- / / : Untuk Kerjasama dan Iklan, Hub. WhatsApp No. 081284826829

Nyamuk Bisa Turunkan Virus DBD ke Telurnya

“Kalau dulu, transmisi DBD itu kan dari orang sakit digigit darahnya oleh nyamuk, kalau enggak dapat virus ya dia tidak menularkan. Kalau dari penelitian kami, sekarang itu nyamuk sudah trans ovarial, jadi tanpa menggigit, virus DBD terpelihara di populasi nyamuk itu,” ujar Peneliti Entomologi Kesehatan dari Fakultas Kedokteran Hewan Institut Pertanian Bogor, Dr. Drh. Susi Soviana, M.Si.
PENELITI Nyamuk Fakultas Kedokteran Hewan Institut Pertanian Bogor Susi Noviani.* WINDIYATI RETNO SUMARDIYANI/PR
======================================================
BACA JUGA INI:
Salah satu permasalahan besar di Indonesia, khususnya Provinsi Jawa Barat adalah kotornya Sungai Citarum yang merupakan sungai terpanjang dan terbesar di Jawa Barat ini. Sungai Citarum menyuplai air untuk kebutuhan penghidupan setidaknya 28 juta masyarakat di Jakarta, Bekasi, Karawang, Purwakarta, dan Bandung. Lalu, bagaimana agar Sungai Citarum ini menjadi harum dengan menggunakan pola seperti Kolam Bio-Hedge? 
Selengkapnya baca di sini: http://www.ardadinata.com/2019/02/menuju-citarum-harum-dan-mengubah.html
================================================================
BOGOR,(PR).- Masyarakat diharapkan dapat memberikan perlindungan ekstra kepada anak-anak terkait maraknya kasus demam berdarah dengue (DBD). Pasalnya, aktivitas nyamuk aedes aegypty sama dengan aktivitas anak yakni di pagi dan sore hari. Itu sebabnya, penderita DBD mayoritas berasal dari anak-anak. Perlindungannya dapat dilakukan secara sederhana, misalnya dengan mengoleskan obat anti nyamuk sebelum beraktivitas.
“Anak-anak itu aktivitasnya sama dengan nyamuk, dan banyak di dalam ruangan. Kenapa sering berakibat kematian, ya karena memang virus itu menyerang darah, pembuluh darah pecah, jadilah dengue shock syndrome. Mungkin kalau orang besar bisa dipaksa minum, kalau anak-anak susah,” ucap Peneliti Entomologi Kesehatan dari Fakultas Kedokteran Hewan Institut Pertanian Bogor, Dr. Drh. Susi Soviana, M.Si saat dijumpai Pikiran Rakyat di IPB, Rabu 30 Januari 2019.
Populasi nyamuk aedes aegypty pembawa virus demam berdarah dengue, ujar dia, juga semakin meningkat. Berdasarkan hasil penelitian IPB, nyamuk aedes aegypty sudah bisa menurunkan virus DBD ke telurnya. Sementara sebelumnya, virus DBD hanya bisa ditularkan ke manusia setelah nyamuk aedes aegypty menggigit penderita DBD.
“Kalau dulu, transmisi DBD itu kan dari orang sakit digigit darahnya oleh nyamuk, kalau enggak dapat virus ya dia tidak menularkan. Kalau dari penelitian kami, sekarang itu nyamuk sudah trans ovarial, jadi tanpa menggigit, virus DBD terpelihara di populasi nyamuk itu,” ujar Susi.

Meskipun presentasi virus yang diturunkan kecil, Susi meminta masyarakat mewaspadai perkembangbiakan nyamuk  tersebut. Menurut Susi, nyamuk aedes aegypty sudah beradaptasi dengan lingkungan perkotaan. Saat ini, nyamuk pembawa vektor DBD tersebut tidak lagi bertelur di tempat genangan bersih, namun juga genangan air yang bersentuhan langsung dengan tanah.
Susi menyebutkan, nyamuk aedes aegypty dapat menelurkan 100 sampai 250 butir telur dalam sekali bertelur. Sementara nyamuk tersebut bertelur setiap dua hingga tiga hari sekali.
“Telur itu dapat menetas dalam sehari sampai 2 hari, nanti di usia 4 hari dia berubah jadi jentik, dan empat hari kemudian menjadi pupa dan dewasa, dan bisa menghisap darah manusia,” kata Susi.
Menurut Susi, lonjakan kasus DBD yang terjadi pada Januari 2019 ini merupakan hal yang biasa. Pasalnya, Januari merupakan masa peralihan dari musim hujan ke musim kemarau. Semakin banyak struktur bangunan yang bisa menampung air dan tidak terdeteksi, maka genangan tersebut akan menjadi tempat perkembangbiakan nyamuk yang subur.
“Sebenarnya kalau kasusnya meningkat ya enggak aneh, karena nyamuk memang berkembangbiak melalui air. Kenapa di perkotaan banyak kasus DBD? Ya karena makin banyak struktur bangunan yang jadi tempat penampungan air, sementara masyarakat tidak peka terhadap genangan air itu,” ujar Susi.
Terkait pencegahan perkembangbiakan nyamuk aedes aygypty, langkah efektif yang perlu dilakukan sebenarnya sangatlah sederhana. Masyarakat  hanya perlu menghilangkan tempat perkembangbiakan nyamuk yang mayoritas terjadi di dalam ruangan. Gerakan tersebut, kata Susi, harus dilakukan secara massal dan rutin. Tanpa ada genangan, Susi meyakini perkembangbiakan nyamuk tersebut dapat diantisipasi.
Pemerintah, kata Susi juga harus melakukan pemantauan ekstra di kawasan rawan penyebaran DBD. Daerah dengan tingkat kepadatan tinggi, dan sanitasi rendah harus menjadi perhatian pemberantasan sarang nyamuk.
“Keikutsertaan masyarakat untuk ikut program satu rumah satu jumantik jangan disepelekan, ya memang enggak bisa satu rumah, tetapi harus dilakukan semua. Pemerintah juga harus beri warning rutin, kalau hujan datang, masyarakat perlu diingatkan untuk meningkatkan kewaspadaanya dengan membersihkan lingkungan,” kata Susi.
Pengasapan atau fogging, menurut Susi, juga bisa jadi alternatif pencegahan penyebaran virus DBD. Namun, pemerintah daerah setempat harus melakukan evaluasi apakah daerah-daerah rawan penyebaran DBD ini resisten terhadap insektisida atau tidak.
“Resisten terhadap pestisida untuk fogging tidak bisa disamakan satu daerah dengan daerah lain.  Kalau memang sudah resisten ya harus diganti dengan insektisida lain yang golongannya berbeda.  Itu sebabnya, dinas penting melakukan evaluasi terkait resistensi fogging,” ucap Susi.*** (Sumber: HU. Pikiran Rakyat, 31 Januari 2019).

www.ArdaDinata.com: 
| Share, Reference & Education |
| Peneliti, penulis, dan motivator penulisan di media massa |