-->
PASANG IKLAN DI SINI!
(MURAH SESUAI BUDGET ANDA)

Tampilkan postingan dengan label Video Nyamuk. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Video Nyamuk. Tampilkan semua postingan
Profesionalisme Tenaga Sanitarian & Kesehatan Masyarakat Dalam Upaya Pengendalian Vektor DBD dan Pengelolaan Limbah di Fasilitas Pelayanan Kesehatan
Lihat Detail

Profesionalisme Tenaga Sanitarian & Kesehatan Masyarakat Dalam Upaya Pengendalian Vektor DBD dan Pengelolaan Limbah di Fasilitas Pelayanan Kesehatan


"Makalah ini membahas terkait peran profesionalisme tenaga ahli kesehatan lingkungan (sanitarian) & kesehatan masyarakat dalam upaya pengendalian vektor DBD dan pengelolaan limbah di fasilitas pelayanan kesehatan, terutama di puskesmas dan rumah sakit (RS). Pokok bahasan yang dikaji meliputi: peran dan fungsi tenaga ahli kesehatan lingkungan maupun kesehatan masyarakat; essensi pelayanan preventif dan promotif; kompetensi tenaga ahli kesehatan lingkungan dan kesehatan masyarakat; pola pendekatan dalam pemecahan masalah kesehatan; serta program inovasi kesehatan terutama dalam upaya pengendalian vektor DBD (di puskesmas) dan pengelolaan limbah cair di RS."

Profesionalisme Tenaga Sanitarian & Kesehatan Masyarakat Dalam Upaya Pengendalian Vektor DBD dan Pengelolaan Limbah di Fasilitas Pelayanan Kesehatan[1]
Oleh: Arda Dinata[2]


Latar Belakang

Untuk mendukung upaya pemerintah dalam mewujudkan visi pembangunan kesehatan, yaitu mewujudkan masyarakat mandiri untuk hidup sehat, dengan misi membuat rakyat sehat, tentu diperlukan sumber daya manusia bidang kesehatan yang profesional.

Menurut Guru Besar Administrasi Kesehatan Universitas Berkeley, Henrik L Blum, ada empat faktor yang mempengaruhi status kesehatan manusia, yaitu lingkungan, perilaku manusia, pelayanan kesehatan, dan genetik (keturunan). Melihat kondisi kesehatan saat ini, bisa jadi teori Henrik L Blum itu belum mendasari dan diterapkan dalam pola pembangunan kesehatan di Indonesia secara konsisten dan menyeluruh. 

Terkait itu, saya telah menulis dalam buku Kesehatan Lingkungan (2018) tentang cerita Prof. dr. Ascobat Gani, MPH., DrPh., yang menggambarkan betapa menyenangkan seandainya negeri ini dibangun dengan menerapkan filosofi dasar kesehatan masyarakat (Public Health).

Berikut ini, saya tuliskan kembali ceritanya.

Betapa indahnya bila kita hidup di sebuah negeri dimana anak-anak kita tumbuh dengan sehat, riang dan gembira setiap hari. Tempat mereka tinggal pun bersih, segar, dan nyaman. Tersedia asupan gizi yang cukup dan menyehatkan. Sarana bermain dan sekolah yang menyenangkan.

Sementara pemuda dan orang dewasanya, baik laki-laki maupun perempuan memiliki aktivitas usaha yang beragam dan saling melengkapi. Mereka bahu membahu membangun lingkungan yang nyaman sekaligus mereka saling tolong menolong ketika ada musibah atau ada yang sakit di antara mereka.

Tak cukup hanya itu, bila diperlukan mereka siap mengantar ke puskesmas atau mantri atau bahkan dokter dengan biaya yang terjangkau. Bahkan mereka siap menjemput petugas kesehatan ke daerah mereka secara berkala untuk sekadar memeriksakan kesehatan-nya, atau mendapat penjelasan tentang hidup sehat atau tentang pencegahan terhadap penyakit tanpa harus menunggu jatuh sakit atau wabah penyakit datang terlebih dahulu.

Orang-orang tua dan sudah lanjut usia juga dapat menikmati masa-masa tuanya dengan penuh senyuman di antara gelak tawa dan canda anak cucu tercinta. Semua orang produktif karena mereka sehat, sejahtera, dan bahagia.

Itulah potret negeri Public Health telah menjadi filosofi dasar dalam membangun bangsa.

Untuk itu, tidak berlebihan, sesuai amanat UU No. 36 tahun 2014, tentang tenaga kesehatan disebutkan bahwa keberadaan tenaga kesehatan ini memiliki peranan penting untuk meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan yang maksimal kepada masyarakat. Tenaga kesehatan adalah setiap orang yang mengabdikan diri dalam bidang kesehatan serta memiliki pengetahuan dan/atau ketrampilan melalui pendidikan di bidang kesehatan (Pasal 1 ayat 1).

Dalam UU tenaga kesehatan tersebut, keberadaan tenaga kesehatan dikelompokkan ke dalam: tenaga medis; tenaga psikologi klinis; tenaga keperawatan; tenaga kebidanan; tenaga kefarmasian; tenaga kesehatan masyarakat; tenaga kesehatan lingkungan; tenaga gizi; tenaga keterapian fisik; tenaga keteknisan medis; tenaga teknik biomedika; tenaga kesehatan tradisional; dan tenaga kesehatan lainnya (Pasal 11 ayat 1).

Adapun yang termasuk dalam tenaga kesehatan masyarakat, meliputi: epidemiolog kesehatan, tenaga promosi kesehatan dan ilmu perilaku, pembimbing kesehatan kerja, tenaga administrasi dan kebijakan kesehatan, tenaga biostatistik dan kependudukan, serta tenaga kesehatan reproduksi dan keluarga. Sementara itu, yang termasuk golongan kelompok tenaga kesehatan lingkungan, yaitu: tenaga sanitasi lingkungan, tenaga entomolog kesehatan, dan tenaga mikrobiolog kesehatan. Sedangkan yang masuk kelompok tenaga gizi, yaitu tenaga nutrisionis dan dietisien.   

Pada tataran tenaga ahli kesehatan lingkungan dan kesehatan masyarakat, dipastikan program-program yang dilakukan adalah program kerja yang bermutu sesuai dengan standar parameter yang berlaku. Untuk menggapai program-program tersebut diperlukan tenaga ahli kesehatan lingkungan (sanitarian) dan kesehatan masyarakat yang profesional.

Menurut lembaga sertifikasi profesi, menyebutkan bahwa kualifikasi profesionalisme atau kompetensi sumberdaya manusia merupakan akumulasi dari pengetahuan, keahlian, kemampuan, keterampilan, melalui jalur pendidikan, jalur pelatihan serta dari pengalaman hidup baik itu di lingkungan kerja maupun lingkungan masyarakat pada umumnya serta kemampuan mengembangkan diri pribadi (self-evelopment).

          Sementara itu, dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), profesionalisme adalah mutu, kualitas, dan tindak tanduk yang merupakan ciri suatu profesi atau orang yang profesional. Jadi, profesionalisme sanitarian dan kesehatan masyarakat adalah mutu, kualitas, dan tindak tanduk dari seorang sanitarian dan tenaga kesehatan masyarakat yang profesional. 

           Profesionalisme tenaga sanitarian dan ahli kesehatan masyarakat ini difokuskan pada perilaku tenaga ahli kesehatan lingkungan dan kesehatan masyarakat yang memberikan pelayanan kesehatan berdasarkan standar pelayanan, mandiri, bertanggung jawab dan bertanggung gugat, serta senantiasa mengembangkan kemampuannya sesuai perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.  

           Atas dasar pola pikir tersebut, makalah ini membahas terkait peran profesionalisme tenaga ahli kesehatan lingkungan (sanitarian) & kesehatan masyarakat dalam upaya pengendalian vektor DBD dan pengelolaan limbah di fasilitas pelayanan kesehatan, terutama di puskesmas dan rumah sakit (RS). Pokok bahasan yang dikaji meliputi: peran dan fungsi tenaga ahli kesehatan lingkungan maupun kesehatan masyarakat; essensi pelayanan preventif dan promotif; kompetensi tenaga ahli kesehatan lingkungan dan kesehatan masyarakat; pola pendekatan dalam pemecahan masalah kesehatan; serta program inovasi kesehatan terutama dalam upaya pengendalian vektor DBD (di puskesmas) dan pengelolaan limbah cair di RS.
.
Untuk mendapatkan full ebook makalah tersebut, silahkan transfer ke Rekening BNI No: 0118657077 a.n Arda Dinata, HANYA sebesar Rp. 50.000 saja.
.
Lalu, kirim alamat email dan bukti transfernya ke WhatsApp 081284826829
.


[1] Disampaikan pada acara Seminar Kesehatan, tanggal 23 Februari 2019 yang diadaakan oleh Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia (IAKMI) dan Himpunan Ahli Kesehatan Lingkungan Indonesia (HAKLI) Kota Banjar Provinsi Jawa Barat di Aula Setda Kota Banjar, Jl. Siliwangi No. 1 Kota Banjar.

[2] Penulis dan Peneliti di Loka Litbangkes Pangandaran – Balitbangkes Kemenkes RI, www.ArdaDinata.com


www.ArdaDinata.com: 
| Share, Reference & Education |
| Peneliti, penulis, dan motivator penulisan di media massa |

"Makalah ini membahas terkait peran profesionalisme tenaga ahli kesehatan lingkungan (sanitarian) & kesehatan masyarakat dalam upaya pengendalian vektor DBD dan pengelolaan limbah di fasilitas pelayanan kesehatan, terutama di puskesmas dan rumah sakit (RS). Pokok bahasan yang dikaji meliputi: peran dan fungsi tenaga ahli kesehatan lingkungan maupun kesehatan masyarakat; essensi pelayanan preventif dan promotif; kompetensi tenaga ahli kesehatan lingkungan dan kesehatan masyarakat; pola pendekatan dalam pemecahan masalah kesehatan; serta program inovasi kesehatan terutama dalam upaya pengendalian vektor DBD (di puskesmas) dan pengelolaan limbah cair di RS."

Profesionalisme Tenaga Sanitarian & Kesehatan Masyarakat Dalam Upaya Pengendalian Vektor DBD dan Pengelolaan Limbah di Fasilitas Pelayanan Kesehatan[1]
Oleh: Arda Dinata[2]


Latar Belakang

Untuk mendukung upaya pemerintah dalam mewujudkan visi pembangunan kesehatan, yaitu mewujudkan masyarakat mandiri untuk hidup sehat, dengan misi membuat rakyat sehat, tentu diperlukan sumber daya manusia bidang kesehatan yang profesional.

Menurut Guru Besar Administrasi Kesehatan Universitas Berkeley, Henrik L Blum, ada empat faktor yang mempengaruhi status kesehatan manusia, yaitu lingkungan, perilaku manusia, pelayanan kesehatan, dan genetik (keturunan). Melihat kondisi kesehatan saat ini, bisa jadi teori Henrik L Blum itu belum mendasari dan diterapkan dalam pola pembangunan kesehatan di Indonesia secara konsisten dan menyeluruh. 

Terkait itu, saya telah menulis dalam buku Kesehatan Lingkungan (2018) tentang cerita Prof. dr. Ascobat Gani, MPH., DrPh., yang menggambarkan betapa menyenangkan seandainya negeri ini dibangun dengan menerapkan filosofi dasar kesehatan masyarakat (Public Health).

Berikut ini, saya tuliskan kembali ceritanya.

Betapa indahnya bila kita hidup di sebuah negeri dimana anak-anak kita tumbuh dengan sehat, riang dan gembira setiap hari. Tempat mereka tinggal pun bersih, segar, dan nyaman. Tersedia asupan gizi yang cukup dan menyehatkan. Sarana bermain dan sekolah yang menyenangkan.

Sementara pemuda dan orang dewasanya, baik laki-laki maupun perempuan memiliki aktivitas usaha yang beragam dan saling melengkapi. Mereka bahu membahu membangun lingkungan yang nyaman sekaligus mereka saling tolong menolong ketika ada musibah atau ada yang sakit di antara mereka.

Tak cukup hanya itu, bila diperlukan mereka siap mengantar ke puskesmas atau mantri atau bahkan dokter dengan biaya yang terjangkau. Bahkan mereka siap menjemput petugas kesehatan ke daerah mereka secara berkala untuk sekadar memeriksakan kesehatan-nya, atau mendapat penjelasan tentang hidup sehat atau tentang pencegahan terhadap penyakit tanpa harus menunggu jatuh sakit atau wabah penyakit datang terlebih dahulu.

Orang-orang tua dan sudah lanjut usia juga dapat menikmati masa-masa tuanya dengan penuh senyuman di antara gelak tawa dan canda anak cucu tercinta. Semua orang produktif karena mereka sehat, sejahtera, dan bahagia.

Itulah potret negeri Public Health telah menjadi filosofi dasar dalam membangun bangsa.

Untuk itu, tidak berlebihan, sesuai amanat UU No. 36 tahun 2014, tentang tenaga kesehatan disebutkan bahwa keberadaan tenaga kesehatan ini memiliki peranan penting untuk meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan yang maksimal kepada masyarakat. Tenaga kesehatan adalah setiap orang yang mengabdikan diri dalam bidang kesehatan serta memiliki pengetahuan dan/atau ketrampilan melalui pendidikan di bidang kesehatan (Pasal 1 ayat 1).

Dalam UU tenaga kesehatan tersebut, keberadaan tenaga kesehatan dikelompokkan ke dalam: tenaga medis; tenaga psikologi klinis; tenaga keperawatan; tenaga kebidanan; tenaga kefarmasian; tenaga kesehatan masyarakat; tenaga kesehatan lingkungan; tenaga gizi; tenaga keterapian fisik; tenaga keteknisan medis; tenaga teknik biomedika; tenaga kesehatan tradisional; dan tenaga kesehatan lainnya (Pasal 11 ayat 1).

Adapun yang termasuk dalam tenaga kesehatan masyarakat, meliputi: epidemiolog kesehatan, tenaga promosi kesehatan dan ilmu perilaku, pembimbing kesehatan kerja, tenaga administrasi dan kebijakan kesehatan, tenaga biostatistik dan kependudukan, serta tenaga kesehatan reproduksi dan keluarga. Sementara itu, yang termasuk golongan kelompok tenaga kesehatan lingkungan, yaitu: tenaga sanitasi lingkungan, tenaga entomolog kesehatan, dan tenaga mikrobiolog kesehatan. Sedangkan yang masuk kelompok tenaga gizi, yaitu tenaga nutrisionis dan dietisien.   

Pada tataran tenaga ahli kesehatan lingkungan dan kesehatan masyarakat, dipastikan program-program yang dilakukan adalah program kerja yang bermutu sesuai dengan standar parameter yang berlaku. Untuk menggapai program-program tersebut diperlukan tenaga ahli kesehatan lingkungan (sanitarian) dan kesehatan masyarakat yang profesional.

Menurut lembaga sertifikasi profesi, menyebutkan bahwa kualifikasi profesionalisme atau kompetensi sumberdaya manusia merupakan akumulasi dari pengetahuan, keahlian, kemampuan, keterampilan, melalui jalur pendidikan, jalur pelatihan serta dari pengalaman hidup baik itu di lingkungan kerja maupun lingkungan masyarakat pada umumnya serta kemampuan mengembangkan diri pribadi (self-evelopment).

          Sementara itu, dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), profesionalisme adalah mutu, kualitas, dan tindak tanduk yang merupakan ciri suatu profesi atau orang yang profesional. Jadi, profesionalisme sanitarian dan kesehatan masyarakat adalah mutu, kualitas, dan tindak tanduk dari seorang sanitarian dan tenaga kesehatan masyarakat yang profesional. 

           Profesionalisme tenaga sanitarian dan ahli kesehatan masyarakat ini difokuskan pada perilaku tenaga ahli kesehatan lingkungan dan kesehatan masyarakat yang memberikan pelayanan kesehatan berdasarkan standar pelayanan, mandiri, bertanggung jawab dan bertanggung gugat, serta senantiasa mengembangkan kemampuannya sesuai perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.  

           Atas dasar pola pikir tersebut, makalah ini membahas terkait peran profesionalisme tenaga ahli kesehatan lingkungan (sanitarian) & kesehatan masyarakat dalam upaya pengendalian vektor DBD dan pengelolaan limbah di fasilitas pelayanan kesehatan, terutama di puskesmas dan rumah sakit (RS). Pokok bahasan yang dikaji meliputi: peran dan fungsi tenaga ahli kesehatan lingkungan maupun kesehatan masyarakat; essensi pelayanan preventif dan promotif; kompetensi tenaga ahli kesehatan lingkungan dan kesehatan masyarakat; pola pendekatan dalam pemecahan masalah kesehatan; serta program inovasi kesehatan terutama dalam upaya pengendalian vektor DBD (di puskesmas) dan pengelolaan limbah cair di RS.
.
Untuk mendapatkan full ebook makalah tersebut, silahkan transfer ke Rekening BNI No: 0118657077 a.n Arda Dinata, HANYA sebesar Rp. 50.000 saja.
.
Lalu, kirim alamat email dan bukti transfernya ke WhatsApp 081284826829
.


[1] Disampaikan pada acara Seminar Kesehatan, tanggal 23 Februari 2019 yang diadaakan oleh Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia (IAKMI) dan Himpunan Ahli Kesehatan Lingkungan Indonesia (HAKLI) Kota Banjar Provinsi Jawa Barat di Aula Setda Kota Banjar, Jl. Siliwangi No. 1 Kota Banjar.

[2] Penulis dan Peneliti di Loka Litbangkes Pangandaran – Balitbangkes Kemenkes RI, www.ArdaDinata.com


www.ArdaDinata.com: 
| Share, Reference & Education |
| Peneliti, penulis, dan motivator penulisan di media massa |

"Makalah ini membahas terkait peran profesionalisme tenaga ahli kesehatan lingkungan (sanitarian) & kesehatan masyarakat dalam upaya pengendalian vektor DBD dan pengelolaan limbah di fasilitas pelayanan kesehatan, terutama di puskesmas dan rumah sakit (RS). Pokok bahasan yang dikaji meliputi: peran dan fungsi tenaga ahli kesehatan lingkungan maupun kesehatan masyarakat; essensi pelayanan preventif dan promotif; kompetensi tenaga ahli kesehatan lingkungan dan kesehatan masyarakat; pola pendekatan dalam pemecahan masalah kesehatan; serta program inovasi kesehatan terutama dalam upaya pengendalian vektor DBD (di puskesmas) dan pengelolaan limbah cair di RS."

Profesionalisme Tenaga Sanitarian & Kesehatan Masyarakat Dalam Upaya Pengendalian Vektor DBD dan Pengelolaan Limbah di Fasilitas Pelayanan Kesehatan[1]
Oleh: Arda Dinata[2]


Latar Belakang

Untuk mendukung upaya pemerintah dalam mewujudkan visi pembangunan kesehatan, yaitu mewujudkan masyarakat mandiri untuk hidup sehat, dengan misi membuat rakyat sehat, tentu diperlukan sumber daya manusia bidang kesehatan yang profesional.

Menurut Guru Besar Administrasi Kesehatan Universitas Berkeley, Henrik L Blum, ada empat faktor yang mempengaruhi status kesehatan manusia, yaitu lingkungan, perilaku manusia, pelayanan kesehatan, dan genetik (keturunan). Melihat kondisi kesehatan saat ini, bisa jadi teori Henrik L Blum itu belum mendasari dan diterapkan dalam pola pembangunan kesehatan di Indonesia secara konsisten dan menyeluruh. 

Terkait itu, saya telah menulis dalam buku Kesehatan Lingkungan (2018) tentang cerita Prof. dr. Ascobat Gani, MPH., DrPh., yang menggambarkan betapa menyenangkan seandainya negeri ini dibangun dengan menerapkan filosofi dasar kesehatan masyarakat (Public Health).

Berikut ini, saya tuliskan kembali ceritanya.

Betapa indahnya bila kita hidup di sebuah negeri dimana anak-anak kita tumbuh dengan sehat, riang dan gembira setiap hari. Tempat mereka tinggal pun bersih, segar, dan nyaman. Tersedia asupan gizi yang cukup dan menyehatkan. Sarana bermain dan sekolah yang menyenangkan.

Sementara pemuda dan orang dewasanya, baik laki-laki maupun perempuan memiliki aktivitas usaha yang beragam dan saling melengkapi. Mereka bahu membahu membangun lingkungan yang nyaman sekaligus mereka saling tolong menolong ketika ada musibah atau ada yang sakit di antara mereka.

Tak cukup hanya itu, bila diperlukan mereka siap mengantar ke puskesmas atau mantri atau bahkan dokter dengan biaya yang terjangkau. Bahkan mereka siap menjemput petugas kesehatan ke daerah mereka secara berkala untuk sekadar memeriksakan kesehatan-nya, atau mendapat penjelasan tentang hidup sehat atau tentang pencegahan terhadap penyakit tanpa harus menunggu jatuh sakit atau wabah penyakit datang terlebih dahulu.

Orang-orang tua dan sudah lanjut usia juga dapat menikmati masa-masa tuanya dengan penuh senyuman di antara gelak tawa dan canda anak cucu tercinta. Semua orang produktif karena mereka sehat, sejahtera, dan bahagia.

Itulah potret negeri Public Health telah menjadi filosofi dasar dalam membangun bangsa.

Untuk itu, tidak berlebihan, sesuai amanat UU No. 36 tahun 2014, tentang tenaga kesehatan disebutkan bahwa keberadaan tenaga kesehatan ini memiliki peranan penting untuk meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan yang maksimal kepada masyarakat. Tenaga kesehatan adalah setiap orang yang mengabdikan diri dalam bidang kesehatan serta memiliki pengetahuan dan/atau ketrampilan melalui pendidikan di bidang kesehatan (Pasal 1 ayat 1).

Dalam UU tenaga kesehatan tersebut, keberadaan tenaga kesehatan dikelompokkan ke dalam: tenaga medis; tenaga psikologi klinis; tenaga keperawatan; tenaga kebidanan; tenaga kefarmasian; tenaga kesehatan masyarakat; tenaga kesehatan lingkungan; tenaga gizi; tenaga keterapian fisik; tenaga keteknisan medis; tenaga teknik biomedika; tenaga kesehatan tradisional; dan tenaga kesehatan lainnya (Pasal 11 ayat 1).

Adapun yang termasuk dalam tenaga kesehatan masyarakat, meliputi: epidemiolog kesehatan, tenaga promosi kesehatan dan ilmu perilaku, pembimbing kesehatan kerja, tenaga administrasi dan kebijakan kesehatan, tenaga biostatistik dan kependudukan, serta tenaga kesehatan reproduksi dan keluarga. Sementara itu, yang termasuk golongan kelompok tenaga kesehatan lingkungan, yaitu: tenaga sanitasi lingkungan, tenaga entomolog kesehatan, dan tenaga mikrobiolog kesehatan. Sedangkan yang masuk kelompok tenaga gizi, yaitu tenaga nutrisionis dan dietisien.   

Pada tataran tenaga ahli kesehatan lingkungan dan kesehatan masyarakat, dipastikan program-program yang dilakukan adalah program kerja yang bermutu sesuai dengan standar parameter yang berlaku. Untuk menggapai program-program tersebut diperlukan tenaga ahli kesehatan lingkungan (sanitarian) dan kesehatan masyarakat yang profesional.

Menurut lembaga sertifikasi profesi, menyebutkan bahwa kualifikasi profesionalisme atau kompetensi sumberdaya manusia merupakan akumulasi dari pengetahuan, keahlian, kemampuan, keterampilan, melalui jalur pendidikan, jalur pelatihan serta dari pengalaman hidup baik itu di lingkungan kerja maupun lingkungan masyarakat pada umumnya serta kemampuan mengembangkan diri pribadi (self-evelopment).

          Sementara itu, dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), profesionalisme adalah mutu, kualitas, dan tindak tanduk yang merupakan ciri suatu profesi atau orang yang profesional. Jadi, profesionalisme sanitarian dan kesehatan masyarakat adalah mutu, kualitas, dan tindak tanduk dari seorang sanitarian dan tenaga kesehatan masyarakat yang profesional. 

           Profesionalisme tenaga sanitarian dan ahli kesehatan masyarakat ini difokuskan pada perilaku tenaga ahli kesehatan lingkungan dan kesehatan masyarakat yang memberikan pelayanan kesehatan berdasarkan standar pelayanan, mandiri, bertanggung jawab dan bertanggung gugat, serta senantiasa mengembangkan kemampuannya sesuai perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.  

           Atas dasar pola pikir tersebut, makalah ini membahas terkait peran profesionalisme tenaga ahli kesehatan lingkungan (sanitarian) & kesehatan masyarakat dalam upaya pengendalian vektor DBD dan pengelolaan limbah di fasilitas pelayanan kesehatan, terutama di puskesmas dan rumah sakit (RS). Pokok bahasan yang dikaji meliputi: peran dan fungsi tenaga ahli kesehatan lingkungan maupun kesehatan masyarakat; essensi pelayanan preventif dan promotif; kompetensi tenaga ahli kesehatan lingkungan dan kesehatan masyarakat; pola pendekatan dalam pemecahan masalah kesehatan; serta program inovasi kesehatan terutama dalam upaya pengendalian vektor DBD (di puskesmas) dan pengelolaan limbah cair di RS.
.
Untuk mendapatkan full ebook makalah tersebut, silahkan transfer ke Rekening BNI No: 0118657077 a.n Arda Dinata, HANYA sebesar Rp. 50.000 saja.
.
Lalu, kirim alamat email dan bukti transfernya ke WhatsApp 081284826829
.


[1] Disampaikan pada acara Seminar Kesehatan, tanggal 23 Februari 2019 yang diadaakan oleh Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia (IAKMI) dan Himpunan Ahli Kesehatan Lingkungan Indonesia (HAKLI) Kota Banjar Provinsi Jawa Barat di Aula Setda Kota Banjar, Jl. Siliwangi No. 1 Kota Banjar.

[2] Penulis dan Peneliti di Loka Litbangkes Pangandaran – Balitbangkes Kemenkes RI, www.ArdaDinata.com


www.ArdaDinata.com: 
| Share, Reference & Education |
| Peneliti, penulis, dan motivator penulisan di media massa |

"Makalah ini membahas terkait peran profesionalisme tenaga ahli kesehatan lingkungan (sanitarian) & kesehatan masyarakat dalam upaya pengendalian vektor DBD dan pengelolaan limbah di fasilitas pelayanan kesehatan, terutama di puskesmas dan rumah sakit (RS). Pokok bahasan yang dikaji meliputi: peran dan fungsi tenaga ahli kesehatan lingkungan maupun kesehatan masyarakat; essensi pelayanan preventif dan promotif; kompetensi tenaga ahli kesehatan lingkungan dan kesehatan masyarakat; pola pendekatan dalam pemecahan masalah kesehatan; serta program inovasi kesehatan terutama dalam upaya pengendalian vektor DBD (di puskesmas) dan pengelolaan limbah cair di RS."

Profesionalisme Tenaga Sanitarian & Kesehatan Masyarakat Dalam Upaya Pengendalian Vektor DBD dan Pengelolaan Limbah di Fasilitas Pelayanan Kesehatan[1]
Oleh: Arda Dinata[2]


Latar Belakang

Untuk mendukung upaya pemerintah dalam mewujudkan visi pembangunan kesehatan, yaitu mewujudkan masyarakat mandiri untuk hidup sehat, dengan misi membuat rakyat sehat, tentu diperlukan sumber daya manusia bidang kesehatan yang profesional.

Menurut Guru Besar Administrasi Kesehatan Universitas Berkeley, Henrik L Blum, ada empat faktor yang mempengaruhi status kesehatan manusia, yaitu lingkungan, perilaku manusia, pelayanan kesehatan, dan genetik (keturunan). Melihat kondisi kesehatan saat ini, bisa jadi teori Henrik L Blum itu belum mendasari dan diterapkan dalam pola pembangunan kesehatan di Indonesia secara konsisten dan menyeluruh. 

Terkait itu, saya telah menulis dalam buku Kesehatan Lingkungan (2018) tentang cerita Prof. dr. Ascobat Gani, MPH., DrPh., yang menggambarkan betapa menyenangkan seandainya negeri ini dibangun dengan menerapkan filosofi dasar kesehatan masyarakat (Public Health).

Berikut ini, saya tuliskan kembali ceritanya.

Betapa indahnya bila kita hidup di sebuah negeri dimana anak-anak kita tumbuh dengan sehat, riang dan gembira setiap hari. Tempat mereka tinggal pun bersih, segar, dan nyaman. Tersedia asupan gizi yang cukup dan menyehatkan. Sarana bermain dan sekolah yang menyenangkan.

Sementara pemuda dan orang dewasanya, baik laki-laki maupun perempuan memiliki aktivitas usaha yang beragam dan saling melengkapi. Mereka bahu membahu membangun lingkungan yang nyaman sekaligus mereka saling tolong menolong ketika ada musibah atau ada yang sakit di antara mereka.

Tak cukup hanya itu, bila diperlukan mereka siap mengantar ke puskesmas atau mantri atau bahkan dokter dengan biaya yang terjangkau. Bahkan mereka siap menjemput petugas kesehatan ke daerah mereka secara berkala untuk sekadar memeriksakan kesehatan-nya, atau mendapat penjelasan tentang hidup sehat atau tentang pencegahan terhadap penyakit tanpa harus menunggu jatuh sakit atau wabah penyakit datang terlebih dahulu.

Orang-orang tua dan sudah lanjut usia juga dapat menikmati masa-masa tuanya dengan penuh senyuman di antara gelak tawa dan canda anak cucu tercinta. Semua orang produktif karena mereka sehat, sejahtera, dan bahagia.

Itulah potret negeri Public Health telah menjadi filosofi dasar dalam membangun bangsa.

Untuk itu, tidak berlebihan, sesuai amanat UU No. 36 tahun 2014, tentang tenaga kesehatan disebutkan bahwa keberadaan tenaga kesehatan ini memiliki peranan penting untuk meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan yang maksimal kepada masyarakat. Tenaga kesehatan adalah setiap orang yang mengabdikan diri dalam bidang kesehatan serta memiliki pengetahuan dan/atau ketrampilan melalui pendidikan di bidang kesehatan (Pasal 1 ayat 1).

Dalam UU tenaga kesehatan tersebut, keberadaan tenaga kesehatan dikelompokkan ke dalam: tenaga medis; tenaga psikologi klinis; tenaga keperawatan; tenaga kebidanan; tenaga kefarmasian; tenaga kesehatan masyarakat; tenaga kesehatan lingkungan; tenaga gizi; tenaga keterapian fisik; tenaga keteknisan medis; tenaga teknik biomedika; tenaga kesehatan tradisional; dan tenaga kesehatan lainnya (Pasal 11 ayat 1).

Adapun yang termasuk dalam tenaga kesehatan masyarakat, meliputi: epidemiolog kesehatan, tenaga promosi kesehatan dan ilmu perilaku, pembimbing kesehatan kerja, tenaga administrasi dan kebijakan kesehatan, tenaga biostatistik dan kependudukan, serta tenaga kesehatan reproduksi dan keluarga. Sementara itu, yang termasuk golongan kelompok tenaga kesehatan lingkungan, yaitu: tenaga sanitasi lingkungan, tenaga entomolog kesehatan, dan tenaga mikrobiolog kesehatan. Sedangkan yang masuk kelompok tenaga gizi, yaitu tenaga nutrisionis dan dietisien.   

Pada tataran tenaga ahli kesehatan lingkungan dan kesehatan masyarakat, dipastikan program-program yang dilakukan adalah program kerja yang bermutu sesuai dengan standar parameter yang berlaku. Untuk menggapai program-program tersebut diperlukan tenaga ahli kesehatan lingkungan (sanitarian) dan kesehatan masyarakat yang profesional.

Menurut lembaga sertifikasi profesi, menyebutkan bahwa kualifikasi profesionalisme atau kompetensi sumberdaya manusia merupakan akumulasi dari pengetahuan, keahlian, kemampuan, keterampilan, melalui jalur pendidikan, jalur pelatihan serta dari pengalaman hidup baik itu di lingkungan kerja maupun lingkungan masyarakat pada umumnya serta kemampuan mengembangkan diri pribadi (self-evelopment).

          Sementara itu, dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), profesionalisme adalah mutu, kualitas, dan tindak tanduk yang merupakan ciri suatu profesi atau orang yang profesional. Jadi, profesionalisme sanitarian dan kesehatan masyarakat adalah mutu, kualitas, dan tindak tanduk dari seorang sanitarian dan tenaga kesehatan masyarakat yang profesional. 

           Profesionalisme tenaga sanitarian dan ahli kesehatan masyarakat ini difokuskan pada perilaku tenaga ahli kesehatan lingkungan dan kesehatan masyarakat yang memberikan pelayanan kesehatan berdasarkan standar pelayanan, mandiri, bertanggung jawab dan bertanggung gugat, serta senantiasa mengembangkan kemampuannya sesuai perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.  

           Atas dasar pola pikir tersebut, makalah ini membahas terkait peran profesionalisme tenaga ahli kesehatan lingkungan (sanitarian) & kesehatan masyarakat dalam upaya pengendalian vektor DBD dan pengelolaan limbah di fasilitas pelayanan kesehatan, terutama di puskesmas dan rumah sakit (RS). Pokok bahasan yang dikaji meliputi: peran dan fungsi tenaga ahli kesehatan lingkungan maupun kesehatan masyarakat; essensi pelayanan preventif dan promotif; kompetensi tenaga ahli kesehatan lingkungan dan kesehatan masyarakat; pola pendekatan dalam pemecahan masalah kesehatan; serta program inovasi kesehatan terutama dalam upaya pengendalian vektor DBD (di puskesmas) dan pengelolaan limbah cair di RS.
.
Untuk mendapatkan full ebook makalah tersebut, silahkan transfer ke Rekening BNI No: 0118657077 a.n Arda Dinata, HANYA sebesar Rp. 50.000 saja.
.
Lalu, kirim alamat email dan bukti transfernya ke WhatsApp 081284826829
.


[1] Disampaikan pada acara Seminar Kesehatan, tanggal 23 Februari 2019 yang diadaakan oleh Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia (IAKMI) dan Himpunan Ahli Kesehatan Lingkungan Indonesia (HAKLI) Kota Banjar Provinsi Jawa Barat di Aula Setda Kota Banjar, Jl. Siliwangi No. 1 Kota Banjar.

[2] Penulis dan Peneliti di Loka Litbangkes Pangandaran – Balitbangkes Kemenkes RI, www.ArdaDinata.com


www.ArdaDinata.com: 
| Share, Reference & Education |
| Peneliti, penulis, dan motivator penulisan di media massa |

"Makalah ini membahas terkait peran profesionalisme tenaga ahli kesehatan lingkungan (sanitarian) & kesehatan masyarakat dalam upaya pengendalian vektor DBD dan pengelolaan limbah di fasilitas pelayanan kesehatan, terutama di puskesmas dan rumah sakit (RS). Pokok bahasan yang dikaji meliputi: peran dan fungsi tenaga ahli kesehatan lingkungan maupun kesehatan masyarakat; essensi pelayanan preventif dan promotif; kompetensi tenaga ahli kesehatan lingkungan dan kesehatan masyarakat; pola pendekatan dalam pemecahan masalah kesehatan; serta program inovasi kesehatan terutama dalam upaya pengendalian vektor DBD (di puskesmas) dan pengelolaan limbah cair di RS."

Profesionalisme Tenaga Sanitarian & Kesehatan Masyarakat Dalam Upaya Pengendalian Vektor DBD dan Pengelolaan Limbah di Fasilitas Pelayanan Kesehatan[1]
Oleh: Arda Dinata[2]


Latar Belakang

Untuk mendukung upaya pemerintah dalam mewujudkan visi pembangunan kesehatan, yaitu mewujudkan masyarakat mandiri untuk hidup sehat, dengan misi membuat rakyat sehat, tentu diperlukan sumber daya manusia bidang kesehatan yang profesional.

Menurut Guru Besar Administrasi Kesehatan Universitas Berkeley, Henrik L Blum, ada empat faktor yang mempengaruhi status kesehatan manusia, yaitu lingkungan, perilaku manusia, pelayanan kesehatan, dan genetik (keturunan). Melihat kondisi kesehatan saat ini, bisa jadi teori Henrik L Blum itu belum mendasari dan diterapkan dalam pola pembangunan kesehatan di Indonesia secara konsisten dan menyeluruh. 

Terkait itu, saya telah menulis dalam buku Kesehatan Lingkungan (2018) tentang cerita Prof. dr. Ascobat Gani, MPH., DrPh., yang menggambarkan betapa menyenangkan seandainya negeri ini dibangun dengan menerapkan filosofi dasar kesehatan masyarakat (Public Health).

Berikut ini, saya tuliskan kembali ceritanya.

Betapa indahnya bila kita hidup di sebuah negeri dimana anak-anak kita tumbuh dengan sehat, riang dan gembira setiap hari. Tempat mereka tinggal pun bersih, segar, dan nyaman. Tersedia asupan gizi yang cukup dan menyehatkan. Sarana bermain dan sekolah yang menyenangkan.

Sementara pemuda dan orang dewasanya, baik laki-laki maupun perempuan memiliki aktivitas usaha yang beragam dan saling melengkapi. Mereka bahu membahu membangun lingkungan yang nyaman sekaligus mereka saling tolong menolong ketika ada musibah atau ada yang sakit di antara mereka.

Tak cukup hanya itu, bila diperlukan mereka siap mengantar ke puskesmas atau mantri atau bahkan dokter dengan biaya yang terjangkau. Bahkan mereka siap menjemput petugas kesehatan ke daerah mereka secara berkala untuk sekadar memeriksakan kesehatan-nya, atau mendapat penjelasan tentang hidup sehat atau tentang pencegahan terhadap penyakit tanpa harus menunggu jatuh sakit atau wabah penyakit datang terlebih dahulu.

Orang-orang tua dan sudah lanjut usia juga dapat menikmati masa-masa tuanya dengan penuh senyuman di antara gelak tawa dan canda anak cucu tercinta. Semua orang produktif karena mereka sehat, sejahtera, dan bahagia.

Itulah potret negeri Public Health telah menjadi filosofi dasar dalam membangun bangsa.

Untuk itu, tidak berlebihan, sesuai amanat UU No. 36 tahun 2014, tentang tenaga kesehatan disebutkan bahwa keberadaan tenaga kesehatan ini memiliki peranan penting untuk meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan yang maksimal kepada masyarakat. Tenaga kesehatan adalah setiap orang yang mengabdikan diri dalam bidang kesehatan serta memiliki pengetahuan dan/atau ketrampilan melalui pendidikan di bidang kesehatan (Pasal 1 ayat 1).

Dalam UU tenaga kesehatan tersebut, keberadaan tenaga kesehatan dikelompokkan ke dalam: tenaga medis; tenaga psikologi klinis; tenaga keperawatan; tenaga kebidanan; tenaga kefarmasian; tenaga kesehatan masyarakat; tenaga kesehatan lingkungan; tenaga gizi; tenaga keterapian fisik; tenaga keteknisan medis; tenaga teknik biomedika; tenaga kesehatan tradisional; dan tenaga kesehatan lainnya (Pasal 11 ayat 1).

Adapun yang termasuk dalam tenaga kesehatan masyarakat, meliputi: epidemiolog kesehatan, tenaga promosi kesehatan dan ilmu perilaku, pembimbing kesehatan kerja, tenaga administrasi dan kebijakan kesehatan, tenaga biostatistik dan kependudukan, serta tenaga kesehatan reproduksi dan keluarga. Sementara itu, yang termasuk golongan kelompok tenaga kesehatan lingkungan, yaitu: tenaga sanitasi lingkungan, tenaga entomolog kesehatan, dan tenaga mikrobiolog kesehatan. Sedangkan yang masuk kelompok tenaga gizi, yaitu tenaga nutrisionis dan dietisien.   

Pada tataran tenaga ahli kesehatan lingkungan dan kesehatan masyarakat, dipastikan program-program yang dilakukan adalah program kerja yang bermutu sesuai dengan standar parameter yang berlaku. Untuk menggapai program-program tersebut diperlukan tenaga ahli kesehatan lingkungan (sanitarian) dan kesehatan masyarakat yang profesional.

Menurut lembaga sertifikasi profesi, menyebutkan bahwa kualifikasi profesionalisme atau kompetensi sumberdaya manusia merupakan akumulasi dari pengetahuan, keahlian, kemampuan, keterampilan, melalui jalur pendidikan, jalur pelatihan serta dari pengalaman hidup baik itu di lingkungan kerja maupun lingkungan masyarakat pada umumnya serta kemampuan mengembangkan diri pribadi (self-evelopment).

          Sementara itu, dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), profesionalisme adalah mutu, kualitas, dan tindak tanduk yang merupakan ciri suatu profesi atau orang yang profesional. Jadi, profesionalisme sanitarian dan kesehatan masyarakat adalah mutu, kualitas, dan tindak tanduk dari seorang sanitarian dan tenaga kesehatan masyarakat yang profesional. 

           Profesionalisme tenaga sanitarian dan ahli kesehatan masyarakat ini difokuskan pada perilaku tenaga ahli kesehatan lingkungan dan kesehatan masyarakat yang memberikan pelayanan kesehatan berdasarkan standar pelayanan, mandiri, bertanggung jawab dan bertanggung gugat, serta senantiasa mengembangkan kemampuannya sesuai perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.  

           Atas dasar pola pikir tersebut, makalah ini membahas terkait peran profesionalisme tenaga ahli kesehatan lingkungan (sanitarian) & kesehatan masyarakat dalam upaya pengendalian vektor DBD dan pengelolaan limbah di fasilitas pelayanan kesehatan, terutama di puskesmas dan rumah sakit (RS). Pokok bahasan yang dikaji meliputi: peran dan fungsi tenaga ahli kesehatan lingkungan maupun kesehatan masyarakat; essensi pelayanan preventif dan promotif; kompetensi tenaga ahli kesehatan lingkungan dan kesehatan masyarakat; pola pendekatan dalam pemecahan masalah kesehatan; serta program inovasi kesehatan terutama dalam upaya pengendalian vektor DBD (di puskesmas) dan pengelolaan limbah cair di RS.
.
Untuk mendapatkan full ebook makalah tersebut, silahkan transfer ke Rekening BNI No: 0118657077 a.n Arda Dinata, HANYA sebesar Rp. 50.000 saja.
.
Lalu, kirim alamat email dan bukti transfernya ke WhatsApp 081284826829
.


[1] Disampaikan pada acara Seminar Kesehatan, tanggal 23 Februari 2019 yang diadaakan oleh Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia (IAKMI) dan Himpunan Ahli Kesehatan Lingkungan Indonesia (HAKLI) Kota Banjar Provinsi Jawa Barat di Aula Setda Kota Banjar, Jl. Siliwangi No. 1 Kota Banjar.

[2] Penulis dan Peneliti di Loka Litbangkes Pangandaran – Balitbangkes Kemenkes RI, www.ArdaDinata.com


www.ArdaDinata.com: 
| Share, Reference & Education |
| Peneliti, penulis, dan motivator penulisan di media massa |

"Makalah ini membahas terkait peran profesionalisme tenaga ahli kesehatan lingkungan (sanitarian) & kesehatan masyarakat dalam upaya pengendalian vektor DBD dan pengelolaan limbah di fasilitas pelayanan kesehatan, terutama di puskesmas dan rumah sakit (RS). Pokok bahasan yang dikaji meliputi: peran dan fungsi tenaga ahli kesehatan lingkungan maupun kesehatan masyarakat; essensi pelayanan preventif dan promotif; kompetensi tenaga ahli kesehatan lingkungan dan kesehatan masyarakat; pola pendekatan dalam pemecahan masalah kesehatan; serta program inovasi kesehatan terutama dalam upaya pengendalian vektor DBD (di puskesmas) dan pengelolaan limbah cair di RS."

Profesionalisme Tenaga Sanitarian & Kesehatan Masyarakat Dalam Upaya Pengendalian Vektor DBD dan Pengelolaan Limbah di Fasilitas Pelayanan Kesehatan[1]
Oleh: Arda Dinata[2]


Latar Belakang

Untuk mendukung upaya pemerintah dalam mewujudkan visi pembangunan kesehatan, yaitu mewujudkan masyarakat mandiri untuk hidup sehat, dengan misi membuat rakyat sehat, tentu diperlukan sumber daya manusia bidang kesehatan yang profesional.

Menurut Guru Besar Administrasi Kesehatan Universitas Berkeley, Henrik L Blum, ada empat faktor yang mempengaruhi status kesehatan manusia, yaitu lingkungan, perilaku manusia, pelayanan kesehatan, dan genetik (keturunan). Melihat kondisi kesehatan saat ini, bisa jadi teori Henrik L Blum itu belum mendasari dan diterapkan dalam pola pembangunan kesehatan di Indonesia secara konsisten dan menyeluruh. 

Terkait itu, saya telah menulis dalam buku Kesehatan Lingkungan (2018) tentang cerita Prof. dr. Ascobat Gani, MPH., DrPh., yang menggambarkan betapa menyenangkan seandainya negeri ini dibangun dengan menerapkan filosofi dasar kesehatan masyarakat (Public Health).

Berikut ini, saya tuliskan kembali ceritanya.

Betapa indahnya bila kita hidup di sebuah negeri dimana anak-anak kita tumbuh dengan sehat, riang dan gembira setiap hari. Tempat mereka tinggal pun bersih, segar, dan nyaman. Tersedia asupan gizi yang cukup dan menyehatkan. Sarana bermain dan sekolah yang menyenangkan.

Sementara pemuda dan orang dewasanya, baik laki-laki maupun perempuan memiliki aktivitas usaha yang beragam dan saling melengkapi. Mereka bahu membahu membangun lingkungan yang nyaman sekaligus mereka saling tolong menolong ketika ada musibah atau ada yang sakit di antara mereka.

Tak cukup hanya itu, bila diperlukan mereka siap mengantar ke puskesmas atau mantri atau bahkan dokter dengan biaya yang terjangkau. Bahkan mereka siap menjemput petugas kesehatan ke daerah mereka secara berkala untuk sekadar memeriksakan kesehatan-nya, atau mendapat penjelasan tentang hidup sehat atau tentang pencegahan terhadap penyakit tanpa harus menunggu jatuh sakit atau wabah penyakit datang terlebih dahulu.

Orang-orang tua dan sudah lanjut usia juga dapat menikmati masa-masa tuanya dengan penuh senyuman di antara gelak tawa dan canda anak cucu tercinta. Semua orang produktif karena mereka sehat, sejahtera, dan bahagia.

Itulah potret negeri Public Health telah menjadi filosofi dasar dalam membangun bangsa.

Untuk itu, tidak berlebihan, sesuai amanat UU No. 36 tahun 2014, tentang tenaga kesehatan disebutkan bahwa keberadaan tenaga kesehatan ini memiliki peranan penting untuk meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan yang maksimal kepada masyarakat. Tenaga kesehatan adalah setiap orang yang mengabdikan diri dalam bidang kesehatan serta memiliki pengetahuan dan/atau ketrampilan melalui pendidikan di bidang kesehatan (Pasal 1 ayat 1).

Dalam UU tenaga kesehatan tersebut, keberadaan tenaga kesehatan dikelompokkan ke dalam: tenaga medis; tenaga psikologi klinis; tenaga keperawatan; tenaga kebidanan; tenaga kefarmasian; tenaga kesehatan masyarakat; tenaga kesehatan lingkungan; tenaga gizi; tenaga keterapian fisik; tenaga keteknisan medis; tenaga teknik biomedika; tenaga kesehatan tradisional; dan tenaga kesehatan lainnya (Pasal 11 ayat 1).

Adapun yang termasuk dalam tenaga kesehatan masyarakat, meliputi: epidemiolog kesehatan, tenaga promosi kesehatan dan ilmu perilaku, pembimbing kesehatan kerja, tenaga administrasi dan kebijakan kesehatan, tenaga biostatistik dan kependudukan, serta tenaga kesehatan reproduksi dan keluarga. Sementara itu, yang termasuk golongan kelompok tenaga kesehatan lingkungan, yaitu: tenaga sanitasi lingkungan, tenaga entomolog kesehatan, dan tenaga mikrobiolog kesehatan. Sedangkan yang masuk kelompok tenaga gizi, yaitu tenaga nutrisionis dan dietisien.   

Pada tataran tenaga ahli kesehatan lingkungan dan kesehatan masyarakat, dipastikan program-program yang dilakukan adalah program kerja yang bermutu sesuai dengan standar parameter yang berlaku. Untuk menggapai program-program tersebut diperlukan tenaga ahli kesehatan lingkungan (sanitarian) dan kesehatan masyarakat yang profesional.

Menurut lembaga sertifikasi profesi, menyebutkan bahwa kualifikasi profesionalisme atau kompetensi sumberdaya manusia merupakan akumulasi dari pengetahuan, keahlian, kemampuan, keterampilan, melalui jalur pendidikan, jalur pelatihan serta dari pengalaman hidup baik itu di lingkungan kerja maupun lingkungan masyarakat pada umumnya serta kemampuan mengembangkan diri pribadi (self-evelopment).

          Sementara itu, dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), profesionalisme adalah mutu, kualitas, dan tindak tanduk yang merupakan ciri suatu profesi atau orang yang profesional. Jadi, profesionalisme sanitarian dan kesehatan masyarakat adalah mutu, kualitas, dan tindak tanduk dari seorang sanitarian dan tenaga kesehatan masyarakat yang profesional. 

           Profesionalisme tenaga sanitarian dan ahli kesehatan masyarakat ini difokuskan pada perilaku tenaga ahli kesehatan lingkungan dan kesehatan masyarakat yang memberikan pelayanan kesehatan berdasarkan standar pelayanan, mandiri, bertanggung jawab dan bertanggung gugat, serta senantiasa mengembangkan kemampuannya sesuai perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.  

           Atas dasar pola pikir tersebut, makalah ini membahas terkait peran profesionalisme tenaga ahli kesehatan lingkungan (sanitarian) & kesehatan masyarakat dalam upaya pengendalian vektor DBD dan pengelolaan limbah di fasilitas pelayanan kesehatan, terutama di puskesmas dan rumah sakit (RS). Pokok bahasan yang dikaji meliputi: peran dan fungsi tenaga ahli kesehatan lingkungan maupun kesehatan masyarakat; essensi pelayanan preventif dan promotif; kompetensi tenaga ahli kesehatan lingkungan dan kesehatan masyarakat; pola pendekatan dalam pemecahan masalah kesehatan; serta program inovasi kesehatan terutama dalam upaya pengendalian vektor DBD (di puskesmas) dan pengelolaan limbah cair di RS.
.
Untuk mendapatkan full ebook makalah tersebut, silahkan transfer ke Rekening BNI No: 0118657077 a.n Arda Dinata, HANYA sebesar Rp. 50.000 saja.
.
Lalu, kirim alamat email dan bukti transfernya ke WhatsApp 081284826829
.


[1] Disampaikan pada acara Seminar Kesehatan, tanggal 23 Februari 2019 yang diadaakan oleh Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia (IAKMI) dan Himpunan Ahli Kesehatan Lingkungan Indonesia (HAKLI) Kota Banjar Provinsi Jawa Barat di Aula Setda Kota Banjar, Jl. Siliwangi No. 1 Kota Banjar.

[2] Penulis dan Peneliti di Loka Litbangkes Pangandaran – Balitbangkes Kemenkes RI, www.ArdaDinata.com


www.ArdaDinata.com: 
| Share, Reference & Education |
| Peneliti, penulis, dan motivator penulisan di media massa |

"Makalah ini membahas terkait peran profesionalisme tenaga ahli kesehatan lingkungan (sanitarian) & kesehatan masyarakat dalam upaya pengendalian vektor DBD dan pengelolaan limbah di fasilitas pelayanan kesehatan, terutama di puskesmas dan rumah sakit (RS). Pokok bahasan yang dikaji meliputi: peran dan fungsi tenaga ahli kesehatan lingkungan maupun kesehatan masyarakat; essensi pelayanan preventif dan promotif; kompetensi tenaga ahli kesehatan lingkungan dan kesehatan masyarakat; pola pendekatan dalam pemecahan masalah kesehatan; serta program inovasi kesehatan terutama dalam upaya pengendalian vektor DBD (di puskesmas) dan pengelolaan limbah cair di RS."

Profesionalisme Tenaga Sanitarian & Kesehatan Masyarakat Dalam Upaya Pengendalian Vektor DBD dan Pengelolaan Limbah di Fasilitas Pelayanan Kesehatan[1]
Oleh: Arda Dinata[2]


Latar Belakang

Untuk mendukung upaya pemerintah dalam mewujudkan visi pembangunan kesehatan, yaitu mewujudkan masyarakat mandiri untuk hidup sehat, dengan misi membuat rakyat sehat, tentu diperlukan sumber daya manusia bidang kesehatan yang profesional.

Menurut Guru Besar Administrasi Kesehatan Universitas Berkeley, Henrik L Blum, ada empat faktor yang mempengaruhi status kesehatan manusia, yaitu lingkungan, perilaku manusia, pelayanan kesehatan, dan genetik (keturunan). Melihat kondisi kesehatan saat ini, bisa jadi teori Henrik L Blum itu belum mendasari dan diterapkan dalam pola pembangunan kesehatan di Indonesia secara konsisten dan menyeluruh. 

Terkait itu, saya telah menulis dalam buku Kesehatan Lingkungan (2018) tentang cerita Prof. dr. Ascobat Gani, MPH., DrPh., yang menggambarkan betapa menyenangkan seandainya negeri ini dibangun dengan menerapkan filosofi dasar kesehatan masyarakat (Public Health).

Berikut ini, saya tuliskan kembali ceritanya.

Betapa indahnya bila kita hidup di sebuah negeri dimana anak-anak kita tumbuh dengan sehat, riang dan gembira setiap hari. Tempat mereka tinggal pun bersih, segar, dan nyaman. Tersedia asupan gizi yang cukup dan menyehatkan. Sarana bermain dan sekolah yang menyenangkan.

Sementara pemuda dan orang dewasanya, baik laki-laki maupun perempuan memiliki aktivitas usaha yang beragam dan saling melengkapi. Mereka bahu membahu membangun lingkungan yang nyaman sekaligus mereka saling tolong menolong ketika ada musibah atau ada yang sakit di antara mereka.

Tak cukup hanya itu, bila diperlukan mereka siap mengantar ke puskesmas atau mantri atau bahkan dokter dengan biaya yang terjangkau. Bahkan mereka siap menjemput petugas kesehatan ke daerah mereka secara berkala untuk sekadar memeriksakan kesehatan-nya, atau mendapat penjelasan tentang hidup sehat atau tentang pencegahan terhadap penyakit tanpa harus menunggu jatuh sakit atau wabah penyakit datang terlebih dahulu.

Orang-orang tua dan sudah lanjut usia juga dapat menikmati masa-masa tuanya dengan penuh senyuman di antara gelak tawa dan canda anak cucu tercinta. Semua orang produktif karena mereka sehat, sejahtera, dan bahagia.

Itulah potret negeri Public Health telah menjadi filosofi dasar dalam membangun bangsa.

Untuk itu, tidak berlebihan, sesuai amanat UU No. 36 tahun 2014, tentang tenaga kesehatan disebutkan bahwa keberadaan tenaga kesehatan ini memiliki peranan penting untuk meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan yang maksimal kepada masyarakat. Tenaga kesehatan adalah setiap orang yang mengabdikan diri dalam bidang kesehatan serta memiliki pengetahuan dan/atau ketrampilan melalui pendidikan di bidang kesehatan (Pasal 1 ayat 1).

Dalam UU tenaga kesehatan tersebut, keberadaan tenaga kesehatan dikelompokkan ke dalam: tenaga medis; tenaga psikologi klinis; tenaga keperawatan; tenaga kebidanan; tenaga kefarmasian; tenaga kesehatan masyarakat; tenaga kesehatan lingkungan; tenaga gizi; tenaga keterapian fisik; tenaga keteknisan medis; tenaga teknik biomedika; tenaga kesehatan tradisional; dan tenaga kesehatan lainnya (Pasal 11 ayat 1).

Adapun yang termasuk dalam tenaga kesehatan masyarakat, meliputi: epidemiolog kesehatan, tenaga promosi kesehatan dan ilmu perilaku, pembimbing kesehatan kerja, tenaga administrasi dan kebijakan kesehatan, tenaga biostatistik dan kependudukan, serta tenaga kesehatan reproduksi dan keluarga. Sementara itu, yang termasuk golongan kelompok tenaga kesehatan lingkungan, yaitu: tenaga sanitasi lingkungan, tenaga entomolog kesehatan, dan tenaga mikrobiolog kesehatan. Sedangkan yang masuk kelompok tenaga gizi, yaitu tenaga nutrisionis dan dietisien.   

Pada tataran tenaga ahli kesehatan lingkungan dan kesehatan masyarakat, dipastikan program-program yang dilakukan adalah program kerja yang bermutu sesuai dengan standar parameter yang berlaku. Untuk menggapai program-program tersebut diperlukan tenaga ahli kesehatan lingkungan (sanitarian) dan kesehatan masyarakat yang profesional.

Menurut lembaga sertifikasi profesi, menyebutkan bahwa kualifikasi profesionalisme atau kompetensi sumberdaya manusia merupakan akumulasi dari pengetahuan, keahlian, kemampuan, keterampilan, melalui jalur pendidikan, jalur pelatihan serta dari pengalaman hidup baik itu di lingkungan kerja maupun lingkungan masyarakat pada umumnya serta kemampuan mengembangkan diri pribadi (self-evelopment).

          Sementara itu, dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), profesionalisme adalah mutu, kualitas, dan tindak tanduk yang merupakan ciri suatu profesi atau orang yang profesional. Jadi, profesionalisme sanitarian dan kesehatan masyarakat adalah mutu, kualitas, dan tindak tanduk dari seorang sanitarian dan tenaga kesehatan masyarakat yang profesional. 

           Profesionalisme tenaga sanitarian dan ahli kesehatan masyarakat ini difokuskan pada perilaku tenaga ahli kesehatan lingkungan dan kesehatan masyarakat yang memberikan pelayanan kesehatan berdasarkan standar pelayanan, mandiri, bertanggung jawab dan bertanggung gugat, serta senantiasa mengembangkan kemampuannya sesuai perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.  

           Atas dasar pola pikir tersebut, makalah ini membahas terkait peran profesionalisme tenaga ahli kesehatan lingkungan (sanitarian) & kesehatan masyarakat dalam upaya pengendalian vektor DBD dan pengelolaan limbah di fasilitas pelayanan kesehatan, terutama di puskesmas dan rumah sakit (RS). Pokok bahasan yang dikaji meliputi: peran dan fungsi tenaga ahli kesehatan lingkungan maupun kesehatan masyarakat; essensi pelayanan preventif dan promotif; kompetensi tenaga ahli kesehatan lingkungan dan kesehatan masyarakat; pola pendekatan dalam pemecahan masalah kesehatan; serta program inovasi kesehatan terutama dalam upaya pengendalian vektor DBD (di puskesmas) dan pengelolaan limbah cair di RS.
.
Untuk mendapatkan full ebook makalah tersebut, silahkan transfer ke Rekening BNI No: 0118657077 a.n Arda Dinata, HANYA sebesar Rp. 50.000 saja.
.
Lalu, kirim alamat email dan bukti transfernya ke WhatsApp 081284826829
.


[1] Disampaikan pada acara Seminar Kesehatan, tanggal 23 Februari 2019 yang diadaakan oleh Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia (IAKMI) dan Himpunan Ahli Kesehatan Lingkungan Indonesia (HAKLI) Kota Banjar Provinsi Jawa Barat di Aula Setda Kota Banjar, Jl. Siliwangi No. 1 Kota Banjar.

[2] Penulis dan Peneliti di Loka Litbangkes Pangandaran – Balitbangkes Kemenkes RI, www.ArdaDinata.com


www.ArdaDinata.com: 
| Share, Reference & Education |
| Peneliti, penulis, dan motivator penulisan di media massa |

"Makalah ini membahas terkait peran profesionalisme tenaga ahli kesehatan lingkungan (sanitarian) & kesehatan masyarakat dalam upaya pengendalian vektor DBD dan pengelolaan limbah di fasilitas pelayanan kesehatan, terutama di puskesmas dan rumah sakit (RS). Pokok bahasan yang dikaji meliputi: peran dan fungsi tenaga ahli kesehatan lingkungan maupun kesehatan masyarakat; essensi pelayanan preventif dan promotif; kompetensi tenaga ahli kesehatan lingkungan dan kesehatan masyarakat; pola pendekatan dalam pemecahan masalah kesehatan; serta program inovasi kesehatan terutama dalam upaya pengendalian vektor DBD (di puskesmas) dan pengelolaan limbah cair di RS."

Profesionalisme Tenaga Sanitarian & Kesehatan Masyarakat Dalam Upaya Pengendalian Vektor DBD dan Pengelolaan Limbah di Fasilitas Pelayanan Kesehatan[1]
Oleh: Arda Dinata[2]


Latar Belakang

Untuk mendukung upaya pemerintah dalam mewujudkan visi pembangunan kesehatan, yaitu mewujudkan masyarakat mandiri untuk hidup sehat, dengan misi membuat rakyat sehat, tentu diperlukan sumber daya manusia bidang kesehatan yang profesional.

Menurut Guru Besar Administrasi Kesehatan Universitas Berkeley, Henrik L Blum, ada empat faktor yang mempengaruhi status kesehatan manusia, yaitu lingkungan, perilaku manusia, pelayanan kesehatan, dan genetik (keturunan). Melihat kondisi kesehatan saat ini, bisa jadi teori Henrik L Blum itu belum mendasari dan diterapkan dalam pola pembangunan kesehatan di Indonesia secara konsisten dan menyeluruh. 

Terkait itu, saya telah menulis dalam buku Kesehatan Lingkungan (2018) tentang cerita Prof. dr. Ascobat Gani, MPH., DrPh., yang menggambarkan betapa menyenangkan seandainya negeri ini dibangun dengan menerapkan filosofi dasar kesehatan masyarakat (Public Health).

Berikut ini, saya tuliskan kembali ceritanya.

Betapa indahnya bila kita hidup di sebuah negeri dimana anak-anak kita tumbuh dengan sehat, riang dan gembira setiap hari. Tempat mereka tinggal pun bersih, segar, dan nyaman. Tersedia asupan gizi yang cukup dan menyehatkan. Sarana bermain dan sekolah yang menyenangkan.

Sementara pemuda dan orang dewasanya, baik laki-laki maupun perempuan memiliki aktivitas usaha yang beragam dan saling melengkapi. Mereka bahu membahu membangun lingkungan yang nyaman sekaligus mereka saling tolong menolong ketika ada musibah atau ada yang sakit di antara mereka.

Tak cukup hanya itu, bila diperlukan mereka siap mengantar ke puskesmas atau mantri atau bahkan dokter dengan biaya yang terjangkau. Bahkan mereka siap menjemput petugas kesehatan ke daerah mereka secara berkala untuk sekadar memeriksakan kesehatan-nya, atau mendapat penjelasan tentang hidup sehat atau tentang pencegahan terhadap penyakit tanpa harus menunggu jatuh sakit atau wabah penyakit datang terlebih dahulu.

Orang-orang tua dan sudah lanjut usia juga dapat menikmati masa-masa tuanya dengan penuh senyuman di antara gelak tawa dan canda anak cucu tercinta. Semua orang produktif karena mereka sehat, sejahtera, dan bahagia.

Itulah potret negeri Public Health telah menjadi filosofi dasar dalam membangun bangsa.

Untuk itu, tidak berlebihan, sesuai amanat UU No. 36 tahun 2014, tentang tenaga kesehatan disebutkan bahwa keberadaan tenaga kesehatan ini memiliki peranan penting untuk meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan yang maksimal kepada masyarakat. Tenaga kesehatan adalah setiap orang yang mengabdikan diri dalam bidang kesehatan serta memiliki pengetahuan dan/atau ketrampilan melalui pendidikan di bidang kesehatan (Pasal 1 ayat 1).

Dalam UU tenaga kesehatan tersebut, keberadaan tenaga kesehatan dikelompokkan ke dalam: tenaga medis; tenaga psikologi klinis; tenaga keperawatan; tenaga kebidanan; tenaga kefarmasian; tenaga kesehatan masyarakat; tenaga kesehatan lingkungan; tenaga gizi; tenaga keterapian fisik; tenaga keteknisan medis; tenaga teknik biomedika; tenaga kesehatan tradisional; dan tenaga kesehatan lainnya (Pasal 11 ayat 1).

Adapun yang termasuk dalam tenaga kesehatan masyarakat, meliputi: epidemiolog kesehatan, tenaga promosi kesehatan dan ilmu perilaku, pembimbing kesehatan kerja, tenaga administrasi dan kebijakan kesehatan, tenaga biostatistik dan kependudukan, serta tenaga kesehatan reproduksi dan keluarga. Sementara itu, yang termasuk golongan kelompok tenaga kesehatan lingkungan, yaitu: tenaga sanitasi lingkungan, tenaga entomolog kesehatan, dan tenaga mikrobiolog kesehatan. Sedangkan yang masuk kelompok tenaga gizi, yaitu tenaga nutrisionis dan dietisien.   

Pada tataran tenaga ahli kesehatan lingkungan dan kesehatan masyarakat, dipastikan program-program yang dilakukan adalah program kerja yang bermutu sesuai dengan standar parameter yang berlaku. Untuk menggapai program-program tersebut diperlukan tenaga ahli kesehatan lingkungan (sanitarian) dan kesehatan masyarakat yang profesional.

Menurut lembaga sertifikasi profesi, menyebutkan bahwa kualifikasi profesionalisme atau kompetensi sumberdaya manusia merupakan akumulasi dari pengetahuan, keahlian, kemampuan, keterampilan, melalui jalur pendidikan, jalur pelatihan serta dari pengalaman hidup baik itu di lingkungan kerja maupun lingkungan masyarakat pada umumnya serta kemampuan mengembangkan diri pribadi (self-evelopment).

          Sementara itu, dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), profesionalisme adalah mutu, kualitas, dan tindak tanduk yang merupakan ciri suatu profesi atau orang yang profesional. Jadi, profesionalisme sanitarian dan kesehatan masyarakat adalah mutu, kualitas, dan tindak tanduk dari seorang sanitarian dan tenaga kesehatan masyarakat yang profesional. 

           Profesionalisme tenaga sanitarian dan ahli kesehatan masyarakat ini difokuskan pada perilaku tenaga ahli kesehatan lingkungan dan kesehatan masyarakat yang memberikan pelayanan kesehatan berdasarkan standar pelayanan, mandiri, bertanggung jawab dan bertanggung gugat, serta senantiasa mengembangkan kemampuannya sesuai perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.  

           Atas dasar pola pikir tersebut, makalah ini membahas terkait peran profesionalisme tenaga ahli kesehatan lingkungan (sanitarian) & kesehatan masyarakat dalam upaya pengendalian vektor DBD dan pengelolaan limbah di fasilitas pelayanan kesehatan, terutama di puskesmas dan rumah sakit (RS). Pokok bahasan yang dikaji meliputi: peran dan fungsi tenaga ahli kesehatan lingkungan maupun kesehatan masyarakat; essensi pelayanan preventif dan promotif; kompetensi tenaga ahli kesehatan lingkungan dan kesehatan masyarakat; pola pendekatan dalam pemecahan masalah kesehatan; serta program inovasi kesehatan terutama dalam upaya pengendalian vektor DBD (di puskesmas) dan pengelolaan limbah cair di RS.
.
Untuk mendapatkan full ebook makalah tersebut, silahkan transfer ke Rekening BNI No: 0118657077 a.n Arda Dinata, HANYA sebesar Rp. 50.000 saja.
.
Lalu, kirim alamat email dan bukti transfernya ke WhatsApp 081284826829
.


[1] Disampaikan pada acara Seminar Kesehatan, tanggal 23 Februari 2019 yang diadaakan oleh Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia (IAKMI) dan Himpunan Ahli Kesehatan Lingkungan Indonesia (HAKLI) Kota Banjar Provinsi Jawa Barat di Aula Setda Kota Banjar, Jl. Siliwangi No. 1 Kota Banjar.

[2] Penulis dan Peneliti di Loka Litbangkes Pangandaran – Balitbangkes Kemenkes RI, www.ArdaDinata.com


www.ArdaDinata.com: 
| Share, Reference & Education |
| Peneliti, penulis, dan motivator penulisan di media massa |

"Makalah ini membahas terkait peran profesionalisme tenaga ahli kesehatan lingkungan (sanitarian) & kesehatan masyarakat dalam upaya pengendalian vektor DBD dan pengelolaan limbah di fasilitas pelayanan kesehatan, terutama di puskesmas dan rumah sakit (RS). Pokok bahasan yang dikaji meliputi: peran dan fungsi tenaga ahli kesehatan lingkungan maupun kesehatan masyarakat; essensi pelayanan preventif dan promotif; kompetensi tenaga ahli kesehatan lingkungan dan kesehatan masyarakat; pola pendekatan dalam pemecahan masalah kesehatan; serta program inovasi kesehatan terutama dalam upaya pengendalian vektor DBD (di puskesmas) dan pengelolaan limbah cair di RS."

Profesionalisme Tenaga Sanitarian & Kesehatan Masyarakat Dalam Upaya Pengendalian Vektor DBD dan Pengelolaan Limbah di Fasilitas Pelayanan Kesehatan[1]
Oleh: Arda Dinata[2]


Latar Belakang

Untuk mendukung upaya pemerintah dalam mewujudkan visi pembangunan kesehatan, yaitu mewujudkan masyarakat mandiri untuk hidup sehat, dengan misi membuat rakyat sehat, tentu diperlukan sumber daya manusia bidang kesehatan yang profesional.

Menurut Guru Besar Administrasi Kesehatan Universitas Berkeley, Henrik L Blum, ada empat faktor yang mempengaruhi status kesehatan manusia, yaitu lingkungan, perilaku manusia, pelayanan kesehatan, dan genetik (keturunan). Melihat kondisi kesehatan saat ini, bisa jadi teori Henrik L Blum itu belum mendasari dan diterapkan dalam pola pembangunan kesehatan di Indonesia secara konsisten dan menyeluruh. 

Terkait itu, saya telah menulis dalam buku Kesehatan Lingkungan (2018) tentang cerita Prof. dr. Ascobat Gani, MPH., DrPh., yang menggambarkan betapa menyenangkan seandainya negeri ini dibangun dengan menerapkan filosofi dasar kesehatan masyarakat (Public Health).

Berikut ini, saya tuliskan kembali ceritanya.

Betapa indahnya bila kita hidup di sebuah negeri dimana anak-anak kita tumbuh dengan sehat, riang dan gembira setiap hari. Tempat mereka tinggal pun bersih, segar, dan nyaman. Tersedia asupan gizi yang cukup dan menyehatkan. Sarana bermain dan sekolah yang menyenangkan.

Sementara pemuda dan orang dewasanya, baik laki-laki maupun perempuan memiliki aktivitas usaha yang beragam dan saling melengkapi. Mereka bahu membahu membangun lingkungan yang nyaman sekaligus mereka saling tolong menolong ketika ada musibah atau ada yang sakit di antara mereka.

Tak cukup hanya itu, bila diperlukan mereka siap mengantar ke puskesmas atau mantri atau bahkan dokter dengan biaya yang terjangkau. Bahkan mereka siap menjemput petugas kesehatan ke daerah mereka secara berkala untuk sekadar memeriksakan kesehatan-nya, atau mendapat penjelasan tentang hidup sehat atau tentang pencegahan terhadap penyakit tanpa harus menunggu jatuh sakit atau wabah penyakit datang terlebih dahulu.

Orang-orang tua dan sudah lanjut usia juga dapat menikmati masa-masa tuanya dengan penuh senyuman di antara gelak tawa dan canda anak cucu tercinta. Semua orang produktif karena mereka sehat, sejahtera, dan bahagia.

Itulah potret negeri Public Health telah menjadi filosofi dasar dalam membangun bangsa.

Untuk itu, tidak berlebihan, sesuai amanat UU No. 36 tahun 2014, tentang tenaga kesehatan disebutkan bahwa keberadaan tenaga kesehatan ini memiliki peranan penting untuk meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan yang maksimal kepada masyarakat. Tenaga kesehatan adalah setiap orang yang mengabdikan diri dalam bidang kesehatan serta memiliki pengetahuan dan/atau ketrampilan melalui pendidikan di bidang kesehatan (Pasal 1 ayat 1).

Dalam UU tenaga kesehatan tersebut, keberadaan tenaga kesehatan dikelompokkan ke dalam: tenaga medis; tenaga psikologi klinis; tenaga keperawatan; tenaga kebidanan; tenaga kefarmasian; tenaga kesehatan masyarakat; tenaga kesehatan lingkungan; tenaga gizi; tenaga keterapian fisik; tenaga keteknisan medis; tenaga teknik biomedika; tenaga kesehatan tradisional; dan tenaga kesehatan lainnya (Pasal 11 ayat 1).

Adapun yang termasuk dalam tenaga kesehatan masyarakat, meliputi: epidemiolog kesehatan, tenaga promosi kesehatan dan ilmu perilaku, pembimbing kesehatan kerja, tenaga administrasi dan kebijakan kesehatan, tenaga biostatistik dan kependudukan, serta tenaga kesehatan reproduksi dan keluarga. Sementara itu, yang termasuk golongan kelompok tenaga kesehatan lingkungan, yaitu: tenaga sanitasi lingkungan, tenaga entomolog kesehatan, dan tenaga mikrobiolog kesehatan. Sedangkan yang masuk kelompok tenaga gizi, yaitu tenaga nutrisionis dan dietisien.   

Pada tataran tenaga ahli kesehatan lingkungan dan kesehatan masyarakat, dipastikan program-program yang dilakukan adalah program kerja yang bermutu sesuai dengan standar parameter yang berlaku. Untuk menggapai program-program tersebut diperlukan tenaga ahli kesehatan lingkungan (sanitarian) dan kesehatan masyarakat yang profesional.

Menurut lembaga sertifikasi profesi, menyebutkan bahwa kualifikasi profesionalisme atau kompetensi sumberdaya manusia merupakan akumulasi dari pengetahuan, keahlian, kemampuan, keterampilan, melalui jalur pendidikan, jalur pelatihan serta dari pengalaman hidup baik itu di lingkungan kerja maupun lingkungan masyarakat pada umumnya serta kemampuan mengembangkan diri pribadi (self-evelopment).

          Sementara itu, dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), profesionalisme adalah mutu, kualitas, dan tindak tanduk yang merupakan ciri suatu profesi atau orang yang profesional. Jadi, profesionalisme sanitarian dan kesehatan masyarakat adalah mutu, kualitas, dan tindak tanduk dari seorang sanitarian dan tenaga kesehatan masyarakat yang profesional. 

           Profesionalisme tenaga sanitarian dan ahli kesehatan masyarakat ini difokuskan pada perilaku tenaga ahli kesehatan lingkungan dan kesehatan masyarakat yang memberikan pelayanan kesehatan berdasarkan standar pelayanan, mandiri, bertanggung jawab dan bertanggung gugat, serta senantiasa mengembangkan kemampuannya sesuai perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.  

           Atas dasar pola pikir tersebut, makalah ini membahas terkait peran profesionalisme tenaga ahli kesehatan lingkungan (sanitarian) & kesehatan masyarakat dalam upaya pengendalian vektor DBD dan pengelolaan limbah di fasilitas pelayanan kesehatan, terutama di puskesmas dan rumah sakit (RS). Pokok bahasan yang dikaji meliputi: peran dan fungsi tenaga ahli kesehatan lingkungan maupun kesehatan masyarakat; essensi pelayanan preventif dan promotif; kompetensi tenaga ahli kesehatan lingkungan dan kesehatan masyarakat; pola pendekatan dalam pemecahan masalah kesehatan; serta program inovasi kesehatan terutama dalam upaya pengendalian vektor DBD (di puskesmas) dan pengelolaan limbah cair di RS.
.
Untuk mendapatkan full ebook makalah tersebut, silahkan transfer ke Rekening BNI No: 0118657077 a.n Arda Dinata, HANYA sebesar Rp. 50.000 saja.
.
Lalu, kirim alamat email dan bukti transfernya ke WhatsApp 081284826829
.


[1] Disampaikan pada acara Seminar Kesehatan, tanggal 23 Februari 2019 yang diadaakan oleh Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia (IAKMI) dan Himpunan Ahli Kesehatan Lingkungan Indonesia (HAKLI) Kota Banjar Provinsi Jawa Barat di Aula Setda Kota Banjar, Jl. Siliwangi No. 1 Kota Banjar.

[2] Penulis dan Peneliti di Loka Litbangkes Pangandaran – Balitbangkes Kemenkes RI, www.ArdaDinata.com


www.ArdaDinata.com: 
| Share, Reference & Education |
| Peneliti, penulis, dan motivator penulisan di media massa |
DBD Merenggut Korban JIwa
Lihat Detail

DBD Merenggut Korban JIwa

Korban diketahui sudah kritis saat dibawa ke rumah sakit. "Trombositnya menurun tajam. Jadi, nyawa korban tak bisa diselamatkan," kata Kepala Bidang Pengendalian dan Pemberantasan Penyakit Dinas Kesehatan Kabupaten Purwakarta, Muhammad Zubaedi, Rabu, 30 Januari 2019.



PURWAKARTA, (PR).- Seorang anak bernama Faza Rifatul Hadanah (7) asal Desa Tegaldatar, Kecamatan Maniis Kabupaten Purwakarta, meninggal dunia akibat Demam Berdarah Dengue. Korban diduga terlambat mendapatkan penanganan medis di rumah sakit.
Korban diketahui sudah kritis saat dibawa ke rumah sakit. "Trombositnya menurun tajam. Jadi, nyawa korban tak bisa diselamatkan," kata Kepala Bidang Pengendalian dan Pemberantasan Penyakit Dinas Kesehatan Kabupaten Purwakarta, Muhammad Zubaedi, Rabu, 30 Januari 2019.
Zubaedi mengakui penderita DBD yang meninggal dunia baru pertama kali terjadi di Kabupaten Purwakarta tahun ini. Sedangkan jumlah penderita DBD yang tercatat di Dinas Kesehatan setempat sepanjang Januari 2019 mencapai 96 orang.
"Data yang kita dapat dari Puskesmas dan rumah sakit, 96 pasien itu memang positif DBD," kata Zubaedi. Dari 17 kecamatan yang ada di daerahnya, ia menyebutkan penderita DBD terbanyak di Pasawahan dan Bungursari sebanyak masing-masing 11 laporan.
Kemunculan korban jiwa pertama akibat DBD membuat Dinas Kesehatan Purwakarta lebih fokus melakukan program pencegahan hingga penanganan. Salah satunya melakukan kegiatan sosialisasi mengenai pola hidup bersih dan pemberantasan sarang nyamuk.
Zubaedi menyarankan masyarakat melakukan upaya pencegahan sebelum muncul korban gigitan nyamuk Aedes aegypti pembawa penyakit DBD dan virus zika. "Masyarakat diharapkan supaya lebih waspada saat musim penghujan ini," katanya.
Selain sosialisasi, pemerintah daerahnya juga telah melakukan pengasapan di sejumlah wilayah yang terdapat laporan penderita DBD positif. Namun upaya tersebut belum maksimal karena masih terkendala anggaran daerah yang minim.
Sementara itu, Direktur Utama RSUD Bayu Asih Purwakarta Agung Darwis mrngakui masih ada pasien DBD yang dirawat di tempatnya. Ia menyebutkan jumlahnya ada enam pasien terdiri dari empat pasien anak-anak dan dua pasien dewasa.
"Kondisi mereka sudah membaik. Namun, masih harus mendapat perawatan," kata Agung. Pasien penyakit DBD terus berdatangan ke RSUD Bayu Asih Purwakarta selama beberapa waktu terakhir. Selama Januari 2019 jumlahnya tercatat sebanyak 42 pasien.*** (Sumber: Pikiran Rakyat, 30 Januari 2019).

www.ArdaDinata.com: 
| Share, Reference & Education |
| Peneliti, penulis, dan motivator penulisan di media massa |
Korban diketahui sudah kritis saat dibawa ke rumah sakit. "Trombositnya menurun tajam. Jadi, nyawa korban tak bisa diselamatkan," kata Kepala Bidang Pengendalian dan Pemberantasan Penyakit Dinas Kesehatan Kabupaten Purwakarta, Muhammad Zubaedi, Rabu, 30 Januari 2019.



PURWAKARTA, (PR).- Seorang anak bernama Faza Rifatul Hadanah (7) asal Desa Tegaldatar, Kecamatan Maniis Kabupaten Purwakarta, meninggal dunia akibat Demam Berdarah Dengue. Korban diduga terlambat mendapatkan penanganan medis di rumah sakit.
Korban diketahui sudah kritis saat dibawa ke rumah sakit. "Trombositnya menurun tajam. Jadi, nyawa korban tak bisa diselamatkan," kata Kepala Bidang Pengendalian dan Pemberantasan Penyakit Dinas Kesehatan Kabupaten Purwakarta, Muhammad Zubaedi, Rabu, 30 Januari 2019.
Zubaedi mengakui penderita DBD yang meninggal dunia baru pertama kali terjadi di Kabupaten Purwakarta tahun ini. Sedangkan jumlah penderita DBD yang tercatat di Dinas Kesehatan setempat sepanjang Januari 2019 mencapai 96 orang.
"Data yang kita dapat dari Puskesmas dan rumah sakit, 96 pasien itu memang positif DBD," kata Zubaedi. Dari 17 kecamatan yang ada di daerahnya, ia menyebutkan penderita DBD terbanyak di Pasawahan dan Bungursari sebanyak masing-masing 11 laporan.
Kemunculan korban jiwa pertama akibat DBD membuat Dinas Kesehatan Purwakarta lebih fokus melakukan program pencegahan hingga penanganan. Salah satunya melakukan kegiatan sosialisasi mengenai pola hidup bersih dan pemberantasan sarang nyamuk.
Zubaedi menyarankan masyarakat melakukan upaya pencegahan sebelum muncul korban gigitan nyamuk Aedes aegypti pembawa penyakit DBD dan virus zika. "Masyarakat diharapkan supaya lebih waspada saat musim penghujan ini," katanya.
Selain sosialisasi, pemerintah daerahnya juga telah melakukan pengasapan di sejumlah wilayah yang terdapat laporan penderita DBD positif. Namun upaya tersebut belum maksimal karena masih terkendala anggaran daerah yang minim.
Sementara itu, Direktur Utama RSUD Bayu Asih Purwakarta Agung Darwis mrngakui masih ada pasien DBD yang dirawat di tempatnya. Ia menyebutkan jumlahnya ada enam pasien terdiri dari empat pasien anak-anak dan dua pasien dewasa.
"Kondisi mereka sudah membaik. Namun, masih harus mendapat perawatan," kata Agung. Pasien penyakit DBD terus berdatangan ke RSUD Bayu Asih Purwakarta selama beberapa waktu terakhir. Selama Januari 2019 jumlahnya tercatat sebanyak 42 pasien.*** (Sumber: Pikiran Rakyat, 30 Januari 2019).

www.ArdaDinata.com: 
| Share, Reference & Education |
| Peneliti, penulis, dan motivator penulisan di media massa |
Korban diketahui sudah kritis saat dibawa ke rumah sakit. "Trombositnya menurun tajam. Jadi, nyawa korban tak bisa diselamatkan," kata Kepala Bidang Pengendalian dan Pemberantasan Penyakit Dinas Kesehatan Kabupaten Purwakarta, Muhammad Zubaedi, Rabu, 30 Januari 2019.



PURWAKARTA, (PR).- Seorang anak bernama Faza Rifatul Hadanah (7) asal Desa Tegaldatar, Kecamatan Maniis Kabupaten Purwakarta, meninggal dunia akibat Demam Berdarah Dengue. Korban diduga terlambat mendapatkan penanganan medis di rumah sakit.
Korban diketahui sudah kritis saat dibawa ke rumah sakit. "Trombositnya menurun tajam. Jadi, nyawa korban tak bisa diselamatkan," kata Kepala Bidang Pengendalian dan Pemberantasan Penyakit Dinas Kesehatan Kabupaten Purwakarta, Muhammad Zubaedi, Rabu, 30 Januari 2019.
Zubaedi mengakui penderita DBD yang meninggal dunia baru pertama kali terjadi di Kabupaten Purwakarta tahun ini. Sedangkan jumlah penderita DBD yang tercatat di Dinas Kesehatan setempat sepanjang Januari 2019 mencapai 96 orang.
"Data yang kita dapat dari Puskesmas dan rumah sakit, 96 pasien itu memang positif DBD," kata Zubaedi. Dari 17 kecamatan yang ada di daerahnya, ia menyebutkan penderita DBD terbanyak di Pasawahan dan Bungursari sebanyak masing-masing 11 laporan.
Kemunculan korban jiwa pertama akibat DBD membuat Dinas Kesehatan Purwakarta lebih fokus melakukan program pencegahan hingga penanganan. Salah satunya melakukan kegiatan sosialisasi mengenai pola hidup bersih dan pemberantasan sarang nyamuk.
Zubaedi menyarankan masyarakat melakukan upaya pencegahan sebelum muncul korban gigitan nyamuk Aedes aegypti pembawa penyakit DBD dan virus zika. "Masyarakat diharapkan supaya lebih waspada saat musim penghujan ini," katanya.
Selain sosialisasi, pemerintah daerahnya juga telah melakukan pengasapan di sejumlah wilayah yang terdapat laporan penderita DBD positif. Namun upaya tersebut belum maksimal karena masih terkendala anggaran daerah yang minim.
Sementara itu, Direktur Utama RSUD Bayu Asih Purwakarta Agung Darwis mrngakui masih ada pasien DBD yang dirawat di tempatnya. Ia menyebutkan jumlahnya ada enam pasien terdiri dari empat pasien anak-anak dan dua pasien dewasa.
"Kondisi mereka sudah membaik. Namun, masih harus mendapat perawatan," kata Agung. Pasien penyakit DBD terus berdatangan ke RSUD Bayu Asih Purwakarta selama beberapa waktu terakhir. Selama Januari 2019 jumlahnya tercatat sebanyak 42 pasien.*** (Sumber: Pikiran Rakyat, 30 Januari 2019).

www.ArdaDinata.com: 
| Share, Reference & Education |
| Peneliti, penulis, dan motivator penulisan di media massa |
Korban diketahui sudah kritis saat dibawa ke rumah sakit. "Trombositnya menurun tajam. Jadi, nyawa korban tak bisa diselamatkan," kata Kepala Bidang Pengendalian dan Pemberantasan Penyakit Dinas Kesehatan Kabupaten Purwakarta, Muhammad Zubaedi, Rabu, 30 Januari 2019.



PURWAKARTA, (PR).- Seorang anak bernama Faza Rifatul Hadanah (7) asal Desa Tegaldatar, Kecamatan Maniis Kabupaten Purwakarta, meninggal dunia akibat Demam Berdarah Dengue. Korban diduga terlambat mendapatkan penanganan medis di rumah sakit.
Korban diketahui sudah kritis saat dibawa ke rumah sakit. "Trombositnya menurun tajam. Jadi, nyawa korban tak bisa diselamatkan," kata Kepala Bidang Pengendalian dan Pemberantasan Penyakit Dinas Kesehatan Kabupaten Purwakarta, Muhammad Zubaedi, Rabu, 30 Januari 2019.
Zubaedi mengakui penderita DBD yang meninggal dunia baru pertama kali terjadi di Kabupaten Purwakarta tahun ini. Sedangkan jumlah penderita DBD yang tercatat di Dinas Kesehatan setempat sepanjang Januari 2019 mencapai 96 orang.
"Data yang kita dapat dari Puskesmas dan rumah sakit, 96 pasien itu memang positif DBD," kata Zubaedi. Dari 17 kecamatan yang ada di daerahnya, ia menyebutkan penderita DBD terbanyak di Pasawahan dan Bungursari sebanyak masing-masing 11 laporan.
Kemunculan korban jiwa pertama akibat DBD membuat Dinas Kesehatan Purwakarta lebih fokus melakukan program pencegahan hingga penanganan. Salah satunya melakukan kegiatan sosialisasi mengenai pola hidup bersih dan pemberantasan sarang nyamuk.
Zubaedi menyarankan masyarakat melakukan upaya pencegahan sebelum muncul korban gigitan nyamuk Aedes aegypti pembawa penyakit DBD dan virus zika. "Masyarakat diharapkan supaya lebih waspada saat musim penghujan ini," katanya.
Selain sosialisasi, pemerintah daerahnya juga telah melakukan pengasapan di sejumlah wilayah yang terdapat laporan penderita DBD positif. Namun upaya tersebut belum maksimal karena masih terkendala anggaran daerah yang minim.
Sementara itu, Direktur Utama RSUD Bayu Asih Purwakarta Agung Darwis mrngakui masih ada pasien DBD yang dirawat di tempatnya. Ia menyebutkan jumlahnya ada enam pasien terdiri dari empat pasien anak-anak dan dua pasien dewasa.
"Kondisi mereka sudah membaik. Namun, masih harus mendapat perawatan," kata Agung. Pasien penyakit DBD terus berdatangan ke RSUD Bayu Asih Purwakarta selama beberapa waktu terakhir. Selama Januari 2019 jumlahnya tercatat sebanyak 42 pasien.*** (Sumber: Pikiran Rakyat, 30 Januari 2019).

www.ArdaDinata.com: 
| Share, Reference & Education |
| Peneliti, penulis, dan motivator penulisan di media massa |
Korban diketahui sudah kritis saat dibawa ke rumah sakit. "Trombositnya menurun tajam. Jadi, nyawa korban tak bisa diselamatkan," kata Kepala Bidang Pengendalian dan Pemberantasan Penyakit Dinas Kesehatan Kabupaten Purwakarta, Muhammad Zubaedi, Rabu, 30 Januari 2019.



PURWAKARTA, (PR).- Seorang anak bernama Faza Rifatul Hadanah (7) asal Desa Tegaldatar, Kecamatan Maniis Kabupaten Purwakarta, meninggal dunia akibat Demam Berdarah Dengue. Korban diduga terlambat mendapatkan penanganan medis di rumah sakit.
Korban diketahui sudah kritis saat dibawa ke rumah sakit. "Trombositnya menurun tajam. Jadi, nyawa korban tak bisa diselamatkan," kata Kepala Bidang Pengendalian dan Pemberantasan Penyakit Dinas Kesehatan Kabupaten Purwakarta, Muhammad Zubaedi, Rabu, 30 Januari 2019.
Zubaedi mengakui penderita DBD yang meninggal dunia baru pertama kali terjadi di Kabupaten Purwakarta tahun ini. Sedangkan jumlah penderita DBD yang tercatat di Dinas Kesehatan setempat sepanjang Januari 2019 mencapai 96 orang.
"Data yang kita dapat dari Puskesmas dan rumah sakit, 96 pasien itu memang positif DBD," kata Zubaedi. Dari 17 kecamatan yang ada di daerahnya, ia menyebutkan penderita DBD terbanyak di Pasawahan dan Bungursari sebanyak masing-masing 11 laporan.
Kemunculan korban jiwa pertama akibat DBD membuat Dinas Kesehatan Purwakarta lebih fokus melakukan program pencegahan hingga penanganan. Salah satunya melakukan kegiatan sosialisasi mengenai pola hidup bersih dan pemberantasan sarang nyamuk.
Zubaedi menyarankan masyarakat melakukan upaya pencegahan sebelum muncul korban gigitan nyamuk Aedes aegypti pembawa penyakit DBD dan virus zika. "Masyarakat diharapkan supaya lebih waspada saat musim penghujan ini," katanya.
Selain sosialisasi, pemerintah daerahnya juga telah melakukan pengasapan di sejumlah wilayah yang terdapat laporan penderita DBD positif. Namun upaya tersebut belum maksimal karena masih terkendala anggaran daerah yang minim.
Sementara itu, Direktur Utama RSUD Bayu Asih Purwakarta Agung Darwis mrngakui masih ada pasien DBD yang dirawat di tempatnya. Ia menyebutkan jumlahnya ada enam pasien terdiri dari empat pasien anak-anak dan dua pasien dewasa.
"Kondisi mereka sudah membaik. Namun, masih harus mendapat perawatan," kata Agung. Pasien penyakit DBD terus berdatangan ke RSUD Bayu Asih Purwakarta selama beberapa waktu terakhir. Selama Januari 2019 jumlahnya tercatat sebanyak 42 pasien.*** (Sumber: Pikiran Rakyat, 30 Januari 2019).

www.ArdaDinata.com: 
| Share, Reference & Education |
| Peneliti, penulis, dan motivator penulisan di media massa |
Korban diketahui sudah kritis saat dibawa ke rumah sakit. "Trombositnya menurun tajam. Jadi, nyawa korban tak bisa diselamatkan," kata Kepala Bidang Pengendalian dan Pemberantasan Penyakit Dinas Kesehatan Kabupaten Purwakarta, Muhammad Zubaedi, Rabu, 30 Januari 2019.



PURWAKARTA, (PR).- Seorang anak bernama Faza Rifatul Hadanah (7) asal Desa Tegaldatar, Kecamatan Maniis Kabupaten Purwakarta, meninggal dunia akibat Demam Berdarah Dengue. Korban diduga terlambat mendapatkan penanganan medis di rumah sakit.
Korban diketahui sudah kritis saat dibawa ke rumah sakit. "Trombositnya menurun tajam. Jadi, nyawa korban tak bisa diselamatkan," kata Kepala Bidang Pengendalian dan Pemberantasan Penyakit Dinas Kesehatan Kabupaten Purwakarta, Muhammad Zubaedi, Rabu, 30 Januari 2019.
Zubaedi mengakui penderita DBD yang meninggal dunia baru pertama kali terjadi di Kabupaten Purwakarta tahun ini. Sedangkan jumlah penderita DBD yang tercatat di Dinas Kesehatan setempat sepanjang Januari 2019 mencapai 96 orang.
"Data yang kita dapat dari Puskesmas dan rumah sakit, 96 pasien itu memang positif DBD," kata Zubaedi. Dari 17 kecamatan yang ada di daerahnya, ia menyebutkan penderita DBD terbanyak di Pasawahan dan Bungursari sebanyak masing-masing 11 laporan.
Kemunculan korban jiwa pertama akibat DBD membuat Dinas Kesehatan Purwakarta lebih fokus melakukan program pencegahan hingga penanganan. Salah satunya melakukan kegiatan sosialisasi mengenai pola hidup bersih dan pemberantasan sarang nyamuk.
Zubaedi menyarankan masyarakat melakukan upaya pencegahan sebelum muncul korban gigitan nyamuk Aedes aegypti pembawa penyakit DBD dan virus zika. "Masyarakat diharapkan supaya lebih waspada saat musim penghujan ini," katanya.
Selain sosialisasi, pemerintah daerahnya juga telah melakukan pengasapan di sejumlah wilayah yang terdapat laporan penderita DBD positif. Namun upaya tersebut belum maksimal karena masih terkendala anggaran daerah yang minim.
Sementara itu, Direktur Utama RSUD Bayu Asih Purwakarta Agung Darwis mrngakui masih ada pasien DBD yang dirawat di tempatnya. Ia menyebutkan jumlahnya ada enam pasien terdiri dari empat pasien anak-anak dan dua pasien dewasa.
"Kondisi mereka sudah membaik. Namun, masih harus mendapat perawatan," kata Agung. Pasien penyakit DBD terus berdatangan ke RSUD Bayu Asih Purwakarta selama beberapa waktu terakhir. Selama Januari 2019 jumlahnya tercatat sebanyak 42 pasien.*** (Sumber: Pikiran Rakyat, 30 Januari 2019).

www.ArdaDinata.com: 
| Share, Reference & Education |
| Peneliti, penulis, dan motivator penulisan di media massa |
Korban diketahui sudah kritis saat dibawa ke rumah sakit. "Trombositnya menurun tajam. Jadi, nyawa korban tak bisa diselamatkan," kata Kepala Bidang Pengendalian dan Pemberantasan Penyakit Dinas Kesehatan Kabupaten Purwakarta, Muhammad Zubaedi, Rabu, 30 Januari 2019.



PURWAKARTA, (PR).- Seorang anak bernama Faza Rifatul Hadanah (7) asal Desa Tegaldatar, Kecamatan Maniis Kabupaten Purwakarta, meninggal dunia akibat Demam Berdarah Dengue. Korban diduga terlambat mendapatkan penanganan medis di rumah sakit.
Korban diketahui sudah kritis saat dibawa ke rumah sakit. "Trombositnya menurun tajam. Jadi, nyawa korban tak bisa diselamatkan," kata Kepala Bidang Pengendalian dan Pemberantasan Penyakit Dinas Kesehatan Kabupaten Purwakarta, Muhammad Zubaedi, Rabu, 30 Januari 2019.
Zubaedi mengakui penderita DBD yang meninggal dunia baru pertama kali terjadi di Kabupaten Purwakarta tahun ini. Sedangkan jumlah penderita DBD yang tercatat di Dinas Kesehatan setempat sepanjang Januari 2019 mencapai 96 orang.
"Data yang kita dapat dari Puskesmas dan rumah sakit, 96 pasien itu memang positif DBD," kata Zubaedi. Dari 17 kecamatan yang ada di daerahnya, ia menyebutkan penderita DBD terbanyak di Pasawahan dan Bungursari sebanyak masing-masing 11 laporan.
Kemunculan korban jiwa pertama akibat DBD membuat Dinas Kesehatan Purwakarta lebih fokus melakukan program pencegahan hingga penanganan. Salah satunya melakukan kegiatan sosialisasi mengenai pola hidup bersih dan pemberantasan sarang nyamuk.
Zubaedi menyarankan masyarakat melakukan upaya pencegahan sebelum muncul korban gigitan nyamuk Aedes aegypti pembawa penyakit DBD dan virus zika. "Masyarakat diharapkan supaya lebih waspada saat musim penghujan ini," katanya.
Selain sosialisasi, pemerintah daerahnya juga telah melakukan pengasapan di sejumlah wilayah yang terdapat laporan penderita DBD positif. Namun upaya tersebut belum maksimal karena masih terkendala anggaran daerah yang minim.
Sementara itu, Direktur Utama RSUD Bayu Asih Purwakarta Agung Darwis mrngakui masih ada pasien DBD yang dirawat di tempatnya. Ia menyebutkan jumlahnya ada enam pasien terdiri dari empat pasien anak-anak dan dua pasien dewasa.
"Kondisi mereka sudah membaik. Namun, masih harus mendapat perawatan," kata Agung. Pasien penyakit DBD terus berdatangan ke RSUD Bayu Asih Purwakarta selama beberapa waktu terakhir. Selama Januari 2019 jumlahnya tercatat sebanyak 42 pasien.*** (Sumber: Pikiran Rakyat, 30 Januari 2019).

www.ArdaDinata.com: 
| Share, Reference & Education |
| Peneliti, penulis, dan motivator penulisan di media massa |
Aedes aegypti juga Membawa Virus Zika
Lihat Detail

Aedes aegypti juga Membawa Virus Zika

Nyamuk, lingkungan dan perilaku manusia adalah tiga komponen yang memberikan kontribusi terhadap tersebarnya penyakit bersumber dari nyamuk.Seberapa pun gigihnya kita melakukan pengendalian terhadap (vektor) nyamuk, bila perilaku hidup bersih dan sehat masyarakatnya yang tidak mendukung, maka keberadaan nyamuk itu akan tetap menjadi ancaman (masalah) dikemudian hari. Untuk itu, langkah yang perlu dilakukan adalah biasakan untuk menjaga keadaan sanitasi lingkungan sekitar tempat tinggal agar tetap bersih dan sehat. Sebab, itulah kunci dalam pengendalian terhadap nyamuk.


DBD Diperkirakan Mewabah Hingga Maret 2019


BEKASI, (PR).- Wabah DBD (demam berdarah dengue) diperkirakan akan terus menjangkiti masyarakat hingga Maret 2019.
Rumah Sakit Umum Daerah dr. Chasbullah Kota Bekasi, sebagai salah satu rumah sakit rujukan, terus bersiap mengantisipasi kemungkinan terjadinya lonjakan kedatangan pasien DBD.
Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinas Kesehatan Kota Bekasi Dezi Syukrawati menyebut, perkiraan tersebut didasarkannya pada kondisi musim hujan yang baru memasuki tahap permulaan.
"Karena musim hujan baru mulai dan beberapa bulan ke depan masih akan sering turun hujan, ancaman wabah DBD pun diperkirakan masih akan terjadi," kata Dezi, Selasa 29 Januari 2019.
Hingga Senin 28 Januari 2019, peningkatan kasus DBD di Kota Bekasi cukup tinggi. Setidaknya, tercatat 75 pasien yang dinyatakan positif terjangkit DBD.
Saat data tersebut disandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya, angkanya mengalami peningkatan hampir dua kali lipat. Terjadi 49 kasus positif DBD pada Januari 2018.
Sementara pada tahun 2017, angkanya menyentuh 89 kasus positif DBD dan 196 kasus positif DBD tercatat pada tahun 2016.
"Untuk tahun 2017 dan 2018, sama-sama ada dua pasien DBD yang meninggal. Adapun pada tahun 2019, hingga saat ini tidak ada pasien DBD yang meninggal," katanya.
PASIEN demam berdarah dengue di Rumah Sakit Umum Daerah dr. Chasbullah Kota Bekasi/RIESTY YUSNILANINGSIH/PR
Mengingat masih panjangnya kemungkinan wabah DBD menjangkiti masyarakat, Dinkes Kota Bekasi terus menggencarkan terlaksananya pola hidup bersih serta pemberantasan sarang nyamuk di lingkungan masyarakat. Sikap itu harus dilakukan bersamaan agar secara serentak jentik-jentik nyamuk bisa dimatikan.
"Kami terus mendorong agar ada satu juru pemantau jentik di setiap rumah yang bertugas memastikan tidak ada genangan air bersih yang bisa dijadikan tempat berkembangbiaknya nyamuk," katanya.
Bila lingkungan sudah dibersihkan serentak, baru upaya pencegahan tambahan bisa dilakukan dengan pengasapan.
"Jadi, bukan pengasapan yang didahulukan, lingkungannya dulu dibersihkan, baru ditambah pengasapan. Jika pengasapan dilakukan bukan pada saat tepat, metodenya salah. Penggunaan obat yang keliru juga tidak akan berdampak," kata Dezi.

Rumah sakit bersiap

Sementara itu, dalam rangka mengantisipasi kemungkinan lonjakan pasien karena tren wabah DBD yang masih akan berlanjut hingga Maret 2019, RSUD dr. Chasbullah telah mempersiapkan serangkaian antisipasi.
"Salah satunya adalah penambahan tempat tidur, dari semula hanya 450 unit, bisa kami siapkan sampai 700 unit. Obat-obatan penanganan DBD pun kami siapkan agar mencukupi jumlahnya bilamana tren kasus DBD masih meningkat," kata Direktur RSUD dr. Chasbullah Kota Bekasi Kusnanto Saidi.
Kepala Bidang Perawatan RSUD dr. Chasbullah Kota Bekasi Sudirman mengatakan, sepanjang Januari 2019, ada 95 pasien yang dirawat karena mengeluhkan gejala seperti terjangkit DBD seperti demam tiga hari berturut-turut, lemah, lesu, tulang terasa ngilu. Akan tetapi, setelah ditangani lebih lanjut, hanya 31 di antaranya yang dinyatakan positif DBD.
"Sisanya ada yang hanya demam dengue atau tipes karena gejalanya hampir mirip," ucapnya.
Hingga saat ini, pasien yang positif DBD bisa tertangani baik dan tidak ada yang meninggal karena datang sebelum kondisinya parah.*** (Sumber: Riesty Yusnilaningsih, PR edisi Selasa, 29 Jan 2019).


www.ArdaDinata.com: 
| Share, Reference & Education |
| Peneliti, penulis, dan motivator penulisan di media massa |
Nyamuk, lingkungan dan perilaku manusia adalah tiga komponen yang memberikan kontribusi terhadap tersebarnya penyakit bersumber dari nyamuk.Seberapa pun gigihnya kita melakukan pengendalian terhadap (vektor) nyamuk, bila perilaku hidup bersih dan sehat masyarakatnya yang tidak mendukung, maka keberadaan nyamuk itu akan tetap menjadi ancaman (masalah) dikemudian hari. Untuk itu, langkah yang perlu dilakukan adalah biasakan untuk menjaga keadaan sanitasi lingkungan sekitar tempat tinggal agar tetap bersih dan sehat. Sebab, itulah kunci dalam pengendalian terhadap nyamuk.


DBD Diperkirakan Mewabah Hingga Maret 2019


BEKASI, (PR).- Wabah DBD (demam berdarah dengue) diperkirakan akan terus menjangkiti masyarakat hingga Maret 2019.
Rumah Sakit Umum Daerah dr. Chasbullah Kota Bekasi, sebagai salah satu rumah sakit rujukan, terus bersiap mengantisipasi kemungkinan terjadinya lonjakan kedatangan pasien DBD.
Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinas Kesehatan Kota Bekasi Dezi Syukrawati menyebut, perkiraan tersebut didasarkannya pada kondisi musim hujan yang baru memasuki tahap permulaan.
"Karena musim hujan baru mulai dan beberapa bulan ke depan masih akan sering turun hujan, ancaman wabah DBD pun diperkirakan masih akan terjadi," kata Dezi, Selasa 29 Januari 2019.
Hingga Senin 28 Januari 2019, peningkatan kasus DBD di Kota Bekasi cukup tinggi. Setidaknya, tercatat 75 pasien yang dinyatakan positif terjangkit DBD.
Saat data tersebut disandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya, angkanya mengalami peningkatan hampir dua kali lipat. Terjadi 49 kasus positif DBD pada Januari 2018.
Sementara pada tahun 2017, angkanya menyentuh 89 kasus positif DBD dan 196 kasus positif DBD tercatat pada tahun 2016.
"Untuk tahun 2017 dan 2018, sama-sama ada dua pasien DBD yang meninggal. Adapun pada tahun 2019, hingga saat ini tidak ada pasien DBD yang meninggal," katanya.
PASIEN demam berdarah dengue di Rumah Sakit Umum Daerah dr. Chasbullah Kota Bekasi/RIESTY YUSNILANINGSIH/PR
Mengingat masih panjangnya kemungkinan wabah DBD menjangkiti masyarakat, Dinkes Kota Bekasi terus menggencarkan terlaksananya pola hidup bersih serta pemberantasan sarang nyamuk di lingkungan masyarakat. Sikap itu harus dilakukan bersamaan agar secara serentak jentik-jentik nyamuk bisa dimatikan.
"Kami terus mendorong agar ada satu juru pemantau jentik di setiap rumah yang bertugas memastikan tidak ada genangan air bersih yang bisa dijadikan tempat berkembangbiaknya nyamuk," katanya.
Bila lingkungan sudah dibersihkan serentak, baru upaya pencegahan tambahan bisa dilakukan dengan pengasapan.
"Jadi, bukan pengasapan yang didahulukan, lingkungannya dulu dibersihkan, baru ditambah pengasapan. Jika pengasapan dilakukan bukan pada saat tepat, metodenya salah. Penggunaan obat yang keliru juga tidak akan berdampak," kata Dezi.

Rumah sakit bersiap

Sementara itu, dalam rangka mengantisipasi kemungkinan lonjakan pasien karena tren wabah DBD yang masih akan berlanjut hingga Maret 2019, RSUD dr. Chasbullah telah mempersiapkan serangkaian antisipasi.
"Salah satunya adalah penambahan tempat tidur, dari semula hanya 450 unit, bisa kami siapkan sampai 700 unit. Obat-obatan penanganan DBD pun kami siapkan agar mencukupi jumlahnya bilamana tren kasus DBD masih meningkat," kata Direktur RSUD dr. Chasbullah Kota Bekasi Kusnanto Saidi.
Kepala Bidang Perawatan RSUD dr. Chasbullah Kota Bekasi Sudirman mengatakan, sepanjang Januari 2019, ada 95 pasien yang dirawat karena mengeluhkan gejala seperti terjangkit DBD seperti demam tiga hari berturut-turut, lemah, lesu, tulang terasa ngilu. Akan tetapi, setelah ditangani lebih lanjut, hanya 31 di antaranya yang dinyatakan positif DBD.
"Sisanya ada yang hanya demam dengue atau tipes karena gejalanya hampir mirip," ucapnya.
Hingga saat ini, pasien yang positif DBD bisa tertangani baik dan tidak ada yang meninggal karena datang sebelum kondisinya parah.*** (Sumber: Riesty Yusnilaningsih, PR edisi Selasa, 29 Jan 2019).


www.ArdaDinata.com: 
| Share, Reference & Education |
| Peneliti, penulis, dan motivator penulisan di media massa |
Nyamuk, lingkungan dan perilaku manusia adalah tiga komponen yang memberikan kontribusi terhadap tersebarnya penyakit bersumber dari nyamuk.Seberapa pun gigihnya kita melakukan pengendalian terhadap (vektor) nyamuk, bila perilaku hidup bersih dan sehat masyarakatnya yang tidak mendukung, maka keberadaan nyamuk itu akan tetap menjadi ancaman (masalah) dikemudian hari. Untuk itu, langkah yang perlu dilakukan adalah biasakan untuk menjaga keadaan sanitasi lingkungan sekitar tempat tinggal agar tetap bersih dan sehat. Sebab, itulah kunci dalam pengendalian terhadap nyamuk.


DBD Diperkirakan Mewabah Hingga Maret 2019


BEKASI, (PR).- Wabah DBD (demam berdarah dengue) diperkirakan akan terus menjangkiti masyarakat hingga Maret 2019.
Rumah Sakit Umum Daerah dr. Chasbullah Kota Bekasi, sebagai salah satu rumah sakit rujukan, terus bersiap mengantisipasi kemungkinan terjadinya lonjakan kedatangan pasien DBD.
Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinas Kesehatan Kota Bekasi Dezi Syukrawati menyebut, perkiraan tersebut didasarkannya pada kondisi musim hujan yang baru memasuki tahap permulaan.
"Karena musim hujan baru mulai dan beberapa bulan ke depan masih akan sering turun hujan, ancaman wabah DBD pun diperkirakan masih akan terjadi," kata Dezi, Selasa 29 Januari 2019.
Hingga Senin 28 Januari 2019, peningkatan kasus DBD di Kota Bekasi cukup tinggi. Setidaknya, tercatat 75 pasien yang dinyatakan positif terjangkit DBD.
Saat data tersebut disandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya, angkanya mengalami peningkatan hampir dua kali lipat. Terjadi 49 kasus positif DBD pada Januari 2018.
Sementara pada tahun 2017, angkanya menyentuh 89 kasus positif DBD dan 196 kasus positif DBD tercatat pada tahun 2016.
"Untuk tahun 2017 dan 2018, sama-sama ada dua pasien DBD yang meninggal. Adapun pada tahun 2019, hingga saat ini tidak ada pasien DBD yang meninggal," katanya.
PASIEN demam berdarah dengue di Rumah Sakit Umum Daerah dr. Chasbullah Kota Bekasi/RIESTY YUSNILANINGSIH/PR
Mengingat masih panjangnya kemungkinan wabah DBD menjangkiti masyarakat, Dinkes Kota Bekasi terus menggencarkan terlaksananya pola hidup bersih serta pemberantasan sarang nyamuk di lingkungan masyarakat. Sikap itu harus dilakukan bersamaan agar secara serentak jentik-jentik nyamuk bisa dimatikan.
"Kami terus mendorong agar ada satu juru pemantau jentik di setiap rumah yang bertugas memastikan tidak ada genangan air bersih yang bisa dijadikan tempat berkembangbiaknya nyamuk," katanya.
Bila lingkungan sudah dibersihkan serentak, baru upaya pencegahan tambahan bisa dilakukan dengan pengasapan.
"Jadi, bukan pengasapan yang didahulukan, lingkungannya dulu dibersihkan, baru ditambah pengasapan. Jika pengasapan dilakukan bukan pada saat tepat, metodenya salah. Penggunaan obat yang keliru juga tidak akan berdampak," kata Dezi.

Rumah sakit bersiap

Sementara itu, dalam rangka mengantisipasi kemungkinan lonjakan pasien karena tren wabah DBD yang masih akan berlanjut hingga Maret 2019, RSUD dr. Chasbullah telah mempersiapkan serangkaian antisipasi.
"Salah satunya adalah penambahan tempat tidur, dari semula hanya 450 unit, bisa kami siapkan sampai 700 unit. Obat-obatan penanganan DBD pun kami siapkan agar mencukupi jumlahnya bilamana tren kasus DBD masih meningkat," kata Direktur RSUD dr. Chasbullah Kota Bekasi Kusnanto Saidi.
Kepala Bidang Perawatan RSUD dr. Chasbullah Kota Bekasi Sudirman mengatakan, sepanjang Januari 2019, ada 95 pasien yang dirawat karena mengeluhkan gejala seperti terjangkit DBD seperti demam tiga hari berturut-turut, lemah, lesu, tulang terasa ngilu. Akan tetapi, setelah ditangani lebih lanjut, hanya 31 di antaranya yang dinyatakan positif DBD.
"Sisanya ada yang hanya demam dengue atau tipes karena gejalanya hampir mirip," ucapnya.
Hingga saat ini, pasien yang positif DBD bisa tertangani baik dan tidak ada yang meninggal karena datang sebelum kondisinya parah.*** (Sumber: Riesty Yusnilaningsih, PR edisi Selasa, 29 Jan 2019).


www.ArdaDinata.com: 
| Share, Reference & Education |
| Peneliti, penulis, dan motivator penulisan di media massa |
Nyamuk, lingkungan dan perilaku manusia adalah tiga komponen yang memberikan kontribusi terhadap tersebarnya penyakit bersumber dari nyamuk.Seberapa pun gigihnya kita melakukan pengendalian terhadap (vektor) nyamuk, bila perilaku hidup bersih dan sehat masyarakatnya yang tidak mendukung, maka keberadaan nyamuk itu akan tetap menjadi ancaman (masalah) dikemudian hari. Untuk itu, langkah yang perlu dilakukan adalah biasakan untuk menjaga keadaan sanitasi lingkungan sekitar tempat tinggal agar tetap bersih dan sehat. Sebab, itulah kunci dalam pengendalian terhadap nyamuk.


DBD Diperkirakan Mewabah Hingga Maret 2019


BEKASI, (PR).- Wabah DBD (demam berdarah dengue) diperkirakan akan terus menjangkiti masyarakat hingga Maret 2019.
Rumah Sakit Umum Daerah dr. Chasbullah Kota Bekasi, sebagai salah satu rumah sakit rujukan, terus bersiap mengantisipasi kemungkinan terjadinya lonjakan kedatangan pasien DBD.
Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinas Kesehatan Kota Bekasi Dezi Syukrawati menyebut, perkiraan tersebut didasarkannya pada kondisi musim hujan yang baru memasuki tahap permulaan.
"Karena musim hujan baru mulai dan beberapa bulan ke depan masih akan sering turun hujan, ancaman wabah DBD pun diperkirakan masih akan terjadi," kata Dezi, Selasa 29 Januari 2019.
Hingga Senin 28 Januari 2019, peningkatan kasus DBD di Kota Bekasi cukup tinggi. Setidaknya, tercatat 75 pasien yang dinyatakan positif terjangkit DBD.
Saat data tersebut disandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya, angkanya mengalami peningkatan hampir dua kali lipat. Terjadi 49 kasus positif DBD pada Januari 2018.
Sementara pada tahun 2017, angkanya menyentuh 89 kasus positif DBD dan 196 kasus positif DBD tercatat pada tahun 2016.
"Untuk tahun 2017 dan 2018, sama-sama ada dua pasien DBD yang meninggal. Adapun pada tahun 2019, hingga saat ini tidak ada pasien DBD yang meninggal," katanya.
PASIEN demam berdarah dengue di Rumah Sakit Umum Daerah dr. Chasbullah Kota Bekasi/RIESTY YUSNILANINGSIH/PR
Mengingat masih panjangnya kemungkinan wabah DBD menjangkiti masyarakat, Dinkes Kota Bekasi terus menggencarkan terlaksananya pola hidup bersih serta pemberantasan sarang nyamuk di lingkungan masyarakat. Sikap itu harus dilakukan bersamaan agar secara serentak jentik-jentik nyamuk bisa dimatikan.
"Kami terus mendorong agar ada satu juru pemantau jentik di setiap rumah yang bertugas memastikan tidak ada genangan air bersih yang bisa dijadikan tempat berkembangbiaknya nyamuk," katanya.
Bila lingkungan sudah dibersihkan serentak, baru upaya pencegahan tambahan bisa dilakukan dengan pengasapan.
"Jadi, bukan pengasapan yang didahulukan, lingkungannya dulu dibersihkan, baru ditambah pengasapan. Jika pengasapan dilakukan bukan pada saat tepat, metodenya salah. Penggunaan obat yang keliru juga tidak akan berdampak," kata Dezi.

Rumah sakit bersiap

Sementara itu, dalam rangka mengantisipasi kemungkinan lonjakan pasien karena tren wabah DBD yang masih akan berlanjut hingga Maret 2019, RSUD dr. Chasbullah telah mempersiapkan serangkaian antisipasi.
"Salah satunya adalah penambahan tempat tidur, dari semula hanya 450 unit, bisa kami siapkan sampai 700 unit. Obat-obatan penanganan DBD pun kami siapkan agar mencukupi jumlahnya bilamana tren kasus DBD masih meningkat," kata Direktur RSUD dr. Chasbullah Kota Bekasi Kusnanto Saidi.
Kepala Bidang Perawatan RSUD dr. Chasbullah Kota Bekasi Sudirman mengatakan, sepanjang Januari 2019, ada 95 pasien yang dirawat karena mengeluhkan gejala seperti terjangkit DBD seperti demam tiga hari berturut-turut, lemah, lesu, tulang terasa ngilu. Akan tetapi, setelah ditangani lebih lanjut, hanya 31 di antaranya yang dinyatakan positif DBD.
"Sisanya ada yang hanya demam dengue atau tipes karena gejalanya hampir mirip," ucapnya.
Hingga saat ini, pasien yang positif DBD bisa tertangani baik dan tidak ada yang meninggal karena datang sebelum kondisinya parah.*** (Sumber: Riesty Yusnilaningsih, PR edisi Selasa, 29 Jan 2019).


www.ArdaDinata.com: 
| Share, Reference & Education |
| Peneliti, penulis, dan motivator penulisan di media massa |
Nyamuk, lingkungan dan perilaku manusia adalah tiga komponen yang memberikan kontribusi terhadap tersebarnya penyakit bersumber dari nyamuk.Seberapa pun gigihnya kita melakukan pengendalian terhadap (vektor) nyamuk, bila perilaku hidup bersih dan sehat masyarakatnya yang tidak mendukung, maka keberadaan nyamuk itu akan tetap menjadi ancaman (masalah) dikemudian hari. Untuk itu, langkah yang perlu dilakukan adalah biasakan untuk menjaga keadaan sanitasi lingkungan sekitar tempat tinggal agar tetap bersih dan sehat. Sebab, itulah kunci dalam pengendalian terhadap nyamuk.


DBD Diperkirakan Mewabah Hingga Maret 2019


BEKASI, (PR).- Wabah DBD (demam berdarah dengue) diperkirakan akan terus menjangkiti masyarakat hingga Maret 2019.
Rumah Sakit Umum Daerah dr. Chasbullah Kota Bekasi, sebagai salah satu rumah sakit rujukan, terus bersiap mengantisipasi kemungkinan terjadinya lonjakan kedatangan pasien DBD.
Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinas Kesehatan Kota Bekasi Dezi Syukrawati menyebut, perkiraan tersebut didasarkannya pada kondisi musim hujan yang baru memasuki tahap permulaan.
"Karena musim hujan baru mulai dan beberapa bulan ke depan masih akan sering turun hujan, ancaman wabah DBD pun diperkirakan masih akan terjadi," kata Dezi, Selasa 29 Januari 2019.
Hingga Senin 28 Januari 2019, peningkatan kasus DBD di Kota Bekasi cukup tinggi. Setidaknya, tercatat 75 pasien yang dinyatakan positif terjangkit DBD.
Saat data tersebut disandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya, angkanya mengalami peningkatan hampir dua kali lipat. Terjadi 49 kasus positif DBD pada Januari 2018.
Sementara pada tahun 2017, angkanya menyentuh 89 kasus positif DBD dan 196 kasus positif DBD tercatat pada tahun 2016.
"Untuk tahun 2017 dan 2018, sama-sama ada dua pasien DBD yang meninggal. Adapun pada tahun 2019, hingga saat ini tidak ada pasien DBD yang meninggal," katanya.
PASIEN demam berdarah dengue di Rumah Sakit Umum Daerah dr. Chasbullah Kota Bekasi/RIESTY YUSNILANINGSIH/PR
Mengingat masih panjangnya kemungkinan wabah DBD menjangkiti masyarakat, Dinkes Kota Bekasi terus menggencarkan terlaksananya pola hidup bersih serta pemberantasan sarang nyamuk di lingkungan masyarakat. Sikap itu harus dilakukan bersamaan agar secara serentak jentik-jentik nyamuk bisa dimatikan.
"Kami terus mendorong agar ada satu juru pemantau jentik di setiap rumah yang bertugas memastikan tidak ada genangan air bersih yang bisa dijadikan tempat berkembangbiaknya nyamuk," katanya.
Bila lingkungan sudah dibersihkan serentak, baru upaya pencegahan tambahan bisa dilakukan dengan pengasapan.
"Jadi, bukan pengasapan yang didahulukan, lingkungannya dulu dibersihkan, baru ditambah pengasapan. Jika pengasapan dilakukan bukan pada saat tepat, metodenya salah. Penggunaan obat yang keliru juga tidak akan berdampak," kata Dezi.

Rumah sakit bersiap

Sementara itu, dalam rangka mengantisipasi kemungkinan lonjakan pasien karena tren wabah DBD yang masih akan berlanjut hingga Maret 2019, RSUD dr. Chasbullah telah mempersiapkan serangkaian antisipasi.
"Salah satunya adalah penambahan tempat tidur, dari semula hanya 450 unit, bisa kami siapkan sampai 700 unit. Obat-obatan penanganan DBD pun kami siapkan agar mencukupi jumlahnya bilamana tren kasus DBD masih meningkat," kata Direktur RSUD dr. Chasbullah Kota Bekasi Kusnanto Saidi.
Kepala Bidang Perawatan RSUD dr. Chasbullah Kota Bekasi Sudirman mengatakan, sepanjang Januari 2019, ada 95 pasien yang dirawat karena mengeluhkan gejala seperti terjangkit DBD seperti demam tiga hari berturut-turut, lemah, lesu, tulang terasa ngilu. Akan tetapi, setelah ditangani lebih lanjut, hanya 31 di antaranya yang dinyatakan positif DBD.
"Sisanya ada yang hanya demam dengue atau tipes karena gejalanya hampir mirip," ucapnya.
Hingga saat ini, pasien yang positif DBD bisa tertangani baik dan tidak ada yang meninggal karena datang sebelum kondisinya parah.*** (Sumber: Riesty Yusnilaningsih, PR edisi Selasa, 29 Jan 2019).


www.ArdaDinata.com: 
| Share, Reference & Education |
| Peneliti, penulis, dan motivator penulisan di media massa |
Nyamuk, lingkungan dan perilaku manusia adalah tiga komponen yang memberikan kontribusi terhadap tersebarnya penyakit bersumber dari nyamuk.Seberapa pun gigihnya kita melakukan pengendalian terhadap (vektor) nyamuk, bila perilaku hidup bersih dan sehat masyarakatnya yang tidak mendukung, maka keberadaan nyamuk itu akan tetap menjadi ancaman (masalah) dikemudian hari. Untuk itu, langkah yang perlu dilakukan adalah biasakan untuk menjaga keadaan sanitasi lingkungan sekitar tempat tinggal agar tetap bersih dan sehat. Sebab, itulah kunci dalam pengendalian terhadap nyamuk.


DBD Diperkirakan Mewabah Hingga Maret 2019


BEKASI, (PR).- Wabah DBD (demam berdarah dengue) diperkirakan akan terus menjangkiti masyarakat hingga Maret 2019.
Rumah Sakit Umum Daerah dr. Chasbullah Kota Bekasi, sebagai salah satu rumah sakit rujukan, terus bersiap mengantisipasi kemungkinan terjadinya lonjakan kedatangan pasien DBD.
Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinas Kesehatan Kota Bekasi Dezi Syukrawati menyebut, perkiraan tersebut didasarkannya pada kondisi musim hujan yang baru memasuki tahap permulaan.
"Karena musim hujan baru mulai dan beberapa bulan ke depan masih akan sering turun hujan, ancaman wabah DBD pun diperkirakan masih akan terjadi," kata Dezi, Selasa 29 Januari 2019.
Hingga Senin 28 Januari 2019, peningkatan kasus DBD di Kota Bekasi cukup tinggi. Setidaknya, tercatat 75 pasien yang dinyatakan positif terjangkit DBD.
Saat data tersebut disandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya, angkanya mengalami peningkatan hampir dua kali lipat. Terjadi 49 kasus positif DBD pada Januari 2018.
Sementara pada tahun 2017, angkanya menyentuh 89 kasus positif DBD dan 196 kasus positif DBD tercatat pada tahun 2016.
"Untuk tahun 2017 dan 2018, sama-sama ada dua pasien DBD yang meninggal. Adapun pada tahun 2019, hingga saat ini tidak ada pasien DBD yang meninggal," katanya.
PASIEN demam berdarah dengue di Rumah Sakit Umum Daerah dr. Chasbullah Kota Bekasi/RIESTY YUSNILANINGSIH/PR
Mengingat masih panjangnya kemungkinan wabah DBD menjangkiti masyarakat, Dinkes Kota Bekasi terus menggencarkan terlaksananya pola hidup bersih serta pemberantasan sarang nyamuk di lingkungan masyarakat. Sikap itu harus dilakukan bersamaan agar secara serentak jentik-jentik nyamuk bisa dimatikan.
"Kami terus mendorong agar ada satu juru pemantau jentik di setiap rumah yang bertugas memastikan tidak ada genangan air bersih yang bisa dijadikan tempat berkembangbiaknya nyamuk," katanya.
Bila lingkungan sudah dibersihkan serentak, baru upaya pencegahan tambahan bisa dilakukan dengan pengasapan.
"Jadi, bukan pengasapan yang didahulukan, lingkungannya dulu dibersihkan, baru ditambah pengasapan. Jika pengasapan dilakukan bukan pada saat tepat, metodenya salah. Penggunaan obat yang keliru juga tidak akan berdampak," kata Dezi.

Rumah sakit bersiap

Sementara itu, dalam rangka mengantisipasi kemungkinan lonjakan pasien karena tren wabah DBD yang masih akan berlanjut hingga Maret 2019, RSUD dr. Chasbullah telah mempersiapkan serangkaian antisipasi.
"Salah satunya adalah penambahan tempat tidur, dari semula hanya 450 unit, bisa kami siapkan sampai 700 unit. Obat-obatan penanganan DBD pun kami siapkan agar mencukupi jumlahnya bilamana tren kasus DBD masih meningkat," kata Direktur RSUD dr. Chasbullah Kota Bekasi Kusnanto Saidi.
Kepala Bidang Perawatan RSUD dr. Chasbullah Kota Bekasi Sudirman mengatakan, sepanjang Januari 2019, ada 95 pasien yang dirawat karena mengeluhkan gejala seperti terjangkit DBD seperti demam tiga hari berturut-turut, lemah, lesu, tulang terasa ngilu. Akan tetapi, setelah ditangani lebih lanjut, hanya 31 di antaranya yang dinyatakan positif DBD.
"Sisanya ada yang hanya demam dengue atau tipes karena gejalanya hampir mirip," ucapnya.
Hingga saat ini, pasien yang positif DBD bisa tertangani baik dan tidak ada yang meninggal karena datang sebelum kondisinya parah.*** (Sumber: Riesty Yusnilaningsih, PR edisi Selasa, 29 Jan 2019).


www.ArdaDinata.com: 
| Share, Reference & Education |
| Peneliti, penulis, dan motivator penulisan di media massa |
Nyamuk, lingkungan dan perilaku manusia adalah tiga komponen yang memberikan kontribusi terhadap tersebarnya penyakit bersumber dari nyamuk.Seberapa pun gigihnya kita melakukan pengendalian terhadap (vektor) nyamuk, bila perilaku hidup bersih dan sehat masyarakatnya yang tidak mendukung, maka keberadaan nyamuk itu akan tetap menjadi ancaman (masalah) dikemudian hari. Untuk itu, langkah yang perlu dilakukan adalah biasakan untuk menjaga keadaan sanitasi lingkungan sekitar tempat tinggal agar tetap bersih dan sehat. Sebab, itulah kunci dalam pengendalian terhadap nyamuk.


DBD Diperkirakan Mewabah Hingga Maret 2019


BEKASI, (PR).- Wabah DBD (demam berdarah dengue) diperkirakan akan terus menjangkiti masyarakat hingga Maret 2019.
Rumah Sakit Umum Daerah dr. Chasbullah Kota Bekasi, sebagai salah satu rumah sakit rujukan, terus bersiap mengantisipasi kemungkinan terjadinya lonjakan kedatangan pasien DBD.
Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinas Kesehatan Kota Bekasi Dezi Syukrawati menyebut, perkiraan tersebut didasarkannya pada kondisi musim hujan yang baru memasuki tahap permulaan.
"Karena musim hujan baru mulai dan beberapa bulan ke depan masih akan sering turun hujan, ancaman wabah DBD pun diperkirakan masih akan terjadi," kata Dezi, Selasa 29 Januari 2019.
Hingga Senin 28 Januari 2019, peningkatan kasus DBD di Kota Bekasi cukup tinggi. Setidaknya, tercatat 75 pasien yang dinyatakan positif terjangkit DBD.
Saat data tersebut disandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya, angkanya mengalami peningkatan hampir dua kali lipat. Terjadi 49 kasus positif DBD pada Januari 2018.
Sementara pada tahun 2017, angkanya menyentuh 89 kasus positif DBD dan 196 kasus positif DBD tercatat pada tahun 2016.
"Untuk tahun 2017 dan 2018, sama-sama ada dua pasien DBD yang meninggal. Adapun pada tahun 2019, hingga saat ini tidak ada pasien DBD yang meninggal," katanya.
PASIEN demam berdarah dengue di Rumah Sakit Umum Daerah dr. Chasbullah Kota Bekasi/RIESTY YUSNILANINGSIH/PR
Mengingat masih panjangnya kemungkinan wabah DBD menjangkiti masyarakat, Dinkes Kota Bekasi terus menggencarkan terlaksananya pola hidup bersih serta pemberantasan sarang nyamuk di lingkungan masyarakat. Sikap itu harus dilakukan bersamaan agar secara serentak jentik-jentik nyamuk bisa dimatikan.
"Kami terus mendorong agar ada satu juru pemantau jentik di setiap rumah yang bertugas memastikan tidak ada genangan air bersih yang bisa dijadikan tempat berkembangbiaknya nyamuk," katanya.
Bila lingkungan sudah dibersihkan serentak, baru upaya pencegahan tambahan bisa dilakukan dengan pengasapan.
"Jadi, bukan pengasapan yang didahulukan, lingkungannya dulu dibersihkan, baru ditambah pengasapan. Jika pengasapan dilakukan bukan pada saat tepat, metodenya salah. Penggunaan obat yang keliru juga tidak akan berdampak," kata Dezi.

Rumah sakit bersiap

Sementara itu, dalam rangka mengantisipasi kemungkinan lonjakan pasien karena tren wabah DBD yang masih akan berlanjut hingga Maret 2019, RSUD dr. Chasbullah telah mempersiapkan serangkaian antisipasi.
"Salah satunya adalah penambahan tempat tidur, dari semula hanya 450 unit, bisa kami siapkan sampai 700 unit. Obat-obatan penanganan DBD pun kami siapkan agar mencukupi jumlahnya bilamana tren kasus DBD masih meningkat," kata Direktur RSUD dr. Chasbullah Kota Bekasi Kusnanto Saidi.
Kepala Bidang Perawatan RSUD dr. Chasbullah Kota Bekasi Sudirman mengatakan, sepanjang Januari 2019, ada 95 pasien yang dirawat karena mengeluhkan gejala seperti terjangkit DBD seperti demam tiga hari berturut-turut, lemah, lesu, tulang terasa ngilu. Akan tetapi, setelah ditangani lebih lanjut, hanya 31 di antaranya yang dinyatakan positif DBD.
"Sisanya ada yang hanya demam dengue atau tipes karena gejalanya hampir mirip," ucapnya.
Hingga saat ini, pasien yang positif DBD bisa tertangani baik dan tidak ada yang meninggal karena datang sebelum kondisinya parah.*** (Sumber: Riesty Yusnilaningsih, PR edisi Selasa, 29 Jan 2019).


www.ArdaDinata.com: 
| Share, Reference & Education |
| Peneliti, penulis, dan motivator penulisan di media massa |
“Bersahabat” dengan Nyamuk
Lihat Detail

“Bersahabat” dengan Nyamuk

KASUS demam berdarah dengue (DBD) meningkat cukup signifikan pada awal tahun 2019. Berdasarkan data Dinas Kesehatan Jawa Barat, hingga pekan ketiga Januari 2019, terdapat 1.085 kasus DBD di serata Jawa Barat, 8 di antaranya meninggal dunia. Pada periode yang sama tahun 2018, tercatat 969 kasus, 4 di antaranya meninggal dunia. (Pikiran Rakyat, 30 Januari 2019).

NYAMUK termasuk phylum arthropoda. Pada daerah tropis seperti Indonesia, hidup berbagai jenis nyamuk, baik nyamuk sebagai vektor penular penyakit maupun nyamuk yang bukan vektor penular penyakit.

Terkadang kita sebagai manusia memandang nyamuk sebagai serangga yang biasa-biasa saja. Tapi dibalik itu semua, ternyata nyamuk adalah sebagai vektor penular penyakit yang bisa mengakibatkan atau menimbulkan orang sakit dan menjadi wabah atau kejadian luar biasa.

Bila dilihat dari segi bentuknya, nyamuk adalah serangga kecil. Semua serangga termasuk nyamuk, dalam siklus hidupnya mempunyai tingkatan tertentu dan terkadang tingkatan itu antara satu serangga yang satu dengan lainnya berbeda.

Semua nyamuk mengalami metamorfosa yang sempurna, mulai dari telur, jentik, kepompong atau pupa dan terakhir menjadi nyamuk dewasa.

Nyamuk adalah serangga yang dikelompokan dalam kelas insekta dan mempunyai proses yang dipengaruhi oleh suhu disekitarnya. Misalnya suhu optimum untuk perkembangan nyamuk antara 25-270C. Dan bila suhu di bawah 100C dan suhu di atas 400C perkembangan nyamuk akan berhenti.

Begitu pula dengan siklus perkembangan telur, pertumbuhan, penyebaran dan umur nyamuk bisa dipengaruhi oleh kelembaban. Serangga seperti nyamuk sangat rentan terhadap kelembaban rendah.

Nyamuk dikenal memiliki dua macam kehidupan yaitu kehidupan di dalam air dan kehidupan di luar air. Nyamuk ini salah satu serangga yang melangsungkan siklus hidupnya di air. Air mempunyai peranan yang sangat penting bagi perkembangan nyamuk. Sebab bila tidak ada air, maka kelangsungan hidup nyamuk akan terputus. Tanpa air, stadium pradewasa tidak akan mampu untuk bertahan hidup dan berkembang menjadi stadium dewasa.

Nyamuk dewasa meletakkan telurnya di permukaan air. Telur menetas menjadi jentik, selama periode jentik dalam pertumbuhannya mengalami 4 fase pergantian kulit. Waktu yang diperlukan untuk pertumbuhan jentik menjadi pupa sekitar 8-10 hari. Itu juga tergantung suhu, makanan dan spesies nyamuk. Setelah 8-10 hari jentik akan berubah menjadi pupa. Pada fase pupa merupakan fase istirahat dan tidak makan.

Pada proses stadium pupa terjadi pembentukan alat-alat tubuh nyamuk dewasa seperti alat kelamin, sayap dan kaki. Pada fase pupa ini membutuhkan waktu sekitar 1-2 hari. Dan setelah itu dari pupa akan keluar menjadi nyamuk dewasa yang dapat dibedakan antara nyamuk jantan dan betina.

Rahasia Penciptaan Nyamuk


RAHASIA apa di balik penciptaan seekor nyamuk? Secara biologi, nyamuk itu tergolong serangga yang memiliki sifat spesifik dan adaktif tinggal bersama manusia. Nyamuk ini menjadi sorotan manusia, manakala ia telah membikin ulah. Sekali berulah, misalnya menyebarnya kasus demam berdarah dengue (DBD), malaria, filariasis dan chikungunya di suatu daerah, maka semua orang dibuat takut dan gelisah.

Ibarat seorang sahabat, nyamuk hidup begitu dekat dan berdampingan dengan manusia. Mereka siap kapan saja berkunjung dan bertamu ke rumah manusia. Bedanya dengan manusia, bila sahabat kita yang berkunjung biasanya membawa makanan, nyamuk bila bertamu justru akan mengganggu kita melalui bunyi kepakan sayapnya dan gigitan saat mengisap darah.

Atas dasar itulah, sesungguhnya kita dapat mencegah kehadiran nyamuk. Caranya? Dengan memahami (bersahabat) kebiasaan dan perilaku nyamuk itu sendiri. Misalnya, bagaimana cara nyamuk bertelur, berubah dari telur ke jentik, pupa, dan menjadi dewasa. Termasuk di dalamnya, bagaimana kebiasaan nyamuk-nyamuk itu menggigit dan mengisap darah manusia.

Nyamuk ini sebagai perantara penyebaran penyakit. Misalnya, penyakit DBD disebabkan virus dengue; malaria oleh Plasmodium spp.; filariasis penyebabnya cacing filaria; dan chikungunya penyebabnya adalah virus chikungunya.

Fakta tersebut mengajarkan agar kita tidak boleh meremehkan nyamuk. Ia merupakan bahasa kehidupan. Keberadaannya akan memberi banyak arti bagi mereka yang mau belajar darinya.
Untuk itu, semakin kita bersahabat dengan nyamuk, maka paling tidak kita mampu memahami habitat dan kebiasaannya, sehingga kita dapat menghindari penyakit yang dibawanya.

Nyamuk, lingkungan dan perilaku manusia adalah tiga komponen yang memberikan kontribusi terhadap tersebarnya penyakit bersumber dari nyamuk.Seberapa pun gigihnya kita melakukan pengendalian terhadap (vektor) nyamuk, bila perilaku hidup bersih dan sehat masyarakatnya yang tidak mendukung, maka keberadaan nyamuk itu akan tetap menjadi ancaman (masalah) dikemudian hari. Untuk itu, langkah yang perlu dilakukan adalah biasakan untuk menjaga keadaan sanitasi lingkungan sekitar tempat tinggal agar tetap bersih dan sehat. Sebab, itulah kunci dalam pengendalian terhadap nyamuk.

Seputar dunia nyamuk, inilah isi yang ditawarkan dari buku: "BERSAHABAT DENGAN NYAMUK: Jurus JituAtasi Penyakit Bersumber Nyamuk."***

Arda Dinata,
Bagian Program Kerjasama, Jarlitbangkes, Jaringan Informasi Ilmiah, dan Kehumasan Loka Litbangkes Pangandaran, Balitbangkes Kemenkes RI.I

www.ArdaDinata.com: 
| Share, Reference & Education |
| Peneliti, penulis, dan motivator penulisan di media massa |
KASUS demam berdarah dengue (DBD) meningkat cukup signifikan pada awal tahun 2019. Berdasarkan data Dinas Kesehatan Jawa Barat, hingga pekan ketiga Januari 2019, terdapat 1.085 kasus DBD di serata Jawa Barat, 8 di antaranya meninggal dunia. Pada periode yang sama tahun 2018, tercatat 969 kasus, 4 di antaranya meninggal dunia. (Pikiran Rakyat, 30 Januari 2019).

NYAMUK termasuk phylum arthropoda. Pada daerah tropis seperti Indonesia, hidup berbagai jenis nyamuk, baik nyamuk sebagai vektor penular penyakit maupun nyamuk yang bukan vektor penular penyakit.

Terkadang kita sebagai manusia memandang nyamuk sebagai serangga yang biasa-biasa saja. Tapi dibalik itu semua, ternyata nyamuk adalah sebagai vektor penular penyakit yang bisa mengakibatkan atau menimbulkan orang sakit dan menjadi wabah atau kejadian luar biasa.

Bila dilihat dari segi bentuknya, nyamuk adalah serangga kecil. Semua serangga termasuk nyamuk, dalam siklus hidupnya mempunyai tingkatan tertentu dan terkadang tingkatan itu antara satu serangga yang satu dengan lainnya berbeda.

Semua nyamuk mengalami metamorfosa yang sempurna, mulai dari telur, jentik, kepompong atau pupa dan terakhir menjadi nyamuk dewasa.

Nyamuk adalah serangga yang dikelompokan dalam kelas insekta dan mempunyai proses yang dipengaruhi oleh suhu disekitarnya. Misalnya suhu optimum untuk perkembangan nyamuk antara 25-270C. Dan bila suhu di bawah 100C dan suhu di atas 400C perkembangan nyamuk akan berhenti.

Begitu pula dengan siklus perkembangan telur, pertumbuhan, penyebaran dan umur nyamuk bisa dipengaruhi oleh kelembaban. Serangga seperti nyamuk sangat rentan terhadap kelembaban rendah.

Nyamuk dikenal memiliki dua macam kehidupan yaitu kehidupan di dalam air dan kehidupan di luar air. Nyamuk ini salah satu serangga yang melangsungkan siklus hidupnya di air. Air mempunyai peranan yang sangat penting bagi perkembangan nyamuk. Sebab bila tidak ada air, maka kelangsungan hidup nyamuk akan terputus. Tanpa air, stadium pradewasa tidak akan mampu untuk bertahan hidup dan berkembang menjadi stadium dewasa.

Nyamuk dewasa meletakkan telurnya di permukaan air. Telur menetas menjadi jentik, selama periode jentik dalam pertumbuhannya mengalami 4 fase pergantian kulit. Waktu yang diperlukan untuk pertumbuhan jentik menjadi pupa sekitar 8-10 hari. Itu juga tergantung suhu, makanan dan spesies nyamuk. Setelah 8-10 hari jentik akan berubah menjadi pupa. Pada fase pupa merupakan fase istirahat dan tidak makan.

Pada proses stadium pupa terjadi pembentukan alat-alat tubuh nyamuk dewasa seperti alat kelamin, sayap dan kaki. Pada fase pupa ini membutuhkan waktu sekitar 1-2 hari. Dan setelah itu dari pupa akan keluar menjadi nyamuk dewasa yang dapat dibedakan antara nyamuk jantan dan betina.

Rahasia Penciptaan Nyamuk


RAHASIA apa di balik penciptaan seekor nyamuk? Secara biologi, nyamuk itu tergolong serangga yang memiliki sifat spesifik dan adaktif tinggal bersama manusia. Nyamuk ini menjadi sorotan manusia, manakala ia telah membikin ulah. Sekali berulah, misalnya menyebarnya kasus demam berdarah dengue (DBD), malaria, filariasis dan chikungunya di suatu daerah, maka semua orang dibuat takut dan gelisah.

Ibarat seorang sahabat, nyamuk hidup begitu dekat dan berdampingan dengan manusia. Mereka siap kapan saja berkunjung dan bertamu ke rumah manusia. Bedanya dengan manusia, bila sahabat kita yang berkunjung biasanya membawa makanan, nyamuk bila bertamu justru akan mengganggu kita melalui bunyi kepakan sayapnya dan gigitan saat mengisap darah.

Atas dasar itulah, sesungguhnya kita dapat mencegah kehadiran nyamuk. Caranya? Dengan memahami (bersahabat) kebiasaan dan perilaku nyamuk itu sendiri. Misalnya, bagaimana cara nyamuk bertelur, berubah dari telur ke jentik, pupa, dan menjadi dewasa. Termasuk di dalamnya, bagaimana kebiasaan nyamuk-nyamuk itu menggigit dan mengisap darah manusia.

Nyamuk ini sebagai perantara penyebaran penyakit. Misalnya, penyakit DBD disebabkan virus dengue; malaria oleh Plasmodium spp.; filariasis penyebabnya cacing filaria; dan chikungunya penyebabnya adalah virus chikungunya.

Fakta tersebut mengajarkan agar kita tidak boleh meremehkan nyamuk. Ia merupakan bahasa kehidupan. Keberadaannya akan memberi banyak arti bagi mereka yang mau belajar darinya.
Untuk itu, semakin kita bersahabat dengan nyamuk, maka paling tidak kita mampu memahami habitat dan kebiasaannya, sehingga kita dapat menghindari penyakit yang dibawanya.

Nyamuk, lingkungan dan perilaku manusia adalah tiga komponen yang memberikan kontribusi terhadap tersebarnya penyakit bersumber dari nyamuk.Seberapa pun gigihnya kita melakukan pengendalian terhadap (vektor) nyamuk, bila perilaku hidup bersih dan sehat masyarakatnya yang tidak mendukung, maka keberadaan nyamuk itu akan tetap menjadi ancaman (masalah) dikemudian hari. Untuk itu, langkah yang perlu dilakukan adalah biasakan untuk menjaga keadaan sanitasi lingkungan sekitar tempat tinggal agar tetap bersih dan sehat. Sebab, itulah kunci dalam pengendalian terhadap nyamuk.

Seputar dunia nyamuk, inilah isi yang ditawarkan dari buku: "BERSAHABAT DENGAN NYAMUK: Jurus JituAtasi Penyakit Bersumber Nyamuk."***

Arda Dinata,
Bagian Program Kerjasama, Jarlitbangkes, Jaringan Informasi Ilmiah, dan Kehumasan Loka Litbangkes Pangandaran, Balitbangkes Kemenkes RI.I

www.ArdaDinata.com: 
| Share, Reference & Education |
| Peneliti, penulis, dan motivator penulisan di media massa |
KASUS demam berdarah dengue (DBD) meningkat cukup signifikan pada awal tahun 2019. Berdasarkan data Dinas Kesehatan Jawa Barat, hingga pekan ketiga Januari 2019, terdapat 1.085 kasus DBD di serata Jawa Barat, 8 di antaranya meninggal dunia. Pada periode yang sama tahun 2018, tercatat 969 kasus, 4 di antaranya meninggal dunia. (Pikiran Rakyat, 30 Januari 2019).

NYAMUK termasuk phylum arthropoda. Pada daerah tropis seperti Indonesia, hidup berbagai jenis nyamuk, baik nyamuk sebagai vektor penular penyakit maupun nyamuk yang bukan vektor penular penyakit.

Terkadang kita sebagai manusia memandang nyamuk sebagai serangga yang biasa-biasa saja. Tapi dibalik itu semua, ternyata nyamuk adalah sebagai vektor penular penyakit yang bisa mengakibatkan atau menimbulkan orang sakit dan menjadi wabah atau kejadian luar biasa.

Bila dilihat dari segi bentuknya, nyamuk adalah serangga kecil. Semua serangga termasuk nyamuk, dalam siklus hidupnya mempunyai tingkatan tertentu dan terkadang tingkatan itu antara satu serangga yang satu dengan lainnya berbeda.

Semua nyamuk mengalami metamorfosa yang sempurna, mulai dari telur, jentik, kepompong atau pupa dan terakhir menjadi nyamuk dewasa.

Nyamuk adalah serangga yang dikelompokan dalam kelas insekta dan mempunyai proses yang dipengaruhi oleh suhu disekitarnya. Misalnya suhu optimum untuk perkembangan nyamuk antara 25-270C. Dan bila suhu di bawah 100C dan suhu di atas 400C perkembangan nyamuk akan berhenti.

Begitu pula dengan siklus perkembangan telur, pertumbuhan, penyebaran dan umur nyamuk bisa dipengaruhi oleh kelembaban. Serangga seperti nyamuk sangat rentan terhadap kelembaban rendah.

Nyamuk dikenal memiliki dua macam kehidupan yaitu kehidupan di dalam air dan kehidupan di luar air. Nyamuk ini salah satu serangga yang melangsungkan siklus hidupnya di air. Air mempunyai peranan yang sangat penting bagi perkembangan nyamuk. Sebab bila tidak ada air, maka kelangsungan hidup nyamuk akan terputus. Tanpa air, stadium pradewasa tidak akan mampu untuk bertahan hidup dan berkembang menjadi stadium dewasa.

Nyamuk dewasa meletakkan telurnya di permukaan air. Telur menetas menjadi jentik, selama periode jentik dalam pertumbuhannya mengalami 4 fase pergantian kulit. Waktu yang diperlukan untuk pertumbuhan jentik menjadi pupa sekitar 8-10 hari. Itu juga tergantung suhu, makanan dan spesies nyamuk. Setelah 8-10 hari jentik akan berubah menjadi pupa. Pada fase pupa merupakan fase istirahat dan tidak makan.

Pada proses stadium pupa terjadi pembentukan alat-alat tubuh nyamuk dewasa seperti alat kelamin, sayap dan kaki. Pada fase pupa ini membutuhkan waktu sekitar 1-2 hari. Dan setelah itu dari pupa akan keluar menjadi nyamuk dewasa yang dapat dibedakan antara nyamuk jantan dan betina.

Rahasia Penciptaan Nyamuk


RAHASIA apa di balik penciptaan seekor nyamuk? Secara biologi, nyamuk itu tergolong serangga yang memiliki sifat spesifik dan adaktif tinggal bersama manusia. Nyamuk ini menjadi sorotan manusia, manakala ia telah membikin ulah. Sekali berulah, misalnya menyebarnya kasus demam berdarah dengue (DBD), malaria, filariasis dan chikungunya di suatu daerah, maka semua orang dibuat takut dan gelisah.

Ibarat seorang sahabat, nyamuk hidup begitu dekat dan berdampingan dengan manusia. Mereka siap kapan saja berkunjung dan bertamu ke rumah manusia. Bedanya dengan manusia, bila sahabat kita yang berkunjung biasanya membawa makanan, nyamuk bila bertamu justru akan mengganggu kita melalui bunyi kepakan sayapnya dan gigitan saat mengisap darah.

Atas dasar itulah, sesungguhnya kita dapat mencegah kehadiran nyamuk. Caranya? Dengan memahami (bersahabat) kebiasaan dan perilaku nyamuk itu sendiri. Misalnya, bagaimana cara nyamuk bertelur, berubah dari telur ke jentik, pupa, dan menjadi dewasa. Termasuk di dalamnya, bagaimana kebiasaan nyamuk-nyamuk itu menggigit dan mengisap darah manusia.

Nyamuk ini sebagai perantara penyebaran penyakit. Misalnya, penyakit DBD disebabkan virus dengue; malaria oleh Plasmodium spp.; filariasis penyebabnya cacing filaria; dan chikungunya penyebabnya adalah virus chikungunya.

Fakta tersebut mengajarkan agar kita tidak boleh meremehkan nyamuk. Ia merupakan bahasa kehidupan. Keberadaannya akan memberi banyak arti bagi mereka yang mau belajar darinya.
Untuk itu, semakin kita bersahabat dengan nyamuk, maka paling tidak kita mampu memahami habitat dan kebiasaannya, sehingga kita dapat menghindari penyakit yang dibawanya.

Nyamuk, lingkungan dan perilaku manusia adalah tiga komponen yang memberikan kontribusi terhadap tersebarnya penyakit bersumber dari nyamuk.Seberapa pun gigihnya kita melakukan pengendalian terhadap (vektor) nyamuk, bila perilaku hidup bersih dan sehat masyarakatnya yang tidak mendukung, maka keberadaan nyamuk itu akan tetap menjadi ancaman (masalah) dikemudian hari. Untuk itu, langkah yang perlu dilakukan adalah biasakan untuk menjaga keadaan sanitasi lingkungan sekitar tempat tinggal agar tetap bersih dan sehat. Sebab, itulah kunci dalam pengendalian terhadap nyamuk.

Seputar dunia nyamuk, inilah isi yang ditawarkan dari buku: "BERSAHABAT DENGAN NYAMUK: Jurus JituAtasi Penyakit Bersumber Nyamuk."***

Arda Dinata,
Bagian Program Kerjasama, Jarlitbangkes, Jaringan Informasi Ilmiah, dan Kehumasan Loka Litbangkes Pangandaran, Balitbangkes Kemenkes RI.I

www.ArdaDinata.com: 
| Share, Reference & Education |
| Peneliti, penulis, dan motivator penulisan di media massa |
KASUS demam berdarah dengue (DBD) meningkat cukup signifikan pada awal tahun 2019. Berdasarkan data Dinas Kesehatan Jawa Barat, hingga pekan ketiga Januari 2019, terdapat 1.085 kasus DBD di serata Jawa Barat, 8 di antaranya meninggal dunia. Pada periode yang sama tahun 2018, tercatat 969 kasus, 4 di antaranya meninggal dunia. (Pikiran Rakyat, 30 Januari 2019).

NYAMUK termasuk phylum arthropoda. Pada daerah tropis seperti Indonesia, hidup berbagai jenis nyamuk, baik nyamuk sebagai vektor penular penyakit maupun nyamuk yang bukan vektor penular penyakit.

Terkadang kita sebagai manusia memandang nyamuk sebagai serangga yang biasa-biasa saja. Tapi dibalik itu semua, ternyata nyamuk adalah sebagai vektor penular penyakit yang bisa mengakibatkan atau menimbulkan orang sakit dan menjadi wabah atau kejadian luar biasa.

Bila dilihat dari segi bentuknya, nyamuk adalah serangga kecil. Semua serangga termasuk nyamuk, dalam siklus hidupnya mempunyai tingkatan tertentu dan terkadang tingkatan itu antara satu serangga yang satu dengan lainnya berbeda.

Semua nyamuk mengalami metamorfosa yang sempurna, mulai dari telur, jentik, kepompong atau pupa dan terakhir menjadi nyamuk dewasa.

Nyamuk adalah serangga yang dikelompokan dalam kelas insekta dan mempunyai proses yang dipengaruhi oleh suhu disekitarnya. Misalnya suhu optimum untuk perkembangan nyamuk antara 25-270C. Dan bila suhu di bawah 100C dan suhu di atas 400C perkembangan nyamuk akan berhenti.

Begitu pula dengan siklus perkembangan telur, pertumbuhan, penyebaran dan umur nyamuk bisa dipengaruhi oleh kelembaban. Serangga seperti nyamuk sangat rentan terhadap kelembaban rendah.

Nyamuk dikenal memiliki dua macam kehidupan yaitu kehidupan di dalam air dan kehidupan di luar air. Nyamuk ini salah satu serangga yang melangsungkan siklus hidupnya di air. Air mempunyai peranan yang sangat penting bagi perkembangan nyamuk. Sebab bila tidak ada air, maka kelangsungan hidup nyamuk akan terputus. Tanpa air, stadium pradewasa tidak akan mampu untuk bertahan hidup dan berkembang menjadi stadium dewasa.

Nyamuk dewasa meletakkan telurnya di permukaan air. Telur menetas menjadi jentik, selama periode jentik dalam pertumbuhannya mengalami 4 fase pergantian kulit. Waktu yang diperlukan untuk pertumbuhan jentik menjadi pupa sekitar 8-10 hari. Itu juga tergantung suhu, makanan dan spesies nyamuk. Setelah 8-10 hari jentik akan berubah menjadi pupa. Pada fase pupa merupakan fase istirahat dan tidak makan.

Pada proses stadium pupa terjadi pembentukan alat-alat tubuh nyamuk dewasa seperti alat kelamin, sayap dan kaki. Pada fase pupa ini membutuhkan waktu sekitar 1-2 hari. Dan setelah itu dari pupa akan keluar menjadi nyamuk dewasa yang dapat dibedakan antara nyamuk jantan dan betina.

Rahasia Penciptaan Nyamuk


RAHASIA apa di balik penciptaan seekor nyamuk? Secara biologi, nyamuk itu tergolong serangga yang memiliki sifat spesifik dan adaktif tinggal bersama manusia. Nyamuk ini menjadi sorotan manusia, manakala ia telah membikin ulah. Sekali berulah, misalnya menyebarnya kasus demam berdarah dengue (DBD), malaria, filariasis dan chikungunya di suatu daerah, maka semua orang dibuat takut dan gelisah.

Ibarat seorang sahabat, nyamuk hidup begitu dekat dan berdampingan dengan manusia. Mereka siap kapan saja berkunjung dan bertamu ke rumah manusia. Bedanya dengan manusia, bila sahabat kita yang berkunjung biasanya membawa makanan, nyamuk bila bertamu justru akan mengganggu kita melalui bunyi kepakan sayapnya dan gigitan saat mengisap darah.

Atas dasar itulah, sesungguhnya kita dapat mencegah kehadiran nyamuk. Caranya? Dengan memahami (bersahabat) kebiasaan dan perilaku nyamuk itu sendiri. Misalnya, bagaimana cara nyamuk bertelur, berubah dari telur ke jentik, pupa, dan menjadi dewasa. Termasuk di dalamnya, bagaimana kebiasaan nyamuk-nyamuk itu menggigit dan mengisap darah manusia.

Nyamuk ini sebagai perantara penyebaran penyakit. Misalnya, penyakit DBD disebabkan virus dengue; malaria oleh Plasmodium spp.; filariasis penyebabnya cacing filaria; dan chikungunya penyebabnya adalah virus chikungunya.

Fakta tersebut mengajarkan agar kita tidak boleh meremehkan nyamuk. Ia merupakan bahasa kehidupan. Keberadaannya akan memberi banyak arti bagi mereka yang mau belajar darinya.
Untuk itu, semakin kita bersahabat dengan nyamuk, maka paling tidak kita mampu memahami habitat dan kebiasaannya, sehingga kita dapat menghindari penyakit yang dibawanya.

Nyamuk, lingkungan dan perilaku manusia adalah tiga komponen yang memberikan kontribusi terhadap tersebarnya penyakit bersumber dari nyamuk.Seberapa pun gigihnya kita melakukan pengendalian terhadap (vektor) nyamuk, bila perilaku hidup bersih dan sehat masyarakatnya yang tidak mendukung, maka keberadaan nyamuk itu akan tetap menjadi ancaman (masalah) dikemudian hari. Untuk itu, langkah yang perlu dilakukan adalah biasakan untuk menjaga keadaan sanitasi lingkungan sekitar tempat tinggal agar tetap bersih dan sehat. Sebab, itulah kunci dalam pengendalian terhadap nyamuk.

Seputar dunia nyamuk, inilah isi yang ditawarkan dari buku: "BERSAHABAT DENGAN NYAMUK: Jurus JituAtasi Penyakit Bersumber Nyamuk."***

Arda Dinata,
Bagian Program Kerjasama, Jarlitbangkes, Jaringan Informasi Ilmiah, dan Kehumasan Loka Litbangkes Pangandaran, Balitbangkes Kemenkes RI.I

www.ArdaDinata.com: 
| Share, Reference & Education |
| Peneliti, penulis, dan motivator penulisan di media massa |
KASUS demam berdarah dengue (DBD) meningkat cukup signifikan pada awal tahun 2019. Berdasarkan data Dinas Kesehatan Jawa Barat, hingga pekan ketiga Januari 2019, terdapat 1.085 kasus DBD di serata Jawa Barat, 8 di antaranya meninggal dunia. Pada periode yang sama tahun 2018, tercatat 969 kasus, 4 di antaranya meninggal dunia. (Pikiran Rakyat, 30 Januari 2019).

NYAMUK termasuk phylum arthropoda. Pada daerah tropis seperti Indonesia, hidup berbagai jenis nyamuk, baik nyamuk sebagai vektor penular penyakit maupun nyamuk yang bukan vektor penular penyakit.

Terkadang kita sebagai manusia memandang nyamuk sebagai serangga yang biasa-biasa saja. Tapi dibalik itu semua, ternyata nyamuk adalah sebagai vektor penular penyakit yang bisa mengakibatkan atau menimbulkan orang sakit dan menjadi wabah atau kejadian luar biasa.

Bila dilihat dari segi bentuknya, nyamuk adalah serangga kecil. Semua serangga termasuk nyamuk, dalam siklus hidupnya mempunyai tingkatan tertentu dan terkadang tingkatan itu antara satu serangga yang satu dengan lainnya berbeda.

Semua nyamuk mengalami metamorfosa yang sempurna, mulai dari telur, jentik, kepompong atau pupa dan terakhir menjadi nyamuk dewasa.

Nyamuk adalah serangga yang dikelompokan dalam kelas insekta dan mempunyai proses yang dipengaruhi oleh suhu disekitarnya. Misalnya suhu optimum untuk perkembangan nyamuk antara 25-270C. Dan bila suhu di bawah 100C dan suhu di atas 400C perkembangan nyamuk akan berhenti.

Begitu pula dengan siklus perkembangan telur, pertumbuhan, penyebaran dan umur nyamuk bisa dipengaruhi oleh kelembaban. Serangga seperti nyamuk sangat rentan terhadap kelembaban rendah.

Nyamuk dikenal memiliki dua macam kehidupan yaitu kehidupan di dalam air dan kehidupan di luar air. Nyamuk ini salah satu serangga yang melangsungkan siklus hidupnya di air. Air mempunyai peranan yang sangat penting bagi perkembangan nyamuk. Sebab bila tidak ada air, maka kelangsungan hidup nyamuk akan terputus. Tanpa air, stadium pradewasa tidak akan mampu untuk bertahan hidup dan berkembang menjadi stadium dewasa.

Nyamuk dewasa meletakkan telurnya di permukaan air. Telur menetas menjadi jentik, selama periode jentik dalam pertumbuhannya mengalami 4 fase pergantian kulit. Waktu yang diperlukan untuk pertumbuhan jentik menjadi pupa sekitar 8-10 hari. Itu juga tergantung suhu, makanan dan spesies nyamuk. Setelah 8-10 hari jentik akan berubah menjadi pupa. Pada fase pupa merupakan fase istirahat dan tidak makan.

Pada proses stadium pupa terjadi pembentukan alat-alat tubuh nyamuk dewasa seperti alat kelamin, sayap dan kaki. Pada fase pupa ini membutuhkan waktu sekitar 1-2 hari. Dan setelah itu dari pupa akan keluar menjadi nyamuk dewasa yang dapat dibedakan antara nyamuk jantan dan betina.

Rahasia Penciptaan Nyamuk


RAHASIA apa di balik penciptaan seekor nyamuk? Secara biologi, nyamuk itu tergolong serangga yang memiliki sifat spesifik dan adaktif tinggal bersama manusia. Nyamuk ini menjadi sorotan manusia, manakala ia telah membikin ulah. Sekali berulah, misalnya menyebarnya kasus demam berdarah dengue (DBD), malaria, filariasis dan chikungunya di suatu daerah, maka semua orang dibuat takut dan gelisah.

Ibarat seorang sahabat, nyamuk hidup begitu dekat dan berdampingan dengan manusia. Mereka siap kapan saja berkunjung dan bertamu ke rumah manusia. Bedanya dengan manusia, bila sahabat kita yang berkunjung biasanya membawa makanan, nyamuk bila bertamu justru akan mengganggu kita melalui bunyi kepakan sayapnya dan gigitan saat mengisap darah.

Atas dasar itulah, sesungguhnya kita dapat mencegah kehadiran nyamuk. Caranya? Dengan memahami (bersahabat) kebiasaan dan perilaku nyamuk itu sendiri. Misalnya, bagaimana cara nyamuk bertelur, berubah dari telur ke jentik, pupa, dan menjadi dewasa. Termasuk di dalamnya, bagaimana kebiasaan nyamuk-nyamuk itu menggigit dan mengisap darah manusia.

Nyamuk ini sebagai perantara penyebaran penyakit. Misalnya, penyakit DBD disebabkan virus dengue; malaria oleh Plasmodium spp.; filariasis penyebabnya cacing filaria; dan chikungunya penyebabnya adalah virus chikungunya.

Fakta tersebut mengajarkan agar kita tidak boleh meremehkan nyamuk. Ia merupakan bahasa kehidupan. Keberadaannya akan memberi banyak arti bagi mereka yang mau belajar darinya.
Untuk itu, semakin kita bersahabat dengan nyamuk, maka paling tidak kita mampu memahami habitat dan kebiasaannya, sehingga kita dapat menghindari penyakit yang dibawanya.

Nyamuk, lingkungan dan perilaku manusia adalah tiga komponen yang memberikan kontribusi terhadap tersebarnya penyakit bersumber dari nyamuk.Seberapa pun gigihnya kita melakukan pengendalian terhadap (vektor) nyamuk, bila perilaku hidup bersih dan sehat masyarakatnya yang tidak mendukung, maka keberadaan nyamuk itu akan tetap menjadi ancaman (masalah) dikemudian hari. Untuk itu, langkah yang perlu dilakukan adalah biasakan untuk menjaga keadaan sanitasi lingkungan sekitar tempat tinggal agar tetap bersih dan sehat. Sebab, itulah kunci dalam pengendalian terhadap nyamuk.

Seputar dunia nyamuk, inilah isi yang ditawarkan dari buku: "BERSAHABAT DENGAN NYAMUK: Jurus JituAtasi Penyakit Bersumber Nyamuk."***

Arda Dinata,
Bagian Program Kerjasama, Jarlitbangkes, Jaringan Informasi Ilmiah, dan Kehumasan Loka Litbangkes Pangandaran, Balitbangkes Kemenkes RI.I

www.ArdaDinata.com: 
| Share, Reference & Education |
| Peneliti, penulis, dan motivator penulisan di media massa |
KASUS demam berdarah dengue (DBD) meningkat cukup signifikan pada awal tahun 2019. Berdasarkan data Dinas Kesehatan Jawa Barat, hingga pekan ketiga Januari 2019, terdapat 1.085 kasus DBD di serata Jawa Barat, 8 di antaranya meninggal dunia. Pada periode yang sama tahun 2018, tercatat 969 kasus, 4 di antaranya meninggal dunia. (Pikiran Rakyat, 30 Januari 2019).

NYAMUK termasuk phylum arthropoda. Pada daerah tropis seperti Indonesia, hidup berbagai jenis nyamuk, baik nyamuk sebagai vektor penular penyakit maupun nyamuk yang bukan vektor penular penyakit.

Terkadang kita sebagai manusia memandang nyamuk sebagai serangga yang biasa-biasa saja. Tapi dibalik itu semua, ternyata nyamuk adalah sebagai vektor penular penyakit yang bisa mengakibatkan atau menimbulkan orang sakit dan menjadi wabah atau kejadian luar biasa.

Bila dilihat dari segi bentuknya, nyamuk adalah serangga kecil. Semua serangga termasuk nyamuk, dalam siklus hidupnya mempunyai tingkatan tertentu dan terkadang tingkatan itu antara satu serangga yang satu dengan lainnya berbeda.

Semua nyamuk mengalami metamorfosa yang sempurna, mulai dari telur, jentik, kepompong atau pupa dan terakhir menjadi nyamuk dewasa.

Nyamuk adalah serangga yang dikelompokan dalam kelas insekta dan mempunyai proses yang dipengaruhi oleh suhu disekitarnya. Misalnya suhu optimum untuk perkembangan nyamuk antara 25-270C. Dan bila suhu di bawah 100C dan suhu di atas 400C perkembangan nyamuk akan berhenti.

Begitu pula dengan siklus perkembangan telur, pertumbuhan, penyebaran dan umur nyamuk bisa dipengaruhi oleh kelembaban. Serangga seperti nyamuk sangat rentan terhadap kelembaban rendah.

Nyamuk dikenal memiliki dua macam kehidupan yaitu kehidupan di dalam air dan kehidupan di luar air. Nyamuk ini salah satu serangga yang melangsungkan siklus hidupnya di air. Air mempunyai peranan yang sangat penting bagi perkembangan nyamuk. Sebab bila tidak ada air, maka kelangsungan hidup nyamuk akan terputus. Tanpa air, stadium pradewasa tidak akan mampu untuk bertahan hidup dan berkembang menjadi stadium dewasa.

Nyamuk dewasa meletakkan telurnya di permukaan air. Telur menetas menjadi jentik, selama periode jentik dalam pertumbuhannya mengalami 4 fase pergantian kulit. Waktu yang diperlukan untuk pertumbuhan jentik menjadi pupa sekitar 8-10 hari. Itu juga tergantung suhu, makanan dan spesies nyamuk. Setelah 8-10 hari jentik akan berubah menjadi pupa. Pada fase pupa merupakan fase istirahat dan tidak makan.

Pada proses stadium pupa terjadi pembentukan alat-alat tubuh nyamuk dewasa seperti alat kelamin, sayap dan kaki. Pada fase pupa ini membutuhkan waktu sekitar 1-2 hari. Dan setelah itu dari pupa akan keluar menjadi nyamuk dewasa yang dapat dibedakan antara nyamuk jantan dan betina.

Rahasia Penciptaan Nyamuk


RAHASIA apa di balik penciptaan seekor nyamuk? Secara biologi, nyamuk itu tergolong serangga yang memiliki sifat spesifik dan adaktif tinggal bersama manusia. Nyamuk ini menjadi sorotan manusia, manakala ia telah membikin ulah. Sekali berulah, misalnya menyebarnya kasus demam berdarah dengue (DBD), malaria, filariasis dan chikungunya di suatu daerah, maka semua orang dibuat takut dan gelisah.

Ibarat seorang sahabat, nyamuk hidup begitu dekat dan berdampingan dengan manusia. Mereka siap kapan saja berkunjung dan bertamu ke rumah manusia. Bedanya dengan manusia, bila sahabat kita yang berkunjung biasanya membawa makanan, nyamuk bila bertamu justru akan mengganggu kita melalui bunyi kepakan sayapnya dan gigitan saat mengisap darah.

Atas dasar itulah, sesungguhnya kita dapat mencegah kehadiran nyamuk. Caranya? Dengan memahami (bersahabat) kebiasaan dan perilaku nyamuk itu sendiri. Misalnya, bagaimana cara nyamuk bertelur, berubah dari telur ke jentik, pupa, dan menjadi dewasa. Termasuk di dalamnya, bagaimana kebiasaan nyamuk-nyamuk itu menggigit dan mengisap darah manusia.

Nyamuk ini sebagai perantara penyebaran penyakit. Misalnya, penyakit DBD disebabkan virus dengue; malaria oleh Plasmodium spp.; filariasis penyebabnya cacing filaria; dan chikungunya penyebabnya adalah virus chikungunya.

Fakta tersebut mengajarkan agar kita tidak boleh meremehkan nyamuk. Ia merupakan bahasa kehidupan. Keberadaannya akan memberi banyak arti bagi mereka yang mau belajar darinya.
Untuk itu, semakin kita bersahabat dengan nyamuk, maka paling tidak kita mampu memahami habitat dan kebiasaannya, sehingga kita dapat menghindari penyakit yang dibawanya.

Nyamuk, lingkungan dan perilaku manusia adalah tiga komponen yang memberikan kontribusi terhadap tersebarnya penyakit bersumber dari nyamuk.Seberapa pun gigihnya kita melakukan pengendalian terhadap (vektor) nyamuk, bila perilaku hidup bersih dan sehat masyarakatnya yang tidak mendukung, maka keberadaan nyamuk itu akan tetap menjadi ancaman (masalah) dikemudian hari. Untuk itu, langkah yang perlu dilakukan adalah biasakan untuk menjaga keadaan sanitasi lingkungan sekitar tempat tinggal agar tetap bersih dan sehat. Sebab, itulah kunci dalam pengendalian terhadap nyamuk.

Seputar dunia nyamuk, inilah isi yang ditawarkan dari buku: "BERSAHABAT DENGAN NYAMUK: Jurus JituAtasi Penyakit Bersumber Nyamuk."***

Arda Dinata,
Bagian Program Kerjasama, Jarlitbangkes, Jaringan Informasi Ilmiah, dan Kehumasan Loka Litbangkes Pangandaran, Balitbangkes Kemenkes RI.I

www.ArdaDinata.com: 
| Share, Reference & Education |
| Peneliti, penulis, dan motivator penulisan di media massa |
KASUS demam berdarah dengue (DBD) meningkat cukup signifikan pada awal tahun 2019. Berdasarkan data Dinas Kesehatan Jawa Barat, hingga pekan ketiga Januari 2019, terdapat 1.085 kasus DBD di serata Jawa Barat, 8 di antaranya meninggal dunia. Pada periode yang sama tahun 2018, tercatat 969 kasus, 4 di antaranya meninggal dunia. (Pikiran Rakyat, 30 Januari 2019).

NYAMUK termasuk phylum arthropoda. Pada daerah tropis seperti Indonesia, hidup berbagai jenis nyamuk, baik nyamuk sebagai vektor penular penyakit maupun nyamuk yang bukan vektor penular penyakit.

Terkadang kita sebagai manusia memandang nyamuk sebagai serangga yang biasa-biasa saja. Tapi dibalik itu semua, ternyata nyamuk adalah sebagai vektor penular penyakit yang bisa mengakibatkan atau menimbulkan orang sakit dan menjadi wabah atau kejadian luar biasa.

Bila dilihat dari segi bentuknya, nyamuk adalah serangga kecil. Semua serangga termasuk nyamuk, dalam siklus hidupnya mempunyai tingkatan tertentu dan terkadang tingkatan itu antara satu serangga yang satu dengan lainnya berbeda.

Semua nyamuk mengalami metamorfosa yang sempurna, mulai dari telur, jentik, kepompong atau pupa dan terakhir menjadi nyamuk dewasa.

Nyamuk adalah serangga yang dikelompokan dalam kelas insekta dan mempunyai proses yang dipengaruhi oleh suhu disekitarnya. Misalnya suhu optimum untuk perkembangan nyamuk antara 25-270C. Dan bila suhu di bawah 100C dan suhu di atas 400C perkembangan nyamuk akan berhenti.

Begitu pula dengan siklus perkembangan telur, pertumbuhan, penyebaran dan umur nyamuk bisa dipengaruhi oleh kelembaban. Serangga seperti nyamuk sangat rentan terhadap kelembaban rendah.

Nyamuk dikenal memiliki dua macam kehidupan yaitu kehidupan di dalam air dan kehidupan di luar air. Nyamuk ini salah satu serangga yang melangsungkan siklus hidupnya di air. Air mempunyai peranan yang sangat penting bagi perkembangan nyamuk. Sebab bila tidak ada air, maka kelangsungan hidup nyamuk akan terputus. Tanpa air, stadium pradewasa tidak akan mampu untuk bertahan hidup dan berkembang menjadi stadium dewasa.

Nyamuk dewasa meletakkan telurnya di permukaan air. Telur menetas menjadi jentik, selama periode jentik dalam pertumbuhannya mengalami 4 fase pergantian kulit. Waktu yang diperlukan untuk pertumbuhan jentik menjadi pupa sekitar 8-10 hari. Itu juga tergantung suhu, makanan dan spesies nyamuk. Setelah 8-10 hari jentik akan berubah menjadi pupa. Pada fase pupa merupakan fase istirahat dan tidak makan.

Pada proses stadium pupa terjadi pembentukan alat-alat tubuh nyamuk dewasa seperti alat kelamin, sayap dan kaki. Pada fase pupa ini membutuhkan waktu sekitar 1-2 hari. Dan setelah itu dari pupa akan keluar menjadi nyamuk dewasa yang dapat dibedakan antara nyamuk jantan dan betina.

Rahasia Penciptaan Nyamuk


RAHASIA apa di balik penciptaan seekor nyamuk? Secara biologi, nyamuk itu tergolong serangga yang memiliki sifat spesifik dan adaktif tinggal bersama manusia. Nyamuk ini menjadi sorotan manusia, manakala ia telah membikin ulah. Sekali berulah, misalnya menyebarnya kasus demam berdarah dengue (DBD), malaria, filariasis dan chikungunya di suatu daerah, maka semua orang dibuat takut dan gelisah.

Ibarat seorang sahabat, nyamuk hidup begitu dekat dan berdampingan dengan manusia. Mereka siap kapan saja berkunjung dan bertamu ke rumah manusia. Bedanya dengan manusia, bila sahabat kita yang berkunjung biasanya membawa makanan, nyamuk bila bertamu justru akan mengganggu kita melalui bunyi kepakan sayapnya dan gigitan saat mengisap darah.

Atas dasar itulah, sesungguhnya kita dapat mencegah kehadiran nyamuk. Caranya? Dengan memahami (bersahabat) kebiasaan dan perilaku nyamuk itu sendiri. Misalnya, bagaimana cara nyamuk bertelur, berubah dari telur ke jentik, pupa, dan menjadi dewasa. Termasuk di dalamnya, bagaimana kebiasaan nyamuk-nyamuk itu menggigit dan mengisap darah manusia.

Nyamuk ini sebagai perantara penyebaran penyakit. Misalnya, penyakit DBD disebabkan virus dengue; malaria oleh Plasmodium spp.; filariasis penyebabnya cacing filaria; dan chikungunya penyebabnya adalah virus chikungunya.

Fakta tersebut mengajarkan agar kita tidak boleh meremehkan nyamuk. Ia merupakan bahasa kehidupan. Keberadaannya akan memberi banyak arti bagi mereka yang mau belajar darinya.
Untuk itu, semakin kita bersahabat dengan nyamuk, maka paling tidak kita mampu memahami habitat dan kebiasaannya, sehingga kita dapat menghindari penyakit yang dibawanya.

Nyamuk, lingkungan dan perilaku manusia adalah tiga komponen yang memberikan kontribusi terhadap tersebarnya penyakit bersumber dari nyamuk.Seberapa pun gigihnya kita melakukan pengendalian terhadap (vektor) nyamuk, bila perilaku hidup bersih dan sehat masyarakatnya yang tidak mendukung, maka keberadaan nyamuk itu akan tetap menjadi ancaman (masalah) dikemudian hari. Untuk itu, langkah yang perlu dilakukan adalah biasakan untuk menjaga keadaan sanitasi lingkungan sekitar tempat tinggal agar tetap bersih dan sehat. Sebab, itulah kunci dalam pengendalian terhadap nyamuk.

Seputar dunia nyamuk, inilah isi yang ditawarkan dari buku: "BERSAHABAT DENGAN NYAMUK: Jurus JituAtasi Penyakit Bersumber Nyamuk."***

Arda Dinata,
Bagian Program Kerjasama, Jarlitbangkes, Jaringan Informasi Ilmiah, dan Kehumasan Loka Litbangkes Pangandaran, Balitbangkes Kemenkes RI.I

www.ArdaDinata.com: 
| Share, Reference & Education |
| Peneliti, penulis, dan motivator penulisan di media massa |
KASUS demam berdarah dengue (DBD) meningkat cukup signifikan pada awal tahun 2019. Berdasarkan data Dinas Kesehatan Jawa Barat, hingga pekan ketiga Januari 2019, terdapat 1.085 kasus DBD di serata Jawa Barat, 8 di antaranya meninggal dunia. Pada periode yang sama tahun 2018, tercatat 969 kasus, 4 di antaranya meninggal dunia. (Pikiran Rakyat, 30 Januari 2019).

NYAMUK termasuk phylum arthropoda. Pada daerah tropis seperti Indonesia, hidup berbagai jenis nyamuk, baik nyamuk sebagai vektor penular penyakit maupun nyamuk yang bukan vektor penular penyakit.

Terkadang kita sebagai manusia memandang nyamuk sebagai serangga yang biasa-biasa saja. Tapi dibalik itu semua, ternyata nyamuk adalah sebagai vektor penular penyakit yang bisa mengakibatkan atau menimbulkan orang sakit dan menjadi wabah atau kejadian luar biasa.

Bila dilihat dari segi bentuknya, nyamuk adalah serangga kecil. Semua serangga termasuk nyamuk, dalam siklus hidupnya mempunyai tingkatan tertentu dan terkadang tingkatan itu antara satu serangga yang satu dengan lainnya berbeda.

Semua nyamuk mengalami metamorfosa yang sempurna, mulai dari telur, jentik, kepompong atau pupa dan terakhir menjadi nyamuk dewasa.

Nyamuk adalah serangga yang dikelompokan dalam kelas insekta dan mempunyai proses yang dipengaruhi oleh suhu disekitarnya. Misalnya suhu optimum untuk perkembangan nyamuk antara 25-270C. Dan bila suhu di bawah 100C dan suhu di atas 400C perkembangan nyamuk akan berhenti.

Begitu pula dengan siklus perkembangan telur, pertumbuhan, penyebaran dan umur nyamuk bisa dipengaruhi oleh kelembaban. Serangga seperti nyamuk sangat rentan terhadap kelembaban rendah.

Nyamuk dikenal memiliki dua macam kehidupan yaitu kehidupan di dalam air dan kehidupan di luar air. Nyamuk ini salah satu serangga yang melangsungkan siklus hidupnya di air. Air mempunyai peranan yang sangat penting bagi perkembangan nyamuk. Sebab bila tidak ada air, maka kelangsungan hidup nyamuk akan terputus. Tanpa air, stadium pradewasa tidak akan mampu untuk bertahan hidup dan berkembang menjadi stadium dewasa.

Nyamuk dewasa meletakkan telurnya di permukaan air. Telur menetas menjadi jentik, selama periode jentik dalam pertumbuhannya mengalami 4 fase pergantian kulit. Waktu yang diperlukan untuk pertumbuhan jentik menjadi pupa sekitar 8-10 hari. Itu juga tergantung suhu, makanan dan spesies nyamuk. Setelah 8-10 hari jentik akan berubah menjadi pupa. Pada fase pupa merupakan fase istirahat dan tidak makan.

Pada proses stadium pupa terjadi pembentukan alat-alat tubuh nyamuk dewasa seperti alat kelamin, sayap dan kaki. Pada fase pupa ini membutuhkan waktu sekitar 1-2 hari. Dan setelah itu dari pupa akan keluar menjadi nyamuk dewasa yang dapat dibedakan antara nyamuk jantan dan betina.

Rahasia Penciptaan Nyamuk


RAHASIA apa di balik penciptaan seekor nyamuk? Secara biologi, nyamuk itu tergolong serangga yang memiliki sifat spesifik dan adaktif tinggal bersama manusia. Nyamuk ini menjadi sorotan manusia, manakala ia telah membikin ulah. Sekali berulah, misalnya menyebarnya kasus demam berdarah dengue (DBD), malaria, filariasis dan chikungunya di suatu daerah, maka semua orang dibuat takut dan gelisah.

Ibarat seorang sahabat, nyamuk hidup begitu dekat dan berdampingan dengan manusia. Mereka siap kapan saja berkunjung dan bertamu ke rumah manusia. Bedanya dengan manusia, bila sahabat kita yang berkunjung biasanya membawa makanan, nyamuk bila bertamu justru akan mengganggu kita melalui bunyi kepakan sayapnya dan gigitan saat mengisap darah.

Atas dasar itulah, sesungguhnya kita dapat mencegah kehadiran nyamuk. Caranya? Dengan memahami (bersahabat) kebiasaan dan perilaku nyamuk itu sendiri. Misalnya, bagaimana cara nyamuk bertelur, berubah dari telur ke jentik, pupa, dan menjadi dewasa. Termasuk di dalamnya, bagaimana kebiasaan nyamuk-nyamuk itu menggigit dan mengisap darah manusia.

Nyamuk ini sebagai perantara penyebaran penyakit. Misalnya, penyakit DBD disebabkan virus dengue; malaria oleh Plasmodium spp.; filariasis penyebabnya cacing filaria; dan chikungunya penyebabnya adalah virus chikungunya.

Fakta tersebut mengajarkan agar kita tidak boleh meremehkan nyamuk. Ia merupakan bahasa kehidupan. Keberadaannya akan memberi banyak arti bagi mereka yang mau belajar darinya.
Untuk itu, semakin kita bersahabat dengan nyamuk, maka paling tidak kita mampu memahami habitat dan kebiasaannya, sehingga kita dapat menghindari penyakit yang dibawanya.

Nyamuk, lingkungan dan perilaku manusia adalah tiga komponen yang memberikan kontribusi terhadap tersebarnya penyakit bersumber dari nyamuk.Seberapa pun gigihnya kita melakukan pengendalian terhadap (vektor) nyamuk, bila perilaku hidup bersih dan sehat masyarakatnya yang tidak mendukung, maka keberadaan nyamuk itu akan tetap menjadi ancaman (masalah) dikemudian hari. Untuk itu, langkah yang perlu dilakukan adalah biasakan untuk menjaga keadaan sanitasi lingkungan sekitar tempat tinggal agar tetap bersih dan sehat. Sebab, itulah kunci dalam pengendalian terhadap nyamuk.

Seputar dunia nyamuk, inilah isi yang ditawarkan dari buku: "BERSAHABAT DENGAN NYAMUK: Jurus JituAtasi Penyakit Bersumber Nyamuk."***

Arda Dinata,
Bagian Program Kerjasama, Jarlitbangkes, Jaringan Informasi Ilmiah, dan Kehumasan Loka Litbangkes Pangandaran, Balitbangkes Kemenkes RI.I

www.ArdaDinata.com: 
| Share, Reference & Education |
| Peneliti, penulis, dan motivator penulisan di media massa |
KASUS demam berdarah dengue (DBD) meningkat cukup signifikan pada awal tahun 2019. Berdasarkan data Dinas Kesehatan Jawa Barat, hingga pekan ketiga Januari 2019, terdapat 1.085 kasus DBD di serata Jawa Barat, 8 di antaranya meninggal dunia. Pada periode yang sama tahun 2018, tercatat 969 kasus, 4 di antaranya meninggal dunia. (Pikiran Rakyat, 30 Januari 2019).

NYAMUK termasuk phylum arthropoda. Pada daerah tropis seperti Indonesia, hidup berbagai jenis nyamuk, baik nyamuk sebagai vektor penular penyakit maupun nyamuk yang bukan vektor penular penyakit.

Terkadang kita sebagai manusia memandang nyamuk sebagai serangga yang biasa-biasa saja. Tapi dibalik itu semua, ternyata nyamuk adalah sebagai vektor penular penyakit yang bisa mengakibatkan atau menimbulkan orang sakit dan menjadi wabah atau kejadian luar biasa.

Bila dilihat dari segi bentuknya, nyamuk adalah serangga kecil. Semua serangga termasuk nyamuk, dalam siklus hidupnya mempunyai tingkatan tertentu dan terkadang tingkatan itu antara satu serangga yang satu dengan lainnya berbeda.

Semua nyamuk mengalami metamorfosa yang sempurna, mulai dari telur, jentik, kepompong atau pupa dan terakhir menjadi nyamuk dewasa.

Nyamuk adalah serangga yang dikelompokan dalam kelas insekta dan mempunyai proses yang dipengaruhi oleh suhu disekitarnya. Misalnya suhu optimum untuk perkembangan nyamuk antara 25-270C. Dan bila suhu di bawah 100C dan suhu di atas 400C perkembangan nyamuk akan berhenti.

Begitu pula dengan siklus perkembangan telur, pertumbuhan, penyebaran dan umur nyamuk bisa dipengaruhi oleh kelembaban. Serangga seperti nyamuk sangat rentan terhadap kelembaban rendah.

Nyamuk dikenal memiliki dua macam kehidupan yaitu kehidupan di dalam air dan kehidupan di luar air. Nyamuk ini salah satu serangga yang melangsungkan siklus hidupnya di air. Air mempunyai peranan yang sangat penting bagi perkembangan nyamuk. Sebab bila tidak ada air, maka kelangsungan hidup nyamuk akan terputus. Tanpa air, stadium pradewasa tidak akan mampu untuk bertahan hidup dan berkembang menjadi stadium dewasa.

Nyamuk dewasa meletakkan telurnya di permukaan air. Telur menetas menjadi jentik, selama periode jentik dalam pertumbuhannya mengalami 4 fase pergantian kulit. Waktu yang diperlukan untuk pertumbuhan jentik menjadi pupa sekitar 8-10 hari. Itu juga tergantung suhu, makanan dan spesies nyamuk. Setelah 8-10 hari jentik akan berubah menjadi pupa. Pada fase pupa merupakan fase istirahat dan tidak makan.

Pada proses stadium pupa terjadi pembentukan alat-alat tubuh nyamuk dewasa seperti alat kelamin, sayap dan kaki. Pada fase pupa ini membutuhkan waktu sekitar 1-2 hari. Dan setelah itu dari pupa akan keluar menjadi nyamuk dewasa yang dapat dibedakan antara nyamuk jantan dan betina.

Rahasia Penciptaan Nyamuk


RAHASIA apa di balik penciptaan seekor nyamuk? Secara biologi, nyamuk itu tergolong serangga yang memiliki sifat spesifik dan adaktif tinggal bersama manusia. Nyamuk ini menjadi sorotan manusia, manakala ia telah membikin ulah. Sekali berulah, misalnya menyebarnya kasus demam berdarah dengue (DBD), malaria, filariasis dan chikungunya di suatu daerah, maka semua orang dibuat takut dan gelisah.

Ibarat seorang sahabat, nyamuk hidup begitu dekat dan berdampingan dengan manusia. Mereka siap kapan saja berkunjung dan bertamu ke rumah manusia. Bedanya dengan manusia, bila sahabat kita yang berkunjung biasanya membawa makanan, nyamuk bila bertamu justru akan mengganggu kita melalui bunyi kepakan sayapnya dan gigitan saat mengisap darah.

Atas dasar itulah, sesungguhnya kita dapat mencegah kehadiran nyamuk. Caranya? Dengan memahami (bersahabat) kebiasaan dan perilaku nyamuk itu sendiri. Misalnya, bagaimana cara nyamuk bertelur, berubah dari telur ke jentik, pupa, dan menjadi dewasa. Termasuk di dalamnya, bagaimana kebiasaan nyamuk-nyamuk itu menggigit dan mengisap darah manusia.

Nyamuk ini sebagai perantara penyebaran penyakit. Misalnya, penyakit DBD disebabkan virus dengue; malaria oleh Plasmodium spp.; filariasis penyebabnya cacing filaria; dan chikungunya penyebabnya adalah virus chikungunya.

Fakta tersebut mengajarkan agar kita tidak boleh meremehkan nyamuk. Ia merupakan bahasa kehidupan. Keberadaannya akan memberi banyak arti bagi mereka yang mau belajar darinya.
Untuk itu, semakin kita bersahabat dengan nyamuk, maka paling tidak kita mampu memahami habitat dan kebiasaannya, sehingga kita dapat menghindari penyakit yang dibawanya.

Nyamuk, lingkungan dan perilaku manusia adalah tiga komponen yang memberikan kontribusi terhadap tersebarnya penyakit bersumber dari nyamuk.Seberapa pun gigihnya kita melakukan pengendalian terhadap (vektor) nyamuk, bila perilaku hidup bersih dan sehat masyarakatnya yang tidak mendukung, maka keberadaan nyamuk itu akan tetap menjadi ancaman (masalah) dikemudian hari. Untuk itu, langkah yang perlu dilakukan adalah biasakan untuk menjaga keadaan sanitasi lingkungan sekitar tempat tinggal agar tetap bersih dan sehat. Sebab, itulah kunci dalam pengendalian terhadap nyamuk.

Seputar dunia nyamuk, inilah isi yang ditawarkan dari buku: "BERSAHABAT DENGAN NYAMUK: Jurus JituAtasi Penyakit Bersumber Nyamuk."***

Arda Dinata,
Bagian Program Kerjasama, Jarlitbangkes, Jaringan Informasi Ilmiah, dan Kehumasan Loka Litbangkes Pangandaran, Balitbangkes Kemenkes RI.I

www.ArdaDinata.com: 
| Share, Reference & Education |
| Peneliti, penulis, dan motivator penulisan di media massa |
KASUS demam berdarah dengue (DBD) meningkat cukup signifikan pada awal tahun 2019. Berdasarkan data Dinas Kesehatan Jawa Barat, hingga pekan ketiga Januari 2019, terdapat 1.085 kasus DBD di serata Jawa Barat, 8 di antaranya meninggal dunia. Pada periode yang sama tahun 2018, tercatat 969 kasus, 4 di antaranya meninggal dunia. (Pikiran Rakyat, 30 Januari 2019).

NYAMUK termasuk phylum arthropoda. Pada daerah tropis seperti Indonesia, hidup berbagai jenis nyamuk, baik nyamuk sebagai vektor penular penyakit maupun nyamuk yang bukan vektor penular penyakit.

Terkadang kita sebagai manusia memandang nyamuk sebagai serangga yang biasa-biasa saja. Tapi dibalik itu semua, ternyata nyamuk adalah sebagai vektor penular penyakit yang bisa mengakibatkan atau menimbulkan orang sakit dan menjadi wabah atau kejadian luar biasa.

Bila dilihat dari segi bentuknya, nyamuk adalah serangga kecil. Semua serangga termasuk nyamuk, dalam siklus hidupnya mempunyai tingkatan tertentu dan terkadang tingkatan itu antara satu serangga yang satu dengan lainnya berbeda.

Semua nyamuk mengalami metamorfosa yang sempurna, mulai dari telur, jentik, kepompong atau pupa dan terakhir menjadi nyamuk dewasa.

Nyamuk adalah serangga yang dikelompokan dalam kelas insekta dan mempunyai proses yang dipengaruhi oleh suhu disekitarnya. Misalnya suhu optimum untuk perkembangan nyamuk antara 25-270C. Dan bila suhu di bawah 100C dan suhu di atas 400C perkembangan nyamuk akan berhenti.

Begitu pula dengan siklus perkembangan telur, pertumbuhan, penyebaran dan umur nyamuk bisa dipengaruhi oleh kelembaban. Serangga seperti nyamuk sangat rentan terhadap kelembaban rendah.

Nyamuk dikenal memiliki dua macam kehidupan yaitu kehidupan di dalam air dan kehidupan di luar air. Nyamuk ini salah satu serangga yang melangsungkan siklus hidupnya di air. Air mempunyai peranan yang sangat penting bagi perkembangan nyamuk. Sebab bila tidak ada air, maka kelangsungan hidup nyamuk akan terputus. Tanpa air, stadium pradewasa tidak akan mampu untuk bertahan hidup dan berkembang menjadi stadium dewasa.

Nyamuk dewasa meletakkan telurnya di permukaan air. Telur menetas menjadi jentik, selama periode jentik dalam pertumbuhannya mengalami 4 fase pergantian kulit. Waktu yang diperlukan untuk pertumbuhan jentik menjadi pupa sekitar 8-10 hari. Itu juga tergantung suhu, makanan dan spesies nyamuk. Setelah 8-10 hari jentik akan berubah menjadi pupa. Pada fase pupa merupakan fase istirahat dan tidak makan.

Pada proses stadium pupa terjadi pembentukan alat-alat tubuh nyamuk dewasa seperti alat kelamin, sayap dan kaki. Pada fase pupa ini membutuhkan waktu sekitar 1-2 hari. Dan setelah itu dari pupa akan keluar menjadi nyamuk dewasa yang dapat dibedakan antara nyamuk jantan dan betina.

Rahasia Penciptaan Nyamuk


RAHASIA apa di balik penciptaan seekor nyamuk? Secara biologi, nyamuk itu tergolong serangga yang memiliki sifat spesifik dan adaktif tinggal bersama manusia. Nyamuk ini menjadi sorotan manusia, manakala ia telah membikin ulah. Sekali berulah, misalnya menyebarnya kasus demam berdarah dengue (DBD), malaria, filariasis dan chikungunya di suatu daerah, maka semua orang dibuat takut dan gelisah.

Ibarat seorang sahabat, nyamuk hidup begitu dekat dan berdampingan dengan manusia. Mereka siap kapan saja berkunjung dan bertamu ke rumah manusia. Bedanya dengan manusia, bila sahabat kita yang berkunjung biasanya membawa makanan, nyamuk bila bertamu justru akan mengganggu kita melalui bunyi kepakan sayapnya dan gigitan saat mengisap darah.

Atas dasar itulah, sesungguhnya kita dapat mencegah kehadiran nyamuk. Caranya? Dengan memahami (bersahabat) kebiasaan dan perilaku nyamuk itu sendiri. Misalnya, bagaimana cara nyamuk bertelur, berubah dari telur ke jentik, pupa, dan menjadi dewasa. Termasuk di dalamnya, bagaimana kebiasaan nyamuk-nyamuk itu menggigit dan mengisap darah manusia.

Nyamuk ini sebagai perantara penyebaran penyakit. Misalnya, penyakit DBD disebabkan virus dengue; malaria oleh Plasmodium spp.; filariasis penyebabnya cacing filaria; dan chikungunya penyebabnya adalah virus chikungunya.

Fakta tersebut mengajarkan agar kita tidak boleh meremehkan nyamuk. Ia merupakan bahasa kehidupan. Keberadaannya akan memberi banyak arti bagi mereka yang mau belajar darinya.
Untuk itu, semakin kita bersahabat dengan nyamuk, maka paling tidak kita mampu memahami habitat dan kebiasaannya, sehingga kita dapat menghindari penyakit yang dibawanya.

Nyamuk, lingkungan dan perilaku manusia adalah tiga komponen yang memberikan kontribusi terhadap tersebarnya penyakit bersumber dari nyamuk.Seberapa pun gigihnya kita melakukan pengendalian terhadap (vektor) nyamuk, bila perilaku hidup bersih dan sehat masyarakatnya yang tidak mendukung, maka keberadaan nyamuk itu akan tetap menjadi ancaman (masalah) dikemudian hari. Untuk itu, langkah yang perlu dilakukan adalah biasakan untuk menjaga keadaan sanitasi lingkungan sekitar tempat tinggal agar tetap bersih dan sehat. Sebab, itulah kunci dalam pengendalian terhadap nyamuk.

Seputar dunia nyamuk, inilah isi yang ditawarkan dari buku: "BERSAHABAT DENGAN NYAMUK: Jurus JituAtasi Penyakit Bersumber Nyamuk."***

Arda Dinata,
Bagian Program Kerjasama, Jarlitbangkes, Jaringan Informasi Ilmiah, dan Kehumasan Loka Litbangkes Pangandaran, Balitbangkes Kemenkes RI.I

www.ArdaDinata.com: 
| Share, Reference & Education |
| Peneliti, penulis, dan motivator penulisan di media massa |
Betulkah, Nyamuk Model Baru?
Lihat Detail

Betulkah, Nyamuk Model Baru?

BETULKAH NYAMUK MODEL BARU?
.
Belakangan ini, banyak yang bertanya ke saya terkait pemberitaan ini dari sahabat di tanah air Indonesia. Betulkah itu nyamuk model baru?
.
Lalu, saya jawab.
Bukan model baru.
.
Nyamuk Culex tritaeniorhynchus sudah lama ada di sekitar kita juga... nyamuk ini tidak bisa menyebarkan virus penyebab Demam Berdarah. Tapi, ia menyebarkan virus penyebab JE.
.
Iya itu salah satu spesies dari genera nyamuk Culex.
.
Mungkin kalimat pernyataan yang tepat itu adalah Penyakit JE ini lebih berbahaya bila timbul di suatu daerah karena nyamuk vektor yang membawa virusnya bisa spesies nyamuk dari genera Aedes, Culex, dan Armigeres....
.
Tapi kalau Demam Berdarah yang menyebarkan virusnya hanya golongan nyamuk Aedes (aegypti dan albopictus).
.
Hal ini hampir sama dengan penyebaran penyakit Filariasis atau Kaki Gajah juga vektor nyamuknya hampir semua nyamuk bisa sebagai vektor Filarissis. Makanya bila di suatu daerah ditemukan 1 penderita positif Kaki Gajah, maka daerah tersebut sudah disebut KLB Kaki Gajah.
.
Salam
.
Arda Dinata
IG: @arda.dinata
www.ArdaDinata.com

| www.ArdaDinata.com: | Share, Reference & Education |
| Peneliti, penulis, dan motivator penulisan di media massa |
BBM: C00447A8B
Telegram: ardadinata

BETULKAH NYAMUK MODEL BARU?
.
Belakangan ini, banyak yang bertanya ke saya terkait pemberitaan ini dari sahabat di tanah air Indonesia. Betulkah itu nyamuk model baru?
.
Lalu, saya jawab.
Bukan model baru.
.
Nyamuk Culex tritaeniorhynchus sudah lama ada di sekitar kita juga... nyamuk ini tidak bisa menyebarkan virus penyebab Demam Berdarah. Tapi, ia menyebarkan virus penyebab JE.
.
Iya itu salah satu spesies dari genera nyamuk Culex.
.
Mungkin kalimat pernyataan yang tepat itu adalah Penyakit JE ini lebih berbahaya bila timbul di suatu daerah karena nyamuk vektor yang membawa virusnya bisa spesies nyamuk dari genera Aedes, Culex, dan Armigeres....
.
Tapi kalau Demam Berdarah yang menyebarkan virusnya hanya golongan nyamuk Aedes (aegypti dan albopictus).
.
Hal ini hampir sama dengan penyebaran penyakit Filariasis atau Kaki Gajah juga vektor nyamuknya hampir semua nyamuk bisa sebagai vektor Filarissis. Makanya bila di suatu daerah ditemukan 1 penderita positif Kaki Gajah, maka daerah tersebut sudah disebut KLB Kaki Gajah.
.
Salam
.
Arda Dinata
IG: @arda.dinata
www.ArdaDinata.com

| www.ArdaDinata.com: | Share, Reference & Education |
| Peneliti, penulis, dan motivator penulisan di media massa |
BBM: C00447A8B
Telegram: ardadinata

BETULKAH NYAMUK MODEL BARU?
.
Belakangan ini, banyak yang bertanya ke saya terkait pemberitaan ini dari sahabat di tanah air Indonesia. Betulkah itu nyamuk model baru?
.
Lalu, saya jawab.
Bukan model baru.
.
Nyamuk Culex tritaeniorhynchus sudah lama ada di sekitar kita juga... nyamuk ini tidak bisa menyebarkan virus penyebab Demam Berdarah. Tapi, ia menyebarkan virus penyebab JE.
.
Iya itu salah satu spesies dari genera nyamuk Culex.
.
Mungkin kalimat pernyataan yang tepat itu adalah Penyakit JE ini lebih berbahaya bila timbul di suatu daerah karena nyamuk vektor yang membawa virusnya bisa spesies nyamuk dari genera Aedes, Culex, dan Armigeres....
.
Tapi kalau Demam Berdarah yang menyebarkan virusnya hanya golongan nyamuk Aedes (aegypti dan albopictus).
.
Hal ini hampir sama dengan penyebaran penyakit Filariasis atau Kaki Gajah juga vektor nyamuknya hampir semua nyamuk bisa sebagai vektor Filarissis. Makanya bila di suatu daerah ditemukan 1 penderita positif Kaki Gajah, maka daerah tersebut sudah disebut KLB Kaki Gajah.
.
Salam
.
Arda Dinata
IG: @arda.dinata
www.ArdaDinata.com

| www.ArdaDinata.com: | Share, Reference & Education |
| Peneliti, penulis, dan motivator penulisan di media massa |
BBM: C00447A8B
Telegram: ardadinata

BETULKAH NYAMUK MODEL BARU?
.
Belakangan ini, banyak yang bertanya ke saya terkait pemberitaan ini dari sahabat di tanah air Indonesia. Betulkah itu nyamuk model baru?
.
Lalu, saya jawab.
Bukan model baru.
.
Nyamuk Culex tritaeniorhynchus sudah lama ada di sekitar kita juga... nyamuk ini tidak bisa menyebarkan virus penyebab Demam Berdarah. Tapi, ia menyebarkan virus penyebab JE.
.
Iya itu salah satu spesies dari genera nyamuk Culex.
.
Mungkin kalimat pernyataan yang tepat itu adalah Penyakit JE ini lebih berbahaya bila timbul di suatu daerah karena nyamuk vektor yang membawa virusnya bisa spesies nyamuk dari genera Aedes, Culex, dan Armigeres....
.
Tapi kalau Demam Berdarah yang menyebarkan virusnya hanya golongan nyamuk Aedes (aegypti dan albopictus).
.
Hal ini hampir sama dengan penyebaran penyakit Filariasis atau Kaki Gajah juga vektor nyamuknya hampir semua nyamuk bisa sebagai vektor Filarissis. Makanya bila di suatu daerah ditemukan 1 penderita positif Kaki Gajah, maka daerah tersebut sudah disebut KLB Kaki Gajah.
.
Salam
.
Arda Dinata
IG: @arda.dinata
www.ArdaDinata.com

| www.ArdaDinata.com: | Share, Reference & Education |
| Peneliti, penulis, dan motivator penulisan di media massa |
BBM: C00447A8B
Telegram: ardadinata

Jurus Jitu Atasi Penyakit Akibat Nyamuk
Lihat Detail

Jurus Jitu Atasi Penyakit Akibat Nyamuk

RAHASIA apa di balik penciptaan seekor nyamuk? Secara biologi, nyamuk itu tergolong serangga yang memiliki sifat spesifik dan adaktif tinggal bersama manusia. Nyamuk ini menjadi sorotan manusia, manakala ia telah membikin ulah. Sekali berulah, misalnya menyebarnya kasus demam berdarah dengue (DBD), malaria, filariasis dan chikungunya di suatu daerah, maka semua orang dibuat takut dan gelisah.

Ibarat seorang sahabat, nyamuk hidup begitu dekat dan berdampingan dengan manusia. Mereka siap kapan saja berkunjung dan bertamu ke rumah manusia. Bedanya dengan manusia, bila sahabat kita yang berkunjung biasanya membawa makanan, nyamuk bila bertamu justru akan mengganggu kita melalui bunyi kepakan sayapnya dan gigitan saat mengisap darah.

Atas dasar itulah, sesungguhnya kita dapat mencegah kehadiran nyamuk. Caranya? Dengan memahami (bersahabat) kebiasaan dan perilaku nyamuk itu sendiri. Misalnya, bagaimana cara nyamuk bertelur, berubah dari telur ke jentik, pupa, dan menjadi dewasa. Termasuk di dalamnya, bagaimana kebiasaan nyamuk-nyamuk itu menggigit dan mengisap darah manusia.

Nyamuk ini sebagai perantara penyebaran penyakit. Misalnya, penyakit DBD disebabkan virus dengue; malaria oleh Plasmodium spp.; filariasis penyebabnya cacing filaria; dan chikungunya penyebabnya adalah virus chikungunya.

Fakta tersebut mengajarkan agar kita tidak boleh meremehkan nyamuk. Ia merupakan bahasa kehidupan. Keberadaannya akan memberi banyak arti bagi mereka yang mau belajar darinya.

Untuk itu, semakin kita bersahabat dengan nyamuk, maka paling tidak kita mampu memahami habitat dan kebiasaannya, sehingga kita dapat menghindari penyakit yang dibawanya. Seputar dunia nyamuk, inilah isi yang ditawarkan dari buku ”BERSAHABAT DENGAN NYAMUK: Jurus Jitu Atasi Penyakit Bersumber Nyamuk.”

Baca selengkapnya di sini:
https://play.google.com/store/books/details?id=xjVhDwAAQBAJ

| www.ArdaDinata.com: | Share, Reference & Education |
| Peneliti, penulis, dan motivator penulisan di media massa |
BBM: C00447A8B
Telegram: ardadinata

RAHASIA apa di balik penciptaan seekor nyamuk? Secara biologi, nyamuk itu tergolong serangga yang memiliki sifat spesifik dan adaktif tinggal bersama manusia. Nyamuk ini menjadi sorotan manusia, manakala ia telah membikin ulah. Sekali berulah, misalnya menyebarnya kasus demam berdarah dengue (DBD), malaria, filariasis dan chikungunya di suatu daerah, maka semua orang dibuat takut dan gelisah.

Ibarat seorang sahabat, nyamuk hidup begitu dekat dan berdampingan dengan manusia. Mereka siap kapan saja berkunjung dan bertamu ke rumah manusia. Bedanya dengan manusia, bila sahabat kita yang berkunjung biasanya membawa makanan, nyamuk bila bertamu justru akan mengganggu kita melalui bunyi kepakan sayapnya dan gigitan saat mengisap darah.

Atas dasar itulah, sesungguhnya kita dapat mencegah kehadiran nyamuk. Caranya? Dengan memahami (bersahabat) kebiasaan dan perilaku nyamuk itu sendiri. Misalnya, bagaimana cara nyamuk bertelur, berubah dari telur ke jentik, pupa, dan menjadi dewasa. Termasuk di dalamnya, bagaimana kebiasaan nyamuk-nyamuk itu menggigit dan mengisap darah manusia.

Nyamuk ini sebagai perantara penyebaran penyakit. Misalnya, penyakit DBD disebabkan virus dengue; malaria oleh Plasmodium spp.; filariasis penyebabnya cacing filaria; dan chikungunya penyebabnya adalah virus chikungunya.

Fakta tersebut mengajarkan agar kita tidak boleh meremehkan nyamuk. Ia merupakan bahasa kehidupan. Keberadaannya akan memberi banyak arti bagi mereka yang mau belajar darinya.

Untuk itu, semakin kita bersahabat dengan nyamuk, maka paling tidak kita mampu memahami habitat dan kebiasaannya, sehingga kita dapat menghindari penyakit yang dibawanya. Seputar dunia nyamuk, inilah isi yang ditawarkan dari buku ”BERSAHABAT DENGAN NYAMUK: Jurus Jitu Atasi Penyakit Bersumber Nyamuk.”

Baca selengkapnya di sini:
https://play.google.com/store/books/details?id=xjVhDwAAQBAJ

| www.ArdaDinata.com: | Share, Reference & Education |
| Peneliti, penulis, dan motivator penulisan di media massa |
BBM: C00447A8B
Telegram: ardadinata

RAHASIA apa di balik penciptaan seekor nyamuk? Secara biologi, nyamuk itu tergolong serangga yang memiliki sifat spesifik dan adaktif tinggal bersama manusia. Nyamuk ini menjadi sorotan manusia, manakala ia telah membikin ulah. Sekali berulah, misalnya menyebarnya kasus demam berdarah dengue (DBD), malaria, filariasis dan chikungunya di suatu daerah, maka semua orang dibuat takut dan gelisah.

Ibarat seorang sahabat, nyamuk hidup begitu dekat dan berdampingan dengan manusia. Mereka siap kapan saja berkunjung dan bertamu ke rumah manusia. Bedanya dengan manusia, bila sahabat kita yang berkunjung biasanya membawa makanan, nyamuk bila bertamu justru akan mengganggu kita melalui bunyi kepakan sayapnya dan gigitan saat mengisap darah.

Atas dasar itulah, sesungguhnya kita dapat mencegah kehadiran nyamuk. Caranya? Dengan memahami (bersahabat) kebiasaan dan perilaku nyamuk itu sendiri. Misalnya, bagaimana cara nyamuk bertelur, berubah dari telur ke jentik, pupa, dan menjadi dewasa. Termasuk di dalamnya, bagaimana kebiasaan nyamuk-nyamuk itu menggigit dan mengisap darah manusia.

Nyamuk ini sebagai perantara penyebaran penyakit. Misalnya, penyakit DBD disebabkan virus dengue; malaria oleh Plasmodium spp.; filariasis penyebabnya cacing filaria; dan chikungunya penyebabnya adalah virus chikungunya.

Fakta tersebut mengajarkan agar kita tidak boleh meremehkan nyamuk. Ia merupakan bahasa kehidupan. Keberadaannya akan memberi banyak arti bagi mereka yang mau belajar darinya.

Untuk itu, semakin kita bersahabat dengan nyamuk, maka paling tidak kita mampu memahami habitat dan kebiasaannya, sehingga kita dapat menghindari penyakit yang dibawanya. Seputar dunia nyamuk, inilah isi yang ditawarkan dari buku ”BERSAHABAT DENGAN NYAMUK: Jurus Jitu Atasi Penyakit Bersumber Nyamuk.”

Baca selengkapnya di sini:
https://play.google.com/store/books/details?id=xjVhDwAAQBAJ

| www.ArdaDinata.com: | Share, Reference & Education |
| Peneliti, penulis, dan motivator penulisan di media massa |
BBM: C00447A8B
Telegram: ardadinata

RAHASIA apa di balik penciptaan seekor nyamuk? Secara biologi, nyamuk itu tergolong serangga yang memiliki sifat spesifik dan adaktif tinggal bersama manusia. Nyamuk ini menjadi sorotan manusia, manakala ia telah membikin ulah. Sekali berulah, misalnya menyebarnya kasus demam berdarah dengue (DBD), malaria, filariasis dan chikungunya di suatu daerah, maka semua orang dibuat takut dan gelisah.

Ibarat seorang sahabat, nyamuk hidup begitu dekat dan berdampingan dengan manusia. Mereka siap kapan saja berkunjung dan bertamu ke rumah manusia. Bedanya dengan manusia, bila sahabat kita yang berkunjung biasanya membawa makanan, nyamuk bila bertamu justru akan mengganggu kita melalui bunyi kepakan sayapnya dan gigitan saat mengisap darah.

Atas dasar itulah, sesungguhnya kita dapat mencegah kehadiran nyamuk. Caranya? Dengan memahami (bersahabat) kebiasaan dan perilaku nyamuk itu sendiri. Misalnya, bagaimana cara nyamuk bertelur, berubah dari telur ke jentik, pupa, dan menjadi dewasa. Termasuk di dalamnya, bagaimana kebiasaan nyamuk-nyamuk itu menggigit dan mengisap darah manusia.

Nyamuk ini sebagai perantara penyebaran penyakit. Misalnya, penyakit DBD disebabkan virus dengue; malaria oleh Plasmodium spp.; filariasis penyebabnya cacing filaria; dan chikungunya penyebabnya adalah virus chikungunya.

Fakta tersebut mengajarkan agar kita tidak boleh meremehkan nyamuk. Ia merupakan bahasa kehidupan. Keberadaannya akan memberi banyak arti bagi mereka yang mau belajar darinya.

Untuk itu, semakin kita bersahabat dengan nyamuk, maka paling tidak kita mampu memahami habitat dan kebiasaannya, sehingga kita dapat menghindari penyakit yang dibawanya. Seputar dunia nyamuk, inilah isi yang ditawarkan dari buku ”BERSAHABAT DENGAN NYAMUK: Jurus Jitu Atasi Penyakit Bersumber Nyamuk.”

Baca selengkapnya di sini:
https://play.google.com/store/books/details?id=xjVhDwAAQBAJ

| www.ArdaDinata.com: | Share, Reference & Education |
| Peneliti, penulis, dan motivator penulisan di media massa |
BBM: C00447A8B
Telegram: ardadinata

RAHASIA apa di balik penciptaan seekor nyamuk? Secara biologi, nyamuk itu tergolong serangga yang memiliki sifat spesifik dan adaktif tinggal bersama manusia. Nyamuk ini menjadi sorotan manusia, manakala ia telah membikin ulah. Sekali berulah, misalnya menyebarnya kasus demam berdarah dengue (DBD), malaria, filariasis dan chikungunya di suatu daerah, maka semua orang dibuat takut dan gelisah.

Ibarat seorang sahabat, nyamuk hidup begitu dekat dan berdampingan dengan manusia. Mereka siap kapan saja berkunjung dan bertamu ke rumah manusia. Bedanya dengan manusia, bila sahabat kita yang berkunjung biasanya membawa makanan, nyamuk bila bertamu justru akan mengganggu kita melalui bunyi kepakan sayapnya dan gigitan saat mengisap darah.

Atas dasar itulah, sesungguhnya kita dapat mencegah kehadiran nyamuk. Caranya? Dengan memahami (bersahabat) kebiasaan dan perilaku nyamuk itu sendiri. Misalnya, bagaimana cara nyamuk bertelur, berubah dari telur ke jentik, pupa, dan menjadi dewasa. Termasuk di dalamnya, bagaimana kebiasaan nyamuk-nyamuk itu menggigit dan mengisap darah manusia.

Nyamuk ini sebagai perantara penyebaran penyakit. Misalnya, penyakit DBD disebabkan virus dengue; malaria oleh Plasmodium spp.; filariasis penyebabnya cacing filaria; dan chikungunya penyebabnya adalah virus chikungunya.

Fakta tersebut mengajarkan agar kita tidak boleh meremehkan nyamuk. Ia merupakan bahasa kehidupan. Keberadaannya akan memberi banyak arti bagi mereka yang mau belajar darinya.

Untuk itu, semakin kita bersahabat dengan nyamuk, maka paling tidak kita mampu memahami habitat dan kebiasaannya, sehingga kita dapat menghindari penyakit yang dibawanya. Seputar dunia nyamuk, inilah isi yang ditawarkan dari buku ”BERSAHABAT DENGAN NYAMUK: Jurus Jitu Atasi Penyakit Bersumber Nyamuk.”

Baca selengkapnya di sini:
https://play.google.com/store/books/details?id=xjVhDwAAQBAJ

| www.ArdaDinata.com: | Share, Reference & Education |
| Peneliti, penulis, dan motivator penulisan di media massa |
BBM: C00447A8B
Telegram: ardadinata

RAHASIA apa di balik penciptaan seekor nyamuk? Secara biologi, nyamuk itu tergolong serangga yang memiliki sifat spesifik dan adaktif tinggal bersama manusia. Nyamuk ini menjadi sorotan manusia, manakala ia telah membikin ulah. Sekali berulah, misalnya menyebarnya kasus demam berdarah dengue (DBD), malaria, filariasis dan chikungunya di suatu daerah, maka semua orang dibuat takut dan gelisah.

Ibarat seorang sahabat, nyamuk hidup begitu dekat dan berdampingan dengan manusia. Mereka siap kapan saja berkunjung dan bertamu ke rumah manusia. Bedanya dengan manusia, bila sahabat kita yang berkunjung biasanya membawa makanan, nyamuk bila bertamu justru akan mengganggu kita melalui bunyi kepakan sayapnya dan gigitan saat mengisap darah.

Atas dasar itulah, sesungguhnya kita dapat mencegah kehadiran nyamuk. Caranya? Dengan memahami (bersahabat) kebiasaan dan perilaku nyamuk itu sendiri. Misalnya, bagaimana cara nyamuk bertelur, berubah dari telur ke jentik, pupa, dan menjadi dewasa. Termasuk di dalamnya, bagaimana kebiasaan nyamuk-nyamuk itu menggigit dan mengisap darah manusia.

Nyamuk ini sebagai perantara penyebaran penyakit. Misalnya, penyakit DBD disebabkan virus dengue; malaria oleh Plasmodium spp.; filariasis penyebabnya cacing filaria; dan chikungunya penyebabnya adalah virus chikungunya.

Fakta tersebut mengajarkan agar kita tidak boleh meremehkan nyamuk. Ia merupakan bahasa kehidupan. Keberadaannya akan memberi banyak arti bagi mereka yang mau belajar darinya.

Untuk itu, semakin kita bersahabat dengan nyamuk, maka paling tidak kita mampu memahami habitat dan kebiasaannya, sehingga kita dapat menghindari penyakit yang dibawanya. Seputar dunia nyamuk, inilah isi yang ditawarkan dari buku ”BERSAHABAT DENGAN NYAMUK: Jurus Jitu Atasi Penyakit Bersumber Nyamuk.”

Baca selengkapnya di sini:
https://play.google.com/store/books/details?id=xjVhDwAAQBAJ

| www.ArdaDinata.com: | Share, Reference & Education |
| Peneliti, penulis, dan motivator penulisan di media massa |
BBM: C00447A8B
Telegram: ardadinata

RAHASIA apa di balik penciptaan seekor nyamuk? Secara biologi, nyamuk itu tergolong serangga yang memiliki sifat spesifik dan adaktif tinggal bersama manusia. Nyamuk ini menjadi sorotan manusia, manakala ia telah membikin ulah. Sekali berulah, misalnya menyebarnya kasus demam berdarah dengue (DBD), malaria, filariasis dan chikungunya di suatu daerah, maka semua orang dibuat takut dan gelisah.

Ibarat seorang sahabat, nyamuk hidup begitu dekat dan berdampingan dengan manusia. Mereka siap kapan saja berkunjung dan bertamu ke rumah manusia. Bedanya dengan manusia, bila sahabat kita yang berkunjung biasanya membawa makanan, nyamuk bila bertamu justru akan mengganggu kita melalui bunyi kepakan sayapnya dan gigitan saat mengisap darah.

Atas dasar itulah, sesungguhnya kita dapat mencegah kehadiran nyamuk. Caranya? Dengan memahami (bersahabat) kebiasaan dan perilaku nyamuk itu sendiri. Misalnya, bagaimana cara nyamuk bertelur, berubah dari telur ke jentik, pupa, dan menjadi dewasa. Termasuk di dalamnya, bagaimana kebiasaan nyamuk-nyamuk itu menggigit dan mengisap darah manusia.

Nyamuk ini sebagai perantara penyebaran penyakit. Misalnya, penyakit DBD disebabkan virus dengue; malaria oleh Plasmodium spp.; filariasis penyebabnya cacing filaria; dan chikungunya penyebabnya adalah virus chikungunya.

Fakta tersebut mengajarkan agar kita tidak boleh meremehkan nyamuk. Ia merupakan bahasa kehidupan. Keberadaannya akan memberi banyak arti bagi mereka yang mau belajar darinya.

Untuk itu, semakin kita bersahabat dengan nyamuk, maka paling tidak kita mampu memahami habitat dan kebiasaannya, sehingga kita dapat menghindari penyakit yang dibawanya. Seputar dunia nyamuk, inilah isi yang ditawarkan dari buku ”BERSAHABAT DENGAN NYAMUK: Jurus Jitu Atasi Penyakit Bersumber Nyamuk.”

Baca selengkapnya di sini:
https://play.google.com/store/books/details?id=xjVhDwAAQBAJ

| www.ArdaDinata.com: | Share, Reference & Education |
| Peneliti, penulis, dan motivator penulisan di media massa |
BBM: C00447A8B
Telegram: ardadinata

RAHASIA apa di balik penciptaan seekor nyamuk? Secara biologi, nyamuk itu tergolong serangga yang memiliki sifat spesifik dan adaktif tinggal bersama manusia. Nyamuk ini menjadi sorotan manusia, manakala ia telah membikin ulah. Sekali berulah, misalnya menyebarnya kasus demam berdarah dengue (DBD), malaria, filariasis dan chikungunya di suatu daerah, maka semua orang dibuat takut dan gelisah.

Ibarat seorang sahabat, nyamuk hidup begitu dekat dan berdampingan dengan manusia. Mereka siap kapan saja berkunjung dan bertamu ke rumah manusia. Bedanya dengan manusia, bila sahabat kita yang berkunjung biasanya membawa makanan, nyamuk bila bertamu justru akan mengganggu kita melalui bunyi kepakan sayapnya dan gigitan saat mengisap darah.

Atas dasar itulah, sesungguhnya kita dapat mencegah kehadiran nyamuk. Caranya? Dengan memahami (bersahabat) kebiasaan dan perilaku nyamuk itu sendiri. Misalnya, bagaimana cara nyamuk bertelur, berubah dari telur ke jentik, pupa, dan menjadi dewasa. Termasuk di dalamnya, bagaimana kebiasaan nyamuk-nyamuk itu menggigit dan mengisap darah manusia.

Nyamuk ini sebagai perantara penyebaran penyakit. Misalnya, penyakit DBD disebabkan virus dengue; malaria oleh Plasmodium spp.; filariasis penyebabnya cacing filaria; dan chikungunya penyebabnya adalah virus chikungunya.

Fakta tersebut mengajarkan agar kita tidak boleh meremehkan nyamuk. Ia merupakan bahasa kehidupan. Keberadaannya akan memberi banyak arti bagi mereka yang mau belajar darinya.

Untuk itu, semakin kita bersahabat dengan nyamuk, maka paling tidak kita mampu memahami habitat dan kebiasaannya, sehingga kita dapat menghindari penyakit yang dibawanya. Seputar dunia nyamuk, inilah isi yang ditawarkan dari buku ”BERSAHABAT DENGAN NYAMUK: Jurus Jitu Atasi Penyakit Bersumber Nyamuk.”

Baca selengkapnya di sini:
https://play.google.com/store/books/details?id=xjVhDwAAQBAJ

| www.ArdaDinata.com: | Share, Reference & Education |
| Peneliti, penulis, dan motivator penulisan di media massa |
BBM: C00447A8B
Telegram: ardadinata

RAHASIA apa di balik penciptaan seekor nyamuk? Secara biologi, nyamuk itu tergolong serangga yang memiliki sifat spesifik dan adaktif tinggal bersama manusia. Nyamuk ini menjadi sorotan manusia, manakala ia telah membikin ulah. Sekali berulah, misalnya menyebarnya kasus demam berdarah dengue (DBD), malaria, filariasis dan chikungunya di suatu daerah, maka semua orang dibuat takut dan gelisah.

Ibarat seorang sahabat, nyamuk hidup begitu dekat dan berdampingan dengan manusia. Mereka siap kapan saja berkunjung dan bertamu ke rumah manusia. Bedanya dengan manusia, bila sahabat kita yang berkunjung biasanya membawa makanan, nyamuk bila bertamu justru akan mengganggu kita melalui bunyi kepakan sayapnya dan gigitan saat mengisap darah.

Atas dasar itulah, sesungguhnya kita dapat mencegah kehadiran nyamuk. Caranya? Dengan memahami (bersahabat) kebiasaan dan perilaku nyamuk itu sendiri. Misalnya, bagaimana cara nyamuk bertelur, berubah dari telur ke jentik, pupa, dan menjadi dewasa. Termasuk di dalamnya, bagaimana kebiasaan nyamuk-nyamuk itu menggigit dan mengisap darah manusia.

Nyamuk ini sebagai perantara penyebaran penyakit. Misalnya, penyakit DBD disebabkan virus dengue; malaria oleh Plasmodium spp.; filariasis penyebabnya cacing filaria; dan chikungunya penyebabnya adalah virus chikungunya.

Fakta tersebut mengajarkan agar kita tidak boleh meremehkan nyamuk. Ia merupakan bahasa kehidupan. Keberadaannya akan memberi banyak arti bagi mereka yang mau belajar darinya.

Untuk itu, semakin kita bersahabat dengan nyamuk, maka paling tidak kita mampu memahami habitat dan kebiasaannya, sehingga kita dapat menghindari penyakit yang dibawanya. Seputar dunia nyamuk, inilah isi yang ditawarkan dari buku ”BERSAHABAT DENGAN NYAMUK: Jurus Jitu Atasi Penyakit Bersumber Nyamuk.”

Baca selengkapnya di sini:
https://play.google.com/store/books/details?id=xjVhDwAAQBAJ

| www.ArdaDinata.com: | Share, Reference & Education |
| Peneliti, penulis, dan motivator penulisan di media massa |
BBM: C00447A8B
Telegram: ardadinata

Kumpulan Video Saluran Arda TV
Lihat Detail

Kumpulan Video Saluran Arda TV

Banner 468x60 

1. Kreatif Menaikan Meja Ke Atas Gedung

 

2. Lomba Hari Pendidikan di Kecamatan Barus Kab. Tapanuli Tengah

 3. Bermain Air di Bendungan

4. Sekilas Aktivitas Arda Dinata di FaceBook

 5. Hygiene

 

 Koleksi Video Lainnya Bisa Kunjungi di Saluran:

 Arda TV

 

 
Banner 468x60 

1. Kreatif Menaikan Meja Ke Atas Gedung

 

2. Lomba Hari Pendidikan di Kecamatan Barus Kab. Tapanuli Tengah

 3. Bermain Air di Bendungan

4. Sekilas Aktivitas Arda Dinata di FaceBook

 5. Hygiene

 

 Koleksi Video Lainnya Bisa Kunjungi di Saluran:

 Arda TV

 

 
Banner 468x60 

1. Kreatif Menaikan Meja Ke Atas Gedung

 

2. Lomba Hari Pendidikan di Kecamatan Barus Kab. Tapanuli Tengah

 3. Bermain Air di Bendungan

4. Sekilas Aktivitas Arda Dinata di FaceBook

 5. Hygiene

 

 Koleksi Video Lainnya Bisa Kunjungi di Saluran:

 Arda TV

 

 
Banner 468x60 

1. Kreatif Menaikan Meja Ke Atas Gedung

 

2. Lomba Hari Pendidikan di Kecamatan Barus Kab. Tapanuli Tengah

 3. Bermain Air di Bendungan

4. Sekilas Aktivitas Arda Dinata di FaceBook

 5. Hygiene

 

 Koleksi Video Lainnya Bisa Kunjungi di Saluran:

 Arda TV

 

 
Banner 468x60 

1. Kreatif Menaikan Meja Ke Atas Gedung

 

2. Lomba Hari Pendidikan di Kecamatan Barus Kab. Tapanuli Tengah

 3. Bermain Air di Bendungan

4. Sekilas Aktivitas Arda Dinata di FaceBook

 5. Hygiene

 

 Koleksi Video Lainnya Bisa Kunjungi di Saluran:

 Arda TV

 

 
Banner 468x60 

1. Kreatif Menaikan Meja Ke Atas Gedung

 

2. Lomba Hari Pendidikan di Kecamatan Barus Kab. Tapanuli Tengah

 3. Bermain Air di Bendungan

4. Sekilas Aktivitas Arda Dinata di FaceBook

 5. Hygiene

 

 Koleksi Video Lainnya Bisa Kunjungi di Saluran:

 Arda TV

 

 
Banner 468x60 

1. Kreatif Menaikan Meja Ke Atas Gedung

 

2. Lomba Hari Pendidikan di Kecamatan Barus Kab. Tapanuli Tengah

 3. Bermain Air di Bendungan

4. Sekilas Aktivitas Arda Dinata di FaceBook

 5. Hygiene

 

 Koleksi Video Lainnya Bisa Kunjungi di Saluran:

 Arda TV

 

 
Daftar Isi Artikel Klik di Sini!


EBOOK: KESLING, MOTIVASI & PENGEMBANGAN DIRI

|HOME |ARDA PUBLISHING HOUSE |MIQRA INDONESIA |OPINI |OPTIMIS |SEHAT |KELUARGA |SPIRIT |IBROH |JURNALISTIK |BUKU |JURNAL |LINGKUNGAN |DUNIA NYAMUK |NEWS MIQRA |BISNIS |PROFIL |ARDA TV|