Cari Artikel di Blog Ini:

Jumat, 08 September 2017

Menulis Itu Perlu Proses

"Menulis merupakan salah satu bentuk komunikasi. Kita dapat mengomunikasikan apa saja yang ada dalam pikiran kita ke dalam tulisan. Bisa jadi kita sedang berdialog dengan diri sendiri dan bisa pula kita sedang mengeksplore apa yang ada dalam pemikiran kita. Dengan menuliskannya, kita dapat mengomunikasikan pemikiran kita pada orang lain di berbagai tempat dan pada masa yang berbeda. Bahkan sampai meninggal pun, pemikiran itu akan tetap dapat dibaca oleh orang lain jika dituliskan dalam bentuk buku dan disebarluaskan."
Bismillahirrahmanirrahim
Seminar Online Grup Guru Dahsyat Nusantara Angkatan 18
Kamis , 7 September 2017

Narasumber : Ibu Nurus Samawati Annisa, S. Pd
Tema. : Menulis Buku Berjamaah

Selamat mengikuti seminar...😃

Assalamualaikum war wab

Alhamdulillah kita masih diberi kesempatan untuk melaksanakan seminar tentang kepenulisan dalam keadaan sehat walafiat.

Tema kali ini tentang Menulis Itu Perlu Proses

Menulis merupakan salah satu bentuk komunikasi. Kita dapat mengomunikasikan apa saja yang ada dalam pikiran kita ke dalam tulisan. Bisa jadi kita sedang berdialog dengan diri sendiri dan bisa pula kita sedang mengeksplore apa yang ada dalam pemikiran kita. Dengan menuliskannya, kita dapat mengomunikasikan pemikiran kita pada orang lain di berbagai tempat dan pada masa yang berbeda. Bahkan sampai meninggal pun, pemikiran itu akan tetap dapat dibaca oleh orang lain jika dituliskan dalam bentuk buku dan disebarluaskan.

Menulis itu memerlukan proses. Tulisan yang bagus terkadang tidak langsung jadi. Terkadang memerlukan proses yang sangat panjang, memerlukan riset, dan menguras waktu serta tenaga. Jadi ketika memulai menulis, nikmati prosesnya. Mulailah membuat rancangan, mencari sumber bacaan yang tepat, menulis, kemudian merevisinya hingga menjadi buku yang menarik.

Kebanyakan kita terlalu berpikir hal yang hebat dan besar. Kita berusaha menulis hal yang hebat dan besar tersebut sehingga kesulitan menuliskannya. Padahal, hal yang hebat dan besar itu awalnya juga kecil dan biasa. Harusnya kita memulai dengan menulis hal yang mudah dan akrab dengan kita.

Proses menulis buku pasti akan mengalami banyak rintangan dan halangan bisa dari diri sendiri, orang lain, atau juga lingkungan. Jangan berhenti, teruslah berusaha hingga terselesaikan buku yang sudah direncanakan.

Kita harus yakin bahwa segalanya adalah mungkin buat orang yang bersungguh-sungguh. Jika kita sungguh-sungguh dan yakin, menulis buku dan menerbitkannya bukanlah hal yang mustahil lagi.

Dalam berproses, kesabaran juga diperlukan dalam menulis buku. Buku tidak mungkin langsung jadi dalam sekejab. Setiap hari kita harus telaten menuliskan gagasan dalam bentuk paragraf-paragraf sehingga tersusunlah berlembar-lembar tulisan. Setelah tersusun pun, kita upayakan untuk membaca kembali sambil melakukan pengeditan. Dengan begitu gagasan tersebut lebih sitematik, terarah, dan mudah dipahami.

Mungkin di awal menulis, tulisan kita akan terasa kurang menarik atau terasa kaku, atau justru tidak dilirik orang. Tetaplah menulis, karena itu juga prosesnya. Semakin sering kita menulis, perlahan namun pasti, tulisan kita akan semakin baik dan semakin mengalir gagasan-gagasannya.

Kemampuan dan keterampilan sangat berpengaruh pada proses menulis. Semakin banyak kemampuan dan keterampilan yang kita kuasai maka proses menulis itu terasa lebih   ringan.

Singkirkan Alasan yang Menghambat

Dalam kenyataannya masih banyak guru yang beralasan, "Saya tidak bisa menulis buku", "Saya tidak sempat menulis buku", atau "Saya tidak ahli menulis buku". Sejatinya tidak ada yang sempurna di dunia ini. Jika tidak mencoba, bagaimana kita tahu kalau tidak bisa dan tidak ahli. Jika kurang sempurna, kita bisa memperbaikinya nanti.

Alasan yang paling sering didengar adalah tidak sempat atau tidak memiliki waktu luang karena kemampuan itu sebenarnya sudah ada. Kesempatan akan ada kalau kita meluangkan sedikit atau sebagian waktu yang dimiliki. Kuncinya ada pada niat dan perhatian. Jika sudah diniatkan untuk menulis buku dan memberikan perhatian bahwa hal ini adalah penting maka kita akan berusaha meluangkan waktu untuk itu. Carilah waktu senggang, jika senggangnya malam maka luangkan sedikit waktu senggang itu untuk menulis. Jika senggangnya pagi maka luangkan sedikit waktu itu untuk menulis. Buang jauh-jauh alasan yang menghambat itu jika ingin menulis buku.

Pentingnya Percaya Diri

Mungkin diantara para guru masih ada yang merasa belum percaya diri untuk menulis buku karena belum mengetahui cara menuangkan ide menjadi sebuah buku dan masih bingung tahapan apa yang harus dilalui. Oleh karena itu kepercayaan diri itu perlu ditumbuhkembangkan sehingga semangat yang sudah membara untuk menulis buku tetap terjaga.

Bagaimana menumbuhkan rasa percaya diri dalam menulis buku? Sebenarnya rasa ini harus ditumbuhkan dari diri sendiri. Alasan mengapa harus menulis buku yang sudah ditulis sebelumnya akan membantu kita lebih percaya diri. Kita juga harus belajar memahami diri. Apa yang membuat kita kurang percaya diri? Apa karena kemampuan menuangkan gagasan dalam paragraf yang kurang atau karena tulisan kita yang belum sesuai ejaan dan tanda baca? Atau karena hal lain.


Jika sudah diketahui alasannya segera cari solusinya. Jika alasannya seputar kemampuan menuangkan ide, gagasan, dan penggunaan ejaan dan tanda baca berarti kita harus segera belajar tentang itu. Banyak membaca buku sebenarnya juga akan membantu kita memahami bagaimana cara menuangkan ide yang menarik dan bagaimana menggunakan ejaan dan tanda baca yang benar. Menulis sambil belajar itu bisa kita lakukan dalam waktu bersamaan. Sehingga kita tidak perlu menunda untuk menulis. Apapun ide yang muncul segera tuliskan tanpa berpikir ini salah, itu salah, atau terlalu berbelit-belit. Jika alasannya karena malu, khawatir, atau takut salah, maka solusinya adalah menumbuhkan kemauan dari diri sendiri untuk berubah lebih baik.

Apakah tulisan kita sudah pantas untuk dijadikan sebuah buku? Pertanyaan itu yang terkadang juga membuat kita belum percaya diri untuk menyusun sebuah buku. Jika belum dicoba bagaimana kita bisa tahu tulisan kita pantas atau tidak untuk dibukukan.

Menumbuhkan rasa percaya diri itu sangat penting dalam menulis buku. Caranya bagaimana? Tentu saja dengan belajar, mengikuti pelatihan, mengikuti grup-grup kepenulisan, mengikuti event-event lomba menulis baik yang diadakan oleh penerbit atau lembaga yang lain.

Jika masih belum percaya diri padahal sudah belajar dan mengikuti berbagai pelatihan, berarti faktor penyebabnya bisa dari diri sendiri. Mungkin beberapa penyebabnya karena tidak adanya keberanian, perasaan takut dibilang bahwa tulisan kita jelek, takut ditolak penerbit, dan menganggap tidak memiliki ide cemerlang. Oleh karena itu, kita harus berani menuliskan ide/gagasan yang ada dalam pikiran kita, melawan perasaan takut dibilang bahwa tulisan kita jelek, melawan rasa takut kalau tulisan kita akan ditolak penerbit, dan menghilangkan anggapan bahwa kita tidak memiliki ide.

Camkan dalam diri kita kalimat-kalimat berikut!
"Saya bisa." 
"Ini mudah." 
"Saya bisa menuliskannya dengan baik." 
"Setiap orang pasti memiliki ide, termasuk saya."
"Saya akan menulis."
"Saya siap menulis."
Jadi percaya diri itu sangat penting. Tanpa percaya diri, mustahil kita akan melahirkan tulisan. Dengan percaya diri, kita akan berusaha untuk memaksakan diri untuk segera menulis.

Lakukan Dengan Senang 

Apapun pekerjaan yang kita lakukan, jika kita melakukannya dengan senang dan gembira maka pekerjaan itu terasa ringan dan mudah. Begitu pula dengan menulis buku, jika kita menulis dengan senang maka prosesnya akan terasa ringan dan tanpa beban.

Terkadang menulis buku masih terasa berat karena memerlukan waktu, tenaga, dan perhatian khusus. Kita harus menyadari bahwa memulai sesuatu itu terkadang memang terasa berat. Namun jika melakukannya dengan senang, perasaan berat tadi akan terbayarkan dengan bukti nyata karya yang dihasilkan.


Galilah Ilmu Kepenulisan

Modal awal menulis adalah memiliki berbagai pengetahuan. Pengetahuan itu antara lain tentang ilmu kepenulisan. Kita juga harus memiliki pengetahuan yang luas tentang berbagai hal sehingga banyak ide-ide menarik yang bisa dituangkan dalam bentuk tulisan.

Yang tidak kalah penting adalah menguasai ilmu kebahasaan yaitu penggunaan ejaan dan tanda baca yang baik dan benar. Dengan mengetahui hal tersebut, tulisan akan terlihat rapi dan enak dibaca. Penerbit akan mempertimbangkan hasil tulisan yang tidak ada kesalahan ejaan dan tanda baca. Jika isinya bagus, sesuai dengan kriteria dan kebutuhan penerbit, kemungkinan besar naskah tersebut akan diterima.

Kita harus belajar untuk mengembangkan kemampuan menulis kita. Dengan belajar, kita akan semakin tahu dan percaya diri dalam menulis buku.

Menemukan Ide atau Gagasan 

 Ide atau gagasan merupakan hal yang mendasari terlahirnya sebuah tulisan. Diantara kita ada yang mengalami kebingungan bagaimana menemukan ide sehingga keinginan menulis menjadi kandas di tengah jalan. Namun jangan berkecil hati dan segeralah mencari solusi.

Sebenarnya ide itu bisa muncul dari mana saja dan kapan saja namun semuanya dikembalikan lagi pada kita apakah mampu menangkapnya atau tidak. Di saat ide datang segera catat. Jangan dibiarkan hilang tanpa jejak.

1. Sumber Ide

Beberapa hal yang bisa menjadi sumber ide antara lain pengalaman, gagasan orang lain, buku, ajaran agama, siswa, dan lingkungan. Dengan mengetahui berbagai sumber ide tersebut maka kita tidak akan kehabisan ide untuk menulis.

Tema sebuah tulisan berasal dari ide/gagasan yang kita miliki. Untuk menjadikan ide/gagasan tadi menjadi tema yang unik dan menarik, maka kita harus mengetahui atau mengenal tentang ide/gagasan tadi. Selain itu, ide/gagasan haruslah menarik dan terdapat sumber bacaan atau bahan yang bisa dipelajari sehingga kita menguasai dan mampu menuliskannya. Untuk menjadikannya menjadi sebuah tema, ruang lingkup ide/gagasan haruslah dibatasi sehingga tidak terlalu luas dan mengambang pembahasan buku yang akan kita tulis.

2. Empat Kesalahan Dalam Ide

Menurut Isa Alamsyah, ada empat kesalahan dalam ide, yaitu:
Ide biasa, pasaran, dan tidak spesial

Menurut Isa Alamsyah, ada empat kesalahan dalam ide, yaitu:

A) Ide biasa, pasaran, dan tidak spesial
Seharusnya sejak awal penulis berpikir untuk menemukan ide yang unik dan tidak biasa sehingga mampu menyajikan hal baru dalam karyanya.

Pertanyaan yang muncul harus bermula dari:
Apa yang akan saya tulis?
Apa yang membedakannya dari tulisan yang sudah ada?
Bagaimana membuat tulisan saya berbeda atau lebih baik dari tulisan yang ada?
Hal unik apa yang bisa saya gagas?
Berdasarkan hal tersebut, jika tidak ada bedanya dengan karya yang sudah ada, maka bersiaplah untuk diabaikan.

B) Ide klise dan tidak orisinal

Ide klise atau tidak orisinal merupakan ide yang sama dengan yang dipikirkan kebanyakan orang atau yang sudah biasa diketahui pembaca. 
Berikut merupakan langkah-langkah yang harus dilakukan agar ide tidak klise. 
Pastikan ide belum banyak diangkat, tidak banyak diberitakan, atau tidak banyak yang tahu.
Pastikan ada pembeda dengan tulisan yang sudah ada
Buat personalisasi atau detail yang belum diungkap tulisan yang sudah ada.

C) Ide tidak menarik pasar pembaca

Ide manarik membuat orang ingin tahu dan ingin membaca tulisan kita. Ide menarik bisa dari judul, karakter, konflik, penggarapan, atau bisa juga dari tema cerita.

D) Ide meniru

Dua hal yang merugikan jika kita meniru ide yang sudah ada, yaitu ide kita tidak orisinal dan menempatkan kita sebagai penulis yang tidak kreatif.

Belajar Menggunakan Kalimat Efektif
Kalimat efektif merupakan kalimat yang mampu menimbulkan kembali gagasan-gagasan pada pikiran pembaca seperti apa yang ada dalam pikiran penulis. Kalimat efektif itu tidak bertele-tele, tidak menjelaskan ulang sesuatu yang sudah jelas, tidak ambigu, sistematis, dan sesuai Ejaan Bahasa Indonesia.

1) Ciri Kalimat Efektif

Untuk membuat kalimat efektif, kita perlu memahami ciri-cirinya. Ciri-ciri kalimat efektif antara lain:
A) Kesepadanan Struktur
Kesepadanan struktur itu meliputi kelengkapan struktur kalimat dan penggunaannya.

Hal yang perlu diperhatikan antara lain:
Kalimat minimal terdiri dari subjek dan predikat
Kata depan tidak diletakkan di depan subjek
Contoh kalimat:
Bagi para undangan, diharapkan hadir tepat waktu. (tidak efektif)
Para undangan diharapkan hadir tepat waktu. (efektif)
Tidak menggunakan subjek ganda 
Contoh kalimat: 
Ketika aku pulang ke rumah, aku lihat adik sedang tidur. (tidak efektif)
Ketika pulang ke rumah, aku lihat adik sedang tidur. (efektif)

B) Kehematan Kata

Kalimat efektif itu tidak bertele-tele dan bisa dibilang hemat penggunaan kata. Contohnya penggunaan kata jamak dan sinonim.

Kata jamak

Para siswa-siswi sedang berkumpul di lapangan. (tidak efektif)
Siswa-siswi sedang berkumpul di lapangan. (efektif)
Para merujuk pada pengertian jamak sedangkan siswa-siswi juga sudah menunjukkan jamak maka kalimatnya menjadi tidak efektif. Supaya efektif maka harus dipilih salah satu saja untuk menunjukkan jamak.

Kata sinonim

Ketika masuk ke dalam rumah, aku melihat adik sedang tidur. (tidak efektif)
Ketika masuk ke rumah, aku melihat adik sedang tidur. (efektif)
Kata masuk dan ke dalam memiliki arti yang sama sehingga berlebihan dan harus dihilangkan salah satu yang tidak penting kedudukannya dalam struktur kalimat. Predikat lebih penting dibandingkan keterangan maka yang dipakai adalah kata masuk yang memiliki fungsi predikat.

C) Kesejajaran Bentuk

Kesejajaran di sini yang maksud adalah penggunaan kata berimbuhan yang pararel dan konsisten.

Contoh: 
Hal yang perlu diperhatikan soal sampah adalah cara membuang, memilah, dan pengolahannya. (tidak efektif)
Hal yang perlu diperhatikan soal sampah adalah cara membuang, memilah, dan mengolahnya. (efektif)

D) Ketegasan Kalimat

Subjek tidak selamanya ada di awal kalimat, predikat pun boleh diletakkan di awal kalimat untuk menegaskan kalimat.

Contoh:
Kamu sapulah halaman rumah secepatnya! (tidak efektif)
Sapulah halaman rumahmu secepatnya! (efektif)

E) Kelogisan Kalimat

Kelogisan kalimat berperan untuk menghindari kesan ambigu dalam kalimat.
Contoh:
Kepada Bapak Kepala Sekolah, waktu dan tempat kami persilakan. (tidak efektif)
Bapak Kepala Sekolah dipersilakan menyampaikan pidatonya. (efektif)

Lima Kesalahan Akibat Kalimat Tidak Efektif

Menurut Isa Alamsyah, ada lima kesalahan akibat kalimat tidak efektif, antara lain:

1) Menjelaskan yang sudah ada
Seringkali penulis menjelaskan sesuatu yang sebenarnya sudah jelas. Pemborosan kata ini memberi kesan bertele-tele dan berlebihan. 
Contoh: 
Aku maju ke depan. (tidak efektif karena maju pasti ke depan)
Aku maju. (efektif)

2) Menjamakkan yang sudah jamak

Menjamakkan kata yang sudah jamak akan membuat penulis terkesan tidak mengerti tata bahasa.
Contoh:
Saya melihat banyak ikan-ikan di sungai. (tidak efektif)
Saya melihat banyak ikan di sungai. (efektif)

3) Mengulang keterangan yang sudah diterangkan

Mengulang keterangan yang sudah jelas membuat kalimat tidak efektif.
Contoh:
"Kamu mau ke mana?" tanyanya kepadaku ke mana aku pergi. (tidak efektif)
"Kamu mau ke mana?" tanyanya.

4) Berlebihan menggunakan tekanan

Tekanan tambahan dalam kalimat jika berlebihan akan menimbulkan kesan lebay.
Contoh:
"Aduh kamu baik sekali, sangat amat banyak terima kasih banget, ya!" (tidak efektif)
"Aduh, kamu baik sekali, terima kasih ya!" (efektif)

Tidak selektif, efektif, dan bertele-tele.
Tidak selektif dalam memilih kata akan mengakibatkan tulisan jadi bertele-tele. Penulis harus mampu menyeleksi mana kata yang harus dipertahankan dan mana kata yang harus dibuang.

Belajar Menyusun Paragraf

Agar tulisan kita menarik, kita harus belajar bagaimana menyusun paragraf yang baik. Jika paragraf disajikan dengan baik dan menggunakan pilihan kata yang menarik, maka pembaca akan merasa nyaman menikmati buku kita nantinya.

Dalam sebuah paragraf pasti memiliki kalimat utama yang berisi ide pokok. Kalimat utama tersebut akan menjadi paragraf jika dikembangkan dengan kalimat penjelas. Cara menulis kalimat penjelas diantaranya yaitu dengan menuliskan ulang satu kata kunci dalam paragraf tersebut, menggunakan kata ganti, disertai konjungsi/kata hubung (misalnya: selanjutnya, lalu, kemudian, tetapi, bahkan), atau menggunakan kata rujukan (misalnya: ini, itu).

Dalam menulis kalimat, usahakan jangan terlalu panjang. Seandainya memang perlu janganlah semua kalimat dalam satu paragraf tersebut menggunakan kalimat yang panjang. Siasati dengan variasi kalimat tunggal yang singkat sehingga tidak melelahkan mata pembaca ketika membaca buku kita.

Dalam menulis kalimat usahakan selalu menggunakan kalimat efektif. Sehingga ketika dirangkai dengan kalimat lain pun tidak bertele-tele atau membosankan ketika dibaca karena hanya berputar-putar tanpa gagasan yang jelas. Hindari kata-kata yang berfungsi sebagai penyambung kata sehingga membuat paragraf terkesan bertele-tele seperti yaitu, daripada, di mana, dan lain-lain.

Ragam bahasa yang digunakan haruslah konsisten. Jika menggunakan salah satu ragam bahasa formal, lugas, gaya anak muda, bahasa gaul atau yang lain berarti dari bab satu sampai terakhir harus tetap menggunakan ragam bahasa tersebut.

Belajar Menentukan Judul

Menentukan judul itu sangat penting. Oleh karena itu, kita harus belajar bagaimana membuat judul yang menarik dan menjual.

Judul merupakan gambaran singkat dari isi buku. Pembuatan judul harus menarik, unik, mencerminkan kebaruan, berguna, dan menantang. Dengan begitu pembaca akan terpikat untuk membaca isi buku. Namun jangan sampai melupakan relevansi judul dengan isi buku.

Judul lebih baik ditulis secara singkat, padat, dan jelas. Sebaiknya judul tidak lebih dari lima kata dan tidak boleh dalam bentuk kalimat atau frasa yang panjang.

1) Fungsi Judul

Judul memiliki banyak fungsi. Judul berfungsi sebagai gambaran isi buku, gambaran tujuan penulis, gambaran manfaat yang akan diperoleh jika membacanya, dan menarik minat pembaca. Judul yang menarik bisa menjadikan buku kita best seller. Tentunya harus disertai usaha yang lain misalnya melalui promosi atau bedah buku. Judul yang menarik dapat pula menjadikan tulisan kita memenangkan sebuah lomba menulis.

Delapan Kesalahan Pembuatan Judul
Menurut Isa Alamsyah, terdapat delapan kesalahan yang sering terjadi dalam pembuatan judul.

1) Judul tidak menarik

Judul merupakan daya tarik pertama seseorang ingin membaca sebuah tulisan. Dalam sebuah lomba pun, judul juga yang bisa mencuri perhatian dewan juri. 

Berikut beberapa saran agar judul mampu menarik perhatian.
Judul harus membuat penasaran
Judul juga harus bisa menggoda pembaca
Judul tidak membocorkan
Jika judul menyebutkan nama tokoh, pastikan nama tokohnya menarik
Pilihlah dengan cerdas kata atau diksi yang tidak lazim untuk judul
Pilihlah dengan cerdas kata atau kalimat yang provokatif
Pilihlah dengan cerdas frasa yang tidak standar.

2) Delapan Kesalahan Pembuatan Judul

Menurut Isa Alamsyah, terdapat delapan kesalahan yang sering terjadi dalam pembuatan judul.

1. Judul tidak menarik

Judul merupakan daya tarik pertama seseorang ingin membaca sebuah tulisan. Dalam sebuah lomba pun, judul juga yang bisa mencuri perhatian dewan juri. 

Berikut beberapa saran agar judul mampu menarik perhatian.
Judul harus membuat penasaran
Judul juga harus bisa menggoda pembaca
Judul tidak membocorkan
Jika judul menyebutkan nama tokoh, pastikan nama tokohnya menarik
Pilihlah dengan cerdas kata atau diksi yang tidak lazim untuk judul
Pilihlah dengan cerdas kata atau kalimat yang provokatif
Pilihlah dengan cerdas frasa yang tidak standar.

2. Judul tidak menggebrak, tidak provokatif, 

Judul menggebrak berarti keunikan, punya daya dobrak, greget, atau provokatif. Judul yang provokatif mengundang rasa ingin tahu, penasaran, bahkan mengundang rasa marah pembaca. Contoh judul provokatif antara lain Jangan Jadi Muslimah Nyebelin dan Gara-Gara Indonesia.

3. Judul membocorkan ending atau isi cerita

Jika judul membocorkan isi, justru akan mengakibatkan pembaca malas membaca atau menyelesaian membaca. Merupakan tantangan tersendiri buat penulis untuk membuat judul yang membangkitkan rasa penasaran pembaca.

4. Judul terlalu pendek atau terlalu panjang

Sebenarnya ini bukan aturan baku. Lazimnya membuat judul dalam dua sampai tiga kata. Sebaiknya tidak satu kata atau tidak lebih dari lima kata.

5. Judul nama tidak menjual

Jika penulis ingin menggunakan nama sebagai judul maka ada dua pilihan, yaitu nama itu saja mandiri sebagai judul atau nama menjadi bagian yang menyatu dalam judul.

6. Judul tidak membuat penasaran

Sebagian penulis pemula menganggap judul hanya sekadar label sebuah karya padahal lebih dari itu. Judul juga merupakan alat promosi dari sebuah karya tulis. Buatlah judul yang membuat penasaran sehingga pembaca tergoda untuk menikmati tulisan kita.

7. Cuma membuat satu judul

Persiapkan beberapa judul untuk tulisan kita. Lakukan survey kecil-kecilan ke orang terdekat untuk mengetahui judul yang paling menarik menurut orang lain.

8. Judul tidak sesuai isi

Judul yang sudah kita buat untuk memenuhi syarat provokatif atau menggoda harus dipastikan tetap mewakili isi. Jika tidak sesuai isi akan membuat pembaca kecewa dan kapok membeli karya sang penulis.

Belajar Ilmu Tata Bahasa

Mengetahui tentang ilmu tata bahasa bagi seorang penulis sangatlah penting terlebih guru. Dalam kehidupan sehari-hari dalam belajar mengajar pun selalu berhubungan dengan dunia tata bahasa. Perbendaharaan kata yang banyak dan baik akan berpengaruh pada gaya bahasa kita ketika mengajar di depan kelas. Kemampuan menulis yang mumpuni juga berpengaruh pada kualitas pembuatan rencana pelaksanaan pembelajaran dan laporan-laporan yang harus dibuat.

Ilmu tata bahasa yang sangat penting dan harus dikuasai sebagai modal menjadi penulis yaitu tentang Tata Bahasa Baku Indonesia dan Ejaan yang Disempurnakan (EyD) yang sekarang telah disempurnakan menjadi Ejaan Bahasa Indonesia (EBI) berdasarkan keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 0543a/U/1987.

Tata Bahasa Baku Indonesia terdiri dari verba, adjektiva, nomina, pronominal, numeralia, adverbial, kata tugas, preposisi, konjungtor, interjeksi, artikula, dan partikel penegas. Dalam Ejaan Bahasa Indonesia dijelaskan tentang penulisan huruf, penulisan kata, penulisan tanda baca, penulisan unsur serapan, dan pedoman pemenggalan kata. Kesemua itu penting dikuasai sebagai modal untuk menjadi penulis yang sukses.

Dan untuk menjadi penulis yang sukses.
Jangan berpikiran, "Nanti saja menulisnya karena saya belum bisa menulis dengan baik dan benar sesuai dengan Ejaan Bahasa Indonesia. Sekarang belajar dulu." Pemikiran seperti itu akan menghambat kita dalam proses menulis. Belajar tata bahasa dan Ejaan Bahasa Indonesia itu akan sangat efektif jika disertai dengan praktek. Prakteknya ya menulis. Oleh karena itu, belajar menulis bisa dibarengi dengan belajar Tata Bahasa Baku Indonesia dan Ejaan Bahasa Indonesia.

Simpulan Menulis itu memerlukan proses. Tulisan yang bagus terkadang tidak langsung jadi. Terkadang memerlukan proses yang sangat panjang, memerlukan riset, dan menguras waktu serta tenaga. Jadi ketika memulai menulis, nikmati prosesnya. Mulailah membuat rancangan, mencari sumber bacaan yang tepat, menulis, kemudian merevisinya hingga menjadi buku yang menarik.

Demikian dari saya, mohon maaf bila ada kekurangan dan kesalahan. Wassalamualaikum war wab.


Arda Dinata:

PNS, Peneliti, Penulis Lepas, Pemateri, Motivator Penulisan Artikel Kesehatan dan Pendiri Majelis Inspirasi Alquran dan Realitas Alam [MIQRA Indonesia].

www.ArdaDinata.com
ARDA DINATA
@ardadinata

C00447A8B dan 51D2B002