Cari Artikel di Blog Ini:

Selasa, 29 Agustus 2017

Tiga Puluh Hari Bisa Menulis Buku

Materi Diklat GGDN:
Sahabat guru dahsyat bertemu kita di seminar pembuka hari ini yang selalu kita nanti.

Untuk pembuka seminar ini akan diisi oleh Ibu Nurus Samawati Annisa, S. Pd seorang guru juga penulis yang karyanya sudah beredar di media cetak.
😃

Assalamualaikum war. Wab. 
 Alhamdulillah diberi kenikmatan masih bisa memberikan materi di grup guru dahsyat.

Materi perdana kepenulisan kita kali ini adalah:

Tiga Puluh Hari Menulis Buku

Menulis buku dalam 30 hari? Keren ya judulnya, sekeren para peserta yang ada di grup ini. Kira-kira bisa tidak ya menulis dalam waktu 30 apalagi sampai menjadi buku? Kita harus yakin bahwa itu adalah sesuatu yang mungkin. 
Bagaimana caranya?

1. Menentukan alasan menulis.

Sebelum memutuskan untuk menulis buku, kita harus menentukan alasan mengapa kita ingin menulis buku. Alasan tersebut akan menjadi motivasi kita nanti untuk terus bersemangat dalam menghasilkan tulisan. Sesibuk apapun kita, jika alasannya sangat kuat maka mau tidak mau kita akan meluangkan waktu untuk menulis. Oleh karena itu segera tentukan alasan yang tepat sehingga kita semakin bersemangat untuk segera menyelesaikan tulisan yang dibuat.

Boleh saya tahu, alasan Bapak Ibu mengapa ingin menulis buku?
Silakan beberapa orang mengisi alasannya di bawah ini:
1.
2.
3
4.
5.
6.
7.
8.
9.
10.

Jawaban tiap orang pasti berbeda, namun yang terpenting alasan itu mampu mendorong kita untuk bersemangat menulis.

Namun, jika jawaban yang dibuat ternyata belum membuat kita bersemangat menulis, berarti kita harus mencari alasan lain yang lebih tepat. Alasan itu harus mampu memotivasi sehingga ketika mengingat alasan itu, kita akan kembali bersemangat menulis.

Sebenarnya apapun profesi kita, menulis dapat memberikan nilai lebih buat kita. Apalagi profesi kita sebagai guru. Kegiatan menulis sebenarnya tidak pernah lepas dari kegiatan sehari-hari. Mulai dari menulis rencana pembelajaran, menulis di papan tulis ketika menerangkan, mempersiapkan materi pelajaran yang akan diajarkan, membuat soal, membuat laporan kegiatan, membuat media pembelajaran di powerpoint, dan lain-lain. Oleh karena itu sebenarnya tidak ada alasan tidak bisa menulis.

2. Yakinlah Menulis Itu Mudah

Yakinlah bahwa menulis itu mudah. Menulis sebuah buku bagi pemula mungkin dianggap sebagai sesuatu yang susah. Namun sebenarnya menulis buku itu mudah bila kita sudah tahu alur dan caranya. Yang susah itu sebenarnya konsisten, telaten, dan sabar melalui proses penggarapan bukunya.

Terus melakukan latihan yang banyak akan semakin menggiring kita memahami bahwa menulis itu mudah. Sesungguhnya tidak ada yang instan dalam menulis. Kita dapat menguasai keahlian menulis setelah kita rajin berlatih. Minimal setiap hari menulis selama satu jam.

Jalani Prosesnya

Menulis itu memerlukan proses. Tulisan yang bagus terkadang tidak langsung jadi. Terkadang memerlukan proses yang sangat panjang, memerlukan riset, dan menguras waktu serta tenaga. Jadi ketika memulai menulis, nikmati prosesnya. Mulailah membuat rancangan, mencari sumber bacaan yang tepat, menulis, kemudian merevisinya hingga menjadi buku yang menarik.

Jangan terlalu berpikir menulis tentang hal yang besar dan hebat sehingga merasa kesulitan menuliskannya. Yakinlah bahwa hal yang hebat dan besar itu berasal dari hal yang kecil dan sederhana dulu. Artinya menulis bisa dimulai dari hal yang mudah dan dekat dan akrab dengan dunia kita sehari-hari.

Proses menulis buku pasti akan mengalami banyak rintangan dan halangan bisa dari diri sendiri, orang lain, atau juga lingkungan. Jangan berhenti, teruslah berusaha hingga terselesaikan buku yang sudah direncanakan.

Dalam berproses, kesabaran juga diperlukan dalam menulis buku. Buku tidak mungkin langsung jadi dalam sekejab. Setiap hari kita harus telaten menuliskan gagasan dalam bentuk paragraf-paragraf sehingga tersusunlah berlembar-lembar tulisan. Setelah tersusun pun, kita upayakan untuk membaca kembali sambil melakukan pengeditan. Dengan begitu gagasan tersebut lebih sitematik, terarah, dan mudah dipahami.

Mungkin di awal menulis, tulisan kita akan terasa kurang menarik atau terasa kaku, atau justru tidak dilirik orang. Tetaplah menulis, karena itu juga prosesnya. Semakin sering kita menulis, perlahan namun pasti, tulisan kita akan semakin baik dan semakin mengalir gagasan-gagasannya.

4. Fokus dan Menentukan Target

Fokus merupakan kunci keberhasilan dalam melakukan segala hal termasuk menulis. Kita harus fokus menulis dalam menyusun buku. Target sangat diperlukan untuk membuat kita bisa fokus menulis.

Apa target kita? (Silakan diisi di catatan masing-masing)
1. Menulis tentang ……………………………
2. Target pembaca buku adalah ………………
3. Jumlah halaman …………..
4. Tulisan harus selesai pada …………
5. Isinya bersifat …………

Nurus Samawati Annisa:
Apa target kita? (Silakan diisi di catatan masing-masing)
1. Menulis tentang materi tematik kls 3 SD
2. Target pembaca buku adalah orang tua dan guru
3. Jumlah halaman 100
4. Tulisan harus selesai pada bulan oktober
5. Isinya bersifat buku panduan guru dan orang tua

Setelah target ditentukan, dibutuhkan keseriusan, ketelatenan, kesabaran, ketekunan, dan keuletan dalam menghasilkan buku.

Keseriusan dapat ditunjukkan dengan menyediakan waktu tertentu setiap hari khusus untuk menulis. Setiap guru dapat berbeda dalam menyediakan waktu ini bergantung kesibukannya sebagai guru. Bisa hanya satu jam setiap hari atau bahkan lebih.

Ketelatenan, kesabaran, ketekunan, dan keuletan dapat ditunjukkan ketika berproses dalam menulis. Ketika menulis mengalami kebuntuan gagasan misalnya, kita dapat segera mengalihkannya dengan membaca atau beralih ke file lain untuk mencurahkan hal-hal yang membuat kita merasa penat, lelah, dan tidak mood dalam menulis.

Lingkungan bergaul juga sangat berpengaruh pada kita supaya lebih fokus. Lingkungan yang mendukung kegiatan menulis buku akan sangat memotivasi kita untuk tetap fokus menghasilkan tulisan. Oleh karena itu bergabung dengan komunitas penulis dan pelatihan kepenulisan sangat penting untuk mendukung kita tetap fokus menulis.

Menulis Setiap Hari

Menulis secara kontinue setiap hari itu penting sehingga target kita terpenuhi. Idealnya target jumlah halaman kita bagi 30 sehingga sudah ada target harian. Meskipun dalam pelaksanaan tidak harus berlembar-lembar setiap harinya. Saya yakin terkadang banyak kesibukan membuat kita tidak sempat menulis sama sekali. Semampunya saja, misalnya hanya sekadar berlatih menulis kalimat, menulis ide-ide yang berloncatan, sekadar menulis status, membuat quote, menulis puisi, atau mencurahkan perasaan. Namun ketika waktu senggang target harian yang tidak tercover harus diselesaikan sehingga bisa dua kali lipat menulis di hari tersebut.

5. Menulis Setiap Hari

Menulis secara kontinue setiap hari itu penting sehingga target kita terpenuhi. Idealnya target jumlah halaman kita bagi 30 sehingga sudah ada target harian. Meskipun dalam pelaksanaan tidak harus berlembar-lembar setiap harinya. Saya yakin terkadang banyak kesibukan membuat kita tidak sempat menulis sama sekali. Semampunya saja, misalnya hanya sekadar berlatih menulis kalimat, menulis ide-ide yang berloncatan, sekadar menulis status, membuat quote, menulis puisi, atau mencurahkan perasaan. Namun ketika waktu senggang target harian yang tidak tercover harus diselesaikan sehingga bisa dua kali lipat menulis di hari tersebut.

Cara Cepat Menyusun Buku (Buat Latihan Bersama)

 Menyusun buku dengan jumlah halaman yang banyak tentu memerlukan waktu yang relatif lama. Belum lagi bagi pemula terkadang hambatannya adalah belum percaya diri sehingga buku yang sudah dirancang menjadi terhenti di tengah jalan. Sayang sekali bukan. Untuk itu sebagai langkah awal kita perlu belajar menulis buku dengan sistem berjamaah terlebih dahulu sehingga rasa percaya diri tumbuh dan bisa segera diterbitkan bukunya.

Menulis berjamaah bisa dilakukan dalam sebuah komunitas/perkumpulan/grup. Tulisan bisa berupa artikel dengan satu tema yang sama yang sudah disepakati bersama. Harus ada yang bertanggung jawab dalam hal pengumpulan artikel, penyusunan, pengeditan, hingga pengajuan ke penerbit.

Menurut Wikipedia, artikel adalah karangan faktual secara lengkap dengan panjang tertentu yang dibuat untuk dipublikasikan (melalui koran, majalah, bulletin, dan sebagainya) dan bertujuan menyampaikan gagasan dan fakta yang dapat meyakinkan, mendidik, dan menghibur.

Artikel yang dibuat ditentukan format penulisannya sehingga memudahkan dalam penyusunan. Artikel ditulis di kertas A4, menggunakan huruf Times New Roman, ukuran 12 point, jarak 1,5 spasi, margin 3 3 3 3, jumlah halamannya antara 3-7 halaman. Naskah dikumpulkan segera supaya bisa segera dihimpun dan disusun. Setelah naskah tersusun dan diedit, maka buku bisa segera diterbitkan. Naskah dikirim ke nurusannisa@gmail.com. Dengan subjek artikel ggdn 18_Judul_Nama. Jangan lupa sebelumnya file artikel disimpan dengan nama: artikel ggdn 18_Judul_nama.

Dengan begitu menulis buku akan terasa ringan dan mudah. Semangat menulis akan semakin membara dan lama-kelamaan pasti percaya diri itu akan muncul dan bisa menulis buku sendiri dan menerbitkannya.

Belajarlah Ilmu Kepenulisan
Modal awal menulis adalah memiliki berbagai pengetahuan. Pengetahuan itu antara lain tentang ilmu kepenulisan. Kita juga harus memiliki pengetahuan yang luas tentang berbagai hal sehingga banyak ide-ide menarik yang bisa dituangkan dalam bentuk tulisan.

6. Belajarlah Ilmu Kepenulisan

Modal awal menulis adalah memiliki berbagai pengetahuan. Pengetahuan itu antara lain tentang ilmu kepenulisan. Kita juga harus memiliki pengetahuan yang luas tentang berbagai hal sehingga banyak ide-ide menarik yang bisa dituangkan dalam bentuk tulisan.

Yang tidak kalah penting adalah menguasai ilmu kebahasaan yaitu penggunaan ejaan dan tanda baca yang baik dan benar. Dengan mengetahui hal tersebut, tulisan akan terlihat rapi dan enak dibaca. Penerbit akan mempertimbangkan hasil tulisan yang tidak ada kesalahan ejaan dan tanda baca. Jika isinya bagus, sesuai dengan kriteria dan kebutuhan penerbit, kemungkinan besar naskah tersebut akan diterima.

Contoh yang perlu dipelajari antara lain:
Belajar Menemukan Ide/Gagasan
Belajar Menggunakan Kalimat Efektif
Belajar Menyusun Paragraf
Belajar Menentukan Judul
Belajar Ilmu Tata Bahasa

7. Lakukan Self Editing

Proses editing ini sangat penting karena selalu ada kemungkinan naskah tersebut terdapat kesalahan-kesalahan. Kesalahan yang terjadi bisa karena ketidaksengajaan atau juga karena ketidaktahuan penulis. Jika karena ketidaktahuan, kesalahan dapat terjadi terus menerus.

Oleh karena itu, sebagai penulis, kita harus belajar bagaimana mengedit naskah. Paling tidak naskah yang kita buat sudah rapi dan sudah sesuai dengan Ejaan Bahasa Indonesia. Sehingga saat naskah kita sudah diterima penerbit, editor akan mempertimbangkan buku kita layak terbit atau tidak setelah melalui seleksi awal yaitu tulisan yang sudah rapi dan tidak ada kesalahan ejaan dan tanda baca. Jika sudah tidak ada kesalahan penulisan kata, kalimat, dan ejaan, maka editor akan memeriksa isi naskah tersebut.

Bagaimana menumbuhkan rasa percaya diri dalam menulis buku? Sebenarnya rasa ini harus ditumbuhkan dari diri sendiri. Alasan mengapa harus menulis buku yang sudah ditulis sebelumnya akan membantu kita lebih percaya diri. Kita juga harus belajar memahami diri. Apa yang membuat kita kurang percaya diri? Apa karena kemampuan menuangkan gagasan dalam paragraf yang kurang atau karena tulisan kita yang belum sesuai ejaan dan tanda baca? Atau karena hal lain. 

Jika sudah diketahui alasannya segera cari solusinya. Jika alasannya seputar kemampuan menuangkan ide, gagasan, dan penggunaan ejaan dan tanda baca berarti kita harus segera belajar tentang itu. Banyak membaca buku sebenarnya juga akan membantu kita memahami bagaimana cara menuangkan ide yang menarik dan bagaimana menggunakan ejaan dan tanda baca yang benar. 

Menulis sambil belajar itu bisa kita lakukan dalam waktu bersamaan. Sehingga kita tidak perlu menunda untuk menulis. Apapun ide yang muncul segera tuliskan tanpa berpikir ini salah, itu salah, atau terlalu berbelit-belit. Jika alasannya karena malu, khawatir, atau takut salah, maka solusinya adalah menumbuhkan kemauan dari diri sendiri untuk berubah lebih baik.

Nurus Samawati Annisa:
Takut memulai menulis? Karena takut salah dan dianggap ide tidak menarik atau takut dibilang tidak bisa menulis? Bagaimana bisa dibilang tidak bisa menulis kalau ternyata sudah ada karya. Menulis perlu proses. Jangan pernah lagi takut memulai karena kita tidak akan tahu seberapa besar kemampuan kita.

Nurus Samawati Annisa:
Sebenarnya ketakutan ini adalah sesuatu yang wajar ketika kita memulai menulis. Lawan ketakutan itu dengan terus berproses, belajar, menyibukkan diri, jalan-jalan dan lain sebagainya.

8. Kirim ke Penerbit

Jika tulisan sudah jadi sesuai target buku yang kita harapkan, langkah selanjutnya adalah menerbitkannya. Sebelumnya periksa kembali apakah kita sudah menambahkan daftar isi, kata pengantar, dan daftar pustaka jika ada. Kemudian periksa penggunaan ejaan dan tanda baca yang kurang tepat. Istilahnya melakukan self editing terlebih dahulu. Jika sudah yakin kirimkan ke penerbit.

Sebagai pemula, jika tulisannya ingin segera diterbitkan saran saya melakukan self publishing. Self publishing itu menerbitkan buku dengan biaya sendiri. Penerbit yang menerima self publishing biasanya disebut sebagai penerbit indie.  Penerbit indie mencetak buku sesuai pesanan penulis. Penerbit indie biasanya menawarkan beberapa paket penerbitan dengan berbagai fasilitas. Pilihlah paket berdasarkan kebutuhan penerbitan dengan mempertimbangkan fasilitas yang ditawarkan.

Berbeda dengan penerbit mayor, mereka menerbitkan buku dengan cara membeli lepas tulisan kita atau dengan perjanjian berbagi royalty keuntungan dengan penulis. Dan untuk dapat tembus ke penerbit mayor memang ada seleksi ketat sesuai kriteria mereka. Dan kita harus bersabar menunggu tulisan kita diterima.

Naskah yang sudah jadi kita kirimkan ke penerbit melalui email dalam bentuk softcopy. Softcopy tersebut harus sudah dipastikan format page layoutnya sudah sesuai standar yang sering dipakai kecuali jika penerbit mensyaratkan ukuran tertentu. Format standart yang sering dipakai yaitu ditulis dengan menggunakan huruf Times New Roman, ukuran 12 point, di kertas A4, jarak 1,5 spasi, dan margin 3 3 3 3. Ketika menyimpan file jangan lupa menyimpannya dengan nama judul buku yang kita tulis dan nama kita. Terkadang penerbit sudah memberitahukan cara memberi nama file sesuai paket penerbitan yang kita minta. Pastikan judul file dan subjek email itu sama supaya memudahkan penerbit menemukan file unduhannya nanti dan menunjukkan keprofesionalan kita juga.

Tema itu garis besar tulisan kita. Terkadang bisa juga kita jadikan judul. Judul merupakan gambaran singkat dari isi buku. Pembuatan judul harus menarik, unik, mencerminkan kebaruan, berguna, dan menantang. Dengan begitu pembaca akan terpikat untuk membaca isi buku. Namun jangan sampai melupakan relevansi judul dengan isi buku.

Judul lebih baik ditulis secara singkat, padat, dan jelas. Sebaiknya judul tidak lebih dari lima kata dan tidak boleh dalam bentuk kalimat atau frasa yang panjang.

Memang harus disesuaikan dengan pasar Bu. Target market kita siapa? Kalau remaja tentu biasanya memang akan lebih tertarik yang bahasanya ringan, kekinian, dan gaul. Kita sebenarnya tetap bisa menjaga tetap menggunakan ejaan yang baik dan benar.

Tema Menulis artikel: Kisah nyata kita sebagai seorang guru
Artikel ditulis di kertas A4, menggunakan huruf Times New Roman, ukuran 12 point, jarak 1,5 spasi, margin 3 3 3 3, jumlah halamannya antara 3-7 halaman. Naskah dikumpulkan segera supaya bisa segera dihimpun dan disusun. Setelah naskah tersusun dan diedit, maka buku bisa segera diterbitkan. Naskah dikirim ke nurusannisa@gmail.com. Dengan subjek artikel ggdn 18_Judul_Nama. Jangan lupa sebelumnya file artikel disimpan dengan nama: artikel ggdn 18_Judul_nama.

Silakan menuliskan nama dan nomor hp buat yang sanggup menulis artikel dan membeli bukunya nanti minimal 3 eksemplar.
1.
2.
3.

Ya bu waktunya 30 hari. Tapi kalau tulisannya mau diurutan awal di daftar isi ya cepat2 kirim. Siapa cepat dia yang awal.

Jika sudah memiliki niat untuk menulis, maka segera lakukan dan konsistensilah. Jangan menunda, apalagi sudah ada ide/gagasan. Jika ditunda biasanya ide tersebut akan menguap. Jika memang waktu atau kesempatan tidak memungkinkan untuk langsung menulis panjang lebar saat ide muncul, paling tidak tulislah ide tersebut di catatan, buku, atau di handphone. Hal ini akan memudahkan kita mengingat kembali ide tersebut dan menuliskannya.

Alhamdulillah sahabat guru dahsyat selesai sudah seminar kita hari ini semoga bermanfaat.  Terimakasih atas partisipasi yang luar biasa dahsyat hari ini. Terkhusus untuk pak Riswanto, ch, cht, gr, SE, MM CEO GDN... 😃😎

Mohon maaf jika ada kekurangan dan kesalahan. Saya akhiri wassalamualaikum war wab.

Nurus Samawati Annisa, S. Pd.


Arda Dinata:

PNS, Peneliti, Penulis Lepas, Pemateri, Motivator Penulisan Artikel Kesehatan dan Pendiri Majelis Inspirasi Alquran dan Realitas Alam [MIQRA Indonesia].

www.ArdaDinata.com
ARDA DINATA
@ardadinata

C00447A8B dan 51D2B002

Wikipedia

Hasil penelusuran

ARSIP ARTIKEL