableness (ketidaksukaan) seseorang dalam mengimplementasikan perilaku tertentu. Keberadaan sikap ini sebagai gabungan dari dimensi afektif dan kognitif. Ada dua macam sikap seseorang itu, yaitu sikap experiential dan instrumental. Sikap experiential merupakan respon emosional individu terhadap ide dalam menanggapi sebuah rekomendasi perilaku. Individu dengan respon emosional negatif kuat terhadap perilaku yang direkomendasikan tidak mungkin akan melakukan itu, sedangkan mereka dengan reaksi emosional yang kuat positifnya lebih mungkin untuk terlibat di dalamnya. Sedangkan sikap instrumental adalah berdasarkan kognitif, ditentukan oleh keyakinan tentang hasil kinerja perilaku, seperti dalam TRA/TPB.
(2) Keyakinan norma (Perceived norm). Keyakinan norma ini merefleksikan suatu tekanan atau pengaruh sosial yang membuat seseorang merasa perlu atau tidak melakukan perilaku yang diharapkan atau direkomendasikan. Faktor ini dibentuk oleh dua sub-faktor yaitu injunctive norm dan descriptive norm. Injunctive norm (keyakinan normatif) adalah sejauh mana harapan yang dipikirkan orang lain (jejaring sosial yang penting bagi orang tersebut) terhadap perilaku yang diharapkan. Descriptive norm ialah norma yang mengacu pada persepsi dalam sebuah kelompok masyarakat atau jejaring pribadinya melakukan perilaku yang dimaksud. Dan perceived norm itu merupakan gabungan persepsi kedua norma tersebut secara utuh dan menyeluruh.
(3) Personal agency, diartikan sebagai kemampuan individu untuk memulai dan memberikan alasan melakukan sebuah perilaku. Personal agency ini terdiri dari sub-faktor self efficacy (keyakinan seseorang mampu mengerjakan tugas atau sebuah perilaku) dan perceived control (keyakinan seseorang bahwa perilaku yang dimaksud itu mudah atau sulit dikerjakan). Self efficacy ini tidak sama dengan kompetensi. Self efficacy mengacu pada keyakinan kemampuan seseorang, sedangkan pada kompetensi adalah keterampilan yang benar-benar dimiliki seseorang. Pada perceived control, ada sebuah kontrol dalam diri seseorang untuk mengendalikan perilakunya.
Selain ketiga variabel tersebut yang membentuk intetntion to perform the behaviour, dalam IBM ditambahkan variabel knowledge and skill (pengetahuan dan keterampilan), habit (kebiasaan), environmental constraint (keterbatasan lingkungan) dan salience of behaviour (perilaku yang menonjol), yang secara langsung atau tidak mempengaruhi perilaku seseorang. Faktor-faktor ini muncul karena terkadang individu sudah memiliki niatan untuk berperilaku namun karena ada keterbatasan atau hambatan yang disebabkan kondisi lingkungan dan keterampilan yang dimiliki, sehingga perilaku yang diharapkan tidak terjadi.
Pendekatan IBM Dalam Pengendalian Vektor
Tang B, et al (2016), telah mengembangkan model matematis untuk meniru program terpadu pengendalian vektor secara impulsif (setiap Jumat) dan pengobatan pasien terus menerus serta mengisolasinya yang dilaksanakan di Provinsi Guangdong Cina selama dengue pada tahun 2014. Hal ini menunjukkan bahwa intervensi terpadu sangat efektif dalam mengendalikan wabah demam berdarah. Temuan lainnya menunjukkan bahwa pelaksanaan impulsif pengendalian vektor secara cepat dan terus-menerus menghasilkan pengurangan efektif dalam jumlah reproduksi kontrol dan karenanya menyebabkan penurunan yang signifikan dari infeksi baru.
Berdasarkan uraian teori IBM tersebut, maka dapat disimpulkan bahwa perilaku tertentu akan terjadi bila: (1) Seseorang memiliki niat yang kuat disertai dengan pengetahuan dan keterampilan untuk berperilaku, (2) Tidak terdapat hambatan dari lingkungan yang mencegah implementasi perilaku, (3) Perilaku tersebut menonjol, dan (4) Seseorang telah terbiasa melakukan perilaku tersebut.
Pada konteks pengendalian vektor DBD, keberadaan semua komponen itu penting untuk dipertimbangkan ketika merancang beberapa intervensi untuk mempromosikan perilaku kesehatan di masyarakat. Sebagai contoh, jika seorang memiliki niat yang kuat untuk melakukan pengendalian DBD, penting untuk memastikan bahwa dia telah memiliki cukup pengetahuan mengenai penyakit DBD dan upaya cara pengendaliannya. Untuk bertindak atas niat ini harus didukung dengan tidak ada kendala dan hambatan dari lingkungan yang serius, seperti untuk memutus kontak antara nyamuk dengan manusia, maka kondisi lingkungannya harus mendukung terhadap program PSN 3M Plus, yaitu lewat terciptanya perilaku hidup bersih dan sehat.
Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan Sayavong C, et al (2015) terhadap pengetahuan, sikap dan perilaku preventif (KAP) orang dewasa dalam kaitannya dengan tindakan pengendalian vektor DBD di masyarakat di Vientiane (ibukota Laos) menunjukkan bahwa 51,69% responden memiliki tingkat pengetahuan yang tinggi. Lebih dari 94% responden tahu bahwa demam berdarah adalah penyakit menular yang berbahaya dan bahwa demam berdarah ditularkan dari orang ke orang melalui nyamuk. Lebih dari setengah (56,52%) dari peserta memiliki sikap positif terhadap langkah-langkah pengendalian vektor, dan 52,17% menunjukkan tingkat tinggi perilaku preventif dalam hal langkah-langkah pengendalian vektor DBD.
Untuk suatu tindakan yang dilakukan di interval waktu yang panjang, seperti program pengendalian DBD itu, perilaku juga harus dibuat menonjol, atau memiliki tanda atau isyarat, sehingga dia akan ingat untuk melaksanakan niatnya tersebut secara simultan. Untuk perilaku lain yang harus dilakukan lebih sering dan yang mungkin berada di bawah kendali kebiasaan, kendala lingkungan harus dihapus untuk dapat melakukan perilaku tersebut.
Penelitian Sayavong C, et al (2015), menunjukkan perilaku preventif yang secara signifikan terkait dengan informasi yang diberikan dari sumber yang termasuk tenaga kesehatan (p = 0,038) dan kepala desa (p = 0,031) dan dengan tingkat pengetahuan (p <0,001). Studi ini menunjukkan bahwa pendidikan kesehatan proaktif melalui media massa disesuaikan dan kampanye bersih-bersih masyarakat harus memperkuat dan mendorong partisipasi masyarakat, terutama dalam hal menangani jentik nyamuk di tempat-tempat diabaikan di rumah sendiri, misalnya, dalam vas bunga dan tempat perangkap semut.
Jadi, sebuah analisis yang cermat harus dilakukan terhadap perilaku dan populasi yang melaksanakan program pengendalian DBD ini agar dapat menentukan komponen-komponen yang paling penting untuk menargetkan promosi perilaku terkait program DBD. Strategi-strategi yang berbeda-beda mungkin diperlukan untuk menghadapi perilaku yang berbeda, begitupun untuk perilaku yang sama di setting (tempat) yang berbeda maka pengaturan yang berbeda pula. . Jelasnya, niat berperilaku yang kuat diperlukan untuk intervensi menghadapi komponen-komponen IBM, seperti keterampilan, pengetahuan atau hambatan lingkungan, yang mempengaruhi kinerja perilaku.
IBM merupakan teori perilaku yang berada pada level individu yang dapat dimanfaatkan untuk meramalkan, memahami, dan mengubah perilaku tertentu. IBM adalah alat yang efektif untuk memprediksi perubahan perilaku seseorang karena secara jelas memahami hubungan antar komponen. Oleh karena itu, dalam menggunakan teori IBM, perencana program harus mempertimbangkan semua konstruksi yang membangun teori ini. Apabila ada salah satu konstruksi yang tidak bisa ditentukan atau diubah, maka teori IBM tidak akan berfungsi.***
Arda Dinata, adalah Peneliti dan Penulis Buku "Bersahabat dengan Nyamuk: Jurus Jitu Atasi Penyakit Bersumber Nyamuk".
Daftar Pustaka
1.      Tang B, Xiao Y, Tang S, Wu J (2016). Modelling Weekly Vector Control Against Dengue in The Guangdong Province of China. Journal of Theoretical Biology 410 (2016): pp. 65-76. DOI: 10.1016/j.jtbi.2016.09.012.
2.      Yacoub S, Bridget W (2014). Predicting Outcome From Dengue. Jurnal BMC Medicine 2014, 12: 147. DOI: 10.1186/s12916-014-0147-9.
3.      Mayer SV, Tesh RB, Vasilakis N (2017). The Emergence of Arthropod-Borne Viral Diseases: A Global Prospective on Dengue, Chikungunya and Zika Fevers. Journal Acta Tropica 166 (2017): pp. 155-163. DOI: 10.1016/j.actatropica.2016.11.020.
4.      Sayavong C, Chompikul J, Wongsawass S, Rattanapan C (2015). Knowledge, Attitudes and Preventive Behaviors Related to Dengue Vector Breeding Control Measures Among Adults in Communities of Vientiane, Capital of The Lao PDR. Journal of Infection and Public Health (2015) 8, pp. 466-473. DOI: 10.1016/j.jiph.2015.03.005.




PELUANG BISNIS TERBARU DI ERA NETIZEN
Arda Dinata:

PNS, Peneliti, Penulis Lepas, Pemateri, Motivator Penulisan Artikel Kesehatan dan Pendiri Majelis Inspirasi Alquran dan Realitas Alam [MIQRA Indonesia].

www.ArdaDinata.com
www.AzariaStore.com
ARDA DINATA
@ardadinata

C00447A8B dan 51D2B002