Cari Artikel di Blog Ini:

Minggu, 16 Juli 2017

Kolom Arafat Chanel (4)

Arafat || Channel Telegram:
SATU LAWAN ENAM

Pertanyaan dari seseorang yang baru pulang ibadah umroh ini cukup unik, karena itu perlu kita simak bersama;

"Ustadz kenapa ya imam shalat di sana ketika Fatihah baca bismillah nya dengan suara pelan, begitu alhamdulillah barulah mulai suara keras. Kok beda dengan kita di sini?"

"Ya bagus dong, jadi kita tahu ilmu baru dalam membaca Fatihah"

"Ah, tetap saja tidak indah dilihat dong Ustadz, seharusnya imam menyamakan dengan yang lain, jangan berbeda-beda begitu"

"Nah saya mau tanya sekarang, Fatihah itu ada tujuh ayat. Ada berapa ayat yang berbeda cara membacanya?"
"Satu Ustadz, ayat pertama saja"
"Lalu berapa ayat yang sama cara membacanya?"
"Enam Ustadz"
"Berarti banyakan mana?"
"Ya banyakan enam lah Ustadz"
"Itu dia! Masih lebih banyak yang sama, kenapa kita justru harus menghabiskan energi untuk fokus kepada yang berbeda itu?"

Sampai di sini dia kelihatan mulai mengerti kemana arah pembicaraan saya, 

"Berbeda itu hakikatnya bukan hal yang memecahkan ukhuwah, justru berbeda diperlukan untuk memperkuat ukhuwah"

"Kok bisa begitu Ustadz?"

"Lihat saja satu tim sepakbola yang sedang bertanding. Posisi mereka berbeda-beda kan? Ada penyerang, ada gelandang, ada pula pemain bertahan. Bayangkan kalau satu tim posisinya sama sebagai kiper semua, bagaimana jadinya?"

"Hehehe, bener juga ya"

Begitulah seharusnya kita memandang sebuah perbedaan. Semakin kita fokus kepada hal yang berbedanya itu, semakin lemahlah Islam ini. Jadi yang harus kita lakukan adalah mengubah fokusnya.

Saat Ramadhan kemarin, umat Islam di seluruh dunia saling berbeda dalam membaca doa puasa. Bukankah justru ini hal yang indah? Menunjukkan betapa kaya kita akan perbendaharaan ilmu para ulama dalam memaknai hadist.

Lagipula, kita memang membaca satu doa yang berbeda, tetapi jangan lupa kita masih membaca ratusan doa lain yang sama. 

Percayalah, saat umat ini sibuk saling mencari-cari perbedaan dari saudaranya, tidak ada seorangpun yang akan diuntungkan kecuali para musuh Islam.

Mulai hari ini mari kita letakkan perbedaan pada kedudukan yang terhormat, karena dengan berbeda sejatinya kita menjadi kuat.

Salam Hijrah.
⏰ Waktunya bangun dan berubah dari tidur panjang kita!

BEGINILAH JADINYA PERBEDAAN SAAT DI TANGAN KITA DAN DI TANGAN MEREKA

Dahulu kala saya termasuk orang yang sering mengkritik saudara saya yang berbeda,

"Kenapa kamu melakukan ini, bukankah ini tidak ada hadistnya? Ini salah, yang benar adalah itu"

Atau minimal saya suka menyindir dengan halus,

"Itu kan hadistnya dhaif, ini yang hadistnya shahih. Kalau ada yang shahih kenapa pakai yang dhaif?"

Titik balik kebiasaan saya yang kurang elok tersebut berhenti ketika seorang sahabat bertanya dengan lembut,

"Mas Arafat, memangnya sampeyan sudah hafal berapa hadist? Apa kalau menurut antum tidak ada hadistnya, lantas kenyataannya hadist itu benar-benar tidak ada?"

Jess.. Sungguh sebuah kalimat sederhana yang mampu meruntuhkan egoisme pribadi saya. Sejak itu mulailah saya mengerti bagaimana cara menghargai perbedaan.

Puncaknya adalah ketika saya belajar di Yaman, saat itu madrasah kami mendatangkan seorang guru dari Mauritania, yang bernama Syeh Amin. Beliau ulama bermazhab Maliki yang alim luar biasa.

Selama beberapa tahun di negeri Yaman, Syeh Amin bersahabat baik dengan Syeh Bafadhol seorang ulama bermazhab Syafi'i yang tidak diragukan lagi kapasitas ilmunya.

Apa yang terjadi? Kedua orang hebat tersebut saling belajar satu sama lain. Jadi, pada hari-hari tertentu Syeh Amin mengaji fikih Syafi'i, dan pada hari-hari yang lain sebaliknya Syeh Bafadhol yang mengaji fikih Maliki.

Subhanallah. Beginilah indahnya Islam. Kita tidak akan menemukan di antara mereka berdua yang saling menyalahkan dan ujung-ujungnya saling mengadu hadist masing-masing. Padahal bicara tentang ilmu hadist, mereka berdua adalah gudangnya!

Orang tua kita di tanah air pun menunjukkan teladan yang sama dalam menyikapi perbedaan. Cobalah sesekali melihat sebuah foto yang tidak pernah membosankan untuk dipandang ini.

Yaitu foto keakraban antara Buya Hamka dan Abah Anom. Keduanya sama-sama ulama kharismatik. Buya dari Muhammadiyah, sedangkan Abah dari Thariqah. Apakah kita sedang melihat dua orang besar yang saling menyindir satu sama lain? Sama sekali tidak.

Percayalah, perbedaan diantara kaum muslimin adalah barang dagangan yang masih laku dijual hanya bagi mereka para musuh-musuh Islam.

Karena itu, mulai hari ini mari kita letakkan perbedaan pada kedudukan yang terhormat, karena dengan berbeda sejatinya kita menjadi kuat.

Salam Hijrah.
⏰ Waktunya bangun dan berubah dari tidur panjang kita!

MUDIK SEASON 2

Apakah saudara tipe keluarga seperti kami? Dimana setiap lebaran kami selalu mudik ke dua tempat, yaitu kampung saya di Cirebon dan kampung istri di Bandung.

Tahun ini Bandung menjadi tujuan kedua mudik kami. Kota yang menyimpan seribu kisah tentang indahnya Islam. Masih ingat kan di Bandung-lah pertama kali saya mendengar ada seorang kyai yang membaca Al-Quran 30 juz sehari, yaitu Kyai Usman.

Berikutnya berita tentang orang-orang luar biasa yang selalu mengkhatamkan Al-Quran setiap hari, semakin banyak saya dengar. Seperti Kyai Dimyati dari Banten, Habib Ja'far bin Syaikhon dari Pasuruan, dan Kyai Munawir dari Yogya.

Kali ini Bandung kembali membuat saya terpesona, karena di sebuah masjid dalam komplek perumahan kami, shalat berjamaah selalu penuh, terutama shalat Subuh! Wow!

Betul, saya sedang tidak bercanda. Setiap hari adalah Ramadhan di Arcamanik Endah! Karena pada hari apapun kita jamaahan di masjid Nurul Hidayah, selalu saja penuh bahkan sampai meluber dua shaf lagi ke teras masjid pada waktu Subuh. Allahu Akbar.

Komplek yang saya ceritakan ini bukan sembarangan, rumahnya besar-besar, gerbang masuknya saja dijaga security. Tidak sulit menemukan rumah yang memiliki lebih dari satu mobil. Tapi dengan segala kenyamanan dan kemewahannya, mereka tetap lebih memilih shalat di masjid. 

Bukan pemandangan aneh jika parkiran motor penuh, bahkan satu-dua menggunakan mobil karena jarak dari rumahnya tidak cukup dekat menuju masjid.

Sungguh aneh jika dibandingkan dengan kita. Sudah rumah kita kecil, sehingga dipakai shalat pun tidak nyaman, tapi masih saja memilih shalat di rumah. Hehehe.

Kalaupun mau shalat ke masjid, kita mencari waktu yang paling luang, seolah-olah kita ini orang yang paling sibuk di dunia, sehingga tidak punya waktu lagi untuk ke masjid.

Tahun ini Bandung menyadarkan saya, bahwa siapa yang ingin menjadi pemenang dalam kehidupan ini, ia harus menjadi pemenang terlebih dahulu dari rasa malasnya berjalan ke masjid.

Salam Hijrah.
⏰ Waktunya bangun dan berubah dari tidur panjang kita!

SANUSI HARDJADINATA

Siapa yang masih ingat di mana kita melaksanakan upacara wisuda saat kita selesai kuliah dulu? Kalau saya, melaksanakannya di Gedung Sanusi Hardjadinata yang masih berada di dalam lingkungan kampus.

Di sanalah para wisudawan berkumpul dari bidang keahlian yang berbeda-beda dari sarjana kimia sampai sarjana ekonomi. Mereka adalah calon dokter, calon pengacara, maupun calon arsitek. Semua berkumpul di gedung yang sama mengikuti prosesi wisuda yang sangat sakral.

Walaupun mereka mengikuti wisuda pada hari yang sama bahkan di tempat yang sama, begitu acara tersebut selesai maka mereka akan melanjutkan karirnya yang berbeda-beda sesuai bidang keahliannya.

Si ahli farmasi akan menjadi apoteker sedangkan si ahli psikologi akan menjadi psikiater. Sungguh sulit jika kita mau mencari satu orang saja yang begitu selesai wisuda dia lantas menjadi apoteker yang sekaligus mahir sebagai ekonom dan berprofesi sampingan juga menjadi pengacara. 

Mengapa? Karena umumnya mahasiswa hanya mendalami satu bidang keahlian saja sampai mereka dinyatakan lulus dan akhirnya diwisuda.

Itulah sebabnya, kita juga jangan bermimpi terlalu fantastis, jika setelah selesai Ramadhan lantas kita ahli dalam segala kebaikan. Ingatlah bahwa Ade Rai tidak bisa bermain bulu tangkis. Walaupun begitu Indonesia tetap mengenalnya.

Lalu bagaimana yang benar? Jadilah ahli sesuai dengan apa yang kita latih lebih keras selama Ramadhan kemarin.

Saya yakin di antara kita ada yg selama satu bulan sangat bersemangat dengan tilawah dibandingkan ibadah yang lain, maka sekarang seharusnya ia semakin mahir dan semakin melanjutkan keahliannya itu, bukan justru menutup mushafnya.

Ada pula ada yg selama satu bulan sangat bersemangat dengan tahajud dibandingkan ibadah yang lain, maka sekarang seharusnya ia semakin mahir dan semakin melanjutkan keahliannya itu, bukan justru menarik selimutnya.

Walaupun kita mengikuti Ramadhan pada waktu yang sama bahkan di negeri yang sama, begitu Ramadhan tersebut selesai maka kita akan melanjutkan ibadah yang berbeda-beda sesuai dengan apa yang dilatih masing-masing.

Insya Allah jika bisa fokus seperti ini, kebaikan-kebaikan yang lain tinggal menunggu waktunya untuk kita kuasai.

Salam Hijrah.
⏰ Waktunya bangun dan berubah dari tidur panjang kita!

TA'AHADU !

Aku tulis sajak ini
untuk menghibur hatimu
Sementara kau kenangkan encokmu
kenangkanlah pula masa remaja kita yang gemilang
Dan juga masa depan kita
yang hampir rampung
dan dengan lega akan kita lunaskan

Kita tidaklah sendiri
dan terasing dengan nasib kita
Kerna soalnya adalah hukum sejarah kehidupan
Suka duka kita bukanlah istimewa
kerna setiap orang mengalaminya

Kutipan sajak di atas bukan tulisan saya, melainkan karya W.S. Rendra yang berjudul "Sajak Seorang Tua Untuk Istrinya". Saya tentu saja belum mampu membuat sajak sebagus itu.

Huruf abjad memiliki hanya 26 karakter dari A sampai Z. Baik untuk kita maupun untuk seorang W.S. Rendra. Tetap saja tidak lebih dari 26 karakter. Tetapi di tangan beliau, keduapuluhenam huruf itu bisa dirangkai menjadi sebuah sajak yang indah.

Di tangan kita? Paling hanya bisa untuk menulis kalimat-kalimat biasa. Mengapa bisa demikian? Karena W.S. Rendra selalu melatih kemampuan menulis sajaknya setiap hari selama bertahun-tahun.

Jadi masalahnya bukan pada berapakah modal yang kita punya, tetapi apakah kita sering melatihnya atau tidak? Banyak orang mengeluh bahwa ia tidak cukup pandai melakukan sesuatu, atau ia tidak cukup bisa menguasai sesuatu. Padahal yang menjadi penghalangnya bukan kepandaian atau kebisaan, melainkan ia yang tidak berusaha untuk melatihnya.

Senantiasalah melatih keahlian kita karena hal ini sudah menjadi kode etik seorang muslim. Perhatikan nasihat Rasulullah berikut yang ditujukan kepada para penghafal Al-Quran,

تَعَاهَدُوْا هَذَا الْقُرْآنَ ، فَوَ الَّذِيْ نَفْسِ مُحَمَّدِ بِيَدِهِ لَهُوَ أَشَدُّ تفلتا مِنَ الْإِبْلِ فِيْ عقلها

"Teruslah mengulang-ulang hafalan al-Qur'an, demi Dzat Yang jiwaku di tangan-Nya, hafalan al-Qur'an itu lebih mudah lepas daripada unta yang diikat" 

(Hadist Riwayat Bukhari dan Muslim)

Kekuatan hadist ini terletak pada kata pertamanya; Ta'ahadu! Berlatihlah! Biasakanlah! Berulang-ulanglah!

Inilah pesan Rasulullah kepada kita semua, agar kita menjadi ahli dalam bidang masing-masing.

Salam Hijrah.
⏰ Waktunya bangun dan berubah dari tidur panjang kita!

ESPRESSO

Siang itu saya sedang mengajak keluarga jalan-jalan ke toko buku. Hanya tumben ya kok tiba-tiba agak mengantuk, maka saya langsung mencari minuman-minuman segar di luar.

Lihat-lihat barisan lapak minuman yang ada di sana, saya putuskan untuk membeli kopi. Sudah terbayang segar pastinya kopi susu dingin nih.

Si mba penunggu lapak promosi sedikit bahwa seluruh menu kopinya memakai kopi toraja. Kebetulan saya juga sering nyeduh kopi toraja di rumah. Paling juga gak jauh beda rasanya. Begitu saya putuskan pesanan saya, si mba pun mulai beraksi.

Awalnya saya pikir dia akan nyendok kopi dari toples, dimasukkan ke gelas, lalu diseduh dengan air panas. Ternyata di luar dugaan, kopi halus digiling dadakan dari sebuah mesin grinder yang berisi biji kopi. 

Bubuk kopi halus itu di letakkan dalam sebuah cangkir besi yang memiliki gagang panjang (portafilter) kemudian ditekan dan dipadatkan dengan tamper, semacam stempel dari besi juga. Setelah itu si cangkir besi dikaitkan ke mesin espresso yang akan merembeskan air panas bertekanan tinggi.

Hasilnya tentu saja setengah gelas larutan ekstrak kopi espresso. Terakhir tinggal ditambah susu segar, gula cair, dan es batu. Wow. Keren juga ini lapak kecil ternyata membuat kopi dengan mesin yang biasa ada di kafe.

Begitu saya coba rasanya, benarlah bahwa teknik tidak berbohong! Ternyata toraja yang diolah dengan mesin espresso beda banget dengan toraja yang diseduh. Saya sampai terheran berulangkali, benarkah lapak kecil itu bisa bikin kopi setara dengan yang biasa saya beli di kafe dengan harga tiga kali lebih mahal? 

Iya, tidak salah. Kuncinya ada pada teknik pengolahannya! Saat diracik sesuai ilmunya, maka hasilnya akan sukses, karena ilmu itu sendiri datangnya dari percobaan berulang-ulang para ahli yang terbukti sukses.

Sukses selalu meninggalkan jejak! Segelas kopi toraja saya siang itu yang mengatakannya! Ah, rasanya saya mendapat kenikmatan ganda saat itu. Ya kopinya, ya hikmahnya juga.

Hikmah yang mengajarkan saya agar jangan lagi menyepelekan ilmu. Jangan pula menganggap ilmu itu tidak berguna. Bahkan dalam hal membuat kopi, kita butuh ilmu.

Salam Hijrah.
⏰ Waktunya bangun dan berubah dari tidur panjang kita!

ABSISI

"Mba jangan lupa pohon yang di ujung itu disiram tiap pagi cukup dengan satu gayung air, kalau saya biasanya sambil baca surat At-Tin, mba juga boleh ikuti. Sebab itu kan pohon tin" sebelum pergi mudik, saya mengajarkan perawatan pohon tin kepada si mba penjaga rumah.

Maklumlah libur lebaran tahun ini menyatu dengan libur kenaikan kelas, jadi kami akan meninggalkan rumah cukup lama. Sayang kan kalau sampai pohon tin itu terbengkalai.

Singkat cerita, kemarin setelah puas berlibur waktunya kami pulang ke rumah. Pohon di ujung itu rupanya benar telah berubah. Batangnya memang masih kokoh, tetapi dedaunannya tampak menipis. Begitu saya dekati, daun-daun tin kering terlihat berserakan di tanah.

Ah, gak salah lagi. Ini pasti si mba lupa nyirami pohon ini. Ya sudahlah masih untung pohonnya tetap hidup. Rupanya pohon tin adalah salah satu jenis pohon yang memiliki kemampuan absisi. 

Saudara masih ingat kan pelajaran biologi tentang absisi, dimana sebuah pohon rela melepaskan daun-daunnya demi bertahan hidup. Bahkan pohon pun mampu mengambil keputusan untuk meninggalkan apa yang masih ia inginkan, semata karena sang pohon mengerti bahwa hidupnya jauh lebih penting.

Sayangnya manusia tidak memiliki kemampuan absisi secara otomatis. Absisi pada manusia adalah pilihan yang kembali kepada diri masing-masing.

Detik ini juga ingatlah keadaan kita sendiri. Apakah kita cukup kuat dan rela melepaskan kelemahan-kelemahan diri demi bertahan hidup? Seperti kebiasaan bermain gadget berlebihan sehingga banyak waktu terbuang? Atau kebiasaan menunda pekerjaan? Atau tidak berani mencoba perubahan? 

Sudah selayaknya kita juga mampu mengambil keputusan untuk meninggalkan apa yang masih kita inginkan, semata karena kita mengerti bahwa hidup ini jauh lebih penting. 

Masa kita kalah sama pohon tin, padahal Allah sudah berfirman manusia diciptakan sebaik-sebaiknya melebihi mahluk yang lain, apalagi sekedar pohon.

Salam Hijrah.
⏰ Waktunya bangun dan berubah dari tidur panjang kita!

THE REAL SUPERWOMAN

Kemarin di group alumni kampus ramai sekali dengan ucapan selamat. Pasalnya seorang teman kami berhasil menyelesaikan studi S3 nya dan menyandang gelar Doktor di bidang kimia. 

Bagi saya beliau adalah the real superwoman. Bayangkan dengan statusnya sebagai istri dan ibu di rumah, serta kesibukannya dengan pekerjaan kantor beliau masih tetap punya waktu untuk mementingkan pendidikan. Bravo!

Tepatlah kiranya jika pujian demi pujian mengalir dari group kami sebagai ungkapan rasa salut kepadanya.

Ngomong-ngomong soal Doktor, saya jadi teringat pertanyaan seorang sahabat. Kebetulan saat itu ia bertanya apakah betul membaca surat Al-Ikhlas tiga kali sama seperti mengkhatamkan Al-Quran?

Kalau merujuk kepada hadist tentu saja jawabannya adalah Betul. Namun seperti saya duga sebelumnya, pertanyaan ini akan berlanjut dengan; Lalu ngapain kita cape-cape membaca 30 juz segala kalau cukup dengan tiga kali Al-Ikhlas saja?

Spontan saya ceritakan tentang gelar Doktor ini untuk analogi. Sebagaimana kita tahu, ada dua jenis gelar Doktor. Pertama adalah Doktor yang sesungguhnya (Dr.) dimana untuk mendapatkan gelar itu harus menempuh pendidikan penuh perjuangan sejak S1 sampai S3, dan membuat karya tulis mulai dari skripsi, disertasi, sampai tesis yang diuji oleh para guru besar. Sungguh tidak mudah mendapatkannya.

Adapun jenis kedua adalah Doktor Honoris Causa (Dr. HC) bagi para tokoh yang dinilai memiliki satu jasa untuk masyarakat. 

Walaupun sama-sama Doktor, tetap saja kan kita faham bahwa kedua jenis Doktor itu berbeda.

Begitu pula hal di atas, walaupun sama-sama mendapatkan "gelar" mengkhatamkan Al-Quran, tetap saja di sisi Allah berbeda.

Allah Maha Mengetahui manakah yang menempuh tilawah penuh perjuangan selama berminggu-minggu, dan melewati juz demi juz mulai dari Alif Lam Mim sampai 'Amma. Sungguh tidak mudah mendapatkannya.

Alhamdulillah, sahabat saya bisa menerima analogi ini. Adanya dua jenis gelar yang berbeda, bukan agar kita memilih salah satunya, tetapi yang terbaik adalah mengupayakan keduanya.

Salam Hijrah.
⏰ Waktunya bangun dan berubah dari tidur panjang kita!

Baru saja seorang sahabat saya, Mas Ibnu, diskusi tentang rencana pemerintah memblokir aplikasi Telegram, dengan gerak cepat beliau membuatkan channel baru di facebook agar silaturahmi kita tetap berlanjut.

Saudara berkenan merapat ke rumah baru channel ini?


Namanya rumah baru, suasananya seperti namanya; bersih dan belum ada apa-apa. Mohon bersabar ya, saya beradaptasi dulu sebab memang baru pertama kali memakai facebook, ternyata tombol-tombolnya lebih banyak dan njelimet ya dibanding telegram 😁

Akan lebih baik, jika saudara save juga whatsapp saya 082299443826 

Alhamdulillah, ada hikmahnya juga ya dengan kejadian ini, kita bisa silaturahmi via whatsapp juga 😊

Tulisan saya hari ini yang berjudul

(P)INDAH ITU INDAH
 
sudah bisa dibaca di channel baru kita. Channel facebook rasa telegram. Hehehe.


Saya yakin bagaimanapun caranya, Allah memiliki rencana agar silaturahmi kita tetap berlanjut.

Akan lebih baik, jika saudara save juga whatsapp saya 082299443826 

Salam Hijrah.
⏰ Waktunya bangun dan berubah dari tidur panjang kita!


Arda Dinata:

PNS, Peneliti, Penulis Lepas, Pemateri, Motivator Penulisan Artikel Kesehatan dan Pendiri Majelis Inspirasi Alquran dan Realitas Alam [MIQRA Indonesia].

www.ArdaDinata.com
ARDA DINATA
@ardadinata

C00447A8B dan 51D2B002

Wikipedia

Hasil penelusuran