Cari Artikel di Blog Ini:

Jumat, 01 September 2017

Menulis Buku Berjamaah (Bagian 1)

Materi Diklat GGDN:
Bismillahirrahmanirrahim
Seminar Online Grup Guru Dahsyat Nusantara Angkatan 18
Kamis , 31 Agustus 2017

Narasumber : Ibu Nurus Samawati Annisa, S. Pd
Tema. : Menulis Buku Berjamaah

Silakan mengisi absen dengan cara menuliskan nama dan asal
Ex : Mira_Pandai Sikek Sumbar

Absen diisi sampai pukul 14.50 WIB

Selamat mengikuti seminar...😃

Sahabat guru dahsyat bertemu kembali kita di seminar hari ini yang selalu kita nanti.. 

Kembali kita akan menerima ilmu merangkai kata menjadi kalimat dan melahirkan sebuah buku yang akan dibimbing oleh Bu Nurus Samawati Annisa, S. Pd... 😃

Assalamualaikum

Alhamdulillah senang bisa berjumpa kembali dalam seminar kita kali ini.

Semoga kita semakin semangat. Yang kirim artikel sudah banyak. Belum ada yang saya baca. Mohon dimaklum.

Problematika

Apapun naskah yang kita tulis, jika telah selesai harus kita baca ulang dan diedit dari segi penulisan kata, ejaan, kalimat, tanda baca, serta pilihan kata yang tepat. Begitu pula dengan naskah buku yang ingin kita terbitkan. Masalahnya adalah bisa tidak kita melakukan self editing.

Kegiatan mengedit naskah sendiri popular dengan nama self editing. Sebelum naskah kita kirim ke penerbit, kita usahakan untuk mengeditnya sendiri. Jika belum bisa mengedit naskah sendiri, penerbit juga menyediakan paket penerbitan sekalian editing di penerbit indie. Jika dirasa terlalu mahal paket penerbitan yang ada fasilitas editing, bisa memanfaatkan jasa editing saya, satu buku hanya 200.000.

Proses editing ini sangat penting karena selalu ada kemungkinan naskah tersebut terdapat kesalahan-kesalahan. Kesalahan yang terjadi bisa karena ketidaksengajaan atau juga karena ketidaktahuan penulis. Seandainya karena ketidaksengajaan, ketika mengedit pasti akan segera mengetahui bahwa itu salah. Jika karena ketidaktahuan, kesalahan dapat terjadi terus menerus

Oleh karena itu, sebagai penulis, kita harus belajar bagaimana mengedit naskah. Paling tidak naskah yang kita buat sudah rapi dan sudah sesuai dengan Ejaan Bahasa Indonesia. Sehingga saat naskah kita sudah diterima penerbit, editor akan mempertimbangkan buku kita layak terbit atau tidak setelah melalui seleksi awal yaitu tulisan yang sudah rapi dan tidak ada kesalahan ejaan dan tanda baca. Jika sudah tidak ada kesalahan penulisan kata, kalimat, dan ejaan, maka editor akan memeriksa isi naskah tersebut.

Kesalahan yang sering terjadi:
Penggunaan Spasi
Penggunaan Huruf Kapital
Penggunaan Kata Depan di
Penggunaan Kata Sambung di-
Penggunaan Kata Berimbuhan MeN-, Me-kan, atau Me-i
Penggunaan Imbuhan Dalam Gabungan Kata
Penggunaan Tanda Baca Koma
Salah Ketik
Salah Menulis Istilah atau Kata Asing

Edit Naskah

Kita bisa mengedit tulisan yang kita tulis jika kita mengetahui aturan penulisan kata, huruf, ejaan dan tanda baca. Berikut ini contoh kesalahan yang sering terjadi dan bisa kita edit sendiri. Jika sudah tahu aturannya usahakan semaksimal mungkin tidak membuat kesalahan berulang sehingga tidak memerlukan waktu yang lama untuk editing. Dengan tulisan yang sudah tidak banyak kesalahan dalam hal ejaan dan tanda baca maka proses editing akan lebih cepat dan ringan. Kita tinggal membaca ulang kira-kira kalimatnya sudah efektif atau masih terlalu berbelit-belit.

Penggunaan Spasi

Kesalahan sepele terkadang menyebabkan naskah tidak indah untuk dinikmati, misalnya penggunaan spasi yang tidak pada tempatnya. Kesalahan yang sering terjadi dalam pemanfaatan spasi yaitu diberikan sebelum tanda baca koma, tanda titik, tanda seru, dan tanda tanya. Itu berarti kita telah membuat kesalahan dan harus segera diedit.

Penggunaan spasi yang benar yaitu:
Spasi digunakan untuk memisahkan satu kata dengan kata berikutnya
Contoh: kaki bukit, segera berangkat, aku belajar menulis, dan lain-lain.
Spasi digunakan setelah tanda baca titik, koma, seru, dan tanya. Sebelum tanda baca tersebut tidak memerlukan spasi.

Contoh: 
Saya membeli buku , pensil , penggaris , dan penghapus . (Salah)
Saya membeli buku,pensil,penggaris,dan penghapus. (Salah)
Saya membeli buku, pensil, penggaris, dan penghapus. (Benar)

Spasi tidak digunakan sesudah tanda kutip dan tanda kurung
Contoh: 
Ida bertanya, " Sedang apa Kamu di sini? " (Salah)
Ida bertanya, "Sedang apa Kamu di sini?" (Benar)

Penggunaan Huruf Kapital

Penulisan huruf kapital juga harus diperhatikan. Penulis harus memiliki pengetahuan tentang penggunaan huruf kapital yang benar. Karena jika penulisan huruf kapital saja salah bagaimana dengan penulisan yang lain.

Huruf kapital digunakan sebagai berikut.
Huruf pertama pada awal kalimat.
Huruf pertama petikan langsung.
Huruf pertama dalam ungkapan yang berhubungan dengan hal-hal keagamaan, kitab suci, nama Tuhan, dan termasuk kata ganti nama Tuhan.
Huruf pertama gelar kehormatan, keturunan, dan keagamaan yang diikuti nama orang.
Huruf pertama nama orang atau unsur-unsur nama orang
Huruf pertama nama bangsa, suku, dan bahasa.
Huruf pertama nama tahun, bulan, hari, hari raya, dan peristiwa sejarah.
Huruf pertama nama khas dalam geografis
Huruf pertama nama suatu badan, lembaga pemerintahan dan ketatanegaraan, serta nama dokumen resmi
Huruf pertama pada semua kata (termasuk semua unsur kata ulang sempurna) nama buku, majalah, surat kabar, dan judul karangan kecuali kata depan seperti: di, ke, dari, pada, untuk, telah, dan, dan lain-lain yang tidak terletak di awal kalimat.
Huruf pertama singkatan nama gelar, pangkat dan sapaan.

Penggunaan Kata Depan di 

Penulisan yang juga sering salah terdapat pada penulisan kata depan di. Penulisan kata depan harusnya dipisah bukan disambung. 
Contoh kata depan: di depan, di belakang, di sekolah, di rumah, di dada.

Penggunaan Kata Sambung di-

Penulisan imbuhan di- harus disambung dengan kata yang diikuti.
Contoh kata berimbuhan di: diberi, diajak, diatur, dimakan, diajukan

Untuk lebih memahami bahwa itu kata berimbuhan di, maka kita bisa mengubah kata kerja pasif tadi menjadi kata kerja aktif. 
diberi ( memberi
diajak ( mengajak
diatur ( mengatur
dimakan ( memakan
diajukan ( mengajukan
Dengan demikian, akhirnya kita jadi tahu mana yang termasuk kata berimbuhan di- sehingga tidak lagi salah dalam penulisannya.

Nurus Samawati Annisa:
Untuk lebih memahami bahwa itu kata berimbuhan di, maka kita bisa mengubah kata kerja pasif tadi menjadi kata kerja aktif. 
diberi =》 memberi
diajak =》mengajak
diatur =》 mengatur
dimakan =》memakan
diajukan =》 mengajukan
Dengan demikian, akhirnya kita jadi tahu mana yang termasuk kata berimbuhan di- sehingga tidak lagi salah dalam penulisannya.

Penggunaan Kata Berimbuhan MeN-, Me-kan, atau Me-i
Konsonan k, p, t, s akan luluh jika mendapat imbuhan meN-, me-kan, atau me-i. Misalnya: mengeluarkan, menguliti, memukul, menyambal, menyayur, mengaji, menitipkan, menyapu, dan-lain-lain.

Bersambung ke: http://www.ardadinata.com/2017/09/menulis-buku-berjamaah-bagian-2.html


Arda Dinata:

PNS, Peneliti, Penulis Lepas, Pemateri, Motivator Penulisan Artikel Kesehatan dan Pendiri Majelis Inspirasi Alquran dan Realitas Alam [MIQRA Indonesia].

www.ArdaDinata.com
ARDA DINATA
@ardadinata

C00447A8B dan 51D2B002

Wikipedia

Hasil penelusuran

ARSIP ARTIKEL