- / / : Untuk Kerjasama dan Iklan, Hub. WhatsApp No. 081284826829

Waspadai Pengaruh Toksisitas Logam Pada Ikan

PENCEMARAN akibat logam berat, akhir-akhir ini sedang “menggema” ke permukaan. Setelah kasus Teluk Minahasa, Sulawesi Utara, di daerah aliran sungai (DAS) Citarum, Jawa Barat juga mengalami pencemaran. Air dan ikan di Waduk Cirata dan Saguling diindikasikan mengandung logam berat.
Menurut Eman Surachman, Kepala Badan Pengelola Waduk Cirata (BPWC) PT Pembangkitan Jawa-Bali, bahwa pencemaran tersebut diduga berasal dari limbah pabrik industri tekstil di Majalaya dan Bandung. Lebih jauh diungkapkan Eman, berdasarkan penelitian BPWC, ikan yang terdapat di Waduk Cirata telah terkontaminasi oleh unsur logam berat seperti timbal (Pb), seng (Zn), kronium (Cr), dan air raksa/merkuri (Hg).

Menghadapi kenyataan seperti itu, kita jadi khawatir terhadap kondisi ikan yang (mungkin) biasa kita santap sehari-hari. Apakah kondisi ikan-ikan yang biasa disantap itu telah terbebas dari toksisitas (racun) logam? Lantas, sebenarnya faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi daya toksisitas logam itu?

Pengaruh Pada Ikan

Ikan merupakan organisme air yang dapat bergerak dengan cepat. Ikan pada umumnya mempunyai kemampuan menghindarkan diri dari pengaruh pencemaran air. Namun demikian, pada ikan yang hidup dalam habitat yang terbatas (seperti sungai, danau dan teluk), ikan itu sulit melarikan diri dari pengaruh pencemaran tersebut. Akibatnya, unsur-unsur pencemaran itu (baca: logam berat) masuk ke dalam tubuh ikan.

Terkait dengan itu, secara umum menurut Darmono (2001), alumnus Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada (UGM), logam berat masuk ke dalam jaringan tubuh makhluk hidup melalui beberapa jalan, yaitu saluran pernafasan, pencernaan, dan penetrasi melalui kulit. Di dalam tubuh hewan, logam diabsorpsi oleh darah, berikatan dengan protein darah yang kemudian didistribusikan ke seluruh jaringan tubuh. Akumulasi logam yang tertinggi biasanya dalam detoksikasi (hati) dan ekskresi (ginjal).

Berikut ini, ada beberapa pengaruh toksisitas logam pada ikan. Pertama, pengaruh toksisitas logam pada insang. Insang selain sebagai alat pernapasan ikan, juga digunakan sebagai alat pengatur tekanan antara air dan dalam tubuh ikan (osmoregulasi). Oleh sebab itu, insang merupakan organ yang penting pada ikan, di samping insang sangat peka terhadap pengaruh toksisitas logam. Dalam hal ini, logam-logam seperti Cd, Pb, Hg, Cu, Zn, dan Ni, sangat reaktif terhadap ligan sulfur dan nitrogen, sehingga ikatan logam tersebut sangat penting bagi fungsi normal metaloenzim dan juga metabolisme terhadap sel.

Di sini, enzim yang sangat berperan dalam insang ikan ialah enzim karbonik anhidrase dan transpor ATP ase. Karbonik anhidrase adalah enzim yang mengandung Zn dan berfungsi menghidrolisis CO2 menjadi asam karbonat. Apabila ikatan Zn itu diganti dengan logam lain, fungsi enzim karbonik anhidrase tersebut akan menurun.

Di samping adanya gangguan biokimiawi tersebut, perubahan struktur morfologi insang juga terjadi. Hal ini dilaporkan Hughes, dkk. (1979) bahwa pengaruh toksisitas Cd, Ni, dan Cr pada morfologi insang ikan salmon. Ikan akan mengalami hipoksia (karena kesulitan mengambil oksigen dari air), sehingga terjadi penebalan pada sel epitel insang dan berakibat ikan kurang mampu berenang.

Kedua, pengaruh toksisitas logam pada alat pencernaan. Toksisitas logam dalam saluran pencernaan terjadi melalui pakan yang terkontaminasi oleh logam. Toksisitas logam pada saluran pencernaan juga dapat terjadi melalui air yang mengandung dosis toksik logam. Gardner dan Yevich (1970) melaporkan bahwa ikan Fundulus heteroclitus yang dipelihara dalam air yang mengandung 50 mg/l Cd, perubahan patologi terjadi setelah satu jam. Dan dalam waktu satu jam setelah ikan hidup dalam air yang mengandung 50 mg/l Cd dengan kadar garam 32 per seribu, mukosa usus membengkak, aktivitas sel mukosa meningkat terutama usus bagian depan.

Ketiga, pengaruh logam pada ginjal ikan. Ginjal ikan ini berfungsi untuk filtrasi dan mengekskresikan bahan yang biasanya tidak dibutuhkan oleh tubuh, termasuk bahan racun seperti logam berat. Hal ini menyebabkan ginjal sering mengalami kerusakan oleh daya toksik logam. Sebagai contoh, ikan sebra, Brachiario rerio, yang hidup dalam air tawar yang mengandung 5 mg/l Cd dan 5 mg/l Hg, mengalami kerusakan ginjal setelah 13 hari. Terlihat adanya endapan dalam lumen tubulus, dan kerusakan lebih berat pada tolsisitas Hg daripada Cd sampai delapan kali lipat (Delamare dan Truchet, 1984).

Keempat, pengaruh akumulasi logam dalam jaringan (bioakumulasi). Proses akumulasi ini terjadi setelah absorpsi logam dari air atau melalui pakan yang terkontaminasi. Kondisi ini berpengaruh terhadap nilai ekonomi, terutama dalam sistem perikanan komersial, baik ikan air tawar maupun air laut.

Lebih jauh, ikan yang mengalami bioakumulasi logam ini bila dipandang dari segi ekonomi dan pengaruhnya bila dikonsumsi manusia, adalah dapat menghambat daya reproduksi ikan dan akhirnya terjadi kemusnahan suatu spesies ikan tertentu; dapat menurunkan hasil tangkapan atau hasil tambak; dan dapat menurunkan nilai jual, bahkan dapat ditolak oleh konsumen karena tingginya residu logam dalam produk perikanan. Hal ini seperti yang terjadi belum lama ini, berupa penolakan ekspor ratusan ton ikan cakalang asal Sulawesi Utara oleh Amerika Serikat, dengan alasan telah terkena pencemaran.
Faktor Daya Toksisitas Logam

Berdasarkan paparan di atas, tentu sangat wajar bila fenomena menurunnya tangkapan ikan dan menurunnya kualitas ikan yang terjadi di beberapa daerah perairan Indonesia selama ini, ialah disebabkan karena kondisi perairannya telah mengalami penurunan kualitas akibat (telah) tercemar logam berat.

Berkait dengan itu, menurut Darmono, ada beberapa faktor yang mempengaruhi daya toksisitas logam dalam air terhadap makhluk yaang hidup di dalamnya, diantaranya adalah: (1) Bentuk ikatan kimia dari logam yang terlarut. (2) Pengaruh interaksi antara logam dan jenis toksikan lainnya. (3) Pengaruh lingkungan seperti suhu, kadar garam, pH dan kadar oksigen yang terlarut dalam air.

(4) Kondisi hewan, fase siklus hidup (telur, larva, dewasa), besarnya ukuran organisme, jenis kelamin, dan kecukupan kebutuhan nutrisi. (5) Kemampuan hewan menghindar dari pengaruh polusi atau pencemaran. (6) Kemampuan organisme untuk beraklimatisasi terhadap bahan toksik logam.

Akhirnya, jelas sudah bahwa semua spesies kehidupan dalam air itu sangat terpengaruh oleh hadirnya logam yang terlarut dalam air, terutama pada konsentrasi yang melebihi batas normal. Untuk itu, waspadailah adanya pengaruh toksisitas logam pada ikan-ikan yang ada di lingkungan kita!***


Arda Dinata
Penulis adalah dosen di Akademi Kesehatan Lingkungan (AKL) Kutamaya.