-->
PASANG IKLAN DI SINI!
(MURAH SESUAI BUDGET ANDA)

Tampilkan postingan dengan label Arsip Tulisan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Arsip Tulisan. Tampilkan semua postingan
Kimia Lingkungan
Lihat Detail

Kimia Lingkungan

Baca artikel sebelumnya: Bermesraan dengan (Kimia) Lingkungan
Toko Sosmed
PUSAT EBOOK: KESLING-MOTIVASI-PENGEMBANGAN DIRI-
Miliki Ebook Inspiratif Karya Arda Dinata Di Sini!

Kimia Lingkungan
Oleh Arda Dinata

Saya dapat ilmu Kimia Lingkungan ini pertama kali waktu kuliah di Akademi Kesehatan Lingkungan (AKL) Kutamaya Bandung tahun 1992. Dosen pengampu mata kuliah itu adalah ibu Zaenab. Nama lengkapnya saya lupa, yang jelas suaminya mengajar mata kuliah Fisika Lingkungan. Jujur, waktu itu saya begitu menikmati mata kuliah ini, apalagi pas praktek di laboratorium maupun di lapangan terkait materi pemeriksaan kualitas kimia air (bersih maupun air tercemar/kotor). 

Bicara kimia lingkungan, kita sesungguhnya belajar terhadap fenomena kimia dan biokimia yang terjadi di alam. Bidang ilmu ini dapat diartikan sebagai studi terhadap sumber, reaksi, transport, efek, dan nasib zat kimia di lingkungan udara, tanah, dan air; serta efek aktivitas manusia terhadapnya. 
WWW.ARDADINATA.COM
 

Lewat ilmu kimia lingkungan ini, kita juga belajar dan menelaah bahan-bahan kimia terhadap komponen lain dan pengaruhnya terhadap lingkungan secara menyeluruh. Terutama bila bahan kimia itu tersebar dan berkontaminasi dengan lingkungan sehingga keseimbangannya menjadi terganggu.

Pada tataran ini, lewat kemesraan denganbahan kimia lingkungan, kita seharusnya dapat mengenali bagaimana menentukan jumlah batas penyebaran bahan kimia di lingkungan agar tidak menyebabkan gangguan terhadap kelestarian lingkungan dan kesejahteraan manusia. Sebagai contoh: Pertama, komposisi udara bersih. Secara alami udara bersih tersusun atas: Nitrogen (78%), Oksigen (21%), Karbondioksida (0,03%), Argon (0,94%), Helium (0,01%), Neon (0,01%), Kripton (0,01%), serta uap air yang kadarnya bervariasi (0,01-4%).

Nyatanya, udara saat ini di alam tidak pernah dalam keadaan bersih. Hal ini terjadi karena kegiatan alam seperti kebakaran, longsor, banjir, tsunami, pelapukan tumbuh-tumbuhan, atau letusan gunung berapi, dan lainnya. Kondisi tersebut, bisa jadi yang menyebabkan udara mengandung sejumlah kecil bahan Metana, Karbondioksida, Nitrogen Oksida, dan Hidrogen Sulfida. Situasi ini, bisa diperparah akibat adanya zat pencemar yang dihasilkan oleh kegiatan manusia.

Kedua, komposisi air yang mengandung logam berat dan mengandung bakteri penyakit. Inilah salah satu kondisi air yang telah tercemar. Yakni, akibat komposisi kandungan air yang tidak seimbang dan seharusnya tidak ada dalam kandungan air. Arti lainnya, pencemaran air terjadi bila dalam air terdapat berbagai macam zat/kondisi (panas) yang dapat menurunkan standar kualitas air, sehingga tidak dapat digunakan untuk kebutuhan manusia.

Namun demikian, kondisi air yang mengandung logam berat atau bakteri tersebut masih dapat digunakan untuk kebutuhan lain, seperti industri atau sebagai pembangkit tenaga listrik. Yang pasti kondisi air seperti ini, tidak dapat digunakan untuk kebutuhan rumah tangga (air minum, memasak, mandi, dan mencuci).

Ketiga, pencemaran tanah. Kondisi tanah yang tercemar ini, sebenarnya terkait erat dengan pencemaran udara dan air. Buktinya, bahan pencemar yang ada di udara larut dan terbawa oleh air hujan. Lalu, air hujan itu jatuh ke tanah sehingga menimbulkan pencemaran tanah. Begitu juga, bahan pencemar dalam air permukaan tanah (air sungai, air selokan, air danau, dan air payau) dapat masuk ke dalam tanah dan menyebabkan terjadinya pencemaran tanah.

Akhirnya, penulis berharap dengan kita mampu bermesraan dengan (kimia) lingkungan dalam kehidupan sehari-hari. Yakni mengenali dan mengetahui bahan-bahan kimia berbahaya di sekitar lingkungan tempat tinggal kita, maka akan menjadikan kehidupan manusia menjadi lebih sehat dan bebas dari jeratan bahaya bahan kimia yang ada di lingkungan.***

Arda Dinata adalah Peneliti dan Alumnus Magister Ilmu Kesehatan Masyarakat Minat Kesehatan Lingkungan FK UGM Yogyakarta.

Baca artikel sebelumnya: Bermesraan dengan (Kimia) Lingkungan
Toko Sosmed
PUSAT EBOOK: KESLING-MOTIVASI-PENGEMBANGAN DIRI-
Miliki Ebook Inspiratif Karya Arda Dinata Di Sini!

Kimia Lingkungan
Oleh Arda Dinata

Saya dapat ilmu Kimia Lingkungan ini pertama kali waktu kuliah di Akademi Kesehatan Lingkungan (AKL) Kutamaya Bandung tahun 1992. Dosen pengampu mata kuliah itu adalah ibu Zaenab. Nama lengkapnya saya lupa, yang jelas suaminya mengajar mata kuliah Fisika Lingkungan. Jujur, waktu itu saya begitu menikmati mata kuliah ini, apalagi pas praktek di laboratorium maupun di lapangan terkait materi pemeriksaan kualitas kimia air (bersih maupun air tercemar/kotor). 

Bicara kimia lingkungan, kita sesungguhnya belajar terhadap fenomena kimia dan biokimia yang terjadi di alam. Bidang ilmu ini dapat diartikan sebagai studi terhadap sumber, reaksi, transport, efek, dan nasib zat kimia di lingkungan udara, tanah, dan air; serta efek aktivitas manusia terhadapnya. 
WWW.ARDADINATA.COM
 

Lewat ilmu kimia lingkungan ini, kita juga belajar dan menelaah bahan-bahan kimia terhadap komponen lain dan pengaruhnya terhadap lingkungan secara menyeluruh. Terutama bila bahan kimia itu tersebar dan berkontaminasi dengan lingkungan sehingga keseimbangannya menjadi terganggu.

Pada tataran ini, lewat kemesraan denganbahan kimia lingkungan, kita seharusnya dapat mengenali bagaimana menentukan jumlah batas penyebaran bahan kimia di lingkungan agar tidak menyebabkan gangguan terhadap kelestarian lingkungan dan kesejahteraan manusia. Sebagai contoh: Pertama, komposisi udara bersih. Secara alami udara bersih tersusun atas: Nitrogen (78%), Oksigen (21%), Karbondioksida (0,03%), Argon (0,94%), Helium (0,01%), Neon (0,01%), Kripton (0,01%), serta uap air yang kadarnya bervariasi (0,01-4%).

Nyatanya, udara saat ini di alam tidak pernah dalam keadaan bersih. Hal ini terjadi karena kegiatan alam seperti kebakaran, longsor, banjir, tsunami, pelapukan tumbuh-tumbuhan, atau letusan gunung berapi, dan lainnya. Kondisi tersebut, bisa jadi yang menyebabkan udara mengandung sejumlah kecil bahan Metana, Karbondioksida, Nitrogen Oksida, dan Hidrogen Sulfida. Situasi ini, bisa diperparah akibat adanya zat pencemar yang dihasilkan oleh kegiatan manusia.

Kedua, komposisi air yang mengandung logam berat dan mengandung bakteri penyakit. Inilah salah satu kondisi air yang telah tercemar. Yakni, akibat komposisi kandungan air yang tidak seimbang dan seharusnya tidak ada dalam kandungan air. Arti lainnya, pencemaran air terjadi bila dalam air terdapat berbagai macam zat/kondisi (panas) yang dapat menurunkan standar kualitas air, sehingga tidak dapat digunakan untuk kebutuhan manusia.

Namun demikian, kondisi air yang mengandung logam berat atau bakteri tersebut masih dapat digunakan untuk kebutuhan lain, seperti industri atau sebagai pembangkit tenaga listrik. Yang pasti kondisi air seperti ini, tidak dapat digunakan untuk kebutuhan rumah tangga (air minum, memasak, mandi, dan mencuci).

Ketiga, pencemaran tanah. Kondisi tanah yang tercemar ini, sebenarnya terkait erat dengan pencemaran udara dan air. Buktinya, bahan pencemar yang ada di udara larut dan terbawa oleh air hujan. Lalu, air hujan itu jatuh ke tanah sehingga menimbulkan pencemaran tanah. Begitu juga, bahan pencemar dalam air permukaan tanah (air sungai, air selokan, air danau, dan air payau) dapat masuk ke dalam tanah dan menyebabkan terjadinya pencemaran tanah.

Akhirnya, penulis berharap dengan kita mampu bermesraan dengan (kimia) lingkungan dalam kehidupan sehari-hari. Yakni mengenali dan mengetahui bahan-bahan kimia berbahaya di sekitar lingkungan tempat tinggal kita, maka akan menjadikan kehidupan manusia menjadi lebih sehat dan bebas dari jeratan bahaya bahan kimia yang ada di lingkungan.***

Arda Dinata adalah Peneliti dan Alumnus Magister Ilmu Kesehatan Masyarakat Minat Kesehatan Lingkungan FK UGM Yogyakarta.

Baca artikel sebelumnya: Bermesraan dengan (Kimia) Lingkungan
Toko Sosmed
PUSAT EBOOK: KESLING-MOTIVASI-PENGEMBANGAN DIRI-
Miliki Ebook Inspiratif Karya Arda Dinata Di Sini!

Kimia Lingkungan
Oleh Arda Dinata

Saya dapat ilmu Kimia Lingkungan ini pertama kali waktu kuliah di Akademi Kesehatan Lingkungan (AKL) Kutamaya Bandung tahun 1992. Dosen pengampu mata kuliah itu adalah ibu Zaenab. Nama lengkapnya saya lupa, yang jelas suaminya mengajar mata kuliah Fisika Lingkungan. Jujur, waktu itu saya begitu menikmati mata kuliah ini, apalagi pas praktek di laboratorium maupun di lapangan terkait materi pemeriksaan kualitas kimia air (bersih maupun air tercemar/kotor). 

Bicara kimia lingkungan, kita sesungguhnya belajar terhadap fenomena kimia dan biokimia yang terjadi di alam. Bidang ilmu ini dapat diartikan sebagai studi terhadap sumber, reaksi, transport, efek, dan nasib zat kimia di lingkungan udara, tanah, dan air; serta efek aktivitas manusia terhadapnya. 
WWW.ARDADINATA.COM
 

Lewat ilmu kimia lingkungan ini, kita juga belajar dan menelaah bahan-bahan kimia terhadap komponen lain dan pengaruhnya terhadap lingkungan secara menyeluruh. Terutama bila bahan kimia itu tersebar dan berkontaminasi dengan lingkungan sehingga keseimbangannya menjadi terganggu.

Pada tataran ini, lewat kemesraan denganbahan kimia lingkungan, kita seharusnya dapat mengenali bagaimana menentukan jumlah batas penyebaran bahan kimia di lingkungan agar tidak menyebabkan gangguan terhadap kelestarian lingkungan dan kesejahteraan manusia. Sebagai contoh: Pertama, komposisi udara bersih. Secara alami udara bersih tersusun atas: Nitrogen (78%), Oksigen (21%), Karbondioksida (0,03%), Argon (0,94%), Helium (0,01%), Neon (0,01%), Kripton (0,01%), serta uap air yang kadarnya bervariasi (0,01-4%).

Nyatanya, udara saat ini di alam tidak pernah dalam keadaan bersih. Hal ini terjadi karena kegiatan alam seperti kebakaran, longsor, banjir, tsunami, pelapukan tumbuh-tumbuhan, atau letusan gunung berapi, dan lainnya. Kondisi tersebut, bisa jadi yang menyebabkan udara mengandung sejumlah kecil bahan Metana, Karbondioksida, Nitrogen Oksida, dan Hidrogen Sulfida. Situasi ini, bisa diperparah akibat adanya zat pencemar yang dihasilkan oleh kegiatan manusia.

Kedua, komposisi air yang mengandung logam berat dan mengandung bakteri penyakit. Inilah salah satu kondisi air yang telah tercemar. Yakni, akibat komposisi kandungan air yang tidak seimbang dan seharusnya tidak ada dalam kandungan air. Arti lainnya, pencemaran air terjadi bila dalam air terdapat berbagai macam zat/kondisi (panas) yang dapat menurunkan standar kualitas air, sehingga tidak dapat digunakan untuk kebutuhan manusia.

Namun demikian, kondisi air yang mengandung logam berat atau bakteri tersebut masih dapat digunakan untuk kebutuhan lain, seperti industri atau sebagai pembangkit tenaga listrik. Yang pasti kondisi air seperti ini, tidak dapat digunakan untuk kebutuhan rumah tangga (air minum, memasak, mandi, dan mencuci).

Ketiga, pencemaran tanah. Kondisi tanah yang tercemar ini, sebenarnya terkait erat dengan pencemaran udara dan air. Buktinya, bahan pencemar yang ada di udara larut dan terbawa oleh air hujan. Lalu, air hujan itu jatuh ke tanah sehingga menimbulkan pencemaran tanah. Begitu juga, bahan pencemar dalam air permukaan tanah (air sungai, air selokan, air danau, dan air payau) dapat masuk ke dalam tanah dan menyebabkan terjadinya pencemaran tanah.

Akhirnya, penulis berharap dengan kita mampu bermesraan dengan (kimia) lingkungan dalam kehidupan sehari-hari. Yakni mengenali dan mengetahui bahan-bahan kimia berbahaya di sekitar lingkungan tempat tinggal kita, maka akan menjadikan kehidupan manusia menjadi lebih sehat dan bebas dari jeratan bahaya bahan kimia yang ada di lingkungan.***

Arda Dinata adalah Peneliti dan Alumnus Magister Ilmu Kesehatan Masyarakat Minat Kesehatan Lingkungan FK UGM Yogyakarta.

Baca artikel sebelumnya: Bermesraan dengan (Kimia) Lingkungan
Toko Sosmed
PUSAT EBOOK: KESLING-MOTIVASI-PENGEMBANGAN DIRI-
Miliki Ebook Inspiratif Karya Arda Dinata Di Sini!

Kimia Lingkungan
Oleh Arda Dinata

Saya dapat ilmu Kimia Lingkungan ini pertama kali waktu kuliah di Akademi Kesehatan Lingkungan (AKL) Kutamaya Bandung tahun 1992. Dosen pengampu mata kuliah itu adalah ibu Zaenab. Nama lengkapnya saya lupa, yang jelas suaminya mengajar mata kuliah Fisika Lingkungan. Jujur, waktu itu saya begitu menikmati mata kuliah ini, apalagi pas praktek di laboratorium maupun di lapangan terkait materi pemeriksaan kualitas kimia air (bersih maupun air tercemar/kotor). 

Bicara kimia lingkungan, kita sesungguhnya belajar terhadap fenomena kimia dan biokimia yang terjadi di alam. Bidang ilmu ini dapat diartikan sebagai studi terhadap sumber, reaksi, transport, efek, dan nasib zat kimia di lingkungan udara, tanah, dan air; serta efek aktivitas manusia terhadapnya. 
WWW.ARDADINATA.COM
 

Lewat ilmu kimia lingkungan ini, kita juga belajar dan menelaah bahan-bahan kimia terhadap komponen lain dan pengaruhnya terhadap lingkungan secara menyeluruh. Terutama bila bahan kimia itu tersebar dan berkontaminasi dengan lingkungan sehingga keseimbangannya menjadi terganggu.

Pada tataran ini, lewat kemesraan denganbahan kimia lingkungan, kita seharusnya dapat mengenali bagaimana menentukan jumlah batas penyebaran bahan kimia di lingkungan agar tidak menyebabkan gangguan terhadap kelestarian lingkungan dan kesejahteraan manusia. Sebagai contoh: Pertama, komposisi udara bersih. Secara alami udara bersih tersusun atas: Nitrogen (78%), Oksigen (21%), Karbondioksida (0,03%), Argon (0,94%), Helium (0,01%), Neon (0,01%), Kripton (0,01%), serta uap air yang kadarnya bervariasi (0,01-4%).

Nyatanya, udara saat ini di alam tidak pernah dalam keadaan bersih. Hal ini terjadi karena kegiatan alam seperti kebakaran, longsor, banjir, tsunami, pelapukan tumbuh-tumbuhan, atau letusan gunung berapi, dan lainnya. Kondisi tersebut, bisa jadi yang menyebabkan udara mengandung sejumlah kecil bahan Metana, Karbondioksida, Nitrogen Oksida, dan Hidrogen Sulfida. Situasi ini, bisa diperparah akibat adanya zat pencemar yang dihasilkan oleh kegiatan manusia.

Kedua, komposisi air yang mengandung logam berat dan mengandung bakteri penyakit. Inilah salah satu kondisi air yang telah tercemar. Yakni, akibat komposisi kandungan air yang tidak seimbang dan seharusnya tidak ada dalam kandungan air. Arti lainnya, pencemaran air terjadi bila dalam air terdapat berbagai macam zat/kondisi (panas) yang dapat menurunkan standar kualitas air, sehingga tidak dapat digunakan untuk kebutuhan manusia.

Namun demikian, kondisi air yang mengandung logam berat atau bakteri tersebut masih dapat digunakan untuk kebutuhan lain, seperti industri atau sebagai pembangkit tenaga listrik. Yang pasti kondisi air seperti ini, tidak dapat digunakan untuk kebutuhan rumah tangga (air minum, memasak, mandi, dan mencuci).

Ketiga, pencemaran tanah. Kondisi tanah yang tercemar ini, sebenarnya terkait erat dengan pencemaran udara dan air. Buktinya, bahan pencemar yang ada di udara larut dan terbawa oleh air hujan. Lalu, air hujan itu jatuh ke tanah sehingga menimbulkan pencemaran tanah. Begitu juga, bahan pencemar dalam air permukaan tanah (air sungai, air selokan, air danau, dan air payau) dapat masuk ke dalam tanah dan menyebabkan terjadinya pencemaran tanah.

Akhirnya, penulis berharap dengan kita mampu bermesraan dengan (kimia) lingkungan dalam kehidupan sehari-hari. Yakni mengenali dan mengetahui bahan-bahan kimia berbahaya di sekitar lingkungan tempat tinggal kita, maka akan menjadikan kehidupan manusia menjadi lebih sehat dan bebas dari jeratan bahaya bahan kimia yang ada di lingkungan.***

Arda Dinata adalah Peneliti dan Alumnus Magister Ilmu Kesehatan Masyarakat Minat Kesehatan Lingkungan FK UGM Yogyakarta.

Baca artikel sebelumnya: Bermesraan dengan (Kimia) Lingkungan
Toko Sosmed
PUSAT EBOOK: KESLING-MOTIVASI-PENGEMBANGAN DIRI-
Miliki Ebook Inspiratif Karya Arda Dinata Di Sini!

Kimia Lingkungan
Oleh Arda Dinata

Saya dapat ilmu Kimia Lingkungan ini pertama kali waktu kuliah di Akademi Kesehatan Lingkungan (AKL) Kutamaya Bandung tahun 1992. Dosen pengampu mata kuliah itu adalah ibu Zaenab. Nama lengkapnya saya lupa, yang jelas suaminya mengajar mata kuliah Fisika Lingkungan. Jujur, waktu itu saya begitu menikmati mata kuliah ini, apalagi pas praktek di laboratorium maupun di lapangan terkait materi pemeriksaan kualitas kimia air (bersih maupun air tercemar/kotor). 

Bicara kimia lingkungan, kita sesungguhnya belajar terhadap fenomena kimia dan biokimia yang terjadi di alam. Bidang ilmu ini dapat diartikan sebagai studi terhadap sumber, reaksi, transport, efek, dan nasib zat kimia di lingkungan udara, tanah, dan air; serta efek aktivitas manusia terhadapnya. 
WWW.ARDADINATA.COM
 

Lewat ilmu kimia lingkungan ini, kita juga belajar dan menelaah bahan-bahan kimia terhadap komponen lain dan pengaruhnya terhadap lingkungan secara menyeluruh. Terutama bila bahan kimia itu tersebar dan berkontaminasi dengan lingkungan sehingga keseimbangannya menjadi terganggu.

Pada tataran ini, lewat kemesraan denganbahan kimia lingkungan, kita seharusnya dapat mengenali bagaimana menentukan jumlah batas penyebaran bahan kimia di lingkungan agar tidak menyebabkan gangguan terhadap kelestarian lingkungan dan kesejahteraan manusia. Sebagai contoh: Pertama, komposisi udara bersih. Secara alami udara bersih tersusun atas: Nitrogen (78%), Oksigen (21%), Karbondioksida (0,03%), Argon (0,94%), Helium (0,01%), Neon (0,01%), Kripton (0,01%), serta uap air yang kadarnya bervariasi (0,01-4%).

Nyatanya, udara saat ini di alam tidak pernah dalam keadaan bersih. Hal ini terjadi karena kegiatan alam seperti kebakaran, longsor, banjir, tsunami, pelapukan tumbuh-tumbuhan, atau letusan gunung berapi, dan lainnya. Kondisi tersebut, bisa jadi yang menyebabkan udara mengandung sejumlah kecil bahan Metana, Karbondioksida, Nitrogen Oksida, dan Hidrogen Sulfida. Situasi ini, bisa diperparah akibat adanya zat pencemar yang dihasilkan oleh kegiatan manusia.

Kedua, komposisi air yang mengandung logam berat dan mengandung bakteri penyakit. Inilah salah satu kondisi air yang telah tercemar. Yakni, akibat komposisi kandungan air yang tidak seimbang dan seharusnya tidak ada dalam kandungan air. Arti lainnya, pencemaran air terjadi bila dalam air terdapat berbagai macam zat/kondisi (panas) yang dapat menurunkan standar kualitas air, sehingga tidak dapat digunakan untuk kebutuhan manusia.

Namun demikian, kondisi air yang mengandung logam berat atau bakteri tersebut masih dapat digunakan untuk kebutuhan lain, seperti industri atau sebagai pembangkit tenaga listrik. Yang pasti kondisi air seperti ini, tidak dapat digunakan untuk kebutuhan rumah tangga (air minum, memasak, mandi, dan mencuci).

Ketiga, pencemaran tanah. Kondisi tanah yang tercemar ini, sebenarnya terkait erat dengan pencemaran udara dan air. Buktinya, bahan pencemar yang ada di udara larut dan terbawa oleh air hujan. Lalu, air hujan itu jatuh ke tanah sehingga menimbulkan pencemaran tanah. Begitu juga, bahan pencemar dalam air permukaan tanah (air sungai, air selokan, air danau, dan air payau) dapat masuk ke dalam tanah dan menyebabkan terjadinya pencemaran tanah.

Akhirnya, penulis berharap dengan kita mampu bermesraan dengan (kimia) lingkungan dalam kehidupan sehari-hari. Yakni mengenali dan mengetahui bahan-bahan kimia berbahaya di sekitar lingkungan tempat tinggal kita, maka akan menjadikan kehidupan manusia menjadi lebih sehat dan bebas dari jeratan bahaya bahan kimia yang ada di lingkungan.***

Arda Dinata adalah Peneliti dan Alumnus Magister Ilmu Kesehatan Masyarakat Minat Kesehatan Lingkungan FK UGM Yogyakarta.

Baca artikel sebelumnya: Bermesraan dengan (Kimia) Lingkungan
Toko Sosmed
PUSAT EBOOK: KESLING-MOTIVASI-PENGEMBANGAN DIRI-
Miliki Ebook Inspiratif Karya Arda Dinata Di Sini!

Kimia Lingkungan
Oleh Arda Dinata

Saya dapat ilmu Kimia Lingkungan ini pertama kali waktu kuliah di Akademi Kesehatan Lingkungan (AKL) Kutamaya Bandung tahun 1992. Dosen pengampu mata kuliah itu adalah ibu Zaenab. Nama lengkapnya saya lupa, yang jelas suaminya mengajar mata kuliah Fisika Lingkungan. Jujur, waktu itu saya begitu menikmati mata kuliah ini, apalagi pas praktek di laboratorium maupun di lapangan terkait materi pemeriksaan kualitas kimia air (bersih maupun air tercemar/kotor). 

Bicara kimia lingkungan, kita sesungguhnya belajar terhadap fenomena kimia dan biokimia yang terjadi di alam. Bidang ilmu ini dapat diartikan sebagai studi terhadap sumber, reaksi, transport, efek, dan nasib zat kimia di lingkungan udara, tanah, dan air; serta efek aktivitas manusia terhadapnya. 
WWW.ARDADINATA.COM
 

Lewat ilmu kimia lingkungan ini, kita juga belajar dan menelaah bahan-bahan kimia terhadap komponen lain dan pengaruhnya terhadap lingkungan secara menyeluruh. Terutama bila bahan kimia itu tersebar dan berkontaminasi dengan lingkungan sehingga keseimbangannya menjadi terganggu.

Pada tataran ini, lewat kemesraan denganbahan kimia lingkungan, kita seharusnya dapat mengenali bagaimana menentukan jumlah batas penyebaran bahan kimia di lingkungan agar tidak menyebabkan gangguan terhadap kelestarian lingkungan dan kesejahteraan manusia. Sebagai contoh: Pertama, komposisi udara bersih. Secara alami udara bersih tersusun atas: Nitrogen (78%), Oksigen (21%), Karbondioksida (0,03%), Argon (0,94%), Helium (0,01%), Neon (0,01%), Kripton (0,01%), serta uap air yang kadarnya bervariasi (0,01-4%).

Nyatanya, udara saat ini di alam tidak pernah dalam keadaan bersih. Hal ini terjadi karena kegiatan alam seperti kebakaran, longsor, banjir, tsunami, pelapukan tumbuh-tumbuhan, atau letusan gunung berapi, dan lainnya. Kondisi tersebut, bisa jadi yang menyebabkan udara mengandung sejumlah kecil bahan Metana, Karbondioksida, Nitrogen Oksida, dan Hidrogen Sulfida. Situasi ini, bisa diperparah akibat adanya zat pencemar yang dihasilkan oleh kegiatan manusia.

Kedua, komposisi air yang mengandung logam berat dan mengandung bakteri penyakit. Inilah salah satu kondisi air yang telah tercemar. Yakni, akibat komposisi kandungan air yang tidak seimbang dan seharusnya tidak ada dalam kandungan air. Arti lainnya, pencemaran air terjadi bila dalam air terdapat berbagai macam zat/kondisi (panas) yang dapat menurunkan standar kualitas air, sehingga tidak dapat digunakan untuk kebutuhan manusia.

Namun demikian, kondisi air yang mengandung logam berat atau bakteri tersebut masih dapat digunakan untuk kebutuhan lain, seperti industri atau sebagai pembangkit tenaga listrik. Yang pasti kondisi air seperti ini, tidak dapat digunakan untuk kebutuhan rumah tangga (air minum, memasak, mandi, dan mencuci).

Ketiga, pencemaran tanah. Kondisi tanah yang tercemar ini, sebenarnya terkait erat dengan pencemaran udara dan air. Buktinya, bahan pencemar yang ada di udara larut dan terbawa oleh air hujan. Lalu, air hujan itu jatuh ke tanah sehingga menimbulkan pencemaran tanah. Begitu juga, bahan pencemar dalam air permukaan tanah (air sungai, air selokan, air danau, dan air payau) dapat masuk ke dalam tanah dan menyebabkan terjadinya pencemaran tanah.

Akhirnya, penulis berharap dengan kita mampu bermesraan dengan (kimia) lingkungan dalam kehidupan sehari-hari. Yakni mengenali dan mengetahui bahan-bahan kimia berbahaya di sekitar lingkungan tempat tinggal kita, maka akan menjadikan kehidupan manusia menjadi lebih sehat dan bebas dari jeratan bahaya bahan kimia yang ada di lingkungan.***

Arda Dinata adalah Peneliti dan Alumnus Magister Ilmu Kesehatan Masyarakat Minat Kesehatan Lingkungan FK UGM Yogyakarta.

Baca artikel sebelumnya: Bermesraan dengan (Kimia) Lingkungan
Toko Sosmed
PUSAT EBOOK: KESLING-MOTIVASI-PENGEMBANGAN DIRI-
Miliki Ebook Inspiratif Karya Arda Dinata Di Sini!

Kimia Lingkungan
Oleh Arda Dinata

Saya dapat ilmu Kimia Lingkungan ini pertama kali waktu kuliah di Akademi Kesehatan Lingkungan (AKL) Kutamaya Bandung tahun 1992. Dosen pengampu mata kuliah itu adalah ibu Zaenab. Nama lengkapnya saya lupa, yang jelas suaminya mengajar mata kuliah Fisika Lingkungan. Jujur, waktu itu saya begitu menikmati mata kuliah ini, apalagi pas praktek di laboratorium maupun di lapangan terkait materi pemeriksaan kualitas kimia air (bersih maupun air tercemar/kotor). 

Bicara kimia lingkungan, kita sesungguhnya belajar terhadap fenomena kimia dan biokimia yang terjadi di alam. Bidang ilmu ini dapat diartikan sebagai studi terhadap sumber, reaksi, transport, efek, dan nasib zat kimia di lingkungan udara, tanah, dan air; serta efek aktivitas manusia terhadapnya. 
WWW.ARDADINATA.COM
 

Lewat ilmu kimia lingkungan ini, kita juga belajar dan menelaah bahan-bahan kimia terhadap komponen lain dan pengaruhnya terhadap lingkungan secara menyeluruh. Terutama bila bahan kimia itu tersebar dan berkontaminasi dengan lingkungan sehingga keseimbangannya menjadi terganggu.

Pada tataran ini, lewat kemesraan denganbahan kimia lingkungan, kita seharusnya dapat mengenali bagaimana menentukan jumlah batas penyebaran bahan kimia di lingkungan agar tidak menyebabkan gangguan terhadap kelestarian lingkungan dan kesejahteraan manusia. Sebagai contoh: Pertama, komposisi udara bersih. Secara alami udara bersih tersusun atas: Nitrogen (78%), Oksigen (21%), Karbondioksida (0,03%), Argon (0,94%), Helium (0,01%), Neon (0,01%), Kripton (0,01%), serta uap air yang kadarnya bervariasi (0,01-4%).

Nyatanya, udara saat ini di alam tidak pernah dalam keadaan bersih. Hal ini terjadi karena kegiatan alam seperti kebakaran, longsor, banjir, tsunami, pelapukan tumbuh-tumbuhan, atau letusan gunung berapi, dan lainnya. Kondisi tersebut, bisa jadi yang menyebabkan udara mengandung sejumlah kecil bahan Metana, Karbondioksida, Nitrogen Oksida, dan Hidrogen Sulfida. Situasi ini, bisa diperparah akibat adanya zat pencemar yang dihasilkan oleh kegiatan manusia.

Kedua, komposisi air yang mengandung logam berat dan mengandung bakteri penyakit. Inilah salah satu kondisi air yang telah tercemar. Yakni, akibat komposisi kandungan air yang tidak seimbang dan seharusnya tidak ada dalam kandungan air. Arti lainnya, pencemaran air terjadi bila dalam air terdapat berbagai macam zat/kondisi (panas) yang dapat menurunkan standar kualitas air, sehingga tidak dapat digunakan untuk kebutuhan manusia.

Namun demikian, kondisi air yang mengandung logam berat atau bakteri tersebut masih dapat digunakan untuk kebutuhan lain, seperti industri atau sebagai pembangkit tenaga listrik. Yang pasti kondisi air seperti ini, tidak dapat digunakan untuk kebutuhan rumah tangga (air minum, memasak, mandi, dan mencuci).

Ketiga, pencemaran tanah. Kondisi tanah yang tercemar ini, sebenarnya terkait erat dengan pencemaran udara dan air. Buktinya, bahan pencemar yang ada di udara larut dan terbawa oleh air hujan. Lalu, air hujan itu jatuh ke tanah sehingga menimbulkan pencemaran tanah. Begitu juga, bahan pencemar dalam air permukaan tanah (air sungai, air selokan, air danau, dan air payau) dapat masuk ke dalam tanah dan menyebabkan terjadinya pencemaran tanah.

Akhirnya, penulis berharap dengan kita mampu bermesraan dengan (kimia) lingkungan dalam kehidupan sehari-hari. Yakni mengenali dan mengetahui bahan-bahan kimia berbahaya di sekitar lingkungan tempat tinggal kita, maka akan menjadikan kehidupan manusia menjadi lebih sehat dan bebas dari jeratan bahaya bahan kimia yang ada di lingkungan.***

Arda Dinata adalah Peneliti dan Alumnus Magister Ilmu Kesehatan Masyarakat Minat Kesehatan Lingkungan FK UGM Yogyakarta.

Baca artikel sebelumnya: Bermesraan dengan (Kimia) Lingkungan
Toko Sosmed
PUSAT EBOOK: KESLING-MOTIVASI-PENGEMBANGAN DIRI-
Miliki Ebook Inspiratif Karya Arda Dinata Di Sini!

Kimia Lingkungan
Oleh Arda Dinata

Saya dapat ilmu Kimia Lingkungan ini pertama kali waktu kuliah di Akademi Kesehatan Lingkungan (AKL) Kutamaya Bandung tahun 1992. Dosen pengampu mata kuliah itu adalah ibu Zaenab. Nama lengkapnya saya lupa, yang jelas suaminya mengajar mata kuliah Fisika Lingkungan. Jujur, waktu itu saya begitu menikmati mata kuliah ini, apalagi pas praktek di laboratorium maupun di lapangan terkait materi pemeriksaan kualitas kimia air (bersih maupun air tercemar/kotor). 

Bicara kimia lingkungan, kita sesungguhnya belajar terhadap fenomena kimia dan biokimia yang terjadi di alam. Bidang ilmu ini dapat diartikan sebagai studi terhadap sumber, reaksi, transport, efek, dan nasib zat kimia di lingkungan udara, tanah, dan air; serta efek aktivitas manusia terhadapnya. 
WWW.ARDADINATA.COM
 

Lewat ilmu kimia lingkungan ini, kita juga belajar dan menelaah bahan-bahan kimia terhadap komponen lain dan pengaruhnya terhadap lingkungan secara menyeluruh. Terutama bila bahan kimia itu tersebar dan berkontaminasi dengan lingkungan sehingga keseimbangannya menjadi terganggu.

Pada tataran ini, lewat kemesraan denganbahan kimia lingkungan, kita seharusnya dapat mengenali bagaimana menentukan jumlah batas penyebaran bahan kimia di lingkungan agar tidak menyebabkan gangguan terhadap kelestarian lingkungan dan kesejahteraan manusia. Sebagai contoh: Pertama, komposisi udara bersih. Secara alami udara bersih tersusun atas: Nitrogen (78%), Oksigen (21%), Karbondioksida (0,03%), Argon (0,94%), Helium (0,01%), Neon (0,01%), Kripton (0,01%), serta uap air yang kadarnya bervariasi (0,01-4%).

Nyatanya, udara saat ini di alam tidak pernah dalam keadaan bersih. Hal ini terjadi karena kegiatan alam seperti kebakaran, longsor, banjir, tsunami, pelapukan tumbuh-tumbuhan, atau letusan gunung berapi, dan lainnya. Kondisi tersebut, bisa jadi yang menyebabkan udara mengandung sejumlah kecil bahan Metana, Karbondioksida, Nitrogen Oksida, dan Hidrogen Sulfida. Situasi ini, bisa diperparah akibat adanya zat pencemar yang dihasilkan oleh kegiatan manusia.

Kedua, komposisi air yang mengandung logam berat dan mengandung bakteri penyakit. Inilah salah satu kondisi air yang telah tercemar. Yakni, akibat komposisi kandungan air yang tidak seimbang dan seharusnya tidak ada dalam kandungan air. Arti lainnya, pencemaran air terjadi bila dalam air terdapat berbagai macam zat/kondisi (panas) yang dapat menurunkan standar kualitas air, sehingga tidak dapat digunakan untuk kebutuhan manusia.

Namun demikian, kondisi air yang mengandung logam berat atau bakteri tersebut masih dapat digunakan untuk kebutuhan lain, seperti industri atau sebagai pembangkit tenaga listrik. Yang pasti kondisi air seperti ini, tidak dapat digunakan untuk kebutuhan rumah tangga (air minum, memasak, mandi, dan mencuci).

Ketiga, pencemaran tanah. Kondisi tanah yang tercemar ini, sebenarnya terkait erat dengan pencemaran udara dan air. Buktinya, bahan pencemar yang ada di udara larut dan terbawa oleh air hujan. Lalu, air hujan itu jatuh ke tanah sehingga menimbulkan pencemaran tanah. Begitu juga, bahan pencemar dalam air permukaan tanah (air sungai, air selokan, air danau, dan air payau) dapat masuk ke dalam tanah dan menyebabkan terjadinya pencemaran tanah.

Akhirnya, penulis berharap dengan kita mampu bermesraan dengan (kimia) lingkungan dalam kehidupan sehari-hari. Yakni mengenali dan mengetahui bahan-bahan kimia berbahaya di sekitar lingkungan tempat tinggal kita, maka akan menjadikan kehidupan manusia menjadi lebih sehat dan bebas dari jeratan bahaya bahan kimia yang ada di lingkungan.***

Arda Dinata adalah Peneliti dan Alumnus Magister Ilmu Kesehatan Masyarakat Minat Kesehatan Lingkungan FK UGM Yogyakarta.

Baca artikel sebelumnya: Bermesraan dengan (Kimia) Lingkungan
Toko Sosmed
PUSAT EBOOK: KESLING-MOTIVASI-PENGEMBANGAN DIRI-
Miliki Ebook Inspiratif Karya Arda Dinata Di Sini!

Kimia Lingkungan
Oleh Arda Dinata

Saya dapat ilmu Kimia Lingkungan ini pertama kali waktu kuliah di Akademi Kesehatan Lingkungan (AKL) Kutamaya Bandung tahun 1992. Dosen pengampu mata kuliah itu adalah ibu Zaenab. Nama lengkapnya saya lupa, yang jelas suaminya mengajar mata kuliah Fisika Lingkungan. Jujur, waktu itu saya begitu menikmati mata kuliah ini, apalagi pas praktek di laboratorium maupun di lapangan terkait materi pemeriksaan kualitas kimia air (bersih maupun air tercemar/kotor). 

Bicara kimia lingkungan, kita sesungguhnya belajar terhadap fenomena kimia dan biokimia yang terjadi di alam. Bidang ilmu ini dapat diartikan sebagai studi terhadap sumber, reaksi, transport, efek, dan nasib zat kimia di lingkungan udara, tanah, dan air; serta efek aktivitas manusia terhadapnya. 
WWW.ARDADINATA.COM
 

Lewat ilmu kimia lingkungan ini, kita juga belajar dan menelaah bahan-bahan kimia terhadap komponen lain dan pengaruhnya terhadap lingkungan secara menyeluruh. Terutama bila bahan kimia itu tersebar dan berkontaminasi dengan lingkungan sehingga keseimbangannya menjadi terganggu.

Pada tataran ini, lewat kemesraan denganbahan kimia lingkungan, kita seharusnya dapat mengenali bagaimana menentukan jumlah batas penyebaran bahan kimia di lingkungan agar tidak menyebabkan gangguan terhadap kelestarian lingkungan dan kesejahteraan manusia. Sebagai contoh: Pertama, komposisi udara bersih. Secara alami udara bersih tersusun atas: Nitrogen (78%), Oksigen (21%), Karbondioksida (0,03%), Argon (0,94%), Helium (0,01%), Neon (0,01%), Kripton (0,01%), serta uap air yang kadarnya bervariasi (0,01-4%).

Nyatanya, udara saat ini di alam tidak pernah dalam keadaan bersih. Hal ini terjadi karena kegiatan alam seperti kebakaran, longsor, banjir, tsunami, pelapukan tumbuh-tumbuhan, atau letusan gunung berapi, dan lainnya. Kondisi tersebut, bisa jadi yang menyebabkan udara mengandung sejumlah kecil bahan Metana, Karbondioksida, Nitrogen Oksida, dan Hidrogen Sulfida. Situasi ini, bisa diperparah akibat adanya zat pencemar yang dihasilkan oleh kegiatan manusia.

Kedua, komposisi air yang mengandung logam berat dan mengandung bakteri penyakit. Inilah salah satu kondisi air yang telah tercemar. Yakni, akibat komposisi kandungan air yang tidak seimbang dan seharusnya tidak ada dalam kandungan air. Arti lainnya, pencemaran air terjadi bila dalam air terdapat berbagai macam zat/kondisi (panas) yang dapat menurunkan standar kualitas air, sehingga tidak dapat digunakan untuk kebutuhan manusia.

Namun demikian, kondisi air yang mengandung logam berat atau bakteri tersebut masih dapat digunakan untuk kebutuhan lain, seperti industri atau sebagai pembangkit tenaga listrik. Yang pasti kondisi air seperti ini, tidak dapat digunakan untuk kebutuhan rumah tangga (air minum, memasak, mandi, dan mencuci).

Ketiga, pencemaran tanah. Kondisi tanah yang tercemar ini, sebenarnya terkait erat dengan pencemaran udara dan air. Buktinya, bahan pencemar yang ada di udara larut dan terbawa oleh air hujan. Lalu, air hujan itu jatuh ke tanah sehingga menimbulkan pencemaran tanah. Begitu juga, bahan pencemar dalam air permukaan tanah (air sungai, air selokan, air danau, dan air payau) dapat masuk ke dalam tanah dan menyebabkan terjadinya pencemaran tanah.

Akhirnya, penulis berharap dengan kita mampu bermesraan dengan (kimia) lingkungan dalam kehidupan sehari-hari. Yakni mengenali dan mengetahui bahan-bahan kimia berbahaya di sekitar lingkungan tempat tinggal kita, maka akan menjadikan kehidupan manusia menjadi lebih sehat dan bebas dari jeratan bahaya bahan kimia yang ada di lingkungan.***

Arda Dinata adalah Peneliti dan Alumnus Magister Ilmu Kesehatan Masyarakat Minat Kesehatan Lingkungan FK UGM Yogyakarta.

Baca artikel sebelumnya: Bermesraan dengan (Kimia) Lingkungan
Toko Sosmed
PUSAT EBOOK: KESLING-MOTIVASI-PENGEMBANGAN DIRI-
Miliki Ebook Inspiratif Karya Arda Dinata Di Sini!

Kimia Lingkungan
Oleh Arda Dinata

Saya dapat ilmu Kimia Lingkungan ini pertama kali waktu kuliah di Akademi Kesehatan Lingkungan (AKL) Kutamaya Bandung tahun 1992. Dosen pengampu mata kuliah itu adalah ibu Zaenab. Nama lengkapnya saya lupa, yang jelas suaminya mengajar mata kuliah Fisika Lingkungan. Jujur, waktu itu saya begitu menikmati mata kuliah ini, apalagi pas praktek di laboratorium maupun di lapangan terkait materi pemeriksaan kualitas kimia air (bersih maupun air tercemar/kotor). 

Bicara kimia lingkungan, kita sesungguhnya belajar terhadap fenomena kimia dan biokimia yang terjadi di alam. Bidang ilmu ini dapat diartikan sebagai studi terhadap sumber, reaksi, transport, efek, dan nasib zat kimia di lingkungan udara, tanah, dan air; serta efek aktivitas manusia terhadapnya. 
WWW.ARDADINATA.COM
 

Lewat ilmu kimia lingkungan ini, kita juga belajar dan menelaah bahan-bahan kimia terhadap komponen lain dan pengaruhnya terhadap lingkungan secara menyeluruh. Terutama bila bahan kimia itu tersebar dan berkontaminasi dengan lingkungan sehingga keseimbangannya menjadi terganggu.

Pada tataran ini, lewat kemesraan denganbahan kimia lingkungan, kita seharusnya dapat mengenali bagaimana menentukan jumlah batas penyebaran bahan kimia di lingkungan agar tidak menyebabkan gangguan terhadap kelestarian lingkungan dan kesejahteraan manusia. Sebagai contoh: Pertama, komposisi udara bersih. Secara alami udara bersih tersusun atas: Nitrogen (78%), Oksigen (21%), Karbondioksida (0,03%), Argon (0,94%), Helium (0,01%), Neon (0,01%), Kripton (0,01%), serta uap air yang kadarnya bervariasi (0,01-4%).

Nyatanya, udara saat ini di alam tidak pernah dalam keadaan bersih. Hal ini terjadi karena kegiatan alam seperti kebakaran, longsor, banjir, tsunami, pelapukan tumbuh-tumbuhan, atau letusan gunung berapi, dan lainnya. Kondisi tersebut, bisa jadi yang menyebabkan udara mengandung sejumlah kecil bahan Metana, Karbondioksida, Nitrogen Oksida, dan Hidrogen Sulfida. Situasi ini, bisa diperparah akibat adanya zat pencemar yang dihasilkan oleh kegiatan manusia.

Kedua, komposisi air yang mengandung logam berat dan mengandung bakteri penyakit. Inilah salah satu kondisi air yang telah tercemar. Yakni, akibat komposisi kandungan air yang tidak seimbang dan seharusnya tidak ada dalam kandungan air. Arti lainnya, pencemaran air terjadi bila dalam air terdapat berbagai macam zat/kondisi (panas) yang dapat menurunkan standar kualitas air, sehingga tidak dapat digunakan untuk kebutuhan manusia.

Namun demikian, kondisi air yang mengandung logam berat atau bakteri tersebut masih dapat digunakan untuk kebutuhan lain, seperti industri atau sebagai pembangkit tenaga listrik. Yang pasti kondisi air seperti ini, tidak dapat digunakan untuk kebutuhan rumah tangga (air minum, memasak, mandi, dan mencuci).

Ketiga, pencemaran tanah. Kondisi tanah yang tercemar ini, sebenarnya terkait erat dengan pencemaran udara dan air. Buktinya, bahan pencemar yang ada di udara larut dan terbawa oleh air hujan. Lalu, air hujan itu jatuh ke tanah sehingga menimbulkan pencemaran tanah. Begitu juga, bahan pencemar dalam air permukaan tanah (air sungai, air selokan, air danau, dan air payau) dapat masuk ke dalam tanah dan menyebabkan terjadinya pencemaran tanah.

Akhirnya, penulis berharap dengan kita mampu bermesraan dengan (kimia) lingkungan dalam kehidupan sehari-hari. Yakni mengenali dan mengetahui bahan-bahan kimia berbahaya di sekitar lingkungan tempat tinggal kita, maka akan menjadikan kehidupan manusia menjadi lebih sehat dan bebas dari jeratan bahaya bahan kimia yang ada di lingkungan.***

Arda Dinata adalah Peneliti dan Alumnus Magister Ilmu Kesehatan Masyarakat Minat Kesehatan Lingkungan FK UGM Yogyakarta.

Baca artikel sebelumnya: Bermesraan dengan (Kimia) Lingkungan
Toko Sosmed
PUSAT EBOOK: KESLING-MOTIVASI-PENGEMBANGAN DIRI-
Miliki Ebook Inspiratif Karya Arda Dinata Di Sini!

Kimia Lingkungan
Oleh Arda Dinata

Saya dapat ilmu Kimia Lingkungan ini pertama kali waktu kuliah di Akademi Kesehatan Lingkungan (AKL) Kutamaya Bandung tahun 1992. Dosen pengampu mata kuliah itu adalah ibu Zaenab. Nama lengkapnya saya lupa, yang jelas suaminya mengajar mata kuliah Fisika Lingkungan. Jujur, waktu itu saya begitu menikmati mata kuliah ini, apalagi pas praktek di laboratorium maupun di lapangan terkait materi pemeriksaan kualitas kimia air (bersih maupun air tercemar/kotor). 

Bicara kimia lingkungan, kita sesungguhnya belajar terhadap fenomena kimia dan biokimia yang terjadi di alam. Bidang ilmu ini dapat diartikan sebagai studi terhadap sumber, reaksi, transport, efek, dan nasib zat kimia di lingkungan udara, tanah, dan air; serta efek aktivitas manusia terhadapnya. 
WWW.ARDADINATA.COM
 

Lewat ilmu kimia lingkungan ini, kita juga belajar dan menelaah bahan-bahan kimia terhadap komponen lain dan pengaruhnya terhadap lingkungan secara menyeluruh. Terutama bila bahan kimia itu tersebar dan berkontaminasi dengan lingkungan sehingga keseimbangannya menjadi terganggu.

Pada tataran ini, lewat kemesraan denganbahan kimia lingkungan, kita seharusnya dapat mengenali bagaimana menentukan jumlah batas penyebaran bahan kimia di lingkungan agar tidak menyebabkan gangguan terhadap kelestarian lingkungan dan kesejahteraan manusia. Sebagai contoh: Pertama, komposisi udara bersih. Secara alami udara bersih tersusun atas: Nitrogen (78%), Oksigen (21%), Karbondioksida (0,03%), Argon (0,94%), Helium (0,01%), Neon (0,01%), Kripton (0,01%), serta uap air yang kadarnya bervariasi (0,01-4%).

Nyatanya, udara saat ini di alam tidak pernah dalam keadaan bersih. Hal ini terjadi karena kegiatan alam seperti kebakaran, longsor, banjir, tsunami, pelapukan tumbuh-tumbuhan, atau letusan gunung berapi, dan lainnya. Kondisi tersebut, bisa jadi yang menyebabkan udara mengandung sejumlah kecil bahan Metana, Karbondioksida, Nitrogen Oksida, dan Hidrogen Sulfida. Situasi ini, bisa diperparah akibat adanya zat pencemar yang dihasilkan oleh kegiatan manusia.

Kedua, komposisi air yang mengandung logam berat dan mengandung bakteri penyakit. Inilah salah satu kondisi air yang telah tercemar. Yakni, akibat komposisi kandungan air yang tidak seimbang dan seharusnya tidak ada dalam kandungan air. Arti lainnya, pencemaran air terjadi bila dalam air terdapat berbagai macam zat/kondisi (panas) yang dapat menurunkan standar kualitas air, sehingga tidak dapat digunakan untuk kebutuhan manusia.

Namun demikian, kondisi air yang mengandung logam berat atau bakteri tersebut masih dapat digunakan untuk kebutuhan lain, seperti industri atau sebagai pembangkit tenaga listrik. Yang pasti kondisi air seperti ini, tidak dapat digunakan untuk kebutuhan rumah tangga (air minum, memasak, mandi, dan mencuci).

Ketiga, pencemaran tanah. Kondisi tanah yang tercemar ini, sebenarnya terkait erat dengan pencemaran udara dan air. Buktinya, bahan pencemar yang ada di udara larut dan terbawa oleh air hujan. Lalu, air hujan itu jatuh ke tanah sehingga menimbulkan pencemaran tanah. Begitu juga, bahan pencemar dalam air permukaan tanah (air sungai, air selokan, air danau, dan air payau) dapat masuk ke dalam tanah dan menyebabkan terjadinya pencemaran tanah.

Akhirnya, penulis berharap dengan kita mampu bermesraan dengan (kimia) lingkungan dalam kehidupan sehari-hari. Yakni mengenali dan mengetahui bahan-bahan kimia berbahaya di sekitar lingkungan tempat tinggal kita, maka akan menjadikan kehidupan manusia menjadi lebih sehat dan bebas dari jeratan bahaya bahan kimia yang ada di lingkungan.***

Arda Dinata adalah Peneliti dan Alumnus Magister Ilmu Kesehatan Masyarakat Minat Kesehatan Lingkungan FK UGM Yogyakarta.

Bermesraan dengan (Kimia) Lingkungan
Lihat Detail

Bermesraan dengan (Kimia) Lingkungan



Toko Sosmed
PUSAT EBOOK: KESLING-MOTIVASI-PENGEMBANGAN DIRI-
Miliki Ebook Inspiratif Karya Arda Dinata Di Sini!

Bermesraan dengan (Kimia) Lingkungan

oleh Arda Dinata

MANUSIA, lingkungan, dan bencana telah melahirkan cerita tiada henti. Tanpa bencanapun, bahan kimia tak hentinya menyebar dan bersinggungan dengan kehidupan manusia. Apalagi, tak kala bencana itu hadir menyapa kehidupan manusia, tentu jumlah dan kualitasnya makin bertambah.

Manusia itu tiap hari selalu bermesraan dengan bahan kimia dan lingkungan. Mungkin selama ini Anda sadar atau pun tidak sadar dalam perilaku hariannya selalu bersinggungan dengan lingkungan dan bahan kimia. Pada lingkungan itulah begitu banyak tersebar bahan kimia. Baik bahan kimia yang menguntungkan maupun yang berbahaya bila kadarnya berlebihan.

WWW.ARDADINATA.COM
Coba Anda renungkan dari mulai bangun tidur sampai tidur lagi, berapa banyak bahan kimia yang bersinggungan dengan tubuh kita? Baik bersinggungan secara langsung maupun tidak langsung. Mulai dari yang menempel dalam tubuh, terhirup, dan masuk dalam tubuh lewat makanan maupun minuman. Proses interaksi bahan kimia dengan lingkungan dan tubuh seperti inilah, sesungguhnya awal mula proses yang mempengaruhi kualitas dan kesehatan tubuh manusia.

Lingkungan itu apa yang ada di sekitar kita. Pada lingkungan ini ada lapisan atmosfir (lapisan udara/gas); hidrosfir (lautan); geosfir (padatan bumi); litosfir (lapisan bumi 50-100 KM); dan biosfir (tempat kehidupan biotik dan abiotik). Pada lingkungan itulah ada istilah ekologi, ekosistem, habitat, komunitas, dan populasi.

Ekologi itu tempat hidup dan keberadaannya terus melakukan adaptasi dengan kondisi lingkungan. Dalam ekologi itu terdapat aneka ekosistem. Yakni tempat interaksi antar organisme dan lingkungan fisik yang membentuk tatanan atau sistem tertentu. Misalnya ada ekosistem air tawar, ekosistem pesisir, ekosistem hutan, dan lainnya.

Sementara itu, habitat diartikan sebagai tempat atau lingkungan di mana suatu organisme hidup. Untuk komunitas itu sendiri berisi banyaknya organisme yang hidup dalam suatu tempat. Sedangkan istilah populasi itu menunjukkan jumlah organisme tertentu dalam suatu tempat.

Aliran energi dan konservasi

Kehadiran bahan kimia di lingkungan akan memberi porsi tersendiri dalam mengalirkan energi di ekosistem manapun. Belum lagi dalam lingkungan itu terjadi interaksi luar. Bisa di antara ekosistem yang ada, termasuk akibat interaksi dengan perilaku manusia. Inilah ruh dan potensi aliran energi yang terjadi dalam lingkungan kehidupan ekosistem manusia.

Terkait dengan energi di lingkungan ini, saya teringat dengan hukum thermodinamika I dan entropi. Hukum thermodinamika I terkait dengan konservasi energi menyebutkan: “Energi tidak dapat diciptakan ataupun dimusnahkan, melainkan hanya bisa diubah bentuknya saja.” Artinya, dalam hidup ini segala sesuatu berubah. Kehidupan (mahluk hidup) hanya mentrasfer materi. Energi itu polanya bisa dibuang, digunakan kembali (reuse), dan meformulasi ulang (reformulasi). Sementara, entropi sebagai satu besaran termodinamika yang mengukur energi mengajarkan adanya transformasi energi akan menghasilkan limbah atau polutan (waste). Dan polutan ini tak dapat dinolkan. Tapi, hanya kadarnya saja yang diturunkan sampai batas toleransi.

Pada konteks ini, massa itu tidak dapat diciptakan dan dimusnahkan. Ia hanya dapat ditransfer dari satu bentuk ke bentuk yang lain. Faktor sistem lingkunganlah yang mengubah massa suatu elemen tertentu. Jadi, konservasi massa itu mengajarkan bahwa sesuatu itu bersifat dinamis. Keberadaan polusi tak dapat ditiadakan. Proses yang terjadi di dunia ini, baik dari benda hidup maupun benda mati hanya mengubah bentuk dan mentransfer ke bagian lain. Untuk itu, atas dasar pola pikir inilah kita dapat melakukan pemanfaatan dalam wujud proses, sistem pembuangan, reuse, dan reformulasi energi bahan kimia yang mengganggu kehidupan manusia.

Bagaimana menurut Anda? Silahkan tulis komentarnya di kolom bawah ini ya! Salam sukses selalu. Aamiin.

Bersambung ke edisi tanggal 02/10/2020 ==> Kimia lingkungan

Arda Dinata adalah Peneliti dan Alumnus Magister Ilmu Kesehatan Masyarakat Minat Kesehatan Lingkungan FK UGM Yogyakarta.




Toko Sosmed
PUSAT EBOOK: KESLING-MOTIVASI-PENGEMBANGAN DIRI-
Miliki Ebook Inspiratif Karya Arda Dinata Di Sini!

Bermesraan dengan (Kimia) Lingkungan

oleh Arda Dinata

MANUSIA, lingkungan, dan bencana telah melahirkan cerita tiada henti. Tanpa bencanapun, bahan kimia tak hentinya menyebar dan bersinggungan dengan kehidupan manusia. Apalagi, tak kala bencana itu hadir menyapa kehidupan manusia, tentu jumlah dan kualitasnya makin bertambah.

Manusia itu tiap hari selalu bermesraan dengan bahan kimia dan lingkungan. Mungkin selama ini Anda sadar atau pun tidak sadar dalam perilaku hariannya selalu bersinggungan dengan lingkungan dan bahan kimia. Pada lingkungan itulah begitu banyak tersebar bahan kimia. Baik bahan kimia yang menguntungkan maupun yang berbahaya bila kadarnya berlebihan.

WWW.ARDADINATA.COM
Coba Anda renungkan dari mulai bangun tidur sampai tidur lagi, berapa banyak bahan kimia yang bersinggungan dengan tubuh kita? Baik bersinggungan secara langsung maupun tidak langsung. Mulai dari yang menempel dalam tubuh, terhirup, dan masuk dalam tubuh lewat makanan maupun minuman. Proses interaksi bahan kimia dengan lingkungan dan tubuh seperti inilah, sesungguhnya awal mula proses yang mempengaruhi kualitas dan kesehatan tubuh manusia.

Lingkungan itu apa yang ada di sekitar kita. Pada lingkungan ini ada lapisan atmosfir (lapisan udara/gas); hidrosfir (lautan); geosfir (padatan bumi); litosfir (lapisan bumi 50-100 KM); dan biosfir (tempat kehidupan biotik dan abiotik). Pada lingkungan itulah ada istilah ekologi, ekosistem, habitat, komunitas, dan populasi.

Ekologi itu tempat hidup dan keberadaannya terus melakukan adaptasi dengan kondisi lingkungan. Dalam ekologi itu terdapat aneka ekosistem. Yakni tempat interaksi antar organisme dan lingkungan fisik yang membentuk tatanan atau sistem tertentu. Misalnya ada ekosistem air tawar, ekosistem pesisir, ekosistem hutan, dan lainnya.

Sementara itu, habitat diartikan sebagai tempat atau lingkungan di mana suatu organisme hidup. Untuk komunitas itu sendiri berisi banyaknya organisme yang hidup dalam suatu tempat. Sedangkan istilah populasi itu menunjukkan jumlah organisme tertentu dalam suatu tempat.

Aliran energi dan konservasi

Kehadiran bahan kimia di lingkungan akan memberi porsi tersendiri dalam mengalirkan energi di ekosistem manapun. Belum lagi dalam lingkungan itu terjadi interaksi luar. Bisa di antara ekosistem yang ada, termasuk akibat interaksi dengan perilaku manusia. Inilah ruh dan potensi aliran energi yang terjadi dalam lingkungan kehidupan ekosistem manusia.

Terkait dengan energi di lingkungan ini, saya teringat dengan hukum thermodinamika I dan entropi. Hukum thermodinamika I terkait dengan konservasi energi menyebutkan: “Energi tidak dapat diciptakan ataupun dimusnahkan, melainkan hanya bisa diubah bentuknya saja.” Artinya, dalam hidup ini segala sesuatu berubah. Kehidupan (mahluk hidup) hanya mentrasfer materi. Energi itu polanya bisa dibuang, digunakan kembali (reuse), dan meformulasi ulang (reformulasi). Sementara, entropi sebagai satu besaran termodinamika yang mengukur energi mengajarkan adanya transformasi energi akan menghasilkan limbah atau polutan (waste). Dan polutan ini tak dapat dinolkan. Tapi, hanya kadarnya saja yang diturunkan sampai batas toleransi.

Pada konteks ini, massa itu tidak dapat diciptakan dan dimusnahkan. Ia hanya dapat ditransfer dari satu bentuk ke bentuk yang lain. Faktor sistem lingkunganlah yang mengubah massa suatu elemen tertentu. Jadi, konservasi massa itu mengajarkan bahwa sesuatu itu bersifat dinamis. Keberadaan polusi tak dapat ditiadakan. Proses yang terjadi di dunia ini, baik dari benda hidup maupun benda mati hanya mengubah bentuk dan mentransfer ke bagian lain. Untuk itu, atas dasar pola pikir inilah kita dapat melakukan pemanfaatan dalam wujud proses, sistem pembuangan, reuse, dan reformulasi energi bahan kimia yang mengganggu kehidupan manusia.

Bagaimana menurut Anda? Silahkan tulis komentarnya di kolom bawah ini ya! Salam sukses selalu. Aamiin.

Bersambung ke edisi tanggal 02/10/2020 ==> Kimia lingkungan

Arda Dinata adalah Peneliti dan Alumnus Magister Ilmu Kesehatan Masyarakat Minat Kesehatan Lingkungan FK UGM Yogyakarta.




Toko Sosmed
PUSAT EBOOK: KESLING-MOTIVASI-PENGEMBANGAN DIRI-
Miliki Ebook Inspiratif Karya Arda Dinata Di Sini!

Bermesraan dengan (Kimia) Lingkungan

oleh Arda Dinata

MANUSIA, lingkungan, dan bencana telah melahirkan cerita tiada henti. Tanpa bencanapun, bahan kimia tak hentinya menyebar dan bersinggungan dengan kehidupan manusia. Apalagi, tak kala bencana itu hadir menyapa kehidupan manusia, tentu jumlah dan kualitasnya makin bertambah.

Manusia itu tiap hari selalu bermesraan dengan bahan kimia dan lingkungan. Mungkin selama ini Anda sadar atau pun tidak sadar dalam perilaku hariannya selalu bersinggungan dengan lingkungan dan bahan kimia. Pada lingkungan itulah begitu banyak tersebar bahan kimia. Baik bahan kimia yang menguntungkan maupun yang berbahaya bila kadarnya berlebihan.

WWW.ARDADINATA.COM
Coba Anda renungkan dari mulai bangun tidur sampai tidur lagi, berapa banyak bahan kimia yang bersinggungan dengan tubuh kita? Baik bersinggungan secara langsung maupun tidak langsung. Mulai dari yang menempel dalam tubuh, terhirup, dan masuk dalam tubuh lewat makanan maupun minuman. Proses interaksi bahan kimia dengan lingkungan dan tubuh seperti inilah, sesungguhnya awal mula proses yang mempengaruhi kualitas dan kesehatan tubuh manusia.

Lingkungan itu apa yang ada di sekitar kita. Pada lingkungan ini ada lapisan atmosfir (lapisan udara/gas); hidrosfir (lautan); geosfir (padatan bumi); litosfir (lapisan bumi 50-100 KM); dan biosfir (tempat kehidupan biotik dan abiotik). Pada lingkungan itulah ada istilah ekologi, ekosistem, habitat, komunitas, dan populasi.

Ekologi itu tempat hidup dan keberadaannya terus melakukan adaptasi dengan kondisi lingkungan. Dalam ekologi itu terdapat aneka ekosistem. Yakni tempat interaksi antar organisme dan lingkungan fisik yang membentuk tatanan atau sistem tertentu. Misalnya ada ekosistem air tawar, ekosistem pesisir, ekosistem hutan, dan lainnya.

Sementara itu, habitat diartikan sebagai tempat atau lingkungan di mana suatu organisme hidup. Untuk komunitas itu sendiri berisi banyaknya organisme yang hidup dalam suatu tempat. Sedangkan istilah populasi itu menunjukkan jumlah organisme tertentu dalam suatu tempat.

Aliran energi dan konservasi

Kehadiran bahan kimia di lingkungan akan memberi porsi tersendiri dalam mengalirkan energi di ekosistem manapun. Belum lagi dalam lingkungan itu terjadi interaksi luar. Bisa di antara ekosistem yang ada, termasuk akibat interaksi dengan perilaku manusia. Inilah ruh dan potensi aliran energi yang terjadi dalam lingkungan kehidupan ekosistem manusia.

Terkait dengan energi di lingkungan ini, saya teringat dengan hukum thermodinamika I dan entropi. Hukum thermodinamika I terkait dengan konservasi energi menyebutkan: “Energi tidak dapat diciptakan ataupun dimusnahkan, melainkan hanya bisa diubah bentuknya saja.” Artinya, dalam hidup ini segala sesuatu berubah. Kehidupan (mahluk hidup) hanya mentrasfer materi. Energi itu polanya bisa dibuang, digunakan kembali (reuse), dan meformulasi ulang (reformulasi). Sementara, entropi sebagai satu besaran termodinamika yang mengukur energi mengajarkan adanya transformasi energi akan menghasilkan limbah atau polutan (waste). Dan polutan ini tak dapat dinolkan. Tapi, hanya kadarnya saja yang diturunkan sampai batas toleransi.

Pada konteks ini, massa itu tidak dapat diciptakan dan dimusnahkan. Ia hanya dapat ditransfer dari satu bentuk ke bentuk yang lain. Faktor sistem lingkunganlah yang mengubah massa suatu elemen tertentu. Jadi, konservasi massa itu mengajarkan bahwa sesuatu itu bersifat dinamis. Keberadaan polusi tak dapat ditiadakan. Proses yang terjadi di dunia ini, baik dari benda hidup maupun benda mati hanya mengubah bentuk dan mentransfer ke bagian lain. Untuk itu, atas dasar pola pikir inilah kita dapat melakukan pemanfaatan dalam wujud proses, sistem pembuangan, reuse, dan reformulasi energi bahan kimia yang mengganggu kehidupan manusia.

Bagaimana menurut Anda? Silahkan tulis komentarnya di kolom bawah ini ya! Salam sukses selalu. Aamiin.

Bersambung ke edisi tanggal 02/10/2020 ==> Kimia lingkungan

Arda Dinata adalah Peneliti dan Alumnus Magister Ilmu Kesehatan Masyarakat Minat Kesehatan Lingkungan FK UGM Yogyakarta.




Toko Sosmed
PUSAT EBOOK: KESLING-MOTIVASI-PENGEMBANGAN DIRI-
Miliki Ebook Inspiratif Karya Arda Dinata Di Sini!

Bermesraan dengan (Kimia) Lingkungan

oleh Arda Dinata

MANUSIA, lingkungan, dan bencana telah melahirkan cerita tiada henti. Tanpa bencanapun, bahan kimia tak hentinya menyebar dan bersinggungan dengan kehidupan manusia. Apalagi, tak kala bencana itu hadir menyapa kehidupan manusia, tentu jumlah dan kualitasnya makin bertambah.

Manusia itu tiap hari selalu bermesraan dengan bahan kimia dan lingkungan. Mungkin selama ini Anda sadar atau pun tidak sadar dalam perilaku hariannya selalu bersinggungan dengan lingkungan dan bahan kimia. Pada lingkungan itulah begitu banyak tersebar bahan kimia. Baik bahan kimia yang menguntungkan maupun yang berbahaya bila kadarnya berlebihan.

WWW.ARDADINATA.COM
Coba Anda renungkan dari mulai bangun tidur sampai tidur lagi, berapa banyak bahan kimia yang bersinggungan dengan tubuh kita? Baik bersinggungan secara langsung maupun tidak langsung. Mulai dari yang menempel dalam tubuh, terhirup, dan masuk dalam tubuh lewat makanan maupun minuman. Proses interaksi bahan kimia dengan lingkungan dan tubuh seperti inilah, sesungguhnya awal mula proses yang mempengaruhi kualitas dan kesehatan tubuh manusia.

Lingkungan itu apa yang ada di sekitar kita. Pada lingkungan ini ada lapisan atmosfir (lapisan udara/gas); hidrosfir (lautan); geosfir (padatan bumi); litosfir (lapisan bumi 50-100 KM); dan biosfir (tempat kehidupan biotik dan abiotik). Pada lingkungan itulah ada istilah ekologi, ekosistem, habitat, komunitas, dan populasi.

Ekologi itu tempat hidup dan keberadaannya terus melakukan adaptasi dengan kondisi lingkungan. Dalam ekologi itu terdapat aneka ekosistem. Yakni tempat interaksi antar organisme dan lingkungan fisik yang membentuk tatanan atau sistem tertentu. Misalnya ada ekosistem air tawar, ekosistem pesisir, ekosistem hutan, dan lainnya.

Sementara itu, habitat diartikan sebagai tempat atau lingkungan di mana suatu organisme hidup. Untuk komunitas itu sendiri berisi banyaknya organisme yang hidup dalam suatu tempat. Sedangkan istilah populasi itu menunjukkan jumlah organisme tertentu dalam suatu tempat.

Aliran energi dan konservasi

Kehadiran bahan kimia di lingkungan akan memberi porsi tersendiri dalam mengalirkan energi di ekosistem manapun. Belum lagi dalam lingkungan itu terjadi interaksi luar. Bisa di antara ekosistem yang ada, termasuk akibat interaksi dengan perilaku manusia. Inilah ruh dan potensi aliran energi yang terjadi dalam lingkungan kehidupan ekosistem manusia.

Terkait dengan energi di lingkungan ini, saya teringat dengan hukum thermodinamika I dan entropi. Hukum thermodinamika I terkait dengan konservasi energi menyebutkan: “Energi tidak dapat diciptakan ataupun dimusnahkan, melainkan hanya bisa diubah bentuknya saja.” Artinya, dalam hidup ini segala sesuatu berubah. Kehidupan (mahluk hidup) hanya mentrasfer materi. Energi itu polanya bisa dibuang, digunakan kembali (reuse), dan meformulasi ulang (reformulasi). Sementara, entropi sebagai satu besaran termodinamika yang mengukur energi mengajarkan adanya transformasi energi akan menghasilkan limbah atau polutan (waste). Dan polutan ini tak dapat dinolkan. Tapi, hanya kadarnya saja yang diturunkan sampai batas toleransi.

Pada konteks ini, massa itu tidak dapat diciptakan dan dimusnahkan. Ia hanya dapat ditransfer dari satu bentuk ke bentuk yang lain. Faktor sistem lingkunganlah yang mengubah massa suatu elemen tertentu. Jadi, konservasi massa itu mengajarkan bahwa sesuatu itu bersifat dinamis. Keberadaan polusi tak dapat ditiadakan. Proses yang terjadi di dunia ini, baik dari benda hidup maupun benda mati hanya mengubah bentuk dan mentransfer ke bagian lain. Untuk itu, atas dasar pola pikir inilah kita dapat melakukan pemanfaatan dalam wujud proses, sistem pembuangan, reuse, dan reformulasi energi bahan kimia yang mengganggu kehidupan manusia.

Bagaimana menurut Anda? Silahkan tulis komentarnya di kolom bawah ini ya! Salam sukses selalu. Aamiin.

Bersambung ke edisi tanggal 02/10/2020 ==> Kimia lingkungan

Arda Dinata adalah Peneliti dan Alumnus Magister Ilmu Kesehatan Masyarakat Minat Kesehatan Lingkungan FK UGM Yogyakarta.




Toko Sosmed
PUSAT EBOOK: KESLING-MOTIVASI-PENGEMBANGAN DIRI-
Miliki Ebook Inspiratif Karya Arda Dinata Di Sini!

Bermesraan dengan (Kimia) Lingkungan

oleh Arda Dinata

MANUSIA, lingkungan, dan bencana telah melahirkan cerita tiada henti. Tanpa bencanapun, bahan kimia tak hentinya menyebar dan bersinggungan dengan kehidupan manusia. Apalagi, tak kala bencana itu hadir menyapa kehidupan manusia, tentu jumlah dan kualitasnya makin bertambah.

Manusia itu tiap hari selalu bermesraan dengan bahan kimia dan lingkungan. Mungkin selama ini Anda sadar atau pun tidak sadar dalam perilaku hariannya selalu bersinggungan dengan lingkungan dan bahan kimia. Pada lingkungan itulah begitu banyak tersebar bahan kimia. Baik bahan kimia yang menguntungkan maupun yang berbahaya bila kadarnya berlebihan.

WWW.ARDADINATA.COM
Coba Anda renungkan dari mulai bangun tidur sampai tidur lagi, berapa banyak bahan kimia yang bersinggungan dengan tubuh kita? Baik bersinggungan secara langsung maupun tidak langsung. Mulai dari yang menempel dalam tubuh, terhirup, dan masuk dalam tubuh lewat makanan maupun minuman. Proses interaksi bahan kimia dengan lingkungan dan tubuh seperti inilah, sesungguhnya awal mula proses yang mempengaruhi kualitas dan kesehatan tubuh manusia.

Lingkungan itu apa yang ada di sekitar kita. Pada lingkungan ini ada lapisan atmosfir (lapisan udara/gas); hidrosfir (lautan); geosfir (padatan bumi); litosfir (lapisan bumi 50-100 KM); dan biosfir (tempat kehidupan biotik dan abiotik). Pada lingkungan itulah ada istilah ekologi, ekosistem, habitat, komunitas, dan populasi.

Ekologi itu tempat hidup dan keberadaannya terus melakukan adaptasi dengan kondisi lingkungan. Dalam ekologi itu terdapat aneka ekosistem. Yakni tempat interaksi antar organisme dan lingkungan fisik yang membentuk tatanan atau sistem tertentu. Misalnya ada ekosistem air tawar, ekosistem pesisir, ekosistem hutan, dan lainnya.

Sementara itu, habitat diartikan sebagai tempat atau lingkungan di mana suatu organisme hidup. Untuk komunitas itu sendiri berisi banyaknya organisme yang hidup dalam suatu tempat. Sedangkan istilah populasi itu menunjukkan jumlah organisme tertentu dalam suatu tempat.

Aliran energi dan konservasi

Kehadiran bahan kimia di lingkungan akan memberi porsi tersendiri dalam mengalirkan energi di ekosistem manapun. Belum lagi dalam lingkungan itu terjadi interaksi luar. Bisa di antara ekosistem yang ada, termasuk akibat interaksi dengan perilaku manusia. Inilah ruh dan potensi aliran energi yang terjadi dalam lingkungan kehidupan ekosistem manusia.

Terkait dengan energi di lingkungan ini, saya teringat dengan hukum thermodinamika I dan entropi. Hukum thermodinamika I terkait dengan konservasi energi menyebutkan: “Energi tidak dapat diciptakan ataupun dimusnahkan, melainkan hanya bisa diubah bentuknya saja.” Artinya, dalam hidup ini segala sesuatu berubah. Kehidupan (mahluk hidup) hanya mentrasfer materi. Energi itu polanya bisa dibuang, digunakan kembali (reuse), dan meformulasi ulang (reformulasi). Sementara, entropi sebagai satu besaran termodinamika yang mengukur energi mengajarkan adanya transformasi energi akan menghasilkan limbah atau polutan (waste). Dan polutan ini tak dapat dinolkan. Tapi, hanya kadarnya saja yang diturunkan sampai batas toleransi.

Pada konteks ini, massa itu tidak dapat diciptakan dan dimusnahkan. Ia hanya dapat ditransfer dari satu bentuk ke bentuk yang lain. Faktor sistem lingkunganlah yang mengubah massa suatu elemen tertentu. Jadi, konservasi massa itu mengajarkan bahwa sesuatu itu bersifat dinamis. Keberadaan polusi tak dapat ditiadakan. Proses yang terjadi di dunia ini, baik dari benda hidup maupun benda mati hanya mengubah bentuk dan mentransfer ke bagian lain. Untuk itu, atas dasar pola pikir inilah kita dapat melakukan pemanfaatan dalam wujud proses, sistem pembuangan, reuse, dan reformulasi energi bahan kimia yang mengganggu kehidupan manusia.

Bagaimana menurut Anda? Silahkan tulis komentarnya di kolom bawah ini ya! Salam sukses selalu. Aamiin.

Bersambung ke edisi tanggal 02/10/2020 ==> Kimia lingkungan

Arda Dinata adalah Peneliti dan Alumnus Magister Ilmu Kesehatan Masyarakat Minat Kesehatan Lingkungan FK UGM Yogyakarta.




Toko Sosmed
PUSAT EBOOK: KESLING-MOTIVASI-PENGEMBANGAN DIRI-
Miliki Ebook Inspiratif Karya Arda Dinata Di Sini!

Bermesraan dengan (Kimia) Lingkungan

oleh Arda Dinata

MANUSIA, lingkungan, dan bencana telah melahirkan cerita tiada henti. Tanpa bencanapun, bahan kimia tak hentinya menyebar dan bersinggungan dengan kehidupan manusia. Apalagi, tak kala bencana itu hadir menyapa kehidupan manusia, tentu jumlah dan kualitasnya makin bertambah.

Manusia itu tiap hari selalu bermesraan dengan bahan kimia dan lingkungan. Mungkin selama ini Anda sadar atau pun tidak sadar dalam perilaku hariannya selalu bersinggungan dengan lingkungan dan bahan kimia. Pada lingkungan itulah begitu banyak tersebar bahan kimia. Baik bahan kimia yang menguntungkan maupun yang berbahaya bila kadarnya berlebihan.

WWW.ARDADINATA.COM
Coba Anda renungkan dari mulai bangun tidur sampai tidur lagi, berapa banyak bahan kimia yang bersinggungan dengan tubuh kita? Baik bersinggungan secara langsung maupun tidak langsung. Mulai dari yang menempel dalam tubuh, terhirup, dan masuk dalam tubuh lewat makanan maupun minuman. Proses interaksi bahan kimia dengan lingkungan dan tubuh seperti inilah, sesungguhnya awal mula proses yang mempengaruhi kualitas dan kesehatan tubuh manusia.

Lingkungan itu apa yang ada di sekitar kita. Pada lingkungan ini ada lapisan atmosfir (lapisan udara/gas); hidrosfir (lautan); geosfir (padatan bumi); litosfir (lapisan bumi 50-100 KM); dan biosfir (tempat kehidupan biotik dan abiotik). Pada lingkungan itulah ada istilah ekologi, ekosistem, habitat, komunitas, dan populasi.

Ekologi itu tempat hidup dan keberadaannya terus melakukan adaptasi dengan kondisi lingkungan. Dalam ekologi itu terdapat aneka ekosistem. Yakni tempat interaksi antar organisme dan lingkungan fisik yang membentuk tatanan atau sistem tertentu. Misalnya ada ekosistem air tawar, ekosistem pesisir, ekosistem hutan, dan lainnya.

Sementara itu, habitat diartikan sebagai tempat atau lingkungan di mana suatu organisme hidup. Untuk komunitas itu sendiri berisi banyaknya organisme yang hidup dalam suatu tempat. Sedangkan istilah populasi itu menunjukkan jumlah organisme tertentu dalam suatu tempat.

Aliran energi dan konservasi

Kehadiran bahan kimia di lingkungan akan memberi porsi tersendiri dalam mengalirkan energi di ekosistem manapun. Belum lagi dalam lingkungan itu terjadi interaksi luar. Bisa di antara ekosistem yang ada, termasuk akibat interaksi dengan perilaku manusia. Inilah ruh dan potensi aliran energi yang terjadi dalam lingkungan kehidupan ekosistem manusia.

Terkait dengan energi di lingkungan ini, saya teringat dengan hukum thermodinamika I dan entropi. Hukum thermodinamika I terkait dengan konservasi energi menyebutkan: “Energi tidak dapat diciptakan ataupun dimusnahkan, melainkan hanya bisa diubah bentuknya saja.” Artinya, dalam hidup ini segala sesuatu berubah. Kehidupan (mahluk hidup) hanya mentrasfer materi. Energi itu polanya bisa dibuang, digunakan kembali (reuse), dan meformulasi ulang (reformulasi). Sementara, entropi sebagai satu besaran termodinamika yang mengukur energi mengajarkan adanya transformasi energi akan menghasilkan limbah atau polutan (waste). Dan polutan ini tak dapat dinolkan. Tapi, hanya kadarnya saja yang diturunkan sampai batas toleransi.

Pada konteks ini, massa itu tidak dapat diciptakan dan dimusnahkan. Ia hanya dapat ditransfer dari satu bentuk ke bentuk yang lain. Faktor sistem lingkunganlah yang mengubah massa suatu elemen tertentu. Jadi, konservasi massa itu mengajarkan bahwa sesuatu itu bersifat dinamis. Keberadaan polusi tak dapat ditiadakan. Proses yang terjadi di dunia ini, baik dari benda hidup maupun benda mati hanya mengubah bentuk dan mentransfer ke bagian lain. Untuk itu, atas dasar pola pikir inilah kita dapat melakukan pemanfaatan dalam wujud proses, sistem pembuangan, reuse, dan reformulasi energi bahan kimia yang mengganggu kehidupan manusia.

Bagaimana menurut Anda? Silahkan tulis komentarnya di kolom bawah ini ya! Salam sukses selalu. Aamiin.

Bersambung ke edisi tanggal 02/10/2020 ==> Kimia lingkungan

Arda Dinata adalah Peneliti dan Alumnus Magister Ilmu Kesehatan Masyarakat Minat Kesehatan Lingkungan FK UGM Yogyakarta.




Toko Sosmed
PUSAT EBOOK: KESLING-MOTIVASI-PENGEMBANGAN DIRI-
Miliki Ebook Inspiratif Karya Arda Dinata Di Sini!

Bermesraan dengan (Kimia) Lingkungan

oleh Arda Dinata

MANUSIA, lingkungan, dan bencana telah melahirkan cerita tiada henti. Tanpa bencanapun, bahan kimia tak hentinya menyebar dan bersinggungan dengan kehidupan manusia. Apalagi, tak kala bencana itu hadir menyapa kehidupan manusia, tentu jumlah dan kualitasnya makin bertambah.

Manusia itu tiap hari selalu bermesraan dengan bahan kimia dan lingkungan. Mungkin selama ini Anda sadar atau pun tidak sadar dalam perilaku hariannya selalu bersinggungan dengan lingkungan dan bahan kimia. Pada lingkungan itulah begitu banyak tersebar bahan kimia. Baik bahan kimia yang menguntungkan maupun yang berbahaya bila kadarnya berlebihan.

WWW.ARDADINATA.COM
Coba Anda renungkan dari mulai bangun tidur sampai tidur lagi, berapa banyak bahan kimia yang bersinggungan dengan tubuh kita? Baik bersinggungan secara langsung maupun tidak langsung. Mulai dari yang menempel dalam tubuh, terhirup, dan masuk dalam tubuh lewat makanan maupun minuman. Proses interaksi bahan kimia dengan lingkungan dan tubuh seperti inilah, sesungguhnya awal mula proses yang mempengaruhi kualitas dan kesehatan tubuh manusia.

Lingkungan itu apa yang ada di sekitar kita. Pada lingkungan ini ada lapisan atmosfir (lapisan udara/gas); hidrosfir (lautan); geosfir (padatan bumi); litosfir (lapisan bumi 50-100 KM); dan biosfir (tempat kehidupan biotik dan abiotik). Pada lingkungan itulah ada istilah ekologi, ekosistem, habitat, komunitas, dan populasi.

Ekologi itu tempat hidup dan keberadaannya terus melakukan adaptasi dengan kondisi lingkungan. Dalam ekologi itu terdapat aneka ekosistem. Yakni tempat interaksi antar organisme dan lingkungan fisik yang membentuk tatanan atau sistem tertentu. Misalnya ada ekosistem air tawar, ekosistem pesisir, ekosistem hutan, dan lainnya.

Sementara itu, habitat diartikan sebagai tempat atau lingkungan di mana suatu organisme hidup. Untuk komunitas itu sendiri berisi banyaknya organisme yang hidup dalam suatu tempat. Sedangkan istilah populasi itu menunjukkan jumlah organisme tertentu dalam suatu tempat.

Aliran energi dan konservasi

Kehadiran bahan kimia di lingkungan akan memberi porsi tersendiri dalam mengalirkan energi di ekosistem manapun. Belum lagi dalam lingkungan itu terjadi interaksi luar. Bisa di antara ekosistem yang ada, termasuk akibat interaksi dengan perilaku manusia. Inilah ruh dan potensi aliran energi yang terjadi dalam lingkungan kehidupan ekosistem manusia.

Terkait dengan energi di lingkungan ini, saya teringat dengan hukum thermodinamika I dan entropi. Hukum thermodinamika I terkait dengan konservasi energi menyebutkan: “Energi tidak dapat diciptakan ataupun dimusnahkan, melainkan hanya bisa diubah bentuknya saja.” Artinya, dalam hidup ini segala sesuatu berubah. Kehidupan (mahluk hidup) hanya mentrasfer materi. Energi itu polanya bisa dibuang, digunakan kembali (reuse), dan meformulasi ulang (reformulasi). Sementara, entropi sebagai satu besaran termodinamika yang mengukur energi mengajarkan adanya transformasi energi akan menghasilkan limbah atau polutan (waste). Dan polutan ini tak dapat dinolkan. Tapi, hanya kadarnya saja yang diturunkan sampai batas toleransi.

Pada konteks ini, massa itu tidak dapat diciptakan dan dimusnahkan. Ia hanya dapat ditransfer dari satu bentuk ke bentuk yang lain. Faktor sistem lingkunganlah yang mengubah massa suatu elemen tertentu. Jadi, konservasi massa itu mengajarkan bahwa sesuatu itu bersifat dinamis. Keberadaan polusi tak dapat ditiadakan. Proses yang terjadi di dunia ini, baik dari benda hidup maupun benda mati hanya mengubah bentuk dan mentransfer ke bagian lain. Untuk itu, atas dasar pola pikir inilah kita dapat melakukan pemanfaatan dalam wujud proses, sistem pembuangan, reuse, dan reformulasi energi bahan kimia yang mengganggu kehidupan manusia.

Bagaimana menurut Anda? Silahkan tulis komentarnya di kolom bawah ini ya! Salam sukses selalu. Aamiin.

Bersambung ke edisi tanggal 02/10/2020 ==> Kimia lingkungan

Arda Dinata adalah Peneliti dan Alumnus Magister Ilmu Kesehatan Masyarakat Minat Kesehatan Lingkungan FK UGM Yogyakarta.




Toko Sosmed
PUSAT EBOOK: KESLING-MOTIVASI-PENGEMBANGAN DIRI-
Miliki Ebook Inspiratif Karya Arda Dinata Di Sini!

Bermesraan dengan (Kimia) Lingkungan

oleh Arda Dinata

MANUSIA, lingkungan, dan bencana telah melahirkan cerita tiada henti. Tanpa bencanapun, bahan kimia tak hentinya menyebar dan bersinggungan dengan kehidupan manusia. Apalagi, tak kala bencana itu hadir menyapa kehidupan manusia, tentu jumlah dan kualitasnya makin bertambah.

Manusia itu tiap hari selalu bermesraan dengan bahan kimia dan lingkungan. Mungkin selama ini Anda sadar atau pun tidak sadar dalam perilaku hariannya selalu bersinggungan dengan lingkungan dan bahan kimia. Pada lingkungan itulah begitu banyak tersebar bahan kimia. Baik bahan kimia yang menguntungkan maupun yang berbahaya bila kadarnya berlebihan.

WWW.ARDADINATA.COM
Coba Anda renungkan dari mulai bangun tidur sampai tidur lagi, berapa banyak bahan kimia yang bersinggungan dengan tubuh kita? Baik bersinggungan secara langsung maupun tidak langsung. Mulai dari yang menempel dalam tubuh, terhirup, dan masuk dalam tubuh lewat makanan maupun minuman. Proses interaksi bahan kimia dengan lingkungan dan tubuh seperti inilah, sesungguhnya awal mula proses yang mempengaruhi kualitas dan kesehatan tubuh manusia.

Lingkungan itu apa yang ada di sekitar kita. Pada lingkungan ini ada lapisan atmosfir (lapisan udara/gas); hidrosfir (lautan); geosfir (padatan bumi); litosfir (lapisan bumi 50-100 KM); dan biosfir (tempat kehidupan biotik dan abiotik). Pada lingkungan itulah ada istilah ekologi, ekosistem, habitat, komunitas, dan populasi.

Ekologi itu tempat hidup dan keberadaannya terus melakukan adaptasi dengan kondisi lingkungan. Dalam ekologi itu terdapat aneka ekosistem. Yakni tempat interaksi antar organisme dan lingkungan fisik yang membentuk tatanan atau sistem tertentu. Misalnya ada ekosistem air tawar, ekosistem pesisir, ekosistem hutan, dan lainnya.

Sementara itu, habitat diartikan sebagai tempat atau lingkungan di mana suatu organisme hidup. Untuk komunitas itu sendiri berisi banyaknya organisme yang hidup dalam suatu tempat. Sedangkan istilah populasi itu menunjukkan jumlah organisme tertentu dalam suatu tempat.

Aliran energi dan konservasi

Kehadiran bahan kimia di lingkungan akan memberi porsi tersendiri dalam mengalirkan energi di ekosistem manapun. Belum lagi dalam lingkungan itu terjadi interaksi luar. Bisa di antara ekosistem yang ada, termasuk akibat interaksi dengan perilaku manusia. Inilah ruh dan potensi aliran energi yang terjadi dalam lingkungan kehidupan ekosistem manusia.

Terkait dengan energi di lingkungan ini, saya teringat dengan hukum thermodinamika I dan entropi. Hukum thermodinamika I terkait dengan konservasi energi menyebutkan: “Energi tidak dapat diciptakan ataupun dimusnahkan, melainkan hanya bisa diubah bentuknya saja.” Artinya, dalam hidup ini segala sesuatu berubah. Kehidupan (mahluk hidup) hanya mentrasfer materi. Energi itu polanya bisa dibuang, digunakan kembali (reuse), dan meformulasi ulang (reformulasi). Sementara, entropi sebagai satu besaran termodinamika yang mengukur energi mengajarkan adanya transformasi energi akan menghasilkan limbah atau polutan (waste). Dan polutan ini tak dapat dinolkan. Tapi, hanya kadarnya saja yang diturunkan sampai batas toleransi.

Pada konteks ini, massa itu tidak dapat diciptakan dan dimusnahkan. Ia hanya dapat ditransfer dari satu bentuk ke bentuk yang lain. Faktor sistem lingkunganlah yang mengubah massa suatu elemen tertentu. Jadi, konservasi massa itu mengajarkan bahwa sesuatu itu bersifat dinamis. Keberadaan polusi tak dapat ditiadakan. Proses yang terjadi di dunia ini, baik dari benda hidup maupun benda mati hanya mengubah bentuk dan mentransfer ke bagian lain. Untuk itu, atas dasar pola pikir inilah kita dapat melakukan pemanfaatan dalam wujud proses, sistem pembuangan, reuse, dan reformulasi energi bahan kimia yang mengganggu kehidupan manusia.

Bagaimana menurut Anda? Silahkan tulis komentarnya di kolom bawah ini ya! Salam sukses selalu. Aamiin.

Bersambung ke edisi tanggal 02/10/2020 ==> Kimia lingkungan

Arda Dinata adalah Peneliti dan Alumnus Magister Ilmu Kesehatan Masyarakat Minat Kesehatan Lingkungan FK UGM Yogyakarta.




Toko Sosmed
PUSAT EBOOK: KESLING-MOTIVASI-PENGEMBANGAN DIRI-
Miliki Ebook Inspiratif Karya Arda Dinata Di Sini!

Bermesraan dengan (Kimia) Lingkungan

oleh Arda Dinata

MANUSIA, lingkungan, dan bencana telah melahirkan cerita tiada henti. Tanpa bencanapun, bahan kimia tak hentinya menyebar dan bersinggungan dengan kehidupan manusia. Apalagi, tak kala bencana itu hadir menyapa kehidupan manusia, tentu jumlah dan kualitasnya makin bertambah.

Manusia itu tiap hari selalu bermesraan dengan bahan kimia dan lingkungan. Mungkin selama ini Anda sadar atau pun tidak sadar dalam perilaku hariannya selalu bersinggungan dengan lingkungan dan bahan kimia. Pada lingkungan itulah begitu banyak tersebar bahan kimia. Baik bahan kimia yang menguntungkan maupun yang berbahaya bila kadarnya berlebihan.

WWW.ARDADINATA.COM
Coba Anda renungkan dari mulai bangun tidur sampai tidur lagi, berapa banyak bahan kimia yang bersinggungan dengan tubuh kita? Baik bersinggungan secara langsung maupun tidak langsung. Mulai dari yang menempel dalam tubuh, terhirup, dan masuk dalam tubuh lewat makanan maupun minuman. Proses interaksi bahan kimia dengan lingkungan dan tubuh seperti inilah, sesungguhnya awal mula proses yang mempengaruhi kualitas dan kesehatan tubuh manusia.

Lingkungan itu apa yang ada di sekitar kita. Pada lingkungan ini ada lapisan atmosfir (lapisan udara/gas); hidrosfir (lautan); geosfir (padatan bumi); litosfir (lapisan bumi 50-100 KM); dan biosfir (tempat kehidupan biotik dan abiotik). Pada lingkungan itulah ada istilah ekologi, ekosistem, habitat, komunitas, dan populasi.

Ekologi itu tempat hidup dan keberadaannya terus melakukan adaptasi dengan kondisi lingkungan. Dalam ekologi itu terdapat aneka ekosistem. Yakni tempat interaksi antar organisme dan lingkungan fisik yang membentuk tatanan atau sistem tertentu. Misalnya ada ekosistem air tawar, ekosistem pesisir, ekosistem hutan, dan lainnya.

Sementara itu, habitat diartikan sebagai tempat atau lingkungan di mana suatu organisme hidup. Untuk komunitas itu sendiri berisi banyaknya organisme yang hidup dalam suatu tempat. Sedangkan istilah populasi itu menunjukkan jumlah organisme tertentu dalam suatu tempat.

Aliran energi dan konservasi

Kehadiran bahan kimia di lingkungan akan memberi porsi tersendiri dalam mengalirkan energi di ekosistem manapun. Belum lagi dalam lingkungan itu terjadi interaksi luar. Bisa di antara ekosistem yang ada, termasuk akibat interaksi dengan perilaku manusia. Inilah ruh dan potensi aliran energi yang terjadi dalam lingkungan kehidupan ekosistem manusia.

Terkait dengan energi di lingkungan ini, saya teringat dengan hukum thermodinamika I dan entropi. Hukum thermodinamika I terkait dengan konservasi energi menyebutkan: “Energi tidak dapat diciptakan ataupun dimusnahkan, melainkan hanya bisa diubah bentuknya saja.” Artinya, dalam hidup ini segala sesuatu berubah. Kehidupan (mahluk hidup) hanya mentrasfer materi. Energi itu polanya bisa dibuang, digunakan kembali (reuse), dan meformulasi ulang (reformulasi). Sementara, entropi sebagai satu besaran termodinamika yang mengukur energi mengajarkan adanya transformasi energi akan menghasilkan limbah atau polutan (waste). Dan polutan ini tak dapat dinolkan. Tapi, hanya kadarnya saja yang diturunkan sampai batas toleransi.

Pada konteks ini, massa itu tidak dapat diciptakan dan dimusnahkan. Ia hanya dapat ditransfer dari satu bentuk ke bentuk yang lain. Faktor sistem lingkunganlah yang mengubah massa suatu elemen tertentu. Jadi, konservasi massa itu mengajarkan bahwa sesuatu itu bersifat dinamis. Keberadaan polusi tak dapat ditiadakan. Proses yang terjadi di dunia ini, baik dari benda hidup maupun benda mati hanya mengubah bentuk dan mentransfer ke bagian lain. Untuk itu, atas dasar pola pikir inilah kita dapat melakukan pemanfaatan dalam wujud proses, sistem pembuangan, reuse, dan reformulasi energi bahan kimia yang mengganggu kehidupan manusia.

Bagaimana menurut Anda? Silahkan tulis komentarnya di kolom bawah ini ya! Salam sukses selalu. Aamiin.

Bersambung ke edisi tanggal 02/10/2020 ==> Kimia lingkungan

Arda Dinata adalah Peneliti dan Alumnus Magister Ilmu Kesehatan Masyarakat Minat Kesehatan Lingkungan FK UGM Yogyakarta.




Toko Sosmed
PUSAT EBOOK: KESLING-MOTIVASI-PENGEMBANGAN DIRI-
Miliki Ebook Inspiratif Karya Arda Dinata Di Sini!

Bermesraan dengan (Kimia) Lingkungan

oleh Arda Dinata

MANUSIA, lingkungan, dan bencana telah melahirkan cerita tiada henti. Tanpa bencanapun, bahan kimia tak hentinya menyebar dan bersinggungan dengan kehidupan manusia. Apalagi, tak kala bencana itu hadir menyapa kehidupan manusia, tentu jumlah dan kualitasnya makin bertambah.

Manusia itu tiap hari selalu bermesraan dengan bahan kimia dan lingkungan. Mungkin selama ini Anda sadar atau pun tidak sadar dalam perilaku hariannya selalu bersinggungan dengan lingkungan dan bahan kimia. Pada lingkungan itulah begitu banyak tersebar bahan kimia. Baik bahan kimia yang menguntungkan maupun yang berbahaya bila kadarnya berlebihan.

WWW.ARDADINATA.COM
Coba Anda renungkan dari mulai bangun tidur sampai tidur lagi, berapa banyak bahan kimia yang bersinggungan dengan tubuh kita? Baik bersinggungan secara langsung maupun tidak langsung. Mulai dari yang menempel dalam tubuh, terhirup, dan masuk dalam tubuh lewat makanan maupun minuman. Proses interaksi bahan kimia dengan lingkungan dan tubuh seperti inilah, sesungguhnya awal mula proses yang mempengaruhi kualitas dan kesehatan tubuh manusia.

Lingkungan itu apa yang ada di sekitar kita. Pada lingkungan ini ada lapisan atmosfir (lapisan udara/gas); hidrosfir (lautan); geosfir (padatan bumi); litosfir (lapisan bumi 50-100 KM); dan biosfir (tempat kehidupan biotik dan abiotik). Pada lingkungan itulah ada istilah ekologi, ekosistem, habitat, komunitas, dan populasi.

Ekologi itu tempat hidup dan keberadaannya terus melakukan adaptasi dengan kondisi lingkungan. Dalam ekologi itu terdapat aneka ekosistem. Yakni tempat interaksi antar organisme dan lingkungan fisik yang membentuk tatanan atau sistem tertentu. Misalnya ada ekosistem air tawar, ekosistem pesisir, ekosistem hutan, dan lainnya.

Sementara itu, habitat diartikan sebagai tempat atau lingkungan di mana suatu organisme hidup. Untuk komunitas itu sendiri berisi banyaknya organisme yang hidup dalam suatu tempat. Sedangkan istilah populasi itu menunjukkan jumlah organisme tertentu dalam suatu tempat.

Aliran energi dan konservasi

Kehadiran bahan kimia di lingkungan akan memberi porsi tersendiri dalam mengalirkan energi di ekosistem manapun. Belum lagi dalam lingkungan itu terjadi interaksi luar. Bisa di antara ekosistem yang ada, termasuk akibat interaksi dengan perilaku manusia. Inilah ruh dan potensi aliran energi yang terjadi dalam lingkungan kehidupan ekosistem manusia.

Terkait dengan energi di lingkungan ini, saya teringat dengan hukum thermodinamika I dan entropi. Hukum thermodinamika I terkait dengan konservasi energi menyebutkan: “Energi tidak dapat diciptakan ataupun dimusnahkan, melainkan hanya bisa diubah bentuknya saja.” Artinya, dalam hidup ini segala sesuatu berubah. Kehidupan (mahluk hidup) hanya mentrasfer materi. Energi itu polanya bisa dibuang, digunakan kembali (reuse), dan meformulasi ulang (reformulasi). Sementara, entropi sebagai satu besaran termodinamika yang mengukur energi mengajarkan adanya transformasi energi akan menghasilkan limbah atau polutan (waste). Dan polutan ini tak dapat dinolkan. Tapi, hanya kadarnya saja yang diturunkan sampai batas toleransi.

Pada konteks ini, massa itu tidak dapat diciptakan dan dimusnahkan. Ia hanya dapat ditransfer dari satu bentuk ke bentuk yang lain. Faktor sistem lingkunganlah yang mengubah massa suatu elemen tertentu. Jadi, konservasi massa itu mengajarkan bahwa sesuatu itu bersifat dinamis. Keberadaan polusi tak dapat ditiadakan. Proses yang terjadi di dunia ini, baik dari benda hidup maupun benda mati hanya mengubah bentuk dan mentransfer ke bagian lain. Untuk itu, atas dasar pola pikir inilah kita dapat melakukan pemanfaatan dalam wujud proses, sistem pembuangan, reuse, dan reformulasi energi bahan kimia yang mengganggu kehidupan manusia.

Bagaimana menurut Anda? Silahkan tulis komentarnya di kolom bawah ini ya! Salam sukses selalu. Aamiin.

Bersambung ke edisi tanggal 02/10/2020 ==> Kimia lingkungan

Arda Dinata adalah Peneliti dan Alumnus Magister Ilmu Kesehatan Masyarakat Minat Kesehatan Lingkungan FK UGM Yogyakarta.




Toko Sosmed
PUSAT EBOOK: KESLING-MOTIVASI-PENGEMBANGAN DIRI-
Miliki Ebook Inspiratif Karya Arda Dinata Di Sini!

Bermesraan dengan (Kimia) Lingkungan

oleh Arda Dinata

MANUSIA, lingkungan, dan bencana telah melahirkan cerita tiada henti. Tanpa bencanapun, bahan kimia tak hentinya menyebar dan bersinggungan dengan kehidupan manusia. Apalagi, tak kala bencana itu hadir menyapa kehidupan manusia, tentu jumlah dan kualitasnya makin bertambah.

Manusia itu tiap hari selalu bermesraan dengan bahan kimia dan lingkungan. Mungkin selama ini Anda sadar atau pun tidak sadar dalam perilaku hariannya selalu bersinggungan dengan lingkungan dan bahan kimia. Pada lingkungan itulah begitu banyak tersebar bahan kimia. Baik bahan kimia yang menguntungkan maupun yang berbahaya bila kadarnya berlebihan.

WWW.ARDADINATA.COM
Coba Anda renungkan dari mulai bangun tidur sampai tidur lagi, berapa banyak bahan kimia yang bersinggungan dengan tubuh kita? Baik bersinggungan secara langsung maupun tidak langsung. Mulai dari yang menempel dalam tubuh, terhirup, dan masuk dalam tubuh lewat makanan maupun minuman. Proses interaksi bahan kimia dengan lingkungan dan tubuh seperti inilah, sesungguhnya awal mula proses yang mempengaruhi kualitas dan kesehatan tubuh manusia.

Lingkungan itu apa yang ada di sekitar kita. Pada lingkungan ini ada lapisan atmosfir (lapisan udara/gas); hidrosfir (lautan); geosfir (padatan bumi); litosfir (lapisan bumi 50-100 KM); dan biosfir (tempat kehidupan biotik dan abiotik). Pada lingkungan itulah ada istilah ekologi, ekosistem, habitat, komunitas, dan populasi.

Ekologi itu tempat hidup dan keberadaannya terus melakukan adaptasi dengan kondisi lingkungan. Dalam ekologi itu terdapat aneka ekosistem. Yakni tempat interaksi antar organisme dan lingkungan fisik yang membentuk tatanan atau sistem tertentu. Misalnya ada ekosistem air tawar, ekosistem pesisir, ekosistem hutan, dan lainnya.

Sementara itu, habitat diartikan sebagai tempat atau lingkungan di mana suatu organisme hidup. Untuk komunitas itu sendiri berisi banyaknya organisme yang hidup dalam suatu tempat. Sedangkan istilah populasi itu menunjukkan jumlah organisme tertentu dalam suatu tempat.

Aliran energi dan konservasi

Kehadiran bahan kimia di lingkungan akan memberi porsi tersendiri dalam mengalirkan energi di ekosistem manapun. Belum lagi dalam lingkungan itu terjadi interaksi luar. Bisa di antara ekosistem yang ada, termasuk akibat interaksi dengan perilaku manusia. Inilah ruh dan potensi aliran energi yang terjadi dalam lingkungan kehidupan ekosistem manusia.

Terkait dengan energi di lingkungan ini, saya teringat dengan hukum thermodinamika I dan entropi. Hukum thermodinamika I terkait dengan konservasi energi menyebutkan: “Energi tidak dapat diciptakan ataupun dimusnahkan, melainkan hanya bisa diubah bentuknya saja.” Artinya, dalam hidup ini segala sesuatu berubah. Kehidupan (mahluk hidup) hanya mentrasfer materi. Energi itu polanya bisa dibuang, digunakan kembali (reuse), dan meformulasi ulang (reformulasi). Sementara, entropi sebagai satu besaran termodinamika yang mengukur energi mengajarkan adanya transformasi energi akan menghasilkan limbah atau polutan (waste). Dan polutan ini tak dapat dinolkan. Tapi, hanya kadarnya saja yang diturunkan sampai batas toleransi.

Pada konteks ini, massa itu tidak dapat diciptakan dan dimusnahkan. Ia hanya dapat ditransfer dari satu bentuk ke bentuk yang lain. Faktor sistem lingkunganlah yang mengubah massa suatu elemen tertentu. Jadi, konservasi massa itu mengajarkan bahwa sesuatu itu bersifat dinamis. Keberadaan polusi tak dapat ditiadakan. Proses yang terjadi di dunia ini, baik dari benda hidup maupun benda mati hanya mengubah bentuk dan mentransfer ke bagian lain. Untuk itu, atas dasar pola pikir inilah kita dapat melakukan pemanfaatan dalam wujud proses, sistem pembuangan, reuse, dan reformulasi energi bahan kimia yang mengganggu kehidupan manusia.

Bagaimana menurut Anda? Silahkan tulis komentarnya di kolom bawah ini ya! Salam sukses selalu. Aamiin.

Bersambung ke edisi tanggal 02/10/2020 ==> Kimia lingkungan

Arda Dinata adalah Peneliti dan Alumnus Magister Ilmu Kesehatan Masyarakat Minat Kesehatan Lingkungan FK UGM Yogyakarta.


Majalah Inside Edisi Menghentikan Kebiasaan Merokok
Lihat Detail

Majalah Inside Edisi Menghentikan Kebiasaan Merokok


Konon vape diciptakan untuk membantu perokok menghentikan kebiasaan merokok. Katanya sih vaping dipercaya lebih "sehat" dibandingkan dengan merokok secara konvensional, benarkah demikian? 

Rokok tidak hanya berdampak pada masalah kesehatan. Faktanya buah hati dan ekonomi keluarga anda dapat terancam karenanya. Simak pula peran signifikan SDM kesehatan dalam keberhasilan kawasan tanpa rokok.

Fakta unik salah satu jenis rokok ternyata berasal dari budaya khas Indonesia, eksistensinya sering muncul dalam berbagai cerita rakyat dan ritual-ritual adat. Jenis rokok apa ya..?

Simak ulasan lengkap mengenai rokok dalam Fokus Utama Majalah Inside edisi 28 Volume XV Nomor 1 Juni 2020!

Banyak artikel menarik lainnya juga lho..
  • Memelihara nyamuk "raksasa",
  • Cara mengurangi sarang nyamuk di rumah,
  • Pentingnya pengelolaan sampah,
  • Menghindari resistensi antibiotik,
  • Seluk beluk petugas mikroskopis malaria,
  • Antisipasi post-power syndrome saat pensiun,
  • Liputan workshop menulis ilmiah,
  • Sudut pandang memberikan makna yang berbeda, dll.

Oh iya, bagi Anda yang ingin mendapatkan versi digital MAJALAH INSIDE tersebut, silahkan tulis dikolom komentar: MAU,  lalu segera hubungi kami dengan cara klik No.WhatsApp: 081284826829 ini ya!  Salam sehat.

BEWARA: Bagi Anda yang ingin menulis di Majalah Inside untuk edisi Desember 2020 silahkan ikuti petunjuknya pada gambar di bawah ini:
  

Konon vape diciptakan untuk membantu perokok menghentikan kebiasaan merokok. Katanya sih vaping dipercaya lebih "sehat" dibandingkan dengan merokok secara konvensional, benarkah demikian? 

Rokok tidak hanya berdampak pada masalah kesehatan. Faktanya buah hati dan ekonomi keluarga anda dapat terancam karenanya. Simak pula peran signifikan SDM kesehatan dalam keberhasilan kawasan tanpa rokok.

Fakta unik salah satu jenis rokok ternyata berasal dari budaya khas Indonesia, eksistensinya sering muncul dalam berbagai cerita rakyat dan ritual-ritual adat. Jenis rokok apa ya..?

Simak ulasan lengkap mengenai rokok dalam Fokus Utama Majalah Inside edisi 28 Volume XV Nomor 1 Juni 2020!

Banyak artikel menarik lainnya juga lho..
  • Memelihara nyamuk "raksasa",
  • Cara mengurangi sarang nyamuk di rumah,
  • Pentingnya pengelolaan sampah,
  • Menghindari resistensi antibiotik,
  • Seluk beluk petugas mikroskopis malaria,
  • Antisipasi post-power syndrome saat pensiun,
  • Liputan workshop menulis ilmiah,
  • Sudut pandang memberikan makna yang berbeda, dll.

Oh iya, bagi Anda yang ingin mendapatkan versi digital MAJALAH INSIDE tersebut, silahkan tulis dikolom komentar: MAU,  lalu segera hubungi kami dengan cara klik No.WhatsApp: 081284826829 ini ya!  Salam sehat.

BEWARA: Bagi Anda yang ingin menulis di Majalah Inside untuk edisi Desember 2020 silahkan ikuti petunjuknya pada gambar di bawah ini:
  

Konon vape diciptakan untuk membantu perokok menghentikan kebiasaan merokok. Katanya sih vaping dipercaya lebih "sehat" dibandingkan dengan merokok secara konvensional, benarkah demikian? 

Rokok tidak hanya berdampak pada masalah kesehatan. Faktanya buah hati dan ekonomi keluarga anda dapat terancam karenanya. Simak pula peran signifikan SDM kesehatan dalam keberhasilan kawasan tanpa rokok.

Fakta unik salah satu jenis rokok ternyata berasal dari budaya khas Indonesia, eksistensinya sering muncul dalam berbagai cerita rakyat dan ritual-ritual adat. Jenis rokok apa ya..?

Simak ulasan lengkap mengenai rokok dalam Fokus Utama Majalah Inside edisi 28 Volume XV Nomor 1 Juni 2020!

Banyak artikel menarik lainnya juga lho..
  • Memelihara nyamuk "raksasa",
  • Cara mengurangi sarang nyamuk di rumah,
  • Pentingnya pengelolaan sampah,
  • Menghindari resistensi antibiotik,
  • Seluk beluk petugas mikroskopis malaria,
  • Antisipasi post-power syndrome saat pensiun,
  • Liputan workshop menulis ilmiah,
  • Sudut pandang memberikan makna yang berbeda, dll.

Oh iya, bagi Anda yang ingin mendapatkan versi digital MAJALAH INSIDE tersebut, silahkan tulis dikolom komentar: MAU,  lalu segera hubungi kami dengan cara klik No.WhatsApp: 081284826829 ini ya!  Salam sehat.

BEWARA: Bagi Anda yang ingin menulis di Majalah Inside untuk edisi Desember 2020 silahkan ikuti petunjuknya pada gambar di bawah ini:
  

Konon vape diciptakan untuk membantu perokok menghentikan kebiasaan merokok. Katanya sih vaping dipercaya lebih "sehat" dibandingkan dengan merokok secara konvensional, benarkah demikian? 

Rokok tidak hanya berdampak pada masalah kesehatan. Faktanya buah hati dan ekonomi keluarga anda dapat terancam karenanya. Simak pula peran signifikan SDM kesehatan dalam keberhasilan kawasan tanpa rokok.

Fakta unik salah satu jenis rokok ternyata berasal dari budaya khas Indonesia, eksistensinya sering muncul dalam berbagai cerita rakyat dan ritual-ritual adat. Jenis rokok apa ya..?

Simak ulasan lengkap mengenai rokok dalam Fokus Utama Majalah Inside edisi 28 Volume XV Nomor 1 Juni 2020!

Banyak artikel menarik lainnya juga lho..
  • Memelihara nyamuk "raksasa",
  • Cara mengurangi sarang nyamuk di rumah,
  • Pentingnya pengelolaan sampah,
  • Menghindari resistensi antibiotik,
  • Seluk beluk petugas mikroskopis malaria,
  • Antisipasi post-power syndrome saat pensiun,
  • Liputan workshop menulis ilmiah,
  • Sudut pandang memberikan makna yang berbeda, dll.

Oh iya, bagi Anda yang ingin mendapatkan versi digital MAJALAH INSIDE tersebut, silahkan tulis dikolom komentar: MAU,  lalu segera hubungi kami dengan cara klik No.WhatsApp: 081284826829 ini ya!  Salam sehat.

BEWARA: Bagi Anda yang ingin menulis di Majalah Inside untuk edisi Desember 2020 silahkan ikuti petunjuknya pada gambar di bawah ini:
  

Konon vape diciptakan untuk membantu perokok menghentikan kebiasaan merokok. Katanya sih vaping dipercaya lebih "sehat" dibandingkan dengan merokok secara konvensional, benarkah demikian? 

Rokok tidak hanya berdampak pada masalah kesehatan. Faktanya buah hati dan ekonomi keluarga anda dapat terancam karenanya. Simak pula peran signifikan SDM kesehatan dalam keberhasilan kawasan tanpa rokok.

Fakta unik salah satu jenis rokok ternyata berasal dari budaya khas Indonesia, eksistensinya sering muncul dalam berbagai cerita rakyat dan ritual-ritual adat. Jenis rokok apa ya..?

Simak ulasan lengkap mengenai rokok dalam Fokus Utama Majalah Inside edisi 28 Volume XV Nomor 1 Juni 2020!

Banyak artikel menarik lainnya juga lho..
  • Memelihara nyamuk "raksasa",
  • Cara mengurangi sarang nyamuk di rumah,
  • Pentingnya pengelolaan sampah,
  • Menghindari resistensi antibiotik,
  • Seluk beluk petugas mikroskopis malaria,
  • Antisipasi post-power syndrome saat pensiun,
  • Liputan workshop menulis ilmiah,
  • Sudut pandang memberikan makna yang berbeda, dll.

Oh iya, bagi Anda yang ingin mendapatkan versi digital MAJALAH INSIDE tersebut, silahkan tulis dikolom komentar: MAU,  lalu segera hubungi kami dengan cara klik No.WhatsApp: 081284826829 ini ya!  Salam sehat.

BEWARA: Bagi Anda yang ingin menulis di Majalah Inside untuk edisi Desember 2020 silahkan ikuti petunjuknya pada gambar di bawah ini:
  

Konon vape diciptakan untuk membantu perokok menghentikan kebiasaan merokok. Katanya sih vaping dipercaya lebih "sehat" dibandingkan dengan merokok secara konvensional, benarkah demikian? 

Rokok tidak hanya berdampak pada masalah kesehatan. Faktanya buah hati dan ekonomi keluarga anda dapat terancam karenanya. Simak pula peran signifikan SDM kesehatan dalam keberhasilan kawasan tanpa rokok.

Fakta unik salah satu jenis rokok ternyata berasal dari budaya khas Indonesia, eksistensinya sering muncul dalam berbagai cerita rakyat dan ritual-ritual adat. Jenis rokok apa ya..?

Simak ulasan lengkap mengenai rokok dalam Fokus Utama Majalah Inside edisi 28 Volume XV Nomor 1 Juni 2020!

Banyak artikel menarik lainnya juga lho..
  • Memelihara nyamuk "raksasa",
  • Cara mengurangi sarang nyamuk di rumah,
  • Pentingnya pengelolaan sampah,
  • Menghindari resistensi antibiotik,
  • Seluk beluk petugas mikroskopis malaria,
  • Antisipasi post-power syndrome saat pensiun,
  • Liputan workshop menulis ilmiah,
  • Sudut pandang memberikan makna yang berbeda, dll.

Oh iya, bagi Anda yang ingin mendapatkan versi digital MAJALAH INSIDE tersebut, silahkan tulis dikolom komentar: MAU,  lalu segera hubungi kami dengan cara klik No.WhatsApp: 081284826829 ini ya!  Salam sehat.

BEWARA: Bagi Anda yang ingin menulis di Majalah Inside untuk edisi Desember 2020 silahkan ikuti petunjuknya pada gambar di bawah ini:
  

Konon vape diciptakan untuk membantu perokok menghentikan kebiasaan merokok. Katanya sih vaping dipercaya lebih "sehat" dibandingkan dengan merokok secara konvensional, benarkah demikian? 

Rokok tidak hanya berdampak pada masalah kesehatan. Faktanya buah hati dan ekonomi keluarga anda dapat terancam karenanya. Simak pula peran signifikan SDM kesehatan dalam keberhasilan kawasan tanpa rokok.

Fakta unik salah satu jenis rokok ternyata berasal dari budaya khas Indonesia, eksistensinya sering muncul dalam berbagai cerita rakyat dan ritual-ritual adat. Jenis rokok apa ya..?

Simak ulasan lengkap mengenai rokok dalam Fokus Utama Majalah Inside edisi 28 Volume XV Nomor 1 Juni 2020!

Banyak artikel menarik lainnya juga lho..
  • Memelihara nyamuk "raksasa",
  • Cara mengurangi sarang nyamuk di rumah,
  • Pentingnya pengelolaan sampah,
  • Menghindari resistensi antibiotik,
  • Seluk beluk petugas mikroskopis malaria,
  • Antisipasi post-power syndrome saat pensiun,
  • Liputan workshop menulis ilmiah,
  • Sudut pandang memberikan makna yang berbeda, dll.

Oh iya, bagi Anda yang ingin mendapatkan versi digital MAJALAH INSIDE tersebut, silahkan tulis dikolom komentar: MAU,  lalu segera hubungi kami dengan cara klik No.WhatsApp: 081284826829 ini ya!  Salam sehat.

BEWARA: Bagi Anda yang ingin menulis di Majalah Inside untuk edisi Desember 2020 silahkan ikuti petunjuknya pada gambar di bawah ini:
  

Konon vape diciptakan untuk membantu perokok menghentikan kebiasaan merokok. Katanya sih vaping dipercaya lebih "sehat" dibandingkan dengan merokok secara konvensional, benarkah demikian? 

Rokok tidak hanya berdampak pada masalah kesehatan. Faktanya buah hati dan ekonomi keluarga anda dapat terancam karenanya. Simak pula peran signifikan SDM kesehatan dalam keberhasilan kawasan tanpa rokok.

Fakta unik salah satu jenis rokok ternyata berasal dari budaya khas Indonesia, eksistensinya sering muncul dalam berbagai cerita rakyat dan ritual-ritual adat. Jenis rokok apa ya..?

Simak ulasan lengkap mengenai rokok dalam Fokus Utama Majalah Inside edisi 28 Volume XV Nomor 1 Juni 2020!

Banyak artikel menarik lainnya juga lho..
  • Memelihara nyamuk "raksasa",
  • Cara mengurangi sarang nyamuk di rumah,
  • Pentingnya pengelolaan sampah,
  • Menghindari resistensi antibiotik,
  • Seluk beluk petugas mikroskopis malaria,
  • Antisipasi post-power syndrome saat pensiun,
  • Liputan workshop menulis ilmiah,
  • Sudut pandang memberikan makna yang berbeda, dll.

Oh iya, bagi Anda yang ingin mendapatkan versi digital MAJALAH INSIDE tersebut, silahkan tulis dikolom komentar: MAU,  lalu segera hubungi kami dengan cara klik No.WhatsApp: 081284826829 ini ya!  Salam sehat.

BEWARA: Bagi Anda yang ingin menulis di Majalah Inside untuk edisi Desember 2020 silahkan ikuti petunjuknya pada gambar di bawah ini:
  

Konon vape diciptakan untuk membantu perokok menghentikan kebiasaan merokok. Katanya sih vaping dipercaya lebih "sehat" dibandingkan dengan merokok secara konvensional, benarkah demikian? 

Rokok tidak hanya berdampak pada masalah kesehatan. Faktanya buah hati dan ekonomi keluarga anda dapat terancam karenanya. Simak pula peran signifikan SDM kesehatan dalam keberhasilan kawasan tanpa rokok.

Fakta unik salah satu jenis rokok ternyata berasal dari budaya khas Indonesia, eksistensinya sering muncul dalam berbagai cerita rakyat dan ritual-ritual adat. Jenis rokok apa ya..?

Simak ulasan lengkap mengenai rokok dalam Fokus Utama Majalah Inside edisi 28 Volume XV Nomor 1 Juni 2020!

Banyak artikel menarik lainnya juga lho..
  • Memelihara nyamuk "raksasa",
  • Cara mengurangi sarang nyamuk di rumah,
  • Pentingnya pengelolaan sampah,
  • Menghindari resistensi antibiotik,
  • Seluk beluk petugas mikroskopis malaria,
  • Antisipasi post-power syndrome saat pensiun,
  • Liputan workshop menulis ilmiah,
  • Sudut pandang memberikan makna yang berbeda, dll.

Oh iya, bagi Anda yang ingin mendapatkan versi digital MAJALAH INSIDE tersebut, silahkan tulis dikolom komentar: MAU,  lalu segera hubungi kami dengan cara klik No.WhatsApp: 081284826829 ini ya!  Salam sehat.

BEWARA: Bagi Anda yang ingin menulis di Majalah Inside untuk edisi Desember 2020 silahkan ikuti petunjuknya pada gambar di bawah ini:
  

Konon vape diciptakan untuk membantu perokok menghentikan kebiasaan merokok. Katanya sih vaping dipercaya lebih "sehat" dibandingkan dengan merokok secara konvensional, benarkah demikian? 

Rokok tidak hanya berdampak pada masalah kesehatan. Faktanya buah hati dan ekonomi keluarga anda dapat terancam karenanya. Simak pula peran signifikan SDM kesehatan dalam keberhasilan kawasan tanpa rokok.

Fakta unik salah satu jenis rokok ternyata berasal dari budaya khas Indonesia, eksistensinya sering muncul dalam berbagai cerita rakyat dan ritual-ritual adat. Jenis rokok apa ya..?

Simak ulasan lengkap mengenai rokok dalam Fokus Utama Majalah Inside edisi 28 Volume XV Nomor 1 Juni 2020!

Banyak artikel menarik lainnya juga lho..
  • Memelihara nyamuk "raksasa",
  • Cara mengurangi sarang nyamuk di rumah,
  • Pentingnya pengelolaan sampah,
  • Menghindari resistensi antibiotik,
  • Seluk beluk petugas mikroskopis malaria,
  • Antisipasi post-power syndrome saat pensiun,
  • Liputan workshop menulis ilmiah,
  • Sudut pandang memberikan makna yang berbeda, dll.

Oh iya, bagi Anda yang ingin mendapatkan versi digital MAJALAH INSIDE tersebut, silahkan tulis dikolom komentar: MAU,  lalu segera hubungi kami dengan cara klik No.WhatsApp: 081284826829 ini ya!  Salam sehat.

BEWARA: Bagi Anda yang ingin menulis di Majalah Inside untuk edisi Desember 2020 silahkan ikuti petunjuknya pada gambar di bawah ini:
  

Konon vape diciptakan untuk membantu perokok menghentikan kebiasaan merokok. Katanya sih vaping dipercaya lebih "sehat" dibandingkan dengan merokok secara konvensional, benarkah demikian? 

Rokok tidak hanya berdampak pada masalah kesehatan. Faktanya buah hati dan ekonomi keluarga anda dapat terancam karenanya. Simak pula peran signifikan SDM kesehatan dalam keberhasilan kawasan tanpa rokok.

Fakta unik salah satu jenis rokok ternyata berasal dari budaya khas Indonesia, eksistensinya sering muncul dalam berbagai cerita rakyat dan ritual-ritual adat. Jenis rokok apa ya..?

Simak ulasan lengkap mengenai rokok dalam Fokus Utama Majalah Inside edisi 28 Volume XV Nomor 1 Juni 2020!

Banyak artikel menarik lainnya juga lho..
  • Memelihara nyamuk "raksasa",
  • Cara mengurangi sarang nyamuk di rumah,
  • Pentingnya pengelolaan sampah,
  • Menghindari resistensi antibiotik,
  • Seluk beluk petugas mikroskopis malaria,
  • Antisipasi post-power syndrome saat pensiun,
  • Liputan workshop menulis ilmiah,
  • Sudut pandang memberikan makna yang berbeda, dll.

Oh iya, bagi Anda yang ingin mendapatkan versi digital MAJALAH INSIDE tersebut, silahkan tulis dikolom komentar: MAU,  lalu segera hubungi kami dengan cara klik No.WhatsApp: 081284826829 ini ya!  Salam sehat.

BEWARA: Bagi Anda yang ingin menulis di Majalah Inside untuk edisi Desember 2020 silahkan ikuti petunjuknya pada gambar di bawah ini:
  
Nyamuk Bisa Turunkan Virus DBD ke Telurnya
Lihat Detail

Nyamuk Bisa Turunkan Virus DBD ke Telurnya

“Kalau dulu, transmisi DBD itu kan dari orang sakit digigit darahnya oleh nyamuk, kalau enggak dapat virus ya dia tidak menularkan. Kalau dari penelitian kami, sekarang itu nyamuk sudah trans ovarial, jadi tanpa menggigit, virus DBD terpelihara di populasi nyamuk itu,” ujar Peneliti Entomologi Kesehatan dari Fakultas Kedokteran Hewan Institut Pertanian Bogor, Dr. Drh. Susi Soviana, M.Si.
PENELITI Nyamuk Fakultas Kedokteran Hewan Institut Pertanian Bogor Susi Noviani.* WINDIYATI RETNO SUMARDIYANI/PR
======================================================
BACA JUGA INI:
Salah satu permasalahan besar di Indonesia, khususnya Provinsi Jawa Barat adalah kotornya Sungai Citarum yang merupakan sungai terpanjang dan terbesar di Jawa Barat ini. Sungai Citarum menyuplai air untuk kebutuhan penghidupan setidaknya 28 juta masyarakat di Jakarta, Bekasi, Karawang, Purwakarta, dan Bandung. Lalu, bagaimana agar Sungai Citarum ini menjadi harum dengan menggunakan pola seperti Kolam Bio-Hedge? 
Selengkapnya baca di sini: http://www.ardadinata.com/2019/02/menuju-citarum-harum-dan-mengubah.html
================================================================
BOGOR,(PR).- Masyarakat diharapkan dapat memberikan perlindungan ekstra kepada anak-anak terkait maraknya kasus demam berdarah dengue (DBD). Pasalnya, aktivitas nyamuk aedes aegypty sama dengan aktivitas anak yakni di pagi dan sore hari. Itu sebabnya, penderita DBD mayoritas berasal dari anak-anak. Perlindungannya dapat dilakukan secara sederhana, misalnya dengan mengoleskan obat anti nyamuk sebelum beraktivitas.
“Anak-anak itu aktivitasnya sama dengan nyamuk, dan banyak di dalam ruangan. Kenapa sering berakibat kematian, ya karena memang virus itu menyerang darah, pembuluh darah pecah, jadilah dengue shock syndrome. Mungkin kalau orang besar bisa dipaksa minum, kalau anak-anak susah,” ucap Peneliti Entomologi Kesehatan dari Fakultas Kedokteran Hewan Institut Pertanian Bogor, Dr. Drh. Susi Soviana, M.Si saat dijumpai Pikiran Rakyat di IPB, Rabu 30 Januari 2019.
Populasi nyamuk aedes aegypty pembawa virus demam berdarah dengue, ujar dia, juga semakin meningkat. Berdasarkan hasil penelitian IPB, nyamuk aedes aegypty sudah bisa menurunkan virus DBD ke telurnya. Sementara sebelumnya, virus DBD hanya bisa ditularkan ke manusia setelah nyamuk aedes aegypty menggigit penderita DBD.
“Kalau dulu, transmisi DBD itu kan dari orang sakit digigit darahnya oleh nyamuk, kalau enggak dapat virus ya dia tidak menularkan. Kalau dari penelitian kami, sekarang itu nyamuk sudah trans ovarial, jadi tanpa menggigit, virus DBD terpelihara di populasi nyamuk itu,” ujar Susi.

Meskipun presentasi virus yang diturunkan kecil, Susi meminta masyarakat mewaspadai perkembangbiakan nyamuk  tersebut. Menurut Susi, nyamuk aedes aegypty sudah beradaptasi dengan lingkungan perkotaan. Saat ini, nyamuk pembawa vektor DBD tersebut tidak lagi bertelur di tempat genangan bersih, namun juga genangan air yang bersentuhan langsung dengan tanah.
Susi menyebutkan, nyamuk aedes aegypty dapat menelurkan 100 sampai 250 butir telur dalam sekali bertelur. Sementara nyamuk tersebut bertelur setiap dua hingga tiga hari sekali.
“Telur itu dapat menetas dalam sehari sampai 2 hari, nanti di usia 4 hari dia berubah jadi jentik, dan empat hari kemudian menjadi pupa dan dewasa, dan bisa menghisap darah manusia,” kata Susi.
Menurut Susi, lonjakan kasus DBD yang terjadi pada Januari 2019 ini merupakan hal yang biasa. Pasalnya, Januari merupakan masa peralihan dari musim hujan ke musim kemarau. Semakin banyak struktur bangunan yang bisa menampung air dan tidak terdeteksi, maka genangan tersebut akan menjadi tempat perkembangbiakan nyamuk yang subur.
“Sebenarnya kalau kasusnya meningkat ya enggak aneh, karena nyamuk memang berkembangbiak melalui air. Kenapa di perkotaan banyak kasus DBD? Ya karena makin banyak struktur bangunan yang jadi tempat penampungan air, sementara masyarakat tidak peka terhadap genangan air itu,” ujar Susi.
Terkait pencegahan perkembangbiakan nyamuk aedes aygypty, langkah efektif yang perlu dilakukan sebenarnya sangatlah sederhana. Masyarakat  hanya perlu menghilangkan tempat perkembangbiakan nyamuk yang mayoritas terjadi di dalam ruangan. Gerakan tersebut, kata Susi, harus dilakukan secara massal dan rutin. Tanpa ada genangan, Susi meyakini perkembangbiakan nyamuk tersebut dapat diantisipasi.
Pemerintah, kata Susi juga harus melakukan pemantauan ekstra di kawasan rawan penyebaran DBD. Daerah dengan tingkat kepadatan tinggi, dan sanitasi rendah harus menjadi perhatian pemberantasan sarang nyamuk.
“Keikutsertaan masyarakat untuk ikut program satu rumah satu jumantik jangan disepelekan, ya memang enggak bisa satu rumah, tetapi harus dilakukan semua. Pemerintah juga harus beri warning rutin, kalau hujan datang, masyarakat perlu diingatkan untuk meningkatkan kewaspadaanya dengan membersihkan lingkungan,” kata Susi.
Pengasapan atau fogging, menurut Susi, juga bisa jadi alternatif pencegahan penyebaran virus DBD. Namun, pemerintah daerah setempat harus melakukan evaluasi apakah daerah-daerah rawan penyebaran DBD ini resisten terhadap insektisida atau tidak.
“Resisten terhadap pestisida untuk fogging tidak bisa disamakan satu daerah dengan daerah lain.  Kalau memang sudah resisten ya harus diganti dengan insektisida lain yang golongannya berbeda.  Itu sebabnya, dinas penting melakukan evaluasi terkait resistensi fogging,” ucap Susi.*** (Sumber: HU. Pikiran Rakyat, 31 Januari 2019).

www.ArdaDinata.com: 
| Share, Reference & Education |
| Peneliti, penulis, dan motivator penulisan di media massa |
“Kalau dulu, transmisi DBD itu kan dari orang sakit digigit darahnya oleh nyamuk, kalau enggak dapat virus ya dia tidak menularkan. Kalau dari penelitian kami, sekarang itu nyamuk sudah trans ovarial, jadi tanpa menggigit, virus DBD terpelihara di populasi nyamuk itu,” ujar Peneliti Entomologi Kesehatan dari Fakultas Kedokteran Hewan Institut Pertanian Bogor, Dr. Drh. Susi Soviana, M.Si.
PENELITI Nyamuk Fakultas Kedokteran Hewan Institut Pertanian Bogor Susi Noviani.* WINDIYATI RETNO SUMARDIYANI/PR
======================================================
BACA JUGA INI:
Salah satu permasalahan besar di Indonesia, khususnya Provinsi Jawa Barat adalah kotornya Sungai Citarum yang merupakan sungai terpanjang dan terbesar di Jawa Barat ini. Sungai Citarum menyuplai air untuk kebutuhan penghidupan setidaknya 28 juta masyarakat di Jakarta, Bekasi, Karawang, Purwakarta, dan Bandung. Lalu, bagaimana agar Sungai Citarum ini menjadi harum dengan menggunakan pola seperti Kolam Bio-Hedge? 
Selengkapnya baca di sini: http://www.ardadinata.com/2019/02/menuju-citarum-harum-dan-mengubah.html
================================================================
BOGOR,(PR).- Masyarakat diharapkan dapat memberikan perlindungan ekstra kepada anak-anak terkait maraknya kasus demam berdarah dengue (DBD). Pasalnya, aktivitas nyamuk aedes aegypty sama dengan aktivitas anak yakni di pagi dan sore hari. Itu sebabnya, penderita DBD mayoritas berasal dari anak-anak. Perlindungannya dapat dilakukan secara sederhana, misalnya dengan mengoleskan obat anti nyamuk sebelum beraktivitas.
“Anak-anak itu aktivitasnya sama dengan nyamuk, dan banyak di dalam ruangan. Kenapa sering berakibat kematian, ya karena memang virus itu menyerang darah, pembuluh darah pecah, jadilah dengue shock syndrome. Mungkin kalau orang besar bisa dipaksa minum, kalau anak-anak susah,” ucap Peneliti Entomologi Kesehatan dari Fakultas Kedokteran Hewan Institut Pertanian Bogor, Dr. Drh. Susi Soviana, M.Si saat dijumpai Pikiran Rakyat di IPB, Rabu 30 Januari 2019.
Populasi nyamuk aedes aegypty pembawa virus demam berdarah dengue, ujar dia, juga semakin meningkat. Berdasarkan hasil penelitian IPB, nyamuk aedes aegypty sudah bisa menurunkan virus DBD ke telurnya. Sementara sebelumnya, virus DBD hanya bisa ditularkan ke manusia setelah nyamuk aedes aegypty menggigit penderita DBD.
“Kalau dulu, transmisi DBD itu kan dari orang sakit digigit darahnya oleh nyamuk, kalau enggak dapat virus ya dia tidak menularkan. Kalau dari penelitian kami, sekarang itu nyamuk sudah trans ovarial, jadi tanpa menggigit, virus DBD terpelihara di populasi nyamuk itu,” ujar Susi.

Meskipun presentasi virus yang diturunkan kecil, Susi meminta masyarakat mewaspadai perkembangbiakan nyamuk  tersebut. Menurut Susi, nyamuk aedes aegypty sudah beradaptasi dengan lingkungan perkotaan. Saat ini, nyamuk pembawa vektor DBD tersebut tidak lagi bertelur di tempat genangan bersih, namun juga genangan air yang bersentuhan langsung dengan tanah.
Susi menyebutkan, nyamuk aedes aegypty dapat menelurkan 100 sampai 250 butir telur dalam sekali bertelur. Sementara nyamuk tersebut bertelur setiap dua hingga tiga hari sekali.
“Telur itu dapat menetas dalam sehari sampai 2 hari, nanti di usia 4 hari dia berubah jadi jentik, dan empat hari kemudian menjadi pupa dan dewasa, dan bisa menghisap darah manusia,” kata Susi.
Menurut Susi, lonjakan kasus DBD yang terjadi pada Januari 2019 ini merupakan hal yang biasa. Pasalnya, Januari merupakan masa peralihan dari musim hujan ke musim kemarau. Semakin banyak struktur bangunan yang bisa menampung air dan tidak terdeteksi, maka genangan tersebut akan menjadi tempat perkembangbiakan nyamuk yang subur.
“Sebenarnya kalau kasusnya meningkat ya enggak aneh, karena nyamuk memang berkembangbiak melalui air. Kenapa di perkotaan banyak kasus DBD? Ya karena makin banyak struktur bangunan yang jadi tempat penampungan air, sementara masyarakat tidak peka terhadap genangan air itu,” ujar Susi.
Terkait pencegahan perkembangbiakan nyamuk aedes aygypty, langkah efektif yang perlu dilakukan sebenarnya sangatlah sederhana. Masyarakat  hanya perlu menghilangkan tempat perkembangbiakan nyamuk yang mayoritas terjadi di dalam ruangan. Gerakan tersebut, kata Susi, harus dilakukan secara massal dan rutin. Tanpa ada genangan, Susi meyakini perkembangbiakan nyamuk tersebut dapat diantisipasi.
Pemerintah, kata Susi juga harus melakukan pemantauan ekstra di kawasan rawan penyebaran DBD. Daerah dengan tingkat kepadatan tinggi, dan sanitasi rendah harus menjadi perhatian pemberantasan sarang nyamuk.
“Keikutsertaan masyarakat untuk ikut program satu rumah satu jumantik jangan disepelekan, ya memang enggak bisa satu rumah, tetapi harus dilakukan semua. Pemerintah juga harus beri warning rutin, kalau hujan datang, masyarakat perlu diingatkan untuk meningkatkan kewaspadaanya dengan membersihkan lingkungan,” kata Susi.
Pengasapan atau fogging, menurut Susi, juga bisa jadi alternatif pencegahan penyebaran virus DBD. Namun, pemerintah daerah setempat harus melakukan evaluasi apakah daerah-daerah rawan penyebaran DBD ini resisten terhadap insektisida atau tidak.
“Resisten terhadap pestisida untuk fogging tidak bisa disamakan satu daerah dengan daerah lain.  Kalau memang sudah resisten ya harus diganti dengan insektisida lain yang golongannya berbeda.  Itu sebabnya, dinas penting melakukan evaluasi terkait resistensi fogging,” ucap Susi.*** (Sumber: HU. Pikiran Rakyat, 31 Januari 2019).

www.ArdaDinata.com: 
| Share, Reference & Education |
| Peneliti, penulis, dan motivator penulisan di media massa |
“Kalau dulu, transmisi DBD itu kan dari orang sakit digigit darahnya oleh nyamuk, kalau enggak dapat virus ya dia tidak menularkan. Kalau dari penelitian kami, sekarang itu nyamuk sudah trans ovarial, jadi tanpa menggigit, virus DBD terpelihara di populasi nyamuk itu,” ujar Peneliti Entomologi Kesehatan dari Fakultas Kedokteran Hewan Institut Pertanian Bogor, Dr. Drh. Susi Soviana, M.Si.
PENELITI Nyamuk Fakultas Kedokteran Hewan Institut Pertanian Bogor Susi Noviani.* WINDIYATI RETNO SUMARDIYANI/PR
======================================================
BACA JUGA INI:
Salah satu permasalahan besar di Indonesia, khususnya Provinsi Jawa Barat adalah kotornya Sungai Citarum yang merupakan sungai terpanjang dan terbesar di Jawa Barat ini. Sungai Citarum menyuplai air untuk kebutuhan penghidupan setidaknya 28 juta masyarakat di Jakarta, Bekasi, Karawang, Purwakarta, dan Bandung. Lalu, bagaimana agar Sungai Citarum ini menjadi harum dengan menggunakan pola seperti Kolam Bio-Hedge? 
Selengkapnya baca di sini: http://www.ardadinata.com/2019/02/menuju-citarum-harum-dan-mengubah.html
================================================================
BOGOR,(PR).- Masyarakat diharapkan dapat memberikan perlindungan ekstra kepada anak-anak terkait maraknya kasus demam berdarah dengue (DBD). Pasalnya, aktivitas nyamuk aedes aegypty sama dengan aktivitas anak yakni di pagi dan sore hari. Itu sebabnya, penderita DBD mayoritas berasal dari anak-anak. Perlindungannya dapat dilakukan secara sederhana, misalnya dengan mengoleskan obat anti nyamuk sebelum beraktivitas.
“Anak-anak itu aktivitasnya sama dengan nyamuk, dan banyak di dalam ruangan. Kenapa sering berakibat kematian, ya karena memang virus itu menyerang darah, pembuluh darah pecah, jadilah dengue shock syndrome. Mungkin kalau orang besar bisa dipaksa minum, kalau anak-anak susah,” ucap Peneliti Entomologi Kesehatan dari Fakultas Kedokteran Hewan Institut Pertanian Bogor, Dr. Drh. Susi Soviana, M.Si saat dijumpai Pikiran Rakyat di IPB, Rabu 30 Januari 2019.
Populasi nyamuk aedes aegypty pembawa virus demam berdarah dengue, ujar dia, juga semakin meningkat. Berdasarkan hasil penelitian IPB, nyamuk aedes aegypty sudah bisa menurunkan virus DBD ke telurnya. Sementara sebelumnya, virus DBD hanya bisa ditularkan ke manusia setelah nyamuk aedes aegypty menggigit penderita DBD.
“Kalau dulu, transmisi DBD itu kan dari orang sakit digigit darahnya oleh nyamuk, kalau enggak dapat virus ya dia tidak menularkan. Kalau dari penelitian kami, sekarang itu nyamuk sudah trans ovarial, jadi tanpa menggigit, virus DBD terpelihara di populasi nyamuk itu,” ujar Susi.

Meskipun presentasi virus yang diturunkan kecil, Susi meminta masyarakat mewaspadai perkembangbiakan nyamuk  tersebut. Menurut Susi, nyamuk aedes aegypty sudah beradaptasi dengan lingkungan perkotaan. Saat ini, nyamuk pembawa vektor DBD tersebut tidak lagi bertelur di tempat genangan bersih, namun juga genangan air yang bersentuhan langsung dengan tanah.
Susi menyebutkan, nyamuk aedes aegypty dapat menelurkan 100 sampai 250 butir telur dalam sekali bertelur. Sementara nyamuk tersebut bertelur setiap dua hingga tiga hari sekali.
“Telur itu dapat menetas dalam sehari sampai 2 hari, nanti di usia 4 hari dia berubah jadi jentik, dan empat hari kemudian menjadi pupa dan dewasa, dan bisa menghisap darah manusia,” kata Susi.
Menurut Susi, lonjakan kasus DBD yang terjadi pada Januari 2019 ini merupakan hal yang biasa. Pasalnya, Januari merupakan masa peralihan dari musim hujan ke musim kemarau. Semakin banyak struktur bangunan yang bisa menampung air dan tidak terdeteksi, maka genangan tersebut akan menjadi tempat perkembangbiakan nyamuk yang subur.
“Sebenarnya kalau kasusnya meningkat ya enggak aneh, karena nyamuk memang berkembangbiak melalui air. Kenapa di perkotaan banyak kasus DBD? Ya karena makin banyak struktur bangunan yang jadi tempat penampungan air, sementara masyarakat tidak peka terhadap genangan air itu,” ujar Susi.
Terkait pencegahan perkembangbiakan nyamuk aedes aygypty, langkah efektif yang perlu dilakukan sebenarnya sangatlah sederhana. Masyarakat  hanya perlu menghilangkan tempat perkembangbiakan nyamuk yang mayoritas terjadi di dalam ruangan. Gerakan tersebut, kata Susi, harus dilakukan secara massal dan rutin. Tanpa ada genangan, Susi meyakini perkembangbiakan nyamuk tersebut dapat diantisipasi.
Pemerintah, kata Susi juga harus melakukan pemantauan ekstra di kawasan rawan penyebaran DBD. Daerah dengan tingkat kepadatan tinggi, dan sanitasi rendah harus menjadi perhatian pemberantasan sarang nyamuk.
“Keikutsertaan masyarakat untuk ikut program satu rumah satu jumantik jangan disepelekan, ya memang enggak bisa satu rumah, tetapi harus dilakukan semua. Pemerintah juga harus beri warning rutin, kalau hujan datang, masyarakat perlu diingatkan untuk meningkatkan kewaspadaanya dengan membersihkan lingkungan,” kata Susi.
Pengasapan atau fogging, menurut Susi, juga bisa jadi alternatif pencegahan penyebaran virus DBD. Namun, pemerintah daerah setempat harus melakukan evaluasi apakah daerah-daerah rawan penyebaran DBD ini resisten terhadap insektisida atau tidak.
“Resisten terhadap pestisida untuk fogging tidak bisa disamakan satu daerah dengan daerah lain.  Kalau memang sudah resisten ya harus diganti dengan insektisida lain yang golongannya berbeda.  Itu sebabnya, dinas penting melakukan evaluasi terkait resistensi fogging,” ucap Susi.*** (Sumber: HU. Pikiran Rakyat, 31 Januari 2019).

www.ArdaDinata.com: 
| Share, Reference & Education |
| Peneliti, penulis, dan motivator penulisan di media massa |
“Kalau dulu, transmisi DBD itu kan dari orang sakit digigit darahnya oleh nyamuk, kalau enggak dapat virus ya dia tidak menularkan. Kalau dari penelitian kami, sekarang itu nyamuk sudah trans ovarial, jadi tanpa menggigit, virus DBD terpelihara di populasi nyamuk itu,” ujar Peneliti Entomologi Kesehatan dari Fakultas Kedokteran Hewan Institut Pertanian Bogor, Dr. Drh. Susi Soviana, M.Si.
PENELITI Nyamuk Fakultas Kedokteran Hewan Institut Pertanian Bogor Susi Noviani.* WINDIYATI RETNO SUMARDIYANI/PR
======================================================
BACA JUGA INI:
Salah satu permasalahan besar di Indonesia, khususnya Provinsi Jawa Barat adalah kotornya Sungai Citarum yang merupakan sungai terpanjang dan terbesar di Jawa Barat ini. Sungai Citarum menyuplai air untuk kebutuhan penghidupan setidaknya 28 juta masyarakat di Jakarta, Bekasi, Karawang, Purwakarta, dan Bandung. Lalu, bagaimana agar Sungai Citarum ini menjadi harum dengan menggunakan pola seperti Kolam Bio-Hedge? 
Selengkapnya baca di sini: http://www.ardadinata.com/2019/02/menuju-citarum-harum-dan-mengubah.html
================================================================
BOGOR,(PR).- Masyarakat diharapkan dapat memberikan perlindungan ekstra kepada anak-anak terkait maraknya kasus demam berdarah dengue (DBD). Pasalnya, aktivitas nyamuk aedes aegypty sama dengan aktivitas anak yakni di pagi dan sore hari. Itu sebabnya, penderita DBD mayoritas berasal dari anak-anak. Perlindungannya dapat dilakukan secara sederhana, misalnya dengan mengoleskan obat anti nyamuk sebelum beraktivitas.
“Anak-anak itu aktivitasnya sama dengan nyamuk, dan banyak di dalam ruangan. Kenapa sering berakibat kematian, ya karena memang virus itu menyerang darah, pembuluh darah pecah, jadilah dengue shock syndrome. Mungkin kalau orang besar bisa dipaksa minum, kalau anak-anak susah,” ucap Peneliti Entomologi Kesehatan dari Fakultas Kedokteran Hewan Institut Pertanian Bogor, Dr. Drh. Susi Soviana, M.Si saat dijumpai Pikiran Rakyat di IPB, Rabu 30 Januari 2019.
Populasi nyamuk aedes aegypty pembawa virus demam berdarah dengue, ujar dia, juga semakin meningkat. Berdasarkan hasil penelitian IPB, nyamuk aedes aegypty sudah bisa menurunkan virus DBD ke telurnya. Sementara sebelumnya, virus DBD hanya bisa ditularkan ke manusia setelah nyamuk aedes aegypty menggigit penderita DBD.
“Kalau dulu, transmisi DBD itu kan dari orang sakit digigit darahnya oleh nyamuk, kalau enggak dapat virus ya dia tidak menularkan. Kalau dari penelitian kami, sekarang itu nyamuk sudah trans ovarial, jadi tanpa menggigit, virus DBD terpelihara di populasi nyamuk itu,” ujar Susi.

Meskipun presentasi virus yang diturunkan kecil, Susi meminta masyarakat mewaspadai perkembangbiakan nyamuk  tersebut. Menurut Susi, nyamuk aedes aegypty sudah beradaptasi dengan lingkungan perkotaan. Saat ini, nyamuk pembawa vektor DBD tersebut tidak lagi bertelur di tempat genangan bersih, namun juga genangan air yang bersentuhan langsung dengan tanah.
Susi menyebutkan, nyamuk aedes aegypty dapat menelurkan 100 sampai 250 butir telur dalam sekali bertelur. Sementara nyamuk tersebut bertelur setiap dua hingga tiga hari sekali.
“Telur itu dapat menetas dalam sehari sampai 2 hari, nanti di usia 4 hari dia berubah jadi jentik, dan empat hari kemudian menjadi pupa dan dewasa, dan bisa menghisap darah manusia,” kata Susi.
Menurut Susi, lonjakan kasus DBD yang terjadi pada Januari 2019 ini merupakan hal yang biasa. Pasalnya, Januari merupakan masa peralihan dari musim hujan ke musim kemarau. Semakin banyak struktur bangunan yang bisa menampung air dan tidak terdeteksi, maka genangan tersebut akan menjadi tempat perkembangbiakan nyamuk yang subur.
“Sebenarnya kalau kasusnya meningkat ya enggak aneh, karena nyamuk memang berkembangbiak melalui air. Kenapa di perkotaan banyak kasus DBD? Ya karena makin banyak struktur bangunan yang jadi tempat penampungan air, sementara masyarakat tidak peka terhadap genangan air itu,” ujar Susi.
Terkait pencegahan perkembangbiakan nyamuk aedes aygypty, langkah efektif yang perlu dilakukan sebenarnya sangatlah sederhana. Masyarakat  hanya perlu menghilangkan tempat perkembangbiakan nyamuk yang mayoritas terjadi di dalam ruangan. Gerakan tersebut, kata Susi, harus dilakukan secara massal dan rutin. Tanpa ada genangan, Susi meyakini perkembangbiakan nyamuk tersebut dapat diantisipasi.
Pemerintah, kata Susi juga harus melakukan pemantauan ekstra di kawasan rawan penyebaran DBD. Daerah dengan tingkat kepadatan tinggi, dan sanitasi rendah harus menjadi perhatian pemberantasan sarang nyamuk.
“Keikutsertaan masyarakat untuk ikut program satu rumah satu jumantik jangan disepelekan, ya memang enggak bisa satu rumah, tetapi harus dilakukan semua. Pemerintah juga harus beri warning rutin, kalau hujan datang, masyarakat perlu diingatkan untuk meningkatkan kewaspadaanya dengan membersihkan lingkungan,” kata Susi.
Pengasapan atau fogging, menurut Susi, juga bisa jadi alternatif pencegahan penyebaran virus DBD. Namun, pemerintah daerah setempat harus melakukan evaluasi apakah daerah-daerah rawan penyebaran DBD ini resisten terhadap insektisida atau tidak.
“Resisten terhadap pestisida untuk fogging tidak bisa disamakan satu daerah dengan daerah lain.  Kalau memang sudah resisten ya harus diganti dengan insektisida lain yang golongannya berbeda.  Itu sebabnya, dinas penting melakukan evaluasi terkait resistensi fogging,” ucap Susi.*** (Sumber: HU. Pikiran Rakyat, 31 Januari 2019).

www.ArdaDinata.com: 
| Share, Reference & Education |
| Peneliti, penulis, dan motivator penulisan di media massa |
DBD Merenggut Korban JIwa
Lihat Detail

DBD Merenggut Korban JIwa

Korban diketahui sudah kritis saat dibawa ke rumah sakit. "Trombositnya menurun tajam. Jadi, nyawa korban tak bisa diselamatkan," kata Kepala Bidang Pengendalian dan Pemberantasan Penyakit Dinas Kesehatan Kabupaten Purwakarta, Muhammad Zubaedi, Rabu, 30 Januari 2019.



PURWAKARTA, (PR).- Seorang anak bernama Faza Rifatul Hadanah (7) asal Desa Tegaldatar, Kecamatan Maniis Kabupaten Purwakarta, meninggal dunia akibat Demam Berdarah Dengue. Korban diduga terlambat mendapatkan penanganan medis di rumah sakit.
Korban diketahui sudah kritis saat dibawa ke rumah sakit. "Trombositnya menurun tajam. Jadi, nyawa korban tak bisa diselamatkan," kata Kepala Bidang Pengendalian dan Pemberantasan Penyakit Dinas Kesehatan Kabupaten Purwakarta, Muhammad Zubaedi, Rabu, 30 Januari 2019.
Zubaedi mengakui penderita DBD yang meninggal dunia baru pertama kali terjadi di Kabupaten Purwakarta tahun ini. Sedangkan jumlah penderita DBD yang tercatat di Dinas Kesehatan setempat sepanjang Januari 2019 mencapai 96 orang.
"Data yang kita dapat dari Puskesmas dan rumah sakit, 96 pasien itu memang positif DBD," kata Zubaedi. Dari 17 kecamatan yang ada di daerahnya, ia menyebutkan penderita DBD terbanyak di Pasawahan dan Bungursari sebanyak masing-masing 11 laporan.
Kemunculan korban jiwa pertama akibat DBD membuat Dinas Kesehatan Purwakarta lebih fokus melakukan program pencegahan hingga penanganan. Salah satunya melakukan kegiatan sosialisasi mengenai pola hidup bersih dan pemberantasan sarang nyamuk.
Zubaedi menyarankan masyarakat melakukan upaya pencegahan sebelum muncul korban gigitan nyamuk Aedes aegypti pembawa penyakit DBD dan virus zika. "Masyarakat diharapkan supaya lebih waspada saat musim penghujan ini," katanya.
Selain sosialisasi, pemerintah daerahnya juga telah melakukan pengasapan di sejumlah wilayah yang terdapat laporan penderita DBD positif. Namun upaya tersebut belum maksimal karena masih terkendala anggaran daerah yang minim.
Sementara itu, Direktur Utama RSUD Bayu Asih Purwakarta Agung Darwis mrngakui masih ada pasien DBD yang dirawat di tempatnya. Ia menyebutkan jumlahnya ada enam pasien terdiri dari empat pasien anak-anak dan dua pasien dewasa.
"Kondisi mereka sudah membaik. Namun, masih harus mendapat perawatan," kata Agung. Pasien penyakit DBD terus berdatangan ke RSUD Bayu Asih Purwakarta selama beberapa waktu terakhir. Selama Januari 2019 jumlahnya tercatat sebanyak 42 pasien.*** (Sumber: Pikiran Rakyat, 30 Januari 2019).

www.ArdaDinata.com: 
| Share, Reference & Education |
| Peneliti, penulis, dan motivator penulisan di media massa |
Korban diketahui sudah kritis saat dibawa ke rumah sakit. "Trombositnya menurun tajam. Jadi, nyawa korban tak bisa diselamatkan," kata Kepala Bidang Pengendalian dan Pemberantasan Penyakit Dinas Kesehatan Kabupaten Purwakarta, Muhammad Zubaedi, Rabu, 30 Januari 2019.



PURWAKARTA, (PR).- Seorang anak bernama Faza Rifatul Hadanah (7) asal Desa Tegaldatar, Kecamatan Maniis Kabupaten Purwakarta, meninggal dunia akibat Demam Berdarah Dengue. Korban diduga terlambat mendapatkan penanganan medis di rumah sakit.
Korban diketahui sudah kritis saat dibawa ke rumah sakit. "Trombositnya menurun tajam. Jadi, nyawa korban tak bisa diselamatkan," kata Kepala Bidang Pengendalian dan Pemberantasan Penyakit Dinas Kesehatan Kabupaten Purwakarta, Muhammad Zubaedi, Rabu, 30 Januari 2019.
Zubaedi mengakui penderita DBD yang meninggal dunia baru pertama kali terjadi di Kabupaten Purwakarta tahun ini. Sedangkan jumlah penderita DBD yang tercatat di Dinas Kesehatan setempat sepanjang Januari 2019 mencapai 96 orang.
"Data yang kita dapat dari Puskesmas dan rumah sakit, 96 pasien itu memang positif DBD," kata Zubaedi. Dari 17 kecamatan yang ada di daerahnya, ia menyebutkan penderita DBD terbanyak di Pasawahan dan Bungursari sebanyak masing-masing 11 laporan.
Kemunculan korban jiwa pertama akibat DBD membuat Dinas Kesehatan Purwakarta lebih fokus melakukan program pencegahan hingga penanganan. Salah satunya melakukan kegiatan sosialisasi mengenai pola hidup bersih dan pemberantasan sarang nyamuk.
Zubaedi menyarankan masyarakat melakukan upaya pencegahan sebelum muncul korban gigitan nyamuk Aedes aegypti pembawa penyakit DBD dan virus zika. "Masyarakat diharapkan supaya lebih waspada saat musim penghujan ini," katanya.
Selain sosialisasi, pemerintah daerahnya juga telah melakukan pengasapan di sejumlah wilayah yang terdapat laporan penderita DBD positif. Namun upaya tersebut belum maksimal karena masih terkendala anggaran daerah yang minim.
Sementara itu, Direktur Utama RSUD Bayu Asih Purwakarta Agung Darwis mrngakui masih ada pasien DBD yang dirawat di tempatnya. Ia menyebutkan jumlahnya ada enam pasien terdiri dari empat pasien anak-anak dan dua pasien dewasa.
"Kondisi mereka sudah membaik. Namun, masih harus mendapat perawatan," kata Agung. Pasien penyakit DBD terus berdatangan ke RSUD Bayu Asih Purwakarta selama beberapa waktu terakhir. Selama Januari 2019 jumlahnya tercatat sebanyak 42 pasien.*** (Sumber: Pikiran Rakyat, 30 Januari 2019).

www.ArdaDinata.com: 
| Share, Reference & Education |
| Peneliti, penulis, dan motivator penulisan di media massa |
Korban diketahui sudah kritis saat dibawa ke rumah sakit. "Trombositnya menurun tajam. Jadi, nyawa korban tak bisa diselamatkan," kata Kepala Bidang Pengendalian dan Pemberantasan Penyakit Dinas Kesehatan Kabupaten Purwakarta, Muhammad Zubaedi, Rabu, 30 Januari 2019.



PURWAKARTA, (PR).- Seorang anak bernama Faza Rifatul Hadanah (7) asal Desa Tegaldatar, Kecamatan Maniis Kabupaten Purwakarta, meninggal dunia akibat Demam Berdarah Dengue. Korban diduga terlambat mendapatkan penanganan medis di rumah sakit.
Korban diketahui sudah kritis saat dibawa ke rumah sakit. "Trombositnya menurun tajam. Jadi, nyawa korban tak bisa diselamatkan," kata Kepala Bidang Pengendalian dan Pemberantasan Penyakit Dinas Kesehatan Kabupaten Purwakarta, Muhammad Zubaedi, Rabu, 30 Januari 2019.
Zubaedi mengakui penderita DBD yang meninggal dunia baru pertama kali terjadi di Kabupaten Purwakarta tahun ini. Sedangkan jumlah penderita DBD yang tercatat di Dinas Kesehatan setempat sepanjang Januari 2019 mencapai 96 orang.
"Data yang kita dapat dari Puskesmas dan rumah sakit, 96 pasien itu memang positif DBD," kata Zubaedi. Dari 17 kecamatan yang ada di daerahnya, ia menyebutkan penderita DBD terbanyak di Pasawahan dan Bungursari sebanyak masing-masing 11 laporan.
Kemunculan korban jiwa pertama akibat DBD membuat Dinas Kesehatan Purwakarta lebih fokus melakukan program pencegahan hingga penanganan. Salah satunya melakukan kegiatan sosialisasi mengenai pola hidup bersih dan pemberantasan sarang nyamuk.
Zubaedi menyarankan masyarakat melakukan upaya pencegahan sebelum muncul korban gigitan nyamuk Aedes aegypti pembawa penyakit DBD dan virus zika. "Masyarakat diharapkan supaya lebih waspada saat musim penghujan ini," katanya.
Selain sosialisasi, pemerintah daerahnya juga telah melakukan pengasapan di sejumlah wilayah yang terdapat laporan penderita DBD positif. Namun upaya tersebut belum maksimal karena masih terkendala anggaran daerah yang minim.
Sementara itu, Direktur Utama RSUD Bayu Asih Purwakarta Agung Darwis mrngakui masih ada pasien DBD yang dirawat di tempatnya. Ia menyebutkan jumlahnya ada enam pasien terdiri dari empat pasien anak-anak dan dua pasien dewasa.
"Kondisi mereka sudah membaik. Namun, masih harus mendapat perawatan," kata Agung. Pasien penyakit DBD terus berdatangan ke RSUD Bayu Asih Purwakarta selama beberapa waktu terakhir. Selama Januari 2019 jumlahnya tercatat sebanyak 42 pasien.*** (Sumber: Pikiran Rakyat, 30 Januari 2019).

www.ArdaDinata.com: 
| Share, Reference & Education |
| Peneliti, penulis, dan motivator penulisan di media massa |
Korban diketahui sudah kritis saat dibawa ke rumah sakit. "Trombositnya menurun tajam. Jadi, nyawa korban tak bisa diselamatkan," kata Kepala Bidang Pengendalian dan Pemberantasan Penyakit Dinas Kesehatan Kabupaten Purwakarta, Muhammad Zubaedi, Rabu, 30 Januari 2019.



PURWAKARTA, (PR).- Seorang anak bernama Faza Rifatul Hadanah (7) asal Desa Tegaldatar, Kecamatan Maniis Kabupaten Purwakarta, meninggal dunia akibat Demam Berdarah Dengue. Korban diduga terlambat mendapatkan penanganan medis di rumah sakit.
Korban diketahui sudah kritis saat dibawa ke rumah sakit. "Trombositnya menurun tajam. Jadi, nyawa korban tak bisa diselamatkan," kata Kepala Bidang Pengendalian dan Pemberantasan Penyakit Dinas Kesehatan Kabupaten Purwakarta, Muhammad Zubaedi, Rabu, 30 Januari 2019.
Zubaedi mengakui penderita DBD yang meninggal dunia baru pertama kali terjadi di Kabupaten Purwakarta tahun ini. Sedangkan jumlah penderita DBD yang tercatat di Dinas Kesehatan setempat sepanjang Januari 2019 mencapai 96 orang.
"Data yang kita dapat dari Puskesmas dan rumah sakit, 96 pasien itu memang positif DBD," kata Zubaedi. Dari 17 kecamatan yang ada di daerahnya, ia menyebutkan penderita DBD terbanyak di Pasawahan dan Bungursari sebanyak masing-masing 11 laporan.
Kemunculan korban jiwa pertama akibat DBD membuat Dinas Kesehatan Purwakarta lebih fokus melakukan program pencegahan hingga penanganan. Salah satunya melakukan kegiatan sosialisasi mengenai pola hidup bersih dan pemberantasan sarang nyamuk.
Zubaedi menyarankan masyarakat melakukan upaya pencegahan sebelum muncul korban gigitan nyamuk Aedes aegypti pembawa penyakit DBD dan virus zika. "Masyarakat diharapkan supaya lebih waspada saat musim penghujan ini," katanya.
Selain sosialisasi, pemerintah daerahnya juga telah melakukan pengasapan di sejumlah wilayah yang terdapat laporan penderita DBD positif. Namun upaya tersebut belum maksimal karena masih terkendala anggaran daerah yang minim.
Sementara itu, Direktur Utama RSUD Bayu Asih Purwakarta Agung Darwis mrngakui masih ada pasien DBD yang dirawat di tempatnya. Ia menyebutkan jumlahnya ada enam pasien terdiri dari empat pasien anak-anak dan dua pasien dewasa.
"Kondisi mereka sudah membaik. Namun, masih harus mendapat perawatan," kata Agung. Pasien penyakit DBD terus berdatangan ke RSUD Bayu Asih Purwakarta selama beberapa waktu terakhir. Selama Januari 2019 jumlahnya tercatat sebanyak 42 pasien.*** (Sumber: Pikiran Rakyat, 30 Januari 2019).

www.ArdaDinata.com: 
| Share, Reference & Education |
| Peneliti, penulis, dan motivator penulisan di media massa |
Korban diketahui sudah kritis saat dibawa ke rumah sakit. "Trombositnya menurun tajam. Jadi, nyawa korban tak bisa diselamatkan," kata Kepala Bidang Pengendalian dan Pemberantasan Penyakit Dinas Kesehatan Kabupaten Purwakarta, Muhammad Zubaedi, Rabu, 30 Januari 2019.



PURWAKARTA, (PR).- Seorang anak bernama Faza Rifatul Hadanah (7) asal Desa Tegaldatar, Kecamatan Maniis Kabupaten Purwakarta, meninggal dunia akibat Demam Berdarah Dengue. Korban diduga terlambat mendapatkan penanganan medis di rumah sakit.
Korban diketahui sudah kritis saat dibawa ke rumah sakit. "Trombositnya menurun tajam. Jadi, nyawa korban tak bisa diselamatkan," kata Kepala Bidang Pengendalian dan Pemberantasan Penyakit Dinas Kesehatan Kabupaten Purwakarta, Muhammad Zubaedi, Rabu, 30 Januari 2019.
Zubaedi mengakui penderita DBD yang meninggal dunia baru pertama kali terjadi di Kabupaten Purwakarta tahun ini. Sedangkan jumlah penderita DBD yang tercatat di Dinas Kesehatan setempat sepanjang Januari 2019 mencapai 96 orang.
"Data yang kita dapat dari Puskesmas dan rumah sakit, 96 pasien itu memang positif DBD," kata Zubaedi. Dari 17 kecamatan yang ada di daerahnya, ia menyebutkan penderita DBD terbanyak di Pasawahan dan Bungursari sebanyak masing-masing 11 laporan.
Kemunculan korban jiwa pertama akibat DBD membuat Dinas Kesehatan Purwakarta lebih fokus melakukan program pencegahan hingga penanganan. Salah satunya melakukan kegiatan sosialisasi mengenai pola hidup bersih dan pemberantasan sarang nyamuk.
Zubaedi menyarankan masyarakat melakukan upaya pencegahan sebelum muncul korban gigitan nyamuk Aedes aegypti pembawa penyakit DBD dan virus zika. "Masyarakat diharapkan supaya lebih waspada saat musim penghujan ini," katanya.
Selain sosialisasi, pemerintah daerahnya juga telah melakukan pengasapan di sejumlah wilayah yang terdapat laporan penderita DBD positif. Namun upaya tersebut belum maksimal karena masih terkendala anggaran daerah yang minim.
Sementara itu, Direktur Utama RSUD Bayu Asih Purwakarta Agung Darwis mrngakui masih ada pasien DBD yang dirawat di tempatnya. Ia menyebutkan jumlahnya ada enam pasien terdiri dari empat pasien anak-anak dan dua pasien dewasa.
"Kondisi mereka sudah membaik. Namun, masih harus mendapat perawatan," kata Agung. Pasien penyakit DBD terus berdatangan ke RSUD Bayu Asih Purwakarta selama beberapa waktu terakhir. Selama Januari 2019 jumlahnya tercatat sebanyak 42 pasien.*** (Sumber: Pikiran Rakyat, 30 Januari 2019).

www.ArdaDinata.com: 
| Share, Reference & Education |
| Peneliti, penulis, dan motivator penulisan di media massa |
Korban diketahui sudah kritis saat dibawa ke rumah sakit. "Trombositnya menurun tajam. Jadi, nyawa korban tak bisa diselamatkan," kata Kepala Bidang Pengendalian dan Pemberantasan Penyakit Dinas Kesehatan Kabupaten Purwakarta, Muhammad Zubaedi, Rabu, 30 Januari 2019.



PURWAKARTA, (PR).- Seorang anak bernama Faza Rifatul Hadanah (7) asal Desa Tegaldatar, Kecamatan Maniis Kabupaten Purwakarta, meninggal dunia akibat Demam Berdarah Dengue. Korban diduga terlambat mendapatkan penanganan medis di rumah sakit.
Korban diketahui sudah kritis saat dibawa ke rumah sakit. "Trombositnya menurun tajam. Jadi, nyawa korban tak bisa diselamatkan," kata Kepala Bidang Pengendalian dan Pemberantasan Penyakit Dinas Kesehatan Kabupaten Purwakarta, Muhammad Zubaedi, Rabu, 30 Januari 2019.
Zubaedi mengakui penderita DBD yang meninggal dunia baru pertama kali terjadi di Kabupaten Purwakarta tahun ini. Sedangkan jumlah penderita DBD yang tercatat di Dinas Kesehatan setempat sepanjang Januari 2019 mencapai 96 orang.
"Data yang kita dapat dari Puskesmas dan rumah sakit, 96 pasien itu memang positif DBD," kata Zubaedi. Dari 17 kecamatan yang ada di daerahnya, ia menyebutkan penderita DBD terbanyak di Pasawahan dan Bungursari sebanyak masing-masing 11 laporan.
Kemunculan korban jiwa pertama akibat DBD membuat Dinas Kesehatan Purwakarta lebih fokus melakukan program pencegahan hingga penanganan. Salah satunya melakukan kegiatan sosialisasi mengenai pola hidup bersih dan pemberantasan sarang nyamuk.
Zubaedi menyarankan masyarakat melakukan upaya pencegahan sebelum muncul korban gigitan nyamuk Aedes aegypti pembawa penyakit DBD dan virus zika. "Masyarakat diharapkan supaya lebih waspada saat musim penghujan ini," katanya.
Selain sosialisasi, pemerintah daerahnya juga telah melakukan pengasapan di sejumlah wilayah yang terdapat laporan penderita DBD positif. Namun upaya tersebut belum maksimal karena masih terkendala anggaran daerah yang minim.
Sementara itu, Direktur Utama RSUD Bayu Asih Purwakarta Agung Darwis mrngakui masih ada pasien DBD yang dirawat di tempatnya. Ia menyebutkan jumlahnya ada enam pasien terdiri dari empat pasien anak-anak dan dua pasien dewasa.
"Kondisi mereka sudah membaik. Namun, masih harus mendapat perawatan," kata Agung. Pasien penyakit DBD terus berdatangan ke RSUD Bayu Asih Purwakarta selama beberapa waktu terakhir. Selama Januari 2019 jumlahnya tercatat sebanyak 42 pasien.*** (Sumber: Pikiran Rakyat, 30 Januari 2019).

www.ArdaDinata.com: 
| Share, Reference & Education |
| Peneliti, penulis, dan motivator penulisan di media massa |
Korban diketahui sudah kritis saat dibawa ke rumah sakit. "Trombositnya menurun tajam. Jadi, nyawa korban tak bisa diselamatkan," kata Kepala Bidang Pengendalian dan Pemberantasan Penyakit Dinas Kesehatan Kabupaten Purwakarta, Muhammad Zubaedi, Rabu, 30 Januari 2019.



PURWAKARTA, (PR).- Seorang anak bernama Faza Rifatul Hadanah (7) asal Desa Tegaldatar, Kecamatan Maniis Kabupaten Purwakarta, meninggal dunia akibat Demam Berdarah Dengue. Korban diduga terlambat mendapatkan penanganan medis di rumah sakit.
Korban diketahui sudah kritis saat dibawa ke rumah sakit. "Trombositnya menurun tajam. Jadi, nyawa korban tak bisa diselamatkan," kata Kepala Bidang Pengendalian dan Pemberantasan Penyakit Dinas Kesehatan Kabupaten Purwakarta, Muhammad Zubaedi, Rabu, 30 Januari 2019.
Zubaedi mengakui penderita DBD yang meninggal dunia baru pertama kali terjadi di Kabupaten Purwakarta tahun ini. Sedangkan jumlah penderita DBD yang tercatat di Dinas Kesehatan setempat sepanjang Januari 2019 mencapai 96 orang.
"Data yang kita dapat dari Puskesmas dan rumah sakit, 96 pasien itu memang positif DBD," kata Zubaedi. Dari 17 kecamatan yang ada di daerahnya, ia menyebutkan penderita DBD terbanyak di Pasawahan dan Bungursari sebanyak masing-masing 11 laporan.
Kemunculan korban jiwa pertama akibat DBD membuat Dinas Kesehatan Purwakarta lebih fokus melakukan program pencegahan hingga penanganan. Salah satunya melakukan kegiatan sosialisasi mengenai pola hidup bersih dan pemberantasan sarang nyamuk.
Zubaedi menyarankan masyarakat melakukan upaya pencegahan sebelum muncul korban gigitan nyamuk Aedes aegypti pembawa penyakit DBD dan virus zika. "Masyarakat diharapkan supaya lebih waspada saat musim penghujan ini," katanya.
Selain sosialisasi, pemerintah daerahnya juga telah melakukan pengasapan di sejumlah wilayah yang terdapat laporan penderita DBD positif. Namun upaya tersebut belum maksimal karena masih terkendala anggaran daerah yang minim.
Sementara itu, Direktur Utama RSUD Bayu Asih Purwakarta Agung Darwis mrngakui masih ada pasien DBD yang dirawat di tempatnya. Ia menyebutkan jumlahnya ada enam pasien terdiri dari empat pasien anak-anak dan dua pasien dewasa.
"Kondisi mereka sudah membaik. Namun, masih harus mendapat perawatan," kata Agung. Pasien penyakit DBD terus berdatangan ke RSUD Bayu Asih Purwakarta selama beberapa waktu terakhir. Selama Januari 2019 jumlahnya tercatat sebanyak 42 pasien.*** (Sumber: Pikiran Rakyat, 30 Januari 2019).

www.ArdaDinata.com: 
| Share, Reference & Education |
| Peneliti, penulis, dan motivator penulisan di media massa |
Aedes aegypti juga Membawa Virus Zika
Lihat Detail

Aedes aegypti juga Membawa Virus Zika

Nyamuk, lingkungan dan perilaku manusia adalah tiga komponen yang memberikan kontribusi terhadap tersebarnya penyakit bersumber dari nyamuk.Seberapa pun gigihnya kita melakukan pengendalian terhadap (vektor) nyamuk, bila perilaku hidup bersih dan sehat masyarakatnya yang tidak mendukung, maka keberadaan nyamuk itu akan tetap menjadi ancaman (masalah) dikemudian hari. Untuk itu, langkah yang perlu dilakukan adalah biasakan untuk menjaga keadaan sanitasi lingkungan sekitar tempat tinggal agar tetap bersih dan sehat. Sebab, itulah kunci dalam pengendalian terhadap nyamuk.


DBD Diperkirakan Mewabah Hingga Maret 2019


BEKASI, (PR).- Wabah DBD (demam berdarah dengue) diperkirakan akan terus menjangkiti masyarakat hingga Maret 2019.
Rumah Sakit Umum Daerah dr. Chasbullah Kota Bekasi, sebagai salah satu rumah sakit rujukan, terus bersiap mengantisipasi kemungkinan terjadinya lonjakan kedatangan pasien DBD.
Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinas Kesehatan Kota Bekasi Dezi Syukrawati menyebut, perkiraan tersebut didasarkannya pada kondisi musim hujan yang baru memasuki tahap permulaan.
"Karena musim hujan baru mulai dan beberapa bulan ke depan masih akan sering turun hujan, ancaman wabah DBD pun diperkirakan masih akan terjadi," kata Dezi, Selasa 29 Januari 2019.
Hingga Senin 28 Januari 2019, peningkatan kasus DBD di Kota Bekasi cukup tinggi. Setidaknya, tercatat 75 pasien yang dinyatakan positif terjangkit DBD.
Saat data tersebut disandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya, angkanya mengalami peningkatan hampir dua kali lipat. Terjadi 49 kasus positif DBD pada Januari 2018.
Sementara pada tahun 2017, angkanya menyentuh 89 kasus positif DBD dan 196 kasus positif DBD tercatat pada tahun 2016.
"Untuk tahun 2017 dan 2018, sama-sama ada dua pasien DBD yang meninggal. Adapun pada tahun 2019, hingga saat ini tidak ada pasien DBD yang meninggal," katanya.
PASIEN demam berdarah dengue di Rumah Sakit Umum Daerah dr. Chasbullah Kota Bekasi/RIESTY YUSNILANINGSIH/PR
Mengingat masih panjangnya kemungkinan wabah DBD menjangkiti masyarakat, Dinkes Kota Bekasi terus menggencarkan terlaksananya pola hidup bersih serta pemberantasan sarang nyamuk di lingkungan masyarakat. Sikap itu harus dilakukan bersamaan agar secara serentak jentik-jentik nyamuk bisa dimatikan.
"Kami terus mendorong agar ada satu juru pemantau jentik di setiap rumah yang bertugas memastikan tidak ada genangan air bersih yang bisa dijadikan tempat berkembangbiaknya nyamuk," katanya.
Bila lingkungan sudah dibersihkan serentak, baru upaya pencegahan tambahan bisa dilakukan dengan pengasapan.
"Jadi, bukan pengasapan yang didahulukan, lingkungannya dulu dibersihkan, baru ditambah pengasapan. Jika pengasapan dilakukan bukan pada saat tepat, metodenya salah. Penggunaan obat yang keliru juga tidak akan berdampak," kata Dezi.

Rumah sakit bersiap

Sementara itu, dalam rangka mengantisipasi kemungkinan lonjakan pasien karena tren wabah DBD yang masih akan berlanjut hingga Maret 2019, RSUD dr. Chasbullah telah mempersiapkan serangkaian antisipasi.
"Salah satunya adalah penambahan tempat tidur, dari semula hanya 450 unit, bisa kami siapkan sampai 700 unit. Obat-obatan penanganan DBD pun kami siapkan agar mencukupi jumlahnya bilamana tren kasus DBD masih meningkat," kata Direktur RSUD dr. Chasbullah Kota Bekasi Kusnanto Saidi.
Kepala Bidang Perawatan RSUD dr. Chasbullah Kota Bekasi Sudirman mengatakan, sepanjang Januari 2019, ada 95 pasien yang dirawat karena mengeluhkan gejala seperti terjangkit DBD seperti demam tiga hari berturut-turut, lemah, lesu, tulang terasa ngilu. Akan tetapi, setelah ditangani lebih lanjut, hanya 31 di antaranya yang dinyatakan positif DBD.
"Sisanya ada yang hanya demam dengue atau tipes karena gejalanya hampir mirip," ucapnya.
Hingga saat ini, pasien yang positif DBD bisa tertangani baik dan tidak ada yang meninggal karena datang sebelum kondisinya parah.*** (Sumber: Riesty Yusnilaningsih, PR edisi Selasa, 29 Jan 2019).


www.ArdaDinata.com: 
| Share, Reference & Education |
| Peneliti, penulis, dan motivator penulisan di media massa |
Nyamuk, lingkungan dan perilaku manusia adalah tiga komponen yang memberikan kontribusi terhadap tersebarnya penyakit bersumber dari nyamuk.Seberapa pun gigihnya kita melakukan pengendalian terhadap (vektor) nyamuk, bila perilaku hidup bersih dan sehat masyarakatnya yang tidak mendukung, maka keberadaan nyamuk itu akan tetap menjadi ancaman (masalah) dikemudian hari. Untuk itu, langkah yang perlu dilakukan adalah biasakan untuk menjaga keadaan sanitasi lingkungan sekitar tempat tinggal agar tetap bersih dan sehat. Sebab, itulah kunci dalam pengendalian terhadap nyamuk.


DBD Diperkirakan Mewabah Hingga Maret 2019


BEKASI, (PR).- Wabah DBD (demam berdarah dengue) diperkirakan akan terus menjangkiti masyarakat hingga Maret 2019.
Rumah Sakit Umum Daerah dr. Chasbullah Kota Bekasi, sebagai salah satu rumah sakit rujukan, terus bersiap mengantisipasi kemungkinan terjadinya lonjakan kedatangan pasien DBD.
Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinas Kesehatan Kota Bekasi Dezi Syukrawati menyebut, perkiraan tersebut didasarkannya pada kondisi musim hujan yang baru memasuki tahap permulaan.
"Karena musim hujan baru mulai dan beberapa bulan ke depan masih akan sering turun hujan, ancaman wabah DBD pun diperkirakan masih akan terjadi," kata Dezi, Selasa 29 Januari 2019.
Hingga Senin 28 Januari 2019, peningkatan kasus DBD di Kota Bekasi cukup tinggi. Setidaknya, tercatat 75 pasien yang dinyatakan positif terjangkit DBD.
Saat data tersebut disandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya, angkanya mengalami peningkatan hampir dua kali lipat. Terjadi 49 kasus positif DBD pada Januari 2018.
Sementara pada tahun 2017, angkanya menyentuh 89 kasus positif DBD dan 196 kasus positif DBD tercatat pada tahun 2016.
"Untuk tahun 2017 dan 2018, sama-sama ada dua pasien DBD yang meninggal. Adapun pada tahun 2019, hingga saat ini tidak ada pasien DBD yang meninggal," katanya.
PASIEN demam berdarah dengue di Rumah Sakit Umum Daerah dr. Chasbullah Kota Bekasi/RIESTY YUSNILANINGSIH/PR
Mengingat masih panjangnya kemungkinan wabah DBD menjangkiti masyarakat, Dinkes Kota Bekasi terus menggencarkan terlaksananya pola hidup bersih serta pemberantasan sarang nyamuk di lingkungan masyarakat. Sikap itu harus dilakukan bersamaan agar secara serentak jentik-jentik nyamuk bisa dimatikan.
"Kami terus mendorong agar ada satu juru pemantau jentik di setiap rumah yang bertugas memastikan tidak ada genangan air bersih yang bisa dijadikan tempat berkembangbiaknya nyamuk," katanya.
Bila lingkungan sudah dibersihkan serentak, baru upaya pencegahan tambahan bisa dilakukan dengan pengasapan.
"Jadi, bukan pengasapan yang didahulukan, lingkungannya dulu dibersihkan, baru ditambah pengasapan. Jika pengasapan dilakukan bukan pada saat tepat, metodenya salah. Penggunaan obat yang keliru juga tidak akan berdampak," kata Dezi.

Rumah sakit bersiap

Sementara itu, dalam rangka mengantisipasi kemungkinan lonjakan pasien karena tren wabah DBD yang masih akan berlanjut hingga Maret 2019, RSUD dr. Chasbullah telah mempersiapkan serangkaian antisipasi.
"Salah satunya adalah penambahan tempat tidur, dari semula hanya 450 unit, bisa kami siapkan sampai 700 unit. Obat-obatan penanganan DBD pun kami siapkan agar mencukupi jumlahnya bilamana tren kasus DBD masih meningkat," kata Direktur RSUD dr. Chasbullah Kota Bekasi Kusnanto Saidi.
Kepala Bidang Perawatan RSUD dr. Chasbullah Kota Bekasi Sudirman mengatakan, sepanjang Januari 2019, ada 95 pasien yang dirawat karena mengeluhkan gejala seperti terjangkit DBD seperti demam tiga hari berturut-turut, lemah, lesu, tulang terasa ngilu. Akan tetapi, setelah ditangani lebih lanjut, hanya 31 di antaranya yang dinyatakan positif DBD.
"Sisanya ada yang hanya demam dengue atau tipes karena gejalanya hampir mirip," ucapnya.
Hingga saat ini, pasien yang positif DBD bisa tertangani baik dan tidak ada yang meninggal karena datang sebelum kondisinya parah.*** (Sumber: Riesty Yusnilaningsih, PR edisi Selasa, 29 Jan 2019).


www.ArdaDinata.com: 
| Share, Reference & Education |
| Peneliti, penulis, dan motivator penulisan di media massa |
Nyamuk, lingkungan dan perilaku manusia adalah tiga komponen yang memberikan kontribusi terhadap tersebarnya penyakit bersumber dari nyamuk.Seberapa pun gigihnya kita melakukan pengendalian terhadap (vektor) nyamuk, bila perilaku hidup bersih dan sehat masyarakatnya yang tidak mendukung, maka keberadaan nyamuk itu akan tetap menjadi ancaman (masalah) dikemudian hari. Untuk itu, langkah yang perlu dilakukan adalah biasakan untuk menjaga keadaan sanitasi lingkungan sekitar tempat tinggal agar tetap bersih dan sehat. Sebab, itulah kunci dalam pengendalian terhadap nyamuk.


DBD Diperkirakan Mewabah Hingga Maret 2019


BEKASI, (PR).- Wabah DBD (demam berdarah dengue) diperkirakan akan terus menjangkiti masyarakat hingga Maret 2019.
Rumah Sakit Umum Daerah dr. Chasbullah Kota Bekasi, sebagai salah satu rumah sakit rujukan, terus bersiap mengantisipasi kemungkinan terjadinya lonjakan kedatangan pasien DBD.
Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinas Kesehatan Kota Bekasi Dezi Syukrawati menyebut, perkiraan tersebut didasarkannya pada kondisi musim hujan yang baru memasuki tahap permulaan.
"Karena musim hujan baru mulai dan beberapa bulan ke depan masih akan sering turun hujan, ancaman wabah DBD pun diperkirakan masih akan terjadi," kata Dezi, Selasa 29 Januari 2019.
Hingga Senin 28 Januari 2019, peningkatan kasus DBD di Kota Bekasi cukup tinggi. Setidaknya, tercatat 75 pasien yang dinyatakan positif terjangkit DBD.
Saat data tersebut disandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya, angkanya mengalami peningkatan hampir dua kali lipat. Terjadi 49 kasus positif DBD pada Januari 2018.
Sementara pada tahun 2017, angkanya menyentuh 89 kasus positif DBD dan 196 kasus positif DBD tercatat pada tahun 2016.
"Untuk tahun 2017 dan 2018, sama-sama ada dua pasien DBD yang meninggal. Adapun pada tahun 2019, hingga saat ini tidak ada pasien DBD yang meninggal," katanya.
PASIEN demam berdarah dengue di Rumah Sakit Umum Daerah dr. Chasbullah Kota Bekasi/RIESTY YUSNILANINGSIH/PR
Mengingat masih panjangnya kemungkinan wabah DBD menjangkiti masyarakat, Dinkes Kota Bekasi terus menggencarkan terlaksananya pola hidup bersih serta pemberantasan sarang nyamuk di lingkungan masyarakat. Sikap itu harus dilakukan bersamaan agar secara serentak jentik-jentik nyamuk bisa dimatikan.
"Kami terus mendorong agar ada satu juru pemantau jentik di setiap rumah yang bertugas memastikan tidak ada genangan air bersih yang bisa dijadikan tempat berkembangbiaknya nyamuk," katanya.
Bila lingkungan sudah dibersihkan serentak, baru upaya pencegahan tambahan bisa dilakukan dengan pengasapan.
"Jadi, bukan pengasapan yang didahulukan, lingkungannya dulu dibersihkan, baru ditambah pengasapan. Jika pengasapan dilakukan bukan pada saat tepat, metodenya salah. Penggunaan obat yang keliru juga tidak akan berdampak," kata Dezi.

Rumah sakit bersiap

Sementara itu, dalam rangka mengantisipasi kemungkinan lonjakan pasien karena tren wabah DBD yang masih akan berlanjut hingga Maret 2019, RSUD dr. Chasbullah telah mempersiapkan serangkaian antisipasi.
"Salah satunya adalah penambahan tempat tidur, dari semula hanya 450 unit, bisa kami siapkan sampai 700 unit. Obat-obatan penanganan DBD pun kami siapkan agar mencukupi jumlahnya bilamana tren kasus DBD masih meningkat," kata Direktur RSUD dr. Chasbullah Kota Bekasi Kusnanto Saidi.
Kepala Bidang Perawatan RSUD dr. Chasbullah Kota Bekasi Sudirman mengatakan, sepanjang Januari 2019, ada 95 pasien yang dirawat karena mengeluhkan gejala seperti terjangkit DBD seperti demam tiga hari berturut-turut, lemah, lesu, tulang terasa ngilu. Akan tetapi, setelah ditangani lebih lanjut, hanya 31 di antaranya yang dinyatakan positif DBD.
"Sisanya ada yang hanya demam dengue atau tipes karena gejalanya hampir mirip," ucapnya.
Hingga saat ini, pasien yang positif DBD bisa tertangani baik dan tidak ada yang meninggal karena datang sebelum kondisinya parah.*** (Sumber: Riesty Yusnilaningsih, PR edisi Selasa, 29 Jan 2019).


www.ArdaDinata.com: 
| Share, Reference & Education |
| Peneliti, penulis, dan motivator penulisan di media massa |
Nyamuk, lingkungan dan perilaku manusia adalah tiga komponen yang memberikan kontribusi terhadap tersebarnya penyakit bersumber dari nyamuk.Seberapa pun gigihnya kita melakukan pengendalian terhadap (vektor) nyamuk, bila perilaku hidup bersih dan sehat masyarakatnya yang tidak mendukung, maka keberadaan nyamuk itu akan tetap menjadi ancaman (masalah) dikemudian hari. Untuk itu, langkah yang perlu dilakukan adalah biasakan untuk menjaga keadaan sanitasi lingkungan sekitar tempat tinggal agar tetap bersih dan sehat. Sebab, itulah kunci dalam pengendalian terhadap nyamuk.


DBD Diperkirakan Mewabah Hingga Maret 2019


BEKASI, (PR).- Wabah DBD (demam berdarah dengue) diperkirakan akan terus menjangkiti masyarakat hingga Maret 2019.
Rumah Sakit Umum Daerah dr. Chasbullah Kota Bekasi, sebagai salah satu rumah sakit rujukan, terus bersiap mengantisipasi kemungkinan terjadinya lonjakan kedatangan pasien DBD.
Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinas Kesehatan Kota Bekasi Dezi Syukrawati menyebut, perkiraan tersebut didasarkannya pada kondisi musim hujan yang baru memasuki tahap permulaan.
"Karena musim hujan baru mulai dan beberapa bulan ke depan masih akan sering turun hujan, ancaman wabah DBD pun diperkirakan masih akan terjadi," kata Dezi, Selasa 29 Januari 2019.
Hingga Senin 28 Januari 2019, peningkatan kasus DBD di Kota Bekasi cukup tinggi. Setidaknya, tercatat 75 pasien yang dinyatakan positif terjangkit DBD.
Saat data tersebut disandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya, angkanya mengalami peningkatan hampir dua kali lipat. Terjadi 49 kasus positif DBD pada Januari 2018.
Sementara pada tahun 2017, angkanya menyentuh 89 kasus positif DBD dan 196 kasus positif DBD tercatat pada tahun 2016.
"Untuk tahun 2017 dan 2018, sama-sama ada dua pasien DBD yang meninggal. Adapun pada tahun 2019, hingga saat ini tidak ada pasien DBD yang meninggal," katanya.
PASIEN demam berdarah dengue di Rumah Sakit Umum Daerah dr. Chasbullah Kota Bekasi/RIESTY YUSNILANINGSIH/PR
Mengingat masih panjangnya kemungkinan wabah DBD menjangkiti masyarakat, Dinkes Kota Bekasi terus menggencarkan terlaksananya pola hidup bersih serta pemberantasan sarang nyamuk di lingkungan masyarakat. Sikap itu harus dilakukan bersamaan agar secara serentak jentik-jentik nyamuk bisa dimatikan.
"Kami terus mendorong agar ada satu juru pemantau jentik di setiap rumah yang bertugas memastikan tidak ada genangan air bersih yang bisa dijadikan tempat berkembangbiaknya nyamuk," katanya.
Bila lingkungan sudah dibersihkan serentak, baru upaya pencegahan tambahan bisa dilakukan dengan pengasapan.
"Jadi, bukan pengasapan yang didahulukan, lingkungannya dulu dibersihkan, baru ditambah pengasapan. Jika pengasapan dilakukan bukan pada saat tepat, metodenya salah. Penggunaan obat yang keliru juga tidak akan berdampak," kata Dezi.

Rumah sakit bersiap

Sementara itu, dalam rangka mengantisipasi kemungkinan lonjakan pasien karena tren wabah DBD yang masih akan berlanjut hingga Maret 2019, RSUD dr. Chasbullah telah mempersiapkan serangkaian antisipasi.
"Salah satunya adalah penambahan tempat tidur, dari semula hanya 450 unit, bisa kami siapkan sampai 700 unit. Obat-obatan penanganan DBD pun kami siapkan agar mencukupi jumlahnya bilamana tren kasus DBD masih meningkat," kata Direktur RSUD dr. Chasbullah Kota Bekasi Kusnanto Saidi.
Kepala Bidang Perawatan RSUD dr. Chasbullah Kota Bekasi Sudirman mengatakan, sepanjang Januari 2019, ada 95 pasien yang dirawat karena mengeluhkan gejala seperti terjangkit DBD seperti demam tiga hari berturut-turut, lemah, lesu, tulang terasa ngilu. Akan tetapi, setelah ditangani lebih lanjut, hanya 31 di antaranya yang dinyatakan positif DBD.
"Sisanya ada yang hanya demam dengue atau tipes karena gejalanya hampir mirip," ucapnya.
Hingga saat ini, pasien yang positif DBD bisa tertangani baik dan tidak ada yang meninggal karena datang sebelum kondisinya parah.*** (Sumber: Riesty Yusnilaningsih, PR edisi Selasa, 29 Jan 2019).


www.ArdaDinata.com: 
| Share, Reference & Education |
| Peneliti, penulis, dan motivator penulisan di media massa |
Nyamuk, lingkungan dan perilaku manusia adalah tiga komponen yang memberikan kontribusi terhadap tersebarnya penyakit bersumber dari nyamuk.Seberapa pun gigihnya kita melakukan pengendalian terhadap (vektor) nyamuk, bila perilaku hidup bersih dan sehat masyarakatnya yang tidak mendukung, maka keberadaan nyamuk itu akan tetap menjadi ancaman (masalah) dikemudian hari. Untuk itu, langkah yang perlu dilakukan adalah biasakan untuk menjaga keadaan sanitasi lingkungan sekitar tempat tinggal agar tetap bersih dan sehat. Sebab, itulah kunci dalam pengendalian terhadap nyamuk.


DBD Diperkirakan Mewabah Hingga Maret 2019


BEKASI, (PR).- Wabah DBD (demam berdarah dengue) diperkirakan akan terus menjangkiti masyarakat hingga Maret 2019.
Rumah Sakit Umum Daerah dr. Chasbullah Kota Bekasi, sebagai salah satu rumah sakit rujukan, terus bersiap mengantisipasi kemungkinan terjadinya lonjakan kedatangan pasien DBD.
Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinas Kesehatan Kota Bekasi Dezi Syukrawati menyebut, perkiraan tersebut didasarkannya pada kondisi musim hujan yang baru memasuki tahap permulaan.
"Karena musim hujan baru mulai dan beberapa bulan ke depan masih akan sering turun hujan, ancaman wabah DBD pun diperkirakan masih akan terjadi," kata Dezi, Selasa 29 Januari 2019.
Hingga Senin 28 Januari 2019, peningkatan kasus DBD di Kota Bekasi cukup tinggi. Setidaknya, tercatat 75 pasien yang dinyatakan positif terjangkit DBD.
Saat data tersebut disandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya, angkanya mengalami peningkatan hampir dua kali lipat. Terjadi 49 kasus positif DBD pada Januari 2018.
Sementara pada tahun 2017, angkanya menyentuh 89 kasus positif DBD dan 196 kasus positif DBD tercatat pada tahun 2016.
"Untuk tahun 2017 dan 2018, sama-sama ada dua pasien DBD yang meninggal. Adapun pada tahun 2019, hingga saat ini tidak ada pasien DBD yang meninggal," katanya.
PASIEN demam berdarah dengue di Rumah Sakit Umum Daerah dr. Chasbullah Kota Bekasi/RIESTY YUSNILANINGSIH/PR
Mengingat masih panjangnya kemungkinan wabah DBD menjangkiti masyarakat, Dinkes Kota Bekasi terus menggencarkan terlaksananya pola hidup bersih serta pemberantasan sarang nyamuk di lingkungan masyarakat. Sikap itu harus dilakukan bersamaan agar secara serentak jentik-jentik nyamuk bisa dimatikan.
"Kami terus mendorong agar ada satu juru pemantau jentik di setiap rumah yang bertugas memastikan tidak ada genangan air bersih yang bisa dijadikan tempat berkembangbiaknya nyamuk," katanya.
Bila lingkungan sudah dibersihkan serentak, baru upaya pencegahan tambahan bisa dilakukan dengan pengasapan.
"Jadi, bukan pengasapan yang didahulukan, lingkungannya dulu dibersihkan, baru ditambah pengasapan. Jika pengasapan dilakukan bukan pada saat tepat, metodenya salah. Penggunaan obat yang keliru juga tidak akan berdampak," kata Dezi.

Rumah sakit bersiap

Sementara itu, dalam rangka mengantisipasi kemungkinan lonjakan pasien karena tren wabah DBD yang masih akan berlanjut hingga Maret 2019, RSUD dr. Chasbullah telah mempersiapkan serangkaian antisipasi.
"Salah satunya adalah penambahan tempat tidur, dari semula hanya 450 unit, bisa kami siapkan sampai 700 unit. Obat-obatan penanganan DBD pun kami siapkan agar mencukupi jumlahnya bilamana tren kasus DBD masih meningkat," kata Direktur RSUD dr. Chasbullah Kota Bekasi Kusnanto Saidi.
Kepala Bidang Perawatan RSUD dr. Chasbullah Kota Bekasi Sudirman mengatakan, sepanjang Januari 2019, ada 95 pasien yang dirawat karena mengeluhkan gejala seperti terjangkit DBD seperti demam tiga hari berturut-turut, lemah, lesu, tulang terasa ngilu. Akan tetapi, setelah ditangani lebih lanjut, hanya 31 di antaranya yang dinyatakan positif DBD.
"Sisanya ada yang hanya demam dengue atau tipes karena gejalanya hampir mirip," ucapnya.
Hingga saat ini, pasien yang positif DBD bisa tertangani baik dan tidak ada yang meninggal karena datang sebelum kondisinya parah.*** (Sumber: Riesty Yusnilaningsih, PR edisi Selasa, 29 Jan 2019).


www.ArdaDinata.com: 
| Share, Reference & Education |
| Peneliti, penulis, dan motivator penulisan di media massa |
Nyamuk, lingkungan dan perilaku manusia adalah tiga komponen yang memberikan kontribusi terhadap tersebarnya penyakit bersumber dari nyamuk.Seberapa pun gigihnya kita melakukan pengendalian terhadap (vektor) nyamuk, bila perilaku hidup bersih dan sehat masyarakatnya yang tidak mendukung, maka keberadaan nyamuk itu akan tetap menjadi ancaman (masalah) dikemudian hari. Untuk itu, langkah yang perlu dilakukan adalah biasakan untuk menjaga keadaan sanitasi lingkungan sekitar tempat tinggal agar tetap bersih dan sehat. Sebab, itulah kunci dalam pengendalian terhadap nyamuk.


DBD Diperkirakan Mewabah Hingga Maret 2019


BEKASI, (PR).- Wabah DBD (demam berdarah dengue) diperkirakan akan terus menjangkiti masyarakat hingga Maret 2019.
Rumah Sakit Umum Daerah dr. Chasbullah Kota Bekasi, sebagai salah satu rumah sakit rujukan, terus bersiap mengantisipasi kemungkinan terjadinya lonjakan kedatangan pasien DBD.
Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinas Kesehatan Kota Bekasi Dezi Syukrawati menyebut, perkiraan tersebut didasarkannya pada kondisi musim hujan yang baru memasuki tahap permulaan.
"Karena musim hujan baru mulai dan beberapa bulan ke depan masih akan sering turun hujan, ancaman wabah DBD pun diperkirakan masih akan terjadi," kata Dezi, Selasa 29 Januari 2019.
Hingga Senin 28 Januari 2019, peningkatan kasus DBD di Kota Bekasi cukup tinggi. Setidaknya, tercatat 75 pasien yang dinyatakan positif terjangkit DBD.
Saat data tersebut disandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya, angkanya mengalami peningkatan hampir dua kali lipat. Terjadi 49 kasus positif DBD pada Januari 2018.
Sementara pada tahun 2017, angkanya menyentuh 89 kasus positif DBD dan 196 kasus positif DBD tercatat pada tahun 2016.
"Untuk tahun 2017 dan 2018, sama-sama ada dua pasien DBD yang meninggal. Adapun pada tahun 2019, hingga saat ini tidak ada pasien DBD yang meninggal," katanya.
PASIEN demam berdarah dengue di Rumah Sakit Umum Daerah dr. Chasbullah Kota Bekasi/RIESTY YUSNILANINGSIH/PR
Mengingat masih panjangnya kemungkinan wabah DBD menjangkiti masyarakat, Dinkes Kota Bekasi terus menggencarkan terlaksananya pola hidup bersih serta pemberantasan sarang nyamuk di lingkungan masyarakat. Sikap itu harus dilakukan bersamaan agar secara serentak jentik-jentik nyamuk bisa dimatikan.
"Kami terus mendorong agar ada satu juru pemantau jentik di setiap rumah yang bertugas memastikan tidak ada genangan air bersih yang bisa dijadikan tempat berkembangbiaknya nyamuk," katanya.
Bila lingkungan sudah dibersihkan serentak, baru upaya pencegahan tambahan bisa dilakukan dengan pengasapan.
"Jadi, bukan pengasapan yang didahulukan, lingkungannya dulu dibersihkan, baru ditambah pengasapan. Jika pengasapan dilakukan bukan pada saat tepat, metodenya salah. Penggunaan obat yang keliru juga tidak akan berdampak," kata Dezi.

Rumah sakit bersiap

Sementara itu, dalam rangka mengantisipasi kemungkinan lonjakan pasien karena tren wabah DBD yang masih akan berlanjut hingga Maret 2019, RSUD dr. Chasbullah telah mempersiapkan serangkaian antisipasi.
"Salah satunya adalah penambahan tempat tidur, dari semula hanya 450 unit, bisa kami siapkan sampai 700 unit. Obat-obatan penanganan DBD pun kami siapkan agar mencukupi jumlahnya bilamana tren kasus DBD masih meningkat," kata Direktur RSUD dr. Chasbullah Kota Bekasi Kusnanto Saidi.
Kepala Bidang Perawatan RSUD dr. Chasbullah Kota Bekasi Sudirman mengatakan, sepanjang Januari 2019, ada 95 pasien yang dirawat karena mengeluhkan gejala seperti terjangkit DBD seperti demam tiga hari berturut-turut, lemah, lesu, tulang terasa ngilu. Akan tetapi, setelah ditangani lebih lanjut, hanya 31 di antaranya yang dinyatakan positif DBD.
"Sisanya ada yang hanya demam dengue atau tipes karena gejalanya hampir mirip," ucapnya.
Hingga saat ini, pasien yang positif DBD bisa tertangani baik dan tidak ada yang meninggal karena datang sebelum kondisinya parah.*** (Sumber: Riesty Yusnilaningsih, PR edisi Selasa, 29 Jan 2019).


www.ArdaDinata.com: 
| Share, Reference & Education |
| Peneliti, penulis, dan motivator penulisan di media massa |
Nyamuk, lingkungan dan perilaku manusia adalah tiga komponen yang memberikan kontribusi terhadap tersebarnya penyakit bersumber dari nyamuk.Seberapa pun gigihnya kita melakukan pengendalian terhadap (vektor) nyamuk, bila perilaku hidup bersih dan sehat masyarakatnya yang tidak mendukung, maka keberadaan nyamuk itu akan tetap menjadi ancaman (masalah) dikemudian hari. Untuk itu, langkah yang perlu dilakukan adalah biasakan untuk menjaga keadaan sanitasi lingkungan sekitar tempat tinggal agar tetap bersih dan sehat. Sebab, itulah kunci dalam pengendalian terhadap nyamuk.


DBD Diperkirakan Mewabah Hingga Maret 2019


BEKASI, (PR).- Wabah DBD (demam berdarah dengue) diperkirakan akan terus menjangkiti masyarakat hingga Maret 2019.
Rumah Sakit Umum Daerah dr. Chasbullah Kota Bekasi, sebagai salah satu rumah sakit rujukan, terus bersiap mengantisipasi kemungkinan terjadinya lonjakan kedatangan pasien DBD.
Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinas Kesehatan Kota Bekasi Dezi Syukrawati menyebut, perkiraan tersebut didasarkannya pada kondisi musim hujan yang baru memasuki tahap permulaan.
"Karena musim hujan baru mulai dan beberapa bulan ke depan masih akan sering turun hujan, ancaman wabah DBD pun diperkirakan masih akan terjadi," kata Dezi, Selasa 29 Januari 2019.
Hingga Senin 28 Januari 2019, peningkatan kasus DBD di Kota Bekasi cukup tinggi. Setidaknya, tercatat 75 pasien yang dinyatakan positif terjangkit DBD.
Saat data tersebut disandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya, angkanya mengalami peningkatan hampir dua kali lipat. Terjadi 49 kasus positif DBD pada Januari 2018.
Sementara pada tahun 2017, angkanya menyentuh 89 kasus positif DBD dan 196 kasus positif DBD tercatat pada tahun 2016.
"Untuk tahun 2017 dan 2018, sama-sama ada dua pasien DBD yang meninggal. Adapun pada tahun 2019, hingga saat ini tidak ada pasien DBD yang meninggal," katanya.
PASIEN demam berdarah dengue di Rumah Sakit Umum Daerah dr. Chasbullah Kota Bekasi/RIESTY YUSNILANINGSIH/PR
Mengingat masih panjangnya kemungkinan wabah DBD menjangkiti masyarakat, Dinkes Kota Bekasi terus menggencarkan terlaksananya pola hidup bersih serta pemberantasan sarang nyamuk di lingkungan masyarakat. Sikap itu harus dilakukan bersamaan agar secara serentak jentik-jentik nyamuk bisa dimatikan.
"Kami terus mendorong agar ada satu juru pemantau jentik di setiap rumah yang bertugas memastikan tidak ada genangan air bersih yang bisa dijadikan tempat berkembangbiaknya nyamuk," katanya.
Bila lingkungan sudah dibersihkan serentak, baru upaya pencegahan tambahan bisa dilakukan dengan pengasapan.
"Jadi, bukan pengasapan yang didahulukan, lingkungannya dulu dibersihkan, baru ditambah pengasapan. Jika pengasapan dilakukan bukan pada saat tepat, metodenya salah. Penggunaan obat yang keliru juga tidak akan berdampak," kata Dezi.

Rumah sakit bersiap

Sementara itu, dalam rangka mengantisipasi kemungkinan lonjakan pasien karena tren wabah DBD yang masih akan berlanjut hingga Maret 2019, RSUD dr. Chasbullah telah mempersiapkan serangkaian antisipasi.
"Salah satunya adalah penambahan tempat tidur, dari semula hanya 450 unit, bisa kami siapkan sampai 700 unit. Obat-obatan penanganan DBD pun kami siapkan agar mencukupi jumlahnya bilamana tren kasus DBD masih meningkat," kata Direktur RSUD dr. Chasbullah Kota Bekasi Kusnanto Saidi.
Kepala Bidang Perawatan RSUD dr. Chasbullah Kota Bekasi Sudirman mengatakan, sepanjang Januari 2019, ada 95 pasien yang dirawat karena mengeluhkan gejala seperti terjangkit DBD seperti demam tiga hari berturut-turut, lemah, lesu, tulang terasa ngilu. Akan tetapi, setelah ditangani lebih lanjut, hanya 31 di antaranya yang dinyatakan positif DBD.
"Sisanya ada yang hanya demam dengue atau tipes karena gejalanya hampir mirip," ucapnya.
Hingga saat ini, pasien yang positif DBD bisa tertangani baik dan tidak ada yang meninggal karena datang sebelum kondisinya parah.*** (Sumber: Riesty Yusnilaningsih, PR edisi Selasa, 29 Jan 2019).


www.ArdaDinata.com: 
| Share, Reference & Education |
| Peneliti, penulis, dan motivator penulisan di media massa |
Surga, Sabar, dan Syukur*)
Lihat Detail

Surga, Sabar, dan Syukur*)

Surga, Sabar, dan Syukur*)
Oleh: Arda Dinata

Kehidupan itu harapan. Ia adalah rangkaian irama amal yang akan menghantarkan seseorang pada tujuan hidup. Harapan-harapan itu harusnya seirama dan mendukung pencapaian tujuan hidup kita. Namun, nyatanya banyak harapan dan tujuan hidup itu tidak saling mendukung sehingga kehidupan kita berujung pada kekecewaan.

Dalam Islam ada rangkaian kata yang begitu indah, yaitu: surga, sabar, dan syukur. Ketiga kata itu saling terkait dan mendukung satu sama lain. Dan ketiga kata itu dalam hidup seorang muslim menjadi kata yang akan bersinggungan dalam membangun realita kehidupannya.

Ada sebuah riwayat yang pas untuk mengilustrasikan kondisi seperti itu, yaitu apa yang diungkap Ash-Shabuni (1988, 1:382). Diriwayatkan bahwa seorang laki-laki yang buruk rupa memiliki istri yang sangat cantik. Pada suatu hari si istri melihat suaminya, lalu bergumam, "Alhamdulillah."

Suaminya berkata, "Ada apa?"

Dia menjawab, "Aku memanjatkan puji kepada Allah yang telah menjadikan diriku dan dirimu sebagai ahli surga, sebab engkau dianugerahi rizki, lalu bersyukur, aku pun diberi rizki berupa suami sepertimu, lalu aku bersabar. Sungguh Allah telah menjanjikan surga bagi orang yang bersabar dan bersyukur."

Jadi, ahli surga itu merupakan rangkaian akumulasi amal kita dalam membangun rasa sabar dan syukur. Inilah salah satu kunci ahli surga yang patut kita bina, perjuangkan dan aplikasikan dalam hidup keseharian seorang muslim. Lalu, apa sesungguhnya makna sabar dan syukur itu?

Menurut Syekh Al Hakim At Tirmidzi (205 H–320 H), yang dimaksud syukur adalah menyadari karunia yang Allah berikan pada dirinya, sementara yang dimaksud dengan sabar adalah tetap dalam kedudukannya bersama Tuhan.

Sementara itu, dilihat dari segi bahasa, syukur adalah terbukanya kalbu hingga karunia Tuhan tampak padamu. Di dadamu, karunia Allah selalu terlihat pada sesuatu yang Dia berikan padamu. Diriwayatkan dari Al Hasan Al Bashri bahwa Musa bertanya, "Tuhan, bagaimana cara Adam bersyukur kepada-Mu?" Tuhan menjawab, "Dia mengetahui hal itu bersumber dari-Ku, itulah bentuk syukurnya."

Untuk sabar sendiri, ia terambil dari kata Ashbaar, yang bermakna menjadikan sesuatu sebagai obyek atau meninggikan sesuatu untuk menjadi sasaran busur panah. Jadi, sabar terwujud dalam bentuk keteguhan hamba untuk menerima panah ketentuan Tuhan, bagaikan sasaran busur panah manusia yang tidak miring ke kiri atau ke kanan. Ia tidak bergeser dari tempatnya, sebab syarat untuk menjadi hamba Tuhan adalah percaya dan pasrah.

Lebih jauh At Tirmidzi mengungkapkan bahwa syukur merupakan substansi iman, sementara sabar merupakan substansi Islam. Ketika seorang hamba merasa tenang bersama Tuhan, maka dia disebut mukmin. Namun ketika menyerahkan diri sebagai hamba, maka dia disebut muslim. Keduanya terwujud dalam waktu bersamaan, sebab kalbu dalam kondisi bergerak dan bingung mencari Tuhan. Ketika mendapat rahmat, cahaya dan petunjuk, maka kalbu menjadi tenang dan stabil sehingga disebut beriman. Sebaliknya, ia menjadi gelisah dan gusar ketika cemas terhadap sesuatu. Tatkala rasa cemas itu hilang, maka kalbu kembali tenang hingga disebut beriman.

Atas dasar pemetaan tersebut, maka keberadaan sabar dan syukur ini bagi umat Islam harusnya mempunyai tempat yang khusus di dalam pribadinya yang diaplikasikan dalam perilaku hidup keseharian. Lalu, bagaimana kita semestinya menempatkan dan membangun rasa sabar dan syukur sebagai kunci surga ini dalam menjalankan kehidupan sehari-hari?

Sifat dan perilaku bersyukur ini, semestinya kita awali dengan mengenal nikmat, karena mengenal nikmat itu adalah jalan untuk mengenal Sang Pemberi nikmat. Pada tataran ini, Ibn Al Qayyim dalam Madaarij Al Salikinmenuliskan kalau pengertian syukur ada tiga yaitu (1) mengenal nikmat, (2) menerimanya, dan (3) memujinya.

Mengenal nikmat terwujud lewat rasa papa dan butuh kepada-Nya. Memuji adalah dengan memuji Zat Yang Memberi nikmat. Wujudnya ada yang bersifat umum (menyadari-Nya sebagai Zat Yang Maha Pemurah dan banyak memberi) dan yang bersifat khusus (menceritakan nikmat Allah yang diberikan lewat dirinya). Hal terakhir ini sesuai dengan yang dijelaskan dalam firman Allah, "Adapun yang terkait dengan nikmat Tuhanmu, maka ceritakanlah."

Adapun sabar ini, ia berwujud ujian untuk melihat kebaikan dan keburukanmu. Dengan cara seperti itu, tentu akan terlihat diri kita apakah tetap teguh dihadapan-Nya dan apakah kita siap menjadi sasaran tembak-Nya. Lebih jauh, perilaku tersebut juga akan menampakkan gambaran kejujuran seseorang. Yakni apakah dia memujimu untuk melihat bahwa dirimu benar-benar bersyukur? Allah berfirman dalam QS Ibrahim (14):5, "dalam semua kejadian itu terdapat bukti kekuasaan Allah bagi orang yang selalu sabar dan bersyukur."

Akhirnya, terlihat jelas dari ayat di atas, kalau Allah mengungkap kata sabar dengan pola fa'al dan mengungkap kata syukur dengan pola fa'ul. Dia mendahulukan sabar sebelum syukur, karena sikap sabar memperlihatkan rasa syukur. Syukur tersebut tersimpan di dalamnya, sebagaimana api tersembunyi di dalam batu. Ujian ibarat sebatang kayu yang memunculkan api lewat bara. Ketika batu tersebut dinyalakan, maka tampaklah api yang tersembunyi tadi.

Lantas, apakah kita selama ini sudah berperilaku sabar dan syukur untuk meraih surga-Nya? Lebih-lebih di bulan Ramadhan yang mana tiap muslim dituntut untuk berperilaku sabar dan syukur dalam menjalankan ibadah di dalamnya. Waalahu'alam.*

Arda Dinata adalah Pendiri Majelis Inspirasi Al-Quran & Realitas Alam (MIQRA) Indonesia.

*) Artikel ini telah dimuat di HU Pikiran Rakayat Bandung, edisi Jumat, 8 Januari 2010.

| www.ArdaDinata.com: | Share, Reference & Education |
| Peneliti, penulis, dan motivator penulisan di media massa |
BBM: C00447A8B
Telegram: ardadinata

Surga, Sabar, dan Syukur*)
Oleh: Arda Dinata

Kehidupan itu harapan. Ia adalah rangkaian irama amal yang akan menghantarkan seseorang pada tujuan hidup. Harapan-harapan itu harusnya seirama dan mendukung pencapaian tujuan hidup kita. Namun, nyatanya banyak harapan dan tujuan hidup itu tidak saling mendukung sehingga kehidupan kita berujung pada kekecewaan.

Dalam Islam ada rangkaian kata yang begitu indah, yaitu: surga, sabar, dan syukur. Ketiga kata itu saling terkait dan mendukung satu sama lain. Dan ketiga kata itu dalam hidup seorang muslim menjadi kata yang akan bersinggungan dalam membangun realita kehidupannya.

Ada sebuah riwayat yang pas untuk mengilustrasikan kondisi seperti itu, yaitu apa yang diungkap Ash-Shabuni (1988, 1:382). Diriwayatkan bahwa seorang laki-laki yang buruk rupa memiliki istri yang sangat cantik. Pada suatu hari si istri melihat suaminya, lalu bergumam, "Alhamdulillah."

Suaminya berkata, "Ada apa?"

Dia menjawab, "Aku memanjatkan puji kepada Allah yang telah menjadikan diriku dan dirimu sebagai ahli surga, sebab engkau dianugerahi rizki, lalu bersyukur, aku pun diberi rizki berupa suami sepertimu, lalu aku bersabar. Sungguh Allah telah menjanjikan surga bagi orang yang bersabar dan bersyukur."

Jadi, ahli surga itu merupakan rangkaian akumulasi amal kita dalam membangun rasa sabar dan syukur. Inilah salah satu kunci ahli surga yang patut kita bina, perjuangkan dan aplikasikan dalam hidup keseharian seorang muslim. Lalu, apa sesungguhnya makna sabar dan syukur itu?

Menurut Syekh Al Hakim At Tirmidzi (205 H–320 H), yang dimaksud syukur adalah menyadari karunia yang Allah berikan pada dirinya, sementara yang dimaksud dengan sabar adalah tetap dalam kedudukannya bersama Tuhan.

Sementara itu, dilihat dari segi bahasa, syukur adalah terbukanya kalbu hingga karunia Tuhan tampak padamu. Di dadamu, karunia Allah selalu terlihat pada sesuatu yang Dia berikan padamu. Diriwayatkan dari Al Hasan Al Bashri bahwa Musa bertanya, "Tuhan, bagaimana cara Adam bersyukur kepada-Mu?" Tuhan menjawab, "Dia mengetahui hal itu bersumber dari-Ku, itulah bentuk syukurnya."

Untuk sabar sendiri, ia terambil dari kata Ashbaar, yang bermakna menjadikan sesuatu sebagai obyek atau meninggikan sesuatu untuk menjadi sasaran busur panah. Jadi, sabar terwujud dalam bentuk keteguhan hamba untuk menerima panah ketentuan Tuhan, bagaikan sasaran busur panah manusia yang tidak miring ke kiri atau ke kanan. Ia tidak bergeser dari tempatnya, sebab syarat untuk menjadi hamba Tuhan adalah percaya dan pasrah.

Lebih jauh At Tirmidzi mengungkapkan bahwa syukur merupakan substansi iman, sementara sabar merupakan substansi Islam. Ketika seorang hamba merasa tenang bersama Tuhan, maka dia disebut mukmin. Namun ketika menyerahkan diri sebagai hamba, maka dia disebut muslim. Keduanya terwujud dalam waktu bersamaan, sebab kalbu dalam kondisi bergerak dan bingung mencari Tuhan. Ketika mendapat rahmat, cahaya dan petunjuk, maka kalbu menjadi tenang dan stabil sehingga disebut beriman. Sebaliknya, ia menjadi gelisah dan gusar ketika cemas terhadap sesuatu. Tatkala rasa cemas itu hilang, maka kalbu kembali tenang hingga disebut beriman.

Atas dasar pemetaan tersebut, maka keberadaan sabar dan syukur ini bagi umat Islam harusnya mempunyai tempat yang khusus di dalam pribadinya yang diaplikasikan dalam perilaku hidup keseharian. Lalu, bagaimana kita semestinya menempatkan dan membangun rasa sabar dan syukur sebagai kunci surga ini dalam menjalankan kehidupan sehari-hari?

Sifat dan perilaku bersyukur ini, semestinya kita awali dengan mengenal nikmat, karena mengenal nikmat itu adalah jalan untuk mengenal Sang Pemberi nikmat. Pada tataran ini, Ibn Al Qayyim dalam Madaarij Al Salikinmenuliskan kalau pengertian syukur ada tiga yaitu (1) mengenal nikmat, (2) menerimanya, dan (3) memujinya.

Mengenal nikmat terwujud lewat rasa papa dan butuh kepada-Nya. Memuji adalah dengan memuji Zat Yang Memberi nikmat. Wujudnya ada yang bersifat umum (menyadari-Nya sebagai Zat Yang Maha Pemurah dan banyak memberi) dan yang bersifat khusus (menceritakan nikmat Allah yang diberikan lewat dirinya). Hal terakhir ini sesuai dengan yang dijelaskan dalam firman Allah, "Adapun yang terkait dengan nikmat Tuhanmu, maka ceritakanlah."

Adapun sabar ini, ia berwujud ujian untuk melihat kebaikan dan keburukanmu. Dengan cara seperti itu, tentu akan terlihat diri kita apakah tetap teguh dihadapan-Nya dan apakah kita siap menjadi sasaran tembak-Nya. Lebih jauh, perilaku tersebut juga akan menampakkan gambaran kejujuran seseorang. Yakni apakah dia memujimu untuk melihat bahwa dirimu benar-benar bersyukur? Allah berfirman dalam QS Ibrahim (14):5, "dalam semua kejadian itu terdapat bukti kekuasaan Allah bagi orang yang selalu sabar dan bersyukur."

Akhirnya, terlihat jelas dari ayat di atas, kalau Allah mengungkap kata sabar dengan pola fa'al dan mengungkap kata syukur dengan pola fa'ul. Dia mendahulukan sabar sebelum syukur, karena sikap sabar memperlihatkan rasa syukur. Syukur tersebut tersimpan di dalamnya, sebagaimana api tersembunyi di dalam batu. Ujian ibarat sebatang kayu yang memunculkan api lewat bara. Ketika batu tersebut dinyalakan, maka tampaklah api yang tersembunyi tadi.

Lantas, apakah kita selama ini sudah berperilaku sabar dan syukur untuk meraih surga-Nya? Lebih-lebih di bulan Ramadhan yang mana tiap muslim dituntut untuk berperilaku sabar dan syukur dalam menjalankan ibadah di dalamnya. Waalahu'alam.*

Arda Dinata adalah Pendiri Majelis Inspirasi Al-Quran & Realitas Alam (MIQRA) Indonesia.

*) Artikel ini telah dimuat di HU Pikiran Rakayat Bandung, edisi Jumat, 8 Januari 2010.

| www.ArdaDinata.com: | Share, Reference & Education |
| Peneliti, penulis, dan motivator penulisan di media massa |
BBM: C00447A8B
Telegram: ardadinata

Surga, Sabar, dan Syukur*)
Oleh: Arda Dinata

Kehidupan itu harapan. Ia adalah rangkaian irama amal yang akan menghantarkan seseorang pada tujuan hidup. Harapan-harapan itu harusnya seirama dan mendukung pencapaian tujuan hidup kita. Namun, nyatanya banyak harapan dan tujuan hidup itu tidak saling mendukung sehingga kehidupan kita berujung pada kekecewaan.

Dalam Islam ada rangkaian kata yang begitu indah, yaitu: surga, sabar, dan syukur. Ketiga kata itu saling terkait dan mendukung satu sama lain. Dan ketiga kata itu dalam hidup seorang muslim menjadi kata yang akan bersinggungan dalam membangun realita kehidupannya.

Ada sebuah riwayat yang pas untuk mengilustrasikan kondisi seperti itu, yaitu apa yang diungkap Ash-Shabuni (1988, 1:382). Diriwayatkan bahwa seorang laki-laki yang buruk rupa memiliki istri yang sangat cantik. Pada suatu hari si istri melihat suaminya, lalu bergumam, "Alhamdulillah."

Suaminya berkata, "Ada apa?"

Dia menjawab, "Aku memanjatkan puji kepada Allah yang telah menjadikan diriku dan dirimu sebagai ahli surga, sebab engkau dianugerahi rizki, lalu bersyukur, aku pun diberi rizki berupa suami sepertimu, lalu aku bersabar. Sungguh Allah telah menjanjikan surga bagi orang yang bersabar dan bersyukur."

Jadi, ahli surga itu merupakan rangkaian akumulasi amal kita dalam membangun rasa sabar dan syukur. Inilah salah satu kunci ahli surga yang patut kita bina, perjuangkan dan aplikasikan dalam hidup keseharian seorang muslim. Lalu, apa sesungguhnya makna sabar dan syukur itu?

Menurut Syekh Al Hakim At Tirmidzi (205 H–320 H), yang dimaksud syukur adalah menyadari karunia yang Allah berikan pada dirinya, sementara yang dimaksud dengan sabar adalah tetap dalam kedudukannya bersama Tuhan.

Sementara itu, dilihat dari segi bahasa, syukur adalah terbukanya kalbu hingga karunia Tuhan tampak padamu. Di dadamu, karunia Allah selalu terlihat pada sesuatu yang Dia berikan padamu. Diriwayatkan dari Al Hasan Al Bashri bahwa Musa bertanya, "Tuhan, bagaimana cara Adam bersyukur kepada-Mu?" Tuhan menjawab, "Dia mengetahui hal itu bersumber dari-Ku, itulah bentuk syukurnya."

Untuk sabar sendiri, ia terambil dari kata Ashbaar, yang bermakna menjadikan sesuatu sebagai obyek atau meninggikan sesuatu untuk menjadi sasaran busur panah. Jadi, sabar terwujud dalam bentuk keteguhan hamba untuk menerima panah ketentuan Tuhan, bagaikan sasaran busur panah manusia yang tidak miring ke kiri atau ke kanan. Ia tidak bergeser dari tempatnya, sebab syarat untuk menjadi hamba Tuhan adalah percaya dan pasrah.

Lebih jauh At Tirmidzi mengungkapkan bahwa syukur merupakan substansi iman, sementara sabar merupakan substansi Islam. Ketika seorang hamba merasa tenang bersama Tuhan, maka dia disebut mukmin. Namun ketika menyerahkan diri sebagai hamba, maka dia disebut muslim. Keduanya terwujud dalam waktu bersamaan, sebab kalbu dalam kondisi bergerak dan bingung mencari Tuhan. Ketika mendapat rahmat, cahaya dan petunjuk, maka kalbu menjadi tenang dan stabil sehingga disebut beriman. Sebaliknya, ia menjadi gelisah dan gusar ketika cemas terhadap sesuatu. Tatkala rasa cemas itu hilang, maka kalbu kembali tenang hingga disebut beriman.

Atas dasar pemetaan tersebut, maka keberadaan sabar dan syukur ini bagi umat Islam harusnya mempunyai tempat yang khusus di dalam pribadinya yang diaplikasikan dalam perilaku hidup keseharian. Lalu, bagaimana kita semestinya menempatkan dan membangun rasa sabar dan syukur sebagai kunci surga ini dalam menjalankan kehidupan sehari-hari?

Sifat dan perilaku bersyukur ini, semestinya kita awali dengan mengenal nikmat, karena mengenal nikmat itu adalah jalan untuk mengenal Sang Pemberi nikmat. Pada tataran ini, Ibn Al Qayyim dalam Madaarij Al Salikinmenuliskan kalau pengertian syukur ada tiga yaitu (1) mengenal nikmat, (2) menerimanya, dan (3) memujinya.

Mengenal nikmat terwujud lewat rasa papa dan butuh kepada-Nya. Memuji adalah dengan memuji Zat Yang Memberi nikmat. Wujudnya ada yang bersifat umum (menyadari-Nya sebagai Zat Yang Maha Pemurah dan banyak memberi) dan yang bersifat khusus (menceritakan nikmat Allah yang diberikan lewat dirinya). Hal terakhir ini sesuai dengan yang dijelaskan dalam firman Allah, "Adapun yang terkait dengan nikmat Tuhanmu, maka ceritakanlah."

Adapun sabar ini, ia berwujud ujian untuk melihat kebaikan dan keburukanmu. Dengan cara seperti itu, tentu akan terlihat diri kita apakah tetap teguh dihadapan-Nya dan apakah kita siap menjadi sasaran tembak-Nya. Lebih jauh, perilaku tersebut juga akan menampakkan gambaran kejujuran seseorang. Yakni apakah dia memujimu untuk melihat bahwa dirimu benar-benar bersyukur? Allah berfirman dalam QS Ibrahim (14):5, "dalam semua kejadian itu terdapat bukti kekuasaan Allah bagi orang yang selalu sabar dan bersyukur."

Akhirnya, terlihat jelas dari ayat di atas, kalau Allah mengungkap kata sabar dengan pola fa'al dan mengungkap kata syukur dengan pola fa'ul. Dia mendahulukan sabar sebelum syukur, karena sikap sabar memperlihatkan rasa syukur. Syukur tersebut tersimpan di dalamnya, sebagaimana api tersembunyi di dalam batu. Ujian ibarat sebatang kayu yang memunculkan api lewat bara. Ketika batu tersebut dinyalakan, maka tampaklah api yang tersembunyi tadi.

Lantas, apakah kita selama ini sudah berperilaku sabar dan syukur untuk meraih surga-Nya? Lebih-lebih di bulan Ramadhan yang mana tiap muslim dituntut untuk berperilaku sabar dan syukur dalam menjalankan ibadah di dalamnya. Waalahu'alam.*

Arda Dinata adalah Pendiri Majelis Inspirasi Al-Quran & Realitas Alam (MIQRA) Indonesia.

*) Artikel ini telah dimuat di HU Pikiran Rakayat Bandung, edisi Jumat, 8 Januari 2010.

| www.ArdaDinata.com: | Share, Reference & Education |
| Peneliti, penulis, dan motivator penulisan di media massa |
BBM: C00447A8B
Telegram: ardadinata

Surga, Sabar, dan Syukur*)
Oleh: Arda Dinata

Kehidupan itu harapan. Ia adalah rangkaian irama amal yang akan menghantarkan seseorang pada tujuan hidup. Harapan-harapan itu harusnya seirama dan mendukung pencapaian tujuan hidup kita. Namun, nyatanya banyak harapan dan tujuan hidup itu tidak saling mendukung sehingga kehidupan kita berujung pada kekecewaan.

Dalam Islam ada rangkaian kata yang begitu indah, yaitu: surga, sabar, dan syukur. Ketiga kata itu saling terkait dan mendukung satu sama lain. Dan ketiga kata itu dalam hidup seorang muslim menjadi kata yang akan bersinggungan dalam membangun realita kehidupannya.

Ada sebuah riwayat yang pas untuk mengilustrasikan kondisi seperti itu, yaitu apa yang diungkap Ash-Shabuni (1988, 1:382). Diriwayatkan bahwa seorang laki-laki yang buruk rupa memiliki istri yang sangat cantik. Pada suatu hari si istri melihat suaminya, lalu bergumam, "Alhamdulillah."

Suaminya berkata, "Ada apa?"

Dia menjawab, "Aku memanjatkan puji kepada Allah yang telah menjadikan diriku dan dirimu sebagai ahli surga, sebab engkau dianugerahi rizki, lalu bersyukur, aku pun diberi rizki berupa suami sepertimu, lalu aku bersabar. Sungguh Allah telah menjanjikan surga bagi orang yang bersabar dan bersyukur."

Jadi, ahli surga itu merupakan rangkaian akumulasi amal kita dalam membangun rasa sabar dan syukur. Inilah salah satu kunci ahli surga yang patut kita bina, perjuangkan dan aplikasikan dalam hidup keseharian seorang muslim. Lalu, apa sesungguhnya makna sabar dan syukur itu?

Menurut Syekh Al Hakim At Tirmidzi (205 H–320 H), yang dimaksud syukur adalah menyadari karunia yang Allah berikan pada dirinya, sementara yang dimaksud dengan sabar adalah tetap dalam kedudukannya bersama Tuhan.

Sementara itu, dilihat dari segi bahasa, syukur adalah terbukanya kalbu hingga karunia Tuhan tampak padamu. Di dadamu, karunia Allah selalu terlihat pada sesuatu yang Dia berikan padamu. Diriwayatkan dari Al Hasan Al Bashri bahwa Musa bertanya, "Tuhan, bagaimana cara Adam bersyukur kepada-Mu?" Tuhan menjawab, "Dia mengetahui hal itu bersumber dari-Ku, itulah bentuk syukurnya."

Untuk sabar sendiri, ia terambil dari kata Ashbaar, yang bermakna menjadikan sesuatu sebagai obyek atau meninggikan sesuatu untuk menjadi sasaran busur panah. Jadi, sabar terwujud dalam bentuk keteguhan hamba untuk menerima panah ketentuan Tuhan, bagaikan sasaran busur panah manusia yang tidak miring ke kiri atau ke kanan. Ia tidak bergeser dari tempatnya, sebab syarat untuk menjadi hamba Tuhan adalah percaya dan pasrah.

Lebih jauh At Tirmidzi mengungkapkan bahwa syukur merupakan substansi iman, sementara sabar merupakan substansi Islam. Ketika seorang hamba merasa tenang bersama Tuhan, maka dia disebut mukmin. Namun ketika menyerahkan diri sebagai hamba, maka dia disebut muslim. Keduanya terwujud dalam waktu bersamaan, sebab kalbu dalam kondisi bergerak dan bingung mencari Tuhan. Ketika mendapat rahmat, cahaya dan petunjuk, maka kalbu menjadi tenang dan stabil sehingga disebut beriman. Sebaliknya, ia menjadi gelisah dan gusar ketika cemas terhadap sesuatu. Tatkala rasa cemas itu hilang, maka kalbu kembali tenang hingga disebut beriman.

Atas dasar pemetaan tersebut, maka keberadaan sabar dan syukur ini bagi umat Islam harusnya mempunyai tempat yang khusus di dalam pribadinya yang diaplikasikan dalam perilaku hidup keseharian. Lalu, bagaimana kita semestinya menempatkan dan membangun rasa sabar dan syukur sebagai kunci surga ini dalam menjalankan kehidupan sehari-hari?

Sifat dan perilaku bersyukur ini, semestinya kita awali dengan mengenal nikmat, karena mengenal nikmat itu adalah jalan untuk mengenal Sang Pemberi nikmat. Pada tataran ini, Ibn Al Qayyim dalam Madaarij Al Salikinmenuliskan kalau pengertian syukur ada tiga yaitu (1) mengenal nikmat, (2) menerimanya, dan (3) memujinya.

Mengenal nikmat terwujud lewat rasa papa dan butuh kepada-Nya. Memuji adalah dengan memuji Zat Yang Memberi nikmat. Wujudnya ada yang bersifat umum (menyadari-Nya sebagai Zat Yang Maha Pemurah dan banyak memberi) dan yang bersifat khusus (menceritakan nikmat Allah yang diberikan lewat dirinya). Hal terakhir ini sesuai dengan yang dijelaskan dalam firman Allah, "Adapun yang terkait dengan nikmat Tuhanmu, maka ceritakanlah."

Adapun sabar ini, ia berwujud ujian untuk melihat kebaikan dan keburukanmu. Dengan cara seperti itu, tentu akan terlihat diri kita apakah tetap teguh dihadapan-Nya dan apakah kita siap menjadi sasaran tembak-Nya. Lebih jauh, perilaku tersebut juga akan menampakkan gambaran kejujuran seseorang. Yakni apakah dia memujimu untuk melihat bahwa dirimu benar-benar bersyukur? Allah berfirman dalam QS Ibrahim (14):5, "dalam semua kejadian itu terdapat bukti kekuasaan Allah bagi orang yang selalu sabar dan bersyukur."

Akhirnya, terlihat jelas dari ayat di atas, kalau Allah mengungkap kata sabar dengan pola fa'al dan mengungkap kata syukur dengan pola fa'ul. Dia mendahulukan sabar sebelum syukur, karena sikap sabar memperlihatkan rasa syukur. Syukur tersebut tersimpan di dalamnya, sebagaimana api tersembunyi di dalam batu. Ujian ibarat sebatang kayu yang memunculkan api lewat bara. Ketika batu tersebut dinyalakan, maka tampaklah api yang tersembunyi tadi.

Lantas, apakah kita selama ini sudah berperilaku sabar dan syukur untuk meraih surga-Nya? Lebih-lebih di bulan Ramadhan yang mana tiap muslim dituntut untuk berperilaku sabar dan syukur dalam menjalankan ibadah di dalamnya. Waalahu'alam.*

Arda Dinata adalah Pendiri Majelis Inspirasi Al-Quran & Realitas Alam (MIQRA) Indonesia.

*) Artikel ini telah dimuat di HU Pikiran Rakayat Bandung, edisi Jumat, 8 Januari 2010.

| www.ArdaDinata.com: | Share, Reference & Education |
| Peneliti, penulis, dan motivator penulisan di media massa |
BBM: C00447A8B
Telegram: ardadinata

Surga, Sabar, dan Syukur*)
Oleh: Arda Dinata

Kehidupan itu harapan. Ia adalah rangkaian irama amal yang akan menghantarkan seseorang pada tujuan hidup. Harapan-harapan itu harusnya seirama dan mendukung pencapaian tujuan hidup kita. Namun, nyatanya banyak harapan dan tujuan hidup itu tidak saling mendukung sehingga kehidupan kita berujung pada kekecewaan.

Dalam Islam ada rangkaian kata yang begitu indah, yaitu: surga, sabar, dan syukur. Ketiga kata itu saling terkait dan mendukung satu sama lain. Dan ketiga kata itu dalam hidup seorang muslim menjadi kata yang akan bersinggungan dalam membangun realita kehidupannya.

Ada sebuah riwayat yang pas untuk mengilustrasikan kondisi seperti itu, yaitu apa yang diungkap Ash-Shabuni (1988, 1:382). Diriwayatkan bahwa seorang laki-laki yang buruk rupa memiliki istri yang sangat cantik. Pada suatu hari si istri melihat suaminya, lalu bergumam, "Alhamdulillah."

Suaminya berkata, "Ada apa?"

Dia menjawab, "Aku memanjatkan puji kepada Allah yang telah menjadikan diriku dan dirimu sebagai ahli surga, sebab engkau dianugerahi rizki, lalu bersyukur, aku pun diberi rizki berupa suami sepertimu, lalu aku bersabar. Sungguh Allah telah menjanjikan surga bagi orang yang bersabar dan bersyukur."

Jadi, ahli surga itu merupakan rangkaian akumulasi amal kita dalam membangun rasa sabar dan syukur. Inilah salah satu kunci ahli surga yang patut kita bina, perjuangkan dan aplikasikan dalam hidup keseharian seorang muslim. Lalu, apa sesungguhnya makna sabar dan syukur itu?

Menurut Syekh Al Hakim At Tirmidzi (205 H–320 H), yang dimaksud syukur adalah menyadari karunia yang Allah berikan pada dirinya, sementara yang dimaksud dengan sabar adalah tetap dalam kedudukannya bersama Tuhan.

Sementara itu, dilihat dari segi bahasa, syukur adalah terbukanya kalbu hingga karunia Tuhan tampak padamu. Di dadamu, karunia Allah selalu terlihat pada sesuatu yang Dia berikan padamu. Diriwayatkan dari Al Hasan Al Bashri bahwa Musa bertanya, "Tuhan, bagaimana cara Adam bersyukur kepada-Mu?" Tuhan menjawab, "Dia mengetahui hal itu bersumber dari-Ku, itulah bentuk syukurnya."

Untuk sabar sendiri, ia terambil dari kata Ashbaar, yang bermakna menjadikan sesuatu sebagai obyek atau meninggikan sesuatu untuk menjadi sasaran busur panah. Jadi, sabar terwujud dalam bentuk keteguhan hamba untuk menerima panah ketentuan Tuhan, bagaikan sasaran busur panah manusia yang tidak miring ke kiri atau ke kanan. Ia tidak bergeser dari tempatnya, sebab syarat untuk menjadi hamba Tuhan adalah percaya dan pasrah.

Lebih jauh At Tirmidzi mengungkapkan bahwa syukur merupakan substansi iman, sementara sabar merupakan substansi Islam. Ketika seorang hamba merasa tenang bersama Tuhan, maka dia disebut mukmin. Namun ketika menyerahkan diri sebagai hamba, maka dia disebut muslim. Keduanya terwujud dalam waktu bersamaan, sebab kalbu dalam kondisi bergerak dan bingung mencari Tuhan. Ketika mendapat rahmat, cahaya dan petunjuk, maka kalbu menjadi tenang dan stabil sehingga disebut beriman. Sebaliknya, ia menjadi gelisah dan gusar ketika cemas terhadap sesuatu. Tatkala rasa cemas itu hilang, maka kalbu kembali tenang hingga disebut beriman.

Atas dasar pemetaan tersebut, maka keberadaan sabar dan syukur ini bagi umat Islam harusnya mempunyai tempat yang khusus di dalam pribadinya yang diaplikasikan dalam perilaku hidup keseharian. Lalu, bagaimana kita semestinya menempatkan dan membangun rasa sabar dan syukur sebagai kunci surga ini dalam menjalankan kehidupan sehari-hari?

Sifat dan perilaku bersyukur ini, semestinya kita awali dengan mengenal nikmat, karena mengenal nikmat itu adalah jalan untuk mengenal Sang Pemberi nikmat. Pada tataran ini, Ibn Al Qayyim dalam Madaarij Al Salikinmenuliskan kalau pengertian syukur ada tiga yaitu (1) mengenal nikmat, (2) menerimanya, dan (3) memujinya.

Mengenal nikmat terwujud lewat rasa papa dan butuh kepada-Nya. Memuji adalah dengan memuji Zat Yang Memberi nikmat. Wujudnya ada yang bersifat umum (menyadari-Nya sebagai Zat Yang Maha Pemurah dan banyak memberi) dan yang bersifat khusus (menceritakan nikmat Allah yang diberikan lewat dirinya). Hal terakhir ini sesuai dengan yang dijelaskan dalam firman Allah, "Adapun yang terkait dengan nikmat Tuhanmu, maka ceritakanlah."

Adapun sabar ini, ia berwujud ujian untuk melihat kebaikan dan keburukanmu. Dengan cara seperti itu, tentu akan terlihat diri kita apakah tetap teguh dihadapan-Nya dan apakah kita siap menjadi sasaran tembak-Nya. Lebih jauh, perilaku tersebut juga akan menampakkan gambaran kejujuran seseorang. Yakni apakah dia memujimu untuk melihat bahwa dirimu benar-benar bersyukur? Allah berfirman dalam QS Ibrahim (14):5, "dalam semua kejadian itu terdapat bukti kekuasaan Allah bagi orang yang selalu sabar dan bersyukur."

Akhirnya, terlihat jelas dari ayat di atas, kalau Allah mengungkap kata sabar dengan pola fa'al dan mengungkap kata syukur dengan pola fa'ul. Dia mendahulukan sabar sebelum syukur, karena sikap sabar memperlihatkan rasa syukur. Syukur tersebut tersimpan di dalamnya, sebagaimana api tersembunyi di dalam batu. Ujian ibarat sebatang kayu yang memunculkan api lewat bara. Ketika batu tersebut dinyalakan, maka tampaklah api yang tersembunyi tadi.

Lantas, apakah kita selama ini sudah berperilaku sabar dan syukur untuk meraih surga-Nya? Lebih-lebih di bulan Ramadhan yang mana tiap muslim dituntut untuk berperilaku sabar dan syukur dalam menjalankan ibadah di dalamnya. Waalahu'alam.*

Arda Dinata adalah Pendiri Majelis Inspirasi Al-Quran & Realitas Alam (MIQRA) Indonesia.

*) Artikel ini telah dimuat di HU Pikiran Rakayat Bandung, edisi Jumat, 8 Januari 2010.

| www.ArdaDinata.com: | Share, Reference & Education |
| Peneliti, penulis, dan motivator penulisan di media massa |
BBM: C00447A8B
Telegram: ardadinata

Rumah Tangga Di Bawah Naungan Cinta
Lihat Detail

Rumah Tangga Di Bawah Naungan Cinta

"Bagi mereka istri-istri yang disucikan dan kami memasukkan mereka (ke bawah) naungan yang meneduh" (An-Nisa: 57). 
Sungguh indah apa yang Allah gambarkan dalam ayat Alquran di atas. Itu adalah sebuah kenikmatan yang patut kita syukuri. Naungan itu bisa dibilang termasuk kenikmatan surga. Bukankah, setiap manusia menyukai berteduh di bawah sebuah naungan agar terbebas dari sengatan matahari di musim panas dan dinginnya air saat musim hujan?

Dalam bahasa yang puitis, Dr. Akram Ridha, penulis buku Rahasia Keluarga Romantis menuliskan, "Di rumah-rumah kita, bersemilah pohon-pohon cinta yang menaungi rumah-rumah itu. Di sebagian rumah, pohon-pohon itu tumbuh segar, ranting-rantingnya memanjang dan daun-daunnya menghijau, hingga naungannya melebar teduh. Itulah rumah yang hidup di bawah naungan cinta."

Ya! Setiap pasangan pastinya ingin membangun rumah tangga di bawah naungan cinta tersebut. Dialah rumah tangga yang di dalamnya tidak pernah kehabisan tabungan cinta. Selalu ada cara untuk mengekspresikan cinta, bahkan menambah kedalaman artinya. Karena para penghuninya itu mampu menciptakan samudra cinta yang luas tanpa batas.

Lalu, fondasi dasar seperti apa yang patut kita bangun untuk menciptakan rumah tangga di bawah naungan cinta tersebut?

Fondasi dasar 

Kondisi rumah tangga di bawah naungan cinta, tentu sangat meneduhkan siapa pun penghuninya. Hal ini tentu berbeda dengan rumah tangga tanpa naungan rasa cinta. Kondisinya, tentu akan gersang, pohon-pohon cinta itu mengering, ranting-rantingnya patah, daun-daunnya berguguran dan fungsi naungannya pun menghilang.

Untuk itu, sejak awal tiap suami-istri harus sadar betul bahwa pohon-pohon rumah tangga itu senantiasa membutuhkan pengairan terus menerus yang mengantarkan dan membantunya dapat hidup serta berkembang. Tepatnya, setiap pasangan suami-istri hendaknya memahami sarana-sarana apa saja yang membuat pohon-pohon itu tetap segar dan ceria dengan kerindangan yang dimilikinya. Selain itu, ia pun harus mengerti pula sebab-sebab mengapa pohon-pohon cinta itu menjadi kering sehingga ia tidak kehilangan indahnya naungan pohon cinta tersebut.

Terkait usaha membangun rumah tangga di bawah naungan cinta, jauh-jauh hari ajaran Islam telah memberikan petuahnya bahwa untuk menggapai kondisi rumah tangga dalam naungan cinta, hubungan suami-istri tersebut harus dibangun di atas dua fondasi dasar asas membangun rumah tangga.

Pertama, asas rabbani, yaitu asas yang terkait dengan hukum-hukum Allah, perintah dan larangan-Nya. Batas-batas Allah itulah yang harus menjadi fondasi awal bagi suami-istri dalam membangun rumah tangga. Melalui aplikasi perilaku tersebut, tatanan rumah tangga di bawah naungan pohon cinta itu dapat kita raih.

Kedua, asas insani. Dalam Alquran, asas insani ini diungkapkan dengan istilah al-ma`ruf (kebaikan). Terkait dengan ini, Dr. Akram Ridha menyebutnya dengan nilai-nilai keadilan dan ihsan (berbuat kebaikan). Inilah yang merupakan fondasi syariat Islam. Artinya, hubungan suami-istri di dalam kehidupan keluarga dan masyarakat dibangun di atas fondasi "saling memberikan hak", yang berputar di orbit keadilan (hak-hak hukum) dan orbit ihsan (hak-hak agamis yang menyadarkan pada kekuatan `batin agamis` yang ada di setiap orang).

Oleh karena itu, hak-hak agamis dalam keluarga itu tidak mungkin dibatasi atau diatur, melainkan dengan napas takwa. Kondisi tersebut terlihat seperti dalam ungkapan ajaran Islam dalam Alquran, yaitu "Pergaulilah mereka (suami-istri) dengan baik (ma`ruf); hak bagi mereka itu sama seperti kewajiban mereka, dengan (dasar) kebaikan."

Jadi, kebaikan (al-ma`ruf) itu merupakan proses di mana orbit nikmat Allah berupa pernikahan berputar. Ia adalah ketenangan (sakan), cinta kasih (mawaddah), dan sayang (rahmah). Untuk itu, langkah memperindah hubungan suami-istri inilah merupakan sebaik-baik ungkapan syukur atas nikmat tersebut dan sebagai jalan terbaik melanggengkan ikatan pernikahan. Semoga!

Arda Dinata adalah Pendiri Majelis Inspirasi Al-Quran & Realitas Alam (MIQRA) Indonesia.

*) Artikel ini telah dimuat di HU Pikiran Rakayat Bandung, edisi Minggu, 28 Februari 2010.


| www.ArdaDinata.com: | Share, Reference & Education |
| Peneliti, penulis, dan motivator penulisan di media massa |
BBM: C00447A8B
Telegram: ardadinata

"Bagi mereka istri-istri yang disucikan dan kami memasukkan mereka (ke bawah) naungan yang meneduh" (An-Nisa: 57). 
Sungguh indah apa yang Allah gambarkan dalam ayat Alquran di atas. Itu adalah sebuah kenikmatan yang patut kita syukuri. Naungan itu bisa dibilang termasuk kenikmatan surga. Bukankah, setiap manusia menyukai berteduh di bawah sebuah naungan agar terbebas dari sengatan matahari di musim panas dan dinginnya air saat musim hujan?

Dalam bahasa yang puitis, Dr. Akram Ridha, penulis buku Rahasia Keluarga Romantis menuliskan, "Di rumah-rumah kita, bersemilah pohon-pohon cinta yang menaungi rumah-rumah itu. Di sebagian rumah, pohon-pohon itu tumbuh segar, ranting-rantingnya memanjang dan daun-daunnya menghijau, hingga naungannya melebar teduh. Itulah rumah yang hidup di bawah naungan cinta."

Ya! Setiap pasangan pastinya ingin membangun rumah tangga di bawah naungan cinta tersebut. Dialah rumah tangga yang di dalamnya tidak pernah kehabisan tabungan cinta. Selalu ada cara untuk mengekspresikan cinta, bahkan menambah kedalaman artinya. Karena para penghuninya itu mampu menciptakan samudra cinta yang luas tanpa batas.

Lalu, fondasi dasar seperti apa yang patut kita bangun untuk menciptakan rumah tangga di bawah naungan cinta tersebut?

Fondasi dasar 

Kondisi rumah tangga di bawah naungan cinta, tentu sangat meneduhkan siapa pun penghuninya. Hal ini tentu berbeda dengan rumah tangga tanpa naungan rasa cinta. Kondisinya, tentu akan gersang, pohon-pohon cinta itu mengering, ranting-rantingnya patah, daun-daunnya berguguran dan fungsi naungannya pun menghilang.

Untuk itu, sejak awal tiap suami-istri harus sadar betul bahwa pohon-pohon rumah tangga itu senantiasa membutuhkan pengairan terus menerus yang mengantarkan dan membantunya dapat hidup serta berkembang. Tepatnya, setiap pasangan suami-istri hendaknya memahami sarana-sarana apa saja yang membuat pohon-pohon itu tetap segar dan ceria dengan kerindangan yang dimilikinya. Selain itu, ia pun harus mengerti pula sebab-sebab mengapa pohon-pohon cinta itu menjadi kering sehingga ia tidak kehilangan indahnya naungan pohon cinta tersebut.

Terkait usaha membangun rumah tangga di bawah naungan cinta, jauh-jauh hari ajaran Islam telah memberikan petuahnya bahwa untuk menggapai kondisi rumah tangga dalam naungan cinta, hubungan suami-istri tersebut harus dibangun di atas dua fondasi dasar asas membangun rumah tangga.

Pertama, asas rabbani, yaitu asas yang terkait dengan hukum-hukum Allah, perintah dan larangan-Nya. Batas-batas Allah itulah yang harus menjadi fondasi awal bagi suami-istri dalam membangun rumah tangga. Melalui aplikasi perilaku tersebut, tatanan rumah tangga di bawah naungan pohon cinta itu dapat kita raih.

Kedua, asas insani. Dalam Alquran, asas insani ini diungkapkan dengan istilah al-ma`ruf (kebaikan). Terkait dengan ini, Dr. Akram Ridha menyebutnya dengan nilai-nilai keadilan dan ihsan (berbuat kebaikan). Inilah yang merupakan fondasi syariat Islam. Artinya, hubungan suami-istri di dalam kehidupan keluarga dan masyarakat dibangun di atas fondasi "saling memberikan hak", yang berputar di orbit keadilan (hak-hak hukum) dan orbit ihsan (hak-hak agamis yang menyadarkan pada kekuatan `batin agamis` yang ada di setiap orang).

Oleh karena itu, hak-hak agamis dalam keluarga itu tidak mungkin dibatasi atau diatur, melainkan dengan napas takwa. Kondisi tersebut terlihat seperti dalam ungkapan ajaran Islam dalam Alquran, yaitu "Pergaulilah mereka (suami-istri) dengan baik (ma`ruf); hak bagi mereka itu sama seperti kewajiban mereka, dengan (dasar) kebaikan."

Jadi, kebaikan (al-ma`ruf) itu merupakan proses di mana orbit nikmat Allah berupa pernikahan berputar. Ia adalah ketenangan (sakan), cinta kasih (mawaddah), dan sayang (rahmah). Untuk itu, langkah memperindah hubungan suami-istri inilah merupakan sebaik-baik ungkapan syukur atas nikmat tersebut dan sebagai jalan terbaik melanggengkan ikatan pernikahan. Semoga!

Arda Dinata adalah Pendiri Majelis Inspirasi Al-Quran & Realitas Alam (MIQRA) Indonesia.

*) Artikel ini telah dimuat di HU Pikiran Rakayat Bandung, edisi Minggu, 28 Februari 2010.


| www.ArdaDinata.com: | Share, Reference & Education |
| Peneliti, penulis, dan motivator penulisan di media massa |
BBM: C00447A8B
Telegram: ardadinata

"Bagi mereka istri-istri yang disucikan dan kami memasukkan mereka (ke bawah) naungan yang meneduh" (An-Nisa: 57). 
Sungguh indah apa yang Allah gambarkan dalam ayat Alquran di atas. Itu adalah sebuah kenikmatan yang patut kita syukuri. Naungan itu bisa dibilang termasuk kenikmatan surga. Bukankah, setiap manusia menyukai berteduh di bawah sebuah naungan agar terbebas dari sengatan matahari di musim panas dan dinginnya air saat musim hujan?

Dalam bahasa yang puitis, Dr. Akram Ridha, penulis buku Rahasia Keluarga Romantis menuliskan, "Di rumah-rumah kita, bersemilah pohon-pohon cinta yang menaungi rumah-rumah itu. Di sebagian rumah, pohon-pohon itu tumbuh segar, ranting-rantingnya memanjang dan daun-daunnya menghijau, hingga naungannya melebar teduh. Itulah rumah yang hidup di bawah naungan cinta."

Ya! Setiap pasangan pastinya ingin membangun rumah tangga di bawah naungan cinta tersebut. Dialah rumah tangga yang di dalamnya tidak pernah kehabisan tabungan cinta. Selalu ada cara untuk mengekspresikan cinta, bahkan menambah kedalaman artinya. Karena para penghuninya itu mampu menciptakan samudra cinta yang luas tanpa batas.

Lalu, fondasi dasar seperti apa yang patut kita bangun untuk menciptakan rumah tangga di bawah naungan cinta tersebut?

Fondasi dasar 

Kondisi rumah tangga di bawah naungan cinta, tentu sangat meneduhkan siapa pun penghuninya. Hal ini tentu berbeda dengan rumah tangga tanpa naungan rasa cinta. Kondisinya, tentu akan gersang, pohon-pohon cinta itu mengering, ranting-rantingnya patah, daun-daunnya berguguran dan fungsi naungannya pun menghilang.

Untuk itu, sejak awal tiap suami-istri harus sadar betul bahwa pohon-pohon rumah tangga itu senantiasa membutuhkan pengairan terus menerus yang mengantarkan dan membantunya dapat hidup serta berkembang. Tepatnya, setiap pasangan suami-istri hendaknya memahami sarana-sarana apa saja yang membuat pohon-pohon itu tetap segar dan ceria dengan kerindangan yang dimilikinya. Selain itu, ia pun harus mengerti pula sebab-sebab mengapa pohon-pohon cinta itu menjadi kering sehingga ia tidak kehilangan indahnya naungan pohon cinta tersebut.

Terkait usaha membangun rumah tangga di bawah naungan cinta, jauh-jauh hari ajaran Islam telah memberikan petuahnya bahwa untuk menggapai kondisi rumah tangga dalam naungan cinta, hubungan suami-istri tersebut harus dibangun di atas dua fondasi dasar asas membangun rumah tangga.

Pertama, asas rabbani, yaitu asas yang terkait dengan hukum-hukum Allah, perintah dan larangan-Nya. Batas-batas Allah itulah yang harus menjadi fondasi awal bagi suami-istri dalam membangun rumah tangga. Melalui aplikasi perilaku tersebut, tatanan rumah tangga di bawah naungan pohon cinta itu dapat kita raih.

Kedua, asas insani. Dalam Alquran, asas insani ini diungkapkan dengan istilah al-ma`ruf (kebaikan). Terkait dengan ini, Dr. Akram Ridha menyebutnya dengan nilai-nilai keadilan dan ihsan (berbuat kebaikan). Inilah yang merupakan fondasi syariat Islam. Artinya, hubungan suami-istri di dalam kehidupan keluarga dan masyarakat dibangun di atas fondasi "saling memberikan hak", yang berputar di orbit keadilan (hak-hak hukum) dan orbit ihsan (hak-hak agamis yang menyadarkan pada kekuatan `batin agamis` yang ada di setiap orang).

Oleh karena itu, hak-hak agamis dalam keluarga itu tidak mungkin dibatasi atau diatur, melainkan dengan napas takwa. Kondisi tersebut terlihat seperti dalam ungkapan ajaran Islam dalam Alquran, yaitu "Pergaulilah mereka (suami-istri) dengan baik (ma`ruf); hak bagi mereka itu sama seperti kewajiban mereka, dengan (dasar) kebaikan."

Jadi, kebaikan (al-ma`ruf) itu merupakan proses di mana orbit nikmat Allah berupa pernikahan berputar. Ia adalah ketenangan (sakan), cinta kasih (mawaddah), dan sayang (rahmah). Untuk itu, langkah memperindah hubungan suami-istri inilah merupakan sebaik-baik ungkapan syukur atas nikmat tersebut dan sebagai jalan terbaik melanggengkan ikatan pernikahan. Semoga!

Arda Dinata adalah Pendiri Majelis Inspirasi Al-Quran & Realitas Alam (MIQRA) Indonesia.

*) Artikel ini telah dimuat di HU Pikiran Rakayat Bandung, edisi Minggu, 28 Februari 2010.


| www.ArdaDinata.com: | Share, Reference & Education |
| Peneliti, penulis, dan motivator penulisan di media massa |
BBM: C00447A8B
Telegram: ardadinata

Daftar Isi Artikel Klik di Sini!


EBOOK: KESLING, MOTIVASI & PENGEMBANGAN DIRI

|HOME |ARDA PUBLISHING HOUSE |MIQRA INDONESIA |OPINI |OPTIMIS |SEHAT |KELUARGA |SPIRIT |IBROH |JURNALISTIK |BUKU |JURNAL |LINGKUNGAN |DUNIA NYAMUK |NEWS MIQRA |BISNIS |PROFIL |ARDA TV|