-->
PASANG IKLAN DI SINI!
(MURAH SESUAI BUDGET ANDA)

Tampilkan postingan dengan label PAUD. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label PAUD. Tampilkan semua postingan
Unsur Penting Dalam Mendidik Anak
Lihat Detail

Unsur Penting Dalam Mendidik Anak

Oleh: Arda Dinata
“Setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah, hingga lisannya fasih. Kedua orangtuanya-lah yang membuatnya beragama Yahudi, Nasrani, atau Majusi.” (HR. Al-Baihaqi, Ath-Thabarani).
BERKENAAN dengan mendidik anak. Berikut ini ada kisah yang menarik dan perlu kita renungi sebagai bahan introspeksi diri terkait dengan pola pendidikan anak-anak yang dilakukan oleh orangtua dan pendidik selama ini.


Ibnu Khaldun menceritakan, ketika Al Rasyid menyerahkan anaknya, Al-Amin kepada seorang guru, ia mengatakan, “Wahai Ahmar, sesungguhnya Amirul Mukminin telah menyerahkan kepadamu belaihan jiwa dan buah hatinya. Maka, bukalah tanganmu lebar-lebar dan ketaatanmu kepadanya adalah kewajiban. Tetaplah kamu bersamanya sebagaimana kamu kepada Amirul Mukminin. Bacakanlah kepadanya Alquran dan ajarkanlah kepadanya hadis-hadis. Riwayatkanlah kepadanya syair-syair dan ajarkanlah kepadanya sunah. Perlihatkanlah kepadanya fenomena-fenomena dan dasar-dasar ilmu kalam. Laranglah dirinya tertawa bukan pada waktunya. Janganlah ia bertemu denganmu sesaat saja keculai kamu menyampaikan kepadanya pelajaran-pelajaran yang dapat diambilnya, dengan tidak menyembunyikannya sehingga pikirannya menjadi mati. Janganlah kamu biarkan dirinya berleha-leha, sehingga ia suka nganggur dan bersenang-senang. Luruskanlah dirinya sesuai kemampuanmu dengan pendekatan yang lembut. Jika ia menolaknya maka lakukanlah dengan kekerasan.”



Keterangan di atas, merupakan pelajaran bagi orangtua dan pendidik dalam proses pendidikan anak-anak mereka. Sesungguhnya anak kecil itu merupakan amanat bagi setiap orangtuanya. Hatinya masih suci bersih dan kosong. Jika dibiasakan dan diajari kebajikan, ia akan tumbuh pada kebajikan dan berbahagia di dunia maupun di akhirat. Nabi SAW bersabda, “Setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah, hingga lisannya fasih. Kedua orangtuanyalah yang membuatnya beragama Yahudi, Nasrani, atau Majusi.” (HR. Al-Baihaqi, Ath-Thabarani).
Kesuksesan dalam mendidik anak, paling tidak akan ditentukan oleh ketiga kekuatan yaitu orangtua, pendidik di sekolah dan tatanan lingkungan masyarakatnya. Di sini, kelihatannya peran yang menentukan dan strategis dalam periode awal kehidupan seorang anak ialah pola didik dan asuhan dari kedua orangtuanya (baca: ibu dan bapak) di rumah.
Unsur penting
Dalam mendidik anak sesuai moral Islam, menurut Syaikh M. Jamaluddin Mahfuzh (2003), ada beberapa unsur yang perlu diperhatikan.
Pertama, menanamkan akidah yang sehat. Bersumber dari Rafi r.a., ia berkata, “Aku melihat Rasulullah SAW menyerukan adzan shalat ke telinga Hasan bin Ali r.a., ketika ia baru saja dilahirkan oleh Fatimah.” (HR. At-Tirmidzi).
Kedua, latihan ibadah dan beri hukuman. Bersumber dari Abdullah bin Umar r.a., sesungguhnya Rasulullah SAW bersabda, “Perintahkanlah anak-anakmu untuk shalat ketika mereka telah berusia tujuh tahun. dan pukullah mereka, karena meninggalkan shalat ketika mereka telah berusia dua belas tahun. Dan pisahkanlah mereka pada tempat tidur.” (HR. Ahmad, Abu Dawud dan Al-Hakim).
Ketiga, mengajarkan kepada anak sesuatu yang halal dan haram. Bersumber dari Abdullah bin Zaid r.a., ia berkata, “Kami sedang berada di dekat Abdullah bin Masud r.a., ketika mendadak seorang puteranya datang menghampirinya dengan mengenakan baju dari sutera. Abdullah bin Masud bertanya, ‘Siapa yang memakaikan pakaian ini kepadamu?’ Anak itu menjawab, ‘Ibuku.’ Abdullah bin Masud lalu menanggalkannya seraya berkata, ‘Katakan pada ibumu supaya ia memakai pakaian yang selain ini.’”
Keempat, membangun aktivitas belajar. Rasulullah SAW bersabda, “Hak anak atas ayahnya ialah diajari menulis, berenang dan memberinya rezeki dari yang halal saja.” (HR. Al-Baihaqi).
Kelima, membangun persahabatan orangtua terhadap anak. Rasulullah SAW bersabda, “Perhatikanlah anak-anakmu, dan didiklah mereka dengan baik.” (HR. Ibnu Majah). Hadis ini mengajarkan agar orangtua untuk selalu bersahabat dengan anak, mengawasi, memperhatikan, dan mendidik mereka sebaik mungkin. Rasulullah memberi petunjuk dalam sabdanya, “Barangsiapa punya anak kecil hendaklah ia perlakukan secara proposional.” (HR. Ibnu Askair).
Keenam, membiasakan meminta izin. Ishak Al-Ghazari berkata, “Aku pernah bertanya kepada Al-Auza’i, apa batasan anak kecil yang diharuskan minta izin terlebih dahulu?” Ia menjawab, “Kalau ia sudah berumur empat tahun. pada usia ini, ia tidak boleh menemui wanita tanpa izin terlebih dahulu.” Dan menurut Az-Zuhri, “Seseorang yang menemui ibunya harus minta izin terlebih dahulu.”
Akhirnya, diharapkan melalui pola-pola tersebut, maka ketika anak telah tumbuh menjadi seorang pemuda dan dapat memahami urusan kehidupan, ia telah mengetahui apa saja yang diharamkan dan apa saja yang dihalalkan. Lebih jauh lagi, ia diharapkan mampu menerapkan tingkah laku islami sebagai akhlak dan kebiasaan hidup, serta tidak diperbudak syahwat dan tenggelam dalam gaya hidup hedonis. Wallahu a’lam.
Salam sukses selalu…..dan bagaimana menurut pendapat Anda?***
Arda Dinata adalah Pendiri Majelis Inspirasi Alquran dan Realitas Alam (MIQRA) Indonesia.
ILMU MENJADI KAYA
Berpikir Lama? Orang Lain Yang Akan Mendahului Kesuksesan Anda! Ayo Segera Miliki ILMU MENJADI KAYA ini.

RAHASIA JADI JUTAWAN
Mau Jadi Penulis BestSeller + Income Jutaan? Ayo Gabung di Penulis Sukses yuk!

INSPIRASI SUKSES
Ubah Nasib Anda Sekarang Menjadi Pribadi SUKSES dan TANGGUH dengan Cara Gabung Bersama GROUP MIQRA INDONESIA




Oleh: Arda Dinata
“Setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah, hingga lisannya fasih. Kedua orangtuanya-lah yang membuatnya beragama Yahudi, Nasrani, atau Majusi.” (HR. Al-Baihaqi, Ath-Thabarani).
BERKENAAN dengan mendidik anak. Berikut ini ada kisah yang menarik dan perlu kita renungi sebagai bahan introspeksi diri terkait dengan pola pendidikan anak-anak yang dilakukan oleh orangtua dan pendidik selama ini.


Ibnu Khaldun menceritakan, ketika Al Rasyid menyerahkan anaknya, Al-Amin kepada seorang guru, ia mengatakan, “Wahai Ahmar, sesungguhnya Amirul Mukminin telah menyerahkan kepadamu belaihan jiwa dan buah hatinya. Maka, bukalah tanganmu lebar-lebar dan ketaatanmu kepadanya adalah kewajiban. Tetaplah kamu bersamanya sebagaimana kamu kepada Amirul Mukminin. Bacakanlah kepadanya Alquran dan ajarkanlah kepadanya hadis-hadis. Riwayatkanlah kepadanya syair-syair dan ajarkanlah kepadanya sunah. Perlihatkanlah kepadanya fenomena-fenomena dan dasar-dasar ilmu kalam. Laranglah dirinya tertawa bukan pada waktunya. Janganlah ia bertemu denganmu sesaat saja keculai kamu menyampaikan kepadanya pelajaran-pelajaran yang dapat diambilnya, dengan tidak menyembunyikannya sehingga pikirannya menjadi mati. Janganlah kamu biarkan dirinya berleha-leha, sehingga ia suka nganggur dan bersenang-senang. Luruskanlah dirinya sesuai kemampuanmu dengan pendekatan yang lembut. Jika ia menolaknya maka lakukanlah dengan kekerasan.”



Keterangan di atas, merupakan pelajaran bagi orangtua dan pendidik dalam proses pendidikan anak-anak mereka. Sesungguhnya anak kecil itu merupakan amanat bagi setiap orangtuanya. Hatinya masih suci bersih dan kosong. Jika dibiasakan dan diajari kebajikan, ia akan tumbuh pada kebajikan dan berbahagia di dunia maupun di akhirat. Nabi SAW bersabda, “Setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah, hingga lisannya fasih. Kedua orangtuanyalah yang membuatnya beragama Yahudi, Nasrani, atau Majusi.” (HR. Al-Baihaqi, Ath-Thabarani).
Kesuksesan dalam mendidik anak, paling tidak akan ditentukan oleh ketiga kekuatan yaitu orangtua, pendidik di sekolah dan tatanan lingkungan masyarakatnya. Di sini, kelihatannya peran yang menentukan dan strategis dalam periode awal kehidupan seorang anak ialah pola didik dan asuhan dari kedua orangtuanya (baca: ibu dan bapak) di rumah.
Unsur penting
Dalam mendidik anak sesuai moral Islam, menurut Syaikh M. Jamaluddin Mahfuzh (2003), ada beberapa unsur yang perlu diperhatikan.
Pertama, menanamkan akidah yang sehat. Bersumber dari Rafi r.a., ia berkata, “Aku melihat Rasulullah SAW menyerukan adzan shalat ke telinga Hasan bin Ali r.a., ketika ia baru saja dilahirkan oleh Fatimah.” (HR. At-Tirmidzi).
Kedua, latihan ibadah dan beri hukuman. Bersumber dari Abdullah bin Umar r.a., sesungguhnya Rasulullah SAW bersabda, “Perintahkanlah anak-anakmu untuk shalat ketika mereka telah berusia tujuh tahun. dan pukullah mereka, karena meninggalkan shalat ketika mereka telah berusia dua belas tahun. Dan pisahkanlah mereka pada tempat tidur.” (HR. Ahmad, Abu Dawud dan Al-Hakim).
Ketiga, mengajarkan kepada anak sesuatu yang halal dan haram. Bersumber dari Abdullah bin Zaid r.a., ia berkata, “Kami sedang berada di dekat Abdullah bin Masud r.a., ketika mendadak seorang puteranya datang menghampirinya dengan mengenakan baju dari sutera. Abdullah bin Masud bertanya, ‘Siapa yang memakaikan pakaian ini kepadamu?’ Anak itu menjawab, ‘Ibuku.’ Abdullah bin Masud lalu menanggalkannya seraya berkata, ‘Katakan pada ibumu supaya ia memakai pakaian yang selain ini.’”
Keempat, membangun aktivitas belajar. Rasulullah SAW bersabda, “Hak anak atas ayahnya ialah diajari menulis, berenang dan memberinya rezeki dari yang halal saja.” (HR. Al-Baihaqi).
Kelima, membangun persahabatan orangtua terhadap anak. Rasulullah SAW bersabda, “Perhatikanlah anak-anakmu, dan didiklah mereka dengan baik.” (HR. Ibnu Majah). Hadis ini mengajarkan agar orangtua untuk selalu bersahabat dengan anak, mengawasi, memperhatikan, dan mendidik mereka sebaik mungkin. Rasulullah memberi petunjuk dalam sabdanya, “Barangsiapa punya anak kecil hendaklah ia perlakukan secara proposional.” (HR. Ibnu Askair).
Keenam, membiasakan meminta izin. Ishak Al-Ghazari berkata, “Aku pernah bertanya kepada Al-Auza’i, apa batasan anak kecil yang diharuskan minta izin terlebih dahulu?” Ia menjawab, “Kalau ia sudah berumur empat tahun. pada usia ini, ia tidak boleh menemui wanita tanpa izin terlebih dahulu.” Dan menurut Az-Zuhri, “Seseorang yang menemui ibunya harus minta izin terlebih dahulu.”
Akhirnya, diharapkan melalui pola-pola tersebut, maka ketika anak telah tumbuh menjadi seorang pemuda dan dapat memahami urusan kehidupan, ia telah mengetahui apa saja yang diharamkan dan apa saja yang dihalalkan. Lebih jauh lagi, ia diharapkan mampu menerapkan tingkah laku islami sebagai akhlak dan kebiasaan hidup, serta tidak diperbudak syahwat dan tenggelam dalam gaya hidup hedonis. Wallahu a’lam.
Salam sukses selalu…..dan bagaimana menurut pendapat Anda?***
Arda Dinata adalah Pendiri Majelis Inspirasi Alquran dan Realitas Alam (MIQRA) Indonesia.
ILMU MENJADI KAYA
Berpikir Lama? Orang Lain Yang Akan Mendahului Kesuksesan Anda! Ayo Segera Miliki ILMU MENJADI KAYA ini.

RAHASIA JADI JUTAWAN
Mau Jadi Penulis BestSeller + Income Jutaan? Ayo Gabung di Penulis Sukses yuk!

INSPIRASI SUKSES
Ubah Nasib Anda Sekarang Menjadi Pribadi SUKSES dan TANGGUH dengan Cara Gabung Bersama GROUP MIQRA INDONESIA




Oleh: Arda Dinata
“Setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah, hingga lisannya fasih. Kedua orangtuanya-lah yang membuatnya beragama Yahudi, Nasrani, atau Majusi.” (HR. Al-Baihaqi, Ath-Thabarani).
BERKENAAN dengan mendidik anak. Berikut ini ada kisah yang menarik dan perlu kita renungi sebagai bahan introspeksi diri terkait dengan pola pendidikan anak-anak yang dilakukan oleh orangtua dan pendidik selama ini.


Ibnu Khaldun menceritakan, ketika Al Rasyid menyerahkan anaknya, Al-Amin kepada seorang guru, ia mengatakan, “Wahai Ahmar, sesungguhnya Amirul Mukminin telah menyerahkan kepadamu belaihan jiwa dan buah hatinya. Maka, bukalah tanganmu lebar-lebar dan ketaatanmu kepadanya adalah kewajiban. Tetaplah kamu bersamanya sebagaimana kamu kepada Amirul Mukminin. Bacakanlah kepadanya Alquran dan ajarkanlah kepadanya hadis-hadis. Riwayatkanlah kepadanya syair-syair dan ajarkanlah kepadanya sunah. Perlihatkanlah kepadanya fenomena-fenomena dan dasar-dasar ilmu kalam. Laranglah dirinya tertawa bukan pada waktunya. Janganlah ia bertemu denganmu sesaat saja keculai kamu menyampaikan kepadanya pelajaran-pelajaran yang dapat diambilnya, dengan tidak menyembunyikannya sehingga pikirannya menjadi mati. Janganlah kamu biarkan dirinya berleha-leha, sehingga ia suka nganggur dan bersenang-senang. Luruskanlah dirinya sesuai kemampuanmu dengan pendekatan yang lembut. Jika ia menolaknya maka lakukanlah dengan kekerasan.”



Keterangan di atas, merupakan pelajaran bagi orangtua dan pendidik dalam proses pendidikan anak-anak mereka. Sesungguhnya anak kecil itu merupakan amanat bagi setiap orangtuanya. Hatinya masih suci bersih dan kosong. Jika dibiasakan dan diajari kebajikan, ia akan tumbuh pada kebajikan dan berbahagia di dunia maupun di akhirat. Nabi SAW bersabda, “Setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah, hingga lisannya fasih. Kedua orangtuanyalah yang membuatnya beragama Yahudi, Nasrani, atau Majusi.” (HR. Al-Baihaqi, Ath-Thabarani).
Kesuksesan dalam mendidik anak, paling tidak akan ditentukan oleh ketiga kekuatan yaitu orangtua, pendidik di sekolah dan tatanan lingkungan masyarakatnya. Di sini, kelihatannya peran yang menentukan dan strategis dalam periode awal kehidupan seorang anak ialah pola didik dan asuhan dari kedua orangtuanya (baca: ibu dan bapak) di rumah.
Unsur penting
Dalam mendidik anak sesuai moral Islam, menurut Syaikh M. Jamaluddin Mahfuzh (2003), ada beberapa unsur yang perlu diperhatikan.
Pertama, menanamkan akidah yang sehat. Bersumber dari Rafi r.a., ia berkata, “Aku melihat Rasulullah SAW menyerukan adzan shalat ke telinga Hasan bin Ali r.a., ketika ia baru saja dilahirkan oleh Fatimah.” (HR. At-Tirmidzi).
Kedua, latihan ibadah dan beri hukuman. Bersumber dari Abdullah bin Umar r.a., sesungguhnya Rasulullah SAW bersabda, “Perintahkanlah anak-anakmu untuk shalat ketika mereka telah berusia tujuh tahun. dan pukullah mereka, karena meninggalkan shalat ketika mereka telah berusia dua belas tahun. Dan pisahkanlah mereka pada tempat tidur.” (HR. Ahmad, Abu Dawud dan Al-Hakim).
Ketiga, mengajarkan kepada anak sesuatu yang halal dan haram. Bersumber dari Abdullah bin Zaid r.a., ia berkata, “Kami sedang berada di dekat Abdullah bin Masud r.a., ketika mendadak seorang puteranya datang menghampirinya dengan mengenakan baju dari sutera. Abdullah bin Masud bertanya, ‘Siapa yang memakaikan pakaian ini kepadamu?’ Anak itu menjawab, ‘Ibuku.’ Abdullah bin Masud lalu menanggalkannya seraya berkata, ‘Katakan pada ibumu supaya ia memakai pakaian yang selain ini.’”
Keempat, membangun aktivitas belajar. Rasulullah SAW bersabda, “Hak anak atas ayahnya ialah diajari menulis, berenang dan memberinya rezeki dari yang halal saja.” (HR. Al-Baihaqi).
Kelima, membangun persahabatan orangtua terhadap anak. Rasulullah SAW bersabda, “Perhatikanlah anak-anakmu, dan didiklah mereka dengan baik.” (HR. Ibnu Majah). Hadis ini mengajarkan agar orangtua untuk selalu bersahabat dengan anak, mengawasi, memperhatikan, dan mendidik mereka sebaik mungkin. Rasulullah memberi petunjuk dalam sabdanya, “Barangsiapa punya anak kecil hendaklah ia perlakukan secara proposional.” (HR. Ibnu Askair).
Keenam, membiasakan meminta izin. Ishak Al-Ghazari berkata, “Aku pernah bertanya kepada Al-Auza’i, apa batasan anak kecil yang diharuskan minta izin terlebih dahulu?” Ia menjawab, “Kalau ia sudah berumur empat tahun. pada usia ini, ia tidak boleh menemui wanita tanpa izin terlebih dahulu.” Dan menurut Az-Zuhri, “Seseorang yang menemui ibunya harus minta izin terlebih dahulu.”
Akhirnya, diharapkan melalui pola-pola tersebut, maka ketika anak telah tumbuh menjadi seorang pemuda dan dapat memahami urusan kehidupan, ia telah mengetahui apa saja yang diharamkan dan apa saja yang dihalalkan. Lebih jauh lagi, ia diharapkan mampu menerapkan tingkah laku islami sebagai akhlak dan kebiasaan hidup, serta tidak diperbudak syahwat dan tenggelam dalam gaya hidup hedonis. Wallahu a’lam.
Salam sukses selalu…..dan bagaimana menurut pendapat Anda?***
Arda Dinata adalah Pendiri Majelis Inspirasi Alquran dan Realitas Alam (MIQRA) Indonesia.
ILMU MENJADI KAYA
Berpikir Lama? Orang Lain Yang Akan Mendahului Kesuksesan Anda! Ayo Segera Miliki ILMU MENJADI KAYA ini.

RAHASIA JADI JUTAWAN
Mau Jadi Penulis BestSeller + Income Jutaan? Ayo Gabung di Penulis Sukses yuk!

INSPIRASI SUKSES
Ubah Nasib Anda Sekarang Menjadi Pribadi SUKSES dan TANGGUH dengan Cara Gabung Bersama GROUP MIQRA INDONESIA




Oleh: Arda Dinata
“Setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah, hingga lisannya fasih. Kedua orangtuanya-lah yang membuatnya beragama Yahudi, Nasrani, atau Majusi.” (HR. Al-Baihaqi, Ath-Thabarani).
BERKENAAN dengan mendidik anak. Berikut ini ada kisah yang menarik dan perlu kita renungi sebagai bahan introspeksi diri terkait dengan pola pendidikan anak-anak yang dilakukan oleh orangtua dan pendidik selama ini.


Ibnu Khaldun menceritakan, ketika Al Rasyid menyerahkan anaknya, Al-Amin kepada seorang guru, ia mengatakan, “Wahai Ahmar, sesungguhnya Amirul Mukminin telah menyerahkan kepadamu belaihan jiwa dan buah hatinya. Maka, bukalah tanganmu lebar-lebar dan ketaatanmu kepadanya adalah kewajiban. Tetaplah kamu bersamanya sebagaimana kamu kepada Amirul Mukminin. Bacakanlah kepadanya Alquran dan ajarkanlah kepadanya hadis-hadis. Riwayatkanlah kepadanya syair-syair dan ajarkanlah kepadanya sunah. Perlihatkanlah kepadanya fenomena-fenomena dan dasar-dasar ilmu kalam. Laranglah dirinya tertawa bukan pada waktunya. Janganlah ia bertemu denganmu sesaat saja keculai kamu menyampaikan kepadanya pelajaran-pelajaran yang dapat diambilnya, dengan tidak menyembunyikannya sehingga pikirannya menjadi mati. Janganlah kamu biarkan dirinya berleha-leha, sehingga ia suka nganggur dan bersenang-senang. Luruskanlah dirinya sesuai kemampuanmu dengan pendekatan yang lembut. Jika ia menolaknya maka lakukanlah dengan kekerasan.”



Keterangan di atas, merupakan pelajaran bagi orangtua dan pendidik dalam proses pendidikan anak-anak mereka. Sesungguhnya anak kecil itu merupakan amanat bagi setiap orangtuanya. Hatinya masih suci bersih dan kosong. Jika dibiasakan dan diajari kebajikan, ia akan tumbuh pada kebajikan dan berbahagia di dunia maupun di akhirat. Nabi SAW bersabda, “Setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah, hingga lisannya fasih. Kedua orangtuanyalah yang membuatnya beragama Yahudi, Nasrani, atau Majusi.” (HR. Al-Baihaqi, Ath-Thabarani).
Kesuksesan dalam mendidik anak, paling tidak akan ditentukan oleh ketiga kekuatan yaitu orangtua, pendidik di sekolah dan tatanan lingkungan masyarakatnya. Di sini, kelihatannya peran yang menentukan dan strategis dalam periode awal kehidupan seorang anak ialah pola didik dan asuhan dari kedua orangtuanya (baca: ibu dan bapak) di rumah.
Unsur penting
Dalam mendidik anak sesuai moral Islam, menurut Syaikh M. Jamaluddin Mahfuzh (2003), ada beberapa unsur yang perlu diperhatikan.
Pertama, menanamkan akidah yang sehat. Bersumber dari Rafi r.a., ia berkata, “Aku melihat Rasulullah SAW menyerukan adzan shalat ke telinga Hasan bin Ali r.a., ketika ia baru saja dilahirkan oleh Fatimah.” (HR. At-Tirmidzi).
Kedua, latihan ibadah dan beri hukuman. Bersumber dari Abdullah bin Umar r.a., sesungguhnya Rasulullah SAW bersabda, “Perintahkanlah anak-anakmu untuk shalat ketika mereka telah berusia tujuh tahun. dan pukullah mereka, karena meninggalkan shalat ketika mereka telah berusia dua belas tahun. Dan pisahkanlah mereka pada tempat tidur.” (HR. Ahmad, Abu Dawud dan Al-Hakim).
Ketiga, mengajarkan kepada anak sesuatu yang halal dan haram. Bersumber dari Abdullah bin Zaid r.a., ia berkata, “Kami sedang berada di dekat Abdullah bin Masud r.a., ketika mendadak seorang puteranya datang menghampirinya dengan mengenakan baju dari sutera. Abdullah bin Masud bertanya, ‘Siapa yang memakaikan pakaian ini kepadamu?’ Anak itu menjawab, ‘Ibuku.’ Abdullah bin Masud lalu menanggalkannya seraya berkata, ‘Katakan pada ibumu supaya ia memakai pakaian yang selain ini.’”
Keempat, membangun aktivitas belajar. Rasulullah SAW bersabda, “Hak anak atas ayahnya ialah diajari menulis, berenang dan memberinya rezeki dari yang halal saja.” (HR. Al-Baihaqi).
Kelima, membangun persahabatan orangtua terhadap anak. Rasulullah SAW bersabda, “Perhatikanlah anak-anakmu, dan didiklah mereka dengan baik.” (HR. Ibnu Majah). Hadis ini mengajarkan agar orangtua untuk selalu bersahabat dengan anak, mengawasi, memperhatikan, dan mendidik mereka sebaik mungkin. Rasulullah memberi petunjuk dalam sabdanya, “Barangsiapa punya anak kecil hendaklah ia perlakukan secara proposional.” (HR. Ibnu Askair).
Keenam, membiasakan meminta izin. Ishak Al-Ghazari berkata, “Aku pernah bertanya kepada Al-Auza’i, apa batasan anak kecil yang diharuskan minta izin terlebih dahulu?” Ia menjawab, “Kalau ia sudah berumur empat tahun. pada usia ini, ia tidak boleh menemui wanita tanpa izin terlebih dahulu.” Dan menurut Az-Zuhri, “Seseorang yang menemui ibunya harus minta izin terlebih dahulu.”
Akhirnya, diharapkan melalui pola-pola tersebut, maka ketika anak telah tumbuh menjadi seorang pemuda dan dapat memahami urusan kehidupan, ia telah mengetahui apa saja yang diharamkan dan apa saja yang dihalalkan. Lebih jauh lagi, ia diharapkan mampu menerapkan tingkah laku islami sebagai akhlak dan kebiasaan hidup, serta tidak diperbudak syahwat dan tenggelam dalam gaya hidup hedonis. Wallahu a’lam.
Salam sukses selalu…..dan bagaimana menurut pendapat Anda?***
Arda Dinata adalah Pendiri Majelis Inspirasi Alquran dan Realitas Alam (MIQRA) Indonesia.
ILMU MENJADI KAYA
Berpikir Lama? Orang Lain Yang Akan Mendahului Kesuksesan Anda! Ayo Segera Miliki ILMU MENJADI KAYA ini.

RAHASIA JADI JUTAWAN
Mau Jadi Penulis BestSeller + Income Jutaan? Ayo Gabung di Penulis Sukses yuk!

INSPIRASI SUKSES
Ubah Nasib Anda Sekarang Menjadi Pribadi SUKSES dan TANGGUH dengan Cara Gabung Bersama GROUP MIQRA INDONESIA




Urgenitas Mutu Layanan PAUD Menuju Wajar Dikdas 9 Tahun
Lihat Detail

Urgenitas Mutu Layanan PAUD Menuju Wajar Dikdas 9 Tahun

Oleh Arda Dinata


Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) merupakan suatu upaya pembinaan yang ditujukan bagi anak berusia 0-6 tahun dalam aspek-aspek pendidikan, kesehatan dan perbaikan gizi. Usaha ini dilakukan oleh lembaga/ lingkungan yang terdiri dari keluarga, sekolah, lembaga-lembaga perawatan, keagamaan dan pengasuhan serta teman sebaya yang berpengaruh besar pada tumbuh kembang anak.


Para ahli psikologi perkembangan mengemukakan bahwa tumbuh kembang anak ditentukan oleh interaksi antara faktor bawaan dan faktor lingkungan. Adanya pengakuan orang tua, pendidikan, maupun lingkungan makro lainnya termasuk kebijakan pemerintah (keputusan) tentang upaya meningkatkan kualitas anak, merupakan faktor lingkungan yang mempunyai dampak langsung maupun tidak langsung terhadap perkembangan anak, namun perkembangan itu tetap dipengaruhi juga oleh sifat bawaan yang dimiliki anak.


Kondisi tumbuh kembang anak yang baik akan berpengaruh pada kualitas manusia (anak) di kemudian hari. Walaupun konsep kualitas manusia itu sendiri memang masih abstrak, akan tetapi menurut Juwono Sudarsono (1998), mantan menteri Pendidikan dan Kebudayaan, mengungkapkan bahwa kualitas manusia itu, ditandai dengan ciri-ciri: Pertama, cerdas, kreatif, terampil, terdidik dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. Kedua, sehat dan berumur panjang. Ketiga, mandiri dan memiliki akses kehidupan yang layak.


Dalam hal ini, yang menentukan kualitas manusia tersebut adalah adanya pembinaan sejak usia dini menyangkut masalah kesehatan, nutrisi, dan stimulus intelektual. Maksudnya, kita tidak dapat mengutamakan hanya salah satu dimensinya saja. Tapi, penanganan ketiga dimensi tersebut (kesehatan, nutrisi dan intelektual) sudah harus dimulai sejak dalam kandungan (prenatal).


Oleh karena itu, upaya pembangunan anak melalui program PAUD, khususnya anak-anak di daerah tertinggal, kritis dan minus harus menjadi prioritas program PAUD. Masalah yang muncul saat ini adalah bagaimana agar program PAUD ini betul-betul mendukung Wajar Dikdas (wajib belajar pendidikan dasar) 9 tahun? Lalu, strategi dan peningkatan akses mutu layanan PAUD seperti apa yang perlu dilakukan guna terwujudnya anak sehat, cerdas, ceria dan berakhlak mulia, serta memiliki kesiapan memasuki jenjang pendidikan lebih lanjut?


Layanan PAUD


Saat ini, mutu hasil belajar dan efesiensi pelaksanaan pendidikan nasional masih belum memuaskan sebagaimana yang diharapkan. Sebagai contoh, masih rendahnya mutu hasil belajar dan masih adanya peserta didik yang drop out (DO), baik di SD maupun SLTP. Kondisi ini nampaknya masih memerlukan upaya untuk meningkatkan mutu dan efesiensinya.


Apalagi, berdasarkan serangkaian studi selama 30 tahun, terutama di Amerika Serikat, telah menunjukkan bahwa program pembinaan anak usia dini dapat memperbaiki prestasi belajar, baik di SD, SLTP; dapat meningkatkan produktifitas kerja dan penghasilan di masa depannya; serta mengurangi ketergantungannya kepada pelayanan kesehatan dan sosial (Soedijarto; 1998).


Atas dasar itu, maka untuk melaksanakan program wajar pendidikan dasar 9 tahun, serta upaya meningkatkan mutu relevansi dan efesiensi pendidikan nasional, maka adanya program PAUD menjadi suatu hal yang strategis dan penting dalam pembangunan pendidikan anak.


Namun demikian, saat ini kendala yang masih dirasakan dari program PAUD adalah adanya keterbatasan akses dan belum maksimalnya mutu layanan PAUD di masyarakat. Sebagai contoh, dari 4,5 juta anak usia 0-6 tahun di Jawa Barat baru sebanyak 14,28 persen yang terlayani pendidikan anak usia dini (PAUD), baik formal maupun nonformal. Oleh karena itu, target PAUD untuk sejuta anak di Jawa Barat atau 36,21 persen terasa amat berat jika tanpa peran serta semua lapisan masyarakat (Pikiran Rakyat, 26/6/07).


Sedangkan kondisi layanan PAUD sendiri, di Jawa Barat berdasarkan data kabupaten/ kota tahun 2005 menunjukkan cakupannya 370.565 anak (8,13 persen) untuk PAUD formal dan PAUD nonformal 370.565 anak (8,13 persen). Padahal, menurut Ketua Pelaksana Bermain dan Berlomba di Mapolda Jabar, Novillya Virginia, menyebutkan jumlah mereka di Jawa Barat 4,5 juta anak (PR, 26/6/07). Kondisi tersebut, penulis yakin, tidak jauh berbeda dengan keadaan di provinsi lainnya.


Sementara itu, untuk pelaksanaan kegiatan PAUD sendiri di masyarakat dilakukan melalui dua pendekatan. Pertama, PAUD formal dalam bentuk TK/ RA. Kedua, PAUD nonformal diantaranya berupa Kelompok Bermain (KB), Tempat Penitipan Anak (TPA), Posyandu, dan satuan PAUD sejenis lainnya.


Pengembangan PAUD


Suatu program dikatakan baik, bila dalam kegiatannya itu memperhatikan kondisi setempat dan melibatkan (baca: memanfaatkan) potensi yang ada di dalam masyarakat secara optimal. Begitu juga dengan program PAUD haruslah memperhatikan kedua aspek tersebut. Dengan kata lain, program PAUD harus dilakukan secara integral dengan program sejenis yang memiliki tujuan sama. Bila hal tersebut tidak dilakukan secara matang, maka bukannya dukungan dan simpati dari pihak lain yang didapat, tetapi justru sikap antipati dari kelompok masyarakat lainnya.


Hal faktual yang dapat menggambarkan kondisi seperti itu adalah apa yang terjadi di daerah Kab. Garut, Jawa Barat. Seperti diberitakan Surat Kabar Priangan (edisi 19-20 Juni 2007), kehadiran program PAUD di desa-desa Kab. Garut, dikeluhkan oleh sejumlah pengelola pendidikan taman kanak-kanak (TK). Dengan maraknya program itu dikhawatirkan akan mengancam keberadaan sekolah TK yang telah lama berdiri.


Selain itu, maraknya program PAUD, juga menimbulkan kecemburuan. Pasalnya, penyelenggaraan pendidikan PAUD mendapat bantuan dari pemerintah, sedangkan pendidikan TK tidak.


Menyikapi hal terakhir, hemat penulis, hal tersebut muncul kepermukaan dikarenakan masih kurangnya sosialisasi dan komunikasi terhadap adanya program PAUD secara integral dengan program sejenis yang ada di daerah tersebut (baca: masyarakat), seperti TK, RA, TPA, dan lainnya.


Artinya, kalau saja sosialisasi program PAUD itu dilakukan dengan baik dan benar, maka pengelola pendidikan semacam TK dan sejenisnya tidak perlu khawatir dan merasa terancam. Sebab, program PAUD sendiri diperuntukan bagi anak umur 2-4 tahun, sedangkan TK untuk anak 4-6 tahun. Walau pun pada kenyataannya, penulis melihat di lapangan pembagian ini kadang-kadang tidak betul-betul dipatuhi dan tidak ada perbeadaan yang berarti.


Sementara itu, kalau dilihat dari tujuannya, program PAUD bertujuan untuk mengenalkan pendidikan sejak usia dini dan diperuntukkan khusus menampung anak-anak dari keluarga kurang mampu. Sedangkan pendidikan di TK rata-rata dari kalangan keluarga mampu. Dan yang pasti siswa PAUD pun dibatasi hanya 30 anak, sedangkan TK pada umumnya tidak dibatasi.


Untuk itu, pengembangan program PAUD ini ke depan, harus jelas-jelas bersinergi dengan lembaga-lembaga sejenis lainnya, baik yang formal maupun nonformal. Pasalnya, pendidikan semacam TK dan program PAUD ini sesungguhnya adalah sama-sama untuk mengelola masa keemasan anak untuk mempersiapkan memasuki jenjang pendidikan lebih lanjut (baca: mendukung wajib belajar pendidikan dasar 9 tahun). Di sinilah, kelihatannya harus dipersiapkan strategi yang tepat dari adanya program PAUD di masyarakat.


Strategi Peningkatan Akses


Pelaksanaan pembinaan anak usia dini di Indonesia, sesungguhnya selama ini telah dilakukan melalui berbagai upaya. Baik upaya secara langsung (seperti Tempat Penitipan Anak, Kelompok Bermain, dan Taman Kanak Kanak), maupun secara tidak langsung (Posyandu, Balai Keluarga Balita, dan berbagai kegiatan yang dilakukan oleh PKK, KOWANI). Namun demikian, sayangnya pelayanan tersebut masih terpisah-pisah, belum tersikronisasi dan sinergik dengan baik, serta jumlahnya pun masih sangat terbatas jangkauannya.


Atas dasar fakta yang ada selama ini dan dikaitkan dengan sasaran program PAUD, maka alangkah baiknya bila strategi pelaksanaan yang diambil dalam program PAUD ini adalah lebih difokuskan pada pemberdayaan pendidikan anak usia dini melalui pendekatan nonformal, dan tentunya dengan tetap harus bersinergi serta berkoordinasi dengan lembaga-lembaga pendidikan anak usia dini yang bersifat formal.


Untuk itu, secara pendekatan nonformal, langkah menyatukan Posyandu dan Balai Keluarga Balita dalam merealisasikan dari program PAUD adalah sesuatu hal yang realistis dan akan lebih meningkatkan angka pencapaian dari program PAUD. Dalam hal ini, paling tidak ada tiga strategi yang dapat dilakukan terkait dengan upaya peningkatan akses mutu layanan PAUD nonformal dalam mendukung wajib belajar pendidikan dasar 9 tahun.


Pertama, kegiatan penyatuan Posyandu dan BKB harus berimplikasi dalam wujud adanya satu pelayanan yang memberikan bimbingan masalah gizi dan kesehatan yang memadai bagi ibu dan anaknya (baca artikel:

PAUD dan pemenuhan gizi optimal bagi tubuh anak), memberikan informasi tentang cara-cara mendidik dan memberdayakan anak usia dini secara benar.

Kedua, harus didukung dengan keterpaduan pada tingkat masyarakat. Yakni berupa fasilitas umum, kader, kurikulum dan pelatihan yang terintegrasi dengan baik. Dalam arti lain, Posyandu dan BKB itu harus disinergiskan dengan semua program yang memiliki tujuan pada kebutuhan anak umur 0-4 tahun dan atau dengan TK. Sehingga transisi dari rumah ke pelayanan PAUD sebelum masuk SD dapat berjalan lancar.

Di sini, pendidikan yang diperlukan bagi anak usia dini sebagai dasar untuk pendidikan selanjutnya, antara lain: pendidikan gerak tubuh & kinestetik; pendidikan untuk mengembangkan kemampuan verbal/ linguistik; dan pendidikan untuk mengembangkan kemampuan sosio emosional.

Ketiga, adanya program yang integral dalam hubungan birokrasi yang dilakukan oleh berbagai sektor dan departemen yang terkait dengan bidang pemberdayaan pendidikan anak usia dini dan kesejahteraan keluarga. Arti lainnya, adalah perlu adanya gerakan yang bersifat menyeluruh untuk mengembangkan program PAUD melalui KIE.

Sementara itu, Prof. Dr. Soedijarto (1998), dalam makalahnya berjudul: Pembinaan Perkembangan Anak Sejak Dini Sebagai Investasi Untuk Masa Depan, menyebutkan ada 7 pendekatan dan alternatif pelayanan yang dapat dilakukan untuk meningkatnya akses (jangkauan) dan mutu layanan dari program pembinaan pendidikan anak usia dini ini.

Pertama, pealayanan langsung kepada anak-anak melalui program penitipan anak, kelompok bermain, dan berbagai bentuk kelembagaan yang melayani anak secara langsung dan melembaga.

Kedua, pendidikan “caregives” baik orang tua (ibu), atau lembaga sukarela melalui program-program kunjungan dari rumah ke rumah, pendidikan keluarga, Posyandu, atau Balai Keluarga Balita.

Ketiga, peningkatan partisipasi masyarakat melalui program pemasyarakatan dengan melatih kader dan pemimpin seperti yang dilakukan di Malaysia dan Thailand.

Keempat, pengembangan kemampuan tenaga ahli dan semi ahli untuk memberikan model-model pembinaan yang dapat menarik perhatian dan memungkinkan motivasi masyarakat untuk mengikuti jejak model-model yang dikembangkan para ahli.

Kelima, peningkatan kesadaran masyarakat dan peningkatan tuntutan masyarakat perlunya program tersebut.

Keenam, mengembangkan jaringan kerja dalam masyarakat yang dapat mendukung terlaksananya suatu program, seperti ditetapkannya peraturan-peraturan yang secara tidak langsung mendorong atau memperkuat kemauan seluruh masyarakat untuk melaksanakan program pembinaan anak usia dini.

Ketujuh, mengembangkan kebijakasanaan nasional yang menjadi landasan terlaksananya program secara ajeg dan sinambung.

Akhirnya, melalui strategi dan usaha peningkatan akses mutu layanan PAUD seperti di atas, maka diharapkan keberadaan program PAUD ini dapat menghasilkan anak sehat, cerdas, ceria dan berakhlak mulia, serta memiliki kesiapan memasuki jenjang pendidikan lebih lanjut. Tepatnya, mendukung program wajib belajar pendidikan dasar 9 tahun.***

Penulis, adalah pendidik dan blogger di Majelis Inspirasi Alquran dan Realitas Alam/ MIQRA Indonesia,
www.miqra.blogspot.com.

Artikel ini diikutsertakan dalam Lomba Jurnalistik PAUD Tingkat Nasional 2007, yang diselenggarakan oleh Direktorat PAUD – Direktorat Jenderal Pendidikan Luar Sekolah Departemen Pendidikan Nasional.


Oleh Arda Dinata


Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) merupakan suatu upaya pembinaan yang ditujukan bagi anak berusia 0-6 tahun dalam aspek-aspek pendidikan, kesehatan dan perbaikan gizi. Usaha ini dilakukan oleh lembaga/ lingkungan yang terdiri dari keluarga, sekolah, lembaga-lembaga perawatan, keagamaan dan pengasuhan serta teman sebaya yang berpengaruh besar pada tumbuh kembang anak.


Para ahli psikologi perkembangan mengemukakan bahwa tumbuh kembang anak ditentukan oleh interaksi antara faktor bawaan dan faktor lingkungan. Adanya pengakuan orang tua, pendidikan, maupun lingkungan makro lainnya termasuk kebijakan pemerintah (keputusan) tentang upaya meningkatkan kualitas anak, merupakan faktor lingkungan yang mempunyai dampak langsung maupun tidak langsung terhadap perkembangan anak, namun perkembangan itu tetap dipengaruhi juga oleh sifat bawaan yang dimiliki anak.


Kondisi tumbuh kembang anak yang baik akan berpengaruh pada kualitas manusia (anak) di kemudian hari. Walaupun konsep kualitas manusia itu sendiri memang masih abstrak, akan tetapi menurut Juwono Sudarsono (1998), mantan menteri Pendidikan dan Kebudayaan, mengungkapkan bahwa kualitas manusia itu, ditandai dengan ciri-ciri: Pertama, cerdas, kreatif, terampil, terdidik dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. Kedua, sehat dan berumur panjang. Ketiga, mandiri dan memiliki akses kehidupan yang layak.


Dalam hal ini, yang menentukan kualitas manusia tersebut adalah adanya pembinaan sejak usia dini menyangkut masalah kesehatan, nutrisi, dan stimulus intelektual. Maksudnya, kita tidak dapat mengutamakan hanya salah satu dimensinya saja. Tapi, penanganan ketiga dimensi tersebut (kesehatan, nutrisi dan intelektual) sudah harus dimulai sejak dalam kandungan (prenatal).


Oleh karena itu, upaya pembangunan anak melalui program PAUD, khususnya anak-anak di daerah tertinggal, kritis dan minus harus menjadi prioritas program PAUD. Masalah yang muncul saat ini adalah bagaimana agar program PAUD ini betul-betul mendukung Wajar Dikdas (wajib belajar pendidikan dasar) 9 tahun? Lalu, strategi dan peningkatan akses mutu layanan PAUD seperti apa yang perlu dilakukan guna terwujudnya anak sehat, cerdas, ceria dan berakhlak mulia, serta memiliki kesiapan memasuki jenjang pendidikan lebih lanjut?


Layanan PAUD


Saat ini, mutu hasil belajar dan efesiensi pelaksanaan pendidikan nasional masih belum memuaskan sebagaimana yang diharapkan. Sebagai contoh, masih rendahnya mutu hasil belajar dan masih adanya peserta didik yang drop out (DO), baik di SD maupun SLTP. Kondisi ini nampaknya masih memerlukan upaya untuk meningkatkan mutu dan efesiensinya.


Apalagi, berdasarkan serangkaian studi selama 30 tahun, terutama di Amerika Serikat, telah menunjukkan bahwa program pembinaan anak usia dini dapat memperbaiki prestasi belajar, baik di SD, SLTP; dapat meningkatkan produktifitas kerja dan penghasilan di masa depannya; serta mengurangi ketergantungannya kepada pelayanan kesehatan dan sosial (Soedijarto; 1998).


Atas dasar itu, maka untuk melaksanakan program wajar pendidikan dasar 9 tahun, serta upaya meningkatkan mutu relevansi dan efesiensi pendidikan nasional, maka adanya program PAUD menjadi suatu hal yang strategis dan penting dalam pembangunan pendidikan anak.


Namun demikian, saat ini kendala yang masih dirasakan dari program PAUD adalah adanya keterbatasan akses dan belum maksimalnya mutu layanan PAUD di masyarakat. Sebagai contoh, dari 4,5 juta anak usia 0-6 tahun di Jawa Barat baru sebanyak 14,28 persen yang terlayani pendidikan anak usia dini (PAUD), baik formal maupun nonformal. Oleh karena itu, target PAUD untuk sejuta anak di Jawa Barat atau 36,21 persen terasa amat berat jika tanpa peran serta semua lapisan masyarakat (Pikiran Rakyat, 26/6/07).


Sedangkan kondisi layanan PAUD sendiri, di Jawa Barat berdasarkan data kabupaten/ kota tahun 2005 menunjukkan cakupannya 370.565 anak (8,13 persen) untuk PAUD formal dan PAUD nonformal 370.565 anak (8,13 persen). Padahal, menurut Ketua Pelaksana Bermain dan Berlomba di Mapolda Jabar, Novillya Virginia, menyebutkan jumlah mereka di Jawa Barat 4,5 juta anak (PR, 26/6/07). Kondisi tersebut, penulis yakin, tidak jauh berbeda dengan keadaan di provinsi lainnya.


Sementara itu, untuk pelaksanaan kegiatan PAUD sendiri di masyarakat dilakukan melalui dua pendekatan. Pertama, PAUD formal dalam bentuk TK/ RA. Kedua, PAUD nonformal diantaranya berupa Kelompok Bermain (KB), Tempat Penitipan Anak (TPA), Posyandu, dan satuan PAUD sejenis lainnya.


Pengembangan PAUD


Suatu program dikatakan baik, bila dalam kegiatannya itu memperhatikan kondisi setempat dan melibatkan (baca: memanfaatkan) potensi yang ada di dalam masyarakat secara optimal. Begitu juga dengan program PAUD haruslah memperhatikan kedua aspek tersebut. Dengan kata lain, program PAUD harus dilakukan secara integral dengan program sejenis yang memiliki tujuan sama. Bila hal tersebut tidak dilakukan secara matang, maka bukannya dukungan dan simpati dari pihak lain yang didapat, tetapi justru sikap antipati dari kelompok masyarakat lainnya.


Hal faktual yang dapat menggambarkan kondisi seperti itu adalah apa yang terjadi di daerah Kab. Garut, Jawa Barat. Seperti diberitakan Surat Kabar Priangan (edisi 19-20 Juni 2007), kehadiran program PAUD di desa-desa Kab. Garut, dikeluhkan oleh sejumlah pengelola pendidikan taman kanak-kanak (TK). Dengan maraknya program itu dikhawatirkan akan mengancam keberadaan sekolah TK yang telah lama berdiri.


Selain itu, maraknya program PAUD, juga menimbulkan kecemburuan. Pasalnya, penyelenggaraan pendidikan PAUD mendapat bantuan dari pemerintah, sedangkan pendidikan TK tidak.


Menyikapi hal terakhir, hemat penulis, hal tersebut muncul kepermukaan dikarenakan masih kurangnya sosialisasi dan komunikasi terhadap adanya program PAUD secara integral dengan program sejenis yang ada di daerah tersebut (baca: masyarakat), seperti TK, RA, TPA, dan lainnya.


Artinya, kalau saja sosialisasi program PAUD itu dilakukan dengan baik dan benar, maka pengelola pendidikan semacam TK dan sejenisnya tidak perlu khawatir dan merasa terancam. Sebab, program PAUD sendiri diperuntukan bagi anak umur 2-4 tahun, sedangkan TK untuk anak 4-6 tahun. Walau pun pada kenyataannya, penulis melihat di lapangan pembagian ini kadang-kadang tidak betul-betul dipatuhi dan tidak ada perbeadaan yang berarti.


Sementara itu, kalau dilihat dari tujuannya, program PAUD bertujuan untuk mengenalkan pendidikan sejak usia dini dan diperuntukkan khusus menampung anak-anak dari keluarga kurang mampu. Sedangkan pendidikan di TK rata-rata dari kalangan keluarga mampu. Dan yang pasti siswa PAUD pun dibatasi hanya 30 anak, sedangkan TK pada umumnya tidak dibatasi.


Untuk itu, pengembangan program PAUD ini ke depan, harus jelas-jelas bersinergi dengan lembaga-lembaga sejenis lainnya, baik yang formal maupun nonformal. Pasalnya, pendidikan semacam TK dan program PAUD ini sesungguhnya adalah sama-sama untuk mengelola masa keemasan anak untuk mempersiapkan memasuki jenjang pendidikan lebih lanjut (baca: mendukung wajib belajar pendidikan dasar 9 tahun). Di sinilah, kelihatannya harus dipersiapkan strategi yang tepat dari adanya program PAUD di masyarakat.


Strategi Peningkatan Akses


Pelaksanaan pembinaan anak usia dini di Indonesia, sesungguhnya selama ini telah dilakukan melalui berbagai upaya. Baik upaya secara langsung (seperti Tempat Penitipan Anak, Kelompok Bermain, dan Taman Kanak Kanak), maupun secara tidak langsung (Posyandu, Balai Keluarga Balita, dan berbagai kegiatan yang dilakukan oleh PKK, KOWANI). Namun demikian, sayangnya pelayanan tersebut masih terpisah-pisah, belum tersikronisasi dan sinergik dengan baik, serta jumlahnya pun masih sangat terbatas jangkauannya.


Atas dasar fakta yang ada selama ini dan dikaitkan dengan sasaran program PAUD, maka alangkah baiknya bila strategi pelaksanaan yang diambil dalam program PAUD ini adalah lebih difokuskan pada pemberdayaan pendidikan anak usia dini melalui pendekatan nonformal, dan tentunya dengan tetap harus bersinergi serta berkoordinasi dengan lembaga-lembaga pendidikan anak usia dini yang bersifat formal.


Untuk itu, secara pendekatan nonformal, langkah menyatukan Posyandu dan Balai Keluarga Balita dalam merealisasikan dari program PAUD adalah sesuatu hal yang realistis dan akan lebih meningkatkan angka pencapaian dari program PAUD. Dalam hal ini, paling tidak ada tiga strategi yang dapat dilakukan terkait dengan upaya peningkatan akses mutu layanan PAUD nonformal dalam mendukung wajib belajar pendidikan dasar 9 tahun.


Pertama, kegiatan penyatuan Posyandu dan BKB harus berimplikasi dalam wujud adanya satu pelayanan yang memberikan bimbingan masalah gizi dan kesehatan yang memadai bagi ibu dan anaknya (baca artikel:

PAUD dan pemenuhan gizi optimal bagi tubuh anak), memberikan informasi tentang cara-cara mendidik dan memberdayakan anak usia dini secara benar.

Kedua, harus didukung dengan keterpaduan pada tingkat masyarakat. Yakni berupa fasilitas umum, kader, kurikulum dan pelatihan yang terintegrasi dengan baik. Dalam arti lain, Posyandu dan BKB itu harus disinergiskan dengan semua program yang memiliki tujuan pada kebutuhan anak umur 0-4 tahun dan atau dengan TK. Sehingga transisi dari rumah ke pelayanan PAUD sebelum masuk SD dapat berjalan lancar.

Di sini, pendidikan yang diperlukan bagi anak usia dini sebagai dasar untuk pendidikan selanjutnya, antara lain: pendidikan gerak tubuh & kinestetik; pendidikan untuk mengembangkan kemampuan verbal/ linguistik; dan pendidikan untuk mengembangkan kemampuan sosio emosional.

Ketiga, adanya program yang integral dalam hubungan birokrasi yang dilakukan oleh berbagai sektor dan departemen yang terkait dengan bidang pemberdayaan pendidikan anak usia dini dan kesejahteraan keluarga. Arti lainnya, adalah perlu adanya gerakan yang bersifat menyeluruh untuk mengembangkan program PAUD melalui KIE.

Sementara itu, Prof. Dr. Soedijarto (1998), dalam makalahnya berjudul: Pembinaan Perkembangan Anak Sejak Dini Sebagai Investasi Untuk Masa Depan, menyebutkan ada 7 pendekatan dan alternatif pelayanan yang dapat dilakukan untuk meningkatnya akses (jangkauan) dan mutu layanan dari program pembinaan pendidikan anak usia dini ini.

Pertama, pealayanan langsung kepada anak-anak melalui program penitipan anak, kelompok bermain, dan berbagai bentuk kelembagaan yang melayani anak secara langsung dan melembaga.

Kedua, pendidikan “caregives” baik orang tua (ibu), atau lembaga sukarela melalui program-program kunjungan dari rumah ke rumah, pendidikan keluarga, Posyandu, atau Balai Keluarga Balita.

Ketiga, peningkatan partisipasi masyarakat melalui program pemasyarakatan dengan melatih kader dan pemimpin seperti yang dilakukan di Malaysia dan Thailand.

Keempat, pengembangan kemampuan tenaga ahli dan semi ahli untuk memberikan model-model pembinaan yang dapat menarik perhatian dan memungkinkan motivasi masyarakat untuk mengikuti jejak model-model yang dikembangkan para ahli.

Kelima, peningkatan kesadaran masyarakat dan peningkatan tuntutan masyarakat perlunya program tersebut.

Keenam, mengembangkan jaringan kerja dalam masyarakat yang dapat mendukung terlaksananya suatu program, seperti ditetapkannya peraturan-peraturan yang secara tidak langsung mendorong atau memperkuat kemauan seluruh masyarakat untuk melaksanakan program pembinaan anak usia dini.

Ketujuh, mengembangkan kebijakasanaan nasional yang menjadi landasan terlaksananya program secara ajeg dan sinambung.

Akhirnya, melalui strategi dan usaha peningkatan akses mutu layanan PAUD seperti di atas, maka diharapkan keberadaan program PAUD ini dapat menghasilkan anak sehat, cerdas, ceria dan berakhlak mulia, serta memiliki kesiapan memasuki jenjang pendidikan lebih lanjut. Tepatnya, mendukung program wajib belajar pendidikan dasar 9 tahun.***

Penulis, adalah pendidik dan blogger di Majelis Inspirasi Alquran dan Realitas Alam/ MIQRA Indonesia,
www.miqra.blogspot.com.

Artikel ini diikutsertakan dalam Lomba Jurnalistik PAUD Tingkat Nasional 2007, yang diselenggarakan oleh Direktorat PAUD – Direktorat Jenderal Pendidikan Luar Sekolah Departemen Pendidikan Nasional.


Oleh Arda Dinata


Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) merupakan suatu upaya pembinaan yang ditujukan bagi anak berusia 0-6 tahun dalam aspek-aspek pendidikan, kesehatan dan perbaikan gizi. Usaha ini dilakukan oleh lembaga/ lingkungan yang terdiri dari keluarga, sekolah, lembaga-lembaga perawatan, keagamaan dan pengasuhan serta teman sebaya yang berpengaruh besar pada tumbuh kembang anak.


Para ahli psikologi perkembangan mengemukakan bahwa tumbuh kembang anak ditentukan oleh interaksi antara faktor bawaan dan faktor lingkungan. Adanya pengakuan orang tua, pendidikan, maupun lingkungan makro lainnya termasuk kebijakan pemerintah (keputusan) tentang upaya meningkatkan kualitas anak, merupakan faktor lingkungan yang mempunyai dampak langsung maupun tidak langsung terhadap perkembangan anak, namun perkembangan itu tetap dipengaruhi juga oleh sifat bawaan yang dimiliki anak.


Kondisi tumbuh kembang anak yang baik akan berpengaruh pada kualitas manusia (anak) di kemudian hari. Walaupun konsep kualitas manusia itu sendiri memang masih abstrak, akan tetapi menurut Juwono Sudarsono (1998), mantan menteri Pendidikan dan Kebudayaan, mengungkapkan bahwa kualitas manusia itu, ditandai dengan ciri-ciri: Pertama, cerdas, kreatif, terampil, terdidik dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. Kedua, sehat dan berumur panjang. Ketiga, mandiri dan memiliki akses kehidupan yang layak.


Dalam hal ini, yang menentukan kualitas manusia tersebut adalah adanya pembinaan sejak usia dini menyangkut masalah kesehatan, nutrisi, dan stimulus intelektual. Maksudnya, kita tidak dapat mengutamakan hanya salah satu dimensinya saja. Tapi, penanganan ketiga dimensi tersebut (kesehatan, nutrisi dan intelektual) sudah harus dimulai sejak dalam kandungan (prenatal).


Oleh karena itu, upaya pembangunan anak melalui program PAUD, khususnya anak-anak di daerah tertinggal, kritis dan minus harus menjadi prioritas program PAUD. Masalah yang muncul saat ini adalah bagaimana agar program PAUD ini betul-betul mendukung Wajar Dikdas (wajib belajar pendidikan dasar) 9 tahun? Lalu, strategi dan peningkatan akses mutu layanan PAUD seperti apa yang perlu dilakukan guna terwujudnya anak sehat, cerdas, ceria dan berakhlak mulia, serta memiliki kesiapan memasuki jenjang pendidikan lebih lanjut?


Layanan PAUD


Saat ini, mutu hasil belajar dan efesiensi pelaksanaan pendidikan nasional masih belum memuaskan sebagaimana yang diharapkan. Sebagai contoh, masih rendahnya mutu hasil belajar dan masih adanya peserta didik yang drop out (DO), baik di SD maupun SLTP. Kondisi ini nampaknya masih memerlukan upaya untuk meningkatkan mutu dan efesiensinya.


Apalagi, berdasarkan serangkaian studi selama 30 tahun, terutama di Amerika Serikat, telah menunjukkan bahwa program pembinaan anak usia dini dapat memperbaiki prestasi belajar, baik di SD, SLTP; dapat meningkatkan produktifitas kerja dan penghasilan di masa depannya; serta mengurangi ketergantungannya kepada pelayanan kesehatan dan sosial (Soedijarto; 1998).


Atas dasar itu, maka untuk melaksanakan program wajar pendidikan dasar 9 tahun, serta upaya meningkatkan mutu relevansi dan efesiensi pendidikan nasional, maka adanya program PAUD menjadi suatu hal yang strategis dan penting dalam pembangunan pendidikan anak.


Namun demikian, saat ini kendala yang masih dirasakan dari program PAUD adalah adanya keterbatasan akses dan belum maksimalnya mutu layanan PAUD di masyarakat. Sebagai contoh, dari 4,5 juta anak usia 0-6 tahun di Jawa Barat baru sebanyak 14,28 persen yang terlayani pendidikan anak usia dini (PAUD), baik formal maupun nonformal. Oleh karena itu, target PAUD untuk sejuta anak di Jawa Barat atau 36,21 persen terasa amat berat jika tanpa peran serta semua lapisan masyarakat (Pikiran Rakyat, 26/6/07).


Sedangkan kondisi layanan PAUD sendiri, di Jawa Barat berdasarkan data kabupaten/ kota tahun 2005 menunjukkan cakupannya 370.565 anak (8,13 persen) untuk PAUD formal dan PAUD nonformal 370.565 anak (8,13 persen). Padahal, menurut Ketua Pelaksana Bermain dan Berlomba di Mapolda Jabar, Novillya Virginia, menyebutkan jumlah mereka di Jawa Barat 4,5 juta anak (PR, 26/6/07). Kondisi tersebut, penulis yakin, tidak jauh berbeda dengan keadaan di provinsi lainnya.


Sementara itu, untuk pelaksanaan kegiatan PAUD sendiri di masyarakat dilakukan melalui dua pendekatan. Pertama, PAUD formal dalam bentuk TK/ RA. Kedua, PAUD nonformal diantaranya berupa Kelompok Bermain (KB), Tempat Penitipan Anak (TPA), Posyandu, dan satuan PAUD sejenis lainnya.


Pengembangan PAUD


Suatu program dikatakan baik, bila dalam kegiatannya itu memperhatikan kondisi setempat dan melibatkan (baca: memanfaatkan) potensi yang ada di dalam masyarakat secara optimal. Begitu juga dengan program PAUD haruslah memperhatikan kedua aspek tersebut. Dengan kata lain, program PAUD harus dilakukan secara integral dengan program sejenis yang memiliki tujuan sama. Bila hal tersebut tidak dilakukan secara matang, maka bukannya dukungan dan simpati dari pihak lain yang didapat, tetapi justru sikap antipati dari kelompok masyarakat lainnya.


Hal faktual yang dapat menggambarkan kondisi seperti itu adalah apa yang terjadi di daerah Kab. Garut, Jawa Barat. Seperti diberitakan Surat Kabar Priangan (edisi 19-20 Juni 2007), kehadiran program PAUD di desa-desa Kab. Garut, dikeluhkan oleh sejumlah pengelola pendidikan taman kanak-kanak (TK). Dengan maraknya program itu dikhawatirkan akan mengancam keberadaan sekolah TK yang telah lama berdiri.


Selain itu, maraknya program PAUD, juga menimbulkan kecemburuan. Pasalnya, penyelenggaraan pendidikan PAUD mendapat bantuan dari pemerintah, sedangkan pendidikan TK tidak.


Menyikapi hal terakhir, hemat penulis, hal tersebut muncul kepermukaan dikarenakan masih kurangnya sosialisasi dan komunikasi terhadap adanya program PAUD secara integral dengan program sejenis yang ada di daerah tersebut (baca: masyarakat), seperti TK, RA, TPA, dan lainnya.


Artinya, kalau saja sosialisasi program PAUD itu dilakukan dengan baik dan benar, maka pengelola pendidikan semacam TK dan sejenisnya tidak perlu khawatir dan merasa terancam. Sebab, program PAUD sendiri diperuntukan bagi anak umur 2-4 tahun, sedangkan TK untuk anak 4-6 tahun. Walau pun pada kenyataannya, penulis melihat di lapangan pembagian ini kadang-kadang tidak betul-betul dipatuhi dan tidak ada perbeadaan yang berarti.


Sementara itu, kalau dilihat dari tujuannya, program PAUD bertujuan untuk mengenalkan pendidikan sejak usia dini dan diperuntukkan khusus menampung anak-anak dari keluarga kurang mampu. Sedangkan pendidikan di TK rata-rata dari kalangan keluarga mampu. Dan yang pasti siswa PAUD pun dibatasi hanya 30 anak, sedangkan TK pada umumnya tidak dibatasi.


Untuk itu, pengembangan program PAUD ini ke depan, harus jelas-jelas bersinergi dengan lembaga-lembaga sejenis lainnya, baik yang formal maupun nonformal. Pasalnya, pendidikan semacam TK dan program PAUD ini sesungguhnya adalah sama-sama untuk mengelola masa keemasan anak untuk mempersiapkan memasuki jenjang pendidikan lebih lanjut (baca: mendukung wajib belajar pendidikan dasar 9 tahun). Di sinilah, kelihatannya harus dipersiapkan strategi yang tepat dari adanya program PAUD di masyarakat.


Strategi Peningkatan Akses


Pelaksanaan pembinaan anak usia dini di Indonesia, sesungguhnya selama ini telah dilakukan melalui berbagai upaya. Baik upaya secara langsung (seperti Tempat Penitipan Anak, Kelompok Bermain, dan Taman Kanak Kanak), maupun secara tidak langsung (Posyandu, Balai Keluarga Balita, dan berbagai kegiatan yang dilakukan oleh PKK, KOWANI). Namun demikian, sayangnya pelayanan tersebut masih terpisah-pisah, belum tersikronisasi dan sinergik dengan baik, serta jumlahnya pun masih sangat terbatas jangkauannya.


Atas dasar fakta yang ada selama ini dan dikaitkan dengan sasaran program PAUD, maka alangkah baiknya bila strategi pelaksanaan yang diambil dalam program PAUD ini adalah lebih difokuskan pada pemberdayaan pendidikan anak usia dini melalui pendekatan nonformal, dan tentunya dengan tetap harus bersinergi serta berkoordinasi dengan lembaga-lembaga pendidikan anak usia dini yang bersifat formal.


Untuk itu, secara pendekatan nonformal, langkah menyatukan Posyandu dan Balai Keluarga Balita dalam merealisasikan dari program PAUD adalah sesuatu hal yang realistis dan akan lebih meningkatkan angka pencapaian dari program PAUD. Dalam hal ini, paling tidak ada tiga strategi yang dapat dilakukan terkait dengan upaya peningkatan akses mutu layanan PAUD nonformal dalam mendukung wajib belajar pendidikan dasar 9 tahun.


Pertama, kegiatan penyatuan Posyandu dan BKB harus berimplikasi dalam wujud adanya satu pelayanan yang memberikan bimbingan masalah gizi dan kesehatan yang memadai bagi ibu dan anaknya (baca artikel:

PAUD dan pemenuhan gizi optimal bagi tubuh anak), memberikan informasi tentang cara-cara mendidik dan memberdayakan anak usia dini secara benar.

Kedua, harus didukung dengan keterpaduan pada tingkat masyarakat. Yakni berupa fasilitas umum, kader, kurikulum dan pelatihan yang terintegrasi dengan baik. Dalam arti lain, Posyandu dan BKB itu harus disinergiskan dengan semua program yang memiliki tujuan pada kebutuhan anak umur 0-4 tahun dan atau dengan TK. Sehingga transisi dari rumah ke pelayanan PAUD sebelum masuk SD dapat berjalan lancar.

Di sini, pendidikan yang diperlukan bagi anak usia dini sebagai dasar untuk pendidikan selanjutnya, antara lain: pendidikan gerak tubuh & kinestetik; pendidikan untuk mengembangkan kemampuan verbal/ linguistik; dan pendidikan untuk mengembangkan kemampuan sosio emosional.

Ketiga, adanya program yang integral dalam hubungan birokrasi yang dilakukan oleh berbagai sektor dan departemen yang terkait dengan bidang pemberdayaan pendidikan anak usia dini dan kesejahteraan keluarga. Arti lainnya, adalah perlu adanya gerakan yang bersifat menyeluruh untuk mengembangkan program PAUD melalui KIE.

Sementara itu, Prof. Dr. Soedijarto (1998), dalam makalahnya berjudul: Pembinaan Perkembangan Anak Sejak Dini Sebagai Investasi Untuk Masa Depan, menyebutkan ada 7 pendekatan dan alternatif pelayanan yang dapat dilakukan untuk meningkatnya akses (jangkauan) dan mutu layanan dari program pembinaan pendidikan anak usia dini ini.

Pertama, pealayanan langsung kepada anak-anak melalui program penitipan anak, kelompok bermain, dan berbagai bentuk kelembagaan yang melayani anak secara langsung dan melembaga.

Kedua, pendidikan “caregives” baik orang tua (ibu), atau lembaga sukarela melalui program-program kunjungan dari rumah ke rumah, pendidikan keluarga, Posyandu, atau Balai Keluarga Balita.

Ketiga, peningkatan partisipasi masyarakat melalui program pemasyarakatan dengan melatih kader dan pemimpin seperti yang dilakukan di Malaysia dan Thailand.

Keempat, pengembangan kemampuan tenaga ahli dan semi ahli untuk memberikan model-model pembinaan yang dapat menarik perhatian dan memungkinkan motivasi masyarakat untuk mengikuti jejak model-model yang dikembangkan para ahli.

Kelima, peningkatan kesadaran masyarakat dan peningkatan tuntutan masyarakat perlunya program tersebut.

Keenam, mengembangkan jaringan kerja dalam masyarakat yang dapat mendukung terlaksananya suatu program, seperti ditetapkannya peraturan-peraturan yang secara tidak langsung mendorong atau memperkuat kemauan seluruh masyarakat untuk melaksanakan program pembinaan anak usia dini.

Ketujuh, mengembangkan kebijakasanaan nasional yang menjadi landasan terlaksananya program secara ajeg dan sinambung.

Akhirnya, melalui strategi dan usaha peningkatan akses mutu layanan PAUD seperti di atas, maka diharapkan keberadaan program PAUD ini dapat menghasilkan anak sehat, cerdas, ceria dan berakhlak mulia, serta memiliki kesiapan memasuki jenjang pendidikan lebih lanjut. Tepatnya, mendukung program wajib belajar pendidikan dasar 9 tahun.***

Penulis, adalah pendidik dan blogger di Majelis Inspirasi Alquran dan Realitas Alam/ MIQRA Indonesia,
www.miqra.blogspot.com.

Artikel ini diikutsertakan dalam Lomba Jurnalistik PAUD Tingkat Nasional 2007, yang diselenggarakan oleh Direktorat PAUD – Direktorat Jenderal Pendidikan Luar Sekolah Departemen Pendidikan Nasional.


Oleh Arda Dinata


Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) merupakan suatu upaya pembinaan yang ditujukan bagi anak berusia 0-6 tahun dalam aspek-aspek pendidikan, kesehatan dan perbaikan gizi. Usaha ini dilakukan oleh lembaga/ lingkungan yang terdiri dari keluarga, sekolah, lembaga-lembaga perawatan, keagamaan dan pengasuhan serta teman sebaya yang berpengaruh besar pada tumbuh kembang anak.


Para ahli psikologi perkembangan mengemukakan bahwa tumbuh kembang anak ditentukan oleh interaksi antara faktor bawaan dan faktor lingkungan. Adanya pengakuan orang tua, pendidikan, maupun lingkungan makro lainnya termasuk kebijakan pemerintah (keputusan) tentang upaya meningkatkan kualitas anak, merupakan faktor lingkungan yang mempunyai dampak langsung maupun tidak langsung terhadap perkembangan anak, namun perkembangan itu tetap dipengaruhi juga oleh sifat bawaan yang dimiliki anak.


Kondisi tumbuh kembang anak yang baik akan berpengaruh pada kualitas manusia (anak) di kemudian hari. Walaupun konsep kualitas manusia itu sendiri memang masih abstrak, akan tetapi menurut Juwono Sudarsono (1998), mantan menteri Pendidikan dan Kebudayaan, mengungkapkan bahwa kualitas manusia itu, ditandai dengan ciri-ciri: Pertama, cerdas, kreatif, terampil, terdidik dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. Kedua, sehat dan berumur panjang. Ketiga, mandiri dan memiliki akses kehidupan yang layak.


Dalam hal ini, yang menentukan kualitas manusia tersebut adalah adanya pembinaan sejak usia dini menyangkut masalah kesehatan, nutrisi, dan stimulus intelektual. Maksudnya, kita tidak dapat mengutamakan hanya salah satu dimensinya saja. Tapi, penanganan ketiga dimensi tersebut (kesehatan, nutrisi dan intelektual) sudah harus dimulai sejak dalam kandungan (prenatal).


Oleh karena itu, upaya pembangunan anak melalui program PAUD, khususnya anak-anak di daerah tertinggal, kritis dan minus harus menjadi prioritas program PAUD. Masalah yang muncul saat ini adalah bagaimana agar program PAUD ini betul-betul mendukung Wajar Dikdas (wajib belajar pendidikan dasar) 9 tahun? Lalu, strategi dan peningkatan akses mutu layanan PAUD seperti apa yang perlu dilakukan guna terwujudnya anak sehat, cerdas, ceria dan berakhlak mulia, serta memiliki kesiapan memasuki jenjang pendidikan lebih lanjut?


Layanan PAUD


Saat ini, mutu hasil belajar dan efesiensi pelaksanaan pendidikan nasional masih belum memuaskan sebagaimana yang diharapkan. Sebagai contoh, masih rendahnya mutu hasil belajar dan masih adanya peserta didik yang drop out (DO), baik di SD maupun SLTP. Kondisi ini nampaknya masih memerlukan upaya untuk meningkatkan mutu dan efesiensinya.


Apalagi, berdasarkan serangkaian studi selama 30 tahun, terutama di Amerika Serikat, telah menunjukkan bahwa program pembinaan anak usia dini dapat memperbaiki prestasi belajar, baik di SD, SLTP; dapat meningkatkan produktifitas kerja dan penghasilan di masa depannya; serta mengurangi ketergantungannya kepada pelayanan kesehatan dan sosial (Soedijarto; 1998).


Atas dasar itu, maka untuk melaksanakan program wajar pendidikan dasar 9 tahun, serta upaya meningkatkan mutu relevansi dan efesiensi pendidikan nasional, maka adanya program PAUD menjadi suatu hal yang strategis dan penting dalam pembangunan pendidikan anak.


Namun demikian, saat ini kendala yang masih dirasakan dari program PAUD adalah adanya keterbatasan akses dan belum maksimalnya mutu layanan PAUD di masyarakat. Sebagai contoh, dari 4,5 juta anak usia 0-6 tahun di Jawa Barat baru sebanyak 14,28 persen yang terlayani pendidikan anak usia dini (PAUD), baik formal maupun nonformal. Oleh karena itu, target PAUD untuk sejuta anak di Jawa Barat atau 36,21 persen terasa amat berat jika tanpa peran serta semua lapisan masyarakat (Pikiran Rakyat, 26/6/07).


Sedangkan kondisi layanan PAUD sendiri, di Jawa Barat berdasarkan data kabupaten/ kota tahun 2005 menunjukkan cakupannya 370.565 anak (8,13 persen) untuk PAUD formal dan PAUD nonformal 370.565 anak (8,13 persen). Padahal, menurut Ketua Pelaksana Bermain dan Berlomba di Mapolda Jabar, Novillya Virginia, menyebutkan jumlah mereka di Jawa Barat 4,5 juta anak (PR, 26/6/07). Kondisi tersebut, penulis yakin, tidak jauh berbeda dengan keadaan di provinsi lainnya.


Sementara itu, untuk pelaksanaan kegiatan PAUD sendiri di masyarakat dilakukan melalui dua pendekatan. Pertama, PAUD formal dalam bentuk TK/ RA. Kedua, PAUD nonformal diantaranya berupa Kelompok Bermain (KB), Tempat Penitipan Anak (TPA), Posyandu, dan satuan PAUD sejenis lainnya.


Pengembangan PAUD


Suatu program dikatakan baik, bila dalam kegiatannya itu memperhatikan kondisi setempat dan melibatkan (baca: memanfaatkan) potensi yang ada di dalam masyarakat secara optimal. Begitu juga dengan program PAUD haruslah memperhatikan kedua aspek tersebut. Dengan kata lain, program PAUD harus dilakukan secara integral dengan program sejenis yang memiliki tujuan sama. Bila hal tersebut tidak dilakukan secara matang, maka bukannya dukungan dan simpati dari pihak lain yang didapat, tetapi justru sikap antipati dari kelompok masyarakat lainnya.


Hal faktual yang dapat menggambarkan kondisi seperti itu adalah apa yang terjadi di daerah Kab. Garut, Jawa Barat. Seperti diberitakan Surat Kabar Priangan (edisi 19-20 Juni 2007), kehadiran program PAUD di desa-desa Kab. Garut, dikeluhkan oleh sejumlah pengelola pendidikan taman kanak-kanak (TK). Dengan maraknya program itu dikhawatirkan akan mengancam keberadaan sekolah TK yang telah lama berdiri.


Selain itu, maraknya program PAUD, juga menimbulkan kecemburuan. Pasalnya, penyelenggaraan pendidikan PAUD mendapat bantuan dari pemerintah, sedangkan pendidikan TK tidak.


Menyikapi hal terakhir, hemat penulis, hal tersebut muncul kepermukaan dikarenakan masih kurangnya sosialisasi dan komunikasi terhadap adanya program PAUD secara integral dengan program sejenis yang ada di daerah tersebut (baca: masyarakat), seperti TK, RA, TPA, dan lainnya.


Artinya, kalau saja sosialisasi program PAUD itu dilakukan dengan baik dan benar, maka pengelola pendidikan semacam TK dan sejenisnya tidak perlu khawatir dan merasa terancam. Sebab, program PAUD sendiri diperuntukan bagi anak umur 2-4 tahun, sedangkan TK untuk anak 4-6 tahun. Walau pun pada kenyataannya, penulis melihat di lapangan pembagian ini kadang-kadang tidak betul-betul dipatuhi dan tidak ada perbeadaan yang berarti.


Sementara itu, kalau dilihat dari tujuannya, program PAUD bertujuan untuk mengenalkan pendidikan sejak usia dini dan diperuntukkan khusus menampung anak-anak dari keluarga kurang mampu. Sedangkan pendidikan di TK rata-rata dari kalangan keluarga mampu. Dan yang pasti siswa PAUD pun dibatasi hanya 30 anak, sedangkan TK pada umumnya tidak dibatasi.


Untuk itu, pengembangan program PAUD ini ke depan, harus jelas-jelas bersinergi dengan lembaga-lembaga sejenis lainnya, baik yang formal maupun nonformal. Pasalnya, pendidikan semacam TK dan program PAUD ini sesungguhnya adalah sama-sama untuk mengelola masa keemasan anak untuk mempersiapkan memasuki jenjang pendidikan lebih lanjut (baca: mendukung wajib belajar pendidikan dasar 9 tahun). Di sinilah, kelihatannya harus dipersiapkan strategi yang tepat dari adanya program PAUD di masyarakat.


Strategi Peningkatan Akses


Pelaksanaan pembinaan anak usia dini di Indonesia, sesungguhnya selama ini telah dilakukan melalui berbagai upaya. Baik upaya secara langsung (seperti Tempat Penitipan Anak, Kelompok Bermain, dan Taman Kanak Kanak), maupun secara tidak langsung (Posyandu, Balai Keluarga Balita, dan berbagai kegiatan yang dilakukan oleh PKK, KOWANI). Namun demikian, sayangnya pelayanan tersebut masih terpisah-pisah, belum tersikronisasi dan sinergik dengan baik, serta jumlahnya pun masih sangat terbatas jangkauannya.


Atas dasar fakta yang ada selama ini dan dikaitkan dengan sasaran program PAUD, maka alangkah baiknya bila strategi pelaksanaan yang diambil dalam program PAUD ini adalah lebih difokuskan pada pemberdayaan pendidikan anak usia dini melalui pendekatan nonformal, dan tentunya dengan tetap harus bersinergi serta berkoordinasi dengan lembaga-lembaga pendidikan anak usia dini yang bersifat formal.


Untuk itu, secara pendekatan nonformal, langkah menyatukan Posyandu dan Balai Keluarga Balita dalam merealisasikan dari program PAUD adalah sesuatu hal yang realistis dan akan lebih meningkatkan angka pencapaian dari program PAUD. Dalam hal ini, paling tidak ada tiga strategi yang dapat dilakukan terkait dengan upaya peningkatan akses mutu layanan PAUD nonformal dalam mendukung wajib belajar pendidikan dasar 9 tahun.


Pertama, kegiatan penyatuan Posyandu dan BKB harus berimplikasi dalam wujud adanya satu pelayanan yang memberikan bimbingan masalah gizi dan kesehatan yang memadai bagi ibu dan anaknya (baca artikel:

PAUD dan pemenuhan gizi optimal bagi tubuh anak), memberikan informasi tentang cara-cara mendidik dan memberdayakan anak usia dini secara benar.

Kedua, harus didukung dengan keterpaduan pada tingkat masyarakat. Yakni berupa fasilitas umum, kader, kurikulum dan pelatihan yang terintegrasi dengan baik. Dalam arti lain, Posyandu dan BKB itu harus disinergiskan dengan semua program yang memiliki tujuan pada kebutuhan anak umur 0-4 tahun dan atau dengan TK. Sehingga transisi dari rumah ke pelayanan PAUD sebelum masuk SD dapat berjalan lancar.

Di sini, pendidikan yang diperlukan bagi anak usia dini sebagai dasar untuk pendidikan selanjutnya, antara lain: pendidikan gerak tubuh & kinestetik; pendidikan untuk mengembangkan kemampuan verbal/ linguistik; dan pendidikan untuk mengembangkan kemampuan sosio emosional.

Ketiga, adanya program yang integral dalam hubungan birokrasi yang dilakukan oleh berbagai sektor dan departemen yang terkait dengan bidang pemberdayaan pendidikan anak usia dini dan kesejahteraan keluarga. Arti lainnya, adalah perlu adanya gerakan yang bersifat menyeluruh untuk mengembangkan program PAUD melalui KIE.

Sementara itu, Prof. Dr. Soedijarto (1998), dalam makalahnya berjudul: Pembinaan Perkembangan Anak Sejak Dini Sebagai Investasi Untuk Masa Depan, menyebutkan ada 7 pendekatan dan alternatif pelayanan yang dapat dilakukan untuk meningkatnya akses (jangkauan) dan mutu layanan dari program pembinaan pendidikan anak usia dini ini.

Pertama, pealayanan langsung kepada anak-anak melalui program penitipan anak, kelompok bermain, dan berbagai bentuk kelembagaan yang melayani anak secara langsung dan melembaga.

Kedua, pendidikan “caregives” baik orang tua (ibu), atau lembaga sukarela melalui program-program kunjungan dari rumah ke rumah, pendidikan keluarga, Posyandu, atau Balai Keluarga Balita.

Ketiga, peningkatan partisipasi masyarakat melalui program pemasyarakatan dengan melatih kader dan pemimpin seperti yang dilakukan di Malaysia dan Thailand.

Keempat, pengembangan kemampuan tenaga ahli dan semi ahli untuk memberikan model-model pembinaan yang dapat menarik perhatian dan memungkinkan motivasi masyarakat untuk mengikuti jejak model-model yang dikembangkan para ahli.

Kelima, peningkatan kesadaran masyarakat dan peningkatan tuntutan masyarakat perlunya program tersebut.

Keenam, mengembangkan jaringan kerja dalam masyarakat yang dapat mendukung terlaksananya suatu program, seperti ditetapkannya peraturan-peraturan yang secara tidak langsung mendorong atau memperkuat kemauan seluruh masyarakat untuk melaksanakan program pembinaan anak usia dini.

Ketujuh, mengembangkan kebijakasanaan nasional yang menjadi landasan terlaksananya program secara ajeg dan sinambung.

Akhirnya, melalui strategi dan usaha peningkatan akses mutu layanan PAUD seperti di atas, maka diharapkan keberadaan program PAUD ini dapat menghasilkan anak sehat, cerdas, ceria dan berakhlak mulia, serta memiliki kesiapan memasuki jenjang pendidikan lebih lanjut. Tepatnya, mendukung program wajib belajar pendidikan dasar 9 tahun.***

Penulis, adalah pendidik dan blogger di Majelis Inspirasi Alquran dan Realitas Alam/ MIQRA Indonesia,
www.miqra.blogspot.com.

Artikel ini diikutsertakan dalam Lomba Jurnalistik PAUD Tingkat Nasional 2007, yang diselenggarakan oleh Direktorat PAUD – Direktorat Jenderal Pendidikan Luar Sekolah Departemen Pendidikan Nasional.


Oleh Arda Dinata


Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) merupakan suatu upaya pembinaan yang ditujukan bagi anak berusia 0-6 tahun dalam aspek-aspek pendidikan, kesehatan dan perbaikan gizi. Usaha ini dilakukan oleh lembaga/ lingkungan yang terdiri dari keluarga, sekolah, lembaga-lembaga perawatan, keagamaan dan pengasuhan serta teman sebaya yang berpengaruh besar pada tumbuh kembang anak.


Para ahli psikologi perkembangan mengemukakan bahwa tumbuh kembang anak ditentukan oleh interaksi antara faktor bawaan dan faktor lingkungan. Adanya pengakuan orang tua, pendidikan, maupun lingkungan makro lainnya termasuk kebijakan pemerintah (keputusan) tentang upaya meningkatkan kualitas anak, merupakan faktor lingkungan yang mempunyai dampak langsung maupun tidak langsung terhadap perkembangan anak, namun perkembangan itu tetap dipengaruhi juga oleh sifat bawaan yang dimiliki anak.


Kondisi tumbuh kembang anak yang baik akan berpengaruh pada kualitas manusia (anak) di kemudian hari. Walaupun konsep kualitas manusia itu sendiri memang masih abstrak, akan tetapi menurut Juwono Sudarsono (1998), mantan menteri Pendidikan dan Kebudayaan, mengungkapkan bahwa kualitas manusia itu, ditandai dengan ciri-ciri: Pertama, cerdas, kreatif, terampil, terdidik dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. Kedua, sehat dan berumur panjang. Ketiga, mandiri dan memiliki akses kehidupan yang layak.


Dalam hal ini, yang menentukan kualitas manusia tersebut adalah adanya pembinaan sejak usia dini menyangkut masalah kesehatan, nutrisi, dan stimulus intelektual. Maksudnya, kita tidak dapat mengutamakan hanya salah satu dimensinya saja. Tapi, penanganan ketiga dimensi tersebut (kesehatan, nutrisi dan intelektual) sudah harus dimulai sejak dalam kandungan (prenatal).


Oleh karena itu, upaya pembangunan anak melalui program PAUD, khususnya anak-anak di daerah tertinggal, kritis dan minus harus menjadi prioritas program PAUD. Masalah yang muncul saat ini adalah bagaimana agar program PAUD ini betul-betul mendukung Wajar Dikdas (wajib belajar pendidikan dasar) 9 tahun? Lalu, strategi dan peningkatan akses mutu layanan PAUD seperti apa yang perlu dilakukan guna terwujudnya anak sehat, cerdas, ceria dan berakhlak mulia, serta memiliki kesiapan memasuki jenjang pendidikan lebih lanjut?


Layanan PAUD


Saat ini, mutu hasil belajar dan efesiensi pelaksanaan pendidikan nasional masih belum memuaskan sebagaimana yang diharapkan. Sebagai contoh, masih rendahnya mutu hasil belajar dan masih adanya peserta didik yang drop out (DO), baik di SD maupun SLTP. Kondisi ini nampaknya masih memerlukan upaya untuk meningkatkan mutu dan efesiensinya.


Apalagi, berdasarkan serangkaian studi selama 30 tahun, terutama di Amerika Serikat, telah menunjukkan bahwa program pembinaan anak usia dini dapat memperbaiki prestasi belajar, baik di SD, SLTP; dapat meningkatkan produktifitas kerja dan penghasilan di masa depannya; serta mengurangi ketergantungannya kepada pelayanan kesehatan dan sosial (Soedijarto; 1998).


Atas dasar itu, maka untuk melaksanakan program wajar pendidikan dasar 9 tahun, serta upaya meningkatkan mutu relevansi dan efesiensi pendidikan nasional, maka adanya program PAUD menjadi suatu hal yang strategis dan penting dalam pembangunan pendidikan anak.


Namun demikian, saat ini kendala yang masih dirasakan dari program PAUD adalah adanya keterbatasan akses dan belum maksimalnya mutu layanan PAUD di masyarakat. Sebagai contoh, dari 4,5 juta anak usia 0-6 tahun di Jawa Barat baru sebanyak 14,28 persen yang terlayani pendidikan anak usia dini (PAUD), baik formal maupun nonformal. Oleh karena itu, target PAUD untuk sejuta anak di Jawa Barat atau 36,21 persen terasa amat berat jika tanpa peran serta semua lapisan masyarakat (Pikiran Rakyat, 26/6/07).


Sedangkan kondisi layanan PAUD sendiri, di Jawa Barat berdasarkan data kabupaten/ kota tahun 2005 menunjukkan cakupannya 370.565 anak (8,13 persen) untuk PAUD formal dan PAUD nonformal 370.565 anak (8,13 persen). Padahal, menurut Ketua Pelaksana Bermain dan Berlomba di Mapolda Jabar, Novillya Virginia, menyebutkan jumlah mereka di Jawa Barat 4,5 juta anak (PR, 26/6/07). Kondisi tersebut, penulis yakin, tidak jauh berbeda dengan keadaan di provinsi lainnya.


Sementara itu, untuk pelaksanaan kegiatan PAUD sendiri di masyarakat dilakukan melalui dua pendekatan. Pertama, PAUD formal dalam bentuk TK/ RA. Kedua, PAUD nonformal diantaranya berupa Kelompok Bermain (KB), Tempat Penitipan Anak (TPA), Posyandu, dan satuan PAUD sejenis lainnya.


Pengembangan PAUD


Suatu program dikatakan baik, bila dalam kegiatannya itu memperhatikan kondisi setempat dan melibatkan (baca: memanfaatkan) potensi yang ada di dalam masyarakat secara optimal. Begitu juga dengan program PAUD haruslah memperhatikan kedua aspek tersebut. Dengan kata lain, program PAUD harus dilakukan secara integral dengan program sejenis yang memiliki tujuan sama. Bila hal tersebut tidak dilakukan secara matang, maka bukannya dukungan dan simpati dari pihak lain yang didapat, tetapi justru sikap antipati dari kelompok masyarakat lainnya.


Hal faktual yang dapat menggambarkan kondisi seperti itu adalah apa yang terjadi di daerah Kab. Garut, Jawa Barat. Seperti diberitakan Surat Kabar Priangan (edisi 19-20 Juni 2007), kehadiran program PAUD di desa-desa Kab. Garut, dikeluhkan oleh sejumlah pengelola pendidikan taman kanak-kanak (TK). Dengan maraknya program itu dikhawatirkan akan mengancam keberadaan sekolah TK yang telah lama berdiri.


Selain itu, maraknya program PAUD, juga menimbulkan kecemburuan. Pasalnya, penyelenggaraan pendidikan PAUD mendapat bantuan dari pemerintah, sedangkan pendidikan TK tidak.


Menyikapi hal terakhir, hemat penulis, hal tersebut muncul kepermukaan dikarenakan masih kurangnya sosialisasi dan komunikasi terhadap adanya program PAUD secara integral dengan program sejenis yang ada di daerah tersebut (baca: masyarakat), seperti TK, RA, TPA, dan lainnya.


Artinya, kalau saja sosialisasi program PAUD itu dilakukan dengan baik dan benar, maka pengelola pendidikan semacam TK dan sejenisnya tidak perlu khawatir dan merasa terancam. Sebab, program PAUD sendiri diperuntukan bagi anak umur 2-4 tahun, sedangkan TK untuk anak 4-6 tahun. Walau pun pada kenyataannya, penulis melihat di lapangan pembagian ini kadang-kadang tidak betul-betul dipatuhi dan tidak ada perbeadaan yang berarti.


Sementara itu, kalau dilihat dari tujuannya, program PAUD bertujuan untuk mengenalkan pendidikan sejak usia dini dan diperuntukkan khusus menampung anak-anak dari keluarga kurang mampu. Sedangkan pendidikan di TK rata-rata dari kalangan keluarga mampu. Dan yang pasti siswa PAUD pun dibatasi hanya 30 anak, sedangkan TK pada umumnya tidak dibatasi.


Untuk itu, pengembangan program PAUD ini ke depan, harus jelas-jelas bersinergi dengan lembaga-lembaga sejenis lainnya, baik yang formal maupun nonformal. Pasalnya, pendidikan semacam TK dan program PAUD ini sesungguhnya adalah sama-sama untuk mengelola masa keemasan anak untuk mempersiapkan memasuki jenjang pendidikan lebih lanjut (baca: mendukung wajib belajar pendidikan dasar 9 tahun). Di sinilah, kelihatannya harus dipersiapkan strategi yang tepat dari adanya program PAUD di masyarakat.


Strategi Peningkatan Akses


Pelaksanaan pembinaan anak usia dini di Indonesia, sesungguhnya selama ini telah dilakukan melalui berbagai upaya. Baik upaya secara langsung (seperti Tempat Penitipan Anak, Kelompok Bermain, dan Taman Kanak Kanak), maupun secara tidak langsung (Posyandu, Balai Keluarga Balita, dan berbagai kegiatan yang dilakukan oleh PKK, KOWANI). Namun demikian, sayangnya pelayanan tersebut masih terpisah-pisah, belum tersikronisasi dan sinergik dengan baik, serta jumlahnya pun masih sangat terbatas jangkauannya.


Atas dasar fakta yang ada selama ini dan dikaitkan dengan sasaran program PAUD, maka alangkah baiknya bila strategi pelaksanaan yang diambil dalam program PAUD ini adalah lebih difokuskan pada pemberdayaan pendidikan anak usia dini melalui pendekatan nonformal, dan tentunya dengan tetap harus bersinergi serta berkoordinasi dengan lembaga-lembaga pendidikan anak usia dini yang bersifat formal.


Untuk itu, secara pendekatan nonformal, langkah menyatukan Posyandu dan Balai Keluarga Balita dalam merealisasikan dari program PAUD adalah sesuatu hal yang realistis dan akan lebih meningkatkan angka pencapaian dari program PAUD. Dalam hal ini, paling tidak ada tiga strategi yang dapat dilakukan terkait dengan upaya peningkatan akses mutu layanan PAUD nonformal dalam mendukung wajib belajar pendidikan dasar 9 tahun.


Pertama, kegiatan penyatuan Posyandu dan BKB harus berimplikasi dalam wujud adanya satu pelayanan yang memberikan bimbingan masalah gizi dan kesehatan yang memadai bagi ibu dan anaknya (baca artikel:

PAUD dan pemenuhan gizi optimal bagi tubuh anak), memberikan informasi tentang cara-cara mendidik dan memberdayakan anak usia dini secara benar.

Kedua, harus didukung dengan keterpaduan pada tingkat masyarakat. Yakni berupa fasilitas umum, kader, kurikulum dan pelatihan yang terintegrasi dengan baik. Dalam arti lain, Posyandu dan BKB itu harus disinergiskan dengan semua program yang memiliki tujuan pada kebutuhan anak umur 0-4 tahun dan atau dengan TK. Sehingga transisi dari rumah ke pelayanan PAUD sebelum masuk SD dapat berjalan lancar.

Di sini, pendidikan yang diperlukan bagi anak usia dini sebagai dasar untuk pendidikan selanjutnya, antara lain: pendidikan gerak tubuh & kinestetik; pendidikan untuk mengembangkan kemampuan verbal/ linguistik; dan pendidikan untuk mengembangkan kemampuan sosio emosional.

Ketiga, adanya program yang integral dalam hubungan birokrasi yang dilakukan oleh berbagai sektor dan departemen yang terkait dengan bidang pemberdayaan pendidikan anak usia dini dan kesejahteraan keluarga. Arti lainnya, adalah perlu adanya gerakan yang bersifat menyeluruh untuk mengembangkan program PAUD melalui KIE.

Sementara itu, Prof. Dr. Soedijarto (1998), dalam makalahnya berjudul: Pembinaan Perkembangan Anak Sejak Dini Sebagai Investasi Untuk Masa Depan, menyebutkan ada 7 pendekatan dan alternatif pelayanan yang dapat dilakukan untuk meningkatnya akses (jangkauan) dan mutu layanan dari program pembinaan pendidikan anak usia dini ini.

Pertama, pealayanan langsung kepada anak-anak melalui program penitipan anak, kelompok bermain, dan berbagai bentuk kelembagaan yang melayani anak secara langsung dan melembaga.

Kedua, pendidikan “caregives” baik orang tua (ibu), atau lembaga sukarela melalui program-program kunjungan dari rumah ke rumah, pendidikan keluarga, Posyandu, atau Balai Keluarga Balita.

Ketiga, peningkatan partisipasi masyarakat melalui program pemasyarakatan dengan melatih kader dan pemimpin seperti yang dilakukan di Malaysia dan Thailand.

Keempat, pengembangan kemampuan tenaga ahli dan semi ahli untuk memberikan model-model pembinaan yang dapat menarik perhatian dan memungkinkan motivasi masyarakat untuk mengikuti jejak model-model yang dikembangkan para ahli.

Kelima, peningkatan kesadaran masyarakat dan peningkatan tuntutan masyarakat perlunya program tersebut.

Keenam, mengembangkan jaringan kerja dalam masyarakat yang dapat mendukung terlaksananya suatu program, seperti ditetapkannya peraturan-peraturan yang secara tidak langsung mendorong atau memperkuat kemauan seluruh masyarakat untuk melaksanakan program pembinaan anak usia dini.

Ketujuh, mengembangkan kebijakasanaan nasional yang menjadi landasan terlaksananya program secara ajeg dan sinambung.

Akhirnya, melalui strategi dan usaha peningkatan akses mutu layanan PAUD seperti di atas, maka diharapkan keberadaan program PAUD ini dapat menghasilkan anak sehat, cerdas, ceria dan berakhlak mulia, serta memiliki kesiapan memasuki jenjang pendidikan lebih lanjut. Tepatnya, mendukung program wajib belajar pendidikan dasar 9 tahun.***

Penulis, adalah pendidik dan blogger di Majelis Inspirasi Alquran dan Realitas Alam/ MIQRA Indonesia,
www.miqra.blogspot.com.

Artikel ini diikutsertakan dalam Lomba Jurnalistik PAUD Tingkat Nasional 2007, yang diselenggarakan oleh Direktorat PAUD – Direktorat Jenderal Pendidikan Luar Sekolah Departemen Pendidikan Nasional.


PAUD dan Pemenuhan Gizi Optimal Bagi Tubuh Anak
Lihat Detail

PAUD dan Pemenuhan Gizi Optimal Bagi Tubuh Anak

Oleh Arda Dinata

Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) merupakan suatu upaya pembinaan yang ditujukan bagi anak berusia 0-6 tahun dalam aspek-aspek pendidikan, kesehatan dan perbaikan gizi.



Peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM) perlu dilakukan sejak masa konsepsi/ dalam kandungan sampai dengan usia anak pra-sekolah. Dengan demikian akan dicapai tumbuh kembang anak balita secara optimal. Sehingga akan berdampak pada terhindarnya dari masalah/ gangguan gizi kelak pada usia dewasa. Tulisan ini mencoba menguraikan bagaimana pemenuhan gizi optimal tersebut bagi tubuh seorang anak pada usia dini.


Anak, sesuai dengan UU RI No. 4 tahun 1979, tentang Kesejahteraan Anak, dinyatakan bahwa anak adalah orang yang berusia 0-21 tahun dan belum menikah. Dalam pengertian yang lebih luas, anak adalah manusia yang masih mengalami perkembangan, baik jasmani maupun kejiwaannya. Anak, diartikan juga sebagai manusia yang masih harus mengembangkan segala potensi kognitif, afektif dan psiko-motoriknya.


Lebih dari itu, anak merupakan manusia yang belum mencapai taraf kedewasaannya. Masih berada dalam tahap perkembangan. Dalam konteks tulisan ini, kita sebagai orang tua harus membimbing dan menjadikan anak terbiasa memperhatikan nilai gizi dari makanan yang akan dikonsumsinya sejak usia dini.


Terpenuhinya kebutuhan gizi bagi seorang anak, tidak lain adalah pemenuhan gizi optimal bagi tubuh yang dianjurkan dan didasarkan pada tahapan usia, jenis kelamin, serta status kesehatannya.


Untuk mendapatkan gizi sehat dan berada dalam tingkatan kesehatan yang baik bagi setiap anggota keluarga (anak), sebaiknya kita perlu mengetahui terlebih dahulu akan prinsip-prinsip pengaturan gizi bagi seluruh anggota keluarga.


Prinsip-prinsip dasar pengaturan gizi pada anak, dapat kita kelompokkan menjadi dua. Yakni prinsip dasar makanan usia pra-sekolah (usia 1-6 tahun) dan prinsip dasar makanan anak usia sekolah (usia 7-21 tahun).


Usia Pra-Sekolah


Usia pra-sekolah ini dapat kita bedakan menjadi dua golongan, yaitu: (1) Makanan anak balita (usia 1-3 tahun). Jenis makanan yang paling disukai anak balita, biasanya adalah makanan yang manis-manis, seperti coklat, permen, es krim, dan manisan.


Sebaiknya, pada anak usia balita ini, makanan yang terlalu banyak mengandung gula dibatasi, dan atau jangan diberikan, agar gigi susunya tidak rusak atau berlubang (caries). Kita tahu, pada umumnya gigi susu anak akan lengkap pada usia 2 tahun. Tetapi belum cukup kuat untuk menggigit dan mengunyah makanan.


Pada periode ini, anak bersifat sebagai konsumen pasif. Dalam arti lain, jenis makanannya sangat tergantung pada yang diberikan oleh ibunya. Dalam hal ini, ada satu hal yang perlu diketahui oleh setiap ibu. Yaitu bila anak pada suatu saat menolak pemberian makanan yang kita berikan, maka jangan dipaksakan untuk dimakannya.


Hal tersebut dapat menyebabkan anak bersifat antipati dan mungkin akan menolak makanan tersebut untuk selamanya. Pada usia ini, kita hendaknya harus berusaha melatih, mengupayakan dan mengarahkan si anak untuk mengikuti pola makan orang dewasa.


Usia 1-3 tahun, biasanya, anak sangat rentan terhadap gangguan gizi, seperti kekurangan vitamin A, zat besi (anemia), kalori dan protein. Kekurangan vitamin A dapat mengakibatkan gangguan fungsi pada mata, sedangkan kekurangan kalori dan protein dapat menyebabkan terhambatnya pertumbuhan dan kecerdasan anak.


(2) Makanan anak usia 4-6 tahun. Pada usia ini, anak-anak masih rentan terhadap gangguan penyakit gizi dan infeksi. Sehingga, pemberian makanan yang bergizi tetap menjadi perhatian orang tua, para pembimbing, dan pendidik di sekolah.


Kemampuan mencerna makanannya, pada tahap ini sudah terlihat mendekati orang dewasa, sehingga sudah saatnya si anak diajak menikmati makan bersama dengan anggota keluarga lainnya (ayah, ibu, dan saudara), serta diusahakan disuruh belajar untuk makan sendiri. Situasi demikian akan bermanfaat sekali dalam mendidik anak. Karena dari sini terdapat 101 macam simbol nilai didikan bagi anak telah menyelimutinya, seperti kebersamaan, sopan santun, menghargai orang lain, dan lainnya.


Pendidikan tentang nilai gizi makanan, tidak ada salahnya mulai diajarkan kepada mereka. Dan merupakan saat yang tepat untuk menganjurkan yang baik-baik pada anak. Karena, pada periode ini, anak sudah dapat mengingat-ingat sesuatu yang dilihat dan didengar dari orang tuanya serta lingkungan sekitarnya. Sehingga akhirnya, si anak dapat memilih dan menyukai makanan bergizi. Anak seusia ini sudah menjadi konsumen pangan aktif. Tetapi, pemberian makanan yang manis-manis tetap perlu dibatasi, agar gigi geliginya tidak cepat caries.


Anak Usia Sekolah


Anak usia sekolah ini, seperti halnya usia pra-sekolah, dapat kita bedakan menjadi tiga kelompok. (1) Makanan anak pra-remaja (usia 7-12 tahun). Golongan anak pra-remaja ini, biasanya mempunyai banyak perhatian dan aktivitas di luar rumah. Sehingga sering lupa untuk makan.


Makan pagi atau sarapan, perlu diperhatikan oleh para orang tua unrtuk mencegah hipoglikemia (turunnya nilai gula darah), dan supaya si anak mudah menangkap pelajaran di sekolah. Selain itu, perhatikan menu makanan yang akan dikonsumsi anak, agar benar-benar memperhatikan nilai gizi empat sehat lima sempurna.


Pada usia ini, gigi susunya tanggal secara berangur-angsur, dan diganti dengan gigi permanen. Anak pada golongan ini, sudah lebih aktif memilih makanan yang disukainya. Kebutuhan energinya lebih besar, selaras dengan meningkatnya aktivitas fisik, seperti olah raga, bermain, dan membantu orang tuanya. Kebutuhan gizi bagi anak laki-laki, akan berbeda dengan anak perempuan. Anak laki-laki lebih banyak melakukan aktivitas fisik, sehingga kebutuhan gizinya lebih besar.


(2) Makanan anak remaja (usia 13-18 tahun). Pada usia ini, anak-anak mulai memasuki masa remaja. Di sini telah terjadi pertumbuhan fisik yang sangat cepat. Sehingga kebutuhan gizi untuk pertumbuhan dan aktivitasnya sangat meningkat.


Pada masa ini, umumnya, si anak mempunyai nafsu makan yang baik, sehingga perlu diperhatikan menu makanan yang akan dikonsumsi anak oleh para orang tua, pembimbing, konseling khusus, dan pendidik di sekolah.


Hal tersebut perlu diperhatikan lebih ekstra, karena pada usia ini mereka sering mencari makanan tambahan atau jajan di luar waktu makan. Melihat gejala ini, setidaknya kita perlu mengelola dan mengkoordinasikan tentang penanganan dan pemberian makanan tambahan yang mengarah pada pencegahan gizi salah yang dikonsumsi oleh anak.


(3) Makanan anak golongan dewasa muda (usia 19-21 tahun). Dalam usia 19-21 tahun, anak-anak mulai memasuki masa menuju kedewasaan muda. Di sini telah terjadi perkembangan fisik, dan terlihat menonjol ciri-ciri perbedaan antara laki-laki dengan perempuan.


Adanya perubahan fisik pada usia ini, mengharuskan tersedianya kebutuhan gizi yang cukup bagi si anak untuk menunjang proses pertumbuhan dan aktivitasnya yang meningkat secara variatif.


Kebiasaan makan di luar waktu makan pada golongan dewasa muda ini, masih tetap dilakukan, dan bahkan lebih sering. Hal ini karena si anak mempunyai nafsu makan yang baik, sehingga perlu diarahkan pada pemenuhan gizi yang seimbang dan makanan yang dikonsumsi dapat berdampak positif terhadap perkembangan fisiknya.


Agar makanan yang dikonsumsi berdampak positif terhadap anak terutama dalam menunjang pengembangan anak usia dini menuju jenjang pendidikan selanjutnya, maka sangat dianjurkan untuk menghidangkan dan menyajikan menu makanan yang seimbang, yang terdiri dari: (a) sumber karbohidrat (makanan pokok), (b) sumber protein (lauk-pauk), dan (c) sumber vitamin serta mineral (sayur-sayuran dan buah-buahan).***


Penulis, adalah pendidik dan blogger di Majelis Inspirasi Alquran dan Realitas Alam/ MIQRA Indonesia, www.miqra.blogspot.com.

Artikel ini diikutsertakan dalam Lomba Jurnalistik PAUD Tingkat Nasional 2007, yang diselenggarakan oleh Direktorat PAUD – Direktorat Jenderal Pendidikan Luar Sekolah Departemen Pendidikan Nasional.

Oleh Arda Dinata

Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) merupakan suatu upaya pembinaan yang ditujukan bagi anak berusia 0-6 tahun dalam aspek-aspek pendidikan, kesehatan dan perbaikan gizi.



Peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM) perlu dilakukan sejak masa konsepsi/ dalam kandungan sampai dengan usia anak pra-sekolah. Dengan demikian akan dicapai tumbuh kembang anak balita secara optimal. Sehingga akan berdampak pada terhindarnya dari masalah/ gangguan gizi kelak pada usia dewasa. Tulisan ini mencoba menguraikan bagaimana pemenuhan gizi optimal tersebut bagi tubuh seorang anak pada usia dini.


Anak, sesuai dengan UU RI No. 4 tahun 1979, tentang Kesejahteraan Anak, dinyatakan bahwa anak adalah orang yang berusia 0-21 tahun dan belum menikah. Dalam pengertian yang lebih luas, anak adalah manusia yang masih mengalami perkembangan, baik jasmani maupun kejiwaannya. Anak, diartikan juga sebagai manusia yang masih harus mengembangkan segala potensi kognitif, afektif dan psiko-motoriknya.


Lebih dari itu, anak merupakan manusia yang belum mencapai taraf kedewasaannya. Masih berada dalam tahap perkembangan. Dalam konteks tulisan ini, kita sebagai orang tua harus membimbing dan menjadikan anak terbiasa memperhatikan nilai gizi dari makanan yang akan dikonsumsinya sejak usia dini.


Terpenuhinya kebutuhan gizi bagi seorang anak, tidak lain adalah pemenuhan gizi optimal bagi tubuh yang dianjurkan dan didasarkan pada tahapan usia, jenis kelamin, serta status kesehatannya.


Untuk mendapatkan gizi sehat dan berada dalam tingkatan kesehatan yang baik bagi setiap anggota keluarga (anak), sebaiknya kita perlu mengetahui terlebih dahulu akan prinsip-prinsip pengaturan gizi bagi seluruh anggota keluarga.


Prinsip-prinsip dasar pengaturan gizi pada anak, dapat kita kelompokkan menjadi dua. Yakni prinsip dasar makanan usia pra-sekolah (usia 1-6 tahun) dan prinsip dasar makanan anak usia sekolah (usia 7-21 tahun).


Usia Pra-Sekolah


Usia pra-sekolah ini dapat kita bedakan menjadi dua golongan, yaitu: (1) Makanan anak balita (usia 1-3 tahun). Jenis makanan yang paling disukai anak balita, biasanya adalah makanan yang manis-manis, seperti coklat, permen, es krim, dan manisan.


Sebaiknya, pada anak usia balita ini, makanan yang terlalu banyak mengandung gula dibatasi, dan atau jangan diberikan, agar gigi susunya tidak rusak atau berlubang (caries). Kita tahu, pada umumnya gigi susu anak akan lengkap pada usia 2 tahun. Tetapi belum cukup kuat untuk menggigit dan mengunyah makanan.


Pada periode ini, anak bersifat sebagai konsumen pasif. Dalam arti lain, jenis makanannya sangat tergantung pada yang diberikan oleh ibunya. Dalam hal ini, ada satu hal yang perlu diketahui oleh setiap ibu. Yaitu bila anak pada suatu saat menolak pemberian makanan yang kita berikan, maka jangan dipaksakan untuk dimakannya.


Hal tersebut dapat menyebabkan anak bersifat antipati dan mungkin akan menolak makanan tersebut untuk selamanya. Pada usia ini, kita hendaknya harus berusaha melatih, mengupayakan dan mengarahkan si anak untuk mengikuti pola makan orang dewasa.


Usia 1-3 tahun, biasanya, anak sangat rentan terhadap gangguan gizi, seperti kekurangan vitamin A, zat besi (anemia), kalori dan protein. Kekurangan vitamin A dapat mengakibatkan gangguan fungsi pada mata, sedangkan kekurangan kalori dan protein dapat menyebabkan terhambatnya pertumbuhan dan kecerdasan anak.


(2) Makanan anak usia 4-6 tahun. Pada usia ini, anak-anak masih rentan terhadap gangguan penyakit gizi dan infeksi. Sehingga, pemberian makanan yang bergizi tetap menjadi perhatian orang tua, para pembimbing, dan pendidik di sekolah.


Kemampuan mencerna makanannya, pada tahap ini sudah terlihat mendekati orang dewasa, sehingga sudah saatnya si anak diajak menikmati makan bersama dengan anggota keluarga lainnya (ayah, ibu, dan saudara), serta diusahakan disuruh belajar untuk makan sendiri. Situasi demikian akan bermanfaat sekali dalam mendidik anak. Karena dari sini terdapat 101 macam simbol nilai didikan bagi anak telah menyelimutinya, seperti kebersamaan, sopan santun, menghargai orang lain, dan lainnya.


Pendidikan tentang nilai gizi makanan, tidak ada salahnya mulai diajarkan kepada mereka. Dan merupakan saat yang tepat untuk menganjurkan yang baik-baik pada anak. Karena, pada periode ini, anak sudah dapat mengingat-ingat sesuatu yang dilihat dan didengar dari orang tuanya serta lingkungan sekitarnya. Sehingga akhirnya, si anak dapat memilih dan menyukai makanan bergizi. Anak seusia ini sudah menjadi konsumen pangan aktif. Tetapi, pemberian makanan yang manis-manis tetap perlu dibatasi, agar gigi geliginya tidak cepat caries.


Anak Usia Sekolah


Anak usia sekolah ini, seperti halnya usia pra-sekolah, dapat kita bedakan menjadi tiga kelompok. (1) Makanan anak pra-remaja (usia 7-12 tahun). Golongan anak pra-remaja ini, biasanya mempunyai banyak perhatian dan aktivitas di luar rumah. Sehingga sering lupa untuk makan.


Makan pagi atau sarapan, perlu diperhatikan oleh para orang tua unrtuk mencegah hipoglikemia (turunnya nilai gula darah), dan supaya si anak mudah menangkap pelajaran di sekolah. Selain itu, perhatikan menu makanan yang akan dikonsumsi anak, agar benar-benar memperhatikan nilai gizi empat sehat lima sempurna.


Pada usia ini, gigi susunya tanggal secara berangur-angsur, dan diganti dengan gigi permanen. Anak pada golongan ini, sudah lebih aktif memilih makanan yang disukainya. Kebutuhan energinya lebih besar, selaras dengan meningkatnya aktivitas fisik, seperti olah raga, bermain, dan membantu orang tuanya. Kebutuhan gizi bagi anak laki-laki, akan berbeda dengan anak perempuan. Anak laki-laki lebih banyak melakukan aktivitas fisik, sehingga kebutuhan gizinya lebih besar.


(2) Makanan anak remaja (usia 13-18 tahun). Pada usia ini, anak-anak mulai memasuki masa remaja. Di sini telah terjadi pertumbuhan fisik yang sangat cepat. Sehingga kebutuhan gizi untuk pertumbuhan dan aktivitasnya sangat meningkat.


Pada masa ini, umumnya, si anak mempunyai nafsu makan yang baik, sehingga perlu diperhatikan menu makanan yang akan dikonsumsi anak oleh para orang tua, pembimbing, konseling khusus, dan pendidik di sekolah.


Hal tersebut perlu diperhatikan lebih ekstra, karena pada usia ini mereka sering mencari makanan tambahan atau jajan di luar waktu makan. Melihat gejala ini, setidaknya kita perlu mengelola dan mengkoordinasikan tentang penanganan dan pemberian makanan tambahan yang mengarah pada pencegahan gizi salah yang dikonsumsi oleh anak.


(3) Makanan anak golongan dewasa muda (usia 19-21 tahun). Dalam usia 19-21 tahun, anak-anak mulai memasuki masa menuju kedewasaan muda. Di sini telah terjadi perkembangan fisik, dan terlihat menonjol ciri-ciri perbedaan antara laki-laki dengan perempuan.


Adanya perubahan fisik pada usia ini, mengharuskan tersedianya kebutuhan gizi yang cukup bagi si anak untuk menunjang proses pertumbuhan dan aktivitasnya yang meningkat secara variatif.


Kebiasaan makan di luar waktu makan pada golongan dewasa muda ini, masih tetap dilakukan, dan bahkan lebih sering. Hal ini karena si anak mempunyai nafsu makan yang baik, sehingga perlu diarahkan pada pemenuhan gizi yang seimbang dan makanan yang dikonsumsi dapat berdampak positif terhadap perkembangan fisiknya.


Agar makanan yang dikonsumsi berdampak positif terhadap anak terutama dalam menunjang pengembangan anak usia dini menuju jenjang pendidikan selanjutnya, maka sangat dianjurkan untuk menghidangkan dan menyajikan menu makanan yang seimbang, yang terdiri dari: (a) sumber karbohidrat (makanan pokok), (b) sumber protein (lauk-pauk), dan (c) sumber vitamin serta mineral (sayur-sayuran dan buah-buahan).***


Penulis, adalah pendidik dan blogger di Majelis Inspirasi Alquran dan Realitas Alam/ MIQRA Indonesia, www.miqra.blogspot.com.

Artikel ini diikutsertakan dalam Lomba Jurnalistik PAUD Tingkat Nasional 2007, yang diselenggarakan oleh Direktorat PAUD – Direktorat Jenderal Pendidikan Luar Sekolah Departemen Pendidikan Nasional.

Daftar Isi Artikel Klik di Sini!


EBOOK: KESLING, MOTIVASI & PENGEMBANGAN DIRI

|HOME |ARDA PUBLISHING HOUSE |MIQRA INDONESIA |OPINI |OPTIMIS |SEHAT |KELUARGA |SPIRIT |IBROH |JURNALISTIK |BUKU |JURNAL |LINGKUNGAN |DUNIA NYAMUK |NEWS MIQRA |BISNIS |PROFIL |ARDA TV|