-->
PASANG IKLAN DI SINI!
(MURAH SESUAI BUDGET ANDA)

Tampilkan postingan dengan label HAKLI. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label HAKLI. Tampilkan semua postingan
Pelabuhan dan Kesehatan Kita
Lihat Detail

Pelabuhan dan Kesehatan Kita


Toko Sosmed
PUSAT EBOOK: KESLING-MOTIVASI-PENGEMBANGAN DIRI-
Miliki Ebook Inspiratif Karya Arda Dinata Di Sini!

Pagi masih tersenyum dalam selimut awan yang meneduhkan. Ombak memecah percikan air lewat bebatuan di bibir pantai pelabuhan. Iramanya lincah bikin betah bermesraan dengan butir-butir air yang dibawa hempasan angin pantai. Aktivitas pelabuhan bikin gairah ekonomi yang melimpah. Dan bila tidak hati-hati dengan kondisi kesehatan sanitasi pelabuhan, maka tidak sedikit penyebaran penyakit dapat berawal dari sini.” (Arda Dinata)

Pelabuhan dan Kesehatan Kita

Oleh Arda Dinata

PELABUHAN bagi saya memiliki pesona keindahan tersendiri. Baik di waktu pagi maupun menjelang senja. Gairahnya dalam segala suasana tetap terjaga. Untuk itu, lindungilah pelabuhan dari hal-hal yang tidak sehat dan merusak pesonanya.
WWW.ARDADINATA.COM

Apalagi, kita tahu Indonesia adalah negara kepulauan. Keberadaan pelabuhan memiliki arti penting bagi Indonesia. Keberadaan pelabuhan ini mendukung kelangsungan sistem transportasi laut yang merupakan sistem transportasi paling besar di Indonesia. Jadi, peran kesehatan pelabuhan ini sangat penting bagi perkembangan sosial dan ekonomi suatu daerah.

Saya menemukan arti pelabuhan dalam catatan glosarium Badan Pusat Statistik (BPS) dan UU No. 17 tahun 2008 tentang Pelayaran. Di situ, pelabuhan diartikan sebagai tempat yang terdiri atas daratan dan/atau perairan dengan batas-batas tertentu sebagai tempat berkegiatan pemerintah dan kegiatan pengusahaan yang dipergunakan sebagai tempat kapal berlabuh, naik turun penumpang dan/atau bongkar muat barang, berupa terminal dan tempat berlabuh kapal yang dilengkapi dengan fasilitas keselamatan dan keamanan pelayaran dan kegiatan penunjang pelabuhan serta sebagai tempat perpindahan intra dan antar moda transportasi.

Mengingat pelabuhan itu sebagai pusat kegiatan pelayanan pelayaran yang meliputi pelayanan terhadap kapal dan muatannya (baik penumpang, barang, dan hewan), maka tidak berlebihan kondisi sanitasi pelabuhan harus jadi perhatian utama kita untuk menjaga kesehatan warga yang berada di wilayah pelabuhan.

Kalau kita telaah, pelabuhan ini secara ekonomi berfungsi sebagai salah satu penggerak roda perekonomian. Ia menjadi fasilitas yang memudahkan distribusi hasil-hasil produksi suatu daerah. Sementera itu, secara sosial adanya pelabuhan ini telah menjadi fasilitas publik. Di sana, ada interaksi antar pengguna (masyarakat), termasuk interaksi perekonomian. Secara lebih luas, pelabuhan merupakan simpul pusat hubungan dari suatu daerah pendukung dan penghubung dengan daerah di luarnya.

Ada tiga fungsi yang dihadirkan dari aktivitas di pelabuhan, yaitu: sebagai link, interface, dan gateway.

Pertama, link (mata rantai). Pelabuhan merupakan salah satu mata rantai proses transportasi dari tempat asal barang ke tempat tujuan.

Kedua, interface (titik temu). Berarti pelabuhan itu dijadikan sebagai tempat pertemuan dua mode transportasi (laut dan darat).

Ketiga, gateway (pintu gerbang). Pelabuhan, jelas-jelas telah dijadikan sebagai pintu gerbang suatu negara. Yang mana, setiap kapal yang berkunjung harus mematuhi peraturan dan prosedur yang berlaku di daerah di mana pelabuhan tersebut berada.

Melihat ketiga fungsi dari keberadaan pelabuhan tersebut, maka kesehatan pelabuhan menjadi sesuatu yang vital dan urgent untuk ditegakkan. Dan itulah yang mendasari perlunya pengawasan kesehatan di pelabuhan lewat institusi Kantor Kesehatan Pelabuhan (KKP) yang tersebar di seluruh Indonesia.

Saya lewat tulisan di blog ini, secara berseri akan mencoba mendiskusikannya lewat tulisan terkait dunia kesehatan pelabuhan ini. Dan KKP ini adalah lahan pengabdian dan kajian bagi para sanitarian. Bagaimana menurut Anda terkait pelabuhan ini? Saya Tungguh komentar dan tanggapannya di kolom komentar di bawah ini!

Arda Dinata, adalah Penulis Buku Kesehatan Lingkungan (7 Kunci Menuju Indonesia Sehat: Menyehatkan Makanan, Air, Limbah Cair, Limbah Padat, Limbah Medis (B3), Udara, Kesehatan Rumah dan Binatang Pengganggu).


Toko Sosmed
PUSAT EBOOK: KESLING-MOTIVASI-PENGEMBANGAN DIRI-
Miliki Ebook Inspiratif Karya Arda Dinata Di Sini!

Pagi masih tersenyum dalam selimut awan yang meneduhkan. Ombak memecah percikan air lewat bebatuan di bibir pantai pelabuhan. Iramanya lincah bikin betah bermesraan dengan butir-butir air yang dibawa hempasan angin pantai. Aktivitas pelabuhan bikin gairah ekonomi yang melimpah. Dan bila tidak hati-hati dengan kondisi kesehatan sanitasi pelabuhan, maka tidak sedikit penyebaran penyakit dapat berawal dari sini.” (Arda Dinata)

Pelabuhan dan Kesehatan Kita

Oleh Arda Dinata

PELABUHAN bagi saya memiliki pesona keindahan tersendiri. Baik di waktu pagi maupun menjelang senja. Gairahnya dalam segala suasana tetap terjaga. Untuk itu, lindungilah pelabuhan dari hal-hal yang tidak sehat dan merusak pesonanya.
WWW.ARDADINATA.COM

Apalagi, kita tahu Indonesia adalah negara kepulauan. Keberadaan pelabuhan memiliki arti penting bagi Indonesia. Keberadaan pelabuhan ini mendukung kelangsungan sistem transportasi laut yang merupakan sistem transportasi paling besar di Indonesia. Jadi, peran kesehatan pelabuhan ini sangat penting bagi perkembangan sosial dan ekonomi suatu daerah.

Saya menemukan arti pelabuhan dalam catatan glosarium Badan Pusat Statistik (BPS) dan UU No. 17 tahun 2008 tentang Pelayaran. Di situ, pelabuhan diartikan sebagai tempat yang terdiri atas daratan dan/atau perairan dengan batas-batas tertentu sebagai tempat berkegiatan pemerintah dan kegiatan pengusahaan yang dipergunakan sebagai tempat kapal berlabuh, naik turun penumpang dan/atau bongkar muat barang, berupa terminal dan tempat berlabuh kapal yang dilengkapi dengan fasilitas keselamatan dan keamanan pelayaran dan kegiatan penunjang pelabuhan serta sebagai tempat perpindahan intra dan antar moda transportasi.

Mengingat pelabuhan itu sebagai pusat kegiatan pelayanan pelayaran yang meliputi pelayanan terhadap kapal dan muatannya (baik penumpang, barang, dan hewan), maka tidak berlebihan kondisi sanitasi pelabuhan harus jadi perhatian utama kita untuk menjaga kesehatan warga yang berada di wilayah pelabuhan.

Kalau kita telaah, pelabuhan ini secara ekonomi berfungsi sebagai salah satu penggerak roda perekonomian. Ia menjadi fasilitas yang memudahkan distribusi hasil-hasil produksi suatu daerah. Sementera itu, secara sosial adanya pelabuhan ini telah menjadi fasilitas publik. Di sana, ada interaksi antar pengguna (masyarakat), termasuk interaksi perekonomian. Secara lebih luas, pelabuhan merupakan simpul pusat hubungan dari suatu daerah pendukung dan penghubung dengan daerah di luarnya.

Ada tiga fungsi yang dihadirkan dari aktivitas di pelabuhan, yaitu: sebagai link, interface, dan gateway.

Pertama, link (mata rantai). Pelabuhan merupakan salah satu mata rantai proses transportasi dari tempat asal barang ke tempat tujuan.

Kedua, interface (titik temu). Berarti pelabuhan itu dijadikan sebagai tempat pertemuan dua mode transportasi (laut dan darat).

Ketiga, gateway (pintu gerbang). Pelabuhan, jelas-jelas telah dijadikan sebagai pintu gerbang suatu negara. Yang mana, setiap kapal yang berkunjung harus mematuhi peraturan dan prosedur yang berlaku di daerah di mana pelabuhan tersebut berada.

Melihat ketiga fungsi dari keberadaan pelabuhan tersebut, maka kesehatan pelabuhan menjadi sesuatu yang vital dan urgent untuk ditegakkan. Dan itulah yang mendasari perlunya pengawasan kesehatan di pelabuhan lewat institusi Kantor Kesehatan Pelabuhan (KKP) yang tersebar di seluruh Indonesia.

Saya lewat tulisan di blog ini, secara berseri akan mencoba mendiskusikannya lewat tulisan terkait dunia kesehatan pelabuhan ini. Dan KKP ini adalah lahan pengabdian dan kajian bagi para sanitarian. Bagaimana menurut Anda terkait pelabuhan ini? Saya Tungguh komentar dan tanggapannya di kolom komentar di bawah ini!

Arda Dinata, adalah Penulis Buku Kesehatan Lingkungan (7 Kunci Menuju Indonesia Sehat: Menyehatkan Makanan, Air, Limbah Cair, Limbah Padat, Limbah Medis (B3), Udara, Kesehatan Rumah dan Binatang Pengganggu).


Toko Sosmed
PUSAT EBOOK: KESLING-MOTIVASI-PENGEMBANGAN DIRI-
Miliki Ebook Inspiratif Karya Arda Dinata Di Sini!

Pagi masih tersenyum dalam selimut awan yang meneduhkan. Ombak memecah percikan air lewat bebatuan di bibir pantai pelabuhan. Iramanya lincah bikin betah bermesraan dengan butir-butir air yang dibawa hempasan angin pantai. Aktivitas pelabuhan bikin gairah ekonomi yang melimpah. Dan bila tidak hati-hati dengan kondisi kesehatan sanitasi pelabuhan, maka tidak sedikit penyebaran penyakit dapat berawal dari sini.” (Arda Dinata)

Pelabuhan dan Kesehatan Kita

Oleh Arda Dinata

PELABUHAN bagi saya memiliki pesona keindahan tersendiri. Baik di waktu pagi maupun menjelang senja. Gairahnya dalam segala suasana tetap terjaga. Untuk itu, lindungilah pelabuhan dari hal-hal yang tidak sehat dan merusak pesonanya.
WWW.ARDADINATA.COM

Apalagi, kita tahu Indonesia adalah negara kepulauan. Keberadaan pelabuhan memiliki arti penting bagi Indonesia. Keberadaan pelabuhan ini mendukung kelangsungan sistem transportasi laut yang merupakan sistem transportasi paling besar di Indonesia. Jadi, peran kesehatan pelabuhan ini sangat penting bagi perkembangan sosial dan ekonomi suatu daerah.

Saya menemukan arti pelabuhan dalam catatan glosarium Badan Pusat Statistik (BPS) dan UU No. 17 tahun 2008 tentang Pelayaran. Di situ, pelabuhan diartikan sebagai tempat yang terdiri atas daratan dan/atau perairan dengan batas-batas tertentu sebagai tempat berkegiatan pemerintah dan kegiatan pengusahaan yang dipergunakan sebagai tempat kapal berlabuh, naik turun penumpang dan/atau bongkar muat barang, berupa terminal dan tempat berlabuh kapal yang dilengkapi dengan fasilitas keselamatan dan keamanan pelayaran dan kegiatan penunjang pelabuhan serta sebagai tempat perpindahan intra dan antar moda transportasi.

Mengingat pelabuhan itu sebagai pusat kegiatan pelayanan pelayaran yang meliputi pelayanan terhadap kapal dan muatannya (baik penumpang, barang, dan hewan), maka tidak berlebihan kondisi sanitasi pelabuhan harus jadi perhatian utama kita untuk menjaga kesehatan warga yang berada di wilayah pelabuhan.

Kalau kita telaah, pelabuhan ini secara ekonomi berfungsi sebagai salah satu penggerak roda perekonomian. Ia menjadi fasilitas yang memudahkan distribusi hasil-hasil produksi suatu daerah. Sementera itu, secara sosial adanya pelabuhan ini telah menjadi fasilitas publik. Di sana, ada interaksi antar pengguna (masyarakat), termasuk interaksi perekonomian. Secara lebih luas, pelabuhan merupakan simpul pusat hubungan dari suatu daerah pendukung dan penghubung dengan daerah di luarnya.

Ada tiga fungsi yang dihadirkan dari aktivitas di pelabuhan, yaitu: sebagai link, interface, dan gateway.

Pertama, link (mata rantai). Pelabuhan merupakan salah satu mata rantai proses transportasi dari tempat asal barang ke tempat tujuan.

Kedua, interface (titik temu). Berarti pelabuhan itu dijadikan sebagai tempat pertemuan dua mode transportasi (laut dan darat).

Ketiga, gateway (pintu gerbang). Pelabuhan, jelas-jelas telah dijadikan sebagai pintu gerbang suatu negara. Yang mana, setiap kapal yang berkunjung harus mematuhi peraturan dan prosedur yang berlaku di daerah di mana pelabuhan tersebut berada.

Melihat ketiga fungsi dari keberadaan pelabuhan tersebut, maka kesehatan pelabuhan menjadi sesuatu yang vital dan urgent untuk ditegakkan. Dan itulah yang mendasari perlunya pengawasan kesehatan di pelabuhan lewat institusi Kantor Kesehatan Pelabuhan (KKP) yang tersebar di seluruh Indonesia.

Saya lewat tulisan di blog ini, secara berseri akan mencoba mendiskusikannya lewat tulisan terkait dunia kesehatan pelabuhan ini. Dan KKP ini adalah lahan pengabdian dan kajian bagi para sanitarian. Bagaimana menurut Anda terkait pelabuhan ini? Saya Tungguh komentar dan tanggapannya di kolom komentar di bawah ini!

Arda Dinata, adalah Penulis Buku Kesehatan Lingkungan (7 Kunci Menuju Indonesia Sehat: Menyehatkan Makanan, Air, Limbah Cair, Limbah Padat, Limbah Medis (B3), Udara, Kesehatan Rumah dan Binatang Pengganggu).


Toko Sosmed
PUSAT EBOOK: KESLING-MOTIVASI-PENGEMBANGAN DIRI-
Miliki Ebook Inspiratif Karya Arda Dinata Di Sini!

Pagi masih tersenyum dalam selimut awan yang meneduhkan. Ombak memecah percikan air lewat bebatuan di bibir pantai pelabuhan. Iramanya lincah bikin betah bermesraan dengan butir-butir air yang dibawa hempasan angin pantai. Aktivitas pelabuhan bikin gairah ekonomi yang melimpah. Dan bila tidak hati-hati dengan kondisi kesehatan sanitasi pelabuhan, maka tidak sedikit penyebaran penyakit dapat berawal dari sini.” (Arda Dinata)

Pelabuhan dan Kesehatan Kita

Oleh Arda Dinata

PELABUHAN bagi saya memiliki pesona keindahan tersendiri. Baik di waktu pagi maupun menjelang senja. Gairahnya dalam segala suasana tetap terjaga. Untuk itu, lindungilah pelabuhan dari hal-hal yang tidak sehat dan merusak pesonanya.
WWW.ARDADINATA.COM

Apalagi, kita tahu Indonesia adalah negara kepulauan. Keberadaan pelabuhan memiliki arti penting bagi Indonesia. Keberadaan pelabuhan ini mendukung kelangsungan sistem transportasi laut yang merupakan sistem transportasi paling besar di Indonesia. Jadi, peran kesehatan pelabuhan ini sangat penting bagi perkembangan sosial dan ekonomi suatu daerah.

Saya menemukan arti pelabuhan dalam catatan glosarium Badan Pusat Statistik (BPS) dan UU No. 17 tahun 2008 tentang Pelayaran. Di situ, pelabuhan diartikan sebagai tempat yang terdiri atas daratan dan/atau perairan dengan batas-batas tertentu sebagai tempat berkegiatan pemerintah dan kegiatan pengusahaan yang dipergunakan sebagai tempat kapal berlabuh, naik turun penumpang dan/atau bongkar muat barang, berupa terminal dan tempat berlabuh kapal yang dilengkapi dengan fasilitas keselamatan dan keamanan pelayaran dan kegiatan penunjang pelabuhan serta sebagai tempat perpindahan intra dan antar moda transportasi.

Mengingat pelabuhan itu sebagai pusat kegiatan pelayanan pelayaran yang meliputi pelayanan terhadap kapal dan muatannya (baik penumpang, barang, dan hewan), maka tidak berlebihan kondisi sanitasi pelabuhan harus jadi perhatian utama kita untuk menjaga kesehatan warga yang berada di wilayah pelabuhan.

Kalau kita telaah, pelabuhan ini secara ekonomi berfungsi sebagai salah satu penggerak roda perekonomian. Ia menjadi fasilitas yang memudahkan distribusi hasil-hasil produksi suatu daerah. Sementera itu, secara sosial adanya pelabuhan ini telah menjadi fasilitas publik. Di sana, ada interaksi antar pengguna (masyarakat), termasuk interaksi perekonomian. Secara lebih luas, pelabuhan merupakan simpul pusat hubungan dari suatu daerah pendukung dan penghubung dengan daerah di luarnya.

Ada tiga fungsi yang dihadirkan dari aktivitas di pelabuhan, yaitu: sebagai link, interface, dan gateway.

Pertama, link (mata rantai). Pelabuhan merupakan salah satu mata rantai proses transportasi dari tempat asal barang ke tempat tujuan.

Kedua, interface (titik temu). Berarti pelabuhan itu dijadikan sebagai tempat pertemuan dua mode transportasi (laut dan darat).

Ketiga, gateway (pintu gerbang). Pelabuhan, jelas-jelas telah dijadikan sebagai pintu gerbang suatu negara. Yang mana, setiap kapal yang berkunjung harus mematuhi peraturan dan prosedur yang berlaku di daerah di mana pelabuhan tersebut berada.

Melihat ketiga fungsi dari keberadaan pelabuhan tersebut, maka kesehatan pelabuhan menjadi sesuatu yang vital dan urgent untuk ditegakkan. Dan itulah yang mendasari perlunya pengawasan kesehatan di pelabuhan lewat institusi Kantor Kesehatan Pelabuhan (KKP) yang tersebar di seluruh Indonesia.

Saya lewat tulisan di blog ini, secara berseri akan mencoba mendiskusikannya lewat tulisan terkait dunia kesehatan pelabuhan ini. Dan KKP ini adalah lahan pengabdian dan kajian bagi para sanitarian. Bagaimana menurut Anda terkait pelabuhan ini? Saya Tungguh komentar dan tanggapannya di kolom komentar di bawah ini!

Arda Dinata, adalah Penulis Buku Kesehatan Lingkungan (7 Kunci Menuju Indonesia Sehat: Menyehatkan Makanan, Air, Limbah Cair, Limbah Padat, Limbah Medis (B3), Udara, Kesehatan Rumah dan Binatang Pengganggu).


Toko Sosmed
PUSAT EBOOK: KESLING-MOTIVASI-PENGEMBANGAN DIRI-
Miliki Ebook Inspiratif Karya Arda Dinata Di Sini!

Pagi masih tersenyum dalam selimut awan yang meneduhkan. Ombak memecah percikan air lewat bebatuan di bibir pantai pelabuhan. Iramanya lincah bikin betah bermesraan dengan butir-butir air yang dibawa hempasan angin pantai. Aktivitas pelabuhan bikin gairah ekonomi yang melimpah. Dan bila tidak hati-hati dengan kondisi kesehatan sanitasi pelabuhan, maka tidak sedikit penyebaran penyakit dapat berawal dari sini.” (Arda Dinata)

Pelabuhan dan Kesehatan Kita

Oleh Arda Dinata

PELABUHAN bagi saya memiliki pesona keindahan tersendiri. Baik di waktu pagi maupun menjelang senja. Gairahnya dalam segala suasana tetap terjaga. Untuk itu, lindungilah pelabuhan dari hal-hal yang tidak sehat dan merusak pesonanya.
WWW.ARDADINATA.COM

Apalagi, kita tahu Indonesia adalah negara kepulauan. Keberadaan pelabuhan memiliki arti penting bagi Indonesia. Keberadaan pelabuhan ini mendukung kelangsungan sistem transportasi laut yang merupakan sistem transportasi paling besar di Indonesia. Jadi, peran kesehatan pelabuhan ini sangat penting bagi perkembangan sosial dan ekonomi suatu daerah.

Saya menemukan arti pelabuhan dalam catatan glosarium Badan Pusat Statistik (BPS) dan UU No. 17 tahun 2008 tentang Pelayaran. Di situ, pelabuhan diartikan sebagai tempat yang terdiri atas daratan dan/atau perairan dengan batas-batas tertentu sebagai tempat berkegiatan pemerintah dan kegiatan pengusahaan yang dipergunakan sebagai tempat kapal berlabuh, naik turun penumpang dan/atau bongkar muat barang, berupa terminal dan tempat berlabuh kapal yang dilengkapi dengan fasilitas keselamatan dan keamanan pelayaran dan kegiatan penunjang pelabuhan serta sebagai tempat perpindahan intra dan antar moda transportasi.

Mengingat pelabuhan itu sebagai pusat kegiatan pelayanan pelayaran yang meliputi pelayanan terhadap kapal dan muatannya (baik penumpang, barang, dan hewan), maka tidak berlebihan kondisi sanitasi pelabuhan harus jadi perhatian utama kita untuk menjaga kesehatan warga yang berada di wilayah pelabuhan.

Kalau kita telaah, pelabuhan ini secara ekonomi berfungsi sebagai salah satu penggerak roda perekonomian. Ia menjadi fasilitas yang memudahkan distribusi hasil-hasil produksi suatu daerah. Sementera itu, secara sosial adanya pelabuhan ini telah menjadi fasilitas publik. Di sana, ada interaksi antar pengguna (masyarakat), termasuk interaksi perekonomian. Secara lebih luas, pelabuhan merupakan simpul pusat hubungan dari suatu daerah pendukung dan penghubung dengan daerah di luarnya.

Ada tiga fungsi yang dihadirkan dari aktivitas di pelabuhan, yaitu: sebagai link, interface, dan gateway.

Pertama, link (mata rantai). Pelabuhan merupakan salah satu mata rantai proses transportasi dari tempat asal barang ke tempat tujuan.

Kedua, interface (titik temu). Berarti pelabuhan itu dijadikan sebagai tempat pertemuan dua mode transportasi (laut dan darat).

Ketiga, gateway (pintu gerbang). Pelabuhan, jelas-jelas telah dijadikan sebagai pintu gerbang suatu negara. Yang mana, setiap kapal yang berkunjung harus mematuhi peraturan dan prosedur yang berlaku di daerah di mana pelabuhan tersebut berada.

Melihat ketiga fungsi dari keberadaan pelabuhan tersebut, maka kesehatan pelabuhan menjadi sesuatu yang vital dan urgent untuk ditegakkan. Dan itulah yang mendasari perlunya pengawasan kesehatan di pelabuhan lewat institusi Kantor Kesehatan Pelabuhan (KKP) yang tersebar di seluruh Indonesia.

Saya lewat tulisan di blog ini, secara berseri akan mencoba mendiskusikannya lewat tulisan terkait dunia kesehatan pelabuhan ini. Dan KKP ini adalah lahan pengabdian dan kajian bagi para sanitarian. Bagaimana menurut Anda terkait pelabuhan ini? Saya Tungguh komentar dan tanggapannya di kolom komentar di bawah ini!

Arda Dinata, adalah Penulis Buku Kesehatan Lingkungan (7 Kunci Menuju Indonesia Sehat: Menyehatkan Makanan, Air, Limbah Cair, Limbah Padat, Limbah Medis (B3), Udara, Kesehatan Rumah dan Binatang Pengganggu).


Toko Sosmed
PUSAT EBOOK: KESLING-MOTIVASI-PENGEMBANGAN DIRI-
Miliki Ebook Inspiratif Karya Arda Dinata Di Sini!

Pagi masih tersenyum dalam selimut awan yang meneduhkan. Ombak memecah percikan air lewat bebatuan di bibir pantai pelabuhan. Iramanya lincah bikin betah bermesraan dengan butir-butir air yang dibawa hempasan angin pantai. Aktivitas pelabuhan bikin gairah ekonomi yang melimpah. Dan bila tidak hati-hati dengan kondisi kesehatan sanitasi pelabuhan, maka tidak sedikit penyebaran penyakit dapat berawal dari sini.” (Arda Dinata)

Pelabuhan dan Kesehatan Kita

Oleh Arda Dinata

PELABUHAN bagi saya memiliki pesona keindahan tersendiri. Baik di waktu pagi maupun menjelang senja. Gairahnya dalam segala suasana tetap terjaga. Untuk itu, lindungilah pelabuhan dari hal-hal yang tidak sehat dan merusak pesonanya.
WWW.ARDADINATA.COM

Apalagi, kita tahu Indonesia adalah negara kepulauan. Keberadaan pelabuhan memiliki arti penting bagi Indonesia. Keberadaan pelabuhan ini mendukung kelangsungan sistem transportasi laut yang merupakan sistem transportasi paling besar di Indonesia. Jadi, peran kesehatan pelabuhan ini sangat penting bagi perkembangan sosial dan ekonomi suatu daerah.

Saya menemukan arti pelabuhan dalam catatan glosarium Badan Pusat Statistik (BPS) dan UU No. 17 tahun 2008 tentang Pelayaran. Di situ, pelabuhan diartikan sebagai tempat yang terdiri atas daratan dan/atau perairan dengan batas-batas tertentu sebagai tempat berkegiatan pemerintah dan kegiatan pengusahaan yang dipergunakan sebagai tempat kapal berlabuh, naik turun penumpang dan/atau bongkar muat barang, berupa terminal dan tempat berlabuh kapal yang dilengkapi dengan fasilitas keselamatan dan keamanan pelayaran dan kegiatan penunjang pelabuhan serta sebagai tempat perpindahan intra dan antar moda transportasi.

Mengingat pelabuhan itu sebagai pusat kegiatan pelayanan pelayaran yang meliputi pelayanan terhadap kapal dan muatannya (baik penumpang, barang, dan hewan), maka tidak berlebihan kondisi sanitasi pelabuhan harus jadi perhatian utama kita untuk menjaga kesehatan warga yang berada di wilayah pelabuhan.

Kalau kita telaah, pelabuhan ini secara ekonomi berfungsi sebagai salah satu penggerak roda perekonomian. Ia menjadi fasilitas yang memudahkan distribusi hasil-hasil produksi suatu daerah. Sementera itu, secara sosial adanya pelabuhan ini telah menjadi fasilitas publik. Di sana, ada interaksi antar pengguna (masyarakat), termasuk interaksi perekonomian. Secara lebih luas, pelabuhan merupakan simpul pusat hubungan dari suatu daerah pendukung dan penghubung dengan daerah di luarnya.

Ada tiga fungsi yang dihadirkan dari aktivitas di pelabuhan, yaitu: sebagai link, interface, dan gateway.

Pertama, link (mata rantai). Pelabuhan merupakan salah satu mata rantai proses transportasi dari tempat asal barang ke tempat tujuan.

Kedua, interface (titik temu). Berarti pelabuhan itu dijadikan sebagai tempat pertemuan dua mode transportasi (laut dan darat).

Ketiga, gateway (pintu gerbang). Pelabuhan, jelas-jelas telah dijadikan sebagai pintu gerbang suatu negara. Yang mana, setiap kapal yang berkunjung harus mematuhi peraturan dan prosedur yang berlaku di daerah di mana pelabuhan tersebut berada.

Melihat ketiga fungsi dari keberadaan pelabuhan tersebut, maka kesehatan pelabuhan menjadi sesuatu yang vital dan urgent untuk ditegakkan. Dan itulah yang mendasari perlunya pengawasan kesehatan di pelabuhan lewat institusi Kantor Kesehatan Pelabuhan (KKP) yang tersebar di seluruh Indonesia.

Saya lewat tulisan di blog ini, secara berseri akan mencoba mendiskusikannya lewat tulisan terkait dunia kesehatan pelabuhan ini. Dan KKP ini adalah lahan pengabdian dan kajian bagi para sanitarian. Bagaimana menurut Anda terkait pelabuhan ini? Saya Tungguh komentar dan tanggapannya di kolom komentar di bawah ini!

Arda Dinata, adalah Penulis Buku Kesehatan Lingkungan (7 Kunci Menuju Indonesia Sehat: Menyehatkan Makanan, Air, Limbah Cair, Limbah Padat, Limbah Medis (B3), Udara, Kesehatan Rumah dan Binatang Pengganggu).


Toko Sosmed
PUSAT EBOOK: KESLING-MOTIVASI-PENGEMBANGAN DIRI-
Miliki Ebook Inspiratif Karya Arda Dinata Di Sini!

Pagi masih tersenyum dalam selimut awan yang meneduhkan. Ombak memecah percikan air lewat bebatuan di bibir pantai pelabuhan. Iramanya lincah bikin betah bermesraan dengan butir-butir air yang dibawa hempasan angin pantai. Aktivitas pelabuhan bikin gairah ekonomi yang melimpah. Dan bila tidak hati-hati dengan kondisi kesehatan sanitasi pelabuhan, maka tidak sedikit penyebaran penyakit dapat berawal dari sini.” (Arda Dinata)

Pelabuhan dan Kesehatan Kita

Oleh Arda Dinata

PELABUHAN bagi saya memiliki pesona keindahan tersendiri. Baik di waktu pagi maupun menjelang senja. Gairahnya dalam segala suasana tetap terjaga. Untuk itu, lindungilah pelabuhan dari hal-hal yang tidak sehat dan merusak pesonanya.
WWW.ARDADINATA.COM

Apalagi, kita tahu Indonesia adalah negara kepulauan. Keberadaan pelabuhan memiliki arti penting bagi Indonesia. Keberadaan pelabuhan ini mendukung kelangsungan sistem transportasi laut yang merupakan sistem transportasi paling besar di Indonesia. Jadi, peran kesehatan pelabuhan ini sangat penting bagi perkembangan sosial dan ekonomi suatu daerah.

Saya menemukan arti pelabuhan dalam catatan glosarium Badan Pusat Statistik (BPS) dan UU No. 17 tahun 2008 tentang Pelayaran. Di situ, pelabuhan diartikan sebagai tempat yang terdiri atas daratan dan/atau perairan dengan batas-batas tertentu sebagai tempat berkegiatan pemerintah dan kegiatan pengusahaan yang dipergunakan sebagai tempat kapal berlabuh, naik turun penumpang dan/atau bongkar muat barang, berupa terminal dan tempat berlabuh kapal yang dilengkapi dengan fasilitas keselamatan dan keamanan pelayaran dan kegiatan penunjang pelabuhan serta sebagai tempat perpindahan intra dan antar moda transportasi.

Mengingat pelabuhan itu sebagai pusat kegiatan pelayanan pelayaran yang meliputi pelayanan terhadap kapal dan muatannya (baik penumpang, barang, dan hewan), maka tidak berlebihan kondisi sanitasi pelabuhan harus jadi perhatian utama kita untuk menjaga kesehatan warga yang berada di wilayah pelabuhan.

Kalau kita telaah, pelabuhan ini secara ekonomi berfungsi sebagai salah satu penggerak roda perekonomian. Ia menjadi fasilitas yang memudahkan distribusi hasil-hasil produksi suatu daerah. Sementera itu, secara sosial adanya pelabuhan ini telah menjadi fasilitas publik. Di sana, ada interaksi antar pengguna (masyarakat), termasuk interaksi perekonomian. Secara lebih luas, pelabuhan merupakan simpul pusat hubungan dari suatu daerah pendukung dan penghubung dengan daerah di luarnya.

Ada tiga fungsi yang dihadirkan dari aktivitas di pelabuhan, yaitu: sebagai link, interface, dan gateway.

Pertama, link (mata rantai). Pelabuhan merupakan salah satu mata rantai proses transportasi dari tempat asal barang ke tempat tujuan.

Kedua, interface (titik temu). Berarti pelabuhan itu dijadikan sebagai tempat pertemuan dua mode transportasi (laut dan darat).

Ketiga, gateway (pintu gerbang). Pelabuhan, jelas-jelas telah dijadikan sebagai pintu gerbang suatu negara. Yang mana, setiap kapal yang berkunjung harus mematuhi peraturan dan prosedur yang berlaku di daerah di mana pelabuhan tersebut berada.

Melihat ketiga fungsi dari keberadaan pelabuhan tersebut, maka kesehatan pelabuhan menjadi sesuatu yang vital dan urgent untuk ditegakkan. Dan itulah yang mendasari perlunya pengawasan kesehatan di pelabuhan lewat institusi Kantor Kesehatan Pelabuhan (KKP) yang tersebar di seluruh Indonesia.

Saya lewat tulisan di blog ini, secara berseri akan mencoba mendiskusikannya lewat tulisan terkait dunia kesehatan pelabuhan ini. Dan KKP ini adalah lahan pengabdian dan kajian bagi para sanitarian. Bagaimana menurut Anda terkait pelabuhan ini? Saya Tungguh komentar dan tanggapannya di kolom komentar di bawah ini!

Arda Dinata, adalah Penulis Buku Kesehatan Lingkungan (7 Kunci Menuju Indonesia Sehat: Menyehatkan Makanan, Air, Limbah Cair, Limbah Padat, Limbah Medis (B3), Udara, Kesehatan Rumah dan Binatang Pengganggu).


Toko Sosmed
PUSAT EBOOK: KESLING-MOTIVASI-PENGEMBANGAN DIRI-
Miliki Ebook Inspiratif Karya Arda Dinata Di Sini!

Pagi masih tersenyum dalam selimut awan yang meneduhkan. Ombak memecah percikan air lewat bebatuan di bibir pantai pelabuhan. Iramanya lincah bikin betah bermesraan dengan butir-butir air yang dibawa hempasan angin pantai. Aktivitas pelabuhan bikin gairah ekonomi yang melimpah. Dan bila tidak hati-hati dengan kondisi kesehatan sanitasi pelabuhan, maka tidak sedikit penyebaran penyakit dapat berawal dari sini.” (Arda Dinata)

Pelabuhan dan Kesehatan Kita

Oleh Arda Dinata

PELABUHAN bagi saya memiliki pesona keindahan tersendiri. Baik di waktu pagi maupun menjelang senja. Gairahnya dalam segala suasana tetap terjaga. Untuk itu, lindungilah pelabuhan dari hal-hal yang tidak sehat dan merusak pesonanya.
WWW.ARDADINATA.COM

Apalagi, kita tahu Indonesia adalah negara kepulauan. Keberadaan pelabuhan memiliki arti penting bagi Indonesia. Keberadaan pelabuhan ini mendukung kelangsungan sistem transportasi laut yang merupakan sistem transportasi paling besar di Indonesia. Jadi, peran kesehatan pelabuhan ini sangat penting bagi perkembangan sosial dan ekonomi suatu daerah.

Saya menemukan arti pelabuhan dalam catatan glosarium Badan Pusat Statistik (BPS) dan UU No. 17 tahun 2008 tentang Pelayaran. Di situ, pelabuhan diartikan sebagai tempat yang terdiri atas daratan dan/atau perairan dengan batas-batas tertentu sebagai tempat berkegiatan pemerintah dan kegiatan pengusahaan yang dipergunakan sebagai tempat kapal berlabuh, naik turun penumpang dan/atau bongkar muat barang, berupa terminal dan tempat berlabuh kapal yang dilengkapi dengan fasilitas keselamatan dan keamanan pelayaran dan kegiatan penunjang pelabuhan serta sebagai tempat perpindahan intra dan antar moda transportasi.

Mengingat pelabuhan itu sebagai pusat kegiatan pelayanan pelayaran yang meliputi pelayanan terhadap kapal dan muatannya (baik penumpang, barang, dan hewan), maka tidak berlebihan kondisi sanitasi pelabuhan harus jadi perhatian utama kita untuk menjaga kesehatan warga yang berada di wilayah pelabuhan.

Kalau kita telaah, pelabuhan ini secara ekonomi berfungsi sebagai salah satu penggerak roda perekonomian. Ia menjadi fasilitas yang memudahkan distribusi hasil-hasil produksi suatu daerah. Sementera itu, secara sosial adanya pelabuhan ini telah menjadi fasilitas publik. Di sana, ada interaksi antar pengguna (masyarakat), termasuk interaksi perekonomian. Secara lebih luas, pelabuhan merupakan simpul pusat hubungan dari suatu daerah pendukung dan penghubung dengan daerah di luarnya.

Ada tiga fungsi yang dihadirkan dari aktivitas di pelabuhan, yaitu: sebagai link, interface, dan gateway.

Pertama, link (mata rantai). Pelabuhan merupakan salah satu mata rantai proses transportasi dari tempat asal barang ke tempat tujuan.

Kedua, interface (titik temu). Berarti pelabuhan itu dijadikan sebagai tempat pertemuan dua mode transportasi (laut dan darat).

Ketiga, gateway (pintu gerbang). Pelabuhan, jelas-jelas telah dijadikan sebagai pintu gerbang suatu negara. Yang mana, setiap kapal yang berkunjung harus mematuhi peraturan dan prosedur yang berlaku di daerah di mana pelabuhan tersebut berada.

Melihat ketiga fungsi dari keberadaan pelabuhan tersebut, maka kesehatan pelabuhan menjadi sesuatu yang vital dan urgent untuk ditegakkan. Dan itulah yang mendasari perlunya pengawasan kesehatan di pelabuhan lewat institusi Kantor Kesehatan Pelabuhan (KKP) yang tersebar di seluruh Indonesia.

Saya lewat tulisan di blog ini, secara berseri akan mencoba mendiskusikannya lewat tulisan terkait dunia kesehatan pelabuhan ini. Dan KKP ini adalah lahan pengabdian dan kajian bagi para sanitarian. Bagaimana menurut Anda terkait pelabuhan ini? Saya Tungguh komentar dan tanggapannya di kolom komentar di bawah ini!

Arda Dinata, adalah Penulis Buku Kesehatan Lingkungan (7 Kunci Menuju Indonesia Sehat: Menyehatkan Makanan, Air, Limbah Cair, Limbah Padat, Limbah Medis (B3), Udara, Kesehatan Rumah dan Binatang Pengganggu).

Filosofi PHBS
Lihat Detail

Filosofi PHBS


Filosofi PHBS
oleh Arda Dinata

Secara filosofi perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) merupakan sebutan untuk semua perilaku kesehatan yang dilakukan atas kesadaran sehingga anggota keluarga atau keluarga dapat menolong dirinya sendiri di bidang kesehatan dan dapat berperan aktif dalam kegiatan kesehatan di masyarakat. PHBS di rumah tangga ini dilakukan untuk mencapai rumah tangga sehat.

Rumah tangga sehat adalah rumah tangga yang melakukan: 1) persalinan ditolong oleh tenaga kesehatan; 2) memberi ASI ekslusif; 3) menimbang bayi dan balita; 4) menggunakan air bersih; 5) mencuci tangan dengan air bersih dan sabun; 6) menggunakan jamban sehat; 7) memberantas jentik di rumah; 8) makan buah dan sayur setiap hari; 9) melakukan aktivitas fisik setiap hari; 10) tidak merokok di dalam rumah (Kemnekes, 2011). 



Pada konteks kasus Covid-19 ini, perilaku PHBS yang kelima yaitu mencuci tangan dengan air bersih dan sabun tersebut harus dilakukan dalam berbagai kesempatan aktivitas sehari-hari masyarakat untuk memutus mata rantai penularan penyakit tersebut. Hal ini didasarkan pada upaya pencegahan infeksi Covid-19 yang dapat dilakukan dengan cara: hindari menyentuh wajah dengan tangan; sering cuci tangan dengan sabun dan air bersih; pakailah masker, jika Anda demam, batuk, dan pilek atau dalam masa penyembuhan sehabis sakit.

Apalagi berdasarkan hasil penelitian, kondisi perilaku cuci tangan masyarakat Indonesia masih di bawah 50 persen. Gambaran proporsi perilaku cuci tangan dengan benar pada penduduk umur > 10 tahun di Indonesia berdasarkan hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2013 adalah 47 persen dan meningkat pada hasil Riskesdas tahun 2018 menjadi 49,8 persen. Padahal, pedoman pembinaan PHBS ini sudah lama dikeluarkan pemerintah lewat Permenkes RI No. 2269/Menkes/Per/XI/2011.

Untuk itu, budaya PHBS ini masih terus digalakan dan momentum pandemi Covid-19 ini adalah menjadi momentum yang tepat untuk menanamkan budaya cuci tangan dengan air bersih dan sabun tersebut. Padahal, ada perbedaan jumlah angka kuman antara mencuci tangan menggunakan air mengalir, sabun, hand sanitizer, dan tanpa cuci tangan. Cairan pembersih tangan antiseptik (hand sanitizer) efektif terhadap penurunan jumlah angka kuman dan secara deskriptif yang paling efektif adalah hand sanitizer berupa alkohol 60% (Desiyanto & Djannah, 2013). Sedangkan, untuk sampai bisa tertular Covid-19 cukup berhadapan dengan satu pembawa Covid-19. Dan itu berlangsung umumnya di tempat publik (Nadesul, 2020).

Maksud aktivitas cuci tangan dengan benar itu adalah bila perilaku cuci tangan pakai sabun yang dilakukan sebelum menyiapkan makanan, setiap kali tangan kotor (memegang uang, binatang dan berkebun), setelah buang air besar, setelah menceboki bayi/anak, setelah menggunakan pestisida/insektisida, sebelum menyusui bayi dan sebelum makan. Ada tujuh langkah dalam mencuci tangan yang benar, yaitu: telapak bertemu telapak, di sela jari tangan, punggung tangan, jari sebelah luar, kuku, pergelangan tangan, bilas dan keringkan (Kemenkes, 2011).

Di sini, tentu kita perlu disiplin diri dalam membangun kerja sama, pengertian, dan pengorbanan untuk tidak berkegiatan sosial dibutuhkan untuk kepentingan yang lebih besar. Yakni untuk melindungi individu rentan yang memiliki faktor risiko, mengurangi jumlah spreader yang berada di dalam masyarakat. Dan membiasakan gaya hidup bersih dan sehat serta asupan gizi seimbang sehingga terhindar dari berbagai penyakit dan gangguan kesehatan (Pratomo, 2020).

Sudah sepantasnya kasus virus yang menghebohkan dunia seperti SARS, MERS, dan terakhir Covid-19 harusnya kian menyadarkan manusia. Tampaknya ada sesuatu yang salah dengan interaksi antara manusia dengan satwa liar di seputar manusia. Mengutip laporan BBC, perubahan lingkungan dan iklim telah menggusur dan mengubah habitat hewan. Otomatis cara hidup, tempat tinggal, dan pola makan mereka pun berubah. Di sisi lain, cara hidup manusia juga berubah; sekitar 55% populasi manusia kini hidup di kota, meningkat 35% dibanding 50 tahun lalu.

Lalu, dampaknya kota-kota besar ini menyediakan tempat hidup bagi hewan liar seperi tikus, rakun, tupai, rubah, unggas, anjing liar, monyet yang biasa hidup di ruang terbuka hijau dan memakan sampah
yang dihasilkan manusia. Terkadang hewan liar ini lebih sukses hidup di kota dari pada di alam liar karena banyaknya pasokan makanan. Maka ruang kota lantas menjadi tempat pertemuan berbagai penyakit yang berevolusi (Surono, 2020). Jadi, waspadalah dan terus budayakan hidup bersih dan sehat.

Arda Dinata,
Peneliti dan aktif di Himpunan Ahli Kesehatan Lingkungan Indonesia (HAKLI).



Filosofi PHBS
oleh Arda Dinata

Secara filosofi perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) merupakan sebutan untuk semua perilaku kesehatan yang dilakukan atas kesadaran sehingga anggota keluarga atau keluarga dapat menolong dirinya sendiri di bidang kesehatan dan dapat berperan aktif dalam kegiatan kesehatan di masyarakat. PHBS di rumah tangga ini dilakukan untuk mencapai rumah tangga sehat.

Rumah tangga sehat adalah rumah tangga yang melakukan: 1) persalinan ditolong oleh tenaga kesehatan; 2) memberi ASI ekslusif; 3) menimbang bayi dan balita; 4) menggunakan air bersih; 5) mencuci tangan dengan air bersih dan sabun; 6) menggunakan jamban sehat; 7) memberantas jentik di rumah; 8) makan buah dan sayur setiap hari; 9) melakukan aktivitas fisik setiap hari; 10) tidak merokok di dalam rumah (Kemnekes, 2011). 



Pada konteks kasus Covid-19 ini, perilaku PHBS yang kelima yaitu mencuci tangan dengan air bersih dan sabun tersebut harus dilakukan dalam berbagai kesempatan aktivitas sehari-hari masyarakat untuk memutus mata rantai penularan penyakit tersebut. Hal ini didasarkan pada upaya pencegahan infeksi Covid-19 yang dapat dilakukan dengan cara: hindari menyentuh wajah dengan tangan; sering cuci tangan dengan sabun dan air bersih; pakailah masker, jika Anda demam, batuk, dan pilek atau dalam masa penyembuhan sehabis sakit.

Apalagi berdasarkan hasil penelitian, kondisi perilaku cuci tangan masyarakat Indonesia masih di bawah 50 persen. Gambaran proporsi perilaku cuci tangan dengan benar pada penduduk umur > 10 tahun di Indonesia berdasarkan hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2013 adalah 47 persen dan meningkat pada hasil Riskesdas tahun 2018 menjadi 49,8 persen. Padahal, pedoman pembinaan PHBS ini sudah lama dikeluarkan pemerintah lewat Permenkes RI No. 2269/Menkes/Per/XI/2011.

Untuk itu, budaya PHBS ini masih terus digalakan dan momentum pandemi Covid-19 ini adalah menjadi momentum yang tepat untuk menanamkan budaya cuci tangan dengan air bersih dan sabun tersebut. Padahal, ada perbedaan jumlah angka kuman antara mencuci tangan menggunakan air mengalir, sabun, hand sanitizer, dan tanpa cuci tangan. Cairan pembersih tangan antiseptik (hand sanitizer) efektif terhadap penurunan jumlah angka kuman dan secara deskriptif yang paling efektif adalah hand sanitizer berupa alkohol 60% (Desiyanto & Djannah, 2013). Sedangkan, untuk sampai bisa tertular Covid-19 cukup berhadapan dengan satu pembawa Covid-19. Dan itu berlangsung umumnya di tempat publik (Nadesul, 2020).

Maksud aktivitas cuci tangan dengan benar itu adalah bila perilaku cuci tangan pakai sabun yang dilakukan sebelum menyiapkan makanan, setiap kali tangan kotor (memegang uang, binatang dan berkebun), setelah buang air besar, setelah menceboki bayi/anak, setelah menggunakan pestisida/insektisida, sebelum menyusui bayi dan sebelum makan. Ada tujuh langkah dalam mencuci tangan yang benar, yaitu: telapak bertemu telapak, di sela jari tangan, punggung tangan, jari sebelah luar, kuku, pergelangan tangan, bilas dan keringkan (Kemenkes, 2011).

Di sini, tentu kita perlu disiplin diri dalam membangun kerja sama, pengertian, dan pengorbanan untuk tidak berkegiatan sosial dibutuhkan untuk kepentingan yang lebih besar. Yakni untuk melindungi individu rentan yang memiliki faktor risiko, mengurangi jumlah spreader yang berada di dalam masyarakat. Dan membiasakan gaya hidup bersih dan sehat serta asupan gizi seimbang sehingga terhindar dari berbagai penyakit dan gangguan kesehatan (Pratomo, 2020).

Sudah sepantasnya kasus virus yang menghebohkan dunia seperti SARS, MERS, dan terakhir Covid-19 harusnya kian menyadarkan manusia. Tampaknya ada sesuatu yang salah dengan interaksi antara manusia dengan satwa liar di seputar manusia. Mengutip laporan BBC, perubahan lingkungan dan iklim telah menggusur dan mengubah habitat hewan. Otomatis cara hidup, tempat tinggal, dan pola makan mereka pun berubah. Di sisi lain, cara hidup manusia juga berubah; sekitar 55% populasi manusia kini hidup di kota, meningkat 35% dibanding 50 tahun lalu.

Lalu, dampaknya kota-kota besar ini menyediakan tempat hidup bagi hewan liar seperi tikus, rakun, tupai, rubah, unggas, anjing liar, monyet yang biasa hidup di ruang terbuka hijau dan memakan sampah
yang dihasilkan manusia. Terkadang hewan liar ini lebih sukses hidup di kota dari pada di alam liar karena banyaknya pasokan makanan. Maka ruang kota lantas menjadi tempat pertemuan berbagai penyakit yang berevolusi (Surono, 2020). Jadi, waspadalah dan terus budayakan hidup bersih dan sehat.

Arda Dinata,
Peneliti dan aktif di Himpunan Ahli Kesehatan Lingkungan Indonesia (HAKLI).



Filosofi PHBS
oleh Arda Dinata

Secara filosofi perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) merupakan sebutan untuk semua perilaku kesehatan yang dilakukan atas kesadaran sehingga anggota keluarga atau keluarga dapat menolong dirinya sendiri di bidang kesehatan dan dapat berperan aktif dalam kegiatan kesehatan di masyarakat. PHBS di rumah tangga ini dilakukan untuk mencapai rumah tangga sehat.

Rumah tangga sehat adalah rumah tangga yang melakukan: 1) persalinan ditolong oleh tenaga kesehatan; 2) memberi ASI ekslusif; 3) menimbang bayi dan balita; 4) menggunakan air bersih; 5) mencuci tangan dengan air bersih dan sabun; 6) menggunakan jamban sehat; 7) memberantas jentik di rumah; 8) makan buah dan sayur setiap hari; 9) melakukan aktivitas fisik setiap hari; 10) tidak merokok di dalam rumah (Kemnekes, 2011). 



Pada konteks kasus Covid-19 ini, perilaku PHBS yang kelima yaitu mencuci tangan dengan air bersih dan sabun tersebut harus dilakukan dalam berbagai kesempatan aktivitas sehari-hari masyarakat untuk memutus mata rantai penularan penyakit tersebut. Hal ini didasarkan pada upaya pencegahan infeksi Covid-19 yang dapat dilakukan dengan cara: hindari menyentuh wajah dengan tangan; sering cuci tangan dengan sabun dan air bersih; pakailah masker, jika Anda demam, batuk, dan pilek atau dalam masa penyembuhan sehabis sakit.

Apalagi berdasarkan hasil penelitian, kondisi perilaku cuci tangan masyarakat Indonesia masih di bawah 50 persen. Gambaran proporsi perilaku cuci tangan dengan benar pada penduduk umur > 10 tahun di Indonesia berdasarkan hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2013 adalah 47 persen dan meningkat pada hasil Riskesdas tahun 2018 menjadi 49,8 persen. Padahal, pedoman pembinaan PHBS ini sudah lama dikeluarkan pemerintah lewat Permenkes RI No. 2269/Menkes/Per/XI/2011.

Untuk itu, budaya PHBS ini masih terus digalakan dan momentum pandemi Covid-19 ini adalah menjadi momentum yang tepat untuk menanamkan budaya cuci tangan dengan air bersih dan sabun tersebut. Padahal, ada perbedaan jumlah angka kuman antara mencuci tangan menggunakan air mengalir, sabun, hand sanitizer, dan tanpa cuci tangan. Cairan pembersih tangan antiseptik (hand sanitizer) efektif terhadap penurunan jumlah angka kuman dan secara deskriptif yang paling efektif adalah hand sanitizer berupa alkohol 60% (Desiyanto & Djannah, 2013). Sedangkan, untuk sampai bisa tertular Covid-19 cukup berhadapan dengan satu pembawa Covid-19. Dan itu berlangsung umumnya di tempat publik (Nadesul, 2020).

Maksud aktivitas cuci tangan dengan benar itu adalah bila perilaku cuci tangan pakai sabun yang dilakukan sebelum menyiapkan makanan, setiap kali tangan kotor (memegang uang, binatang dan berkebun), setelah buang air besar, setelah menceboki bayi/anak, setelah menggunakan pestisida/insektisida, sebelum menyusui bayi dan sebelum makan. Ada tujuh langkah dalam mencuci tangan yang benar, yaitu: telapak bertemu telapak, di sela jari tangan, punggung tangan, jari sebelah luar, kuku, pergelangan tangan, bilas dan keringkan (Kemenkes, 2011).

Di sini, tentu kita perlu disiplin diri dalam membangun kerja sama, pengertian, dan pengorbanan untuk tidak berkegiatan sosial dibutuhkan untuk kepentingan yang lebih besar. Yakni untuk melindungi individu rentan yang memiliki faktor risiko, mengurangi jumlah spreader yang berada di dalam masyarakat. Dan membiasakan gaya hidup bersih dan sehat serta asupan gizi seimbang sehingga terhindar dari berbagai penyakit dan gangguan kesehatan (Pratomo, 2020).

Sudah sepantasnya kasus virus yang menghebohkan dunia seperti SARS, MERS, dan terakhir Covid-19 harusnya kian menyadarkan manusia. Tampaknya ada sesuatu yang salah dengan interaksi antara manusia dengan satwa liar di seputar manusia. Mengutip laporan BBC, perubahan lingkungan dan iklim telah menggusur dan mengubah habitat hewan. Otomatis cara hidup, tempat tinggal, dan pola makan mereka pun berubah. Di sisi lain, cara hidup manusia juga berubah; sekitar 55% populasi manusia kini hidup di kota, meningkat 35% dibanding 50 tahun lalu.

Lalu, dampaknya kota-kota besar ini menyediakan tempat hidup bagi hewan liar seperi tikus, rakun, tupai, rubah, unggas, anjing liar, monyet yang biasa hidup di ruang terbuka hijau dan memakan sampah
yang dihasilkan manusia. Terkadang hewan liar ini lebih sukses hidup di kota dari pada di alam liar karena banyaknya pasokan makanan. Maka ruang kota lantas menjadi tempat pertemuan berbagai penyakit yang berevolusi (Surono, 2020). Jadi, waspadalah dan terus budayakan hidup bersih dan sehat.

Arda Dinata,
Peneliti dan aktif di Himpunan Ahli Kesehatan Lingkungan Indonesia (HAKLI).



Filosofi PHBS
oleh Arda Dinata

Secara filosofi perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) merupakan sebutan untuk semua perilaku kesehatan yang dilakukan atas kesadaran sehingga anggota keluarga atau keluarga dapat menolong dirinya sendiri di bidang kesehatan dan dapat berperan aktif dalam kegiatan kesehatan di masyarakat. PHBS di rumah tangga ini dilakukan untuk mencapai rumah tangga sehat.

Rumah tangga sehat adalah rumah tangga yang melakukan: 1) persalinan ditolong oleh tenaga kesehatan; 2) memberi ASI ekslusif; 3) menimbang bayi dan balita; 4) menggunakan air bersih; 5) mencuci tangan dengan air bersih dan sabun; 6) menggunakan jamban sehat; 7) memberantas jentik di rumah; 8) makan buah dan sayur setiap hari; 9) melakukan aktivitas fisik setiap hari; 10) tidak merokok di dalam rumah (Kemnekes, 2011). 



Pada konteks kasus Covid-19 ini, perilaku PHBS yang kelima yaitu mencuci tangan dengan air bersih dan sabun tersebut harus dilakukan dalam berbagai kesempatan aktivitas sehari-hari masyarakat untuk memutus mata rantai penularan penyakit tersebut. Hal ini didasarkan pada upaya pencegahan infeksi Covid-19 yang dapat dilakukan dengan cara: hindari menyentuh wajah dengan tangan; sering cuci tangan dengan sabun dan air bersih; pakailah masker, jika Anda demam, batuk, dan pilek atau dalam masa penyembuhan sehabis sakit.

Apalagi berdasarkan hasil penelitian, kondisi perilaku cuci tangan masyarakat Indonesia masih di bawah 50 persen. Gambaran proporsi perilaku cuci tangan dengan benar pada penduduk umur > 10 tahun di Indonesia berdasarkan hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2013 adalah 47 persen dan meningkat pada hasil Riskesdas tahun 2018 menjadi 49,8 persen. Padahal, pedoman pembinaan PHBS ini sudah lama dikeluarkan pemerintah lewat Permenkes RI No. 2269/Menkes/Per/XI/2011.

Untuk itu, budaya PHBS ini masih terus digalakan dan momentum pandemi Covid-19 ini adalah menjadi momentum yang tepat untuk menanamkan budaya cuci tangan dengan air bersih dan sabun tersebut. Padahal, ada perbedaan jumlah angka kuman antara mencuci tangan menggunakan air mengalir, sabun, hand sanitizer, dan tanpa cuci tangan. Cairan pembersih tangan antiseptik (hand sanitizer) efektif terhadap penurunan jumlah angka kuman dan secara deskriptif yang paling efektif adalah hand sanitizer berupa alkohol 60% (Desiyanto & Djannah, 2013). Sedangkan, untuk sampai bisa tertular Covid-19 cukup berhadapan dengan satu pembawa Covid-19. Dan itu berlangsung umumnya di tempat publik (Nadesul, 2020).

Maksud aktivitas cuci tangan dengan benar itu adalah bila perilaku cuci tangan pakai sabun yang dilakukan sebelum menyiapkan makanan, setiap kali tangan kotor (memegang uang, binatang dan berkebun), setelah buang air besar, setelah menceboki bayi/anak, setelah menggunakan pestisida/insektisida, sebelum menyusui bayi dan sebelum makan. Ada tujuh langkah dalam mencuci tangan yang benar, yaitu: telapak bertemu telapak, di sela jari tangan, punggung tangan, jari sebelah luar, kuku, pergelangan tangan, bilas dan keringkan (Kemenkes, 2011).

Di sini, tentu kita perlu disiplin diri dalam membangun kerja sama, pengertian, dan pengorbanan untuk tidak berkegiatan sosial dibutuhkan untuk kepentingan yang lebih besar. Yakni untuk melindungi individu rentan yang memiliki faktor risiko, mengurangi jumlah spreader yang berada di dalam masyarakat. Dan membiasakan gaya hidup bersih dan sehat serta asupan gizi seimbang sehingga terhindar dari berbagai penyakit dan gangguan kesehatan (Pratomo, 2020).

Sudah sepantasnya kasus virus yang menghebohkan dunia seperti SARS, MERS, dan terakhir Covid-19 harusnya kian menyadarkan manusia. Tampaknya ada sesuatu yang salah dengan interaksi antara manusia dengan satwa liar di seputar manusia. Mengutip laporan BBC, perubahan lingkungan dan iklim telah menggusur dan mengubah habitat hewan. Otomatis cara hidup, tempat tinggal, dan pola makan mereka pun berubah. Di sisi lain, cara hidup manusia juga berubah; sekitar 55% populasi manusia kini hidup di kota, meningkat 35% dibanding 50 tahun lalu.

Lalu, dampaknya kota-kota besar ini menyediakan tempat hidup bagi hewan liar seperi tikus, rakun, tupai, rubah, unggas, anjing liar, monyet yang biasa hidup di ruang terbuka hijau dan memakan sampah
yang dihasilkan manusia. Terkadang hewan liar ini lebih sukses hidup di kota dari pada di alam liar karena banyaknya pasokan makanan. Maka ruang kota lantas menjadi tempat pertemuan berbagai penyakit yang berevolusi (Surono, 2020). Jadi, waspadalah dan terus budayakan hidup bersih dan sehat.

Arda Dinata,
Peneliti dan aktif di Himpunan Ahli Kesehatan Lingkungan Indonesia (HAKLI).



Filosofi PHBS
oleh Arda Dinata

Secara filosofi perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) merupakan sebutan untuk semua perilaku kesehatan yang dilakukan atas kesadaran sehingga anggota keluarga atau keluarga dapat menolong dirinya sendiri di bidang kesehatan dan dapat berperan aktif dalam kegiatan kesehatan di masyarakat. PHBS di rumah tangga ini dilakukan untuk mencapai rumah tangga sehat.

Rumah tangga sehat adalah rumah tangga yang melakukan: 1) persalinan ditolong oleh tenaga kesehatan; 2) memberi ASI ekslusif; 3) menimbang bayi dan balita; 4) menggunakan air bersih; 5) mencuci tangan dengan air bersih dan sabun; 6) menggunakan jamban sehat; 7) memberantas jentik di rumah; 8) makan buah dan sayur setiap hari; 9) melakukan aktivitas fisik setiap hari; 10) tidak merokok di dalam rumah (Kemnekes, 2011). 



Pada konteks kasus Covid-19 ini, perilaku PHBS yang kelima yaitu mencuci tangan dengan air bersih dan sabun tersebut harus dilakukan dalam berbagai kesempatan aktivitas sehari-hari masyarakat untuk memutus mata rantai penularan penyakit tersebut. Hal ini didasarkan pada upaya pencegahan infeksi Covid-19 yang dapat dilakukan dengan cara: hindari menyentuh wajah dengan tangan; sering cuci tangan dengan sabun dan air bersih; pakailah masker, jika Anda demam, batuk, dan pilek atau dalam masa penyembuhan sehabis sakit.

Apalagi berdasarkan hasil penelitian, kondisi perilaku cuci tangan masyarakat Indonesia masih di bawah 50 persen. Gambaran proporsi perilaku cuci tangan dengan benar pada penduduk umur > 10 tahun di Indonesia berdasarkan hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2013 adalah 47 persen dan meningkat pada hasil Riskesdas tahun 2018 menjadi 49,8 persen. Padahal, pedoman pembinaan PHBS ini sudah lama dikeluarkan pemerintah lewat Permenkes RI No. 2269/Menkes/Per/XI/2011.

Untuk itu, budaya PHBS ini masih terus digalakan dan momentum pandemi Covid-19 ini adalah menjadi momentum yang tepat untuk menanamkan budaya cuci tangan dengan air bersih dan sabun tersebut. Padahal, ada perbedaan jumlah angka kuman antara mencuci tangan menggunakan air mengalir, sabun, hand sanitizer, dan tanpa cuci tangan. Cairan pembersih tangan antiseptik (hand sanitizer) efektif terhadap penurunan jumlah angka kuman dan secara deskriptif yang paling efektif adalah hand sanitizer berupa alkohol 60% (Desiyanto & Djannah, 2013). Sedangkan, untuk sampai bisa tertular Covid-19 cukup berhadapan dengan satu pembawa Covid-19. Dan itu berlangsung umumnya di tempat publik (Nadesul, 2020).

Maksud aktivitas cuci tangan dengan benar itu adalah bila perilaku cuci tangan pakai sabun yang dilakukan sebelum menyiapkan makanan, setiap kali tangan kotor (memegang uang, binatang dan berkebun), setelah buang air besar, setelah menceboki bayi/anak, setelah menggunakan pestisida/insektisida, sebelum menyusui bayi dan sebelum makan. Ada tujuh langkah dalam mencuci tangan yang benar, yaitu: telapak bertemu telapak, di sela jari tangan, punggung tangan, jari sebelah luar, kuku, pergelangan tangan, bilas dan keringkan (Kemenkes, 2011).

Di sini, tentu kita perlu disiplin diri dalam membangun kerja sama, pengertian, dan pengorbanan untuk tidak berkegiatan sosial dibutuhkan untuk kepentingan yang lebih besar. Yakni untuk melindungi individu rentan yang memiliki faktor risiko, mengurangi jumlah spreader yang berada di dalam masyarakat. Dan membiasakan gaya hidup bersih dan sehat serta asupan gizi seimbang sehingga terhindar dari berbagai penyakit dan gangguan kesehatan (Pratomo, 2020).

Sudah sepantasnya kasus virus yang menghebohkan dunia seperti SARS, MERS, dan terakhir Covid-19 harusnya kian menyadarkan manusia. Tampaknya ada sesuatu yang salah dengan interaksi antara manusia dengan satwa liar di seputar manusia. Mengutip laporan BBC, perubahan lingkungan dan iklim telah menggusur dan mengubah habitat hewan. Otomatis cara hidup, tempat tinggal, dan pola makan mereka pun berubah. Di sisi lain, cara hidup manusia juga berubah; sekitar 55% populasi manusia kini hidup di kota, meningkat 35% dibanding 50 tahun lalu.

Lalu, dampaknya kota-kota besar ini menyediakan tempat hidup bagi hewan liar seperi tikus, rakun, tupai, rubah, unggas, anjing liar, monyet yang biasa hidup di ruang terbuka hijau dan memakan sampah
yang dihasilkan manusia. Terkadang hewan liar ini lebih sukses hidup di kota dari pada di alam liar karena banyaknya pasokan makanan. Maka ruang kota lantas menjadi tempat pertemuan berbagai penyakit yang berevolusi (Surono, 2020). Jadi, waspadalah dan terus budayakan hidup bersih dan sehat.

Arda Dinata,
Peneliti dan aktif di Himpunan Ahli Kesehatan Lingkungan Indonesia (HAKLI).



Filosofi PHBS
oleh Arda Dinata

Secara filosofi perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) merupakan sebutan untuk semua perilaku kesehatan yang dilakukan atas kesadaran sehingga anggota keluarga atau keluarga dapat menolong dirinya sendiri di bidang kesehatan dan dapat berperan aktif dalam kegiatan kesehatan di masyarakat. PHBS di rumah tangga ini dilakukan untuk mencapai rumah tangga sehat.

Rumah tangga sehat adalah rumah tangga yang melakukan: 1) persalinan ditolong oleh tenaga kesehatan; 2) memberi ASI ekslusif; 3) menimbang bayi dan balita; 4) menggunakan air bersih; 5) mencuci tangan dengan air bersih dan sabun; 6) menggunakan jamban sehat; 7) memberantas jentik di rumah; 8) makan buah dan sayur setiap hari; 9) melakukan aktivitas fisik setiap hari; 10) tidak merokok di dalam rumah (Kemnekes, 2011). 



Pada konteks kasus Covid-19 ini, perilaku PHBS yang kelima yaitu mencuci tangan dengan air bersih dan sabun tersebut harus dilakukan dalam berbagai kesempatan aktivitas sehari-hari masyarakat untuk memutus mata rantai penularan penyakit tersebut. Hal ini didasarkan pada upaya pencegahan infeksi Covid-19 yang dapat dilakukan dengan cara: hindari menyentuh wajah dengan tangan; sering cuci tangan dengan sabun dan air bersih; pakailah masker, jika Anda demam, batuk, dan pilek atau dalam masa penyembuhan sehabis sakit.

Apalagi berdasarkan hasil penelitian, kondisi perilaku cuci tangan masyarakat Indonesia masih di bawah 50 persen. Gambaran proporsi perilaku cuci tangan dengan benar pada penduduk umur > 10 tahun di Indonesia berdasarkan hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2013 adalah 47 persen dan meningkat pada hasil Riskesdas tahun 2018 menjadi 49,8 persen. Padahal, pedoman pembinaan PHBS ini sudah lama dikeluarkan pemerintah lewat Permenkes RI No. 2269/Menkes/Per/XI/2011.

Untuk itu, budaya PHBS ini masih terus digalakan dan momentum pandemi Covid-19 ini adalah menjadi momentum yang tepat untuk menanamkan budaya cuci tangan dengan air bersih dan sabun tersebut. Padahal, ada perbedaan jumlah angka kuman antara mencuci tangan menggunakan air mengalir, sabun, hand sanitizer, dan tanpa cuci tangan. Cairan pembersih tangan antiseptik (hand sanitizer) efektif terhadap penurunan jumlah angka kuman dan secara deskriptif yang paling efektif adalah hand sanitizer berupa alkohol 60% (Desiyanto & Djannah, 2013). Sedangkan, untuk sampai bisa tertular Covid-19 cukup berhadapan dengan satu pembawa Covid-19. Dan itu berlangsung umumnya di tempat publik (Nadesul, 2020).

Maksud aktivitas cuci tangan dengan benar itu adalah bila perilaku cuci tangan pakai sabun yang dilakukan sebelum menyiapkan makanan, setiap kali tangan kotor (memegang uang, binatang dan berkebun), setelah buang air besar, setelah menceboki bayi/anak, setelah menggunakan pestisida/insektisida, sebelum menyusui bayi dan sebelum makan. Ada tujuh langkah dalam mencuci tangan yang benar, yaitu: telapak bertemu telapak, di sela jari tangan, punggung tangan, jari sebelah luar, kuku, pergelangan tangan, bilas dan keringkan (Kemenkes, 2011).

Di sini, tentu kita perlu disiplin diri dalam membangun kerja sama, pengertian, dan pengorbanan untuk tidak berkegiatan sosial dibutuhkan untuk kepentingan yang lebih besar. Yakni untuk melindungi individu rentan yang memiliki faktor risiko, mengurangi jumlah spreader yang berada di dalam masyarakat. Dan membiasakan gaya hidup bersih dan sehat serta asupan gizi seimbang sehingga terhindar dari berbagai penyakit dan gangguan kesehatan (Pratomo, 2020).

Sudah sepantasnya kasus virus yang menghebohkan dunia seperti SARS, MERS, dan terakhir Covid-19 harusnya kian menyadarkan manusia. Tampaknya ada sesuatu yang salah dengan interaksi antara manusia dengan satwa liar di seputar manusia. Mengutip laporan BBC, perubahan lingkungan dan iklim telah menggusur dan mengubah habitat hewan. Otomatis cara hidup, tempat tinggal, dan pola makan mereka pun berubah. Di sisi lain, cara hidup manusia juga berubah; sekitar 55% populasi manusia kini hidup di kota, meningkat 35% dibanding 50 tahun lalu.

Lalu, dampaknya kota-kota besar ini menyediakan tempat hidup bagi hewan liar seperi tikus, rakun, tupai, rubah, unggas, anjing liar, monyet yang biasa hidup di ruang terbuka hijau dan memakan sampah
yang dihasilkan manusia. Terkadang hewan liar ini lebih sukses hidup di kota dari pada di alam liar karena banyaknya pasokan makanan. Maka ruang kota lantas menjadi tempat pertemuan berbagai penyakit yang berevolusi (Surono, 2020). Jadi, waspadalah dan terus budayakan hidup bersih dan sehat.

Arda Dinata,
Peneliti dan aktif di Himpunan Ahli Kesehatan Lingkungan Indonesia (HAKLI).



Filosofi PHBS
oleh Arda Dinata

Secara filosofi perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) merupakan sebutan untuk semua perilaku kesehatan yang dilakukan atas kesadaran sehingga anggota keluarga atau keluarga dapat menolong dirinya sendiri di bidang kesehatan dan dapat berperan aktif dalam kegiatan kesehatan di masyarakat. PHBS di rumah tangga ini dilakukan untuk mencapai rumah tangga sehat.

Rumah tangga sehat adalah rumah tangga yang melakukan: 1) persalinan ditolong oleh tenaga kesehatan; 2) memberi ASI ekslusif; 3) menimbang bayi dan balita; 4) menggunakan air bersih; 5) mencuci tangan dengan air bersih dan sabun; 6) menggunakan jamban sehat; 7) memberantas jentik di rumah; 8) makan buah dan sayur setiap hari; 9) melakukan aktivitas fisik setiap hari; 10) tidak merokok di dalam rumah (Kemnekes, 2011). 



Pada konteks kasus Covid-19 ini, perilaku PHBS yang kelima yaitu mencuci tangan dengan air bersih dan sabun tersebut harus dilakukan dalam berbagai kesempatan aktivitas sehari-hari masyarakat untuk memutus mata rantai penularan penyakit tersebut. Hal ini didasarkan pada upaya pencegahan infeksi Covid-19 yang dapat dilakukan dengan cara: hindari menyentuh wajah dengan tangan; sering cuci tangan dengan sabun dan air bersih; pakailah masker, jika Anda demam, batuk, dan pilek atau dalam masa penyembuhan sehabis sakit.

Apalagi berdasarkan hasil penelitian, kondisi perilaku cuci tangan masyarakat Indonesia masih di bawah 50 persen. Gambaran proporsi perilaku cuci tangan dengan benar pada penduduk umur > 10 tahun di Indonesia berdasarkan hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2013 adalah 47 persen dan meningkat pada hasil Riskesdas tahun 2018 menjadi 49,8 persen. Padahal, pedoman pembinaan PHBS ini sudah lama dikeluarkan pemerintah lewat Permenkes RI No. 2269/Menkes/Per/XI/2011.

Untuk itu, budaya PHBS ini masih terus digalakan dan momentum pandemi Covid-19 ini adalah menjadi momentum yang tepat untuk menanamkan budaya cuci tangan dengan air bersih dan sabun tersebut. Padahal, ada perbedaan jumlah angka kuman antara mencuci tangan menggunakan air mengalir, sabun, hand sanitizer, dan tanpa cuci tangan. Cairan pembersih tangan antiseptik (hand sanitizer) efektif terhadap penurunan jumlah angka kuman dan secara deskriptif yang paling efektif adalah hand sanitizer berupa alkohol 60% (Desiyanto & Djannah, 2013). Sedangkan, untuk sampai bisa tertular Covid-19 cukup berhadapan dengan satu pembawa Covid-19. Dan itu berlangsung umumnya di tempat publik (Nadesul, 2020).

Maksud aktivitas cuci tangan dengan benar itu adalah bila perilaku cuci tangan pakai sabun yang dilakukan sebelum menyiapkan makanan, setiap kali tangan kotor (memegang uang, binatang dan berkebun), setelah buang air besar, setelah menceboki bayi/anak, setelah menggunakan pestisida/insektisida, sebelum menyusui bayi dan sebelum makan. Ada tujuh langkah dalam mencuci tangan yang benar, yaitu: telapak bertemu telapak, di sela jari tangan, punggung tangan, jari sebelah luar, kuku, pergelangan tangan, bilas dan keringkan (Kemenkes, 2011).

Di sini, tentu kita perlu disiplin diri dalam membangun kerja sama, pengertian, dan pengorbanan untuk tidak berkegiatan sosial dibutuhkan untuk kepentingan yang lebih besar. Yakni untuk melindungi individu rentan yang memiliki faktor risiko, mengurangi jumlah spreader yang berada di dalam masyarakat. Dan membiasakan gaya hidup bersih dan sehat serta asupan gizi seimbang sehingga terhindar dari berbagai penyakit dan gangguan kesehatan (Pratomo, 2020).

Sudah sepantasnya kasus virus yang menghebohkan dunia seperti SARS, MERS, dan terakhir Covid-19 harusnya kian menyadarkan manusia. Tampaknya ada sesuatu yang salah dengan interaksi antara manusia dengan satwa liar di seputar manusia. Mengutip laporan BBC, perubahan lingkungan dan iklim telah menggusur dan mengubah habitat hewan. Otomatis cara hidup, tempat tinggal, dan pola makan mereka pun berubah. Di sisi lain, cara hidup manusia juga berubah; sekitar 55% populasi manusia kini hidup di kota, meningkat 35% dibanding 50 tahun lalu.

Lalu, dampaknya kota-kota besar ini menyediakan tempat hidup bagi hewan liar seperi tikus, rakun, tupai, rubah, unggas, anjing liar, monyet yang biasa hidup di ruang terbuka hijau dan memakan sampah
yang dihasilkan manusia. Terkadang hewan liar ini lebih sukses hidup di kota dari pada di alam liar karena banyaknya pasokan makanan. Maka ruang kota lantas menjadi tempat pertemuan berbagai penyakit yang berevolusi (Surono, 2020). Jadi, waspadalah dan terus budayakan hidup bersih dan sehat.

Arda Dinata,
Peneliti dan aktif di Himpunan Ahli Kesehatan Lingkungan Indonesia (HAKLI).



Filosofi PHBS
oleh Arda Dinata

Secara filosofi perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) merupakan sebutan untuk semua perilaku kesehatan yang dilakukan atas kesadaran sehingga anggota keluarga atau keluarga dapat menolong dirinya sendiri di bidang kesehatan dan dapat berperan aktif dalam kegiatan kesehatan di masyarakat. PHBS di rumah tangga ini dilakukan untuk mencapai rumah tangga sehat.

Rumah tangga sehat adalah rumah tangga yang melakukan: 1) persalinan ditolong oleh tenaga kesehatan; 2) memberi ASI ekslusif; 3) menimbang bayi dan balita; 4) menggunakan air bersih; 5) mencuci tangan dengan air bersih dan sabun; 6) menggunakan jamban sehat; 7) memberantas jentik di rumah; 8) makan buah dan sayur setiap hari; 9) melakukan aktivitas fisik setiap hari; 10) tidak merokok di dalam rumah (Kemnekes, 2011). 



Pada konteks kasus Covid-19 ini, perilaku PHBS yang kelima yaitu mencuci tangan dengan air bersih dan sabun tersebut harus dilakukan dalam berbagai kesempatan aktivitas sehari-hari masyarakat untuk memutus mata rantai penularan penyakit tersebut. Hal ini didasarkan pada upaya pencegahan infeksi Covid-19 yang dapat dilakukan dengan cara: hindari menyentuh wajah dengan tangan; sering cuci tangan dengan sabun dan air bersih; pakailah masker, jika Anda demam, batuk, dan pilek atau dalam masa penyembuhan sehabis sakit.

Apalagi berdasarkan hasil penelitian, kondisi perilaku cuci tangan masyarakat Indonesia masih di bawah 50 persen. Gambaran proporsi perilaku cuci tangan dengan benar pada penduduk umur > 10 tahun di Indonesia berdasarkan hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2013 adalah 47 persen dan meningkat pada hasil Riskesdas tahun 2018 menjadi 49,8 persen. Padahal, pedoman pembinaan PHBS ini sudah lama dikeluarkan pemerintah lewat Permenkes RI No. 2269/Menkes/Per/XI/2011.

Untuk itu, budaya PHBS ini masih terus digalakan dan momentum pandemi Covid-19 ini adalah menjadi momentum yang tepat untuk menanamkan budaya cuci tangan dengan air bersih dan sabun tersebut. Padahal, ada perbedaan jumlah angka kuman antara mencuci tangan menggunakan air mengalir, sabun, hand sanitizer, dan tanpa cuci tangan. Cairan pembersih tangan antiseptik (hand sanitizer) efektif terhadap penurunan jumlah angka kuman dan secara deskriptif yang paling efektif adalah hand sanitizer berupa alkohol 60% (Desiyanto & Djannah, 2013). Sedangkan, untuk sampai bisa tertular Covid-19 cukup berhadapan dengan satu pembawa Covid-19. Dan itu berlangsung umumnya di tempat publik (Nadesul, 2020).

Maksud aktivitas cuci tangan dengan benar itu adalah bila perilaku cuci tangan pakai sabun yang dilakukan sebelum menyiapkan makanan, setiap kali tangan kotor (memegang uang, binatang dan berkebun), setelah buang air besar, setelah menceboki bayi/anak, setelah menggunakan pestisida/insektisida, sebelum menyusui bayi dan sebelum makan. Ada tujuh langkah dalam mencuci tangan yang benar, yaitu: telapak bertemu telapak, di sela jari tangan, punggung tangan, jari sebelah luar, kuku, pergelangan tangan, bilas dan keringkan (Kemenkes, 2011).

Di sini, tentu kita perlu disiplin diri dalam membangun kerja sama, pengertian, dan pengorbanan untuk tidak berkegiatan sosial dibutuhkan untuk kepentingan yang lebih besar. Yakni untuk melindungi individu rentan yang memiliki faktor risiko, mengurangi jumlah spreader yang berada di dalam masyarakat. Dan membiasakan gaya hidup bersih dan sehat serta asupan gizi seimbang sehingga terhindar dari berbagai penyakit dan gangguan kesehatan (Pratomo, 2020).

Sudah sepantasnya kasus virus yang menghebohkan dunia seperti SARS, MERS, dan terakhir Covid-19 harusnya kian menyadarkan manusia. Tampaknya ada sesuatu yang salah dengan interaksi antara manusia dengan satwa liar di seputar manusia. Mengutip laporan BBC, perubahan lingkungan dan iklim telah menggusur dan mengubah habitat hewan. Otomatis cara hidup, tempat tinggal, dan pola makan mereka pun berubah. Di sisi lain, cara hidup manusia juga berubah; sekitar 55% populasi manusia kini hidup di kota, meningkat 35% dibanding 50 tahun lalu.

Lalu, dampaknya kota-kota besar ini menyediakan tempat hidup bagi hewan liar seperi tikus, rakun, tupai, rubah, unggas, anjing liar, monyet yang biasa hidup di ruang terbuka hijau dan memakan sampah
yang dihasilkan manusia. Terkadang hewan liar ini lebih sukses hidup di kota dari pada di alam liar karena banyaknya pasokan makanan. Maka ruang kota lantas menjadi tempat pertemuan berbagai penyakit yang berevolusi (Surono, 2020). Jadi, waspadalah dan terus budayakan hidup bersih dan sehat.

Arda Dinata,
Peneliti dan aktif di Himpunan Ahli Kesehatan Lingkungan Indonesia (HAKLI).


Keputusan Baru Tentang Registrasi Keanggotaan HAKLI, Kartu Anggota dan Iuran Anggota
Lihat Detail

Keputusan Baru Tentang Registrasi Keanggotaan HAKLI, Kartu Anggota dan Iuran Anggota


Pengurus Pusat HAKLI telah meluarkan keputusan terbaru terkait registrasi online yang patut diketahui oleh semua warga Sanitarian Indonesia. Silahkam diunduh, dibaca dan disimak aturannya agar menjadi pedoman berorganisasi.

Prof. Dr. H. Arif Sumantri, SKM, M. Kes
Ketua Umum Pengurus Pusat HAKLI
Pengurus Pusat Himpunan Ahli Kesehatan Lingkungan Indonesia (HAKLI) mengeluarkan Keputusan baru tentang Registrasi Keanggotaan HAKLI, Kartu Anggota dan Iuran Anggota, hal tersebut tertuang dalam Keputusan Nomor: 006/SK/PP-HAKLI/I/2020 Tanggal 28 Januari 2020 (Download SK Terbaru disini). Keputusan yang ditanda tangani Ketua Umum, Prof. Dr. H. Arif Sumantri, SKM, M. Kes tersebut memuat beberapa perubahan, yang tercantum dalam keputusan tersebut diantaranya, yaitu:



Pertama, calon anggota HAKLI dapat menjadi anggota HAKLI dengan cara mendaftarkan diri secara online pada system informasi manajemen keanggotaan HAKLI melalui Website resmi PP HAKLI; http://www.hakli.or.id

Kedua, calon anggota yang telah mendaftar akan di verifikasi oleh Pengurus HAKLI Cabang, Provinsi maupun Pusat yang berwenang menjadi verifikator berdasarkan Surat Keputusan Ketua Umum PP HAKLI, apabila anggota memenuhi syarat, maka anggota akan mendapatkan Billing pembayaran dari Bank BNI 46 selaku Bank mitra HAKLI dan nomor Virtual Account.

Melalui rekening virtual account tersebut calon anggota wajib melakukan pembayaran uang pangkal yang dibayarkan 1 (satu) kaliseumur hidup pada saat mendaftarkan diri sebagaii calon anggota HAKLI. Iuran anggota dibayarkan per enam bulan sekali dan uang pembuatan kartu tanda anggota yang dibayarkan lima tahun sekali melalui rekening virtual account.

Selanjutnya calon anggota yang telah melakukan pembayaran kewajibannya akan mendapatkan user ID dan password yang dikirim melalui email calon anggota. Dengan user ID dan password tersebut dapat memperoleh fasilitas penggunaan aplikasi keanggotaan dan portofolio SKP serta soft copy kartu anggota baru HAKLI. Adapun print out Kartu Tanda Anggota HAKLI akan diserahkan kepada anggota secara kolektif oleh Pengurus HAKLI Provinsi masing-masing .

Adapun bagi anggota baru yang ingin mendapatkan Surat Tanda Registrasi (STR) tenaga kesehatan dapat menggunakan user ID dan password yang diperoleh dapat mengunduh template Surat Patuh Etik yang harus diisi sebagai salah satu persyaratan yang akan dilampirkan atau diunggah untuk mendapatkan STR.

Dengan dikeluarkannya keputusan terbaru maka Surat Keputusan PP HAKLI dengan Nomor 0223/SK/PP-HAKLI/VII/2016 Tanggal 1 Juli 2016 yang ada sebelumnya tidak berlaku lagi. 
(Sumber: haklilampung.or.id)

Pengurus Pusat HAKLI telah meluarkan keputusan terbaru terkait registrasi online yang patut diketahui oleh semua warga Sanitarian Indonesia. Silahkam diunduh, dibaca dan disimak aturannya agar menjadi pedoman berorganisasi.

Prof. Dr. H. Arif Sumantri, SKM, M. Kes
Ketua Umum Pengurus Pusat HAKLI
Pengurus Pusat Himpunan Ahli Kesehatan Lingkungan Indonesia (HAKLI) mengeluarkan Keputusan baru tentang Registrasi Keanggotaan HAKLI, Kartu Anggota dan Iuran Anggota, hal tersebut tertuang dalam Keputusan Nomor: 006/SK/PP-HAKLI/I/2020 Tanggal 28 Januari 2020 (Download SK Terbaru disini). Keputusan yang ditanda tangani Ketua Umum, Prof. Dr. H. Arif Sumantri, SKM, M. Kes tersebut memuat beberapa perubahan, yang tercantum dalam keputusan tersebut diantaranya, yaitu:



Pertama, calon anggota HAKLI dapat menjadi anggota HAKLI dengan cara mendaftarkan diri secara online pada system informasi manajemen keanggotaan HAKLI melalui Website resmi PP HAKLI; http://www.hakli.or.id

Kedua, calon anggota yang telah mendaftar akan di verifikasi oleh Pengurus HAKLI Cabang, Provinsi maupun Pusat yang berwenang menjadi verifikator berdasarkan Surat Keputusan Ketua Umum PP HAKLI, apabila anggota memenuhi syarat, maka anggota akan mendapatkan Billing pembayaran dari Bank BNI 46 selaku Bank mitra HAKLI dan nomor Virtual Account.

Melalui rekening virtual account tersebut calon anggota wajib melakukan pembayaran uang pangkal yang dibayarkan 1 (satu) kaliseumur hidup pada saat mendaftarkan diri sebagaii calon anggota HAKLI. Iuran anggota dibayarkan per enam bulan sekali dan uang pembuatan kartu tanda anggota yang dibayarkan lima tahun sekali melalui rekening virtual account.

Selanjutnya calon anggota yang telah melakukan pembayaran kewajibannya akan mendapatkan user ID dan password yang dikirim melalui email calon anggota. Dengan user ID dan password tersebut dapat memperoleh fasilitas penggunaan aplikasi keanggotaan dan portofolio SKP serta soft copy kartu anggota baru HAKLI. Adapun print out Kartu Tanda Anggota HAKLI akan diserahkan kepada anggota secara kolektif oleh Pengurus HAKLI Provinsi masing-masing .

Adapun bagi anggota baru yang ingin mendapatkan Surat Tanda Registrasi (STR) tenaga kesehatan dapat menggunakan user ID dan password yang diperoleh dapat mengunduh template Surat Patuh Etik yang harus diisi sebagai salah satu persyaratan yang akan dilampirkan atau diunggah untuk mendapatkan STR.

Dengan dikeluarkannya keputusan terbaru maka Surat Keputusan PP HAKLI dengan Nomor 0223/SK/PP-HAKLI/VII/2016 Tanggal 1 Juli 2016 yang ada sebelumnya tidak berlaku lagi. 
(Sumber: haklilampung.or.id)

Pengurus Pusat HAKLI telah meluarkan keputusan terbaru terkait registrasi online yang patut diketahui oleh semua warga Sanitarian Indonesia. Silahkam diunduh, dibaca dan disimak aturannya agar menjadi pedoman berorganisasi.

Prof. Dr. H. Arif Sumantri, SKM, M. Kes
Ketua Umum Pengurus Pusat HAKLI
Pengurus Pusat Himpunan Ahli Kesehatan Lingkungan Indonesia (HAKLI) mengeluarkan Keputusan baru tentang Registrasi Keanggotaan HAKLI, Kartu Anggota dan Iuran Anggota, hal tersebut tertuang dalam Keputusan Nomor: 006/SK/PP-HAKLI/I/2020 Tanggal 28 Januari 2020 (Download SK Terbaru disini). Keputusan yang ditanda tangani Ketua Umum, Prof. Dr. H. Arif Sumantri, SKM, M. Kes tersebut memuat beberapa perubahan, yang tercantum dalam keputusan tersebut diantaranya, yaitu:



Pertama, calon anggota HAKLI dapat menjadi anggota HAKLI dengan cara mendaftarkan diri secara online pada system informasi manajemen keanggotaan HAKLI melalui Website resmi PP HAKLI; http://www.hakli.or.id

Kedua, calon anggota yang telah mendaftar akan di verifikasi oleh Pengurus HAKLI Cabang, Provinsi maupun Pusat yang berwenang menjadi verifikator berdasarkan Surat Keputusan Ketua Umum PP HAKLI, apabila anggota memenuhi syarat, maka anggota akan mendapatkan Billing pembayaran dari Bank BNI 46 selaku Bank mitra HAKLI dan nomor Virtual Account.

Melalui rekening virtual account tersebut calon anggota wajib melakukan pembayaran uang pangkal yang dibayarkan 1 (satu) kaliseumur hidup pada saat mendaftarkan diri sebagaii calon anggota HAKLI. Iuran anggota dibayarkan per enam bulan sekali dan uang pembuatan kartu tanda anggota yang dibayarkan lima tahun sekali melalui rekening virtual account.

Selanjutnya calon anggota yang telah melakukan pembayaran kewajibannya akan mendapatkan user ID dan password yang dikirim melalui email calon anggota. Dengan user ID dan password tersebut dapat memperoleh fasilitas penggunaan aplikasi keanggotaan dan portofolio SKP serta soft copy kartu anggota baru HAKLI. Adapun print out Kartu Tanda Anggota HAKLI akan diserahkan kepada anggota secara kolektif oleh Pengurus HAKLI Provinsi masing-masing .

Adapun bagi anggota baru yang ingin mendapatkan Surat Tanda Registrasi (STR) tenaga kesehatan dapat menggunakan user ID dan password yang diperoleh dapat mengunduh template Surat Patuh Etik yang harus diisi sebagai salah satu persyaratan yang akan dilampirkan atau diunggah untuk mendapatkan STR.

Dengan dikeluarkannya keputusan terbaru maka Surat Keputusan PP HAKLI dengan Nomor 0223/SK/PP-HAKLI/VII/2016 Tanggal 1 Juli 2016 yang ada sebelumnya tidak berlaku lagi. 
(Sumber: haklilampung.or.id)

Pengurus Pusat HAKLI telah meluarkan keputusan terbaru terkait registrasi online yang patut diketahui oleh semua warga Sanitarian Indonesia. Silahkam diunduh, dibaca dan disimak aturannya agar menjadi pedoman berorganisasi.

Prof. Dr. H. Arif Sumantri, SKM, M. Kes
Ketua Umum Pengurus Pusat HAKLI
Pengurus Pusat Himpunan Ahli Kesehatan Lingkungan Indonesia (HAKLI) mengeluarkan Keputusan baru tentang Registrasi Keanggotaan HAKLI, Kartu Anggota dan Iuran Anggota, hal tersebut tertuang dalam Keputusan Nomor: 006/SK/PP-HAKLI/I/2020 Tanggal 28 Januari 2020 (Download SK Terbaru disini). Keputusan yang ditanda tangani Ketua Umum, Prof. Dr. H. Arif Sumantri, SKM, M. Kes tersebut memuat beberapa perubahan, yang tercantum dalam keputusan tersebut diantaranya, yaitu:



Pertama, calon anggota HAKLI dapat menjadi anggota HAKLI dengan cara mendaftarkan diri secara online pada system informasi manajemen keanggotaan HAKLI melalui Website resmi PP HAKLI; http://www.hakli.or.id

Kedua, calon anggota yang telah mendaftar akan di verifikasi oleh Pengurus HAKLI Cabang, Provinsi maupun Pusat yang berwenang menjadi verifikator berdasarkan Surat Keputusan Ketua Umum PP HAKLI, apabila anggota memenuhi syarat, maka anggota akan mendapatkan Billing pembayaran dari Bank BNI 46 selaku Bank mitra HAKLI dan nomor Virtual Account.

Melalui rekening virtual account tersebut calon anggota wajib melakukan pembayaran uang pangkal yang dibayarkan 1 (satu) kaliseumur hidup pada saat mendaftarkan diri sebagaii calon anggota HAKLI. Iuran anggota dibayarkan per enam bulan sekali dan uang pembuatan kartu tanda anggota yang dibayarkan lima tahun sekali melalui rekening virtual account.

Selanjutnya calon anggota yang telah melakukan pembayaran kewajibannya akan mendapatkan user ID dan password yang dikirim melalui email calon anggota. Dengan user ID dan password tersebut dapat memperoleh fasilitas penggunaan aplikasi keanggotaan dan portofolio SKP serta soft copy kartu anggota baru HAKLI. Adapun print out Kartu Tanda Anggota HAKLI akan diserahkan kepada anggota secara kolektif oleh Pengurus HAKLI Provinsi masing-masing .

Adapun bagi anggota baru yang ingin mendapatkan Surat Tanda Registrasi (STR) tenaga kesehatan dapat menggunakan user ID dan password yang diperoleh dapat mengunduh template Surat Patuh Etik yang harus diisi sebagai salah satu persyaratan yang akan dilampirkan atau diunggah untuk mendapatkan STR.

Dengan dikeluarkannya keputusan terbaru maka Surat Keputusan PP HAKLI dengan Nomor 0223/SK/PP-HAKLI/VII/2016 Tanggal 1 Juli 2016 yang ada sebelumnya tidak berlaku lagi. 
(Sumber: haklilampung.or.id)

Pengurus Pusat HAKLI telah meluarkan keputusan terbaru terkait registrasi online yang patut diketahui oleh semua warga Sanitarian Indonesia. Silahkam diunduh, dibaca dan disimak aturannya agar menjadi pedoman berorganisasi.

Prof. Dr. H. Arif Sumantri, SKM, M. Kes
Ketua Umum Pengurus Pusat HAKLI
Pengurus Pusat Himpunan Ahli Kesehatan Lingkungan Indonesia (HAKLI) mengeluarkan Keputusan baru tentang Registrasi Keanggotaan HAKLI, Kartu Anggota dan Iuran Anggota, hal tersebut tertuang dalam Keputusan Nomor: 006/SK/PP-HAKLI/I/2020 Tanggal 28 Januari 2020 (Download SK Terbaru disini). Keputusan yang ditanda tangani Ketua Umum, Prof. Dr. H. Arif Sumantri, SKM, M. Kes tersebut memuat beberapa perubahan, yang tercantum dalam keputusan tersebut diantaranya, yaitu:



Pertama, calon anggota HAKLI dapat menjadi anggota HAKLI dengan cara mendaftarkan diri secara online pada system informasi manajemen keanggotaan HAKLI melalui Website resmi PP HAKLI; http://www.hakli.or.id

Kedua, calon anggota yang telah mendaftar akan di verifikasi oleh Pengurus HAKLI Cabang, Provinsi maupun Pusat yang berwenang menjadi verifikator berdasarkan Surat Keputusan Ketua Umum PP HAKLI, apabila anggota memenuhi syarat, maka anggota akan mendapatkan Billing pembayaran dari Bank BNI 46 selaku Bank mitra HAKLI dan nomor Virtual Account.

Melalui rekening virtual account tersebut calon anggota wajib melakukan pembayaran uang pangkal yang dibayarkan 1 (satu) kaliseumur hidup pada saat mendaftarkan diri sebagaii calon anggota HAKLI. Iuran anggota dibayarkan per enam bulan sekali dan uang pembuatan kartu tanda anggota yang dibayarkan lima tahun sekali melalui rekening virtual account.

Selanjutnya calon anggota yang telah melakukan pembayaran kewajibannya akan mendapatkan user ID dan password yang dikirim melalui email calon anggota. Dengan user ID dan password tersebut dapat memperoleh fasilitas penggunaan aplikasi keanggotaan dan portofolio SKP serta soft copy kartu anggota baru HAKLI. Adapun print out Kartu Tanda Anggota HAKLI akan diserahkan kepada anggota secara kolektif oleh Pengurus HAKLI Provinsi masing-masing .

Adapun bagi anggota baru yang ingin mendapatkan Surat Tanda Registrasi (STR) tenaga kesehatan dapat menggunakan user ID dan password yang diperoleh dapat mengunduh template Surat Patuh Etik yang harus diisi sebagai salah satu persyaratan yang akan dilampirkan atau diunggah untuk mendapatkan STR.

Dengan dikeluarkannya keputusan terbaru maka Surat Keputusan PP HAKLI dengan Nomor 0223/SK/PP-HAKLI/VII/2016 Tanggal 1 Juli 2016 yang ada sebelumnya tidak berlaku lagi. 
(Sumber: haklilampung.or.id)

Pengurus Pusat HAKLI telah meluarkan keputusan terbaru terkait registrasi online yang patut diketahui oleh semua warga Sanitarian Indonesia. Silahkam diunduh, dibaca dan disimak aturannya agar menjadi pedoman berorganisasi.

Prof. Dr. H. Arif Sumantri, SKM, M. Kes
Ketua Umum Pengurus Pusat HAKLI
Pengurus Pusat Himpunan Ahli Kesehatan Lingkungan Indonesia (HAKLI) mengeluarkan Keputusan baru tentang Registrasi Keanggotaan HAKLI, Kartu Anggota dan Iuran Anggota, hal tersebut tertuang dalam Keputusan Nomor: 006/SK/PP-HAKLI/I/2020 Tanggal 28 Januari 2020 (Download SK Terbaru disini). Keputusan yang ditanda tangani Ketua Umum, Prof. Dr. H. Arif Sumantri, SKM, M. Kes tersebut memuat beberapa perubahan, yang tercantum dalam keputusan tersebut diantaranya, yaitu:



Pertama, calon anggota HAKLI dapat menjadi anggota HAKLI dengan cara mendaftarkan diri secara online pada system informasi manajemen keanggotaan HAKLI melalui Website resmi PP HAKLI; http://www.hakli.or.id

Kedua, calon anggota yang telah mendaftar akan di verifikasi oleh Pengurus HAKLI Cabang, Provinsi maupun Pusat yang berwenang menjadi verifikator berdasarkan Surat Keputusan Ketua Umum PP HAKLI, apabila anggota memenuhi syarat, maka anggota akan mendapatkan Billing pembayaran dari Bank BNI 46 selaku Bank mitra HAKLI dan nomor Virtual Account.

Melalui rekening virtual account tersebut calon anggota wajib melakukan pembayaran uang pangkal yang dibayarkan 1 (satu) kaliseumur hidup pada saat mendaftarkan diri sebagaii calon anggota HAKLI. Iuran anggota dibayarkan per enam bulan sekali dan uang pembuatan kartu tanda anggota yang dibayarkan lima tahun sekali melalui rekening virtual account.

Selanjutnya calon anggota yang telah melakukan pembayaran kewajibannya akan mendapatkan user ID dan password yang dikirim melalui email calon anggota. Dengan user ID dan password tersebut dapat memperoleh fasilitas penggunaan aplikasi keanggotaan dan portofolio SKP serta soft copy kartu anggota baru HAKLI. Adapun print out Kartu Tanda Anggota HAKLI akan diserahkan kepada anggota secara kolektif oleh Pengurus HAKLI Provinsi masing-masing .

Adapun bagi anggota baru yang ingin mendapatkan Surat Tanda Registrasi (STR) tenaga kesehatan dapat menggunakan user ID dan password yang diperoleh dapat mengunduh template Surat Patuh Etik yang harus diisi sebagai salah satu persyaratan yang akan dilampirkan atau diunggah untuk mendapatkan STR.

Dengan dikeluarkannya keputusan terbaru maka Surat Keputusan PP HAKLI dengan Nomor 0223/SK/PP-HAKLI/VII/2016 Tanggal 1 Juli 2016 yang ada sebelumnya tidak berlaku lagi. 
(Sumber: haklilampung.or.id)
Daftar Isi Artikel Klik di Sini!


EBOOK: KESLING, MOTIVASI & PENGEMBANGAN DIRI

|HOME |ARDA PUBLISHING HOUSE |MIQRA INDONESIA |OPINI |OPTIMIS |SEHAT |KELUARGA |SPIRIT |IBROH |JURNALISTIK |BUKU |JURNAL |LINGKUNGAN |DUNIA NYAMUK |NEWS MIQRA |BISNIS |PROFIL |ARDA TV|