- / / : Untuk Kerjasama dan Iklan, Hub. WhatsApp No. 081284826829

Filosofi PHBS


Filosofi PHBS
oleh Arda Dinata

Secara filosofi perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) merupakan sebutan untuk semua perilaku kesehatan yang dilakukan atas kesadaran sehingga anggota keluarga atau keluarga dapat menolong dirinya sendiri di bidang kesehatan dan dapat berperan aktif dalam kegiatan kesehatan di masyarakat. PHBS di rumah tangga ini dilakukan untuk mencapai rumah tangga sehat.

Rumah tangga sehat adalah rumah tangga yang melakukan: 1) persalinan ditolong oleh tenaga kesehatan; 2) memberi ASI ekslusif; 3) menimbang bayi dan balita; 4) menggunakan air bersih; 5) mencuci tangan dengan air bersih dan sabun; 6) menggunakan jamban sehat; 7) memberantas jentik di rumah; 8) makan buah dan sayur setiap hari; 9) melakukan aktivitas fisik setiap hari; 10) tidak merokok di dalam rumah (Kemnekes, 2011). 



Pada konteks kasus Covid-19 ini, perilaku PHBS yang kelima yaitu mencuci tangan dengan air bersih dan sabun tersebut harus dilakukan dalam berbagai kesempatan aktivitas sehari-hari masyarakat untuk memutus mata rantai penularan penyakit tersebut. Hal ini didasarkan pada upaya pencegahan infeksi Covid-19 yang dapat dilakukan dengan cara: hindari menyentuh wajah dengan tangan; sering cuci tangan dengan sabun dan air bersih; pakailah masker, jika Anda demam, batuk, dan pilek atau dalam masa penyembuhan sehabis sakit.

Apalagi berdasarkan hasil penelitian, kondisi perilaku cuci tangan masyarakat Indonesia masih di bawah 50 persen. Gambaran proporsi perilaku cuci tangan dengan benar pada penduduk umur > 10 tahun di Indonesia berdasarkan hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2013 adalah 47 persen dan meningkat pada hasil Riskesdas tahun 2018 menjadi 49,8 persen. Padahal, pedoman pembinaan PHBS ini sudah lama dikeluarkan pemerintah lewat Permenkes RI No. 2269/Menkes/Per/XI/2011.

Untuk itu, budaya PHBS ini masih terus digalakan dan momentum pandemi Covid-19 ini adalah menjadi momentum yang tepat untuk menanamkan budaya cuci tangan dengan air bersih dan sabun tersebut. Padahal, ada perbedaan jumlah angka kuman antara mencuci tangan menggunakan air mengalir, sabun, hand sanitizer, dan tanpa cuci tangan. Cairan pembersih tangan antiseptik (hand sanitizer) efektif terhadap penurunan jumlah angka kuman dan secara deskriptif yang paling efektif adalah hand sanitizer berupa alkohol 60% (Desiyanto & Djannah, 2013). Sedangkan, untuk sampai bisa tertular Covid-19 cukup berhadapan dengan satu pembawa Covid-19. Dan itu berlangsung umumnya di tempat publik (Nadesul, 2020).

Maksud aktivitas cuci tangan dengan benar itu adalah bila perilaku cuci tangan pakai sabun yang dilakukan sebelum menyiapkan makanan, setiap kali tangan kotor (memegang uang, binatang dan berkebun), setelah buang air besar, setelah menceboki bayi/anak, setelah menggunakan pestisida/insektisida, sebelum menyusui bayi dan sebelum makan. Ada tujuh langkah dalam mencuci tangan yang benar, yaitu: telapak bertemu telapak, di sela jari tangan, punggung tangan, jari sebelah luar, kuku, pergelangan tangan, bilas dan keringkan (Kemenkes, 2011).

Di sini, tentu kita perlu disiplin diri dalam membangun kerja sama, pengertian, dan pengorbanan untuk tidak berkegiatan sosial dibutuhkan untuk kepentingan yang lebih besar. Yakni untuk melindungi individu rentan yang memiliki faktor risiko, mengurangi jumlah spreader yang berada di dalam masyarakat. Dan membiasakan gaya hidup bersih dan sehat serta asupan gizi seimbang sehingga terhindar dari berbagai penyakit dan gangguan kesehatan (Pratomo, 2020).

Sudah sepantasnya kasus virus yang menghebohkan dunia seperti SARS, MERS, dan terakhir Covid-19 harusnya kian menyadarkan manusia. Tampaknya ada sesuatu yang salah dengan interaksi antara manusia dengan satwa liar di seputar manusia. Mengutip laporan BBC, perubahan lingkungan dan iklim telah menggusur dan mengubah habitat hewan. Otomatis cara hidup, tempat tinggal, dan pola makan mereka pun berubah. Di sisi lain, cara hidup manusia juga berubah; sekitar 55% populasi manusia kini hidup di kota, meningkat 35% dibanding 50 tahun lalu.

Lalu, dampaknya kota-kota besar ini menyediakan tempat hidup bagi hewan liar seperi tikus, rakun, tupai, rubah, unggas, anjing liar, monyet yang biasa hidup di ruang terbuka hijau dan memakan sampah
yang dihasilkan manusia. Terkadang hewan liar ini lebih sukses hidup di kota dari pada di alam liar karena banyaknya pasokan makanan. Maka ruang kota lantas menjadi tempat pertemuan berbagai penyakit yang berevolusi (Surono, 2020). Jadi, waspadalah dan terus budayakan hidup bersih dan sehat.

Arda Dinata,
Peneliti dan aktif di Himpunan Ahli Kesehatan Lingkungan Indonesia (HAKLI).