-->
PASANG IKLAN DI SINI!
(MURAH SESUAI BUDGET ANDA)

Tampilkan postingan dengan label DAFTAR ISI E-MIQRA INDONESIA. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label DAFTAR ISI E-MIQRA INDONESIA. Tampilkan semua postingan
Majelis Inspirasi Alquran dan Realitas Alam
Lihat Detail

Majelis Inspirasi Alquran dan Realitas Alam



MAJELIS INSPIRASI ALQUR’AN DAN REALITAS ALAM
[MIQRA INDONESIA]


Waktu Pendirian:
Jum’at, 05 Januari 2002 --- 19 Syawal 1422 H

Pendiri:
ARDA DINATA
Motto:
Membangun Inspirasi dan Menebar Ilmu Menuju Ridho-Nya

Visi Majelis IQRA’:
Majelis IQRA’ merupakan lembaga eksplorasi inspirasi dan ilmu yang bersumber dari Al-Qur’an, Realitas Alam serta kehidupan manusia.

Program Kerja Majelis IQRA’:
Bentuk kegiatan Majelis IQRA’antara lain adalah:
1. Menjaring motivasi pengembangan Inspirasi yang bersumber Alquran dan realitas alam
2. Bimbingan menuangkan inspirasi dalam bentuk karya tulis
3. Kajian ilmu yang bersumber dari Alquran dan realitas alam
4. Membuat majalah elektronik MIQRA INDONESIA

MIQRA INDONESIA
Majelis Inspirasi Alquran dan Realitas Alam
Http://www.miqra.blogspot.com
Email: miqra_indo@yahoo.co.id


Profil Majalah Elektronik MIQRA INDONESIA

Deskripsi Menu Majalah e-MIQRA INDONESIA:

1. Beranda:
Halaman utama majalah e-MIQRA INDONESIA. Berisi berita aktual yang diposting setiap saat sesuai kebutuhan. Membuat kabar terbaru dari redaksi dan berisi head line dari tiap rubrik yang ada di majalah e-MIQRA INDONESIA.

2. MIQRA Profil:
Berisi profil MIQRA INDONESIA yang meliputi: waktu pendirian, visi, agenda kegiatan, pengelola majalah e-MIQRA INDONESIA, dan biodata anggota MIQRA INDONESIA.

3. MIQRA OPINI/Pembaca:
Berisi surat pembaca dan tanggapan dari pembaca seputar content dan perwajahan majalah e-MIQRA INDONESIA. Halaman ini diposting seminggu sekali.

4. MIQRA Inspirasi:
Berisi kata-kata inspiratif dan tulisan ringan penggugah motivasi hidup agar lebih berkualitas. Halam ini diposting seminggu sekali.

5. MIQRA Sehat:
Berisi artikel masalah kesehatan dan lingkungan dengan gaya penyajian yang inspiratif agar hidup menjadi lebih sehat, menyehatkan, dan bahagia. Halaman ini diposting seminggu sekali.

6. MIQRA Keluarga:
Berisi artikel seputar masalah anak, keluarga, dan parenting dengan gaya penulisan yang inspiratif. Rubrik ini pokoknya berbicara 100% tentang dunia keluarga. Halaman ini diposting seminggu sekali.

7. MIQRA Spirit:
Berisi artikel inspiratif seputar motivasi dan spirit terkait dengan pengembangan diri manusia, agar hidupnya lebih baik dan berkualitas. Halaman ini diposting seminggu sekali.

8. MIQRA Ibroh:
Berisi artikel inspiratif yang mengandung hikmah dan pelajaran. Rubrik ini diharapkan mampu memotivasi para pembaca untuk berperilaku lebih bijak dalam kehidupan sehari-hari. Halaman ini diposting seminggu sekali.

9. MIQRA Buku:
Berisi informasi seputar dunia pustaka dan produk-produk buku yang diterbitkan oleh MIQRA INDONESIA dan penerbit lain yang sejalan dengan visi MIQRA INDONESIA. Halaman ini diposting sesuai kebutuhan.

10. MIQRA Jurnalistik:
Berisi tentang artikel jurnalistik dan tanya jawab seputar dunia bisnis tulis menulis/jurnalistik. Para pembaca dan anggota bimbingan tulis menulis di MIQRA INDONESIA dapat melayangkan pertanyaanya untuk dibahas dalam rubrik ini. Halaman ini dipoting seminggu sekali.

11. Catatan Tambahan:
Redaksi majalah e-MIQRA INDONESIA menerima tulisan artikel yang sesuai dengan rubrik yang ada, surat pembaca dan pertanyaan seputar dunia tulis menulis. Artikel dan surat harap dikirim ke redaksi majalah e-MIQRA INDONESIA, melalui email: miqra_indo@yahoo.co.id.

Bagaimana menurut Anda?
Arda Dinata, pendiri Majelis Inspirasi Alquran dan Realitas Alam/ MIQRA Indonesia, www.miqraindonesia.com 


MAJELIS INSPIRASI ALQUR’AN DAN REALITAS ALAM
[MIQRA INDONESIA]


Waktu Pendirian:
Jum’at, 05 Januari 2002 --- 19 Syawal 1422 H

Pendiri:
ARDA DINATA
Motto:
Membangun Inspirasi dan Menebar Ilmu Menuju Ridho-Nya

Visi Majelis IQRA’:
Majelis IQRA’ merupakan lembaga eksplorasi inspirasi dan ilmu yang bersumber dari Al-Qur’an, Realitas Alam serta kehidupan manusia.

Program Kerja Majelis IQRA’:
Bentuk kegiatan Majelis IQRA’antara lain adalah:
1. Menjaring motivasi pengembangan Inspirasi yang bersumber Alquran dan realitas alam
2. Bimbingan menuangkan inspirasi dalam bentuk karya tulis
3. Kajian ilmu yang bersumber dari Alquran dan realitas alam
4. Membuat majalah elektronik MIQRA INDONESIA

MIQRA INDONESIA
Majelis Inspirasi Alquran dan Realitas Alam
Http://www.miqra.blogspot.com
Email: miqra_indo@yahoo.co.id


Profil Majalah Elektronik MIQRA INDONESIA

Deskripsi Menu Majalah e-MIQRA INDONESIA:

1. Beranda:
Halaman utama majalah e-MIQRA INDONESIA. Berisi berita aktual yang diposting setiap saat sesuai kebutuhan. Membuat kabar terbaru dari redaksi dan berisi head line dari tiap rubrik yang ada di majalah e-MIQRA INDONESIA.

2. MIQRA Profil:
Berisi profil MIQRA INDONESIA yang meliputi: waktu pendirian, visi, agenda kegiatan, pengelola majalah e-MIQRA INDONESIA, dan biodata anggota MIQRA INDONESIA.

3. MIQRA OPINI/Pembaca:
Berisi surat pembaca dan tanggapan dari pembaca seputar content dan perwajahan majalah e-MIQRA INDONESIA. Halaman ini diposting seminggu sekali.

4. MIQRA Inspirasi:
Berisi kata-kata inspiratif dan tulisan ringan penggugah motivasi hidup agar lebih berkualitas. Halam ini diposting seminggu sekali.

5. MIQRA Sehat:
Berisi artikel masalah kesehatan dan lingkungan dengan gaya penyajian yang inspiratif agar hidup menjadi lebih sehat, menyehatkan, dan bahagia. Halaman ini diposting seminggu sekali.

6. MIQRA Keluarga:
Berisi artikel seputar masalah anak, keluarga, dan parenting dengan gaya penulisan yang inspiratif. Rubrik ini pokoknya berbicara 100% tentang dunia keluarga. Halaman ini diposting seminggu sekali.

7. MIQRA Spirit:
Berisi artikel inspiratif seputar motivasi dan spirit terkait dengan pengembangan diri manusia, agar hidupnya lebih baik dan berkualitas. Halaman ini diposting seminggu sekali.

8. MIQRA Ibroh:
Berisi artikel inspiratif yang mengandung hikmah dan pelajaran. Rubrik ini diharapkan mampu memotivasi para pembaca untuk berperilaku lebih bijak dalam kehidupan sehari-hari. Halaman ini diposting seminggu sekali.

9. MIQRA Buku:
Berisi informasi seputar dunia pustaka dan produk-produk buku yang diterbitkan oleh MIQRA INDONESIA dan penerbit lain yang sejalan dengan visi MIQRA INDONESIA. Halaman ini diposting sesuai kebutuhan.

10. MIQRA Jurnalistik:
Berisi tentang artikel jurnalistik dan tanya jawab seputar dunia bisnis tulis menulis/jurnalistik. Para pembaca dan anggota bimbingan tulis menulis di MIQRA INDONESIA dapat melayangkan pertanyaanya untuk dibahas dalam rubrik ini. Halaman ini dipoting seminggu sekali.

11. Catatan Tambahan:
Redaksi majalah e-MIQRA INDONESIA menerima tulisan artikel yang sesuai dengan rubrik yang ada, surat pembaca dan pertanyaan seputar dunia tulis menulis. Artikel dan surat harap dikirim ke redaksi majalah e-MIQRA INDONESIA, melalui email: miqra_indo@yahoo.co.id.

Bagaimana menurut Anda?
Arda Dinata, pendiri Majelis Inspirasi Alquran dan Realitas Alam/ MIQRA Indonesia, www.miqraindonesia.com 
SINOPSIS BUKU “TRILOGI KECERDASAN INSPIRASI HATI”
Lihat Detail

SINOPSIS BUKU “TRILOGI KECERDASAN INSPIRASI HATI”

Bagi temen-temen yang ingin baca SINOPSIS BUKU “TRILOGI KECERDASAN INSPIRASI HATI”
 karya Arda Dinata, yaitu:

(1) MENJADI PRIBADI SOLUTIF: 6 Langkah Membangkitkan
Pola Pikir Sukses & Solutif Hidup Anda

(2) MENJEMPUT NIKMAT KEHIDUPAN: 5 Langkah Membangkitkan
Nikmat dan Keindahan Hidup Anda

(3) MENJADI ORANG BAHAGIA: 5 Langkah Membangkitkan
Perilaku Bahagia Hidup Anda
Silahkan ambil file-nya di bawah ini:


Lalu baca dan jangan lupa beri komentar singkat tentang ketiga buku tersebut ya! Sebelum dan sesudahnya saya ucapkan terima kasih di tunggu ya...!

Hormat Saya,





ILMU MENJADI KAYA
Berpikir Lama? Orang Lain Yang Akan Mendahului Kesuksesan Anda! Ayo Segera Miliki ILMU MENJADI KAYA ini.

RAHASIA JADI JUTAWAN
Mau Jadi Penulis BestSeller + Income Jutaan? Ayo Gabung di Penulis Sukses yuk!

INSPIRASI SUKSES
Ubah Nasib Anda Sekarang Menjadi Pribadi SUKSES dan TANGGUH dengan Cara Gabung Bersama GROUP MIQRA INDONESIA


  
Bagi temen-temen yang ingin baca SINOPSIS BUKU “TRILOGI KECERDASAN INSPIRASI HATI”
 karya Arda Dinata, yaitu:

(1) MENJADI PRIBADI SOLUTIF: 6 Langkah Membangkitkan
Pola Pikir Sukses & Solutif Hidup Anda

(2) MENJEMPUT NIKMAT KEHIDUPAN: 5 Langkah Membangkitkan
Nikmat dan Keindahan Hidup Anda

(3) MENJADI ORANG BAHAGIA: 5 Langkah Membangkitkan
Perilaku Bahagia Hidup Anda
Silahkan ambil file-nya di bawah ini:


Lalu baca dan jangan lupa beri komentar singkat tentang ketiga buku tersebut ya! Sebelum dan sesudahnya saya ucapkan terima kasih di tunggu ya...!

Hormat Saya,





ILMU MENJADI KAYA
Berpikir Lama? Orang Lain Yang Akan Mendahului Kesuksesan Anda! Ayo Segera Miliki ILMU MENJADI KAYA ini.

RAHASIA JADI JUTAWAN
Mau Jadi Penulis BestSeller + Income Jutaan? Ayo Gabung di Penulis Sukses yuk!

INSPIRASI SUKSES
Ubah Nasib Anda Sekarang Menjadi Pribadi SUKSES dan TANGGUH dengan Cara Gabung Bersama GROUP MIQRA INDONESIA


  
Bagi temen-temen yang ingin baca SINOPSIS BUKU “TRILOGI KECERDASAN INSPIRASI HATI”
 karya Arda Dinata, yaitu:

(1) MENJADI PRIBADI SOLUTIF: 6 Langkah Membangkitkan
Pola Pikir Sukses & Solutif Hidup Anda

(2) MENJEMPUT NIKMAT KEHIDUPAN: 5 Langkah Membangkitkan
Nikmat dan Keindahan Hidup Anda

(3) MENJADI ORANG BAHAGIA: 5 Langkah Membangkitkan
Perilaku Bahagia Hidup Anda
Silahkan ambil file-nya di bawah ini:


Lalu baca dan jangan lupa beri komentar singkat tentang ketiga buku tersebut ya! Sebelum dan sesudahnya saya ucapkan terima kasih di tunggu ya...!

Hormat Saya,





ILMU MENJADI KAYA
Berpikir Lama? Orang Lain Yang Akan Mendahului Kesuksesan Anda! Ayo Segera Miliki ILMU MENJADI KAYA ini.

RAHASIA JADI JUTAWAN
Mau Jadi Penulis BestSeller + Income Jutaan? Ayo Gabung di Penulis Sukses yuk!

INSPIRASI SUKSES
Ubah Nasib Anda Sekarang Menjadi Pribadi SUKSES dan TANGGUH dengan Cara Gabung Bersama GROUP MIQRA INDONESIA


  
Menumbuhkan Kepercayaan Diri Anda
Lihat Detail

Menumbuhkan Kepercayaan Diri Anda


Menumbuhkan Kepercayaan Diri Anda
Oleh Arda Dinata

Islam: Religion, History, and CivilizationKesuksesan hidup seseorang, kadangkala menjadi terhalang disebabkan karena ia tidak mempercayai kemampuan yang dimilikinya. Padahal, kalau kita dapat berpikir bijaksana, tentu akan timbul kesadaran bahwa semua manusia itu pada dasarnya dilahirkan sama. Yakni memiliki kelebihan dan kekurangan. 

Di sini, yang membedakan mereka adalah pola pikir dan sikap positif terhadap suatu keadaan yang menghadapinya. Berikut ini beberapa cara untuk menumbuhkan kepercayaan diri yang bisa dijadikan sebagai pegangan, yaitu:


Your Ad Here




Pertama, hancurkan segala perasaan minder pada diri Anda.

Kedua, atasi dan cegah setiap bentuk kelemahan Anda dengan semangat jiwa besar, maupun dengan kelebihan yang Anda miliki.


Ketiga, selalu mengingat dan merasa bangga dengan sikap positif yang telah Anda miliki.


Keempat, bertindaklah dengan antusias dan optimis, karena hal ini akan menjadikan hidup Anda menjadi semangat dan bergairah.


Kelima, peliharalah selalu penampilan fisik yang prima dan mental positif pada diri Anda.


Keenam, tetaplah tersenyum walaupun mengalami masa-masa sulit.


Ketujuh, yakinlah, Anda adalah individu yang unik dan berharga untuk diri Anda.


Kedelapan, ingatlah bahwa Anda memiliki kekuatan dan potensi yang tidak terbatas untuk mencapai tujuan yang Anda impikan. (Arda Dinata).***

Penulis Pendiri Majelis Inspirasi Alquran dan Realitas Alam (MIQRA) Indonesia. http://motivationarda.blogspot.com/



Menumbuhkan Kepercayaan Diri Anda
Oleh Arda Dinata

Islam: Religion, History, and CivilizationKesuksesan hidup seseorang, kadangkala menjadi terhalang disebabkan karena ia tidak mempercayai kemampuan yang dimilikinya. Padahal, kalau kita dapat berpikir bijaksana, tentu akan timbul kesadaran bahwa semua manusia itu pada dasarnya dilahirkan sama. Yakni memiliki kelebihan dan kekurangan. 

Di sini, yang membedakan mereka adalah pola pikir dan sikap positif terhadap suatu keadaan yang menghadapinya. Berikut ini beberapa cara untuk menumbuhkan kepercayaan diri yang bisa dijadikan sebagai pegangan, yaitu:


Your Ad Here




Pertama, hancurkan segala perasaan minder pada diri Anda.

Kedua, atasi dan cegah setiap bentuk kelemahan Anda dengan semangat jiwa besar, maupun dengan kelebihan yang Anda miliki.


Ketiga, selalu mengingat dan merasa bangga dengan sikap positif yang telah Anda miliki.


Keempat, bertindaklah dengan antusias dan optimis, karena hal ini akan menjadikan hidup Anda menjadi semangat dan bergairah.


Kelima, peliharalah selalu penampilan fisik yang prima dan mental positif pada diri Anda.


Keenam, tetaplah tersenyum walaupun mengalami masa-masa sulit.


Ketujuh, yakinlah, Anda adalah individu yang unik dan berharga untuk diri Anda.


Kedelapan, ingatlah bahwa Anda memiliki kekuatan dan potensi yang tidak terbatas untuk mencapai tujuan yang Anda impikan. (Arda Dinata).***

Penulis Pendiri Majelis Inspirasi Alquran dan Realitas Alam (MIQRA) Indonesia. http://motivationarda.blogspot.com/



Menumbuhkan Kepercayaan Diri Anda
Oleh Arda Dinata

Islam: Religion, History, and CivilizationKesuksesan hidup seseorang, kadangkala menjadi terhalang disebabkan karena ia tidak mempercayai kemampuan yang dimilikinya. Padahal, kalau kita dapat berpikir bijaksana, tentu akan timbul kesadaran bahwa semua manusia itu pada dasarnya dilahirkan sama. Yakni memiliki kelebihan dan kekurangan. 

Di sini, yang membedakan mereka adalah pola pikir dan sikap positif terhadap suatu keadaan yang menghadapinya. Berikut ini beberapa cara untuk menumbuhkan kepercayaan diri yang bisa dijadikan sebagai pegangan, yaitu:


Your Ad Here




Pertama, hancurkan segala perasaan minder pada diri Anda.

Kedua, atasi dan cegah setiap bentuk kelemahan Anda dengan semangat jiwa besar, maupun dengan kelebihan yang Anda miliki.


Ketiga, selalu mengingat dan merasa bangga dengan sikap positif yang telah Anda miliki.


Keempat, bertindaklah dengan antusias dan optimis, karena hal ini akan menjadikan hidup Anda menjadi semangat dan bergairah.


Kelima, peliharalah selalu penampilan fisik yang prima dan mental positif pada diri Anda.


Keenam, tetaplah tersenyum walaupun mengalami masa-masa sulit.


Ketujuh, yakinlah, Anda adalah individu yang unik dan berharga untuk diri Anda.


Kedelapan, ingatlah bahwa Anda memiliki kekuatan dan potensi yang tidak terbatas untuk mencapai tujuan yang Anda impikan. (Arda Dinata).***

Penulis Pendiri Majelis Inspirasi Alquran dan Realitas Alam (MIQRA) Indonesia. http://motivationarda.blogspot.com/



Menumbuhkan Kepercayaan Diri Anda
Oleh Arda Dinata

Islam: Religion, History, and CivilizationKesuksesan hidup seseorang, kadangkala menjadi terhalang disebabkan karena ia tidak mempercayai kemampuan yang dimilikinya. Padahal, kalau kita dapat berpikir bijaksana, tentu akan timbul kesadaran bahwa semua manusia itu pada dasarnya dilahirkan sama. Yakni memiliki kelebihan dan kekurangan. 

Di sini, yang membedakan mereka adalah pola pikir dan sikap positif terhadap suatu keadaan yang menghadapinya. Berikut ini beberapa cara untuk menumbuhkan kepercayaan diri yang bisa dijadikan sebagai pegangan, yaitu:


Your Ad Here




Pertama, hancurkan segala perasaan minder pada diri Anda.

Kedua, atasi dan cegah setiap bentuk kelemahan Anda dengan semangat jiwa besar, maupun dengan kelebihan yang Anda miliki.


Ketiga, selalu mengingat dan merasa bangga dengan sikap positif yang telah Anda miliki.


Keempat, bertindaklah dengan antusias dan optimis, karena hal ini akan menjadikan hidup Anda menjadi semangat dan bergairah.


Kelima, peliharalah selalu penampilan fisik yang prima dan mental positif pada diri Anda.


Keenam, tetaplah tersenyum walaupun mengalami masa-masa sulit.


Ketujuh, yakinlah, Anda adalah individu yang unik dan berharga untuk diri Anda.


Kedelapan, ingatlah bahwa Anda memiliki kekuatan dan potensi yang tidak terbatas untuk mencapai tujuan yang Anda impikan. (Arda Dinata).***

Penulis Pendiri Majelis Inspirasi Alquran dan Realitas Alam (MIQRA) Indonesia. http://motivationarda.blogspot.com/



Menumbuhkan Kepercayaan Diri Anda
Oleh Arda Dinata

Islam: Religion, History, and CivilizationKesuksesan hidup seseorang, kadangkala menjadi terhalang disebabkan karena ia tidak mempercayai kemampuan yang dimilikinya. Padahal, kalau kita dapat berpikir bijaksana, tentu akan timbul kesadaran bahwa semua manusia itu pada dasarnya dilahirkan sama. Yakni memiliki kelebihan dan kekurangan. 

Di sini, yang membedakan mereka adalah pola pikir dan sikap positif terhadap suatu keadaan yang menghadapinya. Berikut ini beberapa cara untuk menumbuhkan kepercayaan diri yang bisa dijadikan sebagai pegangan, yaitu:


Your Ad Here




Pertama, hancurkan segala perasaan minder pada diri Anda.

Kedua, atasi dan cegah setiap bentuk kelemahan Anda dengan semangat jiwa besar, maupun dengan kelebihan yang Anda miliki.


Ketiga, selalu mengingat dan merasa bangga dengan sikap positif yang telah Anda miliki.


Keempat, bertindaklah dengan antusias dan optimis, karena hal ini akan menjadikan hidup Anda menjadi semangat dan bergairah.


Kelima, peliharalah selalu penampilan fisik yang prima dan mental positif pada diri Anda.


Keenam, tetaplah tersenyum walaupun mengalami masa-masa sulit.


Ketujuh, yakinlah, Anda adalah individu yang unik dan berharga untuk diri Anda.


Kedelapan, ingatlah bahwa Anda memiliki kekuatan dan potensi yang tidak terbatas untuk mencapai tujuan yang Anda impikan. (Arda Dinata).***

Penulis Pendiri Majelis Inspirasi Alquran dan Realitas Alam (MIQRA) Indonesia. http://motivationarda.blogspot.com/


Empat Sikap Pembangun Pribadi Pantang Menyerah
Lihat Detail

Empat Sikap Pembangun Pribadi Pantang Menyerah

Empat Sikap Pembangun Pribadi Pantang Menyerah
Oleh: ARDA DINATA


Alam dan isinya ini tercipta secara berpasang-pasangan, sehingga melahirkan hukum tarik menarik antara satu dengan yang lainnya. Artinya kondisi alam ini akan selalu dinamis sesuai dengan kehendak-Nya. Begitu juga halnya dengan kehidupan manusia, akan mengalami rotasi (perputaran) antara di bawah–di atas; sukses-tidak sukses; bahagia-susah, dll.



Your Ad Here

          Pribadi pantang menyerah (tangguh) adalah tidak lain sebutan bagi pribadi yang tidak merasa lemah terhadap sesuatu yang terjadi dan menimpanya. Pribadinya menganggap sesuatu yang terjadi itu dari segi positifnya. Ia yakin betul bahwa sekenario Sang Pencipta itu tidak akan meleset sedikit pun.

          Pribadi pantang menyerah dan tangguh ini, tidak lain adalah pribadi yang memiliki kemampuan untuk bersyukur apabila ia mendapat sesuatu yang berkaitan dengan kebahagiaan, kesuksesan, medapat rezeki, dll. Sebaliknya, jika ia mendapati sesuatu yang tidak diharapkannya, entah itu berupa kesedihan, kegagalan, mendapat bala bencana, dll., maka ia memiliki ketahanan untuk selalu bersabar. Dan pribadi seperti ini memposisikan setiap kejadian yang menimpanya adalah atas ijin dan kehendak-Nya. Ia berserah diri dan selalu berusaha untuk bangkit dengan cara mengambil pelajaran dari setiap kejadian tersebut.

          Pribadi pantang menyerah ini bukan saja semata-mata dilihat secara fisik. Tetapi lebih-lebih dan yang lebih penting justru adanya sifat positif dalam jiwanya yang begitu tangguh dan kuat.

          Seseorang menjadi kuat, pada dasarnya karena mentalnya kuat. Seseorang menjadi lemah, karena mentalnya lemah. Begitu juga, seseorang sukses, karena ia memiliki keinginan untuk sukses. Dan seseorang yang gagal, karena ia berbuat gagal. Dalam hal ini, ada keterangan yang menyebutkan bahwa: “Orang yang kuat lebih disukai dan lebih baik dari orang yang lemah.” Jadi, manusia tangguh dan kuat itu, sudah seharusnya menjadi cita-cita kita dalam rangka mengabdi kepada-Nya.

          Dalam konteks ini, dapat disebutkan bahwa kesuksesan menurut pandangan secara religius itu memiliki dua syarat pokok. Yakni iman dan ilmu. Kedua hal ini, kalau kita kaji secara rinci, jelas-jelas memiliki pengaruh sangat besar dalam kehidupan manusia. Dengan kuatnya iman seseorang, maka ia akan sangat berpengaruh terhadap kualitas kehidupan manusia. Menurut M. Ridwan IR Lubis, ada tiga pengaruh iman tersebut, yaitu berupa: kekuatan berpikir (quwatul idraak), kekuatan fisik (quwatul jismi), dan kekuatan ruh (quwatur ruuh).

          Sedangkan menurut M. Yunan Nasution, mengungkapkan bahwa pengaruh iman terhadap kehidupan manusia itu berupa: iman akan melenyapkan kepercayaan kepada kekuasaan benda; menanamkan semangat berani menghadapi maut; membentuk ketentraman jiwa; dan membentuk kehidupan yang baik.

          Untuk mencapai dampak dari kekuatan iman itu, kuncinya terletak pada pribadi kita masing-masing. Dan kalau kita cermati, sebenarnya pembentukan sifat pribadi pantang menyerah dan tangguh ini adalah berawal dari sifat optimisme yang menyelimuti pola pikir orang tersebut.

          Menyikapi keadaan seperti saat ini, kita seharusnya tidak menjadi pesimis dan berserah diri. Kita harus optimis dan selalu berusaha untuk mencapai yang terbaik dalam hidup ini. Sehingga untuk menjadikan pribadi pantang menyerah dan tangguh ini, maka dalam diri kita harus tertanam sikap optimis, berpikir positif, dan percaya diri.

          Setiap manusia harus memiliki optimisme dalam menjalani kehidupan ini. Dengan sikap optimis, langkah kita akan tegar menghadapi setiap cobaan dan menatap masa depan penuh dengan keyakinan. Karena garis kehidupan setiap manusia sudah ditentukan-Nya. Tugas kita adalah hanya berusaha, berpikir dan berdoa. Atau dalam bahasa lainnya, kita harus luruskan niat dan sempurnakan ikhtiar.

          Setelah kita mampu bersikap optimis, lalu pola pikir kita juga harus dibiasakan berpikir secara positif dan percaya diri. Berpikir positif kepada siapa? Pertama, berpikir positif kepada Sang Pencipta. Setiap kejadian, peristiwa dan fenomena kehidupan ini pasti ada sebab musababnya. Tugas kita, hanya berpikir dan membaca. Ada apa dibalik semua itu? Lalu, kita mengambil pelajaran dari setiap kejadian tersebut dan selanjutnya mengamalkan yang baiknya dalam perilaku keseharian.

          Kedua, berpikir positif terhadap diri sendiri. Setiap manusia, dilahirkan sebagai pribadi yang unik. Karena bagaimanapun wajah dan sifat kita mirip dengan orang lain. Tapi, yang jelas ada saja perbedaan antara keduanya. Sifat dan pribadi unik itu, harus kita jaga. Itu adalah potensi positif, modal dasar untuk mencapai keleluasaan langkah kita dalam menjalani kehidupan ini. Bagaimana orang lain akan menjunjung kita, kalau diri kita sendiri meremehkan dan tidak ‘mengangkatnya’.

          Selain itu, kita juga harus yakin bahwa kita dilahirkan ke dunia ini sebagai sang juara, the best. Fakta membuktikan, dari berjuta-juta sel sperma yang disemprotkan Bapak kita, tetapi ternyata yang mampu menembus dinding telur Ibu kita dan dibuahi, hanya satu. Itulah kita, ‘sang juara’. Hal ini, kalau kita sadari akan menjadi sebuah motivasi luar biasa dalam menjalani hidup ini.

          Ketiga, berpikir positif pada orang lain. Orang lain itu, manusia biasa sama dengan kita. Dia mempunyai kesalahan dan kekhilafan. Yang tentu hati nuraninya tidak menghendakinya. Pandanglah, orang lain itu dari sisi positifnya saja dan menerima sisi negatifnya sebagai pelajaran bagi kita.

          Belajarlah dari seekor burung Garuda. Ia mengajarkan anaknya untuk terbang dari tempat yang tinggi dan menjatuhkannya. Lalu jatuh, diangkat lagi dan seterusnya sampai ia bisa terbang sendiri. Hati Garuda juga bersih, tidak mendendam. Ia kalau waktunya bermain ‘cakar-cakaran’. Tapi, kalau diluar itu ia akur, damai kembali.

          Keempat, berpikir positif pada waktu. Setiap manusia diberi waktu yang sama, dimana pun dia berada. Sebanyak 24 jam sehari atau 86.400 detik sehari. Waktu itu, ingin kita apakan? Kita gunakan untuk tidur seharian, kerja keras, mengeluh, berdemontrasi, bergunjing, santai, menuntut ilmu, menolong orang lain, melamun, ibadah, dan lainnya. Waktu itu tidak akan protes. Yang jelas, setiap detik hidup kita akan diminta pertanggung jawabannya kelak. Bagi mereka yang biasa mengisi waktunya dengan amal-amalan saleh/ kebaikan dan berada dalam keimanan, maka ia akan memperoleh kehidupan yang lebih baik.

Akhirnya, untuk memaksimalkan potensi yang ada pada diri seseorang, lebih-lebih sebagai pembentuk pribadi yang pantang menyerah, tangguh, ‘tahan banting’, sabar dan istiqomah pada jalan-Nya. Tentu kuncinya adalah diri kita perlu dibangun dengan kebiasaan positif. Semoga tulisan ini menjadi bahan penilaian terhadap diri kita sendiri, terutama kaitannya dengan keinginan pembentukan pribadi yang pantang menyerah. Dan kita berdoa, agar Sang Penguasa diri ini memberi kemampuan kepada kita untuk membangun pribadi yang tangguh dan pantang menyerah. Amin. Wallahu’alam***

Penulis Pendiri Majelis Inspirasi Alquran dan Realitas Alam (MIQRA) Indonesia. http://motivationarda.blogspot.com

Empat Sikap Pembangun Pribadi Pantang Menyerah
Oleh: ARDA DINATA


Alam dan isinya ini tercipta secara berpasang-pasangan, sehingga melahirkan hukum tarik menarik antara satu dengan yang lainnya. Artinya kondisi alam ini akan selalu dinamis sesuai dengan kehendak-Nya. Begitu juga halnya dengan kehidupan manusia, akan mengalami rotasi (perputaran) antara di bawah–di atas; sukses-tidak sukses; bahagia-susah, dll.



Your Ad Here

          Pribadi pantang menyerah (tangguh) adalah tidak lain sebutan bagi pribadi yang tidak merasa lemah terhadap sesuatu yang terjadi dan menimpanya. Pribadinya menganggap sesuatu yang terjadi itu dari segi positifnya. Ia yakin betul bahwa sekenario Sang Pencipta itu tidak akan meleset sedikit pun.

          Pribadi pantang menyerah dan tangguh ini, tidak lain adalah pribadi yang memiliki kemampuan untuk bersyukur apabila ia mendapat sesuatu yang berkaitan dengan kebahagiaan, kesuksesan, medapat rezeki, dll. Sebaliknya, jika ia mendapati sesuatu yang tidak diharapkannya, entah itu berupa kesedihan, kegagalan, mendapat bala bencana, dll., maka ia memiliki ketahanan untuk selalu bersabar. Dan pribadi seperti ini memposisikan setiap kejadian yang menimpanya adalah atas ijin dan kehendak-Nya. Ia berserah diri dan selalu berusaha untuk bangkit dengan cara mengambil pelajaran dari setiap kejadian tersebut.

          Pribadi pantang menyerah ini bukan saja semata-mata dilihat secara fisik. Tetapi lebih-lebih dan yang lebih penting justru adanya sifat positif dalam jiwanya yang begitu tangguh dan kuat.

          Seseorang menjadi kuat, pada dasarnya karena mentalnya kuat. Seseorang menjadi lemah, karena mentalnya lemah. Begitu juga, seseorang sukses, karena ia memiliki keinginan untuk sukses. Dan seseorang yang gagal, karena ia berbuat gagal. Dalam hal ini, ada keterangan yang menyebutkan bahwa: “Orang yang kuat lebih disukai dan lebih baik dari orang yang lemah.” Jadi, manusia tangguh dan kuat itu, sudah seharusnya menjadi cita-cita kita dalam rangka mengabdi kepada-Nya.

          Dalam konteks ini, dapat disebutkan bahwa kesuksesan menurut pandangan secara religius itu memiliki dua syarat pokok. Yakni iman dan ilmu. Kedua hal ini, kalau kita kaji secara rinci, jelas-jelas memiliki pengaruh sangat besar dalam kehidupan manusia. Dengan kuatnya iman seseorang, maka ia akan sangat berpengaruh terhadap kualitas kehidupan manusia. Menurut M. Ridwan IR Lubis, ada tiga pengaruh iman tersebut, yaitu berupa: kekuatan berpikir (quwatul idraak), kekuatan fisik (quwatul jismi), dan kekuatan ruh (quwatur ruuh).

          Sedangkan menurut M. Yunan Nasution, mengungkapkan bahwa pengaruh iman terhadap kehidupan manusia itu berupa: iman akan melenyapkan kepercayaan kepada kekuasaan benda; menanamkan semangat berani menghadapi maut; membentuk ketentraman jiwa; dan membentuk kehidupan yang baik.

          Untuk mencapai dampak dari kekuatan iman itu, kuncinya terletak pada pribadi kita masing-masing. Dan kalau kita cermati, sebenarnya pembentukan sifat pribadi pantang menyerah dan tangguh ini adalah berawal dari sifat optimisme yang menyelimuti pola pikir orang tersebut.

          Menyikapi keadaan seperti saat ini, kita seharusnya tidak menjadi pesimis dan berserah diri. Kita harus optimis dan selalu berusaha untuk mencapai yang terbaik dalam hidup ini. Sehingga untuk menjadikan pribadi pantang menyerah dan tangguh ini, maka dalam diri kita harus tertanam sikap optimis, berpikir positif, dan percaya diri.

          Setiap manusia harus memiliki optimisme dalam menjalani kehidupan ini. Dengan sikap optimis, langkah kita akan tegar menghadapi setiap cobaan dan menatap masa depan penuh dengan keyakinan. Karena garis kehidupan setiap manusia sudah ditentukan-Nya. Tugas kita adalah hanya berusaha, berpikir dan berdoa. Atau dalam bahasa lainnya, kita harus luruskan niat dan sempurnakan ikhtiar.

          Setelah kita mampu bersikap optimis, lalu pola pikir kita juga harus dibiasakan berpikir secara positif dan percaya diri. Berpikir positif kepada siapa? Pertama, berpikir positif kepada Sang Pencipta. Setiap kejadian, peristiwa dan fenomena kehidupan ini pasti ada sebab musababnya. Tugas kita, hanya berpikir dan membaca. Ada apa dibalik semua itu? Lalu, kita mengambil pelajaran dari setiap kejadian tersebut dan selanjutnya mengamalkan yang baiknya dalam perilaku keseharian.

          Kedua, berpikir positif terhadap diri sendiri. Setiap manusia, dilahirkan sebagai pribadi yang unik. Karena bagaimanapun wajah dan sifat kita mirip dengan orang lain. Tapi, yang jelas ada saja perbedaan antara keduanya. Sifat dan pribadi unik itu, harus kita jaga. Itu adalah potensi positif, modal dasar untuk mencapai keleluasaan langkah kita dalam menjalani kehidupan ini. Bagaimana orang lain akan menjunjung kita, kalau diri kita sendiri meremehkan dan tidak ‘mengangkatnya’.

          Selain itu, kita juga harus yakin bahwa kita dilahirkan ke dunia ini sebagai sang juara, the best. Fakta membuktikan, dari berjuta-juta sel sperma yang disemprotkan Bapak kita, tetapi ternyata yang mampu menembus dinding telur Ibu kita dan dibuahi, hanya satu. Itulah kita, ‘sang juara’. Hal ini, kalau kita sadari akan menjadi sebuah motivasi luar biasa dalam menjalani hidup ini.

          Ketiga, berpikir positif pada orang lain. Orang lain itu, manusia biasa sama dengan kita. Dia mempunyai kesalahan dan kekhilafan. Yang tentu hati nuraninya tidak menghendakinya. Pandanglah, orang lain itu dari sisi positifnya saja dan menerima sisi negatifnya sebagai pelajaran bagi kita.

          Belajarlah dari seekor burung Garuda. Ia mengajarkan anaknya untuk terbang dari tempat yang tinggi dan menjatuhkannya. Lalu jatuh, diangkat lagi dan seterusnya sampai ia bisa terbang sendiri. Hati Garuda juga bersih, tidak mendendam. Ia kalau waktunya bermain ‘cakar-cakaran’. Tapi, kalau diluar itu ia akur, damai kembali.

          Keempat, berpikir positif pada waktu. Setiap manusia diberi waktu yang sama, dimana pun dia berada. Sebanyak 24 jam sehari atau 86.400 detik sehari. Waktu itu, ingin kita apakan? Kita gunakan untuk tidur seharian, kerja keras, mengeluh, berdemontrasi, bergunjing, santai, menuntut ilmu, menolong orang lain, melamun, ibadah, dan lainnya. Waktu itu tidak akan protes. Yang jelas, setiap detik hidup kita akan diminta pertanggung jawabannya kelak. Bagi mereka yang biasa mengisi waktunya dengan amal-amalan saleh/ kebaikan dan berada dalam keimanan, maka ia akan memperoleh kehidupan yang lebih baik.

Akhirnya, untuk memaksimalkan potensi yang ada pada diri seseorang, lebih-lebih sebagai pembentuk pribadi yang pantang menyerah, tangguh, ‘tahan banting’, sabar dan istiqomah pada jalan-Nya. Tentu kuncinya adalah diri kita perlu dibangun dengan kebiasaan positif. Semoga tulisan ini menjadi bahan penilaian terhadap diri kita sendiri, terutama kaitannya dengan keinginan pembentukan pribadi yang pantang menyerah. Dan kita berdoa, agar Sang Penguasa diri ini memberi kemampuan kepada kita untuk membangun pribadi yang tangguh dan pantang menyerah. Amin. Wallahu’alam***

Penulis Pendiri Majelis Inspirasi Alquran dan Realitas Alam (MIQRA) Indonesia. http://motivationarda.blogspot.com

Empat Sikap Pembangun Pribadi Pantang Menyerah
Oleh: ARDA DINATA


Alam dan isinya ini tercipta secara berpasang-pasangan, sehingga melahirkan hukum tarik menarik antara satu dengan yang lainnya. Artinya kondisi alam ini akan selalu dinamis sesuai dengan kehendak-Nya. Begitu juga halnya dengan kehidupan manusia, akan mengalami rotasi (perputaran) antara di bawah–di atas; sukses-tidak sukses; bahagia-susah, dll.



Your Ad Here

          Pribadi pantang menyerah (tangguh) adalah tidak lain sebutan bagi pribadi yang tidak merasa lemah terhadap sesuatu yang terjadi dan menimpanya. Pribadinya menganggap sesuatu yang terjadi itu dari segi positifnya. Ia yakin betul bahwa sekenario Sang Pencipta itu tidak akan meleset sedikit pun.

          Pribadi pantang menyerah dan tangguh ini, tidak lain adalah pribadi yang memiliki kemampuan untuk bersyukur apabila ia mendapat sesuatu yang berkaitan dengan kebahagiaan, kesuksesan, medapat rezeki, dll. Sebaliknya, jika ia mendapati sesuatu yang tidak diharapkannya, entah itu berupa kesedihan, kegagalan, mendapat bala bencana, dll., maka ia memiliki ketahanan untuk selalu bersabar. Dan pribadi seperti ini memposisikan setiap kejadian yang menimpanya adalah atas ijin dan kehendak-Nya. Ia berserah diri dan selalu berusaha untuk bangkit dengan cara mengambil pelajaran dari setiap kejadian tersebut.

          Pribadi pantang menyerah ini bukan saja semata-mata dilihat secara fisik. Tetapi lebih-lebih dan yang lebih penting justru adanya sifat positif dalam jiwanya yang begitu tangguh dan kuat.

          Seseorang menjadi kuat, pada dasarnya karena mentalnya kuat. Seseorang menjadi lemah, karena mentalnya lemah. Begitu juga, seseorang sukses, karena ia memiliki keinginan untuk sukses. Dan seseorang yang gagal, karena ia berbuat gagal. Dalam hal ini, ada keterangan yang menyebutkan bahwa: “Orang yang kuat lebih disukai dan lebih baik dari orang yang lemah.” Jadi, manusia tangguh dan kuat itu, sudah seharusnya menjadi cita-cita kita dalam rangka mengabdi kepada-Nya.

          Dalam konteks ini, dapat disebutkan bahwa kesuksesan menurut pandangan secara religius itu memiliki dua syarat pokok. Yakni iman dan ilmu. Kedua hal ini, kalau kita kaji secara rinci, jelas-jelas memiliki pengaruh sangat besar dalam kehidupan manusia. Dengan kuatnya iman seseorang, maka ia akan sangat berpengaruh terhadap kualitas kehidupan manusia. Menurut M. Ridwan IR Lubis, ada tiga pengaruh iman tersebut, yaitu berupa: kekuatan berpikir (quwatul idraak), kekuatan fisik (quwatul jismi), dan kekuatan ruh (quwatur ruuh).

          Sedangkan menurut M. Yunan Nasution, mengungkapkan bahwa pengaruh iman terhadap kehidupan manusia itu berupa: iman akan melenyapkan kepercayaan kepada kekuasaan benda; menanamkan semangat berani menghadapi maut; membentuk ketentraman jiwa; dan membentuk kehidupan yang baik.

          Untuk mencapai dampak dari kekuatan iman itu, kuncinya terletak pada pribadi kita masing-masing. Dan kalau kita cermati, sebenarnya pembentukan sifat pribadi pantang menyerah dan tangguh ini adalah berawal dari sifat optimisme yang menyelimuti pola pikir orang tersebut.

          Menyikapi keadaan seperti saat ini, kita seharusnya tidak menjadi pesimis dan berserah diri. Kita harus optimis dan selalu berusaha untuk mencapai yang terbaik dalam hidup ini. Sehingga untuk menjadikan pribadi pantang menyerah dan tangguh ini, maka dalam diri kita harus tertanam sikap optimis, berpikir positif, dan percaya diri.

          Setiap manusia harus memiliki optimisme dalam menjalani kehidupan ini. Dengan sikap optimis, langkah kita akan tegar menghadapi setiap cobaan dan menatap masa depan penuh dengan keyakinan. Karena garis kehidupan setiap manusia sudah ditentukan-Nya. Tugas kita adalah hanya berusaha, berpikir dan berdoa. Atau dalam bahasa lainnya, kita harus luruskan niat dan sempurnakan ikhtiar.

          Setelah kita mampu bersikap optimis, lalu pola pikir kita juga harus dibiasakan berpikir secara positif dan percaya diri. Berpikir positif kepada siapa? Pertama, berpikir positif kepada Sang Pencipta. Setiap kejadian, peristiwa dan fenomena kehidupan ini pasti ada sebab musababnya. Tugas kita, hanya berpikir dan membaca. Ada apa dibalik semua itu? Lalu, kita mengambil pelajaran dari setiap kejadian tersebut dan selanjutnya mengamalkan yang baiknya dalam perilaku keseharian.

          Kedua, berpikir positif terhadap diri sendiri. Setiap manusia, dilahirkan sebagai pribadi yang unik. Karena bagaimanapun wajah dan sifat kita mirip dengan orang lain. Tapi, yang jelas ada saja perbedaan antara keduanya. Sifat dan pribadi unik itu, harus kita jaga. Itu adalah potensi positif, modal dasar untuk mencapai keleluasaan langkah kita dalam menjalani kehidupan ini. Bagaimana orang lain akan menjunjung kita, kalau diri kita sendiri meremehkan dan tidak ‘mengangkatnya’.

          Selain itu, kita juga harus yakin bahwa kita dilahirkan ke dunia ini sebagai sang juara, the best. Fakta membuktikan, dari berjuta-juta sel sperma yang disemprotkan Bapak kita, tetapi ternyata yang mampu menembus dinding telur Ibu kita dan dibuahi, hanya satu. Itulah kita, ‘sang juara’. Hal ini, kalau kita sadari akan menjadi sebuah motivasi luar biasa dalam menjalani hidup ini.

          Ketiga, berpikir positif pada orang lain. Orang lain itu, manusia biasa sama dengan kita. Dia mempunyai kesalahan dan kekhilafan. Yang tentu hati nuraninya tidak menghendakinya. Pandanglah, orang lain itu dari sisi positifnya saja dan menerima sisi negatifnya sebagai pelajaran bagi kita.

          Belajarlah dari seekor burung Garuda. Ia mengajarkan anaknya untuk terbang dari tempat yang tinggi dan menjatuhkannya. Lalu jatuh, diangkat lagi dan seterusnya sampai ia bisa terbang sendiri. Hati Garuda juga bersih, tidak mendendam. Ia kalau waktunya bermain ‘cakar-cakaran’. Tapi, kalau diluar itu ia akur, damai kembali.

          Keempat, berpikir positif pada waktu. Setiap manusia diberi waktu yang sama, dimana pun dia berada. Sebanyak 24 jam sehari atau 86.400 detik sehari. Waktu itu, ingin kita apakan? Kita gunakan untuk tidur seharian, kerja keras, mengeluh, berdemontrasi, bergunjing, santai, menuntut ilmu, menolong orang lain, melamun, ibadah, dan lainnya. Waktu itu tidak akan protes. Yang jelas, setiap detik hidup kita akan diminta pertanggung jawabannya kelak. Bagi mereka yang biasa mengisi waktunya dengan amal-amalan saleh/ kebaikan dan berada dalam keimanan, maka ia akan memperoleh kehidupan yang lebih baik.

Akhirnya, untuk memaksimalkan potensi yang ada pada diri seseorang, lebih-lebih sebagai pembentuk pribadi yang pantang menyerah, tangguh, ‘tahan banting’, sabar dan istiqomah pada jalan-Nya. Tentu kuncinya adalah diri kita perlu dibangun dengan kebiasaan positif. Semoga tulisan ini menjadi bahan penilaian terhadap diri kita sendiri, terutama kaitannya dengan keinginan pembentukan pribadi yang pantang menyerah. Dan kita berdoa, agar Sang Penguasa diri ini memberi kemampuan kepada kita untuk membangun pribadi yang tangguh dan pantang menyerah. Amin. Wallahu’alam***

Penulis Pendiri Majelis Inspirasi Alquran dan Realitas Alam (MIQRA) Indonesia. http://motivationarda.blogspot.com

Empat Sikap Pembangun Pribadi Pantang Menyerah
Oleh: ARDA DINATA


Alam dan isinya ini tercipta secara berpasang-pasangan, sehingga melahirkan hukum tarik menarik antara satu dengan yang lainnya. Artinya kondisi alam ini akan selalu dinamis sesuai dengan kehendak-Nya. Begitu juga halnya dengan kehidupan manusia, akan mengalami rotasi (perputaran) antara di bawah–di atas; sukses-tidak sukses; bahagia-susah, dll.



Your Ad Here

          Pribadi pantang menyerah (tangguh) adalah tidak lain sebutan bagi pribadi yang tidak merasa lemah terhadap sesuatu yang terjadi dan menimpanya. Pribadinya menganggap sesuatu yang terjadi itu dari segi positifnya. Ia yakin betul bahwa sekenario Sang Pencipta itu tidak akan meleset sedikit pun.

          Pribadi pantang menyerah dan tangguh ini, tidak lain adalah pribadi yang memiliki kemampuan untuk bersyukur apabila ia mendapat sesuatu yang berkaitan dengan kebahagiaan, kesuksesan, medapat rezeki, dll. Sebaliknya, jika ia mendapati sesuatu yang tidak diharapkannya, entah itu berupa kesedihan, kegagalan, mendapat bala bencana, dll., maka ia memiliki ketahanan untuk selalu bersabar. Dan pribadi seperti ini memposisikan setiap kejadian yang menimpanya adalah atas ijin dan kehendak-Nya. Ia berserah diri dan selalu berusaha untuk bangkit dengan cara mengambil pelajaran dari setiap kejadian tersebut.

          Pribadi pantang menyerah ini bukan saja semata-mata dilihat secara fisik. Tetapi lebih-lebih dan yang lebih penting justru adanya sifat positif dalam jiwanya yang begitu tangguh dan kuat.

          Seseorang menjadi kuat, pada dasarnya karena mentalnya kuat. Seseorang menjadi lemah, karena mentalnya lemah. Begitu juga, seseorang sukses, karena ia memiliki keinginan untuk sukses. Dan seseorang yang gagal, karena ia berbuat gagal. Dalam hal ini, ada keterangan yang menyebutkan bahwa: “Orang yang kuat lebih disukai dan lebih baik dari orang yang lemah.” Jadi, manusia tangguh dan kuat itu, sudah seharusnya menjadi cita-cita kita dalam rangka mengabdi kepada-Nya.

          Dalam konteks ini, dapat disebutkan bahwa kesuksesan menurut pandangan secara religius itu memiliki dua syarat pokok. Yakni iman dan ilmu. Kedua hal ini, kalau kita kaji secara rinci, jelas-jelas memiliki pengaruh sangat besar dalam kehidupan manusia. Dengan kuatnya iman seseorang, maka ia akan sangat berpengaruh terhadap kualitas kehidupan manusia. Menurut M. Ridwan IR Lubis, ada tiga pengaruh iman tersebut, yaitu berupa: kekuatan berpikir (quwatul idraak), kekuatan fisik (quwatul jismi), dan kekuatan ruh (quwatur ruuh).

          Sedangkan menurut M. Yunan Nasution, mengungkapkan bahwa pengaruh iman terhadap kehidupan manusia itu berupa: iman akan melenyapkan kepercayaan kepada kekuasaan benda; menanamkan semangat berani menghadapi maut; membentuk ketentraman jiwa; dan membentuk kehidupan yang baik.

          Untuk mencapai dampak dari kekuatan iman itu, kuncinya terletak pada pribadi kita masing-masing. Dan kalau kita cermati, sebenarnya pembentukan sifat pribadi pantang menyerah dan tangguh ini adalah berawal dari sifat optimisme yang menyelimuti pola pikir orang tersebut.

          Menyikapi keadaan seperti saat ini, kita seharusnya tidak menjadi pesimis dan berserah diri. Kita harus optimis dan selalu berusaha untuk mencapai yang terbaik dalam hidup ini. Sehingga untuk menjadikan pribadi pantang menyerah dan tangguh ini, maka dalam diri kita harus tertanam sikap optimis, berpikir positif, dan percaya diri.

          Setiap manusia harus memiliki optimisme dalam menjalani kehidupan ini. Dengan sikap optimis, langkah kita akan tegar menghadapi setiap cobaan dan menatap masa depan penuh dengan keyakinan. Karena garis kehidupan setiap manusia sudah ditentukan-Nya. Tugas kita adalah hanya berusaha, berpikir dan berdoa. Atau dalam bahasa lainnya, kita harus luruskan niat dan sempurnakan ikhtiar.

          Setelah kita mampu bersikap optimis, lalu pola pikir kita juga harus dibiasakan berpikir secara positif dan percaya diri. Berpikir positif kepada siapa? Pertama, berpikir positif kepada Sang Pencipta. Setiap kejadian, peristiwa dan fenomena kehidupan ini pasti ada sebab musababnya. Tugas kita, hanya berpikir dan membaca. Ada apa dibalik semua itu? Lalu, kita mengambil pelajaran dari setiap kejadian tersebut dan selanjutnya mengamalkan yang baiknya dalam perilaku keseharian.

          Kedua, berpikir positif terhadap diri sendiri. Setiap manusia, dilahirkan sebagai pribadi yang unik. Karena bagaimanapun wajah dan sifat kita mirip dengan orang lain. Tapi, yang jelas ada saja perbedaan antara keduanya. Sifat dan pribadi unik itu, harus kita jaga. Itu adalah potensi positif, modal dasar untuk mencapai keleluasaan langkah kita dalam menjalani kehidupan ini. Bagaimana orang lain akan menjunjung kita, kalau diri kita sendiri meremehkan dan tidak ‘mengangkatnya’.

          Selain itu, kita juga harus yakin bahwa kita dilahirkan ke dunia ini sebagai sang juara, the best. Fakta membuktikan, dari berjuta-juta sel sperma yang disemprotkan Bapak kita, tetapi ternyata yang mampu menembus dinding telur Ibu kita dan dibuahi, hanya satu. Itulah kita, ‘sang juara’. Hal ini, kalau kita sadari akan menjadi sebuah motivasi luar biasa dalam menjalani hidup ini.

          Ketiga, berpikir positif pada orang lain. Orang lain itu, manusia biasa sama dengan kita. Dia mempunyai kesalahan dan kekhilafan. Yang tentu hati nuraninya tidak menghendakinya. Pandanglah, orang lain itu dari sisi positifnya saja dan menerima sisi negatifnya sebagai pelajaran bagi kita.

          Belajarlah dari seekor burung Garuda. Ia mengajarkan anaknya untuk terbang dari tempat yang tinggi dan menjatuhkannya. Lalu jatuh, diangkat lagi dan seterusnya sampai ia bisa terbang sendiri. Hati Garuda juga bersih, tidak mendendam. Ia kalau waktunya bermain ‘cakar-cakaran’. Tapi, kalau diluar itu ia akur, damai kembali.

          Keempat, berpikir positif pada waktu. Setiap manusia diberi waktu yang sama, dimana pun dia berada. Sebanyak 24 jam sehari atau 86.400 detik sehari. Waktu itu, ingin kita apakan? Kita gunakan untuk tidur seharian, kerja keras, mengeluh, berdemontrasi, bergunjing, santai, menuntut ilmu, menolong orang lain, melamun, ibadah, dan lainnya. Waktu itu tidak akan protes. Yang jelas, setiap detik hidup kita akan diminta pertanggung jawabannya kelak. Bagi mereka yang biasa mengisi waktunya dengan amal-amalan saleh/ kebaikan dan berada dalam keimanan, maka ia akan memperoleh kehidupan yang lebih baik.

Akhirnya, untuk memaksimalkan potensi yang ada pada diri seseorang, lebih-lebih sebagai pembentuk pribadi yang pantang menyerah, tangguh, ‘tahan banting’, sabar dan istiqomah pada jalan-Nya. Tentu kuncinya adalah diri kita perlu dibangun dengan kebiasaan positif. Semoga tulisan ini menjadi bahan penilaian terhadap diri kita sendiri, terutama kaitannya dengan keinginan pembentukan pribadi yang pantang menyerah. Dan kita berdoa, agar Sang Penguasa diri ini memberi kemampuan kepada kita untuk membangun pribadi yang tangguh dan pantang menyerah. Amin. Wallahu’alam***

Penulis Pendiri Majelis Inspirasi Alquran dan Realitas Alam (MIQRA) Indonesia. http://motivationarda.blogspot.com

Empat Sikap Pembangun Pribadi Pantang Menyerah
Oleh: ARDA DINATA


Alam dan isinya ini tercipta secara berpasang-pasangan, sehingga melahirkan hukum tarik menarik antara satu dengan yang lainnya. Artinya kondisi alam ini akan selalu dinamis sesuai dengan kehendak-Nya. Begitu juga halnya dengan kehidupan manusia, akan mengalami rotasi (perputaran) antara di bawah–di atas; sukses-tidak sukses; bahagia-susah, dll.



Your Ad Here

          Pribadi pantang menyerah (tangguh) adalah tidak lain sebutan bagi pribadi yang tidak merasa lemah terhadap sesuatu yang terjadi dan menimpanya. Pribadinya menganggap sesuatu yang terjadi itu dari segi positifnya. Ia yakin betul bahwa sekenario Sang Pencipta itu tidak akan meleset sedikit pun.

          Pribadi pantang menyerah dan tangguh ini, tidak lain adalah pribadi yang memiliki kemampuan untuk bersyukur apabila ia mendapat sesuatu yang berkaitan dengan kebahagiaan, kesuksesan, medapat rezeki, dll. Sebaliknya, jika ia mendapati sesuatu yang tidak diharapkannya, entah itu berupa kesedihan, kegagalan, mendapat bala bencana, dll., maka ia memiliki ketahanan untuk selalu bersabar. Dan pribadi seperti ini memposisikan setiap kejadian yang menimpanya adalah atas ijin dan kehendak-Nya. Ia berserah diri dan selalu berusaha untuk bangkit dengan cara mengambil pelajaran dari setiap kejadian tersebut.

          Pribadi pantang menyerah ini bukan saja semata-mata dilihat secara fisik. Tetapi lebih-lebih dan yang lebih penting justru adanya sifat positif dalam jiwanya yang begitu tangguh dan kuat.

          Seseorang menjadi kuat, pada dasarnya karena mentalnya kuat. Seseorang menjadi lemah, karena mentalnya lemah. Begitu juga, seseorang sukses, karena ia memiliki keinginan untuk sukses. Dan seseorang yang gagal, karena ia berbuat gagal. Dalam hal ini, ada keterangan yang menyebutkan bahwa: “Orang yang kuat lebih disukai dan lebih baik dari orang yang lemah.” Jadi, manusia tangguh dan kuat itu, sudah seharusnya menjadi cita-cita kita dalam rangka mengabdi kepada-Nya.

          Dalam konteks ini, dapat disebutkan bahwa kesuksesan menurut pandangan secara religius itu memiliki dua syarat pokok. Yakni iman dan ilmu. Kedua hal ini, kalau kita kaji secara rinci, jelas-jelas memiliki pengaruh sangat besar dalam kehidupan manusia. Dengan kuatnya iman seseorang, maka ia akan sangat berpengaruh terhadap kualitas kehidupan manusia. Menurut M. Ridwan IR Lubis, ada tiga pengaruh iman tersebut, yaitu berupa: kekuatan berpikir (quwatul idraak), kekuatan fisik (quwatul jismi), dan kekuatan ruh (quwatur ruuh).

          Sedangkan menurut M. Yunan Nasution, mengungkapkan bahwa pengaruh iman terhadap kehidupan manusia itu berupa: iman akan melenyapkan kepercayaan kepada kekuasaan benda; menanamkan semangat berani menghadapi maut; membentuk ketentraman jiwa; dan membentuk kehidupan yang baik.

          Untuk mencapai dampak dari kekuatan iman itu, kuncinya terletak pada pribadi kita masing-masing. Dan kalau kita cermati, sebenarnya pembentukan sifat pribadi pantang menyerah dan tangguh ini adalah berawal dari sifat optimisme yang menyelimuti pola pikir orang tersebut.

          Menyikapi keadaan seperti saat ini, kita seharusnya tidak menjadi pesimis dan berserah diri. Kita harus optimis dan selalu berusaha untuk mencapai yang terbaik dalam hidup ini. Sehingga untuk menjadikan pribadi pantang menyerah dan tangguh ini, maka dalam diri kita harus tertanam sikap optimis, berpikir positif, dan percaya diri.

          Setiap manusia harus memiliki optimisme dalam menjalani kehidupan ini. Dengan sikap optimis, langkah kita akan tegar menghadapi setiap cobaan dan menatap masa depan penuh dengan keyakinan. Karena garis kehidupan setiap manusia sudah ditentukan-Nya. Tugas kita adalah hanya berusaha, berpikir dan berdoa. Atau dalam bahasa lainnya, kita harus luruskan niat dan sempurnakan ikhtiar.

          Setelah kita mampu bersikap optimis, lalu pola pikir kita juga harus dibiasakan berpikir secara positif dan percaya diri. Berpikir positif kepada siapa? Pertama, berpikir positif kepada Sang Pencipta. Setiap kejadian, peristiwa dan fenomena kehidupan ini pasti ada sebab musababnya. Tugas kita, hanya berpikir dan membaca. Ada apa dibalik semua itu? Lalu, kita mengambil pelajaran dari setiap kejadian tersebut dan selanjutnya mengamalkan yang baiknya dalam perilaku keseharian.

          Kedua, berpikir positif terhadap diri sendiri. Setiap manusia, dilahirkan sebagai pribadi yang unik. Karena bagaimanapun wajah dan sifat kita mirip dengan orang lain. Tapi, yang jelas ada saja perbedaan antara keduanya. Sifat dan pribadi unik itu, harus kita jaga. Itu adalah potensi positif, modal dasar untuk mencapai keleluasaan langkah kita dalam menjalani kehidupan ini. Bagaimana orang lain akan menjunjung kita, kalau diri kita sendiri meremehkan dan tidak ‘mengangkatnya’.

          Selain itu, kita juga harus yakin bahwa kita dilahirkan ke dunia ini sebagai sang juara, the best. Fakta membuktikan, dari berjuta-juta sel sperma yang disemprotkan Bapak kita, tetapi ternyata yang mampu menembus dinding telur Ibu kita dan dibuahi, hanya satu. Itulah kita, ‘sang juara’. Hal ini, kalau kita sadari akan menjadi sebuah motivasi luar biasa dalam menjalani hidup ini.

          Ketiga, berpikir positif pada orang lain. Orang lain itu, manusia biasa sama dengan kita. Dia mempunyai kesalahan dan kekhilafan. Yang tentu hati nuraninya tidak menghendakinya. Pandanglah, orang lain itu dari sisi positifnya saja dan menerima sisi negatifnya sebagai pelajaran bagi kita.

          Belajarlah dari seekor burung Garuda. Ia mengajarkan anaknya untuk terbang dari tempat yang tinggi dan menjatuhkannya. Lalu jatuh, diangkat lagi dan seterusnya sampai ia bisa terbang sendiri. Hati Garuda juga bersih, tidak mendendam. Ia kalau waktunya bermain ‘cakar-cakaran’. Tapi, kalau diluar itu ia akur, damai kembali.

          Keempat, berpikir positif pada waktu. Setiap manusia diberi waktu yang sama, dimana pun dia berada. Sebanyak 24 jam sehari atau 86.400 detik sehari. Waktu itu, ingin kita apakan? Kita gunakan untuk tidur seharian, kerja keras, mengeluh, berdemontrasi, bergunjing, santai, menuntut ilmu, menolong orang lain, melamun, ibadah, dan lainnya. Waktu itu tidak akan protes. Yang jelas, setiap detik hidup kita akan diminta pertanggung jawabannya kelak. Bagi mereka yang biasa mengisi waktunya dengan amal-amalan saleh/ kebaikan dan berada dalam keimanan, maka ia akan memperoleh kehidupan yang lebih baik.

Akhirnya, untuk memaksimalkan potensi yang ada pada diri seseorang, lebih-lebih sebagai pembentuk pribadi yang pantang menyerah, tangguh, ‘tahan banting’, sabar dan istiqomah pada jalan-Nya. Tentu kuncinya adalah diri kita perlu dibangun dengan kebiasaan positif. Semoga tulisan ini menjadi bahan penilaian terhadap diri kita sendiri, terutama kaitannya dengan keinginan pembentukan pribadi yang pantang menyerah. Dan kita berdoa, agar Sang Penguasa diri ini memberi kemampuan kepada kita untuk membangun pribadi yang tangguh dan pantang menyerah. Amin. Wallahu’alam***

Penulis Pendiri Majelis Inspirasi Alquran dan Realitas Alam (MIQRA) Indonesia. http://motivationarda.blogspot.com

Surga, Sabar, dan Syukur
Lihat Detail

Surga, Sabar, dan Syukur

Islam: A Short History (Modern Library Chronicles)The Politically Incorrect Guide to Islam (and the Crusades)Unveiling Islam: An Insider's Look at Muslim Life and BeliefsIslam: What the West Needs to Know 

Surga, Sabar, dan Syukur

Oleh ARDA DINATA

KEHIDUPAN itu harapan. Ia adalah rangkaian irama amal yang akan menghantarkan seseorang pada tujuan hidup. Harapan-harapan itu harusnya seirama dan mendukung pencapaian tujuan hidup kita. Namun, nyatanya banyak harapan dan tujuan hidup itu tidak saling mendukung sehingga kehidupan kita berujung pada kekecewaan.





Your Ad Here

Dalam Islam ada rangkaian kata yang begitu indah, yaitu: surga, sabar, dan syukur. Ketiga kata itu saling terkait dan mendukung satu sama lain. Ketiga kata itu dalam hidup seorang Muslim menjadi kata yang akan bersinggungan dalam membangun realita kehidupannya.

Ada sebuah riwayat yang pas untuk mengilustrasikan kondisi seperti itu, yaitu apa yang diungkap Ash-Shabuni (1988, 1:382). Diriwayatkan bahwa seorang laki-laki yang buruk rupa memiliki istri yang sangat cantik. Pada suatu hari si istri melihat suaminya, lalu bergumam, ”Alhamdulillah.”

Suaminya berkata, ”Ada apa?”

Dia menjawab, ”Aku memanjatkan puji kepada Allah yang telah menjadikan diriku dan dirimu sebagai ahli surga, sebab engkau dianugerahi rezeki, lalu bersyukur, aku pun diberi rezeki berupa suami sepertimu, lalu aku bersabar. Sungguh Allah telah menjanjikan surga bagi orang yang bersabar dan bersyukur.”

Jadi, ahli surga itu merupakan rangkaian akumulasi amal kita dalam membangun rasa sabar dan syukur. Inilah salah satu kunci ahli surga yang patut kita bina, perjuangkan, dan aplikasikan dalam hidup keseharian seorang Muslim. Lalu, apa sesungguhnya makna sabar dan syukur itu?

Menurut Syekh Al Hakim At Tirmidzi (205 H-320 H), yang dimaksud syukur adalah menyadari karunia yang Allah berikan pada dirinya, sedangkan yang dimaksud dengan sabar adalah tetap dalam kedudukannya bersama Tuhan.

Sementara itu, dilihat dari segi bahasa, syukur adalah terbukanya kalbu hingga karunia Tuhan tampak padamu. Di dadamu, karunia Allah selalu terlihat pada sesuatu yang Dia berikan padamu. Diriwayatkan dari Al Hasan Al Bashri bahwa Musa bertanya, ”Tuhan, bagaimana cara Adam bersyukur kepada-Mu?” Tuhan menjawab, ”Dia mengetahui hal itu bersumber dari-Ku, itulah bentuk syukurnya.”

Untuk sabar sendiri, ia terambil dari kata Ashbaar, yang bermakna menjadikan sesuatu sebagai objek atau meninggikan sesuatu untuk menjadi sasaran busur panah. Jadi, sabar terwujud dalam bentuk keteguhan hamba untuk menerima panah ketentuan Tuhan, bagaikan sasaran busur panah manusia yang tidak miring ke kiri atau ke kanan. Ia tidak bergeser dari tempatnya, sebab syarat untuk menjadi hamba Tuhan adalah percaya dan pasrah.

Lebih jauh At Tirmidzi mengungkapkan, syukur merupakan substansi iman, sedangkan sabar merupakan substansi Islam. Ketika seorang hamba merasa tenang bersama Tuhan, maka dia disebut mukmin. Namun, ketika menyerahkan diri sebagai hamba, maka dia disebut Muslim. Keduanya terwujud dalam waktu bersamaan, sebab kalbu dalam kondisi bergerak dan bingung mencari Tuhan. Ketika mendapat rahmat, cahaya, dan petunjuk, maka kalbu menjadi tenang dan stabil sehingga disebut beriman. Sebaliknya, ia menjadi gelisah dan gusar ketika cemas terhadap sesuatu. Tatkala rasa cemas itu hilang, maka kalbu kembali tenang hingga disebut beriman.

Atas dasar pemetaan tersebut, maka keberadaan sabar dan syukur ini bagi umat Islam harusnya memunyai tempat yang khusus di dalam pribadinya yang diaplikasikan dalam perilaku hidup keseharian. Lalu, bagaimana kita semestinya menempatkan dan membangun rasa sabar dan syukur sebagai kunci surga ini dalam menjalankan kehidupan sehari-hari?

Sifat dan perilaku bersyukur ini semestinya kita awali dengan mengenal nikmat, karena mengenal nikmat itu adalah jalan untuk mengenal Sang Pemberi nikmat. Pada tataran ini, Ibn Al Qayyim dalam Madaarij Al Salikin menuliskan kalau pengertian syukur ada tiga, yaitu (1) mengenal nikmat, (2) menerimanya, dan (3) memujinya.

Mengenal nikmat terwujud lewat rasa papa dan butuh kepada-Nya. Memuji adalah dengan memuji Zat Yang Memberi nikmat. Wujudnya ada yang bersifat umum (menyadari-Nya sebagai Zat Yang Maha Pemurah dan banyak memberi) dan yang bersifat khusus (menceritakan nikmat Allah yang diberikan lewat dirinya). Hal terakhir ini sesuai dengan yang dijelaskan dalam firman Allah, ”Ada pun yang terkait dengan nikmat Tuhanmu, maka ceritakanlah.”

Ada pun sabar ini adalah berwujud ujian untuk melihat kebaikan dan keburukanmu. Dengan cara seperti itu, tentu akan terlihat diri kita apakah tetap teguh dihadapan-Nya dan apakah kita siap menjadi sasaran tembak-Nya. Lebih jauh, perilaku tersebut juga akan menampakkan gambaran kejujuran seseorang. Yakni apakah dia memujimu untuk melihat bahwa dirimu benar-benar bersyukur? Allah berfirman dalam Q.S. Ibrahim (14):5, ”dalam semua kejadian itu terdapat bukti kekuasaan Allah bagi orang yang selalu sabar dan bersyukur.”

Akhirnya, terlihat jelas dari ayat di atas, kalau Allah mengungkap kata sabar dengan pola fa’al dan mengungkap kata syukur dengan pola fa’ul. Dia mendahulukan sabar sebelum syukur, karena sikap sabar memperlihatkan rasa syukur. Syukur tersebut tersimpan di dalamnya, sebagaimana api tersembunyi di dalam batu. Ujian ibarat sebatang kayu yang memunculkan api lewat bara. Ketika batu tersebut dinyalakan, maka tampaklah api yang tersembunyi tadi.

Lantas, apakah kita selama ini sudah berperilaku sabar dan syukur untuk meraih surga-Nya? Lebih-lebih pada masa globalisasi yang penuh godaan dan tantangan ini, tiap Muslim dituntut untuk berperilaku sabar dan syukur dalam kehidupan sehari-hari dan menjalankan ibadah di dalamnya. Wallahualam.***

Penulis, motivator dan pendiri Majelis Inspirasi Alquran & Realitas Alam (Miqra) Indonesia.

NB: Artikel ini telah dimuat di HU PIKIRAN RAKYAT Bandung, edisi Hari Jumat, tanggal 8 Januari 2010 dalam rubrik Renungan Jumat.


Share on Facebook [NB: Jika anda suka artikel ini, silakan share ke teman FACEBOOK anda. Terimakasih.]

Islam: A Short History (Modern Library Chronicles)The Politically Incorrect Guide to Islam (and the Crusades)Unveiling Islam: An Insider's Look at Muslim Life and BeliefsIslam: What the West Needs to Know 

Surga, Sabar, dan Syukur

Oleh ARDA DINATA

KEHIDUPAN itu harapan. Ia adalah rangkaian irama amal yang akan menghantarkan seseorang pada tujuan hidup. Harapan-harapan itu harusnya seirama dan mendukung pencapaian tujuan hidup kita. Namun, nyatanya banyak harapan dan tujuan hidup itu tidak saling mendukung sehingga kehidupan kita berujung pada kekecewaan.





Your Ad Here

Dalam Islam ada rangkaian kata yang begitu indah, yaitu: surga, sabar, dan syukur. Ketiga kata itu saling terkait dan mendukung satu sama lain. Ketiga kata itu dalam hidup seorang Muslim menjadi kata yang akan bersinggungan dalam membangun realita kehidupannya.

Ada sebuah riwayat yang pas untuk mengilustrasikan kondisi seperti itu, yaitu apa yang diungkap Ash-Shabuni (1988, 1:382). Diriwayatkan bahwa seorang laki-laki yang buruk rupa memiliki istri yang sangat cantik. Pada suatu hari si istri melihat suaminya, lalu bergumam, ”Alhamdulillah.”

Suaminya berkata, ”Ada apa?”

Dia menjawab, ”Aku memanjatkan puji kepada Allah yang telah menjadikan diriku dan dirimu sebagai ahli surga, sebab engkau dianugerahi rezeki, lalu bersyukur, aku pun diberi rezeki berupa suami sepertimu, lalu aku bersabar. Sungguh Allah telah menjanjikan surga bagi orang yang bersabar dan bersyukur.”

Jadi, ahli surga itu merupakan rangkaian akumulasi amal kita dalam membangun rasa sabar dan syukur. Inilah salah satu kunci ahli surga yang patut kita bina, perjuangkan, dan aplikasikan dalam hidup keseharian seorang Muslim. Lalu, apa sesungguhnya makna sabar dan syukur itu?

Menurut Syekh Al Hakim At Tirmidzi (205 H-320 H), yang dimaksud syukur adalah menyadari karunia yang Allah berikan pada dirinya, sedangkan yang dimaksud dengan sabar adalah tetap dalam kedudukannya bersama Tuhan.

Sementara itu, dilihat dari segi bahasa, syukur adalah terbukanya kalbu hingga karunia Tuhan tampak padamu. Di dadamu, karunia Allah selalu terlihat pada sesuatu yang Dia berikan padamu. Diriwayatkan dari Al Hasan Al Bashri bahwa Musa bertanya, ”Tuhan, bagaimana cara Adam bersyukur kepada-Mu?” Tuhan menjawab, ”Dia mengetahui hal itu bersumber dari-Ku, itulah bentuk syukurnya.”

Untuk sabar sendiri, ia terambil dari kata Ashbaar, yang bermakna menjadikan sesuatu sebagai objek atau meninggikan sesuatu untuk menjadi sasaran busur panah. Jadi, sabar terwujud dalam bentuk keteguhan hamba untuk menerima panah ketentuan Tuhan, bagaikan sasaran busur panah manusia yang tidak miring ke kiri atau ke kanan. Ia tidak bergeser dari tempatnya, sebab syarat untuk menjadi hamba Tuhan adalah percaya dan pasrah.

Lebih jauh At Tirmidzi mengungkapkan, syukur merupakan substansi iman, sedangkan sabar merupakan substansi Islam. Ketika seorang hamba merasa tenang bersama Tuhan, maka dia disebut mukmin. Namun, ketika menyerahkan diri sebagai hamba, maka dia disebut Muslim. Keduanya terwujud dalam waktu bersamaan, sebab kalbu dalam kondisi bergerak dan bingung mencari Tuhan. Ketika mendapat rahmat, cahaya, dan petunjuk, maka kalbu menjadi tenang dan stabil sehingga disebut beriman. Sebaliknya, ia menjadi gelisah dan gusar ketika cemas terhadap sesuatu. Tatkala rasa cemas itu hilang, maka kalbu kembali tenang hingga disebut beriman.

Atas dasar pemetaan tersebut, maka keberadaan sabar dan syukur ini bagi umat Islam harusnya memunyai tempat yang khusus di dalam pribadinya yang diaplikasikan dalam perilaku hidup keseharian. Lalu, bagaimana kita semestinya menempatkan dan membangun rasa sabar dan syukur sebagai kunci surga ini dalam menjalankan kehidupan sehari-hari?

Sifat dan perilaku bersyukur ini semestinya kita awali dengan mengenal nikmat, karena mengenal nikmat itu adalah jalan untuk mengenal Sang Pemberi nikmat. Pada tataran ini, Ibn Al Qayyim dalam Madaarij Al Salikin menuliskan kalau pengertian syukur ada tiga, yaitu (1) mengenal nikmat, (2) menerimanya, dan (3) memujinya.

Mengenal nikmat terwujud lewat rasa papa dan butuh kepada-Nya. Memuji adalah dengan memuji Zat Yang Memberi nikmat. Wujudnya ada yang bersifat umum (menyadari-Nya sebagai Zat Yang Maha Pemurah dan banyak memberi) dan yang bersifat khusus (menceritakan nikmat Allah yang diberikan lewat dirinya). Hal terakhir ini sesuai dengan yang dijelaskan dalam firman Allah, ”Ada pun yang terkait dengan nikmat Tuhanmu, maka ceritakanlah.”

Ada pun sabar ini adalah berwujud ujian untuk melihat kebaikan dan keburukanmu. Dengan cara seperti itu, tentu akan terlihat diri kita apakah tetap teguh dihadapan-Nya dan apakah kita siap menjadi sasaran tembak-Nya. Lebih jauh, perilaku tersebut juga akan menampakkan gambaran kejujuran seseorang. Yakni apakah dia memujimu untuk melihat bahwa dirimu benar-benar bersyukur? Allah berfirman dalam Q.S. Ibrahim (14):5, ”dalam semua kejadian itu terdapat bukti kekuasaan Allah bagi orang yang selalu sabar dan bersyukur.”

Akhirnya, terlihat jelas dari ayat di atas, kalau Allah mengungkap kata sabar dengan pola fa’al dan mengungkap kata syukur dengan pola fa’ul. Dia mendahulukan sabar sebelum syukur, karena sikap sabar memperlihatkan rasa syukur. Syukur tersebut tersimpan di dalamnya, sebagaimana api tersembunyi di dalam batu. Ujian ibarat sebatang kayu yang memunculkan api lewat bara. Ketika batu tersebut dinyalakan, maka tampaklah api yang tersembunyi tadi.

Lantas, apakah kita selama ini sudah berperilaku sabar dan syukur untuk meraih surga-Nya? Lebih-lebih pada masa globalisasi yang penuh godaan dan tantangan ini, tiap Muslim dituntut untuk berperilaku sabar dan syukur dalam kehidupan sehari-hari dan menjalankan ibadah di dalamnya. Wallahualam.***

Penulis, motivator dan pendiri Majelis Inspirasi Alquran & Realitas Alam (Miqra) Indonesia.

NB: Artikel ini telah dimuat di HU PIKIRAN RAKYAT Bandung, edisi Hari Jumat, tanggal 8 Januari 2010 dalam rubrik Renungan Jumat.


Share on Facebook [NB: Jika anda suka artikel ini, silakan share ke teman FACEBOOK anda. Terimakasih.]

Islam: A Short History (Modern Library Chronicles)The Politically Incorrect Guide to Islam (and the Crusades)Unveiling Islam: An Insider's Look at Muslim Life and BeliefsIslam: What the West Needs to Know 

Surga, Sabar, dan Syukur

Oleh ARDA DINATA

KEHIDUPAN itu harapan. Ia adalah rangkaian irama amal yang akan menghantarkan seseorang pada tujuan hidup. Harapan-harapan itu harusnya seirama dan mendukung pencapaian tujuan hidup kita. Namun, nyatanya banyak harapan dan tujuan hidup itu tidak saling mendukung sehingga kehidupan kita berujung pada kekecewaan.





Your Ad Here

Dalam Islam ada rangkaian kata yang begitu indah, yaitu: surga, sabar, dan syukur. Ketiga kata itu saling terkait dan mendukung satu sama lain. Ketiga kata itu dalam hidup seorang Muslim menjadi kata yang akan bersinggungan dalam membangun realita kehidupannya.

Ada sebuah riwayat yang pas untuk mengilustrasikan kondisi seperti itu, yaitu apa yang diungkap Ash-Shabuni (1988, 1:382). Diriwayatkan bahwa seorang laki-laki yang buruk rupa memiliki istri yang sangat cantik. Pada suatu hari si istri melihat suaminya, lalu bergumam, ”Alhamdulillah.”

Suaminya berkata, ”Ada apa?”

Dia menjawab, ”Aku memanjatkan puji kepada Allah yang telah menjadikan diriku dan dirimu sebagai ahli surga, sebab engkau dianugerahi rezeki, lalu bersyukur, aku pun diberi rezeki berupa suami sepertimu, lalu aku bersabar. Sungguh Allah telah menjanjikan surga bagi orang yang bersabar dan bersyukur.”

Jadi, ahli surga itu merupakan rangkaian akumulasi amal kita dalam membangun rasa sabar dan syukur. Inilah salah satu kunci ahli surga yang patut kita bina, perjuangkan, dan aplikasikan dalam hidup keseharian seorang Muslim. Lalu, apa sesungguhnya makna sabar dan syukur itu?

Menurut Syekh Al Hakim At Tirmidzi (205 H-320 H), yang dimaksud syukur adalah menyadari karunia yang Allah berikan pada dirinya, sedangkan yang dimaksud dengan sabar adalah tetap dalam kedudukannya bersama Tuhan.

Sementara itu, dilihat dari segi bahasa, syukur adalah terbukanya kalbu hingga karunia Tuhan tampak padamu. Di dadamu, karunia Allah selalu terlihat pada sesuatu yang Dia berikan padamu. Diriwayatkan dari Al Hasan Al Bashri bahwa Musa bertanya, ”Tuhan, bagaimana cara Adam bersyukur kepada-Mu?” Tuhan menjawab, ”Dia mengetahui hal itu bersumber dari-Ku, itulah bentuk syukurnya.”

Untuk sabar sendiri, ia terambil dari kata Ashbaar, yang bermakna menjadikan sesuatu sebagai objek atau meninggikan sesuatu untuk menjadi sasaran busur panah. Jadi, sabar terwujud dalam bentuk keteguhan hamba untuk menerima panah ketentuan Tuhan, bagaikan sasaran busur panah manusia yang tidak miring ke kiri atau ke kanan. Ia tidak bergeser dari tempatnya, sebab syarat untuk menjadi hamba Tuhan adalah percaya dan pasrah.

Lebih jauh At Tirmidzi mengungkapkan, syukur merupakan substansi iman, sedangkan sabar merupakan substansi Islam. Ketika seorang hamba merasa tenang bersama Tuhan, maka dia disebut mukmin. Namun, ketika menyerahkan diri sebagai hamba, maka dia disebut Muslim. Keduanya terwujud dalam waktu bersamaan, sebab kalbu dalam kondisi bergerak dan bingung mencari Tuhan. Ketika mendapat rahmat, cahaya, dan petunjuk, maka kalbu menjadi tenang dan stabil sehingga disebut beriman. Sebaliknya, ia menjadi gelisah dan gusar ketika cemas terhadap sesuatu. Tatkala rasa cemas itu hilang, maka kalbu kembali tenang hingga disebut beriman.

Atas dasar pemetaan tersebut, maka keberadaan sabar dan syukur ini bagi umat Islam harusnya memunyai tempat yang khusus di dalam pribadinya yang diaplikasikan dalam perilaku hidup keseharian. Lalu, bagaimana kita semestinya menempatkan dan membangun rasa sabar dan syukur sebagai kunci surga ini dalam menjalankan kehidupan sehari-hari?

Sifat dan perilaku bersyukur ini semestinya kita awali dengan mengenal nikmat, karena mengenal nikmat itu adalah jalan untuk mengenal Sang Pemberi nikmat. Pada tataran ini, Ibn Al Qayyim dalam Madaarij Al Salikin menuliskan kalau pengertian syukur ada tiga, yaitu (1) mengenal nikmat, (2) menerimanya, dan (3) memujinya.

Mengenal nikmat terwujud lewat rasa papa dan butuh kepada-Nya. Memuji adalah dengan memuji Zat Yang Memberi nikmat. Wujudnya ada yang bersifat umum (menyadari-Nya sebagai Zat Yang Maha Pemurah dan banyak memberi) dan yang bersifat khusus (menceritakan nikmat Allah yang diberikan lewat dirinya). Hal terakhir ini sesuai dengan yang dijelaskan dalam firman Allah, ”Ada pun yang terkait dengan nikmat Tuhanmu, maka ceritakanlah.”

Ada pun sabar ini adalah berwujud ujian untuk melihat kebaikan dan keburukanmu. Dengan cara seperti itu, tentu akan terlihat diri kita apakah tetap teguh dihadapan-Nya dan apakah kita siap menjadi sasaran tembak-Nya. Lebih jauh, perilaku tersebut juga akan menampakkan gambaran kejujuran seseorang. Yakni apakah dia memujimu untuk melihat bahwa dirimu benar-benar bersyukur? Allah berfirman dalam Q.S. Ibrahim (14):5, ”dalam semua kejadian itu terdapat bukti kekuasaan Allah bagi orang yang selalu sabar dan bersyukur.”

Akhirnya, terlihat jelas dari ayat di atas, kalau Allah mengungkap kata sabar dengan pola fa’al dan mengungkap kata syukur dengan pola fa’ul. Dia mendahulukan sabar sebelum syukur, karena sikap sabar memperlihatkan rasa syukur. Syukur tersebut tersimpan di dalamnya, sebagaimana api tersembunyi di dalam batu. Ujian ibarat sebatang kayu yang memunculkan api lewat bara. Ketika batu tersebut dinyalakan, maka tampaklah api yang tersembunyi tadi.

Lantas, apakah kita selama ini sudah berperilaku sabar dan syukur untuk meraih surga-Nya? Lebih-lebih pada masa globalisasi yang penuh godaan dan tantangan ini, tiap Muslim dituntut untuk berperilaku sabar dan syukur dalam kehidupan sehari-hari dan menjalankan ibadah di dalamnya. Wallahualam.***

Penulis, motivator dan pendiri Majelis Inspirasi Alquran & Realitas Alam (Miqra) Indonesia.

NB: Artikel ini telah dimuat di HU PIKIRAN RAKYAT Bandung, edisi Hari Jumat, tanggal 8 Januari 2010 dalam rubrik Renungan Jumat.


Share on Facebook [NB: Jika anda suka artikel ini, silakan share ke teman FACEBOOK anda. Terimakasih.]

Islam: A Short History (Modern Library Chronicles)The Politically Incorrect Guide to Islam (and the Crusades)Unveiling Islam: An Insider's Look at Muslim Life and BeliefsIslam: What the West Needs to Know 

Surga, Sabar, dan Syukur

Oleh ARDA DINATA

KEHIDUPAN itu harapan. Ia adalah rangkaian irama amal yang akan menghantarkan seseorang pada tujuan hidup. Harapan-harapan itu harusnya seirama dan mendukung pencapaian tujuan hidup kita. Namun, nyatanya banyak harapan dan tujuan hidup itu tidak saling mendukung sehingga kehidupan kita berujung pada kekecewaan.





Your Ad Here

Dalam Islam ada rangkaian kata yang begitu indah, yaitu: surga, sabar, dan syukur. Ketiga kata itu saling terkait dan mendukung satu sama lain. Ketiga kata itu dalam hidup seorang Muslim menjadi kata yang akan bersinggungan dalam membangun realita kehidupannya.

Ada sebuah riwayat yang pas untuk mengilustrasikan kondisi seperti itu, yaitu apa yang diungkap Ash-Shabuni (1988, 1:382). Diriwayatkan bahwa seorang laki-laki yang buruk rupa memiliki istri yang sangat cantik. Pada suatu hari si istri melihat suaminya, lalu bergumam, ”Alhamdulillah.”

Suaminya berkata, ”Ada apa?”

Dia menjawab, ”Aku memanjatkan puji kepada Allah yang telah menjadikan diriku dan dirimu sebagai ahli surga, sebab engkau dianugerahi rezeki, lalu bersyukur, aku pun diberi rezeki berupa suami sepertimu, lalu aku bersabar. Sungguh Allah telah menjanjikan surga bagi orang yang bersabar dan bersyukur.”

Jadi, ahli surga itu merupakan rangkaian akumulasi amal kita dalam membangun rasa sabar dan syukur. Inilah salah satu kunci ahli surga yang patut kita bina, perjuangkan, dan aplikasikan dalam hidup keseharian seorang Muslim. Lalu, apa sesungguhnya makna sabar dan syukur itu?

Menurut Syekh Al Hakim At Tirmidzi (205 H-320 H), yang dimaksud syukur adalah menyadari karunia yang Allah berikan pada dirinya, sedangkan yang dimaksud dengan sabar adalah tetap dalam kedudukannya bersama Tuhan.

Sementara itu, dilihat dari segi bahasa, syukur adalah terbukanya kalbu hingga karunia Tuhan tampak padamu. Di dadamu, karunia Allah selalu terlihat pada sesuatu yang Dia berikan padamu. Diriwayatkan dari Al Hasan Al Bashri bahwa Musa bertanya, ”Tuhan, bagaimana cara Adam bersyukur kepada-Mu?” Tuhan menjawab, ”Dia mengetahui hal itu bersumber dari-Ku, itulah bentuk syukurnya.”

Untuk sabar sendiri, ia terambil dari kata Ashbaar, yang bermakna menjadikan sesuatu sebagai objek atau meninggikan sesuatu untuk menjadi sasaran busur panah. Jadi, sabar terwujud dalam bentuk keteguhan hamba untuk menerima panah ketentuan Tuhan, bagaikan sasaran busur panah manusia yang tidak miring ke kiri atau ke kanan. Ia tidak bergeser dari tempatnya, sebab syarat untuk menjadi hamba Tuhan adalah percaya dan pasrah.

Lebih jauh At Tirmidzi mengungkapkan, syukur merupakan substansi iman, sedangkan sabar merupakan substansi Islam. Ketika seorang hamba merasa tenang bersama Tuhan, maka dia disebut mukmin. Namun, ketika menyerahkan diri sebagai hamba, maka dia disebut Muslim. Keduanya terwujud dalam waktu bersamaan, sebab kalbu dalam kondisi bergerak dan bingung mencari Tuhan. Ketika mendapat rahmat, cahaya, dan petunjuk, maka kalbu menjadi tenang dan stabil sehingga disebut beriman. Sebaliknya, ia menjadi gelisah dan gusar ketika cemas terhadap sesuatu. Tatkala rasa cemas itu hilang, maka kalbu kembali tenang hingga disebut beriman.

Atas dasar pemetaan tersebut, maka keberadaan sabar dan syukur ini bagi umat Islam harusnya memunyai tempat yang khusus di dalam pribadinya yang diaplikasikan dalam perilaku hidup keseharian. Lalu, bagaimana kita semestinya menempatkan dan membangun rasa sabar dan syukur sebagai kunci surga ini dalam menjalankan kehidupan sehari-hari?

Sifat dan perilaku bersyukur ini semestinya kita awali dengan mengenal nikmat, karena mengenal nikmat itu adalah jalan untuk mengenal Sang Pemberi nikmat. Pada tataran ini, Ibn Al Qayyim dalam Madaarij Al Salikin menuliskan kalau pengertian syukur ada tiga, yaitu (1) mengenal nikmat, (2) menerimanya, dan (3) memujinya.

Mengenal nikmat terwujud lewat rasa papa dan butuh kepada-Nya. Memuji adalah dengan memuji Zat Yang Memberi nikmat. Wujudnya ada yang bersifat umum (menyadari-Nya sebagai Zat Yang Maha Pemurah dan banyak memberi) dan yang bersifat khusus (menceritakan nikmat Allah yang diberikan lewat dirinya). Hal terakhir ini sesuai dengan yang dijelaskan dalam firman Allah, ”Ada pun yang terkait dengan nikmat Tuhanmu, maka ceritakanlah.”

Ada pun sabar ini adalah berwujud ujian untuk melihat kebaikan dan keburukanmu. Dengan cara seperti itu, tentu akan terlihat diri kita apakah tetap teguh dihadapan-Nya dan apakah kita siap menjadi sasaran tembak-Nya. Lebih jauh, perilaku tersebut juga akan menampakkan gambaran kejujuran seseorang. Yakni apakah dia memujimu untuk melihat bahwa dirimu benar-benar bersyukur? Allah berfirman dalam Q.S. Ibrahim (14):5, ”dalam semua kejadian itu terdapat bukti kekuasaan Allah bagi orang yang selalu sabar dan bersyukur.”

Akhirnya, terlihat jelas dari ayat di atas, kalau Allah mengungkap kata sabar dengan pola fa’al dan mengungkap kata syukur dengan pola fa’ul. Dia mendahulukan sabar sebelum syukur, karena sikap sabar memperlihatkan rasa syukur. Syukur tersebut tersimpan di dalamnya, sebagaimana api tersembunyi di dalam batu. Ujian ibarat sebatang kayu yang memunculkan api lewat bara. Ketika batu tersebut dinyalakan, maka tampaklah api yang tersembunyi tadi.

Lantas, apakah kita selama ini sudah berperilaku sabar dan syukur untuk meraih surga-Nya? Lebih-lebih pada masa globalisasi yang penuh godaan dan tantangan ini, tiap Muslim dituntut untuk berperilaku sabar dan syukur dalam kehidupan sehari-hari dan menjalankan ibadah di dalamnya. Wallahualam.***

Penulis, motivator dan pendiri Majelis Inspirasi Alquran & Realitas Alam (Miqra) Indonesia.

NB: Artikel ini telah dimuat di HU PIKIRAN RAKYAT Bandung, edisi Hari Jumat, tanggal 8 Januari 2010 dalam rubrik Renungan Jumat.


Share on Facebook [NB: Jika anda suka artikel ini, silakan share ke teman FACEBOOK anda. Terimakasih.]

Islam: A Short History (Modern Library Chronicles)The Politically Incorrect Guide to Islam (and the Crusades)Unveiling Islam: An Insider's Look at Muslim Life and BeliefsIslam: What the West Needs to Know 

Surga, Sabar, dan Syukur

Oleh ARDA DINATA

KEHIDUPAN itu harapan. Ia adalah rangkaian irama amal yang akan menghantarkan seseorang pada tujuan hidup. Harapan-harapan itu harusnya seirama dan mendukung pencapaian tujuan hidup kita. Namun, nyatanya banyak harapan dan tujuan hidup itu tidak saling mendukung sehingga kehidupan kita berujung pada kekecewaan.





Your Ad Here

Dalam Islam ada rangkaian kata yang begitu indah, yaitu: surga, sabar, dan syukur. Ketiga kata itu saling terkait dan mendukung satu sama lain. Ketiga kata itu dalam hidup seorang Muslim menjadi kata yang akan bersinggungan dalam membangun realita kehidupannya.

Ada sebuah riwayat yang pas untuk mengilustrasikan kondisi seperti itu, yaitu apa yang diungkap Ash-Shabuni (1988, 1:382). Diriwayatkan bahwa seorang laki-laki yang buruk rupa memiliki istri yang sangat cantik. Pada suatu hari si istri melihat suaminya, lalu bergumam, ”Alhamdulillah.”

Suaminya berkata, ”Ada apa?”

Dia menjawab, ”Aku memanjatkan puji kepada Allah yang telah menjadikan diriku dan dirimu sebagai ahli surga, sebab engkau dianugerahi rezeki, lalu bersyukur, aku pun diberi rezeki berupa suami sepertimu, lalu aku bersabar. Sungguh Allah telah menjanjikan surga bagi orang yang bersabar dan bersyukur.”

Jadi, ahli surga itu merupakan rangkaian akumulasi amal kita dalam membangun rasa sabar dan syukur. Inilah salah satu kunci ahli surga yang patut kita bina, perjuangkan, dan aplikasikan dalam hidup keseharian seorang Muslim. Lalu, apa sesungguhnya makna sabar dan syukur itu?

Menurut Syekh Al Hakim At Tirmidzi (205 H-320 H), yang dimaksud syukur adalah menyadari karunia yang Allah berikan pada dirinya, sedangkan yang dimaksud dengan sabar adalah tetap dalam kedudukannya bersama Tuhan.

Sementara itu, dilihat dari segi bahasa, syukur adalah terbukanya kalbu hingga karunia Tuhan tampak padamu. Di dadamu, karunia Allah selalu terlihat pada sesuatu yang Dia berikan padamu. Diriwayatkan dari Al Hasan Al Bashri bahwa Musa bertanya, ”Tuhan, bagaimana cara Adam bersyukur kepada-Mu?” Tuhan menjawab, ”Dia mengetahui hal itu bersumber dari-Ku, itulah bentuk syukurnya.”

Untuk sabar sendiri, ia terambil dari kata Ashbaar, yang bermakna menjadikan sesuatu sebagai objek atau meninggikan sesuatu untuk menjadi sasaran busur panah. Jadi, sabar terwujud dalam bentuk keteguhan hamba untuk menerima panah ketentuan Tuhan, bagaikan sasaran busur panah manusia yang tidak miring ke kiri atau ke kanan. Ia tidak bergeser dari tempatnya, sebab syarat untuk menjadi hamba Tuhan adalah percaya dan pasrah.

Lebih jauh At Tirmidzi mengungkapkan, syukur merupakan substansi iman, sedangkan sabar merupakan substansi Islam. Ketika seorang hamba merasa tenang bersama Tuhan, maka dia disebut mukmin. Namun, ketika menyerahkan diri sebagai hamba, maka dia disebut Muslim. Keduanya terwujud dalam waktu bersamaan, sebab kalbu dalam kondisi bergerak dan bingung mencari Tuhan. Ketika mendapat rahmat, cahaya, dan petunjuk, maka kalbu menjadi tenang dan stabil sehingga disebut beriman. Sebaliknya, ia menjadi gelisah dan gusar ketika cemas terhadap sesuatu. Tatkala rasa cemas itu hilang, maka kalbu kembali tenang hingga disebut beriman.

Atas dasar pemetaan tersebut, maka keberadaan sabar dan syukur ini bagi umat Islam harusnya memunyai tempat yang khusus di dalam pribadinya yang diaplikasikan dalam perilaku hidup keseharian. Lalu, bagaimana kita semestinya menempatkan dan membangun rasa sabar dan syukur sebagai kunci surga ini dalam menjalankan kehidupan sehari-hari?

Sifat dan perilaku bersyukur ini semestinya kita awali dengan mengenal nikmat, karena mengenal nikmat itu adalah jalan untuk mengenal Sang Pemberi nikmat. Pada tataran ini, Ibn Al Qayyim dalam Madaarij Al Salikin menuliskan kalau pengertian syukur ada tiga, yaitu (1) mengenal nikmat, (2) menerimanya, dan (3) memujinya.

Mengenal nikmat terwujud lewat rasa papa dan butuh kepada-Nya. Memuji adalah dengan memuji Zat Yang Memberi nikmat. Wujudnya ada yang bersifat umum (menyadari-Nya sebagai Zat Yang Maha Pemurah dan banyak memberi) dan yang bersifat khusus (menceritakan nikmat Allah yang diberikan lewat dirinya). Hal terakhir ini sesuai dengan yang dijelaskan dalam firman Allah, ”Ada pun yang terkait dengan nikmat Tuhanmu, maka ceritakanlah.”

Ada pun sabar ini adalah berwujud ujian untuk melihat kebaikan dan keburukanmu. Dengan cara seperti itu, tentu akan terlihat diri kita apakah tetap teguh dihadapan-Nya dan apakah kita siap menjadi sasaran tembak-Nya. Lebih jauh, perilaku tersebut juga akan menampakkan gambaran kejujuran seseorang. Yakni apakah dia memujimu untuk melihat bahwa dirimu benar-benar bersyukur? Allah berfirman dalam Q.S. Ibrahim (14):5, ”dalam semua kejadian itu terdapat bukti kekuasaan Allah bagi orang yang selalu sabar dan bersyukur.”

Akhirnya, terlihat jelas dari ayat di atas, kalau Allah mengungkap kata sabar dengan pola fa’al dan mengungkap kata syukur dengan pola fa’ul. Dia mendahulukan sabar sebelum syukur, karena sikap sabar memperlihatkan rasa syukur. Syukur tersebut tersimpan di dalamnya, sebagaimana api tersembunyi di dalam batu. Ujian ibarat sebatang kayu yang memunculkan api lewat bara. Ketika batu tersebut dinyalakan, maka tampaklah api yang tersembunyi tadi.

Lantas, apakah kita selama ini sudah berperilaku sabar dan syukur untuk meraih surga-Nya? Lebih-lebih pada masa globalisasi yang penuh godaan dan tantangan ini, tiap Muslim dituntut untuk berperilaku sabar dan syukur dalam kehidupan sehari-hari dan menjalankan ibadah di dalamnya. Wallahualam.***

Penulis, motivator dan pendiri Majelis Inspirasi Alquran & Realitas Alam (Miqra) Indonesia.

NB: Artikel ini telah dimuat di HU PIKIRAN RAKYAT Bandung, edisi Hari Jumat, tanggal 8 Januari 2010 dalam rubrik Renungan Jumat.


Share on Facebook [NB: Jika anda suka artikel ini, silakan share ke teman FACEBOOK anda. Terimakasih.]
Berpikir dan Bekerja Secara Produktif
Lihat Detail

Berpikir dan Bekerja Secara Produktif

Berpikir dan Bekerja Secara Produktif
Oleh: Arda Dinata

http://ardanews.blogspot.com


Kutu Lontar: Sukses Menggapai Puncak Karir dengan Menjadi Pekerja Kutu Lontar (Indonesian Edition)Mencoba Sukses KembaliIndo Mie - Mi Goreng Satay Instant Noodles (2.8 Oz.)Gila - Gilaan
Sesungguhnya binatang (makhluk) yang seburuk-buruknya pada sisi Allah ialah orang-orang yang pekak dan tuli yang tidak mengerti apa pun.”
(QS. Al-Anfal: 22)


BERPIKIR dan bekerja merupakan kata yang patut kita sandingkan dalam membangun produktifitas kehidupan seorang muslim. Kerjasama kedua makna kata ini, bila kita laksanakan dengan benar akan melahirkan suatu kekuatan yang luar biasa. Bagi manusia yang mampu memaksimalkan kedua potensi ini, tentu predikat manusia produktif akan segera disandangnya.

Dalam al-Quran, banyak ayat yang memberi kita tuntunan agar bekerja secara produktif. Salah satunya, Allah menyatakan dalam QS. Yasin: 33-35, “Dan suatu tanda (kekuasaan Allah yang besar) bagi mereka adalah bumi yang mati. Kami hidupkan bumi itu dan Kami keluarkan daripadanya biji-bijian, maka daripadanya mereka makan. Dan Kami jadikan padanya kebun-kebun kurma dan anggur. Dan Kami pancarkan padanya beberapa mata air, supaya mereka dapat makan dari buahnya, dan dari apa yang diusahakan oleh tangan mereka. Maka mengapakah mereka tidak bersyukur?”

Makna dari ayat tersebut mengajarkan dan menuntut setiap manusia agar bersyukur kepada Allah SWT. dengan cara beriman atas nikmat yang telah dianugerahkan-Nya. Nikmat itu, antara lain berupa Allah telah memberi kesempatan kepada manusia untuk bekerja secara produktif dan sukses dalam hidupnya. Posisi kesempatan yang diberikan Allah ini bergantung pada pekerjaan yang dilakukan oleh manusia sendiri. Selain itu, kita harus menyandarkan diri terhadap segala yang telah diushakan tersebut kepada kehendak-Nya.

Dalam hal ini, untuk menciptakan kehidupan yang positif dan produktif, Muhammad al-Bahi mengungkapkan ada tiga unsur penting yang harus diperhatikan. Pertama, mendayagunakan potensi yang telah dianugerahkan Allah untuk bekerja, melaksanakan gagasan, dan memproduksi. Kedua, bertawakal kepada Allah, berlindung, dan meminta pertolongan kepada-Nya pada waktu melakukan pekerjaan. Ketiga, percaya kepada Allah bahwa Ia mampu menolak bahaya, kesombongan, dan kediktatoran yang memasuki lapangan pekerjaan.

Nikmat lain yang patut disyukuri manusia ialah berupa kehendak Allah menyediakan lingkungan agar manusia dapat hidup di dalamnya. Pada ayat: “Dan dari apa yang diusahakan oleh tangan mereka…” tersebut, telah mengajarkan bahwa menjadikan pekerjaan tangan sebagai pilar utama produksi (pertanian), bukan berarti seorang mukmin dibenarkan berlindung pada sikap fatalistik. Yakni sikap menunggu dan mengharapkan datangnya rezeki tanpa bekerja.

Memang Islam mengajak manusia untuk bertawakal kepada Allah, tetapi ia tidak mengakui sikap fatalistik itu. Apalagi untuk mendorongnya. Bertawakal kepada Allah, berarti mendayagunakan seluruh potensi untuk memikirkan cara-cara yang benar dan tepat dalam melakukan pekerjaan. Proses kerja ini dimulai dengan bertawakal dan bersandar kepada-Nya yang dipadukan dengan tujuan, perencanaan, program, dan pelaksanaan kerja.

* *

DALAM bekerja, kita dianjurkan untuk mengembangkan “sayap kerjasama” dengan setiap makhluk Allah, termasuk dengan alam sekalipun. Kerjasama dan solidaritas adalah naluri dasar yang selalu dimiliki makhluk Allah. Oleh karena itu, tidak ada makhluk satu pun yang dapat hidup menyendiri, sekalipun dalam koloninya sendiri.

Dalam kehidupan alam semesta, kita diajarkan agar melakukan kerjasama yang solid. Kehidupan semut, misalnya, selalu kerjasama dengan baik dalam menjalani hidup dan menghadapi bahaya. Bahkan setiap semut merupakan bagian dari suatu proses pemecahan masalah di antara mereka sendiri.

Waktu mencari makan, semut secara bersama-sama menyapu setiap makanan yang mereka temukan. Semua bisa berjalan dengan kecepatan sampai 20 km/jam dan dapat membunuh mangsanya sampai 20 ribu kali setiap hari. Ketika mereka kembali ke sarang, setiap semut pasti mengusung makanan untuk temannya (baca: semut perawat), yang bertugas khusus merawat jentik-jentik telur semut di sarangnya.

Semut merah, bahkan tak hanya bekerjasama dengan koloninya. Mereka selalu kerjasama dengan ulat bulu. Menurut Profesor Edward Wilson, semut-semut merah itu memanfaatkan liur ulat untuk lem bagi sarangnya. Selain itu, si ulat bulu juga mengeluarkan suara seperti musik yang sangat disukai para semut merah. Sebagai balasannya, semut merah akan memberi makan dengan jentik-jentik telurnya setiap hari, hingga ulat keluar dan tumbuh menjadi kepompong. Sungguh hal ini merupakan bukti kalau alam itu mengajarkan kepada kita tentang sebuah kerjasama yang sangat solid.

Jadi, masihkah kita akan menebar rasa permusuhan, saling curiga, dan perpecahan sesama anak bangsa dalam membangun sebuah tatanan produktifitas bangsa yang sedang tepuruk saat ini?

* *

MELALUI akal, manusia dapat berpikir. Dengan pikirnya itulah, seharusnya manusia mampu menciptakan semangat kerja. Sehingga tak berlebihan bila Muhammad Utsman Najati mengungkapkan, pekerjaan manusia meliputi aspek rasio dan fisik. Jika manusia tidak bekerja maka berarti ia hidup tanpa memenuhi tugasnya.

Keberadaan rasio itu sendiri, sudah seharusnya dimaksimalkan untuk berpikir. Melalui pemikiran itu, manusia akan membuat garis lurus dalam kehidupan yang berfungsi sebagai benteng terhadap godaan hawa nafsu. Abdul Hamid Mursi menyebutkan, hawa nafsu tidak dapat mengalahkan pikiran kecuali jika manusianya banyak bersantai. Bekerja merupakan tugas dalam hidup manusia, karenanya manusia tidak boleh melakukannya dengan terpaksa. Lagian, bukankah manusia akan merasakan kenikmatan bila mengerjakannya dengan penuh kesadaran?

Akhirnya, masihkah kita akan mengabaikan potensi pikir, kerja, dan produktifitas dalam hidup, yang telah Allah anugerahkan kepada setiap diri manusia ini? Yang pasti, Allah akan menjujung tinggi manusia yang berpikir dan merendahkan orang yang tidak menggunakan pikirnya pada tingkatan di bawah hewan. Allah berfirman, “Sesungguhnya binatang (makhluk) yang seburuk-buruknya pada sisi Allah ialah orang-orang yang pekak dan tuli yang tidak mengerti apa pun.” (QS. Al-Anfal: 22). Wallahu’alam.***

Penulis Pendiri Majelis Inspirasi Alquran dan Realitas Alam (MIQRA) Indonesia.

DAPATKAN ARTIKEL LAINYA TENTANG:
Menjadi Penulis Sukses, Mendapatkan Harta Karun, Menulis Buku, bisnis internet. Klik di bawah ini:
http://www.ardapenulissukses.com


Arda Dinata, adalah praktisi kesehatan, pengusaha inspirasi, pembicara, trainer, dan motivator di Majelis Inspirasi Alquran dan Realitas Alam (MIQRA) Indonesia.
E-mail: arda.dinata@gmail.com
Hp. 081.320.476048.
http://www.miqra.blogspot.com
Share on Facebook [BAGI ARTIKEL INI DI FACEBOOKMU]
Berpikir dan Bekerja Secara Produktif
Oleh: Arda Dinata

http://ardanews.blogspot.com


Kutu Lontar: Sukses Menggapai Puncak Karir dengan Menjadi Pekerja Kutu Lontar (Indonesian Edition)Mencoba Sukses KembaliIndo Mie - Mi Goreng Satay Instant Noodles (2.8 Oz.)Gila - Gilaan
Sesungguhnya binatang (makhluk) yang seburuk-buruknya pada sisi Allah ialah orang-orang yang pekak dan tuli yang tidak mengerti apa pun.”
(QS. Al-Anfal: 22)


BERPIKIR dan bekerja merupakan kata yang patut kita sandingkan dalam membangun produktifitas kehidupan seorang muslim. Kerjasama kedua makna kata ini, bila kita laksanakan dengan benar akan melahirkan suatu kekuatan yang luar biasa. Bagi manusia yang mampu memaksimalkan kedua potensi ini, tentu predikat manusia produktif akan segera disandangnya.

Dalam al-Quran, banyak ayat yang memberi kita tuntunan agar bekerja secara produktif. Salah satunya, Allah menyatakan dalam QS. Yasin: 33-35, “Dan suatu tanda (kekuasaan Allah yang besar) bagi mereka adalah bumi yang mati. Kami hidupkan bumi itu dan Kami keluarkan daripadanya biji-bijian, maka daripadanya mereka makan. Dan Kami jadikan padanya kebun-kebun kurma dan anggur. Dan Kami pancarkan padanya beberapa mata air, supaya mereka dapat makan dari buahnya, dan dari apa yang diusahakan oleh tangan mereka. Maka mengapakah mereka tidak bersyukur?”

Makna dari ayat tersebut mengajarkan dan menuntut setiap manusia agar bersyukur kepada Allah SWT. dengan cara beriman atas nikmat yang telah dianugerahkan-Nya. Nikmat itu, antara lain berupa Allah telah memberi kesempatan kepada manusia untuk bekerja secara produktif dan sukses dalam hidupnya. Posisi kesempatan yang diberikan Allah ini bergantung pada pekerjaan yang dilakukan oleh manusia sendiri. Selain itu, kita harus menyandarkan diri terhadap segala yang telah diushakan tersebut kepada kehendak-Nya.

Dalam hal ini, untuk menciptakan kehidupan yang positif dan produktif, Muhammad al-Bahi mengungkapkan ada tiga unsur penting yang harus diperhatikan. Pertama, mendayagunakan potensi yang telah dianugerahkan Allah untuk bekerja, melaksanakan gagasan, dan memproduksi. Kedua, bertawakal kepada Allah, berlindung, dan meminta pertolongan kepada-Nya pada waktu melakukan pekerjaan. Ketiga, percaya kepada Allah bahwa Ia mampu menolak bahaya, kesombongan, dan kediktatoran yang memasuki lapangan pekerjaan.

Nikmat lain yang patut disyukuri manusia ialah berupa kehendak Allah menyediakan lingkungan agar manusia dapat hidup di dalamnya. Pada ayat: “Dan dari apa yang diusahakan oleh tangan mereka…” tersebut, telah mengajarkan bahwa menjadikan pekerjaan tangan sebagai pilar utama produksi (pertanian), bukan berarti seorang mukmin dibenarkan berlindung pada sikap fatalistik. Yakni sikap menunggu dan mengharapkan datangnya rezeki tanpa bekerja.

Memang Islam mengajak manusia untuk bertawakal kepada Allah, tetapi ia tidak mengakui sikap fatalistik itu. Apalagi untuk mendorongnya. Bertawakal kepada Allah, berarti mendayagunakan seluruh potensi untuk memikirkan cara-cara yang benar dan tepat dalam melakukan pekerjaan. Proses kerja ini dimulai dengan bertawakal dan bersandar kepada-Nya yang dipadukan dengan tujuan, perencanaan, program, dan pelaksanaan kerja.

* *

DALAM bekerja, kita dianjurkan untuk mengembangkan “sayap kerjasama” dengan setiap makhluk Allah, termasuk dengan alam sekalipun. Kerjasama dan solidaritas adalah naluri dasar yang selalu dimiliki makhluk Allah. Oleh karena itu, tidak ada makhluk satu pun yang dapat hidup menyendiri, sekalipun dalam koloninya sendiri.

Dalam kehidupan alam semesta, kita diajarkan agar melakukan kerjasama yang solid. Kehidupan semut, misalnya, selalu kerjasama dengan baik dalam menjalani hidup dan menghadapi bahaya. Bahkan setiap semut merupakan bagian dari suatu proses pemecahan masalah di antara mereka sendiri.

Waktu mencari makan, semut secara bersama-sama menyapu setiap makanan yang mereka temukan. Semua bisa berjalan dengan kecepatan sampai 20 km/jam dan dapat membunuh mangsanya sampai 20 ribu kali setiap hari. Ketika mereka kembali ke sarang, setiap semut pasti mengusung makanan untuk temannya (baca: semut perawat), yang bertugas khusus merawat jentik-jentik telur semut di sarangnya.

Semut merah, bahkan tak hanya bekerjasama dengan koloninya. Mereka selalu kerjasama dengan ulat bulu. Menurut Profesor Edward Wilson, semut-semut merah itu memanfaatkan liur ulat untuk lem bagi sarangnya. Selain itu, si ulat bulu juga mengeluarkan suara seperti musik yang sangat disukai para semut merah. Sebagai balasannya, semut merah akan memberi makan dengan jentik-jentik telurnya setiap hari, hingga ulat keluar dan tumbuh menjadi kepompong. Sungguh hal ini merupakan bukti kalau alam itu mengajarkan kepada kita tentang sebuah kerjasama yang sangat solid.

Jadi, masihkah kita akan menebar rasa permusuhan, saling curiga, dan perpecahan sesama anak bangsa dalam membangun sebuah tatanan produktifitas bangsa yang sedang tepuruk saat ini?

* *

MELALUI akal, manusia dapat berpikir. Dengan pikirnya itulah, seharusnya manusia mampu menciptakan semangat kerja. Sehingga tak berlebihan bila Muhammad Utsman Najati mengungkapkan, pekerjaan manusia meliputi aspek rasio dan fisik. Jika manusia tidak bekerja maka berarti ia hidup tanpa memenuhi tugasnya.

Keberadaan rasio itu sendiri, sudah seharusnya dimaksimalkan untuk berpikir. Melalui pemikiran itu, manusia akan membuat garis lurus dalam kehidupan yang berfungsi sebagai benteng terhadap godaan hawa nafsu. Abdul Hamid Mursi menyebutkan, hawa nafsu tidak dapat mengalahkan pikiran kecuali jika manusianya banyak bersantai. Bekerja merupakan tugas dalam hidup manusia, karenanya manusia tidak boleh melakukannya dengan terpaksa. Lagian, bukankah manusia akan merasakan kenikmatan bila mengerjakannya dengan penuh kesadaran?

Akhirnya, masihkah kita akan mengabaikan potensi pikir, kerja, dan produktifitas dalam hidup, yang telah Allah anugerahkan kepada setiap diri manusia ini? Yang pasti, Allah akan menjujung tinggi manusia yang berpikir dan merendahkan orang yang tidak menggunakan pikirnya pada tingkatan di bawah hewan. Allah berfirman, “Sesungguhnya binatang (makhluk) yang seburuk-buruknya pada sisi Allah ialah orang-orang yang pekak dan tuli yang tidak mengerti apa pun.” (QS. Al-Anfal: 22). Wallahu’alam.***

Penulis Pendiri Majelis Inspirasi Alquran dan Realitas Alam (MIQRA) Indonesia.

DAPATKAN ARTIKEL LAINYA TENTANG:
Menjadi Penulis Sukses, Mendapatkan Harta Karun, Menulis Buku, bisnis internet. Klik di bawah ini:
http://www.ardapenulissukses.com


Arda Dinata, adalah praktisi kesehatan, pengusaha inspirasi, pembicara, trainer, dan motivator di Majelis Inspirasi Alquran dan Realitas Alam (MIQRA) Indonesia.
E-mail: arda.dinata@gmail.com
Hp. 081.320.476048.
http://www.miqra.blogspot.com
Share on Facebook [BAGI ARTIKEL INI DI FACEBOOKMU]
Berpikir dan Bekerja Secara Produktif
Oleh: Arda Dinata

http://ardanews.blogspot.com


Kutu Lontar: Sukses Menggapai Puncak Karir dengan Menjadi Pekerja Kutu Lontar (Indonesian Edition)Mencoba Sukses KembaliIndo Mie - Mi Goreng Satay Instant Noodles (2.8 Oz.)Gila - Gilaan
Sesungguhnya binatang (makhluk) yang seburuk-buruknya pada sisi Allah ialah orang-orang yang pekak dan tuli yang tidak mengerti apa pun.”
(QS. Al-Anfal: 22)


BERPIKIR dan bekerja merupakan kata yang patut kita sandingkan dalam membangun produktifitas kehidupan seorang muslim. Kerjasama kedua makna kata ini, bila kita laksanakan dengan benar akan melahirkan suatu kekuatan yang luar biasa. Bagi manusia yang mampu memaksimalkan kedua potensi ini, tentu predikat manusia produktif akan segera disandangnya.

Dalam al-Quran, banyak ayat yang memberi kita tuntunan agar bekerja secara produktif. Salah satunya, Allah menyatakan dalam QS. Yasin: 33-35, “Dan suatu tanda (kekuasaan Allah yang besar) bagi mereka adalah bumi yang mati. Kami hidupkan bumi itu dan Kami keluarkan daripadanya biji-bijian, maka daripadanya mereka makan. Dan Kami jadikan padanya kebun-kebun kurma dan anggur. Dan Kami pancarkan padanya beberapa mata air, supaya mereka dapat makan dari buahnya, dan dari apa yang diusahakan oleh tangan mereka. Maka mengapakah mereka tidak bersyukur?”

Makna dari ayat tersebut mengajarkan dan menuntut setiap manusia agar bersyukur kepada Allah SWT. dengan cara beriman atas nikmat yang telah dianugerahkan-Nya. Nikmat itu, antara lain berupa Allah telah memberi kesempatan kepada manusia untuk bekerja secara produktif dan sukses dalam hidupnya. Posisi kesempatan yang diberikan Allah ini bergantung pada pekerjaan yang dilakukan oleh manusia sendiri. Selain itu, kita harus menyandarkan diri terhadap segala yang telah diushakan tersebut kepada kehendak-Nya.

Dalam hal ini, untuk menciptakan kehidupan yang positif dan produktif, Muhammad al-Bahi mengungkapkan ada tiga unsur penting yang harus diperhatikan. Pertama, mendayagunakan potensi yang telah dianugerahkan Allah untuk bekerja, melaksanakan gagasan, dan memproduksi. Kedua, bertawakal kepada Allah, berlindung, dan meminta pertolongan kepada-Nya pada waktu melakukan pekerjaan. Ketiga, percaya kepada Allah bahwa Ia mampu menolak bahaya, kesombongan, dan kediktatoran yang memasuki lapangan pekerjaan.

Nikmat lain yang patut disyukuri manusia ialah berupa kehendak Allah menyediakan lingkungan agar manusia dapat hidup di dalamnya. Pada ayat: “Dan dari apa yang diusahakan oleh tangan mereka…” tersebut, telah mengajarkan bahwa menjadikan pekerjaan tangan sebagai pilar utama produksi (pertanian), bukan berarti seorang mukmin dibenarkan berlindung pada sikap fatalistik. Yakni sikap menunggu dan mengharapkan datangnya rezeki tanpa bekerja.

Memang Islam mengajak manusia untuk bertawakal kepada Allah, tetapi ia tidak mengakui sikap fatalistik itu. Apalagi untuk mendorongnya. Bertawakal kepada Allah, berarti mendayagunakan seluruh potensi untuk memikirkan cara-cara yang benar dan tepat dalam melakukan pekerjaan. Proses kerja ini dimulai dengan bertawakal dan bersandar kepada-Nya yang dipadukan dengan tujuan, perencanaan, program, dan pelaksanaan kerja.

* *

DALAM bekerja, kita dianjurkan untuk mengembangkan “sayap kerjasama” dengan setiap makhluk Allah, termasuk dengan alam sekalipun. Kerjasama dan solidaritas adalah naluri dasar yang selalu dimiliki makhluk Allah. Oleh karena itu, tidak ada makhluk satu pun yang dapat hidup menyendiri, sekalipun dalam koloninya sendiri.

Dalam kehidupan alam semesta, kita diajarkan agar melakukan kerjasama yang solid. Kehidupan semut, misalnya, selalu kerjasama dengan baik dalam menjalani hidup dan menghadapi bahaya. Bahkan setiap semut merupakan bagian dari suatu proses pemecahan masalah di antara mereka sendiri.

Waktu mencari makan, semut secara bersama-sama menyapu setiap makanan yang mereka temukan. Semua bisa berjalan dengan kecepatan sampai 20 km/jam dan dapat membunuh mangsanya sampai 20 ribu kali setiap hari. Ketika mereka kembali ke sarang, setiap semut pasti mengusung makanan untuk temannya (baca: semut perawat), yang bertugas khusus merawat jentik-jentik telur semut di sarangnya.

Semut merah, bahkan tak hanya bekerjasama dengan koloninya. Mereka selalu kerjasama dengan ulat bulu. Menurut Profesor Edward Wilson, semut-semut merah itu memanfaatkan liur ulat untuk lem bagi sarangnya. Selain itu, si ulat bulu juga mengeluarkan suara seperti musik yang sangat disukai para semut merah. Sebagai balasannya, semut merah akan memberi makan dengan jentik-jentik telurnya setiap hari, hingga ulat keluar dan tumbuh menjadi kepompong. Sungguh hal ini merupakan bukti kalau alam itu mengajarkan kepada kita tentang sebuah kerjasama yang sangat solid.

Jadi, masihkah kita akan menebar rasa permusuhan, saling curiga, dan perpecahan sesama anak bangsa dalam membangun sebuah tatanan produktifitas bangsa yang sedang tepuruk saat ini?

* *

MELALUI akal, manusia dapat berpikir. Dengan pikirnya itulah, seharusnya manusia mampu menciptakan semangat kerja. Sehingga tak berlebihan bila Muhammad Utsman Najati mengungkapkan, pekerjaan manusia meliputi aspek rasio dan fisik. Jika manusia tidak bekerja maka berarti ia hidup tanpa memenuhi tugasnya.

Keberadaan rasio itu sendiri, sudah seharusnya dimaksimalkan untuk berpikir. Melalui pemikiran itu, manusia akan membuat garis lurus dalam kehidupan yang berfungsi sebagai benteng terhadap godaan hawa nafsu. Abdul Hamid Mursi menyebutkan, hawa nafsu tidak dapat mengalahkan pikiran kecuali jika manusianya banyak bersantai. Bekerja merupakan tugas dalam hidup manusia, karenanya manusia tidak boleh melakukannya dengan terpaksa. Lagian, bukankah manusia akan merasakan kenikmatan bila mengerjakannya dengan penuh kesadaran?

Akhirnya, masihkah kita akan mengabaikan potensi pikir, kerja, dan produktifitas dalam hidup, yang telah Allah anugerahkan kepada setiap diri manusia ini? Yang pasti, Allah akan menjujung tinggi manusia yang berpikir dan merendahkan orang yang tidak menggunakan pikirnya pada tingkatan di bawah hewan. Allah berfirman, “Sesungguhnya binatang (makhluk) yang seburuk-buruknya pada sisi Allah ialah orang-orang yang pekak dan tuli yang tidak mengerti apa pun.” (QS. Al-Anfal: 22). Wallahu’alam.***

Penulis Pendiri Majelis Inspirasi Alquran dan Realitas Alam (MIQRA) Indonesia.

DAPATKAN ARTIKEL LAINYA TENTANG:
Menjadi Penulis Sukses, Mendapatkan Harta Karun, Menulis Buku, bisnis internet. Klik di bawah ini:
http://www.ardapenulissukses.com


Arda Dinata, adalah praktisi kesehatan, pengusaha inspirasi, pembicara, trainer, dan motivator di Majelis Inspirasi Alquran dan Realitas Alam (MIQRA) Indonesia.
E-mail: arda.dinata@gmail.com
Hp. 081.320.476048.
http://www.miqra.blogspot.com
Share on Facebook [BAGI ARTIKEL INI DI FACEBOOKMU]
Berpikir dan Bekerja Secara Produktif
Oleh: Arda Dinata

http://ardanews.blogspot.com


Kutu Lontar: Sukses Menggapai Puncak Karir dengan Menjadi Pekerja Kutu Lontar (Indonesian Edition)Mencoba Sukses KembaliIndo Mie - Mi Goreng Satay Instant Noodles (2.8 Oz.)Gila - Gilaan
Sesungguhnya binatang (makhluk) yang seburuk-buruknya pada sisi Allah ialah orang-orang yang pekak dan tuli yang tidak mengerti apa pun.”
(QS. Al-Anfal: 22)


BERPIKIR dan bekerja merupakan kata yang patut kita sandingkan dalam membangun produktifitas kehidupan seorang muslim. Kerjasama kedua makna kata ini, bila kita laksanakan dengan benar akan melahirkan suatu kekuatan yang luar biasa. Bagi manusia yang mampu memaksimalkan kedua potensi ini, tentu predikat manusia produktif akan segera disandangnya.

Dalam al-Quran, banyak ayat yang memberi kita tuntunan agar bekerja secara produktif. Salah satunya, Allah menyatakan dalam QS. Yasin: 33-35, “Dan suatu tanda (kekuasaan Allah yang besar) bagi mereka adalah bumi yang mati. Kami hidupkan bumi itu dan Kami keluarkan daripadanya biji-bijian, maka daripadanya mereka makan. Dan Kami jadikan padanya kebun-kebun kurma dan anggur. Dan Kami pancarkan padanya beberapa mata air, supaya mereka dapat makan dari buahnya, dan dari apa yang diusahakan oleh tangan mereka. Maka mengapakah mereka tidak bersyukur?”

Makna dari ayat tersebut mengajarkan dan menuntut setiap manusia agar bersyukur kepada Allah SWT. dengan cara beriman atas nikmat yang telah dianugerahkan-Nya. Nikmat itu, antara lain berupa Allah telah memberi kesempatan kepada manusia untuk bekerja secara produktif dan sukses dalam hidupnya. Posisi kesempatan yang diberikan Allah ini bergantung pada pekerjaan yang dilakukan oleh manusia sendiri. Selain itu, kita harus menyandarkan diri terhadap segala yang telah diushakan tersebut kepada kehendak-Nya.

Dalam hal ini, untuk menciptakan kehidupan yang positif dan produktif, Muhammad al-Bahi mengungkapkan ada tiga unsur penting yang harus diperhatikan. Pertama, mendayagunakan potensi yang telah dianugerahkan Allah untuk bekerja, melaksanakan gagasan, dan memproduksi. Kedua, bertawakal kepada Allah, berlindung, dan meminta pertolongan kepada-Nya pada waktu melakukan pekerjaan. Ketiga, percaya kepada Allah bahwa Ia mampu menolak bahaya, kesombongan, dan kediktatoran yang memasuki lapangan pekerjaan.

Nikmat lain yang patut disyukuri manusia ialah berupa kehendak Allah menyediakan lingkungan agar manusia dapat hidup di dalamnya. Pada ayat: “Dan dari apa yang diusahakan oleh tangan mereka…” tersebut, telah mengajarkan bahwa menjadikan pekerjaan tangan sebagai pilar utama produksi (pertanian), bukan berarti seorang mukmin dibenarkan berlindung pada sikap fatalistik. Yakni sikap menunggu dan mengharapkan datangnya rezeki tanpa bekerja.

Memang Islam mengajak manusia untuk bertawakal kepada Allah, tetapi ia tidak mengakui sikap fatalistik itu. Apalagi untuk mendorongnya. Bertawakal kepada Allah, berarti mendayagunakan seluruh potensi untuk memikirkan cara-cara yang benar dan tepat dalam melakukan pekerjaan. Proses kerja ini dimulai dengan bertawakal dan bersandar kepada-Nya yang dipadukan dengan tujuan, perencanaan, program, dan pelaksanaan kerja.

* *

DALAM bekerja, kita dianjurkan untuk mengembangkan “sayap kerjasama” dengan setiap makhluk Allah, termasuk dengan alam sekalipun. Kerjasama dan solidaritas adalah naluri dasar yang selalu dimiliki makhluk Allah. Oleh karena itu, tidak ada makhluk satu pun yang dapat hidup menyendiri, sekalipun dalam koloninya sendiri.

Dalam kehidupan alam semesta, kita diajarkan agar melakukan kerjasama yang solid. Kehidupan semut, misalnya, selalu kerjasama dengan baik dalam menjalani hidup dan menghadapi bahaya. Bahkan setiap semut merupakan bagian dari suatu proses pemecahan masalah di antara mereka sendiri.

Waktu mencari makan, semut secara bersama-sama menyapu setiap makanan yang mereka temukan. Semua bisa berjalan dengan kecepatan sampai 20 km/jam dan dapat membunuh mangsanya sampai 20 ribu kali setiap hari. Ketika mereka kembali ke sarang, setiap semut pasti mengusung makanan untuk temannya (baca: semut perawat), yang bertugas khusus merawat jentik-jentik telur semut di sarangnya.

Semut merah, bahkan tak hanya bekerjasama dengan koloninya. Mereka selalu kerjasama dengan ulat bulu. Menurut Profesor Edward Wilson, semut-semut merah itu memanfaatkan liur ulat untuk lem bagi sarangnya. Selain itu, si ulat bulu juga mengeluarkan suara seperti musik yang sangat disukai para semut merah. Sebagai balasannya, semut merah akan memberi makan dengan jentik-jentik telurnya setiap hari, hingga ulat keluar dan tumbuh menjadi kepompong. Sungguh hal ini merupakan bukti kalau alam itu mengajarkan kepada kita tentang sebuah kerjasama yang sangat solid.

Jadi, masihkah kita akan menebar rasa permusuhan, saling curiga, dan perpecahan sesama anak bangsa dalam membangun sebuah tatanan produktifitas bangsa yang sedang tepuruk saat ini?

* *

MELALUI akal, manusia dapat berpikir. Dengan pikirnya itulah, seharusnya manusia mampu menciptakan semangat kerja. Sehingga tak berlebihan bila Muhammad Utsman Najati mengungkapkan, pekerjaan manusia meliputi aspek rasio dan fisik. Jika manusia tidak bekerja maka berarti ia hidup tanpa memenuhi tugasnya.

Keberadaan rasio itu sendiri, sudah seharusnya dimaksimalkan untuk berpikir. Melalui pemikiran itu, manusia akan membuat garis lurus dalam kehidupan yang berfungsi sebagai benteng terhadap godaan hawa nafsu. Abdul Hamid Mursi menyebutkan, hawa nafsu tidak dapat mengalahkan pikiran kecuali jika manusianya banyak bersantai. Bekerja merupakan tugas dalam hidup manusia, karenanya manusia tidak boleh melakukannya dengan terpaksa. Lagian, bukankah manusia akan merasakan kenikmatan bila mengerjakannya dengan penuh kesadaran?

Akhirnya, masihkah kita akan mengabaikan potensi pikir, kerja, dan produktifitas dalam hidup, yang telah Allah anugerahkan kepada setiap diri manusia ini? Yang pasti, Allah akan menjujung tinggi manusia yang berpikir dan merendahkan orang yang tidak menggunakan pikirnya pada tingkatan di bawah hewan. Allah berfirman, “Sesungguhnya binatang (makhluk) yang seburuk-buruknya pada sisi Allah ialah orang-orang yang pekak dan tuli yang tidak mengerti apa pun.” (QS. Al-Anfal: 22). Wallahu’alam.***

Penulis Pendiri Majelis Inspirasi Alquran dan Realitas Alam (MIQRA) Indonesia.

DAPATKAN ARTIKEL LAINYA TENTANG:
Menjadi Penulis Sukses, Mendapatkan Harta Karun, Menulis Buku, bisnis internet. Klik di bawah ini:
http://www.ardapenulissukses.com


Arda Dinata, adalah praktisi kesehatan, pengusaha inspirasi, pembicara, trainer, dan motivator di Majelis Inspirasi Alquran dan Realitas Alam (MIQRA) Indonesia.
E-mail: arda.dinata@gmail.com
Hp. 081.320.476048.
http://www.miqra.blogspot.com
Share on Facebook [BAGI ARTIKEL INI DI FACEBOOKMU]
Berpikir dan Bekerja Secara Produktif
Oleh: Arda Dinata

http://ardanews.blogspot.com


Kutu Lontar: Sukses Menggapai Puncak Karir dengan Menjadi Pekerja Kutu Lontar (Indonesian Edition)Mencoba Sukses KembaliIndo Mie - Mi Goreng Satay Instant Noodles (2.8 Oz.)Gila - Gilaan
Sesungguhnya binatang (makhluk) yang seburuk-buruknya pada sisi Allah ialah orang-orang yang pekak dan tuli yang tidak mengerti apa pun.”
(QS. Al-Anfal: 22)


BERPIKIR dan bekerja merupakan kata yang patut kita sandingkan dalam membangun produktifitas kehidupan seorang muslim. Kerjasama kedua makna kata ini, bila kita laksanakan dengan benar akan melahirkan suatu kekuatan yang luar biasa. Bagi manusia yang mampu memaksimalkan kedua potensi ini, tentu predikat manusia produktif akan segera disandangnya.

Dalam al-Quran, banyak ayat yang memberi kita tuntunan agar bekerja secara produktif. Salah satunya, Allah menyatakan dalam QS. Yasin: 33-35, “Dan suatu tanda (kekuasaan Allah yang besar) bagi mereka adalah bumi yang mati. Kami hidupkan bumi itu dan Kami keluarkan daripadanya biji-bijian, maka daripadanya mereka makan. Dan Kami jadikan padanya kebun-kebun kurma dan anggur. Dan Kami pancarkan padanya beberapa mata air, supaya mereka dapat makan dari buahnya, dan dari apa yang diusahakan oleh tangan mereka. Maka mengapakah mereka tidak bersyukur?”

Makna dari ayat tersebut mengajarkan dan menuntut setiap manusia agar bersyukur kepada Allah SWT. dengan cara beriman atas nikmat yang telah dianugerahkan-Nya. Nikmat itu, antara lain berupa Allah telah memberi kesempatan kepada manusia untuk bekerja secara produktif dan sukses dalam hidupnya. Posisi kesempatan yang diberikan Allah ini bergantung pada pekerjaan yang dilakukan oleh manusia sendiri. Selain itu, kita harus menyandarkan diri terhadap segala yang telah diushakan tersebut kepada kehendak-Nya.

Dalam hal ini, untuk menciptakan kehidupan yang positif dan produktif, Muhammad al-Bahi mengungkapkan ada tiga unsur penting yang harus diperhatikan. Pertama, mendayagunakan potensi yang telah dianugerahkan Allah untuk bekerja, melaksanakan gagasan, dan memproduksi. Kedua, bertawakal kepada Allah, berlindung, dan meminta pertolongan kepada-Nya pada waktu melakukan pekerjaan. Ketiga, percaya kepada Allah bahwa Ia mampu menolak bahaya, kesombongan, dan kediktatoran yang memasuki lapangan pekerjaan.

Nikmat lain yang patut disyukuri manusia ialah berupa kehendak Allah menyediakan lingkungan agar manusia dapat hidup di dalamnya. Pada ayat: “Dan dari apa yang diusahakan oleh tangan mereka…” tersebut, telah mengajarkan bahwa menjadikan pekerjaan tangan sebagai pilar utama produksi (pertanian), bukan berarti seorang mukmin dibenarkan berlindung pada sikap fatalistik. Yakni sikap menunggu dan mengharapkan datangnya rezeki tanpa bekerja.

Memang Islam mengajak manusia untuk bertawakal kepada Allah, tetapi ia tidak mengakui sikap fatalistik itu. Apalagi untuk mendorongnya. Bertawakal kepada Allah, berarti mendayagunakan seluruh potensi untuk memikirkan cara-cara yang benar dan tepat dalam melakukan pekerjaan. Proses kerja ini dimulai dengan bertawakal dan bersandar kepada-Nya yang dipadukan dengan tujuan, perencanaan, program, dan pelaksanaan kerja.

* *

DALAM bekerja, kita dianjurkan untuk mengembangkan “sayap kerjasama” dengan setiap makhluk Allah, termasuk dengan alam sekalipun. Kerjasama dan solidaritas adalah naluri dasar yang selalu dimiliki makhluk Allah. Oleh karena itu, tidak ada makhluk satu pun yang dapat hidup menyendiri, sekalipun dalam koloninya sendiri.

Dalam kehidupan alam semesta, kita diajarkan agar melakukan kerjasama yang solid. Kehidupan semut, misalnya, selalu kerjasama dengan baik dalam menjalani hidup dan menghadapi bahaya. Bahkan setiap semut merupakan bagian dari suatu proses pemecahan masalah di antara mereka sendiri.

Waktu mencari makan, semut secara bersama-sama menyapu setiap makanan yang mereka temukan. Semua bisa berjalan dengan kecepatan sampai 20 km/jam dan dapat membunuh mangsanya sampai 20 ribu kali setiap hari. Ketika mereka kembali ke sarang, setiap semut pasti mengusung makanan untuk temannya (baca: semut perawat), yang bertugas khusus merawat jentik-jentik telur semut di sarangnya.

Semut merah, bahkan tak hanya bekerjasama dengan koloninya. Mereka selalu kerjasama dengan ulat bulu. Menurut Profesor Edward Wilson, semut-semut merah itu memanfaatkan liur ulat untuk lem bagi sarangnya. Selain itu, si ulat bulu juga mengeluarkan suara seperti musik yang sangat disukai para semut merah. Sebagai balasannya, semut merah akan memberi makan dengan jentik-jentik telurnya setiap hari, hingga ulat keluar dan tumbuh menjadi kepompong. Sungguh hal ini merupakan bukti kalau alam itu mengajarkan kepada kita tentang sebuah kerjasama yang sangat solid.

Jadi, masihkah kita akan menebar rasa permusuhan, saling curiga, dan perpecahan sesama anak bangsa dalam membangun sebuah tatanan produktifitas bangsa yang sedang tepuruk saat ini?

* *

MELALUI akal, manusia dapat berpikir. Dengan pikirnya itulah, seharusnya manusia mampu menciptakan semangat kerja. Sehingga tak berlebihan bila Muhammad Utsman Najati mengungkapkan, pekerjaan manusia meliputi aspek rasio dan fisik. Jika manusia tidak bekerja maka berarti ia hidup tanpa memenuhi tugasnya.

Keberadaan rasio itu sendiri, sudah seharusnya dimaksimalkan untuk berpikir. Melalui pemikiran itu, manusia akan membuat garis lurus dalam kehidupan yang berfungsi sebagai benteng terhadap godaan hawa nafsu. Abdul Hamid Mursi menyebutkan, hawa nafsu tidak dapat mengalahkan pikiran kecuali jika manusianya banyak bersantai. Bekerja merupakan tugas dalam hidup manusia, karenanya manusia tidak boleh melakukannya dengan terpaksa. Lagian, bukankah manusia akan merasakan kenikmatan bila mengerjakannya dengan penuh kesadaran?

Akhirnya, masihkah kita akan mengabaikan potensi pikir, kerja, dan produktifitas dalam hidup, yang telah Allah anugerahkan kepada setiap diri manusia ini? Yang pasti, Allah akan menjujung tinggi manusia yang berpikir dan merendahkan orang yang tidak menggunakan pikirnya pada tingkatan di bawah hewan. Allah berfirman, “Sesungguhnya binatang (makhluk) yang seburuk-buruknya pada sisi Allah ialah orang-orang yang pekak dan tuli yang tidak mengerti apa pun.” (QS. Al-Anfal: 22). Wallahu’alam.***

Penulis Pendiri Majelis Inspirasi Alquran dan Realitas Alam (MIQRA) Indonesia.

DAPATKAN ARTIKEL LAINYA TENTANG:
Menjadi Penulis Sukses, Mendapatkan Harta Karun, Menulis Buku, bisnis internet. Klik di bawah ini:
http://www.ardapenulissukses.com


Arda Dinata, adalah praktisi kesehatan, pengusaha inspirasi, pembicara, trainer, dan motivator di Majelis Inspirasi Alquran dan Realitas Alam (MIQRA) Indonesia.
E-mail: arda.dinata@gmail.com
Hp. 081.320.476048.
http://www.miqra.blogspot.com
Share on Facebook [BAGI ARTIKEL INI DI FACEBOOKMU]
Hikmah Puasa Sebagai Terapi Menuju Sehat
Lihat Detail

Hikmah Puasa Sebagai Terapi Menuju Sehat



Hikmah Puasa Sebagai Terapi Menuju Sehat

Oleh: Arda Dinata


AKTIVITAS
puasa ini, telah dilakukan sejak masa Nabi Adam as. Pada prinsipnya, hakekat puasa itu mencerminkan aktivitas pengekangan dan pengendalian diri. Pemaknaan puasa itu sendiri, dari segi bahasa Arab (Shaumu), berarti menahan segala sesuatu (seperti menahan makan dan minum, menahan ‘berbicara’, menahan tidur, dsb.).

Dalam konteks keindonesiaan, aktivitas puasa tentu tidak asing lagi. Sebagai bukti, kita kenal dalam masyarakat Jawa Kuno dengan beberapa istilah poso (baca: puasa). Yakni ada poso mutih, poso patigeni, poso ngrowot (mbrakah), dan poso ngalong. Itulah beberapa puasa yang dikenal pada masyarakat Jawa Kuno.

Bagi umat Islam, puasa adalah mengekang diri dari makan dan minum serta hal-hal lain yang membatalkannya mulai terbit fajar hingga matahari terbenam dengan niat dan beberapa syarat. Dan di dalam Alquran diungkapkan bahwa puasa adalah aktivitas ubudiyah agar orang-orang beriman mencapai derajat takwa (baca: QS. Al Baqarah: 183).

Aktivitas puasa dalam konteks Islam tersebut, mengajarkan beberapa hikmah yang patut kita aplikasikan setiap hari. Yakni berupa pengendalian hawa nafsu, menumbuhkan kepedulian sosial dan sebagai pelatihan kesabaran.

Lebih dari itu, ternyata aktivitas puasa secara fisik dapat menyehatkan anggota tubuh manusia yang melakukannya. Betulkah puasa itu menyehatkan? Padahal kita tahu bersama, secara fisik selama berpuasa tidak ada sesuatu makanan dan minuman yang masuk ke dalam tubuh manusia. Apa yang terjadi pada tubuh kita sebenarnya saat berpuasa itu? Di sinilah, rahasia Allah dan kebesaran ilmu Allah membuktikan kepada kita.

Aktivitas puasa berarti mengistirahatkan saluran pencernaan. Dalam skala makro, puasa akan berdampak pada sebuah sel-sel tubuh di mana reaksi-reaksi biokimiawi berlangsung. Menurut Prof. Dr. Aisjah Girindra, dikala alat pencernaan beristirahat, energi yang dibutuhkan diambil dari cadangan karbohidrat dan timbunan lemak. Yang mana dalam jiwa yang seimbang (baca: orang beriman), reaksi-reaksi biokimiawi berjalan lebih lancar, terarah, dan tidak membahayakan.

Zat gizi yang masuk dirubah menjadi molekul-molekul yang sangat kecil, kemudian diserap dan masuk ke dalam darah, diteruskan ke sel-sel yang membutuhkan. Bahan karbohidrat diserap dalam bentuk glukosa. Sedangkan lemak diserap dalam bentuk asam lemak.

Proses selanjutnya, glukosa dan lemak dibawa darah ke hati, otak, dan otot untuk membentuk energi. Melalui rantai reaksi yang sangat panjang dihasilkan energi CO2. Jika orang makan berlebihan maka kelebihan glukosa akan bergabung membentuk cadangan glikogen. Cadangan ini digunakan sewaktu orang berpuasa (tidak makan).

Selama berpuasa (+/- 14 jam) kebutuhan energi diambil dari cadangan glikogen dan lemak. Pada siang hari lemak terus menerus mengalami perombakan, sehingga alat-alat tubuh yang dilapisi lemak dapat bernafas dengan lega. Secara demikian, timbunan lemak yang berbahaya bagi kesehatan dapat digunakan dan tergeser.

Berikutnya, pada malam hari kita makan. Di sinilah terjadi lagi penyimpanan zat-zat energi. Seandainya perombakan dan penyimpanan ini terjadi sebulan penuh, tentunya akan terjadi proses penggantian yang terus menerus. Dan hasilnya pada tingkat sel akan terjadi peremajaan sel.

Untuk bagian otak, lain lagi. Kita tahu, otak terdiri dari jaringan lipid atau lemak. Dan lemak di otot berbeda dengan lemak di otak. Bila jaringan lemak di otak ini juga ikut terkuras, maka terjadi kerusakan pada jaringan otak. Namun, ilmu Allah SWT sungguh luar biasa. Energi untuk otak semuanya berasal dari zat gula. Selama berpuasa zat gula ini datang dari hati. Dan kalau zat cadangan zat gula di hati habis, maka hati mencoba mengolah zat-zat lain menjadi zat gula untuk otak.

Atas dasar itulah, mungkin yang menjadi alasan, mengapa kita disunahkan untuk cepat makan makanan yang manis-manis pada saat buka puasa. Inilah salah satu indikasi kesempurnaan puasa kita. Selengkapnya dalam bahasa DR.dr.H.Wahjoetomo, ada empat indikasi kesempurnaan puasa menurut Islam, yaitu: menyegerakan berbuka; tidak berlebihan dalam berbuka; mengakhirkan saat bersantap sahur; dan meninggalkan kata-kata yang tidak pantas diucapkan.

Secara demikian, aktivitas puasa yang sesuai dengan aturan Islam, sungguh benar-benar dapat menjadi terapi terbaik untuk mencapai derajat kesehatan tubuh seseorang yang melakukannya. Artinya, kategori derajat puasa seseorang sangat menentukan manfaatnya bagi orang itu sendiri. Sehingga tidak mustahil, jika ada puasa yang berakhir hanya pada rasa lapar dan haus semata, tanpa nilai tambah yang meningkatkan ruhiah dan jasmaniah. Lantas, bagaimana korelasi nilai tambah tersebut dengan derajat puasa seseorang?

Saat ini, aktivitas puasa telah diterima dan diakui sebagai bentuk terapi paling tua yang dikenal dalam sejarah peradaban manusia. Namun demikian, masih saja terdapat kesalahpahaman tentang puasa didalam pandangan masyarakat yang harus diluruskan. Yakni puasa bukanlah obat untuk penyakit dan kelainan. Tapi, puasa itu adalah untuk memberikan kesempatan dan keleluasaan bagi tubuh melakukan penyembuhan diri, perbaikan diri, dan peremajaan diri sebaik mungkin.

Kita tahu bahwa penyembuhan merupakan fungsi internal dari sistem biologis kita. Dalam hal ini, Paul C. Bragg, ND.,Ph.D., mengungkapkan kalau puasa itu menjadikan tubuh kita beristirahat secara psikologis dan menyebabkan tubuh kita efektif seratus persen dalam proses penyembuhan. Berpuasa dengan cara dan teknik yang tepat bisa jadi merupakan cara memulihkan kesehatan yang paling cepat dan paling aman, yang pernah dilakukan manusia.
Paul C.Bragg ini hampir selama hidupnya, meneliti puasa dari segi sains, telah mengawasi dan memeriksa ribuan orang yang berpuasa. Ia memperoleh hasil yang menakjubkan bahwa tubuh dapat bekerja sendiri dalam periode tanpa makanan sama sekali. Aktivitas puasa memberikan waktu istirahat dan pemulihan diri bagi sel-sel organ internal tubuh yang selama ini telah bekerja keras dan berlebihan.

Lebih dari itu, puasa ini dapat memicu kekuatan dan vitalitas di dalam tubuh untuk membersihkan endapan-endapan racun yang tersimpan dalam tubuh kita bertahun-tahun. Karena puasa mengembangkan tenaga vital kita kepada tingkat efesiensi yang paling tinggi, maka puasa juga dapat mendorong penghancuran tumpukan zat-zat kimia dan pencemar tubuh lainnya, yang tak bisa dibersihkan dari tubuh kita.

Jelasnya, dengan aktivitas puasa, kita mempertajam dan mengasah mental kita. Puasa meningkatkan organ pencernaan, organ pengasimilasian, dan organ penghancur makanan kita, yang kita ketahui sebagai laboratorium kimia dari tubuh manusia, dan termasuk yang banyak diforsir, maka selama puasa ia akan mendapatkan kesempatan untuk mengumpulkan tenaga dan memulihkan dirinya. Akhirnya, setelah aktivitas puasa menjadikan kerja hati kita akan jauh lebih efesien. Inilah jiwa yang suci sebagai pendorong prestatif seseorang.

Di sini, terlihat sungguh luar biasa rahasia ilmu Allah SWT dibalik aktivitas puasa ini. Untuk itu, tidak tanggung-tanggung puncak yang dijanjikan-Nya pun adalah mencapai derajat takwa bagi yang melakukan puasa secara benar sesuai aturan dalam Islam (baca: berpuasa seperti Rasulullah). Sedangkan secara biologis, berarti seluruh alat sensor yang dimiliki manusia akan mengalami peningkatan dan bekerja pada tingkat efesiensi yang lebih tinggi selama dan sesudah waktu berpuasa.

Jadi, tak ada satu pun proses terapi yang dapat memenuhi kebutuhan perbaikan akan kesehatan yang prima selain dengan aktivitas berpuasa –lebih-lebih puasa di bulan Ramadan yang diisi amalan-amalan prestatif--. Pantas saja, Rasulullah Saw bersabda, “Berpuasalah, niscaya kamu sehat.”

Akhirnya, semoga kita dapat mengisi dan menjalankan ibadah di bulan Ramadan ini dengan amalan-amalan yang prestatif agar dapat berfungsi sebagai lahan penyuci jiwa dan menuju kondisi kesehatan tubuh yang paripurna. Amin. Wallahu’alam.***

Penulis adalah pendiri Majelis Inspirasi Alquran & Realitas Alam [MIQRA] Indonesia, kini sedang belajar di Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Universitas Diponegoro (Undip) Semarang.




Anda ingin seperti mereka? Daftar GRATIS:
Caranya SMS dengan format sbb:

REG.NO HP ANDA. NAMA ANDA.-..-
Contoh: REG.081809616519.CANTIK JELITA.-.-
Lalu SMS ke: 081320476048


Hikmah Puasa Sebagai Terapi Menuju Sehat

Oleh: Arda Dinata


AKTIVITAS
puasa ini, telah dilakukan sejak masa Nabi Adam as. Pada prinsipnya, hakekat puasa itu mencerminkan aktivitas pengekangan dan pengendalian diri. Pemaknaan puasa itu sendiri, dari segi bahasa Arab (Shaumu), berarti menahan segala sesuatu (seperti menahan makan dan minum, menahan ‘berbicara’, menahan tidur, dsb.).

Dalam konteks keindonesiaan, aktivitas puasa tentu tidak asing lagi. Sebagai bukti, kita kenal dalam masyarakat Jawa Kuno dengan beberapa istilah poso (baca: puasa). Yakni ada poso mutih, poso patigeni, poso ngrowot (mbrakah), dan poso ngalong. Itulah beberapa puasa yang dikenal pada masyarakat Jawa Kuno.

Bagi umat Islam, puasa adalah mengekang diri dari makan dan minum serta hal-hal lain yang membatalkannya mulai terbit fajar hingga matahari terbenam dengan niat dan beberapa syarat. Dan di dalam Alquran diungkapkan bahwa puasa adalah aktivitas ubudiyah agar orang-orang beriman mencapai derajat takwa (baca: QS. Al Baqarah: 183).

Aktivitas puasa dalam konteks Islam tersebut, mengajarkan beberapa hikmah yang patut kita aplikasikan setiap hari. Yakni berupa pengendalian hawa nafsu, menumbuhkan kepedulian sosial dan sebagai pelatihan kesabaran.

Lebih dari itu, ternyata aktivitas puasa secara fisik dapat menyehatkan anggota tubuh manusia yang melakukannya. Betulkah puasa itu menyehatkan? Padahal kita tahu bersama, secara fisik selama berpuasa tidak ada sesuatu makanan dan minuman yang masuk ke dalam tubuh manusia. Apa yang terjadi pada tubuh kita sebenarnya saat berpuasa itu? Di sinilah, rahasia Allah dan kebesaran ilmu Allah membuktikan kepada kita.

Aktivitas puasa berarti mengistirahatkan saluran pencernaan. Dalam skala makro, puasa akan berdampak pada sebuah sel-sel tubuh di mana reaksi-reaksi biokimiawi berlangsung. Menurut Prof. Dr. Aisjah Girindra, dikala alat pencernaan beristirahat, energi yang dibutuhkan diambil dari cadangan karbohidrat dan timbunan lemak. Yang mana dalam jiwa yang seimbang (baca: orang beriman), reaksi-reaksi biokimiawi berjalan lebih lancar, terarah, dan tidak membahayakan.

Zat gizi yang masuk dirubah menjadi molekul-molekul yang sangat kecil, kemudian diserap dan masuk ke dalam darah, diteruskan ke sel-sel yang membutuhkan. Bahan karbohidrat diserap dalam bentuk glukosa. Sedangkan lemak diserap dalam bentuk asam lemak.

Proses selanjutnya, glukosa dan lemak dibawa darah ke hati, otak, dan otot untuk membentuk energi. Melalui rantai reaksi yang sangat panjang dihasilkan energi CO2. Jika orang makan berlebihan maka kelebihan glukosa akan bergabung membentuk cadangan glikogen. Cadangan ini digunakan sewaktu orang berpuasa (tidak makan).

Selama berpuasa (+/- 14 jam) kebutuhan energi diambil dari cadangan glikogen dan lemak. Pada siang hari lemak terus menerus mengalami perombakan, sehingga alat-alat tubuh yang dilapisi lemak dapat bernafas dengan lega. Secara demikian, timbunan lemak yang berbahaya bagi kesehatan dapat digunakan dan tergeser.

Berikutnya, pada malam hari kita makan. Di sinilah terjadi lagi penyimpanan zat-zat energi. Seandainya perombakan dan penyimpanan ini terjadi sebulan penuh, tentunya akan terjadi proses penggantian yang terus menerus. Dan hasilnya pada tingkat sel akan terjadi peremajaan sel.

Untuk bagian otak, lain lagi. Kita tahu, otak terdiri dari jaringan lipid atau lemak. Dan lemak di otot berbeda dengan lemak di otak. Bila jaringan lemak di otak ini juga ikut terkuras, maka terjadi kerusakan pada jaringan otak. Namun, ilmu Allah SWT sungguh luar biasa. Energi untuk otak semuanya berasal dari zat gula. Selama berpuasa zat gula ini datang dari hati. Dan kalau zat cadangan zat gula di hati habis, maka hati mencoba mengolah zat-zat lain menjadi zat gula untuk otak.

Atas dasar itulah, mungkin yang menjadi alasan, mengapa kita disunahkan untuk cepat makan makanan yang manis-manis pada saat buka puasa. Inilah salah satu indikasi kesempurnaan puasa kita. Selengkapnya dalam bahasa DR.dr.H.Wahjoetomo, ada empat indikasi kesempurnaan puasa menurut Islam, yaitu: menyegerakan berbuka; tidak berlebihan dalam berbuka; mengakhirkan saat bersantap sahur; dan meninggalkan kata-kata yang tidak pantas diucapkan.

Secara demikian, aktivitas puasa yang sesuai dengan aturan Islam, sungguh benar-benar dapat menjadi terapi terbaik untuk mencapai derajat kesehatan tubuh seseorang yang melakukannya. Artinya, kategori derajat puasa seseorang sangat menentukan manfaatnya bagi orang itu sendiri. Sehingga tidak mustahil, jika ada puasa yang berakhir hanya pada rasa lapar dan haus semata, tanpa nilai tambah yang meningkatkan ruhiah dan jasmaniah. Lantas, bagaimana korelasi nilai tambah tersebut dengan derajat puasa seseorang?

Saat ini, aktivitas puasa telah diterima dan diakui sebagai bentuk terapi paling tua yang dikenal dalam sejarah peradaban manusia. Namun demikian, masih saja terdapat kesalahpahaman tentang puasa didalam pandangan masyarakat yang harus diluruskan. Yakni puasa bukanlah obat untuk penyakit dan kelainan. Tapi, puasa itu adalah untuk memberikan kesempatan dan keleluasaan bagi tubuh melakukan penyembuhan diri, perbaikan diri, dan peremajaan diri sebaik mungkin.

Kita tahu bahwa penyembuhan merupakan fungsi internal dari sistem biologis kita. Dalam hal ini, Paul C. Bragg, ND.,Ph.D., mengungkapkan kalau puasa itu menjadikan tubuh kita beristirahat secara psikologis dan menyebabkan tubuh kita efektif seratus persen dalam proses penyembuhan. Berpuasa dengan cara dan teknik yang tepat bisa jadi merupakan cara memulihkan kesehatan yang paling cepat dan paling aman, yang pernah dilakukan manusia.
Paul C.Bragg ini hampir selama hidupnya, meneliti puasa dari segi sains, telah mengawasi dan memeriksa ribuan orang yang berpuasa. Ia memperoleh hasil yang menakjubkan bahwa tubuh dapat bekerja sendiri dalam periode tanpa makanan sama sekali. Aktivitas puasa memberikan waktu istirahat dan pemulihan diri bagi sel-sel organ internal tubuh yang selama ini telah bekerja keras dan berlebihan.

Lebih dari itu, puasa ini dapat memicu kekuatan dan vitalitas di dalam tubuh untuk membersihkan endapan-endapan racun yang tersimpan dalam tubuh kita bertahun-tahun. Karena puasa mengembangkan tenaga vital kita kepada tingkat efesiensi yang paling tinggi, maka puasa juga dapat mendorong penghancuran tumpukan zat-zat kimia dan pencemar tubuh lainnya, yang tak bisa dibersihkan dari tubuh kita.

Jelasnya, dengan aktivitas puasa, kita mempertajam dan mengasah mental kita. Puasa meningkatkan organ pencernaan, organ pengasimilasian, dan organ penghancur makanan kita, yang kita ketahui sebagai laboratorium kimia dari tubuh manusia, dan termasuk yang banyak diforsir, maka selama puasa ia akan mendapatkan kesempatan untuk mengumpulkan tenaga dan memulihkan dirinya. Akhirnya, setelah aktivitas puasa menjadikan kerja hati kita akan jauh lebih efesien. Inilah jiwa yang suci sebagai pendorong prestatif seseorang.

Di sini, terlihat sungguh luar biasa rahasia ilmu Allah SWT dibalik aktivitas puasa ini. Untuk itu, tidak tanggung-tanggung puncak yang dijanjikan-Nya pun adalah mencapai derajat takwa bagi yang melakukan puasa secara benar sesuai aturan dalam Islam (baca: berpuasa seperti Rasulullah). Sedangkan secara biologis, berarti seluruh alat sensor yang dimiliki manusia akan mengalami peningkatan dan bekerja pada tingkat efesiensi yang lebih tinggi selama dan sesudah waktu berpuasa.

Jadi, tak ada satu pun proses terapi yang dapat memenuhi kebutuhan perbaikan akan kesehatan yang prima selain dengan aktivitas berpuasa –lebih-lebih puasa di bulan Ramadan yang diisi amalan-amalan prestatif--. Pantas saja, Rasulullah Saw bersabda, “Berpuasalah, niscaya kamu sehat.”

Akhirnya, semoga kita dapat mengisi dan menjalankan ibadah di bulan Ramadan ini dengan amalan-amalan yang prestatif agar dapat berfungsi sebagai lahan penyuci jiwa dan menuju kondisi kesehatan tubuh yang paripurna. Amin. Wallahu’alam.***

Penulis adalah pendiri Majelis Inspirasi Alquran & Realitas Alam [MIQRA] Indonesia, kini sedang belajar di Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Universitas Diponegoro (Undip) Semarang.




Anda ingin seperti mereka? Daftar GRATIS:
Caranya SMS dengan format sbb:

REG.NO HP ANDA. NAMA ANDA.-..-
Contoh: REG.081809616519.CANTIK JELITA.-.-
Lalu SMS ke: 081320476048


Hikmah Puasa Sebagai Terapi Menuju Sehat

Oleh: Arda Dinata


AKTIVITAS
puasa ini, telah dilakukan sejak masa Nabi Adam as. Pada prinsipnya, hakekat puasa itu mencerminkan aktivitas pengekangan dan pengendalian diri. Pemaknaan puasa itu sendiri, dari segi bahasa Arab (Shaumu), berarti menahan segala sesuatu (seperti menahan makan dan minum, menahan ‘berbicara’, menahan tidur, dsb.).

Dalam konteks keindonesiaan, aktivitas puasa tentu tidak asing lagi. Sebagai bukti, kita kenal dalam masyarakat Jawa Kuno dengan beberapa istilah poso (baca: puasa). Yakni ada poso mutih, poso patigeni, poso ngrowot (mbrakah), dan poso ngalong. Itulah beberapa puasa yang dikenal pada masyarakat Jawa Kuno.

Bagi umat Islam, puasa adalah mengekang diri dari makan dan minum serta hal-hal lain yang membatalkannya mulai terbit fajar hingga matahari terbenam dengan niat dan beberapa syarat. Dan di dalam Alquran diungkapkan bahwa puasa adalah aktivitas ubudiyah agar orang-orang beriman mencapai derajat takwa (baca: QS. Al Baqarah: 183).

Aktivitas puasa dalam konteks Islam tersebut, mengajarkan beberapa hikmah yang patut kita aplikasikan setiap hari. Yakni berupa pengendalian hawa nafsu, menumbuhkan kepedulian sosial dan sebagai pelatihan kesabaran.

Lebih dari itu, ternyata aktivitas puasa secara fisik dapat menyehatkan anggota tubuh manusia yang melakukannya. Betulkah puasa itu menyehatkan? Padahal kita tahu bersama, secara fisik selama berpuasa tidak ada sesuatu makanan dan minuman yang masuk ke dalam tubuh manusia. Apa yang terjadi pada tubuh kita sebenarnya saat berpuasa itu? Di sinilah, rahasia Allah dan kebesaran ilmu Allah membuktikan kepada kita.

Aktivitas puasa berarti mengistirahatkan saluran pencernaan. Dalam skala makro, puasa akan berdampak pada sebuah sel-sel tubuh di mana reaksi-reaksi biokimiawi berlangsung. Menurut Prof. Dr. Aisjah Girindra, dikala alat pencernaan beristirahat, energi yang dibutuhkan diambil dari cadangan karbohidrat dan timbunan lemak. Yang mana dalam jiwa yang seimbang (baca: orang beriman), reaksi-reaksi biokimiawi berjalan lebih lancar, terarah, dan tidak membahayakan.

Zat gizi yang masuk dirubah menjadi molekul-molekul yang sangat kecil, kemudian diserap dan masuk ke dalam darah, diteruskan ke sel-sel yang membutuhkan. Bahan karbohidrat diserap dalam bentuk glukosa. Sedangkan lemak diserap dalam bentuk asam lemak.

Proses selanjutnya, glukosa dan lemak dibawa darah ke hati, otak, dan otot untuk membentuk energi. Melalui rantai reaksi yang sangat panjang dihasilkan energi CO2. Jika orang makan berlebihan maka kelebihan glukosa akan bergabung membentuk cadangan glikogen. Cadangan ini digunakan sewaktu orang berpuasa (tidak makan).

Selama berpuasa (+/- 14 jam) kebutuhan energi diambil dari cadangan glikogen dan lemak. Pada siang hari lemak terus menerus mengalami perombakan, sehingga alat-alat tubuh yang dilapisi lemak dapat bernafas dengan lega. Secara demikian, timbunan lemak yang berbahaya bagi kesehatan dapat digunakan dan tergeser.

Berikutnya, pada malam hari kita makan. Di sinilah terjadi lagi penyimpanan zat-zat energi. Seandainya perombakan dan penyimpanan ini terjadi sebulan penuh, tentunya akan terjadi proses penggantian yang terus menerus. Dan hasilnya pada tingkat sel akan terjadi peremajaan sel.

Untuk bagian otak, lain lagi. Kita tahu, otak terdiri dari jaringan lipid atau lemak. Dan lemak di otot berbeda dengan lemak di otak. Bila jaringan lemak di otak ini juga ikut terkuras, maka terjadi kerusakan pada jaringan otak. Namun, ilmu Allah SWT sungguh luar biasa. Energi untuk otak semuanya berasal dari zat gula. Selama berpuasa zat gula ini datang dari hati. Dan kalau zat cadangan zat gula di hati habis, maka hati mencoba mengolah zat-zat lain menjadi zat gula untuk otak.

Atas dasar itulah, mungkin yang menjadi alasan, mengapa kita disunahkan untuk cepat makan makanan yang manis-manis pada saat buka puasa. Inilah salah satu indikasi kesempurnaan puasa kita. Selengkapnya dalam bahasa DR.dr.H.Wahjoetomo, ada empat indikasi kesempurnaan puasa menurut Islam, yaitu: menyegerakan berbuka; tidak berlebihan dalam berbuka; mengakhirkan saat bersantap sahur; dan meninggalkan kata-kata yang tidak pantas diucapkan.

Secara demikian, aktivitas puasa yang sesuai dengan aturan Islam, sungguh benar-benar dapat menjadi terapi terbaik untuk mencapai derajat kesehatan tubuh seseorang yang melakukannya. Artinya, kategori derajat puasa seseorang sangat menentukan manfaatnya bagi orang itu sendiri. Sehingga tidak mustahil, jika ada puasa yang berakhir hanya pada rasa lapar dan haus semata, tanpa nilai tambah yang meningkatkan ruhiah dan jasmaniah. Lantas, bagaimana korelasi nilai tambah tersebut dengan derajat puasa seseorang?

Saat ini, aktivitas puasa telah diterima dan diakui sebagai bentuk terapi paling tua yang dikenal dalam sejarah peradaban manusia. Namun demikian, masih saja terdapat kesalahpahaman tentang puasa didalam pandangan masyarakat yang harus diluruskan. Yakni puasa bukanlah obat untuk penyakit dan kelainan. Tapi, puasa itu adalah untuk memberikan kesempatan dan keleluasaan bagi tubuh melakukan penyembuhan diri, perbaikan diri, dan peremajaan diri sebaik mungkin.

Kita tahu bahwa penyembuhan merupakan fungsi internal dari sistem biologis kita. Dalam hal ini, Paul C. Bragg, ND.,Ph.D., mengungkapkan kalau puasa itu menjadikan tubuh kita beristirahat secara psikologis dan menyebabkan tubuh kita efektif seratus persen dalam proses penyembuhan. Berpuasa dengan cara dan teknik yang tepat bisa jadi merupakan cara memulihkan kesehatan yang paling cepat dan paling aman, yang pernah dilakukan manusia.
Paul C.Bragg ini hampir selama hidupnya, meneliti puasa dari segi sains, telah mengawasi dan memeriksa ribuan orang yang berpuasa. Ia memperoleh hasil yang menakjubkan bahwa tubuh dapat bekerja sendiri dalam periode tanpa makanan sama sekali. Aktivitas puasa memberikan waktu istirahat dan pemulihan diri bagi sel-sel organ internal tubuh yang selama ini telah bekerja keras dan berlebihan.

Lebih dari itu, puasa ini dapat memicu kekuatan dan vitalitas di dalam tubuh untuk membersihkan endapan-endapan racun yang tersimpan dalam tubuh kita bertahun-tahun. Karena puasa mengembangkan tenaga vital kita kepada tingkat efesiensi yang paling tinggi, maka puasa juga dapat mendorong penghancuran tumpukan zat-zat kimia dan pencemar tubuh lainnya, yang tak bisa dibersihkan dari tubuh kita.

Jelasnya, dengan aktivitas puasa, kita mempertajam dan mengasah mental kita. Puasa meningkatkan organ pencernaan, organ pengasimilasian, dan organ penghancur makanan kita, yang kita ketahui sebagai laboratorium kimia dari tubuh manusia, dan termasuk yang banyak diforsir, maka selama puasa ia akan mendapatkan kesempatan untuk mengumpulkan tenaga dan memulihkan dirinya. Akhirnya, setelah aktivitas puasa menjadikan kerja hati kita akan jauh lebih efesien. Inilah jiwa yang suci sebagai pendorong prestatif seseorang.

Di sini, terlihat sungguh luar biasa rahasia ilmu Allah SWT dibalik aktivitas puasa ini. Untuk itu, tidak tanggung-tanggung puncak yang dijanjikan-Nya pun adalah mencapai derajat takwa bagi yang melakukan puasa secara benar sesuai aturan dalam Islam (baca: berpuasa seperti Rasulullah). Sedangkan secara biologis, berarti seluruh alat sensor yang dimiliki manusia akan mengalami peningkatan dan bekerja pada tingkat efesiensi yang lebih tinggi selama dan sesudah waktu berpuasa.

Jadi, tak ada satu pun proses terapi yang dapat memenuhi kebutuhan perbaikan akan kesehatan yang prima selain dengan aktivitas berpuasa –lebih-lebih puasa di bulan Ramadan yang diisi amalan-amalan prestatif--. Pantas saja, Rasulullah Saw bersabda, “Berpuasalah, niscaya kamu sehat.”

Akhirnya, semoga kita dapat mengisi dan menjalankan ibadah di bulan Ramadan ini dengan amalan-amalan yang prestatif agar dapat berfungsi sebagai lahan penyuci jiwa dan menuju kondisi kesehatan tubuh yang paripurna. Amin. Wallahu’alam.***

Penulis adalah pendiri Majelis Inspirasi Alquran & Realitas Alam [MIQRA] Indonesia, kini sedang belajar di Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Universitas Diponegoro (Undip) Semarang.




Anda ingin seperti mereka? Daftar GRATIS:
Caranya SMS dengan format sbb:

REG.NO HP ANDA. NAMA ANDA.-..-
Contoh: REG.081809616519.CANTIK JELITA.-.-
Lalu SMS ke: 081320476048


Hikmah Puasa Sebagai Terapi Menuju Sehat

Oleh: Arda Dinata


AKTIVITAS
puasa ini, telah dilakukan sejak masa Nabi Adam as. Pada prinsipnya, hakekat puasa itu mencerminkan aktivitas pengekangan dan pengendalian diri. Pemaknaan puasa itu sendiri, dari segi bahasa Arab (Shaumu), berarti menahan segala sesuatu (seperti menahan makan dan minum, menahan ‘berbicara’, menahan tidur, dsb.).

Dalam konteks keindonesiaan, aktivitas puasa tentu tidak asing lagi. Sebagai bukti, kita kenal dalam masyarakat Jawa Kuno dengan beberapa istilah poso (baca: puasa). Yakni ada poso mutih, poso patigeni, poso ngrowot (mbrakah), dan poso ngalong. Itulah beberapa puasa yang dikenal pada masyarakat Jawa Kuno.

Bagi umat Islam, puasa adalah mengekang diri dari makan dan minum serta hal-hal lain yang membatalkannya mulai terbit fajar hingga matahari terbenam dengan niat dan beberapa syarat. Dan di dalam Alquran diungkapkan bahwa puasa adalah aktivitas ubudiyah agar orang-orang beriman mencapai derajat takwa (baca: QS. Al Baqarah: 183).

Aktivitas puasa dalam konteks Islam tersebut, mengajarkan beberapa hikmah yang patut kita aplikasikan setiap hari. Yakni berupa pengendalian hawa nafsu, menumbuhkan kepedulian sosial dan sebagai pelatihan kesabaran.

Lebih dari itu, ternyata aktivitas puasa secara fisik dapat menyehatkan anggota tubuh manusia yang melakukannya. Betulkah puasa itu menyehatkan? Padahal kita tahu bersama, secara fisik selama berpuasa tidak ada sesuatu makanan dan minuman yang masuk ke dalam tubuh manusia. Apa yang terjadi pada tubuh kita sebenarnya saat berpuasa itu? Di sinilah, rahasia Allah dan kebesaran ilmu Allah membuktikan kepada kita.

Aktivitas puasa berarti mengistirahatkan saluran pencernaan. Dalam skala makro, puasa akan berdampak pada sebuah sel-sel tubuh di mana reaksi-reaksi biokimiawi berlangsung. Menurut Prof. Dr. Aisjah Girindra, dikala alat pencernaan beristirahat, energi yang dibutuhkan diambil dari cadangan karbohidrat dan timbunan lemak. Yang mana dalam jiwa yang seimbang (baca: orang beriman), reaksi-reaksi biokimiawi berjalan lebih lancar, terarah, dan tidak membahayakan.

Zat gizi yang masuk dirubah menjadi molekul-molekul yang sangat kecil, kemudian diserap dan masuk ke dalam darah, diteruskan ke sel-sel yang membutuhkan. Bahan karbohidrat diserap dalam bentuk glukosa. Sedangkan lemak diserap dalam bentuk asam lemak.

Proses selanjutnya, glukosa dan lemak dibawa darah ke hati, otak, dan otot untuk membentuk energi. Melalui rantai reaksi yang sangat panjang dihasilkan energi CO2. Jika orang makan berlebihan maka kelebihan glukosa akan bergabung membentuk cadangan glikogen. Cadangan ini digunakan sewaktu orang berpuasa (tidak makan).

Selama berpuasa (+/- 14 jam) kebutuhan energi diambil dari cadangan glikogen dan lemak. Pada siang hari lemak terus menerus mengalami perombakan, sehingga alat-alat tubuh yang dilapisi lemak dapat bernafas dengan lega. Secara demikian, timbunan lemak yang berbahaya bagi kesehatan dapat digunakan dan tergeser.

Berikutnya, pada malam hari kita makan. Di sinilah terjadi lagi penyimpanan zat-zat energi. Seandainya perombakan dan penyimpanan ini terjadi sebulan penuh, tentunya akan terjadi proses penggantian yang terus menerus. Dan hasilnya pada tingkat sel akan terjadi peremajaan sel.

Untuk bagian otak, lain lagi. Kita tahu, otak terdiri dari jaringan lipid atau lemak. Dan lemak di otot berbeda dengan lemak di otak. Bila jaringan lemak di otak ini juga ikut terkuras, maka terjadi kerusakan pada jaringan otak. Namun, ilmu Allah SWT sungguh luar biasa. Energi untuk otak semuanya berasal dari zat gula. Selama berpuasa zat gula ini datang dari hati. Dan kalau zat cadangan zat gula di hati habis, maka hati mencoba mengolah zat-zat lain menjadi zat gula untuk otak.

Atas dasar itulah, mungkin yang menjadi alasan, mengapa kita disunahkan untuk cepat makan makanan yang manis-manis pada saat buka puasa. Inilah salah satu indikasi kesempurnaan puasa kita. Selengkapnya dalam bahasa DR.dr.H.Wahjoetomo, ada empat indikasi kesempurnaan puasa menurut Islam, yaitu: menyegerakan berbuka; tidak berlebihan dalam berbuka; mengakhirkan saat bersantap sahur; dan meninggalkan kata-kata yang tidak pantas diucapkan.

Secara demikian, aktivitas puasa yang sesuai dengan aturan Islam, sungguh benar-benar dapat menjadi terapi terbaik untuk mencapai derajat kesehatan tubuh seseorang yang melakukannya. Artinya, kategori derajat puasa seseorang sangat menentukan manfaatnya bagi orang itu sendiri. Sehingga tidak mustahil, jika ada puasa yang berakhir hanya pada rasa lapar dan haus semata, tanpa nilai tambah yang meningkatkan ruhiah dan jasmaniah. Lantas, bagaimana korelasi nilai tambah tersebut dengan derajat puasa seseorang?

Saat ini, aktivitas puasa telah diterima dan diakui sebagai bentuk terapi paling tua yang dikenal dalam sejarah peradaban manusia. Namun demikian, masih saja terdapat kesalahpahaman tentang puasa didalam pandangan masyarakat yang harus diluruskan. Yakni puasa bukanlah obat untuk penyakit dan kelainan. Tapi, puasa itu adalah untuk memberikan kesempatan dan keleluasaan bagi tubuh melakukan penyembuhan diri, perbaikan diri, dan peremajaan diri sebaik mungkin.

Kita tahu bahwa penyembuhan merupakan fungsi internal dari sistem biologis kita. Dalam hal ini, Paul C. Bragg, ND.,Ph.D., mengungkapkan kalau puasa itu menjadikan tubuh kita beristirahat secara psikologis dan menyebabkan tubuh kita efektif seratus persen dalam proses penyembuhan. Berpuasa dengan cara dan teknik yang tepat bisa jadi merupakan cara memulihkan kesehatan yang paling cepat dan paling aman, yang pernah dilakukan manusia.
Paul C.Bragg ini hampir selama hidupnya, meneliti puasa dari segi sains, telah mengawasi dan memeriksa ribuan orang yang berpuasa. Ia memperoleh hasil yang menakjubkan bahwa tubuh dapat bekerja sendiri dalam periode tanpa makanan sama sekali. Aktivitas puasa memberikan waktu istirahat dan pemulihan diri bagi sel-sel organ internal tubuh yang selama ini telah bekerja keras dan berlebihan.

Lebih dari itu, puasa ini dapat memicu kekuatan dan vitalitas di dalam tubuh untuk membersihkan endapan-endapan racun yang tersimpan dalam tubuh kita bertahun-tahun. Karena puasa mengembangkan tenaga vital kita kepada tingkat efesiensi yang paling tinggi, maka puasa juga dapat mendorong penghancuran tumpukan zat-zat kimia dan pencemar tubuh lainnya, yang tak bisa dibersihkan dari tubuh kita.

Jelasnya, dengan aktivitas puasa, kita mempertajam dan mengasah mental kita. Puasa meningkatkan organ pencernaan, organ pengasimilasian, dan organ penghancur makanan kita, yang kita ketahui sebagai laboratorium kimia dari tubuh manusia, dan termasuk yang banyak diforsir, maka selama puasa ia akan mendapatkan kesempatan untuk mengumpulkan tenaga dan memulihkan dirinya. Akhirnya, setelah aktivitas puasa menjadikan kerja hati kita akan jauh lebih efesien. Inilah jiwa yang suci sebagai pendorong prestatif seseorang.

Di sini, terlihat sungguh luar biasa rahasia ilmu Allah SWT dibalik aktivitas puasa ini. Untuk itu, tidak tanggung-tanggung puncak yang dijanjikan-Nya pun adalah mencapai derajat takwa bagi yang melakukan puasa secara benar sesuai aturan dalam Islam (baca: berpuasa seperti Rasulullah). Sedangkan secara biologis, berarti seluruh alat sensor yang dimiliki manusia akan mengalami peningkatan dan bekerja pada tingkat efesiensi yang lebih tinggi selama dan sesudah waktu berpuasa.

Jadi, tak ada satu pun proses terapi yang dapat memenuhi kebutuhan perbaikan akan kesehatan yang prima selain dengan aktivitas berpuasa –lebih-lebih puasa di bulan Ramadan yang diisi amalan-amalan prestatif--. Pantas saja, Rasulullah Saw bersabda, “Berpuasalah, niscaya kamu sehat.”

Akhirnya, semoga kita dapat mengisi dan menjalankan ibadah di bulan Ramadan ini dengan amalan-amalan yang prestatif agar dapat berfungsi sebagai lahan penyuci jiwa dan menuju kondisi kesehatan tubuh yang paripurna. Amin. Wallahu’alam.***

Penulis adalah pendiri Majelis Inspirasi Alquran & Realitas Alam [MIQRA] Indonesia, kini sedang belajar di Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Universitas Diponegoro (Undip) Semarang.




Anda ingin seperti mereka? Daftar GRATIS:
Caranya SMS dengan format sbb:

REG.NO HP ANDA. NAMA ANDA.-..-
Contoh: REG.081809616519.CANTIK JELITA.-.-
Lalu SMS ke: 081320476048


Hikmah Puasa Sebagai Terapi Menuju Sehat

Oleh: Arda Dinata


AKTIVITAS
puasa ini, telah dilakukan sejak masa Nabi Adam as. Pada prinsipnya, hakekat puasa itu mencerminkan aktivitas pengekangan dan pengendalian diri. Pemaknaan puasa itu sendiri, dari segi bahasa Arab (Shaumu), berarti menahan segala sesuatu (seperti menahan makan dan minum, menahan ‘berbicara’, menahan tidur, dsb.).

Dalam konteks keindonesiaan, aktivitas puasa tentu tidak asing lagi. Sebagai bukti, kita kenal dalam masyarakat Jawa Kuno dengan beberapa istilah poso (baca: puasa). Yakni ada poso mutih, poso patigeni, poso ngrowot (mbrakah), dan poso ngalong. Itulah beberapa puasa yang dikenal pada masyarakat Jawa Kuno.

Bagi umat Islam, puasa adalah mengekang diri dari makan dan minum serta hal-hal lain yang membatalkannya mulai terbit fajar hingga matahari terbenam dengan niat dan beberapa syarat. Dan di dalam Alquran diungkapkan bahwa puasa adalah aktivitas ubudiyah agar orang-orang beriman mencapai derajat takwa (baca: QS. Al Baqarah: 183).

Aktivitas puasa dalam konteks Islam tersebut, mengajarkan beberapa hikmah yang patut kita aplikasikan setiap hari. Yakni berupa pengendalian hawa nafsu, menumbuhkan kepedulian sosial dan sebagai pelatihan kesabaran.

Lebih dari itu, ternyata aktivitas puasa secara fisik dapat menyehatkan anggota tubuh manusia yang melakukannya. Betulkah puasa itu menyehatkan? Padahal kita tahu bersama, secara fisik selama berpuasa tidak ada sesuatu makanan dan minuman yang masuk ke dalam tubuh manusia. Apa yang terjadi pada tubuh kita sebenarnya saat berpuasa itu? Di sinilah, rahasia Allah dan kebesaran ilmu Allah membuktikan kepada kita.

Aktivitas puasa berarti mengistirahatkan saluran pencernaan. Dalam skala makro, puasa akan berdampak pada sebuah sel-sel tubuh di mana reaksi-reaksi biokimiawi berlangsung. Menurut Prof. Dr. Aisjah Girindra, dikala alat pencernaan beristirahat, energi yang dibutuhkan diambil dari cadangan karbohidrat dan timbunan lemak. Yang mana dalam jiwa yang seimbang (baca: orang beriman), reaksi-reaksi biokimiawi berjalan lebih lancar, terarah, dan tidak membahayakan.

Zat gizi yang masuk dirubah menjadi molekul-molekul yang sangat kecil, kemudian diserap dan masuk ke dalam darah, diteruskan ke sel-sel yang membutuhkan. Bahan karbohidrat diserap dalam bentuk glukosa. Sedangkan lemak diserap dalam bentuk asam lemak.

Proses selanjutnya, glukosa dan lemak dibawa darah ke hati, otak, dan otot untuk membentuk energi. Melalui rantai reaksi yang sangat panjang dihasilkan energi CO2. Jika orang makan berlebihan maka kelebihan glukosa akan bergabung membentuk cadangan glikogen. Cadangan ini digunakan sewaktu orang berpuasa (tidak makan).

Selama berpuasa (+/- 14 jam) kebutuhan energi diambil dari cadangan glikogen dan lemak. Pada siang hari lemak terus menerus mengalami perombakan, sehingga alat-alat tubuh yang dilapisi lemak dapat bernafas dengan lega. Secara demikian, timbunan lemak yang berbahaya bagi kesehatan dapat digunakan dan tergeser.

Berikutnya, pada malam hari kita makan. Di sinilah terjadi lagi penyimpanan zat-zat energi. Seandainya perombakan dan penyimpanan ini terjadi sebulan penuh, tentunya akan terjadi proses penggantian yang terus menerus. Dan hasilnya pada tingkat sel akan terjadi peremajaan sel.

Untuk bagian otak, lain lagi. Kita tahu, otak terdiri dari jaringan lipid atau lemak. Dan lemak di otot berbeda dengan lemak di otak. Bila jaringan lemak di otak ini juga ikut terkuras, maka terjadi kerusakan pada jaringan otak. Namun, ilmu Allah SWT sungguh luar biasa. Energi untuk otak semuanya berasal dari zat gula. Selama berpuasa zat gula ini datang dari hati. Dan kalau zat cadangan zat gula di hati habis, maka hati mencoba mengolah zat-zat lain menjadi zat gula untuk otak.

Atas dasar itulah, mungkin yang menjadi alasan, mengapa kita disunahkan untuk cepat makan makanan yang manis-manis pada saat buka puasa. Inilah salah satu indikasi kesempurnaan puasa kita. Selengkapnya dalam bahasa DR.dr.H.Wahjoetomo, ada empat indikasi kesempurnaan puasa menurut Islam, yaitu: menyegerakan berbuka; tidak berlebihan dalam berbuka; mengakhirkan saat bersantap sahur; dan meninggalkan kata-kata yang tidak pantas diucapkan.

Secara demikian, aktivitas puasa yang sesuai dengan aturan Islam, sungguh benar-benar dapat menjadi terapi terbaik untuk mencapai derajat kesehatan tubuh seseorang yang melakukannya. Artinya, kategori derajat puasa seseorang sangat menentukan manfaatnya bagi orang itu sendiri. Sehingga tidak mustahil, jika ada puasa yang berakhir hanya pada rasa lapar dan haus semata, tanpa nilai tambah yang meningkatkan ruhiah dan jasmaniah. Lantas, bagaimana korelasi nilai tambah tersebut dengan derajat puasa seseorang?

Saat ini, aktivitas puasa telah diterima dan diakui sebagai bentuk terapi paling tua yang dikenal dalam sejarah peradaban manusia. Namun demikian, masih saja terdapat kesalahpahaman tentang puasa didalam pandangan masyarakat yang harus diluruskan. Yakni puasa bukanlah obat untuk penyakit dan kelainan. Tapi, puasa itu adalah untuk memberikan kesempatan dan keleluasaan bagi tubuh melakukan penyembuhan diri, perbaikan diri, dan peremajaan diri sebaik mungkin.

Kita tahu bahwa penyembuhan merupakan fungsi internal dari sistem biologis kita. Dalam hal ini, Paul C. Bragg, ND.,Ph.D., mengungkapkan kalau puasa itu menjadikan tubuh kita beristirahat secara psikologis dan menyebabkan tubuh kita efektif seratus persen dalam proses penyembuhan. Berpuasa dengan cara dan teknik yang tepat bisa jadi merupakan cara memulihkan kesehatan yang paling cepat dan paling aman, yang pernah dilakukan manusia.
Paul C.Bragg ini hampir selama hidupnya, meneliti puasa dari segi sains, telah mengawasi dan memeriksa ribuan orang yang berpuasa. Ia memperoleh hasil yang menakjubkan bahwa tubuh dapat bekerja sendiri dalam periode tanpa makanan sama sekali. Aktivitas puasa memberikan waktu istirahat dan pemulihan diri bagi sel-sel organ internal tubuh yang selama ini telah bekerja keras dan berlebihan.

Lebih dari itu, puasa ini dapat memicu kekuatan dan vitalitas di dalam tubuh untuk membersihkan endapan-endapan racun yang tersimpan dalam tubuh kita bertahun-tahun. Karena puasa mengembangkan tenaga vital kita kepada tingkat efesiensi yang paling tinggi, maka puasa juga dapat mendorong penghancuran tumpukan zat-zat kimia dan pencemar tubuh lainnya, yang tak bisa dibersihkan dari tubuh kita.

Jelasnya, dengan aktivitas puasa, kita mempertajam dan mengasah mental kita. Puasa meningkatkan organ pencernaan, organ pengasimilasian, dan organ penghancur makanan kita, yang kita ketahui sebagai laboratorium kimia dari tubuh manusia, dan termasuk yang banyak diforsir, maka selama puasa ia akan mendapatkan kesempatan untuk mengumpulkan tenaga dan memulihkan dirinya. Akhirnya, setelah aktivitas puasa menjadikan kerja hati kita akan jauh lebih efesien. Inilah jiwa yang suci sebagai pendorong prestatif seseorang.

Di sini, terlihat sungguh luar biasa rahasia ilmu Allah SWT dibalik aktivitas puasa ini. Untuk itu, tidak tanggung-tanggung puncak yang dijanjikan-Nya pun adalah mencapai derajat takwa bagi yang melakukan puasa secara benar sesuai aturan dalam Islam (baca: berpuasa seperti Rasulullah). Sedangkan secara biologis, berarti seluruh alat sensor yang dimiliki manusia akan mengalami peningkatan dan bekerja pada tingkat efesiensi yang lebih tinggi selama dan sesudah waktu berpuasa.

Jadi, tak ada satu pun proses terapi yang dapat memenuhi kebutuhan perbaikan akan kesehatan yang prima selain dengan aktivitas berpuasa –lebih-lebih puasa di bulan Ramadan yang diisi amalan-amalan prestatif--. Pantas saja, Rasulullah Saw bersabda, “Berpuasalah, niscaya kamu sehat.”

Akhirnya, semoga kita dapat mengisi dan menjalankan ibadah di bulan Ramadan ini dengan amalan-amalan yang prestatif agar dapat berfungsi sebagai lahan penyuci jiwa dan menuju kondisi kesehatan tubuh yang paripurna. Amin. Wallahu’alam.***

Penulis adalah pendiri Majelis Inspirasi Alquran & Realitas Alam [MIQRA] Indonesia, kini sedang belajar di Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Universitas Diponegoro (Undip) Semarang.




Anda ingin seperti mereka? Daftar GRATIS:
Caranya SMS dengan format sbb:

REG.NO HP ANDA. NAMA ANDA.-..-
Contoh: REG.081809616519.CANTIK JELITA.-.-
Lalu SMS ke: 081320476048


Hikmah Puasa Sebagai Terapi Menuju Sehat

Oleh: Arda Dinata


AKTIVITAS
puasa ini, telah dilakukan sejak masa Nabi Adam as. Pada prinsipnya, hakekat puasa itu mencerminkan aktivitas pengekangan dan pengendalian diri. Pemaknaan puasa itu sendiri, dari segi bahasa Arab (Shaumu), berarti menahan segala sesuatu (seperti menahan makan dan minum, menahan ‘berbicara’, menahan tidur, dsb.).

Dalam konteks keindonesiaan, aktivitas puasa tentu tidak asing lagi. Sebagai bukti, kita kenal dalam masyarakat Jawa Kuno dengan beberapa istilah poso (baca: puasa). Yakni ada poso mutih, poso patigeni, poso ngrowot (mbrakah), dan poso ngalong. Itulah beberapa puasa yang dikenal pada masyarakat Jawa Kuno.

Bagi umat Islam, puasa adalah mengekang diri dari makan dan minum serta hal-hal lain yang membatalkannya mulai terbit fajar hingga matahari terbenam dengan niat dan beberapa syarat. Dan di dalam Alquran diungkapkan bahwa puasa adalah aktivitas ubudiyah agar orang-orang beriman mencapai derajat takwa (baca: QS. Al Baqarah: 183).

Aktivitas puasa dalam konteks Islam tersebut, mengajarkan beberapa hikmah yang patut kita aplikasikan setiap hari. Yakni berupa pengendalian hawa nafsu, menumbuhkan kepedulian sosial dan sebagai pelatihan kesabaran.

Lebih dari itu, ternyata aktivitas puasa secara fisik dapat menyehatkan anggota tubuh manusia yang melakukannya. Betulkah puasa itu menyehatkan? Padahal kita tahu bersama, secara fisik selama berpuasa tidak ada sesuatu makanan dan minuman yang masuk ke dalam tubuh manusia. Apa yang terjadi pada tubuh kita sebenarnya saat berpuasa itu? Di sinilah, rahasia Allah dan kebesaran ilmu Allah membuktikan kepada kita.

Aktivitas puasa berarti mengistirahatkan saluran pencernaan. Dalam skala makro, puasa akan berdampak pada sebuah sel-sel tubuh di mana reaksi-reaksi biokimiawi berlangsung. Menurut Prof. Dr. Aisjah Girindra, dikala alat pencernaan beristirahat, energi yang dibutuhkan diambil dari cadangan karbohidrat dan timbunan lemak. Yang mana dalam jiwa yang seimbang (baca: orang beriman), reaksi-reaksi biokimiawi berjalan lebih lancar, terarah, dan tidak membahayakan.

Zat gizi yang masuk dirubah menjadi molekul-molekul yang sangat kecil, kemudian diserap dan masuk ke dalam darah, diteruskan ke sel-sel yang membutuhkan. Bahan karbohidrat diserap dalam bentuk glukosa. Sedangkan lemak diserap dalam bentuk asam lemak.

Proses selanjutnya, glukosa dan lemak dibawa darah ke hati, otak, dan otot untuk membentuk energi. Melalui rantai reaksi yang sangat panjang dihasilkan energi CO2. Jika orang makan berlebihan maka kelebihan glukosa akan bergabung membentuk cadangan glikogen. Cadangan ini digunakan sewaktu orang berpuasa (tidak makan).

Selama berpuasa (+/- 14 jam) kebutuhan energi diambil dari cadangan glikogen dan lemak. Pada siang hari lemak terus menerus mengalami perombakan, sehingga alat-alat tubuh yang dilapisi lemak dapat bernafas dengan lega. Secara demikian, timbunan lemak yang berbahaya bagi kesehatan dapat digunakan dan tergeser.

Berikutnya, pada malam hari kita makan. Di sinilah terjadi lagi penyimpanan zat-zat energi. Seandainya perombakan dan penyimpanan ini terjadi sebulan penuh, tentunya akan terjadi proses penggantian yang terus menerus. Dan hasilnya pada tingkat sel akan terjadi peremajaan sel.

Untuk bagian otak, lain lagi. Kita tahu, otak terdiri dari jaringan lipid atau lemak. Dan lemak di otot berbeda dengan lemak di otak. Bila jaringan lemak di otak ini juga ikut terkuras, maka terjadi kerusakan pada jaringan otak. Namun, ilmu Allah SWT sungguh luar biasa. Energi untuk otak semuanya berasal dari zat gula. Selama berpuasa zat gula ini datang dari hati. Dan kalau zat cadangan zat gula di hati habis, maka hati mencoba mengolah zat-zat lain menjadi zat gula untuk otak.

Atas dasar itulah, mungkin yang menjadi alasan, mengapa kita disunahkan untuk cepat makan makanan yang manis-manis pada saat buka puasa. Inilah salah satu indikasi kesempurnaan puasa kita. Selengkapnya dalam bahasa DR.dr.H.Wahjoetomo, ada empat indikasi kesempurnaan puasa menurut Islam, yaitu: menyegerakan berbuka; tidak berlebihan dalam berbuka; mengakhirkan saat bersantap sahur; dan meninggalkan kata-kata yang tidak pantas diucapkan.

Secara demikian, aktivitas puasa yang sesuai dengan aturan Islam, sungguh benar-benar dapat menjadi terapi terbaik untuk mencapai derajat kesehatan tubuh seseorang yang melakukannya. Artinya, kategori derajat puasa seseorang sangat menentukan manfaatnya bagi orang itu sendiri. Sehingga tidak mustahil, jika ada puasa yang berakhir hanya pada rasa lapar dan haus semata, tanpa nilai tambah yang meningkatkan ruhiah dan jasmaniah. Lantas, bagaimana korelasi nilai tambah tersebut dengan derajat puasa seseorang?

Saat ini, aktivitas puasa telah diterima dan diakui sebagai bentuk terapi paling tua yang dikenal dalam sejarah peradaban manusia. Namun demikian, masih saja terdapat kesalahpahaman tentang puasa didalam pandangan masyarakat yang harus diluruskan. Yakni puasa bukanlah obat untuk penyakit dan kelainan. Tapi, puasa itu adalah untuk memberikan kesempatan dan keleluasaan bagi tubuh melakukan penyembuhan diri, perbaikan diri, dan peremajaan diri sebaik mungkin.

Kita tahu bahwa penyembuhan merupakan fungsi internal dari sistem biologis kita. Dalam hal ini, Paul C. Bragg, ND.,Ph.D., mengungkapkan kalau puasa itu menjadikan tubuh kita beristirahat secara psikologis dan menyebabkan tubuh kita efektif seratus persen dalam proses penyembuhan. Berpuasa dengan cara dan teknik yang tepat bisa jadi merupakan cara memulihkan kesehatan yang paling cepat dan paling aman, yang pernah dilakukan manusia.
Paul C.Bragg ini hampir selama hidupnya, meneliti puasa dari segi sains, telah mengawasi dan memeriksa ribuan orang yang berpuasa. Ia memperoleh hasil yang menakjubkan bahwa tubuh dapat bekerja sendiri dalam periode tanpa makanan sama sekali. Aktivitas puasa memberikan waktu istirahat dan pemulihan diri bagi sel-sel organ internal tubuh yang selama ini telah bekerja keras dan berlebihan.

Lebih dari itu, puasa ini dapat memicu kekuatan dan vitalitas di dalam tubuh untuk membersihkan endapan-endapan racun yang tersimpan dalam tubuh kita bertahun-tahun. Karena puasa mengembangkan tenaga vital kita kepada tingkat efesiensi yang paling tinggi, maka puasa juga dapat mendorong penghancuran tumpukan zat-zat kimia dan pencemar tubuh lainnya, yang tak bisa dibersihkan dari tubuh kita.

Jelasnya, dengan aktivitas puasa, kita mempertajam dan mengasah mental kita. Puasa meningkatkan organ pencernaan, organ pengasimilasian, dan organ penghancur makanan kita, yang kita ketahui sebagai laboratorium kimia dari tubuh manusia, dan termasuk yang banyak diforsir, maka selama puasa ia akan mendapatkan kesempatan untuk mengumpulkan tenaga dan memulihkan dirinya. Akhirnya, setelah aktivitas puasa menjadikan kerja hati kita akan jauh lebih efesien. Inilah jiwa yang suci sebagai pendorong prestatif seseorang.

Di sini, terlihat sungguh luar biasa rahasia ilmu Allah SWT dibalik aktivitas puasa ini. Untuk itu, tidak tanggung-tanggung puncak yang dijanjikan-Nya pun adalah mencapai derajat takwa bagi yang melakukan puasa secara benar sesuai aturan dalam Islam (baca: berpuasa seperti Rasulullah). Sedangkan secara biologis, berarti seluruh alat sensor yang dimiliki manusia akan mengalami peningkatan dan bekerja pada tingkat efesiensi yang lebih tinggi selama dan sesudah waktu berpuasa.

Jadi, tak ada satu pun proses terapi yang dapat memenuhi kebutuhan perbaikan akan kesehatan yang prima selain dengan aktivitas berpuasa –lebih-lebih puasa di bulan Ramadan yang diisi amalan-amalan prestatif--. Pantas saja, Rasulullah Saw bersabda, “Berpuasalah, niscaya kamu sehat.”

Akhirnya, semoga kita dapat mengisi dan menjalankan ibadah di bulan Ramadan ini dengan amalan-amalan yang prestatif agar dapat berfungsi sebagai lahan penyuci jiwa dan menuju kondisi kesehatan tubuh yang paripurna. Amin. Wallahu’alam.***

Penulis adalah pendiri Majelis Inspirasi Alquran & Realitas Alam [MIQRA] Indonesia, kini sedang belajar di Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Universitas Diponegoro (Undip) Semarang.




Anda ingin seperti mereka? Daftar GRATIS:
Caranya SMS dengan format sbb:

REG.NO HP ANDA. NAMA ANDA.-..-
Contoh: REG.081809616519.CANTIK JELITA.-.-
Lalu SMS ke: 081320476048
DBD dan Pemberdayaan Masyarakat
Lihat Detail

DBD dan Pemberdayaan Masyarakat



DBD dan Pemberdayaan Masyarakat



oleh Arda Dinata



Demam berdarah dengue (DBD) di Indonesia masih menjadi masalah kesehatan masyarakat. Departemen Kesehatan telah menetapkan 5 kegiatan pokok sebagai kebijakan dalam pengendalian penyakit DBD yaitu menemukan kasus secepatnya dan mengobati sesuai protap, memutuskan mata rantai penularan dengan pemberantasan vektor (nyamuk dewasa dan jentik-jentiknya), kemitraan dalam wadah Pokjanal DBD (kelompok kerja operasional DBD), pemberdayaan masyarakat dalam gerakan pemberantasan sarang nyamuk (PSN 3M Plus) dan peningkatan profesionalisme pelaksana program.



Berbagai upaya telah dilakukan untuk menanggulangi terjadi-nya peningkatan kasus, salah satunya dan yang paling utama adalah dengan memberdayakan masyarakat dalam kegiatan pemberantas-an sarang nyamuk (PSN) melalui gerakan 3M (menguras-menutup-mengubur). Kegiatan ini telah diintensifkan sejak 1992 dan pada 2000 dikembangkan menjadi 3M Plus yaitu dengan cara menggunakan larvasida, memelihara ikan dan mencegah gigitan nyamuk.



Selama ini berbagai upaya untuk memberdayakan masyarakat dalam PSN-DBD sudah banyak dilakukan, tetapi hasilnya belum optimal dapat merubah perilaku masyarakat untuk secara terus menerus melakukan PSN-DBD di lingkungan masing-masing.



Untuk mengoptimalkan pemberdayaan masyarakat dalam PSN DBD, pada tahun 2004 WHO memperkenalkan suatu pendekatan baru yaitu Komunikasi Perubahan Perilaku/KPP (Communications for Behavioral Impact/COMBI), tapi beberapa negara di Asean (Malaysia, Laos, Vietnam), Amerika Latin (Nikaragua, Brazil, Cuba) telah menerapkan pendekatan ini dengan hasil yang baik. Di Indonesia sendiri sudah diterapkan daerah uji coba yaitu di Jakarta Timur dan memberikan hasil yang baik.



Pendekatan tersebut lebih menekankan pada kekompakkan kerja tim (sebagai tim kerja dinamis). Perumusan dan penyampaian pesan, materi dan media komunikasi direncanakan berdasarkan masalah yang ditemukan oleh masyarakat dengan cara pemecahan masalah yang disetujui bersama. Akhhirnya, dengan pendekatan KPP/COMBI diharapkan perubahan perilaku masyarakat ke arah pemberdayaan PSN dapat tercapai secara optimal. [Arda D].***



Anda tertarik Majalah Inside (Versi PDF) tersebut, silahkan kirim Rp. 25 Ribu saja ke Bank BNI No. Rekening: 0118657077 atas nama Arda Dinata, lalu sms ke no. 081320476048.



Daftar Isi Majalah Inside Vol.III. No.02/Desember 2008:

SUDUT REDAKSI …….. 2

DAFTAR ISI …… 3

CAKRAWALA …… 4

EDITORIAL:

DBD dan Pemberdayaan Masyarakat ...… 5

FOKUS UTAMA:

Pemberdayaan DBD ...… 6

Manajemen Lingkungan Dalam Penanggulangan DBD ….. 8

Strategi Penanggulangan DBD …. 13

Strategi Utama Pemberdayaan Atasi DBD ….. 16

Mengenal Diagnosa Serologis Virus Dengue .. 18

Wolbachia: Alternatif Pengendali Vektor Dengue .. 20

Model Kepercayaan Kesehatan .. 23

LAPORAN DAERAH:

Penanggulangan DBD di Priangan …… 24

HASIL PENELITIAN:

Pemberdayaan Kelompok Ibu Rumah Tangga Dalam Penanggulangan Demam Berdarah Dengue (DBD) Melalui Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) di Kelurahan Adiarsa Barat Kab. Karawang ..... 28

SPIRIT LOKA:

Menuju Puncak Kesuksesan …..50

Cara Mengirimkan Artikel ke Media Massa ….. 54

ALTERNATIF:

Ekstrak Kulit Jengkol Atasi Jentik DBD …. 59

PENDIDIKAN:

Imunositokimia: Teknik Pendeteksi Virus Dengue …. 67

Berkenalan Dengan Nyamuk …. 71

Perubahan Perilaku Bukti Keberhasilan Pemberdayaan Masyarakat …. 73

DUNIA PUSTAKA:

6 Trik Menjadi Penulis Artikel …. 76

TAFAKUR:

Penentuan Jenis Kelamin Nyamuk ….. 78



Anda tertarik Majalah Inside (Versi PDF) tersebut, silahkan kirim Rp. 25 Ribu saja ke Bank BNI No. Rekening: 0118657077 atas nama Arda Dinata, lalu sms ke no. 081320476048.





Anda ingin seperti mereka? Daftar GRATIS:

Caranya SMS dengan format sbb:


REG.NO HP ANDA. NAMA ANDA.-..-

Contoh: REG.081809616519.CANTIK JELITA.-.-

Lalu SMS ke: 081320476048



DBD dan Pemberdayaan Masyarakat



oleh Arda Dinata



Demam berdarah dengue (DBD) di Indonesia masih menjadi masalah kesehatan masyarakat. Departemen Kesehatan telah menetapkan 5 kegiatan pokok sebagai kebijakan dalam pengendalian penyakit DBD yaitu menemukan kasus secepatnya dan mengobati sesuai protap, memutuskan mata rantai penularan dengan pemberantasan vektor (nyamuk dewasa dan jentik-jentiknya), kemitraan dalam wadah Pokjanal DBD (kelompok kerja operasional DBD), pemberdayaan masyarakat dalam gerakan pemberantasan sarang nyamuk (PSN 3M Plus) dan peningkatan profesionalisme pelaksana program.



Berbagai upaya telah dilakukan untuk menanggulangi terjadi-nya peningkatan kasus, salah satunya dan yang paling utama adalah dengan memberdayakan masyarakat dalam kegiatan pemberantas-an sarang nyamuk (PSN) melalui gerakan 3M (menguras-menutup-mengubur). Kegiatan ini telah diintensifkan sejak 1992 dan pada 2000 dikembangkan menjadi 3M Plus yaitu dengan cara menggunakan larvasida, memelihara ikan dan mencegah gigitan nyamuk.



Selama ini berbagai upaya untuk memberdayakan masyarakat dalam PSN-DBD sudah banyak dilakukan, tetapi hasilnya belum optimal dapat merubah perilaku masyarakat untuk secara terus menerus melakukan PSN-DBD di lingkungan masing-masing.



Untuk mengoptimalkan pemberdayaan masyarakat dalam PSN DBD, pada tahun 2004 WHO memperkenalkan suatu pendekatan baru yaitu Komunikasi Perubahan Perilaku/KPP (Communications for Behavioral Impact/COMBI), tapi beberapa negara di Asean (Malaysia, Laos, Vietnam), Amerika Latin (Nikaragua, Brazil, Cuba) telah menerapkan pendekatan ini dengan hasil yang baik. Di Indonesia sendiri sudah diterapkan daerah uji coba yaitu di Jakarta Timur dan memberikan hasil yang baik.



Pendekatan tersebut lebih menekankan pada kekompakkan kerja tim (sebagai tim kerja dinamis). Perumusan dan penyampaian pesan, materi dan media komunikasi direncanakan berdasarkan masalah yang ditemukan oleh masyarakat dengan cara pemecahan masalah yang disetujui bersama. Akhhirnya, dengan pendekatan KPP/COMBI diharapkan perubahan perilaku masyarakat ke arah pemberdayaan PSN dapat tercapai secara optimal. [Arda D].***



Anda tertarik Majalah Inside (Versi PDF) tersebut, silahkan kirim Rp. 25 Ribu saja ke Bank BNI No. Rekening: 0118657077 atas nama Arda Dinata, lalu sms ke no. 081320476048.



Daftar Isi Majalah Inside Vol.III. No.02/Desember 2008:

SUDUT REDAKSI …….. 2

DAFTAR ISI …… 3

CAKRAWALA …… 4

EDITORIAL:

DBD dan Pemberdayaan Masyarakat ...… 5

FOKUS UTAMA:

Pemberdayaan DBD ...… 6

Manajemen Lingkungan Dalam Penanggulangan DBD ….. 8

Strategi Penanggulangan DBD …. 13

Strategi Utama Pemberdayaan Atasi DBD ….. 16

Mengenal Diagnosa Serologis Virus Dengue .. 18

Wolbachia: Alternatif Pengendali Vektor Dengue .. 20

Model Kepercayaan Kesehatan .. 23

LAPORAN DAERAH:

Penanggulangan DBD di Priangan …… 24

HASIL PENELITIAN:

Pemberdayaan Kelompok Ibu Rumah Tangga Dalam Penanggulangan Demam Berdarah Dengue (DBD) Melalui Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) di Kelurahan Adiarsa Barat Kab. Karawang ..... 28

SPIRIT LOKA:

Menuju Puncak Kesuksesan …..50

Cara Mengirimkan Artikel ke Media Massa ….. 54

ALTERNATIF:

Ekstrak Kulit Jengkol Atasi Jentik DBD …. 59

PENDIDIKAN:

Imunositokimia: Teknik Pendeteksi Virus Dengue …. 67

Berkenalan Dengan Nyamuk …. 71

Perubahan Perilaku Bukti Keberhasilan Pemberdayaan Masyarakat …. 73

DUNIA PUSTAKA:

6 Trik Menjadi Penulis Artikel …. 76

TAFAKUR:

Penentuan Jenis Kelamin Nyamuk ….. 78



Anda tertarik Majalah Inside (Versi PDF) tersebut, silahkan kirim Rp. 25 Ribu saja ke Bank BNI No. Rekening: 0118657077 atas nama Arda Dinata, lalu sms ke no. 081320476048.





Anda ingin seperti mereka? Daftar GRATIS:

Caranya SMS dengan format sbb:


REG.NO HP ANDA. NAMA ANDA.-..-

Contoh: REG.081809616519.CANTIK JELITA.-.-

Lalu SMS ke: 081320476048



DBD dan Pemberdayaan Masyarakat



oleh Arda Dinata



Demam berdarah dengue (DBD) di Indonesia masih menjadi masalah kesehatan masyarakat. Departemen Kesehatan telah menetapkan 5 kegiatan pokok sebagai kebijakan dalam pengendalian penyakit DBD yaitu menemukan kasus secepatnya dan mengobati sesuai protap, memutuskan mata rantai penularan dengan pemberantasan vektor (nyamuk dewasa dan jentik-jentiknya), kemitraan dalam wadah Pokjanal DBD (kelompok kerja operasional DBD), pemberdayaan masyarakat dalam gerakan pemberantasan sarang nyamuk (PSN 3M Plus) dan peningkatan profesionalisme pelaksana program.



Berbagai upaya telah dilakukan untuk menanggulangi terjadi-nya peningkatan kasus, salah satunya dan yang paling utama adalah dengan memberdayakan masyarakat dalam kegiatan pemberantas-an sarang nyamuk (PSN) melalui gerakan 3M (menguras-menutup-mengubur). Kegiatan ini telah diintensifkan sejak 1992 dan pada 2000 dikembangkan menjadi 3M Plus yaitu dengan cara menggunakan larvasida, memelihara ikan dan mencegah gigitan nyamuk.



Selama ini berbagai upaya untuk memberdayakan masyarakat dalam PSN-DBD sudah banyak dilakukan, tetapi hasilnya belum optimal dapat merubah perilaku masyarakat untuk secara terus menerus melakukan PSN-DBD di lingkungan masing-masing.



Untuk mengoptimalkan pemberdayaan masyarakat dalam PSN DBD, pada tahun 2004 WHO memperkenalkan suatu pendekatan baru yaitu Komunikasi Perubahan Perilaku/KPP (Communications for Behavioral Impact/COMBI), tapi beberapa negara di Asean (Malaysia, Laos, Vietnam), Amerika Latin (Nikaragua, Brazil, Cuba) telah menerapkan pendekatan ini dengan hasil yang baik. Di Indonesia sendiri sudah diterapkan daerah uji coba yaitu di Jakarta Timur dan memberikan hasil yang baik.



Pendekatan tersebut lebih menekankan pada kekompakkan kerja tim (sebagai tim kerja dinamis). Perumusan dan penyampaian pesan, materi dan media komunikasi direncanakan berdasarkan masalah yang ditemukan oleh masyarakat dengan cara pemecahan masalah yang disetujui bersama. Akhhirnya, dengan pendekatan KPP/COMBI diharapkan perubahan perilaku masyarakat ke arah pemberdayaan PSN dapat tercapai secara optimal. [Arda D].***



Anda tertarik Majalah Inside (Versi PDF) tersebut, silahkan kirim Rp. 25 Ribu saja ke Bank BNI No. Rekening: 0118657077 atas nama Arda Dinata, lalu sms ke no. 081320476048.



Daftar Isi Majalah Inside Vol.III. No.02/Desember 2008:

SUDUT REDAKSI …….. 2

DAFTAR ISI …… 3

CAKRAWALA …… 4

EDITORIAL:

DBD dan Pemberdayaan Masyarakat ...… 5

FOKUS UTAMA:

Pemberdayaan DBD ...… 6

Manajemen Lingkungan Dalam Penanggulangan DBD ….. 8

Strategi Penanggulangan DBD …. 13

Strategi Utama Pemberdayaan Atasi DBD ….. 16

Mengenal Diagnosa Serologis Virus Dengue .. 18

Wolbachia: Alternatif Pengendali Vektor Dengue .. 20

Model Kepercayaan Kesehatan .. 23

LAPORAN DAERAH:

Penanggulangan DBD di Priangan …… 24

HASIL PENELITIAN:

Pemberdayaan Kelompok Ibu Rumah Tangga Dalam Penanggulangan Demam Berdarah Dengue (DBD) Melalui Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) di Kelurahan Adiarsa Barat Kab. Karawang ..... 28

SPIRIT LOKA:

Menuju Puncak Kesuksesan …..50

Cara Mengirimkan Artikel ke Media Massa ….. 54

ALTERNATIF:

Ekstrak Kulit Jengkol Atasi Jentik DBD …. 59

PENDIDIKAN:

Imunositokimia: Teknik Pendeteksi Virus Dengue …. 67

Berkenalan Dengan Nyamuk …. 71

Perubahan Perilaku Bukti Keberhasilan Pemberdayaan Masyarakat …. 73

DUNIA PUSTAKA:

6 Trik Menjadi Penulis Artikel …. 76

TAFAKUR:

Penentuan Jenis Kelamin Nyamuk ….. 78



Anda tertarik Majalah Inside (Versi PDF) tersebut, silahkan kirim Rp. 25 Ribu saja ke Bank BNI No. Rekening: 0118657077 atas nama Arda Dinata, lalu sms ke no. 081320476048.





Anda ingin seperti mereka? Daftar GRATIS:

Caranya SMS dengan format sbb:


REG.NO HP ANDA. NAMA ANDA.-..-

Contoh: REG.081809616519.CANTIK JELITA.-.-

Lalu SMS ke: 081320476048



DBD dan Pemberdayaan Masyarakat



oleh Arda Dinata



Demam berdarah dengue (DBD) di Indonesia masih menjadi masalah kesehatan masyarakat. Departemen Kesehatan telah menetapkan 5 kegiatan pokok sebagai kebijakan dalam pengendalian penyakit DBD yaitu menemukan kasus secepatnya dan mengobati sesuai protap, memutuskan mata rantai penularan dengan pemberantasan vektor (nyamuk dewasa dan jentik-jentiknya), kemitraan dalam wadah Pokjanal DBD (kelompok kerja operasional DBD), pemberdayaan masyarakat dalam gerakan pemberantasan sarang nyamuk (PSN 3M Plus) dan peningkatan profesionalisme pelaksana program.



Berbagai upaya telah dilakukan untuk menanggulangi terjadi-nya peningkatan kasus, salah satunya dan yang paling utama adalah dengan memberdayakan masyarakat dalam kegiatan pemberantas-an sarang nyamuk (PSN) melalui gerakan 3M (menguras-menutup-mengubur). Kegiatan ini telah diintensifkan sejak 1992 dan pada 2000 dikembangkan menjadi 3M Plus yaitu dengan cara menggunakan larvasida, memelihara ikan dan mencegah gigitan nyamuk.



Selama ini berbagai upaya untuk memberdayakan masyarakat dalam PSN-DBD sudah banyak dilakukan, tetapi hasilnya belum optimal dapat merubah perilaku masyarakat untuk secara terus menerus melakukan PSN-DBD di lingkungan masing-masing.



Untuk mengoptimalkan pemberdayaan masyarakat dalam PSN DBD, pada tahun 2004 WHO memperkenalkan suatu pendekatan baru yaitu Komunikasi Perubahan Perilaku/KPP (Communications for Behavioral Impact/COMBI), tapi beberapa negara di Asean (Malaysia, Laos, Vietnam), Amerika Latin (Nikaragua, Brazil, Cuba) telah menerapkan pendekatan ini dengan hasil yang baik. Di Indonesia sendiri sudah diterapkan daerah uji coba yaitu di Jakarta Timur dan memberikan hasil yang baik.



Pendekatan tersebut lebih menekankan pada kekompakkan kerja tim (sebagai tim kerja dinamis). Perumusan dan penyampaian pesan, materi dan media komunikasi direncanakan berdasarkan masalah yang ditemukan oleh masyarakat dengan cara pemecahan masalah yang disetujui bersama. Akhhirnya, dengan pendekatan KPP/COMBI diharapkan perubahan perilaku masyarakat ke arah pemberdayaan PSN dapat tercapai secara optimal. [Arda D].***



Anda tertarik Majalah Inside (Versi PDF) tersebut, silahkan kirim Rp. 25 Ribu saja ke Bank BNI No. Rekening: 0118657077 atas nama Arda Dinata, lalu sms ke no. 081320476048.



Daftar Isi Majalah Inside Vol.III. No.02/Desember 2008:

SUDUT REDAKSI …….. 2

DAFTAR ISI …… 3

CAKRAWALA …… 4

EDITORIAL:

DBD dan Pemberdayaan Masyarakat ...… 5

FOKUS UTAMA:

Pemberdayaan DBD ...… 6

Manajemen Lingkungan Dalam Penanggulangan DBD ….. 8

Strategi Penanggulangan DBD …. 13

Strategi Utama Pemberdayaan Atasi DBD ….. 16

Mengenal Diagnosa Serologis Virus Dengue .. 18

Wolbachia: Alternatif Pengendali Vektor Dengue .. 20

Model Kepercayaan Kesehatan .. 23

LAPORAN DAERAH:

Penanggulangan DBD di Priangan …… 24

HASIL PENELITIAN:

Pemberdayaan Kelompok Ibu Rumah Tangga Dalam Penanggulangan Demam Berdarah Dengue (DBD) Melalui Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) di Kelurahan Adiarsa Barat Kab. Karawang ..... 28

SPIRIT LOKA:

Menuju Puncak Kesuksesan …..50

Cara Mengirimkan Artikel ke Media Massa ….. 54

ALTERNATIF:

Ekstrak Kulit Jengkol Atasi Jentik DBD …. 59

PENDIDIKAN:

Imunositokimia: Teknik Pendeteksi Virus Dengue …. 67

Berkenalan Dengan Nyamuk …. 71

Perubahan Perilaku Bukti Keberhasilan Pemberdayaan Masyarakat …. 73

DUNIA PUSTAKA:

6 Trik Menjadi Penulis Artikel …. 76

TAFAKUR:

Penentuan Jenis Kelamin Nyamuk ….. 78



Anda tertarik Majalah Inside (Versi PDF) tersebut, silahkan kirim Rp. 25 Ribu saja ke Bank BNI No. Rekening: 0118657077 atas nama Arda Dinata, lalu sms ke no. 081320476048.





Anda ingin seperti mereka? Daftar GRATIS:

Caranya SMS dengan format sbb:


REG.NO HP ANDA. NAMA ANDA.-..-

Contoh: REG.081809616519.CANTIK JELITA.-.-

Lalu SMS ke: 081320476048



DBD dan Pemberdayaan Masyarakat



oleh Arda Dinata



Demam berdarah dengue (DBD) di Indonesia masih menjadi masalah kesehatan masyarakat. Departemen Kesehatan telah menetapkan 5 kegiatan pokok sebagai kebijakan dalam pengendalian penyakit DBD yaitu menemukan kasus secepatnya dan mengobati sesuai protap, memutuskan mata rantai penularan dengan pemberantasan vektor (nyamuk dewasa dan jentik-jentiknya), kemitraan dalam wadah Pokjanal DBD (kelompok kerja operasional DBD), pemberdayaan masyarakat dalam gerakan pemberantasan sarang nyamuk (PSN 3M Plus) dan peningkatan profesionalisme pelaksana program.



Berbagai upaya telah dilakukan untuk menanggulangi terjadi-nya peningkatan kasus, salah satunya dan yang paling utama adalah dengan memberdayakan masyarakat dalam kegiatan pemberantas-an sarang nyamuk (PSN) melalui gerakan 3M (menguras-menutup-mengubur). Kegiatan ini telah diintensifkan sejak 1992 dan pada 2000 dikembangkan menjadi 3M Plus yaitu dengan cara menggunakan larvasida, memelihara ikan dan mencegah gigitan nyamuk.



Selama ini berbagai upaya untuk memberdayakan masyarakat dalam PSN-DBD sudah banyak dilakukan, tetapi hasilnya belum optimal dapat merubah perilaku masyarakat untuk secara terus menerus melakukan PSN-DBD di lingkungan masing-masing.



Untuk mengoptimalkan pemberdayaan masyarakat dalam PSN DBD, pada tahun 2004 WHO memperkenalkan suatu pendekatan baru yaitu Komunikasi Perubahan Perilaku/KPP (Communications for Behavioral Impact/COMBI), tapi beberapa negara di Asean (Malaysia, Laos, Vietnam), Amerika Latin (Nikaragua, Brazil, Cuba) telah menerapkan pendekatan ini dengan hasil yang baik. Di Indonesia sendiri sudah diterapkan daerah uji coba yaitu di Jakarta Timur dan memberikan hasil yang baik.



Pendekatan tersebut lebih menekankan pada kekompakkan kerja tim (sebagai tim kerja dinamis). Perumusan dan penyampaian pesan, materi dan media komunikasi direncanakan berdasarkan masalah yang ditemukan oleh masyarakat dengan cara pemecahan masalah yang disetujui bersama. Akhhirnya, dengan pendekatan KPP/COMBI diharapkan perubahan perilaku masyarakat ke arah pemberdayaan PSN dapat tercapai secara optimal. [Arda D].***



Anda tertarik Majalah Inside (Versi PDF) tersebut, silahkan kirim Rp. 25 Ribu saja ke Bank BNI No. Rekening: 0118657077 atas nama Arda Dinata, lalu sms ke no. 081320476048.



Daftar Isi Majalah Inside Vol.III. No.02/Desember 2008:

SUDUT REDAKSI …….. 2

DAFTAR ISI …… 3

CAKRAWALA …… 4

EDITORIAL:

DBD dan Pemberdayaan Masyarakat ...… 5

FOKUS UTAMA:

Pemberdayaan DBD ...… 6

Manajemen Lingkungan Dalam Penanggulangan DBD ….. 8

Strategi Penanggulangan DBD …. 13

Strategi Utama Pemberdayaan Atasi DBD ….. 16

Mengenal Diagnosa Serologis Virus Dengue .. 18

Wolbachia: Alternatif Pengendali Vektor Dengue .. 20

Model Kepercayaan Kesehatan .. 23

LAPORAN DAERAH:

Penanggulangan DBD di Priangan …… 24

HASIL PENELITIAN:

Pemberdayaan Kelompok Ibu Rumah Tangga Dalam Penanggulangan Demam Berdarah Dengue (DBD) Melalui Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) di Kelurahan Adiarsa Barat Kab. Karawang ..... 28

SPIRIT LOKA:

Menuju Puncak Kesuksesan …..50

Cara Mengirimkan Artikel ke Media Massa ….. 54

ALTERNATIF:

Ekstrak Kulit Jengkol Atasi Jentik DBD …. 59

PENDIDIKAN:

Imunositokimia: Teknik Pendeteksi Virus Dengue …. 67

Berkenalan Dengan Nyamuk …. 71

Perubahan Perilaku Bukti Keberhasilan Pemberdayaan Masyarakat …. 73

DUNIA PUSTAKA:

6 Trik Menjadi Penulis Artikel …. 76

TAFAKUR:

Penentuan Jenis Kelamin Nyamuk ….. 78



Anda tertarik Majalah Inside (Versi PDF) tersebut, silahkan kirim Rp. 25 Ribu saja ke Bank BNI No. Rekening: 0118657077 atas nama Arda Dinata, lalu sms ke no. 081320476048.





Anda ingin seperti mereka? Daftar GRATIS:

Caranya SMS dengan format sbb:


REG.NO HP ANDA. NAMA ANDA.-..-

Contoh: REG.081809616519.CANTIK JELITA.-.-

Lalu SMS ke: 081320476048

Daftar Isi Artikel Klik di Sini!


EBOOK: KESLING, MOTIVASI & PENGEMBANGAN DIRI

|HOME |ARDA PUBLISHING HOUSE |MIQRA INDONESIA |OPINI |OPTIMIS |SEHAT |KELUARGA |SPIRIT |IBROH |JURNALISTIK |BUKU |JURNAL |LINGKUNGAN |DUNIA NYAMUK |NEWS MIQRA |BISNIS |PROFIL |ARDA TV|