-->
Klik Daftar Isi Artikel di Sini!

Inisiatif Kota Lestari


Di tengah kemacetan lalu-lintas dan asap knalpot, ada perempuan-perempuan cantik pekerja kantor yang bermasker atraktif. Mereka berupaya mencegah polutan masuk ke paru-paru, tetapi tetap trendi. Sadar atau tidak, dengan bermasker mereka sebenarnya tengah ”melawan” ketidakadilan pemerintah kota yang membiarkan udara kota tercemar.

OlehNIRWONO JOGA PUSAT STUDI PERKOTAAN
·

KOMPAS/TOTOK WIJAYANTO
Warga mengenakkan masker saat melakukan kegiatan luar ruang di kawasan Jalan Thamrin, Jakarta Pusat, untuk mengurangi paparan polusi udara, Rabu (26/6/2019). Menurut data AirVisual, situs penyedia peta polusi daring harian kota-kota besar di dunia, Jakarta pada Rabu pukul 13.45 menempati urutan kedua kota dengan tingkat polusi tertinggi. Nilai Indeks Kualitas Udara (AQI) Jakarta adalah 160 (unhealthy/tidak sehat). KOMPAS/TOTOK WIJAYANTO

Di tengah kemacetan lalu-lintas dan asap knalpot, ada perempuan-perempuan cantik pekerja kantor yang bermasker atraktif. Mereka berupaya mencegah polutan masuk ke paru-paru, tetapi tetap trendi. Sadar atau tidak, dengan bermasker mereka sebenarnya tengah ”melawan” ketidakadilan pemerintah kota yang membiarkan udara kota tercemar.
Jakarta memang darurat polusi udara. Air Visual, situs penyedia peta polusi harian di kota-kota besar dunia, lagi-lagi menempatkan Jakarta (25/6) pada tingkat polusi tertinggi dengan nilai Indeks Kualitas Udara (Air Quality Index/AQI) 240 (sangat tidak sehat).
Sepanjang 2018, Jakarta hanya memiliki kualitas udara baik 34 hari, udara sedang 135 hari, dan tidak sehat 196 hari (Greenpeace Indonesia, 2019). Polusi udara telah menjadi pembunuh senyap (WHO, 2018) dan masuk peringkat pertama penyebab kematian global (Global Environment Outlook, 2019).
Kita sudah lama lupa bahwa udara kota yang bersih, segar, dan sehat adalah hak kita, warga kota. Kita memang sudah (sengaja) dilupakan terhadap hal-hal yang seyogianya merupakan hak dasar warga, seperti air bersih, rasa aman bepergian, atau berjalan kaki, bersepeda, bermain di taman dengan udara bersih. Tetapi siapa peduli?




KOMPAS/AGUS SUSANTO
Polusi udara mengepung Kota Jakarta, Selasa (25/6/2019) pukul 17.30 WIB. Menurut data AirVisual, situs penyedia peta polusi daring harian kota-kota besar di dunia, Jakarta hari Selasa pukul 08.00 WIB menempati urutan pertama kota dengan tingkat polusi tertinggi. Nilai air quality index (AQI) Jakarta adalah 240 (sangat tidak sehat). Kondisi udara di rentang 201-300 dapat mempengaruhi kesehatan masyarakat.

Warga sudah lama dibiarkan tak tahu hak-hak mereka, termasuk hak mengetahui apa yang tengah terjadi di kotanya dengan polusi udara buruk. Kita perlu membangun kota yang lestari.
Polusi udara telah menjadi pembunuh senyap (WHO, 2018) dan masuk peringkat pertama penyebab kematian global (Global Environment Outlook, 2019)
Kota lestari adalah kota yang dibangun dengan menjaga dan memupuk aset-aset kota-wilayah, seperti aset manusia dan warga yang terorganisasi, lingkungan terbangun, keunikan, dan kehidupan budaya, kreativitas dan intelektual, karunia sumber daya alam, serta lingkungan dan kualitas prasarana.





KOMPAS/ WAWAN H PRABOWO
Pengendera menembus kabut pagi yang bercampur dengan asap kendaraan bermotor di Jalan Gerbang Pemuda, Senayan, Jakarta, Rabu (26/6/2019). Asap kendaraan bermotor menjadi salah satu sumber terbesar polusi udara di Jakarta.

Hal ini selaras dengan amanat UU Nomor 28 Tahun 2002 tentang Bangunan Gedung, UU Nomor 24 tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana, UU Nomor 26 tahun 2007 tentang Penataan Ruang, UU Nomor 18 tahun 2008 tentang Pengelolaan Sampah, UU Nomor 22 Tahun 2009 tentang Angkutan Jalan dan Lalu Lintas, dan UU Nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup.
Mengembangkan kota lestari berarti pembangunan manusia kota yang berinisiatif, partisipasif, dan bergerak bersama membangun perubahan. Penataan kota yang partisipatif dan mengadaptasi modal dan relasi sosial masyarakat akan menghasilkan penataan kota lestari dengan kriminalitas dan pengangguran yang minimal.
Kota lestari mendorong pengembangan jaringan kerja pemerintah daerah dengan para pemangku kepentingan perkotaan, menciptakan reformasi birokrasi dalam kegiataan penataan kota yang mengakomodasi inisiatif warga.
Proses partisipasi bukan sekadar soal sudah atau belum, tetapi juga keterjangkauan: apakah sudah sampai ke tingkat keberadaan dan aktivitas keseharian warga?
Penerapan pembatasan kendaraan bermotor dalam kawasan dengan tujuan menekan emisi karbon dan polusi udara perlu disertai ketersediaan angkutan internal ramah lingkungan (bertenaga listrik, biogas) dan penghijauan.
Caranya adalah dengan membekali warga peta dasar pengembangan kota mulai tingkat lingkungan RT/RW, kelurahan, kecamatan, hingga kota. Peta dalam bahasa yang mudah dimengerti masyarakat luas dengan desain menarik.


KOMPAS/RIZA FATHONI
Kabut menyelimuti kawasan Kebon Jeruk, Jakarta Barat, Kamis (7/6/2018). Kondisi ini disebabkan oleh fenomena inversi yang terjadi karena lapisan inversi, campuran polusi udara, ditambah radiasi matahari yang menghalangi terurainya udara yang mampat dari permukaan hingga ketinggian 500 meter di atas permukaan laut (mdpl).

Dengan demikian, warga, misalnya, dapat mengembangkan peta rute jalur pejalan kaki dan pesepeda ke sekolah, pasar, kantor, taman, atau tempat ibadah. Berbekal peta itu warga dapat menuntut pemerintah kota menyediakan trotoar yang aman dan nyaman, serta infrastruktur sepeda meliputi rambu dan marka, parkir, dan sebagainya.
Kawasan kota dikembangkan berbasis pergerakan manusia (transit oriented communities/TOC). Pengembangan TOC berdasarkan 6D yakni destination (tujuan), distance (jarak), design (rancangan), density (kepadatan), diversity (keberagaman), serta demand management (mengelola kebutuhan).
Penerapan pembatasan kendaraan bermotor dalam kawasan dengan tujuan menekan emisi karbon dan polusi udara perlu disertai ketersediaan angkutan internal ramah lingkungan (bertenaga listrik, biogas) dan penghijauan. Warga tidak seharusnya dibiarkan berjuang sendiri melawan polusi udara.




KOMPAS/IRENE SARWINDANINGRUM
Suasana Sungai Kallang di Taman Bishan Ang Mo Kio, Singapura, Jumat (3/5/2019), terlihat alami. Sungai yang awalnya dibeton menjadi kanal ini diubah lewat program naturalisasi sungai yang dilakukan Pemerintah Singapura. Program ini berhasil didukung bantaran sungai yang bersih dari hunian.

Semoga informasi ini bermanfaat dan sukses selalu. Aamiin. Salam. Arda Dinata www.ArdaDinata.com:  | Share, Reference & Education |
| Sumber Berbagi Inspirasi, Ilmu, dan Motivasi Sukses |

Berminat Order Sekarang:

Chat WhatsApp Kirim SMS

Silahkan Bagikan Info Ini Sekarang!

Komentar (0)

Posting Komentar