Cari Artikel di Blog Ini:

Jumat, 02 Juni 2017

Agar Tak Plagiat Dalam Menulis

Agar tak Plagiat
Oleh Tasaro Gk

Mengapa Anda tak dianggap plagiat alias menjiplak ketika memasukkan redaksi hadits dalam naskah Anda? Karena Anda menyebutkan sumbernya. 
Mengapa Anda disebut menjiplak ketika satu paragraf puisi seorang teman Anda gunakan untuk mempercantik artikel Anda? 
Jawabannya, karena Anda tak mencantumkan sumber puisi itu dan memperlakukannya sebagai hasil jerih payah pikiran Anda sendiri.

Sesederhana itu.
Tidak ada yang rumit untuk memahami apakah seorang penulis menjiplak karya pendahulunya atau tidak.

Bagaimana jika Anda menulis ulang kisah Cinderella dan Sepatu Kaca? Apakah Anda menjiplak?

Bergantung bagaimana Anda menceritakannya. Jika Anda menceritakan kembali dengan bahasa Anda dibumbui sedikit improvisasi, itu namanya menyadur, bukan menjiplak. 
Bagi saya, kemampuan dasar seorang penulis adalah menceritakan kembali sebuah ide.
Bagaimana caranya jika kita ingin menulis ulang data yang sudah dilakukan penulis lain tanpa disebut penjiplak?
Saya biasa menyebutnya sebagai teknik reproduksi. Saya kira penulis lainnya pun mengenal teknik ini dengan nama yang berbeda atau mungkin sama.
Teknik menulis ini berguna terutama dalam ranah fiksi, misalkan, ketika Anda memilih sebuah lokasi sebagai latar cerita sedangkan Anda belum pernah mendatanginya. Maka, teknik reproduksi bisa Anda lakukan dengan tiga pendekatan.
1. Gambar
2. Tulisan
3. Video
Anda memilih lokasi cerita di Bali dan Anda belum pernah ke sana sama sekali. Hal yang paling mudah Anda lakukan adalah mencari foto atau video Bali sebanyak-banyaknya. Setelah ada Google dan youtube, tentu pekerjaan ini sangat mudah Anda lakukan. Setelah memiliki gambar atau videonya, Anda tinggal memerhatikan dengan saksama detail tempat yang Anda inginkan lalu menuliskannya dengan kalimat Anda sendiri. Kuta suasananya seperti apa? Langit di sana berwarna apa? Pasir pantainya seperti apa?
Maka Anda telah "menciptakan" Bali dalam tulisan Anda tanpa benar-benar ke sana.
Bagaimana dengan sumber berupa tulisan? Ini yang lebih butuh kehati-hatian. Sebab, kemalasan akan membuat Anda tergelincir dalam praktik penjiplakan. 
Hal yang mesti Anda lakukan kali pertama adalah fokus pada teks itu, menjiwainya benar-benar. Merekamnya dalam pikiran. Ambil contoh Anda membaca laporan perjalanan bacpacker ke Amerika. Bagaimana ia memakai kereta, pergi ke Liberty, dan lainnya. Maka, Anda rekam baik-baik tuturan penulis tadi. Ciptakan dalam pikiran Anda. Jika telah siap, tuangkan dalam tulisan dengan bahasa Anda sendiri. Jangan sekali-kali menyalin begitu saja tulisan orang lain ke dalam manuskrip Anda dan berpura-pura lupa bahwa itu hasil karya intelektual penulis lain.

Bagaimana halnya dengan karya non fiksi macam artikel?
Tantangannya lebih susah. Karena yang boleh Anda lakukan dalam pendekatan reproduksi hanyalah menangkap ide saja. Lalu, lakukan inovasi dengan gaya dan hasil riset Anda sendiri.  
 Sebagai contoh anomali rahmat Allah tentang seorang pezina yang masuk surga karena menolong anjing yang kehausan. Ini adalah pesan satu dari sedikit hadits yang melekat di benak saya sedari SD. Saya ingat benar tahun 80-an pernah beredar buku Hadits yang ke mana-mana saya bawa. Saya menyukainya karena di dalamnya terdapat banyak gambar. Hadits perihal anomali "Surga Allah" ini diberi ilustrasi seorang perempuan sedih yang duduk di sebelah sumur. Di depannya tergeletak sepatu hak tinggi dengan air yang menggenang di dalamnya. Seekor anjing menjulurkan lidah mereguk isinya.
 Itu melekat sekali dalam pikiran saya. Ketika mendewasa, seorang kawan mengajari saya tentang betapa rahmat Allah begitu besar kepada manusia. Ia menukil hadits ini. "Tentu sebuah anomali ketika seorang perempuan yang rendah di mata manusia dan binatang yang mendatangkan najis kepada manusia justru bisa menjadi penyebab turunnya rahmat Allah, ampunan-Nya, surga-Nya," jelasnya.
Kawan saya belum pandai menuliskannya tapi ide itu terasa baru di telinga saya. Betapa anomali itu meruntuhkan kesombongan spiritualitas mapan sungguh menarik hati saya.

 Ketika tulisan-tulisan yang datang belakangan mereproduksi ide itu entah terinspirasi dari lisan atau tulisan siapa, saya kira sah-sah saja. Tidak perlu juga berdebat siapa yang lebih dulu memikirkannya karena pada dasarnya, tujuan tulisan itu untuk mencerahkan cara berpikir manusia.
Itu jika hanya idenya semata menjadi inspirasi untuk menulisulangkannya. Beda perkara jika tulisan yang sudah ada dipublikasikan ulang begitu saja dengan nama penulis yang berbeda.
Maka vonis penjiplakan sungguh-sungguh mesti memerhatikan berapa kata, frasa, paragraf, dan urutan yang sama antara satu tulisan dengan tulisan pembandingnya. 

Orang  bijak berucap "tak ada yang baru di bawah matahari." Begitu juga ide. Penulis zaman ini hanya bisa berinovasi, sebab berbagai macam ide telah ditulis oleh generasi-generasi sebelumnya.
 

Apa yang sering terjadi pada kasus penjiplakan yang terkenal? 

Menurut saya beberapa penulis gagal mereproduksi naskah referensinya. Merasa cukup mengganti beberapa kata pada awal, tengah, dan ujungnya, bahkan sekadar menukar judulnya. Tentu ini masalah mendalam karena "ia" menunjukkan  semangat dan kemampuan penulis yang sebenarnya masih perlu waktu untuk bersentuhan dengan ide atau tema yang amat ingin dituliskannya. 
Itulah mengapa jika Anda bertanya kepada penulis mana pun "tema apa yang idealnya ditulis oleh pemula?" Jawabannya, "Tuliskan hal yang paling Anda kuasai, paling Anda cintai."
Ini mendasar karena dengan penguasaan dan cinta terhadap tema yang Anda kuasai, tulisan Anda akan kuat, pilihan kata Anda akan tulus.

 Untuk tema-tema yang jauh dari keseharian kita, maka "tak cukup hanya cinta." 
Anda harus melakukan riset. 
Langkah riset yang dimaksud salah satunya membaca banyak referensi, memahaminya, lalu menulis ulangkannya. Bukan memindahkan paragraf-paragraf yang sudah jadi. Kalaupun Anda tetap harus melakukan salin utuh, gampang saja, cantumkan nama penulis aslinya. Itu sama sekali tidak akan membuat Anda tampak kurang pintar di mata pembaca Anda. Sebab, tetap saja untuk mengoneksikan berbagai unsur agar menjadi tulisan utuh yang menggugah dibutuhkan kecerdasan. Saya menyebutnya kecerdasan 'koneksitas'.  Semua penulis itu sama cerdasnya, sampai kemampuan mengoneksi data memisahkan satu penulis dengan penulis lainnya.

Menyebarkan semangat untuk menulis dalam masyarakat yang lebih gemar berbicara itu pekerjaan mulia. Namun, memastikan setiap karya lahir dari rahim kejujuran adalah nilai yang lebih mendasar untuk terus diperjuangkan.


Arda Dinata:

PNS, Peneliti, Penulis Lepas, Pemateri, Motivator Penulisan Artikel Kesehatan dan Pendiri Majelis Inspirasi Alquran dan Realitas Alam [MIQRA Indonesia].

www.ArdaDinata.com
ARDA DINATA
@ardadinata

C00447A8B dan 51D2B002

Wikipedia

Hasil penelusuran