-->
PASANG IKLAN DI SINI!
(MURAH SESUAI BUDGET ANDA)

Tampilkan postingan dengan label miqra. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label miqra. Tampilkan semua postingan
Aspek Pertimbangan dalam Usaha Waralaba
Lihat Detail

Aspek Pertimbangan dalam Usaha Waralaba

Oleh: ARDA DINATA

SAAT ini kebutuhan membangun kekuatan jaringan usaha perekonomian yang dikelola oleh umat Islam cukup mendesak. Salah satu bentuk usaha yang dapat dikembangkan adalah usaha waralaba. Usaha waralaba ini merupakan bentuk khusus dari lisensi di mana pemberi hak bukan hanya menjual haknya tetapi juga turut serta membentuk si penerima hak dalam melakukan bisnisnya.

Usaha waralaba ini tentu akan membentuk sebuah usaha yang bermanfaat bagi banyak orang. Pada dasarnya konsep bisnis waralaba ini dirancang guna memberikan kemudahan kepada masyarakat dalam menjalin kemitraan bisnis yang saling melindungi dan menguntungkan.
Dengan demikian, terlepas dari misi sosial, aspek bisnis waralaba menjadi pertimbangan kondisi masyarakat saat ini. Pasalnya, dari data yang dilansir oleh pemerintah, jumlah pengusaha kecil dan menengah itu mencapai 95 % dari keseluruhan pengusaha yang ada di Indonesia. Artinya bisnis waralaba ini masih sangat prospektus dengan dasar adanya potensi yang dapat diambil dari para pengusaha kecil dan menengah di negeri ini masih sangat besar, dan belum dioptimalisasi pemanfaatannya.

Konsep usaha waralaba ini didalamnya terkandung ajaran berupa terjalinnya silaturrahmi. Kita tahu, aktivitas silaturrahmi dalam ajaran Islam disebutkan sebagai aktivitas yang akan mendatangkan rahmat Allah yang tidak terkira. Keterangan berikut ini setidaknya dapat meyakinkan kita tentang hal itu.

“Maukah kalian aku tunjukkan amal yang lebih besar pahalanya daripada sholat dan sahum?” tanya Rasulullah Saw kepada sahabat-sahabatnya.

Rasulullah kemudian menjelaskan, “Engkau damaikan yang bertengkar, menyambung persaudaraan yang terputus, mempertemukan kembali saudara-saudara yang terpisah, membejambatani berbagai kelompok dalam Islam, dan mengukuhkan ukhuwwah di antara mereka adalah amal shaleh yang besar pahalanya. Barangsiapa yang ingin dipanjangkan usianya dan dibanyakkan rizkinya hendaklah ia menyambung persaudaraan.”(HR. Bukhari dan Muslim).

Dalam konteks ini, bila kita menyikapi dan merenugi hadis tersebut, maka Islam telah lebih dahulu memberikan kunci bagi mereka yang ingin dipanjangkan usianya dan dibanyakkan rizkinya, yaitu dengan cara menyambung persaudaraan. Salah satu bentuk persaudaraan dalam dunia bisnis adalah dengan membangun jaringan bisnis secara Islami.

Di sini, dalam membangun suatu bisnis maka yang penting bagi kita adalah tidak keluar dari prinsip ekonomi Islam. Dalam ajaran ekonomi Islam disebutkan bahwa kekayaan merupakan amanah dari Allah dan tidak dapat dimiliki secara mutlak; manusia diberikan kebebasan untuk bermuamalah selama tidak melanggar ketentuan syariah; manusia merupakan khalifah dan pemakmur di muka bumi; penghapusan praktek riba; dan penolakan terhadap monopoli.

Selain itu, dalam melakukan bisnis, bagi umat Islam harus mengindahkan etika Islam yang berupa jujur, amanah, adil, profesional (ihsan), saling bekerjasama (ta’awun), sabar, dan tabah.

Oleh sebab itu, dalam membangun bisnis waralaba pun kita harus selalu berprinsip pada ekonomi Islam dan menjaganya dengan menerapkan etika bisnis secara islami. Dari sini, maka akan terlahir usaha untuk mempertimbangkan secara bijaksana dan cermat dalam menumbuhkan dan membangun jaringan bisnis waralaba.

Aspek Pertimbangan Bisnis

Dalam melakukan bisnis waralaba ini, menurut Rambat Lupiyoadi dan Jero wacik (1998), ada beberapa aspek yang harus dipertimbangkan dengan cermat. Pertama, organisasi dari perusahaan yang diberi hak. Di mana perusahaan pemberi hak biasanya masuk ke suatu negara dan mencari partner atau perusahaan yang ingin mendapatkan hak mereka. Lalu mereka akan berunding untuk menentukan bentuk organisasi apa yang layak dan cocok untuk pengembangan usaha yang akan dilakukan.

Kedua, modifikasi sistem operasi. Karena biasanya produk-produk yang dijual itu harus mengalami modifikasi karena kebutuhan dan culture (budaya) dari suatu negara berbeda dengan negara lainnya. Karena itu, antara pemberi dan penerima hak harus berkompromi dan berunding untuk menentukan modifikasi baik pada sistem operasi maupun produk yang akan dijual.

Ketiga, masalah perjanjian atau kontrak yang ada. Di mana pada saat penyusunan kontrak harus detail dan bentuknya kurang lebih sama dengan metode lisensi.

Lebih dari itu, yang jelas secara garis besar ada tiga masalah pokok dalam pemilihan bentuk usaha sebagaimana terlihat dari usulan yang telah diberikan, yaitu:

1. Motivasi usaha. Faktor-faktor yang harus dipertimbangkan dengan cermat menyangkut pengertian bentuk usaha yang akan dijalankan, kelompok usaha yang akan didirikan, maksud pendiriannya, perundingan pendirian dan kesepakatan pendirian usaha.

2. Efesiensi usaha. Faktor-faktor yang harus dipertimbangkan menyangkut pertanggung jawaban yang harus diberikan, fungsi manajemen dan kontrol yang harus diadakan, aspek formalitas, fleksibilitas dan permodalan yang harus dilaksanakan dengan baik dan benar.

3. Bentuk usaha yang dipilih. Di sini, tentu banyak ditentukan oleh jenis badan usaha tersebut, bentuk permodalan, tanggung jawab usaha, keanggotaan, pembagian laba, publikasi atas perkiraan tahunan, dll.

Akhirnya dengan mengetahui selek beluk bisnis usaha waralaba ini, diharapkan kita dapat berhati-hati dan bertindak secara maksimal dalam menerjuni bisnis ini. Wallahu’alam.***

Arda Dinata adalah pendiri Majelis Inspirasi Alquran dan Realitas Alam (MIQRA) Indonesia, http://www.miqra.blogspot.com.

 Bagaimana menurut Anda? Arda Dinata, pendiri Majelis Inspirasi Alquran dan Realitas Alam/ MIQRA Indonesia, www.miqraindonesia.com 
Oleh: ARDA DINATA

SAAT ini kebutuhan membangun kekuatan jaringan usaha perekonomian yang dikelola oleh umat Islam cukup mendesak. Salah satu bentuk usaha yang dapat dikembangkan adalah usaha waralaba. Usaha waralaba ini merupakan bentuk khusus dari lisensi di mana pemberi hak bukan hanya menjual haknya tetapi juga turut serta membentuk si penerima hak dalam melakukan bisnisnya.

Usaha waralaba ini tentu akan membentuk sebuah usaha yang bermanfaat bagi banyak orang. Pada dasarnya konsep bisnis waralaba ini dirancang guna memberikan kemudahan kepada masyarakat dalam menjalin kemitraan bisnis yang saling melindungi dan menguntungkan.
Dengan demikian, terlepas dari misi sosial, aspek bisnis waralaba menjadi pertimbangan kondisi masyarakat saat ini. Pasalnya, dari data yang dilansir oleh pemerintah, jumlah pengusaha kecil dan menengah itu mencapai 95 % dari keseluruhan pengusaha yang ada di Indonesia. Artinya bisnis waralaba ini masih sangat prospektus dengan dasar adanya potensi yang dapat diambil dari para pengusaha kecil dan menengah di negeri ini masih sangat besar, dan belum dioptimalisasi pemanfaatannya.

Konsep usaha waralaba ini didalamnya terkandung ajaran berupa terjalinnya silaturrahmi. Kita tahu, aktivitas silaturrahmi dalam ajaran Islam disebutkan sebagai aktivitas yang akan mendatangkan rahmat Allah yang tidak terkira. Keterangan berikut ini setidaknya dapat meyakinkan kita tentang hal itu.

“Maukah kalian aku tunjukkan amal yang lebih besar pahalanya daripada sholat dan sahum?” tanya Rasulullah Saw kepada sahabat-sahabatnya.

Rasulullah kemudian menjelaskan, “Engkau damaikan yang bertengkar, menyambung persaudaraan yang terputus, mempertemukan kembali saudara-saudara yang terpisah, membejambatani berbagai kelompok dalam Islam, dan mengukuhkan ukhuwwah di antara mereka adalah amal shaleh yang besar pahalanya. Barangsiapa yang ingin dipanjangkan usianya dan dibanyakkan rizkinya hendaklah ia menyambung persaudaraan.”(HR. Bukhari dan Muslim).

Dalam konteks ini, bila kita menyikapi dan merenugi hadis tersebut, maka Islam telah lebih dahulu memberikan kunci bagi mereka yang ingin dipanjangkan usianya dan dibanyakkan rizkinya, yaitu dengan cara menyambung persaudaraan. Salah satu bentuk persaudaraan dalam dunia bisnis adalah dengan membangun jaringan bisnis secara Islami.

Di sini, dalam membangun suatu bisnis maka yang penting bagi kita adalah tidak keluar dari prinsip ekonomi Islam. Dalam ajaran ekonomi Islam disebutkan bahwa kekayaan merupakan amanah dari Allah dan tidak dapat dimiliki secara mutlak; manusia diberikan kebebasan untuk bermuamalah selama tidak melanggar ketentuan syariah; manusia merupakan khalifah dan pemakmur di muka bumi; penghapusan praktek riba; dan penolakan terhadap monopoli.

Selain itu, dalam melakukan bisnis, bagi umat Islam harus mengindahkan etika Islam yang berupa jujur, amanah, adil, profesional (ihsan), saling bekerjasama (ta’awun), sabar, dan tabah.

Oleh sebab itu, dalam membangun bisnis waralaba pun kita harus selalu berprinsip pada ekonomi Islam dan menjaganya dengan menerapkan etika bisnis secara islami. Dari sini, maka akan terlahir usaha untuk mempertimbangkan secara bijaksana dan cermat dalam menumbuhkan dan membangun jaringan bisnis waralaba.

Aspek Pertimbangan Bisnis

Dalam melakukan bisnis waralaba ini, menurut Rambat Lupiyoadi dan Jero wacik (1998), ada beberapa aspek yang harus dipertimbangkan dengan cermat. Pertama, organisasi dari perusahaan yang diberi hak. Di mana perusahaan pemberi hak biasanya masuk ke suatu negara dan mencari partner atau perusahaan yang ingin mendapatkan hak mereka. Lalu mereka akan berunding untuk menentukan bentuk organisasi apa yang layak dan cocok untuk pengembangan usaha yang akan dilakukan.

Kedua, modifikasi sistem operasi. Karena biasanya produk-produk yang dijual itu harus mengalami modifikasi karena kebutuhan dan culture (budaya) dari suatu negara berbeda dengan negara lainnya. Karena itu, antara pemberi dan penerima hak harus berkompromi dan berunding untuk menentukan modifikasi baik pada sistem operasi maupun produk yang akan dijual.

Ketiga, masalah perjanjian atau kontrak yang ada. Di mana pada saat penyusunan kontrak harus detail dan bentuknya kurang lebih sama dengan metode lisensi.

Lebih dari itu, yang jelas secara garis besar ada tiga masalah pokok dalam pemilihan bentuk usaha sebagaimana terlihat dari usulan yang telah diberikan, yaitu:

1. Motivasi usaha. Faktor-faktor yang harus dipertimbangkan dengan cermat menyangkut pengertian bentuk usaha yang akan dijalankan, kelompok usaha yang akan didirikan, maksud pendiriannya, perundingan pendirian dan kesepakatan pendirian usaha.

2. Efesiensi usaha. Faktor-faktor yang harus dipertimbangkan menyangkut pertanggung jawaban yang harus diberikan, fungsi manajemen dan kontrol yang harus diadakan, aspek formalitas, fleksibilitas dan permodalan yang harus dilaksanakan dengan baik dan benar.

3. Bentuk usaha yang dipilih. Di sini, tentu banyak ditentukan oleh jenis badan usaha tersebut, bentuk permodalan, tanggung jawab usaha, keanggotaan, pembagian laba, publikasi atas perkiraan tahunan, dll.

Akhirnya dengan mengetahui selek beluk bisnis usaha waralaba ini, diharapkan kita dapat berhati-hati dan bertindak secara maksimal dalam menerjuni bisnis ini. Wallahu’alam.***

Arda Dinata adalah pendiri Majelis Inspirasi Alquran dan Realitas Alam (MIQRA) Indonesia, http://www.miqra.blogspot.com.

 Bagaimana menurut Anda? Arda Dinata, pendiri Majelis Inspirasi Alquran dan Realitas Alam/ MIQRA Indonesia, www.miqraindonesia.com 
Oleh: ARDA DINATA

SAAT ini kebutuhan membangun kekuatan jaringan usaha perekonomian yang dikelola oleh umat Islam cukup mendesak. Salah satu bentuk usaha yang dapat dikembangkan adalah usaha waralaba. Usaha waralaba ini merupakan bentuk khusus dari lisensi di mana pemberi hak bukan hanya menjual haknya tetapi juga turut serta membentuk si penerima hak dalam melakukan bisnisnya.

Usaha waralaba ini tentu akan membentuk sebuah usaha yang bermanfaat bagi banyak orang. Pada dasarnya konsep bisnis waralaba ini dirancang guna memberikan kemudahan kepada masyarakat dalam menjalin kemitraan bisnis yang saling melindungi dan menguntungkan.
Dengan demikian, terlepas dari misi sosial, aspek bisnis waralaba menjadi pertimbangan kondisi masyarakat saat ini. Pasalnya, dari data yang dilansir oleh pemerintah, jumlah pengusaha kecil dan menengah itu mencapai 95 % dari keseluruhan pengusaha yang ada di Indonesia. Artinya bisnis waralaba ini masih sangat prospektus dengan dasar adanya potensi yang dapat diambil dari para pengusaha kecil dan menengah di negeri ini masih sangat besar, dan belum dioptimalisasi pemanfaatannya.

Konsep usaha waralaba ini didalamnya terkandung ajaran berupa terjalinnya silaturrahmi. Kita tahu, aktivitas silaturrahmi dalam ajaran Islam disebutkan sebagai aktivitas yang akan mendatangkan rahmat Allah yang tidak terkira. Keterangan berikut ini setidaknya dapat meyakinkan kita tentang hal itu.

“Maukah kalian aku tunjukkan amal yang lebih besar pahalanya daripada sholat dan sahum?” tanya Rasulullah Saw kepada sahabat-sahabatnya.

Rasulullah kemudian menjelaskan, “Engkau damaikan yang bertengkar, menyambung persaudaraan yang terputus, mempertemukan kembali saudara-saudara yang terpisah, membejambatani berbagai kelompok dalam Islam, dan mengukuhkan ukhuwwah di antara mereka adalah amal shaleh yang besar pahalanya. Barangsiapa yang ingin dipanjangkan usianya dan dibanyakkan rizkinya hendaklah ia menyambung persaudaraan.”(HR. Bukhari dan Muslim).

Dalam konteks ini, bila kita menyikapi dan merenugi hadis tersebut, maka Islam telah lebih dahulu memberikan kunci bagi mereka yang ingin dipanjangkan usianya dan dibanyakkan rizkinya, yaitu dengan cara menyambung persaudaraan. Salah satu bentuk persaudaraan dalam dunia bisnis adalah dengan membangun jaringan bisnis secara Islami.

Di sini, dalam membangun suatu bisnis maka yang penting bagi kita adalah tidak keluar dari prinsip ekonomi Islam. Dalam ajaran ekonomi Islam disebutkan bahwa kekayaan merupakan amanah dari Allah dan tidak dapat dimiliki secara mutlak; manusia diberikan kebebasan untuk bermuamalah selama tidak melanggar ketentuan syariah; manusia merupakan khalifah dan pemakmur di muka bumi; penghapusan praktek riba; dan penolakan terhadap monopoli.

Selain itu, dalam melakukan bisnis, bagi umat Islam harus mengindahkan etika Islam yang berupa jujur, amanah, adil, profesional (ihsan), saling bekerjasama (ta’awun), sabar, dan tabah.

Oleh sebab itu, dalam membangun bisnis waralaba pun kita harus selalu berprinsip pada ekonomi Islam dan menjaganya dengan menerapkan etika bisnis secara islami. Dari sini, maka akan terlahir usaha untuk mempertimbangkan secara bijaksana dan cermat dalam menumbuhkan dan membangun jaringan bisnis waralaba.

Aspek Pertimbangan Bisnis

Dalam melakukan bisnis waralaba ini, menurut Rambat Lupiyoadi dan Jero wacik (1998), ada beberapa aspek yang harus dipertimbangkan dengan cermat. Pertama, organisasi dari perusahaan yang diberi hak. Di mana perusahaan pemberi hak biasanya masuk ke suatu negara dan mencari partner atau perusahaan yang ingin mendapatkan hak mereka. Lalu mereka akan berunding untuk menentukan bentuk organisasi apa yang layak dan cocok untuk pengembangan usaha yang akan dilakukan.

Kedua, modifikasi sistem operasi. Karena biasanya produk-produk yang dijual itu harus mengalami modifikasi karena kebutuhan dan culture (budaya) dari suatu negara berbeda dengan negara lainnya. Karena itu, antara pemberi dan penerima hak harus berkompromi dan berunding untuk menentukan modifikasi baik pada sistem operasi maupun produk yang akan dijual.

Ketiga, masalah perjanjian atau kontrak yang ada. Di mana pada saat penyusunan kontrak harus detail dan bentuknya kurang lebih sama dengan metode lisensi.

Lebih dari itu, yang jelas secara garis besar ada tiga masalah pokok dalam pemilihan bentuk usaha sebagaimana terlihat dari usulan yang telah diberikan, yaitu:

1. Motivasi usaha. Faktor-faktor yang harus dipertimbangkan dengan cermat menyangkut pengertian bentuk usaha yang akan dijalankan, kelompok usaha yang akan didirikan, maksud pendiriannya, perundingan pendirian dan kesepakatan pendirian usaha.

2. Efesiensi usaha. Faktor-faktor yang harus dipertimbangkan menyangkut pertanggung jawaban yang harus diberikan, fungsi manajemen dan kontrol yang harus diadakan, aspek formalitas, fleksibilitas dan permodalan yang harus dilaksanakan dengan baik dan benar.

3. Bentuk usaha yang dipilih. Di sini, tentu banyak ditentukan oleh jenis badan usaha tersebut, bentuk permodalan, tanggung jawab usaha, keanggotaan, pembagian laba, publikasi atas perkiraan tahunan, dll.

Akhirnya dengan mengetahui selek beluk bisnis usaha waralaba ini, diharapkan kita dapat berhati-hati dan bertindak secara maksimal dalam menerjuni bisnis ini. Wallahu’alam.***

Arda Dinata adalah pendiri Majelis Inspirasi Alquran dan Realitas Alam (MIQRA) Indonesia, http://www.miqra.blogspot.com.

 Bagaimana menurut Anda? Arda Dinata, pendiri Majelis Inspirasi Alquran dan Realitas Alam/ MIQRA Indonesia, www.miqraindonesia.com 
Oleh: ARDA DINATA

SAAT ini kebutuhan membangun kekuatan jaringan usaha perekonomian yang dikelola oleh umat Islam cukup mendesak. Salah satu bentuk usaha yang dapat dikembangkan adalah usaha waralaba. Usaha waralaba ini merupakan bentuk khusus dari lisensi di mana pemberi hak bukan hanya menjual haknya tetapi juga turut serta membentuk si penerima hak dalam melakukan bisnisnya.

Usaha waralaba ini tentu akan membentuk sebuah usaha yang bermanfaat bagi banyak orang. Pada dasarnya konsep bisnis waralaba ini dirancang guna memberikan kemudahan kepada masyarakat dalam menjalin kemitraan bisnis yang saling melindungi dan menguntungkan.
Dengan demikian, terlepas dari misi sosial, aspek bisnis waralaba menjadi pertimbangan kondisi masyarakat saat ini. Pasalnya, dari data yang dilansir oleh pemerintah, jumlah pengusaha kecil dan menengah itu mencapai 95 % dari keseluruhan pengusaha yang ada di Indonesia. Artinya bisnis waralaba ini masih sangat prospektus dengan dasar adanya potensi yang dapat diambil dari para pengusaha kecil dan menengah di negeri ini masih sangat besar, dan belum dioptimalisasi pemanfaatannya.

Konsep usaha waralaba ini didalamnya terkandung ajaran berupa terjalinnya silaturrahmi. Kita tahu, aktivitas silaturrahmi dalam ajaran Islam disebutkan sebagai aktivitas yang akan mendatangkan rahmat Allah yang tidak terkira. Keterangan berikut ini setidaknya dapat meyakinkan kita tentang hal itu.

“Maukah kalian aku tunjukkan amal yang lebih besar pahalanya daripada sholat dan sahum?” tanya Rasulullah Saw kepada sahabat-sahabatnya.

Rasulullah kemudian menjelaskan, “Engkau damaikan yang bertengkar, menyambung persaudaraan yang terputus, mempertemukan kembali saudara-saudara yang terpisah, membejambatani berbagai kelompok dalam Islam, dan mengukuhkan ukhuwwah di antara mereka adalah amal shaleh yang besar pahalanya. Barangsiapa yang ingin dipanjangkan usianya dan dibanyakkan rizkinya hendaklah ia menyambung persaudaraan.”(HR. Bukhari dan Muslim).

Dalam konteks ini, bila kita menyikapi dan merenugi hadis tersebut, maka Islam telah lebih dahulu memberikan kunci bagi mereka yang ingin dipanjangkan usianya dan dibanyakkan rizkinya, yaitu dengan cara menyambung persaudaraan. Salah satu bentuk persaudaraan dalam dunia bisnis adalah dengan membangun jaringan bisnis secara Islami.

Di sini, dalam membangun suatu bisnis maka yang penting bagi kita adalah tidak keluar dari prinsip ekonomi Islam. Dalam ajaran ekonomi Islam disebutkan bahwa kekayaan merupakan amanah dari Allah dan tidak dapat dimiliki secara mutlak; manusia diberikan kebebasan untuk bermuamalah selama tidak melanggar ketentuan syariah; manusia merupakan khalifah dan pemakmur di muka bumi; penghapusan praktek riba; dan penolakan terhadap monopoli.

Selain itu, dalam melakukan bisnis, bagi umat Islam harus mengindahkan etika Islam yang berupa jujur, amanah, adil, profesional (ihsan), saling bekerjasama (ta’awun), sabar, dan tabah.

Oleh sebab itu, dalam membangun bisnis waralaba pun kita harus selalu berprinsip pada ekonomi Islam dan menjaganya dengan menerapkan etika bisnis secara islami. Dari sini, maka akan terlahir usaha untuk mempertimbangkan secara bijaksana dan cermat dalam menumbuhkan dan membangun jaringan bisnis waralaba.

Aspek Pertimbangan Bisnis

Dalam melakukan bisnis waralaba ini, menurut Rambat Lupiyoadi dan Jero wacik (1998), ada beberapa aspek yang harus dipertimbangkan dengan cermat. Pertama, organisasi dari perusahaan yang diberi hak. Di mana perusahaan pemberi hak biasanya masuk ke suatu negara dan mencari partner atau perusahaan yang ingin mendapatkan hak mereka. Lalu mereka akan berunding untuk menentukan bentuk organisasi apa yang layak dan cocok untuk pengembangan usaha yang akan dilakukan.

Kedua, modifikasi sistem operasi. Karena biasanya produk-produk yang dijual itu harus mengalami modifikasi karena kebutuhan dan culture (budaya) dari suatu negara berbeda dengan negara lainnya. Karena itu, antara pemberi dan penerima hak harus berkompromi dan berunding untuk menentukan modifikasi baik pada sistem operasi maupun produk yang akan dijual.

Ketiga, masalah perjanjian atau kontrak yang ada. Di mana pada saat penyusunan kontrak harus detail dan bentuknya kurang lebih sama dengan metode lisensi.

Lebih dari itu, yang jelas secara garis besar ada tiga masalah pokok dalam pemilihan bentuk usaha sebagaimana terlihat dari usulan yang telah diberikan, yaitu:

1. Motivasi usaha. Faktor-faktor yang harus dipertimbangkan dengan cermat menyangkut pengertian bentuk usaha yang akan dijalankan, kelompok usaha yang akan didirikan, maksud pendiriannya, perundingan pendirian dan kesepakatan pendirian usaha.

2. Efesiensi usaha. Faktor-faktor yang harus dipertimbangkan menyangkut pertanggung jawaban yang harus diberikan, fungsi manajemen dan kontrol yang harus diadakan, aspek formalitas, fleksibilitas dan permodalan yang harus dilaksanakan dengan baik dan benar.

3. Bentuk usaha yang dipilih. Di sini, tentu banyak ditentukan oleh jenis badan usaha tersebut, bentuk permodalan, tanggung jawab usaha, keanggotaan, pembagian laba, publikasi atas perkiraan tahunan, dll.

Akhirnya dengan mengetahui selek beluk bisnis usaha waralaba ini, diharapkan kita dapat berhati-hati dan bertindak secara maksimal dalam menerjuni bisnis ini. Wallahu’alam.***

Arda Dinata adalah pendiri Majelis Inspirasi Alquran dan Realitas Alam (MIQRA) Indonesia, http://www.miqra.blogspot.com.

 Bagaimana menurut Anda? Arda Dinata, pendiri Majelis Inspirasi Alquran dan Realitas Alam/ MIQRA Indonesia, www.miqraindonesia.com 
Oleh: ARDA DINATA

SAAT ini kebutuhan membangun kekuatan jaringan usaha perekonomian yang dikelola oleh umat Islam cukup mendesak. Salah satu bentuk usaha yang dapat dikembangkan adalah usaha waralaba. Usaha waralaba ini merupakan bentuk khusus dari lisensi di mana pemberi hak bukan hanya menjual haknya tetapi juga turut serta membentuk si penerima hak dalam melakukan bisnisnya.

Usaha waralaba ini tentu akan membentuk sebuah usaha yang bermanfaat bagi banyak orang. Pada dasarnya konsep bisnis waralaba ini dirancang guna memberikan kemudahan kepada masyarakat dalam menjalin kemitraan bisnis yang saling melindungi dan menguntungkan.
Dengan demikian, terlepas dari misi sosial, aspek bisnis waralaba menjadi pertimbangan kondisi masyarakat saat ini. Pasalnya, dari data yang dilansir oleh pemerintah, jumlah pengusaha kecil dan menengah itu mencapai 95 % dari keseluruhan pengusaha yang ada di Indonesia. Artinya bisnis waralaba ini masih sangat prospektus dengan dasar adanya potensi yang dapat diambil dari para pengusaha kecil dan menengah di negeri ini masih sangat besar, dan belum dioptimalisasi pemanfaatannya.

Konsep usaha waralaba ini didalamnya terkandung ajaran berupa terjalinnya silaturrahmi. Kita tahu, aktivitas silaturrahmi dalam ajaran Islam disebutkan sebagai aktivitas yang akan mendatangkan rahmat Allah yang tidak terkira. Keterangan berikut ini setidaknya dapat meyakinkan kita tentang hal itu.

“Maukah kalian aku tunjukkan amal yang lebih besar pahalanya daripada sholat dan sahum?” tanya Rasulullah Saw kepada sahabat-sahabatnya.

Rasulullah kemudian menjelaskan, “Engkau damaikan yang bertengkar, menyambung persaudaraan yang terputus, mempertemukan kembali saudara-saudara yang terpisah, membejambatani berbagai kelompok dalam Islam, dan mengukuhkan ukhuwwah di antara mereka adalah amal shaleh yang besar pahalanya. Barangsiapa yang ingin dipanjangkan usianya dan dibanyakkan rizkinya hendaklah ia menyambung persaudaraan.”(HR. Bukhari dan Muslim).

Dalam konteks ini, bila kita menyikapi dan merenugi hadis tersebut, maka Islam telah lebih dahulu memberikan kunci bagi mereka yang ingin dipanjangkan usianya dan dibanyakkan rizkinya, yaitu dengan cara menyambung persaudaraan. Salah satu bentuk persaudaraan dalam dunia bisnis adalah dengan membangun jaringan bisnis secara Islami.

Di sini, dalam membangun suatu bisnis maka yang penting bagi kita adalah tidak keluar dari prinsip ekonomi Islam. Dalam ajaran ekonomi Islam disebutkan bahwa kekayaan merupakan amanah dari Allah dan tidak dapat dimiliki secara mutlak; manusia diberikan kebebasan untuk bermuamalah selama tidak melanggar ketentuan syariah; manusia merupakan khalifah dan pemakmur di muka bumi; penghapusan praktek riba; dan penolakan terhadap monopoli.

Selain itu, dalam melakukan bisnis, bagi umat Islam harus mengindahkan etika Islam yang berupa jujur, amanah, adil, profesional (ihsan), saling bekerjasama (ta’awun), sabar, dan tabah.

Oleh sebab itu, dalam membangun bisnis waralaba pun kita harus selalu berprinsip pada ekonomi Islam dan menjaganya dengan menerapkan etika bisnis secara islami. Dari sini, maka akan terlahir usaha untuk mempertimbangkan secara bijaksana dan cermat dalam menumbuhkan dan membangun jaringan bisnis waralaba.

Aspek Pertimbangan Bisnis

Dalam melakukan bisnis waralaba ini, menurut Rambat Lupiyoadi dan Jero wacik (1998), ada beberapa aspek yang harus dipertimbangkan dengan cermat. Pertama, organisasi dari perusahaan yang diberi hak. Di mana perusahaan pemberi hak biasanya masuk ke suatu negara dan mencari partner atau perusahaan yang ingin mendapatkan hak mereka. Lalu mereka akan berunding untuk menentukan bentuk organisasi apa yang layak dan cocok untuk pengembangan usaha yang akan dilakukan.

Kedua, modifikasi sistem operasi. Karena biasanya produk-produk yang dijual itu harus mengalami modifikasi karena kebutuhan dan culture (budaya) dari suatu negara berbeda dengan negara lainnya. Karena itu, antara pemberi dan penerima hak harus berkompromi dan berunding untuk menentukan modifikasi baik pada sistem operasi maupun produk yang akan dijual.

Ketiga, masalah perjanjian atau kontrak yang ada. Di mana pada saat penyusunan kontrak harus detail dan bentuknya kurang lebih sama dengan metode lisensi.

Lebih dari itu, yang jelas secara garis besar ada tiga masalah pokok dalam pemilihan bentuk usaha sebagaimana terlihat dari usulan yang telah diberikan, yaitu:

1. Motivasi usaha. Faktor-faktor yang harus dipertimbangkan dengan cermat menyangkut pengertian bentuk usaha yang akan dijalankan, kelompok usaha yang akan didirikan, maksud pendiriannya, perundingan pendirian dan kesepakatan pendirian usaha.

2. Efesiensi usaha. Faktor-faktor yang harus dipertimbangkan menyangkut pertanggung jawaban yang harus diberikan, fungsi manajemen dan kontrol yang harus diadakan, aspek formalitas, fleksibilitas dan permodalan yang harus dilaksanakan dengan baik dan benar.

3. Bentuk usaha yang dipilih. Di sini, tentu banyak ditentukan oleh jenis badan usaha tersebut, bentuk permodalan, tanggung jawab usaha, keanggotaan, pembagian laba, publikasi atas perkiraan tahunan, dll.

Akhirnya dengan mengetahui selek beluk bisnis usaha waralaba ini, diharapkan kita dapat berhati-hati dan bertindak secara maksimal dalam menerjuni bisnis ini. Wallahu’alam.***

Arda Dinata adalah pendiri Majelis Inspirasi Alquran dan Realitas Alam (MIQRA) Indonesia, http://www.miqra.blogspot.com.

 Bagaimana menurut Anda? Arda Dinata, pendiri Majelis Inspirasi Alquran dan Realitas Alam/ MIQRA Indonesia, www.miqraindonesia.com 
Oleh: ARDA DINATA

SAAT ini kebutuhan membangun kekuatan jaringan usaha perekonomian yang dikelola oleh umat Islam cukup mendesak. Salah satu bentuk usaha yang dapat dikembangkan adalah usaha waralaba. Usaha waralaba ini merupakan bentuk khusus dari lisensi di mana pemberi hak bukan hanya menjual haknya tetapi juga turut serta membentuk si penerima hak dalam melakukan bisnisnya.

Usaha waralaba ini tentu akan membentuk sebuah usaha yang bermanfaat bagi banyak orang. Pada dasarnya konsep bisnis waralaba ini dirancang guna memberikan kemudahan kepada masyarakat dalam menjalin kemitraan bisnis yang saling melindungi dan menguntungkan.
Dengan demikian, terlepas dari misi sosial, aspek bisnis waralaba menjadi pertimbangan kondisi masyarakat saat ini. Pasalnya, dari data yang dilansir oleh pemerintah, jumlah pengusaha kecil dan menengah itu mencapai 95 % dari keseluruhan pengusaha yang ada di Indonesia. Artinya bisnis waralaba ini masih sangat prospektus dengan dasar adanya potensi yang dapat diambil dari para pengusaha kecil dan menengah di negeri ini masih sangat besar, dan belum dioptimalisasi pemanfaatannya.

Konsep usaha waralaba ini didalamnya terkandung ajaran berupa terjalinnya silaturrahmi. Kita tahu, aktivitas silaturrahmi dalam ajaran Islam disebutkan sebagai aktivitas yang akan mendatangkan rahmat Allah yang tidak terkira. Keterangan berikut ini setidaknya dapat meyakinkan kita tentang hal itu.

“Maukah kalian aku tunjukkan amal yang lebih besar pahalanya daripada sholat dan sahum?” tanya Rasulullah Saw kepada sahabat-sahabatnya.

Rasulullah kemudian menjelaskan, “Engkau damaikan yang bertengkar, menyambung persaudaraan yang terputus, mempertemukan kembali saudara-saudara yang terpisah, membejambatani berbagai kelompok dalam Islam, dan mengukuhkan ukhuwwah di antara mereka adalah amal shaleh yang besar pahalanya. Barangsiapa yang ingin dipanjangkan usianya dan dibanyakkan rizkinya hendaklah ia menyambung persaudaraan.”(HR. Bukhari dan Muslim).

Dalam konteks ini, bila kita menyikapi dan merenugi hadis tersebut, maka Islam telah lebih dahulu memberikan kunci bagi mereka yang ingin dipanjangkan usianya dan dibanyakkan rizkinya, yaitu dengan cara menyambung persaudaraan. Salah satu bentuk persaudaraan dalam dunia bisnis adalah dengan membangun jaringan bisnis secara Islami.

Di sini, dalam membangun suatu bisnis maka yang penting bagi kita adalah tidak keluar dari prinsip ekonomi Islam. Dalam ajaran ekonomi Islam disebutkan bahwa kekayaan merupakan amanah dari Allah dan tidak dapat dimiliki secara mutlak; manusia diberikan kebebasan untuk bermuamalah selama tidak melanggar ketentuan syariah; manusia merupakan khalifah dan pemakmur di muka bumi; penghapusan praktek riba; dan penolakan terhadap monopoli.

Selain itu, dalam melakukan bisnis, bagi umat Islam harus mengindahkan etika Islam yang berupa jujur, amanah, adil, profesional (ihsan), saling bekerjasama (ta’awun), sabar, dan tabah.

Oleh sebab itu, dalam membangun bisnis waralaba pun kita harus selalu berprinsip pada ekonomi Islam dan menjaganya dengan menerapkan etika bisnis secara islami. Dari sini, maka akan terlahir usaha untuk mempertimbangkan secara bijaksana dan cermat dalam menumbuhkan dan membangun jaringan bisnis waralaba.

Aspek Pertimbangan Bisnis

Dalam melakukan bisnis waralaba ini, menurut Rambat Lupiyoadi dan Jero wacik (1998), ada beberapa aspek yang harus dipertimbangkan dengan cermat. Pertama, organisasi dari perusahaan yang diberi hak. Di mana perusahaan pemberi hak biasanya masuk ke suatu negara dan mencari partner atau perusahaan yang ingin mendapatkan hak mereka. Lalu mereka akan berunding untuk menentukan bentuk organisasi apa yang layak dan cocok untuk pengembangan usaha yang akan dilakukan.

Kedua, modifikasi sistem operasi. Karena biasanya produk-produk yang dijual itu harus mengalami modifikasi karena kebutuhan dan culture (budaya) dari suatu negara berbeda dengan negara lainnya. Karena itu, antara pemberi dan penerima hak harus berkompromi dan berunding untuk menentukan modifikasi baik pada sistem operasi maupun produk yang akan dijual.

Ketiga, masalah perjanjian atau kontrak yang ada. Di mana pada saat penyusunan kontrak harus detail dan bentuknya kurang lebih sama dengan metode lisensi.

Lebih dari itu, yang jelas secara garis besar ada tiga masalah pokok dalam pemilihan bentuk usaha sebagaimana terlihat dari usulan yang telah diberikan, yaitu:

1. Motivasi usaha. Faktor-faktor yang harus dipertimbangkan dengan cermat menyangkut pengertian bentuk usaha yang akan dijalankan, kelompok usaha yang akan didirikan, maksud pendiriannya, perundingan pendirian dan kesepakatan pendirian usaha.

2. Efesiensi usaha. Faktor-faktor yang harus dipertimbangkan menyangkut pertanggung jawaban yang harus diberikan, fungsi manajemen dan kontrol yang harus diadakan, aspek formalitas, fleksibilitas dan permodalan yang harus dilaksanakan dengan baik dan benar.

3. Bentuk usaha yang dipilih. Di sini, tentu banyak ditentukan oleh jenis badan usaha tersebut, bentuk permodalan, tanggung jawab usaha, keanggotaan, pembagian laba, publikasi atas perkiraan tahunan, dll.

Akhirnya dengan mengetahui selek beluk bisnis usaha waralaba ini, diharapkan kita dapat berhati-hati dan bertindak secara maksimal dalam menerjuni bisnis ini. Wallahu’alam.***

Arda Dinata adalah pendiri Majelis Inspirasi Alquran dan Realitas Alam (MIQRA) Indonesia, http://www.miqra.blogspot.com.

 Bagaimana menurut Anda? Arda Dinata, pendiri Majelis Inspirasi Alquran dan Realitas Alam/ MIQRA Indonesia, www.miqraindonesia.com 
Oleh: ARDA DINATA

SAAT ini kebutuhan membangun kekuatan jaringan usaha perekonomian yang dikelola oleh umat Islam cukup mendesak. Salah satu bentuk usaha yang dapat dikembangkan adalah usaha waralaba. Usaha waralaba ini merupakan bentuk khusus dari lisensi di mana pemberi hak bukan hanya menjual haknya tetapi juga turut serta membentuk si penerima hak dalam melakukan bisnisnya.

Usaha waralaba ini tentu akan membentuk sebuah usaha yang bermanfaat bagi banyak orang. Pada dasarnya konsep bisnis waralaba ini dirancang guna memberikan kemudahan kepada masyarakat dalam menjalin kemitraan bisnis yang saling melindungi dan menguntungkan.
Dengan demikian, terlepas dari misi sosial, aspek bisnis waralaba menjadi pertimbangan kondisi masyarakat saat ini. Pasalnya, dari data yang dilansir oleh pemerintah, jumlah pengusaha kecil dan menengah itu mencapai 95 % dari keseluruhan pengusaha yang ada di Indonesia. Artinya bisnis waralaba ini masih sangat prospektus dengan dasar adanya potensi yang dapat diambil dari para pengusaha kecil dan menengah di negeri ini masih sangat besar, dan belum dioptimalisasi pemanfaatannya.

Konsep usaha waralaba ini didalamnya terkandung ajaran berupa terjalinnya silaturrahmi. Kita tahu, aktivitas silaturrahmi dalam ajaran Islam disebutkan sebagai aktivitas yang akan mendatangkan rahmat Allah yang tidak terkira. Keterangan berikut ini setidaknya dapat meyakinkan kita tentang hal itu.

“Maukah kalian aku tunjukkan amal yang lebih besar pahalanya daripada sholat dan sahum?” tanya Rasulullah Saw kepada sahabat-sahabatnya.

Rasulullah kemudian menjelaskan, “Engkau damaikan yang bertengkar, menyambung persaudaraan yang terputus, mempertemukan kembali saudara-saudara yang terpisah, membejambatani berbagai kelompok dalam Islam, dan mengukuhkan ukhuwwah di antara mereka adalah amal shaleh yang besar pahalanya. Barangsiapa yang ingin dipanjangkan usianya dan dibanyakkan rizkinya hendaklah ia menyambung persaudaraan.”(HR. Bukhari dan Muslim).

Dalam konteks ini, bila kita menyikapi dan merenugi hadis tersebut, maka Islam telah lebih dahulu memberikan kunci bagi mereka yang ingin dipanjangkan usianya dan dibanyakkan rizkinya, yaitu dengan cara menyambung persaudaraan. Salah satu bentuk persaudaraan dalam dunia bisnis adalah dengan membangun jaringan bisnis secara Islami.

Di sini, dalam membangun suatu bisnis maka yang penting bagi kita adalah tidak keluar dari prinsip ekonomi Islam. Dalam ajaran ekonomi Islam disebutkan bahwa kekayaan merupakan amanah dari Allah dan tidak dapat dimiliki secara mutlak; manusia diberikan kebebasan untuk bermuamalah selama tidak melanggar ketentuan syariah; manusia merupakan khalifah dan pemakmur di muka bumi; penghapusan praktek riba; dan penolakan terhadap monopoli.

Selain itu, dalam melakukan bisnis, bagi umat Islam harus mengindahkan etika Islam yang berupa jujur, amanah, adil, profesional (ihsan), saling bekerjasama (ta’awun), sabar, dan tabah.

Oleh sebab itu, dalam membangun bisnis waralaba pun kita harus selalu berprinsip pada ekonomi Islam dan menjaganya dengan menerapkan etika bisnis secara islami. Dari sini, maka akan terlahir usaha untuk mempertimbangkan secara bijaksana dan cermat dalam menumbuhkan dan membangun jaringan bisnis waralaba.

Aspek Pertimbangan Bisnis

Dalam melakukan bisnis waralaba ini, menurut Rambat Lupiyoadi dan Jero wacik (1998), ada beberapa aspek yang harus dipertimbangkan dengan cermat. Pertama, organisasi dari perusahaan yang diberi hak. Di mana perusahaan pemberi hak biasanya masuk ke suatu negara dan mencari partner atau perusahaan yang ingin mendapatkan hak mereka. Lalu mereka akan berunding untuk menentukan bentuk organisasi apa yang layak dan cocok untuk pengembangan usaha yang akan dilakukan.

Kedua, modifikasi sistem operasi. Karena biasanya produk-produk yang dijual itu harus mengalami modifikasi karena kebutuhan dan culture (budaya) dari suatu negara berbeda dengan negara lainnya. Karena itu, antara pemberi dan penerima hak harus berkompromi dan berunding untuk menentukan modifikasi baik pada sistem operasi maupun produk yang akan dijual.

Ketiga, masalah perjanjian atau kontrak yang ada. Di mana pada saat penyusunan kontrak harus detail dan bentuknya kurang lebih sama dengan metode lisensi.

Lebih dari itu, yang jelas secara garis besar ada tiga masalah pokok dalam pemilihan bentuk usaha sebagaimana terlihat dari usulan yang telah diberikan, yaitu:

1. Motivasi usaha. Faktor-faktor yang harus dipertimbangkan dengan cermat menyangkut pengertian bentuk usaha yang akan dijalankan, kelompok usaha yang akan didirikan, maksud pendiriannya, perundingan pendirian dan kesepakatan pendirian usaha.

2. Efesiensi usaha. Faktor-faktor yang harus dipertimbangkan menyangkut pertanggung jawaban yang harus diberikan, fungsi manajemen dan kontrol yang harus diadakan, aspek formalitas, fleksibilitas dan permodalan yang harus dilaksanakan dengan baik dan benar.

3. Bentuk usaha yang dipilih. Di sini, tentu banyak ditentukan oleh jenis badan usaha tersebut, bentuk permodalan, tanggung jawab usaha, keanggotaan, pembagian laba, publikasi atas perkiraan tahunan, dll.

Akhirnya dengan mengetahui selek beluk bisnis usaha waralaba ini, diharapkan kita dapat berhati-hati dan bertindak secara maksimal dalam menerjuni bisnis ini. Wallahu’alam.***

Arda Dinata adalah pendiri Majelis Inspirasi Alquran dan Realitas Alam (MIQRA) Indonesia, http://www.miqra.blogspot.com.

 Bagaimana menurut Anda? Arda Dinata, pendiri Majelis Inspirasi Alquran dan Realitas Alam/ MIQRA Indonesia, www.miqraindonesia.com 
Oleh: ARDA DINATA

SAAT ini kebutuhan membangun kekuatan jaringan usaha perekonomian yang dikelola oleh umat Islam cukup mendesak. Salah satu bentuk usaha yang dapat dikembangkan adalah usaha waralaba. Usaha waralaba ini merupakan bentuk khusus dari lisensi di mana pemberi hak bukan hanya menjual haknya tetapi juga turut serta membentuk si penerima hak dalam melakukan bisnisnya.

Usaha waralaba ini tentu akan membentuk sebuah usaha yang bermanfaat bagi banyak orang. Pada dasarnya konsep bisnis waralaba ini dirancang guna memberikan kemudahan kepada masyarakat dalam menjalin kemitraan bisnis yang saling melindungi dan menguntungkan.
Dengan demikian, terlepas dari misi sosial, aspek bisnis waralaba menjadi pertimbangan kondisi masyarakat saat ini. Pasalnya, dari data yang dilansir oleh pemerintah, jumlah pengusaha kecil dan menengah itu mencapai 95 % dari keseluruhan pengusaha yang ada di Indonesia. Artinya bisnis waralaba ini masih sangat prospektus dengan dasar adanya potensi yang dapat diambil dari para pengusaha kecil dan menengah di negeri ini masih sangat besar, dan belum dioptimalisasi pemanfaatannya.

Konsep usaha waralaba ini didalamnya terkandung ajaran berupa terjalinnya silaturrahmi. Kita tahu, aktivitas silaturrahmi dalam ajaran Islam disebutkan sebagai aktivitas yang akan mendatangkan rahmat Allah yang tidak terkira. Keterangan berikut ini setidaknya dapat meyakinkan kita tentang hal itu.

“Maukah kalian aku tunjukkan amal yang lebih besar pahalanya daripada sholat dan sahum?” tanya Rasulullah Saw kepada sahabat-sahabatnya.

Rasulullah kemudian menjelaskan, “Engkau damaikan yang bertengkar, menyambung persaudaraan yang terputus, mempertemukan kembali saudara-saudara yang terpisah, membejambatani berbagai kelompok dalam Islam, dan mengukuhkan ukhuwwah di antara mereka adalah amal shaleh yang besar pahalanya. Barangsiapa yang ingin dipanjangkan usianya dan dibanyakkan rizkinya hendaklah ia menyambung persaudaraan.”(HR. Bukhari dan Muslim).

Dalam konteks ini, bila kita menyikapi dan merenugi hadis tersebut, maka Islam telah lebih dahulu memberikan kunci bagi mereka yang ingin dipanjangkan usianya dan dibanyakkan rizkinya, yaitu dengan cara menyambung persaudaraan. Salah satu bentuk persaudaraan dalam dunia bisnis adalah dengan membangun jaringan bisnis secara Islami.

Di sini, dalam membangun suatu bisnis maka yang penting bagi kita adalah tidak keluar dari prinsip ekonomi Islam. Dalam ajaran ekonomi Islam disebutkan bahwa kekayaan merupakan amanah dari Allah dan tidak dapat dimiliki secara mutlak; manusia diberikan kebebasan untuk bermuamalah selama tidak melanggar ketentuan syariah; manusia merupakan khalifah dan pemakmur di muka bumi; penghapusan praktek riba; dan penolakan terhadap monopoli.

Selain itu, dalam melakukan bisnis, bagi umat Islam harus mengindahkan etika Islam yang berupa jujur, amanah, adil, profesional (ihsan), saling bekerjasama (ta’awun), sabar, dan tabah.

Oleh sebab itu, dalam membangun bisnis waralaba pun kita harus selalu berprinsip pada ekonomi Islam dan menjaganya dengan menerapkan etika bisnis secara islami. Dari sini, maka akan terlahir usaha untuk mempertimbangkan secara bijaksana dan cermat dalam menumbuhkan dan membangun jaringan bisnis waralaba.

Aspek Pertimbangan Bisnis

Dalam melakukan bisnis waralaba ini, menurut Rambat Lupiyoadi dan Jero wacik (1998), ada beberapa aspek yang harus dipertimbangkan dengan cermat. Pertama, organisasi dari perusahaan yang diberi hak. Di mana perusahaan pemberi hak biasanya masuk ke suatu negara dan mencari partner atau perusahaan yang ingin mendapatkan hak mereka. Lalu mereka akan berunding untuk menentukan bentuk organisasi apa yang layak dan cocok untuk pengembangan usaha yang akan dilakukan.

Kedua, modifikasi sistem operasi. Karena biasanya produk-produk yang dijual itu harus mengalami modifikasi karena kebutuhan dan culture (budaya) dari suatu negara berbeda dengan negara lainnya. Karena itu, antara pemberi dan penerima hak harus berkompromi dan berunding untuk menentukan modifikasi baik pada sistem operasi maupun produk yang akan dijual.

Ketiga, masalah perjanjian atau kontrak yang ada. Di mana pada saat penyusunan kontrak harus detail dan bentuknya kurang lebih sama dengan metode lisensi.

Lebih dari itu, yang jelas secara garis besar ada tiga masalah pokok dalam pemilihan bentuk usaha sebagaimana terlihat dari usulan yang telah diberikan, yaitu:

1. Motivasi usaha. Faktor-faktor yang harus dipertimbangkan dengan cermat menyangkut pengertian bentuk usaha yang akan dijalankan, kelompok usaha yang akan didirikan, maksud pendiriannya, perundingan pendirian dan kesepakatan pendirian usaha.

2. Efesiensi usaha. Faktor-faktor yang harus dipertimbangkan menyangkut pertanggung jawaban yang harus diberikan, fungsi manajemen dan kontrol yang harus diadakan, aspek formalitas, fleksibilitas dan permodalan yang harus dilaksanakan dengan baik dan benar.

3. Bentuk usaha yang dipilih. Di sini, tentu banyak ditentukan oleh jenis badan usaha tersebut, bentuk permodalan, tanggung jawab usaha, keanggotaan, pembagian laba, publikasi atas perkiraan tahunan, dll.

Akhirnya dengan mengetahui selek beluk bisnis usaha waralaba ini, diharapkan kita dapat berhati-hati dan bertindak secara maksimal dalam menerjuni bisnis ini. Wallahu’alam.***

Arda Dinata adalah pendiri Majelis Inspirasi Alquran dan Realitas Alam (MIQRA) Indonesia, http://www.miqra.blogspot.com.

 Bagaimana menurut Anda? Arda Dinata, pendiri Majelis Inspirasi Alquran dan Realitas Alam/ MIQRA Indonesia, www.miqraindonesia.com 
Oleh: ARDA DINATA

SAAT ini kebutuhan membangun kekuatan jaringan usaha perekonomian yang dikelola oleh umat Islam cukup mendesak. Salah satu bentuk usaha yang dapat dikembangkan adalah usaha waralaba. Usaha waralaba ini merupakan bentuk khusus dari lisensi di mana pemberi hak bukan hanya menjual haknya tetapi juga turut serta membentuk si penerima hak dalam melakukan bisnisnya.

Usaha waralaba ini tentu akan membentuk sebuah usaha yang bermanfaat bagi banyak orang. Pada dasarnya konsep bisnis waralaba ini dirancang guna memberikan kemudahan kepada masyarakat dalam menjalin kemitraan bisnis yang saling melindungi dan menguntungkan.
Dengan demikian, terlepas dari misi sosial, aspek bisnis waralaba menjadi pertimbangan kondisi masyarakat saat ini. Pasalnya, dari data yang dilansir oleh pemerintah, jumlah pengusaha kecil dan menengah itu mencapai 95 % dari keseluruhan pengusaha yang ada di Indonesia. Artinya bisnis waralaba ini masih sangat prospektus dengan dasar adanya potensi yang dapat diambil dari para pengusaha kecil dan menengah di negeri ini masih sangat besar, dan belum dioptimalisasi pemanfaatannya.

Konsep usaha waralaba ini didalamnya terkandung ajaran berupa terjalinnya silaturrahmi. Kita tahu, aktivitas silaturrahmi dalam ajaran Islam disebutkan sebagai aktivitas yang akan mendatangkan rahmat Allah yang tidak terkira. Keterangan berikut ini setidaknya dapat meyakinkan kita tentang hal itu.

“Maukah kalian aku tunjukkan amal yang lebih besar pahalanya daripada sholat dan sahum?” tanya Rasulullah Saw kepada sahabat-sahabatnya.

Rasulullah kemudian menjelaskan, “Engkau damaikan yang bertengkar, menyambung persaudaraan yang terputus, mempertemukan kembali saudara-saudara yang terpisah, membejambatani berbagai kelompok dalam Islam, dan mengukuhkan ukhuwwah di antara mereka adalah amal shaleh yang besar pahalanya. Barangsiapa yang ingin dipanjangkan usianya dan dibanyakkan rizkinya hendaklah ia menyambung persaudaraan.”(HR. Bukhari dan Muslim).

Dalam konteks ini, bila kita menyikapi dan merenugi hadis tersebut, maka Islam telah lebih dahulu memberikan kunci bagi mereka yang ingin dipanjangkan usianya dan dibanyakkan rizkinya, yaitu dengan cara menyambung persaudaraan. Salah satu bentuk persaudaraan dalam dunia bisnis adalah dengan membangun jaringan bisnis secara Islami.

Di sini, dalam membangun suatu bisnis maka yang penting bagi kita adalah tidak keluar dari prinsip ekonomi Islam. Dalam ajaran ekonomi Islam disebutkan bahwa kekayaan merupakan amanah dari Allah dan tidak dapat dimiliki secara mutlak; manusia diberikan kebebasan untuk bermuamalah selama tidak melanggar ketentuan syariah; manusia merupakan khalifah dan pemakmur di muka bumi; penghapusan praktek riba; dan penolakan terhadap monopoli.

Selain itu, dalam melakukan bisnis, bagi umat Islam harus mengindahkan etika Islam yang berupa jujur, amanah, adil, profesional (ihsan), saling bekerjasama (ta’awun), sabar, dan tabah.

Oleh sebab itu, dalam membangun bisnis waralaba pun kita harus selalu berprinsip pada ekonomi Islam dan menjaganya dengan menerapkan etika bisnis secara islami. Dari sini, maka akan terlahir usaha untuk mempertimbangkan secara bijaksana dan cermat dalam menumbuhkan dan membangun jaringan bisnis waralaba.

Aspek Pertimbangan Bisnis

Dalam melakukan bisnis waralaba ini, menurut Rambat Lupiyoadi dan Jero wacik (1998), ada beberapa aspek yang harus dipertimbangkan dengan cermat. Pertama, organisasi dari perusahaan yang diberi hak. Di mana perusahaan pemberi hak biasanya masuk ke suatu negara dan mencari partner atau perusahaan yang ingin mendapatkan hak mereka. Lalu mereka akan berunding untuk menentukan bentuk organisasi apa yang layak dan cocok untuk pengembangan usaha yang akan dilakukan.

Kedua, modifikasi sistem operasi. Karena biasanya produk-produk yang dijual itu harus mengalami modifikasi karena kebutuhan dan culture (budaya) dari suatu negara berbeda dengan negara lainnya. Karena itu, antara pemberi dan penerima hak harus berkompromi dan berunding untuk menentukan modifikasi baik pada sistem operasi maupun produk yang akan dijual.

Ketiga, masalah perjanjian atau kontrak yang ada. Di mana pada saat penyusunan kontrak harus detail dan bentuknya kurang lebih sama dengan metode lisensi.

Lebih dari itu, yang jelas secara garis besar ada tiga masalah pokok dalam pemilihan bentuk usaha sebagaimana terlihat dari usulan yang telah diberikan, yaitu:

1. Motivasi usaha. Faktor-faktor yang harus dipertimbangkan dengan cermat menyangkut pengertian bentuk usaha yang akan dijalankan, kelompok usaha yang akan didirikan, maksud pendiriannya, perundingan pendirian dan kesepakatan pendirian usaha.

2. Efesiensi usaha. Faktor-faktor yang harus dipertimbangkan menyangkut pertanggung jawaban yang harus diberikan, fungsi manajemen dan kontrol yang harus diadakan, aspek formalitas, fleksibilitas dan permodalan yang harus dilaksanakan dengan baik dan benar.

3. Bentuk usaha yang dipilih. Di sini, tentu banyak ditentukan oleh jenis badan usaha tersebut, bentuk permodalan, tanggung jawab usaha, keanggotaan, pembagian laba, publikasi atas perkiraan tahunan, dll.

Akhirnya dengan mengetahui selek beluk bisnis usaha waralaba ini, diharapkan kita dapat berhati-hati dan bertindak secara maksimal dalam menerjuni bisnis ini. Wallahu’alam.***

Arda Dinata adalah pendiri Majelis Inspirasi Alquran dan Realitas Alam (MIQRA) Indonesia, http://www.miqra.blogspot.com.

 Bagaimana menurut Anda? Arda Dinata, pendiri Majelis Inspirasi Alquran dan Realitas Alam/ MIQRA Indonesia, www.miqraindonesia.com 
Menulis Bagai Cermin
Lihat Detail

Menulis Bagai Cermin


Menulis Bagai Cermin

By. Arda Dinata



KETIKA cermin saja bisa menulis, maka Anda pun sangat bisa menulis. Apa yang Anda lihat ketika bercermin? Yup, sosok diri kita akan terlihat pada cermin. Dengan kata lain, cermin mampu membaca detail setiap benda atau mahluk hidup yang ada di hadapannya. Cermin ini, tentu mampu menguraikan apa saja yang terekamnya melalui bahasa gambar yang dipahaminya.

Manusia dengan akal dan fikirannya, serta segala kelebihannya, tentu akan mampu lebih dasyat lagi dalam menuliskan sesuatu dalam hidupnya. Lalu, apa hubunganya antara cermin dan menulis? 

http://www.miqrajurnalistik.blogspot.com/2013/03/menulis-bagai-cermin.htm 

Penulis itu tidak ubahnya ibarat sebuah cermin. Ia mampu dan tidak ragu-ragu untuk menuliskan apa pun yang pernah dilihat, dirasakan, dan didengarnya dalam sebuah tulisan. Arti lainnya, menulis itu sesungguhnya tinggal memindahkan apa-apa yang ada dalam pikiran kita. Teori sukses menulis, tidak lain adalah menulis itu sendiri. Sehingga sehebat apapun Anda menguasi teori menulis, dan tanpa Anda melakukan kegiatan menulis maka sesungguhnya Anda bukanlah seorang penulis. Menulis adalah bukan bermain teori, tapi mempraktekannya. Hanya orang-orang yang praktek menulislah, ia akan jadi seorang menulis. Jadi, menulislah dalam praktek keseharian. Tidak hanya pada ranah ingin, ingin, dan pengen menulis saja tanpa Anda pernah (praktek) menulis.

Menulis itu sangat mudah. Dan bukan malah sebaliknya mempersulit diri Anda. Menulis itu, semudah Anda melakukan kegiatan melihat dan mendengar dalam kehidupan sehari-hari. Cuman masalahnya, banyak di antara kita yang terbelenggu oleh bayang-bayang ketidakbisaan diri sendiri. Jadi, menulislah sekarang juga. Menulis apa saja yang Anda inginkan dan pikirkan. Karena diri Andalah yang memiliki tulisan Anda. 

Tulis apa saja yang Anda mau tulis. Bisa berupa surat, puisi, buku harian, unek-unek, opini, komentar, nasehat, ringkasan, atau apa saja, dan bahkan khayalan sekalipun boleh-boleh saja Anda menuliskannya. Intinya, menulis jangan dipersulit. Menulis kok dipersulit? Bagaimana kata dunia. Kasihan diri Anda, orang hidup ini saja sudah sulit, lalu kenapa Anda harus mempersulit juga dalam bidang tulis menulis?

Sebagai akhir catatan ini, kalau kita mau jujur, pada hakekatnya tulisan itu tak ubahnya seperti cermin yang memantulkan banyak realitas yang ada di hadapannya. Dan di hadapan diri Anda pun sungguh banyak sekali yang bisa kita sampaikan lewat bahasa tulisan. Anda berminta menulis, cobalah menulis seperti cermin yang mampu merekam sisi kehidupan yang ada di hadapannya. 

Jadi, Anda pun sangat layak menjadi penulis sesuai zamannya. Itu pun, bila Anda mau?
Salam inspirasi sukses menulis.
Bagaimana menurut sahabat?

Pangandaran, 04/03/2013
@ardadinata

Arda Dinata, pendiri Majelis Inspirasi Alquran dan Realitas Alam/ MIQRA Indonesia, www.miqraindonesia.com 

Menulis Bagai Cermin

By. Arda Dinata



KETIKA cermin saja bisa menulis, maka Anda pun sangat bisa menulis. Apa yang Anda lihat ketika bercermin? Yup, sosok diri kita akan terlihat pada cermin. Dengan kata lain, cermin mampu membaca detail setiap benda atau mahluk hidup yang ada di hadapannya. Cermin ini, tentu mampu menguraikan apa saja yang terekamnya melalui bahasa gambar yang dipahaminya.

Manusia dengan akal dan fikirannya, serta segala kelebihannya, tentu akan mampu lebih dasyat lagi dalam menuliskan sesuatu dalam hidupnya. Lalu, apa hubunganya antara cermin dan menulis? 

http://www.miqrajurnalistik.blogspot.com/2013/03/menulis-bagai-cermin.htm 

Penulis itu tidak ubahnya ibarat sebuah cermin. Ia mampu dan tidak ragu-ragu untuk menuliskan apa pun yang pernah dilihat, dirasakan, dan didengarnya dalam sebuah tulisan. Arti lainnya, menulis itu sesungguhnya tinggal memindahkan apa-apa yang ada dalam pikiran kita. Teori sukses menulis, tidak lain adalah menulis itu sendiri. Sehingga sehebat apapun Anda menguasi teori menulis, dan tanpa Anda melakukan kegiatan menulis maka sesungguhnya Anda bukanlah seorang penulis. Menulis adalah bukan bermain teori, tapi mempraktekannya. Hanya orang-orang yang praktek menulislah, ia akan jadi seorang menulis. Jadi, menulislah dalam praktek keseharian. Tidak hanya pada ranah ingin, ingin, dan pengen menulis saja tanpa Anda pernah (praktek) menulis.

Menulis itu sangat mudah. Dan bukan malah sebaliknya mempersulit diri Anda. Menulis itu, semudah Anda melakukan kegiatan melihat dan mendengar dalam kehidupan sehari-hari. Cuman masalahnya, banyak di antara kita yang terbelenggu oleh bayang-bayang ketidakbisaan diri sendiri. Jadi, menulislah sekarang juga. Menulis apa saja yang Anda inginkan dan pikirkan. Karena diri Andalah yang memiliki tulisan Anda. 

Tulis apa saja yang Anda mau tulis. Bisa berupa surat, puisi, buku harian, unek-unek, opini, komentar, nasehat, ringkasan, atau apa saja, dan bahkan khayalan sekalipun boleh-boleh saja Anda menuliskannya. Intinya, menulis jangan dipersulit. Menulis kok dipersulit? Bagaimana kata dunia. Kasihan diri Anda, orang hidup ini saja sudah sulit, lalu kenapa Anda harus mempersulit juga dalam bidang tulis menulis?

Sebagai akhir catatan ini, kalau kita mau jujur, pada hakekatnya tulisan itu tak ubahnya seperti cermin yang memantulkan banyak realitas yang ada di hadapannya. Dan di hadapan diri Anda pun sungguh banyak sekali yang bisa kita sampaikan lewat bahasa tulisan. Anda berminta menulis, cobalah menulis seperti cermin yang mampu merekam sisi kehidupan yang ada di hadapannya. 

Jadi, Anda pun sangat layak menjadi penulis sesuai zamannya. Itu pun, bila Anda mau?
Salam inspirasi sukses menulis.
Bagaimana menurut sahabat?

Pangandaran, 04/03/2013
@ardadinata

Arda Dinata, pendiri Majelis Inspirasi Alquran dan Realitas Alam/ MIQRA Indonesia, www.miqraindonesia.com 

Menulis Bagai Cermin

By. Arda Dinata



KETIKA cermin saja bisa menulis, maka Anda pun sangat bisa menulis. Apa yang Anda lihat ketika bercermin? Yup, sosok diri kita akan terlihat pada cermin. Dengan kata lain, cermin mampu membaca detail setiap benda atau mahluk hidup yang ada di hadapannya. Cermin ini, tentu mampu menguraikan apa saja yang terekamnya melalui bahasa gambar yang dipahaminya.

Manusia dengan akal dan fikirannya, serta segala kelebihannya, tentu akan mampu lebih dasyat lagi dalam menuliskan sesuatu dalam hidupnya. Lalu, apa hubunganya antara cermin dan menulis? 

http://www.miqrajurnalistik.blogspot.com/2013/03/menulis-bagai-cermin.htm 

Penulis itu tidak ubahnya ibarat sebuah cermin. Ia mampu dan tidak ragu-ragu untuk menuliskan apa pun yang pernah dilihat, dirasakan, dan didengarnya dalam sebuah tulisan. Arti lainnya, menulis itu sesungguhnya tinggal memindahkan apa-apa yang ada dalam pikiran kita. Teori sukses menulis, tidak lain adalah menulis itu sendiri. Sehingga sehebat apapun Anda menguasi teori menulis, dan tanpa Anda melakukan kegiatan menulis maka sesungguhnya Anda bukanlah seorang penulis. Menulis adalah bukan bermain teori, tapi mempraktekannya. Hanya orang-orang yang praktek menulislah, ia akan jadi seorang menulis. Jadi, menulislah dalam praktek keseharian. Tidak hanya pada ranah ingin, ingin, dan pengen menulis saja tanpa Anda pernah (praktek) menulis.

Menulis itu sangat mudah. Dan bukan malah sebaliknya mempersulit diri Anda. Menulis itu, semudah Anda melakukan kegiatan melihat dan mendengar dalam kehidupan sehari-hari. Cuman masalahnya, banyak di antara kita yang terbelenggu oleh bayang-bayang ketidakbisaan diri sendiri. Jadi, menulislah sekarang juga. Menulis apa saja yang Anda inginkan dan pikirkan. Karena diri Andalah yang memiliki tulisan Anda. 

Tulis apa saja yang Anda mau tulis. Bisa berupa surat, puisi, buku harian, unek-unek, opini, komentar, nasehat, ringkasan, atau apa saja, dan bahkan khayalan sekalipun boleh-boleh saja Anda menuliskannya. Intinya, menulis jangan dipersulit. Menulis kok dipersulit? Bagaimana kata dunia. Kasihan diri Anda, orang hidup ini saja sudah sulit, lalu kenapa Anda harus mempersulit juga dalam bidang tulis menulis?

Sebagai akhir catatan ini, kalau kita mau jujur, pada hakekatnya tulisan itu tak ubahnya seperti cermin yang memantulkan banyak realitas yang ada di hadapannya. Dan di hadapan diri Anda pun sungguh banyak sekali yang bisa kita sampaikan lewat bahasa tulisan. Anda berminta menulis, cobalah menulis seperti cermin yang mampu merekam sisi kehidupan yang ada di hadapannya. 

Jadi, Anda pun sangat layak menjadi penulis sesuai zamannya. Itu pun, bila Anda mau?
Salam inspirasi sukses menulis.
Bagaimana menurut sahabat?

Pangandaran, 04/03/2013
@ardadinata

Arda Dinata, pendiri Majelis Inspirasi Alquran dan Realitas Alam/ MIQRA Indonesia, www.miqraindonesia.com 

Menulis Bagai Cermin

By. Arda Dinata



KETIKA cermin saja bisa menulis, maka Anda pun sangat bisa menulis. Apa yang Anda lihat ketika bercermin? Yup, sosok diri kita akan terlihat pada cermin. Dengan kata lain, cermin mampu membaca detail setiap benda atau mahluk hidup yang ada di hadapannya. Cermin ini, tentu mampu menguraikan apa saja yang terekamnya melalui bahasa gambar yang dipahaminya.

Manusia dengan akal dan fikirannya, serta segala kelebihannya, tentu akan mampu lebih dasyat lagi dalam menuliskan sesuatu dalam hidupnya. Lalu, apa hubunganya antara cermin dan menulis? 

http://www.miqrajurnalistik.blogspot.com/2013/03/menulis-bagai-cermin.htm 

Penulis itu tidak ubahnya ibarat sebuah cermin. Ia mampu dan tidak ragu-ragu untuk menuliskan apa pun yang pernah dilihat, dirasakan, dan didengarnya dalam sebuah tulisan. Arti lainnya, menulis itu sesungguhnya tinggal memindahkan apa-apa yang ada dalam pikiran kita. Teori sukses menulis, tidak lain adalah menulis itu sendiri. Sehingga sehebat apapun Anda menguasi teori menulis, dan tanpa Anda melakukan kegiatan menulis maka sesungguhnya Anda bukanlah seorang penulis. Menulis adalah bukan bermain teori, tapi mempraktekannya. Hanya orang-orang yang praktek menulislah, ia akan jadi seorang menulis. Jadi, menulislah dalam praktek keseharian. Tidak hanya pada ranah ingin, ingin, dan pengen menulis saja tanpa Anda pernah (praktek) menulis.

Menulis itu sangat mudah. Dan bukan malah sebaliknya mempersulit diri Anda. Menulis itu, semudah Anda melakukan kegiatan melihat dan mendengar dalam kehidupan sehari-hari. Cuman masalahnya, banyak di antara kita yang terbelenggu oleh bayang-bayang ketidakbisaan diri sendiri. Jadi, menulislah sekarang juga. Menulis apa saja yang Anda inginkan dan pikirkan. Karena diri Andalah yang memiliki tulisan Anda. 

Tulis apa saja yang Anda mau tulis. Bisa berupa surat, puisi, buku harian, unek-unek, opini, komentar, nasehat, ringkasan, atau apa saja, dan bahkan khayalan sekalipun boleh-boleh saja Anda menuliskannya. Intinya, menulis jangan dipersulit. Menulis kok dipersulit? Bagaimana kata dunia. Kasihan diri Anda, orang hidup ini saja sudah sulit, lalu kenapa Anda harus mempersulit juga dalam bidang tulis menulis?

Sebagai akhir catatan ini, kalau kita mau jujur, pada hakekatnya tulisan itu tak ubahnya seperti cermin yang memantulkan banyak realitas yang ada di hadapannya. Dan di hadapan diri Anda pun sungguh banyak sekali yang bisa kita sampaikan lewat bahasa tulisan. Anda berminta menulis, cobalah menulis seperti cermin yang mampu merekam sisi kehidupan yang ada di hadapannya. 

Jadi, Anda pun sangat layak menjadi penulis sesuai zamannya. Itu pun, bila Anda mau?
Salam inspirasi sukses menulis.
Bagaimana menurut sahabat?

Pangandaran, 04/03/2013
@ardadinata

Arda Dinata, pendiri Majelis Inspirasi Alquran dan Realitas Alam/ MIQRA Indonesia, www.miqraindonesia.com 

Menulis Bagai Cermin

By. Arda Dinata



KETIKA cermin saja bisa menulis, maka Anda pun sangat bisa menulis. Apa yang Anda lihat ketika bercermin? Yup, sosok diri kita akan terlihat pada cermin. Dengan kata lain, cermin mampu membaca detail setiap benda atau mahluk hidup yang ada di hadapannya. Cermin ini, tentu mampu menguraikan apa saja yang terekamnya melalui bahasa gambar yang dipahaminya.

Manusia dengan akal dan fikirannya, serta segala kelebihannya, tentu akan mampu lebih dasyat lagi dalam menuliskan sesuatu dalam hidupnya. Lalu, apa hubunganya antara cermin dan menulis? 

http://www.miqrajurnalistik.blogspot.com/2013/03/menulis-bagai-cermin.htm 

Penulis itu tidak ubahnya ibarat sebuah cermin. Ia mampu dan tidak ragu-ragu untuk menuliskan apa pun yang pernah dilihat, dirasakan, dan didengarnya dalam sebuah tulisan. Arti lainnya, menulis itu sesungguhnya tinggal memindahkan apa-apa yang ada dalam pikiran kita. Teori sukses menulis, tidak lain adalah menulis itu sendiri. Sehingga sehebat apapun Anda menguasi teori menulis, dan tanpa Anda melakukan kegiatan menulis maka sesungguhnya Anda bukanlah seorang penulis. Menulis adalah bukan bermain teori, tapi mempraktekannya. Hanya orang-orang yang praktek menulislah, ia akan jadi seorang menulis. Jadi, menulislah dalam praktek keseharian. Tidak hanya pada ranah ingin, ingin, dan pengen menulis saja tanpa Anda pernah (praktek) menulis.

Menulis itu sangat mudah. Dan bukan malah sebaliknya mempersulit diri Anda. Menulis itu, semudah Anda melakukan kegiatan melihat dan mendengar dalam kehidupan sehari-hari. Cuman masalahnya, banyak di antara kita yang terbelenggu oleh bayang-bayang ketidakbisaan diri sendiri. Jadi, menulislah sekarang juga. Menulis apa saja yang Anda inginkan dan pikirkan. Karena diri Andalah yang memiliki tulisan Anda. 

Tulis apa saja yang Anda mau tulis. Bisa berupa surat, puisi, buku harian, unek-unek, opini, komentar, nasehat, ringkasan, atau apa saja, dan bahkan khayalan sekalipun boleh-boleh saja Anda menuliskannya. Intinya, menulis jangan dipersulit. Menulis kok dipersulit? Bagaimana kata dunia. Kasihan diri Anda, orang hidup ini saja sudah sulit, lalu kenapa Anda harus mempersulit juga dalam bidang tulis menulis?

Sebagai akhir catatan ini, kalau kita mau jujur, pada hakekatnya tulisan itu tak ubahnya seperti cermin yang memantulkan banyak realitas yang ada di hadapannya. Dan di hadapan diri Anda pun sungguh banyak sekali yang bisa kita sampaikan lewat bahasa tulisan. Anda berminta menulis, cobalah menulis seperti cermin yang mampu merekam sisi kehidupan yang ada di hadapannya. 

Jadi, Anda pun sangat layak menjadi penulis sesuai zamannya. Itu pun, bila Anda mau?
Salam inspirasi sukses menulis.
Bagaimana menurut sahabat?

Pangandaran, 04/03/2013
@ardadinata

Arda Dinata, pendiri Majelis Inspirasi Alquran dan Realitas Alam/ MIQRA Indonesia, www.miqraindonesia.com 

Menulis Bagai Cermin

By. Arda Dinata



KETIKA cermin saja bisa menulis, maka Anda pun sangat bisa menulis. Apa yang Anda lihat ketika bercermin? Yup, sosok diri kita akan terlihat pada cermin. Dengan kata lain, cermin mampu membaca detail setiap benda atau mahluk hidup yang ada di hadapannya. Cermin ini, tentu mampu menguraikan apa saja yang terekamnya melalui bahasa gambar yang dipahaminya.

Manusia dengan akal dan fikirannya, serta segala kelebihannya, tentu akan mampu lebih dasyat lagi dalam menuliskan sesuatu dalam hidupnya. Lalu, apa hubunganya antara cermin dan menulis? 

http://www.miqrajurnalistik.blogspot.com/2013/03/menulis-bagai-cermin.htm 

Penulis itu tidak ubahnya ibarat sebuah cermin. Ia mampu dan tidak ragu-ragu untuk menuliskan apa pun yang pernah dilihat, dirasakan, dan didengarnya dalam sebuah tulisan. Arti lainnya, menulis itu sesungguhnya tinggal memindahkan apa-apa yang ada dalam pikiran kita. Teori sukses menulis, tidak lain adalah menulis itu sendiri. Sehingga sehebat apapun Anda menguasi teori menulis, dan tanpa Anda melakukan kegiatan menulis maka sesungguhnya Anda bukanlah seorang penulis. Menulis adalah bukan bermain teori, tapi mempraktekannya. Hanya orang-orang yang praktek menulislah, ia akan jadi seorang menulis. Jadi, menulislah dalam praktek keseharian. Tidak hanya pada ranah ingin, ingin, dan pengen menulis saja tanpa Anda pernah (praktek) menulis.

Menulis itu sangat mudah. Dan bukan malah sebaliknya mempersulit diri Anda. Menulis itu, semudah Anda melakukan kegiatan melihat dan mendengar dalam kehidupan sehari-hari. Cuman masalahnya, banyak di antara kita yang terbelenggu oleh bayang-bayang ketidakbisaan diri sendiri. Jadi, menulislah sekarang juga. Menulis apa saja yang Anda inginkan dan pikirkan. Karena diri Andalah yang memiliki tulisan Anda. 

Tulis apa saja yang Anda mau tulis. Bisa berupa surat, puisi, buku harian, unek-unek, opini, komentar, nasehat, ringkasan, atau apa saja, dan bahkan khayalan sekalipun boleh-boleh saja Anda menuliskannya. Intinya, menulis jangan dipersulit. Menulis kok dipersulit? Bagaimana kata dunia. Kasihan diri Anda, orang hidup ini saja sudah sulit, lalu kenapa Anda harus mempersulit juga dalam bidang tulis menulis?

Sebagai akhir catatan ini, kalau kita mau jujur, pada hakekatnya tulisan itu tak ubahnya seperti cermin yang memantulkan banyak realitas yang ada di hadapannya. Dan di hadapan diri Anda pun sungguh banyak sekali yang bisa kita sampaikan lewat bahasa tulisan. Anda berminta menulis, cobalah menulis seperti cermin yang mampu merekam sisi kehidupan yang ada di hadapannya. 

Jadi, Anda pun sangat layak menjadi penulis sesuai zamannya. Itu pun, bila Anda mau?
Salam inspirasi sukses menulis.
Bagaimana menurut sahabat?

Pangandaran, 04/03/2013
@ardadinata

Arda Dinata, pendiri Majelis Inspirasi Alquran dan Realitas Alam/ MIQRA Indonesia, www.miqraindonesia.com 

Menulis Bagai Cermin

By. Arda Dinata



KETIKA cermin saja bisa menulis, maka Anda pun sangat bisa menulis. Apa yang Anda lihat ketika bercermin? Yup, sosok diri kita akan terlihat pada cermin. Dengan kata lain, cermin mampu membaca detail setiap benda atau mahluk hidup yang ada di hadapannya. Cermin ini, tentu mampu menguraikan apa saja yang terekamnya melalui bahasa gambar yang dipahaminya.

Manusia dengan akal dan fikirannya, serta segala kelebihannya, tentu akan mampu lebih dasyat lagi dalam menuliskan sesuatu dalam hidupnya. Lalu, apa hubunganya antara cermin dan menulis? 

http://www.miqrajurnalistik.blogspot.com/2013/03/menulis-bagai-cermin.htm 

Penulis itu tidak ubahnya ibarat sebuah cermin. Ia mampu dan tidak ragu-ragu untuk menuliskan apa pun yang pernah dilihat, dirasakan, dan didengarnya dalam sebuah tulisan. Arti lainnya, menulis itu sesungguhnya tinggal memindahkan apa-apa yang ada dalam pikiran kita. Teori sukses menulis, tidak lain adalah menulis itu sendiri. Sehingga sehebat apapun Anda menguasi teori menulis, dan tanpa Anda melakukan kegiatan menulis maka sesungguhnya Anda bukanlah seorang penulis. Menulis adalah bukan bermain teori, tapi mempraktekannya. Hanya orang-orang yang praktek menulislah, ia akan jadi seorang menulis. Jadi, menulislah dalam praktek keseharian. Tidak hanya pada ranah ingin, ingin, dan pengen menulis saja tanpa Anda pernah (praktek) menulis.

Menulis itu sangat mudah. Dan bukan malah sebaliknya mempersulit diri Anda. Menulis itu, semudah Anda melakukan kegiatan melihat dan mendengar dalam kehidupan sehari-hari. Cuman masalahnya, banyak di antara kita yang terbelenggu oleh bayang-bayang ketidakbisaan diri sendiri. Jadi, menulislah sekarang juga. Menulis apa saja yang Anda inginkan dan pikirkan. Karena diri Andalah yang memiliki tulisan Anda. 

Tulis apa saja yang Anda mau tulis. Bisa berupa surat, puisi, buku harian, unek-unek, opini, komentar, nasehat, ringkasan, atau apa saja, dan bahkan khayalan sekalipun boleh-boleh saja Anda menuliskannya. Intinya, menulis jangan dipersulit. Menulis kok dipersulit? Bagaimana kata dunia. Kasihan diri Anda, orang hidup ini saja sudah sulit, lalu kenapa Anda harus mempersulit juga dalam bidang tulis menulis?

Sebagai akhir catatan ini, kalau kita mau jujur, pada hakekatnya tulisan itu tak ubahnya seperti cermin yang memantulkan banyak realitas yang ada di hadapannya. Dan di hadapan diri Anda pun sungguh banyak sekali yang bisa kita sampaikan lewat bahasa tulisan. Anda berminta menulis, cobalah menulis seperti cermin yang mampu merekam sisi kehidupan yang ada di hadapannya. 

Jadi, Anda pun sangat layak menjadi penulis sesuai zamannya. Itu pun, bila Anda mau?
Salam inspirasi sukses menulis.
Bagaimana menurut sahabat?

Pangandaran, 04/03/2013
@ardadinata

Arda Dinata, pendiri Majelis Inspirasi Alquran dan Realitas Alam/ MIQRA Indonesia, www.miqraindonesia.com 

Menulis Bagai Cermin

By. Arda Dinata



KETIKA cermin saja bisa menulis, maka Anda pun sangat bisa menulis. Apa yang Anda lihat ketika bercermin? Yup, sosok diri kita akan terlihat pada cermin. Dengan kata lain, cermin mampu membaca detail setiap benda atau mahluk hidup yang ada di hadapannya. Cermin ini, tentu mampu menguraikan apa saja yang terekamnya melalui bahasa gambar yang dipahaminya.

Manusia dengan akal dan fikirannya, serta segala kelebihannya, tentu akan mampu lebih dasyat lagi dalam menuliskan sesuatu dalam hidupnya. Lalu, apa hubunganya antara cermin dan menulis? 

http://www.miqrajurnalistik.blogspot.com/2013/03/menulis-bagai-cermin.htm 

Penulis itu tidak ubahnya ibarat sebuah cermin. Ia mampu dan tidak ragu-ragu untuk menuliskan apa pun yang pernah dilihat, dirasakan, dan didengarnya dalam sebuah tulisan. Arti lainnya, menulis itu sesungguhnya tinggal memindahkan apa-apa yang ada dalam pikiran kita. Teori sukses menulis, tidak lain adalah menulis itu sendiri. Sehingga sehebat apapun Anda menguasi teori menulis, dan tanpa Anda melakukan kegiatan menulis maka sesungguhnya Anda bukanlah seorang penulis. Menulis adalah bukan bermain teori, tapi mempraktekannya. Hanya orang-orang yang praktek menulislah, ia akan jadi seorang menulis. Jadi, menulislah dalam praktek keseharian. Tidak hanya pada ranah ingin, ingin, dan pengen menulis saja tanpa Anda pernah (praktek) menulis.

Menulis itu sangat mudah. Dan bukan malah sebaliknya mempersulit diri Anda. Menulis itu, semudah Anda melakukan kegiatan melihat dan mendengar dalam kehidupan sehari-hari. Cuman masalahnya, banyak di antara kita yang terbelenggu oleh bayang-bayang ketidakbisaan diri sendiri. Jadi, menulislah sekarang juga. Menulis apa saja yang Anda inginkan dan pikirkan. Karena diri Andalah yang memiliki tulisan Anda. 

Tulis apa saja yang Anda mau tulis. Bisa berupa surat, puisi, buku harian, unek-unek, opini, komentar, nasehat, ringkasan, atau apa saja, dan bahkan khayalan sekalipun boleh-boleh saja Anda menuliskannya. Intinya, menulis jangan dipersulit. Menulis kok dipersulit? Bagaimana kata dunia. Kasihan diri Anda, orang hidup ini saja sudah sulit, lalu kenapa Anda harus mempersulit juga dalam bidang tulis menulis?

Sebagai akhir catatan ini, kalau kita mau jujur, pada hakekatnya tulisan itu tak ubahnya seperti cermin yang memantulkan banyak realitas yang ada di hadapannya. Dan di hadapan diri Anda pun sungguh banyak sekali yang bisa kita sampaikan lewat bahasa tulisan. Anda berminta menulis, cobalah menulis seperti cermin yang mampu merekam sisi kehidupan yang ada di hadapannya. 

Jadi, Anda pun sangat layak menjadi penulis sesuai zamannya. Itu pun, bila Anda mau?
Salam inspirasi sukses menulis.
Bagaimana menurut sahabat?

Pangandaran, 04/03/2013
@ardadinata

Arda Dinata, pendiri Majelis Inspirasi Alquran dan Realitas Alam/ MIQRA Indonesia, www.miqraindonesia.com 

Menulis Bagai Cermin

By. Arda Dinata



KETIKA cermin saja bisa menulis, maka Anda pun sangat bisa menulis. Apa yang Anda lihat ketika bercermin? Yup, sosok diri kita akan terlihat pada cermin. Dengan kata lain, cermin mampu membaca detail setiap benda atau mahluk hidup yang ada di hadapannya. Cermin ini, tentu mampu menguraikan apa saja yang terekamnya melalui bahasa gambar yang dipahaminya.

Manusia dengan akal dan fikirannya, serta segala kelebihannya, tentu akan mampu lebih dasyat lagi dalam menuliskan sesuatu dalam hidupnya. Lalu, apa hubunganya antara cermin dan menulis? 

http://www.miqrajurnalistik.blogspot.com/2013/03/menulis-bagai-cermin.htm 

Penulis itu tidak ubahnya ibarat sebuah cermin. Ia mampu dan tidak ragu-ragu untuk menuliskan apa pun yang pernah dilihat, dirasakan, dan didengarnya dalam sebuah tulisan. Arti lainnya, menulis itu sesungguhnya tinggal memindahkan apa-apa yang ada dalam pikiran kita. Teori sukses menulis, tidak lain adalah menulis itu sendiri. Sehingga sehebat apapun Anda menguasi teori menulis, dan tanpa Anda melakukan kegiatan menulis maka sesungguhnya Anda bukanlah seorang penulis. Menulis adalah bukan bermain teori, tapi mempraktekannya. Hanya orang-orang yang praktek menulislah, ia akan jadi seorang menulis. Jadi, menulislah dalam praktek keseharian. Tidak hanya pada ranah ingin, ingin, dan pengen menulis saja tanpa Anda pernah (praktek) menulis.

Menulis itu sangat mudah. Dan bukan malah sebaliknya mempersulit diri Anda. Menulis itu, semudah Anda melakukan kegiatan melihat dan mendengar dalam kehidupan sehari-hari. Cuman masalahnya, banyak di antara kita yang terbelenggu oleh bayang-bayang ketidakbisaan diri sendiri. Jadi, menulislah sekarang juga. Menulis apa saja yang Anda inginkan dan pikirkan. Karena diri Andalah yang memiliki tulisan Anda. 

Tulis apa saja yang Anda mau tulis. Bisa berupa surat, puisi, buku harian, unek-unek, opini, komentar, nasehat, ringkasan, atau apa saja, dan bahkan khayalan sekalipun boleh-boleh saja Anda menuliskannya. Intinya, menulis jangan dipersulit. Menulis kok dipersulit? Bagaimana kata dunia. Kasihan diri Anda, orang hidup ini saja sudah sulit, lalu kenapa Anda harus mempersulit juga dalam bidang tulis menulis?

Sebagai akhir catatan ini, kalau kita mau jujur, pada hakekatnya tulisan itu tak ubahnya seperti cermin yang memantulkan banyak realitas yang ada di hadapannya. Dan di hadapan diri Anda pun sungguh banyak sekali yang bisa kita sampaikan lewat bahasa tulisan. Anda berminta menulis, cobalah menulis seperti cermin yang mampu merekam sisi kehidupan yang ada di hadapannya. 

Jadi, Anda pun sangat layak menjadi penulis sesuai zamannya. Itu pun, bila Anda mau?
Salam inspirasi sukses menulis.
Bagaimana menurut sahabat?

Pangandaran, 04/03/2013
@ardadinata

Arda Dinata, pendiri Majelis Inspirasi Alquran dan Realitas Alam/ MIQRA Indonesia, www.miqraindonesia.com 

Menulis Bagai Cermin

By. Arda Dinata



KETIKA cermin saja bisa menulis, maka Anda pun sangat bisa menulis. Apa yang Anda lihat ketika bercermin? Yup, sosok diri kita akan terlihat pada cermin. Dengan kata lain, cermin mampu membaca detail setiap benda atau mahluk hidup yang ada di hadapannya. Cermin ini, tentu mampu menguraikan apa saja yang terekamnya melalui bahasa gambar yang dipahaminya.

Manusia dengan akal dan fikirannya, serta segala kelebihannya, tentu akan mampu lebih dasyat lagi dalam menuliskan sesuatu dalam hidupnya. Lalu, apa hubunganya antara cermin dan menulis? 

http://www.miqrajurnalistik.blogspot.com/2013/03/menulis-bagai-cermin.htm 

Penulis itu tidak ubahnya ibarat sebuah cermin. Ia mampu dan tidak ragu-ragu untuk menuliskan apa pun yang pernah dilihat, dirasakan, dan didengarnya dalam sebuah tulisan. Arti lainnya, menulis itu sesungguhnya tinggal memindahkan apa-apa yang ada dalam pikiran kita. Teori sukses menulis, tidak lain adalah menulis itu sendiri. Sehingga sehebat apapun Anda menguasi teori menulis, dan tanpa Anda melakukan kegiatan menulis maka sesungguhnya Anda bukanlah seorang penulis. Menulis adalah bukan bermain teori, tapi mempraktekannya. Hanya orang-orang yang praktek menulislah, ia akan jadi seorang menulis. Jadi, menulislah dalam praktek keseharian. Tidak hanya pada ranah ingin, ingin, dan pengen menulis saja tanpa Anda pernah (praktek) menulis.

Menulis itu sangat mudah. Dan bukan malah sebaliknya mempersulit diri Anda. Menulis itu, semudah Anda melakukan kegiatan melihat dan mendengar dalam kehidupan sehari-hari. Cuman masalahnya, banyak di antara kita yang terbelenggu oleh bayang-bayang ketidakbisaan diri sendiri. Jadi, menulislah sekarang juga. Menulis apa saja yang Anda inginkan dan pikirkan. Karena diri Andalah yang memiliki tulisan Anda. 

Tulis apa saja yang Anda mau tulis. Bisa berupa surat, puisi, buku harian, unek-unek, opini, komentar, nasehat, ringkasan, atau apa saja, dan bahkan khayalan sekalipun boleh-boleh saja Anda menuliskannya. Intinya, menulis jangan dipersulit. Menulis kok dipersulit? Bagaimana kata dunia. Kasihan diri Anda, orang hidup ini saja sudah sulit, lalu kenapa Anda harus mempersulit juga dalam bidang tulis menulis?

Sebagai akhir catatan ini, kalau kita mau jujur, pada hakekatnya tulisan itu tak ubahnya seperti cermin yang memantulkan banyak realitas yang ada di hadapannya. Dan di hadapan diri Anda pun sungguh banyak sekali yang bisa kita sampaikan lewat bahasa tulisan. Anda berminta menulis, cobalah menulis seperti cermin yang mampu merekam sisi kehidupan yang ada di hadapannya. 

Jadi, Anda pun sangat layak menjadi penulis sesuai zamannya. Itu pun, bila Anda mau?
Salam inspirasi sukses menulis.
Bagaimana menurut sahabat?

Pangandaran, 04/03/2013
@ardadinata

Arda Dinata, pendiri Majelis Inspirasi Alquran dan Realitas Alam/ MIQRA Indonesia, www.miqraindonesia.com 
Menulis Bagai Cermin
Lihat Detail

Menulis Bagai Cermin



Menulis Bagai Cermin
By. Arda Dinata



KETIKA cermin saja bisa menulis, maka Anda pun sangat bisa menulis. Apa yang Anda lihat ketika bercermin? Yup, sosok diri kita akan terlihat pada cermin. Dengan kata lain, cermin mampu membaca detail setiap benda atau mahluk hidup yang ada di hadapannya. Cermin ini, tentu mampu menguraikan apa saja yang terekamnya melalui bahasa gambar yang dipahaminya.

Manusia dengan akal dan fikirannya, serta segala kelebihannya, tentu akan mampu lebih dasyat lagi dalam menuliskan sesuatu dalam hidupnya. Lalu, apa hubunganya antara cermin dan menulis? 

http://www.miqrajurnalistik.blogspot.com/2013/03/menulis-bagai-cermin.htm 

Penulis itu tidak ubahnya ibarat sebuah cermin. Ia mampu dan tidak ragu-ragu untuk menuliskan apa pun yang pernah dilihat, dirasakan, dan didengarnya dalam sebuah tulisan. Arti lainnya, menulis itu sesungguhnya tinggal memindahkan apa-apa yang ada dalam pikiran kita. Teori sukses menulis, tidak lain adalah menulis itu sendiri. Sehingga sehebat apapun Anda menguasi teori menulis, dan tanpa Anda melakukan kegiatan menulis maka sesungguhnya Anda bukanlah seorang penulis. Menulis adalah bukan bermain teori, tapi mempraktekannya. Hanya orang-orang yang praktek menulislah, ia akan jadi seorang menulis. Jadi, menulislah dalam praktek keseharian. Tidak hanya pada ranah ingin, ingin, dan pengen menulis saja tanpa Anda pernah (praktek) menulis.

Menulis itu sangat mudah. Dan bukan malah sebaliknya mempersulit diri Anda. Menulis itu, semudah Anda melakukan kegiatan melihat dan mendengar dalam kehidupan sehari-hari. Cuman masalahnya, banyak di antara kita yang terbelenggu oleh bayang-bayang ketidakbisaan diri sendiri. Jadi, menulislah sekarang juga. Menulis apa saja yang Anda inginkan dan pikirkan. Karena diri Andalah yang memiliki tulisan Anda. 

Tulis apa saja yang Anda mau tulis. Bisa berupa surat, puisi, buku harian, unek-unek, opini, komentar, nasehat, ringkasan, atau apa saja, dan bahkan khayalan sekalipun boleh-boleh saja Anda menuliskannya. Intinya, menulis jangan dipersulit. Menulis kok dipersulit? Bagaimana kata dunia. Kasihan diri Anda, orang hidup ini saja sudah sulit, lalu kenapa Anda harus mempersulit juga dalam bidang tulis menulis?

Sebagai akhir catatan ini, kalau kita mau jujur, pada hakekatnya tulisan itu tak ubahnya seperti cermin yang memantulkan banyak realitas yang ada di hadapannya. Dan di hadapan diri Anda pun sungguh banyak sekali yang bisa kita sampaikan lewat bahasa tulisan. Anda berminta menulis, cobalah menulis seperti cermin yang mampu merekam sisi kehidupan yang ada di hadapannya. 

Jadi, Anda pun sangat layak menjadi penulis sesuai zamannya. Itu pun, bila Anda mau?
Salam inspirasi sukses menulis.
Bagaimana menurut sahabat?

Pangandaran, 04/03/2013
@ardadinata

Arda Dinata, pendiri Majelis Inspirasi Alquran dan Realitas Alam/ MIQRA Indonesia, www.miqraindonesia.com 


Menulis Bagai Cermin
By. Arda Dinata



KETIKA cermin saja bisa menulis, maka Anda pun sangat bisa menulis. Apa yang Anda lihat ketika bercermin? Yup, sosok diri kita akan terlihat pada cermin. Dengan kata lain, cermin mampu membaca detail setiap benda atau mahluk hidup yang ada di hadapannya. Cermin ini, tentu mampu menguraikan apa saja yang terekamnya melalui bahasa gambar yang dipahaminya.

Manusia dengan akal dan fikirannya, serta segala kelebihannya, tentu akan mampu lebih dasyat lagi dalam menuliskan sesuatu dalam hidupnya. Lalu, apa hubunganya antara cermin dan menulis? 

http://www.miqrajurnalistik.blogspot.com/2013/03/menulis-bagai-cermin.htm 

Penulis itu tidak ubahnya ibarat sebuah cermin. Ia mampu dan tidak ragu-ragu untuk menuliskan apa pun yang pernah dilihat, dirasakan, dan didengarnya dalam sebuah tulisan. Arti lainnya, menulis itu sesungguhnya tinggal memindahkan apa-apa yang ada dalam pikiran kita. Teori sukses menulis, tidak lain adalah menulis itu sendiri. Sehingga sehebat apapun Anda menguasi teori menulis, dan tanpa Anda melakukan kegiatan menulis maka sesungguhnya Anda bukanlah seorang penulis. Menulis adalah bukan bermain teori, tapi mempraktekannya. Hanya orang-orang yang praktek menulislah, ia akan jadi seorang menulis. Jadi, menulislah dalam praktek keseharian. Tidak hanya pada ranah ingin, ingin, dan pengen menulis saja tanpa Anda pernah (praktek) menulis.

Menulis itu sangat mudah. Dan bukan malah sebaliknya mempersulit diri Anda. Menulis itu, semudah Anda melakukan kegiatan melihat dan mendengar dalam kehidupan sehari-hari. Cuman masalahnya, banyak di antara kita yang terbelenggu oleh bayang-bayang ketidakbisaan diri sendiri. Jadi, menulislah sekarang juga. Menulis apa saja yang Anda inginkan dan pikirkan. Karena diri Andalah yang memiliki tulisan Anda. 

Tulis apa saja yang Anda mau tulis. Bisa berupa surat, puisi, buku harian, unek-unek, opini, komentar, nasehat, ringkasan, atau apa saja, dan bahkan khayalan sekalipun boleh-boleh saja Anda menuliskannya. Intinya, menulis jangan dipersulit. Menulis kok dipersulit? Bagaimana kata dunia. Kasihan diri Anda, orang hidup ini saja sudah sulit, lalu kenapa Anda harus mempersulit juga dalam bidang tulis menulis?

Sebagai akhir catatan ini, kalau kita mau jujur, pada hakekatnya tulisan itu tak ubahnya seperti cermin yang memantulkan banyak realitas yang ada di hadapannya. Dan di hadapan diri Anda pun sungguh banyak sekali yang bisa kita sampaikan lewat bahasa tulisan. Anda berminta menulis, cobalah menulis seperti cermin yang mampu merekam sisi kehidupan yang ada di hadapannya. 

Jadi, Anda pun sangat layak menjadi penulis sesuai zamannya. Itu pun, bila Anda mau?
Salam inspirasi sukses menulis.
Bagaimana menurut sahabat?

Pangandaran, 04/03/2013
@ardadinata

Arda Dinata, pendiri Majelis Inspirasi Alquran dan Realitas Alam/ MIQRA Indonesia, www.miqraindonesia.com 


Menulis Bagai Cermin
By. Arda Dinata



KETIKA cermin saja bisa menulis, maka Anda pun sangat bisa menulis. Apa yang Anda lihat ketika bercermin? Yup, sosok diri kita akan terlihat pada cermin. Dengan kata lain, cermin mampu membaca detail setiap benda atau mahluk hidup yang ada di hadapannya. Cermin ini, tentu mampu menguraikan apa saja yang terekamnya melalui bahasa gambar yang dipahaminya.

Manusia dengan akal dan fikirannya, serta segala kelebihannya, tentu akan mampu lebih dasyat lagi dalam menuliskan sesuatu dalam hidupnya. Lalu, apa hubunganya antara cermin dan menulis? 

http://www.miqrajurnalistik.blogspot.com/2013/03/menulis-bagai-cermin.htm 

Penulis itu tidak ubahnya ibarat sebuah cermin. Ia mampu dan tidak ragu-ragu untuk menuliskan apa pun yang pernah dilihat, dirasakan, dan didengarnya dalam sebuah tulisan. Arti lainnya, menulis itu sesungguhnya tinggal memindahkan apa-apa yang ada dalam pikiran kita. Teori sukses menulis, tidak lain adalah menulis itu sendiri. Sehingga sehebat apapun Anda menguasi teori menulis, dan tanpa Anda melakukan kegiatan menulis maka sesungguhnya Anda bukanlah seorang penulis. Menulis adalah bukan bermain teori, tapi mempraktekannya. Hanya orang-orang yang praktek menulislah, ia akan jadi seorang menulis. Jadi, menulislah dalam praktek keseharian. Tidak hanya pada ranah ingin, ingin, dan pengen menulis saja tanpa Anda pernah (praktek) menulis.

Menulis itu sangat mudah. Dan bukan malah sebaliknya mempersulit diri Anda. Menulis itu, semudah Anda melakukan kegiatan melihat dan mendengar dalam kehidupan sehari-hari. Cuman masalahnya, banyak di antara kita yang terbelenggu oleh bayang-bayang ketidakbisaan diri sendiri. Jadi, menulislah sekarang juga. Menulis apa saja yang Anda inginkan dan pikirkan. Karena diri Andalah yang memiliki tulisan Anda. 

Tulis apa saja yang Anda mau tulis. Bisa berupa surat, puisi, buku harian, unek-unek, opini, komentar, nasehat, ringkasan, atau apa saja, dan bahkan khayalan sekalipun boleh-boleh saja Anda menuliskannya. Intinya, menulis jangan dipersulit. Menulis kok dipersulit? Bagaimana kata dunia. Kasihan diri Anda, orang hidup ini saja sudah sulit, lalu kenapa Anda harus mempersulit juga dalam bidang tulis menulis?

Sebagai akhir catatan ini, kalau kita mau jujur, pada hakekatnya tulisan itu tak ubahnya seperti cermin yang memantulkan banyak realitas yang ada di hadapannya. Dan di hadapan diri Anda pun sungguh banyak sekali yang bisa kita sampaikan lewat bahasa tulisan. Anda berminta menulis, cobalah menulis seperti cermin yang mampu merekam sisi kehidupan yang ada di hadapannya. 

Jadi, Anda pun sangat layak menjadi penulis sesuai zamannya. Itu pun, bila Anda mau?
Salam inspirasi sukses menulis.
Bagaimana menurut sahabat?

Pangandaran, 04/03/2013
@ardadinata

Arda Dinata, pendiri Majelis Inspirasi Alquran dan Realitas Alam/ MIQRA Indonesia, www.miqraindonesia.com 


Menulis Bagai Cermin
By. Arda Dinata