Cari Artikel di Blog Ini:

Kamis, 09 Maret 2017

Kerusakan Lingkungan, Perlu Pendekatan Pendidikan

Oleh ARDA DINATA

HUJAN besar dan angin lebat yang mengguyur Kota dan Kab. Bandung, Sabtu (19/1) sore mengakibatkan sedikitnya ratusan rumah kembali terendam banjir (Galamedia, 20/1/2002).

Musibah banjir yang terjadi di Kota dan Kab. Bandung adalah bukan barang baru bagi masyarakat di kedua daerah tersebut. Paling tidak, setiap musim hujan tiba, maka banjir pun mengikutinya. Entah itu karena air limpasan, jebolnya tanggul sekitar badan air atau karena sebab lainnya.

Walaupun bencana banjir (baca: kerusakan lingkungan) sering terjadi, nyatanya pemerintah daerah belum memperlihatkan usaha yang sungguh-sungguh membuahkan hasil yang maksimal. Bahkan terkesan, banjir merupakan musibah biasa ---yang barang kali cukup dengan tindakan temporer (sementara) saja.


Bukti tindakan temporer yang dilakukan oleh pemerintah adalah di satu pihak aparatur pemerintah (baca; Dinas Pertamanan) membersihkan got-got sebelum musim hujan tiba dan pada pihak lain para pemilik warung, kios, dan PKL membersihkan sampahnya (seenaknya saja) ke saluran air kotor tersebut.

Itulah sebagaian fenomena pengelolaan lingkungan yang kurang melibatkan peran serta masyarakat (PSM) secara maksimal. PSM dapat terbentuk, jika terlebih dahulu ada usaha ke arah terbentuknya partisipasi tersebut. Yakni berupa penyuluhan, pelatihan, dan pendidikan (baik formal maupun non formal) tentang pengelolaan lingkungan bagi masyarakat umum.

Melalui upaya semacam itu, kita bangun kesadaran dan kemauan masyarakat bahwa pelestarian lingkungan adalah tanggung jawab dan kewajiban setiap manusia yang hidup di muka bumi. Inilah inti dari pola pembangunan berkelanjutan. Tepatnya, pembangunan untuk memenuhi keperluan hidup manusia masa kini dengan tidak mengabaikan kepentingan manusia pada generasi akan datang.

Secara demikian, pendidikan lingkungan hidup, hemat penulis menjadi sesuatu yang urgent dan mendesak untuk dikedepankan dalam membangun insan sadar dan cinta lingkungan yang dibuktikan dengan perilaku akrab lingkungan dalam kesahariannya. Di samping itu, juga perlu aturan jelas dan tegas bagi pelanggar lingkungan, tentunya.

Pendidikan Lingkungan

Kerusakan lingkungan yang terjadi belakangan ini, diakui berbagai pihak bahwa banyak faktor yang menjadi pemicunya. Salah satu aspek yang disebut-sebut adalah bidang pendidikan. Inilah yang akan penulis coba diskusikan dalam forum mulya ini.

Kalau kita tenggok ke belakang, maka terlihat jelas dunia pendidikan kita kurang jalinan mesra dengan aspek kelestarian lingkungan hidup. Walaupun ada yang bertautan, itu pun jumlahnya dapat kita hitung dan muatannya pun kurang aplikatif terhadap keadaan alam di daerah masing-masing. Artinya, muatannya hanya semata-mata teoritis, tanpa membuat peserta didik melihat sendiri di lapangan.

Untuk itu, tidak aneh kalau sekarang banyak pemimpin dan pelaku ekonomi pembangunan yang mengabaikan aspek keselamatan lingkungan ini. Dalam pikirannya, hanya terbesit bagaimana caranya untuk mendapatkan keuntungan ekonomi sebanyak-banyaknya. Itu saja, titik!

Sejalan dengan itu, guru besar bidang geofisika terapan ITB, Prof Dr MT Zen, beberapa waktu lalu bahkan pernah menyebutkan bahwa masalah yang serius dalam mengatasi krisis lingkungan ini adalah pendidikan.

Pendapat tersebut, tentu bukan tanpa alasan. Paling tidak, melalui insan-insan pendidikan lingkungan ini, akan melahirkan anak didik yang tidak hanya mampu menjadi warga negara pengembang dan pengamal IPTEK yang ramah lingkungan dan hemat sumber daya alam. Tapi, lebih dari itu, ia akan mampu menerima dan menjalankan etika dan moralitas insan pembangunan berkelanjutan sebagai bagian dari amal solehnya. Tepatnya, amal soleh bagi anak keturunannya di masa datang dan takwa pada Sang Maha Pencipta yang memberkahinya.

Melalui pendidikan lingkungan ini, akan melahirkan pola pikir yang memposisikan dunia yang dicita-citakan sebenarnya adalah suatu dunia yang secara sosial adil dan secara ekologis dapat berkelanjutan.

Untuk mencapai itu, dalam bahasa MT Zen dikatakan “Satu-satunya jalan untuk menempuh itu adalah mengubah pandangan masyarakat terhadap alam. Yakni, kita harus membiasakan diri dengan beranggapan bahwa kita merupakan bagian dari alam. Kita tidak mempunyai hak sama sekali untuk memusnahkan spesies apa pun di muka bumi ini.” (Suara Pembaruan, 20/01/02).

Permasalahannya sekarang adalah bagaimana caranya kita menterjemahkan gagasan dan pandangan ilmu lingkungan tersebut ke dalam bahasa pendidikan yang operasional dan aplikatif?

Bentuk Tindakan

Untuk mencapai sinergi yang baik antara ilmu lingkungan dengan dunia pendidikan, tentu bukan sesuatu yang mudah dilakukan. Tapi, itu pun bukan berarti tidak bisa kita lakukan. Di sini, kuncinya kita mau atau tidak. Berawal dari niat dan motivasi yang ikhlas inilah akan menghasilkan kualitas lingkungan yang lebih baik.

Adapun bentuk tindakan pendidikan lingkungan hidup yang bisa kita contoh adalah seperti yang dilakukan oleh Yayasan Keanekaragaman Hayati (Kehati). Yayasan ini bekerjasama dengan sejumlah LSM di berbagai daerah untuk mengembangkan pendidikan lingkungan hidup (PLH). Mereka menjalin kerja sama dengan sekolah-sekolah dan guru untuk mengembangkan materi lingkungan hidup yang bisa dimasukan dalam berbagai bidang studi yang terkait. Lebih jauh dari itu, para peserta didik pun melihat langsung dan mengamati apa yang terjadi pada lingkungan alam yang dibinanya.

Bentuk pendidikan lingkungan ini, tentu harus bersifat kedaerahan, yang tentunya tidak terlepas dari lingkungan global. Artinya program pendidikan lingkungan harus dikembangkan sesuai dengan falsafah dan tujuan pembangunan nasional. Yang biasanya didasarkan pada spektrum ekonomi, sosial, budaya, politik dan lingkungan di daerah masing-masing.

Selain itu, materi, pendekatan dan metodologi pendidikan perlu terus menerus dikembangkan sesuai dengan perubahan aspirasi dan sistem nilai yang terjadi di masyarakat.

Pendeknya, pendidikan lingkungan itu berada dalam koridor untuk meningkatkan kesadaran, kepedulian tentang lingkungan serta permasalahannya. Dalam bahasa Drs Achmad Ganjar dan Dra Anisyah Arief (1997) adalah dengan pengetahuan, ketrampilan, sikap, motivasi dan komitmen untuk bekerja secara individu dan kolektif, terhadap pemecahan permasalahan dan mempertahankan kelestarian fungsi-fungsi lingkungan.

Untuk mencapai itu, berikut ini adalah hal-hal yang perlu dilakukan. Pertama, memberikan kesempatan bagi setiap individu untuk memperoleh pengertian dasar tentang lingkungan hidup, permasalahannya serta peran dan tanggung jawab manusia dalam upaya melestarikan fungsi-fungsi lingkungan hidup.

Kedua, membantu individu dan masyarakat mengembangkan ketrampilan yang dibutuhkan dalam pengelolaan, menjaga kelestarian fungsi lingkungan dan memecahkan permasalahan lingkungan.

Ketiga, memupuk kesadaran dan kepekaan terhadap lingkungan hidup dan permasalahannya, melalui penyuluhan terhadap individu atau masyarakat tentang sistem nilai yang sesuai, kepekaan yang kuat atas keperdulian tentang lingkungan dan motivasi untuk secara aktif berpartisipasi terhadap pelestarian fungsi-fungsi lingkungan dan pencegahan kerusakan lingkungan.

Indikator Keberhasilan

Pendidikan lingkungan hendaknya tidak hanya menciptakan kemahiran meneliti dan menulis atau berbicara saja. Lebih dari itu, ia juga mahir melaksanakan jasa pelayanan lingkungan (promotif, preventif, kuratif, dan rehabilitatif).

Pendidikan lingkungan juga hendaknya menciptakan orang-orang yang dapat menjadi tauladan bagi masyarakatnya, membangkitkan interaksi sosial serta memotivasi dan melibatkan diri dalam masyarakat sebagai pendorong yang mampu memecahkan masalah-masalah lingkungan.

Apabila kita merujuk pada konsep UNESCO, dikatakan bahwa keberhasilan pendidikan diukur dari hasil empat pilar pengalaman yang diperoleh peserta didik, yaitu belajar mengetahui (learning to know), belajar berbuat (learning to do), belajar hidup bersama (learning to live together), dan belajar menjadi orang (learning to be). Demikian juga halnya dengan pendidikan lingkungan dalam masyarakat.

Dengan terciptanya pendidikan lingkungan seperti itu, maka akan menopang terwujudnya pembangunan masyarakat yang sesuai harapan setiap kalangan. Yang dalam bahasa Ronald G Havelock disebutkan bahwa pembangunan masyarakat pada hakekatnya merupakan suatu rangkaian kegiatan yang membentuk siklus dalam suatu spiral. Yakni berupa penelitian dan pengembangan; interaksi sosial dalam rangka penyebarluasan hasil-hasil penelitian dan pengembangan; serta proses pemecahan masalah di masyarakat dengan menggunakan hasil-hasil penelitian dan pengembangan tersebut.

Akhirnya, posisi pendidikan (baca: ilmu) adalah sesuatu yang penting dalam hidup manusia. Begitu juga dengan ilmu lingkungan perlu dimiliki oleh setiap manusia yang hidup di dunia ini. Dan dari sini, tentu kita berharap akan lahir manusia yang sadar akan peran dan kewajibannya untuk sama-sama menjaga kelestarian lingkungan.

Bukankah, Allah SWT menginformasikan dalam Alqur’an surat Ar-Rum ayat 41, (yang artinya): “Telah timbullah kerusakan di darat dan di laut disebabkan perbuatan mereka sendiri, biar mereka dapat merasakan sendiri akibat perbuatannya, supaya kembali kepada Tuhan.” Waallahu’alam.**

(Penulis, adalah pemerhati masalah lingkungan dan pendiri Majelis IQRA/ Inspirasi Alqur’an & Realitas Alam).

Arda Dinata adalah pendiri Majelis Inspirasi Alquran dan Realitas Alam (MIQRA) Indonesia,
http://www.miqra.blogspot.com.


Arda Dinata:

PNS, Peneliti, Penulis Lepas, Pemateri, Motivator Penulisan Artikel Kesehatan dan Pendiri Majelis Inspirasi Alquran dan Realitas Alam [MIQRA Indonesia].

www.ArdaDinata.com
ARDA DINATA
@ardadinata

C00447A8B dan 51D2B002

Wikipedia

Hasil penelusuran