-->
PASANG IKLAN DI SINI!
(MURAH SESUAI BUDGET ANDA)

Tampilkan postingan dengan label arda. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label arda. Tampilkan semua postingan
Visi Itu Impian Yang Nyata
Lihat Detail

Visi Itu Impian Yang Nyata


Hidup itu mewujud dalam rangkaian cerita. Apa pun yang kita lakuan sesungguhnya merupakan cerita yang akan dibaca alam semesta. Sehingga tidak ada catatan cerita yang akan terlewatkan dalam hidup kita. Makanya, jangan main-main dengan hidup ini. Sebab, apa yang kita lakukan akan ditagih pertanggungjawabannya.

Di sinilah, setiap kita harus punya visi hidup yang baik dan jelas. Bukan hanya punya impian, tapi juga harus punya visi yang jelas lagi baik tentunya. Apa bedanya sih antara impian dan visi itu?
Impian itu merupakan imajinasi dalam pikiran kita tentang sesuatu yang kita inginkan. Sedangkan visi itu adalah niat. Niat ini adalah kerjaan pikiran yang sudah sampai di hati kita. Istilah mantan presiden BJ Habibie, visi itu lebih konkret.

Untuk itu, agar hidup kita lebih nyata segeralah impian-impian yang ada dalam pikiran kita itu diwujudkan dalam visi (yang tertulis)! Bagaimana, apakah Anda setuju? He..........

Lebih jauh, menurut saya tidak ada ruginya kalau kita mewujudkan impian-impian kita itu menjadi visi hidup kita. Maka, dampaknya langkah hidup kita tentunya menjadi lebih konkret. Betul tidak sih?

Akhirnya, semoga kita selalu punya impian hidup yang diwujudkan dalam visi-visi yang konkret. Sehingga hidup kita lebih terencana, terorganisir, mudah dan menyenangkan dalam melakoni setiap episode hidup ini.

Jadi, agar hidup ini lebih berjaya dan digjaya, maka saatnya kita membiasakan diri untuk selalu memperlakukan imajinasi impian-impian kita itu mejadi sebuah kristal visi yang membumi.

Bagaimana menurutmu sahabatku?

Pangandaran, 24-12-12

Salam inspirasi sukses.......

ARDA DINATA
www.ardadinata.web.id

Arda Dinata, pendiri Majelis Inspirasi Alquran dan Realitas Alam/ MIQRA Indonesia, www.miqraindonesia.com 

Hidup itu mewujud dalam rangkaian cerita. Apa pun yang kita lakuan sesungguhnya merupakan cerita yang akan dibaca alam semesta. Sehingga tidak ada catatan cerita yang akan terlewatkan dalam hidup kita. Makanya, jangan main-main dengan hidup ini. Sebab, apa yang kita lakukan akan ditagih pertanggungjawabannya.

Di sinilah, setiap kita harus punya visi hidup yang baik dan jelas. Bukan hanya punya impian, tapi juga harus punya visi yang jelas lagi baik tentunya. Apa bedanya sih antara impian dan visi itu?
Impian itu merupakan imajinasi dalam pikiran kita tentang sesuatu yang kita inginkan. Sedangkan visi itu adalah niat. Niat ini adalah kerjaan pikiran yang sudah sampai di hati kita. Istilah mantan presiden BJ Habibie, visi itu lebih konkret.

Untuk itu, agar hidup kita lebih nyata segeralah impian-impian yang ada dalam pikiran kita itu diwujudkan dalam visi (yang tertulis)! Bagaimana, apakah Anda setuju? He..........

Lebih jauh, menurut saya tidak ada ruginya kalau kita mewujudkan impian-impian kita itu menjadi visi hidup kita. Maka, dampaknya langkah hidup kita tentunya menjadi lebih konkret. Betul tidak sih?

Akhirnya, semoga kita selalu punya impian hidup yang diwujudkan dalam visi-visi yang konkret. Sehingga hidup kita lebih terencana, terorganisir, mudah dan menyenangkan dalam melakoni setiap episode hidup ini.

Jadi, agar hidup ini lebih berjaya dan digjaya, maka saatnya kita membiasakan diri untuk selalu memperlakukan imajinasi impian-impian kita itu mejadi sebuah kristal visi yang membumi.

Bagaimana menurutmu sahabatku?

Pangandaran, 24-12-12

Salam inspirasi sukses.......

ARDA DINATA
www.ardadinata.web.id

Arda Dinata, pendiri Majelis Inspirasi Alquran dan Realitas Alam/ MIQRA Indonesia, www.miqraindonesia.com 

Hidup itu mewujud dalam rangkaian cerita. Apa pun yang kita lakuan sesungguhnya merupakan cerita yang akan dibaca alam semesta. Sehingga tidak ada catatan cerita yang akan terlewatkan dalam hidup kita. Makanya, jangan main-main dengan hidup ini. Sebab, apa yang kita lakukan akan ditagih pertanggungjawabannya.

Di sinilah, setiap kita harus punya visi hidup yang baik dan jelas. Bukan hanya punya impian, tapi juga harus punya visi yang jelas lagi baik tentunya. Apa bedanya sih antara impian dan visi itu?
Impian itu merupakan imajinasi dalam pikiran kita tentang sesuatu yang kita inginkan. Sedangkan visi itu adalah niat. Niat ini adalah kerjaan pikiran yang sudah sampai di hati kita. Istilah mantan presiden BJ Habibie, visi itu lebih konkret.

Untuk itu, agar hidup kita lebih nyata segeralah impian-impian yang ada dalam pikiran kita itu diwujudkan dalam visi (yang tertulis)! Bagaimana, apakah Anda setuju? He..........

Lebih jauh, menurut saya tidak ada ruginya kalau kita mewujudkan impian-impian kita itu menjadi visi hidup kita. Maka, dampaknya langkah hidup kita tentunya menjadi lebih konkret. Betul tidak sih?

Akhirnya, semoga kita selalu punya impian hidup yang diwujudkan dalam visi-visi yang konkret. Sehingga hidup kita lebih terencana, terorganisir, mudah dan menyenangkan dalam melakoni setiap episode hidup ini.

Jadi, agar hidup ini lebih berjaya dan digjaya, maka saatnya kita membiasakan diri untuk selalu memperlakukan imajinasi impian-impian kita itu mejadi sebuah kristal visi yang membumi.

Bagaimana menurutmu sahabatku?

Pangandaran, 24-12-12

Salam inspirasi sukses.......

ARDA DINATA
www.ardadinata.web.id

Arda Dinata, pendiri Majelis Inspirasi Alquran dan Realitas Alam/ MIQRA Indonesia, www.miqraindonesia.com 

Hidup itu mewujud dalam rangkaian cerita. Apa pun yang kita lakuan sesungguhnya merupakan cerita yang akan dibaca alam semesta. Sehingga tidak ada catatan cerita yang akan terlewatkan dalam hidup kita. Makanya, jangan main-main dengan hidup ini. Sebab, apa yang kita lakukan akan ditagih pertanggungjawabannya.

Di sinilah, setiap kita harus punya visi hidup yang baik dan jelas. Bukan hanya punya impian, tapi juga harus punya visi yang jelas lagi baik tentunya. Apa bedanya sih antara impian dan visi itu?
Impian itu merupakan imajinasi dalam pikiran kita tentang sesuatu yang kita inginkan. Sedangkan visi itu adalah niat. Niat ini adalah kerjaan pikiran yang sudah sampai di hati kita. Istilah mantan presiden BJ Habibie, visi itu lebih konkret.

Untuk itu, agar hidup kita lebih nyata segeralah impian-impian yang ada dalam pikiran kita itu diwujudkan dalam visi (yang tertulis)! Bagaimana, apakah Anda setuju? He..........

Lebih jauh, menurut saya tidak ada ruginya kalau kita mewujudkan impian-impian kita itu menjadi visi hidup kita. Maka, dampaknya langkah hidup kita tentunya menjadi lebih konkret. Betul tidak sih?

Akhirnya, semoga kita selalu punya impian hidup yang diwujudkan dalam visi-visi yang konkret. Sehingga hidup kita lebih terencana, terorganisir, mudah dan menyenangkan dalam melakoni setiap episode hidup ini.

Jadi, agar hidup ini lebih berjaya dan digjaya, maka saatnya kita membiasakan diri untuk selalu memperlakukan imajinasi impian-impian kita itu mejadi sebuah kristal visi yang membumi.

Bagaimana menurutmu sahabatku?

Pangandaran, 24-12-12

Salam inspirasi sukses.......

ARDA DINATA
www.ardadinata.web.id

Arda Dinata, pendiri Majelis Inspirasi Alquran dan Realitas Alam/ MIQRA Indonesia, www.miqraindonesia.com 

Hidup itu mewujud dalam rangkaian cerita. Apa pun yang kita lakuan sesungguhnya merupakan cerita yang akan dibaca alam semesta. Sehingga tidak ada catatan cerita yang akan terlewatkan dalam hidup kita. Makanya, jangan main-main dengan hidup ini. Sebab, apa yang kita lakukan akan ditagih pertanggungjawabannya.

Di sinilah, setiap kita harus punya visi hidup yang baik dan jelas. Bukan hanya punya impian, tapi juga harus punya visi yang jelas lagi baik tentunya. Apa bedanya sih antara impian dan visi itu?
Impian itu merupakan imajinasi dalam pikiran kita tentang sesuatu yang kita inginkan. Sedangkan visi itu adalah niat. Niat ini adalah kerjaan pikiran yang sudah sampai di hati kita. Istilah mantan presiden BJ Habibie, visi itu lebih konkret.

Untuk itu, agar hidup kita lebih nyata segeralah impian-impian yang ada dalam pikiran kita itu diwujudkan dalam visi (yang tertulis)! Bagaimana, apakah Anda setuju? He..........

Lebih jauh, menurut saya tidak ada ruginya kalau kita mewujudkan impian-impian kita itu menjadi visi hidup kita. Maka, dampaknya langkah hidup kita tentunya menjadi lebih konkret. Betul tidak sih?

Akhirnya, semoga kita selalu punya impian hidup yang diwujudkan dalam visi-visi yang konkret. Sehingga hidup kita lebih terencana, terorganisir, mudah dan menyenangkan dalam melakoni setiap episode hidup ini.

Jadi, agar hidup ini lebih berjaya dan digjaya, maka saatnya kita membiasakan diri untuk selalu memperlakukan imajinasi impian-impian kita itu mejadi sebuah kristal visi yang membumi.

Bagaimana menurutmu sahabatku?

Pangandaran, 24-12-12

Salam inspirasi sukses.......

ARDA DINATA
www.ardadinata.web.id

Arda Dinata, pendiri Majelis Inspirasi Alquran dan Realitas Alam/ MIQRA Indonesia, www.miqraindonesia.com 

Hidup itu mewujud dalam rangkaian cerita. Apa pun yang kita lakuan sesungguhnya merupakan cerita yang akan dibaca alam semesta. Sehingga tidak ada catatan cerita yang akan terlewatkan dalam hidup kita. Makanya, jangan main-main dengan hidup ini. Sebab, apa yang kita lakukan akan ditagih pertanggungjawabannya.

Di sinilah, setiap kita harus punya visi hidup yang baik dan jelas. Bukan hanya punya impian, tapi juga harus punya visi yang jelas lagi baik tentunya. Apa bedanya sih antara impian dan visi itu?
Impian itu merupakan imajinasi dalam pikiran kita tentang sesuatu yang kita inginkan. Sedangkan visi itu adalah niat. Niat ini adalah kerjaan pikiran yang sudah sampai di hati kita. Istilah mantan presiden BJ Habibie, visi itu lebih konkret.

Untuk itu, agar hidup kita lebih nyata segeralah impian-impian yang ada dalam pikiran kita itu diwujudkan dalam visi (yang tertulis)! Bagaimana, apakah Anda setuju? He..........

Lebih jauh, menurut saya tidak ada ruginya kalau kita mewujudkan impian-impian kita itu menjadi visi hidup kita. Maka, dampaknya langkah hidup kita tentunya menjadi lebih konkret. Betul tidak sih?

Akhirnya, semoga kita selalu punya impian hidup yang diwujudkan dalam visi-visi yang konkret. Sehingga hidup kita lebih terencana, terorganisir, mudah dan menyenangkan dalam melakoni setiap episode hidup ini.

Jadi, agar hidup ini lebih berjaya dan digjaya, maka saatnya kita membiasakan diri untuk selalu memperlakukan imajinasi impian-impian kita itu mejadi sebuah kristal visi yang membumi.

Bagaimana menurutmu sahabatku?

Pangandaran, 24-12-12

Salam inspirasi sukses.......

ARDA DINATA
www.ardadinata.web.id

Arda Dinata, pendiri Majelis Inspirasi Alquran dan Realitas Alam/ MIQRA Indonesia, www.miqraindonesia.com 

Hidup itu mewujud dalam rangkaian cerita. Apa pun yang kita lakuan sesungguhnya merupakan cerita yang akan dibaca alam semesta. Sehingga tidak ada catatan cerita yang akan terlewatkan dalam hidup kita. Makanya, jangan main-main dengan hidup ini. Sebab, apa yang kita lakukan akan ditagih pertanggungjawabannya.

Di sinilah, setiap kita harus punya visi hidup yang baik dan jelas. Bukan hanya punya impian, tapi juga harus punya visi yang jelas lagi baik tentunya. Apa bedanya sih antara impian dan visi itu?
Impian itu merupakan imajinasi dalam pikiran kita tentang sesuatu yang kita inginkan. Sedangkan visi itu adalah niat. Niat ini adalah kerjaan pikiran yang sudah sampai di hati kita. Istilah mantan presiden BJ Habibie, visi itu lebih konkret.

Untuk itu, agar hidup kita lebih nyata segeralah impian-impian yang ada dalam pikiran kita itu diwujudkan dalam visi (yang tertulis)! Bagaimana, apakah Anda setuju? He..........

Lebih jauh, menurut saya tidak ada ruginya kalau kita mewujudkan impian-impian kita itu menjadi visi hidup kita. Maka, dampaknya langkah hidup kita tentunya menjadi lebih konkret. Betul tidak sih?

Akhirnya, semoga kita selalu punya impian hidup yang diwujudkan dalam visi-visi yang konkret. Sehingga hidup kita lebih terencana, terorganisir, mudah dan menyenangkan dalam melakoni setiap episode hidup ini.

Jadi, agar hidup ini lebih berjaya dan digjaya, maka saatnya kita membiasakan diri untuk selalu memperlakukan imajinasi impian-impian kita itu mejadi sebuah kristal visi yang membumi.

Bagaimana menurutmu sahabatku?

Pangandaran, 24-12-12

Salam inspirasi sukses.......

ARDA DINATA
www.ardadinata.web.id

Arda Dinata, pendiri Majelis Inspirasi Alquran dan Realitas Alam/ MIQRA Indonesia, www.miqraindonesia.com 

Hidup itu mewujud dalam rangkaian cerita. Apa pun yang kita lakuan sesungguhnya merupakan cerita yang akan dibaca alam semesta. Sehingga tidak ada catatan cerita yang akan terlewatkan dalam hidup kita. Makanya, jangan main-main dengan hidup ini. Sebab, apa yang kita lakukan akan ditagih pertanggungjawabannya.

Di sinilah, setiap kita harus punya visi hidup yang baik dan jelas. Bukan hanya punya impian, tapi juga harus punya visi yang jelas lagi baik tentunya. Apa bedanya sih antara impian dan visi itu?
Impian itu merupakan imajinasi dalam pikiran kita tentang sesuatu yang kita inginkan. Sedangkan visi itu adalah niat. Niat ini adalah kerjaan pikiran yang sudah sampai di hati kita. Istilah mantan presiden BJ Habibie, visi itu lebih konkret.

Untuk itu, agar hidup kita lebih nyata segeralah impian-impian yang ada dalam pikiran kita itu diwujudkan dalam visi (yang tertulis)! Bagaimana, apakah Anda setuju? He..........

Lebih jauh, menurut saya tidak ada ruginya kalau kita mewujudkan impian-impian kita itu menjadi visi hidup kita. Maka, dampaknya langkah hidup kita tentunya menjadi lebih konkret. Betul tidak sih?

Akhirnya, semoga kita selalu punya impian hidup yang diwujudkan dalam visi-visi yang konkret. Sehingga hidup kita lebih terencana, terorganisir, mudah dan menyenangkan dalam melakoni setiap episode hidup ini.

Jadi, agar hidup ini lebih berjaya dan digjaya, maka saatnya kita membiasakan diri untuk selalu memperlakukan imajinasi impian-impian kita itu mejadi sebuah kristal visi yang membumi.

Bagaimana menurutmu sahabatku?

Pangandaran, 24-12-12

Salam inspirasi sukses.......

ARDA DINATA
www.ardadinata.web.id

Arda Dinata, pendiri Majelis Inspirasi Alquran dan Realitas Alam/ MIQRA Indonesia, www.miqraindonesia.com 

Hidup itu mewujud dalam rangkaian cerita. Apa pun yang kita lakuan sesungguhnya merupakan cerita yang akan dibaca alam semesta. Sehingga tidak ada catatan cerita yang akan terlewatkan dalam hidup kita. Makanya, jangan main-main dengan hidup ini. Sebab, apa yang kita lakukan akan ditagih pertanggungjawabannya.

Di sinilah, setiap kita harus punya visi hidup yang baik dan jelas. Bukan hanya punya impian, tapi juga harus punya visi yang jelas lagi baik tentunya. Apa bedanya sih antara impian dan visi itu?
Impian itu merupakan imajinasi dalam pikiran kita tentang sesuatu yang kita inginkan. Sedangkan visi itu adalah niat. Niat ini adalah kerjaan pikiran yang sudah sampai di hati kita. Istilah mantan presiden BJ Habibie, visi itu lebih konkret.

Untuk itu, agar hidup kita lebih nyata segeralah impian-impian yang ada dalam pikiran kita itu diwujudkan dalam visi (yang tertulis)! Bagaimana, apakah Anda setuju? He..........

Lebih jauh, menurut saya tidak ada ruginya kalau kita mewujudkan impian-impian kita itu menjadi visi hidup kita. Maka, dampaknya langkah hidup kita tentunya menjadi lebih konkret. Betul tidak sih?

Akhirnya, semoga kita selalu punya impian hidup yang diwujudkan dalam visi-visi yang konkret. Sehingga hidup kita lebih terencana, terorganisir, mudah dan menyenangkan dalam melakoni setiap episode hidup ini.

Jadi, agar hidup ini lebih berjaya dan digjaya, maka saatnya kita membiasakan diri untuk selalu memperlakukan imajinasi impian-impian kita itu mejadi sebuah kristal visi yang membumi.

Bagaimana menurutmu sahabatku?

Pangandaran, 24-12-12

Salam inspirasi sukses.......

ARDA DINATA
www.ardadinata.web.id

Arda Dinata, pendiri Majelis Inspirasi Alquran dan Realitas Alam/ MIQRA Indonesia, www.miqraindonesia.com 

Hidup itu mewujud dalam rangkaian cerita. Apa pun yang kita lakuan sesungguhnya merupakan cerita yang akan dibaca alam semesta. Sehingga tidak ada catatan cerita yang akan terlewatkan dalam hidup kita. Makanya, jangan main-main dengan hidup ini. Sebab, apa yang kita lakukan akan ditagih pertanggungjawabannya.

Di sinilah, setiap kita harus punya visi hidup yang baik dan jelas. Bukan hanya punya impian, tapi juga harus punya visi yang jelas lagi baik tentunya. Apa bedanya sih antara impian dan visi itu?
Impian itu merupakan imajinasi dalam pikiran kita tentang sesuatu yang kita inginkan. Sedangkan visi itu adalah niat. Niat ini adalah kerjaan pikiran yang sudah sampai di hati kita. Istilah mantan presiden BJ Habibie, visi itu lebih konkret.

Untuk itu, agar hidup kita lebih nyata segeralah impian-impian yang ada dalam pikiran kita itu diwujudkan dalam visi (yang tertulis)! Bagaimana, apakah Anda setuju? He..........

Lebih jauh, menurut saya tidak ada ruginya kalau kita mewujudkan impian-impian kita itu menjadi visi hidup kita. Maka, dampaknya langkah hidup kita tentunya menjadi lebih konkret. Betul tidak sih?

Akhirnya, semoga kita selalu punya impian hidup yang diwujudkan dalam visi-visi yang konkret. Sehingga hidup kita lebih terencana, terorganisir, mudah dan menyenangkan dalam melakoni setiap episode hidup ini.

Jadi, agar hidup ini lebih berjaya dan digjaya, maka saatnya kita membiasakan diri untuk selalu memperlakukan imajinasi impian-impian kita itu mejadi sebuah kristal visi yang membumi.

Bagaimana menurutmu sahabatku?

Pangandaran, 24-12-12

Salam inspirasi sukses.......

ARDA DINATA
www.ardadinata.web.id

Arda Dinata, pendiri Majelis Inspirasi Alquran dan Realitas Alam/ MIQRA Indonesia, www.miqraindonesia.com 

Hidup itu mewujud dalam rangkaian cerita. Apa pun yang kita lakuan sesungguhnya merupakan cerita yang akan dibaca alam semesta. Sehingga tidak ada catatan cerita yang akan terlewatkan dalam hidup kita. Makanya, jangan main-main dengan hidup ini. Sebab, apa yang kita lakukan akan ditagih pertanggungjawabannya.

Di sinilah, setiap kita harus punya visi hidup yang baik dan jelas. Bukan hanya punya impian, tapi juga harus punya visi yang jelas lagi baik tentunya. Apa bedanya sih antara impian dan visi itu?
Impian itu merupakan imajinasi dalam pikiran kita tentang sesuatu yang kita inginkan. Sedangkan visi itu adalah niat. Niat ini adalah kerjaan pikiran yang sudah sampai di hati kita. Istilah mantan presiden BJ Habibie, visi itu lebih konkret.

Untuk itu, agar hidup kita lebih nyata segeralah impian-impian yang ada dalam pikiran kita itu diwujudkan dalam visi (yang tertulis)! Bagaimana, apakah Anda setuju? He..........

Lebih jauh, menurut saya tidak ada ruginya kalau kita mewujudkan impian-impian kita itu menjadi visi hidup kita. Maka, dampaknya langkah hidup kita tentunya menjadi lebih konkret. Betul tidak sih?

Akhirnya, semoga kita selalu punya impian hidup yang diwujudkan dalam visi-visi yang konkret. Sehingga hidup kita lebih terencana, terorganisir, mudah dan menyenangkan dalam melakoni setiap episode hidup ini.

Jadi, agar hidup ini lebih berjaya dan digjaya, maka saatnya kita membiasakan diri untuk selalu memperlakukan imajinasi impian-impian kita itu mejadi sebuah kristal visi yang membumi.

Bagaimana menurutmu sahabatku?

Pangandaran, 24-12-12

Salam inspirasi sukses.......

ARDA DINATA
www.ardadinata.web.id

Arda Dinata, pendiri Majelis Inspirasi Alquran dan Realitas Alam/ MIQRA Indonesia, www.miqraindonesia.com 

Hidup itu mewujud dalam rangkaian cerita. Apa pun yang kita lakuan sesungguhnya merupakan cerita yang akan dibaca alam semesta. Sehingga tidak ada catatan cerita yang akan terlewatkan dalam hidup kita. Makanya, jangan main-main dengan hidup ini. Sebab, apa yang kita lakukan akan ditagih pertanggungjawabannya.

Di sinilah, setiap kita harus punya visi hidup yang baik dan jelas. Bukan hanya punya impian, tapi juga harus punya visi yang jelas lagi baik tentunya. Apa bedanya sih antara impian dan visi itu?
Impian itu merupakan imajinasi dalam pikiran kita tentang sesuatu yang kita inginkan. Sedangkan visi itu adalah niat. Niat ini adalah kerjaan pikiran yang sudah sampai di hati kita. Istilah mantan presiden BJ Habibie, visi itu lebih konkret.

Untuk itu, agar hidup kita lebih nyata segeralah impian-impian yang ada dalam pikiran kita itu diwujudkan dalam visi (yang tertulis)! Bagaimana, apakah Anda setuju? He..........

Lebih jauh, menurut saya tidak ada ruginya kalau kita mewujudkan impian-impian kita itu menjadi visi hidup kita. Maka, dampaknya langkah hidup kita tentunya menjadi lebih konkret. Betul tidak sih?

Akhirnya, semoga kita selalu punya impian hidup yang diwujudkan dalam visi-visi yang konkret. Sehingga hidup kita lebih terencana, terorganisir, mudah dan menyenangkan dalam melakoni setiap episode hidup ini.

Jadi, agar hidup ini lebih berjaya dan digjaya, maka saatnya kita membiasakan diri untuk selalu memperlakukan imajinasi impian-impian kita itu mejadi sebuah kristal visi yang membumi.

Bagaimana menurutmu sahabatku?

Pangandaran, 24-12-12

Salam inspirasi sukses.......

ARDA DINATA
www.ardadinata.web.id

Arda Dinata, pendiri Majelis Inspirasi Alquran dan Realitas Alam/ MIQRA Indonesia, www.miqraindonesia.com 

Hidup itu mewujud dalam rangkaian cerita. Apa pun yang kita lakuan sesungguhnya merupakan cerita yang akan dibaca alam semesta. Sehingga tidak ada catatan cerita yang akan terlewatkan dalam hidup kita. Makanya, jangan main-main dengan hidup ini. Sebab, apa yang kita lakukan akan ditagih pertanggungjawabannya.

Di sinilah, setiap kita harus punya visi hidup yang baik dan jelas. Bukan hanya punya impian, tapi juga harus punya visi yang jelas lagi baik tentunya. Apa bedanya sih antara impian dan visi itu?
Impian itu merupakan imajinasi dalam pikiran kita tentang sesuatu yang kita inginkan. Sedangkan visi itu adalah niat. Niat ini adalah kerjaan pikiran yang sudah sampai di hati kita. Istilah mantan presiden BJ Habibie, visi itu lebih konkret.

Untuk itu, agar hidup kita lebih nyata segeralah impian-impian yang ada dalam pikiran kita itu diwujudkan dalam visi (yang tertulis)! Bagaimana, apakah Anda setuju? He..........

Lebih jauh, menurut saya tidak ada ruginya kalau kita mewujudkan impian-impian kita itu menjadi visi hidup kita. Maka, dampaknya langkah hidup kita tentunya menjadi lebih konkret. Betul tidak sih?

Akhirnya, semoga kita selalu punya impian hidup yang diwujudkan dalam visi-visi yang konkret. Sehingga hidup kita lebih terencana, terorganisir, mudah dan menyenangkan dalam melakoni setiap episode hidup ini.

Jadi, agar hidup ini lebih berjaya dan digjaya, maka saatnya kita membiasakan diri untuk selalu memperlakukan imajinasi impian-impian kita itu mejadi sebuah kristal visi yang membumi.

Bagaimana menurutmu sahabatku?

Pangandaran, 24-12-12

Salam inspirasi sukses.......

ARDA DINATA
www.ardadinata.web.id

Arda Dinata, pendiri Majelis Inspirasi Alquran dan Realitas Alam/ MIQRA Indonesia, www.miqraindonesia.com 
Nilai Kemabruran Haji
Lihat Detail

Nilai Kemabruran Haji

KAUM Muslim yang sudah melaksanakan ibadah haji, tentunya kita harapkan menjadi haji mabrur. Doa ini penting kita panjatkan karena semua jamaah haji tentu mendambakan haji mabrur. Harapan dan keinginan mendapatkan haji mabrur dapat dipahami, karena bukankah pengampunan dan surga Allah menjadi balasan dan imbalannya. Nabi Saw bersabda, Haji yang mabrur tak ada balasan lain kecuali surga. (HR. Bukhari dan Muslim).


Nilai Kemabruran Haji


KAUM Muslim yang sudah melaksanakan ibadah haji, tentunya kita harapkan menjadi haji mabrur. Doa ini penting kita panjatkan karena semua jamaah haji tentu mendambakan haji mabrur. Harapan dan keinginan mendapatkan haji mabrur dapat dipahami, karena bukankah pengampunan dan surga Allah menjadi balasan dan imbalannya. Nabi Saw bersabda, Haji yang mabrur tak ada balasan lain kecuali surga. (HR. Bukhari dan Muslim).

Mereka yang telah menggapai haji mabrur, tentu akan memancarkan berbagai kebaikan sosial dalam kehidupan kesehariannya, diantaranya, ialah memiliki peningkatan rasa persaudaraan di antara umat, karena saling berkenalan dan berkomunikasi dengan jamaah haji dari segala penjuru dunia, menumbuhkan rasa hormat menghormati dan mengalahkan rasa rendah diri, karena di sanalah jamaah haji akan menyadari kesamaan derajat di hadapan Allah SWT.

Selain itu, kemabruran ibadah haji juga ditandai oleh tanggung jawab dakwah Islamiyah yang tinggi, baik bil lisanil hal maupun billisanil maqal. Hal ini sesuai pesan Rasul saat haji Wada’, yaitu supaya setiap yang hadir wajib menyampaikan ajaran Islam kepada yang tidak hadir. Demikian pula dengan tanggung jawab dalam memelihara jiwa, harta, kehormatan dari orang lain, melindungi yang lemah baik manusia, heman dan tumbuh-tumbuhan.

Pendeknya, haji mabrur berarti haji yang baik atau mendatangkan kebaikan bagi pelakunya. Di kalangan ulama, diungkapkan kalau haji mabrur itu ialah haji yang tidak dicampuri atau dinodai oleh dosa-dosa. Ini mengandung makna bahwa berbagai kebaikan ibadah haji yang diperoleh oleh para hujjaj itu telah membentengi diri mereka dari dosa-dosa dan berbagai tindakan kejahatan.

Berkait dengan itu, Imam Nawawi, mengungkapkan bahwa haji mabrur adalah haji yang buah atau hasilnya tampak jelas bagi para pelakunya. Buah haji itu, tak lain menguatnya iman dan meningkatnya ibadah serta amal saleh dalam arti yang seluas-luasnya. Dengan demikian, maka keadaan hujjaj itu setelah menunaikan ibadah haji jauh lebih baik dari keadaan sebelumnya.

Memelihara dan melanggengkan nilai keimanan

Berdasarkan pola pikir yang diungkapkan Imam Nawawi tersebut, tentu dapat dipahami bahwa memperoleh haji mabrur merupakan sesuatu yang sulit. Namun, sesungguhnya yang lebih sulit lagi dari itu adalah bagaimana mempertahankan, memelihara dan melanggengkan nilai-nilai kemabruran haji itu sepanjang hidup kita.

Oleh karena itu, kemabruran haji ini tentu perlu senantiasa dipelihara, karena kondisi batin seseorang tidaklah tetap. Tapi sangat dipengaruhi oleh kondisi lingkungan sekitarnya. Tepatnya, suatu saat kadar iman tinggi, di lain waktu kadar iman menjadi menurun.

Ketinggian dari nilai iman ini, tentu banyak tantangan untuk mempertahankannya dalam kehidupan manusia. Lebih-lebih saat ini, berbagai serbuan media dan informasi banyak yang dapat melemahkan kekuatan iman seseorang. Artinya derajat dan tingkatan iman setiap orang berbeda-beda. Jelasnya, fluktuasi iman seseorang itu akan terjadi setiap saat.

Kondisi seperti itulah yang banyak kita lupakan. Di sinilah sebenarnya perlunya upaya memperbaharui keimanan kita setiap saat. Memperbaharui keimanan (Tajdidul Iman), diartikan sebagai bentuk kompensasi kita ---usaha untuk mempertahankan kestabilan iman--- dan mengontrol kadar iman yang kita miliki serta meningkatkan kualitas imannya.

Untuk mencapai kondisi iman yang relatif stabil itu, memang bukan sesuatu yang mudah. Walau demikian, bagi Allah tentu tidak ada yang tidak mungkin, kalau cinta-Nya telah bersemayam pada diri kita. Setidaknya ada empat usaha yang dapat membangkitkan/melanggengkan nilai keimanan seseorang (terutama setelah menggapai haji mabrur), sehingga Tajdidul Iman tersebut menjadi terarah.

Pertama, melakukan tadabbur quran. Allah dalam Alqur’an menyebutkan apakah mereka merenungkan Quran? (QS. 4: 82). Lalu, Allah juga berfirman (yang artinya) : “Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al-qur’an ataukah hati mereka terkunci.” (QS. 47: 24). Dari perilaku tadabbur quran ini, maka pikiran kita akan selalu merenungkan, mengkaji dan mengaplikasikan isinya, sehingga iman kita terhadap-Nya akan selalu terkontrol pada ketentuan-Nya.

Kedua, melakukan tafakur alam. Allah berfirman dalam surat Ali Imran: 190-191, yang artinya: “Sesungguhnya tentang kejadian langit dan bumi, dan pergantian malam dan siang menjadi tanda (atas kekuasaan Allah) bagi orang-orang berakal. (Yaitu) orang-orang yang mengingat Allah ketika berdiri, duduk dan waktu berbaring; dan mereka memikirkan kejadian langit dan bumi, (sambil berkata): Ya Tuhan kami, bukanlah Engkau jadikan ini dengan percuma (sia-sia), Mahasuci Engkau, maka peliharakanlah kami dari siksa neraka.”

Kalau kita perhatikan, ternyata ayat tersebut diakhiri dengan doa untuk kemenagan iman, mengalahkan kekafiran, dan diakhiri pula dengan ramalan tentang kemenangan akhir. Di sini dinyatakan pula bahwa kaum mukmin bukanlah orang pertapa yang menyingkir ke tempat sunyi untuk berdzikir kepada Allah, dan bukan pula orang yang hanya berusaha menaklukan alam, tanpa berpikir tentang Tuhan dan Penciptaan alam semesta. Sebaliknya, kaum mukmin dilukiskan sebagai orang yang mengingat-ingat Allah di tengah-tengah kesibukan mereka dalam urusan duniawi ---sambil berdiri, duduk dan berbaring---.

Dengan demikian, mereka menyadari sepenuhnya akan adanya Tuhan dimanapun dan dalam keadaan bagaimanapun. Sebaliknya, mereka berusaha menaklukkan alam dengan sepenuh kesadaran bahwa tak ada barang yang diciptakan itu terdapat tujuan-tujuan tertentu. Itulah tujuan utama yang digariskan oleh Islam bagi para pengikutnya, yaitu menaklukan diri sendiri dengan jalan berdzikir kepada Allah, dan menaklukan alam dengan jalan menuntut ilmu pengetahuan (Muhammad Ali: 1995). Melalui usaha ini, jelas-jelas akan meningkatkan keimanan bagi mereka yang melakukannya.

Ketiga, melakukan amal shalih. Ada tidaknya atau tinggi rendahnya iman seseorang akan dapat dilihat dari perilakunya. Artinya perilaku seseorang akan menunjukkan tingkat imannya. Dalam hal ini, perilaku yang dapat membangkitkan nilai keimanan adalah berupa memperbanyak amal shalih.

Secara demikian, orang yang mengerjakan amal shalih adalah orang beriman yang mengaktualisasikan keimananya berupa amal perbuatan yang jelas-jelas dilandasi iman. Iman dan amal perbuatan itu, tidak bisa dipisahkan. Sebab, iman menuntut adanya amal dan amal merupakan konsekuensi mutlak dari sebuah keimanan. Sebaliknya amal menuntut adanya iman, karena amal perbuatan tanpa dilandasi keimanan kepada Allah adalah sia-sia belaka (tidak berguna). Oleh karena itu, besar kecilnya kadar keimanan seseorang akan banyak ditentukan oleh jenis, kualitas dan kontinuitas amal yang dilakukannya.

Keempat, melakukan proteksi terhadap perbuatan dosa. Untuk menjadikan hati bening berisi keimanan, maka lakukanlah perbuatan-perbuatan yang terhindar dari perilaku maksiat atau mendatangkan dosa. Hal ini didasarkan bahwa perbuatan dosa itu bisa menyebabkan hati kita menjadi kotor. Kondisi hati yang kotor, tentu dapat menyebabkan tertutupnya iman dan bahkan akan menenggelamkan keimanan seseorang.

Aktivitas Tajdidul Iman dengan cara membangkitkan nilai keimanan seperti disebut di atas, paling tidak ia merupakan langkah yang tepat dalam menggapai posisi iman sejati. Lebih-lebih jalan menuju iman seperti disebut di awal, benar-benar telah dipenuhi dan diaplikasikan dalam hidup keseharian.

Akhirnya, kita hanya memohon kepada Allah SWT, semoga kita diberi ilmu dan kemampuan usaha berbuat Tajdidul Iman pada setiap saat, lebih-lebih bagi mereka yang telah memperoleh predikat haji mabrur. Sehingga diharapkan aktivitas ini akan meningkatkan iman kita menuju terwujudnya iman sejati yang sesuai dengan harapan-Nya. Amin.***

Bagaimana menurut Anda?

Arda Dinata, pendiri Majelis Inspirasi Alquran dan Realitas Alam/ MIQRA Indonesia, www.miqraindonesia.com 
KAUM Muslim yang sudah melaksanakan ibadah haji, tentunya kita harapkan menjadi haji mabrur. Doa ini penting kita panjatkan karena semua jamaah haji tentu mendambakan haji mabrur. Harapan dan keinginan mendapatkan haji mabrur dapat dipahami, karena bukankah pengampunan dan surga Allah menjadi balasan dan imbalannya. Nabi Saw bersabda, Haji yang mabrur tak ada balasan lain kecuali surga. (HR. Bukhari dan Muslim).


Nilai Kemabruran Haji


KAUM Muslim yang sudah melaksanakan ibadah haji, tentunya kita harapkan menjadi haji mabrur. Doa ini penting kita panjatkan karena semua jamaah haji tentu mendambakan haji mabrur. Harapan dan keinginan mendapatkan haji mabrur dapat dipahami, karena bukankah pengampunan dan surga Allah menjadi balasan dan imbalannya. Nabi Saw bersabda, Haji yang mabrur tak ada balasan lain kecuali surga. (HR. Bukhari dan Muslim).

Mereka yang telah menggapai haji mabrur, tentu akan memancarkan berbagai kebaikan sosial dalam kehidupan kesehariannya, diantaranya, ialah memiliki peningkatan rasa persaudaraan di antara umat, karena saling berkenalan dan berkomunikasi dengan jamaah haji dari segala penjuru dunia, menumbuhkan rasa hormat menghormati dan mengalahkan rasa rendah diri, karena di sanalah jamaah haji akan menyadari kesamaan derajat di hadapan Allah SWT.

Selain itu, kemabruran ibadah haji juga ditandai oleh tanggung jawab dakwah Islamiyah yang tinggi, baik bil lisanil hal maupun billisanil maqal. Hal ini sesuai pesan Rasul saat haji Wada’, yaitu supaya setiap yang hadir wajib menyampaikan ajaran Islam kepada yang tidak hadir. Demikian pula dengan tanggung jawab dalam memelihara jiwa, harta, kehormatan dari orang lain, melindungi yang lemah baik manusia, heman dan tumbuh-tumbuhan.

Pendeknya, haji mabrur berarti haji yang baik atau mendatangkan kebaikan bagi pelakunya. Di kalangan ulama, diungkapkan kalau haji mabrur itu ialah haji yang tidak dicampuri atau dinodai oleh dosa-dosa. Ini mengandung makna bahwa berbagai kebaikan ibadah haji yang diperoleh oleh para hujjaj itu telah membentengi diri mereka dari dosa-dosa dan berbagai tindakan kejahatan.

Berkait dengan itu, Imam Nawawi, mengungkapkan bahwa haji mabrur adalah haji yang buah atau hasilnya tampak jelas bagi para pelakunya. Buah haji itu, tak lain menguatnya iman dan meningkatnya ibadah serta amal saleh dalam arti yang seluas-luasnya. Dengan demikian, maka keadaan hujjaj itu setelah menunaikan ibadah haji jauh lebih baik dari keadaan sebelumnya.

Memelihara dan melanggengkan nilai keimanan

Berdasarkan pola pikir yang diungkapkan Imam Nawawi tersebut, tentu dapat dipahami bahwa memperoleh haji mabrur merupakan sesuatu yang sulit. Namun, sesungguhnya yang lebih sulit lagi dari itu adalah bagaimana mempertahankan, memelihara dan melanggengkan nilai-nilai kemabruran haji itu sepanjang hidup kita.

Oleh karena itu, kemabruran haji ini tentu perlu senantiasa dipelihara, karena kondisi batin seseorang tidaklah tetap. Tapi sangat dipengaruhi oleh kondisi lingkungan sekitarnya. Tepatnya, suatu saat kadar iman tinggi, di lain waktu kadar iman menjadi menurun.

Ketinggian dari nilai iman ini, tentu banyak tantangan untuk mempertahankannya dalam kehidupan manusia. Lebih-lebih saat ini, berbagai serbuan media dan informasi banyak yang dapat melemahkan kekuatan iman seseorang. Artinya derajat dan tingkatan iman setiap orang berbeda-beda. Jelasnya, fluktuasi iman seseorang itu akan terjadi setiap saat.

Kondisi seperti itulah yang banyak kita lupakan. Di sinilah sebenarnya perlunya upaya memperbaharui keimanan kita setiap saat. Memperbaharui keimanan (Tajdidul Iman), diartikan sebagai bentuk kompensasi kita ---usaha untuk mempertahankan kestabilan iman--- dan mengontrol kadar iman yang kita miliki serta meningkatkan kualitas imannya.

Untuk mencapai kondisi iman yang relatif stabil itu, memang bukan sesuatu yang mudah. Walau demikian, bagi Allah tentu tidak ada yang tidak mungkin, kalau cinta-Nya telah bersemayam pada diri kita. Setidaknya ada empat usaha yang dapat membangkitkan/melanggengkan nilai keimanan seseorang (terutama setelah menggapai haji mabrur), sehingga Tajdidul Iman tersebut menjadi terarah.

Pertama, melakukan tadabbur quran. Allah dalam Alqur’an menyebutkan apakah mereka merenungkan Quran? (QS. 4: 82). Lalu, Allah juga berfirman (yang artinya) : “Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al-qur’an ataukah hati mereka terkunci.” (QS. 47: 24). Dari perilaku tadabbur quran ini, maka pikiran kita akan selalu merenungkan, mengkaji dan mengaplikasikan isinya, sehingga iman kita terhadap-Nya akan selalu terkontrol pada ketentuan-Nya.

Kedua, melakukan tafakur alam. Allah berfirman dalam surat Ali Imran: 190-191, yang artinya: “Sesungguhnya tentang kejadian langit dan bumi, dan pergantian malam dan siang menjadi tanda (atas kekuasaan Allah) bagi orang-orang berakal. (Yaitu) orang-orang yang mengingat Allah ketika berdiri, duduk dan waktu berbaring; dan mereka memikirkan kejadian langit dan bumi, (sambil berkata): Ya Tuhan kami, bukanlah Engkau jadikan ini dengan percuma (sia-sia), Mahasuci Engkau, maka peliharakanlah kami dari siksa neraka.”

Kalau kita perhatikan, ternyata ayat tersebut diakhiri dengan doa untuk kemenagan iman, mengalahkan kekafiran, dan diakhiri pula dengan ramalan tentang kemenangan akhir. Di sini dinyatakan pula bahwa kaum mukmin bukanlah orang pertapa yang menyingkir ke tempat sunyi untuk berdzikir kepada Allah, dan bukan pula orang yang hanya berusaha menaklukan alam, tanpa berpikir tentang Tuhan dan Penciptaan alam semesta. Sebaliknya, kaum mukmin dilukiskan sebagai orang yang mengingat-ingat Allah di tengah-tengah kesibukan mereka dalam urusan duniawi ---sambil berdiri, duduk dan berbaring---.

Dengan demikian, mereka menyadari sepenuhnya akan adanya Tuhan dimanapun dan dalam keadaan bagaimanapun. Sebaliknya, mereka berusaha menaklukkan alam dengan sepenuh kesadaran bahwa tak ada barang yang diciptakan itu terdapat tujuan-tujuan tertentu. Itulah tujuan utama yang digariskan oleh Islam bagi para pengikutnya, yaitu menaklukan diri sendiri dengan jalan berdzikir kepada Allah, dan menaklukan alam dengan jalan menuntut ilmu pengetahuan (Muhammad Ali: 1995). Melalui usaha ini, jelas-jelas akan meningkatkan keimanan bagi mereka yang melakukannya.

Ketiga, melakukan amal shalih. Ada tidaknya atau tinggi rendahnya iman seseorang akan dapat dilihat dari perilakunya. Artinya perilaku seseorang akan menunjukkan tingkat imannya. Dalam hal ini, perilaku yang dapat membangkitkan nilai keimanan adalah berupa memperbanyak amal shalih.

Secara demikian, orang yang mengerjakan amal shalih adalah orang beriman yang mengaktualisasikan keimananya berupa amal perbuatan yang jelas-jelas dilandasi iman. Iman dan amal perbuatan itu, tidak bisa dipisahkan. Sebab, iman menuntut adanya amal dan amal merupakan konsekuensi mutlak dari sebuah keimanan. Sebaliknya amal menuntut adanya iman, karena amal perbuatan tanpa dilandasi keimanan kepada Allah adalah sia-sia belaka (tidak berguna). Oleh karena itu, besar kecilnya kadar keimanan seseorang akan banyak ditentukan oleh jenis, kualitas dan kontinuitas amal yang dilakukannya.

Keempat, melakukan proteksi terhadap perbuatan dosa. Untuk menjadikan hati bening berisi keimanan, maka lakukanlah perbuatan-perbuatan yang terhindar dari perilaku maksiat atau mendatangkan dosa. Hal ini didasarkan bahwa perbuatan dosa itu bisa menyebabkan hati kita menjadi kotor. Kondisi hati yang kotor, tentu dapat menyebabkan tertutupnya iman dan bahkan akan menenggelamkan keimanan seseorang.

Aktivitas Tajdidul Iman dengan cara membangkitkan nilai keimanan seperti disebut di atas, paling tidak ia merupakan langkah yang tepat dalam menggapai posisi iman sejati. Lebih-lebih jalan menuju iman seperti disebut di awal, benar-benar telah dipenuhi dan diaplikasikan dalam hidup keseharian.

Akhirnya, kita hanya memohon kepada Allah SWT, semoga kita diberi ilmu dan kemampuan usaha berbuat Tajdidul Iman pada setiap saat, lebih-lebih bagi mereka yang telah memperoleh predikat haji mabrur. Sehingga diharapkan aktivitas ini akan meningkatkan iman kita menuju terwujudnya iman sejati yang sesuai dengan harapan-Nya. Amin.***

Bagaimana menurut Anda?

Arda Dinata, pendiri Majelis Inspirasi Alquran dan Realitas Alam/ MIQRA Indonesia, www.miqraindonesia.com 
KAUM Muslim yang sudah melaksanakan ibadah haji, tentunya kita harapkan menjadi haji mabrur. Doa ini penting kita panjatkan karena semua jamaah haji tentu mendambakan haji mabrur. Harapan dan keinginan mendapatkan haji mabrur dapat dipahami, karena bukankah pengampunan dan surga Allah menjadi balasan dan imbalannya. Nabi Saw bersabda, Haji yang mabrur tak ada balasan lain kecuali surga. (HR. Bukhari dan Muslim).


Nilai Kemabruran Haji


KAUM Muslim yang sudah melaksanakan ibadah haji, tentunya kita harapkan menjadi haji mabrur. Doa ini penting kita panjatkan karena semua jamaah haji tentu mendambakan haji mabrur. Harapan dan keinginan mendapatkan haji mabrur dapat dipahami, karena bukankah pengampunan dan surga Allah menjadi balasan dan imbalannya. Nabi Saw bersabda, Haji yang mabrur tak ada balasan lain kecuali surga. (HR. Bukhari dan Muslim).

Mereka yang telah menggapai haji mabrur, tentu akan memancarkan berbagai kebaikan sosial dalam kehidupan kesehariannya, diantaranya, ialah memiliki peningkatan rasa persaudaraan di antara umat, karena saling berkenalan dan berkomunikasi dengan jamaah haji dari segala penjuru dunia, menumbuhkan rasa hormat menghormati dan mengalahkan rasa rendah diri, karena di sanalah jamaah haji akan menyadari kesamaan derajat di hadapan Allah SWT.

Selain itu, kemabruran ibadah haji juga ditandai oleh tanggung jawab dakwah Islamiyah yang tinggi, baik bil lisanil hal maupun billisanil maqal. Hal ini sesuai pesan Rasul saat haji Wada’, yaitu supaya setiap yang hadir wajib menyampaikan ajaran Islam kepada yang tidak hadir. Demikian pula dengan tanggung jawab dalam memelihara jiwa, harta, kehormatan dari orang lain, melindungi yang lemah baik manusia, heman dan tumbuh-tumbuhan.

Pendeknya, haji mabrur berarti haji yang baik atau mendatangkan kebaikan bagi pelakunya. Di kalangan ulama, diungkapkan kalau haji mabrur itu ialah haji yang tidak dicampuri atau dinodai oleh dosa-dosa. Ini mengandung makna bahwa berbagai kebaikan ibadah haji yang diperoleh oleh para hujjaj itu telah membentengi diri mereka dari dosa-dosa dan berbagai tindakan kejahatan.

Berkait dengan itu, Imam Nawawi, mengungkapkan bahwa haji mabrur adalah haji yang buah atau hasilnya tampak jelas bagi para pelakunya. Buah haji itu, tak lain menguatnya iman dan meningkatnya ibadah serta amal saleh dalam arti yang seluas-luasnya. Dengan demikian, maka keadaan hujjaj itu setelah menunaikan ibadah haji jauh lebih baik dari keadaan sebelumnya.

Memelihara dan melanggengkan nilai keimanan

Berdasarkan pola pikir yang diungkapkan Imam Nawawi tersebut, tentu dapat dipahami bahwa memperoleh haji mabrur merupakan sesuatu yang sulit. Namun, sesungguhnya yang lebih sulit lagi dari itu adalah bagaimana mempertahankan, memelihara dan melanggengkan nilai-nilai kemabruran haji itu sepanjang hidup kita.

Oleh karena itu, kemabruran haji ini tentu perlu senantiasa dipelihara, karena kondisi batin seseorang tidaklah tetap. Tapi sangat dipengaruhi oleh kondisi lingkungan sekitarnya. Tepatnya, suatu saat kadar iman tinggi, di lain waktu kadar iman menjadi menurun.

Ketinggian dari nilai iman ini, tentu banyak tantangan untuk mempertahankannya dalam kehidupan manusia. Lebih-lebih saat ini, berbagai serbuan media dan informasi banyak yang dapat melemahkan kekuatan iman seseorang. Artinya derajat dan tingkatan iman setiap orang berbeda-beda. Jelasnya, fluktuasi iman seseorang itu akan terjadi setiap saat.

Kondisi seperti itulah yang banyak kita lupakan. Di sinilah sebenarnya perlunya upaya memperbaharui keimanan kita setiap saat. Memperbaharui keimanan (Tajdidul Iman), diartikan sebagai bentuk kompensasi kita ---usaha untuk mempertahankan kestabilan iman--- dan mengontrol kadar iman yang kita miliki serta meningkatkan kualitas imannya.

Untuk mencapai kondisi iman yang relatif stabil itu, memang bukan sesuatu yang mudah. Walau demikian, bagi Allah tentu tidak ada yang tidak mungkin, kalau cinta-Nya telah bersemayam pada diri kita. Setidaknya ada empat usaha yang dapat membangkitkan/melanggengkan nilai keimanan seseorang (terutama setelah menggapai haji mabrur), sehingga Tajdidul Iman tersebut menjadi terarah.

Pertama, melakukan tadabbur quran. Allah dalam Alqur’an menyebutkan apakah mereka merenungkan Quran? (QS. 4: 82). Lalu, Allah juga berfirman (yang artinya) : “Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al-qur’an ataukah hati mereka terkunci.” (QS. 47: 24). Dari perilaku tadabbur quran ini, maka pikiran kita akan selalu merenungkan, mengkaji dan mengaplikasikan isinya, sehingga iman kita terhadap-Nya akan selalu terkontrol pada ketentuan-Nya.

Kedua, melakukan tafakur alam. Allah berfirman dalam surat Ali Imran: 190-191, yang artinya: “Sesungguhnya tentang kejadian langit dan bumi, dan pergantian malam dan siang menjadi tanda (atas kekuasaan Allah) bagi orang-orang berakal. (Yaitu) orang-orang yang mengingat Allah ketika berdiri, duduk dan waktu berbaring; dan mereka memikirkan kejadian langit dan bumi, (sambil berkata): Ya Tuhan kami, bukanlah Engkau jadikan ini dengan percuma (sia-sia), Mahasuci Engkau, maka peliharakanlah kami dari siksa neraka.”

Kalau kita perhatikan, ternyata ayat tersebut diakhiri dengan doa untuk kemenagan iman, mengalahkan kekafiran, dan diakhiri pula dengan ramalan tentang kemenangan akhir. Di sini dinyatakan pula bahwa kaum mukmin bukanlah orang pertapa yang menyingkir ke tempat sunyi untuk berdzikir kepada Allah, dan bukan pula orang yang hanya berusaha menaklukan alam, tanpa berpikir tentang Tuhan dan Penciptaan alam semesta. Sebaliknya, kaum mukmin dilukiskan sebagai orang yang mengingat-ingat Allah di tengah-tengah kesibukan mereka dalam urusan duniawi ---sambil berdiri, duduk dan berbaring---.

Dengan demikian, mereka menyadari sepenuhnya akan adanya Tuhan dimanapun dan dalam keadaan bagaimanapun. Sebaliknya, mereka berusaha menaklukkan alam dengan sepenuh kesadaran bahwa tak ada barang yang diciptakan itu terdapat tujuan-tujuan tertentu. Itulah tujuan utama yang digariskan oleh Islam bagi para pengikutnya, yaitu menaklukan diri sendiri dengan jalan berdzikir kepada Allah, dan menaklukan alam dengan jalan menuntut ilmu pengetahuan (Muhammad Ali: 1995). Melalui usaha ini, jelas-jelas akan meningkatkan keimanan bagi mereka yang melakukannya.

Ketiga, melakukan amal shalih. Ada tidaknya atau tinggi rendahnya iman seseorang akan dapat dilihat dari perilakunya. Artinya perilaku seseorang akan menunjukkan tingkat imannya. Dalam hal ini, perilaku yang dapat membangkitkan nilai keimanan adalah berupa memperbanyak amal shalih.

Secara demikian, orang yang mengerjakan amal shalih adalah orang beriman yang mengaktualisasikan keimananya berupa amal perbuatan yang jelas-jelas dilandasi iman. Iman dan amal perbuatan itu, tidak bisa dipisahkan. Sebab, iman menuntut adanya amal dan amal merupakan konsekuensi mutlak dari sebuah keimanan. Sebaliknya amal menuntut adanya iman, karena amal perbuatan tanpa dilandasi keimanan kepada Allah adalah sia-sia belaka (tidak berguna). Oleh karena itu, besar kecilnya kadar keimanan seseorang akan banyak ditentukan oleh jenis, kualitas dan kontinuitas amal yang dilakukannya.

Keempat, melakukan proteksi terhadap perbuatan dosa. Untuk menjadikan hati bening berisi keimanan, maka lakukanlah perbuatan-perbuatan yang terhindar dari perilaku maksiat atau mendatangkan dosa. Hal ini didasarkan bahwa perbuatan dosa itu bisa menyebabkan hati kita menjadi kotor. Kondisi hati yang kotor, tentu dapat menyebabkan tertutupnya iman dan bahkan akan menenggelamkan keimanan seseorang.

Aktivitas Tajdidul Iman dengan cara membangkitkan nilai keimanan seperti disebut di atas, paling tidak ia merupakan langkah yang tepat dalam menggapai posisi iman sejati. Lebih-lebih jalan menuju iman seperti disebut di awal, benar-benar telah dipenuhi dan diaplikasikan dalam hidup keseharian.

Akhirnya, kita hanya memohon kepada Allah SWT, semoga kita diberi ilmu dan kemampuan usaha berbuat Tajdidul Iman pada setiap saat, lebih-lebih bagi mereka yang telah memperoleh predikat haji mabrur. Sehingga diharapkan aktivitas ini akan meningkatkan iman kita menuju terwujudnya iman sejati yang sesuai dengan harapan-Nya. Amin.***

Bagaimana menurut Anda?

Arda Dinata, pendiri Majelis Inspirasi Alquran dan Realitas Alam/ MIQRA Indonesia, www.miqraindonesia.com 
KAUM Muslim yang sudah melaksanakan ibadah haji, tentunya kita harapkan menjadi haji mabrur. Doa ini penting kita panjatkan karena semua jamaah haji tentu mendambakan haji mabrur. Harapan dan keinginan mendapatkan haji mabrur dapat dipahami, karena bukankah pengampunan dan surga Allah menjadi balasan dan imbalannya. Nabi Saw bersabda, Haji yang mabrur tak ada balasan lain kecuali surga. (HR. Bukhari dan Muslim).


Nilai Kemabruran Haji


KAUM Muslim yang sudah melaksanakan ibadah haji, tentunya kita harapkan menjadi haji mabrur. Doa ini penting kita panjatkan karena semua jamaah haji tentu mendambakan haji mabrur. Harapan dan keinginan mendapatkan haji mabrur dapat dipahami, karena bukankah pengampunan dan surga Allah menjadi balasan dan imbalannya. Nabi Saw bersabda, Haji yang mabrur tak ada balasan lain kecuali surga. (HR. Bukhari dan Muslim).

Mereka yang telah menggapai haji mabrur, tentu akan memancarkan berbagai kebaikan sosial dalam kehidupan kesehariannya, diantaranya, ialah memiliki peningkatan rasa persaudaraan di antara umat, karena saling berkenalan dan berkomunikasi dengan jamaah haji dari segala penjuru dunia, menumbuhkan rasa hormat menghormati dan mengalahkan rasa rendah diri, karena di sanalah jamaah haji akan menyadari kesamaan derajat di hadapan Allah SWT.

Selain itu, kemabruran ibadah haji juga ditandai oleh tanggung jawab dakwah Islamiyah yang tinggi, baik bil lisanil hal maupun billisanil maqal. Hal ini sesuai pesan Rasul saat haji Wada’, yaitu supaya setiap yang hadir wajib menyampaikan ajaran Islam kepada yang tidak hadir. Demikian pula dengan tanggung jawab dalam memelihara jiwa, harta, kehormatan dari orang lain, melindungi yang lemah baik manusia, heman dan tumbuh-tumbuhan.

Pendeknya, haji mabrur berarti haji yang baik atau mendatangkan kebaikan bagi pelakunya. Di kalangan ulama, diungkapkan kalau haji mabrur itu ialah haji yang tidak dicampuri atau dinodai oleh dosa-dosa. Ini mengandung makna bahwa berbagai kebaikan ibadah haji yang diperoleh oleh para hujjaj itu telah membentengi diri mereka dari dosa-dosa dan berbagai tindakan kejahatan.

Berkait dengan itu, Imam Nawawi, mengungkapkan bahwa haji mabrur adalah haji yang buah atau hasilnya tampak jelas bagi para pelakunya. Buah haji itu, tak lain menguatnya iman dan meningkatnya ibadah serta amal saleh dalam arti yang seluas-luasnya. Dengan demikian, maka keadaan hujjaj itu setelah menunaikan ibadah haji jauh lebih baik dari keadaan sebelumnya.

Memelihara dan melanggengkan nilai keimanan

Berdasarkan pola pikir yang diungkapkan Imam Nawawi tersebut, tentu dapat dipahami bahwa memperoleh haji mabrur merupakan sesuatu yang sulit. Namun, sesungguhnya yang lebih sulit lagi dari itu adalah bagaimana mempertahankan, memelihara dan melanggengkan nilai-nilai kemabruran haji itu sepanjang hidup kita.

Oleh karena itu, kemabruran haji ini tentu perlu senantiasa dipelihara, karena kondisi batin seseorang tidaklah tetap. Tapi sangat dipengaruhi oleh kondisi lingkungan sekitarnya. Tepatnya, suatu saat kadar iman tinggi, di lain waktu kadar iman menjadi menurun.

Ketinggian dari nilai iman ini, tentu banyak tantangan untuk mempertahankannya dalam kehidupan manusia. Lebih-lebih saat ini, berbagai serbuan media dan informasi banyak yang dapat melemahkan kekuatan iman seseorang. Artinya derajat dan tingkatan iman setiap orang berbeda-beda. Jelasnya, fluktuasi iman seseorang itu akan terjadi setiap saat.

Kondisi seperti itulah yang banyak kita lupakan. Di sinilah sebenarnya perlunya upaya memperbaharui keimanan kita setiap saat. Memperbaharui keimanan (Tajdidul Iman), diartikan sebagai bentuk kompensasi kita ---usaha untuk mempertahankan kestabilan iman--- dan mengontrol kadar iman yang kita miliki serta meningkatkan kualitas imannya.

Untuk mencapai kondisi iman yang relatif stabil itu, memang bukan sesuatu yang mudah. Walau demikian, bagi Allah tentu tidak ada yang tidak mungkin, kalau cinta-Nya telah bersemayam pada diri kita. Setidaknya ada empat usaha yang dapat membangkitkan/melanggengkan nilai keimanan seseorang (terutama setelah menggapai haji mabrur), sehingga Tajdidul Iman tersebut menjadi terarah.

Pertama, melakukan tadabbur quran. Allah dalam Alqur’an menyebutkan apakah mereka merenungkan Quran? (QS. 4: 82). Lalu, Allah juga berfirman (yang artinya) : “Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al-qur’an ataukah hati mereka terkunci.” (QS. 47: 24). Dari perilaku tadabbur quran ini, maka pikiran kita akan selalu merenungkan, mengkaji dan mengaplikasikan isinya, sehingga iman kita terhadap-Nya akan selalu terkontrol pada ketentuan-Nya.

Kedua, melakukan tafakur alam. Allah berfirman dalam surat Ali Imran: 190-191, yang artinya: “Sesungguhnya tentang kejadian langit dan bumi, dan pergantian malam dan siang menjadi tanda (atas kekuasaan Allah) bagi orang-orang berakal. (Yaitu) orang-orang yang mengingat Allah ketika berdiri, duduk dan waktu berbaring; dan mereka memikirkan kejadian langit dan bumi, (sambil berkata): Ya Tuhan kami, bukanlah Engkau jadikan ini dengan percuma (sia-sia), Mahasuci Engkau, maka peliharakanlah kami dari siksa neraka.”

Kalau kita perhatikan, ternyata ayat tersebut diakhiri dengan doa untuk kemenagan iman, mengalahkan kekafiran, dan diakhiri pula dengan ramalan tentang kemenangan akhir. Di sini dinyatakan pula bahwa kaum mukmin bukanlah orang pertapa yang menyingkir ke tempat sunyi untuk berdzikir kepada Allah, dan bukan pula orang yang hanya berusaha menaklukan alam, tanpa berpikir tentang Tuhan dan Penciptaan alam semesta. Sebaliknya, kaum mukmin dilukiskan sebagai orang yang mengingat-ingat Allah di tengah-tengah kesibukan mereka dalam urusan duniawi ---sambil berdiri, duduk dan berbaring---.

Dengan demikian, mereka menyadari sepenuhnya akan adanya Tuhan dimanapun dan dalam keadaan bagaimanapun. Sebaliknya, mereka berusaha menaklukkan alam dengan sepenuh kesadaran bahwa tak ada barang yang diciptakan itu terdapat tujuan-tujuan tertentu. Itulah tujuan utama yang digariskan oleh Islam bagi para pengikutnya, yaitu menaklukan diri sendiri dengan jalan berdzikir kepada Allah, dan menaklukan alam dengan jalan menuntut ilmu pengetahuan (Muhammad Ali: 1995). Melalui usaha ini, jelas-jelas akan meningkatkan keimanan bagi mereka yang melakukannya.

Ketiga, melakukan amal shalih. Ada tidaknya atau tinggi rendahnya iman seseorang akan dapat dilihat dari perilakunya. Artinya perilaku seseorang akan menunjukkan tingkat imannya. Dalam hal ini, perilaku yang dapat membangkitkan nilai keimanan adalah berupa memperbanyak amal shalih.

Secara demikian, orang yang mengerjakan amal shalih adalah orang beriman yang mengaktualisasikan keimananya berupa amal perbuatan yang jelas-jelas dilandasi iman. Iman dan amal perbuatan itu, tidak bisa dipisahkan. Sebab, iman menuntut adanya amal dan amal merupakan konsekuensi mutlak dari sebuah keimanan. Sebaliknya amal menuntut adanya iman, karena amal perbuatan tanpa dilandasi keimanan kepada Allah adalah sia-sia belaka (tidak berguna). Oleh karena itu, besar kecilnya kadar keimanan seseorang akan banyak ditentukan oleh jenis, kualitas dan kontinuitas amal yang dilakukannya.

Keempat, melakukan proteksi terhadap perbuatan dosa. Untuk menjadikan hati bening berisi keimanan, maka lakukanlah perbuatan-perbuatan yang terhindar dari perilaku maksiat atau mendatangkan dosa. Hal ini didasarkan bahwa perbuatan dosa itu bisa menyebabkan hati kita menjadi kotor. Kondisi hati yang kotor, tentu dapat menyebabkan tertutupnya iman dan bahkan akan menenggelamkan keimanan seseorang.

Aktivitas Tajdidul Iman dengan cara membangkitkan nilai keimanan seperti disebut di atas, paling tidak ia merupakan langkah yang tepat dalam menggapai posisi iman sejati. Lebih-lebih jalan menuju iman seperti disebut di awal, benar-benar telah dipenuhi dan diaplikasikan dalam hidup keseharian.

Akhirnya, kita hanya memohon kepada Allah SWT, semoga kita diberi ilmu dan kemampuan usaha berbuat Tajdidul Iman pada setiap saat, lebih-lebih bagi mereka yang telah memperoleh predikat haji mabrur. Sehingga diharapkan aktivitas ini akan meningkatkan iman kita menuju terwujudnya iman sejati yang sesuai dengan harapan-Nya. Amin.***

Bagaimana menurut Anda?

Arda Dinata, pendiri Majelis Inspirasi Alquran dan Realitas Alam/ MIQRA Indonesia, www.miqraindonesia.com 
KAUM Muslim yang sudah melaksanakan ibadah haji, tentunya kita harapkan menjadi haji mabrur. Doa ini penting kita panjatkan karena semua jamaah haji tentu mendambakan haji mabrur. Harapan dan keinginan mendapatkan haji mabrur dapat dipahami, karena bukankah pengampunan dan surga Allah menjadi balasan dan imbalannya. Nabi Saw bersabda, Haji yang mabrur tak ada balasan lain kecuali surga. (HR. Bukhari dan Muslim).


Nilai Kemabruran Haji


KAUM Muslim yang sudah melaksanakan ibadah haji, tentunya kita harapkan menjadi haji mabrur. Doa ini penting kita panjatkan karena semua jamaah haji tentu mendambakan haji mabrur. Harapan dan keinginan mendapatkan haji mabrur dapat dipahami, karena bukankah pengampunan dan surga Allah menjadi balasan dan imbalannya. Nabi Saw bersabda, Haji yang mabrur tak ada balasan lain kecuali surga. (HR. Bukhari dan Muslim).

Mereka yang telah menggapai haji mabrur, tentu akan memancarkan berbagai kebaikan sosial dalam kehidupan kesehariannya, diantaranya, ialah memiliki peningkatan rasa persaudaraan di antara umat, karena saling berkenalan dan berkomunikasi dengan jamaah haji dari segala penjuru dunia, menumbuhkan rasa hormat menghormati dan mengalahkan rasa rendah diri, karena di sanalah jamaah haji akan menyadari kesamaan derajat di hadapan Allah SWT.

Selain itu, kemabruran ibadah haji juga ditandai oleh tanggung jawab dakwah Islamiyah yang tinggi, baik bil lisanil hal maupun billisanil maqal. Hal ini sesuai pesan Rasul saat haji Wada’, yaitu supaya setiap yang hadir wajib menyampaikan ajaran Islam kepada yang tidak hadir. Demikian pula dengan tanggung jawab dalam memelihara jiwa, harta, kehormatan dari orang lain, melindungi yang lemah baik manusia, heman dan tumbuh-tumbuhan.

Pendeknya, haji mabrur berarti haji yang baik atau mendatangkan kebaikan bagi pelakunya. Di kalangan ulama, diungkapkan kalau haji mabrur itu ialah haji yang tidak dicampuri atau dinodai oleh dosa-dosa. Ini mengandung makna bahwa berbagai kebaikan ibadah haji yang diperoleh oleh para hujjaj itu telah membentengi diri mereka dari dosa-dosa dan berbagai tindakan kejahatan.

Berkait dengan itu, Imam Nawawi, mengungkapkan bahwa haji mabrur adalah haji yang buah atau hasilnya tampak jelas bagi para pelakunya. Buah haji itu, tak lain menguatnya iman dan meningkatnya ibadah serta amal saleh dalam arti yang seluas-luasnya. Dengan demikian, maka keadaan hujjaj itu setelah menunaikan ibadah haji jauh lebih baik dari keadaan sebelumnya.

Memelihara dan melanggengkan nilai keimanan

Berdasarkan pola pikir yang diungkapkan Imam Nawawi tersebut, tentu dapat dipahami bahwa memperoleh haji mabrur merupakan sesuatu yang sulit. Namun, sesungguhnya yang lebih sulit lagi dari itu adalah bagaimana mempertahankan, memelihara dan melanggengkan nilai-nilai kemabruran haji itu sepanjang hidup kita.

Oleh karena itu, kemabruran haji ini tentu perlu senantiasa dipelihara, karena kondisi batin seseorang tidaklah tetap. Tapi sangat dipengaruhi oleh kondisi lingkungan sekitarnya. Tepatnya, suatu saat kadar iman tinggi, di lain waktu kadar iman menjadi menurun.

Ketinggian dari nilai iman ini, tentu banyak tantangan untuk mempertahankannya dalam kehidupan manusia. Lebih-lebih saat ini, berbagai serbuan media dan informasi banyak yang dapat melemahkan kekuatan iman seseorang. Artinya derajat dan tingkatan iman setiap orang berbeda-beda. Jelasnya, fluktuasi iman seseorang itu akan terjadi setiap saat.

Kondisi seperti itulah yang banyak kita lupakan. Di sinilah sebenarnya perlunya upaya memperbaharui keimanan kita setiap saat. Memperbaharui keimanan (Tajdidul Iman), diartikan sebagai bentuk kompensasi kita ---usaha untuk mempertahankan kestabilan iman--- dan mengontrol kadar iman yang kita miliki serta meningkatkan kualitas imannya.

Untuk mencapai kondisi iman yang relatif stabil itu, memang bukan sesuatu yang mudah. Walau demikian, bagi Allah tentu tidak ada yang tidak mungkin, kalau cinta-Nya telah bersemayam pada diri kita. Setidaknya ada empat usaha yang dapat membangkitkan/melanggengkan nilai keimanan seseorang (terutama setelah menggapai haji mabrur), sehingga Tajdidul Iman tersebut menjadi terarah.

Pertama, melakukan tadabbur quran. Allah dalam Alqur’an menyebutkan apakah mereka merenungkan Quran? (QS. 4: 82). Lalu, Allah juga berfirman (yang artinya) : “Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al-qur’an ataukah hati mereka terkunci.” (QS. 47: 24). Dari perilaku tadabbur quran ini, maka pikiran kita akan selalu merenungkan, mengkaji dan mengaplikasikan isinya, sehingga iman kita terhadap-Nya akan selalu terkontrol pada ketentuan-Nya.

Kedua, melakukan tafakur alam. Allah berfirman dalam surat Ali Imran: 190-191, yang artinya: “Sesungguhnya tentang kejadian langit dan bumi, dan pergantian malam dan siang menjadi tanda (atas kekuasaan Allah) bagi orang-orang berakal. (Yaitu) orang-orang yang mengingat Allah ketika berdiri, duduk dan waktu berbaring; dan mereka memikirkan kejadian langit dan bumi, (sambil berkata): Ya Tuhan kami, bukanlah Engkau jadikan ini dengan percuma (sia-sia), Mahasuci Engkau, maka peliharakanlah kami dari siksa neraka.”

Kalau kita perhatikan, ternyata ayat tersebut diakhiri dengan doa untuk kemenagan iman, mengalahkan kekafiran, dan diakhiri pula dengan ramalan tentang kemenangan akhir. Di sini dinyatakan pula bahwa kaum mukmin bukanlah orang pertapa yang menyingkir ke tempat sunyi untuk berdzikir kepada Allah, dan bukan pula orang yang hanya berusaha menaklukan alam, tanpa berpikir tentang Tuhan dan Penciptaan alam semesta. Sebaliknya, kaum mukmin dilukiskan sebagai orang yang mengingat-ingat Allah di tengah-tengah kesibukan mereka dalam urusan duniawi ---sambil berdiri, duduk dan berbaring---.

Dengan demikian, mereka menyadari sepenuhnya akan adanya Tuhan dimanapun dan dalam keadaan bagaimanapun. Sebaliknya, mereka berusaha menaklukkan alam dengan sepenuh kesadaran bahwa tak ada barang yang diciptakan itu terdapat tujuan-tujuan tertentu. Itulah tujuan utama yang digariskan oleh Islam bagi para pengikutnya, yaitu menaklukan diri sendiri dengan jalan berdzikir kepada Allah, dan menaklukan alam dengan jalan menuntut ilmu pengetahuan (Muhammad Ali: 1995). Melalui usaha ini, jelas-jelas akan meningkatkan keimanan bagi mereka yang melakukannya.

Ketiga, melakukan amal shalih. Ada tidaknya atau tinggi rendahnya iman seseorang akan dapat dilihat dari perilakunya. Artinya perilaku seseorang akan menunjukkan tingkat imannya. Dalam hal ini, perilaku yang dapat membangkitkan nilai keimanan adalah berupa memperbanyak amal shalih.

Secara demikian, orang yang mengerjakan amal shalih adalah orang beriman yang mengaktualisasikan keimananya berupa amal perbuatan yang jelas-jelas dilandasi iman. Iman dan amal perbuatan itu, tidak bisa dipisahkan. Sebab, iman menuntut adanya amal dan amal merupakan konsekuensi mutlak dari sebuah keimanan. Sebaliknya amal menuntut adanya iman, karena amal perbuatan tanpa dilandasi keimanan kepada Allah adalah sia-sia belaka (tidak berguna). Oleh karena itu, besar kecilnya kadar keimanan seseorang akan banyak ditentukan oleh jenis, kualitas dan kontinuitas amal yang dilakukannya.

Keempat, melakukan proteksi terhadap perbuatan dosa. Untuk menjadikan hati bening berisi keimanan, maka lakukanlah perbuatan-perbuatan yang terhindar dari perilaku maksiat atau mendatangkan dosa. Hal ini didasarkan bahwa perbuatan dosa itu bisa menyebabkan hati kita menjadi kotor. Kondisi hati yang kotor, tentu dapat menyebabkan tertutupnya iman dan bahkan akan menenggelamkan keimanan seseorang.

Aktivitas Tajdidul Iman dengan cara membangkitkan nilai keimanan seperti disebut di atas, paling tidak ia merupakan langkah yang tepat dalam menggapai posisi iman sejati. Lebih-lebih jalan menuju iman seperti disebut di awal, benar-benar telah dipenuhi dan diaplikasikan dalam hidup keseharian.

Akhirnya, kita hanya memohon kepada Allah SWT, semoga kita diberi ilmu dan kemampuan usaha berbuat Tajdidul Iman pada setiap saat, lebih-lebih bagi mereka yang telah memperoleh predikat haji mabrur. Sehingga diharapkan aktivitas ini akan meningkatkan iman kita menuju terwujudnya iman sejati yang sesuai dengan harapan-Nya. Amin.***

Bagaimana menurut Anda?

Arda Dinata, pendiri Majelis Inspirasi Alquran dan Realitas Alam/ MIQRA Indonesia, www.miqraindonesia.com 
KAUM Muslim yang sudah melaksanakan ibadah haji, tentunya kita harapkan menjadi haji mabrur. Doa ini penting kita panjatkan karena semua jamaah haji tentu mendambakan haji mabrur. Harapan dan keinginan mendapatkan haji mabrur dapat dipahami, karena bukankah pengampunan dan surga Allah menjadi balasan dan imbalannya. Nabi Saw bersabda, Haji yang mabrur tak ada balasan lain kecuali surga. (HR. Bukhari dan Muslim).


Nilai Kemabruran Haji


KAUM Muslim yang sudah melaksanakan ibadah haji, tentunya kita harapkan menjadi haji mabrur. Doa ini penting kita panjatkan karena semua jamaah haji tentu mendambakan haji mabrur. Harapan dan keinginan mendapatkan haji mabrur dapat dipahami, karena bukankah pengampunan dan surga Allah menjadi balasan dan imbalannya. Nabi Saw bersabda, Haji yang mabrur tak ada balasan lain kecuali surga. (HR. Bukhari dan Muslim).

Mereka yang telah menggapai haji mabrur, tentu akan memancarkan berbagai kebaikan sosial dalam kehidupan kesehariannya, diantaranya, ialah memiliki peningkatan rasa persaudaraan di antara umat, karena saling berkenalan dan berkomunikasi dengan jamaah haji dari segala penjuru dunia, menumbuhkan rasa hormat menghormati dan mengalahkan rasa rendah diri, karena di sanalah jamaah haji akan menyadari kesamaan derajat di hadapan Allah SWT.

Selain itu, kemabruran ibadah haji juga ditandai oleh tanggung jawab dakwah Islamiyah yang tinggi, baik bil lisanil hal maupun billisanil maqal. Hal ini sesuai pesan Rasul saat haji Wada’, yaitu supaya setiap yang hadir wajib menyampaikan ajaran Islam kepada yang tidak hadir. Demikian pula dengan tanggung jawab dalam memelihara jiwa, harta, kehormatan dari orang lain, melindungi yang lemah baik manusia, heman dan tumbuh-tumbuhan.

Pendeknya, haji mabrur berarti haji yang baik atau mendatangkan kebaikan bagi pelakunya. Di kalangan ulama, diungkapkan kalau haji mabrur itu ialah haji yang tidak dicampuri atau dinodai oleh dosa-dosa. Ini mengandung makna bahwa berbagai kebaikan ibadah haji yang diperoleh oleh para hujjaj itu telah membentengi diri mereka dari dosa-dosa dan berbagai tindakan kejahatan.

Berkait dengan itu, Imam Nawawi, mengungkapkan bahwa haji mabrur adalah haji yang buah atau hasilnya tampak jelas bagi para pelakunya. Buah haji itu, tak lain menguatnya iman dan meningkatnya ibadah serta amal saleh dalam arti yang seluas-luasnya. Dengan demikian, maka keadaan hujjaj itu setelah menunaikan ibadah haji jauh lebih baik dari keadaan sebelumnya.

Memelihara dan melanggengkan nilai keimanan

Berdasarkan pola pikir yang diungkapkan Imam Nawawi tersebut, tentu dapat dipahami bahwa memperoleh haji mabrur merupakan sesuatu yang sulit. Namun, sesungguhnya yang lebih sulit lagi dari itu adalah bagaimana mempertahankan, memelihara dan melanggengkan nilai-nilai kemabruran haji itu sepanjang hidup kita.

Oleh karena itu, kemabruran haji ini tentu perlu senantiasa dipelihara, karena kondisi batin seseorang tidaklah tetap. Tapi sangat dipengaruhi oleh kondisi lingkungan sekitarnya. Tepatnya, suatu saat kadar iman tinggi, di lain waktu kadar iman menjadi menurun.

Ketinggian dari nilai iman ini, tentu banyak tantangan untuk mempertahankannya dalam kehidupan manusia. Lebih-lebih saat ini, berbagai serbuan media dan informasi banyak yang dapat melemahkan kekuatan iman seseorang. Artinya derajat dan tingkatan iman setiap orang berbeda-beda. Jelasnya, fluktuasi iman seseorang itu akan terjadi setiap saat.

Kondisi seperti itulah yang banyak kita lupakan. Di sinilah sebenarnya perlunya upaya memperbaharui keimanan kita setiap saat. Memperbaharui keimanan (Tajdidul Iman), diartikan sebagai bentuk kompensasi kita ---usaha untuk mempertahankan kestabilan iman--- dan mengontrol kadar iman yang kita miliki serta meningkatkan kualitas imannya.

Untuk mencapai kondisi iman yang relatif stabil itu, memang bukan sesuatu yang mudah. Walau demikian, bagi Allah tentu tidak ada yang tidak mungkin, kalau cinta-Nya telah bersemayam pada diri kita. Setidaknya ada empat usaha yang dapat membangkitkan/melanggengkan nilai keimanan seseorang (terutama setelah menggapai haji mabrur), sehingga Tajdidul Iman tersebut menjadi terarah.

Pertama, melakukan tadabbur quran. Allah dalam Alqur’an menyebutkan apakah mereka merenungkan Quran? (QS. 4: 82). Lalu, Allah juga berfirman (yang artinya) : “Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al-qur’an ataukah hati mereka terkunci.” (QS. 47: 24). Dari perilaku tadabbur quran ini, maka pikiran kita akan selalu merenungkan, mengkaji dan mengaplikasikan isinya, sehingga iman kita terhadap-Nya akan selalu terkontrol pada ketentuan-Nya.

Kedua, melakukan tafakur alam. Allah berfirman dalam surat Ali Imran: 190-191, yang artinya: “Sesungguhnya tentang kejadian langit dan bumi, dan pergantian malam dan siang menjadi tanda (atas kekuasaan Allah) bagi orang-orang berakal. (Yaitu) orang-orang yang mengingat Allah ketika berdiri, duduk dan waktu berbaring; dan mereka memikirkan kejadian langit dan bumi, (sambil berkata): Ya Tuhan kami, bukanlah Engkau jadikan ini dengan percuma (sia-sia), Mahasuci Engkau, maka peliharakanlah kami dari siksa neraka.”

Kalau kita perhatikan, ternyata ayat tersebut diakhiri dengan doa untuk kemenagan iman, mengalahkan kekafiran, dan diakhiri pula dengan ramalan tentang kemenangan akhir. Di sini dinyatakan pula bahwa kaum mukmin bukanlah orang pertapa yang menyingkir ke tempat sunyi untuk berdzikir kepada Allah, dan bukan pula orang yang hanya berusaha menaklukan alam, tanpa berpikir tentang Tuhan dan Penciptaan alam semesta. Sebaliknya, kaum mukmin dilukiskan sebagai orang yang mengingat-ingat Allah di tengah-tengah kesibukan mereka dalam urusan duniawi ---sambil berdiri, duduk dan berbaring---.

Dengan demikian, mereka menyadari sepenuhnya akan adanya Tuhan dimanapun dan dalam keadaan bagaimanapun. Sebaliknya, mereka berusaha menaklukkan alam dengan sepenuh kesadaran bahwa tak ada barang yang diciptakan itu terdapat tujuan-tujuan tertentu. Itulah tujuan utama yang digariskan oleh Islam bagi para pengikutnya, yaitu menaklukan diri sendiri dengan jalan berdzikir kepada Allah, dan menaklukan alam dengan jalan menuntut ilmu pengetahuan (Muhammad Ali: 1995). Melalui usaha ini, jelas-jelas akan meningkatkan keimanan bagi mereka yang melakukannya.

Ketiga, melakukan amal shalih. Ada tidaknya atau tinggi rendahnya iman seseorang akan dapat dilihat dari perilakunya. Artinya perilaku seseorang akan menunjukkan tingkat imannya. Dalam hal ini, perilaku yang dapat membangkitkan nilai keimanan adalah berupa memperbanyak amal shalih.

Secara demikian, orang yang mengerjakan amal shalih adalah orang beriman yang mengaktualisasikan keimananya berupa amal perbuatan yang jelas-jelas dilandasi iman. Iman dan amal perbuatan itu, tidak bisa dipisahkan. Sebab, iman menuntut adanya amal dan amal merupakan konsekuensi mutlak dari sebuah keimanan. Sebaliknya amal menuntut adanya iman, karena amal perbuatan tanpa dilandasi keimanan kepada Allah adalah sia-sia belaka (tidak berguna). Oleh karena itu, besar kecilnya kadar keimanan seseorang akan banyak ditentukan oleh jenis, kualitas dan kontinuitas amal yang dilakukannya.

Keempat, melakukan proteksi terhadap perbuatan dosa. Untuk menjadikan hati bening berisi keimanan, maka lakukanlah perbuatan-perbuatan yang terhindar dari perilaku maksiat atau mendatangkan dosa. Hal ini didasarkan bahwa perbuatan dosa itu bisa menyebabkan hati kita menjadi kotor. Kondisi hati yang kotor, tentu dapat menyebabkan tertutupnya iman dan bahkan akan menenggelamkan keimanan seseorang.

Aktivitas Tajdidul Iman dengan cara membangkitkan nilai keimanan seperti disebut di atas, paling tidak ia merupakan langkah yang tepat dalam menggapai posisi iman sejati. Lebih-lebih jalan menuju iman seperti disebut di awal, benar-benar telah dipenuhi dan diaplikasikan dalam hidup keseharian.

Akhirnya, kita hanya memohon kepada Allah SWT, semoga kita diberi ilmu dan kemampuan usaha berbuat Tajdidul Iman pada setiap saat, lebih-lebih bagi mereka yang telah memperoleh predikat haji mabrur. Sehingga diharapkan aktivitas ini akan meningkatkan iman kita menuju terwujudnya iman sejati yang sesuai dengan harapan-Nya. Amin.***

Bagaimana menurut Anda?

Arda Dinata, pendiri Majelis Inspirasi Alquran dan Realitas Alam/ MIQRA Indonesia, www.miqraindonesia.com 
KAUM Muslim yang sudah melaksanakan ibadah haji, tentunya kita harapkan menjadi haji mabrur. Doa ini penting kita panjatkan karena semua jamaah haji tentu mendambakan haji mabrur. Harapan dan keinginan mendapatkan haji mabrur dapat dipahami, karena bukankah pengampunan dan surga Allah menjadi balasan dan imbalannya. Nabi Saw bersabda, Haji yang mabrur tak ada balasan lain kecuali surga. (HR. Bukhari dan Muslim).


Nilai Kemabruran Haji


KAUM Muslim yang sudah melaksanakan ibadah haji, tentunya kita harapkan menjadi haji mabrur. Doa ini penting kita panjatkan karena semua jamaah haji tentu mendambakan haji mabrur. Harapan dan keinginan mendapatkan haji mabrur dapat dipahami, karena bukankah pengampunan dan surga Allah menjadi balasan dan imbalannya. Nabi Saw bersabda, Haji yang mabrur tak ada balasan lain kecuali surga. (HR. Bukhari dan Muslim).

Mereka yang telah menggapai haji mabrur, tentu akan memancarkan berbagai kebaikan sosial dalam kehidupan kesehariannya, diantaranya, ialah memiliki peningkatan rasa persaudaraan di antara umat, karena saling berkenalan dan berkomunikasi dengan jamaah haji dari segala penjuru dunia, menumbuhkan rasa hormat menghormati dan mengalahkan rasa rendah diri, karena di sanalah jamaah haji akan menyadari kesamaan derajat di hadapan Allah SWT.

Selain itu, kemabruran ibadah haji juga ditandai oleh tanggung jawab dakwah Islamiyah yang tinggi, baik bil lisanil hal maupun billisanil maqal. Hal ini sesuai pesan Rasul saat haji Wada’, yaitu supaya setiap yang hadir wajib menyampaikan ajaran Islam kepada yang tidak hadir. Demikian pula dengan tanggung jawab dalam memelihara jiwa, harta, kehormatan dari orang lain, melindungi yang lemah baik manusia, heman dan tumbuh-tumbuhan.

Pendeknya, haji mabrur berarti haji yang baik atau mendatangkan kebaikan bagi pelakunya. Di kalangan ulama, diungkapkan kalau haji mabrur itu ialah haji yang tidak dicampuri atau dinodai oleh dosa-dosa. Ini mengandung makna bahwa berbagai kebaikan ibadah haji yang diperoleh oleh para hujjaj itu telah membentengi diri mereka dari dosa-dosa dan berbagai tindakan kejahatan.

Berkait dengan itu, Imam Nawawi, mengungkapkan bahwa haji mabrur adalah haji yang buah atau hasilnya tampak jelas bagi para pelakunya. Buah haji itu, tak lain menguatnya iman dan meningkatnya ibadah serta amal saleh dalam arti yang seluas-luasnya. Dengan demikian, maka keadaan hujjaj itu setelah menunaikan ibadah haji jauh lebih baik dari keadaan sebelumnya.

Memelihara dan melanggengkan nilai keimanan

Berdasarkan pola pikir yang diungkapkan Imam Nawawi tersebut, tentu dapat dipahami bahwa memperoleh haji mabrur merupakan sesuatu yang sulit. Namun, sesungguhnya yang lebih sulit lagi dari itu adalah bagaimana mempertahankan, memelihara dan melanggengkan nilai-nilai kemabruran haji itu sepanjang hidup kita.

Oleh karena itu, kemabruran haji ini tentu perlu senantiasa dipelihara, karena kondisi batin seseorang tidaklah tetap. Tapi sangat dipengaruhi oleh kondisi lingkungan sekitarnya. Tepatnya, suatu saat kadar iman tinggi, di lain waktu kadar iman menjadi menurun.

Ketinggian dari nilai iman ini, tentu banyak tantangan untuk mempertahankannya dalam kehidupan manusia. Lebih-lebih saat ini, berbagai serbuan media dan informasi banyak yang dapat melemahkan kekuatan iman seseorang. Artinya derajat dan tingkatan iman setiap orang berbeda-beda. Jelasnya, fluktuasi iman seseorang itu akan terjadi setiap saat.

Kondisi seperti itulah yang banyak kita lupakan. Di sinilah sebenarnya perlunya upaya memperbaharui keimanan kita setiap saat. Memperbaharui keimanan (Tajdidul Iman), diartikan sebagai bentuk kompensasi kita ---usaha untuk mempertahankan kestabilan iman--- dan mengontrol kadar iman yang kita miliki serta meningkatkan kualitas imannya.

Untuk mencapai kondisi iman yang relatif stabil itu, memang bukan sesuatu yang mudah. Walau demikian, bagi Allah tentu tidak ada yang tidak mungkin, kalau cinta-Nya telah bersemayam pada diri kita. Setidaknya ada empat usaha yang dapat membangkitkan/melanggengkan nilai keimanan seseorang (terutama setelah menggapai haji mabrur), sehingga Tajdidul Iman tersebut menjadi terarah.

Pertama, melakukan tadabbur quran. Allah dalam Alqur’an menyebutkan apakah mereka merenungkan Quran? (QS. 4: 82). Lalu, Allah juga berfirman (yang artinya) : “Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al-qur’an ataukah hati mereka terkunci.” (QS. 47: 24). Dari perilaku tadabbur quran ini, maka pikiran kita akan selalu merenungkan, mengkaji dan mengaplikasikan isinya, sehingga iman kita terhadap-Nya akan selalu terkontrol pada ketentuan-Nya.

Kedua, melakukan tafakur alam. Allah berfirman dalam surat Ali Imran: 190-191, yang artinya: “Sesungguhnya tentang kejadian langit dan bumi, dan pergantian malam dan siang menjadi tanda (atas kekuasaan Allah) bagi orang-orang berakal. (Yaitu) orang-orang yang mengingat Allah ketika berdiri, duduk dan waktu berbaring; dan mereka memikirkan kejadian langit dan bumi, (sambil berkata): Ya Tuhan kami, bukanlah Engkau jadikan ini dengan percuma (sia-sia), Mahasuci Engkau, maka peliharakanlah kami dari siksa neraka.”

Kalau kita perhatikan, ternyata ayat tersebut diakhiri dengan doa untuk kemenagan iman, mengalahkan kekafiran, dan diakhiri pula dengan ramalan tentang kemenangan akhir. Di sini dinyatakan pula bahwa kaum mukmin bukanlah orang pertapa yang menyingkir ke tempat sunyi untuk berdzikir kepada Allah, dan bukan pula orang yang hanya berusaha menaklukan alam, tanpa berpikir tentang Tuhan dan Penciptaan alam semesta. Sebaliknya, kaum mukmin dilukiskan sebagai orang yang mengingat-ingat Allah di tengah-tengah kesibukan mereka dalam urusan duniawi ---sambil berdiri, duduk dan berbaring---.

Dengan demikian, mereka menyadari sepenuhnya akan adanya Tuhan dimanapun dan dalam keadaan bagaimanapun. Sebaliknya, mereka berusaha menaklukkan alam dengan sepenuh kesadaran bahwa tak ada barang yang diciptakan itu terdapat tujuan-tujuan tertentu. Itulah tujuan utama yang digariskan oleh Islam bagi para pengikutnya, yaitu menaklukan diri sendiri dengan jalan berdzikir kepada Allah, dan menaklukan alam dengan jalan menuntut ilmu pengetahuan (Muhammad Ali: 1995). Melalui usaha ini, jelas-jelas akan meningkatkan keimanan bagi mereka yang melakukannya.

Ketiga, melakukan amal shalih. Ada tidaknya atau tinggi rendahnya iman seseorang akan dapat dilihat dari perilakunya. Artinya perilaku seseorang akan menunjukkan tingkat imannya. Dalam hal ini, perilaku yang dapat membangkitkan nilai keimanan adalah berupa memperbanyak amal shalih.

Secara demikian, orang yang mengerjakan amal shalih adalah orang beriman yang mengaktualisasikan keimananya berupa amal perbuatan yang jelas-jelas dilandasi iman. Iman dan amal perbuatan itu, tidak bisa dipisahkan. Sebab, iman menuntut adanya amal dan amal merupakan konsekuensi mutlak dari sebuah keimanan. Sebaliknya amal menuntut adanya iman, karena amal perbuatan tanpa dilandasi keimanan kepada Allah adalah sia-sia belaka (tidak berguna). Oleh karena itu, besar kecilnya kadar keimanan seseorang akan banyak ditentukan oleh jenis, kualitas dan kontinuitas amal yang dilakukannya.

Keempat, melakukan proteksi terhadap perbuatan dosa. Untuk menjadikan hati bening berisi keimanan, maka lakukanlah perbuatan-perbuatan yang terhindar dari perilaku maksiat atau mendatangkan dosa. Hal ini didasarkan bahwa perbuatan dosa itu bisa menyebabkan hati kita menjadi kotor. Kondisi hati yang kotor, tentu dapat menyebabkan tertutupnya iman dan bahkan akan menenggelamkan keimanan seseorang.

Aktivitas Tajdidul Iman dengan cara membangkitkan nilai keimanan seperti disebut di atas, paling tidak ia merupakan langkah yang tepat dalam menggapai posisi iman sejati. Lebih-lebih jalan menuju iman seperti disebut di awal, benar-benar telah dipenuhi dan diaplikasikan dalam hidup keseharian.

Akhirnya, kita hanya memohon kepada Allah SWT, semoga kita diberi ilmu dan kemampuan usaha berbuat Tajdidul Iman pada setiap saat, lebih-lebih bagi mereka yang telah memperoleh predikat haji mabrur. Sehingga diharapkan aktivitas ini akan meningkatkan iman kita menuju terwujudnya iman sejati yang sesuai dengan harapan-Nya. Amin.***

Bagaimana menurut Anda?

Arda Dinata, pendiri Majelis Inspirasi Alquran dan Realitas Alam/ MIQRA Indonesia, www.miqraindonesia.com 
KAUM Muslim yang sudah melaksanakan ibadah haji, tentunya kita harapkan menjadi haji mabrur. Doa ini penting kita panjatkan karena semua jamaah haji tentu mendambakan haji mabrur. Harapan dan keinginan mendapatkan haji mabrur dapat dipahami, karena bukankah pengampunan dan surga Allah menjadi balasan dan imbalannya. Nabi Saw bersabda, Haji yang mabrur tak ada balasan lain kecuali surga. (HR. Bukhari dan Muslim).


Nilai Kemabruran Haji


KAUM Muslim yang sudah melaksanakan ibadah haji, tentunya kita harapkan menjadi haji mabrur. Doa ini penting kita panjatkan karena semua jamaah haji tentu mendambakan haji mabrur. Harapan dan keinginan mendapatkan haji mabrur dapat dipahami, karena bukankah pengampunan dan surga Allah menjadi balasan dan imbalannya. Nabi Saw bersabda, Haji yang mabrur tak ada balasan lain kecuali surga. (HR. Bukhari dan Muslim).

Mereka yang telah menggapai haji mabrur, tentu akan memancarkan berbagai kebaikan sosial dalam kehidupan kesehariannya, diantaranya, ialah memiliki peningkatan rasa persaudaraan di antara umat, karena saling berkenalan dan berkomunikasi dengan jamaah haji dari segala penjuru dunia, menumbuhkan rasa hormat menghormati dan mengalahkan rasa rendah diri, karena di sanalah jamaah haji akan menyadari kesamaan derajat di hadapan Allah SWT.

Selain itu, kemabruran ibadah haji juga ditandai oleh tanggung jawab dakwah Islamiyah yang tinggi, baik bil lisanil hal maupun billisanil maqal. Hal ini sesuai pesan Rasul saat haji Wada’, yaitu supaya setiap yang hadir wajib menyampaikan ajaran Islam kepada yang tidak hadir. Demikian pula dengan tanggung jawab dalam memelihara jiwa, harta, kehormatan dari orang lain, melindungi yang lemah baik manusia, heman dan tumbuh-tumbuhan.

Pendeknya, haji mabrur berarti haji yang baik atau mendatangkan kebaikan bagi pelakunya. Di kalangan ulama, diungkapkan kalau haji mabrur itu ialah haji yang tidak dicampuri atau dinodai oleh dosa-dosa. Ini mengandung makna bahwa berbagai kebaikan ibadah haji yang diperoleh oleh para hujjaj itu telah membentengi diri mereka dari dosa-dosa dan berbagai tindakan kejahatan.

Berkait dengan itu, Imam Nawawi, mengungkapkan bahwa haji mabrur adalah haji yang buah atau hasilnya tampak jelas bagi para pelakunya. Buah haji itu, tak lain menguatnya iman dan meningkatnya ibadah serta amal saleh dalam arti yang seluas-luasnya. Dengan demikian, maka keadaan hujjaj itu setelah menunaikan ibadah haji jauh lebih baik dari keadaan sebelumnya.

Memelihara dan melanggengkan nilai keimanan

Berdasarkan pola pikir yang diungkapkan Imam Nawawi tersebut, tentu dapat dipahami bahwa memperoleh haji mabrur merupakan sesuatu yang sulit. Namun, sesungguhnya yang lebih sulit lagi dari itu adalah bagaimana mempertahankan, memelihara dan melanggengkan nilai-nilai kemabruran haji itu sepanjang hidup kita.

Oleh karena itu, kemabruran haji ini tentu perlu senantiasa dipelihara, karena kondisi batin seseorang tidaklah tetap. Tapi sangat dipengaruhi oleh kondisi lingkungan sekitarnya. Tepatnya, suatu saat kadar iman tinggi, di lain waktu kadar iman menjadi menurun.

Ketinggian dari nilai iman ini, tentu banyak tantangan untuk mempertahankannya dalam kehidupan manusia. Lebih-lebih saat ini, berbagai serbuan media dan informasi banyak yang dapat melemahkan kekuatan iman seseorang. Artinya derajat dan tingkatan iman setiap orang berbeda-beda. Jelasnya, fluktuasi iman seseorang itu akan terjadi setiap saat.

Kondisi seperti itulah yang banyak kita lupakan. Di sinilah sebenarnya perlunya upaya memperbaharui keimanan kita setiap saat. Memperbaharui keimanan (Tajdidul Iman), diartikan sebagai bentuk kompensasi kita ---usaha untuk mempertahankan kestabilan iman--- dan mengontrol kadar iman yang kita miliki serta meningkatkan kualitas imannya.

Untuk mencapai kondisi iman yang relatif stabil itu, memang bukan sesuatu yang mudah. Walau demikian, bagi Allah tentu tidak ada yang tidak mungkin, kalau cinta-Nya telah bersemayam pada diri kita. Setidaknya ada empat usaha yang dapat membangkitkan/melanggengkan nilai keimanan seseorang (terutama setelah menggapai haji mabrur), sehingga Tajdidul Iman tersebut menjadi terarah.

Pertama, melakukan tadabbur quran. Allah dalam Alqur’an menyebutkan apakah mereka merenungkan Quran? (QS. 4: 82). Lalu, Allah juga berfirman (yang artinya) : “Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al-qur’an ataukah hati mereka terkunci.” (QS. 47: 24). Dari perilaku tadabbur quran ini, maka pikiran kita akan selalu merenungkan, mengkaji dan mengaplikasikan isinya, sehingga iman kita terhadap-Nya akan selalu terkontrol pada ketentuan-Nya.

Kedua, melakukan tafakur alam. Allah berfirman dalam surat Ali Imran: 190-191, yang artinya: “Sesungguhnya tentang kejadian langit dan bumi, dan pergantian malam dan siang menjadi tanda (atas kekuasaan Allah) bagi orang-orang berakal. (Yaitu) orang-orang yang mengingat Allah ketika berdiri, duduk dan waktu berbaring; dan mereka memikirkan kejadian langit dan bumi, (sambil berkata): Ya Tuhan kami, bukanlah Engkau jadikan ini dengan percuma (sia-sia), Mahasuci Engkau, maka peliharakanlah kami dari siksa neraka.”

Kalau kita perhatikan, ternyata ayat tersebut diakhiri dengan doa untuk kemenagan iman, mengalahkan kekafiran, dan diakhiri pula dengan ramalan tentang kemenangan akhir. Di sini dinyatakan pula bahwa kaum mukmin bukanlah orang pertapa yang menyingkir ke tempat sunyi untuk berdzikir kepada Allah, dan bukan pula orang yang hanya berusaha menaklukan alam, tanpa berpikir tentang Tuhan dan Penciptaan alam semesta. Sebaliknya, kaum mukmin dilukiskan sebagai orang yang mengingat-ingat Allah di tengah-tengah kesibukan mereka dalam urusan duniawi ---sambil berdiri, duduk dan berbaring---.

Dengan demikian, mereka menyadari sepenuhnya akan adanya Tuhan dimanapun dan dalam keadaan bagaimanapun. Sebaliknya, mereka berusaha menaklukkan alam dengan sepenuh kesadaran bahwa tak ada barang yang diciptakan itu terdapat tujuan-tujuan tertentu. Itulah tujuan utama yang digariskan oleh Islam bagi para pengikutnya, yaitu menaklukan diri sendiri dengan jalan berdzikir kepada Allah, dan menaklukan alam dengan jalan menuntut ilmu pengetahuan (Muhammad Ali: 1995). Melalui usaha ini, jelas-jelas akan meningkatkan keimanan bagi mereka yang melakukannya.

Ketiga, melakukan amal shalih. Ada tidaknya atau tinggi rendahnya iman seseorang akan dapat dilihat dari perilakunya. Artinya perilaku seseorang akan menunjukkan tingkat imannya. Dalam hal ini, perilaku yang dapat membangkitkan nilai keimanan adalah berupa memperbanyak amal shalih.

Secara demikian, orang yang mengerjakan amal shalih adalah orang beriman yang mengaktualisasikan keimananya berupa amal perbuatan yang jelas-jelas dilandasi iman. Iman dan amal perbuatan itu, tidak bisa dipisahkan. Sebab, iman menuntut adanya amal dan amal merupakan konsekuensi mutlak dari sebuah keimanan. Sebaliknya amal menuntut adanya iman, karena amal perbuatan tanpa dilandasi keimanan kepada Allah adalah sia-sia belaka (tidak berguna). Oleh karena itu, besar kecilnya kadar keimanan seseorang akan banyak ditentukan oleh jenis, kualitas dan kontinuitas amal yang dilakukannya.

Keempat, melakukan proteksi terhadap perbuatan dosa. Untuk menjadikan hati bening berisi keimanan, maka lakukanlah perbuatan-perbuatan yang terhindar dari perilaku maksiat atau mendatangkan dosa. Hal ini didasarkan bahwa perbuatan dosa itu bisa menyebabkan hati kita menjadi kotor. Kondisi hati yang kotor, tentu dapat menyebabkan tertutupnya iman dan bahkan akan menenggelamkan keimanan seseorang.

Aktivitas Tajdidul Iman dengan cara membangkitkan nilai keimanan seperti disebut di atas, paling tidak ia merupakan langkah yang tepat dalam menggapai posisi iman sejati. Lebih-lebih jalan menuju iman seperti disebut di awal, benar-benar telah dipenuhi dan diaplikasikan dalam hidup keseharian.

Akhirnya, kita hanya memohon kepada Allah SWT, semoga kita diberi ilmu dan kemampuan usaha berbuat Tajdidul Iman pada setiap saat, lebih-lebih bagi mereka yang telah memperoleh predikat haji mabrur. Sehingga diharapkan aktivitas ini akan meningkatkan iman kita menuju terwujudnya iman sejati yang sesuai dengan harapan-Nya. Amin.***

Bagaimana menurut Anda?

Arda Dinata, pendiri Majelis Inspirasi Alquran dan Realitas Alam/ MIQRA Indonesia, www.miqraindonesia.com 
KAUM Muslim yang sudah melaksanakan ibadah haji, tentunya kita harapkan menjadi haji mabrur. Doa ini penting kita panjatkan karena semua jamaah haji tentu mendambakan haji mabrur. Harapan dan keinginan mendapatkan haji mabrur dapat dipahami, karena bukankah pengampunan dan surga Allah menjadi balasan dan imbalannya. Nabi Saw bersabda, Haji yang mabrur tak ada balasan lain kecuali surga. (HR. Bukhari dan Muslim).


Nilai Kemabruran Haji


KAUM Muslim yang sudah melaksanakan ibadah haji, tentunya kita harapkan menjadi haji mabrur. Doa ini penting kita panjatkan karena semua jamaah haji tentu mendambakan haji mabrur. Harapan dan keinginan mendapatkan haji mabrur dapat dipahami, karena bukankah pengampunan dan surga Allah menjadi balasan dan imbalannya. Nabi Saw bersabda, Haji yang mabrur tak ada balasan lain kecuali surga. (HR. Bukhari dan Muslim).

Mereka yang telah menggapai haji mabrur, tentu akan memancarkan berbagai kebaikan sosial dalam kehidupan kesehariannya, diantaranya, ialah memiliki peningkatan rasa persaudaraan di antara umat, karena saling berkenalan dan berkomunikasi dengan jamaah haji dari segala penjuru dunia, menumbuhkan rasa hormat menghormati dan mengalahkan rasa rendah diri, karena di sanalah jamaah haji akan menyadari kesamaan derajat di hadapan Allah SWT.

Selain itu, kemabruran ibadah haji juga ditandai oleh tanggung jawab dakwah Islamiyah yang tinggi, baik bil lisanil hal maupun billisanil maqal. Hal ini sesuai pesan Rasul saat haji Wada’, yaitu supaya setiap yang hadir wajib menyampaikan ajaran Islam kepada yang tidak hadir. Demikian pula dengan tanggung jawab dalam memelihara jiwa, harta, kehormatan dari orang lain, melindungi yang lemah baik manusia, heman dan tumbuh-tumbuhan.

Pendeknya, haji mabrur berarti haji yang baik atau mendatangkan kebaikan bagi pelakunya. Di kalangan ulama, diungkapkan kalau haji mabrur itu ialah haji yang tidak dicampuri atau dinodai oleh dosa-dosa. Ini mengandung makna bahwa berbagai kebaikan ibadah haji yang diperoleh oleh para hujjaj itu telah membentengi diri mereka dari dosa-dosa dan berbagai tindakan kejahatan.

Berkait dengan itu, Imam Nawawi, mengungkapkan bahwa haji mabrur adalah haji yang buah atau hasilnya tampak jelas bagi para pelakunya. Buah haji itu, tak lain menguatnya iman dan meningkatnya ibadah serta amal saleh dalam arti yang seluas-luasnya. Dengan demikian, maka keadaan hujjaj itu setelah menunaikan ibadah haji jauh lebih baik dari keadaan sebelumnya.

Memelihara dan melanggengkan nilai keimanan

Berdasarkan pola pikir yang diungkapkan Imam Nawawi tersebut, tentu dapat dipahami bahwa memperoleh haji mabrur merupakan sesuatu yang sulit. Namun, sesungguhnya yang lebih sulit lagi dari itu adalah bagaimana mempertahankan, memelihara dan melanggengkan nilai-nilai kemabruran haji itu sepanjang hidup kita.

Oleh karena itu, kemabruran haji ini tentu perlu senantiasa dipelihara, karena kondisi batin seseorang tidaklah tetap. Tapi sangat dipengaruhi oleh kondisi lingkungan sekitarnya. Tepatnya, suatu saat kadar iman tinggi, di lain waktu kadar iman menjadi menurun.

Ketinggian dari nilai iman ini, tentu banyak tantangan untuk mempertahankannya dalam kehidupan manusia. Lebih-lebih saat ini, berbagai serbuan media dan informasi banyak yang dapat melemahkan kekuatan iman seseorang. Artinya derajat dan tingkatan iman setiap orang berbeda-beda. Jelasnya, fluktuasi iman seseorang itu akan terjadi setiap saat.

Kondisi seperti itulah yang banyak kita lupakan. Di sinilah sebenarnya perlunya upaya memperbaharui keimanan kita setiap saat. Memperbaharui keimanan (Tajdidul Iman), diartikan sebagai bentuk kompensasi kita ---usaha untuk mempertahankan kestabilan iman--- dan mengontrol kadar iman yang kita miliki serta meningkatkan kualitas imannya.

Untuk mencapai kondisi iman yang relatif stabil itu, memang bukan sesuatu yang mudah. Walau demikian, bagi Allah tentu tidak ada yang tidak mungkin, kalau cinta-Nya telah bersemayam pada diri kita. Setidaknya ada empat usaha yang dapat membangkitkan/melanggengkan nilai keimanan seseorang (terutama setelah menggapai haji mabrur), sehingga Tajdidul Iman tersebut menjadi terarah.

Pertama, melakukan tadabbur quran. Allah dalam Alqur’an menyebutkan apakah mereka merenungkan Quran? (QS. 4: 82). Lalu, Allah juga berfirman (yang artinya) : “Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al-qur’an ataukah hati mereka terkunci.” (QS. 47: 24). Dari perilaku tadabbur quran ini, maka pikiran kita akan selalu merenungkan, mengkaji dan mengaplikasikan isinya, sehingga iman kita terhadap-Nya akan selalu terkontrol pada ketentuan-Nya.

Kedua, melakukan tafakur alam. Allah berfirman dalam surat Ali Imran: 190-191, yang artinya: “Sesungguhnya tentang kejadian langit dan bumi, dan pergantian malam dan siang menjadi tanda (atas kekuasaan Allah) bagi orang-orang berakal. (Yaitu) orang-orang yang mengingat Allah ketika berdiri, duduk dan waktu berbaring; dan mereka memikirkan kejadian langit dan bumi, (sambil berkata): Ya Tuhan kami, bukanlah Engkau jadikan ini dengan percuma (sia-sia), Mahasuci Engkau, maka peliharakanlah kami dari siksa neraka.”

Kalau kita perhatikan, ternyata ayat tersebut diakhiri dengan doa untuk kemenagan iman, mengalahkan kekafiran, dan diakhiri pula dengan ramalan tentang kemenangan akhir. Di sini dinyatakan pula bahwa kaum mukmin bukanlah orang pertapa yang menyingkir ke tempat sunyi untuk berdzikir kepada Allah, dan bukan pula orang yang hanya berusaha menaklukan alam, tanpa berpikir tentang Tuhan dan Penciptaan alam semesta. Sebaliknya, kaum mukmin dilukiskan sebagai orang yang mengingat-ingat Allah di tengah-tengah kesibukan mereka dalam urusan duniawi ---sambil berdiri, duduk dan berbaring---.

Dengan demikian, mereka menyadari sepenuhnya akan adanya Tuhan dimanapun dan dalam keadaan bagaimanapun. Sebaliknya, mereka berusaha menaklukkan alam dengan sepenuh kesadaran bahwa tak ada barang yang diciptakan itu terdapat tujuan-tujuan tertentu. Itulah tujuan utama yang digariskan oleh Islam bagi para pengikutnya, yaitu menaklukan diri sendiri dengan jalan berdzikir kepada Allah, dan menaklukan alam dengan jalan menuntut ilmu pengetahuan (Muhammad Ali: 1995). Melalui usaha ini, jelas-jelas akan meningkatkan keimanan bagi mereka yang melakukannya.

Ketiga, melakukan amal shalih. Ada tidaknya atau tinggi rendahnya iman seseorang akan dapat dilihat dari perilakunya. Artinya perilaku seseorang akan menunjukkan tingkat imannya. Dalam hal ini, perilaku yang dapat membangkitkan nilai keimanan adalah berupa memperbanyak amal shalih.

Secara demikian, orang yang mengerjakan amal shalih adalah orang beriman yang mengaktualisasikan keimananya berupa amal perbuatan yang jelas-jelas dilandasi iman. Iman dan amal perbuatan itu, tidak bisa dipisahkan. Sebab, iman menuntut adanya amal dan amal merupakan konsekuensi mutlak dari sebuah keimanan. Sebaliknya amal menuntut adanya iman, karena amal perbuatan tanpa dilandasi keimanan kepada Allah adalah sia-sia belaka (tidak berguna). Oleh karena itu, besar kecilnya kadar keimanan seseorang akan banyak ditentukan oleh jenis, kualitas dan kontinuitas amal yang dilakukannya.

Keempat, melakukan proteksi terhadap perbuatan dosa. Untuk menjadikan hati bening berisi keimanan, maka lakukanlah perbuatan-perbuatan yang terhindar dari perilaku maksiat atau mendatangkan dosa. Hal ini didasarkan bahwa perbuatan dosa itu bisa menyebabkan hati kita menjadi kotor. Kondisi hati yang kotor, tentu dapat menyebabkan tertutupnya iman dan bahkan akan menenggelamkan keimanan seseorang.

Aktivitas Tajdidul Iman dengan cara membangkitkan nilai keimanan seperti disebut di atas, paling tidak ia merupakan langkah yang tepat dalam menggapai posisi iman sejati. Lebih-lebih jalan menuju iman seperti disebut di awal, benar-benar telah dipenuhi dan diaplikasikan dalam hidup keseharian.

Akhirnya, kita hanya memohon kepada Allah SWT, semoga kita diberi ilmu dan kemampuan usaha berbuat Tajdidul Iman pada setiap saat, lebih-lebih bagi mereka yang telah memperoleh predikat haji mabrur. Sehingga diharapkan aktivitas ini akan meningkatkan iman kita menuju terwujudnya iman sejati yang sesuai dengan harapan-Nya. Amin.***

Bagaimana menurut Anda?

Arda Dinata, pendiri Majelis Inspirasi Alquran dan Realitas Alam/ MIQRA Indonesia, www.miqraindonesia.com 
KAUM Muslim yang sudah melaksanakan ibadah haji, tentunya kita harapkan menjadi haji mabrur. Doa ini penting kita panjatkan karena semua jamaah haji tentu mendambakan haji mabrur. Harapan dan keinginan mendapatkan haji mabrur dapat dipahami, karena bukankah pengampunan dan surga Allah menjadi balasan dan imbalannya. Nabi Saw bersabda, Haji yang mabrur tak ada balasan lain kecuali surga. (HR. Bukhari dan Muslim).


Nilai Kemabruran Haji


KAUM Muslim yang sudah melaksanakan ibadah haji, tentunya kita harapkan menjadi haji mabrur. Doa ini penting kita panjatkan karena semua jamaah haji tentu mendambakan haji mabrur. Harapan dan keinginan mendapatkan haji mabrur dapat dipahami, karena bukankah pengampunan dan surga Allah menjadi balasan dan imbalannya. Nabi Saw bersabda, Haji yang mabrur tak ada balasan lain kecuali surga. (HR. Bukhari dan Muslim).

Mereka yang telah menggapai haji mabrur, tentu akan memancarkan berbagai kebaikan sosial dalam kehidupan kesehariannya, diantaranya, ialah memiliki peningkatan rasa persaudaraan di antara umat, karena saling berkenalan dan berkomunikasi dengan jamaah haji dari segala penjuru dunia, menumbuhkan rasa hormat menghormati dan mengalahkan rasa rendah diri, karena di sanalah jamaah haji akan menyadari kesamaan derajat di hadapan Allah SWT.

Selain itu, kemabruran ibadah haji juga ditandai oleh tanggung jawab dakwah Islamiyah yang tinggi, baik bil lisanil hal maupun billisanil maqal. Hal ini sesuai pesan Rasul saat haji Wada’, yaitu supaya setiap yang hadir wajib menyampaikan ajaran Islam kepada yang tidak hadir. Demikian pula dengan tanggung jawab dalam memelihara jiwa, harta, kehormatan dari orang lain, melindungi yang lemah baik manusia, heman dan tumbuh-tumbuhan.

Pendeknya, haji mabrur berarti haji yang baik atau mendatangkan kebaikan bagi pelakunya. Di kalangan ulama, diungkapkan kalau haji mabrur itu ialah haji yang tidak dicampuri atau dinodai oleh dosa-dosa. Ini mengandung makna bahwa berbagai kebaikan ibadah haji yang diperoleh oleh para hujjaj itu telah membentengi diri mereka dari dosa-dosa dan berbagai tindakan kejahatan.

Berkait dengan itu, Imam Nawawi, mengungkapkan bahwa haji mabrur adalah haji yang buah atau hasilnya tampak jelas bagi para pelakunya. Buah haji itu, tak lain menguatnya iman dan meningkatnya ibadah serta amal saleh dalam arti yang seluas-luasnya. Dengan demikian, maka keadaan hujjaj itu setelah menunaikan ibadah haji jauh lebih baik dari keadaan sebelumnya.

Memelihara dan melanggengkan nilai keimanan

Berdasarkan pola pikir yang diungkapkan Imam Nawawi tersebut, tentu dapat dipahami bahwa memperoleh haji mabrur merupakan sesuatu yang sulit. Namun, sesungguhnya yang lebih sulit lagi dari itu adalah bagaimana mempertahankan, memelihara dan melanggengkan nilai-nilai kemabruran haji itu sepanjang hidup kita.

Oleh karena itu, kemabruran haji ini tentu perlu senantiasa dipelihara, karena kondisi batin seseorang tidaklah tetap. Tapi sangat dipengaruhi oleh kondisi lingkungan sekitarnya. Tepatnya, suatu saat kadar iman tinggi, di lain waktu kadar iman menjadi menurun.

Ketinggian dari nilai iman ini, tentu banyak tantangan untuk mempertahankannya dalam kehidupan manusia. Lebih-lebih saat ini, berbagai serbuan media dan informasi banyak yang dapat melemahkan kekuatan iman seseorang. Artinya derajat dan tingkatan iman setiap orang berbeda-beda. Jelasnya, fluktuasi iman seseorang itu akan terjadi setiap saat.

Kondisi seperti itulah yang banyak kita lupakan. Di sinilah sebenarnya perlunya upaya memperbaharui keimanan kita setiap saat. Memperbaharui keimanan (Tajdidul Iman), diartikan sebagai bentuk kompensasi kita ---usaha untuk mempertahankan kestabilan iman--- dan mengontrol kadar iman yang kita miliki serta meningkatkan kualitas imannya.

Untuk mencapai kondisi iman yang relatif stabil itu, memang bukan sesuatu yang mudah. Walau demikian, bagi Allah tentu tidak ada yang tidak mungkin, kalau cinta-Nya telah bersemayam pada diri kita. Setidaknya ada empat usaha yang dapat membangkitkan/melanggengkan nilai keimanan seseorang (terutama setelah menggapai haji mabrur), sehingga Tajdidul Iman tersebut menjadi terarah.

Pertama, melakukan tadabbur quran. Allah dalam Alqur’an menyebutkan apakah mereka merenungkan Quran? (QS. 4: 82). Lalu, Allah juga berfirman (yang artinya) : “Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al-qur’an ataukah hati mereka terkunci.” (QS. 47: 24). Dari perilaku tadabbur quran ini, maka pikiran kita akan selalu merenungkan, mengkaji dan mengaplikasikan isinya, sehingga iman kita terhadap-Nya akan selalu terkontrol pada ketentuan-Nya.

Kedua, melakukan tafakur alam. Allah berfirman dalam surat Ali Imran: 190-191, yang artinya: “Sesungguhnya tentang kejadian langit dan bumi, dan pergantian malam dan siang menjadi tanda (atas kekuasaan Allah) bagi orang-orang berakal. (Yaitu) orang-orang yang mengingat Allah ketika berdiri, duduk dan waktu berbaring; dan mereka memikirkan kejadian langit dan bumi, (sambil berkata): Ya Tuhan kami, bukanlah Engkau jadikan ini dengan percuma (sia-sia), Mahasuci Engkau, maka peliharakanlah kami dari siksa neraka.”

Kalau kita perhatikan, ternyata ayat tersebut diakhiri dengan doa untuk kemenagan iman, mengalahkan kekafiran, dan diakhiri pula dengan ramalan tentang kemenangan akhir. Di sini dinyatakan pula bahwa kaum mukmin bukanlah orang pertapa yang menyingkir ke tempat sunyi untuk berdzikir kepada Allah, dan bukan pula orang yang hanya berusaha menaklukan alam, tanpa berpikir tentang Tuhan dan Penciptaan alam semesta. Sebaliknya, kaum mukmin dilukiskan sebagai orang yang mengingat-ingat Allah di tengah-tengah kesibukan mereka dalam urusan duniawi ---sambil berdiri, duduk dan berbaring---.

Dengan demikian, mereka menyadari sepenuhnya akan adanya Tuhan dimanapun dan dalam keadaan bagaimanapun. Sebaliknya, mereka berusaha menaklukkan alam dengan sepenuh kesadaran bahwa tak ada barang yang diciptakan itu terdapat tujuan-tujuan tertentu. Itulah tujuan utama yang digariskan oleh Islam bagi para pengikutnya, yaitu menaklukan diri sendiri dengan jalan berdzikir kepada Allah, dan menaklukan alam dengan jalan menuntut ilmu pengetahuan (Muhammad Ali: 1995). Melalui usaha ini, jelas-jelas akan meningkatkan keimanan bagi mereka yang melakukannya.

Ketiga, melakukan amal shalih. Ada tidaknya atau tinggi rendahnya iman seseorang akan dapat dilihat dari perilakunya. Artinya perilaku seseorang akan menunjukkan tingkat imannya. Dalam hal ini, perilaku yang dapat membangkitkan nilai keimanan adalah berupa memperbanyak amal shalih.

Secara demikian, orang yang mengerjakan amal shalih adalah orang beriman yang mengaktualisasikan keimananya berupa amal perbuatan yang jelas-jelas dilandasi iman. Iman dan amal perbuatan itu, tidak bisa dipisahkan. Sebab, iman menuntut adanya amal dan amal merupakan konsekuensi mutlak dari sebuah keimanan. Sebaliknya amal menuntut adanya iman, karena amal perbuatan tanpa dilandasi keimanan kepada Allah adalah sia-sia belaka (tidak berguna). Oleh karena itu, besar kecilnya kadar keimanan seseorang akan banyak ditentukan oleh jenis, kualitas dan kontinuitas amal yang dilakukannya.

Keempat, melakukan proteksi terhadap perbuatan dosa. Untuk menjadikan hati bening berisi keimanan, maka lakukanlah perbuatan-perbuatan yang terhindar dari perilaku maksiat atau mendatangkan dosa. Hal ini didasarkan bahwa perbuatan dosa itu bisa menyebabkan hati kita menjadi kotor. Kondisi hati yang kotor, tentu dapat menyebabkan tertutupnya iman dan bahkan akan menenggelamkan keimanan seseorang.

Aktivitas Tajdidul Iman dengan cara membangkitkan nilai keimanan seperti disebut di atas, paling tidak ia merupakan langkah yang tepat dalam menggapai posisi iman sejati. Lebih-lebih jalan menuju iman seperti disebut di awal, benar-benar telah dipenuhi dan diaplikasikan dalam hidup keseharian.

Akhirnya, kita hanya memohon kepada Allah SWT, semoga kita diberi ilmu dan kemampuan usaha berbuat Tajdidul Iman pada setiap saat, lebih-lebih bagi mereka yang telah memperoleh predikat haji mabrur. Sehingga diharapkan aktivitas ini akan meningkatkan iman kita menuju terwujudnya iman sejati yang sesuai dengan harapan-Nya. Amin.***

Bagaimana menurut Anda?

Arda Dinata, pendiri Majelis Inspirasi Alquran dan Realitas Alam/ MIQRA Indonesia, www.miqraindonesia.com 
KAUM Muslim yang sudah melaksanakan ibadah haji, tentunya kita harapkan menjadi haji mabrur. Doa ini penting kita panjatkan karena semua jamaah haji tentu mendambakan haji mabrur. Harapan dan keinginan mendapatkan haji mabrur dapat dipahami, karena bukankah pengampunan dan surga Allah menjadi balasan dan imbalannya. Nabi Saw bersabda, Haji yang mabrur tak ada balasan lain kecuali surga. (HR. Bukhari dan Muslim).


Nilai Kemabruran Haji


KAUM Muslim yang sudah melaksanakan ibadah haji, tentunya kita harapkan menjadi haji mabrur. Doa ini penting kita panjatkan karena semua jamaah haji tentu mendambakan haji mabrur. Harapan dan keinginan mendapatkan haji mabrur dapat dipahami, karena bukankah pengampunan dan surga Allah menjadi balasan dan imbalannya. Nabi Saw bersabda, Haji yang mabrur tak ada balasan lain kecuali surga. (HR. Bukhari dan Muslim).

Mereka yang telah menggapai haji mabrur, tentu akan memancarkan berbagai kebaikan sosial dalam kehidupan kesehariannya, diantaranya, ialah memiliki peningkatan rasa persaudaraan di antara umat, karena saling berkenalan dan berkomunikasi dengan jamaah haji dari segala penjuru dunia, menumbuhkan rasa hormat menghormati dan mengalahkan rasa rendah diri, karena di sanalah jamaah haji akan menyadari kesamaan derajat di hadapan Allah SWT.

Selain itu, kemabruran ibadah haji juga ditandai oleh tanggung jawab dakwah Islamiyah yang tinggi, baik bil lisanil hal maupun billisanil maqal. Hal ini sesuai pesan Rasul saat haji Wada’, yaitu supaya setiap yang hadir wajib menyampaikan ajaran Islam kepada yang tidak hadir. Demikian pula dengan tanggung jawab dalam memelihara jiwa, harta, kehormatan dari orang lain, melindungi yang lemah baik manusia, heman dan tumbuh-tumbuhan.

Pendeknya, haji mabrur berarti haji yang baik atau mendatangkan kebaikan bagi pelakunya. Di kalangan ulama, diungkapkan kalau haji mabrur itu ialah haji yang tidak dicampuri atau dinodai oleh dosa-dosa. Ini mengandung makna bahwa berbagai kebaikan ibadah haji yang diperoleh oleh para hujjaj itu telah membentengi diri mereka dari dosa-dosa dan berbagai tindakan kejahatan.

Berkait dengan itu, Imam Nawawi, mengungkapkan bahwa haji mabrur adalah haji yang buah atau hasilnya tampak jelas bagi para pelakunya. Buah haji itu, tak lain menguatnya iman dan meningkatnya ibadah serta amal saleh dalam arti yang seluas-luasnya. Dengan demikian, maka keadaan hujjaj itu setelah menunaikan ibadah haji jauh lebih baik dari keadaan sebelumnya.

Memelihara dan melanggengkan nilai keimanan

Berdasarkan pola pikir yang diungkapkan Imam Nawawi tersebut, tentu dapat dipahami bahwa memperoleh haji mabrur merupakan sesuatu yang sulit. Namun, sesungguhnya yang lebih sulit lagi dari itu adalah bagaimana mempertahankan, memelihara dan melanggengkan nilai-nilai kemabruran haji itu sepanjang hidup kita.

Oleh karena itu, kemabruran haji ini tentu perlu senantiasa dipelihara, karena kondisi batin seseorang tidaklah tetap. Tapi sangat dipengaruhi oleh kondisi lingkungan sekitarnya. Tepatnya, suatu saat kadar iman tinggi, di lain waktu kadar iman menjadi menurun.

Ketinggian dari nilai iman ini, tentu banyak tantangan untuk mempertahankannya dalam kehidupan manusia. Lebih-lebih saat ini, berbagai serbuan media dan informasi banyak yang dapat melemahkan kekuatan iman seseorang. Artinya derajat dan tingkatan iman setiap orang berbeda-beda. Jelasnya, fluktuasi iman seseorang itu akan terjadi setiap saat.

Kondisi seperti itulah yang banyak kita lupakan. Di sinilah sebenarnya perlunya upaya memperbaharui keimanan kita setiap saat. Memperbaharui keimanan (Tajdidul Iman), diartikan sebagai bentuk kompensasi kita ---usaha untuk mempertahankan kestabilan iman--- dan mengontrol kadar iman yang kita miliki serta meningkatkan kualitas imannya.

Untuk mencapai kondisi iman yang relatif stabil itu, memang bukan sesuatu yang mudah. Walau demikian, bagi Allah tentu tidak ada yang tidak mungkin, kalau cinta-Nya telah bersemayam pada diri kita. Setidaknya ada empat usaha yang dapat membangkitkan/melanggengkan nilai keimanan seseorang (terutama setelah menggapai haji mabrur), sehingga Tajdidul Iman tersebut menjadi terarah.

Pertama, melakukan tadabbur quran. Allah dalam Alqur’an menyebutkan apakah mereka merenungkan Quran? (QS. 4: 82). Lalu, Allah juga berfirman (yang artinya) : “Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al-qur’an ataukah hati mereka terkunci.” (QS. 47: 24). Dari perilaku tadabbur quran ini, maka pikiran kita akan selalu merenungkan, mengkaji dan mengaplikasikan isinya, sehingga iman kita terhadap-Nya akan selalu terkontrol pada ketentuan-Nya.

Kedua, melakukan tafakur alam. Allah berfirman dalam surat Ali Imran: 190-191, yang artinya: “Sesungguhnya tentang kejadian langit dan bumi, dan pergantian malam dan siang menjadi tanda (atas kekuasaan Allah) bagi orang-orang berakal. (Yaitu) orang-orang yang mengingat Allah ketika berdiri, duduk dan waktu berbaring; dan mereka memikirkan kejadian langit dan bumi, (sambil berkata): Ya Tuhan kami, bukanlah Engkau jadikan ini dengan percuma (sia-sia), Mahasuci Engkau, maka peliharakanlah kami dari siksa neraka.”

Kalau kita perhatikan, ternyata ayat tersebut diakhiri dengan doa untuk kemenagan iman, mengalahkan kekafiran, dan diakhiri pula dengan ramalan tentang kemenangan akhir. Di sini dinyatakan pula bahwa kaum mukmin bukanlah orang pertapa yang menyingkir ke tempat sunyi untuk berdzikir kepada Allah, dan bukan pula orang yang hanya berusaha menaklukan alam, tanpa berpikir tentang Tuhan dan Penciptaan alam semesta. Sebaliknya, kaum mukmin dilukiskan sebagai orang yang mengingat-ingat Allah di tengah-tengah kesibukan mereka dalam urusan duniawi ---sambil berdiri, duduk dan berbaring---.

Dengan demikian, mereka menyadari sepenuhnya akan adanya Tuhan dimanapun dan dalam keadaan bagaimanapun. Sebaliknya, mereka berusaha menaklukkan alam dengan sepenuh kesadaran bahwa tak ada barang yang diciptakan itu terdapat tujuan-tujuan tertentu. Itulah tujuan utama yang digariskan oleh Islam bagi para pengikutnya, yaitu menaklukan diri sendiri dengan jalan berdzikir kepada Allah, dan menaklukan alam dengan jalan menuntut ilmu pengetahuan (Muhammad Ali: 1995). Melalui usaha ini, jelas-jelas akan meningkatkan keimanan bagi mereka yang melakukannya.

Ketiga, melakukan amal shalih. Ada tidaknya atau tinggi rendahnya iman seseorang akan dapat dilihat dari perilakunya. Artinya perilaku seseorang akan menunjukkan tingkat imannya. Dalam hal ini, perilaku yang dapat membangkitkan nilai keimanan adalah berupa memperbanyak amal shalih.

Secara demikian, orang yang mengerjakan amal shalih adalah orang beriman yang mengaktualisasikan keimananya berupa amal perbuatan yang jelas-jelas dilandasi iman. Iman dan amal perbuatan itu, tidak bisa dipisahkan. Sebab, iman menuntut adanya amal dan amal merupakan konsekuensi mutlak dari sebuah keimanan. Sebaliknya amal menuntut adanya iman, karena amal perbuatan tanpa dilandasi keimanan kepada Allah adalah sia-sia belaka (tidak berguna). Oleh karena itu, besar kecilnya kadar keimanan seseorang akan banyak ditentukan oleh jenis, kualitas dan kontinuitas amal yang dilakukannya.

Keempat, melakukan proteksi terhadap perbuatan dosa. Untuk menjadikan hati bening berisi keimanan, maka lakukanlah perbuatan-perbuatan yang terhindar dari perilaku maksiat atau mendatangkan dosa. Hal ini didasarkan bahwa perbuatan dosa itu bisa menyebabkan hati kita menjadi kotor. Kondisi hati yang kotor, tentu dapat menyebabkan tertutupnya iman dan bahkan akan menenggelamkan keimanan seseorang.

Aktivitas Tajdidul Iman dengan cara membangkitkan nilai keimanan seperti disebut di atas, paling tidak ia merupakan langkah yang tepat dalam menggapai posisi iman sejati. Lebih-lebih jalan menuju iman seperti disebut di awal, benar-benar telah dipenuhi dan diaplikasikan dalam hidup keseharian.

Akhirnya, kita hanya memohon kepada Allah SWT, semoga kita diberi ilmu dan kemampuan usaha berbuat Tajdidul Iman pada setiap saat, lebih-lebih bagi mereka yang telah memperoleh predikat haji mabrur. Sehingga diharapkan aktivitas ini akan meningkatkan iman kita menuju terwujudnya iman sejati yang sesuai dengan harapan-Nya. Amin.***

Bagaimana menurut Anda?

Arda Dinata, pendiri Majelis Inspirasi Alquran dan Realitas Alam/ MIQRA Indonesia, www.miqraindonesia.com 
KAUM Muslim yang sudah melaksanakan ibadah haji, tentunya kita harapkan menjadi haji mabrur. Doa ini penting kita panjatkan karena semua jamaah haji tentu mendambakan haji mabrur. Harapan dan keinginan mendapatkan haji mabrur dapat dipahami, karena bukankah pengampunan dan surga Allah menjadi balasan dan imbalannya. Nabi Saw bersabda, Haji yang mabrur tak ada balasan lain kecuali surga. (HR. Bukhari dan Muslim).


Nilai Kemabruran Haji


KAUM Muslim yang sudah melaksanakan ibadah haji, tentunya kita harapkan menjadi haji mabrur. Doa ini penting kita panjatkan karena semua jamaah haji tentu mendambakan haji mabrur. Harapan dan keinginan mendapatkan haji mabrur dapat dipahami, karena bukankah pengampunan dan surga Allah menjadi balasan dan imbalannya. Nabi Saw bersabda, Haji yang mabrur tak ada balasan lain kecuali surga. (HR. Bukhari dan Muslim).

Mereka yang telah menggapai haji mabrur, tentu akan memancarkan berbagai kebaikan sosial dalam kehidupan kesehariannya, diantaranya, ialah memiliki peningkatan rasa persaudaraan di antara umat, karena saling berkenalan dan berkomunikasi dengan jamaah haji dari segala penjuru dunia, menumbuhkan rasa hormat menghormati dan mengalahkan rasa rendah diri, karena di sanalah jamaah haji akan menyadari kesamaan derajat di hadapan Allah SWT.

Selain itu, kemabruran ibadah haji juga ditandai oleh tanggung jawab dakwah Islamiyah yang tinggi, baik bil lisanil hal maupun billisanil maqal. Hal ini sesuai pesan Rasul saat haji Wada’, yaitu supaya setiap yang hadir wajib menyampaikan ajaran Islam kepada yang tidak hadir. Demikian pula dengan tanggung jawab dalam memelihara jiwa, harta, kehormatan dari orang lain, melindungi yang lemah baik manusia, heman dan tumbuh-tumbuhan.

Pendeknya, haji mabrur berarti haji yang baik atau mendatangkan kebaikan bagi pelakunya. Di kalangan ulama, diungkapkan kalau haji mabrur itu ialah haji yang tidak dicampuri atau dinodai oleh dosa-dosa. Ini mengandung makna bahwa berbagai kebaikan ibadah haji yang diperoleh oleh para hujjaj itu telah membentengi diri mereka dari dosa-dosa dan berbagai tindakan kejahatan.

Berkait dengan itu, Imam Nawawi, mengungkapkan bahwa haji mabrur adalah haji yang buah atau hasilnya tampak jelas bagi para pelakunya. Buah haji itu, tak lain menguatnya iman dan meningkatnya ibadah serta amal saleh dalam arti yang seluas-luasnya. Dengan demikian, maka keadaan hujjaj itu setelah menunaikan ibadah haji jauh lebih baik dari keadaan sebelumnya.

Memelihara dan melanggengkan nilai keimanan

Berdasarkan pola pikir yang diungkapkan Imam Nawawi tersebut, tentu dapat dipahami bahwa memperoleh haji mabrur merupakan sesuatu yang sulit. Namun, sesungguhnya yang lebih sulit lagi dari itu adalah bagaimana mempertahankan, memelihara dan melanggengkan nilai-nilai kemabruran haji itu sepanjang hidup kita.

Oleh karena itu, kemabruran haji ini tentu perlu senantiasa dipelihara, karena kondisi batin seseorang tidaklah tetap. Tapi sangat dipengaruhi oleh kondisi lingkungan sekitarnya. Tepatnya, suatu saat kadar iman tinggi, di lain waktu kadar iman menjadi menurun.

Ketinggian dari nilai iman ini, tentu banyak tantangan untuk mempertahankannya dalam kehidupan manusia. Lebih-lebih saat ini, berbagai serbuan media dan informasi banyak yang dapat melemahkan kekuatan iman seseorang. Artinya derajat dan tingkatan iman setiap orang berbeda-beda. Jelasnya, fluktuasi iman seseorang itu akan terjadi setiap saat.

Kondisi seperti itulah yang banyak kita lupakan. Di sinilah sebenarnya perlunya upaya memperbaharui keimanan kita setiap saat. Memperbaharui keimanan (Tajdidul Iman), diartikan sebagai bentuk kompensasi kita ---usaha untuk mempertahankan kestabilan iman--- dan mengontrol kadar iman yang kita miliki serta meningkatkan kualitas imannya.

Untuk mencapai kondisi iman yang relatif stabil itu, memang bukan sesuatu yang mudah. Walau demikian, bagi Allah tentu tidak ada yang tidak mungkin, kalau cinta-Nya telah bersemayam pada diri kita. Setidaknya ada empat usaha yang dapat membangkitkan/melanggengkan nilai keimanan seseorang (terutama setelah menggapai haji mabrur), sehingga Tajdidul Iman tersebut menjadi terarah.

Pertama, melakukan tadabbur quran. Allah dalam Alqur’an menyebutkan apakah mereka merenungkan Quran? (QS. 4: 82). Lalu, Allah juga berfirman (yang artinya) : “Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al-qur’an ataukah hati mereka terkunci.” (QS. 47: 24). Dari perilaku tadabbur quran ini, maka pikiran kita akan selalu merenungkan, mengkaji dan mengaplikasikan isinya, sehingga iman kita terhadap-Nya akan selalu terkontrol pada ketentuan-Nya.

Kedua, melakukan tafakur alam. Allah berfirman dalam surat Ali Imran: 190-191, yang artinya: “Sesungguhnya tentang kejadian langit dan bumi, dan pergantian malam dan siang menjadi tanda (atas kekuasaan Allah) bagi orang-orang berakal. (Yaitu) orang-orang yang mengingat Allah ketika berdiri, duduk dan waktu berbaring; dan mereka memikirkan kejadian langit dan bumi, (sambil berkata): Ya Tuhan kami, bukanlah Engkau jadikan ini dengan percuma (sia-sia), Mahasuci Engkau, maka peliharakanlah kami dari siksa neraka.”

Kalau kita perhatikan, ternyata ayat tersebut diakhiri dengan doa untuk kemenagan iman, mengalahkan kekafiran, dan diakhiri pula dengan ramalan tentang kemenangan akhir. Di sini dinyatakan pula bahwa kaum mukmin bukanlah orang pertapa yang menyingkir ke tempat sunyi untuk berdzikir kepada Allah, dan bukan pula orang yang hanya berusaha menaklukan alam, tanpa berpikir tentang Tuhan dan Penciptaan alam semesta. Sebaliknya, kaum mukmin dilukiskan sebagai orang yang mengingat-ingat Allah di tengah-tengah kesibukan mereka dalam urusan duniawi ---sambil berdiri, duduk dan berbaring---.

Dengan demikian, mereka menyadari sepenuhnya akan adanya Tuhan dimanapun dan dalam keadaan bagaimanapun. Sebaliknya, mereka berusaha menaklukkan alam dengan sepenuh kesadaran bahwa tak ada barang yang diciptakan itu terdapat tujuan-tujuan tertentu. Itulah tujuan utama yang digariskan oleh Islam bagi para pengikutnya, yaitu menaklukan diri sendiri dengan jalan berdzikir kepada Allah, dan menaklukan alam dengan jalan menuntut ilmu pengetahuan (Muhammad Ali: 1995). Melalui usaha ini, jelas-jelas akan meningkatkan keimanan bagi mereka yang melakukannya.

Ketiga, melakukan amal shalih. Ada tidaknya atau tinggi rendahnya iman seseorang akan dapat dilihat dari perilakunya. Artinya perilaku seseorang akan menunjukkan tingkat imannya. Dalam hal ini, perilaku yang dapat membangkitkan nilai keimanan adalah berupa memperbanyak amal shalih.

Secara demikian, orang yang mengerjakan amal shalih adalah orang beriman yang mengaktualisasikan keimananya berupa amal perbuatan yang jelas-jelas dilandasi iman. Iman dan amal perbuatan itu, tidak bisa dipisahkan. Sebab, iman menuntut adanya amal dan amal merupakan konsekuensi mutlak dari sebuah keimanan. Sebaliknya amal menuntut adanya iman, karena amal perbuatan tanpa dilandasi keimanan kepada Allah adalah sia-sia belaka (tidak berguna). Oleh karena itu, besar kecilnya kadar keimanan seseorang akan banyak ditentukan oleh jenis, kualitas dan kontinuitas amal yang dilakukannya.

Keempat, melakukan proteksi terhadap perbuatan dosa. Untuk menjadikan hati bening berisi keimanan, maka lakukanlah perbuatan-perbuatan yang terhindar dari perilaku maksiat atau mendatangkan dosa. Hal ini didasarkan bahwa perbuatan dosa itu bisa menyebabkan hati kita menjadi kotor. Kondisi hati yang kotor, tentu dapat menyebabkan tertutupnya iman dan bahkan akan menenggelamkan keimanan seseorang.

Aktivitas Tajdidul Iman dengan cara membangkitkan nilai keimanan seperti disebut di atas, paling tidak ia merupakan langkah yang tepat dalam menggapai posisi iman sejati. Lebih-lebih jalan menuju iman seperti disebut di awal, benar-benar telah dipenuhi dan diaplikasikan dalam hidup keseharian.

Akhirnya, kita hanya memohon kepada Allah SWT, semoga kita diberi ilmu dan kemampuan usaha berbuat Tajdidul Iman pada setiap saat, lebih-lebih bagi mereka yang telah memperoleh predikat haji mabrur. Sehingga diharapkan aktivitas ini akan meningkatkan iman kita menuju terwujudnya iman sejati yang sesuai dengan harapan-Nya. Amin.***

Bagaimana menurut Anda?

Arda Dinata, pendiri Majelis Inspirasi Alquran dan Realitas Alam/ MIQRA Indonesia, www.miqraindonesia.com 
KAUM Muslim yang sudah melaksanakan ibadah haji, tentunya kita harapkan menjadi haji mabrur. Doa ini penting kita panjatkan karena semua jamaah haji tentu mendambakan haji mabrur. Harapan dan keinginan mendapatkan haji mabrur dapat dipahami, karena bukankah pengampunan dan surga Allah menjadi balasan dan imbalannya. Nabi Saw bersabda, Haji yang mabrur tak ada balasan lain kecuali surga. (HR. Bukhari dan Muslim).


Nilai Kemabruran Haji


KAUM Muslim yang sudah melaksanakan ibadah haji, tentunya kita harapkan menjadi haji mabrur. Doa ini penting kita panjatkan karena semua jamaah haji tentu mendambakan haji mabrur. Harapan dan keinginan mendapatkan haji mabrur dapat dipahami, karena bukankah pengampunan dan surga Allah menjadi balasan dan imbalannya. Nabi Saw bersabda, Haji yang mabrur tak ada balasan lain kecuali surga. (HR. Bukhari dan Muslim).

Mereka yang telah menggapai haji mabrur, tentu akan memancarkan berbagai kebaikan sosial dalam kehidupan kesehariannya, diantaranya, ialah memiliki peningkatan rasa persaudaraan di antara umat, karena saling berkenalan dan berkomunikasi dengan jamaah haji dari segala penjuru dunia, menumbuhkan rasa hormat menghormati dan mengalahkan rasa rendah diri, karena di sanalah jamaah haji akan menyadari kesamaan derajat di hadapan Allah SWT.

Selain itu, kemabruran ibadah haji juga ditandai oleh tanggung jawab dakwah Islamiyah yang tinggi, baik bil lisanil hal maupun billisanil maqal. Hal ini sesuai pesan Rasul saat haji Wada’, yaitu supaya setiap yang hadir wajib menyampaikan ajaran Islam kepada yang tidak hadir. Demikian pula dengan tanggung jawab dalam memelihara jiwa, harta, kehormatan dari orang lain, melindungi yang lemah baik manusia, heman dan tumbuh-tumbuhan.

Pendeknya, haji mabrur berarti haji yang baik atau mendatangkan kebaikan bagi pelakunya. Di kalangan ulama, diungkapkan kalau haji mabrur itu ialah haji yang tidak dicampuri atau dinodai oleh dosa-dosa. Ini mengandung makna bahwa berbagai kebaikan ibadah haji yang diperoleh oleh para hujjaj itu telah membentengi diri mereka dari dosa-dosa dan berbagai tindakan kejahatan.

Berkait dengan itu, Imam Nawawi, mengungkapkan bahwa haji mabrur adalah haji yang buah atau hasilnya tampak jelas bagi para pelakunya. Buah haji itu, tak lain menguatnya iman dan meningkatnya ibadah serta amal saleh dalam arti yang seluas-luasnya. Dengan demikian, maka keadaan hujjaj itu setelah menunaikan ibadah haji jauh lebih baik dari keadaan sebelumnya.

Memelihara dan melanggengkan nilai keimanan

Berdasarkan pola pikir yang diungkapkan Imam Nawawi tersebut, tentu dapat dipahami bahwa memperoleh haji mabrur merupakan sesuatu yang sulit. Namun, sesungguhnya yang lebih sulit lagi dari itu adalah bagaimana mempertahankan, memelihara dan melanggengkan nilai-nilai kemabruran haji itu sepanjang hidup kita.

Oleh karena itu, kemabruran haji ini tentu perlu senantiasa dipelihara, karena kondisi batin seseorang tidaklah tetap. Tapi sangat dipengaruhi oleh kondisi lingkungan sekitarnya. Tepatnya, suatu saat kadar iman tinggi, di lain waktu kadar iman menjadi menurun.

Ketinggian dari nilai iman ini, tentu banyak tantangan untuk mempertahankannya dalam kehidupan manusia. Lebih-lebih saat ini, berbagai serbuan media dan informasi banyak yang dapat melemahkan kekuatan iman seseorang. Artinya derajat dan tingkatan iman setiap orang berbeda-beda. Jelasnya, fluktuasi iman seseorang itu akan terjadi setiap saat.

Kondisi seperti itulah yang banyak kita lupakan. Di sinilah sebenarnya perlunya upaya memperbaharui keimanan kita setiap saat. Memperbaharui keimanan (Tajdidul Iman), diartikan sebagai bentuk kompensasi kita ---usaha untuk mempertahankan kestabilan iman--- dan mengontrol kadar iman yang kita miliki serta meningkatkan kualitas imannya.

Untuk mencapai kondisi iman yang relatif stabil itu, memang bukan sesuatu yang mudah. Walau demikian, bagi Allah tentu tidak ada yang tidak mungkin, kalau cinta-Nya telah bersemayam pada diri kita. Setidaknya ada empat usaha yang dapat membangkitkan/melanggengkan nilai keimanan seseorang (terutama setelah menggapai haji mabrur), sehingga Tajdidul Iman tersebut menjadi terarah.

Pertama, melakukan tadabbur quran. Allah dalam Alqur’an menyebutkan apakah mereka merenungkan Quran? (QS. 4: 82). Lalu, Allah juga berfirman (yang artinya) : “Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al-qur’an ataukah hati mereka terkunci.” (QS. 47: 24). Dari perilaku tadabbur quran ini, maka pikiran kita akan selalu merenungkan, mengkaji dan mengaplikasikan isinya, sehingga iman kita terhadap-Nya akan selalu terkontrol pada ketentuan-Nya.

Kedua, melakukan tafakur alam. Allah berfirman dalam surat Ali Imran: 190-191, yang artinya: “Sesungguhnya tentang kejadian langit dan bumi, dan pergantian malam dan siang menjadi tanda (atas kekuasaan Allah) bagi orang-orang berakal. (Yaitu) orang-orang yang mengingat Allah ketika berdiri, duduk dan waktu berbaring; dan mereka memikirkan kejadian langit dan bumi, (sambil berkata): Ya Tuhan kami, bukanlah Engkau jadikan ini dengan percuma (sia-sia), Mahasuci Engkau, maka peliharakanlah kami dari siksa neraka.”

Kalau kita perhatikan, ternyata ayat tersebut diakhiri dengan doa untuk kemenagan iman, mengalahkan kekafiran, dan diakhiri pula dengan ramalan tentang kemenangan akhir. Di sini dinyatakan pula bahwa kaum mukmin bukanlah orang pertapa yang menyingkir ke tempat sunyi untuk berdzikir kepada Allah, dan bukan pula orang yang hanya berusaha menaklukan alam, tanpa berpikir tentang Tuhan dan Penciptaan alam semesta. Sebaliknya, kaum mukmin dilukiskan sebagai orang yang mengingat-ingat Allah di tengah-tengah kesibukan mereka dalam urusan duniawi ---sambil berdiri, duduk dan berbaring---.

Dengan demikian, mereka menyadari sepenuhnya akan adanya Tuhan dimanapun dan dalam keadaan bagaimanapun. Sebaliknya, mereka berusaha menaklukkan alam dengan sepenuh kesadaran bahwa tak ada barang yang diciptakan itu terdapat tujuan-tujuan tertentu. Itulah tujuan utama yang digariskan oleh Islam bagi para pengikutnya, yaitu menaklukan diri sendiri dengan jalan berdzikir kepada Allah, dan menaklukan alam dengan jalan menuntut ilmu pengetahuan (Muhammad Ali: 1995). Melalui usaha ini, jelas-jelas akan meningkatkan keimanan bagi mereka yang melakukannya.

Ketiga, melakukan amal shalih. Ada tidaknya atau tinggi rendahnya iman seseorang akan dapat dilihat dari perilakunya. Artinya perilaku seseorang akan menunjukkan tingkat imannya. Dalam hal ini, perilaku yang dapat membangkitkan nilai keimanan adalah berupa memperbanyak amal shalih.

Secara demikian, orang yang mengerjakan amal shalih adalah orang beriman yang mengaktualisasikan keimananya berupa amal perbuatan yang jelas-jelas dilandasi iman. Iman dan amal perbuatan itu, tidak bisa dipisahkan. Sebab, iman menuntut adanya amal dan amal merupakan konsekuensi mutlak dari sebuah keimanan. Sebaliknya amal menuntut adanya iman, karena amal perbuatan tanpa dilandasi keimanan kepada Allah adalah sia-sia belaka (tidak berguna). Oleh karena itu, besar kecilnya kadar keimanan seseorang akan banyak ditentukan oleh jenis, kualitas dan kontinuitas amal yang dilakukannya.

Keempat, melakukan proteksi terhadap perbuatan dosa. Untuk menjadikan hati bening berisi keimanan, maka lakukanlah perbuatan-perbuatan yang terhindar dari perilaku maksiat atau mendatangkan dosa. Hal ini didasarkan bahwa perbuatan dosa itu bisa menyebabkan hati kita menjadi kotor. Kondisi hati yang kotor, tentu dapat menyebabkan tertutupnya iman dan bahkan akan menenggelamkan keimanan seseorang.

Aktivitas Tajdidul Iman dengan cara membangkitkan nilai keimanan seperti disebut di atas, paling tidak ia merupakan langkah yang tepat dalam menggapai posisi iman sejati. Lebih-lebih jalan menuju iman seperti disebut di awal, benar-benar telah dipenuhi dan diaplikasikan dalam hidup keseharian.

Akhirnya, kita hanya memohon kepada Allah SWT, semoga kita diberi ilmu dan kemampuan usaha berbuat Tajdidul Iman pada setiap saat, lebih-lebih bagi mereka yang telah memperoleh predikat haji mabrur. Sehingga diharapkan aktivitas ini akan meningkatkan iman kita menuju terwujudnya iman sejati yang sesuai dengan harapan-Nya. Amin.***

Bagaimana menurut Anda?

Arda Dinata, pendiri Majelis Inspirasi Alquran dan Realitas Alam/ MIQRA Indonesia, www.miqraindonesia.com 
KAUM Muslim yang sudah melaksanakan ibadah haji, tentunya kita harapkan menjadi haji mabrur. Doa ini penting kita panjatkan karena semua jamaah haji tentu mendambakan haji mabrur. Harapan dan keinginan mendapatkan haji mabrur dapat dipahami, karena bukankah pengampunan dan surga Allah menjadi balasan dan imbalannya. Nabi Saw bersabda, Haji yang mabrur tak ada balasan lain kecuali surga. (HR. Bukhari dan Muslim).


Nilai Kemabruran Haji


KAUM Muslim yang sudah melaksanakan ibadah haji, tentunya kita harapkan menjadi haji mabrur. Doa ini penting kita panjatkan karena semua jamaah haji tentu mendambakan haji mabrur. Harapan dan keinginan mendapatkan haji mabrur dapat dipahami, karena bukankah pengampunan dan surga Allah menjadi balasan dan imbalannya. Nabi Saw bersabda, Haji yang mabrur tak ada balasan lain kecuali surga. (HR. Bukhari dan Muslim).

Mereka yang telah menggapai haji mabrur, tentu akan memancarkan berbagai kebaikan sosial dalam kehidupan kesehariannya, diantaranya, ialah memiliki peningkatan rasa persaudaraan di antara umat, karena saling berkenalan dan berkomunikasi dengan jamaah haji dari segala penjuru dunia, menumbuhkan rasa hormat menghormati dan mengalahkan rasa rendah diri, karena di sanalah jamaah haji akan menyadari kesamaan derajat di hadapan Allah SWT.

Selain itu, kemabruran ibadah haji juga ditandai oleh tanggung jawab dakwah Islamiyah yang tinggi, baik bil lisanil hal maupun billisanil maqal. Hal ini sesuai pesan Rasul saat haji Wada’, yaitu supaya setiap yang hadir wajib menyampaikan ajaran Islam kepada yang tidak hadir. Demikian pula dengan tanggung jawab dalam memelihara jiwa, harta, kehormatan dari orang lain, melindungi yang lemah baik manusia, heman dan tumbuh-tumbuhan.

Pendeknya, haji mabrur berarti haji yang baik atau mendatangkan kebaikan bagi pelakunya. Di kalangan ulama, diungkapkan kalau haji mabrur itu ialah haji yang tidak dicampuri atau dinodai oleh dosa-dosa. Ini mengandung makna bahwa berbagai kebaikan ibadah haji yang diperoleh oleh para hujjaj itu telah membentengi diri mereka dari dosa-dosa dan berbagai tindakan kejahatan.

Berkait dengan itu, Imam Nawawi, mengungkapkan bahwa haji mabrur adalah haji yang buah atau hasilnya tampak jelas bagi para pelakunya. Buah haji itu, tak lain menguatnya iman dan meningkatnya ibadah serta amal saleh dalam arti yang seluas-luasnya. Dengan demikian, maka keadaan hujjaj itu setelah menunaikan ibadah haji jauh lebih baik dari keadaan sebelumnya.

Memelihara dan melanggengkan nilai keimanan

Berdasarkan pola pikir yang diungkapkan Imam Nawawi tersebut, tentu dapat dipahami bahwa memperoleh haji mabrur merupakan sesuatu yang sulit. Namun, sesungguhnya yang lebih sulit lagi dari itu adalah bagaimana mempertahankan, memelihara dan melanggengkan nilai-nilai kemabruran haji itu sepanjang hidup kita.

Oleh karena itu, kemabruran haji ini tentu perlu senantiasa dipelihara, karena kondisi batin seseorang tidaklah tetap. Tapi sangat dipengaruhi oleh kondisi lingkungan sekitarnya. Tepatnya, suatu saat kadar iman tinggi, di lain waktu kadar iman menjadi menurun.

Ketinggian dari nilai iman ini, tentu banyak tantangan untuk mempertahankannya dalam kehidupan manusia. Lebih-lebih saat ini, berbagai serbuan media dan informasi banyak yang dapat melemahkan kekuatan iman seseorang. Artinya derajat dan tingkatan iman setiap orang berbeda-beda. Jelasnya, fluktuasi iman seseorang itu akan terjadi setiap saat.

Kondisi seperti itulah yang banyak kita lupakan. Di sinilah sebenarnya perlunya upaya memperbaharui keimanan kita setiap saat. Memperbaharui keimanan (Tajdidul Iman), diartikan sebagai bentuk kompensasi kita ---usaha untuk mempertahankan kestabilan iman--- dan mengontrol kadar iman yang kita miliki serta meningkatkan kualitas imannya.

Untuk mencapai kondisi iman yang relatif stabil itu, memang bukan sesuatu yang mudah. Walau demikian, bagi Allah tentu tidak ada yang tidak mungkin, kalau cinta-Nya telah bersemayam pada diri kita. Setidaknya ada empat usaha yang dapat membangkitkan/melanggengkan nilai keimanan seseorang (terutama setelah menggapai haji mabrur), sehingga Tajdidul Iman tersebut menjadi terarah.

Pertama, melakukan tadabbur quran. Allah dalam Alqur’an menyebutkan apakah mereka merenungkan Quran? (QS. 4: 82). Lalu, Allah juga berfirman (yang artinya) : “Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al-qur’an ataukah hati mereka terkunci.” (QS. 47: 24). Dari perilaku tadabbur quran ini, maka pikiran kita akan selalu merenungkan, mengkaji dan mengaplikasikan isinya, sehingga iman kita terhadap-Nya akan selalu terkontrol pada ketentuan-Nya.

Kedua, melakukan tafakur alam. Allah berfirman dalam surat Ali Imran: 190-191, yang artinya: “Sesungguhnya tentang kejadian langit dan bumi, dan pergantian malam dan siang menjadi tanda (atas kekuasaan Allah) bagi orang-orang berakal. (Yaitu) orang-orang yang mengingat Allah ketika berdiri, duduk dan waktu berbaring; dan mereka memikirkan kejadian langit dan bumi, (sambil berkata): Ya Tuhan kami, bukanlah Engkau jadikan ini dengan percuma (sia-sia), Mahasuci Engkau, maka peliharakanlah kami dari siksa neraka.”

Kalau kita perhatikan, ternyata ayat tersebut diakhiri dengan doa untuk kemenagan iman, mengalahkan kekafiran, dan diakhiri pula dengan ramalan tentang kemenangan akhir. Di sini dinyatakan pula bahwa kaum mukmin bukanlah orang pertapa yang menyingkir ke tempat sunyi untuk berdzikir kepada Allah, dan bukan pula orang yang hanya berusaha menaklukan alam, tanpa berpikir tentang Tuhan dan Penciptaan alam semesta. Sebaliknya, kaum mukmin dilukiskan sebagai orang yang mengingat-ingat Allah di tengah-tengah kesibukan mereka dalam urusan duniawi ---sambil berdiri, duduk dan berbaring---.

Dengan demikian, mereka menyadari sepenuhnya akan adanya Tuhan dimanapun dan dalam keadaan bagaimanapun. Sebaliknya, mereka berusaha menaklukkan alam dengan sepenuh kesadaran bahwa tak ada barang yang diciptakan itu terdapat tujuan-tujuan tertentu. Itulah tujuan utama yang digariskan oleh Islam bagi para pengikutnya, yaitu menaklukan diri sendiri dengan jalan berdzikir kepada Allah, dan menaklukan alam dengan jalan menuntut ilmu pengetahuan (Muhammad Ali: 1995). Melalui usaha ini, jelas-jelas akan meningkatkan keimanan bagi mereka yang melakukannya.

Ketiga, melakukan amal shalih. Ada tidaknya atau tinggi rendahnya iman seseorang akan dapat dilihat dari perilakunya. Artinya perilaku seseorang akan menunjukkan tingkat imannya. Dalam hal ini, perilaku yang dapat membangkitkan nilai keimanan adalah berupa memperbanyak amal shalih.

Secara demikian, orang yang mengerjakan amal shalih adalah orang beriman yang mengaktualisasikan keimananya berupa amal perbuatan yang jelas-jelas dilandasi iman. Iman dan amal perbuatan itu, tidak bisa dipisahkan. Sebab, iman menuntut adanya amal dan amal merupakan konsekuensi mutlak dari sebuah keimanan. Sebaliknya amal menuntut adanya iman, karena amal perbuatan tanpa dilandasi keimanan kepada Allah adalah sia-sia belaka (tidak berguna). Oleh karena itu, besar kecilnya kadar keimanan seseorang akan banyak ditentukan oleh jenis, kualitas dan kontinuitas amal yang dilakukannya.

Keempat, melakukan proteksi terhadap perbuatan dosa. Untuk menjadikan hati bening berisi keimanan, maka lakukanlah perbuatan-perbuatan yang terhindar dari perilaku maksiat atau mendatangkan dosa. Hal ini didasarkan bahwa perbuatan dosa itu bisa menyebabkan hati kita menjadi kotor. Kondisi hati yang kotor, tentu dapat menyebabkan tertutupnya iman dan bahkan akan menenggelamkan keimanan seseorang.

Aktivitas Tajdidul Iman dengan cara membangkitkan nilai keimanan seperti disebut di atas, paling tidak ia merupakan langkah yang tepat dalam menggapai posisi iman sejati. Lebih-lebih jalan menuju iman seperti disebut di awal, benar-benar telah dipenuhi dan diaplikasikan dalam hidup keseharian.

Akhirnya, kita hanya memohon kepada Allah SWT, semoga kita diberi ilmu dan kemampuan usaha berbuat Tajdidul Iman pada setiap saat, lebih-lebih bagi mereka yang telah memperoleh predikat haji mabrur. Sehingga diharapkan aktivitas ini akan meningkatkan iman kita menuju terwujudnya iman sejati yang sesuai dengan harapan-Nya. Amin.***

Bagaimana menurut Anda?

Arda Dinata, pendiri Majelis Inspirasi Alquran dan Realitas Alam/ MIQRA Indonesia, www.miqraindonesia.com 
KAUM Muslim yang sudah melaksanakan ibadah haji, tentunya kita harapkan menjadi haji mabrur. Doa ini penting kita panjatkan karena semua jamaah haji tentu mendambakan haji mabrur. Harapan dan keinginan mendapatkan haji mabrur dapat dipahami, karena bukankah pengampunan dan surga Allah menjadi balasan dan imbalannya. Nabi Saw bersabda, Haji yang mabrur tak ada balasan lain kecuali surga. (HR. Bukhari dan Muslim).


Nilai Kemabruran Haji


KAUM Muslim yang sudah melaksanakan ibadah haji, tentunya kita harapkan menjadi haji mabrur. Doa ini penting kita panjatkan karena semua jamaah haji tentu mendambakan haji mabrur. Harapan dan keinginan mendapatkan haji mabrur dapat dipahami, karena bukankah pengampunan dan surga Allah menjadi balasan dan imbalannya. Nabi Saw bersabda, Haji yang mabrur tak ada balasan lain kecuali surga. (HR. Bukhari dan Muslim).

Mereka yang telah menggapai haji mabrur, tentu akan memancarkan berbagai kebaikan sosial dalam kehidupan kesehariannya, diantaranya, ialah memiliki peningkatan rasa persaudaraan di antara umat, karena saling berkenalan dan berkomunikasi dengan jamaah haji dari segala penjuru dunia, menumbuhkan rasa hormat menghormati dan mengalahkan rasa rendah diri, karena di sanalah jamaah haji akan menyadari kesamaan derajat di hadapan Allah SWT.

Selain itu, kemabruran ibadah haji juga ditandai oleh tanggung jawab dakwah Islamiyah yang tinggi, baik bil lisanil hal maupun billisanil maqal. Hal ini sesuai pesan Rasul saat haji Wada’, yaitu supaya setiap yang hadir wajib menyampaikan ajaran Islam kepada yang tidak hadir. Demikian pula dengan tanggung jawab dalam memelihara jiwa, harta, kehormatan dari orang lain, melindungi yang lemah baik manusia, heman dan tumbuh-tumbuhan.

Pendeknya, haji mabrur berarti haji yang baik atau mendatangkan kebaikan bagi pelakunya. Di kalangan ulama, diungkapkan kalau haji mabrur itu ialah haji yang tidak dicampuri atau dinodai oleh dosa-dosa. Ini mengandung makna bahwa berbagai kebaikan ibadah haji yang diperoleh oleh para hujjaj itu telah membentengi diri mereka dari dosa-dosa dan berbagai tindakan kejahatan.

Berkait dengan itu, Imam Nawawi, mengungkapkan bahwa haji mabrur adalah haji yang buah atau hasilnya tampak jelas bagi para pelakunya. Buah haji itu, tak lain menguatnya iman dan meningkatnya ibadah serta amal saleh dalam arti yang seluas-luasnya. Dengan demikian, maka keadaan hujjaj itu setelah menunaikan ibadah haji jauh lebih baik dari keadaan sebelumnya.

Memelihara dan melanggengkan nilai keimanan

Berdasarkan pola pikir yang diungkapkan Imam Nawawi tersebut, tentu dapat dipahami bahwa memperoleh haji mabrur merupakan sesuatu yang sulit. Namun, sesungguhnya yang lebih sulit lagi dari itu adalah bagaimana mempertahankan, memelihara dan melanggengkan nilai-nilai kemabruran haji itu sepanjang hidup kita.

Oleh karena itu, kemabruran haji ini tentu perlu senantiasa dipelihara, karena kondisi batin seseorang tidaklah tetap. Tapi sangat dipengaruhi oleh kondisi lingkungan sekitarnya. Tepatnya, suatu saat kadar iman tinggi, di lain waktu kadar iman menjadi menurun.

Ketinggian dari nilai iman ini, tentu banyak tantangan untuk mempertahankannya dalam kehidupan manusia. Lebih-lebih saat ini, berbagai serbuan media dan informasi banyak yang dapat melemahkan kekuatan iman seseorang. Artinya derajat dan tingkatan iman setiap orang berbeda-beda. Jelasnya, fluktuasi iman seseorang itu akan terjadi setiap saat.

Kondisi seperti itulah yang banyak kita lupakan. Di sinilah sebenarnya perlunya upaya memperbaharui keimanan kita setiap saat. Memperbaharui keimanan (Tajdidul Iman), diartikan sebagai bentuk kompensasi kita ---usaha untuk mempertahankan kestabilan iman--- dan mengontrol kadar iman yang kita miliki serta meningkatkan kualitas imannya.

Untuk mencapai kondisi iman yang relatif stabil itu, memang bukan sesuatu yang mudah. Walau demikian, bagi Allah tentu tidak ada yang tidak mungkin, kalau cinta-Nya telah bersemayam pada diri kita. Setidaknya ada empat usaha yang dapat membangkitkan/melanggengkan nilai keimanan seseorang (terutama setelah menggapai haji mabrur), sehingga Tajdidul Iman tersebut menjadi terarah.

Pertama, melakukan tadabbur quran. Allah dalam Alqur’an menyebutkan apakah mereka merenungkan Quran? (QS. 4: 82). Lalu, Allah juga berfirman (yang artinya) : “Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al-qur’an ataukah hati mereka terkunci.” (QS. 47: 24). Dari perilaku tadabbur quran ini, maka pikiran kita akan selalu merenungkan, mengkaji dan mengaplikasikan isinya, sehingga iman kita terhadap-Nya akan selalu terkontrol pada ketentuan-Nya.

Kedua, melakukan tafakur alam. Allah berfirman dalam surat Ali Imran: 190-191, yang artinya: “Sesungguhnya tentang kejadian langit dan bumi, dan pergantian malam dan siang menjadi tanda (atas kekuasaan Allah) bagi orang-orang berakal. (Yaitu) orang-orang yang mengingat Allah ketika berdiri, duduk dan waktu berbaring; dan mereka memikirkan kejadian langit dan bumi, (sambil berkata): Ya Tuhan kami, bukanlah Engkau jadikan ini dengan percuma (sia-sia), Mahasuci Engkau, maka peliharakanlah kami dari siksa neraka.”

Kalau kita perhatikan, ternyata ayat tersebut diakhiri dengan doa untuk kemenagan iman, mengalahkan kekafiran, dan diakhiri pula dengan ramalan tentang kemenangan akhir. Di sini dinyatakan pula bahwa kaum mukmin bukanlah orang pertapa yang menyingkir ke tempat sunyi untuk berdzikir kepada Allah, dan bukan pula orang yang hanya berusaha menaklukan alam, tanpa berpikir tentang Tuhan dan Penciptaan alam semesta. Sebaliknya, kaum mukmin dilukiskan sebagai orang yang mengingat-ingat Allah di tengah-tengah kesibukan mereka dalam urusan duniawi ---sambil berdiri, duduk dan berbaring---.

Dengan demikian, mereka menyadari sepenuhnya akan adanya Tuhan dimanapun dan dalam keadaan bagaimanapun. Sebaliknya, mereka berusaha menaklukkan alam dengan sepenuh kesadaran bahwa tak ada barang yang diciptakan itu terdapat tujuan-tujuan tertentu. Itulah tujuan utama yang digariskan oleh Islam bagi para pengikutnya, yaitu menaklukan diri sendiri dengan jalan berdzikir kepada Allah, dan menaklukan alam dengan jalan menuntut ilmu pengetahuan (Muhammad Ali: 1995). Melalui usaha ini, jelas-jelas akan meningkatkan keimanan bagi mereka yang melakukannya.

Ketiga, melakukan amal shalih. Ada tidaknya atau tinggi rendahnya iman seseorang akan dapat dilihat dari perilakunya. Artinya perilaku seseorang akan menunjukkan tingkat imannya. Dalam hal ini, perilaku yang dapat membangkitkan nilai keimanan adalah berupa memperbanyak amal shalih.

Secara demikian, orang yang mengerjakan amal shalih adalah orang beriman yang mengaktualisasikan keimananya berupa amal perbuatan yang jelas-jelas dilandasi iman. Iman dan amal perbuatan itu, tidak bisa dipisahkan. Sebab, iman menuntut adanya amal dan amal merupakan konsekuensi mutlak dari sebuah keimanan. Sebaliknya amal menuntut adanya iman, karena amal perbuatan tanpa dilandasi keimanan kepada Allah adalah sia-sia belaka (tidak berguna). Oleh karena itu, besar kecilnya kadar keimanan seseorang akan banyak ditentukan oleh jenis, kualitas dan kontinuitas amal yang dilakukannya.

Keempat, melakukan proteksi terhadap perbuatan dosa. Untuk menjadikan hati bening berisi keimanan, maka lakukanlah perbuatan-perbuatan yang terhindar dari perilaku maksiat atau mendatangkan dosa. Hal ini didasarkan bahwa perbuatan dosa itu bisa menyebabkan hati kita menjadi kotor. Kondisi hati yang kotor, tentu dapat menyebabkan tertutupnya iman dan bahkan akan menenggelamkan keimanan seseorang.

Aktivitas Tajdidul Iman dengan cara membangkitkan nilai keimanan seperti disebut di atas, paling tidak ia merupakan langkah yang tepat dalam menggapai posisi iman sejati. Lebih-lebih jalan menuju iman seperti disebut di awal, benar-benar telah dipenuhi dan diaplikasikan dalam hidup keseharian.

Akhirnya, kita hanya memohon kepada Allah SWT, semoga kita diberi ilmu dan kemampuan usaha berbuat Tajdidul Iman pada setiap saat, lebih-lebih bagi mereka yang telah memperoleh predikat haji mabrur. Sehingga diharapkan aktivitas ini akan meningkatkan iman kita menuju terwujudnya iman sejati yang sesuai dengan harapan-Nya. Amin.***

Bagaimana menurut Anda?

Arda Dinata, pendiri Majelis Inspirasi Alquran dan Realitas Alam/ MIQRA Indonesia, www.miqraindonesia.com 
KAUM Muslim yang sudah melaksanakan ibadah haji, tentunya kita harapkan menjadi haji mabrur. Doa ini penting kita panjatkan karena semua jamaah haji tentu mendambakan haji mabrur. Harapan dan keinginan mendapatkan haji mabrur dapat dipahami, karena bukankah pengampunan dan surga Allah menjadi balasan dan imbalannya. Nabi Saw bersabda, Haji yang mabrur tak ada balasan lain kecuali surga. (HR. Bukhari dan Muslim).


Nilai Kemabruran Haji


KAUM Muslim yang sudah melaksanakan ibadah haji, tentunya kita harapkan menjadi haji mabrur. Doa ini penting kita panjatkan karena semua jamaah haji tentu mendambakan haji mabrur. Harapan dan keinginan mendapatkan haji mabrur dapat dipahami, karena bukankah pengampunan dan surga Allah menjadi balasan dan imbalannya. Nabi Saw bersabda, Haji yang mabrur tak ada balasan lain kecuali surga. (HR. Bukhari dan Muslim).

Mereka yang telah menggapai haji mabrur, tentu akan memancarkan berbagai kebaikan sosial dalam kehidupan kesehariannya, diantaranya, ialah memiliki peningkatan rasa persaudaraan di antara umat, karena saling berkenalan dan berkomunikasi dengan jamaah haji dari segala penjuru dunia, menumbuhkan rasa hormat menghormati dan mengalahkan rasa rendah diri, karena di sanalah jamaah haji akan menyadari kesamaan derajat di hadapan Allah SWT.

Selain itu, kemabruran ibadah haji juga ditandai oleh tanggung jawab dakwah Islamiyah yang tinggi, baik bil lisanil hal maupun billisanil maqal. Hal ini sesuai pesan Rasul saat haji Wada’, yaitu supaya setiap yang hadir wajib menyampaikan ajaran Islam kepada yang tidak hadir. Demikian pula dengan tanggung jawab dalam memelihara jiwa, harta, kehormatan dari orang lain, melindungi yang lemah baik manusia, heman dan tumbuh-tumbuhan.

Pendeknya, haji mabrur berarti haji yang baik atau mendatangkan kebaikan bagi pelakunya. Di kalangan ulama, diungkapkan kalau haji mabrur itu ialah haji yang tidak dicampuri atau dinodai oleh dosa-dosa. Ini mengandung makna bahwa berbagai kebaikan ibadah haji yang diperoleh oleh para hujjaj itu telah membentengi diri mereka dari dosa-dosa dan berbagai tindakan kejahatan.

Berkait dengan itu, Imam Nawawi, mengungkapkan bahwa haji mabrur adalah haji yang buah atau hasilnya tampak jelas bagi para pelakunya. Buah haji itu, tak lain menguatnya iman dan meningkatnya ibadah serta amal saleh dalam arti yang seluas-luasnya. Dengan demikian, maka keadaan hujjaj itu setelah menunaikan ibadah haji jauh lebih baik dari keadaan sebelumnya.

Memelihara dan melanggengkan nilai keimanan

Berdasarkan pola pikir yang diungkapkan Imam Nawawi tersebut, tentu dapat dipahami bahwa memperoleh haji mabrur merupakan sesuatu yang sulit. Namun, sesungguhnya yang lebih sulit lagi dari itu adalah bagaimana mempertahankan, memelihara dan melanggengkan nilai-nilai kemabruran haji itu sepanjang hidup kita.

Oleh karena itu, kemabruran haji ini tentu perlu senantiasa dipelihara, karena kondisi batin seseorang tidaklah tetap. Tapi sangat dipengaruhi oleh kondisi lingkungan sekitarnya. Tepatnya, suatu saat kadar iman tinggi, di lain waktu kadar iman menjadi menurun.

Ketinggian dari nilai iman ini, tentu banyak tantangan untuk mempertahankannya dalam kehidupan manusia. Lebih-lebih saat ini, berbagai serbuan media dan informasi banyak yang dapat melemahkan kekuatan iman seseorang. Artinya derajat dan tingkatan iman setiap orang berbeda-beda. Jelasnya, fluktuasi iman seseorang itu akan terjadi setiap saat.

Kondisi seperti itulah yang banyak kita lupakan. Di sinilah sebenarnya perlunya upaya memperbaharui keimanan kita setiap saat. Memperbaharui keimanan (Tajdidul Iman), diartikan sebagai bentuk kompensasi kita ---usaha untuk mempertahankan kestabilan iman--- dan mengontrol kadar iman yang kita miliki serta meningkatkan kualitas imannya.

Untuk mencapai kondisi iman yang relatif stabil itu, memang bukan sesuatu yang mudah. Walau demikian, bagi Allah tentu tidak ada yang tidak mungkin, kalau cinta-Nya telah bersemayam pada diri kita. Setidaknya ada empat usaha yang dapat membangkitkan/melanggengkan nilai keimanan seseorang (terutama setelah menggapai haji mabrur), sehingga Tajdidul Iman tersebut menjadi terarah.

Pertama, melakukan tadabbur quran. Allah dalam Alqur’an menyebutkan apakah mereka merenungkan Quran? (QS. 4: 82). Lalu, Allah juga berfirman (yang artinya) : “Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al-qur’an ataukah hati mereka terkunci.” (QS. 47: 24). Dari perilaku tadabbur quran ini, maka pikiran kita akan selalu merenungkan, mengkaji dan mengaplikasikan isinya, sehingga iman kita terhadap-Nya akan selalu terkontrol pada ketentuan-Nya.

Kedua, melakukan tafakur alam. Allah berfirman dalam surat Ali Imran: 190-191, yang artinya: “Sesungguhnya tentang kejadian langit dan bumi, dan pergantian malam dan siang menjadi tanda (atas kekuasaan Allah) bagi orang-orang berakal. (Yaitu) orang-orang yang mengingat Allah ketika berdiri, duduk dan waktu berbaring; dan mereka memikirkan kejadian langit dan bumi, (sambil berkata): Ya Tuhan kami, bukanlah Engkau jadikan ini dengan percuma (sia-sia), Mahasuci Engkau, maka peliharakanlah kami dari siksa neraka.”

Kalau kita perhatikan, ternyata ayat tersebut diakhiri dengan doa untuk kemenagan iman, mengalahkan kekafiran, dan diakhiri pula dengan ramalan tentang kemenangan akhir. Di sini dinyatakan pula bahwa kaum mukmin bukanlah orang pertapa yang menyingkir ke tempat sunyi untuk berdzikir kepada Allah, dan bukan pula orang yang hanya berusaha menaklukan alam, tanpa berpikir tentang Tuhan dan Penciptaan alam semesta. Sebaliknya, kaum mukmin dilukiskan sebagai orang yang mengingat-ingat Allah di tengah-tengah kesibukan mereka dalam urusan duniawi ---sambil berdiri, duduk dan berbaring---.

Dengan demikian, mereka menyadari sepenuhnya akan adanya Tuhan dimanapun dan dalam keadaan bagaimanapun. Sebaliknya, mereka berusaha menaklukkan alam dengan sepenuh kesadaran bahwa tak ada barang yang diciptakan itu terdapat tujuan-tujuan tertentu. Itulah tujuan utama yang digariskan oleh Islam bagi para pengikutnya, yaitu menaklukan diri sendiri dengan jalan berdzikir kepada Allah, dan menaklukan alam dengan jalan menuntut ilmu pengetahuan (Muhammad Ali: 1995). Melalui usaha ini, jelas-jelas akan meningkatkan keimanan bagi mereka yang melakukannya.

Ketiga, melakukan amal shalih. Ada tidaknya atau tinggi rendahnya iman seseorang akan dapat dilihat dari perilakunya. Artinya perilaku seseorang akan menunjukkan tingkat imannya. Dalam hal ini, perilaku yang dapat membangkitkan nilai keimanan adalah berupa memperbanyak amal shalih.

Secara demikian, orang yang mengerjakan amal shalih adalah orang beriman yang mengaktualisasikan keimananya berupa amal perbuatan yang jelas-jelas dilandasi iman. Iman dan amal perbuatan itu, tidak bisa dipisahkan. Sebab, iman menuntut adanya amal dan amal merupakan konsekuensi mutlak dari sebuah keimanan. Sebaliknya amal menuntut adanya iman, karena amal perbuatan tanpa dilandasi keimanan kepada Allah adalah sia-sia belaka (tidak berguna). Oleh karena itu, besar kecilnya kadar keimanan seseorang akan banyak ditentukan oleh jenis, kualitas dan kontinuitas amal yang dilakukannya.

Keempat, melakukan proteksi terhadap perbuatan dosa. Untuk menjadikan hati bening berisi keimanan, maka lakukanlah perbuatan-perbuatan yang terhindar dari perilaku maksiat atau mendatangkan dosa. Hal ini didasarkan bahwa perbuatan dosa itu bisa menyebabkan hati kita menjadi kotor. Kondisi hati yang kotor, tentu dapat menyebabkan tertutupnya iman dan bahkan akan menenggelamkan keimanan seseorang.

Aktivitas Tajdidul Iman dengan cara membangkitkan nilai keimanan seperti disebut di atas, paling tidak ia merupakan langkah yang tepat dalam menggapai posisi iman sejati. Lebih-lebih jalan menuju iman seperti disebut di awal, benar-benar telah dipenuhi dan diaplikasikan dalam hidup keseharian.

Akhirnya, kita hanya memohon kepada Allah SWT, semoga kita diberi ilmu dan kemampuan usaha berbuat Tajdidul Iman pada setiap saat, lebih-lebih bagi mereka yang telah memperoleh predikat haji mabrur. Sehingga diharapkan aktivitas ini akan meningkatkan iman kita menuju terwujudnya iman sejati yang sesuai dengan harapan-Nya. Amin.***

Bagaimana menurut Anda?

Arda Dinata, pendiri Majelis Inspirasi Alquran dan Realitas Alam/ MIQRA Indonesia, www.miqraindonesia.com 
KAUM Muslim yang sudah melaksanakan ibadah haji, tentunya kita harapkan menjadi haji mabrur. Doa ini penting kita panjatkan karena semua jamaah haji tentu mendambakan haji mabrur. Harapan dan keinginan mendapatkan haji mabrur dapat dipahami, karena bukankah pengampunan dan surga Allah menjadi balasan dan imbalannya. Nabi Saw bersabda, Haji yang mabrur tak ada balasan lain kecuali surga. (HR. Bukhari dan Muslim).


Nilai Kemabruran Haji


KAUM Muslim yang sudah melaksanakan ibadah haji, tentunya kita harapkan menjadi haji mabrur. Doa ini penting kita panjatkan karena semua jamaah haji tentu mendambakan haji mabrur. Harapan dan keinginan mendapatkan haji mabrur dapat dipahami, karena bukankah pengampunan dan surga Allah menjadi balasan dan imbalannya. Nabi Saw bersabda, Haji yang mabrur tak ada balasan lain kecuali surga. (HR. Bukhari dan Muslim).

Mereka yang telah menggapai haji mabrur, tentu akan memancarkan berbagai kebaikan sosial dalam kehidupan kesehariannya, diantaranya, ialah memiliki peningkatan rasa persaudaraan di antara umat, karena saling berkenalan dan berkomunikasi dengan jamaah haji dari segala penjuru dunia, menumbuhkan rasa hormat menghormati dan mengalahkan rasa rendah diri, karena di sanalah jamaah haji akan menyadari kesamaan derajat di hadapan Allah SWT.

Selain itu, kemabruran ibadah haji juga ditandai oleh tanggung jawab dakwah Islamiyah yang tinggi, baik bil lisanil hal maupun billisanil maqal. Hal ini sesuai pesan Rasul saat haji Wada’, yaitu supaya setiap yang hadir wajib menyampaikan ajaran Islam kepada yang tidak hadir. Demikian pula dengan tanggung jawab dalam memelihara jiwa, harta, kehormatan dari orang lain, melindungi yang lemah baik manusia, heman dan tumbuh-tumbuhan.

Pendeknya, haji mabrur berarti haji yang baik atau mendatangkan kebaikan bagi pelakunya. Di kalangan ulama, diungkapkan kalau haji mabrur itu ialah haji yang tidak dicampuri atau dinodai oleh dosa-dosa. Ini mengandung makna bahwa berbagai kebaikan ibadah haji yang diperoleh oleh para hujjaj itu telah membentengi diri mereka dari dosa-dosa dan berbagai tindakan kejahatan.

Berkait dengan itu, Imam Nawawi, mengungkapkan bahwa haji mabrur adalah haji yang buah atau hasilnya tampak jelas bagi para pelakunya. Buah haji itu, tak lain menguatnya iman dan meningkatnya ibadah serta amal saleh dalam arti yang seluas-luasnya. Dengan demikian, maka keadaan hujjaj itu setelah menunaikan ibadah haji jauh lebih baik dari keadaan sebelumnya.

Memelihara dan melanggengkan nilai keimanan

Berdasarkan pola pikir yang diungkapkan Imam Nawawi tersebut, tentu dapat dipahami bahwa memperoleh haji mabrur merupakan sesuatu yang sulit. Namun, sesungguhnya yang lebih sulit lagi dari itu adalah bagaimana mempertahankan, memelihara dan melanggengkan nilai-nilai kemabruran haji itu sepanjang hidup kita.

Oleh karena itu, kemabruran haji ini tentu perlu senantiasa dipelihara, karena kondisi batin seseorang tidaklah tetap. Tapi sangat dipengaruhi oleh kondisi lingkungan sekitarnya. Tepatnya, suatu saat kadar iman tinggi, di lain waktu kadar iman menjadi menurun.

Ketinggian dari nilai iman ini, tentu banyak tantangan untuk mempertahankannya dalam kehidupan manusia. Lebih-lebih saat ini, berbagai serbuan media dan informasi banyak yang dapat melemahkan kekuatan iman seseorang. Artinya derajat dan tingkatan iman setiap orang berbeda-beda. Jelasnya, fluktuasi iman seseorang itu akan terjadi setiap saat.

Kondisi seperti itulah yang banyak kita lupakan. Di sinilah sebenarnya perlunya upaya memperbaharui keimanan kita setiap saat. Memperbaharui keimanan (Tajdidul Iman), diartikan sebagai bentuk kompensasi kita ---usaha untuk mempertahankan kestabilan iman--- dan mengontrol kadar iman yang kita miliki serta meningkatkan kualitas imannya.

Untuk mencapai kondisi iman yang relatif stabil itu, memang bukan sesuatu yang mudah. Walau demikian, bagi Allah tentu tidak ada yang tidak mungkin, kalau cinta-Nya telah bersemayam pada diri kita. Setidaknya ada empat usaha yang dapat membangkitkan/melanggengkan nilai keimanan seseorang (terutama setelah menggapai haji mabrur), sehingga Tajdidul Iman tersebut menjadi terarah.

Pertama, melakukan tadabbur quran. Allah dalam Alqur’an menyebutkan apakah mereka merenungkan Quran? (QS. 4: 82). Lalu, Allah juga berfirman (yang artinya) : “Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al-qur’an ataukah hati mereka terkunci.” (QS. 47: 24). Dari perilaku tadabbur quran ini, maka pikiran kita akan selalu merenungkan, mengkaji dan mengaplikasikan isinya, sehingga iman kita terhadap-Nya akan selalu terkontrol pada ketentuan-Nya.

Kedua, melakukan tafakur alam. Allah berfirman dalam surat Ali Imran: 190-191, yang artinya: “Sesungguhnya tentang kejadian langit dan bumi, dan pergantian malam dan siang menjadi tanda (atas kekuasaan Allah) bagi orang-orang berakal. (Yaitu) orang-orang yang mengingat Allah ketika berdiri, duduk dan waktu berbaring; dan mereka memikirkan kejadian langit dan bumi, (sambil berkata): Ya Tuhan kami, bukanlah Engkau jadikan ini dengan percuma (sia-sia), Mahasuci Engkau, maka peliharakanlah kami dari siksa neraka.”

Kalau kita perhatikan, ternyata ayat tersebut diakhiri dengan doa untuk kemenagan iman, mengalahkan kekafiran, dan diakhiri pula dengan ramalan tentang kemenangan akhir. Di sini dinyatakan pula bahwa kaum mukmin bukanlah orang pertapa yang menyingkir ke tempat sunyi untuk berdzikir kepada Allah, dan bukan pula orang yang hanya berusaha menaklukan alam, tanpa berpikir tentang Tuhan dan Penciptaan alam semesta. Sebaliknya, kaum mukmin dilukiskan sebagai orang yang mengingat-ingat Allah di tengah-tengah kesibukan mereka dalam urusan duniawi ---sambil berdiri, duduk dan berbaring---.

Dengan demikian, mereka menyadari sepenuhnya akan adanya Tuhan dimanapun dan dalam keadaan bagaimanapun. Sebaliknya, mereka berusaha menaklukkan alam dengan sepenuh kesadaran bahwa tak ada barang yang diciptakan itu terdapat tujuan-tujuan tertentu. Itulah tujuan utama yang digariskan oleh Islam bagi para pengikutnya, yaitu menaklukan diri sendiri dengan jalan berdzikir kepada Allah, dan menaklukan alam dengan jalan menuntut ilmu pengetahuan (Muhammad Ali: 1995). Melalui usaha ini, jelas-jelas akan meningkatkan keimanan bagi mereka yang melakukannya.

Ketiga, melakukan amal shalih. Ada tidaknya atau tinggi rendahnya iman seseorang akan dapat dilihat dari perilakunya. Artinya perilaku seseorang akan menunjukkan tingkat imannya. Dalam hal ini, perilaku yang dapat membangkitkan nilai keimanan adalah berupa memperbanyak amal shalih.

Secara demikian, orang yang mengerjakan amal shalih adalah orang beriman yang mengaktualisasikan keimananya berupa amal perbuatan yang jelas-jelas dilandasi iman. Iman dan amal perbuatan itu, tidak bisa dipisahkan. Sebab, iman menuntut adanya amal dan amal merupakan konsekuensi mutlak dari sebuah keimanan. Sebaliknya amal menuntut adanya iman, karena amal perbuatan tanpa dilandasi keimanan kepada Allah adalah sia-sia belaka (tidak berguna). Oleh karena itu, besar kecilnya kadar keimanan seseorang akan banyak ditentukan oleh jenis, kualitas dan kontinuitas amal yang dilakukannya.

Keempat, melakukan proteksi terhadap perbuatan dosa. Untuk menjadikan hati bening berisi keimanan, maka lakukanlah perbuatan-perbuatan yang terhindar dari perilaku maksiat atau mendatangkan dosa. Hal ini didasarkan bahwa perbuatan dosa itu bisa menyebabkan hati kita menjadi kotor. Kondisi hati yang kotor, tentu dapat menyebabkan tertutupnya iman dan bahkan akan menenggelamkan keimanan seseorang.

Aktivitas Tajdidul Iman dengan cara membangkitkan nilai keimanan seperti disebut di atas, paling tidak ia merupakan langkah yang tepat dalam menggapai posisi iman sejati. Lebih-lebih jalan menuju iman seperti disebut di awal, benar-benar telah dipenuhi dan diaplikasikan dalam hidup keseharian.

Akhirnya, kita hanya memohon kepada Allah SWT, semoga kita diberi ilmu dan kemampuan usaha berbuat Tajdidul Iman pada setiap saat, lebih-lebih bagi mereka yang telah memperoleh predikat haji mabrur. Sehingga diharapkan aktivitas ini akan meningkatkan iman kita menuju terwujudnya iman sejati yang sesuai dengan harapan-Nya. Amin.***

Bagaimana menurut Anda?

Arda Dinata, pendiri Majelis Inspirasi Alquran dan Realitas Alam/ MIQRA Indonesia, www.miqraindonesia.com 
Membangun Optimisme
Lihat Detail

Membangun Optimisme


ORANG menjadi kuat, pada dasarnya karena mentalnya kuat. Orang menjadi lemah, karena mentalnya lemah. Begitu juga, orang sukses, karena ia memiliki keinginan untuk sukses. Dan orang yang gagal, karena ia berbuat gagal. Dalam hal ini, ada keterangan yang menyebutkan bahwa: “Orang yang kuat lebih disukai dan lebih baik dari orang yang lemah.” Jadi, manusia tangguh dan kuat itu, sudah seharusnya menjadi cita-cita kita dalam rangka mengabdi kepada-Nya.



Membangun Optimisme

ORANG menjadi kuat, pada dasarnya karena mentalnya kuat. Orang menjadi lemah, karena mentalnya lemah. Begitu juga, orang sukses, karena ia memiliki keinginan untuk sukses. Dan orang yang gagal, karena ia berbuat gagal. Dalam hal ini, ada keterangan yang menyebutkan bahwa: “Orang yang kuat lebih disukai dan lebih baik dari orang yang lemah.” Jadi, manusia tangguh dan kuat itu, sudah seharusnya menjadi cita-cita kita dalam rangka mengabdi kepada-Nya.

Dalam hal ini, kesuksesan menurut pandangan agama Islam itu memiliki dua syarat pokok. Yakni iman dan ilmu. Kedua hal ini, kalau kita kaji secara rinci, jelas-jelas memiliki pengaruh sangat besar dalam kehidupan manusia. Dengan kuatnya iman seseorang, maka ia akan sangat berpengaruh terhadap kualitas kehidupan manusia. M. Ridwan IR Lubis, menyebutnya ada tiga pengaruh iman yaitu berupa: kekuatan berpikir (quwatul idraak), kekuatan fisik (quwatul jismi), dan kekuatan ruh (quwatur ruuh).

Sedangkan menurut M. Yunan Nasution, mengungkapkan bahwa pengaruh iman terhadap kehidupan manusia itu berupa: iman akan melenyapkan kepercayaan kepada kekuasaan benda; menanamkan semangat berani menghadapi maut; membentuk ketentraman jiwa; dan membentuk kehidupan yang baik.

Menyikapi keadaan seperti saat ini, kita seharusnya tidak menjadi pesimis dan berserah diri. Kita harus optimis dan selalu berusaha untuk mencapai yang terbaik dalam hidup ini. Sehingga untuk menjadikan pribadi pantang menyerah dan tangguh ini, maka dalam diri kita harus tertanam sikap optimis, berpikir positif, dan percaya diri.

Setiap manusia harus memiliki optimisme dalam menjalani kehidupan. Dengan sikap optimis, langkah kita akan tegar menghadapi setiap cobaan dan menatap masa depan penuh dengan keyakinan. Karena garis kehidupan setiap manusia sudah ditentukan-Nya. Tugas kita adalah hanya berusaha, berpikir dan berdoa. Atau kita harus luruskan niat dan sempurnakan ikhtiar.

Sedikitnya, ada tiga pengaruh dari sifat optimisme bagi kehidupan manusia. Pertama, optimisme dapat menumbuhkan cinta akan kebaikan di dalam diri manusia dan menumbuhkan perkembangan baru dalam pandangannya tentang kehidupan.

Kedua, optimisme mampu mengurangi sejumlah problema dalam kehidupan manusia. Wajah-wajah optimis akan memancarkan kebahagiaan. Tidak saja pada saat mencapai kepuasan, tetapi dalam segala situasi.

Ketiga, orang yang menjadikan sifat optimis sebagai bagian dari kehidupannya, maka akan tumbuh kepercayaan di antara anggota masyarakat. Dan kepercayaan tersebut merupakan sebab yang mendesak dalam memulihkan dan memajukan umat (bangsa) yang sedang “sakit” seperti saat ini.

Setelah kita mampu bersikap optimis, lalu pola pikir kita juga harus dibiasakan berpikir secara positif dan percaya diri. Berpikir positif kepada siapa?

Berpikir Positif  Kepada Sang Pencipta

Setiap kejadian, peristiwa dan fenomena kehidupan ini pasti ada sebab musababnya. Artinya segala kejadian di dunia ini telah Allah atur dengan secermat-cermatnya. Tinggal bagaimana kita menyikapi setiap kejadian itu melalui akal dan pikiran yang dilandasi dengan ilmu-ilmu Allah.

Jadi, tugas kita, hanya berpikir dan membaca. Ada apa dibalik semua itu? Lalu, kita mengambil pelajaran dari setiap kejadian tersebut dan selanjutnya mengamalkan yang baiknya dalam perilaku keseharian.
           
Berpikir Positif Terhadap Diri Sendiri

Setiap manusia, dilahirkan sebagai pribadi yang unik. Karena bagaimanapun wajah dan sifat kita mirip dengan orang lain. Tapi, yang jelas ada saja perbedaan antara keduanya. Sifat dan pribadi unik itu, harus kita jaga. Itu adalah potensi positif, modal dasar untuk mencapai keleluasaan langkah kita dalam menjalani kehidupan ini. Bagaimana orang lain akan menjunjung kita, kalau diri kita sendiri meremehkan dan tidak ‘mengangkatnya’.

Selain itu, kita juga harus yakin bahwa kita dilahirkan ke dunia ini sebagai sang juara, the best. Fakta membuktikan, dari berjuta-juta sel sperma yang disemprotkan Bapak kita, tetapi ternyata yang mampu menembus dinding telur Ibu kita dan dibuahi, hanya satu. Itulah kita, “sang juara”. Hal ini, kalau kita sadari akan menjadi sebuah motivasi luar biasa dalam menjalani hidup ini.
           
Berpikir Positif Pada Orang Lain

Orang lain itu, manusia biasa sama dengan kita. Dia mempunyai kesalahan dan kekhilafan. Yang tentu hati nuraninya tidak menghendakinya. Pandanglah, orang lain itu dari sisi positifnya saja dan menerima sisi negatifnya sebagai pelajaran bagi kita.

Belajarlah dari seekor burung Garuda. Ia mengajarkan anaknya untuk terbang dari tempat yang tinggi dan menjatuhkannya. Lalu jatuh, diangkat lagi dan seterusnya sampai ia bisa terbang sendiri. Hati Garuda juga bersih, tidak mendendam. Ia kalau waktunya bermain “cakar-cakaran”. Tapi, kalau di luar itu ia akur, damai kembali.
           
Berpikir Positif Pada Waktu

Setiap manusia diberi waktu yang sama, dimana pun dia berada. Sebanyak 24 jam sehari atau 86.400 detik sehari. Waktu itu, ingin kita apakan? Kita gunakan untuk tidur seharian, kerja keras, mengeluh, berdemontrasi, bergunjing, santai, menuntut ilmu, menolong orang lain, melamun, ibadah, dan lainnya. Waktu itu tidak akan protes. Yang jelas, setiap detik hidup kita akan diminta pertanggungjawabannya kelak. Bagi mereka yang biasa mengisi waktunya dengan amal-amalan saleh/kebaikan dan berada dalam keimanan, maka ia akan memperoleh kehidupan yang lebih baik.

Akhirnya, untuk memaksimalkan potensi optimisme yang ada pada diri seseorang, kuncinya adalah diri kita perlu dibangun dengan kebiasaan positif. Dan kita berdoa, agar Sang Penguasa diri ini memberi kemampuan kepada kita untuk membangun pribadi yang tangguh dan pantang menyerah. Amin. Wallahu’alam***

Bagaimana menurut Anda?

Arda Dinata, pendiri Majelis Inspirasi Alquran dan Realitas Alam/ MIQRA Indonesia, www.miqraindonesia.com 

ORANG menjadi kuat, pada dasarnya karena mentalnya kuat. Orang menjadi lemah, karena mentalnya lemah. Begitu juga, orang sukses, karena ia memiliki keinginan untuk sukses. Dan orang yang gagal, karena ia berbuat gagal. Dalam hal ini, ada keterangan yang menyebutkan bahwa: “Orang yang kuat lebih disukai dan lebih baik dari orang yang lemah.” Jadi, manusia tangguh dan kuat itu, sudah seharusnya menjadi cita-cita kita dalam rangka mengabdi kepada-Nya.



Membangun Optimisme

ORANG menjadi kuat, pada dasarnya karena mentalnya kuat. Orang menjadi lemah, karena mentalnya lemah. Begitu juga, orang sukses, karena ia memiliki keinginan untuk sukses. Dan orang yang gagal, karena ia berbuat gagal. Dalam hal ini, ada keterangan yang menyebutkan bahwa: “Orang yang kuat lebih disukai dan lebih baik dari orang yang lemah.” Jadi, manusia tangguh dan kuat itu, sudah seharusnya menjadi cita-cita kita dalam rangka mengabdi kepada-Nya.

Dalam hal ini, kesuksesan menurut pandangan agama Islam itu memiliki dua syarat pokok. Yakni iman dan ilmu. Kedua hal ini, kalau kita kaji secara rinci, jelas-jelas memiliki pengaruh sangat besar dalam kehidupan manusia. Dengan kuatnya iman seseorang, maka ia akan sangat berpengaruh terhadap kualitas kehidupan manusia. M. Ridwan IR Lubis, menyebutnya ada tiga pengaruh iman yaitu berupa: kekuatan berpikir (quwatul idraak), kekuatan fisik (quwatul jismi), dan kekuatan ruh (quwatur ruuh).

Sedangkan menurut M. Yunan Nasution, mengungkapkan bahwa pengaruh iman terhadap kehidupan manusia itu berupa: iman akan melenyapkan kepercayaan kepada kekuasaan benda; menanamkan semangat berani menghadapi maut; membentuk ketentraman jiwa; dan membentuk kehidupan yang baik.

Menyikapi keadaan seperti saat ini, kita seharusnya tidak menjadi pesimis dan berserah diri. Kita harus optimis dan selalu berusaha untuk mencapai yang terbaik dalam hidup ini. Sehingga untuk menjadikan pribadi pantang menyerah dan tangguh ini, maka dalam diri kita harus tertanam sikap optimis, berpikir positif, dan percaya diri.

Setiap manusia harus memiliki optimisme dalam menjalani kehidupan. Dengan sikap optimis, langkah kita akan tegar menghadapi setiap cobaan dan menatap masa depan penuh dengan keyakinan. Karena garis kehidupan setiap manusia sudah ditentukan-Nya. Tugas kita adalah hanya berusaha, berpikir dan berdoa. Atau kita harus luruskan niat dan sempurnakan ikhtiar.

Sedikitnya, ada tiga pengaruh dari sifat optimisme bagi kehidupan manusia. Pertama, optimisme dapat menumbuhkan cinta akan kebaikan di dalam diri manusia dan menumbuhkan perkembangan baru dalam pandangannya tentang kehidupan.

Kedua, optimisme mampu mengurangi sejumlah problema dalam kehidupan manusia. Wajah-wajah optimis akan memancarkan kebahagiaan. Tidak saja pada saat mencapai kepuasan, tetapi dalam segala situasi.

Ketiga, orang yang menjadikan sifat optimis sebagai bagian dari kehidupannya, maka akan tumbuh kepercayaan di antara anggota masyarakat. Dan kepercayaan tersebut merupakan sebab yang mendesak dalam memulihkan dan memajukan umat (bangsa) yang sedang “sakit” seperti saat ini.

Setelah kita mampu bersikap optimis, lalu pola pikir kita juga harus dibiasakan berpikir secara positif dan percaya diri. Berpikir positif kepada siapa?

Berpikir Positif  Kepada Sang Pencipta

Setiap kejadian, peristiwa dan fenomena kehidupan ini pasti ada sebab musababnya. Artinya segala kejadian di dunia ini telah Allah atur dengan secermat-cermatnya. Tinggal bagaimana kita menyikapi setiap kejadian itu melalui akal dan pikiran yang dilandasi dengan ilmu-ilmu Allah.

Jadi, tugas kita, hanya berpikir dan membaca. Ada apa dibalik semua itu? Lalu, kita mengambil pelajaran dari setiap kejadian tersebut dan selanjutnya mengamalkan yang baiknya dalam perilaku keseharian.
           
Berpikir Positif Terhadap Diri Sendiri

Setiap manusia, dilahirkan sebagai pribadi yang unik. Karena bagaimanapun wajah dan sifat kita mirip dengan orang lain. Tapi, yang jelas ada saja perbedaan antara keduanya. Sifat dan pribadi unik itu, harus kita jaga. Itu adalah potensi positif, modal dasar untuk mencapai keleluasaan langkah kita dalam menjalani kehidupan ini. Bagaimana orang lain akan menjunjung kita, kalau diri kita sendiri meremehkan dan tidak ‘mengangkatnya’.

Selain itu, kita juga harus yakin bahwa kita dilahirkan ke dunia ini sebagai sang juara, the best. Fakta membuktikan, dari berjuta-juta sel sperma yang disemprotkan Bapak kita, tetapi ternyata yang mampu menembus dinding telur Ibu kita dan dibuahi, hanya satu. Itulah kita, “sang juara”. Hal ini, kalau kita sadari akan menjadi sebuah motivasi luar biasa dalam menjalani hidup ini.
           
Berpikir Positif Pada Orang Lain

Orang lain itu, manusia biasa sama dengan kita. Dia mempunyai kesalahan dan kekhilafan. Yang tentu hati nuraninya tidak menghendakinya. Pandanglah, orang lain itu dari sisi positifnya saja dan menerima sisi negatifnya sebagai pelajaran bagi kita.

Belajarlah dari seekor burung Garuda. Ia mengajarkan anaknya untuk terbang dari tempat yang tinggi dan menjatuhkannya. Lalu jatuh, diangkat lagi dan seterusnya sampai ia bisa terbang sendiri. Hati Garuda juga bersih, tidak mendendam. Ia kalau waktunya bermain “cakar-cakaran”. Tapi, kalau di luar itu ia akur, damai kembali.
           
Berpikir Positif Pada Waktu

Setiap manusia diberi waktu yang sama, dimana pun dia berada. Sebanyak 24 jam sehari atau 86.400 detik sehari. Waktu itu, ingin kita apakan? Kita gunakan untuk tidur seharian, kerja keras, mengeluh, berdemontrasi, bergunjing, santai, menuntut ilmu, menolong orang lain, melamun, ibadah, dan lainnya. Waktu itu tidak akan protes. Yang jelas, setiap detik hidup kita akan diminta pertanggungjawabannya kelak. Bagi mereka yang biasa mengisi waktunya dengan amal-amalan saleh/kebaikan dan berada dalam keimanan, maka ia akan memperoleh kehidupan yang lebih baik.

Akhirnya, untuk memaksimalkan potensi optimisme yang ada pada diri seseorang, kuncinya adalah diri kita perlu dibangun dengan kebiasaan positif. Dan kita berdoa, agar Sang Penguasa diri ini memberi kemampuan kepada kita untuk membangun pribadi yang tangguh dan pantang menyerah. Amin. Wallahu’alam***

Bagaimana menurut Anda?

Arda Dinata, pendiri Majelis Inspirasi Alquran dan Realitas Alam/ MIQRA Indonesia, www.miqraindonesia.com 

ORANG menjadi kuat, pada dasarnya karena mentalnya kuat. Orang menjadi lemah, karena mentalnya lemah. Begitu juga, orang sukses, karena ia memiliki keinginan untuk sukses. Dan orang yang gagal, karena ia berbuat gagal. Dalam hal ini, ada keterangan yang menyebutkan bahwa: “Orang yang kuat lebih disukai dan lebih baik dari orang yang lemah.” Jadi, manusia tangguh dan kuat itu, sudah seharusnya menjadi cita-cita kita dalam rangka mengabdi kepada-Nya.



Membangun Optimisme

ORANG menjadi kuat, pada dasarnya karena mentalnya kuat. Orang menjadi lemah, karena mentalnya lemah. Begitu juga, orang sukses, karena ia memiliki keinginan untuk sukses. Dan orang yang gagal, karena ia berbuat gagal. Dalam hal ini, ada keterangan yang menyebutkan bahwa: “Orang yang kuat lebih disukai dan lebih baik dari orang yang lemah.” Jadi, manusia tangguh dan kuat itu, sudah seharusnya menjadi cita-cita kita dalam rangka mengabdi kepada-Nya.

Dalam hal ini, kesuksesan menurut pandangan agama Islam itu memiliki dua syarat pokok. Yakni iman dan ilmu. Kedua hal ini, kalau kita kaji secara rinci, jelas-jelas memiliki pengaruh sangat besar dalam kehidupan manusia. Dengan kuatnya iman seseorang, maka ia akan sangat berpengaruh terhadap kualitas kehidupan manusia. M. Ridwan IR Lubis, menyebutnya ada tiga pengaruh iman yaitu berupa: kekuatan berpikir (quwatul idraak), kekuatan fisik (quwatul jismi), dan kekuatan ruh (quwatur ruuh).

Sedangkan menurut M. Yunan Nasution, mengungkapkan bahwa pengaruh iman terhadap kehidupan manusia itu berupa: iman akan melenyapkan kepercayaan kepada kekuasaan benda; menanamkan semangat berani menghadapi maut; membentuk ketentraman jiwa; dan membentuk kehidupan yang baik.

Menyikapi keadaan seperti saat ini, kita seharusnya tidak menjadi pesimis dan berserah diri. Kita harus optimis dan selalu berusaha untuk mencapai yang terbaik dalam hidup ini. Sehingga untuk menjadikan pribadi pantang menyerah dan tangguh ini, maka dalam diri kita harus tertanam sikap optimis, berpikir positif, dan percaya diri.

Setiap manusia harus memiliki optimisme dalam menjalani kehidupan. Dengan sikap optimis, langkah kita akan tegar menghadapi setiap cobaan dan menatap masa depan penuh dengan keyakinan. Karena garis kehidupan setiap manusia sudah ditentukan-Nya. Tugas kita adalah hanya berusaha, berpikir dan berdoa. Atau kita harus luruskan niat dan sempurnakan ikhtiar.

Sedikitnya, ada tiga pengaruh dari sifat optimisme bagi kehidupan manusia. Pertama, optimisme dapat menumbuhkan cinta akan kebaikan di dalam diri manusia dan menumbuhkan perkembangan baru dalam pandangannya tentang kehidupan.

Kedua, optimisme mampu mengurangi sejumlah problema dalam kehidupan manusia. Wajah-wajah optimis akan memancarkan kebahagiaan. Tidak saja pada saat mencapai kepuasan, tetapi dalam segala situasi.

Ketiga, orang yang menjadikan sifat optimis sebagai bagian dari kehidupannya, maka akan tumbuh kepercayaan di antara anggota masyarakat. Dan kepercayaan tersebut merupakan sebab yang mendesak dalam memulihkan dan memajukan umat (bangsa) yang sedang “sakit” seperti saat ini.

Setelah kita mampu bersikap optimis, lalu pola pikir kita juga harus dibiasakan berpikir secara positif dan percaya diri. Berpikir positif kepada siapa?

Berpikir Positif  Kepada Sang Pencipta

Setiap kejadian, peristiwa dan fenomena kehidupan ini pasti ada sebab musababnya. Artinya segala kejadian di dunia ini telah Allah atur dengan secermat-cermatnya. Tinggal bagaimana kita menyikapi setiap kejadian itu melalui akal dan pikiran yang dilandasi dengan ilmu-ilmu Allah.

Jadi, tugas kita, hanya berpikir dan membaca. Ada apa dibalik semua itu? Lalu, kita mengambil pelajaran dari setiap kejadian tersebut dan selanjutnya mengamalkan yang baiknya dalam perilaku keseharian.
           
Berpikir Positif Terhadap Diri Sendiri

Setiap manusia, dilahirkan sebagai pribadi yang unik. Karena bagaimanapun wajah dan sifat kita mirip dengan orang lain. Tapi, yang jelas ada saja perbedaan antara keduanya. Sifat dan pribadi unik itu, harus kita jaga. Itu adalah potensi positif, modal dasar untuk mencapai keleluasaan langkah kita dalam menjalani kehidupan ini. Bagaimana orang lain akan menjunjung kita, kalau diri kita sendiri meremehkan dan tidak ‘mengangkatnya’.

Selain itu, kita juga harus yakin bahwa kita dilahirkan ke dunia ini sebagai sang juara, the best. Fakta membuktikan, dari berjuta-juta sel sperma yang disemprotkan Bapak kita, tetapi ternyata yang mampu menembus dinding telur Ibu kita dan dibuahi, hanya satu. Itulah kita, “sang juara”. Hal ini, kalau kita sadari akan menjadi sebuah motivasi luar biasa dalam menjalani hidup ini.
           
Berpikir Positif Pada Orang Lain

Orang lain itu, manusia biasa sama dengan kita. Dia mempunyai kesalahan dan kekhilafan. Yang tentu hati nuraninya tidak menghendakinya. Pandanglah, orang lain itu dari sisi positifnya saja dan menerima sisi negatifnya sebagai pelajaran bagi kita.

Belajarlah dari seekor burung Garuda. Ia mengajarkan anaknya untuk terbang dari tempat yang tinggi dan menjatuhkannya. Lalu jatuh, diangkat lagi dan seterusnya sampai ia bisa terbang sendiri. Hati Garuda juga bersih, tidak mendendam. Ia kalau waktunya bermain “cakar-cakaran”. Tapi, kalau di luar itu ia akur, damai kembali.
           
Berpikir Positif Pada Waktu

Setiap manusia diberi waktu yang sama, dimana pun dia berada. Sebanyak 24 jam sehari atau 86.400 detik sehari. Waktu itu, ingin kita apakan? Kita gunakan untuk tidur seharian, kerja keras, mengeluh, berdemontrasi, bergunjing, santai, menuntut ilmu, menolong orang lain, melamun, ibadah, dan lainnya. Waktu itu tidak akan protes. Yang jelas, setiap detik hidup kita akan diminta pertanggungjawabannya kelak. Bagi mereka yang biasa mengisi waktunya dengan amal-amalan saleh/kebaikan dan berada dalam keimanan, maka ia akan memperoleh kehidupan yang lebih baik.

Akhirnya, untuk memaksimalkan potensi optimisme yang ada pada diri seseorang, kuncinya adalah diri kita perlu dibangun dengan kebiasaan positif. Dan kita berdoa, agar Sang Penguasa diri ini memberi kemampuan kepada kita untuk membangun pribadi yang tangguh dan pantang menyerah. Amin. Wallahu’alam***

Bagaimana menurut Anda?

Arda Dinata, pendiri Majelis Inspirasi Alquran dan Realitas Alam/ MIQRA Indonesia, www.miqraindonesia.com 

ORANG menjadi kuat, pada dasarnya karena mentalnya kuat. Orang menjadi lemah, karena mentalnya lemah. Begitu juga, orang sukses, karena ia memiliki keinginan untuk sukses. Dan orang yang gagal, karena ia berbuat gagal. Dalam hal ini, ada keterangan yang menyebutkan bahwa: “Orang yang kuat lebih disukai dan lebih baik dari orang yang lemah.” Jadi, manusia tangguh dan kuat itu, sudah seharusnya menjadi cita-cita kita dalam rangka mengabdi kepada-Nya.



Membangun Optimisme

ORANG menjadi kuat, pada dasarnya karena mentalnya kuat. Orang menjadi lemah, karena mentalnya lemah. Begitu juga, orang sukses, karena ia memiliki keinginan untuk sukses. Dan orang yang gagal, karena ia berbuat gagal. Dalam hal ini, ada keterangan yang menyebutkan bahwa: “Orang yang kuat lebih disukai dan lebih baik dari orang yang lemah.” Jadi, manusia tangguh dan kuat itu, sudah seharusnya menjadi cita-cita kita dalam rangka mengabdi kepada-Nya.

Dalam hal ini, kesuksesan menurut pandangan agama Islam itu memiliki dua syarat pokok. Yakni iman dan ilmu. Kedua hal ini, kalau kita kaji secara rinci, jelas-jelas memiliki pengaruh sangat besar dalam kehidupan manusia. Dengan kuatnya iman seseorang, maka ia akan sangat berpengaruh terhadap kualitas kehidupan manusia. M. Ridwan IR Lubis, menyebutnya ada tiga pengaruh iman yaitu berupa: kekuatan berpikir (quwatul idraak), kekuatan fisik (quwatul jismi), dan kekuatan ruh (quwatur ruuh).

Sedangkan menurut M. Yunan Nasution, mengungkapkan bahwa pengaruh iman terhadap kehidupan manusia itu berupa: iman akan melenyapkan kepercayaan kepada kekuasaan benda; menanamkan semangat berani menghadapi maut; membentuk ketentraman jiwa; dan membentuk kehidupan yang baik.

Menyikapi keadaan seperti saat ini, kita seharusnya tidak menjadi pesimis dan berserah diri. Kita harus optimis dan selalu berusaha untuk mencapai yang terbaik dalam hidup ini. Sehingga untuk menjadikan pribadi pantang menyerah dan tangguh ini, maka dalam diri kita harus tertanam sikap optimis, berpikir positif, dan percaya diri.

Setiap manusia harus memiliki optimisme dalam menjalani kehidupan. Dengan sikap optimis, langkah kita akan tegar menghadapi setiap cobaan dan menatap masa depan penuh dengan keyakinan. Karena garis kehidupan setiap manusia sudah ditentukan-Nya. Tugas kita adalah hanya berusaha, berpikir dan berdoa. Atau kita harus luruskan niat dan sempurnakan ikhtiar.

Sedikitnya, ada tiga pengaruh dari sifat optimisme bagi kehidupan manusia. Pertama, optimisme dapat menumbuhkan cinta akan kebaikan di dalam diri manusia dan menumbuhkan perkembangan baru dalam pandangannya tentang kehidupan.

Kedua, optimisme mampu mengurangi sejumlah problema dalam kehidupan manusia. Wajah-wajah optimis akan memancarkan kebahagiaan. Tidak saja pada saat mencapai kepuasan, tetapi dalam segala situasi.

Ketiga, orang yang menjadikan sifat optimis sebagai bagian dari kehidupannya, maka akan tumbuh kepercayaan di antara anggota masyarakat. Dan kepercayaan tersebut merupakan sebab yang mendesak dalam memulihkan dan memajukan umat (bangsa) yang sedang “sakit” seperti saat ini.

Setelah kita mampu bersikap optimis, lalu pola pikir kita juga harus dibiasakan berpikir secara positif dan percaya diri. Berpikir positif kepada siapa?

Berpikir Positif  Kepada Sang Pencipta

Setiap kejadian, peristiwa dan fenomena kehidupan ini pasti ada sebab musababnya. Artinya segala kejadian di dunia ini telah Allah atur dengan secermat-cermatnya. Tinggal bagaimana kita menyikapi setiap kejadian itu melalui akal dan pikiran yang dilandasi dengan ilmu-ilmu Allah.

Jadi, tugas kita, hanya berpikir dan membaca. Ada apa dibalik semua itu? Lalu, kita mengambil pelajaran dari setiap kejadian tersebut dan selanjutnya mengamalkan yang baiknya dalam perilaku keseharian.
           
Berpikir Positif Terhadap Diri Sendiri

Setiap manusia, dilahirkan sebagai pribadi yang unik. Karena bagaimanapun wajah dan sifat kita mirip dengan orang lain. Tapi, yang jelas ada saja perbedaan antara keduanya. Sifat dan pribadi unik itu, harus kita jaga. Itu adalah potensi positif, modal dasar untuk mencapai keleluasaan langkah kita dalam menjalani kehidupan ini. Bagaimana orang lain akan menjunjung kita, kalau diri kita sendiri meremehkan dan tidak ‘mengangkatnya’.

Selain itu, kita juga harus yakin bahwa kita dilahirkan ke dunia ini sebagai sang juara, the best. Fakta membuktikan, dari berjuta-juta sel sperma yang disemprotkan Bapak kita, tetapi ternyata yang mampu menembus dinding telur Ibu kita dan dibuahi, hanya satu. Itulah kita, “sang juara”. Hal ini, kalau kita sadari akan menjadi sebuah motivasi luar biasa dalam menjalani hidup ini.
           
Berpikir Positif Pada Orang Lain

Orang lain itu, manusia biasa sama dengan kita. Dia mempunyai kesalahan dan kekhilafan. Yang tentu hati nuraninya tidak menghendakinya. Pandanglah, orang lain itu dari sisi positifnya saja dan menerima sisi negatifnya sebagai pelajaran bagi kita.

Belajarlah dari seekor burung Garuda. Ia mengajarkan anaknya untuk terbang dari tempat yang tinggi dan menjatuhkannya. Lalu jatuh, diangkat lagi dan seterusnya sampai ia bisa terbang sendiri. Hati Garuda juga bersih, tidak mendendam. Ia kalau waktunya bermain “cakar-cakaran”. Tapi, kalau di luar itu ia akur, damai kembali.
           
Berpikir Positif Pada Waktu

Setiap manusia diberi waktu yang sama, dimana pun dia berada. Sebanyak 24 jam sehari atau 86.400 detik sehari. Waktu itu, ingin kita apakan? Kita gunakan untuk tidur seharian, kerja keras, mengeluh, berdemontrasi, bergunjing, santai, menuntut ilmu, menolong orang lain, melamun, ibadah, dan lainnya. Waktu itu tidak akan protes. Yang jelas, setiap detik hidup kita akan diminta pertanggungjawabannya kelak. Bagi mereka yang biasa mengisi waktunya dengan amal-amalan saleh/kebaikan dan berada dalam keimanan, maka ia akan memperoleh kehidupan yang lebih baik.

Akhirnya, untuk memaksimalkan potensi optimisme yang ada pada diri seseorang, kuncinya adalah diri kita perlu dibangun dengan kebiasaan positif. Dan kita berdoa, agar Sang Penguasa diri ini memberi kemampuan kepada kita untuk membangun pribadi yang tangguh dan pantang menyerah. Amin. Wallahu’alam***

Bagaimana menurut Anda?

Arda Dinata, pendiri Majelis Inspirasi Alquran dan Realitas Alam/ MIQRA Indonesia, www.miqraindonesia.com 

ORANG menjadi kuat, pada dasarnya karena mentalnya kuat. Orang menjadi lemah, karena mentalnya lemah. Begitu juga, orang sukses, karena ia memiliki keinginan untuk sukses. Dan orang yang gagal, karena ia berbuat gagal. Dalam hal ini, ada keterangan yang menyebutkan bahwa: “Orang yang kuat lebih disukai dan lebih baik dari orang yang lemah.” Jadi, manusia tangguh dan kuat itu, sudah seharusnya menjadi cita-cita kita dalam rangka mengabdi kepada-Nya.



Membangun Optimisme

ORANG menjadi kuat, pada dasarnya karena mentalnya kuat. Orang menjadi lemah, karena mentalnya lemah. Begitu juga, orang sukses, karena ia memiliki keinginan untuk sukses. Dan orang yang gagal, karena ia berbuat gagal. Dalam hal ini, ada keterangan yang menyebutkan bahwa: “Orang yang kuat lebih disukai dan lebih baik dari orang yang lemah.” Jadi, manusia tangguh dan kuat itu, sudah seharusnya menjadi cita-cita kita dalam rangka mengabdi kepada-Nya.

Dalam hal ini, kesuksesan menurut pandangan agama Islam itu memiliki dua syarat pokok. Yakni iman dan ilmu. Kedua hal ini, kalau kita kaji secara rinci, jelas-jelas memiliki pengaruh sangat besar dalam kehidupan manusia. Dengan kuatnya iman seseorang, maka ia akan sangat berpengaruh terhadap kualitas kehidupan manusia. M. Ridwan IR Lubis, menyebutnya ada tiga pengaruh iman yaitu berupa: kekuatan berpikir (quwatul idraak), kekuatan fisik (quwatul jismi), dan kekuatan ruh (quwatur ruuh).

Sedangkan menurut M. Yunan Nasution, mengungkapkan bahwa pengaruh iman terhadap kehidupan manusia itu berupa: iman akan melenyapkan kepercayaan kepada kekuasaan benda; menanamkan semangat berani menghadapi maut; membentuk ketentraman jiwa; dan membentuk kehidupan yang baik.

Menyikapi keadaan seperti saat ini, kita seharusnya tidak menjadi pesimis dan berserah diri. Kita harus optimis dan selalu berusaha untuk mencapai yang terbaik dalam hidup ini. Sehingga untuk menjadikan pribadi pantang menyerah dan tangguh ini, maka dalam diri kita harus tertanam sikap optimis, berpikir positif, dan percaya diri.

Setiap manusia harus memiliki optimisme dalam menjalani kehidupan. Dengan sikap optimis, langkah kita akan tegar menghadapi setiap cobaan dan menatap masa depan penuh dengan keyakinan. Karena garis kehidupan setiap manusia sudah ditentukan-Nya. Tugas kita adalah hanya berusaha, berpikir dan berdoa. Atau kita harus luruskan niat dan sempurnakan ikhtiar.

Sedikitnya, ada tiga pengaruh dari sifat optimisme bagi kehidupan manusia. Pertama, optimisme dapat menumbuhkan cinta akan kebaikan di dalam diri manusia dan menumbuhkan perkembangan baru dalam pandangannya tentang kehidupan.

Kedua, optimisme mampu mengurangi sejumlah problema dalam kehidupan manusia. Wajah-wajah optimis akan memancarkan kebahagiaan. Tidak saja pada saat mencapai kepuasan, tetapi dalam segala situasi.

Ketiga, orang yang menjadikan sifat optimis sebagai bagian dari kehidupannya, maka akan tumbuh kepercayaan di antara anggota masyarakat. Dan kepercayaan tersebut merupakan sebab yang mendesak dalam memulihkan dan memajukan umat (bangsa) yang sedang “sakit” seperti saat ini.

Setelah kita mampu bersikap optimis, lalu pola pikir kita juga harus dibiasakan berpikir secara positif dan percaya diri. Berpikir positif kepada siapa?

Berpikir Positif  Kepada Sang Pencipta

Setiap kejadian, peristiwa dan fenomena kehidupan ini pasti ada sebab musababnya. Artinya segala kejadian di dunia ini telah Allah atur dengan secermat-cermatnya. Tinggal bagaimana kita menyikapi setiap kejadian itu melalui akal dan pikiran yang dilandasi dengan ilmu-ilmu Allah.

Jadi, tugas kita, hanya berpikir dan membaca. Ada apa dibalik semua itu? Lalu, kita mengambil pelajaran dari setiap kejadian tersebut dan selanjutnya mengamalkan yang baiknya dalam perilaku keseharian.
           
Berpikir Positif Terhadap Diri Sendiri

Setiap manusia, dilahirkan sebagai pribadi yang unik. Karena bagaimanapun wajah dan sifat kita mirip dengan orang lain. Tapi, yang jelas ada saja perbedaan antara keduanya. Sifat dan pribadi unik itu, harus kita jaga. Itu adalah potensi positif, modal dasar untuk mencapai keleluasaan langkah kita dalam menjalani kehidupan ini. Bagaimana orang lain akan menjunjung kita, kalau diri kita sendiri meremehkan dan tidak ‘mengangkatnya’.

Selain itu, kita juga harus yakin bahwa kita dilahirkan ke dunia ini sebagai sang juara, the best. Fakta membuktikan, dari berjuta-juta sel sperma yang disemprotkan Bapak kita, tetapi ternyata yang mampu menembus dinding telur Ibu kita dan dibuahi, hanya satu. Itulah kita, “sang juara”. Hal ini, kalau kita sadari akan menjadi sebuah motivasi luar biasa dalam menjalani hidup ini.
           
Berpikir Positif Pada Orang Lain

Orang lain itu, manusia biasa sama dengan kita. Dia mempunyai kesalahan dan kekhilafan. Yang tentu hati nuraninya tidak menghendakinya. Pandanglah, orang lain itu dari sisi positifnya saja dan menerima sisi negatifnya sebagai pelajaran bagi kita.

Belajarlah dari seekor burung Garuda. Ia mengajarkan anaknya untuk terbang dari tempat yang tinggi dan menjatuhkannya. Lalu jatuh, diangkat lagi dan seterusnya sampai ia bisa terbang sendiri. Hati Garuda juga bersih, tidak mendendam. Ia kalau waktunya bermain “cakar-cakaran”. Tapi, kalau di luar itu ia akur, damai kembali.
           
Berpikir Positif Pada Waktu

Setiap manusia diberi waktu yang sama, dimana pun dia berada. Sebanyak 24 jam sehari atau 86.400 detik sehari. Waktu itu, ingin kita apakan? Kita gunakan untuk tidur seharian, kerja keras, mengeluh, berdemontrasi, bergunjing, santai, menuntut ilmu, menolong orang lain, melamun, ibadah, dan lainnya. Waktu itu tidak akan protes. Yang jelas, setiap detik hidup kita akan diminta pertanggungjawabannya kelak. Bagi mereka yang biasa mengisi waktunya dengan amal-amalan saleh/kebaikan dan berada dalam keimanan, maka ia akan memperoleh kehidupan yang lebih baik.

Akhirnya, untuk memaksimalkan potensi optimisme yang ada pada diri seseorang, kuncinya adalah diri kita perlu dibangun dengan kebiasaan positif. Dan kita berdoa, agar Sang Penguasa diri ini memberi kemampuan kepada kita untuk membangun pribadi yang tangguh dan pantang menyerah. Amin. Wallahu’alam***

Bagaimana menurut Anda?

Arda Dinata, pendiri Majelis Inspirasi Alquran dan Realitas Alam/ MIQRA Indonesia, www.miqraindonesia.com 

ORANG menjadi kuat, pada dasarnya karena mentalnya kuat. Orang menjadi lemah, karena mentalnya lemah. Begitu juga, orang sukses, karena ia memiliki keinginan untuk sukses. Dan orang yang gagal, karena ia berbuat gagal. Dalam hal ini, ada keterangan yang menyebutkan bahwa: “Orang yang kuat lebih disukai dan lebih baik dari orang yang lemah.” Jadi, manusia tangguh dan kuat itu, sudah seharusnya menjadi cita-cita kita dalam rangka mengabdi kepada-Nya.



Membangun Optimisme

ORANG menjadi kuat, pada dasarnya karena mentalnya kuat. Orang menjadi lemah, karena mentalnya lemah. Begitu juga, orang sukses, karena ia memiliki keinginan untuk sukses. Dan orang yang gagal, karena ia berbuat gagal. Dalam hal ini, ada keterangan yang menyebutkan bahwa: “Orang yang kuat lebih disukai dan lebih baik dari orang yang lemah.” Jadi, manusia tangguh dan kuat itu, sudah seharusnya menjadi cita-cita kita dalam rangka mengabdi kepada-Nya.

Dalam hal ini, kesuksesan menurut pandangan agama Islam itu memiliki dua syarat pokok. Yakni iman dan ilmu. Kedua hal ini, kalau kita kaji secara rinci, jelas-jelas memiliki pengaruh sangat besar dalam kehidupan manusia. Dengan kuatnya iman seseorang, maka ia akan sangat berpengaruh terhadap kualitas kehidupan manusia. M. Ridwan IR Lubis, menyebutnya ada tiga pengaruh iman yaitu berupa: kekuatan berpikir (quwatul idraak), kekuatan fisik (quwatul jismi), dan kekuatan ruh (quwatur ruuh).

Sedangkan menurut M. Yunan Nasution, mengungkapkan bahwa pengaruh iman terhadap kehidupan manusia itu berupa: iman akan melenyapkan kepercayaan kepada kekuasaan benda; menanamkan semangat berani menghadapi maut; membentuk ketentraman jiwa; dan membentuk kehidupan yang baik.

Menyikapi keadaan seperti saat ini, kita seharusnya tidak menjadi pesimis dan berserah diri. Kita harus optimis dan selalu berusaha untuk mencapai yang terbaik dalam hidup ini. Sehingga untuk menjadikan pribadi pantang menyerah dan tangguh ini, maka dalam diri kita harus tertanam sikap optimis, berpikir positif, dan percaya diri.

Setiap manusia harus memiliki optimisme dalam menjalani kehidupan. Dengan sikap optimis, langkah kita akan tegar menghadapi setiap cobaan dan menatap masa depan penuh dengan keyakinan. Karena garis kehidupan setiap manusia sudah ditentukan-Nya. Tugas kita adalah hanya berusaha, berpikir dan berdoa. Atau kita harus luruskan niat dan sempurnakan ikhtiar.

Sedikitnya, ada tiga pengaruh dari sifat optimisme bagi kehidupan manusia. Pertama, optimisme dapat menumbuhkan cinta akan kebaikan di dalam diri manusia dan menumbuhkan perkembangan baru dalam pandangannya tentang kehidupan.

Kedua, optimisme mampu mengurangi sejumlah problema dalam kehidupan manusia. Wajah-wajah optimis akan memancarkan kebahagiaan. Tidak saja pada saat mencapai kepuasan, tetapi dalam segala situasi.

Ketiga, orang yang menjadikan sifat optimis sebagai bagian dari kehidupannya, maka akan tumbuh kepercayaan di antara anggota masyarakat. Dan kepercayaan tersebut merupakan sebab yang mendesak dalam memulihkan dan memajukan umat (bangsa) yang sedang “sakit” seperti saat ini.

Setelah kita mampu bersikap optimis, lalu pola pikir kita juga harus dibiasakan berpikir secara positif dan percaya diri. Berpikir positif kepada siapa?

Berpikir Positif  Kepada Sang Pencipta

Setiap kejadian, peristiwa dan fenomena kehidupan ini pasti ada sebab musababnya. Artinya segala kejadian di dunia ini telah Allah atur dengan secermat-cermatnya. Tinggal bagaimana kita menyikapi setiap kejadian itu melalui akal dan pikiran yang dilandasi dengan ilmu-ilmu Allah.

Jadi, tugas kita, hanya berpikir dan membaca. Ada apa dibalik semua itu? Lalu, kita mengambil pelajaran dari setiap kejadian tersebut dan selanjutnya mengamalkan yang baiknya dalam perilaku keseharian.
           
Berpikir Positif Terhadap Diri Sendiri

Setiap manusia, dilahirkan sebagai pribadi yang unik. Karena bagaimanapun wajah dan sifat kita mirip dengan orang lain. Tapi, yang jelas ada saja perbedaan antara keduanya. Sifat dan pribadi unik itu, harus kita jaga. Itu adalah potensi positif, modal dasar untuk mencapai keleluasaan langkah kita dalam menjalani kehidupan ini. Bagaimana orang lain akan menjunjung kita, kalau diri kita sendiri meremehkan dan tidak ‘mengangkatnya’.

Selain itu, kita juga harus yakin bahwa kita dilahirkan ke dunia ini sebagai sang juara, the best. Fakta membuktikan, dari berjuta-juta sel sperma yang disemprotkan Bapak kita, tetapi ternyata yang mampu menembus dinding telur Ibu kita dan dibuahi, hanya satu. Itulah kita, “sang juara”. Hal ini, kalau kita sadari akan menjadi sebuah motivasi luar biasa dalam menjalani hidup ini.
           
Berpikir Positif Pada Orang Lain

Orang lain itu, manusia biasa sama dengan kita. Dia mempunyai kesalahan dan kekhilafan. Yang tentu hati nuraninya tidak menghendakinya. Pandanglah, orang lain itu dari sisi positifnya saja dan menerima sisi negatifnya sebagai pelajaran bagi kita.

Belajarlah dari seekor burung Garuda. Ia mengajarkan anaknya untuk terbang dari tempat yang tinggi dan menjatuhkannya. Lalu jatuh, diangkat lagi dan seterusnya sampai ia bisa terbang sendiri. Hati Garuda juga bersih, tidak mendendam. Ia kalau waktunya bermain “cakar-cakaran”. Tapi, kalau di luar itu ia akur, damai kembali.
           
Berpikir Positif Pada Waktu

Setiap manusia diberi waktu yang sama, dimana pun dia berada. Sebanyak 24 jam sehari atau 86.400 detik sehari. Waktu itu, ingin kita apakan? Kita gunakan untuk tidur seharian, kerja keras, mengeluh, berdemontrasi, bergunjing, santai, menuntut ilmu, menolong orang lain, melamun, ibadah, dan lainnya. Waktu itu tidak akan protes. Yang jelas, setiap detik hidup kita akan diminta pertanggungjawabannya kelak. Bagi mereka yang biasa mengisi waktunya dengan amal-amalan saleh/kebaikan dan berada dalam keimanan, maka ia akan memperoleh kehidupan yang lebih baik.

Akhirnya, untuk memaksimalkan potensi optimisme yang ada pada diri seseorang, kuncinya adalah diri kita perlu dibangun dengan kebiasaan positif. Dan kita berdoa, agar Sang Penguasa diri ini memberi kemampuan kepada kita untuk membangun pribadi yang tangguh dan pantang menyerah. Amin. Wallahu’alam***

Bagaimana menurut Anda?

Arda Dinata, pendiri Majelis Inspirasi Alquran dan Realitas Alam/ MIQRA Indonesia, www.miqraindonesia.com 

ORANG menjadi kuat, pada dasarnya karena mentalnya kuat. Orang menjadi lemah, karena mentalnya lemah. Begitu juga, orang sukses, karena ia memiliki keinginan untuk sukses. Dan orang yang gagal, karena ia berbuat gagal. Dalam hal ini, ada keterangan yang menyebutkan bahwa: “Orang yang kuat lebih disukai dan lebih baik dari orang yang lemah.” Jadi, manusia tangguh dan kuat itu, sudah seharusnya menjadi cita-cita kita dalam rangka mengabdi kepada-Nya.



Membangun Optimisme

ORANG menjadi kuat, pada dasarnya karena mentalnya kuat. Orang menjadi lemah, karena mentalnya lemah. Begitu juga, orang sukses, karena ia memiliki keinginan untuk sukses. Dan orang yang gagal, karena ia berbuat gagal. Dalam hal ini, ada keterangan yang menyebutkan bahwa: “Orang yang kuat lebih disukai dan lebih baik dari orang yang lemah.” Jadi, manusia tangguh dan kuat itu, sudah seharusnya menjadi cita-cita kita dalam rangka mengabdi kepada-Nya.

Dalam hal ini, kesuksesan menurut pandangan agama Islam itu memiliki dua syarat pokok. Yakni iman dan ilmu. Kedua hal ini, kalau kita kaji secara rinci, jelas-jelas memiliki pengaruh sangat besar dalam kehidupan manusia. Dengan kuatnya iman seseorang, maka ia akan sangat berpengaruh terhadap kualitas kehidupan manusia. M. Ridwan IR Lubis, menyebutnya ada tiga pengaruh iman yaitu berupa: kekuatan berpikir (quwatul idraak), kekuatan fisik (quwatul jismi), dan kekuatan ruh (quwatur ruuh).

Sedangkan menurut M. Yunan Nasution, mengungkapkan bahwa pengaruh iman terhadap kehidupan manusia itu berupa: iman akan melenyapkan kepercayaan kepada kekuasaan benda; menanamkan semangat berani menghadapi maut; membentuk ketentraman jiwa; dan membentuk kehidupan yang baik.

Menyikapi keadaan seperti saat ini, kita seharusnya tidak menjadi pesimis dan berserah diri. Kita harus optimis dan selalu berusaha untuk mencapai yang terbaik dalam hidup ini. Sehingga untuk menjadikan pribadi pantang menyerah dan tangguh ini, maka dalam diri kita harus tertanam sikap optimis, berpikir positif, dan percaya diri.

Setiap manusia harus memiliki optimisme dalam menjalani kehidupan. Dengan sikap optimis, langkah kita akan tegar menghadapi setiap cobaan dan menatap masa depan penuh dengan keyakinan. Karena garis kehidupan setiap manusia sudah ditentukan-Nya. Tugas kita adalah hanya berusaha, berpikir dan berdoa. Atau kita harus luruskan niat dan sempurnakan ikhtiar.

Sedikitnya, ada tiga pengaruh dari sifat optimisme bagi kehidupan manusia. Pertama, optimisme dapat menumbuhkan cinta akan kebaikan di dalam diri manusia dan menumbuhkan perkembangan baru dalam pandangannya tentang kehidupan.

Kedua, optimisme mampu mengurangi sejumlah problema dalam kehidupan manusia. Wajah-wajah optimis akan memancarkan kebahagiaan. Tidak saja pada saat mencapai kepuasan, tetapi dalam segala situasi.

Ketiga, orang yang menjadikan sifat optimis sebagai bagian dari kehidupannya, maka akan tumbuh kepercayaan di antara anggota masyarakat. Dan kepercayaan tersebut merupakan sebab yang mendesak dalam memulihkan dan memajukan umat (bangsa) yang sedang “sakit” seperti saat ini.

Setelah kita mampu bersikap optimis, lalu pola pikir kita juga harus dibiasakan berpikir secara positif dan percaya diri. Berpikir positif kepada siapa?

Berpikir Positif  Kepada Sang Pencipta

Setiap kejadian, peristiwa dan fenomena kehidupan ini pasti ada sebab musababnya. Artinya segala kejadian di dunia ini telah Allah atur dengan secermat-cermatnya. Tinggal bagaimana kita menyikapi setiap kejadian itu melalui akal dan pikiran yang dilandasi dengan ilmu-ilmu Allah.

Jadi, tugas kita, hanya berpikir dan membaca. Ada apa dibalik semua itu? Lalu, kita mengambil pelajaran dari setiap kejadian tersebut dan selanjutnya mengamalkan yang baiknya dalam perilaku keseharian.
           
Berpikir Positif Terhadap Diri Sendiri

Setiap manusia, dilahirkan sebagai pribadi yang unik. Karena bagaimanapun wajah dan sifat kita mirip dengan orang lain. Tapi, yang jelas ada saja perbedaan antara keduanya. Sifat dan pribadi unik itu, harus kita jaga. Itu adalah potensi positif, modal dasar untuk mencapai keleluasaan langkah kita dalam menjalani kehidupan ini. Bagaimana orang lain akan menjunjung kita, kalau diri kita sendiri meremehkan dan tidak ‘mengangkatnya’.

Selain itu, kita juga harus yakin bahwa kita dilahirkan ke dunia ini sebagai sang juara, the best. Fakta membuktikan, dari berjuta-juta sel sperma yang disemprotkan Bapak kita, tetapi ternyata yang mampu menembus dinding telur Ibu kita dan dibuahi, hanya satu. Itulah kita, “sang juara”. Hal ini, kalau kita sadari akan menjadi sebuah motivasi luar biasa dalam menjalani hidup ini.
           
Berpikir Positif Pada Orang Lain

Orang lain itu, manusia biasa sama dengan kita. Dia mempunyai kesalahan dan kekhilafan. Yang tentu hati nuraninya tidak menghendakinya. Pandanglah, orang lain itu dari sisi positifnya saja dan menerima sisi negatifnya sebagai pelajaran bagi kita.

Belajarlah dari seekor burung Garuda. Ia mengajarkan anaknya untuk terbang dari tempat yang tinggi dan menjatuhkannya. Lalu jatuh, diangkat lagi dan seterusnya sampai ia bisa terbang sendiri. Hati Garuda juga bersih, tidak mendendam. Ia kalau waktunya bermain “cakar-cakaran”. Tapi, kalau di luar itu ia akur, damai kembali.
           
Berpikir Positif Pada Waktu

Setiap manusia diberi waktu yang sama, dimana pun dia berada. Sebanyak 24 jam sehari atau 86.400 detik sehari. Waktu itu, ingin kita apakan? Kita gunakan untuk tidur seharian, kerja keras, mengeluh, berdemontrasi, bergunjing, santai, menuntut ilmu, menolong orang lain, melamun, ibadah, dan lainnya. Waktu itu tidak akan protes. Yang jelas, setiap detik hidup kita akan diminta pertanggungjawabannya kelak. Bagi mereka yang biasa mengisi waktunya dengan amal-amalan saleh/kebaikan dan berada dalam keimanan, maka ia akan memperoleh kehidupan yang lebih baik.

Akhirnya, untuk memaksimalkan potensi optimisme yang ada pada diri seseorang, kuncinya adalah diri kita perlu dibangun dengan kebiasaan positif. Dan kita berdoa, agar Sang Penguasa diri ini memberi kemampuan kepada kita untuk membangun pribadi yang tangguh dan pantang menyerah. Amin. Wallahu’alam***

Bagaimana menurut Anda?

Arda Dinata, pendiri Majelis Inspirasi Alquran dan Realitas Alam/ MIQRA Indonesia, www.miqraindonesia.com 

ORANG menjadi kuat, pada dasarnya karena mentalnya kuat. Orang menjadi lemah, karena mentalnya lemah. Begitu juga, orang sukses, karena ia memiliki keinginan untuk sukses. Dan orang yang gagal, karena ia berbuat gagal. Dalam hal ini, ada keterangan yang menyebutkan bahwa: “Orang yang kuat lebih disukai dan lebih baik dari orang yang lemah.” Jadi, manusia tangguh dan kuat itu, sudah seharusnya menjadi cita-cita kita dalam rangka mengabdi kepada-Nya.



Membangun Optimisme

ORANG menjadi kuat, pada dasarnya karena mentalnya kuat. Orang menjadi lemah, karena mentalnya lemah. Begitu juga, orang sukses, karena ia memiliki keinginan untuk sukses. Dan orang yang gagal, karena ia berbuat gagal. Dalam hal ini, ada keterangan yang menyebutkan bahwa: “Orang yang kuat lebih disukai dan lebih baik dari orang yang lemah.” Jadi, manusia tangguh dan kuat itu, sudah seharusnya menjadi cita-cita kita dalam rangka mengabdi kepada-Nya.

Dalam hal ini, kesuksesan menurut pandangan agama Islam itu memiliki dua syarat pokok. Yakni iman dan ilmu. Kedua hal ini, kalau kita kaji secara rinci, jelas-jelas memiliki pengaruh sangat besar dalam kehidupan manusia. Dengan kuatnya iman seseorang, maka ia akan sangat berpengaruh terhadap kualitas kehidupan manusia. M. Ridwan IR Lubis, menyebutnya ada tiga pengaruh iman yaitu berupa: kekuatan berpikir (quwatul idraak), kekuatan fisik (quwatul jismi), dan kekuatan ruh (quwatur ruuh).

Sedangkan menurut M. Yunan Nasution, mengungkapkan bahwa pengaruh iman terhadap kehidupan manusia itu berupa: iman akan melenyapkan kepercayaan kepada kekuasaan benda; menanamkan semangat berani menghadapi maut; membentuk ketentraman jiwa; dan membentuk kehidupan yang baik.

Menyikapi keadaan seperti saat ini, kita seharusnya tidak menjadi pesimis dan berserah diri. Kita harus optimis dan selalu berusaha untuk mencapai yang terbaik dalam hidup ini. Sehingga untuk menjadikan pribadi pantang menyerah dan tangguh ini, maka dalam diri kita harus tertanam sikap optimis, berpikir positif, dan percaya diri.

Setiap manusia harus memiliki optimisme dalam menjalani kehidupan. Dengan sikap optimis, langkah kita akan tegar menghadapi setiap cobaan dan menatap masa depan penuh dengan keyakinan. Karena garis kehidupan setiap manusia sudah ditentukan-Nya. Tugas kita adalah hanya berusaha, berpikir dan berdoa. Atau kita harus luruskan niat dan sempurnakan ikhtiar.

Sedikitnya, ada tiga pengaruh dari sifat optimisme bagi kehidupan manusia. Pertama, optimisme dapat menumbuhkan cinta akan kebaikan di dalam diri manusia dan menumbuhkan perkembangan baru dalam pandangannya tentang kehidupan.

Kedua, optimisme mampu mengurangi sejumlah problema dalam kehidupan manusia. Wajah-wajah optimis akan memancarkan kebahagiaan. Tidak saja pada saat mencapai kepuasan, tetapi dalam segala situasi.

Ketiga, orang yang menjadikan sifat optimis sebagai bagian dari kehidupannya, maka akan tumbuh kepercayaan di antara anggota masyarakat. Dan kepercayaan tersebut merupakan sebab yang mendesak dalam memulihkan dan memajukan umat (bangsa) yang sedang “sakit” seperti saat ini.

Setelah kita mampu bersikap optimis, lalu pola pikir kita juga harus dibiasakan berpikir secara positif dan percaya diri. Berpikir positif kepada siapa?

Berpikir Positif  Kepada Sang Pencipta

Setiap kejadian, peristiwa dan fenomena kehidupan ini pasti ada sebab musababnya. Artinya segala kejadian di dunia ini telah Allah atur dengan secermat-cermatnya. Tinggal bagaimana kita menyikapi setiap kejadian itu melalui akal dan pikiran yang dilandasi dengan ilmu-ilmu Allah.

Jadi, tugas kita, hanya berpikir dan membaca. Ada apa dibalik semua itu? Lalu, kita mengambil pelajaran dari setiap kejadian tersebut dan selanjutnya mengamalkan yang baiknya dalam perilaku keseharian.
           
Berpikir Positif Terhadap Diri Sendiri

Setiap manusia, dilahirkan sebagai pribadi yang unik. Karena bagaimanapun wajah dan sifat kita mirip dengan orang lain. Tapi, yang jelas ada saja perbedaan antara keduanya. Sifat dan pribadi unik itu, harus kita jaga. Itu adalah potensi positif, modal dasar untuk mencapai keleluasaan langkah kita dalam menjalani kehidupan ini. Bagaimana orang lain akan menjunjung kita, kalau diri kita sendiri meremehkan dan tidak ‘mengangkatnya’.

Selain itu, kita juga harus yakin bahwa kita dilahirkan ke dunia ini sebagai sang juara, the best. Fakta membuktikan, dari berjuta-juta sel sperma yang disemprotkan Bapak kita, tetapi ternyata yang mampu menembus dinding telur Ibu kita dan dibuahi, hanya satu. Itulah kita, “sang juara”. Hal ini, kalau kita sadari akan menjadi sebuah motivasi luar biasa dalam menjalani hidup ini.
           
Berpikir Positif Pada Orang Lain

Orang lain itu, manusia biasa sama dengan kita. Dia mempunyai kesalahan dan kekhilafan. Yang tentu hati nuraninya tidak menghendakinya. Pandanglah, orang lain itu dari sisi positifnya saja dan menerima sisi negatifnya sebagai pelajaran bagi kita.

Belajarlah dari seekor burung Garuda. Ia mengajarkan anaknya untuk terbang dari tempat yang tinggi dan menjatuhkannya. Lalu jatuh, diangkat lagi dan seterusnya sampai ia bisa terbang sendiri. Hati Garuda juga bersih, tidak mendendam. Ia kalau waktunya bermain “cakar-cakaran”. Tapi, kalau di luar itu ia akur, damai kembali.
           
Berpikir Positif Pada Waktu

Setiap manusia diberi waktu yang sama, dimana pun dia berada. Sebanyak 24 jam sehari atau 86.400 detik sehari. Waktu itu, ingin kita apakan? Kita gunakan untuk tidur seharian, kerja keras, mengeluh, berdemontrasi, bergunjing, santai, menuntut ilmu, menolong orang lain, melamun, ibadah, dan lainnya. Waktu itu tidak akan protes. Yang jelas, setiap detik hidup kita akan diminta pertanggungjawabannya kelak. Bagi mereka yang biasa mengisi waktunya dengan amal-amalan saleh/kebaikan dan berada dalam keimanan, maka ia akan memperoleh kehidupan yang lebih baik.

Akhirnya, untuk memaksimalkan potensi optimisme yang ada pada diri seseorang, kuncinya adalah diri kita perlu dibangun dengan kebiasaan positif. Dan kita berdoa, agar Sang Penguasa diri ini memberi kemampuan kepada kita untuk membangun pribadi yang tangguh dan pantang menyerah. Amin. Wallahu’alam***

Bagaimana menurut Anda?

Arda Dinata, pendiri Majelis Inspirasi Alquran dan Realitas Alam/ MIQRA Indonesia, www.miqraindonesia.com 

ORANG menjadi kuat, pada dasarnya karena mentalnya kuat. Orang menjadi lemah, karena mentalnya lemah. Begitu juga, orang sukses, karena ia memiliki keinginan untuk sukses. Dan orang yang gagal, karena ia berbuat gagal. Dalam hal ini, ada keterangan yang menyebutkan bahwa: “Orang yang kuat lebih disukai dan lebih baik dari orang yang lemah.” Jadi, manusia tangguh dan kuat itu, sudah seharusnya menjadi cita-cita kita dalam rangka mengabdi kepada-Nya.



Membangun Optimisme

ORANG menjadi kuat, pada dasarnya karena mentalnya kuat. Orang menjadi lemah, karena mentalnya lemah. Begitu juga, orang sukses, karena ia memiliki keinginan untuk sukses. Dan orang yang gagal, karena ia berbuat gagal. Dalam hal ini, ada keterangan yang menyebutkan bahwa: “Orang yang kuat lebih disukai dan lebih baik dari orang yang lemah.” Jadi, manusia tangguh dan kuat itu, sudah seharusnya menjadi cita-cita kita dalam rangka mengabdi kepada-Nya.

Dalam hal ini, kesuksesan menurut pandangan agama Islam itu memiliki dua syarat pokok. Yakni iman dan ilmu. Kedua hal ini, kalau kita kaji secara rinci, jelas-jelas memiliki pengaruh sangat besar dalam kehidupan manusia. Dengan kuatnya iman seseorang, maka ia akan sangat berpengaruh terhadap kualitas kehidupan manusia. M. Ridwan IR Lubis, menyebutnya ada tiga pengaruh iman yaitu berupa: kekuatan berpikir (quwatul idraak), kekuatan fisik (quwatul jismi), dan kekuatan ruh (quwatur ruuh).

Sedangkan menurut M. Yunan Nasution, mengungkapkan bahwa pengaruh iman terhadap kehidupan manusia itu berupa: iman akan melenyapkan kepercayaan kepada kekuasaan benda; menanamkan semangat berani menghadapi maut; membentuk ketentraman jiwa; dan membentuk kehidupan yang baik.

Menyikapi keadaan seperti saat ini, kita seharusnya tidak menjadi pesimis dan berserah diri. Kita harus optimis dan selalu berusaha untuk mencapai yang terbaik dalam hidup ini. Sehingga untuk menjadikan pribadi pantang menyerah dan tangguh ini, maka dalam diri kita harus tertanam sikap optimis, berpikir positif, dan percaya diri.

Setiap manusia harus memiliki optimisme dalam menjalani kehidupan. Dengan sikap optimis, langkah kita akan tegar menghadapi setiap cobaan dan menatap masa depan penuh dengan keyakinan. Karena garis kehidupan setiap manusia sudah ditentukan-Nya. Tugas kita adalah hanya berusaha, berpikir dan berdoa. Atau kita harus luruskan niat dan sempurnakan ikhtiar.

Sedikitnya, ada tiga pengaruh dari sifat optimisme bagi kehidupan manusia. Pertama, optimisme dapat menumbuhkan cinta akan kebaikan di dalam diri manusia dan menumbuhkan perkembangan baru dalam pandangannya tentang kehidupan.

Kedua, optimisme mampu mengurangi sejumlah problema dalam kehidupan manusia. Wajah-wajah optimis akan memancarkan kebahagiaan. Tidak saja pada saat mencapai kepuasan, tetapi dalam segala situasi.

Ketiga, orang yang menjadikan sifat optimis sebagai bagian dari kehidupannya, maka akan tumbuh kepercayaan di antara anggota masyarakat. Dan kepercayaan tersebut merupakan sebab yang mendesak dalam memulihkan dan memajukan umat (bangsa) yang sedang “sakit” seperti saat ini.

Setelah kita mampu bersikap optimis, lalu pola pikir kita juga harus dibiasakan berpikir secara positif dan percaya diri. Berpikir positif kepada siapa?

Berpikir Positif  Kepada Sang Pencipta

Setiap kejadian, peristiwa dan fenomena kehidupan ini pasti ada sebab musababnya. Artinya segala kejadian di dunia ini telah Allah atur dengan secermat-cermatnya. Tinggal bagaimana kita menyikapi setiap kejadian itu melalui akal dan pikiran yang dilandasi dengan ilmu-ilmu Allah.

Jadi, tugas kita, hanya berpikir dan membaca. Ada apa dibalik semua itu? Lalu, kita mengambil pelajaran dari setiap kejadian tersebut dan selanjutnya mengamalkan yang baiknya dalam perilaku keseharian.
           
Berpikir Positif Terhadap Diri Sendiri

Setiap manusia, dilahirkan sebagai pribadi yang unik. Karena bagaimanapun wajah dan sifat kita mirip dengan orang lain. Tapi, yang jelas ada saja perbedaan antara keduanya. Sifat dan pribadi unik itu, harus kita jaga. Itu adalah potensi positif, modal dasar untuk mencapai keleluasaan langkah kita dalam menjalani kehidupan ini. Bagaimana orang lain akan menjunjung kita, kalau diri kita sendiri meremehkan dan tidak ‘mengangkatnya’.

Selain itu, kita juga harus yakin bahwa kita dilahirkan ke dunia ini sebagai sang juara, the best. Fakta membuktikan, dari berjuta-juta sel sperma yang disemprotkan Bapak kita, tetapi ternyata yang mampu menembus dinding telur Ibu kita dan dibuahi, hanya satu. Itulah kita, “sang juara”. Hal ini, kalau kita sadari akan menjadi sebuah motivasi luar biasa dalam menjalani hidup ini.
           
Berpikir Positif Pada Orang Lain

Orang lain itu, manusia biasa sama dengan kita. Dia mempunyai kesalahan dan kekhilafan. Yang tentu hati nuraninya tidak menghendakinya. Pandanglah, orang lain itu dari sisi positifnya saja dan menerima sisi negatifnya sebagai pelajaran bagi kita.

Belajarlah dari seekor burung Garuda. Ia mengajarkan anaknya untuk terbang dari tempat yang tinggi dan menjatuhkannya. Lalu jatuh, diangkat lagi dan seterusnya sampai ia bisa terbang sendiri. Hati Garuda juga bersih, tidak mendendam. Ia kalau waktunya bermain “cakar-cakaran”. Tapi, kalau di luar itu ia akur, damai kembali.
           
Berpikir Positif Pada Waktu

Setiap manusia diberi waktu yang sama, dimana pun dia berada. Sebanyak 24 jam sehari atau 86.400 detik sehari. Waktu itu, ingin kita apakan? Kita gunakan untuk tidur seharian, kerja keras, mengeluh, berdemontrasi, bergunjing, santai, menuntut ilmu, menolong orang lain, melamun, ibadah, dan lainnya. Waktu itu tidak akan protes. Yang jelas, setiap detik hidup kita akan diminta pertanggungjawabannya kelak. Bagi mereka yang biasa mengisi waktunya dengan amal-amalan saleh/kebaikan dan berada dalam keimanan, maka ia akan memperoleh kehidupan yang lebih baik.

Akhirnya, untuk memaksimalkan potensi optimisme yang ada pada diri seseorang, kuncinya adalah diri kita perlu dibangun dengan kebiasaan positif. Dan kita berdoa, agar Sang Penguasa diri ini memberi kemampuan kepada kita untuk membangun pribadi yang tangguh dan pantang menyerah. Amin. Wallahu’alam***

Bagaimana menurut Anda?

Arda Dinata, pendiri Majelis Inspirasi Alquran dan Realitas Alam/ MIQRA Indonesia, www.miqraindonesia.com 

ORANG menjadi kuat, pada dasarnya karena mentalnya kuat. Orang menjadi lemah, karena mentalnya lemah. Begitu juga, orang sukses, karena ia memiliki keinginan untuk sukses. Dan orang yang gagal, karena ia berbuat gagal. Dalam hal ini, ada keterangan yang menyebutkan bahwa: “Orang yang kuat lebih disukai dan lebih baik dari orang yang lemah.” Jadi, manusia tangguh dan kuat itu, sudah seharusnya menjadi cita-cita kita dalam rangka mengabdi kepada-Nya.



Membangun Optimisme

ORANG menjadi kuat, pada dasarnya karena mentalnya kuat. Orang menjadi lemah, karena mentalnya lemah. Begitu juga, orang sukses, karena ia memiliki keinginan untuk sukses. Dan orang yang gagal, karena ia berbuat gagal. Dalam hal ini, ada keterangan yang menyebutkan bahwa: “Orang yang kuat lebih disukai dan lebih baik dari orang yang lemah.” Jadi, manusia tangguh dan kuat itu, sudah seharusnya menjadi cita-cita kita dalam rangka mengabdi kepada-Nya.

Dalam hal ini, kesuksesan menurut pandangan agama Islam itu memiliki dua syarat pokok. Yakni iman dan ilmu. Kedua hal ini, kalau kita kaji secara rinci, jelas-jelas memiliki pengaruh sangat besar dalam kehidupan manusia. Dengan kuatnya iman seseorang, maka ia akan sangat berpengaruh terhadap kualitas kehidupan manusia. M. Ridwan IR Lubis, menyebutnya ada tiga pengaruh iman yaitu berupa: kekuatan berpikir (quwatul idraak), kekuatan fisik (quwatul jismi), dan kekuatan ruh (quwatur ruuh).

Sedangkan menurut M. Yunan Nasution, mengungkapkan bahwa pengaruh iman terhadap kehidupan manusia itu berupa: iman akan melenyapkan kepercayaan kepada kekuasaan benda; menanamkan semangat berani menghadapi maut; membentuk ketentraman jiwa; dan membentuk kehidupan yang baik.

Menyikapi keadaan seperti saat ini, kita seharusnya tidak menjadi pesimis dan berserah diri. Kita harus optimis dan selalu berusaha untuk mencapai yang terbaik dalam hidup ini. Sehingga untuk menjadikan pribadi pantang menyerah dan tangguh ini, maka dalam diri kita harus tertanam sikap optimis, berpikir positif, dan percaya diri.

Setiap manusia harus memiliki optimisme dalam menjalani kehidupan. Dengan sikap optimis, langkah kita akan tegar menghadapi setiap cobaan dan menatap masa depan penuh dengan keyakinan. Karena garis kehidupan setiap manusia sudah ditentukan-Nya. Tugas kita adalah hanya berusaha, berpikir dan berdoa. Atau kita harus luruskan niat dan sempurnakan ikhtiar.

Sedikitnya, ada tiga pengaruh dari sifat optimisme bagi kehidupan manusia. Pertama, optimisme dapat menumbuhkan cinta akan kebaikan di dalam diri manusia dan menumbuhkan perkembangan baru dalam pandangannya tentang kehidupan.

Kedua, optimisme mampu mengurangi sejumlah problema dalam kehidupan manusia. Wajah-wajah optimis akan memancarkan kebahagiaan. Tidak saja pada saat mencapai kepuasan, tetapi dalam segala situasi.

Ketiga, orang yang menjadikan sifat optimis sebagai bagian dari kehidupannya, maka akan tumbuh kepercayaan di antara anggota masyarakat. Dan kepercayaan tersebut merupakan sebab yang mendesak dalam memulihkan dan memajukan umat (bangsa) yang sedang “sakit” seperti saat ini.

Setelah kita mampu bersikap optimis, lalu pola pikir kita juga harus dibiasakan berpikir secara positif dan percaya diri. Berpikir positif kepada siapa?

Berpikir Positif  Kepada Sang Pencipta

Setiap kejadian, peristiwa dan fenomena kehidupan ini pasti ada sebab musababnya. Artinya segala kejadian di dunia ini telah Allah atur dengan secermat-cermatnya. Tinggal bagaimana kita menyikapi setiap kejadian itu melalui akal dan pikiran yang dilandasi dengan ilmu-ilmu Allah.

Jadi, tugas kita, hanya berpikir dan membaca. Ada apa dibalik semua itu? Lalu, kita mengambil pelajaran dari setiap kejadian tersebut dan selanjutnya mengamalkan yang baiknya dalam perilaku keseharian.
           
Berpikir Positif Terhadap Diri Sendiri

Setiap manusia, dilahirkan sebagai pribadi yang unik. Karena bagaimanapun wajah dan sifat kita mirip dengan orang lain. Tapi, yang jelas ada saja perbedaan antara keduanya. Sifat dan pribadi unik itu, harus kita jaga. Itu adalah potensi positif, modal dasar untuk mencapai keleluasaan langkah kita dalam menjalani kehidupan ini. Bagaimana orang lain akan menjunjung kita, kalau diri kita sendiri meremehkan dan tidak ‘mengangkatnya’.

Selain itu, kita juga harus yakin bahwa kita dilahirkan ke dunia ini sebagai sang juara, the best. Fakta membuktikan, dari berjuta-juta sel sperma yang disemprotkan Bapak kita, tetapi ternyata yang mampu menembus dinding telur Ibu kita dan dibuahi, hanya satu. Itulah kita, “sang juara”. Hal ini, kalau kita sadari akan menjadi sebuah motivasi luar biasa dalam menjalani hidup ini.
           
Berpikir Positif Pada Orang Lain

Orang lain itu, manusia biasa sama dengan kita. Dia mempunyai kesalahan dan kekhilafan. Yang tentu hati nuraninya tidak menghendakinya. Pandanglah, orang lain itu dari sisi positifnya saja dan menerima sisi negatifnya sebagai pelajaran bagi kita.

Belajarlah dari seekor burung Garuda. Ia mengajarkan anaknya untuk terbang dari tempat yang tinggi dan menjatuhkannya. Lalu jatuh, diangkat lagi dan seterusnya sampai ia bisa terbang sendiri. Hati Garuda juga bersih, tidak mendendam. Ia kalau waktunya bermain “cakar-cakaran”. Tapi, kalau di luar itu ia akur, damai kembali.
           
Berpikir Positif Pada Waktu

Setiap manusia diberi waktu yang sama, dimana pun dia berada. Sebanyak 24 jam sehari atau 86.400 detik sehari. Waktu itu, ingin kita apakan? Kita gunakan untuk tidur seharian, kerja keras, mengeluh, berdemontrasi, bergunjing, santai, menuntut ilmu, menolong orang lain, melamun, ibadah, dan lainnya. Waktu itu tidak akan protes. Yang jelas, setiap detik hidup kita akan diminta pertanggungjawabannya kelak. Bagi mereka yang biasa mengisi waktunya dengan amal-amalan saleh/kebaikan dan berada dalam keimanan, maka ia akan memperoleh kehidupan yang lebih baik.

Akhirnya, untuk memaksimalkan potensi optimisme yang ada pada diri seseorang, kuncinya adalah diri kita perlu dibangun dengan kebiasaan positif. Dan kita berdoa, agar Sang Penguasa diri ini memberi kemampuan kepada kita untuk membangun pribadi yang tangguh dan pantang menyerah. Amin. Wallahu’alam***

Bagaimana menurut Anda?

Arda Dinata, pendiri Majelis Inspirasi Alquran dan Realitas Alam/ MIQRA Indonesia, www.miqraindonesia.com 

ORANG menjadi kuat, pada dasarnya karena mentalnya kuat. Orang menjadi lemah, karena mentalnya lemah. Begitu juga, orang sukses, karena ia memiliki keinginan untuk sukses. Dan orang yang gagal, karena ia berbuat gagal. Dalam hal ini, ada keterangan yang menyebutkan bahwa: “Orang yang kuat lebih disukai dan lebih baik dari orang yang lemah.” Jadi, manusia tangguh dan kuat itu, sudah seharusnya menjadi cita-cita kita dalam rangka mengabdi kepada-Nya.



Membangun Optimisme

ORANG menjadi kuat, pada dasarnya karena mentalnya kuat. Orang menjadi lemah, karena mentalnya lemah. Begitu juga, orang sukses, karena ia memiliki keinginan untuk sukses. Dan orang yang gagal, karena ia berbuat gagal. Dalam hal ini, ada keterangan yang menyebutkan bahwa: “Orang yang kuat lebih disukai dan lebih baik dari orang yang lemah.” Jadi, manusia tangguh dan kuat itu, sudah seharusnya menjadi cita-cita kita dalam rangka mengabdi kepada-Nya.

Dalam hal ini, kesuksesan menurut pandangan agama Islam itu memiliki dua syarat pokok. Yakni iman dan ilmu. Kedua hal ini, kalau kita kaji secara rinci, jelas-jelas memiliki pengaruh sangat besar dalam kehidupan manusia. Dengan kuatnya iman seseorang, maka ia akan sangat berpengaruh terhadap kualitas kehidupan manusia. M. Ridwan IR Lubis, menyebutnya ada tiga pengaruh iman yaitu berupa: kekuatan berpikir (quwatul idraak), kekuatan fisik (quwatul jismi), dan kekuatan ruh (quwatur ruuh).

Sedangkan menurut M. Yunan Nasution, mengungkapkan bahwa pengaruh iman terhadap kehidupan manusia itu berupa: iman akan melenyapkan kepercayaan kepada kekuasaan benda; menanamkan semangat berani menghadapi maut; membentuk ketentraman jiwa; dan membentuk kehidupan yang baik.

Menyikapi keadaan seperti saat ini, kita seharusnya tidak menjadi pesimis dan berserah diri. Kita harus optimis dan selalu berusaha untuk mencapai yang terbaik dalam hidup ini. Sehingga untuk menjadikan pribadi pantang menyerah dan tangguh ini, maka dalam diri kita harus tertanam sikap optimis, berpikir positif, dan percaya diri.

Setiap manusia harus memiliki optimisme dalam menjalani kehidupan. Dengan sikap optimis, langkah kita akan tegar menghadapi setiap cobaan dan menatap masa depan penuh dengan keyakinan. Karena garis kehidupan setiap manusia sudah ditentukan-Nya. Tugas kita adalah hanya berusaha, berpikir dan berdoa. Atau kita harus luruskan niat dan sempurnakan ikhtiar.

Sedikitnya, ada tiga pengaruh dari sifat optimisme bagi kehidupan manusia. Pertama, optimisme dapat menumbuhkan cinta akan kebaikan di dalam diri manusia dan menumbuhkan perkembangan baru dalam pandangannya tentang kehidupan.

Kedua, optimisme mampu mengurangi sejumlah problema dalam kehidupan manusia. Wajah-wajah optimis akan memancarkan kebahagiaan. Tidak saja pada saat mencapai kepuasan, tetapi dalam segala situasi.

Ketiga, orang yang menjadikan sifat optimis sebagai bagian dari kehidupannya, maka akan tumbuh kepercayaan di antara anggota masyarakat. Dan kepercayaan tersebut merupakan sebab yang mendesak dalam memulihkan dan memajukan umat (bangsa) yang sedang “sakit” seperti saat ini.

Setelah kita mampu bersikap optimis, lalu pola pikir kita juga harus dibiasakan berpikir secara positif dan percaya diri. Berpikir positif kepada siapa?

Berpikir Positif  Kepada Sang Pencipta

Setiap kejadian, peristiwa dan fenomena kehidupan ini pasti ada sebab musababnya. Artinya segala kejadian di dunia ini telah Allah atur dengan secermat-cermatnya. Tinggal bagaimana kita menyikapi setiap kejadian itu melalui akal dan pikiran yang dilandasi dengan ilmu-ilmu Allah.

Jadi, tugas kita, hanya berpikir dan membaca. Ada apa dibalik semua itu? Lalu, kita mengambil pelajaran dari setiap kejadian tersebut dan selanjutnya mengamalkan yang baiknya dalam perilaku keseharian.
           
Berpikir Positif Terhadap Diri Sendiri

Setiap manusia, dilahirkan sebagai pribadi yang unik. Karena bagaimanapun wajah dan sifat kita mirip dengan orang lain. Tapi, yang jelas ada saja perbedaan antara keduanya. Sifat dan pribadi unik itu, harus kita jaga. Itu adalah potensi positif, modal dasar untuk mencapai keleluasaan langkah kita dalam menjalani kehidupan ini. Bagaimana orang lain akan menjunjung kita, kalau diri kita sendiri meremehkan dan tidak ‘mengangkatnya’.

Selain itu, kita juga harus yakin bahwa kita dilahirkan ke dunia ini sebagai sang juara, the best. Fakta membuktikan, dari berjuta-juta sel sperma yang disemprotkan Bapak kita, tetapi ternyata yang mampu menembus dinding telur Ibu kita dan dibuahi, hanya satu. Itulah kita, “sang juara”. Hal ini, kalau kita sadari akan menjadi sebuah motivasi luar biasa dalam menjalani hidup ini.
           
Berpikir Positif Pada Orang Lain

Orang lain itu, manusia biasa sama dengan kita. Dia mempunyai kesalahan dan kekhilafan. Yang tentu hati nuraninya tidak menghendakinya. Pandanglah, orang lain itu dari sisi positifnya saja dan menerima sisi negatifnya sebagai pelajaran bagi kita.

Belajarlah dari seekor burung Garuda. Ia mengajarkan anaknya untuk terbang dari tempat yang tinggi dan menjatuhkannya. Lalu jatuh, diangkat lagi dan seterusnya sampai ia bisa terbang sendiri. Hati Garuda juga bersih, tidak mendendam. Ia kalau waktunya bermain “cakar-cakaran”. Tapi, kalau di luar itu ia akur, damai kembali.
           
Berpikir Positif Pada Waktu

Setiap manusia diberi waktu yang sama, dimana pun dia berada. Sebanyak 24 jam sehari atau 86.400 detik sehari. Waktu itu, ingin kita apakan? Kita gunakan untuk tidur seharian, kerja keras, mengeluh, berdemontrasi, bergunjing, santai, menuntut ilmu, menolong orang lain, melamun, ibadah, dan lainnya. Waktu itu tidak akan protes. Yang jelas, setiap detik hidup kita akan diminta pertanggungjawabannya kelak. Bagi mereka yang biasa mengisi waktunya dengan amal-amalan saleh/kebaikan dan berada dalam keimanan, maka ia akan memperoleh kehidupan yang lebih baik.

Akhirnya, untuk memaksimalkan potensi optimisme yang ada pada diri seseorang, kuncinya adalah diri kita perlu dibangun dengan kebiasaan positif. Dan kita berdoa, agar Sang Penguasa diri ini memberi kemampuan kepada kita untuk membangun pribadi yang tangguh dan pantang menyerah. Amin. Wallahu’alam***

Bagaimana menurut Anda?

Arda Dinata, pendiri Majelis Inspirasi Alquran dan Realitas Alam/ MIQRA Indonesia, www.miqraindonesia.com 

ORANG menjadi kuat, pada dasarnya karena mentalnya kuat. Orang menjadi lemah, karena mentalnya lemah. Begitu juga, orang sukses, karena ia memiliki keinginan untuk sukses. Dan orang yang gagal, karena ia berbuat gagal. Dalam hal ini, ada keterangan yang menyebutkan bahwa: “Orang yang kuat lebih disukai dan lebih baik dari orang yang lemah.” Jadi, manusia tangguh dan kuat itu, sudah seharusnya menjadi cita-cita kita dalam rangka mengabdi kepada-Nya.



Membangun Optimisme

ORANG menjadi kuat, pada dasarnya karena mentalnya kuat. Orang menjadi lemah, karena mentalnya lemah. Begitu juga, orang sukses, karena ia memiliki keinginan untuk sukses. Dan orang yang gagal, karena ia berbuat gagal. Dalam hal ini, ada keterangan yang menyebutkan bahwa: “Orang yang kuat lebih disukai dan lebih baik dari orang yang lemah.” Jadi, manusia tangguh dan kuat itu, sudah seharusnya menjadi cita-cita kita dalam rangka mengabdi kepada-Nya.

Dalam hal ini, kesuksesan menurut pandangan agama Islam itu memiliki dua syarat pokok. Yakni iman dan ilmu. Kedua hal ini, kalau kita kaji secara rinci, jelas-jelas memiliki pengaruh sangat besar dalam kehidupan manusia. Dengan kuatnya iman seseorang, maka ia akan sangat berpengaruh terhadap kualitas kehidupan manusia. M. Ridwan IR Lubis, menyebutnya ada tiga pengaruh iman yaitu berupa: kekuatan berpikir (quwatul idraak), kekuatan fisik (quwatul jismi), dan kekuatan ruh (quwatur ruuh).

Sedangkan menurut M. Yunan Nasution, mengungkapkan bahwa pengaruh iman terhadap kehidupan manusia itu berupa: iman akan melenyapkan kepercayaan kepada kekuasaan benda; menanamkan semangat berani menghadapi maut; membentuk ketentraman jiwa; dan membentuk kehidupan yang baik.

Menyikapi keadaan seperti saat ini, kita seharusnya tidak menjadi pesimis dan berserah diri. Kita harus optimis dan selalu berusaha untuk mencapai yang terbaik dalam hidup ini. Sehingga untuk menjadikan pribadi pantang menyerah dan tangguh ini, maka dalam diri kita harus tertanam sikap optimis, berpikir positif, dan percaya diri.

Setiap manusia harus memiliki optimisme dalam menjalani kehidupan. Dengan sikap optimis, langkah kita akan tegar menghadapi setiap cobaan dan menatap masa depan penuh dengan keyakinan. Karena garis kehidupan setiap manusia sudah ditentukan-Nya. Tugas kita adalah hanya berusaha, berpikir dan berdoa. Atau kita harus luruskan niat dan sempurnakan ikhtiar.

Sedikitnya, ada tiga pengaruh dari sifat optimisme bagi kehidupan manusia. Pertama, optimisme dapat menumbuhkan cinta akan kebaikan di dalam diri manusia dan menumbuhkan perkembangan baru dalam pandangannya tentang kehidupan.

Kedua, optimisme mampu mengurangi sejumlah problema dalam kehidupan manusia. Wajah-wajah optimis akan memancarkan kebahagiaan. Tidak saja pada saat mencapai kepuasan, tetapi dalam segala situasi.

Ketiga, orang yang menjadikan sifat optimis sebagai bagian dari kehidupannya, maka akan tumbuh kepercayaan di antara anggota masyarakat. Dan kepercayaan tersebut merupakan sebab yang mendesak dalam memulihkan dan memajukan umat (bangsa) yang sedang “sakit” seperti saat ini.

Setelah kita mampu bersikap optimis, lalu pola pikir kita juga harus dibiasakan berpikir secara positif dan percaya diri. Berpikir positif kepada siapa?

Berpikir Positif  Kepada Sang Pencipta

Setiap kejadian, peristiwa dan fenomena kehidupan ini pasti ada sebab musababnya. Artinya segala kejadian di dunia ini telah Allah atur dengan secermat-cermatnya. Tinggal bagaimana kita menyikapi setiap kejadian itu melalui akal dan pikiran yang dilandasi dengan ilmu-ilmu Allah.

Jadi, tugas kita, hanya berpikir dan membaca. Ada apa dibalik semua itu? Lalu, kita mengambil pelajaran dari setiap kejadian tersebut dan selanjutnya mengamalkan yang baiknya dalam perilaku keseharian.
           
Berpikir Positif Terhadap Diri Sendiri

Setiap manusia, dilahirkan sebagai pribadi yang unik. Karena bagaimanapun wajah dan sifat kita mirip dengan orang lain. Tapi, yang jelas ada saja perbedaan antara keduanya. Sifat dan pribadi unik itu, harus kita jaga. Itu adalah potensi positif, modal dasar untuk mencapai keleluasaan langkah kita dalam menjalani kehidupan ini. Bagaimana orang lain akan menjunjung kita, kalau diri kita sendiri meremehkan dan tidak ‘mengangkatnya’.

Selain itu, kita juga harus yakin bahwa kita dilahirkan ke dunia ini sebagai sang juara, the best. Fakta membuktikan, dari berjuta-juta sel sperma yang disemprotkan Bapak kita, tetapi ternyata yang mampu menembus dinding telur Ibu kita dan dibuahi, hanya satu. Itulah kita, “sang juara”. Hal ini, kalau kita sadari akan menjadi sebuah motivasi luar biasa dalam menjalani hidup ini.
           
Berpikir Positif Pada Orang Lain

Orang lain itu, manusia biasa sama dengan kita. Dia mempunyai kesalahan dan kekhilafan. Yang tentu hati nuraninya tidak menghendakinya. Pandanglah, orang lain itu dari sisi positifnya saja dan menerima sisi negatifnya sebagai pelajaran bagi kita.

Belajarlah dari seekor burung Garuda. Ia mengajarkan anaknya untuk terbang dari tempat yang tinggi dan menjatuhkannya. Lalu jatuh, diangkat lagi dan seterusnya sampai ia bisa terbang sendiri. Hati Garuda juga bersih, tidak mendendam. Ia kalau waktunya bermain “cakar-cakaran”. Tapi, kalau di luar itu ia akur, damai kembali.
           
Berpikir Positif Pada Waktu

Setiap manusia diberi waktu yang sama, dimana pun dia berada. Sebanyak 24 jam sehari atau 86.400 detik sehari. Waktu itu, ingin kita apakan? Kita gunakan untuk tidur seharian, kerja keras, mengeluh, berdemontrasi, bergunjing, santai, menuntut ilmu, menolong orang lain, melamun, ibadah, dan lainnya. Waktu itu tidak akan protes. Yang jelas, setiap detik hidup kita akan diminta pertanggungjawabannya kelak. Bagi mereka yang biasa mengisi waktunya dengan amal-amalan saleh/kebaikan dan berada dalam keimanan, maka ia akan memperoleh kehidupan yang lebih baik.

Akhirnya, untuk memaksimalkan potensi optimisme yang ada pada diri seseorang, kuncinya adalah diri kita perlu dibangun dengan kebiasaan positif. Dan kita berdoa, agar Sang Penguasa diri ini memberi kemampuan kepada kita untuk membangun pribadi yang tangguh dan pantang menyerah. Amin. Wallahu’alam***

Bagaimana menurut Anda?

Arda Dinata, pendiri Majelis Inspirasi Alquran dan Realitas Alam/ MIQRA Indonesia, www.miqraindonesia.com 

ORANG menjadi kuat, pada dasarnya karena mentalnya kuat. Orang menjadi lemah, karena mentalnya lemah. Begitu juga, orang sukses, karena ia memiliki keinginan untuk sukses. Dan orang yang gagal, karena ia berbuat gagal. Dalam hal ini, ada keterangan yang menyebutkan bahwa: “Orang yang kuat lebih disukai dan lebih baik dari orang yang lemah.” Jadi, manusia tangguh dan kuat itu, sudah seharusnya menjadi cita-cita kita dalam rangka mengabdi kepada-Nya.



Membangun Optimisme

ORANG menjadi kuat, pada dasarnya karena mentalnya kuat. Orang menjadi lemah, karena mentalnya lemah. Begitu juga, orang sukses, karena ia memiliki keinginan untuk sukses. Dan orang yang gagal, karena ia berbuat gagal. Dalam hal ini, ada keterangan yang menyebutkan bahwa: “Orang yang kuat lebih disukai dan lebih baik dari orang yang lemah.” Jadi, manusia tangguh dan kuat itu, sudah seharusnya menjadi cita-cita kita dalam rangka mengabdi kepada-Nya.

Dalam hal ini, kesuksesan menurut pandangan agama Islam itu memiliki dua syarat pokok. Yakni iman dan ilmu. Kedua hal ini, kalau kita kaji secara rinci, jelas-jelas memiliki pengaruh sangat besar dalam kehidupan manusia. Dengan kuatnya iman seseorang, maka ia akan sangat berpengaruh terhadap kualitas kehidupan manusia. M. Ridwan IR Lubis, menyebutnya ada tiga pengaruh iman yaitu berupa: kekuatan berpikir (quwatul idraak), kekuatan fisik (quwatul jismi), dan kekuatan ruh (quwatur ruuh).

Sedangkan menurut M. Yunan Nasution, mengungkapkan bahwa pengaruh iman terhadap kehidupan manusia itu berupa: iman akan melenyapkan kepercayaan kepada kekuasaan benda; menanamkan semangat berani menghadapi maut; membentuk ketentraman jiwa; dan membentuk kehidupan yang baik.

Menyikapi keadaan seperti saat ini, kita seharusnya tidak menjadi pesimis dan berserah diri. Kita harus optimis dan selalu berusaha untuk mencapai yang terbaik dalam hidup ini. Sehingga untuk menjadikan pribadi pantang menyerah dan tangguh ini, maka dalam diri kita harus tertanam sikap optimis, berpikir positif, dan percaya diri.

Setiap manusia harus memiliki optimisme dalam menjalani kehidupan. Dengan sikap optimis, langkah kita akan tegar menghadapi setiap cobaan dan menatap masa depan penuh dengan keyakinan. Karena garis kehidupan setiap manusia sudah ditentukan-Nya. Tugas kita adalah hanya berusaha, berpikir dan berdoa. Atau kita harus luruskan niat dan sempurnakan ikhtiar.

Sedikitnya, ada tiga pengaruh dari sifat optimisme bagi kehidupan manusia. Pertama, optimisme dapat menumbuhkan cinta akan kebaikan di dalam diri manusia dan menumbuhkan perkembangan baru dalam pandangannya tentang kehidupan.

Kedua, optimisme mampu mengurangi sejumlah problema dalam kehidupan manusia. Wajah-wajah optimis akan memancarkan kebahagiaan. Tidak saja pada saat mencapai kepuasan, tetapi dalam segala situasi.

Ketiga, orang yang menjadikan sifat optimis sebagai bagian dari kehidupannya, maka akan tumbuh kepercayaan di antara anggota masyarakat. Dan kepercayaan tersebut merupakan sebab yang mendesak dalam memulihkan dan memajukan umat (bangsa) yang sedang “sakit” seperti saat ini.

Setelah kita mampu bersikap optimis, lalu pola pikir kita juga harus dibiasakan berpikir secara positif dan percaya diri. Berpikir positif kepada siapa?

Berpikir Positif  Kepada Sang Pencipta

Setiap kejadian, peristiwa dan fenomena kehidupan ini pasti ada sebab musababnya. Artinya segala kejadian di dunia ini telah Allah atur dengan secermat-cermatnya. Tinggal bagaimana kita menyikapi setiap kejadian itu melalui akal dan pikiran yang dilandasi dengan ilmu-ilmu Allah.

Jadi, tugas kita, hanya berpikir dan membaca. Ada apa dibalik semua itu? Lalu, kita mengambil pelajaran dari setiap kejadian tersebut dan selanjutnya mengamalkan yang baiknya dalam perilaku keseharian.
           
Berpikir Positif Terhadap Diri Sendiri

Setiap manusia, dilahirkan sebagai pribadi yang unik. Karena bagaimanapun wajah dan sifat kita mirip dengan orang lain. Tapi, yang jelas ada saja perbedaan antara keduanya. Sifat dan pribadi unik itu, harus kita jaga. Itu adalah potensi positif, modal dasar untuk mencapai keleluasaan langkah kita dalam menjalani kehidupan ini. Bagaimana orang lain akan menjunjung kita, kalau diri kita sendiri meremehkan dan tidak ‘mengangkatnya’.

Selain itu, kita juga harus yakin bahwa kita dilahirkan ke dunia ini sebagai sang juara, the best. Fakta membuktikan, dari berjuta-juta sel sperma yang disemprotkan Bapak kita, tetapi ternyata yang mampu menembus dinding telur Ibu kita dan dibuahi, hanya satu. Itulah kita, “sang juara”. Hal ini, kalau kita sadari akan menjadi sebuah motivasi luar biasa dalam menjalani hidup ini.
           
Berpikir Positif Pada Orang Lain

Orang lain itu, manusia biasa sama dengan kita. Dia mempunyai kesalahan dan kekhilafan. Yang tentu hati nuraninya tidak menghendakinya. Pandanglah, orang lain itu dari sisi positifnya saja dan menerima sisi negatifnya sebagai pelajaran bagi kita.

Belajarlah dari seekor burung Garuda. Ia mengajarkan anaknya untuk terbang dari tempat yang tinggi dan menjatuhkannya. Lalu jatuh, diangkat lagi dan seterusnya sampai ia bisa terbang sendiri. Hati Garuda juga bersih, tidak mendendam. Ia kalau waktunya bermain “cakar-cakaran”. Tapi, kalau di luar itu ia akur, damai kembali.
           
Berpikir Positif Pada Waktu

Setiap manusia diberi waktu yang sama, dimana pun dia berada. Sebanyak 24 jam sehari atau 86.400 detik sehari. Waktu itu, ingin kita apakan? Kita gunakan untuk tidur seharian, kerja keras, mengeluh, berdemontrasi, bergunjing, santai, menuntut ilmu, menolong orang lain, melamun, ibadah, dan lainnya. Waktu itu tidak akan protes. Yang jelas, setiap detik hidup kita akan diminta pertanggungjawabannya kelak. Bagi mereka yang biasa mengisi waktunya dengan amal-amalan saleh/kebaikan dan berada dalam keimanan, maka ia akan memperoleh kehidupan yang lebih baik.

Akhirnya, untuk memaksimalkan potensi optimisme yang ada pada diri seseorang, kuncinya adalah diri kita perlu dibangun dengan kebiasaan positif. Dan kita berdoa, agar Sang Penguasa diri ini memberi kemampuan kepada kita untuk membangun pribadi yang tangguh dan pantang menyerah. Amin. Wallahu’alam***

Bagaimana menurut Anda?

Arda Dinata, pendiri Majelis Inspirasi Alquran dan Realitas Alam/ MIQRA Indonesia, www.miqraindonesia.com 

ORANG menjadi kuat, pada dasarnya karena mentalnya kuat. Orang menjadi lemah, karena mentalnya lemah. Begitu juga, orang sukses, karena ia memiliki keinginan untuk sukses. Dan orang yang gagal, karena ia berbuat gagal. Dalam hal ini, ada keterangan yang menyebutkan bahwa: “Orang yang kuat lebih disukai dan lebih baik dari orang yang lemah.” Jadi, manusia tangguh dan kuat itu, sudah seharusnya menjadi cita-cita kita dalam rangka mengabdi kepada-Nya.



Membangun Optimisme

ORANG menjadi kuat, pada dasarnya karena mentalnya kuat. Orang menjadi lemah, karena mentalnya lemah. Begitu juga, orang sukses, karena ia memiliki keinginan untuk sukses. Dan orang yang gagal, karena ia berbuat gagal. Dalam hal ini, ada keterangan yang menyebutkan bahwa: “Orang yang kuat lebih disukai dan lebih baik dari orang yang lemah.” Jadi, manusia tangguh dan kuat itu, sudah seharusnya menjadi cita-cita kita dalam rangka mengabdi kepada-Nya.

Dalam hal ini, kesuksesan menurut pandangan agama Islam itu memiliki dua syarat pokok. Yakni iman dan ilmu. Kedua hal ini, kalau kita kaji secara rinci, jelas-jelas memiliki pengaruh sangat besar dalam kehidupan manusia. Dengan kuatnya iman seseorang, maka ia akan sangat berpengaruh terhadap kualitas kehidupan manusia. M. Ridwan IR Lubis, menyebutnya ada tiga pengaruh iman yaitu berupa: kekuatan berpikir (quwatul idraak), kekuatan fisik (quwatul jismi), dan kekuatan ruh (quwatur ruuh).

Sedangkan menurut M. Yunan Nasution, mengungkapkan bahwa pengaruh iman terhadap kehidupan manusia itu berupa: iman akan melenyapkan kepercayaan kepada kekuasaan benda; menanamkan semangat berani menghadapi maut; membentuk ketentraman jiwa; dan membentuk kehidupan yang baik.

Menyikapi keadaan seperti saat ini, kita seharusnya tidak menjadi pesimis dan berserah diri. Kita harus optimis dan selalu berusaha untuk mencapai yang terbaik dalam hidup ini. Sehingga untuk menjadikan pribadi pantang menyerah dan tangguh ini, maka dalam diri kita harus tertanam sikap optimis, berpikir positif, dan percaya diri.

Setiap manusia harus memiliki optimisme dalam menjalani kehidupan. Dengan sikap optimis, langkah kita akan tegar menghadapi setiap cobaan dan menatap masa depan penuh dengan keyakinan. Karena garis kehidupan setiap manusia sudah ditentukan-Nya. Tugas kita adalah hanya berusaha, berpikir dan berdoa. Atau kita harus luruskan niat dan sempurnakan ikhtiar.

Sedikitnya, ada tiga pengaruh dari sifat optimisme bagi kehidupan manusia. Pertama, optimisme dapat menumbuhkan cinta akan kebaikan di dalam diri manusia dan menumbuhkan perkembangan baru dalam pandangannya tentang kehidupan.

Kedua, optimisme mampu mengurangi sejumlah problema dalam kehidupan manusia. Wajah-wajah optimis akan memancarkan kebahagiaan. Tidak saja pada saat mencapai kepuasan, tetapi dalam segala situasi.

Ketiga, orang yang menjadikan sifat optimis sebagai bagian dari kehidupannya, maka akan tumbuh kepercayaan di antara anggota masyarakat. Dan kepercayaan tersebut merupakan sebab yang mendesak dalam memulihkan dan memajukan umat (bangsa) yang sedang “sakit” seperti saat ini.

Setelah kita mampu bersikap optimis, lalu pola pikir kita juga harus dibiasakan berpikir secara positif dan percaya diri. Berpikir positif kepada siapa?

Berpikir Positif  Kepada Sang Pencipta

Setiap kejadian, peristiwa dan fenomena kehidupan ini pasti ada sebab musababnya. Artinya segala kejadian di dunia ini telah Allah atur dengan secermat-cermatnya. Tinggal bagaimana kita menyikapi setiap kejadian itu melalui akal dan pikiran yang dilandasi dengan ilmu-ilmu Allah.

Jadi, tugas kita, hanya berpikir dan membaca. Ada apa dibalik semua itu? Lalu, kita mengambil pelajaran dari setiap kejadian tersebut dan selanjutnya mengamalkan yang baiknya dalam perilaku keseharian.
           
Berpikir Positif Terhadap Diri Sendiri

Setiap manusia, dilahirkan sebagai pribadi yang unik. Karena bagaimanapun wajah dan sifat kita mirip dengan orang lain. Tapi, yang jelas ada saja perbedaan antara keduanya. Sifat dan pribadi unik itu, harus kita jaga. Itu adalah potensi positif, modal dasar untuk mencapai keleluasaan langkah kita dalam menjalani kehidupan ini. Bagaimana orang lain akan menjunjung kita, kalau diri kita sendiri meremehkan dan tidak ‘mengangkatnya’.

Selain itu, kita juga harus yakin bahwa kita dilahirkan ke dunia ini sebagai sang juara, the best. Fakta membuktikan, dari berjuta-juta sel sperma yang disemprotkan Bapak kita, tetapi ternyata yang mampu menembus dinding telur Ibu kita dan dibuahi, hanya satu. Itulah kita, “sang juara”. Hal ini, kalau kita sadari akan menjadi sebuah motivasi luar biasa dalam menjalani hidup ini.
           
Berpikir Positif Pada Orang Lain

Orang lain itu, manusia biasa sama dengan kita. Dia mempunyai kesalahan dan kekhilafan. Yang tentu hati nuraninya tidak menghendakinya. Pandanglah, orang lain itu dari sisi positifnya saja dan menerima sisi negatifnya sebagai pelajaran bagi kita.

Belajarlah dari seekor burung Garuda. Ia mengajarkan anaknya untuk terbang dari tempat yang tinggi dan menjatuhkannya. Lalu jatuh, diangkat lagi dan seterusnya sampai ia bisa terbang sendiri. Hati Garuda juga bersih, tidak mendendam. Ia kalau waktunya bermain “cakar-cakaran”. Tapi, kalau di luar itu ia akur, damai kembali.
           
Berpikir Positif Pada Waktu

Setiap manusia diberi waktu yang sama, dimana pun dia berada. Sebanyak 24 jam sehari atau 86.400 detik sehari. Waktu itu, ingin kita apakan? Kita gunakan untuk tidur seharian, kerja keras, mengeluh, berdemontrasi, bergunjing, santai, menuntut ilmu, menolong orang lain, melamun, ibadah, dan lainnya. Waktu itu tidak akan protes. Yang jelas, setiap detik hidup kita akan diminta pertanggungjawabannya kelak. Bagi mereka yang biasa mengisi waktunya dengan amal-amalan saleh/kebaikan dan berada dalam keimanan, maka ia akan memperoleh kehidupan yang lebih baik.

Akhirnya, untuk memaksimalkan potensi optimisme yang ada pada diri seseorang, kuncinya adalah diri kita perlu dibangun dengan kebiasaan positif. Dan kita berdoa, agar Sang Penguasa diri ini memberi kemampuan kepada kita untuk membangun pribadi yang tangguh dan pantang menyerah. Amin. Wallahu’alam***

Bagaimana menurut Anda?

Arda Dinata, pendiri Majelis Inspirasi Alquran dan Realitas Alam/ MIQRA Indonesia, www.miqraindonesia.com 
Jurus Jitu Atasi Penyakit Bersumber Nyamuk
Lihat Detail

Jurus Jitu Atasi Penyakit Bersumber Nyamuk

BERSAHABAT DENGAN NYAMUK:
Jurus Jitu Atasi Penyakit Bersumber Nyamuk


Oleh: Arda Dinata

Diterbitkan oleh
Penerbit Loka Litbang P2B2 Ciamis
Balitbangkes Kementerian Kesehatan RI
Jl. Raya Pangandaran Km. 3 Pangandaran
Kabupaten Ciamis 46396

Sinopsis:

RAHASIA apa di balik penciptaan seekor nyamuk? Secara biologi, nyamuk itu tergolong serangga yang memiliki sifat spesifik dan adaktif tinggal bersama manusia. Nyamuk ini menjadi sorotan manusia, manakala ia telah membikin ulah. Sekali berulah, misalnya menyebarnya kasus demam berdarah dengue (DBD), malaria, filariasis dan chikungunya di suatu daerah, maka semua orang dibuat takut dan gelisah.
Ibarat seorang sahabat, nyamuk hidup begitu dekat dan berdampingan dengan manusia. Mereka siap kapan saja berkunjung dan bertamu ke rumah manusia. Bedanya dengan manusia, bila sahabat kita yang berkunjung biasanya membawa makanan, nyamuk bila bertamu justru akan mengganggu kita melalui bunyi kepakan sayapnya dan gigitan saat mengisap darah.

Atas dasar itulah, sesungguhnya kita dapat mencegah kehadiran nyamuk. Caranya? Dengan memahami (bersahabat) kebiasaan dan perilaku nyamuk itu sendiri. Misalnya, bagaimana cara nyamuk bertelur, berubah dari telur ke jentik, pupa, dan menjadi dewasa. Termasuk di dalamnya, bagaimana kebiasaan nyamuk-nyamuk itu menggigit dan mengisap darah manusia.
Nyamuk ini sebagai perantara penyebaran penyakit. Misalnya, penyakit DBD disebabkan virus dengue; malaria oleh Plasmodium spp.; filariasis penyebabnya cacing filaria; dan chikungunya penyebabnya adalah virus chikungunya.

Fakta tersebut mengajarkan agar kita tidak boleh meremehkan nyamuk. Ia merupakan bahasa kehidupan. Keberadaannya akan memberi banyak arti bagi mereka yang mau belajar darinya.
Untuk itu, semakin kita bersahabat dengan nyamuk, maka paling tidak kita mampu memahami habitat dan kebiasaannya, sehingga kita dapat menghindari penyakit yang dibawanya. Seputar dunia nyamuk, inilah isi yang ditawarkan dari buku ”BERSAHABAT DENGAN NYAMUK: Jurus Jitu Atasi Penyakit Bersumber Nyamuk.”

DAFTAR ISI

PENGANTAR – 2

DAFTAR ISI - 5

PROLOG:
Bersahabat Dengan Nyamuk - 7

BAB I MEKANISME PENULARAN PENYAKIT
1.Ada Apa dengan Vektor Penyakit? -11
2.Segitiga Penyakit Tular Vektor - 16
3.Mengintip Nyamuk Pengisap Darah - 18
4.Ada Apa dengan Virus? - 21
5.Ekologi Penularan Penyakit Akibat Virus - 23
6.Merancang Anti Virus Yang Efektif - 27
7.Surveilans Vektor, Agent Penyelamat - 30

BAB II DEMAM BERDARAH
1.Demam Berdarah - 35
2.Kenali Demam Berdarah Dengan Benar - 38
3.Pengendalian Nyamuk Demam Berdarah - 43
4.Ekstra Kulit Jengkol Atasi Jentik DBD – 47
5.DBD dan Pemberdayaan Masyarakat – 56
6.Manajemen Lingkungan Dalam Penanggulangan DBD - 58
7.Tanaman Sebagai Pengusir Nyamuk - 63

BAB III PENYAKIT MALARIA
1.Sekilas Penyakit Malaria - 69
2.Plasmodium Sebagai Penyakit Malaria - 71
3.Perkembangan Parasit Malaria di Nyamuk & Manusia - 77
4.Pengendalian Penyakit Malaria - 80

BAB IV PENYAKIT KAKI GAJAH
1.Kaki Gajah Penyakit Menahun Yang ”Bikin” Ampun - 83
2.Tumbuhan Air Sebagai Inang Vektor Filariasis - 86

BAB V PENYAKIT CHIKUNGUNYA
1.Chikungunya Mirip Virus Influensa - 89
2.Pencegahan dan Pengobatan Penyakit Chikungunya - 94

BAB VI ATASI PENYAKIT BERSUMBER NYAMUK
1.Racun Bakteris Tembakau Sebagai Pembunuh Serangga -101
2.Atasi Nyamuk Dengan Budidaya Ikan - 103
3.Jurus Jitu Agar Nyamuk Tidak ”Bertamu” - 107
4.”Putus Dengan Nyamuk”, Bisakah? - 111
5.Strategi Penanggulangan Penyakit Bersumber Binatang - 117
6.Desa Siaga Bikin Masyarakat Bahagia - 120

EPILOG:
Nyamuk, Lingkungan dan Perilaku Kita - 124

DAFTAR INSPIRASI

TENTANG PENULIS

Salam Inspirasi Sehat

Arda Dinata
www.ardadinata.web.id
www.miqraindonesia.com

Bagaimana menurut Anda?

Arda Dinata, pendiri Majelis Inspirasi Alquran dan Realitas Alam/ MIQRA Indonesia, www.miqraindonesia.com 
BERSAHABAT DENGAN NYAMUK:
Jurus Jitu Atasi Penyakit Bersumber Nyamuk


Oleh: Arda Dinata

Diterbitkan oleh
Penerbit Loka Litbang P2B2 Ciamis
Balitbangkes Kementerian Kesehatan RI
Jl. Raya Pangandaran Km. 3 Pangandaran
Kabupaten Ciamis 46396

Sinopsis:

RAHASIA apa di balik penciptaan seekor nyamuk? Secara biologi, nyamuk itu tergolong serangga yang memiliki sifat spesifik dan adaktif tinggal bersama manusia. Nyamuk ini menjadi sorotan manusia, manakala ia telah membikin ulah. Sekali berulah, misalnya menyebarnya kasus demam berdarah dengue (DBD), malaria, filariasis dan chikungunya di suatu daerah, maka semua orang dibuat takut dan gelisah.
Ibarat seorang sahabat, nyamuk hidup begitu dekat dan berdampingan dengan manusia. Mereka siap kapan saja berkunjung dan bertamu ke rumah manusia. Bedanya dengan manusia, bila sahabat kita yang berkunjung biasanya membawa makanan, nyamuk bila bertamu justru akan mengganggu kita melalui bunyi kepakan sayapnya dan gigitan saat mengisap darah.

Atas dasar itulah, sesungguhnya kita dapat mencegah kehadiran nyamuk. Caranya? Dengan memahami (bersahabat) kebiasaan dan perilaku nyamuk itu sendiri. Misalnya, bagaimana cara nyamuk bertelur, berubah dari telur ke jentik, pupa, dan menjadi dewasa. Termasuk di dalamnya, bagaimana kebiasaan nyamuk-nyamuk itu menggigit dan mengisap darah manusia.
Nyamuk ini sebagai perantara penyebaran penyakit. Misalnya, penyakit DBD disebabkan virus dengue; malaria oleh Plasmodium spp.; filariasis penyebabnya cacing filaria; dan chikungunya penyebabnya adalah virus chikungunya.

Fakta tersebut mengajarkan agar kita tidak boleh meremehkan nyamuk. Ia merupakan bahasa kehidupan. Keberadaannya akan memberi banyak arti bagi mereka yang mau belajar darinya.
Untuk itu, semakin kita bersahabat dengan nyamuk, maka paling tidak kita mampu memahami habitat dan kebiasaannya, sehingga kita dapat menghindari penyakit yang dibawanya. Seputar dunia nyamuk, inilah isi yang ditawarkan dari buku ”BERSAHABAT DENGAN NYAMUK: Jurus Jitu Atasi Penyakit Bersumber Nyamuk.”

DAFTAR ISI

PENGANTAR – 2

DAFTAR ISI - 5

PROLOG:
Bersahabat Dengan Nyamuk - 7

BAB I MEKANISME PENULARAN PENYAKIT
1.Ada Apa dengan Vektor Penyakit? -11
2.Segitiga Penyakit Tular Vektor - 16
3.Mengintip Nyamuk Pengisap Darah - 18
4.Ada Apa dengan Virus? - 21
5.Ekologi Penularan Penyakit Akibat Virus - 23
6.Merancang Anti Virus Yang Efektif - 27
7.Surveilans Vektor, Agent Penyelamat - 30

BAB II DEMAM BERDARAH
1.Demam Berdarah - 35
2.Kenali Demam Berdarah Dengan Benar - 38
3.Pengendalian Nyamuk Demam Berdarah - 43
4.Ekstra Kulit Jengkol Atasi Jentik DBD – 47
5.DBD dan Pemberdayaan Masyarakat – 56
6.Manajemen Lingkungan Dalam Penanggulangan DBD - 58
7.Tanaman Sebagai Pengusir Nyamuk - 63

BAB III PENYAKIT MALARIA
1.Sekilas Penyakit Malaria - 69
2.Plasmodium Sebagai Penyakit Malaria - 71
3.Perkembangan Parasit Malaria di Nyamuk & Manusia - 77
4.Pengendalian Penyakit Malaria - 80

BAB IV PENYAKIT KAKI GAJAH
1.Kaki Gajah Penyakit Menahun Yang ”Bikin” Ampun - 83
2.Tumbuhan Air Sebagai Inang Vektor Filariasis - 86

BAB V PENYAKIT CHIKUNGUNYA
1.Chikungunya Mirip Virus Influensa - 89
2.Pencegahan dan Pengobatan Penyakit Chikungunya - 94

BAB VI ATASI PENYAKIT BERSUMBER NYAMUK
1.Racun Bakteris Tembakau Sebagai Pembunuh Serangga -101
2.Atasi Nyamuk Dengan Budidaya Ikan - 103
3.Jurus Jitu Agar Nyamuk Tidak ”Bertamu” - 107
4.”Putus Dengan Nyamuk”, Bisakah? - 111
5.Strategi Penanggulangan Penyakit Bersumber Binatang - 117
6.Desa Siaga Bikin Masyarakat Bahagia - 120

EPILOG:
Nyamuk, Lingkungan dan Perilaku Kita - 124

DAFTAR INSPIRASI

TENTANG PENULIS

Salam Inspirasi Sehat

Arda Dinata
www.ardadinata.web.id
www.miqraindonesia.com

Bagaimana menurut Anda?

Arda Dinata, pendiri Majelis Inspirasi Alquran dan Realitas Alam/ MIQRA Indonesia, www.miqraindonesia.com 
BERSAHABAT DENGAN NYAMUK:
Jurus Jitu Atasi Penyakit Bersumber Nyamuk


Oleh: Arda Dinata

Diterbitkan oleh
Penerbit Loka Litbang P2B2 Ciamis
Balitbangkes Kementerian Kesehatan RI
Jl. Raya Pangandaran Km. 3 Pangandaran
Kabupaten Ciamis 46396

Sinopsis:

RAHASIA apa di balik penciptaan seekor nyamuk? Secara biologi, nyamuk itu tergolong serangga yang memiliki sifat spesifik dan adaktif tinggal bersama manusia. Nyamuk ini menjadi sorotan manusia, manakala ia telah membikin ulah. Sekali berulah, misalnya menyebarnya kasus demam berdarah dengue (DBD), malaria, filariasis dan chikungunya di suatu daerah, maka semua orang dibuat takut dan gelisah.
Ibarat seorang sahabat, nyamuk hidup begitu dekat dan berdampingan dengan manusia. Mereka siap kapan saja berkunjung dan bertamu ke rumah manusia. Bedanya dengan manusia, bila sahabat kita yang berkunjung biasanya membawa makanan, nyamuk bila bertamu justru akan mengganggu kita melalui bunyi kepakan sayapnya dan gigitan saat mengisap darah.

Atas dasar itulah, sesungguhnya kita dapat mencegah kehadiran nyamuk. Caranya? Dengan memahami (bersahabat) kebiasaan dan perilaku nyamuk itu sendiri. Misalnya, bagaimana cara nyamuk bertelur, berubah dari telur ke jentik, pupa, dan menjadi dewasa. Termasuk di dalamnya, bagaimana kebiasaan nyamuk-nyamuk itu menggigit dan mengisap darah manusia.
Nyamuk ini sebagai perantara penyebaran penyakit. Misalnya, penyakit DBD disebabkan virus dengue; malaria oleh Plasmodium spp.; filariasis penyebabnya cacing filaria; dan chikungunya penyebabnya adalah virus chikungunya.

Fakta tersebut mengajarkan agar kita tidak boleh meremehkan nyamuk. Ia merupakan bahasa kehidupan. Keberadaannya akan memberi banyak arti bagi mereka yang mau belajar darinya.
Untuk itu, semakin kita bersahabat dengan nyamuk, maka paling tidak kita mampu memahami habitat dan kebiasaannya, sehingga kita dapat menghindari penyakit yang dibawanya. Seputar dunia nyamuk, inilah isi yang ditawarkan dari buku ”BERSAHABAT DENGAN NYAMUK: Jurus Jitu Atasi Penyakit Bersumber Nyamuk.”

DAFTAR ISI

PENGANTAR – 2

DAFTAR ISI - 5

PROLOG:
Bersahabat Dengan Nyamuk - 7

BAB I MEKANISME PENULARAN PENYAKIT
1.Ada Apa dengan Vektor Penyakit? -11
2.Segitiga Penyakit Tular Vektor - 16
3.Mengintip Nyamuk Pengisap Darah - 18
4.Ada Apa dengan Virus? - 21
5.Ekologi Penularan Penyakit Akibat Virus - 23
6.Merancang Anti Virus Yang Efektif - 27
7.Surveilans Vektor, Agent Penyelamat - 30

BAB II DEMAM BERDARAH
1.Demam Berdarah - 35
2.Kenali Demam Berdarah Dengan Benar - 38
3.Pengendalian Nyamuk Demam Berdarah - 43
4.Ekstra Kulit Jengkol Atasi Jentik DBD – 47
5.DBD dan Pemberdayaan Masyarakat – 56
6.Manajemen Lingkungan Dalam Penanggulangan DBD - 58
7.Tanaman Sebagai Pengusir Nyamuk - 63

BAB III PENYAKIT MALARIA
1.Sekilas Penyakit Malaria - 69
2.Plasmodium Sebagai Penyakit Malaria - 71
3.Perkembangan Parasit Malaria di Nyamuk & Manusia - 77
4.Pengendalian Penyakit Malaria - 80

BAB IV PENYAKIT KAKI GAJAH
1.Kaki Gajah Penyakit Menahun Yang ”Bikin” Ampun - 83
2.Tumbuhan Air Sebagai Inang Vektor Filariasis - 86

BAB V PENYAKIT CHIKUNGUNYA
1.Chikungunya Mirip Virus Influensa - 89
2.Pencegahan dan Pengobatan Penyakit Chikungunya - 94

BAB VI ATASI PENYAKIT BERSUMBER NYAMUK
1.Racun Bakteris Tembakau Sebagai Pembunuh Serangga -101
2.Atasi Nyamuk Dengan Budidaya Ikan - 103
3.Jurus Jitu Agar Nyamuk Tidak ”Bertamu” - 107
4.”Putus Dengan Nyamuk”, Bisakah? - 111
5.Strategi Penanggulangan Penyakit Bersumber Binatang - 117
6.Desa Siaga Bikin Masyarakat Bahagia - 120

EPILOG:
Nyamuk, Lingkungan dan Perilaku Kita - 124

DAFTAR INSPIRASI

TENTANG PENULIS

Salam Inspirasi Sehat

Arda Dinata
www.ardadinata.web.id
www.miqraindonesia.com

Bagaimana menurut Anda?

Arda Dinata, pendiri Majelis Inspirasi Alquran dan Realitas Alam/ MIQRA Indonesia, www.miqraindonesia.com 
BERSAHABAT DENGAN NYAMUK:
Jurus Jitu Atasi Penyakit Bersumber Nyamuk


Oleh: Arda Dinata

Diterbitkan oleh
Penerbit Loka Litbang P2B2 Ciamis
Balitbangkes Kementerian Kesehatan RI
Jl. Raya Pangandaran Km. 3 Pangandaran
Kabupaten Ciamis 46396

Sinopsis:

RAHASIA apa di balik penciptaan seekor nyamuk? Secara biologi, nyamuk itu tergolong serangga yang memiliki sifat spesifik dan adaktif tinggal bersama manusia. Nyamuk ini menjadi sorotan manusia, manakala ia telah membikin ulah. Sekali berulah, misalnya menyebarnya kasus demam berdarah dengue (DBD), malaria, filariasis dan chikungunya di suatu daerah, maka semua orang dibuat takut dan gelisah.
Ibarat seorang sahabat, nyamuk hidup begitu dekat dan berdampingan dengan manusia. Mereka siap kapan saja berkunjung dan bertamu ke rumah manusia. Bedanya dengan manusia, bila sahabat kita yang berkunjung biasanya membawa makanan, nyamuk bila bertamu justru akan mengganggu kita melalui bunyi kepakan sayapnya dan gigitan saat mengisap darah.

Atas dasar itulah, sesungguhnya kita dapat mencegah kehadiran nyamuk. Caranya? Dengan memahami (bersahabat) kebiasaan dan perilaku nyamuk itu sendiri. Misalnya, bagaimana cara nyamuk bertelur, berubah dari telur ke jentik, pupa, dan menjadi dewasa. Termasuk di dalamnya, bagaimana kebiasaan nyamuk-nyamuk itu menggigit dan mengisap darah manusia.
Nyamuk ini sebagai perantara penyebaran penyakit. Misalnya, penyakit DBD disebabkan virus dengue; malaria oleh Plasmodium spp.; filariasis penyebabnya cacing filaria; dan chikungunya penyebabnya adalah virus chikungunya.

Fakta tersebut mengajarkan agar kita tidak boleh meremehkan nyamuk. Ia merupakan bahasa kehidupan. Keberadaannya akan memberi banyak arti bagi mereka yang mau belajar darinya.
Untuk itu, semakin kita bersahabat dengan nyamuk, maka paling tidak kita mampu memahami habitat dan kebiasaannya, sehingga kita dapat menghindari penyakit yang dibawanya. Seputar dunia nyamuk, inilah isi yang ditawarkan dari buku ”BERSAHABAT DENGAN NYAMUK: Jurus Jitu Atasi Penyakit Bersumber Nyamuk.”

DAFTAR ISI

PENGANTAR – 2

DAFTAR ISI - 5

PROLOG:
Bersahabat Dengan Nyamuk - 7

BAB I MEKANISME PENULARAN PENYAKIT
1.Ada Apa dengan Vektor Penyakit? -11
2.Segitiga Penyakit Tular Vektor - 16
3.Mengintip Nyamuk Pengisap Darah - 18
4.Ada Apa dengan Virus? - 21
5.Ekologi Penularan Penyakit Akibat Virus - 23
6.Merancang Anti Virus Yang Efektif - 27
7.Surveilans Vektor, Agent Penyelamat - 30

BAB II DEMAM BERDARAH
1.Demam Berdarah - 35
2.Kenali Demam Berdarah Dengan Benar - 38
3.Pengendalian Nyamuk Demam Berdarah - 43
4.Ekstra Kulit Jengkol Atasi Jentik DBD – 47
5.DBD dan Pemberdayaan Masyarakat – 56
6.Manajemen Lingkungan Dalam Penanggulangan DBD - 58
7.Tanaman Sebagai Pengusir Nyamuk - 63

BAB III PENYAKIT MALARIA
1.Sekilas Penyakit Malaria - 69
2.Plasmodium Sebagai Penyakit Malaria - 71
3.Perkembangan Parasit Malaria di Nyamuk & Manusia - 77
4.Pengendalian Penyakit Malaria - 80

BAB IV PENYAKIT KAKI GAJAH
1.Kaki Gajah Penyakit Menahun Yang ”Bikin” Ampun - 83
2.Tumbuhan Air Sebagai Inang Vektor Filariasis - 86

BAB V PENYAKIT CHIKUNGUNYA
1.Chikungunya Mirip Virus Influensa - 89
2.Pencegahan dan Pengobatan Penyakit Chikungunya - 94

BAB VI ATASI PENYAKIT BERSUMBER NYAMUK
1.Racun Bakteris Tembakau Sebagai Pembunuh Serangga -101
2.Atasi Nyamuk Dengan Budidaya Ikan - 103
3.Jurus Jitu Agar Nyamuk Tidak ”Bertamu” - 107
4.”Putus Dengan Nyamuk”, Bisakah? - 111
5.Strategi Penanggulangan Penyakit Bersumber Binatang - 117
6.Desa Siaga Bikin Masyarakat Bahagia - 120

EPILOG:
Nyamuk, Lingkungan dan Perilaku Kita - 124

DAFTAR INSPIRASI

TENTANG PENULIS

Salam Inspirasi Sehat

Arda Dinata
www.ardadinata.web.id
www.miqraindonesia.com

Bagaimana menurut Anda?

Arda Dinata, pendiri Majelis Inspirasi Alquran dan Realitas Alam/ MIQRA Indonesia, www.miqraindonesia.com 
BERSAHABAT DENGAN NYAMUK:
Jurus Jitu Atasi Penyakit Bersumber Nyamuk


Oleh: Arda Dinata

Diterbitkan oleh
Penerbit Loka Litbang P2B2 Ciamis
Balitbangkes Kementerian Kesehatan RI
Jl. Raya Pangandaran Km. 3 Pangandaran
Kabupaten Ciamis 46396

Sinopsis:

RAHASIA apa di balik penciptaan seekor nyamuk? Secara biologi, nyamuk itu tergolong serangga yang memiliki sifat spesifik dan adaktif tinggal bersama manusia. Nyamuk ini menjadi sorotan manusia, manakala ia telah membikin ulah. Sekali berulah, misalnya menyebarnya kasus demam berdarah dengue (DBD), malaria, filariasis dan chikungunya di suatu daerah, maka semua orang dibuat takut dan gelisah.
Ibarat seorang sahabat, nyamuk hidup begitu dekat dan berdampingan dengan manusia. Mereka siap kapan saja berkunjung dan bertamu ke rumah manusia. Bedanya dengan manusia, bila sahabat kita yang berkunjung biasanya membawa makanan, nyamuk bila bertamu justru akan mengganggu kita melalui bunyi kepakan sayapnya dan gigitan saat mengisap darah.

Atas dasar itulah, sesungguhnya kita dapat mencegah kehadiran nyamuk. Caranya? Dengan memahami (bersahabat) kebiasaan dan perilaku nyamuk itu sendiri. Misalnya, bagaimana cara nyamuk bertelur, berubah dari telur ke jentik, pupa, dan menjadi dewasa. Termasuk di dalamnya, bagaimana kebiasaan nyamuk-nyamuk itu menggigit dan mengisap darah manusia.
Nyamuk ini sebagai perantara penyebaran penyakit. Misalnya, penyakit DBD disebabkan virus dengue; malaria oleh Plasmodium spp.; filariasis penyebabnya cacing filaria; dan chikungunya penyebabnya adalah virus chikungunya.

Fakta tersebut mengajarkan agar kita tidak boleh meremehkan nyamuk. Ia merupakan bahasa kehidupan. Keberadaannya akan memberi banyak arti bagi mereka yang mau belajar darinya.
Untuk itu, semakin kita bersahabat dengan nyamuk, maka paling tidak kita mampu memahami habitat dan kebiasaannya, sehingga kita dapat menghindari penyakit yang dibawanya. Seputar dunia nyamuk, inilah isi yang ditawarkan dari buku ”BERSAHABAT DENGAN NYAMUK: Jurus Jitu Atasi Penyakit Bersumber Nyamuk.”

DAFTAR ISI

PENGANTAR – 2

DAFTAR ISI - 5

PROLOG:
Bersahabat Dengan Nyamuk - 7

BAB I MEKANISME PENULARAN PENYAKIT
1.Ada Apa dengan Vektor Penyakit? -11
2.Segitiga Penyakit Tular Vektor - 16
3.Mengintip Nyamuk Pengisap Darah - 18
4.Ada Apa dengan Virus? - 21
5.Ekologi Penularan Penyakit Akibat Virus - 23
6.Merancang Anti Virus Yang Efektif - 27
7.Surveilans Vektor, Agent Penyelamat - 30

BAB II DEMAM BERDARAH
1.Demam Berdarah - 35
2.Kenali Demam Berdarah Dengan Benar - 38
3.Pengendalian Nyamuk Demam Berdarah - 43
4.Ekstra Kulit Jengkol Atasi Jentik DBD – 47
5.DBD dan Pemberdayaan Masyarakat – 56
6.Manajemen Lingkungan Dalam Penanggulangan DBD - 58
7.Tanaman Sebagai Pengusir Nyamuk - 63

BAB III PENYAKIT MALARIA
1.Sekilas Penyakit Malaria - 69
2.Plasmodium Sebagai Penyakit Malaria - 71
3.Perkembangan Parasit Malaria di Nyamuk & Manusia - 77
4.Pengendalian Penyakit Malaria - 80

BAB IV PENYAKIT KAKI GAJAH
1.Kaki Gajah Penyakit Menahun Yang ”Bikin” Ampun - 83
2.Tumbuhan Air Sebagai Inang Vektor Filariasis - 86

BAB V PENYAKIT CHIKUNGUNYA
1.Chikungunya Mirip Virus Influensa - 89
2.Pencegahan dan Pengobatan Penyakit Chikungunya - 94

BAB VI ATASI PENYAKIT BERSUMBER NYAMUK
1.Racun Bakteris Tembakau Sebagai Pembunuh Serangga -101
2.Atasi Nyamuk Dengan Budidaya Ikan - 103
3.Jurus Jitu Agar Nyamuk Tidak ”Bertamu” - 107
4.”Putus Dengan Nyamuk”, Bisakah? - 111
5.Strategi Penanggulangan Penyakit Bersumber Binatang - 117
6.Desa Siaga Bikin Masyarakat Bahagia - 120

EPILOG:
Nyamuk, Lingkungan dan Perilaku Kita - 124

DAFTAR INSPIRASI

TENTANG PENULIS

Salam Inspirasi Sehat

Arda Dinata
www.ardadinata.web.id
www.miqraindonesia.com

Bagaimana menurut Anda?

Arda Dinata, pendiri Majelis Inspirasi Alquran dan Realitas Alam/ MIQRA Indonesia, www.miqraindonesia.com 
BERSAHABAT DENGAN NYAMUK:
Jurus Jitu Atasi Penyakit Bersumber Nyamuk


Oleh: Arda Dinata

Diterbitkan oleh
Penerbit Loka Litbang P2B2 Ciamis
Balitbangkes Kementerian Kesehatan RI
Jl. Raya Pangandaran Km. 3 Pangandaran
Kabupaten Ciamis 46396

Sinopsis:

RAHASIA apa di balik penciptaan seekor nyamuk? Secara biologi, nyamuk itu tergolong serangga yang memiliki sifat spesifik dan adaktif tinggal bersama manusia. Nyamuk ini menjadi sorotan manusia, manakala ia telah membikin ulah. Sekali berulah, misalnya menyebarnya kasus demam berdarah dengue (DBD), malaria, filariasis dan chikungunya di suatu daerah, maka semua orang dibuat takut dan gelisah.
Ibarat seorang sahabat, nyamuk hidup begitu dekat dan berdampingan dengan manusia. Mereka siap kapan saja berkunjung dan bertamu ke rumah manusia. Bedanya dengan manusia, bila sahabat kita yang berkunjung biasanya membawa makanan, nyamuk bila bertamu justru akan mengganggu kita melalui bunyi kepakan sayapnya dan gigitan saat mengisap darah.

Atas dasar itulah, sesungguhnya kita dapat mencegah kehadiran nyamuk. Caranya? Dengan memahami (bersahabat) kebiasaan dan perilaku nyamuk itu sendiri. Misalnya, bagaimana cara nyamuk bertelur, berubah dari telur ke jentik, pupa, dan menjadi dewasa. Termasuk di dalamnya, bagaimana kebiasaan nyamuk-nyamuk itu menggigit dan mengisap darah manusia.
Nyamuk ini sebagai perantara penyebaran penyakit. Misalnya, penyakit DBD disebabkan virus dengue; malaria oleh Plasmodium spp.; filariasis penyebabnya cacing filaria; dan chikungunya penyebabnya adalah virus chikungunya.

Fakta tersebut mengajarkan agar kita tidak boleh meremehkan nyamuk. Ia merupakan bahasa kehidupan. Keberadaannya akan memberi banyak arti bagi mereka yang mau belajar darinya.
Untuk itu, semakin kita bersahabat dengan nyamuk, maka paling tidak kita mampu memahami habitat dan kebiasaannya, sehingga kita dapat menghindari penyakit yang dibawanya. Seputar dunia nyamuk, inilah isi yang ditawarkan dari buku ”BERSAHABAT DENGAN NYAMUK: Jurus Jitu Atasi Penyakit Bersumber Nyamuk.”

DAFTAR ISI

PENGANTAR – 2

DAFTAR ISI - 5

PROLOG:
Bersahabat Dengan Nyamuk - 7

BAB I MEKANISME PENULARAN PENYAKIT
1.Ada Apa dengan Vektor Penyakit? -11
2.Segitiga Penyakit Tular Vektor - 16
3.Mengintip Nyamuk Pengisap Darah - 18
4.Ada Apa dengan Virus? - 21
5.Ekologi Penularan Penyakit Akibat Virus - 23
6.Merancang Anti Virus Yang Efektif - 27
7.Surveilans Vektor, Agent Penyelamat - 30

BAB II DEMAM BERDARAH
1.Demam Berdarah - 35
2.Kenali Demam Berdarah Dengan Benar - 38
3.Pengendalian Nyamuk Demam Berdarah - 43
4.Ekstra Kulit Jengkol Atasi Jentik DBD – 47
5.DBD dan Pemberdayaan Masyarakat – 56
6.Manajemen Lingkungan Dalam Penanggulangan DBD - 58
7.Tanaman Sebagai Pengusir Nyamuk - 63

BAB III PENYAKIT MALARIA
1.Sekilas Penyakit Malaria - 69
2.Plasmodium Sebagai Penyakit Malaria - 71
3.Perkembangan Parasit Malaria di Nyamuk & Manusia - 77
4.Pengendalian Penyakit Malaria - 80

BAB IV PENYAKIT KAKI GAJAH
1.Kaki Gajah Penyakit Menahun Yang ”Bikin” Ampun - 83
2.Tumbuhan Air Sebagai Inang Vektor Filariasis - 86

BAB V PENYAKIT CHIKUNGUNYA
1.Chikungunya Mirip Virus Influensa - 89
2.Pencegahan dan Pengobatan Penyakit Chikungunya - 94

BAB VI ATASI PENYAKIT BERSUMBER NYAMUK
1.Racun Bakteris Tembakau Sebagai Pembunuh Serangga -101
2.Atasi Nyamuk Dengan Budidaya Ikan - 103
3.Jurus Jitu Agar Nyamuk Tidak ”Bertamu” - 107
4.”Putus Dengan Nyamuk”, Bisakah? - 111
5.Strategi Penanggulangan Penyakit Bersumber Binatang - 117
6.Desa Siaga Bikin Masyarakat Bahagia - 120

EPILOG:
Nyamuk, Lingkungan dan Perilaku Kita - 124

DAFTAR INSPIRASI

TENTANG PENULIS

Salam Inspirasi Sehat

Arda Dinata
www.ardadinata.web.id
www.miqraindonesia.com

Bagaimana menurut Anda?

Arda Dinata, pendiri Majelis Inspirasi Alquran dan Realitas Alam/ MIQRA Indonesia, www.miqraindonesia.com 
BERSAHABAT DENGAN NYAMUK:
Jurus Jitu Atasi Penyakit Bersumber Nyamuk


Oleh: Arda Dinata

Diterbitkan oleh
Penerbit Loka Litbang P2B2 Ciamis
Balitbangkes Kementerian Kesehatan RI
Jl. Raya Pangandaran Km. 3 Pangandaran
Kabupaten Ciamis 46396

Sinopsis:

RAHASIA apa di balik penciptaan seekor nyamuk? Secara biologi, nyamuk itu tergolong serangga yang memiliki sifat spesifik dan adaktif tinggal bersama manusia. Nyamuk ini menjadi sorotan manusia, manakala ia telah membikin ulah. Sekali berulah, misalnya menyebarnya kasus demam berdarah dengue (DBD), malaria, filariasis dan chikungunya di suatu daerah, maka semua orang dibuat takut dan gelisah.
Ibarat seorang sahabat, nyamuk hidup begitu dekat dan berdampingan dengan manusia. Mereka siap kapan saja berkunjung dan bertamu ke rumah manusia. Bedanya dengan manusia, bila sahabat kita yang berkunjung biasanya membawa makanan, nyamuk bila bertamu justru akan mengganggu kita melalui bunyi kepakan sayapnya dan gigitan saat mengisap darah.

Atas dasar itulah, sesungguhnya kita dapat mencegah kehadiran nyamuk. Caranya? Dengan memahami (bersahabat) kebiasaan dan perilaku nyamuk itu sendiri. Misalnya, bagaimana cara nyamuk bertelur, berubah dari telur ke jentik, pupa, dan menjadi dewasa. Termasuk di dalamnya, bagaimana kebiasaan nyamuk-nyamuk itu menggigit dan mengisap darah manusia.
Nyamuk ini sebagai perantara penyebaran penyakit. Misalnya, penyakit DBD disebabkan virus dengue; malaria oleh Plasmodium spp.; filariasis penyebabnya cacing filaria; dan chikungunya penyebabnya adalah virus chikungunya.

Fakta tersebut mengajarkan agar kita tidak boleh meremehkan nyamuk. Ia merupakan bahasa kehidupan. Keberadaannya akan memberi banyak arti bagi mereka yang mau belajar darinya.
Untuk itu, semakin kita bersahabat dengan nyamuk, maka paling tidak kita mampu memahami habitat dan kebiasaannya, sehingga kita dapat menghindari penyakit yang dibawanya. Seputar dunia nyamuk, inilah isi yang ditawarkan dari buku ”BERSAHABAT DENGAN NYAMUK: Jurus Jitu Atasi Penyakit Bersumber Nyamuk.”

DAFTAR ISI

PENGANTAR – 2

DAFTAR ISI - 5

PROLOG:
Bersahabat Dengan Nyamuk - 7

BAB I MEKANISME PENULARAN PENYAKIT
1.Ada Apa dengan Vektor Penyakit? -11
2.Segitiga Penyakit Tular Vektor - 16
3.Mengintip Nyamuk Pengisap Darah - 18
4.Ada Apa dengan Virus? - 21
5.Ekologi Penularan Penyakit Akibat Virus - 23
6.Merancang Anti Virus Yang Efektif - 27
7.Surveilans Vektor, Agent Penyelamat - 30

BAB II DEMAM BERDARAH
1.Demam Berdarah - 35
2.Kenali Demam Berdarah Dengan Benar - 38
3.Pengendalian Nyamuk Demam Berdarah - 43
4.Ekstra Kulit Jengkol Atasi Jentik DBD – 47
5.DBD dan Pemberdayaan Masyarakat – 56
6.Manajemen Lingkungan Dalam Penanggulangan DBD - 58
7.Tanaman Sebagai Pengusir Nyamuk - 63

BAB III PENYAKIT MALARIA
1.Sekilas Penyakit Malaria - 69
2.Plasmodium Sebagai Penyakit Malaria - 71
3.Perkembangan Parasit Malaria di Nyamuk & Manusia - 77
4.Pengendalian Penyakit Malaria - 80

BAB IV PENYAKIT KAKI GAJAH
1.Kaki Gajah Penyakit Menahun Yang ”Bikin” Ampun - 83
2.Tumbuhan Air Sebagai Inang Vektor Filariasis - 86

BAB V PENYAKIT CHIKUNGUNYA
1.Chikungunya Mirip Virus Influensa - 89
2.Pencegahan dan Pengobatan Penyakit Chikungunya - 94

BAB VI ATASI PENYAKIT BERSUMBER NYAMUK
1.Racun Bakteris Tembakau Sebagai Pembunuh Serangga -101
2.Atasi Nyamuk Dengan Budidaya Ikan - 103
3.Jurus Jitu Agar Nyamuk Tidak ”Bertamu” - 107
4.”Putus Dengan Nyamuk”, Bisakah? - 111
5.Strategi Penanggulangan Penyakit Bersumber Binatang - 117
6.Desa Siaga Bikin Masyarakat Bahagia - 120

EPILOG:
Nyamuk, Lingkungan dan Perilaku Kita - 124

DAFTAR INSPIRASI

TENTANG PENULIS

Salam Inspirasi Sehat

Arda Dinata
www.ardadinata.web.id
www.miqraindonesia.com

Bagaimana menurut Anda?

Arda Dinata, pendiri Majelis Inspirasi Alquran dan Realitas Alam/ MIQRA Indonesia, www.miqraindonesia.com 
BERSAHABAT DENGAN NYAMUK:
Jurus Jitu Atasi Penyakit Bersumber Nyamuk


Oleh: Arda Dinata

Diterbitkan oleh
Penerbit Loka Litbang P2B2 Ciamis
Balitbangkes Kementerian Kesehatan RI
Jl. Raya Pangandaran Km. 3 Pangandaran
Kabupaten Ciamis 46396

Sinopsis:

RAHASIA apa di balik penciptaan seekor nyamuk? Secara biologi, nyamuk itu tergolong serangga yang memiliki sifat spesifik dan adaktif tinggal bersama manusia. Nyamuk ini menjadi sorotan manusia, manakala ia telah membikin ulah. Sekali berulah, misalnya menyebarnya kasus demam berdarah dengue (DBD), malaria, filariasis dan chikungunya di suatu daerah, maka semua orang dibuat takut dan gelisah.
Ibarat seorang sahabat, nyamuk hidup begitu dekat dan berdampingan dengan manusia. Mereka siap kapan saja berkunjung dan bertamu ke rumah manusia. Bedanya dengan manusia, bila sahabat kita yang berkunjung biasanya membawa makanan, nyamuk bila bertamu justru akan mengganggu kita melalui bunyi kepakan sayapnya dan gigitan saat mengisap darah.

Atas dasar itulah, sesungguhnya kita dapat mencegah kehadiran nyamuk. Caranya? Dengan memahami (bersahabat) kebiasaan dan perilaku nyamuk itu sendiri. Misalnya, bagaimana cara nyamuk bertelur, berubah dari telur ke jentik, pupa, dan menjadi dewasa. Termasuk di dalamnya, bagaimana kebiasaan nyamuk-nyamuk itu menggigit dan mengisap darah manusia.
Nyamuk ini sebagai perantara penyebaran penyakit. Misalnya, penyakit DBD disebabkan virus dengue; malaria oleh Plasmodium spp.; filariasis penyebabnya cacing filaria; dan chikungunya penyebabnya adalah virus chikungunya.

Fakta tersebut mengajarkan agar kita tidak boleh meremehkan nyamuk. Ia merupakan bahasa kehidupan. Keberadaannya akan memberi banyak arti bagi mereka yang mau belajar darinya.
Untuk itu, semakin kita bersahabat dengan nyamuk, maka paling tidak kita mampu memahami habitat dan kebiasaannya, sehingga kita dapat menghindari penyakit yang dibawanya. Seputar dunia nyamuk, inilah isi yang ditawarkan dari buku ”BERSAHABAT DENGAN NYAMUK: Jurus Jitu Atasi Penyakit Bersumber Nyamuk.”

DAFTAR ISI

PENGANTAR – 2

DAFTAR ISI - 5

PROLOG:
Bersahabat Dengan Nyamuk - 7

BAB I MEKANISME PENULARAN PENYAKIT
1.Ada Apa dengan Vektor Penyakit? -11
2.Segitiga Penyakit Tular Vektor - 16
3.Mengintip Nyamuk Pengisap Darah - 18
4.Ada Apa dengan Virus? - 21
5.Ekologi Penularan Penyakit Akibat Virus - 23
6.Merancang Anti Virus Yang Efektif - 27
7.Surveilans Vektor, Agent Penyelamat - 30

BAB II DEMAM BERDARAH
1.Demam Berdarah - 35
2.Kenali Demam Berdarah Dengan Benar - 38
3.Pengendalian Nyamuk Demam Berdarah - 43
4.Ekstra Kulit Jengkol Atasi Jentik DBD – 47
5.DBD dan Pemberdayaan Masyarakat – 56
6.Manajemen Lingkungan Dalam Penanggulangan DBD - 58
7.Tanaman Sebagai Pengusir Nyamuk - 63

BAB III PENYAKIT MALARIA
1.Sekilas Penyakit Malaria - 69
2.Plasmodium Sebagai Penyakit Malaria - 71
3.Perkembangan Parasit Malaria di Nyamuk & Manusia - 77
4.Pengendalian Penyakit Malaria - 80

BAB IV PENYAKIT KAKI GAJAH
1.Kaki Gajah Penyakit Menahun Yang ”Bikin” Ampun - 83
2.Tumbuhan Air Sebagai Inang Vektor Filariasis - 86

BAB V PENYAKIT CHIKUNGUNYA
1.Chikungunya Mirip Virus Influensa - 89
2.Pencegahan dan Pengobatan Penyakit Chikungunya - 94

BAB VI ATASI PENYAKIT BERSUMBER NYAMUK
1.Racun Bakteris Tembakau Sebagai Pembunuh Serangga -101
2.Atasi Nyamuk Dengan Budidaya Ikan - 103
3.Jurus Jitu Agar Nyamuk Tidak ”Bertamu” - 107
4.”Putus Dengan Nyamuk”, Bisakah? - 111
5.Strategi Penanggulangan Penyakit Bersumber Binatang - 117
6.Desa Siaga Bikin Masyarakat Bahagia - 120

EPILOG:
Nyamuk, Lingkungan dan Perilaku Kita - 124

DAFTAR INSPIRASI

TENTANG PENULIS

Salam Inspirasi Sehat

Arda Dinata
www.ardadinata.web.id
www.miqraindonesia.com

Bagaimana menurut Anda?

Arda Dinata, pendiri Majelis Inspirasi Alquran dan Realitas Alam/ MIQRA Indonesia, www.miqraindonesia.com 
BERSAHABAT DENGAN NYAMUK:
Jurus Jitu Atasi Penyakit Bersumber Nyamuk


Oleh: Arda Dinata

Diterbitkan oleh
Penerbit Loka Litbang P2B2 Ciamis
Balitbangkes Kementerian Kesehatan RI
Jl. Raya Pangandaran Km. 3 Pangandaran
Kabupaten Ciamis 46396

Sinopsis:

RAHASIA apa di balik penciptaan seekor nyamuk? Secara biologi, nyamuk itu tergolong serangga yang memiliki sifat spesifik dan adaktif tinggal bersama manusia. Nyamuk ini menjadi sorotan manusia, manakala ia telah membikin ulah. Sekali berulah, misalnya menyebarnya kasus demam berdarah dengue (DBD), malaria, filariasis dan chikungunya di suatu daerah, maka semua orang dibuat takut dan gelisah.
Ibarat seorang sahabat, nyamuk hidup begitu dekat dan berdampingan dengan manusia. Mereka siap kapan saja berkunjung dan bertamu ke rumah manusia. Bedanya dengan manusia, bila sahabat kita yang berkunjung biasanya membawa makanan, nyamuk bila bertamu justru akan mengganggu kita melalui bunyi kepakan sayapnya dan gigitan saat mengisap darah.

Atas dasar itulah, sesungguhnya kita dapat mencegah kehadiran nyamuk. Caranya? Dengan memahami (bersahabat) kebiasaan dan perilaku nyamuk itu sendiri. Misalnya, bagaimana cara nyamuk bertelur, berubah dari telur ke jentik, pupa, dan menjadi dewasa. Termasuk di dalamnya, bagaimana kebiasaan nyamuk-nyamuk itu menggigit dan mengisap darah manusia.
Nyamuk ini sebagai perantara penyebaran penyakit. Misalnya, penyakit DBD disebabkan virus dengue; malaria oleh Plasmodium spp.; filariasis penyebabnya cacing filaria; dan chikungunya penyebabnya adalah virus chikungunya.

Fakta tersebut mengajarkan agar kita tidak boleh meremehkan nyamuk. Ia merupakan bahasa kehidupan. Keberadaannya akan memberi banyak arti bagi mereka yang mau belajar darinya.
Untuk itu, semakin kita bersahabat dengan nyamuk, maka paling tidak kita mampu memahami habitat dan kebiasaannya, sehingga kita dapat menghindari penyakit yang dibawanya. Seputar dunia nyamuk, inilah isi yang ditawarkan dari buku ”BERSAHABAT DENGAN NYAMUK: Jurus Jitu Atasi Penyakit Bersumber Nyamuk.”

DAFTAR ISI

PENGANTAR – 2

DAFTAR ISI - 5

PROLOG:
Bersahabat Dengan Nyamuk - 7

BAB I MEKANISME PENULARAN PENYAKIT
1.Ada Apa dengan Vektor Penyakit? -11
2.Segitiga Penyakit Tular Vektor - 16
3.Mengintip Nyamuk Pengisap Darah - 18
4.Ada Apa dengan Virus? - 21
5.Ekologi Penularan Penyakit Akibat Virus - 23
6.Merancang Anti Virus Yang Efektif - 27
7.Surveilans Vektor, Agent Penyelamat - 30

BAB II DEMAM BERDARAH
1.Demam Berdarah - 35
2.Kenali Demam Berdarah Dengan Benar - 38
3.Pengendalian Nyamuk Demam Berdarah - 43
4.Ekstra Kulit Jengkol Atasi Jentik DBD – 47
5.DBD dan Pemberdayaan Masyarakat – 56
6.Manajemen Lingkungan Dalam Penanggulangan DBD - 58
7.Tanaman Sebagai Pengusir Nyamuk - 63

BAB III PENYAKIT MALARIA
1.Sekilas Penyakit Malaria - 69
2.Plasmodium Sebagai Penyakit Malaria - 71
3.Perkembangan Parasit Malaria di Nyamuk & Manusia - 77
4.Pengendalian Penyakit Malaria - 80

BAB IV PENYAKIT KAKI GAJAH
1.Kaki Gajah Penyakit Menahun Yang ”Bikin” Ampun - 83
2.Tumbuhan Air Sebagai Inang Vektor Filariasis - 86

BAB V PENYAKIT CHIKUNGUNYA
1.Chikungunya Mirip Virus Influensa - 89
2.Pencegahan dan Pengobatan Penyakit Chikungunya - 94

BAB VI ATASI PENYAKIT BERSUMBER NYAMUK
1.Racun Bakteris Tembakau Sebagai Pembunuh Serangga -101
2.Atasi Nyamuk Dengan Budidaya Ikan - 103
3.Jurus Jitu Agar Nyamuk Tidak ”Bertamu” - 107
4.”Putus Dengan Nyamuk”, Bisakah? - 111
5.Strategi Penanggulangan Penyakit Bersumber Binatang - 117
6.Desa Siaga Bikin Masyarakat Bahagia - 120

EPILOG:
Nyamuk, Lingkungan dan Perilaku Kita - 124

DAFTAR INSPIRASI

TENTANG PENULIS

Salam Inspirasi Sehat

Arda Dinata
www.ardadinata.web.id
www.miqraindonesia.com

Bagaimana menurut Anda?

Arda Dinata, pendiri Majelis Inspirasi Alquran dan Realitas Alam/ MIQRA Indonesia, www.miqraindonesia.com 
BERSAHABAT DENGAN NYAMUK:
Jurus Jitu Atasi Penyakit Bersumber Nyamuk


Oleh: Arda Dinata

Diterbitkan oleh
Penerbit Loka Litbang P2B2 Ciamis
Balitbangkes Kementerian Kesehatan RI
Jl. Raya Pangandaran Km. 3 Pangandaran
Kabupaten Ciamis 46396

Sinopsis:

RAHASIA apa di balik penciptaan seekor nyamuk? Secara biologi, nyamuk itu tergolong serangga yang memiliki sifat spesifik dan adaktif tinggal bersama manusia. Nyamuk ini menjadi sorotan manusia, manakala ia telah membikin ulah. Sekali berulah, misalnya menyebarnya kasus demam berdarah dengue (DBD), malaria, filariasis dan chikungunya di suatu daerah, maka semua orang dibuat takut dan gelisah.
Ibarat seorang sahabat, nyamuk hidup begitu dekat dan berdampingan dengan manusia. Mereka siap kapan saja berkunjung dan bertamu ke rumah manusia. Bedanya dengan manusia, bila sahabat kita yang berkunjung biasanya membawa makanan, nyamuk bila bertamu justru akan mengganggu kita melalui bunyi kepakan sayapnya dan gigitan saat mengisap darah.

Atas dasar itulah, sesungguhnya kita dapat mencegah kehadiran nyamuk. Caranya? Dengan memahami (bersahabat) kebiasaan dan perilaku nyamuk itu sendiri. Misalnya, bagaimana cara nyamuk bertelur, berubah dari telur ke jentik, pupa, dan menjadi dewasa. Termasuk di dalamnya, bagaimana kebiasaan nyamuk-nyamuk itu menggigit dan mengisap darah manusia.
Nyamuk ini sebagai perantara penyebaran penyakit. Misalnya, penyakit DBD disebabkan virus dengue; malaria oleh Plasmodium spp.; filariasis penyebabnya cacing filaria; dan chikungunya penyebabnya adalah virus chikungunya.

Fakta tersebut mengajarkan agar kita tidak boleh meremehkan nyamuk. Ia merupakan bahasa kehidupan. Keberadaannya akan memberi banyak arti bagi mereka yang mau belajar darinya.
Untuk itu, semakin kita bersahabat dengan nyamuk, maka paling tidak kita mampu memahami habitat dan kebiasaannya, sehingga kita dapat menghindari penyakit yang dibawanya. Seputar dunia nyamuk, inilah isi yang ditawarkan dari buku ”BERSAHABAT DENGAN NYAMUK: Jurus Jitu Atasi Penyakit Bersumber Nyamuk.”

DAFTAR ISI

PENGANTAR – 2

DAFTAR ISI - 5

PROLOG:
Bersahabat Dengan Nyamuk - 7

BAB I MEKANISME PENULARAN PENYAKIT
1.Ada Apa dengan Vektor Penyakit? -11
2.Segitiga Penyakit Tular Vektor - 16
3.Mengintip Nyamuk Pengisap Darah - 18
4.Ada Apa dengan Virus? - 21
5.Ekologi Penularan Penyakit Akibat Virus - 23
6.Merancang Anti Virus Yang Efektif - 27
7.Surveilans Vektor, Agent Penyelamat - 30

BAB II DEMAM BERDARAH
1.Demam Berdarah - 35
2.Kenali Demam Berdarah Dengan Benar - 38
3.Pengendalian Nyamuk Demam Berdarah - 43
4.Ekstra Kulit Jengkol Atasi Jentik DBD – 47
5.DBD dan Pemberdayaan Masyarakat – 56
6.Manajemen Lingkungan Dalam Penanggulangan DBD - 58
7.Tanaman Sebagai Pengusir Nyamuk - 63

BAB III PENYAKIT MALARIA
1.Sekilas Penyakit Malaria - 69
2.Plasmodium Sebagai Penyakit Malaria - 71
3.Perkembangan Parasit Malaria di Nyamuk & Manusia - 77
4.Pengendalian Penyakit Malaria - 80

BAB IV PENYAKIT KAKI GAJAH
1.Kaki Gajah Penyakit Menahun Yang ”Bikin” Ampun - 83
2.Tumbuhan Air Sebagai Inang Vektor Filariasis - 86

BAB V PENYAKIT CHIKUNGUNYA
1.Chikungunya Mirip Virus Influensa - 89
2.Pencegahan dan Pengobatan Penyakit Chikungunya - 94

BAB VI ATASI PENYAKIT BERSUMBER NYAMUK
1.Racun Bakteris Tembakau Sebagai Pembunuh Serangga -101
2.Atasi Nyamuk Dengan Budidaya Ikan - 103
3.Jurus Jitu Agar Nyamuk Tidak ”Bertamu” - 107
4.”Putus Dengan Nyamuk”, Bisakah? - 111
5.Strategi Penanggulangan Penyakit Bersumber Binatang - 117
6.Desa Siaga Bikin Masyarakat Bahagia - 120

EPILOG:
Nyamuk, Lingkungan dan Perilaku Kita - 124

DAFTAR INSPIRASI

TENTANG PENULIS

Salam Inspirasi Sehat

Arda Dinata
www.ardadinata.web.id
www.miqraindonesia.com

Bagaimana menurut Anda?

Arda Dinata, pendiri Majelis Inspirasi Alquran dan Realitas Alam/ MIQRA Indonesia, www.miqraindonesia.com 
BERSAHABAT DENGAN NYAMUK:
Jurus Jitu Atasi Penyakit Bersumber Nyamuk


Oleh: Arda Dinata

Diterbitkan oleh
Penerbit Loka Litbang P2B2 Ciamis
Balitbangkes Kementerian Kesehatan RI
Jl. Raya Pangandaran Km. 3 Pangandaran
Kabupaten Ciamis 46396

Sinopsis:

RAHASIA apa di balik penciptaan seekor nyamuk? Secara biologi, nyamuk itu tergolong serangga yang memiliki sifat spesifik dan adaktif tinggal bersama manusia. Nyamuk ini menjadi sorotan manusia, manakala ia telah membikin ulah. Sekali berulah, misalnya menyebarnya kasus demam berdarah dengue (DBD), malaria, filariasis dan chikungunya di suatu daerah, maka semua orang dibuat takut dan gelisah.
Ibarat seorang sahabat, nyamuk hidup begitu dekat dan berdampingan dengan manusia. Mereka siap kapan saja berkunjung dan bertamu ke rumah manusia. Bedanya dengan manusia, bila sahabat kita yang berkunjung biasanya membawa makanan, nyamuk bila bertamu justru akan mengganggu kita melalui bunyi kepakan sayapnya dan gigitan saat mengisap darah.

Atas dasar itulah, sesungguhnya kita dapat mencegah kehadiran nyamuk. Caranya? Dengan memahami (bersahabat) kebiasaan dan perilaku nyamuk itu sendiri. Misalnya, bagaimana cara nyamuk bertelur, berubah dari telur ke jentik, pupa, dan menjadi dewasa. Termasuk di dalamnya, bagaimana kebiasaan nyamuk-nyamuk itu menggigit dan mengisap darah manusia.
Nyamuk ini sebagai perantara penyebaran penyakit. Misalnya, penyakit DBD disebabkan virus dengue; malaria oleh Plasmodium spp.; filariasis penyebabnya cacing filaria; dan chikungunya penyebabnya adalah virus chikungunya.

Fakta tersebut mengajarkan agar kita tidak boleh meremehkan nyamuk. Ia merupakan bahasa kehidupan. Keberadaannya akan memberi banyak arti bagi mereka yang mau belajar darinya.
Untuk itu, semakin kita bersahabat dengan nyamuk, maka paling tidak kita mampu memahami habitat dan kebiasaannya, sehingga kita dapat menghindari penyakit yang dibawanya. Seputar dunia nyamuk, inilah isi yang ditawarkan dari buku ”BERSAHABAT DENGAN NYAMUK: Jurus Jitu Atasi Penyakit Bersumber Nyamuk.”

DAFTAR ISI

PENGANTAR – 2

DAFTAR ISI - 5

PROLOG:
Bersahabat Dengan Nyamuk - 7

BAB I MEKANISME PENULARAN PENYAKIT
1.Ada Apa dengan Vektor Penyakit? -11
2.Segitiga Penyakit Tular Vektor - 16
3.Mengintip Nyamuk Pengisap Darah - 18
4.Ada Apa dengan Virus? - 21
5.Ekologi Penularan Penyakit Akibat Virus - 23
6.Merancang Anti Virus Yang Efektif - 27
7.Surveilans Vektor, Agent Penyelamat - 30

BAB II DEMAM BERDARAH
1.Demam Berdarah - 35
2.Kenali Demam Berdarah Dengan Benar - 38
3.Pengendalian Nyamuk Demam Berdarah - 43
4.Ekstra Kulit Jengkol Atasi Jentik DBD – 47
5.DBD dan Pemberdayaan Masyarakat – 56
6.Manajemen Lingkungan Dalam Penanggulangan DBD - 58
7.Tanaman Sebagai Pengusir Nyamuk - 63

BAB III PENYAKIT MALARIA
1.Sekilas Penyakit Malaria - 69
2.Plasmodium Sebagai Penyakit Malaria - 71
3.Perkembangan Parasit Malaria di Nyamuk & Manusia - 77
4.Pengendalian Penyakit Malaria - 80

BAB IV PENYAKIT KAKI GAJAH
1.Kaki Gajah Penyakit Menahun Yang ”Bikin” Ampun - 83
2.Tumbuhan Air Sebagai Inang Vektor Filariasis - 86

BAB V PENYAKIT CHIKUNGUNYA
1.Chikungunya Mirip Virus Influensa - 89
2.Pencegahan dan Pengobatan Penyakit Chikungunya - 94

BAB VI ATASI PENYAKIT BERSUMBER NYAMUK
1.Racun Bakteris Tembakau Sebagai Pembunuh Serangga -101
2.Atasi Nyamuk Dengan Budidaya Ikan - 103
3.Jurus Jitu Agar Nyamuk Tidak ”Bertamu” - 107
4.”Putus Dengan Nyamuk”, Bisakah? - 111
5.Strategi Penanggulangan Penyakit Bersumber Binatang - 117
6.Desa Siaga Bikin Masyarakat Bahagia - 120

EPILOG:
Nyamuk, Lingkungan dan Perilaku Kita - 124

DAFTAR INSPIRASI

TENTANG PENULIS

Salam Inspirasi Sehat

Arda Dinata
www.ardadinata.web.id
www.miqraindonesia.com

Bagaimana menurut Anda?

Arda Dinata, pendiri Majelis Inspirasi Alquran dan Realitas Alam/ MIQRA Indonesia, www.miqraindonesia.com 
BERSAHABAT DENGAN NYAMUK:
Jurus Jitu Atasi Penyakit Bersumber Nyamuk


Oleh: Arda Dinata

Diterbitkan oleh
Penerbit Loka Litbang P2B2 Ciamis
Balitbangkes Kementerian Kesehatan RI
Jl. Raya Pangandaran Km. 3 Pangandaran
Kabupaten Ciamis 46396

Sinopsis:

RAHASIA apa di balik penciptaan seekor nyamuk? Secara biologi, nyamuk itu tergolong serangga yang memiliki sifat spesifik dan adaktif tinggal bersama manusia. Nyamuk ini menjadi sorotan manusia, manakala ia telah membikin ulah. Sekali berulah, misalnya menyebarnya kasus demam berdarah dengue (DBD), malaria, filariasis dan chikungunya di suatu daerah, maka semua orang dibuat takut dan gelisah.
Ibarat seorang sahabat, nyamuk hidup begitu dekat dan berdampingan dengan manusia. Mereka siap kapan saja berkunjung dan bertamu ke rumah manusia. Bedanya dengan manusia, bila sahabat kita yang berkunjung biasanya membawa makanan, nyamuk bila bertamu justru akan mengganggu kita melalui bunyi kepakan sayapnya dan gigitan saat mengisap darah.

Atas dasar itulah, sesungguhnya kita dapat mencegah kehadiran nyamuk. Caranya? Dengan memahami (bersahabat) kebiasaan dan perilaku nyamuk itu sendiri. Misalnya, bagaimana cara nyamuk bertelur, berubah dari telur ke jentik, pupa, dan menjadi dewasa. Termasuk di dalamnya, bagaimana kebiasaan nyamuk-nyamuk itu menggigit dan mengisap darah manusia.
Nyamuk ini sebagai perantara penyebaran penyakit. Misalnya, penyakit DBD disebabkan virus dengue; malaria oleh Plasmodium spp.; filariasis penyebabnya cacing filaria; dan chikungunya penyebabnya adalah virus chikungunya.

Fakta tersebut mengajarkan agar kita tidak boleh meremehkan nyamuk. Ia merupakan bahasa kehidupan. Keberadaannya akan memberi banyak arti bagi mereka yang mau belajar darinya.
Untuk itu, semakin kita bersahabat dengan nyamuk, maka paling tidak kita mampu memahami habitat dan kebiasaannya, sehingga kita dapat menghindari penyakit yang dibawanya. Seputar dunia nyamuk, inilah isi yang ditawarkan dari buku ”BERSAHABAT DENGAN NYAMUK: Jurus Jitu Atasi Penyakit Bersumber Nyamuk.”

DAFTAR ISI

PENGANTAR – 2

DAFTAR ISI - 5

PROLOG:
Bersahabat Dengan Nyamuk - 7

BAB I MEKANISME PENULARAN PENYAKIT
1.Ada Apa dengan Vektor Penyakit? -11
2.Segitiga Penyakit Tular Vektor - 16
3.Mengintip Nyamuk Pengisap Darah - 18
4.Ada Apa dengan Virus? - 21
5.Ekologi Penularan Penyakit Akibat Virus - 23
6.Merancang Anti Virus Yang Efektif - 27
7.Surveilans Vektor, Agent Penyelamat - 30

BAB II DEMAM BERDARAH
1.Demam Berdarah - 35
2.Kenali Demam Berdarah Dengan Benar - 38
3.Pengendalian Nyamuk Demam Berdarah - 43
4.Ekstra Kulit Jengkol Atasi Jentik DBD – 47
5.DBD dan Pemberdayaan Masyarakat – 56
6.Manajemen Lingkungan Dalam Penanggulangan DBD - 58
7.Tanaman Sebagai Pengusir Nyamuk - 63

BAB III PENYAKIT MALARIA
1.Sekilas Penyakit Malaria - 69
2.Plasmodium Sebagai Penyakit Malaria - 71
3.Perkembangan Parasit Malaria di Nyamuk & Manusia - 77
4.Pengendalian Penyakit Malaria - 80

BAB IV PENYAKIT KAKI GAJAH
1.Kaki Gajah Penyakit Menahun Yang ”Bikin” Ampun - 83
2.Tumbuhan Air Sebagai Inang Vektor Filariasis - 86

BAB V PENYAKIT CHIKUNGUNYA
1.Chikungunya Mirip Virus Influensa - 89
2.Pencegahan dan Pengobatan Penyakit Chikungunya - 94

BAB VI ATASI PENYAKIT BERSUMBER NYAMUK
1.Racun Bakteris Tembakau Sebagai Pembunuh Serangga -101
2.Atasi Nyamuk Dengan Budidaya Ikan - 103
3.Jurus Jitu Agar Nyamuk Tidak ”Bertamu” - 107
4.”Putus Dengan Nyamuk”, Bisakah? - 111
5.Strategi Penanggulangan Penyakit Bersumber Binatang - 117
6.Desa Siaga Bikin Masyarakat Bahagia - 120

EPILOG:
Nyamuk, Lingkungan dan Perilaku Kita - 124

DAFTAR INSPIRASI

TENTANG PENULIS

Salam Inspirasi Sehat

Arda Dinata
www.ardadinata.web.id
www.miqraindonesia.com

Bagaimana menurut Anda?

Arda Dinata, pendiri Majelis Inspirasi Alquran dan Realitas Alam/ MIQRA Indonesia, www.miqraindonesia.com 
BERSAHABAT DENGAN NYAMUK:
Jurus Jitu Atasi Penyakit Bersumber Nyamuk


Oleh: Arda Dinata

Diterbitkan oleh
Penerbit Loka Litbang P2B2 Ciamis
Balitbangkes Kementerian Kesehatan RI
Jl. Raya Pangandaran Km. 3 Pangandaran
Kabupaten Ciamis 46396

Sinopsis:

RAHASIA apa di balik penciptaan seekor nyamuk? Secara biologi, nyamuk itu tergolong serangga yang memiliki sifat spesifik dan adaktif tinggal bersama manusia. Nyamuk ini menjadi sorotan manusia, manakala ia telah membikin ulah. Sekali berulah, misalnya menyebarnya kasus demam berdarah dengue (DBD), malaria, filariasis dan chikungunya di suatu daerah, maka semua orang dibuat takut dan gelisah.
Ibarat seorang sahabat, nyamuk hidup begitu dekat dan berdampingan dengan manusia. Mereka siap kapan saja berkunjung dan bertamu ke rumah manusia. Bedanya dengan manusia, bila sahabat kita yang berkunjung biasanya membawa makanan, nyamuk bila bertamu justru akan mengganggu kita melalui bunyi kepakan sayapnya dan gigitan saat mengisap darah.

Atas dasar itulah, sesungguhnya kita dapat mencegah kehadiran nyamuk. Caranya? Dengan memahami (bersahabat) kebiasaan dan perilaku nyamuk itu sendiri. Misalnya, bagaimana cara nyamuk bertelur, berubah dari telur ke jentik, pupa, dan menjadi dewasa. Termasuk di dalamnya, bagaimana kebiasaan nyamuk-nyamuk itu menggigit dan mengisap darah manusia.
Nyamuk ini sebagai perantara penyebaran penyakit. Misalnya, penyakit DBD disebabkan virus dengue; malaria oleh Plasmodium spp.; filariasis penyebabnya cacing filaria; dan chikungunya penyebabnya adalah virus chikungunya.

Fakta tersebut mengajarkan agar kita tidak boleh meremehkan nyamuk. Ia merupakan bahasa kehidupan. Keberadaannya akan memberi banyak arti bagi mereka yang mau belajar darinya.
Untuk itu, semakin kita bersahabat dengan nyamuk, maka paling tidak kita mampu memahami habitat dan kebiasaannya, sehingga kita dapat menghindari penyakit yang dibawanya. Seputar dunia nyamuk, inilah isi yang ditawarkan dari buku ”BERSAHABAT DENGAN NYAMUK: Jurus Jitu Atasi Penyakit Bersumber Nyamuk.”

DAFTAR ISI

PENGANTAR – 2

DAFTAR ISI - 5

PROLOG:
Bersahabat Dengan Nyamuk - 7

BAB I MEKANISME PENULARAN PENYAKIT
1.Ada Apa dengan Vektor Penyakit? -11
2.Segitiga Penyakit Tular Vektor - 16
3.Mengintip Nyamuk Pengisap Darah - 18
4.Ada Apa dengan Virus? - 21
5.Ekologi Penularan Penyakit Akibat Virus - 23
6.Merancang Anti Virus Yang Efektif - 27
7.Surveilans Vektor, Agent Penyelamat - 30

BAB II DEMAM BERDARAH
1.Demam Berdarah - 35
2.Kenali Demam Berdarah Dengan Benar - 38
3.Pengendalian Nyamuk Demam Berdarah - 43
4.Ekstra Kulit Jengkol Atasi Jentik DBD – 47
5.DBD dan Pemberdayaan Masyarakat – 56
6.Manajemen Lingkungan Dalam Penanggulangan DBD - 58
7.Tanaman Sebagai Pengusir Nyamuk - 63

BAB III PENYAKIT MALARIA
1.Sekilas Penyakit Malaria - 69
2.Plasmodium Sebagai Penyakit Malaria - 71
3.Perkembangan Parasit Malaria di Nyamuk & Manusia - 77
4.Pengendalian Penyakit Malaria - 80

BAB IV PENYAKIT KAKI GAJAH
1.Kaki Gajah Penyakit Menahun Yang ”Bikin” Ampun - 83
2.Tumbuhan Air Sebagai Inang Vektor Filariasis - 86

BAB V PENYAKIT CHIKUNGUNYA
1.Chikungunya Mirip Virus Influensa - 89
2.Pencegahan dan Pengobatan Penyakit Chikungunya - 94

BAB VI ATASI PENYAKIT BERSUMBER NYAMUK
1.Racun Bakteris Tembakau Sebagai Pembunuh Serangga -101
2.Atasi Nyamuk Dengan Budidaya Ikan - 103
3.Jurus Jitu Agar Nyamuk Tidak ”Bertamu” - 107
4.”Putus Dengan Nyamuk”, Bisakah? - 111
5.Strategi Penanggulangan Penyakit Bersumber Binatang - 117
6.Desa Siaga Bikin Masyarakat Bahagia - 120

EPILOG:
Nyamuk, Lingkungan dan Perilaku Kita - 124

DAFTAR INSPIRASI

TENTANG PENULIS

Salam Inspirasi Sehat

Arda Dinata
www.ardadinata.web.id
www.miqraindonesia.com

Bagaimana menurut Anda?

Arda Dinata, pendiri Majelis Inspirasi Alquran dan Realitas Alam/ MIQRA Indonesia, www.miqraindonesia.com 
BERSAHABAT DENGAN NYAMUK:
Jurus Jitu Atasi Penyakit Bersumber Nyamuk


Oleh: Arda Dinata

Diterbitkan oleh
Penerbit Loka Litbang P2B2 Ciamis
Balitbangkes Kementerian Kesehatan RI
Jl. Raya Pangandaran Km. 3 Pangandaran
Kabupaten Ciamis 46396

Sinopsis:

RAHASIA apa di balik penciptaan seekor nyamuk? Secara biologi, nyamuk itu tergolong serangga yang memiliki sifat spesifik dan adaktif tinggal bersama manusia. Nyamuk ini menjadi sorotan manusia, manakala ia telah membikin ulah. Sekali berulah, misalnya menyebarnya kasus demam berdarah dengue (DBD), malaria, filariasis dan chikungunya di suatu daerah, maka semua orang dibuat takut dan gelisah.
Ibarat seorang sahabat, nyamuk hidup begitu dekat dan berdampingan dengan manusia. Mereka siap kapan saja berkunjung dan bertamu ke rumah manusia. Bedanya dengan manusia, bila sahabat kita yang berkunjung biasanya membawa makanan, nyamuk bila bertamu justru akan mengganggu kita melalui bunyi kepakan sayapnya dan gigitan saat mengisap darah.

Atas dasar itulah, sesungguhnya kita dapat mencegah kehadiran nyamuk. Caranya? Dengan memahami (bersahabat) kebiasaan dan perilaku nyamuk itu sendiri. Misalnya, bagaimana cara nyamuk bertelur, berubah dari telur ke jentik, pupa, dan menjadi dewasa. Termasuk di dalamnya, bagaimana kebiasaan nyamuk-nyamuk itu menggigit dan mengisap darah manusia.
Nyamuk ini sebagai perantara penyebaran penyakit. Misalnya, penyakit DBD disebabkan virus dengue; malaria oleh Plasmodium spp.; filariasis penyebabnya cacing filaria; dan chikungunya penyebabnya adalah virus chikungunya.

Fakta tersebut mengajarkan agar kita tidak boleh meremehkan nyamuk. Ia merupakan bahasa kehidupan. Keberadaannya akan memberi banyak arti bagi mereka yang mau belajar darinya.
Untuk itu, semakin kita bersahabat dengan nyamuk, maka paling tidak kita mampu memahami habitat dan kebiasaannya, sehingga kita dapat menghindari penyakit yang dibawanya. Seputar dunia nyamuk, inilah isi yang ditawarkan dari buku ”BERSAHABAT DENGAN NYAMUK: Jurus Jitu Atasi Penyakit Bersumber Nyamuk.”

DAFTAR ISI

PENGANTAR – 2

DAFTAR ISI - 5

PROLOG:
Bersahabat Dengan Nyamuk - 7

BAB I MEKANISME PENULARAN PENYAKIT
1.Ada Apa dengan Vektor Penyakit? -11
2.Segitiga Penyakit Tular Vektor - 16
3.Mengintip Nyamuk Pengisap Darah - 18
4.Ada Apa dengan Virus? - 21
5.Ekologi Penularan Penyakit Akibat Virus - 23
6.Merancang Anti Virus Yang Efektif - 27
7.Surveilans Vektor, Agent Penyelamat - 30

BAB II DEMAM BERDARAH
1.Demam Berdarah - 35
2.Kenali Demam Berdarah Dengan Benar - 38
3.Pengendalian Nyamuk Demam Berdarah - 43
4.Ekstra Kulit Jengkol Atasi Jentik DBD – 47
5.DBD dan Pemberdayaan Masyarakat – 56
6.Manajemen Lingkungan Dalam Penanggulangan DBD - 58
7.Tanaman Sebagai Pengusir Nyamuk - 63

BAB III PENYAKIT MALARIA
1.Sekilas Penyakit Malaria - 69
2.Plasmodium Sebagai Penyakit Malaria - 71
3.Perkembangan Parasit Malaria di Nyamuk & Manusia - 77
4.Pengendalian Penyakit Malaria - 80

BAB IV PENYAKIT KAKI GAJAH
1.Kaki Gajah Penyakit Menahun Yang ”Bikin” Ampun - 83
2.Tumbuhan Air Sebagai Inang Vektor Filariasis - 86

BAB V PENYAKIT CHIKUNGUNYA
1.Chikungunya Mirip Virus Influensa - 89
2.Pencegahan dan Pengobatan Penyakit Chikungunya - 94

BAB VI ATASI PENYAKIT BERSUMBER NYAMUK
1.Racun Bakteris Tembakau Sebagai Pembunuh Serangga -101
2.Atasi Nyamuk Dengan Budidaya Ikan - 103
3.Jurus Jitu Agar Nyamuk Tidak ”Bertamu” - 107
4.”Putus Dengan Nyamuk”, Bisakah? - 111
5.Strategi Penanggulangan Penyakit Bersumber Binatang - 117
6.Desa Siaga Bikin Masyarakat Bahagia - 120

EPILOG:
Nyamuk, Lingkungan dan Perilaku Kita - 124

DAFTAR INSPIRASI

TENTANG PENULIS

Salam Inspirasi Sehat

Arda Dinata
www.ardadinata.web.id
www.miqraindonesia.com

Bagaimana menurut Anda?

Arda Dinata, pendiri Majelis Inspirasi Alquran dan Realitas Alam/ MIQRA Indonesia, www.miqraindonesia.com 
BERSAHABAT DENGAN NYAMUK:
Jurus Jitu Atasi Penyakit Bersumber Nyamuk


Oleh: Arda Dinata

Diterbitkan oleh
Penerbit Loka Litbang P2B2 Ciamis
Balitbangkes Kementerian Kesehatan RI
Jl. Raya Pangandaran Km. 3 Pangandaran
Kabupaten Ciamis 46396

Sinopsis:

RAHASIA apa di balik penciptaan seekor nyamuk? Secara biologi, nyamuk itu tergolong serangga yang memiliki sifat spesifik dan adaktif tinggal bersama manusia. Nyamuk ini menjadi sorotan manusia, manakala ia telah membikin ulah. Sekali berulah, misalnya menyebarnya kasus demam berdarah dengue (DBD), malaria, filariasis dan chikungunya di suatu daerah, maka semua orang dibuat takut dan gelisah.
Ibarat seorang sahabat, nyamuk hidup begitu dekat dan berdampingan dengan manusia. Mereka siap kapan saja berkunjung dan bertamu ke rumah manusia. Bedanya dengan manusia, bila sahabat kita yang berkunjung biasanya membawa makanan, nyamuk bila bertamu justru akan mengganggu kita melalui bunyi kepakan sayapnya dan gigitan saat mengisap darah.

Atas dasar itulah, sesungguhnya kita dapat mencegah kehadiran nyamuk. Caranya? Dengan memahami (bersahabat) kebiasaan dan perilaku nyamuk itu sendiri. Misalnya, bagaimana cara nyamuk bertelur, berubah dari telur ke jentik, pupa, dan menjadi dewasa. Termasuk di dalamnya, bagaimana kebiasaan nyamuk-nyamuk itu menggigit dan mengisap darah manusia.
Nyamuk ini sebagai perantara penyebaran penyakit. Misalnya, penyakit DBD disebabkan virus dengue; malaria oleh Plasmodium spp.; filariasis penyebabnya cacing filaria; dan chikungunya penyebabnya adalah virus chikungunya.

Fakta tersebut mengajarkan agar kita tidak boleh meremehkan nyamuk. Ia merupakan bahasa kehidupan. Keberadaannya akan memberi banyak arti bagi mereka yang mau belajar darinya.
Untuk itu, semakin kita bersahabat dengan nyamuk, maka paling tidak kita mampu memahami habitat dan kebiasaannya, sehingga kita dapat menghindari penyakit yang dibawanya. Seputar dunia nyamuk, inilah isi yang ditawarkan dari buku ”BERSAHABAT DENGAN NYAMUK: Jurus Jitu Atasi Penyakit Bersumber Nyamuk.”

DAFTAR ISI

PENGANTAR – 2

DAFTAR ISI - 5

PROLOG:
Bersahabat Dengan Nyamuk - 7

BAB I MEKANISME PENULARAN PENYAKIT
1.Ada Apa dengan Vektor Penyakit? -11
2.Segitiga Penyakit Tular Vektor - 16
3.Mengintip Nyamuk Pengisap Darah - 18
4.Ada Apa dengan Virus? - 21
5.Ekologi Penularan Penyakit Akibat Virus - 23
6.Merancang Anti Virus Yang Efektif - 27
7.Surveilans Vektor, Agent Penyelamat - 30

BAB II DEMAM BERDARAH
1.Demam Berdarah - 35
2.Kenali Demam Berdarah Dengan Benar - 38
3.Pengendalian Nyamuk Demam Berdarah - 43
4.Ekstra Kulit Jengkol Atasi Jentik DBD – 47
5.DBD dan Pemberdayaan Masyarakat – 56
6.Manajemen Lingkungan Dalam Penanggulangan DBD - 58
7.Tanaman Sebagai Pengusir Nyamuk - 63

BAB III PENYAKIT MALARIA
1.Sekilas Penyakit Malaria - 69
2.Plasmodium Sebagai Penyakit Malaria - 71
3.Perkembangan Parasit Malaria di Nyamuk & Manusia - 77
4.Pengendalian Penyakit Malaria - 80

BAB IV PENYAKIT KAKI GAJAH
1.Kaki Gajah Penyakit Menahun Yang ”Bikin” Ampun - 83
2.Tumbuhan Air Sebagai Inang Vektor Filariasis - 86

BAB V PENYAKIT CHIKUNGUNYA
1.Chikungunya Mirip Virus Influensa - 89
2.Pencegahan dan Pengobatan Penyakit Chikungunya - 94

BAB VI ATASI PENYAKIT BERSUMBER NYAMUK
1.Racun Bakteris Tembakau Sebagai Pembunuh Serangga -101
2.Atasi Nyamuk Dengan Budidaya Ikan - 103
3.Jurus Jitu Agar Nyamuk Tidak ”Bertamu” - 107
4.”Putus Dengan Nyamuk”, Bisakah? - 111
5.Strategi Penanggulangan Penyakit Bersumber Binatang - 117
6.Desa Siaga Bikin Masyarakat Bahagia - 120

EPILOG:
Nyamuk, Lingkungan dan Perilaku Kita - 124

DAFTAR INSPIRASI

TENTANG PENULIS

Salam Inspirasi Sehat

Arda Dinata
www.ardadinata.web.id
www.miqraindonesia.com

Bagaimana menurut Anda?

Arda Dinata, pendiri Majelis Inspirasi Alquran dan Realitas Alam/ MIQRA Indonesia, www.miqraindonesia.com 
BERSAHABAT DENGAN NYAMUK:
Jurus Jitu Atasi Penyakit Bersumber Nyamuk


Oleh: Arda Dinata

Diterbitkan oleh
Penerbit Loka Litbang P2B2 Ciamis
Balitbangkes Kementerian Kesehatan RI
Jl. Raya Pangandaran Km. 3 Pangandaran
Kabupaten Ciamis 46396

Sinopsis:

RAHASIA apa di balik penciptaan seekor nyamuk? Secara biologi, nyamuk itu tergolong serangga yang memiliki sifat spesifik dan adaktif tinggal bersama manusia. Nyamuk ini menjadi sorotan manusia, manakala ia telah membikin ulah. Sekali berulah, misalnya menyebarnya kasus demam berdarah dengue (DBD), malaria, filariasis dan chikungunya di suatu daerah, maka semua orang dibuat takut dan gelisah.
Ibarat seorang sahabat, nyamuk hidup begitu dekat dan berdampingan dengan manusia. Mereka siap kapan saja berkunjung dan bertamu ke rumah manusia. Bedanya dengan manusia, bila sahabat kita yang berkunjung biasanya membawa makanan, nyamuk bila bertamu justru akan mengganggu kita melalui bunyi kepakan sayapnya dan gigitan saat mengisap darah.

Atas dasar itulah, sesungguhnya kita dapat mencegah kehadiran nyamuk. Caranya? Dengan memahami (bersahabat) kebiasaan dan perilaku nyamuk itu sendiri. Misalnya, bagaimana cara nyamuk bertelur, berubah dari telur ke jentik, pupa, dan menjadi dewasa. Termasuk di dalamnya, bagaimana kebiasaan nyamuk-nyamuk itu menggigit dan mengisap darah manusia.
Nyamuk ini sebagai perantara penyebaran penyakit. Misalnya, penyakit DBD disebabkan virus dengue; malaria oleh Plasmodium spp.; filariasis penyebabnya cacing filaria; dan chikungunya penyebabnya adalah virus chikungunya.

Fakta tersebut mengajarkan agar kita tidak boleh meremehkan nyamuk. Ia merupakan bahasa kehidupan. Keberadaannya akan memberi banyak arti bagi mereka yang mau belajar darinya.
Untuk itu, semakin kita bersahabat dengan nyamuk, maka paling tidak kita mampu memahami habitat dan kebiasaannya, sehingga kita dapat menghindari penyakit yang dibawanya. Seputar dunia nyamuk, inilah isi yang ditawarkan dari buku ”BERSAHABAT DENGAN NYAMUK: Jurus Jitu Atasi Penyakit Bersumber Nyamuk.”

DAFTAR ISI

PENGANTAR – 2

DAFTAR ISI - 5

PROLOG:
Bersahabat Dengan Nyamuk - 7

BAB I MEKANISME PENULARAN PENYAKIT
1.Ada Apa dengan Vektor Penyakit? -11
2.Segitiga Penyakit Tular Vektor - 16
3.Mengintip Nyamuk Pengisap Darah - 18
4.Ada Apa dengan Virus? - 21
5.Ekologi Penularan Penyakit Akibat Virus - 23
6.Merancang Anti Virus Yang Efektif - 27
7.Surveilans Vektor, Agent Penyelamat - 30

BAB II DEMAM BERDARAH
1.Demam Berdarah - 35
2.Kenali Demam Berdarah Dengan Benar - 38
3.Pengendalian Nyamuk Demam Berdarah - 43
4.Ekstra Kulit Jengkol Atasi Jentik DBD – 47
5.DBD dan Pemberdayaan Masyarakat – 56
6.Manajemen Lingkungan Dalam Penanggulangan DBD - 58
7.Tanaman Sebagai Pengusir Nyamuk - 63

BAB III PENYAKIT MALARIA
1.Sekilas Penyakit Malaria - 69
2.Plasmodium Sebagai Penyakit Malaria - 71
3.Perkembangan Parasit Malaria di Nyamuk & Manusia - 77
4.Pengendalian Penyakit Malaria - 80

BAB IV PENYAKIT KAKI GAJAH
1.Kaki Gajah Penyakit Menahun Yang ”Bikin” Ampun - 83
2.Tumbuhan Air Sebagai Inang Vektor Filariasis - 86

BAB V PENYAKIT CHIKUNGUNYA
1.Chikungunya Mirip Virus Influensa - 89
2.Pencegahan dan Pengobatan Penyakit Chikungunya - 94

BAB VI ATASI PENYAKIT BERSUMBER NYAMUK
1.Racun Bakteris Tembakau Sebagai Pembunuh Serangga -101
2.Atasi Nyamuk Dengan Budidaya Ikan - 103
3.Jurus Jitu Agar Nyamuk Tidak ”Bertamu” - 107
4.”Putus Dengan Nyamuk”, Bisakah? - 111
5.Strategi Penanggulangan Penyakit Bersumber Binatang - 117
6.Desa Siaga Bikin Masyarakat Bahagia - 120

EPILOG:
Nyamuk, Lingkungan dan Perilaku Kita - 124

DAFTAR INSPIRASI

TENTANG PENULIS

Salam Inspirasi Sehat

Arda Dinata
www.ardadinata.web.id
www.miqraindonesia.com

Bagaimana menurut Anda?

Arda Dinata, pendiri Majelis Inspirasi Alquran dan Realitas Alam/ MIQRA Indonesia, www.miqraindonesia.com 
BERSAHABAT DENGAN NYAMUK:
Jurus Jitu Atasi Penyakit Bersumber Nyamuk


Oleh: Arda Dinata

Diterbitkan oleh
Penerbit Loka Litbang P2B2 Ciamis
Balitbangkes Kementerian Kesehatan RI
Jl. Raya Pangandaran Km. 3 Pangandaran
Kabupaten Ciamis 46396

Sinopsis:

RAHASIA apa di balik penciptaan seekor nyamuk? Secara biologi, nyamuk itu tergolong serangga yang memiliki sifat spesifik dan adaktif tinggal bersama manusia. Nyamuk ini menjadi sorotan manusia, manakala ia telah membikin ulah. Sekali berulah, misalnya menyebarnya kasus demam berdarah dengue (DBD), malaria, filariasis dan chikungunya di suatu daerah, maka semua orang dibuat takut dan gelisah.
Ibarat seorang sahabat, nyamuk hidup begitu dekat dan berdampingan dengan manusia. Mereka siap kapan saja berkunjung dan bertamu ke rumah manusia. Bedanya dengan manusia, bila sahabat kita yang berkunjung biasanya membawa makanan, nyamuk bila bertamu justru akan mengganggu kita melalui bunyi kepakan sayapnya dan gigitan saat mengisap darah.

Atas dasar itulah, sesungguhnya kita dapat mencegah kehadiran nyamuk. Caranya? Dengan memahami (bersahabat) kebiasaan dan perilaku nyamuk itu sendiri. Misalnya, bagaimana cara nyamuk bertelur, berubah dari telur ke jentik, pupa, dan menjadi dewasa. Termasuk di dalamnya, bagaimana kebiasaan nyamuk-nyamuk itu menggigit dan mengisap darah manusia.
Nyamuk ini sebagai perantara penyebaran penyakit. Misalnya, penyakit DBD disebabkan virus dengue; malaria oleh Plasmodium spp.; filariasis penyebabnya cacing filaria; dan chikungunya penyebabnya adalah virus chikungunya.

Fakta tersebut mengajarkan agar kita tidak boleh meremehkan nyamuk. Ia merupakan bahasa kehidupan. Keberadaannya akan memberi banyak arti bagi mereka yang mau belajar darinya.
Untuk itu, semakin kita bersahabat dengan nyamuk, maka paling tidak kita mampu memahami habitat dan kebiasaannya, sehingga kita dapat menghindari penyakit yang dibawanya. Seputar dunia nyamuk, inilah isi yang ditawarkan dari buku ”BERSAHABAT DENGAN NYAMUK: Jurus Jitu Atasi Penyakit Bersumber Nyamuk.”

DAFTAR ISI

PENGANTAR – 2

DAFTAR ISI - 5

PROLOG:
Bersahabat Dengan Nyamuk - 7

BAB I MEKANISME PENULARAN PENYAKIT
1.Ada Apa dengan Vektor Penyakit? -11
2.Segitiga Penyakit Tular Vektor - 16
3.Mengintip Nyamuk Pengisap Darah - 18
4.Ada Apa dengan Virus? - 21
5.Ekologi Penularan Penyakit Akibat Virus - 23
6.Merancang Anti Virus Yang Efektif - 27
7.Surveilans Vektor, Agent Penyelamat - 30

BAB II DEMAM BERDARAH
1.Demam Berdarah - 35
2.Kenali Demam Berdarah Dengan Benar - 38
3.Pengendalian Nyamuk Demam Berdarah - 43
4.Ekstra Kulit Jengkol Atasi Jentik DBD – 47
5.DBD dan Pemberdayaan Masyarakat – 56
6.Manajemen Lingkungan Dalam Penanggulangan DBD - 58
7.Tanaman Sebagai Pengusir Nyamuk - 63

BAB III PENYAKIT MALARIA
1.Sekilas Penyakit Malaria - 69
2.Plasmodium Sebagai Penyakit Malaria - 71
3.Perkembangan Parasit Malaria di Nyamuk & Manusia - 77
4.Pengendalian Penyakit Malaria - 80

BAB IV PENYAKIT KAKI GAJAH
1.Kaki Gajah Penyakit Menahun Yang ”Bikin” Ampun - 83
2.Tumbuhan Air Sebagai Inang Vektor Filariasis - 86

BAB V PENYAKIT CHIKUNGUNYA
1.Chikungunya Mirip Virus Influensa - 89
2.Pencegahan dan Pengobatan Penyakit Chikungunya - 94

BAB VI ATASI PENYAKIT BERSUMBER NYAMUK
1.Racun Bakteris Tembakau Sebagai Pembunuh Serangga -101
2.Atasi Nyamuk Dengan Budidaya Ikan - 103
3.Jurus Jitu Agar Nyamuk Tidak ”Bertamu” - 107
4.”Putus Dengan Nyamuk”, Bisakah? - 111
5.Strategi Penanggulangan Penyakit Bersumber Binatang - 117
6.Desa Siaga Bikin Masyarakat Bahagia - 120

EPILOG:
Nyamuk, Lingkungan dan Perilaku Kita - 124

DAFTAR INSPIRASI

TENTANG PENULIS

Salam Inspirasi Sehat

Arda Dinata
www.ardadinata.web.id
www.miqraindonesia.com

Bagaimana menurut Anda?

Arda Dinata, pendiri Majelis Inspirasi Alquran dan Realitas Alam/ MIQRA Indonesia, www.miqraindonesia.com 
BERSAHABAT DENGAN NYAMUK:
Jurus Jitu Atasi Penyakit Bersumber Nyamuk


Oleh: Arda Dinata

Diterbitkan oleh
Penerbit Loka Litbang P2B2 Ciamis
Balitbangkes Kementerian Kesehatan RI
Jl. Raya Pangandaran Km. 3 Pangandaran
Kabupaten Ciamis 46396

Sinopsis:

RAHASIA apa di balik penciptaan seekor nyamuk? Secara biologi, nyamuk itu tergolong serangga yang memiliki sifat spesifik dan adaktif tinggal bersama manusia. Nyamuk ini menjadi sorotan manusia, manakala ia telah membikin ulah. Sekali berulah, misalnya menyebarnya kasus demam berdarah dengue (DBD), malaria, filariasis dan chikungunya di suatu daerah, maka semua orang dibuat takut dan gelisah.
Ibarat seorang sahabat, nyamuk hidup begitu dekat dan berdampingan dengan manusia. Mereka siap kapan saja berkunjung dan bertamu ke rumah manusia. Bedanya dengan manusia, bila sahabat kita yang berkunjung biasanya membawa makanan, nyamuk bila bertamu justru akan mengganggu kita melalui bunyi kepakan sayapnya dan gigitan saat mengisap darah.

Atas dasar itulah, sesungguhnya kita dapat mencegah kehadiran nyamuk. Caranya? Dengan memahami (bersahabat) kebiasaan dan perilaku nyamuk itu sendiri. Misalnya, bagaimana cara nyamuk bertelur, berubah dari telur ke jentik, pupa, dan menjadi dewasa. Termasuk di dalamnya, bagaimana kebiasaan nyamuk-nyamuk itu menggigit dan mengisap darah manusia.
Nyamuk ini sebagai perantara penyebaran penyakit. Misalnya, penyakit DBD disebabkan virus dengue; malaria oleh Plasmodium spp.; filariasis penyebabnya cacing filaria; dan chikungunya penyebabnya adalah virus chikungunya.

Fakta tersebut mengajarkan agar kita tidak boleh meremehkan nyamuk. Ia merupakan bahasa kehidupan. Keberadaannya akan memberi banyak arti bagi mereka yang mau belajar darinya.
Untuk itu, semakin kita bersahabat dengan nyamuk, maka paling tidak kita mampu memahami habitat dan kebiasaannya, sehingga kita dapat menghindari penyakit yang dibawanya. Seputar dunia nyamuk, inilah isi yang ditawarkan dari buku ”BERSAHABAT DENGAN NYAMUK: Jurus Jitu Atasi Penyakit Bersumber Nyamuk.”

DAFTAR ISI

PENGANTAR – 2

DAFTAR ISI - 5

PROLOG:
Bersahabat Dengan Nyamuk - 7

BAB I MEKANISME PENULARAN PENYAKIT
1.Ada Apa dengan Vektor Penyakit? -11
2.Segitiga Penyakit Tular Vektor - 16
3.Mengintip Nyamuk Pengisap Darah - 18
4.Ada Apa dengan Virus? - 21
5.Ekologi Penularan Penyakit Akibat Virus - 23
6.Merancang Anti Virus Yang Efektif - 27
7.Surveilans Vektor, Agent Penyelamat - 30

BAB II DEMAM BERDARAH
1.Demam Berdarah - 35
2.Kenali Demam Berdarah Dengan Benar - 38
3.Pengendalian Nyamuk Demam Berdarah - 43
4.Ekstra Kulit Jengkol Atasi Jentik DBD – 47
5.DBD dan Pemberdayaan Masyarakat – 56
6.Manajemen Lingkungan Dalam Penanggulangan DBD - 58
7.Tanaman Sebagai Pengusir Nyamuk - 63

BAB III PENYAKIT MALARIA
1.Sekilas Penyakit Malaria - 69
2.Plasmodium Sebagai Penyakit Malaria - 71
3.Perkembangan Parasit Malaria di Nyamuk & Manusia - 77
4.Pengendalian Penyakit Malaria - 80

BAB IV PENYAKIT KAKI GAJAH
1.Kaki Gajah Penyakit Menahun Yang ”Bikin” Ampun - 83
2.Tumbuhan Air Sebagai Inang Vektor Filariasis - 86

BAB V PENYAKIT CHIKUNGUNYA
1.Chikungunya Mirip Virus Influensa - 89
2.Pencegahan dan Pengobatan Penyakit Chikungunya - 94

BAB VI ATASI PENYAKIT BERSUMBER NYAMUK
1.Racun Bakteris Tembakau Sebagai Pembunuh Serangga -101
2.Atasi Nyamuk Dengan Budidaya Ikan - 103
3.Jurus Jitu Agar Nyamuk Tidak ”Bertamu” - 107
4.”Putus Dengan Nyamuk”, Bisakah? - 111
5.Strategi Penanggulangan Penyakit Bersumber Binatang - 117
6.Desa Siaga Bikin Masyarakat Bahagia - 120

EPILOG:
Nyamuk, Lingkungan dan Perilaku Kita - 124

DAFTAR INSPIRASI

TENTANG PENULIS

Salam Inspirasi Sehat

Arda Dinata
www.ardadinata.web.id
www.miqraindonesia.com

Bagaimana menurut Anda?

Arda Dinata, pendiri Majelis Inspirasi Alquran dan Realitas Alam/ MIQRA Indonesia, www.miqraindonesia.com 
Berani dalam perkawinan
Lihat Detail

Berani dalam perkawinan

Untuk mencapai perkawinan yang baik dan mulia, maka tiap pasangan harus memiliki rasa berani bahwa diri kita dan pasangan mampu menciptakan dan mewujudkan sebuah perkawinan yang baik. Jadi, intinya tiap pasangan haruslah siap secara lahir dan batin. Adanya rasa berani ini, tentu mengandung konsekuensi tiap pasangan harus mempersiapkan keilmuan tentang mengisi perkawinan ini secara benar. Misalnya tentang ilmu cara membahagiakan pasangan; mengetahui hak dan kewajiaban pasangan; membangun keluarga dengan sukses lahir maupun batin; dan lainnya.

Bagaimana menurut Anda?

Salam Inspirasi..

Arda Dinata
www.ardadinata.web.id
Arda Dinata, pendiri Majelis Inspirasi Alquran dan Realitas Alam/ MIQRA Indonesia, www.miqraindonesia.com 
Untuk mencapai perkawinan yang baik dan mulia, maka tiap pasangan harus memiliki rasa berani bahwa diri kita dan pasangan mampu menciptakan dan mewujudkan sebuah perkawinan yang baik. Jadi, intinya tiap pasangan haruslah siap secara lahir dan batin. Adanya rasa berani ini, tentu mengandung konsekuensi tiap pasangan harus mempersiapkan keilmuan tentang mengisi perkawinan ini secara benar. Misalnya tentang ilmu cara membahagiakan pasangan; mengetahui hak dan kewajiaban pasangan; membangun keluarga dengan sukses lahir maupun batin; dan lainnya.

Bagaimana menurut Anda?

Salam Inspirasi..

Arda Dinata
www.ardadinata.web.id
Arda Dinata, pendiri Majelis Inspirasi Alquran dan Realitas Alam/ MIQRA Indonesia, www.miqraindonesia.com 
Untuk mencapai perkawinan yang baik dan mulia, maka tiap pasangan harus memiliki rasa berani bahwa diri kita dan pasangan mampu menciptakan dan mewujudkan sebuah perkawinan yang baik. Jadi, intinya tiap pasangan haruslah siap secara lahir dan batin. Adanya rasa berani ini, tentu mengandung konsekuensi tiap pasangan harus mempersiapkan keilmuan tentang mengisi perkawinan ini secara benar. Misalnya tentang ilmu cara membahagiakan pasangan; mengetahui hak dan kewajiaban pasangan; membangun keluarga dengan sukses lahir maupun batin; dan lainnya.

Bagaimana menurut Anda?

Salam Inspirasi..

Arda Dinata
www.ardadinata.web.id
Arda Dinata, pendiri Majelis Inspirasi Alquran dan Realitas Alam/ MIQRA Indonesia, www.miqraindonesia.com 
Untuk mencapai perkawinan yang baik dan mulia, maka tiap pasangan harus memiliki rasa berani bahwa diri kita dan pasangan mampu menciptakan dan mewujudkan sebuah perkawinan yang baik. Jadi, intinya tiap pasangan haruslah siap secara lahir dan batin. Adanya rasa berani ini, tentu mengandung konsekuensi tiap pasangan harus mempersiapkan keilmuan tentang mengisi perkawinan ini secara benar. Misalnya tentang ilmu cara membahagiakan pasangan; mengetahui hak dan kewajiaban pasangan; membangun keluarga dengan sukses lahir maupun batin; dan lainnya.

Bagaimana menurut Anda?

Salam Inspirasi..

Arda Dinata
www.ardadinata.web.id
Arda Dinata, pendiri Majelis Inspirasi Alquran dan Realitas Alam/ MIQRA Indonesia, www.miqraindonesia.com 
Untuk mencapai perkawinan yang baik dan mulia, maka tiap pasangan harus memiliki rasa berani bahwa diri kita dan pasangan mampu menciptakan dan mewujudkan sebuah perkawinan yang baik. Jadi, intinya tiap pasangan haruslah siap secara lahir dan batin. Adanya rasa berani ini, tentu mengandung konsekuensi tiap pasangan harus mempersiapkan keilmuan tentang mengisi perkawinan ini secara benar. Misalnya tentang ilmu cara membahagiakan pasangan; mengetahui hak dan kewajiaban pasangan; membangun keluarga dengan sukses lahir maupun batin; dan lainnya.

Bagaimana menurut Anda?

Salam Inspirasi..

Arda Dinata
www.ardadinata.web.id
Arda Dinata, pendiri Majelis Inspirasi Alquran dan Realitas Alam/ MIQRA Indonesia, www.miqraindonesia.com 
Untuk mencapai perkawinan yang baik dan mulia, maka tiap pasangan harus memiliki rasa berani bahwa diri kita dan pasangan mampu menciptakan dan mewujudkan sebuah perkawinan yang baik. Jadi, intinya tiap pasangan haruslah siap secara lahir dan batin. Adanya rasa berani ini, tentu mengandung konsekuensi tiap pasangan harus mempersiapkan keilmuan tentang mengisi perkawinan ini secara benar. Misalnya tentang ilmu cara membahagiakan pasangan; mengetahui hak dan kewajiaban pasangan; membangun keluarga dengan sukses lahir maupun batin; dan lainnya.

Bagaimana menurut Anda?

Salam Inspirasi..

Arda Dinata
www.ardadinata.web.id
Arda Dinata, pendiri Majelis Inspirasi Alquran dan Realitas Alam/ MIQRA Indonesia, www.miqraindonesia.com 
Menulis dengan Cinta
Lihat Detail

Menulis dengan Cinta


Menulis dengan Cinta
by. Arda Dinata

Menulis untuk selalu berbagi inspirasi.
Menulis untuk selalu memberi, memberi dan memberi.
Menulis untuk membuat pembacanya percaya diri.

Menyenangkan bagi yang membacanya.
Menggairahkan bagi yang menulisnya.
Membanggakan bagi anak cucunya.

Tulisannya memberi manfaat, tidak sesaat.
Tulisannya bisa jadi amal baik untuk bekal ke akhirat.
Tulisannya membuat hati tidak berkarat.

Penulisnya semoga hidupnya tidak melarat.
Penulisnya selalu ingin membagi hal-hal yang bermanfaat.
Penulisnya selalu mendapatkan temen-temen yang hebat.



Yang pada ujungnya....
     Penulisnya dihadiahi doa-doa.
     Penulisnya selalu dinanti akan tulisan bernas berikutnya.
     Penulisnya tersenyum untuk selalu berusaha menyapa pembacanya.

Menulis dengan cinta:
     Menulis membuat mata hati terbuka.
     Menulis bikin hati nurani berkaca.
     Menulis agar hidup lebih bijaksana.

Semoga....
    Menulis dengan cinta, selalu dapat dibaca.
    Menulis dengan cinta, selalu menyapa.
    Menulis dengan cinta, bikin hati bahagia.
    Menulis dengan cinta, bikin dunia tertata.

Amin....

Semarang, 25 April 2011 Pukul 06:02

ARDA DINATA

Penulis adalah Pendiri Majelis Inspirasi Alquran dan Realitas Alam (MIQRA) Indonesia,

MIQRA INDONESIA, sebuah komunitas yang berusaha selalu belajar mengembangkan diri melalui INSPIRASI KECERDASAN HATI. Tulisan-tulisan di blog ini merupakan catatan tentang berbagai inspirasi yang telah dikembangkan menjadi tulisan sederhana dengan berusaha memasukan hikmah di dalamnya. Sahabat MIQRA silahkan memberi komentar dan masukan atas apapun tentang isi tulisan di blog ini. Saya tunggu komentarnya sekarang juga ya...!!! Salam inspirasi dan sukses selalu buat Anda.

Bagaimana menurut Anda?  Arda Dinata, pendiri Majelis Inspirasi Alquran dan Realitas Alam/ MIQRA Indonesia, www.miqraindonesia.com 

Menulis dengan Cinta
by. Arda Dinata

Menulis untuk selalu berbagi inspirasi.
Menulis untuk selalu memberi, memberi dan memberi.
Menulis untuk membuat pembacanya percaya diri.

Menyenangkan bagi yang membacanya.
Menggairahkan bagi yang menulisnya.
Membanggakan bagi anak cucunya.

Tulisannya memberi manfaat, tidak sesaat.
Tulisannya bisa jadi amal baik untuk bekal ke akhirat.
Tulisannya membuat hati tidak berkarat.

Penulisnya semoga hidupnya tidak melarat.
Penulisnya selalu ingin membagi hal-hal yang bermanfaat.
Penulisnya selalu mendapatkan temen-temen yang hebat.



Yang pada ujungnya....
     Penulisnya dihadiahi doa-doa.
     Penulisnya selalu dinanti akan tulisan bernas berikutnya.
     Penulisnya tersenyum untuk selalu berusaha menyapa pembacanya.

Menulis dengan cinta:
     Menulis membuat mata hati terbuka.
     Menulis bikin hati nurani berkaca.
     Menulis agar hidup lebih bijaksana.

Semoga....
    Menulis dengan cinta, selalu dapat dibaca.
    Menulis dengan cinta, selalu menyapa.
    Menulis dengan cinta, bikin hati bahagia.
    Menulis dengan cinta, bikin dunia tertata.

Amin....

Semarang, 25 April 2011 Pukul 06:02

ARDA DINATA

Penulis adalah Pendiri Majelis Inspirasi Alquran dan Realitas Alam (MIQRA) Indonesia,

MIQRA INDONESIA, sebuah komunitas yang berusaha selalu belajar mengembangkan diri melalui INSPIRASI KECERDASAN HATI. Tulisan-tulisan di blog ini merupakan catatan tentang berbagai inspirasi yang telah dikembangkan menjadi tulisan sederhana dengan berusaha memasukan hikmah di dalamnya. Sahabat MIQRA silahkan memberi komentar dan masukan atas apapun tentang isi tulisan di blog ini. Saya tunggu komentarnya sekarang juga ya...!!! Salam inspirasi dan sukses selalu buat Anda.

Bagaimana menurut Anda?  Arda Dinata, pendiri Majelis Inspirasi Alquran dan Realitas Alam/ MIQRA Indonesia, www.miqraindonesia.com 

Menulis dengan Cinta
by. Arda Dinata

Menulis untuk selalu berbagi inspirasi.
Menulis untuk selalu memberi, memberi dan memberi.
Menulis untuk membuat pembacanya percaya diri.

Menyenangkan bagi yang membacanya.
Menggairahkan bagi yang menulisnya.
Membanggakan bagi anak cucunya.

Tulisannya memberi manfaat, tidak sesaat.
Tulisannya bisa jadi amal baik untuk bekal ke akhirat.
Tulisannya membuat hati tidak berkarat.

Penulisnya semoga hidupnya tidak melarat.
Penulisnya selalu ingin membagi hal-hal yang bermanfaat.
Penulisnya selalu mendapatkan temen-temen yang hebat.



Yang pada ujungnya....
     Penulisnya dihadiahi doa-doa.
     Penulisnya selalu dinanti akan tulisan bernas berikutnya.
     Penulisnya tersenyum untuk selalu berusaha menyapa pembacanya.

Menulis dengan cinta:
     Menulis membuat mata hati terbuka.
     Menulis bikin hati nurani berkaca.
     Menulis agar hidup lebih bijaksana.

Semoga....
    Menulis dengan cinta, selalu dapat dibaca.
    Menulis dengan cinta, selalu menyapa.
    Menulis dengan cinta, bikin hati bahagia.
    Menulis dengan cinta, bikin dunia tertata.

Amin....

Semarang, 25 April 2011 Pukul 06:02

ARDA DINATA

Penulis adalah Pendiri Majelis Inspirasi Alquran dan Realitas Alam (MIQRA) Indonesia,

MIQRA INDONESIA, sebuah komunitas yang berusaha selalu belajar mengembangkan diri melalui INSPIRASI KECERDASAN HATI. Tulisan-tulisan di blog ini merupakan catatan tentang berbagai inspirasi yang telah dikembangkan menjadi tulisan sederhana dengan berusaha memasukan hikmah di dalamnya. Sahabat MIQRA silahkan memberi komentar dan masukan atas apapun tentang isi tulisan di blog ini. Saya tunggu komentarnya sekarang juga ya...!!! Salam inspirasi dan sukses selalu buat Anda.

Bagaimana menurut Anda?  Arda Dinata, pendiri Majelis Inspirasi Alquran dan Realitas Alam/ MIQRA Indonesia, www.miqraindonesia.com 

Menulis dengan Cinta
by. Arda Dinata

Menulis untuk selalu berbagi inspirasi.
Menulis untuk selalu memberi, memberi dan memberi.
Menulis untuk membuat pembacanya percaya diri.

Menyenangkan bagi yang membacanya.
Menggairahkan bagi yang menulisnya.
Membanggakan bagi anak cucunya.

Tulisannya memberi manfaat, tidak sesaat.
Tulisannya bisa jadi amal baik untuk bekal ke akhirat.
Tulisannya membuat hati tidak berkarat.

Penulisnya semoga hidupnya tidak melarat.
Penulisnya selalu ingin membagi hal-hal yang bermanfaat.
Penulisnya selalu mendapatkan temen-temen yang hebat.



Yang pada ujungnya....
     Penulisnya dihadiahi doa-doa.
     Penulisnya selalu dinanti akan tulisan bernas berikutnya.
     Penulisnya tersenyum untuk selalu berusaha menyapa pembacanya.

Menulis dengan cinta:
     Menulis membuat mata hati terbuka.
     Menulis bikin hati nurani berkaca.
     Menulis agar hidup lebih bijaksana.

Semoga....
    Menulis dengan cinta, selalu dapat dibaca.
    Menulis dengan cinta, selalu menyapa.
    Menulis dengan cinta, bikin hati bahagia.
    Menulis dengan cinta, bikin dunia tertata.

Amin....

Semarang, 25 April 2011 Pukul 06:02

ARDA DINATA

Penulis adalah Pendiri Majelis Inspirasi Alquran dan Realitas Alam (MIQRA) Indonesia,

MIQRA INDONESIA, sebuah komunitas yang berusaha selalu belajar mengembangkan diri melalui INSPIRASI KECERDASAN HATI. Tulisan-tulisan di blog ini merupakan catatan tentang berbagai inspirasi yang telah dikembangkan menjadi tulisan sederhana dengan berusaha memasukan hikmah di dalamnya. Sahabat MIQRA silahkan memberi komentar dan masukan atas apapun tentang isi tulisan di blog ini. Saya tunggu komentarnya sekarang juga ya...!!! Salam inspirasi dan sukses selalu buat Anda.

Bagaimana menurut Anda?  Arda Dinata, pendiri Majelis Inspirasi Alquran dan Realitas Alam/ MIQRA Indonesia, www.miqraindonesia.com 

Menulis dengan Cinta
by. Arda Dinata

Menulis untuk selalu berbagi inspirasi.
Menulis untuk selalu memberi, memberi dan memberi.
Menulis untuk membuat pembacanya percaya diri.

Menyenangkan bagi yang membacanya.
Menggairahkan bagi yang menulisnya.
Membanggakan bagi anak cucunya.

Tulisannya memberi manfaat, tidak sesaat.
Tulisannya bisa jadi amal baik untuk bekal ke akhirat.
Tulisannya membuat hati tidak berkarat.

Penulisnya semoga hidupnya tidak melarat.
Penulisnya selalu ingin membagi hal-hal yang bermanfaat.
Penulisnya selalu mendapatkan temen-temen yang hebat.



Yang pada ujungnya....
     Penulisnya dihadiahi doa-doa.
     Penulisnya selalu dinanti akan tulisan bernas berikutnya.
     Penulisnya tersenyum untuk selalu berusaha menyapa pembacanya.

Menulis dengan cinta:
     Menulis membuat mata hati terbuka.
     Menulis bikin hati nurani berkaca.
     Menulis agar hidup lebih bijaksana.

Semoga....
    Menulis dengan cinta, selalu dapat dibaca.
    Menulis dengan cinta, selalu menyapa.
    Menulis dengan cinta, bikin hati bahagia.
    Menulis dengan cinta, bikin dunia tertata.

Amin....

Semarang, 25 April 2011 Pukul 06:02

ARDA DINATA

Penulis adalah Pendiri Majelis Inspirasi Alquran dan Realitas Alam (MIQRA) Indonesia,

MIQRA INDONESIA, sebuah komunitas yang berusaha selalu belajar mengembangkan diri melalui INSPIRASI KECERDASAN HATI. Tulisan-tulisan di blog ini merupakan catatan tentang berbagai inspirasi yang telah dikembangkan menjadi tulisan sederhana dengan berusaha memasukan hikmah di dalamnya. Sahabat MIQRA silahkan memberi komentar dan masukan atas apapun tentang isi tulisan di blog ini. Saya tunggu komentarnya sekarang juga ya...!!! Salam inspirasi dan sukses selalu buat Anda.

Bagaimana menurut Anda?  Arda Dinata, pendiri Majelis Inspirasi Alquran dan Realitas Alam/ MIQRA Indonesia, www.miqraindonesia.com 

Menulis dengan Cinta
by. Arda Dinata

Menulis untuk selalu berbagi inspirasi.
Menulis untuk selalu memberi, memberi dan memberi.
Menulis untuk membuat pembacanya percaya diri.

Menyenangkan bagi yang membacanya.
Menggairahkan bagi yang menulisnya.
Membanggakan bagi anak cucunya.

Tulisannya memberi manfaat, tidak sesaat.
Tulisannya bisa jadi amal baik untuk bekal ke akhirat.
Tulisannya membuat hati tidak berkarat.

Penulisnya semoga hidupnya tidak melarat.
Penulisnya selalu ingin membagi hal-hal yang bermanfaat.
Penulisnya selalu mendapatkan temen-temen yang hebat.



Yang pada ujungnya....
     Penulisnya dihadiahi doa-doa.
     Penulisnya selalu dinanti akan tulisan bernas berikutnya.
     Penulisnya tersenyum untuk selalu berusaha menyapa pembacanya.

Menulis dengan cinta:
     Menulis membuat mata hati terbuka.
     Menulis bikin hati nurani berkaca.
     Menulis agar hidup lebih bijaksana.

Semoga....
    Menulis dengan cinta, selalu dapat dibaca.
    Menulis dengan cinta, selalu menyapa.
    Menulis dengan cinta, bikin hati bahagia.
    Menulis dengan cinta, bikin dunia tertata.

Amin....

Semarang, 25 April 2011 Pukul 06:02

ARDA DINATA

Penulis adalah Pendiri Majelis Inspirasi Alquran dan Realitas Alam (MIQRA) Indonesia,

MIQRA INDONESIA, sebuah komunitas yang berusaha selalu belajar mengembangkan diri melalui INSPIRASI KECERDASAN HATI. Tulisan-tulisan di blog ini merupakan catatan tentang berbagai inspirasi yang telah dikembangkan menjadi tulisan sederhana dengan berusaha memasukan hikmah di dalamnya. Sahabat MIQRA silahkan memberi komentar dan masukan atas apapun tentang isi tulisan di blog ini. Saya tunggu komentarnya sekarang juga ya...!!! Salam inspirasi dan sukses selalu buat Anda.

Bagaimana menurut Anda?  Arda Dinata, pendiri Majelis Inspirasi Alquran dan Realitas Alam/ MIQRA Indonesia, www.miqraindonesia.com 

Menulis dengan Cinta
by. Arda Dinata

Menulis untuk selalu berbagi inspirasi.
Menulis untuk selalu memberi, memberi dan memberi.
Menulis untuk membuat pembacanya percaya diri.

Menyenangkan bagi yang membacanya.
Menggairahkan bagi yang menulisnya.
Membanggakan bagi anak cucunya.

Tulisannya memberi manfaat, tidak sesaat.
Tulisannya bisa jadi amal baik untuk bekal ke akhirat.
Tulisannya membuat hati tidak berkarat.

Penulisnya semoga hidupnya tidak melarat.
Penulisnya selalu ingin membagi hal-hal yang bermanfaat.
Penulisnya selalu mendapatkan temen-temen yang hebat.



Yang pada ujungnya....
     Penulisnya dihadiahi doa-doa.
     Penulisnya selalu dinanti akan tulisan bernas berikutnya.
     Penulisnya tersenyum untuk selalu berusaha menyapa pembacanya.

Menulis dengan cinta:
     Menulis membuat mata hati terbuka.
     Menulis bikin hati nurani berkaca.
     Menulis agar hidup lebih bijaksana.

Semoga....
    Menulis dengan cinta, selalu dapat dibaca.
    Menulis dengan cinta, selalu menyapa.
    Menulis dengan cinta, bikin hati bahagia.
    Menulis dengan cinta, bikin dunia tertata.

Amin....

Semarang, 25 April 2011 Pukul 06:02

ARDA DINATA

Penulis adalah Pendiri Majelis Inspirasi Alquran dan Realitas Alam (MIQRA) Indonesia,

MIQRA INDONESIA, sebuah komunitas yang berusaha selalu belajar mengembangkan diri melalui INSPIRASI KECERDASAN HATI. Tulisan-tulisan di blog ini merupakan catatan tentang berbagai inspirasi yang telah dikembangkan menjadi tulisan sederhana dengan berusaha memasukan hikmah di dalamnya. Sahabat MIQRA silahkan memberi komentar dan masukan atas apapun tentang isi tulisan di blog ini. Saya tunggu komentarnya sekarang juga ya...!!! Salam inspirasi dan sukses selalu buat Anda.

Bagaimana menurut Anda?  Arda Dinata, pendiri Majelis Inspirasi Alquran dan Realitas Alam/ MIQRA Indonesia, www.miqraindonesia.com 

Menulis dengan Cinta
by. Arda Dinata

Menulis untuk selalu berbagi inspirasi.
Menulis untuk selalu memberi, memberi dan memberi.
Menulis untuk membuat pembacanya percaya diri.

Menyenangkan bagi yang membacanya.
Menggairahkan bagi yang menulisnya.
Membanggakan bagi anak cucunya.

Tulisannya memberi manfaat, tidak sesaat.
Tulisannya bisa jadi amal baik untuk bekal ke akhirat.
Tulisannya membuat hati tidak berkarat.

Penulisnya semoga hidupnya tidak melarat.
Penulisnya selalu ingin membagi hal-hal yang bermanfaat.
Penulisnya selalu mendapatkan temen-temen yang hebat.



Yang pada ujungnya....
     Penulisnya dihadiahi doa-doa.
     Penulisnya selalu dinanti akan tulisan bernas berikutnya.
     Penulisnya tersenyum untuk selalu berusaha menyapa pembacanya.

Menulis dengan cinta:
     Menulis membuat mata hati terbuka.
     Menulis bikin hati nurani berkaca.
     Menulis agar hidup lebih bijaksana.

Semoga....
    Menulis dengan cinta, selalu dapat dibaca.
    Menulis dengan cinta, selalu menyapa.
    Menulis dengan cinta, bikin hati bahagia.
    Menulis dengan cinta, bikin dunia tertata.

Amin....

Semarang, 25 April 2011 Pukul 06:02

ARDA DINATA

Penulis adalah Pendiri Majelis Inspirasi Alquran dan Realitas Alam (MIQRA) Indonesia,

MIQRA INDONESIA, sebuah komunitas yang berusaha selalu belajar mengembangkan diri melalui INSPIRASI KECERDASAN HATI. Tulisan-tulisan di blog ini merupakan catatan tentang berbagai inspirasi yang telah dikembangkan menjadi tulisan sederhana dengan berusaha memasukan hikmah di dalamnya. Sahabat MIQRA silahkan memberi komentar dan masukan atas apapun tentang isi tulisan di blog ini. Saya tunggu komentarnya sekarang juga ya...!!! Salam inspirasi dan sukses selalu buat Anda.

Bagaimana menurut Anda?  Arda Dinata, pendiri Majelis Inspirasi Alquran dan Realitas Alam/ MIQRA Indonesia, www.miqraindonesia.com 
Profil Arda Dinata
Lihat Detail

Profil Arda Dinata

ARDA DINATA, lahir di Indramayu, 28 Oktober 1973, anak ke-5 dari 7 bersaudara. Untuk memenuhi rasa haus akan ilmu pengetahuan, ia terus mengasah kebiasaan hobi hariannya dengan kegiatan membaca dan menulis. Kegiatan dunia tulis-menulis ini, ia tekuni sejak duduk di bangku SMA Negeri 3 Indramayu. Kemudian selepas SMA melanjutkan kuliah di Akademi Penilik Kesehatan (APK) Kutamaya Bandung, lulus tahun 1996. Baru pada tahun 2009, ia diberi kesempatan melanjutkan pendidikannya karena terpilih sebagai Peserta tugas belajar program sarjana dari Departemen Kesehatan R.I. di Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Diponegoro (FKM-Undip) Semarang.



Berkat kebiasaannya dalam dunia tulis-menulis tersebut, telah mengantarkannya menjadi: Dosen di Akademi Kesehatan Lingkungan (AKL) Kutamaya Bandung (1996 s.d. 2004); Reporter Majalah Bina Diknakes Jakarta (1997 s.d. 2001); Kontributor Jurnal MQ dan Tabloid MQ Bandung (2001-2003); Redaksi Majalah INDAGO Bandung (2003 s.d. 2004); Pemimpin Redaksi Majalah Kesehatan INSIDE (2006 s.d. sekarang); PNS di Loka Litbang Pemberantasan Penyakit Bersumber Binatang (P2B2) Ciamis, Balitbangkes Depkes. R.I. (2005 s.d. sekarang); dan sekarang beliau diberi amanah sebagai Pendiri dan Pengelola Majelis Inspirasi Al-Quran & Realitas Alam (MIQRA) INDONESIA, http://miqra.blogspot.com.

Tema tulisan yang diminatinya seputar masalah: motivasi, spritualitas, kesehatan, psikologi, keluarga, lingkungan, dan tulis-menulis (jurnalistik). Sebagian tulisannya pernah diterbitkan di beberapa media cetak (koran dan majalah), diantaranya: Priangan, Kabar Priangan, Majalah Network Business, Majalah indago, Tabloid MQ, Jurnal MQ, Pikiran Rakyat, Galamedia, Metro Bandung, Bandung Pos, Suara Publik, Hikmah, Majalah Sahabat Pena, Media Pembinaan, Gema Mujahidin, dll (Bandung); Majalah Sabili, Republika, Suara Pembaharuan, Suara Karya, Bisnis Indonesia, Merdeka, Harian Terbit, Harian AKSI, Tabloid Sakinah, Kiat Sehat, SKM Buana Minggu, Majalah Intisari, Majalah Manajemen, Majalah Panji Masyarakat, Majalah D & R, Majalah GATRA, Majalah Bina Diknakes, dll (Jakarta); Suara Muhammadiyah, Balairung (Yogyakarta); Publica Health (PH) Kita (Semarang); Majalah Fakta (Surabaya); Lampung Pos (Bandar Lampung); Sriwijaya Post, Singgalang, dll.

Selain di media cetak, tulisannya pun tersebar di media elektronik (internet). Blogger yang satu ini beberapa kali menjuarai lomba karya tulis dan penulisan artikel tingkat nasional, diantaranya: Pemenang ke-2 Lomba Penulisan Artikel “Indonesia 2000” yang diadakan oleh Persatuan Filatelis Indonesia (PFI) dan PT. Pos Indonesia (2000); Pemenang ke-3 Sayembara Penulisan Artikel tentang Bank Indonesia bagi wartawan, yang diadakan oleh Bank Indonesia (2003); Pemenang ke-1 Sayembara Penulisan Artikel tentang Jamsostek yang diadakan oleh PT. Jamsostek (Persero) Pusat Jakarta (2003), dan sebagainya.

Arda Dinata telah menyusun beberapa buku, diantaranya: Taman Taman Kebeningan Hati; Keteladanan Bahasa Tingkah Laku: Inspirasi Membangun Keluarga Berkualitas; Bersahabat dengan Nyamuk: Jurus Jitu Terhindar dari Penyakit Nyamuk; Potret Kesehatan Lingkungan: Gambaran & Permasalahan Sanitasi Lingkungan; Jalan Pintas Menjadi Penulis Sukses; Menciptakan “Mesin Uang” dengan Menulis: Tips Menjadi Kaya dengan Menulis Artikel; dan beberapa buku dalam proses penyusunan.

Kang Arda, demikian sapaan akrabnya, kini ia tinggal di Pangandaran Ciamis. Bagi pembaca yang ingin berbagi inspirasi dan motivasi dengan Penulis dapat bergabung di group MIQRA INDONESIA [Inspirasi, Ilmu dan Amal] di situs jejaring sosial facebook.***
ARDA DINATA, lahir di Indramayu, 28 Oktober 1973, anak ke-5 dari 7 bersaudara. Untuk memenuhi rasa haus akan ilmu pengetahuan, ia terus mengasah kebiasaan hobi hariannya dengan kegiatan membaca dan menulis. Kegiatan dunia tulis-menulis ini, ia tekuni sejak duduk di bangku SMA Negeri 3 Indramayu. Kemudian selepas SMA melanjutkan kuliah di Akademi Penilik Kesehatan (APK) Kutamaya Bandung, lulus tahun 1996. Baru pada tahun 2009, ia diberi kesempatan melanjutkan pendidikannya karena terpilih sebagai Peserta tugas belajar program sarjana dari Departemen Kesehatan R.I. di Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Diponegoro (FKM-Undip) Semarang.



Berkat kebiasaannya dalam dunia tulis-menulis tersebut, telah mengantarkannya menjadi: Dosen di Akademi Kesehatan Lingkungan (AKL) Kutamaya Bandung (1996 s.d. 2004); Reporter Majalah Bina Diknakes Jakarta (1997 s.d. 2001); Kontributor Jurnal MQ dan Tabloid MQ Bandung (2001-2003); Redaksi Majalah INDAGO Bandung (2003 s.d. 2004); Pemimpin Redaksi Majalah Kesehatan INSIDE (2006 s.d. sekarang); PNS di Loka Litbang Pemberantasan Penyakit Bersumber Binatang (P2B2) Ciamis, Balitbangkes Depkes. R.I. (2005 s.d. sekarang); dan sekarang beliau diberi amanah sebagai Pendiri dan Pengelola Majelis Inspirasi Al-Quran & Realitas Alam (MIQRA) INDONESIA, http://miqra.blogspot.com.

Tema tulisan yang diminatinya seputar masalah: motivasi, spritualitas, kesehatan, psikologi, keluarga, lingkungan, dan tulis-menulis (jurnalistik). Sebagian tulisannya pernah diterbitkan di beberapa media cetak (koran dan majalah), diantaranya: Priangan, Kabar Priangan, Majalah Network Business, Majalah indago, Tabloid MQ, Jurnal MQ, Pikiran Rakyat, Galamedia, Metro Bandung, Bandung Pos, Suara Publik, Hikmah, Majalah Sahabat Pena, Media Pembinaan, Gema Mujahidin, dll (Bandung); Majalah Sabili, Republika, Suara Pembaharuan, Suara Karya, Bisnis Indonesia, Merdeka, Harian Terbit, Harian AKSI, Tabloid Sakinah, Kiat Sehat, SKM Buana Minggu, Majalah Intisari, Majalah Manajemen, Majalah Panji Masyarakat, Majalah D & R, Majalah GATRA, Majalah Bina Diknakes, dll (Jakarta); Suara Muhammadiyah, Balairung (Yogyakarta); Publica Health (PH) Kita (Semarang); Majalah Fakta (Surabaya); Lampung Pos (Bandar Lampung); Sriwijaya Post, Singgalang, dll.

Selain di media cetak, tulisannya pun tersebar di media elektronik (internet). Blogger yang satu ini beberapa kali menjuarai lomba karya tulis dan penulisan artikel tingkat nasional, diantaranya: Pemenang ke-2 Lomba Penulisan Artikel “Indonesia 2000” yang diadakan oleh Persatuan Filatelis Indonesia (PFI) dan PT. Pos Indonesia (2000); Pemenang ke-3 Sayembara Penulisan Artikel tentang Bank Indonesia bagi wartawan, yang diadakan oleh Bank Indonesia (2003); Pemenang ke-1 Sayembara Penulisan Artikel tentang Jamsostek yang diadakan oleh PT. Jamsostek (Persero) Pusat Jakarta (2003), dan sebagainya.

Arda Dinata telah menyusun beberapa buku, diantaranya: Taman Taman Kebeningan Hati; Keteladanan Bahasa Tingkah Laku: Inspirasi Membangun Keluarga Berkualitas; Bersahabat dengan Nyamuk: Jurus Jitu Terhindar dari Penyakit Nyamuk; Potret Kesehatan Lingkungan: Gambaran & Permasalahan Sanitasi Lingkungan; Jalan Pintas Menjadi Penulis Sukses; Menciptakan “Mesin Uang” dengan Menulis: Tips Menjadi Kaya dengan Menulis Artikel; dan beberapa buku dalam proses penyusunan.

Kang Arda, demikian sapaan akrabnya, kini ia tinggal di Pangandaran Ciamis. Bagi pembaca yang ingin berbagi inspirasi dan motivasi dengan Penulis dapat bergabung di group MIQRA INDONESIA [Inspirasi, Ilmu dan Amal] di situs jejaring sosial facebook.***
ARDA DINATA, lahir di Indramayu, 28 Oktober 1973, anak ke-5 dari 7 bersaudara. Untuk memenuhi rasa haus akan ilmu pengetahuan, ia terus mengasah kebiasaan hobi hariannya dengan kegiatan membaca dan menulis. Kegiatan dunia tulis-menulis ini, ia tekuni sejak duduk di bangku SMA Negeri 3 Indramayu. Kemudian selepas SMA melanjutkan kuliah di Akademi Penilik Kesehatan (APK) Kutamaya Bandung, lulus tahun 1996. Baru pada tahun 2009, ia diberi kesempatan melanjutkan pendidikannya karena terpilih sebagai Peserta tugas belajar program sarjana dari Departemen Kesehatan R.I. di Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Diponegoro (FKM-Undip) Semarang.



Berkat kebiasaannya dalam dunia tulis-menulis tersebut, telah mengantarkannya menjadi: Dosen di Akademi Kesehatan Lingkungan (AKL) Kutamaya Bandung (1996 s.d. 2004); Reporter Majalah Bina Diknakes Jakarta (1997 s.d. 2001); Kontributor Jurnal MQ dan Tabloid MQ Bandung (2001-2003); Redaksi Majalah INDAGO Bandung (2003 s.d. 2004); Pemimpin Redaksi Majalah Kesehatan INSIDE (2006 s.d. sekarang); PNS di Loka Litbang Pemberantasan Penyakit Bersumber Binatang (P2B2) Ciamis, Balitbangkes Depkes. R.I. (2005 s.d. sekarang); dan sekarang beliau diberi amanah sebagai Pendiri dan Pengelola Majelis Inspirasi Al-Quran & Realitas Alam (MIQRA) INDONESIA, http://miqra.blogspot.com.

Tema tulisan yang diminatinya seputar masalah: motivasi, spritualitas, kesehatan, psikologi, keluarga, lingkungan, dan tulis-menulis (jurnalistik). Sebagian tulisannya pernah diterbitkan di beberapa media cetak (koran dan majalah), diantaranya: Priangan, Kabar Priangan, Majalah Network Business, Majalah indago, Tabloid MQ, Jurnal MQ, Pikiran Rakyat, Galamedia, Metro Bandung, Bandung Pos, Suara Publik, Hikmah, Majalah Sahabat Pena, Media Pembinaan, Gema Mujahidin, dll (Bandung); Majalah Sabili, Republika, Suara Pembaharuan, Suara Karya, Bisnis Indonesia, Merdeka, Harian Terbit, Harian AKSI, Tabloid Sakinah, Kiat Sehat, SKM Buana Minggu, Majalah Intisari, Majalah Manajemen, Majalah Panji Masyarakat, Majalah D & R, Majalah GATRA, Majalah Bina Diknakes, dll (Jakarta); Suara Muhammadiyah, Balairung (Yogyakarta); Publica Health (PH) Kita (Semarang); Majalah Fakta (Surabaya); Lampung Pos (Bandar Lampung); Sriwijaya Post, Singgalang, dll.

Selain di media cetak, tulisannya pun tersebar di media elektronik (internet). Blogger yang satu ini beberapa kali menjuarai lomba karya tulis dan penulisan artikel tingkat nasional, diantaranya: Pemenang ke-2 Lomba Penulisan Artikel “Indonesia 2000” yang diadakan oleh Persatuan Filatelis Indonesia (PFI) dan PT. Pos Indonesia (2000); Pemenang ke-3 Sayembara Penulisan Artikel tentang Bank Indonesia bagi wartawan, yang diadakan oleh Bank Indonesia (2003); Pemenang ke-1 Sayembara Penulisan Artikel tentang Jamsostek yang diadakan oleh PT. Jamsostek (Persero) Pusat Jakarta (2003), dan sebagainya.

Arda Dinata telah menyusun beberapa buku, diantaranya: Taman Taman Kebeningan Hati; Keteladanan Bahasa Tingkah Laku: Inspirasi Membangun Keluarga Berkualitas; Bersahabat dengan Nyamuk: Jurus Jitu Terhindar dari Penyakit Nyamuk; Potret Kesehatan Lingkungan: Gambaran & Permasalahan Sanitasi Lingkungan; Jalan Pintas Menjadi Penulis Sukses; Menciptakan “Mesin Uang” dengan Menulis: Tips Menjadi Kaya dengan Menulis Artikel; dan beberapa buku dalam proses penyusunan.

Kang Arda, demikian sapaan akrabnya, kini ia tinggal di Pangandaran Ciamis. Bagi pembaca yang ingin berbagi inspirasi dan motivasi dengan Penulis dapat bergabung di group MIQRA INDONESIA [Inspirasi, Ilmu dan Amal] di situs jejaring sosial facebook.***
ARDA DINATA, lahir di Indramayu, 28 Oktober 1973, anak ke-5 dari 7 bersaudara. Untuk memenuhi rasa haus akan ilmu pengetahuan, ia terus mengasah kebiasaan hobi hariannya dengan kegiatan membaca dan menulis. Kegiatan dunia tulis-menulis ini, ia tekuni sejak duduk di bangku SMA Negeri 3 Indramayu. Kemudian selepas SMA melanjutkan kuliah di Akademi Penilik Kesehatan (APK) Kutamaya Bandung, lulus tahun 1996. Baru pada tahun 2009, ia diberi kesempatan melanjutkan pendidikannya karena terpilih sebagai Peserta tugas belajar program sarjana dari Departemen Kesehatan R.I. di Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Diponegoro (FKM-Undip) Semarang.



Berkat kebiasaannya dalam dunia tulis-menulis tersebut, telah mengantarkannya menjadi: Dosen di Akademi Kesehatan Lingkungan (AKL) Kutamaya Bandung (1996 s.d. 2004); Reporter Majalah Bina Diknakes Jakarta (1997 s.d. 2001); Kontributor Jurnal MQ dan Tabloid MQ Bandung (2001-2003); Redaksi Majalah INDAGO Bandung (2003 s.d. 2004); Pemimpin Redaksi Majalah Kesehatan INSIDE (2006 s.d. sekarang); PNS di Loka Litbang Pemberantasan Penyakit Bersumber Binatang (P2B2) Ciamis, Balitbangkes Depkes. R.I. (2005 s.d. sekarang); dan sekarang beliau diberi amanah sebagai Pendiri dan Pengelola Majelis Inspirasi Al-Quran & Realitas Alam (MIQRA) INDONESIA, http://miqra.blogspot.com.

Tema tulisan yang diminatinya seputar masalah: motivasi, spritualitas, kesehatan, psikologi, keluarga, lingkungan, dan tulis-menulis (jurnalistik). Sebagian tulisannya pernah diterbitkan di beberapa media cetak (koran dan majalah), diantaranya: Priangan, Kabar Priangan, Majalah Network Business, Majalah indago, Tabloid MQ, Jurnal MQ, Pikiran Rakyat, Galamedia, Metro Bandung, Bandung Pos, Suara Publik, Hikmah, Majalah Sahabat Pena, Media Pembinaan, Gema Mujahidin, dll (Bandung); Majalah Sabili, Republika, Suara Pembaharuan, Suara Karya, Bisnis Indonesia, Merdeka, Harian Terbit, Harian AKSI, Tabloid Sakinah, Kiat Sehat, SKM Buana Minggu, Majalah Intisari, Majalah Manajemen, Majalah Panji Masyarakat, Majalah D & R, Majalah GATRA, Majalah Bina Diknakes, dll (Jakarta); Suara Muhammadiyah, Balairung (Yogyakarta); Publica Health (PH) Kita (Semarang); Majalah Fakta (Surabaya); Lampung Pos (Bandar Lampung); Sriwijaya Post, Singgalang, dll.

Selain di media cetak, tulisannya pun tersebar di media elektronik (internet). Blogger yang satu ini beberapa kali menjuarai lomba karya tulis dan penulisan artikel tingkat nasional, diantaranya: Pemenang ke-2 Lomba Penulisan Artikel “Indonesia 2000” yang diadakan oleh Persatuan Filatelis Indonesia (PFI) dan PT. Pos Indonesia (2000); Pemenang ke-3 Sayembara Penulisan Artikel tentang Bank Indonesia bagi wartawan, yang diadakan oleh Bank Indonesia (2003); Pemenang ke-1 Sayembara Penulisan Artikel tentang Jamsostek yang diadakan oleh PT. Jamsostek (Persero) Pusat Jakarta (2003), dan sebagainya.

Arda Dinata telah menyusun beberapa buku, diantaranya: Taman Taman Kebeningan Hati; Keteladanan Bahasa Tingkah Laku: Inspirasi Membangun Keluarga Berkualitas; Bersahabat dengan Nyamuk: Jurus Jitu Terhindar dari Penyakit Nyamuk; Potret Kesehatan Lingkungan: Gambaran & Permasalahan Sanitasi Lingkungan; Jalan Pintas Menjadi Penulis Sukses; Menciptakan “Mesin Uang” dengan Menulis: Tips Menjadi Kaya dengan Menulis Artikel; dan beberapa buku dalam proses penyusunan.

Kang Arda, demikian sapaan akrabnya, kini ia tinggal di Pangandaran Ciamis. Bagi pembaca yang ingin berbagi inspirasi dan motivasi dengan Penulis dapat bergabung di group MIQRA INDONESIA [Inspirasi, Ilmu dan Amal] di situs jejaring sosial facebook.***
ARDA DINATA, lahir di Indramayu, 28 Oktober 1973, anak ke-5 dari 7 bersaudara. Untuk memenuhi rasa haus akan ilmu pengetahuan, ia terus mengasah kebiasaan hobi hariannya dengan kegiatan membaca dan menulis. Kegiatan dunia tulis-menulis ini, ia tekuni sejak duduk di bangku SMA Negeri 3 Indramayu. Kemudian selepas SMA melanjutkan kuliah di Akademi Penilik Kesehatan (APK) Kutamaya Bandung, lulus tahun 1996. Baru pada tahun 2009, ia diberi kesempatan melanjutkan pendidikannya karena terpilih sebagai Peserta tugas belajar program sarjana dari Departemen Kesehatan R.I. di Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Diponegoro (FKM-Undip) Semarang.



Berkat kebiasaannya dalam dunia tulis-menulis tersebut, telah mengantarkannya menjadi: Dosen di Akademi Kesehatan Lingkungan (AKL) Kutamaya Bandung (1996 s.d. 2004); Reporter Majalah Bina Diknakes Jakarta (1997 s.d. 2001); Kontributor Jurnal MQ dan Tabloid MQ Bandung (2001-2003); Redaksi Majalah INDAGO Bandung (2003 s.d. 2004); Pemimpin Redaksi Majalah Kesehatan INSIDE (2006 s.d. sekarang); PNS di Loka Litbang Pemberantasan Penyakit Bersumber Binatang (P2B2) Ciamis, Balitbangkes Depkes. R.I. (2005 s.d. sekarang); dan sekarang beliau diberi amanah sebagai Pendiri dan Pengelola Majelis Inspirasi Al-Quran & Realitas Alam (MIQRA) INDONESIA, http://miqra.blogspot.com.

Tema tulisan yang diminatinya seputar masalah: motivasi, spritualitas, kesehatan, psikologi, keluarga, lingkungan, dan tulis-menulis (jurnalistik). Sebagian tulisannya pernah diterbitkan di beberapa media cetak (koran dan majalah), diantaranya: Priangan, Kabar Priangan, Majalah Network Business, Majalah indago, Tabloid MQ, Jurnal MQ, Pikiran Rakyat, Galamedia, Metro Bandung, Bandung Pos, Suara Publik, Hikmah, Majalah Sahabat Pena, Media Pembinaan, Gema Mujahidin, dll (Bandung); Majalah Sabili, Republika, Suara Pembaharuan, Suara Karya, Bisnis Indonesia, Merdeka, Harian Terbit, Harian AKSI, Tabloid Sakinah, Kiat Sehat, SKM Buana Minggu, Majalah Intisari, Majalah Manajemen, Majalah Panji Masyarakat, Majalah D & R, Majalah GATRA, Majalah Bina Diknakes, dll (Jakarta); Suara Muhammadiyah, Balairung (Yogyakarta); Publica Health (PH) Kita (Semarang); Majalah Fakta (Surabaya); Lampung Pos (Bandar Lampung); Sriwijaya Post, Singgalang, dll.

Selain di media cetak, tulisannya pun tersebar di media elektronik (internet). Blogger yang satu ini beberapa kali menjuarai lomba karya tulis dan penulisan artikel tingkat nasional, diantaranya: Pemenang ke-2 Lomba Penulisan Artikel “Indonesia 2000” yang diadakan oleh Persatuan Filatelis Indonesia (PFI) dan PT. Pos Indonesia (2000); Pemenang ke-3 Sayembara Penulisan Artikel tentang Bank Indonesia bagi wartawan, yang diadakan oleh Bank Indonesia (2003); Pemenang ke-1 Sayembara Penulisan Artikel tentang Jamsostek yang diadakan oleh PT. Jamsostek (Persero) Pusat Jakarta (2003), dan sebagainya.

Arda Dinata telah menyusun beberapa buku, diantaranya: Taman Taman Kebeningan Hati; Keteladanan Bahasa Tingkah Laku: Inspirasi Membangun Keluarga Berkualitas; Bersahabat dengan Nyamuk: Jurus Jitu Terhindar dari Penyakit Nyamuk; Potret Kesehatan Lingkungan: Gambaran & Permasalahan Sanitasi Lingkungan; Jalan Pintas Menjadi Penulis Sukses; Menciptakan “Mesin Uang” dengan Menulis: Tips Menjadi Kaya dengan Menulis Artikel; dan beberapa buku dalam proses penyusunan.

Kang Arda, demikian sapaan akrabnya, kini ia tinggal di Pangandaran Ciamis. Bagi pembaca yang ingin berbagi inspirasi dan motivasi dengan Penulis dapat bergabung di group MIQRA INDONESIA [Inspirasi, Ilmu dan Amal] di situs jejaring sosial facebook.***
Daftar Isi Artikel Klik di Sini!


EBOOK: KESLING, MOTIVASI & PENGEMBANGAN DIRI

|HOME |ARDA PUBLISHING HOUSE |MIQRA INDONESIA |OPINI |OPTIMIS |SEHAT |KELUARGA |SPIRIT |IBROH |JURNALISTIK |BUKU |JURNAL |LINGKUNGAN |DUNIA NYAMUK |NEWS MIQRA |BISNIS |PROFIL |ARDA TV|